*HIJAUNYA LEMBAH: JILID 007-02*
“Tidak apa-apa” |awab Mahisa Agni, “tidak ada seorang pun di antara kawan-kawan mengerti, apa yang telah terjadi sebenarnya”
“Tetapi orang-orang Kabuyutan itu akan mengatakan kepada kenalan mereka temui di pasar atau di jalan-jalan, apa yang telah terjadi di sini. Kawan-kawanku tentu akan dapat mengambil satu kesimpulan jika mereka pun pada suatu saat mendengar ceritera seperti itu” berkata salah seorang dari kedua orang itu kemudian.
“Kami mengerti” jawab Mahisa Agni , “karena itu, kami akan mengambil satu sikap yang paling baik dan paling aman bagi Kabuyutan ini”
“Satu-satunya cara adalah, melepaskan kami untuk kembali ke dalam lingkungan kami” berkata salah seorang dari kedua orang itu.
“Tidak Ki Sanak” jawab Mahisa Agni , “hal yang buruk masih dapat terjadi. Kami tidak yakin, bahwa kau berdua akan dapat melupakan gadis-gadis Kabuyutan ini. Dan kami pun tidak yakin bahwa kau masih mempunyai kawan yang lain di daerah ini”
Kedua orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menurut segala perintah yang diberikan oleh Mahisa Agni.
“Marilah. Kita menyusul orang-orang Kabuyutan itu” berkata Mahisa Agni kemudian.
Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka pun kemudian melangkah menyusul orang-orang Kabuyutan yang sudah lebih dahulu meninggalkan tepian. Namun bagaimanapun juga kedua orang itu masih selalu dibayangi kegelisahan. Bukan karena kemungkinan bahwa mereka akan dihukum. Tetapi hukuman itu akan sangat menyakitkan hati menjelang saat-saat kematian, apabila mereka jatuh ke tangan orang-orang Kabuyutan yang marah itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi ragu-ragu pula. Jika mereka sudah sampai di Kabuyutan, maka terlalu sulit bagi mereka untuk mencegah kemarahan orang-orang Kabuyutan itu. Apalagi orang-orang yang berkerumun tentu akan menjadi lebih banyak, sehingga akan lebih sulit lagi untuk mengendalikan mereka.
“Mudah-mudahan Ki Buyut tidak justru berubah pikiran. Jika ia tidak dapat mengendalikan diri, dan justru mengambil sikap yang sebaliknya, maka akibatnya akan menjadi parah” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, selagi kedua orang itu berjalan ke padukuhan induk, diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka beberapa langkah di belakang mereka. Mahisa Agni dan Witantra pun telah membicarakan, apa yang paling baik dilakukan bagi kedua orang itu.
“Serba sulit” berkata Witantra, “aku dapat mengerti keterangan orang itu. Berita ini tentu tidak akan dapat dicegah untuk merambat keluar dari Kabuyutan ini. Pada suatu saat kawan-kawan kedua orang itu tentu akan mendengar apa yang telah terjadi”
“Ya” jawab Mahisa Agni, “hal itu memang mungkin sekali. Akibatnya memang agak pahit bagi Kabuyutan ini”
Witantra tidak segera menjawab. Ia masih saja melangkah di samping Mahisa Agni. Namun keduanya pun kemudian melangkah dengan kepala tunduk.
Beberapa saat kemudian, dua orang yang diiringi oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Agni dan Witantra itu menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk. Beberapa orang justru telah tidak kelihatan lagi setelah hilang memasuki mulut lorong.
Namun keempat orang yang mendekati padukuhan induk itu menjadi semakin cemas melihat keributan yang terjadi di padukuhan. Beberapa orang yang terdahulu memasuki gerbang padukuhan telah menceriterakan apa yang terjadi kepada orang-orang yang berada di padukuhan dan tidak sempat pergi ke sungai. Sebagian dari mereka adalah anak-anak muda yang berkumpul setelah mereka mendengar apa yang terjadi. Ketika orang-orang berkumpul di Kabuyutan untuk mendengar ceritera Ki Buyut, anak-anak muda itu sebagian telah pergi ke sawah. Mereka bergegas kembali ketika mereka mendengar berita tentang peristiwa yang terjadi di sungai. Berita yang dibawa Widati yang kemudian tersebar. Bahkan anak-anak muda dari padukuhan yang lain pun telah berkumpul pula untuk mendengar peristiwa yang terjadi itu dari dekat.
Bahkan ketika mereka menjadi semakin dekat, kedua orang yang berwajah kasar itu mulai memperlambat langkah mereka. Seorang diantaranya berguman, “Mengerikan sekali.”
“Kita mencoba untuk percaya kepada sikap Ki Buyut” desis Mahis Murti.
Tetapi kedua orang berwajah kasar itu justru telah berhenti.
Seorang di antara mereka berkata, “Sebenarnya segala sesuatunya tergantung kepada kalian. Bagaimana pendapat kalian, jika kalian tidak terlalu banyak ikut campur. Aku yakin sekarang, bahwa kalian bukan para pengawal padukuhan atau Kabuyutan ini”
“Apa maksudmu?” berkata Mahisa Murti.
“Jika kalian melepaskan saja kami, maka aku kira tidak akan ada akibat apapun terjadi atas kalian, sementara kami pun akan terlepas dari suasana yang sangat menegangkan itu”
“Kau akan mengadu kami dengan orang-orang Kabuyutan yang marah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita harus mempergunakan cara. Dari kesempatan aku melepaskan diri. Aku akan meloncat ke arah kanan dan kawanku kearah kiri. Kalian memang harus berusaha mengejar kami, tetapi kalian tidak berhasil” jawab orang itu.
Namun Mahisa Pukat itu tertawa. Katanya, “Satu pikiran yang bagus. Tetapi khusus bagi kalian. Dan tidak bagi kami. Kami tetap berpendirian, bahwa kalian harus dihukum. Kalian telah melakukan satu perbuatan yang tercela sekali. Bahkan kalian telah berusaha untuk mempertahankan kesalahan kalian dengan berusaha untuk membunuh kami berdua”
“Tetapi kami belum melakukannya” jawab salah seorang dari kedua orang itu.
“Sudah. Kalian sudah melakukannya. Kalian telah berusaha membunuh. Tetapi kalian tidak berhasil, karena kalian dapat kami kalahkan” berkata Mahisa Pukat. Lalu
“Karena itu, marilah. Kita akan pergi ke Kabuyutan. Kita percaya bahwa Ki Buyut akan berbuat sesuatu”
Kedua orang itu sudah tidak mempunyai harapan lagi. Ia memandang ujung lorong yang memasuki padukuhan induk dari Kabuyutan Randumalang itu dengan jantung yang berdegupan.
Sebenarnyalah pada waktu itu, di padukuhan induk itu telah terjadi satu pembicaraan yang tegang. Ketika anak-anak muda menuntut untuk dengan langsung menghukum orang-orang itu. maka Ki Buyut telah berusaha untuk mencegahnya.
“Kalian harus mendengarkan kata-kataku” berkata Ki Buyut.
“Kita tidak boleh terlalu lemah menghadapi penjahat-penjahat. Kabuyutan ini harus mulai bangun. Pada saat-saat lampau, kita adalah orang-orang yang paling lemah yang sama sekali tidak berani berbuat apa-apa terhadap para penjahat. Tetapi kita mulai menyadari, bahwa sikap itu telah menyeret kami kedalam satu kesulitan. Sekarang sudah saatnya kita menunjukkan, bahwa kita juga dapat berbuat sesuatu. Kita juga mempunyai keberanian untuk melawan kejahatan” berkata seorang anak muda.
“Coba kita melihat diri kita dengan jujur” jawab Ki Buyut, “apakah yang dapat kita lakukan tanpa kedua orang anak muda itu”
“Mereka telah mengajari kita sebelum mereka meninggalkan Kabuyutan ini beberapa waktu yang lalu. Mereka mengajari kami untuk menjadi pengawal yang baik bagi Kabuyutan ini”
“Tetapi mereka tentu tidak mengajari kalian untuk berbuat kepadaku, dan kepada orang-orang yang ada di tepian, bahwa kita jangan berbuat menuruti perasaan saja. Merekalah yang mengatakan, agar kedua orang itu dihadapkan pada satu keputusan yang adil dan wajar, sesuai dengan kesalahan mereka menurut pertimbangan nalar dan paugeran. Merekalah yang mencegah agar kita tidak menghukum mereka dengan sewenang-wenang, meskipun mereka jelas melakukan kesalahan”
“Mereka dapat saja berkata begitu, karena gadis-gadis yang menjadi korban itu bukan sanak dan bukan kadang mereka” jawab salah seorang dari orang-orang tua yang marah, “tetapi kami, orang-orang tua yang mempunyai anak-anak gadis, akan selalu dibayangi kecemasan”
“Justru karena itu” berkata Ki Buyut kemudian, “jika kalian menghukum orang itu dengan semena-mena, maka kawan-kawannva kedua orang itu tentu akan marah, karena perasaan keadilan mereka tersinggung. Nah, apakah dengan demikian, kita tidak akan justru menjadi terancam. Tetapi jika kita memperlakukan kedua orang itu dengan adil, meskipun kita menghukumnya juga. maka kawan-kawan mereka mungkin akan justru mendukung sikap kita, bahwa kedua orang itu harus dihukum karena telah melakukan satu kesalahan”
Tetapi anak-anak muda Kabuyutan itu nampaknya tidak puas terhadap sikap Ki Buyut. Bahkan ada diantara mereka yang berkata , “Ki Buyut. Kami sudah cukup dewasa. Sebaiknya Ki Buyut tidak menganggap lagi bahwa kami adalah kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa. Seandainya kawan-kawan mereka marah, biarlah kita menghadapinya”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia bergeser mendekati anak muda itu sambil berkata lantang, “He, apakah benar-benar kau berkata demikian. Apakah benar kau mengucapkan kata-kata itu sebagaimana tersirat di hatimu? Jika demikian, bagus. Aku setuju. Kalian adalah anak-anak muda yang gagah berani anak-anak muda Kabuyutan Randumalang yang terpercaya. Jika nanti sepuluh atau duapuluh orang kawan kedua orang itu datang, maka kita akan bertempur. Kita akan membunuh orang-orang itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh salah seorang di antara orang-orang yang datang Kabuyutan, sebagian besar dari kita akan mati. Mungkin aku, mungkin kau. Setiap orang mempunyai kemungkinan untuk mati. Tetapi yang paling parah, apabila kita semua sudan mati. tetapi orang-orang yang menyerang Kabuyutan ini belum semuanya mati. Maka mereka akan mulai dengan satu perbuatan yang akan merupakan malapetaka yang paling besar bagi gadis-gadis Kabuyutan ini setelah semua orang laki-laki terbunuh.
Orang-orang yang sedang marah itu mulai berpikir. Mereka mulai membayangkan, apakah yang akan terjadi sebagaimana dikatakan oleh Ki Buyut itu.
Tetapi seorang laki-laki yang bertubuh kurus bertanya, “Apakah mungkin akan terjadi seperti yang dikatakan oleh Ki Buyut itu”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Mungkin sekali. Orang-orang kasar itu memiliki ilmu yang tinggi. Kedua anak muda yang sudah aku ketahui dengan pasti tingkat kemampuannya itupun mengakui, bahwa mereka berdua berjuang dengan susah payah untuk mengalahkan dua orang yang telah berusaha mengambil gadis-gadis Kabuyutan ini”
“Tetapi Ki Buyut” bertanya seorang laki-laki bertubuh pendek, “seandainya kita akan mendapatkan jaminan bahwa Kabuyutan ini tidak akan mengalami sesuatu?”
“Kita dapat berbicara dengan kedua anak-anak muda itu” jawab Ki Buyut.
“Bukankah sama saja halnya? Seandainya kita mengambil sikap yang tegas terhadap kedua orang itu, maka kita pun akan dapat berbicara dengan kedua anak muda itu” sahut seseorang.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun seolah-olah ia mendapat satu jalan untuk menekankan pendapatnya.
Jika semula ia hampir kehilangan harapan untuk menahan gejolak kemarahan orang-orang Kabuyutannya. maka justru karena pertanyaan itu ia mulai berpengharapan lagi.
Karena itu, maka jawabnya, “Ya. Kita memang dapat berbicara dengan kedua anak muda itu. Tetapi kita tidak akan dapat memaksakan keinginan kita kepada mereka. Yang ikut bersamaku ke tepian telah mendengar keterangannya dan keterangan orang tua yang disebut paman dari anak-anak muda itu. Kedua anak muda itu justru akan menyerahkan kembali senjata kedua orang yang sudah menyerah itu. Kedua senjata yang sudah dirampas itu akan diserahkan kembali dan tidak mau lagi ikut campur persoalan-persoalan yang akan terjadi kemudian”
Orang-orang itu menjadi tegang. Tetapi orang-orang yang ikut ke tepian telah teringat akan kata-kata itu. Kata-kata yang memang telah diucapkan.
Sejenak orang-orang itu saling berpandangan. Namun orang-orang yang ikut pergi ke tepian itupun mulai menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat bertindak sendiri tanpa kedua orang anak muda yang telah mengalahkan kedua orang itu. Karena sebenarnyalah mereka mulai mengakui betapa bahayanya persoalan yang dapat timbul kemudian, jika kawan-kawan kedua orang itu menuntut balas, sementara kedua orang anak muda itu tidak mau ikut campur sama sekali.
Karena itu, maka orang-orang itu pun mulai melihat persoalannya dari beberapa segi, sehingga mereka tidak lagi dengan garang mengacung-acungkan sanjata sambil meneriakkan kata-kata ancaman.
Dalam pada itu, kedua orang berwajah kasar diiringi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendekati mulut lorong padukuhan induk Kabuyutan Randumalang.
Terasa betapa jantung kedua orang itu hampir rontok karenanya. Mereka adalah orang-orang kasar yang memiliki pengalaman yang luas dalam pengembaraan yang berat dan tugas-tugas yang membawa mereka kedalam satu perbuatan yang kadang-kadang sangat bertentangan dengan kemanusiaan.
Namun menghadapi orang-orang yang marah, terasa juga kengerian yang sangat. Mereka sama sekali tidak akan menjadi ketakutan seandainya mereka dihadapkan pada satu kemungkinan untuk mati dalam perkelahian yang manapun. Tetapi tidak dicincang oleh orang-orang yang sedang marah.
Tetapi rasa-rasanya titik-titik air telah jatuh ke atas jantung mereka yang putus-asa. Mereka mulai melihat suasana yang berbeda ketika mereka melihat beberapa orang bergeser dari mulut lorong. Bahkan keduanya melihat seseorang yang menyarungkan senjatanya dan yang kemudian melangkah menepi.
Manisa Murti dan Mahisa Pukat pun menarik nafas dalam-dalam, sementara Witantra berbisik ditelinga Mahisa Agni, “Nampaknya terjadi perubahan sikap di antara mereka. Ki Buyut telah berusaha dengan sungguh-sungguh” jawab Mahisa Agni.
Sebenarnyalah ketika mereka memasuki gerbang padukuhan, maka tidak ada tindakan orang-orang Kabuyutan Randumalang yang bertentangan dengan kehendak Ki Buyut Orang-orang Randumalang telah melihat satu kemungkinan yang dapat berakibat paling buruk dan kemungkinan yang lain yang dapat melindungi Kabuyutan mereka.
Ki Buyut yang kemudian berdiri di muka gerbang padukuhan induknya pun kemudian mempersilahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk membawa kedua orang itu memasuki padukuhan induk dan langsung dibawa ke Kabuyutan.
Beberapa orang kemudian telah mengikutinya, sehingga iring-iringan itu pun semakin lama menjadi panjang. Namun dalam pada itu, keluarga gadis-gadis yang berada di tepian-pun telah membawa gadis-gadis mereka pulang dengan tergesa-gesa. Apalagi kedua gadis yang telah tertidur di tepian. Bahkan ibu gadis-gadis itu telah menangisinya di rumahnya. seolah-olah mereka telah menemukan kembali anak-anak gadis mereka yang telah hilang.
Dalam pada itu, kedua orang berwajah kasar itu berjalan dengan kepala tunduk. Mereka tidak berani menatap wajah-wajah orang Kabuyutan Randumalang yang marah, meskipun akhirnya mereka tidak berbuat apa-apa. Demikianlah, akhirnya kedua orang itu pun telah memasuki halaman Kabuyutan. Tetapi mereka tidak langsung dibawa ke pendapa. Tetapi mereka telah dibawa ke gandok sebelah kanan.
“Biarlah mereka berada di gandok” berkata Ki Buyut, “kita akan berbicara di pendapa”
“Tetapi keduanya perlu mendapat pengawasan yang kuat” berkata Mahisa Murti.
“Biarlah anak-anak muda mengawasinya” jawab Ki Buyut. “Di depan dan di belakang gandok. agar mereka tidak melarikan diri dengan memecah dinding di belakang, atau meloncat lewat bumbungan” Mahisa Pukat melanjutkan.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Sementara kedua orang itu mencoba menatap wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi ketika mereka membentur pandangan kedua anak muda itu, maka mereka pun telah menundukkan wajah mereka, meskipun mereka harus mengumpat di dalam hati. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian membawa keduanya memasuki gandok. Sementara itu Ki Buyut talah menyerahkan pengawasan kedua orang itu kepada Ki Jagabaya.
“Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya” berkata Ki Buyut.
“Baiklah Ki Buyut” jawab Ki Jagabaya, “aku akan mencoba berbuat sebaik-baiknya atas kedua orang itu. Anak-anak muda akan menjaga mereka di depan dan di belakang. “Berapa orang yang akan kau siapkan?” bertanya Ki Buyut. “Dua di belakang dan dua di depan” jawab Ki Jagabaya.
Ki Buyut mengerutkan keningnya, sementara Mahisa Agni. berkata, “Jangan salah menilai orang-orang itu Ki Jagabaya. Sebaiknya Ki Jagabaya mengerahkan orang lima kali lipat”, “Duapuluh orang?” bertanya Ki Jagabaya.
“Ya. Sepuluh di depan dan sepuluh di belakang” jawab Mahisa Agni, “itupun mereka harus dengan cepat mamberikan isyarat seandainya kedua orang itu benar-benar berusaha melepaskan diri, karena sepuluh orang anak muda itu tidak akan dapat menangkap kedua orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu”
Ki Jagabaya termangu-mangu. Namun Ki Buyut lah yang kemudian berkata, “Yakini kata-katanya Ki Jagabaya. Aku tahu pasti, bagaimana orang-orang berilmu tinggi itu mempergunakan ilmunya. Kerahkan anak-anak muda yang paling baik untuk membantu mengawasi orang itu. Duapuluh orang setiap kali, yang kemudian akan digantikan oleh duapuluh orang berikutnya”
Ki Jagabaya mengngguk-angguk. Namun masih terbayang pada sorot matanya sikapnya yang ragu-ragu bahwa untuk mengawasi kedua orang itu diperlukan sepuluh orang di depan dan sepuluh orang di belakang. Tetapi Ki Jagabaya tidak membantah.
Ketika Ki Buyut mempersilahkan keempat orang tamunya duduk di pendapa, maka Ki Jagabaya pun telah menghubungi anak-anak muda Kabuyutan Randumalang untuk melaksanakan perintah Ki Buyut.
“Ki Buyut terlalu berhati-hati” berkata seorang anak muda.
“Ki Buyut kurang kepercayaan kepada diri sendiri. Sejak Kabuyutan ini dibayangi oleh ketidak tenteraman, karena dihantui oleh peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu, maka ia benar-benar menjadi seorang penakut” berkata seorang anak muda yang lain.
Ki Jagabaya tidak menyahut, ia justru telah terlibat ke dalam satu sikap yang tidak menguntungkan anak-anak muda Randumalang pada saat itu. Bahkan ia pun telah bertindak kasar terhadap anak-anak Kabuyutan itu sendiri, karena tingkah laku seseorang.
Namun demikian, bagaimanapun juga, anak-anak muda itu berusaha untuk melakukannya. Dengan malas mereka telah menyusun kalompok-kelompok yang terdiri dari sepuluh orang.
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apabila kita mendapat kesempatan, maka sepuluh anak-anak yang berada di belakang itu tidak akan berarti apa-apa bagi kita”, “Ternyata gambaran kita tentang pangawal Kabuyutan ini keliru. Kedua anak muda yang talah mengalahkan kita itu, tentu bukan pengawal Kabuyutan ini” berkata yang lain. “Ya. Menilik sikap dan tingkah laku mereka, maka anak-anak muda di Kabuyutan ini tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tetapi aku yakin bahwa kedua orang anak muda itu masih ada di Kabuyutan ini. Mereka akan dapat berbuat sesuatu, jika mereka mendengar isyarat dari anak-anak muda yang sedang mengamati kita” sahut kawannya.
Yang lain mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Apakah kita tidak akan barusaha untuk dapat keluar dari tempat terkutuk ini”
Kawannya menggeleng. Jawabnya , “Tidak ada gunanya. Terlalu banyak mata yang mengamati kita. Tetapi aku tidak tahu, apakah malam nanti, kita akan mendapat kesempatan”
“Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi atas kita sebelum malam nanti” jawab yang lain. Tetapi kemudian, “Namun demikian, ada kemungkinan bahwa kedua anak-anak muda itu akan meninggalkan tempat ini”
“Kita tidak tahu” berkata kawannya, “sebaiknya aku tidur saja sekarang”
Yang lain tidak menjawab. Ketika kawannya kemudian berbaring, maka ia pun talah duduk di sudut bersandar dinding.
Dalam pada itu, di pendapa Ki Buyut sedang berbincang-bincang dengan keempat orang tamunya. Nampaknya mereka berbicara dengan sungguh-sungguh. Persoalan yang mereka bicarakan menyangkut kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi dengan Kabuyutan Randumalang. “Kita tidak akan dapat mencegah orang-orang Kabuyutan ini berceritara tentang peristiwa yang telah terjadi ini, Ki Buyut” berkata Mahisa Murti.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata , “Benar anak muda. Berita tentang tartangkapnya dua orang itu akan tersebar. Jika keduanya memang mempunyai kawan di sekitar tempat ini, maka kawan-kawan mereka tentu akan berbuat sesuatu untuk membebaskan mereka”
“Hal itu akan dapat menjadi bencana bagi Kabuyutan ini” berkata Mahisa Pukat.
“Itulah yang membuat kami sangat prihatin” jawab Ki Buyut.
Dalam pada itu maka Mahisa Agni pun kemudian barkata, “Ki Buyut. Barangkali aku mempunyai pendapat yang dapat dipertimbangkan”
Ki Buyut memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu ia pun bertanya, “Jika hal itu akan berakibat baik, maka aku akan mengucapkan terima kasih”
Sekilas Mahisa Agni memandang Witantra yang termangu-mangu. Kemudian katanya, “Ki Buyut. Sebenarnyalah kedua orang itu telah melakukan sesuatu yang gawat tidak saja bagi Kabuyutan ini. Meskipun untuk waktu yang panjang, namun kedua orang itu talah terlibat dalam satu usaha untuk mengguncangkan kekuasaan Singasari. Karena itu, maka aku cenderung mengatakan, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai banyak kawan di sekitar kaki pegunungan itu”
Ki Buyut memandang wajah Mahisa Agni dengan tatapan mata yang memancarkan kecemasan hatinya. Dengan nada dalam ia bertanya , “Jika damikian, apa yang dapat kami lakukan?”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Lalu jawabnya, “Ki Buyut. Sebenarnyalah kami memerlukan orang itu. Kami ingin membawanya ke Singasari. Mereka akan dapat memberikan beberapa keterangan yang kami perlukan, sementara itu, Kabuyutan ini akan bebas dari persoalan yang menyangkut kedua orang itu. Ki Buyut dapat mengatakan kepada orang-orang Kabuyutan ini, bahwa kami, prajurit Singasari telah menangkap kedua orang itu dan membawanya ke Singasari. Dengan demikian, maka ceritera yang akan tersebar dari mulut ke mulut, akan dilengkapi oleh keterangan itu. Jika kawan-kawannya mendengar lewat siapa pun, maka mereka tidak akan tarlalu mendendam orang-orang Kabuyutan ini. Tetapi mereka harus memperhitungkan kemungkinan lain yang dapat terjadi”
“Kemungkinan yang mana Ki Sanak?” bertanya Ki Buyut. “Jika mereka mendengar bahwa kedua kawannya talah dibawa oleh prajurit Singasari ke Singasari maka mereka dapat membayangkan, apa yang tarjadi dengan dua orang kawannya itu. Prajurit Singasari akan dapat mendengar dari keduanya, apa yang telah mereka lakukan dan dari keduanya pula akan dapat didengar keterangan tantang kawan-kawannya” jawab Mahisa Agni, “Dengan demikian, memang ada kemungkinan bahwa kawan-kawan kedua orang itu akan justru menyingkir untuk menghindarkan diri dari tangan para prajurit Singasari”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Mahisa Agni sejenak. Kemudian wajah Witantra dan kedua anak muda yang duduk sebelah menyebelah. Dengan ragu-ragu Ki Buyut itu pun kemudian berkata, “Tetapi, apakah sebenarnya memang demikian? Bahwa kalian akan membawa kadua orang itu sebagai prajurit Singasari dan akan memperlakukan sebagaimana kau katakan itu?”
“Ki Buyut” jawab Mahisa Agni, “kami akan membawa keduanya dan memperlakukan sebagaimana kami katakan. Keterangan dari meraka akan sangat penting artinya bagi kami.
Ki Buyut mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah Ki Sanak. Aku mengucapkan terima kasih. Barangkali cara yang akan kita ambil ini akan bermanfaaat bagi keselamatan Kabuyutan Randumalang”
“Mudah-mudahan Ki Buyut. Tetapi Ki Buyut benar-benar harus memberitahukan kepada orang-orang Randumalang secepatnya, agar setiap ceritera yang disampaikan kepada orang lain, telah di katakan pula, bahwa keduanya akan dibawa ke Singasari” jawab Mahisa Agni kemudian.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian , “aku akan memberitahukan kepada Ki Jagabaya dan anak-anak muda yang ada di gandok. Barita ini tentu akan capat tersebar di antara mereka dan orang-orang Randumalang yang lain”
“Silakan Ki Buyut” jawab Mahisa Agni.
Namun dalam pada itu, ketika Ki Buyut meninggalkan pendapa, Witantra berkata, “Tetapi ada kamungkinan lain yang dapat terjadi”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, sementara Witantra berkata selanjutnya , “Jika hal itu didengar oleh kawan-kawan mereka, maka akan ada kemungkinan kawan-kawan mereka akan menahan perjalanan kami, membawa kedua orang itu ke Singasari”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawab, “Ya. Kau benar. Karena itu, kita memang harus berhati-hati. Tetapi bukanlah ada lebih dari satu jalur jalan menuju ke Singasari. Mudah-mudahan kita dapat memilih jalan yang tidak mereka perhitungkan, sehingga seandainya mereka berniat untuk mencegat dan mengambil kawan-kawan mereka, maka mereka tidak akan dapat menjumpai kita di perjalanan”
Witantra mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Bagaimanapun juga, kita memang harus berhati-hati” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi yang dikatakan oleh Witantra itu memang tidak mustahil terjadi. Kawan-kawan kedua orang itu akan dapat mencegat dan berusaha untuk merebut kedua orang itu, sehingga keduanya tidak sempat dibawa ke Singasari.
Persoalannya bukan sekedar karena parsoalan mereka dengan gadis-gadis Randumalang. Tetapi jika keduanya dibawa ke Singasari, maka persoalan mereka yang lain, justru yang jauh lebih besar dari persoalan gadis-gadis itu, akan terungkap pula.
Sementara itu, Ki Buyut talah berada di serambi gandok.
Iapun kemudian mengatakan kepada Ki Jagabaya dan anak-anak muda yang berada di serambi itu, bahwa kedua orang itu akan dibawa oleh kedua orang Singasari untuk didengar keterangan mereka tentang tugas-tugas mereka di daerah di sekitar Kabuyut an Randumalang.
“Jadi kedua orang itu tidak akan menjadi tanggungan kita lagi?” bertanya Ki Jagabaya.
“Ya. Kita akan menyerahkan mereka kepada orang-orang Singasari itu. Dengan demikian, maka kita tidak perlu bentanggung-jawab lagi. Baik mengenai pengamatannya maupun hubungannya dengan kawan-kawan mereka. Karena itu, maka setiap keterangan tentang kedua orang itu harus diberikan penjelasan, bahwa persoalan mereka sebenarnya adalah dengan orang-orang Singasari, meskipun semula menyangkut juga gadis-gadis Randumalang” barkata Ki Buyut.
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Tetapi apakah dengan demikian, dapat menjamin bahwa kawan-kawan mereka tidak akan mendendam lagi kepada kita?”
“Yang kita pilih adalah kemungkinan yang paling baik” jawab Ki Buyut, “bahwa kedua orang itu akan dibawa pergi, merupakan pilihan satu-satunya”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam, ia memang tidak melihat kemungkinan lain yang lebih baik. Karena itu, maka katanya kemudian , “Segalanya terserah kepada Ki Buyut!”
“Tetapi seandainya ada akibat apapun, kita bersama-sama akan mempertanggung-jawabkan” sahut Ki Buyut.
Ki Jagabaya pun mengangguk-angguk pula. Memang tidak mungkin baginya dan para bebahu yang lain untuk ingkar dari pertanggungan jawab.
Demikianlah, ketika Ki Buyut kembali ke pendapa, maka keterangan itu pun memang segera tersebar. Anak-anak muda itu pun kemudian mengatakan kepada kawan-kawan mereka, bukan saja dari padukuhan induk, tatapi juga dari padukuhan-padukuh-an lain dalam lingkungan Kabuyutan Randumalang.
Seperti yang diharapkan, maka jika setiap orang kemudian berbicara tentang peristiwa di pinggir sungai itu, maka mereka pun selalu mengatakan, bahwa kedua orang itu akan segera dibawa ke Singasari oleh prajurit-prajurit dalam tugas sandi mereka.
Di pendapa, Mahisa Agni dan Witantra telah mengambil satu keputusan untuk membawa kedua orang itu, di keesokan harinya ke Singasari.
“Kenapa begitu targesa-gesa?” bertanya Ki Buyut.
“Kami sudah terlalu lama pergi. Selebihnya, semakin cepat kedua orang itu menyingkir dari Kabuyutan ini, rasa-rasanya akan menjadi semakin baik” jawab Mahisa Agni.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang anak muda ini?” Bahkan anak-anak muda dari padukuhan yang bukan padukuhan induk itu pun telah diikut-sertakan.
Kedua orang kasar itupun mengumpat-umpat kasar ketika ketika mereka harus tinggal di sebuah bilik yang sempit di gandok. Pintu bilik itu telah diselarak dari luar, sementara tiga orang anak muda telah duduk di ruangan di depan bilik yang tertutup itu.
“Ada sepuluh orang yang berada di depan, termasuk anak anak yang barada di ruang depan ini dan sepuluh yang lain berada di belakang” berkata salah seorang dari keduanya.
Mahisa Agni memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sambil tersenyum Mahisa Agni pun kemudian berpaling kepada Witantra sambil berkata, “Bukankah kita menyerahkan kepada keputusan mereka, apa yang akan mereka lakukan?”
Witantra pun tersenyum. Katanya, “Memang terserah kepada mereka. Mereka akan dapat mengambil keputusan” Ki Buyut masih saja termangu-mangu. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
Dalam pada itu, Mahisa Murtilah yang kemudian menjawab, “Paman. Sebenarnyalah bahwa kami masih ingin tinggal. Tetapi dalam keadaan yang gawat bagi paman berdua, kami ingin ikut mengantar kedua orang itu sampai ke perbatasan Kota Raja.
Kami memang tidak ingin kembali ke Singasari, sebelum kami puas dengan pengembaraan kami. Tetapi kami melihat sesuatu yang penting saat ini untuk ikut bersama paman berdua”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Sejenak kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Kami sama sekali tidak berkeberatan. Terserah kepada kalian. Namun dengan pertimbangan pamanmu Witantra, ada baiknya pula jika kalian ikut mengantarkan kedua orang itu ke Singasari”
“Tetapi bagaimana dengan Kabuyutan ini? bertanya Ki Buyut, “jika kalian semuanya meninggalkan Kabuyutan ini, bukankah berarti bahwa Kabuyutan ini akan mennjadi sangat lemah dan tidak berarti sama sakali?”
“Kami tidak akan pergi terlalu lama” jawab Mahisa Murti, “Singasari tidak terlalu jauh”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun terbayang kecemasan di wajahnya. Tetapi Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Aku kira, tidak akan terjadi sesuatu di Kabuyutan ini. Jika kawan-kawan orang itu ingin berbuat sesuatu, mereka tentu akan melakukannya atas kami yang membawa kedua orang kawannya ke Singasari”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi ia pun merasa segan untuk menahan kedua orang anak muda itu. Seolah-olah Kabuyutan mereka targantung dari kehadiran kedua orang anak muda dari Singasari itu.
Apalagi ketika Mahisa Pukat kemudian berkata, “Ki Buyut. Menurut pengamatanku, anak-anak muda di Kabuyutan ini sudah mulai menunjukkan keberanian mereka untuk berbuat sesuatu. Biarlah mereka menjaga ketenangan Kabuyutan ini untuk satu dua hari. Sementara itu, kami akan segera kembali, meskipun kami juga tidak berniat untuk tinggal di Kabuyutan ini”
Ki Buyut memang tidak menahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kecuali ia tidak ingin menunjukkan ketergantungan Kabuyutannya kepada kedua orang anak muda itu, maka ia pun merasa segan, justru karena ia mengetahui hubungan antara Mahisa Murti dan anak gadisnya, yang tidak lagi dapat disembunyikan.
Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah, anak-anak muda. Nampaknya kalian benar-benar akan mengantar kedua paman anak-anak muda yang akan membawa kedua orang itu. Mudah-mudahan kalian selamat di perjalanan, dan Kabuyutan ini pun tidak diganggu lagi oleh orang-orang yang tidak mengenal perabadan itu”
“Mereka memang tidak mengenal peradaban Ki Buyut” berkata Mahisa Murti, “bahkan mereka ingin menghancurkan peradaban dengan cara mereka. Hal itu akan dapat segera diketahui jika mereka telah berada di Singasari”
Demikianlah, maka kegelisahan memang telah timbul di antara kawan-kawan kedua orang itu, ketika dua orang kawannya tidak kembali kedalam sarang meraka pada saatnya. Ketika seseorang berusaha untuk mengetahui sebab-sebabnya, maka orang itu telah mandengar berita tentang dua orang yang ditangkap oleh dua orang prajurit Singasari dan yang akan membawanya besok ke Singasari. “Gila” geram pemimpin dari orang-orang yang bersarang di hutan di lereng pegunungan, “kenapa mereka dibawa oleh dua orang prajurit Singasari”
Orang itu pun telah menceriterakan apa yang didengarnya tentang tingkah laku kedua orang kawannya itu. Lalu katanya, “Adalah satu kebetulan, bahwa di Kabuyutan itu ada prajurit Singasari”
“Gila” geram pemimpinnya , “kedua orang itu memang harus dibunuh. Kenapa kedua prajurit Singasari itu tidak membunuhnya saja”
“Mereka sengaja menangkap mereka hidup-hidup. Mungkin para prajurit Singasari itu sudah mencium tugas-tugas kita disini, sehingga kedua orang kawan kita yang tertangkap itu, akan dapat memberikan lebih banyak keterangan tentang kita” berkata orang yang mendengar tingkah laku kedua kawannya itu dari orang-orang Kabuyutan.
“Kapan orang-orang itu akan kembali ke Singasari?” bertanya pemimpinnya.
Menurut pendengaranku, segera. Kabar terakhirnya mengatakan, bahwa besok mereka akan berangkat ke Singasari” jawab orang yang mendapat katerangan ku.
“Kita akan mencegatnya” berkata pemimpinnya, “Kita akan mengambil kembali kedua orang itu. Jika gagal, biarlah keduanya itu mati saja, sehingga dari mulut mereka tidak akan lagi keluar keterangan yang akan dapat menjerat leher kita disini, sementara tugas kita sama sekali belum dapat kita lakukan. Dengan demikian, kita akan kehilangan nilai perjanjian yang telah kita setujui yang akan mamberikan hasil yang sangat menguntungkan bagi kita”
“Aku sependapat” berkata seorang kawannya , “kita akan mencegat orang-orang Singasari itu dan kita akan mengambil atau membunuh sama sekali kedua orang kawan kita yang tidak tahu diri itu”
Dengan demikian, maka sekelompok orang-orang kasar yang berada di daerah hutan di lereng pegunungan itu, telah mengambil satu keputusan. Namun mereka masih membicarakan, dimana mereka akan mencegat orang-orang Singasari itu.
“Tidak hanya satu jalan menuju ke Singasari” berkata pemimpin mereka.
“Ya. Mereka dapat mengambil jalan yang tidak kita duga. Sementara itu, kita tidak mampunyai cukup tenaga untuk memecah orang-orang kita” berkata kawannya.
“Sepuluh orang akan dapat dibagi menjadi dua” berkata seorang bertubuh gemuk.
“Kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan” jawab pemimpinnya , “kita tidak yakin, apakah lima orang kita akan dapat melawan dua orang prajurit Singasari dan mungkin ada orang yang akan menyertai mereka.”
“Ya. Dua orang anak muda yang agaknya juga orang-orang Singasari itu akan pergi bersama kedua orang prajurit itu” berkata orang yang mendapatkan keterangan tantang kedua kawannya yang tertangkap.
“Dua orang anak muda itu harus kita perhitungkan pula” berkata pemimpinnya , “karena itu, kita akan bersepuluh. Dua orang akan tetap berada di sarang kita”
“Ya. Tetapi dimana?” bertanya yang lain.
Pemimpinnya tarmangu-mangu. Dimana mereka akan melakukannya. Tidak hanya ada satu jalur menuju ke Singasari. Namun akhirnya pemimpinnya itu berkata, “Kita akan mencegatnya sebelum mereka sempat memilih jalan. Demikian mereka keluar dari Kabuyutan, kita akan menemui mereka di bulak panjang di sebelah Kabuyutan itu”
“Terlalu dekat” desis salah seorang diantara mereka.
“Aku tidak peduli. Orang-orang Kabuyutan itu tentu tidak akan berani ikut campur. Jika mareka benar-benar ikut campur, kita akan membinasakan mereka. Kabuyutan itu akan menjadi karang abang”
Orang-orang yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk. Mereka memang tidak terlalu banyak memperhitungkan orang-orang Kabuyutan di sekitar sarang mereka, karena menurut pendapat mereka, orang-orang Kabuyutan itu tidak akan berarti apa-apa.
Ternyata orang-orang yang berbincang itu telah mengambil keputusan sebagaimana dikatakan oleh pemimpinnya. Sepuluh orang akan mencegat orang-orang Singasari itu. Jika mereka gagal mengambil kedua orang kawannya, meka kedua orang itu akan dibinasakan saja. Demikianlah, maka orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Pagi-pagi benar mereka harus sudah berada di bulak panjang, di luar Kabuyutan Randumalang. Tetapi mereka sama sekali tidak menjadi cemas, seandainya orang-orang Randumalang mengetahui apa yang akan mereka lakukan.
Dalam pada itu, sebagaimana direncanakan, maka Mahisa Agni dan Witantra pun telah bersiap pula ketika langit menjaui merah. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membenahi diri pula. Sementara itu, para pembantu Ki Buyut telah menyediakan minuman dan makanan panas, karena mereka telah mendapat perintah dari Ki Buyut menyediakannya menjelang keberangkatan tamu-tamunya ke Singasari.
Dalam waktu yang singkat itu, Mahisa Murti masih memerlukan menjumpai Widati untuk minta diri. Ki Buyut yang melihat pertemuan itu, sama sekali tidak mengganggunya. Ia tidak lagi melarang anaknya berhubungan dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jika semula Ki Buyut masih membatasi hubungan anaknya dengan anak muda itu, karena Ki Buyut sama sekali belum mendapat gambaran, siapakah sebenarnya Mahisa Murti itu.
Terasa betapa beratnya Widati melepaskan Mahisa Murti. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain. Ia memang harus melepas Mahisa Murti meninggalkannya. Jika tidak pada hari itu, namun pada saat yang lainpun Mahisa Murti tentu akan pergi.
Meskipun demikian, Widati masih tetap berpengharapan, bahwa pada suatu saat Mahisa Murti itu akan kembali lagi kepadanya.
Demikianlah, ketika matahari muncul di cakrawala, Mahisa Agni dan Witatra telah minta diri untuk pergi ke Singasari bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, dengan membawa dua orang tawanan yang telah berhasil ditangkap oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Setelah mereka makan pagi, maka mereka pun segera berkemas. Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan pun telah siap pula di halaman. Enam ekor kuda.
Sejenak kemudian, maka mereka pun mulai bergerak meninggalkan rumah Ki Buyut Randumalang. Dengan berat hati, Ki Buyut telah melepaskan mereka sampai ke regol halaman. Demikian pula dengan anak gadisnya. Widatipun berada di regol pula ketika iring-iringan kecil itu meninggalkan rumahnya.
Dengan dilepas oleh beberapa orang penghuni Kabuyutan Randumalang di regol rumah masing-masing, maka iring-iringan itu pun bergerak semakin lama semakin cepat, lika mereka berkuda di bulak-bulak di antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, maka kuda-kuda mereka pun berlari lebih cepat. Tetapi jika mereka memasuki padukuhan-padukuhan, maka mereka memperlambat derap kaki kuda mereka.
Dalam pada itu, maka kedua orang tawanan itu pun benar-benar merasa tersiksa. Meskipun mereka sama sekali tidak diikat dan diperlakukan sebagai tawanan, namun mereka mengerti, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan itu pun telah sampai ke padukuhan terakhir dalam lingkungan Kabuyutan Randumalang. Sebentar lagi, mereka akan keluar dari Kabuyutan itu dan memasuki satu bulak panjang, sebelum mereka akan sampai ke padukuhan pertama dari Kabuyutan tetangga.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah telah terbersit satu dugaan pada Mahisa Agni dan Witantra, bahwa satu kemungkinan dapat terjadi, bahwa orang-orang yang akan mengambil kembali kedua orang tawanan itu jika ada, justru akan menunggu di satu tempat sebelum mereka sampai kepada satu kemungkinan memilih jalan yang menuju ke Singasari.
“Aku kira mereka memang mempunyai sejumlah kawan” desis Witantra.
“Ya” jawab Mahisa Agni, “kemungkinan kawan-kawannya akan mengambil satu tindakan memang besar. Kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, mereka memang mengatakan, bahwa mereka masih mempunyai kawan-kawan yang mungkin sekali akan berbuat sesuatu”
Witantra mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling dilihatnya kedua orang yang berkuda di belakangnya memandanginya. Agaknya mereka mendengar percakapan antara Mahisa Agni dan Witantra itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dan Witantra memang tidak merahasiakan percakapannya.
Bahkan Mahisa Agni pun kemudian bertanya, “Ada berapa orang jumlah kawan-kawanmu?”
“Banyak Ki Sanak” jawab salah seorang dari mereka, “kami terdiri dari satu lingkungan yang terdiri dari banyak sekali orang”
“Jangan mengada-ada. Apakah kau bersedia menyebut, berapa orang kawanmu?” bertanya Witantra kemudian. Kedua orang itu termangu-mangu. Apa niat mereka untuk berbohong dengan menyebut jumlah yang besar. Tetapi mereka masih juga ragu-ragu.
“Sebut, “ tiba-tiba saja Mahisa Pukat yang ada di belakangnya membentak.
Kedua orang itu terkejut. Hampir berbareng mereka menyebut satu jumlah. Tetapi jumlah itu ternyata jauh berbeda. Seorang di antara mereka mengatakan, bahwa kawannya berjumlah seratus lebih. Sementara yang lain hanya menyebut duapuluh lima.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kalian membicarakan lebih dahulu sebelum berbohong. Berapa orang kalian akan menyebut jumlah kawan-kawan mereka. Baru setelah kalian sepakat, kalian dapat mengatakannya” Kedua orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi mereka sama sekali tidak menyahut lagi.
Demikianlah iring-iringan itu telah sampai di ujung padukuhan terakhir dari Kabuyutan Randumalang. Sesaat kemudian, maka mereka telah meninggalkan regol padukuhan. memasuki sebuah bulak yang sangat panjang. Bulak yang separuh digarap oleh orang-orang Randumalang. dan yang separuh oleh orang-orang di Kabuyutan tetangga.
Mahisa Agni dan Witantra yang berkuda di paling depan telah memperlambat laju kuda mereka. Sambil memandangi bulak panjang itu. Mahisa Agni berkata, “Di seberang padukuhan di ujung bulak panjang ini terdapat jalan yang tercabang Kita akan dapat memilih salah satu dari keduanya. Dan kita akan dapat mencapai Singasari dengan pedalaman pengembaraan kita”
“Ya” jawab Witantra, “aku sependapat, bahwa kita memang harus berhati-hati”
Sambil berpaling kepada kedua orang tawanannya Mahisa Agni berkata , “Kalian pun harus berhati-hati. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, mungkin di bulak panjang ini, tetapi mungkin juga di tempat lain, atau bahkan kita tidak akan bertemu dengan kawan-kawanmu, namun kita memang harus bersedia”
“Apa yang harus kami lakukan, jika kawan-kawan kami benar-benar akan mencegat perjalananku ini” bertanya salah seorang dari mereka.
“Tidak apa-apa. Justru kalian harus tidak berbuat apa-apa” jawab Mahisa Agni, “sebab, jika kalian ikut campur, maka kalian dapat mengalami nasib yang tidak menyenangkan mendesak, kami dapat berbuat kasar”
Kedua orang itu tidak bertanya lagi. Sementara itu kuda mereka berderap di jalan yang berdebu. Meskipun hari masih pagi, namun kaki-kaki kuda itu telah melepaskan debu yang putih mengepul. Namun sejenak kemudian larut oleh angin yang bertiup dari arah pegunungan.
Mahisa Agni dan Witantra yang berkuda di depan memang menjadi sangat berhati-hati. Naluri pengembaraan mereka seakan-akan sudah memberitahukan, bahwa ada sesuatu di hadapan mereka, di tengah-tengah bulak panjang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berkuda di paling belakang agaknya masih meragukan, bahwa kawan-kawan kedua orang itu akan mengganggu perjalanan mereka. “Mungkin keduanya tidak mempunyai kawan sama sekali” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya.
Meskipun demikian, keduanya tidak mengabaikan peringatan yang diberikan oleh kedua pamannya yang berkuda di paling depan.
Dalam pada itu. matahari yang memanjat kaki langit sinarnya terasa hangat di segarnya udara pagi. Sekali-sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menengadahkan wajah mereka, memandang sekelompok burung bangau yang terbang beriringan dari Tenggara.
“Daerah ini termasuk daerah yang subur” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi jika bukit-bukit itu menjadi gundul, maka daerah ini akan segera menjadi gersang. Di musim hujan, banjir akan melanda padukuhan dan sawah-sawah. Sungai akan meluap karena tidak dapat menampung arus air dari pegunungan. Di musim kering sungai-sungai akan menjadi kering karena di pegunungan yang gundul tidak dapat menyimpan air”
“Satu usaha yang terkutuk” sahut Mahisa Murti, “karena itu, maka hal ini harus didengar oleh para pemimpin di Singasari”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dipandanginya kedua orang tawanannya yang berkuda di depannya.
“Meskipun demikian, mungkin kita akan dapat menelusuri lewat orang-orang itu sampai akhirnya kita menemukan orang yang memegang kendali atas rencana mereka” sahut Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu kuda-kuda itu pun berderap semakin jauh dari padukuhan terakhir dari Kabuyutan Randumalang.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra merasakan sesuatu yang kurang wajar dihadapan mereka. Dua orang di bawah sebatang pohon yang tidak terlalu rimbun. Tentu bukan pengembara yang sedang beristirahat, karena hari masih belum terlalu panas. Juga bukan petani yang duduk menunggu giliran mendapatkan air bagi sawah mereka, karena parit mengalir deras di tepi jalan yang mereka lalui.
Apalagi ketika keduanya melihat bahwa seorang di antara keduanya bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam satu tikungan yang dibayangi oleh pohon jarak kepyar yang tumbuh di sudut tikungan.
Keduanya tanpa berjanji telah memperlambat kuda mereka. Bahkan kemudian Mahisa Agni berpaling sambil berkata, “Berhati-hatilah. Kita akan sampai ke satu tikungan yang perlu mendapat perhatian”
Kedua orang tawanan itu menjadi tegang. Namun terbersit harapan, bahwa kawan-kawannya benar-benar akan datang untuk membebaskan mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian mendesak maju, mendekati dua orang tawanannya. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Seandainya benar kawan-kawanmu yang datang, sekali lagi aku peringatkan. Kalian jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakai diri kalian sendiri”
Sebenarnyalah, bahwa orang-orang yang berada di tikungan itu adalah kawan-kawan kedua orang tawanan yang akan membebaskannya. Namun satu pengertian, bahwa jika mereka gagal, maka kedua itu akan dibunuhnya saja.
Dalam pada itu. dua orang yang duduk di bawah pohon itu adalah orang-orang yang bertugas untuk mengamati jalan. Kawan-kawan kedua orang tawanan itu memperhitungkan, bahwa pada saat yang demikian itu, orang-orang Singasari akan lewat.
Karena itu, ketika mereka melihat sebuah iring-iringan kecil orang berkuda, maka seorang diantara kedua orang yang menunggu di pinggir jalan itu. segera memberitahukan kepada kawan-kawan mereka.
“Berapa orang?” bertanya pemimpinnya yang duduk di bawah sebatang pohon kepyar yang rimbun.
“Enam orang” jawab pengamat itu, “dua diantara mereka tentu kawan-kawan kita yang tertawan itu”
Pemimpin mereka itu pun mengangguk-angguk. Lalu bebaskan mereka, kita adalah kelinci-kelinci yang tidak berarti. Kita tidak usah membunuh kedua kawan kita. Tetapi kitalah yang sebaiknya membunuh diri”
Kawan-kawan tidak menjawab. Tetapi mereka sadar, bahwa pemimpin mereka telah menentukan satu sikap. Mereka dapat merebut kedua orang kawan mereka. Itu berarti bahwa mereka harus dapat membinasakan keempat orang singasari yang membawa kedua orang kawan mereka itu.
“Kita tidak memerlukan seorang tawanan pun. Karena itu, maka ke empat orang itu harus kita bunuh” berkata pemimpin mereka.
Orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Ketika orang yang menunggu di pinggir jalan itu memberikan satu isyarat bunyi, maka sembilan orang yang lain serentak telah berdiri dan melangkah ke tikungan.
Mahisa Agni dan Witantra yang berada di paling depan telah menarik kendali kuda mereka, sehingga kuda itupun berhenti. Dengan wajah tegang, Mahisa Agni dan Witantra memandangi kesepuluh orang yang berada di tikungan itu. Seorang di antara kesepuluh orang itupun melangkah maju. Sejenak dipandanginya kedua orang kawannya yang berkuda di belakang dua orang Singasari yang sudah lewat setengah umur, sementara dua orang anak-anak muda berkuda di belakang mereka.
Kedua orang berkuda itu tersenyum. Tanpa disadari, seorang di antara mereka pun berpaling memandangi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat menggeram. Terdengar ia berdesis , “Ingat. Jika kau berbuat sesuatu, maka nasibmu akan terhenti di sini. Akan dapat membunuh kalian dengan cara apapun juga”
Tetapi orang itu tersenyum semakin lebar. Namun ia sama sekali tidak menjawab. Namun demikian, kesan yang menyentuh perasaan Mahisa Pukat membuatnya harus berwaspada sepenuhnya. Nampaknya kedua orang itu tidak akan tinggal diam pada saat-saat yang menentukan.
Dalam pada itu, pemimpin orang-orang yang mencegat itu kemudian berkata, “Ki Sanak. Kami minta maaf, jika kami mengganggu perjalanan kalian”
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Kemudian jawabnya, “Tidak apa-apa Ki Sanak. Agaknya Ki Sanak mempunyai satu keperluan yang barangkali kami dapat membantunya”
“Ya Ki Sanak. Aku kira kalian akan dapat membantu kami” jawab pemimpin dari orang-orang yang mencegat itu.
Mahisa Agni mengangguk-angguk Dengan nada datar ia bertanya, “Apa yang dapat kami lakukan?”
“Ki Sanak” berkata pemimpin orang-orang yang memcegat itu, “ketahuilah, bahwa dua orang yang sekarang berkuda di belakang Ki Sanak itu adalah kawan-kawanku. Menurut pendengaranku, mereka akan kalian ajak pergi ke Singasari. Bahkan kalian telah memperlakukan mereka sebagai tawanan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kau benar. Kedua orang yang kau sebut sebagai kawanmu ini memang dua orang tawanan kami yang akan kami bawa ke Singasari. Kami adalah petugas-petugas dari Singasari yang secara kebetulan menemukan mereka sedang melakukan satu kesalahan yang sangat mengganggu, sehingga kami memutuskan untuk membawa mereka ke Singasari”
“Apakah kesalahan mereka?” bertanya pemimpin kelompok yang mencegat iring-iringan itu
“Apakah kalian belum mengetahui?” bertanya Mahisa Agni.
“Sebetulnya. Apakah pendengaranku sesuai dengan pendapatmu” jawab pemimpin kelompok itu.
“Mereka telah merampas kebebasan dua orang gadis dari padukuhan Randumalang. Orang-orang Randumalang sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya, sehingga kami yang kebetulan sedang beristirahat di Kabuyutan itu dalam perjalanan kami kembali ke Singasari, telah menangkap kedua orang itu” jawab Mahisa Agni.
“Hanya itu?” bertanya pemimpin kelompok itu.
“Ya. Apalagi?” bertanya Mahisa Agni.
Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Apakah kalian tidak melihat persoalan lain pada kedua orang kawan kami itu?”
“Persoalan apa? Kami hanya melihat keduanya berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan. Dan kami telah menangkap mereka,” jawab Mahisa Agni.
“Jika hanya itu, kenapa kalian bersusah payah membawa mereka ke Singasari?” bertanya pemimpin kelompok itu pula.
“Lalu. harus kami bawa kemana?” Mahisa Agni justru ganti bertanya, “kami adalah prajurit Singasari. Bukan pengawal yang bertugas di Kediri. Bukan pula pengawal dari salah satu Pakuwon dan yang membawahi Kabuyutan Randumalang”
Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, salah seorang dari kedua tawanan itu tiba-tiba saja berkata
“Mereka ingin mengetahui, apa yang kita lakukan di sini. Karena itu, mereka menangkap
kami”
Semua orang yang ada di tempat itu berpaling kepada tawanan yang menyahut pertanyaan pemimpinnya itu.
Namun dalam pada itu Mahisa Pukat telah membentaknya
”Diam kau”
Tetapi orang itu tersenyum ”Baiklah kita sekarang melihat kenyataan yang kita hadapi. Kawan-kawanku telah datang untuk membebaskan aku. Mereka tentu tidak akan membiarkan aku kalian bawa ke Singasari dan kalian paksa dengan segala cara untuk mengatakan, apa kerjaku di sekitar Kabuyutan Randumalang ini“
Hampir saja Mahisa Pukat menyerang orang itu.
Tetapi Mahisa Murti sempat mencegahnya. Katanya “Biarkan saja apa yang dikatakannya. Biarlah paman Mahisa Agni dan paman Witantra mengambil keputusan, sikap apakah yang harus kita lakukan”
“Ternyata kau lebih bijaksana anak muda” berkata orang itu.
“Aku memang ingin bersikap bijaksana seperti yang kau katakan, karena aku yakin, bahwa kami akan dapat berbuat apa saja yang kami kehendaki atas kalian” jawab Mahisa Murti.
Orang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu pemimpinnya menyahut “Kau terlalu sombong anak muda. Jauh lebih sombong dari anak muda pemarah itu. Tetapi baiklah, aku ingin mengatakan sebagaimana sudah
dikatakan oleh kawanku yang kau tawan itu. Kami ingin membebaskan mereka. Mungkin dengan satu perjanjian. Tetapi mungkin kalian akan merelakannya begitu saja. Karena sebenarnyalah kalian memang sudah tidak
mempunyai pilihan apapun juga”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni
“bukankah kami wenang untuk memilih banyak kemungkinan “ Memang satu diantaranya adalah menyerahkan tawanan kami kepada kalian. Tetapi kami dapat memilih yang lain?”
Kami dapat memilih untuk tetap membawa mereka ke Singasari. Atau bahkan kami dapat memilih yang lebih buruk dari itu. Membunuh mereka berdua misalnya”
“Jangan mengada-ada Ki Sanak” jawab pemimpin kelompok itu “aku berusaha untuk tetap bersabar menghadapi kalian. Kami memang ingin membebaskan kedua orang kawan kami dengan cara yang paling baik.
Tetapi jika kalian masih tetap dalam kesombongan kalian, maka mungkin aku akan kehilangan kesabaran dan mengambil sikap yang kasar. Karena sebenarnyalah bahwa
kami adalah orang-orang yang kasar dan tidak mengenal belas kasihan”
“Aku tahu. Contohnya adalah kedua orang kawanmu yang telah kami tangkap. Mereka memang tidak mengenal belas kasihan. Apalagi terhadap gadis-gadis kecil dari
Kabuyutan Randumalang”
Terdengar pemimpin kelompok itu menggertakkan giginya. Sementara itu seorang yang berdiri di belakangnya menggeram “Tidak ada gunanya untuk berbicara lebih panjang. Kita binasakan saja mereka, dan kita ambil kawan-kawan kita”
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Jika mereka benar-benar tidak mau bersikap lebih baik, kita akan membinasakan mereka, dan bukan saja mengambil kawan-kawan kita. Tetapi kita akan mendapat kuda yang tegar dan kuat. Kuda yang tentu cukup mahal harganya”
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar