*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-019-01*
“Nasibmu memang buruk” geram orang itu,“ agaknya kau tidak terbiasa berada di medan, sehingga kau tidak bersiap membawa senjata apapun. Tetapi aku tidak peduli. Kau akan mati.”
Orang itu tidak menunggu jawaban. Dengan garangnya ia meloncat sambil menjulurkan senjatanya.
Tetapi orang itu terkejut. Ia telah yakin bahwa dengan sekali tusuk, orang yang namanya Mahisa Agni, seorang pemimpin pemerintahan di Singasari itu akan tertembus pedang dari dada sampai kepunggungnya.
Namun ternyata bahwa dugaannya itu salah. Pedangnya sama sekali tidak menyentuh sasarannya meskipun nampaknya Mahisa Agni itu tidak bergerak.
“Setan” geram orang itu, “kau mampu mengelak?”
“Setiap orang akan berusaha,” jawab Mahisa Agni. Kemudian tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya, “Ki Sanak. Berapa umurmu sekarang?”
“Persetan dengan umur,” orang itu mengumpat.
“Maksudku, apa memang benar kau belum pernah mendengar namaku pada saat aku bertugas di Kediri beberapa waktu yang lampau.” bertanya Mahisa Agni pula.
“Mati kau” sekali lagi orang itu meloncat sambil mengayunkan pedangnya mendatar.
Tetapi sekali lagi senjatanya itu tidak mengenai sasarannya.
Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Tetapi akhirnya ia menyadari. Menilik sikapnya, wajah dan pandangan mata Mahisa Agni, maka orang itu tentu bukan seorang pemimpin pemerintah yang menjadi utusan ke Kediri dengan dikawal oleh sepasukan kecil prajurit. Akan tetapi orang yang bernama Mahisa Agni itu sendiri tentu seorang yang mempunyai kemampuan seorang prajurit.
“Kau ternyata seorang yang sangat sombong” geram orang Kediri itu, “kau ingin menunjukkan kepadaku, bahwa kau juga mempunyai kemampuan dalal olah kanuragan meskipun kau adalah utusan dari Singasari dalam hubungan dengan pemerintahan.”
“Setiap orang Singasari adalah prajurit” berkata Mahisa Agni, “karena itu, maka aku pun seorang prajurit. Karena disini terjadi pertempuran, maka aku pun akan bertempur sebagaimana seorang prajurit bertempur.”
Orang itu tidak mau mendengarkan kata-kata Mahisa Agni sampai yang terakhir. Ia pun kemudian meloncat bagaikan menerkam dengan pedang yang terjulur lurus kedepan.
Tetapi yang terjadi sangat mengejutkannya. Sasarannya itu mampu meloncat jauh lebih cepat dari loncatannya sendiri. Ia melihat gerakan orang yang bernama Mahisa Agni itu. Tetapi karena ia sendiri sedang meluncur dalam dorongan kekuatan sendiri, maka ia tidak dapat banyak berbuat ketika tiba-tiba saja Mahisa Agni memotong serangannya.
Orang Kediri itu menyadari keadaan dirinya kemudian ketika senjata telah terlepas, dan lebih daripada itu, senjatanya ternyata sudah berada di tangan Mahisa Agni. Hanya pergelangan tangannya sajalah yang terasa sangat sakit.
“Maaf Ki Sanak” berkata Mahisa Agni, “karena aku tidak membawa senjata, aku pinjam senjatamu.”
Wajah orang itu menjadi merah padam. Sebagai seorang prajurit pilihan, maka yang terjadi itu benar-benar satu penghinaan. Namun ternyata ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang telah terjadi itu. Senjatanya memang terlepas dari tangannya, bahkan telah jatuh ke-tangan lawannya.
Sejenak orang itu memandang Mahisa Agni. Barulah ia yakin bahwa Mahisa Agni bukannya seorang pemimpin pemerintahan yang kedudukannya terpisah dari unsur keprajuritan. Namun orang yang bernama Mahisa Agni itu tentu seorang prajurit linuwih. Ia mampu mengambil senjatanya justru pada saat ia menyerangnya begitu mudahnya seperti mengambil makanan dari dalam gledeg di dapur.
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menyadari keadaannya. Karena itu, maka ia pun kemudian berteriak, “He, dengar, orang inilah, yang bernama Mahisa Agni, yang harus kita binasakan bersama. Seorang di antara dua orang utusan dari Singasari yang mendapat perlindungan sekelompok kecil prajurit Singasari dan orang-orang Kediri yang menjadi penjilat.”
Beberapa orang mendengarnya. Sementara karena jumlah orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati memang lebih banyak, maka beberapa orang berkesempatan mendekati Mahisa Agni yang sudah menggengam senjata prajurit yang menyerangnya itu.
“Hati-hati” desis prajurit yang kehilangan senjatanya itu ketika, beberapa orang mendekatinya Sementara orang-orang Singasari sendiri membiarkannya saja beberapa orang mengepung Mahisa Agni, karena orang-orang Singasari itu tahu dengan pasti kemampuan Mahisa Agni sebagaimana juga kemampuan Witantra.
“Kenapa?” bertanya salah seorang kawannya.
“Orang itu sangat berbahaya” jawab prajurit yang kehilangan senjatanya.
“Dan kau menghadapinya tanpa senjata” desis kawannya yang lain.
Prajurit itu ragu-ragu sejenak untuk mengatakan bahwa senjatanya telah dirampas oleh Mahisa Agni, karena kawan-kawannya yang belum membuktikan kemampuan orang Singasari itu tentu akan mentertawakannya.
Karena itu, maka katanya, “Senjataku sudah patah ketika aku bertempur melawan tiga orang sebelum orang ini datang. Ketika aku berhasil menyelesaikan ketiga orang lawanku, aku melemparkan senjataku yang patah namun yang masih juga mampu melawan tiga orang Kediri penjilat itu.”
“Kau bunuh mereka?” bertanya kawannya, yang lain.
Sekali lagi orang itu ragu-ragu. Tidak, ada sesosok mayat pun yang ada didekatnya. Maka katanya, “Mereka melarikan diri. Seorang di antaranya tentu terluka parah, karena pedangku yang patah, yang aku lontarkan berhasil mengenai pundaknya.
Kawan-kawannya tidak sempat bertanya lebih panjang lagi. Mereka mulai memperhatikan Mahisa Agni yang berdiri tegak dengan pedang ditangannya.
Namun Mahisa Agni sempat tersenyum mendengarkan prajurit itu membual. Bahkan ia sempat berkata, “Ya. Aku melihat sendiri bagaimana ketiga orang lawannya lari terbirit-birit.”
“Gila” geram prajurit yang kehilangan pedangnya itu.
Namun kawan-kawannya tidak memperhatikannya. Mereka mulai mendekati Mahisa Agni dengan senjata masing-masing, sementara prajurit yang kehilangan senjatanya itu berusaha untuk mendapatkan gantinya. Ia berlari -lari kearah sesosok tubuh yang terbaring di pinggir arena, sementara senjatanya, sebatang tombak pendek tergolek di sebelahnya.
Tetapi ketika ia mengambil tombak itu, ternyata tubuh yang terbaring itu masih mengerang sambil berkata, “Jangan kau ambil senjataku.”
Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berjongkok sambil berdesis, “Aku pinjam tombakmu.”
Yang terluka parah itu beringsut. Tetapi ternyata tubuhnya sudah terlalu parah.
Karena itu, maka prajurit yang kehilangan senjatanya itupun sempat, menolong orang itu beringsut dan menyandarkannya pada sebatang pohon.
“Bertahanlah. Sebentar lagi kita selesai. Orang-orang Kediri yang tangguh akan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku akan membunuh dengan tanganku sendiri, orang yang bernama Mahisa Agni.”
Dengan demikian, maka ia pun segera meloncat berlari sambil menjinjing tombak pendeknya. Namun orang itu tidak pernah bertemu lagi dengan Mahisa Agni, karena tiba-tiba saja seorang prajurit Singasari telah memotong langkahnya.
Prajurit Kediri itu tidak dapat menolak. Ketika prajurit Singasari itu menyerang, maka ia pun harus melawan dengan tombak pendeknya.
Namun ia masih sempat melihat ke arah pertempuran antara beberapa orang kawannya melawan Mahisa Agni. Namun hanya sekilas. Apalagi dalam keremangan malam. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan, apa yang telah terjadi.
Sebenarnya beruntunglah prajurit itu. Ia mendapat lawan yang seimbang sehingga ia mempunyai kesempatan yang sama dengan lawannya untuk menang atau kalah. Sedangkan kawan-kawannya yang bertempur melawan Mahisa Agni sama sekali tidak mendapat kesempatan apapun. Mahisa Agni memang tidak ingin memperpanjang waktu pertempuran. Ia mulai melumpuhkan lawan-lawannya seorang demi seorang.
Meskipun niat Mahisa Agni yang utama tidak untuk membunuh tetapi dalam pertempuran yang kemudian menjadi keras, kemungkinan itu dapat terjadi atas lawan-lawannya.
Satu dua orang terlempar dengan darah membasahi tubuh mereka. Tetapi mereka masih sempat untuk merangkak menyingkir dari arena. Tetapi ada di antara mereka yang terpelanting dan tidak akan dapat bangun untuk selamanya.
Dengan demikian maka orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati itu menyadari, bahwa orang yang bernama Mahisa Agni itu adalah orang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Sebelum mereka berangkat, memang mereka mendapat pesan untuk berhati-hati menghadapi orang yang bernama Mahisa Agni dan Witantra. Tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan, bahwa kemampuan kedua orang itu begitu tinggi.
Yang terjadi di bagian lain dari pertempuran itupun tidak banyak berbeda. Witantra pun telah berbuat sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Agni. Sekelompok orang yang bertempur melawan Witantra tidak banyak memberikan perlawanan ketika Witantra dengan sungguh-sungguh menyerang mereka.
Sementara itu pertempuran yang terjadi di seluruh halaman istana itu menjadia semakin seru. Kedua belah pihak, yang prajurit pilihan, telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Prajurit Kediri yang mendapat tugas untuk melindungi utusan dari Singasari itupun ternyata mampu mengimbangi lawan mereka. Meskipun mereka bukan dari pasukan khusus, tetapi terdorong oleh tanggung jawab mereka yang besar, serta bekal keprajuritan mereka, maka mereka bukan sekedar menjadi anak bawang di arena itu. Mereka pun menunjukkan, bahwa mereka adalah prajurit yang menguasai senjatanya di medan perang.
Mahisa Bungalan masih bertempur melawan Senopati yang memimpin sepasukan pilihan pengikut Pangeran Kuda Permati. Ternyata bahwa Mahisa Bungalan memang memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman yang luas.
Tetapi Senopati yang mendapat kepercayaan dari Pangeran Kuda Permati itu pun adalah orang pilihan. Ia mampu bergerak dan bertempur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tangannya menguasai pedangnya dalam ilmu yang mapan, sehingga dengan demikian, maka ia mampu bertempur bagaikan burung sikatan. Menyambar-nyambar dengan cepat, kemudian menukik dengan ujung pedang mengarah jantung lawannya.
Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak terkejut melihat gerak lawannya. Betapapun cepatnya Senopati, itu mempermainkan senjatanya, namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan pun dapat bergerak secepat itu pula. Setiap serangan lawannya justeru dibalas dengan serangan pula.
Dengan demikian pertempuran itu memang menjadi semakin sengit. Keduanya saling menyerang, saling mendesak dan yang tidak lagi dapat mereka hindarkan, keduanya telah membenturkan kemampuan ilmu mereka.
Sebenarnyalah bahwa pilihan Pangeran Kuda Permati atas Senopati itu memang sudah tepat. Ia mampu mengimbangi kemampuan Senopati pilihan dari Singasari. Tetapi yang kurang tepat adalah perhitungan Pangeran Kuda Permati terhadap kedua utusan dari Singasari itu. Meskipun keduanya pernah berada di Kediri dan pernah dikenal pula, namun Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak menduga, bahwa keduanya bukan hanya orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir tentang tata pemerintahan, tetapi juga orang yang memiliki kelebihan di medan perang bahkan keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi.
Karena itu, maka baik Mahisa Agni, maupun Witantra ternyata telah menghisap lawan cukup banyak. Meskipun jumlah orang-orang Kediri terlalu banyak, tetapi serangan pertama orang-orang Singasari, kemudian kemampuan Mahisa Agni dan Witantra ternyata dapat menjadikan kedua belah pihak menjadi seimbang.
Sementara itu, para prajurit dari Singasari yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan dua orang utusan telah benar-benar mengerahkan segenap kemampuan mereka. Dalam pada itu, lawan-lawan Mahisa Agni dan Witantra masih saja selalu berkurang, meskipun seandainya datang orang-orang baru kedalam kelompok itu.
Para prajurit Kediri yang datang untuk melindungi orang-orang Singasari itu justru menjadi sangat heran melihat apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra.
“Apakah orang-orang yang demikian masih memerlukan perlindungan” bertanya orang-orang itu di dalam hatinya. Bahkan kemudian, “Jika Singasari mempunyai pasukan kecil yang terdiri dari orang-orang seperti itu, maka agaknya dunia akan dapat digulungnya.”
Demikianlah, di saat-saat pertempuran di istana itu menjadi semakin meningkat, keras dan cepat, maka di muka regol Kota Raja disebelah Timur telah terjadi pertempuran pula. Pertempuran yang sengit yang melibatkan prajurit yang cukup banyak. Beberapa kesatuan prajurit Kediri telah keluar menyongsong lawan yang jumlahnya terlalu banyak, sehingga kehadiran prajurit dari barak yang dipersiapkan untuk melindungi utusan dari Kediri itupun sangat berpengaruh. Tanpa, pasukan itu, maka jumlah prajurit Kediri tidak akan cukup memadai untuk melawan orang-orang yang datang dengan obtir ditangan.
Namun, prajurit-prajurit Kediri dari beberapa kesatuan itu akhirnya memang dapat menahan mereka, sehingga orang-orang yang datang dalam beratus-ratus obor itu tidak dapat mendekati pintu gerbang Kota Raja.
Meskipun demikian, pertempuran di luar pintu gerbang itu pun menjadi semakin sengit. Pasukan Pangeran Kuda Permati memang mendapat tugas untuk bertempur dalam waktu yang cukup. Jika menurut pertimbangan waktu sebagaimana direncanakan, kawan-kawan mereka sudah berhasil membinasakan orang-orang Singasari yang berada di Kota Raja, maka mereka dapat menarik diri.
Pasukan Kediri di sisi Timur memang tidak siap menghadapi sergapan yang demikian. Sehingga karena itu, maka mereka lebih banyak tergantung pada pasukan yang datang dari dalam lingkungan Kota Raja, termasuk pasukan yang seharusnya melindungi para utusan dari Singasari.
Agaknya kesiagaan di sisi timur ini beberapa dengan kesiagaan para prajurit Kediri disisi Utara. Diperbatasan Utara Panji Sempana Murti sudah mempersiapkan diri sehingga setiap saat akan dapat turun ke medan. Meskipun demikian, jika yang datang itu pasukan sebesar pasukan yang menyerang sisi Timur maka Panji Sempana Murti pun tentu memerlukan bantuan pula. Sedangkan pasukan yang berada di perbatasan Utara adalah pasukan Pangeran Singa Narpada.
Karena itulah, maka Pangeran Kuda Permati memilih sisi yang lemah untuk sekedar memancing perhatian pasukan di dalam dinding Kota Raja, agar orang-orangnya yang sudah ada di dalam mendapat kesempatan untuk melakukan tugas mereka.
Dengan demikian, para prajurit yang menyerang dari sisi Timur itu memang tidak dengan sungguh-sungguh ingin memecah pintu gerbang dan memasuki Kota Raja. Selain pintu gerbang itu tentu akan dipertahankan mati-matian oleh prajurit yang ada, juga kepentingan Pangeran Kuda Permati tidak pada pintu gerbang itu. Tetapi justru di dalam dinding Kota Raja.
Para Senapati yang memimpin serangan itu sudah mendapat pesan, kapan mereka harus bertahan dan kapan mereka dapat meninggalkan pertemuan. Para pemimpin dari pasukan itu sudah dibekali dengan perkiraan waktu, bahwa pasukan Kediri di dalam dinding Kota Raja akan dapat menyelesaikan tugas mereka selambat-lambatnya tengah malam. Karena itu, maka pertempuran di luar pintu gerbang Kota Raja itu hendaknya dapat berlangsung sampai tengah malam.
Untuk beberapa saat kedua pasukan yang bertempur itu saling mendesak. Pasukan Pangeran Kuda Permati berusaha bertahan pada suatu garis perang yang sudah mereka tentukan. Betapapun berat tekanan yang dilakukan oleh para prajurit Kediri yang setia kepada Sri Baginda, namun para pengikut Pangeran Kuda Permati itu tidak bergeser setapak pun dari garis pertempuran yang mereka tentukan itu.
Tetapi, pertempuran di luar dinding Kota Raja itu bukannya sasaran utama dari para prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati. Karena itu, ketika malam mendekati pertengahannya, maka para Senapati di lingkungan para pengikut Pangeran Kuda Permati telah mempersiapkan diri untuk menarik pasukannya. Mereka harus bergeser mundur, tetapi tetap dalam kesatuan pasukan sehingga tidak akan jatuh korban terlalu banyak, sementara itu, tugas prajurit pilihan di lingkungan istana yang dipergunakan oleh para utusan dari Singasari itu pun telah dapat diselesaikan, menurut perhitungan.
Untuk beberapa saat pasukan Pangeran Kuda Permati itu masih bertahan di medan. Namun ketika tengah malam telah lewat maka terdengarlah beberapa isyarat untuk menarik pasukan itu mundur meninggalkan medan.
Sejenak kemudian, maka terdengarlah perintah untuk menarik pasukan. Bersamaan dengan itu, maka obor-obor masih menyalapun tiba-tiba telah padam seluruhnya, sehingga medan itu benar-benar menjadi gelap.
Pada saat itulah, maka pasukan Pangeran Kuda Permati itu beringsut surut. Perlahan-lahan. Namun setelah mereka sampai di garis tertentu sesuai dengan rencana mereka yang matang, maka pasukan itupun mundur dengan cepat.
Para prajurit Kediri yang setia kepada Sri Baginda memang berusaha untuk mengejar mereka. Namun kemudian usaha itu dihentikan. Mereka membiarkan pasukan lawan mundur meninggalkan medan.
Pada saat itulah, maka satu pasukan di antara para prajurit Kediri itu berusaha dengan cepat meninggalkan medan pula setelah memberikan laporan kepada Senapati yang memimpin pertempuran itu.
“Baik, “jawab Senapati itu, “kembalikah ke barak, Namun ternyata mereka tidak berhasil memasuki pintu gerbang, sehingga mereka tidak sempat mengusik utusan dari Singasari itu.”
Meskipun demikian, pemimpin pasukan itu telah mendahului pasukan yang lain kembali ke barak mereka sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Sementara yang masih belum mereka ketemukan telah mereka serahkan pasukan yang tinggal untuk merawat mereka.
Demikian pasukan itu sampai di barak, maka merekapun terkejut bukan kepalang. Mereka mendapat laporan dari prajurit yang tinggal di barak, bahwa pasukan kecil yang ditinggalkan telah pergi ke istana bagi orang-orang Singasari.
“Kenapa?” bertanya Senapati itu.
“Istana itu telah diserang oleh sekelompok orang-orang Pangeran Kuda Permati.” jawab prajurit itu.
“Apakah sudah ada laporan tentang mereka” bertanya Senapati itu.
“Belum” jawab prajurit itu.
Senapati itu menjadi berdebar-debar. Ia pun segera memerintahkan sekelompok pasukannya untuk bersama-sama pergi ke istana itu.
Agaknya orang-orang Kediri telah melakukan satu permainan yang licik untuk menghancurkan sekelompok utusan dari Singasari itu.
Senopati itu baru menyadari, bahwa sebenarnya serangan atas pintu gerbang di sisi Timur itu tentu hanya sekedar cara untuk mengalihkan perhatian, sementara sasaran mereka yang sebenarnya adalah orang-orang Singasari itu.
Dengan ketajaman penalarannya maka Senopati itu seakan-akan dapat melihat apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati. Mereka menyiapkan satu serangan terbuka, namun sebelumnya beberapa orang yang terpilih telah menyusup masuk ke dalam lingkungan Kota Raja. Dalam kesibukan pertempuran melawan pasukan Pangeran Kuda Permati yang menyerang secara terbuka itu, maka orang-orangnya telah memasuki Istana tempat orang-orang Singasari itu beristirahat.
Karena itu, maka dalam kegelisahan ia telah dengan tergesa-gesa membawa sekelompok pasukan berkuda menuju ke istana itu. Jika terjadi sesuatu atas mereka, maka ia pun ikut bertanggung jawab.
Sementara itu ia telah memerintahkan pasukannya yang lain untuk bersiap. Mungkin mereka pun diperlukan segera untuk pergi ke istana itu.
Ketika Senopati dan sekelompok pengawal berkudanya mendekati regol istana itu, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Halaman istana itu nampaknya sepi-sepi saja, sementara pintu regolnya masih terbuka lebar.
Karena itu, tanpa turun dari kudanya, serta senjata siap ditangan Senopati itu langsung memacu kudanya memasuki halaman dan siap untuk bertempur. Ia memastikan bahwa orang-orang Singasari itu telah dikuasai oleh orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati.
“Mudah-mudahan mereka belum dibunuh atau dibawa pergi meninggalkan istana itu” geram Senopati itu.
Namun demikian mereka memasuki halaman, maka terasa sesuatu bergejolak didadanya. Ia melihat beberapa orang duduk dengan tenang di pendapa, sementara beberapa orang yang lain berkerumun di muka gandok sebelah menyebelah. Dalam keremangan cahaya lampu Senopati itu-pun melihat, beberapa orang dalam pakaian prajurit Kediri dan Singasari berada di antara mereka.
Senopati itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Mahisa Agni dan Witantra masih duduk di pendapa bersama dua orang perwira dari pasukannya, di antara beberapa orang lain.
Senopati itu meloncat turun dari kudanya. Setelah menambatkan kudanya, maka ia pun naik kependapa. Sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan lewat mulutnya ia berkata, “Aku merasa bahwa bumi tempat aku berpinjak ini sudah berguncang ketika aku mendapat laporan, bahwa pasukan kecil yang aku tinggalkan telah menuju ke istana ini.”
“Silahkah duduk” berkata Mahisa Agni.
Senopati itupun kemudian duduk di antara mereka yang berada di pendapa. Katanya, “Aku sudah membayangkan satu peristiwa yang dapat membawa aku ke tiang gantungan, karena kelengahanku.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Syukurlah bahwa tuan berdua tidak mengalami sesuatu “berkata Senopati itu.
“Kenapa kau menjadi gelisah?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku membayangkan, bahwa sekelompok orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati telah datang memasuki istana ini.” berkata Senopati itu.
Mahisa Agni tertawa. Katanya kemudian, “Yang ada di istana ini adalah beberapa orang tamu. Biarlah Mahisa Bungalan menunjukkan kepadamu, tamu-tamu yang datang untuk menemui aku itu.”
Senopati itu termangu-mangu. Namun Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Marilah. Aku akan menunjukkan tamu-tamu itu bersama perwira pasukanmu yang telah datang kemari.”
Senopati itu memandang kedua orang perwiranya, sementara keduanya hanya tersenyum saja kepadanya.
Senopati itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian bangkit mengikut Mahisa Bungalan di iringi oleh kedua orang perwiranya.
Dengan berdebar-debar Senopati itu dibawa ke gandok sebelah kanan. Beberapa orang prajurit Kediri dan Singasari yang ada di muka gandok itu telah menyibak.
Mahisa Bungalan lah yang telah membuka selarak pintu itu. Dan ketika keduanya melangkah masuk, Senopati itu terkejut. Di gandok itu terdapat sejumlah orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati duduk menebar di atas sebuah amben yang besar sementara yang lain berada di atas tikar yang dibentangkan dilantai. Wajah-wajah mereka nampak pucat dan tubuh mereka menjadi lemah oleh ketiadaan gairah lagi untuk menegakkan kepala sebagai seorang prajurit.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya Senopati itu.
“Di bilik sebelah dan digandok Barat serta disebagian ruang-ruang lain di bangunan-bangunan yang ada di halaman ini untuk sementara telah menjadi tempat tahanan” jawab Mahisa Bungalan, “mereka adalah orang-orang Pangeran Kuda Permati yang menyerang istana ini. Namun untunglah bahwa Yang Maha Agung masih melindungi kami. Sekelompok kecil pasukan yang kau tinggalkan merupakan unsur penting yang dapat melepaskan kami dari malapetaka dan kemusnahan mutlak.”
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Didalam bilik itu terdapat sejumlah orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati. Di bilik sebelah, di gandok yang lain dan di beberapa tempat pada bangunan-bangunan di halaman istana itu telah dipergunakan untuk menawan para pengikut Pangeran Kuda Permati yang tertangkap.
Dengan demikian maka Senapati itu dapat membayangkan bahwa jumlah para pengikut Pangeran Kuda Permati itu tentu cukup banyak.
Tetapi, ternyata bahwa para prajurit Singasari dan sejumlah kecil pasukannya mampu bertahan dan bahkan memenangkan pertempuran itu.
Ketika Senapati itu kemudian keluar dari dalam bilik tempat para pengikut Pangeran Kuda Permati itu ditawan, maka ia sempat berbicara dengan perwira yang memimpin sekelompok kecil pasukannya. Dari mereka Senapati itu mendengar tentang Mahisa Agni dan Witantra.
“Sebenarnya keduanya tidak memerlukan pengawal sama sekali” berkata perwira itu, “juga Senapati dari pasukan Singasari yang bernama Mahisa Bungalan itu memiliki ilmu yang tinggi.”
Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya – Syukurlah. Jika terjadi sesuatu dengan mereka, maka aku akan dapat digantung di alun-alun. Jika tidak oleh Sri Baginda, juga oleh prajurit Singasari yang tentu akan datang menyusul
Namun dengan demikian pasukan kecil itu justru sempat menunjukkan kekuatan pasukan Singasari.
“Marilah kita mengambil keuntungan dari peristiwa ini” berkata Senapati itu kemudian, “Pangeran Kuda Permati akan dapat menilai kekuatan Singasari yang sebenarnya. Jika pasukan kecil ini mampu melakukan satu tugas yang besar, maka mereka akan dapat membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh pasukan Singasari segelar sepapan.”
Perwira yang memimpin sekelompok kecil pasukannya itu tersenyum. Katanya, “Kita memang dapat mengambil manfaat dari peristiwa ini, justru karena sudah terjadi seperti ini. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya? “
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Sudah aku katakan beberapa kali. Aku akan digantung di-alun-alun.”
Perwiranya tidak bertanya lagi. Merekapun kemudian kembali kependapa. Namun wajah Senapati itu masih juga tegang. Ia masih membayangkan apa yang terjadi, seandai; nya orang-orang Singasari yang datang itu bakai, “orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.
“Sudahlah” berkata Mahisa Agni kemudian setelah mereka duduk kembali di pendapa. Sementara itu, beberapa orang sempat juga menyediakan minuman panas. Lalu katanya lebih lanjut, “semuanya sudah teratasi. Aku justru kagum akan ketajaman perhitunganmu, sehingga kau tidak membawa seluruh pasukanmu ke gerbang itu. Sebagian kecil pasukan yng kau tinggalkan di barak. Ternyata memberikan arti yang besar bagi kami.”
Senapati itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Agni melanjutkan, “kami terpaksa memberikan beban lebih banyak kepada kalian. Kami harus menyerahkan tawanan-tawanan itu karena kami tidak akan membawanya ke Singasari.”
“Itu adalah kewajiban kami” jawab Senapati itu.
“Besok kalian dapat mengambil mereka dan besok kami akan menghadap Sri Baginda untuk memberikan laporan, apa yang telah terjadi” berkata Mahisa Agni. Lalu, “Dengan demikian maka sudah pasti bagi kami, bahwa Pangeran Kuda Permati telah dengan terang-terangan memberontak melawan Kediri dan Singasari. Yang terjadi ini sudah cukup kuat menjadi alasan bagi kekuatan Singasari untuk bertindak.”
Senapati Kediri itu mengerutkan keningnya. Namun Mahisa Agni melanjutkan, “Tetapi agaknya Singasari tidak akan secepat itu mengambil langkah. Selama Kediri masih mampu mengatasi persoalannya sendiri, maka Singasari tidak akan mengirimkan pasukan untuk ikut campur, karena dengan demikian akan terjadi persoalan yang semakin rumit.
“Ya” Senapati itu mengangguk-angguk dengan sertas merta, “itu adalah sikap yang bijaksana. Yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati kali ini, yang terpenting bukan kebinasaan utusan Singasari itu sendiri. Tetapi satu pancingan agar Singasari mengambil tindakan kekerasan.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Itu sudah kami perhitungkan. Jika Singasari benar mengambil langkah yang demikian, maka langkah itu diharapkan akan dapat menyinggung perasaan orang-orang Kediri yang menganggap bahwa Singasari telah bertindak sewenang-wenang. Itu adalah satu keuntungan bagi Pangeran Kuda Permati.”
Senapati itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Tetapi sikap kami akan berbeda terhadap orang-orang yang mempersulit kedudukan Singasari di tlatah Singasari diluar Kediri.”
“Apa yang tuan maksudkan?” bertanya Senapati itu.
“Orang-orang yang merusak hutan untuk memperlemah kedudukan Singasari dalam jangka waktu yang panjang, akan ditindak tegas oleh pasukan Singasari. Juga mereka yang membuat keresahan dengan tingkah laku yang menyinggung kehormatan Singasari,” jawab Mahisa Agni.
Senapati itu mengangguk-angguk, ia dapat mengerti keterangan itu, dan adalah wajar sekali apabila Singasari bersikap demikian.
Sejenak kemudian, maka agaknya tidak ada lagi persoalan yang harus dibicarakan, segera, maka menjelang fajar menyingsing Senapati itu-pun mohon diri untuk kembali ke baraknya, sementara ia meninggalkan beberapa orang prajurit untuk menambah prajurit-prajurit yang terdahulu untuk membantu menjaga para tawanan.
“Besok mereka akan kami ambil setelah kami melaporkan semuanya ini kepada Panglima,” berkata Senapati itu.
“Silahkan,” jawab Mahisa Agni, “Besok aku dan Witantra juga akan menghadap Sri Baginda. Kami ingin mendapat kesan pendapat Sri Baginda tentang peristiwa ini.”
Demikianlah, maka Senapati itu-pun meninggalkan istana yang diperuntukkan bagi para utusan dari Singasari. Ketika ia sampai di baraknya, maka ia-pun segera memanggil para perwiranya. Ia tidak merasa perlu untuk beristirahat pada sisa malam itu.
Para perwira yang masih juga bersiaga sepenuhnya itu-pun segera berkumpul. Dengan singkat Senapati itu memberikan beberapa keterangan tentang peristiwa yang telah terjadi di Kediri. Bukan saja di istana yang diperuntukkan bagi utusan dari Singasari, tetapi keadaan dalam keseluruhan. Hubungan antara serangan di pintu gerbang sebelah Timur dan peristiwa di istana yang diperuntukkan bagi orang-orang Singasari itu.
Para perwira itu mengangguk-angguk. Mereka kemudian mendapat gambaran yang jelas apa yang sudah terjadi.
“Untunglah, bahwa tidak terjadi malapetaka atas para utusan itu,” gumam salah seorang diantara para perwira itu.
“Ya,” sahut Senapatinya, “Ternyata kita telah lengah. Kita telah kalah satu langkah. Jika orang-orang Singasari itu tidak menolong diri sendiri, maka mereka tentu sudah dibinasakan. Tetapi beruntung jugalah, bahwa masih ada sekelompok kecil prajurit di antara kita yang tersisa, betapapun kecilnya, namun mereka dapat juga membantu menyelesaikan persoalan.”
Senapati itu-pun kemudian memerintahkan pasukan bersiap-siap untuk mengambil para tawanan di keesokan harinya, sementara ia-pun kemudian berkuda pergi menghadang Panglima pasukan Kediri.
Laporannya cukup mengejutkan. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan Senapati itu, karena sebelumnya Senapati itu sudah membuat hubungan dengan beberapa pihak. Namun kelengahan itu merupakan satu pengalaman yang pahit bagi mereka.
“Besok kalian harus mengambil para tawanan itu,” berkata Panglima prajurit Kediri itu, “Kita perlu mendapat keterangan dari mereka.”
“Apakah mereka akan bersedia berbicara?” bertanya Senapati itu.
“Mereka tentu orang-orang pilihan,” jawab Panglimanya, “Tetapi kita akan mencari seorang diantara orang-orang pilihan itu yang paling lemah, sehingga mungkin kita akan mendapat keterangan.”
Demikianlah, ketika matahari mulai memancarkan cahayanya, maka sekelompok prajurit telah menuju istana yang semalam menjadi ajang pertempuran. Mereka telah mempersiapkan kelengkapan untuk membawa para tawanan dari istana itu.
Ternyata bahwa pagi itu Kota Raja telah menjadi gempar. Setiap orang mempercakapkan pertempuran yang telah terjadi semalam. Di depan pintu gerbang sebelah Timur dan di istana yang dipergunakan oleh para utusan dari Singasari. Bekas-bekas pertempuran itu masih juga membuat orang-orang yang menyaksikan menjadi ngeri. Sawah yang terserakkan, tanah yang merah oleh darah pepohonan yang berpatahan.
Bahkan di langit nampak burung-burung gagak yang berterbangan mengitari bekas arena yang berbau darah itu.
Seorang petani yang sedang merenungi tanamannya yang hancur terinjak-injak karena tiba-tiba saja kakinya menyentuh sesosok mayat.
Beberapa orang prajurit yang masih berjaga-jaga di tempat itu segera datang berlari-lari. Mereka-pun terkejut ketika ternyata masih ada mayat yang belum sempat disingkirkan.
“Kami bekerja sampai matahari terbit,” berkata prajurit itu, “Kami telah merawat semua orang yang terluka dan menyingkirkan mayat yang bertebaran dari pihak mana-pun juga.”
“Tetapi kalian masih kurang cermat,” berkata petani itu, “hampir saja akan menjadi pingsan.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Benahi sawahmu. Sri Baginda tentu tidak akan tinggal diam. Kami akan membuat laporan, dan kalian tentu akan mendapat bantuan, setidak-tidaknya bibit untuk menanami sawahmu ini kembali.”
“Tetapi pada saat panen nanti, kami tidak akan dapat memetik apa-pun juga, karena baru besok atau lusa atau mungkin sepekan lagi kami baru akan menanami lagi sawah ini,” jawab petani itu.
“Yang kalian alami adalah korban dari peperangan,” jawab prajurit itu, “Tidak ada seorang-pun yang dengan senang hati mengalami peperangan. Apalagi memberikan pengorbanan yang terluka besar seperti yang lain berikan. Tetapi masih ada pengorbanan yang lebih besar lagi?”
“Apa?” bertanya petani itu.
“Ada seorang ibu yang harus mengorbankan anak laki-lakinya karena gugur di peperangan. Ada seorang isteri yang harus mengorbankan suaminya di medan perang. Dan ada yang justru kehilangan lebih dari satu anaknya.”
Petani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun mengangguk-angguk. Ia memang dapat mengerti dan dapat membayangkan, apa yang dikatakan oleh prajurit itu. Beruntunglah bahwa yang harus dikorbankannya sekedar tanamannya yang masih muda. Bukan jiwa seseorang.
Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Aku kira aku tidak akan menuntut apa-apa atas kerusakan tanaman-tanamanku. Mudah-mudahan aku dapat menanami dengan bibit-bibit baru dan di musim panen berikutnya akan memberikan . hasil yang lebih baik.”
Prajurit-prajurit yang datang kepada petani itu-pun tersenyum. Sesosok mayat yang membuat petani itu terkejut sudah disingkirkan.
Hari itu, prajurit Kediri sibuk dengan orang-orang yang terluka, sosok-sosok mayat dan tawanan-tawanan. Ternyata bahwa tawanan-tawanan yang dibawa dari istana yang diperuntukkan bagi para utusan dari Singasari telah menarik perhatian yang sangat besar. Ketika tawanan itu dibawa da- lam satu barisan yang cukup panjang dengan pengawalan yang sangat kuat, maka rakyat Kediri, khususnya yang tinggal di Kota Raja telah berdiri berderet di sepanjang jalan untuk melihat orang-orang Kediri yang ikut dalam pasukan terpilih dari para pengikut Pangeran Kuda Permati.
Namun karena orang-orang yang digiring itu adalah orang-orang Kediri juga, maka banyak diantara mereka yang sudah saling mengenal diantara para tawanan dan orang-orang yang berdiri berjajar di pinggir jalan. Namun sebagian dari mereka tidak ingin menambah beban perasaan bagi para tawanan, sehingga mereka yang sudah merasa kenal satu atau dua orang telah berusaha untuk berdiri di belakang kawannya atau berpaling ke arah yang lain.
Ketika tawanan itu sudah bersih, maka Mahisa Agni dan Witantra-pun telah bersiap-siap untuk pergi ke istana untuk menghadap Sri Baginda. Karena bagaimana-pun juga, keduanya harus memberikan laporan kepada Sri Baginda tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi selama ia berada di Kediri.
“Sri Baginda,” berkata Mahisa Agni setelah diterima oleh Sri Baginda bersama orang-orang yang mempunyai sangkut paut dengan peristiwa itu, “Aku mengucapkan terima kasih bahwa Sri Baginda telah mempersiapkan sepasukan prajurit yang dapat membantu kami menentukan akhir pertempuran.”
“Akulah yang wajib minta maaf, bahwa menurut laporan yang aku terima, pasukan di dalam barak itu justru berada di regol di sisi Timur, sehingga mereka tidak sempat memberikan perlindungan,” sahut Sri Baginda.
“Tetapi sebagian dari mereka telah datang ke tempat yang disediakan kepada kami untuk beristirahat. Dan yang datang itu telah ikut menentukan, sehingga para pengikut Pangeran Kuda Permati telah dapat tertawan.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Sementara itu di bagian belakang dari mereka yang sempat hadir disaat itu, yaitu Senapati yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang hampir saja melakukan satu kesalahan yang besar itu, menarik nafas dalam-dalam. Jika utusan dari Singasari itu mengatakan yang lain, sehingga karena itu telah terdapat satu dua orang yang harus menjadi korban di antara orang-orang Singasari itu, maka ia akan mendapat kesulitan. Tetapi dengan laporan itu, maka ia tentu akan mendapat keringanan seandainya Sri Baginda akan menghukumnya.
Sementara itu, Mahisa Agni-pun berkata, “Sri Baginda. Dengan demikian, maka sebenarnya sudah jelas bagi kami, bagaimana kedudukan Pangeran Kuda Permati. Setelah Sri Baginda melepaskan Pangeran Singa Narpada dan kemudian memberikan perintah untuk bertindak tegas terhadap para pengikut Pangeran Kuda Permati, maka tugas kami di Kediri untuk mengamati keadaan dan memberikan sedikit bahan-bahan pertimbangan, agaknya memang sudah selesai. Sri Baginda yang mula-mula telah melakukan satu dua langkah yang kurang kami mengerti, kini benar-benar telah kami pahami.”
Sri Baginda di Kediri itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia-pun mengakui, bahwa langkah-langkah yang pernah diambil adalah langkah-langkah yang penuh dengan keragu-raguan. Usahanya untuk menghindarkan pertumpahan darah, ternyata sama sekali tidak berhasil, sehingga yang terjadi justru satu pertempuran yang besar di luar regol sisi Timur, dan pertempuran yang tentu tidak kalah dahsyatnya di halaman istana yang diperuntukkan bagi para utusan dari Singasari meskipun jumlah orang yang terlibat dalam pertempuran itu tidak terlalu banyak. Tetapi yang sedikit itu adalah prajurit-prajurit pilihan. Benturan antara prajurit pilihan itu memang dapat menimbulkan akibat yang parah bagi kedua belah pihak.
“Lalu apakah yang akan kalian lakukan kemudian?” bertanya Sri Baginda.
“Kembali ke Singasari dan memberikan laporan kepada Sri Maha Raja tentang keadaan di Kediri. Namun aku yakin bahwa Sri Maha Raja akan mengambil langkah yang paling baik bagi Kediri,” jawab Mahisa Agni. Lalu, “Sri Maharaja tentu akan memberikan kesempatan kepada Kediri untuk menyelesaikan persoalan diantara keluarga sendiri. Meskipun demikian Sri Maha Raja tentu tidak akan berlepas tangan jika memang hal itu dikehendaki oleh Kediri.”
Sri Baginda-pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia-pun berkata, “Aku akan menyelesaikan persoalan kami sendiri.”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Mereka memang sudah menduga, dan mereka-pun yakin bahwa Sri Maharaja di Singasari tidak akan menolak, bahwa Kediri akan menyelesaikan persoalan mereka sendiri.
Meskipun demikian bukan berarti bahwa Singasari dapat hanya berdiam diri sambil menonton perkembangan keadaan di Kediri. Apalagi Singasari menyadari, bahwa usaha Pangeran Kuda Permati itu telah meluas jauh di luar tlatah Kediri sendiri, dengan menghancurkan kehidupan di lereng-lereng pegunungan, justru lereng yang menghadap langsung ke daerah yang menjadi sumber pangan dan kesejahteraan bagi Singasari.
Namun sementara itu Mahisa Agni-pun menyahut, “Baiklah Sri Baginda. Semuanya akan kami sampaikan kepada Sri Maharaja. Kediri akan menyelesaikan persoalan di antara keluarganya sendiri. Mudah-mudahan semuanya akan dapat dengan cepat diselesaikan, tanpa pertumpahan darah.”
“Mudah-mudahan,” tetapi suara itu terdengar terlalu dalam. Namun Sri Baginda memang masih berharap bahwa seandainya terjadi kekerasan, maka kekerasan itu akan dapat diatasi.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni dan Witantra telah menyatakan kepada Sri Baginda, bahwa dalam waktu yang dekat, mereka akan segera kembali ke Singasari. Namun dalam dua tiga hari mereka masih akan berada di Kediri untuk melihat perkembangan keadaan terakhir.
Ketika tidak ada lagi persoalan yang akan disampaikan kepada Sri Baginda di Kediri, maka Mahisa Agni dan Witantra mohon diri untuk kembali ke tempat peristirahatan mereka.
Demikian mereka kembali, maka Mahisa Bungalan telah menemui kedua adiknya yang untuk beberapa lama bersembunyi. Mereka tidak ingin bertemu dengan para pengikut Pangeran Kuda Permati meskipun di peperangan. Jika ada satu dua orang di antara mereka yang mengenalinya dan sempat lolos dari tangan para prajurit Kediri yang setia kepada Sri Baginda, maka kesempatan mereka untuk bergerak dengan bebas akan terganggu.
“Lalu apa rencana kalian?” bertanya Mahisa Bungalan, “Apakah kalian akan pulang bersama kami ke Singasari.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menggelengkan kepalanya. Sementara itu Mahisa Murti menjawab, “Aku masih ingin melihat perkembangan keadaan di Kediri. Aku sudah memakai pertanda dari petugas sandi, karena itu, maka aku akan melanjutkan tugas ini.”
“Kau sadari, bahwa tugas ini sangat berbahaya?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku mengerti. Tetapi kami berdua sudah bertekad untuk melanjutkannya. Kami mendapat kawan-kawan yang baik dalam tugas ini.”
“Jadi kalian akan kembali kepada tugas kalian?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “Tugas ini akan dapat memberikan banyak sekali pengalaman, meskipun kami sadari bahayanya.”
Mahisa Bungalan merenung sejenak. Dengan nada dalam ia berkata, “Ayah selalu mempertanyakan kalian. Kalian harus mengerti, bahwa ayah menjadi semakin tua.”
“Bukankah ayah sebaya dengan paman Mahisa Agni dan paman Witantra? Mereka masih mengemban tugas-tugas berat di hari-hari tua mereka,” jawab Mahisa Pukat.
“Kau kira ayah tidak,” jawab Mahisa Bungalan, “Ayah masih juga menjadi pedagang keliling yang menjajakan batu-batu bertuah dan wesi aji di samping permata yang memang mahal harganya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi jawaban kakaknya itu memang menyentuh hatinya.
Meskipun demikian, mereka berdua masih tetap dalam pendiriannya. Mereka masih ingin melanjutkan tugas mereka.
“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “Ayah memang tidak berpesan untuk memaksa kalian kembali. Tetapi ayah berpesan agar kalian berbuat sebaik-baiknya. Kalian harus berhati-hati dan jangan menganggap semua persoalan yang kalian hadapi adalah sekedar permainan sebagaimana masa anak-anak kalian bermain sembunyi-sembunyian.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
“Kalau begitu, kalian dapat minta diri kepada paman.”
Mahisa Agni dan paman Witantra. Tetapi sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini di malam hari. Namun dengan demikian kalian harus menyadari, bahwa kalian harus berusaha menghindari pengamatan para petugas dari Kediri yang setia kepada Sri Baginda dan para pengikut Pangeran Kuda Permati yang tentu juga berkeliaran,” pesan Mahisa Bungalan.
“Kami mengerti,” jawab keduanya hampir berbareng.
Demikianlah, maka kedua anak muda itu-pun telah mohon diri kepada Mahisa Agni dan Witantra, bahwa demikian malam turun, mereka akan meninggalkan istana itu, kembali kepada tugas mereka.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian telah memilih satu tugas yang sangat berat.”
“Tetapi agaknya tugas ini dapat memberikan landasan hidup yang mantap,” jawab Mahisa Murti.
“Mungkin demikian,” sahut Witantra, “Tetapi pengalaman itu harus kau peroleh dengan taruhan yang mahal sekali. Meskipun demikian, jika hal itu memang sudah menjadi pilihan kalian, lakukanlah dengan bersungguh-sungguh tetapi dengan sangat berhati-hati.”
“Ya paman,” jawab kedua anak itu hampir berbareng. Sementara itu, beberapa pesan masih diberikan oleh kedua pamannya.
Demikianlah, maka ketika Kota Raja sudah menjadi gelap, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan istana itu. Mereka menyadari bahwa kota yang baru saja dilanda oleh pertempuran itu tentu mendapat penjagaan yang ketat oleh pasukan Kediri, tetapi tentu juga mendapat pengawasan dari para petugas sandi dari para pengikut Pangeran Kuda Permati Apalagi setelah Pangeran Kuda Permati mengalami kegagalan. Mereka tidak dapat membinasakan para utusan dari Singasari yang terjadi justru sebaliknya. Para pengikut Pangeran Kuda Permati itu sebagian besar telah menjadi tawanan.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar