*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 007-03*
“Ki Sanak” berkata Witantra kemudian, “nampaknya kalian memang akan mempergunakan kekerasan. Tetapi sebaiknya kalian berpikir ulang. Kami adalah prajurit Singasari. Kami memiliki pengalaman berperang dan sudah barang tentu kami tidak akan dapat kalian takut-takuti dengan cara apapun juga. Karena itu, sebaiknya kalian minggir saja. Relakan kedua orang kawan kalian yang telah mencemarkan nama baik kelompok kalian. Tanpa kedua orang ini mungkin kedudukan kalian akan menjadi lebih aman, karena prajurit Singasari berikutnya tidak selalu mengejar-ngejar kalian. Bukankah kalian menyadari bahwa jika kami tidak kembali berarti Singasari akan menggerakkan prajuritnya lebih banyak dan lebih bersungguh-sungguh”
Kata-kata itu memang menyentuh perasaan pemimpin kelompok itu sehingga iapun telah merenunginya. Namun seorang yang berdiri di belakangnya berkata, “Kaulah yang ingin menakut-nakuti kami. Jika kalian mempunyai pengalaman bertempur, kamipun mempunyai pengalaman yang barangkali justru lebih luas dari pengalaman kalian. Sementara itu, jika mayat kalian tidak diketemukan oleh siapapun juga, maka tidak seorang pun yang akan dapat mengatakan, bahwa kalian lelah mati di bulak ini, dan prajurit Singasari tidak akan dapat mencari siapakah yang bertanggung jawab atas kematian kalian”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Minggirlah. Kami tetap dalam pendirian kami”
“Bukankah tidak ada gunanya untuk berbicara?” sahut seorang yang bertubuh tinggi.
Pemimpin kelompok itu pun kemudian memberikan isyarat kepada orang-orangnya, “Bersiaplah. Kita akan bertempur” Beberapa orangpun kemudian telah memencar. Sementara itu. kedua orang tawanan yang berada di antara Mahisa Agni dan Witantra serta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu, telah bersiap-siap pula. Namun mereka terkejut tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di samping mereka. “Sekali lagi aku peringatkan, jangan berbuat sesuatu” berkata Mahisa Murti.
Wajah orang itu menjadi tegang. Terasa ujung pedang kedua anak muda itu telah menyentuh pinggangnya.
Tetapi salah seorang dari kedua orang itu berkata , “Kau tidak akan berani membunuh kami. Dengan demikian, nasib kalian akan menjadi sangat buruk. Kawan-kawan kami yang marah akan memperlakukan kalian di luar segala macam sikap yang pernah kau pikirkan”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi merah. Merekapun hampir kehilangan kesabaran mereka. Namun dalam pada itu, mereka masih berusaha menahan diri. Namun Mahisa Pukat menggeram sambil menekankan pedangnya , “Kau kira mereka akan dapat membunuh kami!?”
“Jumlah kalian jauh lebih sedikit dari jumlah kawan-kawan kami. Sementara itu, beberapa orang di antara kawan-kawan kami ittu memiliki kemampuan di atas kemampuan kami, sehingga dengan demikian, mereka yang jumlahnya sepuluh orang itu akan dengan mudah membunuh kalian berdua. Selebihnya dua orang pamanmu itu tidak akan berdaya apa-apa” jawab salah seorang dari kedua orang tawanan itu.
Mahisa Pukat benar-benar menjadi marah. Tiba-tiba saja tangannya menyambar tengkuk orang itu sambil berkata, “Diamlah orang gila”
Sentuhan tangan Mahisa Pukat benar-benar telah membuat orang itu diam. Bahkan orang itu telah kehilangan kesadarannya, sehingga ia telah terkulai di punggung kudanya.
“Gila” geram kawannya” Kau membunuh kawan kami he?”
“Tidak. Aku hanya membungkamnya untuk sementara” jawab Mahisa Pukat.
Orang itulah hampir saja berteriak mengumpat. Tetapi Mahisa Murti lah yang kemudian memukul tengkuknya sehingga orang itu pun menjadi pingsan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera meloncat turun dari kuda mereka. Tanpa menghiraukan orang-orang yang telah berpencar itu, mereka menambatkan kuda mereka, dan kuda kedua orang yang telah pingsan itu.
Pada saat sepuluh orang yang mencegat iring-iringan di tengah-tengah bulak itu akan bergerak, pemimpinnya berdesis , “tunggu. Apa yang akan mereka lakukan atas kawan-kawan kita yang sudah terlanjur pingsan itu”
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membaringkan keduanya di atas rerumputan setelah mereka mengambil keduanya dari atas punggung kuda masing-masing.
Pemimpin kelompok orang-orang yang mencegat perjalanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian berkata, ”mereka masih belum mati. Tetapi ketahuilah bahwa mereka memang tidak terlalu berharga buat kami. Karena itu, seandainya mereka matipun kami tidak akan merasa kehilangan”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bertanya, “Jadi buat apa kalian ingin menyelamatkannya, jika mereka tidak cukup berharga buat kalian. Apa lagi kalian masih harus mempertaruhkan nyawa kalian”
“Persetan” bentak pemimpin kelompok itu , “siapa yang mempertaruhkan nyawa untuk tikus-tikus kecil itu. Kau sangka bahwa kalian berempat dapat berbuat sesuatu atas kami?”
Mahisa Pukat benar-benar menjadi muak menghadapi orang-orang itu, sehingga iapun kemudian menjawab, “Kami akan membunuh kalian, bukan kalian akan membunuh kami”
Dalam pada itu, orang bertubuh tinggi di antara kelompok itupun menyahut hampir berteriak, “Cukup. Kita tidak perlu berbicara terlalu banyak”
“Baiklah” berkata pemimpinnya. Namun ia masih, berkata, “Tetapi biarlah mereka menyadari kesia-siaan kerja, mereka. Orang-orang itu memang tidak berharga bagi kami. Jika kami gagal membebaskan mereka, maka biarlah mereka akan kami bunuh saja”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Dalam pada itu Witantra pun berkata, “Kau ingin menghilangkan jejak?”
“Ya. Ada dua cara yang dapat kami tempuh. Membunuh kalian, dan membebaskan kawan-kawan kami, atau jika kalian sempat mempertahankan diri, maka kedua orang itulah yang akan kami bunuh” Jawab pemimpin kelompok itu, “tetapi satu hal yang harus kalian perhitungkan. Kalian akan menghadapi kekuatan yang tidak mungkin kalian lawan. Karena itu, maka lebih baik kalian memperhitungkannya dengan cermat”
“Sekali lagi aku tegaskan” jawab Mahisa Agni, “kami tetap dalam pendirian kami”
Pemimpin kelompok itu benar-benar telah kehilangan kesabaran mereka. Dengan satu isyarat, maka sepuluh orang itu pun segera mengepung empat orang yang menyebut diri mereka prajurit-prajurit Singasari itu.
Mahisa Agni, Witantra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mempersiapkan diri. Mereka pun segera bersiap di seputar kedua orang yang terbaring diam setelah Mahisa Agni dan Witantra mengikat mereka pula. Kepungan kesepuluh orang itu pun menjadi semakin lama semakin rapat. Beberapa orang di antara mereka telah mengacukan senjata-senjata mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menggenggam pedang masing-masing. Dengan tegang mereka menunggu orang-orang itu datang menyerangnya.
Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu telah mendahului kawan-kawannya menyerang Mahisa Agni. Senjatanya terjulur lurus ke dada Mahisa Agni yang siap menangkisnya. Sehingga dengan demikian, maka ujung senjata itu sama sekali tidak mengenai lawannya.
Tetapi pemimpin kelompok itu memang tidak ingin melukai lawannya pada serangan pertama. Ia hanya sekedar memberikan perintah kepada kawan-kawannya agar mereka mulai menyerang.
Sebenarnyalah, sesaat kemudian maka kesepuluh orang itupun telah menjulurkan senjata mereka bersama-sama. Namun dalam pada itu, Mahhisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.
Meskipun ia melihat senjata-senjata yang teracu kepada mereka, namun mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Meskipun demikian, keduanya tidak mengabaikan ketika mereka mendengar Mahisa Agni berdesis , “Hati-hatilah. Mereka adalah orang-orang yang berbahaya”
Sebenarnyalah kesepuluh orang itu merupakan orang-orang yang berbahaya. Ketika mulai menyerang, maka kesepuluh orang itu telah berusaha untuk membuat keempat orang yang mereka kepung itu menjadi bingung. Berganti-ganti mereka meloncat menyerang, semakin lama semakin cepat, sehingga sejenak kemudian, maka kesepuluh orang itu telah menyerang berganti-ganti berurut-urutan seperti gelombang yang didorong oleh badai menghantam tebing.
Dengan penuh keyakinan, mereka berharap bahwa dalam waktu yang singkat mereka akan berhasil melumpuhkan keempat orang yang menyebut diri mereka, prajurit-prajurit Singasari itu.
Tetapi ternyata yang mereka hadapi adalah Mahisa Agni, Witantra dan dua orang anak Mahendra. Karena itu. maka pada putaran pertama dari cara mereka menyerang keempat orang itu sudah mulai terasa, bahwa yang mereka hadapi adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Justru karena itu, maka pemimpin mereka telah memberikan isyarat, agar orang-orangnya menjadi semakin berhati-hati.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, pertempuran itu pun menjadi semakin dahsyat. Orang-orang itu berloncatan menyerang berganti-ganti. Beruntun tidak henti-hentinya. Namun demikian serangan mereka hampir tidak berarti sama sekali. Setiap kali senjata mereka yang terjulur, seolah-olah telah membentur dinding yang memagari Keempat orang itu dengan tangkisan-tangkisan yang cepat. Bahkan kadang-kadang terasa, tangan mereka menjadi pedih jika terjadi benturan yang keras.
Karena itu, maka pemimpin mereka menganggap bahwa cara itu tidak akan segera dapat mengatasi keadaan. Mereka tidak akan segera dapat membunuh keempat orang itu, atau melukainya.
Sejenak kemudian, terdengar isyarat dari pemimpin orang-orang yang mengepung keempat orang itu. Mahisa Agni, Witantra dan kedua anak Mahendra itu pun segera dapat mengetahuinya, bahwa akan terjadi satu perubahan dalam tata gerak kesepuluh orang lawannya itu.
Sebenarnyalah, kesepuluh orang itu pun segera berloncatan mundur. Untuk seesaat, pertempuran itu memang terhenti. Namun dalam pada itu, keempat orang yang berada dalam kepungan itu segera melihat, bahwa kesepuluh orang itu telah membuat satu cara yang lain untuk melawan mereka. Dengan berdebar-debar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat kesepuluh orang itu telah terpecah dan membuat kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi mereka.
“Satu cara yang lain” desis Mahisa Pukat.
Nampak baik Mahisa Pukat maupun Mahisa Murti menganggap hahwa cara itu adalah cara yang paling wajar untuk bertempur menghadapi lawan yang sedikit jumlahnya. Meskipun dengan demikian mereka berharap bahwa mereka akan dapat mengalahkan lawan mereka seorang demi seorang.
Sebenarnyalah dalam pada itu, pemimpin kelompok itu pun berkata , “Sekarang kami bersungguh-sungguh setelah kami mencoba untuk memberi kesempatan kepada kalian menyerah. Jangan menyesal bahwa kalian akan mati terbunuh. Seorang saja di antara kalian kami habisi, maka beruntun yang lain pun akan segera menyusul”
“Kami menyadari” jawab Mahisa Agni, ”tetapi untuk membunuh seorang diantara kami, bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Karena telah menjadi naluri seseorang, bahwa ia akan mempertahankan hidupnya sejauh dapat dilakukan”
“Tetapi usaha kalian akan sia-sia” berkata pemimpin mereka, “tetapi jika kalian ingin mati jantan dengan pedang di tangan, kamipun tidak akan berkeberatan”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kearah Witantra. maka Witantra pun memandanginya. Ketika Witantra mengangguk kecil, maka Mahisa Agni pun telah mengangguk pula.
Agaknya keduanya telah sepakat untuk segera menghalau orang-orang itu, meskipun mereka menyadari, bahwa mereka harus bekerja keras. Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi untunglah, bahwa kesepuluh orang itu telah berdiri dalam kelompok-kelompok yang tidak sangat membahayakan bagi kedua anak muda itu, meskipun keduanya harus bekerja berat untuk bertahan sampai saatnya Mahisa Agni dan Witantra dapat membantu mereka.
Kesepuluh orang itu telah terbagi dalam ampat kelompok. Masing-masing tiga orang yang berdiri berhadapan dengan Mahisa Agni dan Witantra. Kemudian untuk menghadapi dua orang anak muda anak Mahendra itu, empat orang yang tersisa telah membagi diri pula. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Agni dan Witantra harus berhadapan masing-masing dengan tiga orang, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menghadapi masing-masing dua orang.
“Apakah kalian tetap pada pendirian kalian?” pemimpin kelompok itu masih bertanya.
“Ya” Mahisa Agnilah yang menjawab.
Pemimpin kelompok itu menggeretakkan giginya.
Kemudian terdengar ia meneriakkan aba-aba, sekaligus meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya terjulur lurus kearah jantung Mahisa Agni.
Tetapi serangan itu tidak berarti apa-apa. Namun demikian, serangan-serangan yang lain pun segera menyusulnya. Seperti juga kelompok-kelompok yang berhadapan dengan Witantra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah terjadi di empat lingkaran. Di luar sadar mereka yang sedang bertempur itu. maka setiap lingkaran telah mengambil jarak dari lingkaran pertempuran yang lain. Mahisa Agni yang bergeser ke sawah telah bertempur di antara tanaman yang sedang tumbuh. Batang-batang padi yang hijau telah terinjak-injak oleh kaki mereka yang sedang bertaruh nyawa. Sementara itu, seorang dari ketiga lawannya adalah pemimpin kelompok yang garang.
Dalam pada itu. Witantra telah bertempur melawan tiga orang pula. Tetapi mereka tetap bertempur di jalan simpang.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah turun ke tanah persawahan pula. di seberang menyeberang jalan. Mereka pun telah menginjak-injak tanaman yang tumbuh dengan suburnya. Tetapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka harus mempertahankan hidup mereka, sehingga karena itu, maka mereka terpaksa mengorbankan tanaman yang hijau di tanah persawahan itu.
Dalam pada itu, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, mulai terasa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa untuk melawan masing-masing dua orang, ternyata mereka harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Seperti dua orang yang tidak sadarkan diri dan terbaring diam itu, maka orang-orang yang bertempur berpasangan itu memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, sebagaimana melawan dua orang yang terbaring itu, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat merasa, betapa tekanan-tekanan yang berat mulai menggetarkan pertahanan mereka.
Namun dalam pada itu, kedua anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Mereka sadar bahwa mereka memang harus mengerahkan segenap kemampuan. Mereka harus mempergunakan nalar dan kemampuan untuk mengatasi kesulitan mereka menghadapi masing-masing dua orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi.
Dalam pada itu, ternyata Mahisa Agni dan Witantra melihat kesulitan yang dialami oleh kedua orang anak muda itu.
Karena mereka pun telah melihat kemampuan dua orang yang terbaring diam itu, dan memang mempunyai perhitungan bahwa kemampuan kawan-kawannya pun tidak akan terpaut banyak, maka keduanya pun harus membuat perhitungan yang sebaik-baiknya, agar kedua anak, muda itu tidak mengalami kesulitan yang lebih parah, tetapi tanpa datang membantu mereka.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Mahisa Murti yang harus berloncatan dengan tergesa-gesa menghindari serangan kedua orang lawannya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Murti itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk membalas serangan kedua lawannya, selain berloncatan menghindar. Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah mengalami kesulitan yang sama. Betapapun ia berusaha, namun serangan lawannya yang datang beruntun telah menggetarkan pertahanannya. Sehingga karena itu, seperti Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah terdesak, sehingga ia terdorong semakin jauh ke tengah-tengah sawah.
Namun demikian, perlawanan kedua orang anak muda itu masih tetap berbahaya bagi lawan-lawannya. Meskipun keduanya seolah-olah hampir tidak mempunyai kesempatan, tetapi sekali-sekali kedua anak muda itu masih juga berusaha untuk menyerang dengan tiba-tiba.
Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra pun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula melawan masing-masing tiga orang. Namun berbeda dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Mahisa Agni dan Witantra segera dapat menempatkan diri dalam perlawanan mereka atas ketiga orang lawan mereka. Namun demikian, tiga orang lawan itu bukannya lawan yang dapat diabaikan. Mereka bertempur dengan cepat dan kasar. Apalagi ketika mereka bertempur semakin cepat. Setelah keringat mereka membasahi seluruh tubuh mereka, maka seolah-olah mereka tidak lagi mengekang diri untuk berbuat apa saja. Juga kekasaran dan kekerasan yang tidak terkekang. Tetapi menghadapi Mahisa Agni dan Witantra, mereka ternyata tidak dapat berbuat banyak.
Sebenarnyalah pemimpin kelompok itu telah berusaha untuk memancing perhatian Mahisa Agni. Sementara itu, seorang kawannya berusaha menyerangnya dari arah kanan. Jika ia gagal, maka kawannya yang lain akan menyerang dengan serangan yang mematikan dari arah yang lain.
Namun dalam pada itu, meskipun perhatian Mahisa Agni seakan-akan telah terpancing oleh pemimpin kelompok itu, namun serangan kawannya yang pertama sama sekali tidak dapat mengenainya. Dengan cepat Mahisa Agni bergeser mengelakkan serangan itu.
Tetapi masih ada serangan yang terakhir, yang diharapkan akan dapat menghunjam ke dalam tubuhnya.
Namun ketika serangan itu datang, Mahisa Agni sama sekali tidak dapat disentuhnya. Dengan tangkasnya Mahisa Agni meloncat sambil berputar. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja pedangnya telah menyambar senjata orang ketiga itu.
Kekuatan Mahisa Agni benar-benar tidak terlawan. Ternyata sambaran pedang Mahisa Agni alas senjata orang ketiga itu serasa telah mematahkan jari-jarinya. Dengan demikian, maka senjatanya telah terlepas dan terlempar beberapa langkah dari padanya.
Tetapi Mahisa Agni tidak sempat memburunya. Kedua orang lawan orang itu hampir bersamaan telah menyerang dari arah yang berbeda, sehingga Mahisa Agni harus bergeser surut.
Lawannya mendapat kesempatan untuk memungut senjatanya ketika kedua orang lawannya melindunginya. Namun jari-jarinya terasa tidak lagi mampu menggenggam senjatanya seperti semula.
Meskipun demikian, ketiga orang itupun kemudian masih tetap bertempur dengan gigihnya. Serangan mereka datang beruntun bagaikan ombak di lautan.
Sementara itu, Witantra pun bertempur dengan serunya. Tiga orang lawannya dengan kasar telah berusaha menyerang dari tiga arah yang berlawanan. Dengan gerakan yang cepat, mereka berusaha untuk berputar mengelilingi Witantra sambil menyerang bergantian, dari arah yang berbeda-beda.
Tetapi ketiganya menjadi semakin berdebar-debar karena Witantra sama sekali tidak terpengaruh oleh tata gerak ketiga orang lawannya. Dengan tenang dan mapan ia menghadapi lawan-lawannya. Dengan cara apapun juga. ternyata ketiga lawannya itu telah mengalami kesulitan. Bahkan dalam kemarahan yang memuncak, ketiganya telah bersepakat untuk menyerang Witantra bersama-sama dari satu arah mereka bersama-sama menjulurkan senjata mereka.
Namun, meskipun Witantra hanya menggenggam sebilah pedang, tetapi rasa-rasanya pedang itu dapat berubah juga menjadi tiga yang menangkis serangan ketiga orang itu satu demi satu.
“Hantu mana yang telah masuk ke dalam dirinya” geram salah seorang dari ketiga lawannya.
Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Aku ngeri terhadap hantu-hantu. Karena itu. aku sama sekali tidak berguru kepada hantu-hantu itu” Namun bagaimanapun juga, serangan ketiga orang lawannya itu pun selalu kandas oleh kecepatan gerak Witantra. Apakah ia menghindar atau menangkis serangan lawannya.
Namun dalam pada itu, baik Witantra maupun Mahisa Agni tidak dapat bersikap terlalu sabar menghadapi lawan-lawan mereka yang kasar. Mereka tidak dapat membiarkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam kesulitan menghadapi dua orang lawan mereka yang keras daa tanpa menghiraukan cara yang mereka pergunakan.
Karena itu, maka baik Mahisa Agni. maupun Witantra telah berusaha untuk dapat berbuat sesuatu secepatnya. Apalagi ketika mereka melihat kedua anak muda itu telah terpisah semakin jauh.
Witantra lah yang melawan tiga orang lawan itupun telah mengambil satu keputusan untuk berbuat lebih cepat. Karena itu, maka ia pun semakin meningkatkan ilmunya. Dengan mengerahkan tenaga cadangan di dalam dirinya yang disalurkan lewat pedangnya, maka Witantra telah bertindak cepat.
Demikianlah, ketika ketiga orang lawannya menyerangnya beruntun, maka dengan kekuatan yang tidak terduga, Witantra telah berusaha merampas ketiga senjata lawannya. Tetapi, usahanya tidak mudah dilakukannya. Ketika orang pertama menyerangnya dengan senjata terjulur, maka Witantra telah berhasil memukul senjata lawannya, sehingga senjata itu terloncat jauh. Namun ternyata bahwa kedua orang kawannya tidak tergesa-gesa melakukannya sebagaimana dilakukan oleh orang yang pertama. Kedua orang itu justru memencar. Mereka datang beruntun dengan sikap yang jauh lebih berhati-hati. Karena itu, maka Witantra tidak segera dapat melemparkan senjata kedua orang itu.
Namun dalam pada itu, kegelisahannya pun menjadi semakin meningkat. Mahisa Pukat telah terdesak semakin jauh. Bahkan sekilas, Witantra melihat, bahwa anak muda itu benar-benar berada dalam kesulitan. Ternyata kedua lawannya memiliki sedikit kelebihan dari dua orang yang telah berbaring diam di pinggir jalan itu. Demikian juga lawan Mahisa Murti. Ternyata Mahisa Murti tidak dapat mengatasi kedua lawannya, meskipun ia masih sempat meloncat-loncat menghindari serangan mereka. “Nampaknya mereka memiliki tataran yang lebih tinggi dari kedua orang yang menjadi tawanan itu” berkata Witantra di dalam hatinya.
Karena itulah, maka ia pun segera bertindak cepat, ia tidak membiarkan seorang yang senjatanya terlepas itu dapat memiliki senjatanya kembali. Karena dengan demikian, maka perlawanan mereka akan menjadi semakin panjang. Dalam kegelisahan itu, maka Witantra menjadi-kurang dapat mengendalikan diri. Ketika lawannya yang kehilangan senjatanya itu mempergunakan kesempatan, selagi Witantra melayani dua orang kawannya untuk mengambil senjatanya, maka Witantra telah berusaha mencegahnya.
Namun, selain kegelisahannya Witantra juga tergesa-gesa karena ia melihat dua orang lawannya yang lain telah bersiap. Sehingga dengan demikian, maka ia kurang dapat mengendalikan tangannya.
Ketika lawannya yang seorang itu sedang berusaha meraih senjatanya, tiba-tiba saja Witantra meloncat panjang dengan kecepatan yang tidak diduga sebelumnya. Ayunan pedangnyapun ternyata kurang dikendalikannya. Dengan demikian, maka sekejap kemudian telah terdengar keluhan tertahan. Orang yang berusaha mengambil senjatanya itu telah terdorong dan jatuh terguling di tanah. Dadanya telah dikoyakkan oleh goresan senjata Witantra, sehingga darah pun telah memerah.
“Uh, gila” geram orang itu sambil menggeliat. Perasaan sakit telah menyengat kulitnya pada lukanya yang memanjang itu.
“O” desis Witantra , “apaboleh buat. Bukan maksudku untuk membunuhmu. Mudah-mudahan kau dapat bertahan untuk tetap hidup tanpa mengganggu perjalananku ke Singasari membawa dua orang kawanmu itu”
Tetapi luka itu terlalu lebar. Dan darahpun mengalir terlalu banyak. Meskipun demikian, orang itu masih kesakitan.
Dua orang kawannya menjadi berdebar-debar. Bertiga mereka tidak berhasil mengalahkan orang itu. Apalagi hanya berdua saja. Sementara kawannya yang terluka itu benar-benar dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Namun dalam pada itu, kedua orang lawan Witantra yang tersisa telah melihat, bahwa dua orang lawan Mahisa Pukat memiliki kelebihan dari anak muda itu. Karena itu, maka kedua orang lawan Witantra itupun menganggap hahwa anak muda itu akan cukup dihadapi oleh seorang saja. Setidak-tidaknya orang itu akan dapat bertahan untuk waktu yang cukup lama.
Dalam pada itu, Witantra yang sudah kehilangan seorang lawannya justru semakin mempercepat tata geraknya. Ia memang berharap agar kedua lawannya yang tersisa itu memanggil kawannya yang lain untuk membantu mereka. Sebenarnyalah, ketika kedua orang itu sudah tidak berdaya sama sekali menghadapi kecepatan gerak Witantra, maka seorang di antara merekapun segera memberi isyarat kepada seorang kawannya yang bertempur melawan Mahisa Pukat. “Tunggu sebentar” teriak kawannya itu dari antara tanaman di sawah, ”aku akan segera menyelesaikan anak ini”
Namun hampir bersamaan dengan itu, Witantra mendesak kedua kawannya semakin cepat. Senjatanya berputar membingungkan. Namun Witantra masih belum mengakhiri pertempuran itu. Ia masih berharap salah seorang lawannya memanggil lagi kawannya yang bertempur melawan Mahisa pukat.
Sementara itu, Mahisa Pukat bertahan dengan sekuat tenaganya. Meskipun ia merasa tekanan lawannya menjadi semakin berat, tetapi ia masih mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri dari bahaya yang sebenarnya. Dengan loncatan-loncatan panjang ia berhasil menghindari setiap serangan, meskipun lawan-lawannya selalu mengumpannya dengan kasar.
“Pengecut” geram salah seorang lawannya , “kau hanya mampu berloncatan menghindar. Ayo, tunjukkan bahwa kau bertempur dengan jantan”
“Apakah artinya jantan menurut kalian?” bertanya Mahisa Pukat, “bertempur berdua?”
“Anak setan” geram orang itu. Sementara serangannya menjadi semakin cepat.
“Cepat. Kemari” teriak orang yang terluka itu , “kita binasakan dahulu tikus tua ini. Baru kemudian kita akan membunuh anak-anak muda itu”
Namun dalam pada itu, kedua lawan Witantra benar-benar dalam keadaan yang sangat sulit. Bahkan sejenak kemudian, seorang di antara mereka telah terdorong beberapa langkah surut. Ujung senjata Witantara telah tergores di lengannya, meskipun hanya segores tipis.
Kedua orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. Namun tiba-tiba seorang diantara mereka berkata , “Tinggalkan anak ini. Biarlah aku yang menyelesaikan”
Kawannya masih saja ragu-ragu. Namun ketika ia melihat kesulitan kawannya yang bertempur melawan Witantra, maka ia pun segera meninggalkan Mahisa Pukat, berlari-lari mendekati kawan-kawannya yang bertempur melawan Witantra.
Mahisa Pukat yang melihat seorang lawannya meninggalkannya, terasa ia mendapat kesempatan untuk bangkit dari kesulitannya. Bahkan hampir diluar sadarnya, iapun berkata, “Nah, sekarang baru kita berhadapan sebagai dua orang laki-laki”
“Persetan” geram lawannya, “kau sangka kau masih akan sempat hidup lebih lama lagi”
“Berdua kau tidak dapat membunuhku. Apalagi seorang diri” sahut Mahisa Pukat.
“Aku memang tidak dapat membunuh seorang yang berlari-lari ketakutan seperti yang kau lakukan. Tetapi berhadapan dengan tanggon, maka kau akan binasa” jawab lawannya. Mahisa Pukat bergeser selangkah. Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya memang sudah mulai susut setelah ia memeras tenaga melawan dua orang yang memiliki ilmu melampaui dua orang yang telah tertawan itu.
Meskipun demikian, namun Mahisa Pukat mempunyai harapan yang lebih besar untuk dapat bertahan setelah lawannya berkurang.
Dalam pada itu, ketika Witantra harus berhadapan lagi dengan tiga orang, maka iapun telah bertempur semakin cepat. Tenaganya menjadi semakin kuat dan ujung senjatanya berputaran bagaikan haling-baling. Bahkan kemudian, ketika ketiga lawannya berusaha mengepungnya, maka Witantralah yang telah membuat ketiga orang lawannya kebingungan, karena arah serangan Witantra yang beruban setiap saat.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti masih saja mengalami kesulitan. Ia masih harus bertempur melawan dua orang. Dua orang yang memang memiliki kelebihan dari dua orang yang telah tertawan itu.
Dalam pada itu, ternyata Mahisa Agni mempunyai cara yang berbeda dari cara yang sudah ditempuh oleh Witantra. la tidak segera mengurangi jumlah lawannya. Tetapi ia telah memancing lawannya untuk bergeser dari tempat mereka bertempur. Bahkan tiba-tiba saja Mahisa Agni telah menunjukkan satu sikap yang meragukan, justru karena Mahisa Agni selalu berloncatan mundur.
Tetapi akhirnya ketiga orang lawannya itu pun mengetahuinya, bahwa Mahisa Agni berusaha mendekati Mahisa Murti. Karena itu, maka ketiga lawannya itu pun kemudian berusaha untuk mencegahnya.
“Jangan beri kesempatan” berkata peminpin kelompok itu.
Tetapi Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Jika ketiga lawannya tidak mengikutinya ketika ia bergeser, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan sambil berjalan dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menuju ke tempat Mahisa Murti bertempur. Tetapi jika ketiga lawannya berusaha menahannya, maka ternyata mereka tidak dapat mengatasi kemampuan Mahisa Agni.
Karena itu, mau tidak mau, maka arena pertempuran itu pun menjadi semakin merapat. Mahisa Murti yang menyadari niat Mahisa Agni berusaha untuk tidak bergeser menjauh. Bahkan ia pun kemudian berloncatan mendekati arah Mahisa Agni yang menjadi semakin dekat.
“Pengecut” geram salah seorang lawannya , “kau ingin berlindung dibawah sayap orang-orang tua itu?”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Ia memang merasa tersinggung. Karena itu, maka iapun menjawab, “Siapa yang licik? Aku atau kalian? Jika kalian dapat bertempur berpasangan, kenapa aku tidak? Bahkan seandainya aku dan pamanku hertempur berpasangan, kami berdua masih harus melawan lima orang”
“Persetan” geram orang itu, sementara serangan kedua orang itu semakin lama menjadi semakin gawat.
Mahisa Murti benar-benar harus berjuang untuk mempertahankan diri. Namun kedua orang itu berusaha untuk menyelesaikannya sebelum Mahisa Agni mendekat. Karena itu, maka kedua orang lawan Mahisa Murti benar-benar telah menyerang dengan serangan-serangan yang mematikan.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat menempuh cara seperti yang dilakukan oleh Witantra. Seandainya ia membunuh ketiga orang lawannyapun, maka kedua orang yang bertempur melawan Mahisa Murti tidak akan meninggalkan anak muda itu, karena menurut perhitungan mereka, dalam waktu yang pendek, Mahisa Murti tentu akan dapat dibinasakannya.
Karena itu, Mahisa Agni telah melakukan satu cara yang berbeda. Bahkan kemudian, Mahisa Agni pun menjadi semakin tergesa-gesa karena keadaan Mahisa Murti yang semakin gawat.
Sebenarnyalah, sebelum Mahisa Agni mencapai arena pertempuran antara Mahisa Murti dan kedua lawannya, maka Mahisa Murti telah kehilangan kesempatan untuk mengelak, ketika kedua serangan yang berbahaya datang beruntun. Bahkan kemudian Mahisa Murti terpaksa meloncat dengan tergesa-gesa menjauhi lawannya sambil mengeluh tertahan. Segera luka telah memanjang dipundaknya.
Mahisa Agni benar-benar tidak ingin terlambat. Karena itu, maka iapun telah meloncat berlari meninggalkan lawan-lawannya yang kemudian mengejarnya.
“ Pengecut. Jangan lari” teriak lawan-lawannya.
Mahisa Agni tidak menghiraukan mereka, karena merekapun tentu akan mengejarnya dan menyadari apa yang akan terjadi.
Sebenarnyalah, Mahisa Agni datang tepat pada waktunya. Ketika Mahisa Murti benar-benar dalam kesulitan, maka Mahisa Agni pun telah langsung melibatkan dirinya melawan dua orang yang dengan kemarahan yang memuncak merasa kehilangan kesempatan untuk membinasakan Mahisa Murti yang telah terluka.
Namun dalam pada itu, ketiga orang Mahisa Agni pun telah datang menyusul. Merekapun telah menyerang dengan serta merta. Pemimpin kelompok yang sangat marah itu berusaha untuk langsung dapat membunuh Mahisa Agni dengan serangan-serangannya yang membadai. Tetapi usaha itu tidak segera dapat berhasil. Mahisa Agni sempat menempatkan diri disebelah Mahisa Murti sambil berkata , “Hati-hatilah. Kita akan bertempur berpasangan melawan kelima orang itu”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun pundaknya telah terluka, namun ia masih mampu bertempur dengan cepat.
Namun dalam pada itu, seperti Mahisa Pukat, maka tenaga Mahisa Murti pun menjadi semakin susut, karena ia telah mengerahkan kemampuannya untuk mempertahankan diri terhadap kedua lawannya.
Tetapi dalam pertempuran berikutnya, Mahisa Agni tidak lagi banyak memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya. Apalagi lawan-lawannya benar-benar berusaha untuk membunuhnya dan membunuh Mahisa Murti.
Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin seru. Pemimpin kelompok itu telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Beberapa kali ia berteriak memberikan aba-aba kepada orang-orangnya, agar mereka menyelesaikan tugas mereka dengan cepat.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya dari yang mereka kehendaki. Mahisa Agni telah membuat mereka sekali-kali kebingungan. Sementara itu, Mahisa Murti telah sempat inenyesuaiKan diri, sehingga keadaannya menjadi lebih mapan, meskipun ia lebih banyak bertahan daripada menyerang. Tetapi luka dipundaknya telah membuatnya sangat marah. Karena itu, maka ketika ia mendapat kesempatan, maka iapun telah mengambil satu sikap yang mengejutkan.
Ketika orang-orang kasar itu terlibat dalam pertempuran yang sulit dengan Mahisa Agni, maka seorang diantara mereka telah menyerang Mahisa Murti secara khusus. Orang itu memperhitungkan kelemahan dan keletihan pada anak muda itu, sehingga orang itu menganggap bahwa Mahisa Murti tidak akan banyak dapat berbuat.
Tetapi perhitungan itu ternyata keliru. Ketika orang itu mengayunkan pedangnya mendatar, maka Mahisa Murti masih sempat bergeser sambil mendera senjata lawannya sehingga senjata itu telah berubah arah. Namun orang itupun cekatan. Senjatanya segera berputar mematuk kearah jantung.
Mahisa Murti tidak membiarkan dadanya dikoyak oleh senjata lawannya. Dengan tangkas ia mengelak Namun Mahisa Murti sempat melihat gerak mata orang itu, sehingga iapun dapat menebak apa yang akan dilakukannya.
Sebagaimana diperhitungkan, maka orang itupun mengurungkan serangannya. Tetapi senjatanya telah terayun mendatar menebas lambung.
Apalagi Mahisa Murti yang ternyata telah terluka. Meskipun pada dasarnya ia lebih banyak mempunyai pertimbangn dari pada Mahisa Pukat, tetapi karena lukanya, maka iapun telah menjadi garang pula.
Mahisa Murti melihat kesempatan. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia tidak menghiraukan lawan-lawannya yang lain. Ia mempercayakan mereka kepada Mahisa Agni yang nampaknya berhasil menguasai keadaan.
Dalam pada itu, Mahisa Murti meneruskan perhatiannya kepada lawannya yang seorang itu. Yang menebas lambungnya dengan garang. Mahisa Murti dengan perhitungan yang cermat tanpa menghiraukan orang lain telah menghindari serangan itu, ia meloncat surut. Kemudian sambil memiringkan tubuhnya ia bergeser. Sementara itu, dengan cepatnya ia menjulurkan pedangnya menyayat dada orang itu. Orang yang terluka itu terpekik kecil. Dengan serta merta ia meloncat surut. Namun Mahisa Murti tidak melepaskannya. Ia pun meloncat maju. Pedangnya sekali lagi mematuk.
Tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Karena itu. maka ujung pedang Mahisa Murtipun kemudian telah menghunjam ke dalam tubuh orang itu tepat di perutnya. Sekali lagi orang itu terdorong surut. Namun kemudian, ketika Mahisa Murti menarik pedangnya, maka orang itupun terhuyung-huyung dan jatuh terbanting di tanah.
Pada saat itu kawan-kawannya telah berusaha untuk membantunya. Tetapi Mahisa Agnipun cukup tangkas. Mahisa Agni sadar, bahwa Mahisa Murti yang marah itu tidak menghiraukan lawan-lawannya yang lain. sehingga seluruh perhatiannya terpusat kepada lawannya yang seorang itu.
Karena itulah, maka Mahisa Agni harus berbuat sesuatu. Dengan kecepatan geraknya, maka Mahisa Agni masih sempat menghalau orang-orang yang ingin menyelamatkan kawannya dari ujung pedang Mahisa Murti. Tetapi mereka telah gagal. Seorang lagi dari antara sepuluh orang itu telah terbunuh.
Kemarahan pemimpin kelompok itu memang tidak tertahankan lagi. Dua orang kawannya telah terbunuh. Dengan demikian maka dendam telah menyala di dalam dadanya. Tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya, maka pemimpin kelompok itu telah mengerahkan segenap kemampuannya bersama sisa-sisa orangnya. Namun kesulitan itu telah datang lagi. Seorang yang bertempur melawan Mahisa Pukat telah terdorong pula oleh pedang anak muda itu, sehingga kehilangan keseimbangannya. Ketika orang itu jatuh di tanah, ia masih sempat mengumpat dengan kata-kata kasar. Namun sejenak kemudian, iapun telah terdiam.
Yang kemudian mengumpat adalah pemimpin kelompok itu. Untuk membebaskan kedua orang kawannya ia telah kehilangan tiga orang yang justru lebih baik. Tetapi yang penting baginya, bukan kebebasan orang itu karena ia sangat membutuhkannya. Tetapi yang penting bahwa kedua orang itu tidak dapat berbicara tentang rencana kegiatan mereka di daerah perbukitan yang langsung atau tidak langsung menghadapi ke daerah-daerah yang dianggap penting oleh Singasari. Baik sebagai daerah yang disediakan perkembangan Kota Raja, maupun tanah-tanah padukuhan yang dapat menjadi sumber bahan makan bagi Singasari. Karena itu, maka pemimpin kelompok itu telah memutuskan mengambil jalan yang kedua yang sudah direncanakan. Jika mereka gagal merebut kedua orang itu, maka keduanya sebaiknya dibinasakan saja.
Pemimpin kelompok itu tidak mau kehilangan kawannya lebih banyak lagi. Tiga orang telah terlalu banyak. Karena itulah, maka iapun telah mengambil satu langkah yang paling baik yang dapat dilakukannya. Tanpa mempercayakan kepada orang lain, maka iapun tiba-tiba telah meneriakkan perintah untuk bertempur dengan segenap kemampuan yang ada dalam diri orang-orangnya. Sementara itu, ia sendiri telah meloncat meninggalkan kawan-kawannya yang bertempur melawan Mahisa Agni, langsung mendekati kedua orang kawannya yang pingsan. “Mereka tidak perlu bangun untuk selama-lamanya” berkata pemimpin kelompok itu di dalam hatinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat telah terbebas dari lawannya. Karena itu, ketika pemimpin kelompok itu berlari mendekati kedua orang yang terbaring dengan sendiri teracu, maka Mahisa Pukat pun telah berlari pula menyongsongnya.
“Gila” geram pemimpin kelompok itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Pukat tidak akan membiarkan pemimpin kelompok itu berbuat sesuatu, Mahisa Pukat mengerti, jika kedua orang itu terbunuh, maka jalur penyelidikannya akan terputus pula, sehingga akan kehilangan jejak atas rencana orang-orang yang telah memesan kapak penebang kayu terlalu banyak itu.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat telah berhadapan dengan pemimpin kelompok yang gagal mencapai kedua orang kawannya yang pingsan untuk membunuhnya. Bahkan ia pun kemudian harus menghadapi anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi itu.
Bagaimanapun juga, pemimpin kelompok itu masih juga dibakar oleh kemarahan dan dendam. Karena itu, ia masih mencoba untuk membenturkan ilmunya melawan Mahisa Pukat
Namun ternyata bahwa anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang tidak akan dapat di atasinya seorang diri sehingga karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya selain menyelamatkan diri bersama orang-orangnya yang tersisa.
Karena itu, maka sejenak kemudian telah terdengar isyarat pemimpin kelompok itu. Isyarat bagi orang-orangnya, agar mereka meninggalkan arena pertempuran.
Demikian isyarat itu terdengar, maka dalam waktu sekejap orang-orang yang sedang bertempur itupun telah berlari berhamburan ke arah yang berbeda-beda.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti sudah meloncat memburunya. Namun Mahisa Agni telah memanggil mereka, agar mereka tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri ke arah yang berlainan itu.
“Aku ingin menangkap pemimpinnya” berkata Mahisa Pukat.
“Sudahlah. Tidak banyak gunanya” berkata Mahisa Agni. Tetapi mereka akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya bagi Kabuyutan Randumalang” sahut Mahisa Murti.
“Mungkin. Tetapi mungkin juga tidak. Orang-orang itu tahu pasti, bahwa yang membawa kedua kawannya adalah para prajurit dari Singasari. Agaknya mereka pun tidak akan membuat waktu untuk mengurusi orang-orang Randumalang, karena mereka tentu memperhitungkan satu kemungkinan bahwa para prajurit Singasari akan datang mencari mereka di lereng-lereng bukit” jawab Mahisa Agni, “sebab kedua orang yang tertangkap itu tentu akan dapat menunjukkan, kemana kita harus mencari mereka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
“Ya paman” berkata Mahisa Murti, “mereka akan meninggalkan sarang mereka”
“Aku kira demikian” sahut Mahisa Agni. Lalu, “Karena itu. marilah. Biar lukamu diobati dahulu”
“Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Baru ia merasakan bahwa lukanya menjadi pedih. Pakaiannya telah merah oleh darah yang mengalir dari lukanya.
Witantra lah yang kemudian mengobati luka Mahisa Murti. Dengan hati-hati Witantra mengusap luka itu dengan serbuk obat yang dibawanya dalam sebuah bumbung kecil. Namun dalam pada itu, agar perjalanan mereka tidak menarik perhatian karena darah pada pakaian Mahisa Murti. maka ia pun kemudian mengambil bajunya yang lain di dalam sebuah bungkusan kecil dan mengenakannya, setelah darahnya menjadi pampat.
Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun kemudian harus berhubungan lagi dengan orang-orang Randumalang, yang baru saja ditinggalkannya. Kepada orang-orang Randumalang ia mengatakan, bahwa ia harus mempertahankan diri dari sergapan orang-orang yang tidak dikenal.
“Kami memerlukan pertolongan kalian. Bukan untuk melawan orang itu. Tetapi untuk menguburkan beberapa orang di antara mereka yang terbunuh” berkata Mahisa Pukat.
Demikianlah, maka dengan pertolongan orang-orang Randumalang, maka ketiga orang yang terbunuh di pertempuran itu pun dikuburkannya. Bagaimanapun juga, akhirnya Ki Buyut mengetahuinya pula. Dengan tergesa-gesa ia menemui Mahisa Agni sebelum Mahisa Agni melanjutkan perjalanan.
“Jangan cemas Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “mereka tidak akan mendendam orang-orang Randumalang. Tetapi tidak ada jeleknya jika Ki Buyut mempersiapkan semua anak-anak muda. Sebanyak-banyaknya. Karena bagaimanapun juga, jumlahpun akan sangat menentukan jika Kabuyutan ini memang harus berhadapan dengan orang-orang liar itu”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Beberapa di antara anak-anak muda Kabuyutannya memang pernah mendapat tuntunan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meskipun serba sedikit. Namun mereka dalam jumlah yang banyak, memang akan berpengaruh pula.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian telah berusaha untuk membangunkan orang-orang yang pingsan itu. Kemudian setelah segalanya selesai, sekali lagi mereka minta diri kepada orang-orang Randumalang untuk meneruskan perjalanan.
Orang-orang Randumalang yang kemudian ditinggalkan oleh Mahisa Agni, Witantra dan dua orang anak Mahendra itu pun telah berusaha bersiap-siap menurut kekuatan yang ada di Randumalang. Namun mereka pun sependapat, bahwa kemungkinan yang tidak diharapkan terjadi itu, kemungkinannya memang sangat kecil.
“Sebagian besar dari perhitungan orang-orang Singasari itu memang tepat” berkata Ki Buyut, “mereka berhasil memancing kawan-kawan dari kedua orang itu untuk mencegat perjalanan mereka. Mudah-mudahan perhitungan mereka yang kemudianpun tepat pula”
Dalam pada itu, ketika dua orang yang tertawan itu menyadari apa yang terjadi, maka yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari menggertakkan gigi mereka. Mereka harus menerima satu kenyataan, bahwa mereka harus menjadi tawanan yang akan dibawa ke Singasari. “Kau masih dapat mengucap sukur” berkata Mahisa Pukat. Kedua orang itu memandanginya dengan heran. Sementara itu Mahisa Pukat melanjutkan, “Kawan-kawanmu telah siap membunuhmu. Jika aku tidak mencegahnya, maka pemimpinmu itulah yang telah siap untuk menghunjamkan pedangnya diperutmu”
“Omong kosong” desis salah seorang dari kedua orang tawanan itu.
Wajah Mahisa Pukat menjadi tegang. Tetapi Mahisa Agnilah yang menyahutnya, “Mungkin kau tidak percaya. Tetapi bukankah cara itulah yang paling baik dilakukan untuk membungkam mulutmu? Apakah kau tidak dapat mengenali tabiat kawan-kawanmu itu? Bahkan seandainya kalian sendiri yang menghadapi keadaan seperti pemimpinmu itu?”
Kedua orang itu tidak menjawab. Namun mereka mulai membayangkan, bahwa hal itu memang dapat terjadi. Agaknya kawan-kawannya menganggap, lebih baik membunuhnya dari pada membiarkan mereka tetap hidup, tetapi berceritera tentang kehidupan mereka di lereng bukit serta tugas-tugas yang harus mereka jalankan”
“Nah” berkata Mahisa Murti , “bersiaplah. Kita akan melanjutkan perjalanan. Singasari memang tidak sangat jauh. Kita akan segera sampai. Dan kau akan segera bercerita tentang lingkunganmu”
Kedua orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi mereka tidak dapat mengatakannya, karena kedua orang anak muda itu nampaknya memang terlalu garang.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti bersama iring iringannya itu pun menjadi semakin jauh dari Kabuyutan Randumalang. Tidak banyak yang mereka percakapan di perjalanan. Sekali-sekali mereka masih juga membayangkan apa yang baru saja terjadi.
Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga membayangkan, apakah yang terjadi jika mereka gagal mempertahankan diri.
“Kami akan menjadi bangkai” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya.
Karena itu, kadang-kadang timbul juga kebenciannya yang mendera dinding jantungnya atas kedua orang tawanan itu.
Tetapi mereka masih selalu menyadari, bahwa kedua pamannya sebagaimana Singasari tentu memerlukan kedua orang itu. Kedua orang itu akan dapat memberikan keterangan serba sedikit tentang rencana orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menebangi hutan terutama yang menghadap daerah Singasari atau daerah yang memberikan hasil pangan bagi Singasari.
“Termasuk orang-orang yang memesan kapak penebang kayu itu” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya
Dalam pada itu, sebenarnyalah orang-orang yang tersisa dari sepuluh orang yang berusaha membebaskan atau membunuh sama sekali kedua kawannya yang tertawan itu menjadi kecemasan. Mereka menyadari, bahwa kedua orang kawannya yang masih tetap menjadi tawanan, karena kegagalan mereka itu, tentu akan dapat berbicara tentang kedudukan mereka.
Karena itu, maka pemimpin kelompok itu pun dengan tergesa-gesa berusaha mengumpulkan kawan-kawan mereka yang lari berpencaran, yang akhirnya semuanya telah menuju ke sarang mereka kembali.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya pemimpin kelompok itu.
“Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya seorang berkumis lebat.
“Tempat ini tentu akan segera diketahui oleh orang-orang Singasari itu” jawab pemimpinnya.
“Belum tentu. Mungkin kedua orang itu dapat bertahan dan tidak membuka rahasia ini” sahut seorang pengikutnya.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar