*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 019-02*
Dalam pada itu, sebenarnyalah Pangeran Kuda Permati sedang bertemu dengan para pemimpin pasukannya, kemarahan yang membakar jantung Pangeran Kuda Permati tidak dapat disembunyikannya lagi. Di hadapan para pemimpin pasukannya ia memaki tidak habis-habisnya.
“Sebenarnya rencana itu berhasil,” geram Pangeran Kuda Permati, “pasukan yang dipersiapkan sudah memasuki istana itu. Tetapi kesalahan terletak pada perhitungan atas kekuatan orang-orang Singasari itu.”
“Ada satu alasan lain kenapa pasukan gagal Pangeran,” berkata salah seorang Senapati.
“Apa?” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Ternyata bahwa masih ada sepasukan meskipun kecil dari para prajurit Kediri yang datang membantu orang-orang Singasari itu. Meskipun pasukan ini tidak terlalu besar, tetapi mereka telah menyerap sebagian kekuatan orang-orang yang seharusnya menghadapi orang-orang Singasari.”
“Benar. Tetapi kelengahan orang-orang kita juga membuat pasukan itu menjadi lemah. Ternyata bahwa orang-orang Singasari lah yang justru pertama-tama menyergap pasukan Kediri. Bukan sebaliknya. Dalam sergapan pertama itu menurut laporan yang aku terima, beberapa orang telah menjadi korban,” jawab Pangeran Kuda Permati.
“Benar Pangeran,” jawab Senapati yang lain, “Namun masih ada satu hal yang perlu mendapat perhatian. Pada saat pasukan kita memasuki istana itu, ternyata tidak seorang pun yang dijumpai, sehingga sampai saatnya mereka menyergap. Itu adalah pertanda bahwa sebenarnya mereka telah dapat mencium rencana kita. Mungkin ada seorang pengkhianat sengaja atau tidak sengaja, sehingga hal ini merupakan satu permulaan yang sangat berarti bagi orang-orang Singasari itu.”
Pangeran Kuda Permati mengangguk-angguk. Jika orang-orang Singasari telah mengetahui, bahwa ada sepasukan kecil akan memasuki halaman istana itu, memang tentu ada pengkhianatan.
Tetapi untuk mencari pengkhianat itu, adalah satu pekerjaan yang sangat sulit.
Meskipun demikian Pengeran Kuda Permati itu-pun berkata, “Pengkhianatan memang memungkinkan dimana saja. Tetapi kemungkinan lain adalah ada orang-orang yang memang diselundupkan oleh penjilat-penjilat dari Kediri itu ke dalam tubuh kita, sehingga setiap kali kita berbicara tentang satu rencana, maka rencana itu tentu jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak. Orang-orang yang menjadi penjilat itu.”
Para Senapatinya-pun mengangguk-angguk. Salah seorang di antara mereka berkata, “Hal itu memang mungkin sekali. Memang berbeda antara pengkhianat dan orang-orang yang memang diselundupkan ke dalam tubuh kita. Mereka tidak dapat disebut pengkhianat, karena mereka hadir dengan tugas mereka untuk mengamati kita.”
“Tetapi bagi Kediri orang itu memang pengkhianat. Jika yang diselundupkan itu orang Singasari, maka ia memang bukan pengkhianat, tetapi justru seorang pahlawan bagi Singasari,” sahut Pangeran Kuda Permati.
Para Senapatinya masih saja mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Kuda Permati-pun berkata, “Tetapi kita tidak boleh tenggelam dalam arus perasaan untuk saling menyalahkan dan saling mencurigai. Meskipun aku tetap memerintahkan kepada kalian untuk berhati-hati menghadapi pengkhianatan itu atau orang-orang yang dengan sengaja diselundupkan ke dalam lingkungan kita. Tetapi satu hal yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Meskipun orang-orang kita gagal membunuh utusan dari Singasari itu, tetapi mereka telah berhasil memasuki istana yang diperuntukkan bagi mereka. Dengan demikian, maka Singasari tentu mempunyai penilaian yang pasti terhadap kita. Itulah yang penting. Aku mengharap Singasari akan benar-benar bertindak dengan mengerahkan pasukannya ke Kediri. Jika demikian, maka dalam waktu dekat, aku akan menggugah orang-orang Kediri untuk bangkit. Bahwa sesungguhnya orang-orang Singasari memang ingin menguasai Kediri. Sekarang kita masih tertidur nyenyak, karena kita belum sempat melihat kenyataan itu. Orang-orang Singasari dengan cerdik dan licik melakukan dan penghisapan. Sementara kita merasa bahwa orang-orang Singasari seolah-olah telah mendatangkan kesejahteraan.”
Para Senopatinya memang sependapat. Mereka menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh Singasari, sehingga Pangeran Kuda Permati dapat menunjukkan bahwa Singasari memang benar-benar dengan garang telah memeras Kediri sampai kering.
Tetapi ternyata Singasari tidak melakukan sebagian yang diharapkan oleh Pangeran Kuda Permati. Singasari melangkah dengan bijaksana, karena Singasari menyadari kedudukannya.
Sementara Mahisa Agni dan Witantra yang masih berada di Kediri dalam dua hari terakhir, tidak melihat perkembangan baru di Kediri. Karena itu, maka mereka-pun telah memutuskan untuk segera kembali ke Singasari dengan laporan tentang perkembangan keadaan di Kediri. Bahwa Pangeran Singa Narpada telah diturunkan kembali ke dalam tugasnya. Sementara itu Pangeran Kuda Permati berusaha untuk memancing permusuhan menjadi semakin parah antara orang-orang Kediri dan orang-orang Singasari. Sehingga dengan demikian, maka Singasari akan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi segala kemungkinan.
Dengan hasil pengamatannya selama di Kediri, maka Mahisa Agni dan Witantra-pun akhirnya mohon diri kepada Sri Baginda. Agaknya mereka merasa bahwa perkembangan selanjutnya masih harus selalu diikuti. Namun Mahisa Agni dan Witantra masih belum dapat mengatakan, cara yang manakah yang akan ditempuh oleh Singasari.
“Salamku kepada Sri Maharaja,” berkata Sri Baginda di Kediri, “Aku mohon restunya, semoga aku segera berhasil mengatasi kemelut ini.”
“Mudah-mudahan,” berkata Mahisa Agni, “Tetapi yang Sri Baginda hadapi kini sudah jelas.”
“Ya,” jawab Sri Baginda, “Dalam dua hari ini Kuda Permati nampaknya merasa perlu untuk membenahi pasukannya. Namun aku menjadi semakin jelas, sikap apakah yang harus aku ambil sekarang.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara itu, ia tidak lagi menawarkan jasa apa-pun juga, karena dengan demikian Kediri justru akan dapat tersinggung.
Hari itu Mahisa Agni dan Witantra-pun telah meninggalkan Kediri. Mereka hanya dikawal oleh sekelompok kecil pasukan Singasari. Namun mereka yakin, bahwa mereka tidak akan mengalami kesulitan di perjalanan, karena mereka-pun sependapat dengan Sri Baginda, bahwa agaknya Pangeran Kuda Permati sedang membenahi diri. Apalagi jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang Singasari itu adalah jalan yang tidak pernah dijamah oleh pasukan Pangeran Kuda Permati sebelumnya.
“Seandainya kita menjumpainya di perjalanan, maka apa boleh buat,” berkata Witantra.
Namun sebenarnyalah, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa sekelompok orang-orang Singasari telah meninggalkan gerbang kota Kediri.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Permati memang sedang membenahi pasukannya. Kegagalan yang dialaminya di Kota Raja mendorong mereka untuk bertindak lebih hati-hati dan cermat. Namun dengan diam-diam beberapa orang kepercayaan Pangeran Kuda Permati berusaha untuk mengetahui dalam lingkungan sendiri, apakah benar-benar di antara mereka terdapat pengkhianat.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada yang bekerja bersama dengan Panji Sempana Murti telah mempelajari peristiwa yang terjadi di gerbang sebelah Timur Kota Raja. Mereka sudah mendapatkan laporan kegagalan usaha Pangeran Kuda Permati untuk membunuh orang-orang Singasari, meskipun sebagian dari tujuan mereka telah tercapai, untuk memancing kemarahan Sri Maharaja di Singasari.
Tetapi bagi Pangeran Singa Narpada, seandainya Singasari mengirimkan pasukannya, ia tidak merasa berkeberatan. Dengan demikian, maka Pangeran Kuda Permati akan dengan lebih cepat dihancurkan.
Namun demikian, Panji Sempana Murti yang pada satu saat dipanggilnya berpendapat, “Tetapi sulit untuk menghancurkan Pangeran Kuda Permati sekedar dengan kekuatan pasukan. Mereka berada di antara orang-orang yang telah terpengaruh olehnya. Dan kita, juga orang-orang Singasari tidak dapat begitu saja dengan membabi buta menghancurkan orang-orang yang kita anggap terpengaruh olehnya itu.”
“Aku mengerti,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Tetapi sergapan pasukan Pangeran Kuda Permati itu ada juga baiknya. Dengan prajurit yang berada di dalam lingkungan dinding Kota Raja menjadi terbangun karenanya.”
“Juga pasukan perbatasan di sisi lain,” jawab Panji Sempana Murti. Lalu, “Tetapi sebaiknya Pangeran melakukan apa yang pernah kita rencanakan. Kita harus tahu pasti isi setiap rumah di padukuhan-padukuhan yang termasuk daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati. Dengan pasukan yang kuat untuk memberikan pengawalan kepada orang-orang yang akan kita tugaskan kemudian, maka kita memasuki padukuhan demi padukuhan. Kemudian setiap saat kita dapat melihat, apakah isi rumah-rumah berubah atau bertambah dengan orang-orang yang tidak termasuk keluarga mereka, tetapi pengikut-pengikut Pangeran Kuda Permati.”
“Aku sependapat,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Kita akan segera mulai. Cara itu akan mempermudah bagi kita untuk mengetahui, apakah orang-orang di padukuhan itu jujur terhadap kita, atau justru mereka merupakan selimut yang mampu menyelubungi pasukan Pangeran Kuda Permati.”
“Kita akan segera dapat mulai dengan rencana itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Dan agaknya Pangeran Singa Narpada tidak akan menunggu lebih lama lagi. Ia tidak mau memberi kesempatan kepada Pangeran Kuda Permati untuk bernafas setelah kegagalannya di Kota Raja.
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada-pun segera mengadakan persiapan-persiapan untuk melaksanakan rencananya.
Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra yang meninggalkan Kediri untuk ke Singasari tidak menjumpai hambatan di perjalanan. Perjalanan mereka memang tidak segera diketahui oleh Pangeran Kuda Permati. Ketika dua orang petugas sandi Pangeran Kuda Permati melihat iring-iringan itu, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seandainya mereka dengan tergesa-gesa memberitahukan.
Kepada Pangeran Kuda Permati, maka iring-iringan itu tentu sudah menjadi semakin jauh.
Dengan demikian, maka yang dapat mereka laporkan adalah bahwa para petugas itu telah melihat sebuah iring-iringan prajurit Singasari dalam jumlah yang kecil.
“Jika kita tahu sebelumnya,” geram Senapati yang menerima laporan itu, “Sekarang sudah terlambat untuk mengejar mereka.”
“Ya. Agaknya sampai memasuki Singasari kita tidak akan dapat mencapai mereka,” jawab petugas sandi itu.
Dengan demikian, maka Senapati itu-pun telah melanjutkan laporan itu, sehingga seorang petugas telah menghadap Pangeran Kuda Permati untuk memberikan laporan tersebut.
Tetapi justru dengan marah Pangeran Kuda Permati menjawab, “Kalian memang dungu. Buat apa kau laporkan kepergian orang-orang Singasari itu? Kami sudah mengetahuinya sejak mereka meninggalkan pintu gerbang.”
Petugas itu mengerutkan keningnya. Jika demikian kenapa Pangeran Kuda Permati tidak bertindak.
Namun sebagaimana perhitungan Senapati yang pertama kali menerima laporan itu, bahwa mereka telah terlambat. Mereka tidak sempat memerintahkan pasukan untuk mengejar. Karena mungkin di perjalanan pasukan itu justru harus mengalami hambatan. Mungkin mereka bertemu dengan kesatuan-kesatuan prajurit Kediri sendiri. Sementara jika mereka mencari jalan yang berputar menghindari kemungkinan itu, pasukan Singasari menjadi semakin jauh.
Karena itulah, maka pasukan Singasari yang kecil itu dengan selamat kembali ke barak mereka, untuk seterusnya menghadap Sri Maharaja, melaporkan hasil perjalanan mereka ke Kediri.
Ternyata Sri Maharaja di Singasari-pun sependapat dengan Mahisa Agni dan Witantra. Singasari tidak akan dengan tergesa-gesa mengirimkan pasukan ke Kediri.
“Biarlah Kediri menyelesaikan masalahnya,” berkata Sri Maharaja di Singasari.
“Hamba Tuanku,” Sembah Mahisa Agni, “Sementara itu, kita akan mengikuti perkembangan keadaan dengan saksama. Namun satu hal yang harus kita perhitungkan sehubungan dengan sikap Pangeran Kuda Permati.”
“Bukankah kita sudah meyakininya?” bertanya Sri Maharaja.
“Hamba Tuanku. Tetapi Pangeran Kuda Permati bukan saja bertindak di Kediri sendiri. Tetapi langkah-langkahnya di luar Kediri harus kita amati. Agaknya usaha Pangeran Kuda Permati untuk melumpuhkan Singasari sebagaimana kita kenal dengan usahanya merusak hutan di lereng-lereng pegunungan, merupakan langkah yang sangat berbahaya,” berkata Mahisa Agni.
Sri Maharaja di Singasari mengangguk-angguk. Laporan tentang perusakan hutan itu memang sudah lama didengarnya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Kita memang harus bertindak tegas. Karena itu, maka perintahkan kepada prajurit Singasari untuk bertindak lebih tegas terhadap orang-orang yang menjual diri untuk merusak hutan itu daripada para pengikut Pangeran Kuda Permati yang berada di medan-medan perang.”
Perintah Sri Maharaja itu-pun tegas dan pasti. Karena itu, maka perintah itu akan menjadi pegangan bagi setiap prajurit, bahkan rakyat Singasari untuk menentukan sikap.
Di hari berikutnya, maka perintah itu telah sampai ke telinga setiap prajurit. Jika sebelumnya Singasari masih memperhitungkan berbagai kemungkinan, maka untuk selanjutnya Singasari benar-benar bertindak tegas. Diperintahkan kepada setiap Kabuyutan untuk membantu pengawasan atas lereng-lereng pegunungan. Para Akuwu harus memerintahkan para pengawalnya meronda lereng-lereng hutan yang menjadi daerahnya. Jika ternyata mereka menjumpai kekuatan yang sulit untuk dipatahkan, maka mereka harus menghubungi pasukan Singasari yang di tempatkan di tempat-tempat tertentu khusus menghadapi sikap Pangeran Kuda Permati. Di luar lingkungan Kediri sendiri, maka Singasari ternyata benar-benar bertindak sesuai dengan perintah Sri Baginda.
Beberapa kelompok berandal dan bahkan beberapa orang pemimpin padepokan yang terlampau mudah untuk menelan janji dan harapan-harapan harus menilai kembali langkah mereka setelah mereka mengetahui, bahwa Singasari benar-benar bertindak dengan sikap keprajuritan.
Para petugas sandi-pun telah berkeliaran di padukuhan-padukuhan dan pasar-pasar. Jika mereka menjumpai pande besi yang membuat kapak penebang kayu melampaui kewajaran, maka pande-pande besi itu akan diusut.
Tindakan tegas Singasari itu, akhirnya sampai juga ke telinga Pangeran Kuda Permati, sejalan dengan sikap tegas Pangeran Singa Narpada dan Panji Sempana Murti di Kediri.
Sikap keras pemimpin-pemimpin Singasari dan para Senapati di Kediri itu membuat Pangeran Kuda Permati menjadi semakin marah. Yang diharapkannya, terutama tidak terjadi. Singasari tidak mengirimkan pasukan ke Kediri yang akan dapat dipergunakannya sebagai alat untuk membakar hati rakyat Kediri yang sudah mulai dipengaruhinya. Tetapi yang terjadi adalah sikap keras orang-orang Kediri sendiri dan orang-orang Singasari di daerah luar Kediri.
“Licik,” geram Pengeran Kuda Permati di tempat persembunyiannya yang dirahasiakan, “Singasari tidak berani mengirimkan pasukannya ke Kediri. Mereka hanya berani mengejar anak-anak ingusan yang bermain-main di lereng-lereng bukit. Sementara itu, mereka telah berusaha mengadu domba orang-orang Kediri.”
Dengan cerdik Pangeran Kuda Permati berhasil meyakinkan beberapa orang yang mempunyai pengaruh dilingkungan rakyat padukuhan, bahwa rakyat Kediri sedang diadu domba.
“Gila,” geram beberapa orang petugas sandi, “Pangeran Kuda Permati memang memiliki kecerdikan untuk membakar hati rakyat. Jika Singasari mengirimkan pasukannya, maka Pangeran Kuda Permati akan mengatakan, bahwa Singasari memang bernafsu untuk menguasai tlatah Kediri. Singasari datang untuk memeras dan merendahkan martabat orang-orang Kediri. Tetapi jika Singasari menyerahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri, maka Singasari dikatakannya mengadu domba orang-orang Kediri, sehingga dimana-mana telah terjadi benturan kekuatan antara sesama saudara.”
“Kita harus segera membuat laporan,” berkata yang lain.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun melihat sikap Pangeran Kuda Permati beserta orang-orangnya seperti itu. Mereka melihat, bagaimana para pengikut Pangeran Kuda Permati berusaha memberikan keyakinan kepada rakyat Kediri, bahwa mereka jangan terlalu mudah untuk diadu domba.
“Kita harus bangkit dan bersatu. Jika kita masih mementingkan kepentingan kita sendiri-sendiri, maka kita akan tetap menjadi sasaran kedengkian dan ketamakan orang-orang Singasari. Kita akan menjadi ayam aduan yang akan saling membunuh di antara kita, sementara orang-orang Singasari pada saatnya akan datang untuk berbujana di atas mayat-mayat kita yang berserakan.”
Orang-orang yang pada dasarnya memang sudah berada dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati akan dengan mudah menelan hasutan itu. Sehingga mereka-pun menjadi semakin jauh dari jalan yang diambil oleh Sri Baginda di Kediri sendiri.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada telah menentukan langkahnya sendiri. Pangeran Singa Narpada telah menyusun pasukan yang besar diperkuat oleh para prajurit Panji Sempana Murti. Dengan pasukan yang kuat itu, maka Pangeran Singa Narpada telah memasuki daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati.
Kedatangan pasukan yang kuat itu memang mengejutkan. Tetapi sebagaimana yang, pernah mereka lakukan, jika padukuhan-padukuhan yang berada dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati itu didatangi oleh prajurit-prajurit Kediri, maka para pengikut Pangeran Kuda Permati itu telah hilang di antara para penghuni padukuhan itu.
Tetapi saat itu, Pangeran Singa Narpada tidak hanya sekedar lewat. Ternyata ia memasuki setiap rumah. Para petugas yang sudah disiapkan, telah menghitung setiap orang yang ada di setiap rumah.
“Kami menghendaki kalian bersikap jujur,” berkata salah seorang di antara para petugas itu, “Kita adalah sama-sama orang Kediri. Tetapi kita akan dapat terjebak dalam sikap yang berbeda jika kita tidak berhati-hati.”
Orang-orang padukuhan itu mengerutkan keningnya. Ternyata yang dikatakan oleh petugas itu mirip dengan yang dikatakan oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati.
Sementara petugas itu berkata lebih lanjut, “Karena itu kita harus menyadari, bahwa kita bukan ayam aduan yang akan saling bertarung di arena.”
Seorang yang berambut putih mengangguk-angguk. Ia mulai memperbandingkan sikap orang itu dengan sikap para pengikut Pangeran Kuda Permati. Bahkan ia mulai berpikir, “Apakah orang ini juga pengikut Pangeran Kuda Permati?”
Namun untuk selanjutnya orang itu berkata, “Karena itu, maka marilah kita berusaha untuk melihat peristiwa yang terjadi di Kediri dengan pandangan mata hati yang jernih, sehingga kita tidak akan dijadikan alat oleh orang-orang yang sekedar menuruti gejolak hatinya sendiri.”
Orang-orang yang mendengar penjelasan itu mulai mengerutkan keningnya. Namun justru pengaruh Pangeran Kuda Permati yang sudah meresap di dalam hati mereka mulai terungkat dan mereka mulai berpikir, “Inilah agaknya yang dimaksud dengan Pangeran Kuda Permati para penjilat yang tamak, sehingga mereka bersedia diadu domba dengan sanak kadangnya sendiri, karena mereka mengharapkan hadiah yang besar dari orang-orang Singasari.”
Dengan demikian, maka segala penjelasan berikutnya, justru mendorong orang-orang itu untuk lebih mendekatkan mereka kepada jaringan pengaruh Pangeran Kuda Permati. Segala keterangan dianggap oleh mereka sebagai sikap berpura-pura untuk menutupi ketamakan dan kedengkian mereka.
Sikap itu memang terasa oleh para petugas dari Kediri yang berdiri di pihak Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka mereka-pun mulai bersikap.
Wajah-wajah menjadi tegang, dan kata-kata mereka-pun menjadi keras.
“Dengar kata-kataku,” berkata para petugas itu, “Aku datang menjunjung titah Sri Baginda. Bagiku titah itu sama dengan paugeran. Siapa yang menentang titah Sri Baginda sama dengan menentang paugeran yang berlaku di Kediri.”
Orang-orang yang terpengaruh Pangeran Kuda Permati itu menunjukkan betapa mereka tidak senang terhadap orang-orang itu. Namun para petugas itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka dengan kata-kata keras mulai menanyakan isi di setiap rumah dan menanyakan setiap hubungan keluarga di antara nama-nama yang disebut.
“Aku minta kalian menyebut nama yang sebenarnya dan harus kalian pertanggung jawabkan. Jika terjadi perbedaan dengan kenyataan yang akan kami temui kemudian, maka seisi rumah akan mengalami akibatnya,” berkata para petugas itu.
Para pengikut Pangeran Kuda Permati tidak dapat menentang langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada di daerah pengaruh mereka, karena para petugas itu mendapat pengawalan yang sangat kuat oleh pasukan segelar sepapan.
Mereka mengikuti langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada itu dengan cemas dari kejauhan. Dari pemusatan pasukan yang tersembunyi.
Demikianlah para petugas itu telah mencantumkan urutan nama pada setiap rumah pada sehelai rontal, sehingga setiap saat yang diperlukan, maka nama-nama itu akan dibaca kembali dan disesuaikan dengan orang-orang yang ada di rumah itu.
“Kami tidak sekedar bermain-main,” berkata para petugas itu, “Tetapi kami bersungguh-sungguh. Kami mengetahui apa yang tersimpan di hati kalian, bahwa kalian condong untuk mengikuti jalan pikiran Pangeran Kuda Permati yang sesat, yang sekedar memanjakan mimpinya yang sangat buruk bagi Kediri.”
Orang-orang yang berada di bawah pengaruh Pangeran Kuda Permati itu tidak menjawab. Tetapi seandainya mereka berani, maka mereka tentu akan mencibirkan bibir mereka.
Namun, dalam pada itu, langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada itu ternyata mempunyai pengaruh yang luas. Setiap rumah yang pernah didatangi dan ditulis susunan keluarga mereka di atas sehelai rontal, menjadi cemas jika di rumahnya terdapat seseorang yang sebenarnya adalah seorang prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati. Perasaan yang demikian belum pernah mereka alami sebelumnya.
“Mereka hanya menakut-nakuti,” berkata seorang prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati.
Namun orang-orang yang tinggal di padukuhan-padukuhan yang pernah didatangi oleh pasukan, Pangeran Singa Narpada tidak dapat menganggap bahwa yang dilakukan itu sekedar untuk menakut-nakuti. Karena itu, maka sikap mereka-pun sudah mulai berubah. Meskipun mereka masih tetap berada dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati, tetapi mereka minta kepada para prajurit yang menjadi pengikut Pangeran itu untuk memikirkan nasib mereka bersama keluarga mereka.
Pangeran Kuda Permati yang mendapat laporan tentang langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada itu-pun menjadi sangat marah. Tetapi ia tidak boleh bertindak dengan kasar. Ia harus menyadari, bahwa orang-orang padukuhan itu tidak memiliki ketahanan wadag maupun jiwani sebagaimana seorang prajurit.
Karena itu, maka yang harus dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati adalah mempertebal pengaruh mereka kepada orang-orang padukuhan itu, agar mereka tidak terlepas dari ikatan yang sudah mereka bina sebelumnya.
Namun sementara itu, maka Pangeran Singa Narpada-pun tidak tinggal diam. Pangeran Singa Narpada mengejar ketinggalannya atas pengaruh orang-orang padukuhan itu dengan sikapnya yang keras. Ia benar-benar tidak sekedar menakut-nakuti. Sehingga orang-orang di daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati itu tidak dapat mengabaikan ancamannya.
Tiba-tiba saja ketika fajar menyingsing, di sebuah padukuhan yang besar, yang termasuk daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati, sepasukan prajurit yang kuat telah berada di seputar padukuhan itu. Tidak seorang-pun yang boleh keluar dan masuk regol padukuhan.
Di antara para prajurit itu terdapat beberap orang petugas yang membawa helai-helai rontal yang memuat nama-nama setiap penghuni rumah di daerah padukuhan itu.
Langkah yang mengejutkan itu, ternyata telah menggetarkan ketahanan tekad para pengikut Pangeran Kuda Permati, apalagi orang-orang yang sekedar berada dibawah pengaruhnya. Langkah yang tidak diduga benar-benar akan dilakukan itu, ternyata telah menjebak beberapa orang prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati yang tidak yakin, bahwa langkah yang demikian benar-benar akan diambil.
Beberapa orang yang tinggal diantara penduduk, namun yang tidak termasuk keluarga yang tertulis di dalam rontal telah terjebak. Mereka tidak dapat melawan karena mereka tidak bersiap untuk melakukannya, apalagi para petugas itu pendapat pengawalan yang sangat kuat.
Karena itu, mereka-pun telah menjadi tawanan yang akan dibawa oleh para prajurit pasukan Pangeran Singa Narpada, termasuk orang yang bertanggung jawab dalam lingkungan keluarga itu.
Beberapa orang diantara mereka berusaha untuk bersembunyi. Tetapi para petugas dari pasukan Pangeran Singa Narpada telah menelusuri setiap sudut padukuhan tanpa ada yang terlampaui. Berbagai macam cara telah pula ditempuh untuk menghindarkan diri dari penangkapan. Ada yang mengaku tamu yang baru datang semalam dari padukuhan lain, atau sanak keluarganya yang tinggal di tempat yang jauh dan sudah lama tidak datang kembali. Baru dua hari yang lalu ia kembali ke rumah itu.
Namun para prajurit Pangeran Singa Narpada tidak menghiraukannya. Mereka telah dibawa sebagai tawanan. Bahkan meskipun namanya tercantum, tetapi ujud orangnya meragukan, maka orang yang demikian telah dibawa pula.
Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak mengabaikan kemungkinan bahwa orang yang dibawanya itu benar-benar tidak bersalah. Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan sekelompok orang terpilih untuk memeriksa mereka yang ditangkap di padukuhan itu.
“Kita belum dapat menentukan, bahwa mereka bersalah, sebelum kita mendapatkan satu keyakinan. Mungkin bukti, saksi atau pengakuan mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian, maka orang-orang yang dibawa oleh para petugas itu-pun telah di tempatkan pada satu tempat yang mendapat pengawasan yang ketat untuk diperiksa dengan teliti.
Namun dalam pada itu, betapa cermatnya langkah itu diambil, tetapi pada saat pasukan Pangeran Singa Narpada mengepung padukuhan itu, ada juga orang yang dapat lolos dari tangan mereka.
Dengan tergesa-gesa orang yang dapat menghindar lewat sebuah terowongan air dibawah rumpun-rumpun bambu yang rimbun, dengan tergesa-gesa telah menghubungi kawan-kawannya. Namun mereka tidak dapat berbuat banyak, kecuali membawa orang itu menghadap seorang perwira yang terpercaya dari Pangeran Kuda Permati.
“Gila,” geram perwira itu, “Jadi Pangeran Singa Narpada benar-benar mengambil langkah yang tidak masuk akal itu? Apakah dengan demikian ia tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat menumbuhkan perlawanan yang lebih luas?”
Tetapi salah seorang di antara para pengikut itu justru berkata, “Jika demikian, bukankah langkah itu akan menguntungkan kita meskipun kita harus mengorbankan beberapa orang di antara kita?”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Sementara orang itu melanjutkan, “Karena itu, bukankah sebaiknya kita mendorong terjadinya peristiwa-peristiwa seperti itu?”
“Kau memang dungu. Kita tidak boleh terlalu banyak mengorbankan kawan-kawan kita. Bagaimana seandainya kau yang terpilih menjadi korban?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab.
Demikianlah, maka hal itu-pun segera dilaporkan kepada Pangeran Kuda Permati, yang sebagaimana perwira itu, telah terkejut karenanya. Pada saat Pangeran Singa Narpada mendatangi setiap rumah untuk mengetahui jumlah isinya. Pangeran Kuda Permati sudah merasa tersinggung, apalagi langkah yang dengan cepat telah diambil oleh Pangeran Singa Narpada itu.
Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati merasa terdorong untuk mengambil langkah-langkah untuk mengimbangi tindakan yang cepat dari Pangeran Singa Narpada.
Tetapi untuk melakukan kegiatan di sisi Utara, Pangeran Kuda Permati terbentur oleh sikap yang keras kepala dari Panji Sempana Murti. Panji Sempana Murti bukan saja mempersiapkan pasukannya untuk bergerak cepat, tetapi ia telah menyusun kekuatan di padukuhan-padukuhan yang berhadapan dengan daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati. Daerah yang semula mampu melindungi kekuatan Pangeran Kuda Permati, sehingga merupakan alas loncatan para pengikutnya untuk melakukan tekanan dan bahkan kadang-kadang perampasan di daerah diluar daerah pengaruh mereka, terutama kuda-kuda yang tegar.
Dengan kekuatan yang tersusun semakin lama semakin rapi, dibantu oleh para prajurit dibawah pimpinan Panji Sempana Murti, maka daerah perbatasan Utara seakan-akan tidak memberikan kesempatan lagi bagi Pangeran Kuda Permati, apalagi Pangeran Singa Narpada telah bukan saja bergerak di padukuhan-padukuhan yang berhadapan dengan daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati, tetapi mereka telah memasuki dan mengkoyak-koyak kekuatan pengaruh Pangeran Kuda Permati itu.
Karena itulah, maka Pangeran Kuda Permati telah merubah cara perjuangannya. Ia tidak terikat pada satu tempat alas perjuangan. Tetapi ia sudah menyusun rencana-rencana baru yang akan dibicarakannya dengan para pengikutnya.
“Jadi kita akan selalu bergerak dan bergeser?” bertanya seorang perwiranya.
“Ya. Meskipun kita tetap mempunyai satu tempat yang terlindung sebagai alas perjuangan kita dalam keseluruhan, namun kita akan membagi kekuatan dan bergerak di segala sudut tanah ini sebagaimana kita sudah bergerak justru di Singasari dengan menugaskan beberapa kelompok di antara kita untuk memperlemah kedudukan Singasari lewat kekuatan alam yang kita manfaatkan dengan membuat lereng-lereng gunung kehilangan perlindungan,” berkata Pangeran Kuda Permati.
Para Senapatinya-pun segera mendapat perintah untuk merenungi rencana itu, sehingga pada satu saat. Pangeran Kuda Permati telah memanggil mereka untuk membicarakannya.
Memang ada perbedaan pendapat di antara para Senapati dan para prajurit yang berpihak kepada Pangeran Kuda Permati. Namun akhirnya Pangeran Kuda Permati berhasil meyakinkan mereka, bahwa tidak ada gunanya untuk tetap berada di suatu alas perjuangan menghadapi kekuatan yang besar, sebagaimana kekuatan Pangeran Singa Narpada yang keras dan Panji Sempana Murti yang selain keras, juga cerdik. Panji Sempana Murti berhasil menyusun kekuatan di padukuhan-padukuhan untuk menghadapi kekuatan Pangeran Kuda Permati, sehingga padukuhan-padukuhan itu tidak lagi dapat dijadikan sumber persediaan makan dan kebutuhan-kebutuhan lain, karena kelompok-kelompok kecil pengikut Pangeran Kuda Permati yang berani memasuki padukuhan itu tentu akan dihadapi oleh para penghuninya, terutama anak-anak mudanya dan laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata. Sementara jika datang kekuatan yang lebih besar, maka mereka akan membunyikan isyarat dengan kentongan, sehingga dalam waktu yang pendek pasukan berkuda Panji Sempana Murti dan Pangeran Singa Narpada akan berdatangan.
Karena itulah, maka Pangeran Kuda Permati kemudian mengambil satu keputusan bahwa alas perjuangannya akan berpindah. Bahkan pasukannya tidak akan menetap lagi di tempat-tempat yang terlindung oleh bayangan penghuni setiap padukuhan, karena Pangeran Singa Narpada telah memasuki bukan saja padukuhan-padukuhan, tetapi rumah demi rumah.
“Kita akan berada di sins yang lemah dari daerah perbatasan,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Sementara daerah itu diperkuat, kita akan mengambil tempat yang lain. Aku yakin, bahwa Kediri tidak akan dapat membentengi Kota Raja dengan satu lingkaran penuh. Pada satu saat, kita akan memilih dinding yang paling lemah. Satu kali, kita akan menyerang memasuki Kota Raja.”
“Apakah kita akan merebut Kota Raja?” berkata salah seorang perwiranya.
“Kau memang dungu,” Pangeran Kuda Permati menggeram, “Buat apa kita merebut Kota Raja? Kita akan menguasainya untuk beberapa saat, namun cukup waktu untuk menjadikan Kota Raja menjadi karang abang.”
Para pengikutnya mengangguk-angguk. Tetapi ada diantara mereka yang berbisik di telinga kawannya, “Lalu apakah sebenarnya yang diinginkan oleh Pangeran Kuda Permati? Bukankah Kota Raja merupakan satu-satunya pusat pemerintahan? Jika kita menguasai Kota Raja, berarti kita menguasai pusat pemerintahan. Kenapa justru sekedar untuk menjadikan karang abang.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian menjawab, “Kau memang tidak mudah menangkap pikiran orang lain. Jika Kota Raja itu menjadi karang abang, maka pertanda bahwa pemerintahan Kediri yang sekarang itu sudah tidak ada. Harus dibangun Kediri yang baru.”
Orang yang pertama mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap tidak mengerti jalan pikiran Pangeran Kuda Permati.
Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Permati-pun dengan cepat melaksanakan rencananya yang sudah disepakati oleh para Senapatinya. Dengan demikian, maka gerakan Pangeran Kuda Permati itu telah mengejutkan para prajurit Kediri.
Pada satu saat, tiba-tiba saja Pangeran Kuda Permati dan pasukannya telah menyergap pasukan Kediri di perbatasan sebelah Timur. Namun dua hari kemudian, maka daerah sebelah Barat telah dikacaukan oleh kehadiran pasukan Pangeran Kuda Permati.
Namun dalam pada itu, Ki Waruju telah mendengar sikap pangeran Kuda Permati itu dari seseorang yang sering membual bersamanya di warung-warung di sekitar pasar-pasar hewan. Dalam keadaan mabuk, maka orang itu menceriterakan rencana yang akan diambil oleh Pangeran Kuda Permati.
Dengan demikian, maka rencana itu-pun segera sampai pula kepada Pugutrawe, lewat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Satu rencana yang sangat berbahaya,” berkata Pugutrawe. Hal ini harus segera sampai kepada Pangeran Singa Narpada.”
Tetapi jalur lurus antara para petugas sandi dari Singasari dan para prajurit dari Kediri tidak ada. Karena itu, ia mempergunakan petugasnya yang ada di dalam pasukan Pangeran Singa Narpada, meskipun orang itu agak sulit untuk meyakinkannya.
Namun, demikian perbatasan di sebelah Timur mendapat sergapan dari pasukan Pangeran Kuda Permati, maka dengan segera Pangeran Singa Narpada menghubungkan hal itu dengan rencana Pangeran Kuda Permati yang pernah didengarnya.
“Benar,” geramnya, “Kuda Permati mempergunakan akal yang licik itu.”
Namun Pangeran Singa Narpada tidak mau ketinggalan. Dengan serta merta ia memanggil beberapa orang pengikut Pangeran Kuda Permati yang tertawan. Dengan caranya, Pangeran Singa Narpada memaksa orang itu untuk mengatakan dimana landasan utama Pangeran Kuda Permati.
Tetapi dari orang-orang itu Pangeran Singa Narpada telah mendapatkan beberapa nama dari orang-orang yang dianggapnya mengetahuinya, sehingga jika Pangeran Singa Narpada dapat berbicara dengan orang-orang itu, maka ia akan dapat menemukan persembunyian Pangeran Kuda Permati yang sangat dirahasiakannya itu.
“Setan,” geram Pangeran Singa Narpada, “jadi kalian tidak mengetahui?”
Orang-orang itu memang benar-benar tidak mengetahui. Apa-pun yang dilakukan atas mereka, maka mereka akan dapat menunjukkan dimanakah alas utama Pangeran Kuda Permati.
Orang itu tidak tahu, bahwa Pangeran Kuda Permati telah mengambil satu langkah yang lain. Namun bagaimana-pun juga ia bertahan, akhirnya terloncat pula dari mulutnya, nama-nama orang yang dianggap mengerti tentang landasan utama Pangeran Kuda Permati.
Ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada tidak mau menyerah. Dengan telaten ia mengusut setiap nama dari orang-orang yang ditawannya dan yang pernah ditawan oleh Panji Sempana Murti, sehingga akhirnya, Pangeran Singa Narpada telah menemukan seseorang yang namanya disebut oleh para tawanan sebagai orang yang mengetahui serba sedikit tentang seluk-beluk persembunyian itu.
Ketika orang itu kemudian dihadapkan kepada Pangeran Singa Narpada, maka wajahnya telah menjadi basah oleh keringat yang mengembun dari seluruh lubang-lubang di kulit mukanya.
“Kau kenal aku?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya, Pangeran,” jawab orang itu.
“Bukankah kau orang yang bernama Tundadata?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya, Pangeran,” jawab orang itu.
“Nah, kau tidak perlu mempersulit tugasku dan menyakiti dirimu sendiri. Sebut, dimana landasan perjuangan Pangeran Kuda Permati. Tegasnya, dimana persembunyiannya pribadi?”
Orang yang bernama Tundadata itu menyadari apa yang dapat terjadi dengan dirinya. Karena itu, maka ia-pun tidak banyak berputar-putar. Apalagi menurut pendapatnya, perjuangan Pangeran Kuda Permati telah menjadi semakin terdesak oleh sikap keras Pangeran Singa Narpada dan Panji Sempana Murti. Selebihnya, ternyata Tundadata tidak mempunyai keteguhan hati sebagaimana yang diharapkan oleh Pangeran Kuda Permati.
Dengan demikian, maka sikap Pangeran Singa Narpada itu telah mengguncangkan jiwanya.
“Tundadata,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku kira kau memang seorang kepercayaan Kuda Permati. Karena itu, maka aku-pun akan memperlakukan kau seperti itu. Untuk mendengar keterangan dari mulutmu, memang diperlukan sikap yang khusus sebagaimana aku bersikap terhadap orang-orang yang pernah ditempa untuk menjadi seorang kepercayaan pemimpinnya.”
Wajah Tundadata menjadi semakin pucat. Dan keringat-pun menjadi semakin deras mengalir.
“Mungkin kau akan terpaksa kehilangan nalar dan kemampuanmu berpikir, sehingga kau akan terpaksa berbuat menurut nalurimu saja,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Jantung Tundadata terasa seakan-akan berhenti berdetak. Ia mengenal Pangeran Singa Narpada, sehingga karena itu, maka apa yang dikatakan itu bukan sekedar untuk menakut-nakuti. Tetapi ia akan dapat berbuat sebagaimana dikatakannya.
“Tentu hal seperti itu tidak akan dilakukan atas Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Tundadata di dalam hatinya.
Karena itu, maka akhirnya Tundadata tidak menunggu tubuhnya menjadi kehilangan bentuk.
“Baiklah Pangeran,” berkata Tundadata, “Aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali berkhianat terhadap Pangeran Kuda Permati.”
“Katakan sekali lagi bahwa kau terpaksa berkhianat terhadap Pangeran Kuda Permati, tetapi tanpa menyadari pengkhianatanmu terhadap Kediri,” geram Pangeran Singa Narpada.
Jantung Tundadata benar-benar terasa berhenti sesaat. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
Demikianlah, dengan petunjuk Tundadata, maka Pangeran Singa Narpada telah menyiapkan pasukan yang besar untuk datang ke landasan Utama dari perjuangannya. Meskipun ia kemudian akan selalu bergeser, tetapi ia tentu mempunyai sarang yang sewaktu-waktu akan dapat dijadikan tempat untuk hinggap.
“Kita harus menyerang tempat itu,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada para Senopatinya.
Di hari yang sudah ditentukan, maka Pangeran Singa Narpada beserta pasukannya yang kuat, termasuk sebagian dari pasukan Panji Sempana Murti telah berangkat ke sarang Pangeran Kuda Permati. Meskipun seandainya Pangeran Kuda Permati lengkap dengan pasukannya ada di sarangnya, maka pasukan itu tidak akan mengecewakan. Tetapi sebaliknya, jika Pangeran Kuda Permati dan pasukan induknya tidak ada. Pangeran Singa Narpada akan menjadikan sarang Pangeran Kuda Permati itu karang abang, sebagaimana ingin dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati atas Kota Raja.
Pasukan Pangeran Singa Narpada telah menghitung waktu dengan cermat. Mereka akan berada di perjalanan pada malam hari. Demikian fajar menyingsing, maka pasukan itu akan menerobos masuk ke dalam landasan utama Pangeran Kuda Permati.
Keberangkatan pasukan itu tidak lepas dari pengamatan para petugas sandi dari Singasari. Mereka mengikuti gerakan itu dengan cermat. Yang menjadi perhatian utama mereka seandainya pasukan Pangeran Singa Narpada menemui kegagalan, maka berarti bahwa Pangeran Kuda Permati akan menjadi leluasa bertindak lebih jauh.
Ternyata bahwa pasukan sandi dari Singasari, telah menangkap satu pemberitahuan, ketika pasukan Pangeran Singa Narpada memasuki landasan utamanya, maka pasukan Pangeran Kuda Permati memang tidak sedang berada di tempat.
Tetapi pasukan sandi itu sengaja tidak memberikan keterangan itu lewat jalur mana-pun juga, sehingga pasukan Singa Narpada tidak merubah rencananya sama sekali, sementara para petugas sandi dari Kediri sendiri ternyata terlambat mendapat keterangan itu.
Namun keberangkatan pasukan Pangeran Singa Narpada tidak akan mengalami kerugian apa-pun meskipun mereka akan menjumpai tempat persembunyian Pangeran Kuda Permati yang kosong. Bahkan dengan demikian mereka tidak akan menjumpai perlawanan, sementara mungkin mereka akan dapat berbuat sesuatu dengan menghancurkan landasan utama itu.
Sementara itu Pangeran Kuda Permati sendiri ternyata tidak mendapat laporan apa-pun juga tentang gerakan itu. Ternyata para Senapati dari pasukan Pangeran Singa Narpada mampu memegang rahasia keberangkatannya itu dengan baik, sehingga tidak tersadap para petugas sandi dari pasukan lawan. Karena itu, maka baik Pangeran Kuda Permati, mau-pun mereka yang berada di sarang utama Pangeran Kuda Permati tidak menyadari, bahwa sepasukan yang kuat sedang merayap mendekati di dalam gelapnya malam.
Dengan petunjuk Tundadata yang merasa dirinya sebagai seorang pengkhianat terhadap Pangeran Kuda Permati, pasukan yang besar itu mendekati sasaran menjelang fajar. Mereka-pun segera mengepung landasan utama itu dan sebelum matahari terbit, mereka masih sempat beristirahat barang sejenak.
Tetapi sebagaimana direncanakan, maka ketika langit dibayangi oleh cahaya pagi, maka pasukan itu telah bersiap. Mereka akan mendapat isyarat yang akan memberikan perintah kepada mereka untuk bergerak.
Dengan tegang para prajurit itu-pun bersiap. Justru pada saat terakhir, seorang petugas sandi datang melaporkan, bahwa sasaran itu ternyata tidak ditunggui oleh induk pasukan Pangeran Kuda Permati.
Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak merubah gelar pasukannya. Sehingga demikian matahari mulai nampak di batas cakrawala, maka telah terdengar isyarat yang ditunggu. Suara sangkala bersambut telah terdengar memutari sasaran.
Demikianlah, maka pasukan yang kuat itu mulai bergerak. Sebenarnyalah bahwa landasan Utama yang tersembunyi itu, sedang ditinggalkan oleh induk pasukan Pangeran Kuda Permati yang bergeser ke perbatasan Selatan.
Pada saat yang bersamaan, Pangeran Kuda Permati telah memasuki sebuah padukuhan di daerah perbatasan Selatan. Daerah yang bagi Pangeran Kuda Permati tidak segarang daerah Utara.
Daerah itu memang terkejut karena kedatangan Pangeran Kuda Permati dengan sikap yang tidak ramah. Bahkan ternyata mereka telah berbuat kasar dengan mengambil milik mereka, terutama kuda-kuda yang tegar.
“Sampaikan kepada para prajurit Kediri yang menyediakan diri menjadi budak dan penjilat atas orang-orang Singasari, bahwa kami akan sering datang memasuki padukuhan-padukuhan. Terima kasih atas bantuan kalian terhadap perjuangan kami dengan kuda-kuda tegar yang telah kalian relakan,” berkata seorang Senapati yang memimpin pasukan itu.
Orang-orang padukuhan yang kehilangan kuda-kuda mereka hanya dapat mengumpat di dalam hati. Namun demikian pasukan Pangeran Kuda Permati itu meninggalkan padukuhan mereka, maka mereka-pun segera telah berusaha untuk menghubungi para prajurit Kediri di daerah Selatan yang memang kurang siap menghadapi persoalan itu meskipun mereka sudah mendapat isyarat bahwa hal yang demikian mungkin akan terjadi, ketika para petugas sandi menangkap isyarat bahwa pasukan Pangeran Kuda Permati akan merubah caranya menghadapi pasukan Kediri.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah landasan utama pasukan Pangeran Kuda Permati yang tersembunyi dan dirahasiakan itu ternyata telah dapat diketemukan oleh Pangeran Singa Narpada. Berbeda dengan Pangeran Kuda Permati yang tidak pernah nampak sebagai dirinya memimpin pasukan meskipun ia berada didalam pasukan itu, maka Pangeran Singa Narpada dengan tanda-tanda kebesaran telah memasuki landasan Utama Pangeran Kuda Permati.
Tidak banyak perlawanan yang didapatkannya. Sepasukan pengawal yang terkejut telah berjuang dengan sekuat tenaga. Tetapi perlawanan mereka tidak lama, karena jumlah mereka memang terlalu sedikit menghadapi pasukan Pangeran Singa Narpada yang keras. Sehingga beberapa saat kemudian, sebagian dari mereka yang masih hidup telah tertawan.
Namun ternyata Pangeran Singa Narpada sendiri telah menjumpai sesuatu yang tidak pernah diduganya. Ketika dengan dikawal oleh beberapa orang prajurit terpilih ia memasuki bangunan induk pada landasan utama itu, ia-pun telah terkejut sekali. Di tengah-tengah ruangan dalam ia jumpai seorang perempuan dengan keris di tangan siap untuk bertempur.
“Jangan mendekat,” terdengar suara perempuan itu geram.
Pangeran Singa Narpada tertegun. Namun tiba-tiba saja terdengar ia berdesis, “Diajeng Purnadewi?”
Perempuan itu bergeser selangkah surut. Baru kemudian dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya, “Kakangmas Singa Narpada.”
Keduanya berdiri mematung untuk beberapa saat. Sementara itu ditangan perempuan yang disebut Purnadewi itu masih tergenggam sebilah keris.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar