*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-009-01*
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu mangu. Namun Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Bersiaplah. Aku akan menguji kalian”
Mahisa Murti memandang kesekelilingnya. Mereka, tidak lagi melihat para petani yang ada di sawah mereka.
“Jangan hiraukan mereka” seolah-olah Ki Sarpa Kuning itu mengetahui apa yang sedang terpikirkan oleh Mahisa Murti ”para petani itu akan melarikan diri atau bersembunyi. Mereka tidak akan datang dengan kawan-kawan mereka, meskipun mereka sudah menyiapkan pedang”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Bagaimanapun juga mereka harus melayani orang yang menyebut dirinya Ki Sarpa Kuning itu. Seadainya mereka menghindari sentuhan ilmu, maka kecurigaan orang itu tentu akan semakin meningkat. Tetapi jika dalam sentuhan ilmu orang itu mampu mengenali ilmu Witantra yang pernah bertempur sebelumnya, maka hal itu pun akan menarik perhatiannya juga, bahkan akan dapat menyeretnya, ke dalam satu pertempuran yang sungguh-sungguh. Bahkan mungkin akan dapat menjerumuskan mereka ke dalam pelukan maut.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun segera mempersiapkan diri. Mahisa Pukat telah menyarungkan senjatanya, karena nampaknya Ki Sarpa Kuning tidak mempergunakan senjatanya pula. Namun jika senjata itu adalah ular-ular hitam, maka kedua anak muda itu sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Sesaat kemudian, Ki Sarpa Kuning pun telah bersiap pula. Ketika ia bergeser melingkar, maka Mahisa Murti pun telah mendekati Mahisa Pukat sambil berkata, “Sejauh mungkin kita hindari ciri-ciri khusus perguruan kita yang murni. Kita akan memperlihatkan justru ilmu yang kita dapatkan dari paman Mahisa Agni dalam hal-hal tertentu. Bahkan tata gerak yang agak jelas dari perguruan paman Mahisa Agni. Ki Sarpa Kuning baru sekali bertempur melawan paman Witantra, sehingga ia tidak akan dapat mengenalinya dengan teliti. Hanya ciri-ciri khususnya sajalah yang akan diingatnya”
Sementara itu. Ki Sarpa Kuning pun tertegun. Katanya “Apakah kalian masih akan berbincang dahulu?”
“Tidak” jawab Magisa Murti, “kami sudah siap” Ki Sarpa Kuning pun kemudian itu pun bergeser mendekat. Dengan tangannya ia mulai memancing serangan. Sementara Mahisa Murti duu Mahisa Pukat telah bersiap-siap dengan ciri-ciri khusus yang pernah dipelajarinya dari Mahisa Agni. Meskipun dalam pertempuran yang sebenarnya, ilmu yang diturunkan oleh Mahisa Agni dan Witantra akan dapat luluh dengan ilmu yang diterimanya dari Mahisa Agni, namun dalam keadaan yang khusus Itu mereka berusaha untuk lebih memasang unsur-unsur dari ilmu yang mereka terima dari Mahisa Agni.
Sejenak kemudian Ki Sarpa Kuning pun mulai menyerang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah benar-benar bersiap. Namun mereka pun menyadari, bahwa Ki Sarpa Kuning itu tentu hanya akan sekedar menjajagi. Ia tidak akan bersungguh-sungguh.
Meskipun demikian, jika pada suatu saat, Ki Sarpa Kuning itu akan bersungguh-sungguh, maka kedua anak muda itu pun tidak akan ingkar akan sikap mereka sebagai seorang laki-laki
Demikianlah, maka Ki Sarpa Kuning pun telah terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang anak muda itu.
Dalam beberapa hal Ki Sarpa Kuning ternyata dapat dikelabui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan ciri-ciri yang tidak terdapat dalam ilmu yang mereka dapatkan dari Mahendra yang bersumber sama dengan Witantra.
“Ilmu anak-anak ini berbeda sekali dengan ilmu orang yang menyerangku malam itu, pada saat aku membunuh kedua orang muridku” berkata Ki Sarpa Kuning di dalam hatinya. Kemudian Tetapi aku seolah-olah melihat dua orang di antara prajurit Singasari itu sebagai anak anak muda ini”
Sejenak kemudian Ki Sarpa Kuning telah meningkatkan ilmunya meskipun masih juga terasa, bahwa ia tidak bersungguh-sungguh. Justru karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga sempat memperhitungkan tata geraknya, agar lawannya sama sekali tidak mengenali mereka dalam hubungannya dengan Witantra.
Karena itu, maka sejenak kemudian, Ki Sarpa Kuning itu pun telah meloncat menjauh sambil berkata, “Kalian memang tidak mempunyai hubungan perguruan dengan orang itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak memburunya. Mereka sadar, bahwa Ki Sarpa Kuning telah mendapatkan satu kesimpulan. Karena itu, maka mereka pun merasa seolah-olah mereka telah terbebas dari satu beban yang cukup berat. Meskipun seandainya keduanya terpaksa harus benar-benar-bertempur melawan Ki Sarpa Kuning, keduanya tidak akan ingkar.
“Kalian memang tidak mempunyai hubungan ilmu dengan orang yang telah bertempur melawanku malam itu” berkata Ki Sarpa Kuning, “tetapi apakah itu berarti bahwa kalian bukan dua orang muda yang ada diantara empat orang Singasari itu.
“Aku tidak mengerti tentang empat orang Singasari” jawab Mahisa Murti yang menyadari, bahwa saat seseorang yang berujud sebagaimana seorang petani berada di pematang mengamati perjalanan mereka kembali ke Singasari, sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra berusaha untuk membayanginya sehingga seorang yang berdiri di pematang itu tidak dapat melihat keduanya dengan jelas.
Ki Sarpa Kuning yang telah berhenti bertempur, berdiri tegak sambil mengamati kedua orang anak muda itu berganti-ganti.
Namun dalam pada itu,, tiba-tiba saja mereka terkejut. Sekali lagi, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pepohonan perdu sambil tertawa tertahan.
“Bagus sekali” berkata orang itu, “Ki Sarpa Kuning. Kau sudah berhasil menakuti anak-anak. Semula dua orang anak-anak Gemulung, kemudian dua orang pengembara yang memiliki ilmu yang tinggi itu”
“Ajar Gemulung” geram Ki Sarpa Kuning, “kedua muridmu telah melaporkannya kepadamu apa yang telah terjadi?”
Tidak. Aku sengaja tidak menemui mereka yang merasa lebih baik menyingkir daripada berselisih dengan hantu ular seperti kau ini” jawab orang yang disebut Ajar Gemulung, “tetapi aku memang sudah mengawasimu sejak lama. Jika kau berbuat sesuatu atas muridku, dan kedua muridku itu tidak mampu mempertahankan dirinya, maka aku terpaksa harus campur tangan. Meskipun demikian, terasa betapa kau merendahkan perguruan Gemulung meskipun aku yakin, bahwa perguruanku tidak akan kalah bobotnya dengan perguruanmu”
“Jangan membual Ajar Gemulung” jawab Ki Sarpa Kuning tetapi sebenarnyalah bahwa aku tidak ingin berselisih dengan perguruan Gemulung Jika aku mengusir murid-muridmu, karena mereka telah melakukan satu langkah yang tercela. Mereka akan merampas uang kedua orang anak muda itu”
“Luar biasa. Sejak kapan kau menjadi seorang pelindung? Apakah kau tidak tahu, atau sengaja menutup mata dan telingamu tentang apa saja yang dilakukan oleh anak-anak muridmu” sahut Ajar Gemulung, “bagiku, apa yang mereka lakukan, biarlah mereka lakukan. Tetapi jika mereka mati dalam kerja yang mereka lakukan atas kehendak mereka sendiri itu mengalami kesulitan, itu sama sekali tidak menjadi tanggung jawabku. Tetapi bagaimana dengan kau dan anak-anak muridmu?”
“Kami bukan perampok dan bukan penyamun” jawab Ki Sarpa Kuning, “kami bekerja untuk satu tujuan yang penting bagi kelangsungan hidup kekuasaan diatas Tanah ini”
“O” Ajar Gemulung itu tertawa, “demikian tinggi gegayuhanmu. Tetapi apakah itu bukan sekedar lelucon?”
“Ajar gila” berkata Ki Sarpa Kuning, “aku justru ingin mengajukan untuk bekerja bersama, sehingga murid muridmu tidak perlu lagi menyamun atau merampok untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka”
“Sebetulnya hal itu tidak perlu kami lakukan selain sebagai satu kesenangan saja” jawab Ajar Gemulung, “di perguruan kami, semuanya serba ada. Tanpa harus mencari lagi kemana?”
“Jangan membuta” jawab Ki Sarpa Kuning kita akan berbicara cukup panjang. Tetapi bagaimana dengan kedua anak ini”
“Terserah kepadamu” jawab Ajar Gemulung, “bukankah kau yang memerlukannya.
“Lalu apa maksudmu yang sebenarnya?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
“Tidak apa-apa. Aku hanya mengawasi keadaan muridku. Jika mereka mengalami kesulitan bukankah menjadi kewajibanku untuk melindunginya. Tetapi agaknya kau masih menyadari kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasmu, jika kau benar-benar mengganggu anak-anak muridku itu” jawab Ajar Gemulung, “tetapi aku sengaja tidak menemui mereka, agar mereka tidak terbiasa merasa diawasi dan dilindungi”
“Jangan berbicara seperti dengan kanak-kanak” berkata Ki Sarpa Kuning, “aku tahu, muridmu tidak hanya dua orang itu. Sementara aku hanya mengenali kedua orang muridmu itu dari ilmu yang kau turunkan. Apakah dengan demikian berarti, bahwa kau akan mampu mengamati semua muridmu dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda-beda?” Mungkin sekarang muridmu yang lain mengalami kesulitan di tempat lain atau bahkan mungkin muridmu ada yang terbunuh sekarang ini, sementara kau hanya mengigau saja di sini”
Orang yang disebut Ajar Gemulung itu tertawa. Katanya, “Aku hanya mengamati muridku yang paling lemah. Kedua orang muridku yang berkelahi dengan dua orang anak muda ini adalah murid-muridku yang paling lemah dan tidak akan berdaya untuk melindungi dirinya, seandainya mereka bertemu dengan kau”
“Aku tidak akan merendahkan diriku, mengganggu murid-muridmu yang paling dungu itu” jawab Ki Sarpa Kuning, “tetapi, apakah kau mempunyai maksud tertentu dengan kedua anak muda yang akan mengalahkan muridmu itu?”
Ajar Gemulung memandangi kedua anak muda yang termangu mangu itu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak mempunyai kepentingan dengan mereka. Aku tidak merasa tersinggung bahwa kedua orang muridku yang paling dungu itu hampir dikalahkannya. Untunglah bahwa kau datang dan melerai perkelahian itu sehingga kedua muridku itu tidak benar-benar mengalami kekalahan”
“Baiklah” berkata Ki Sarpa Kuning. Lalu katanya, “Aku sebenarnya ingin menawarkan satu kesempatan kepada kedua orang anak muda itu”
“Kesempatan apa?” bertanya Ajar Gemulung. “Kesempatan untuk menjadi-muridku. Keduanya memiliki bekal yang cukup mantap, sehingga keduanya pantas untuk menjadi muridku” berkata Ki Sarpa Kuning. Ajar Gemulung tertawa. Lalu katanya, “Kau memang cerdik. Kau ambil orang yang sudah memiliki ilmu yang mapan. Kemudian kau ajari mereka menyebut nama perguruanmu. Selebihnya kau akui orang itu sebagai muridmu. Itulah sebabnya kau mudah sekali menghukum murid-muridmu yang tidak berbuat tepat seperti yang kau kehendaki. Bahkan kau dengan tanpa berpikir panjang telah menjatuhkan hukuman mati kepada murid-muridmu”
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kau jangan mengigau dihadapanku. Ingat. Aku adalah Ki Sarpa Kuning yang dapat bertindak tegas terhadap siapapun yang menyinggung perasaannya Termasuk kau”
Tetapi Ajar Gemulung tetap saja tertawa Katanya, “Tetapi siapa pun kau, kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku. Namun demikian, baiklah Aku tidak ingin berselisih sekarang ini. Aku hanya mengamati murid muridku yang paling bodoh itu. Mereka nampaknya sudah selamat dari tanganmu. Terima kasih”
“Sudah aku katakan. Aku memang tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu, maka kau pun akan aku lepaskan pergi kemana kau kehendaki” jawab Ki Sarpa Kuning
“Kau jangan terlalu sombong karena ular-ular hitammu itu. Sekarang aku memang akan pergi setelah yakin bahwa kau tidak mengganggu mereka. Aku mempunyai sedikit perbedaan dengan kau. Tetapi mendasar. Muridku adalah anak-anakku. Sementara kau, murid adalah alat yang dapat kau pergunakan untuk apa saja. Jika kau memberikan sebagian ilmumu kepada murid-muridmu, sama sekali bukan karena kau ingin membuat mereka menjadi orang yang berbekal ilmu, tetapi semata-mata untuk memenuhi keperluan. Bahkan tanpa ragu-ragu kau korbankan mereka untuk kepentinganmu. Dan sekarang, kau akan mengambil kedua orang anak muda ini sebagai muridmu”
“Sekali lagi aku memperingatkatimu Ajar gila. Jangan kau biarkan mulutmu mengigau dihadapanku, agar kau tidak menyesal. Sebaiknya kau segera pergi saja sebelum darahku naik ke kepala Tetapi aku ingin memperingatkan sekali-lagi Kita dapat bekerja bersama untuk satu kepentingan yang besar bukan sekedar merampok sekampil uang di tengah-tengah bulak panjang” berkata Ki Sarpa Kuning.
Ajar Gemulung itu tertawa pula. Katanya, “Jangan mengumpat-umpat. Aku akan memikirkan tawaranku itu. Tetapi aku tidak akan menjawab sekarang”
“Terserah” jawab Ki Sarpa Kuning” kau dapat menjawab kapan saja jika kau sudah mengambil satu keputusan”
Ajar Gemulung tidak menjawab. Dipandanginya kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Lalu katanya, “Pikirkan masak-masak sebelum kau menerima tawarannya untuk menjadi muridnya. Mungkin kau akan dijadikan tumbal tingkah lakunya yang sama sekali tidak berpijak pada penalaran yang wajar. Bahkan mungkin kau akan dijadikan alat untuk membuat ular-ularnya lebih berbisa. Mungkin darahmu akan diambilnya, atau mungkin otak di kepalamu atau sungsum di tulang belakangmu”
“Cukup” teriak Ki Sarpa Kuning, “kau benar-benar menantangku”
“Jangan berteriak teriak” jawab Ajar Gemulung, “lakukan apa yang akan kau lakukan. Aku sudah siap”
Ki Sarpa Kuning menggeretakkan giginya. Namun ternyata Ajar Gemulung itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu sambil bergumam, “Anak-anak itu tentu tidak hanya berdua saja. Seperti anak-anak harimau, maka induknya tentu berkeliaran di sekitar tempat ini dan akan hadir di setiap saat yang diperlukan”
Ki Sarpa Kuning tidak menjawab. Diamatinya saja Ajar Gemulung yang kemudian beringsut meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Ajar Gemulung, Ki Sarpa Kuning mengamati kedua anak muda itu dengan lebih tajam lagi. Namun kemudian katanya ”Kau sudah mendengar. Apakah kau bersedia berada di lingkungan padepokanku?” Mungkin ilmumu akan berkembang lebih baik. Kau akan dapat mempelajari ilmu yang belum pernah kau sentuh sampai saat ini. Dengan demikian, maka kau akan menjadi semakin cepat meningkat menjadi dua orang anak muda yang mumpuni”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Tetapi tawaran itu memang sangat menarik. Bukan karena keduanya ingin mendapatkan ilmu dari orang yang terbiasa bermain-main dengan bisa dan racun itu. Tetapi dengan demikian, mereka akan dapat lebih banyak mengetahui tentang rencana Ki Sarpa Kuning untuk melaksanakan niatnya. Menebas hutan di lembah-lembah dan lereng pegunungan.
Namun sekilas diingatnya pula, sekelompok orang yang berhubungan dengan saudara sepupu Ki Buyut dalam memperebutkan kedudukan dengan menantu Ki Buyut yang lemah hati itu.
Dalam pada itu, karena kedua anak muda itu tidak segera menjawab, maka Ki Sarpa Kuning pun berkata, “Kau dapat berpikir sebaik-baiknya dan membicarakannya. Aku tidak tergesa-gesa”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Sementara itu, Ki Sarpa Kuning pun berkata, “Aku akan menunggu di bawah pohon preh yang nampak dari tempat ini. Di sana ada sebuah belik yang besar dan berair jernih. Jika kalian sudah mengambil satu keputusan, kalian dapat datang ke belik itu dan mengatakannya kepadaku. Aku tidak memaksamu Kalian dapat menerima tetapi juga dapat menolak”
Mahisa Murtilah yang menjawab, “Baiklah. Aku akan datang dan memberikan jawaban”
Ki Sarpa Kuning itu mengangguk angguk Katanya, “Aku telah kehilangan dua orang murid. Aku harus mengorbankannya untuk satu tujuan yang jauh lebih berharga dari kedua orang muridku itu. Jika kalian bersedia, maka kalian akan menggantikan kedudukan kedua muridku itu”
“Juga untuk mengalami akir yang pahit?” tiba-tiba saja Mahisa Pukat bertanya.
Ki Sarpa Kuning memandanginya dengan tajam. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Tidak harus demikian anak muda Hanya mereka yang tidak tahu diri sajalah yang harus dihukum. Kedua muridku itu telah melakukan satu kesalahan yang sulit untuk dimaafkan. Mereka telah mengganggu gadis-gadis padukuhan yang sedang mencuci di sungai. Justru karena itu, keduanya telah ditangkap. Beberapa orang kawannya, yang kebetulan bukan seperguruan dengan murid-muridku itu telah mencoba membebaskan mereka, tetapi tidak berhasil”
Mahisa Murti lah yang kemudian menjawab Baiklah. Aku ulangi lagi, bahwa aku akan memberikan jawaban setelah aku sempat merenungi tawaranmu dan membicarakannya berdua”
“Aku menunggu. Mudah mudahan kalian bercita-cita tinggi seperti kami” berkata Ki Sarpa Kuning sambil meninggalkan kedua anak muda itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Dibiarkannya Ki Sarpa Kuning melangkah menyusuri pematang menuju ke sebatang pohon preh yang nampak di tengah-tengah bulak yang luas itu.
Baru ketika Ki Sarpa Kuning menjadi semakin jauh, kedua anak muda itu bergeser. Sambil menarik nafas dalam-dalam Mahisa Murti berkata, “Satu kesempatan yang pantas direnungkan”
“Kau berpikir, dengan menjadi muridnya, kita akan dapat melihat lebih jauh. apa yang telah mereka lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Mungkin kita akan dapat menemukan satu hal yang berarti bagi Singasari dari petualangan ini, meskipun aku tahu, bahwa persoalannya tidak terlalu sederhana” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi masih membayang keragu-raguan pada sorot matanya. Dengan ragu ia bertanya, “padepokan itu? Ki Sarpa Kuning tentu menyadari, bahwa kita memiliki ikatan dengan satu perguruan lain yang telah membekali kita dengan ilmu yang kita miliki sekarang. Justru karena itu, maka orang itu pun tentu berpikir masak-masak untuk menerima kita ke dalam lingkungannnya. Bahkan mungkin satu muslihat yang tidak kita ketahui sebelumnya”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Ia pun mempunyai pertimbangan yang demikian pula. Namun ia pun melihat satu kemungkinan lain.
“Apakah kita dapat menempatkan diri kita di antara murid-muridnya?” bertanya Mahisa Murti.
“Sulit untuk mengerti watak dan sifat Sarpa Kuning, ia mencegah kedua murid Gemulung itu merampas uang kita. Sementara itu, Ki Sarpa Kuning juga menganggap kedua orang muridnya yang mengganggu gadis-gadis itu sebagai satu sikap yang pantas dihukum” berkata Mahisa Pukat.
“Tetapi yang terpenting alasan Ki Sarpa Kuning menghukum mati kedua muridnya, adalah untuk menyembunyikan rahasia padepokannya” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun keragu-raguan masih membayang di wajah anak muda itu.
Dalam pada itu, selagi kedua anak muda itu masih belum dapat memecahkan persoalan yang mereka hadapi, tiba-tiba seorang petani dengan cangkul di pundaknya telah meloncati parit dan melangkah mendekatinya. Wajahnya yang cerah membayangkan kecerahan hatinya pula, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mencurigainya bahwa ia akan melakukan sesuatu yang tidak baik. Apalagi menilik ujudnya, orang itu adalah kebanyakan petani yang bekerja di sawahnya di siang hari.
Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Namun petani yang mendekati keduanya itu tertawa sambil berkata, “Kalian tidak apa-apa?” Aku melihat kalian berkelahi. Kemudian datang orang-orang yang melerai kalian”
“Tidak Ki Sanak” jawab Mahisa Murti.
“Sukurlah” berkata petani itu sambil meletakkan cangkulnya sambil membenahi bajunya, “aku menjadi cemas melihat keadaan kalian. Tetapi kami, petani-petani yang bodoh, sama sekali tidak berani mendekati kalian. Baru setelah kalian tinggal berdua, aku memberanikan diri untuk datang kemari”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun merasa heran, bahwa tiba-tiba saja mereka melihat petani itu meloncati parit beberapa langkah saja dari mereka tanpa melihatnya sebelumnya.
“Kami tidak memperhatikan keadaan di sekeliling kami” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya
Dalam pada itu. maka petani itu pun kemudian duduk di rerumputan di pinggir jalan bulak panjang yang sepi itu sambil berkata, “Duduklah. Marilah kita berbicara serba sedikit”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpadangan. Mereka akan membicarakan tawaran Ki Sarpa Kuning yang masih menunggu mereka di bawah pohon preh. Tetapi keduanya tidak dapat menolak petani yang ingin berbicara itu, agar tidak menumbuhkan kecurigaan apa pun juga.
“Tetapi jika Ki Sarpa Kuning marah kepada petani itu, ia akan mengalami nasib yang buruk” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya.
Namun demikian, kedua anak muda itu pun kemudian duduk pula di sebelah petani itu. Meskipun demikian Mahisa Murti pun berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu Ki Sanak. Aku harus melanjutkan perjalananku”
“Jangan tergesa-gesa” jawab petani itu, “aku tahu, Ki Sarpa Kuning menunggumu di bawah pohon preh itu. Tetapi ia tidak akan segera pergi”
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Siapa sebenarnya Ki Sanak?”
“Sebagaimana kau lihat, aku adalah seorang petani yang kebetulan melihat segala peristiwa yang terjadi. Karena aku tidak berani berbuat apa-apa, maka aku bersembunyi di balik pematang itu” jawab petani itu.
“Tetapi, pakaianmu tidak terlalu kotor sebagaimana jika kau merunduk di belakang pematang itu” desis Mahisa Pukat.
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum sambil berkata, “Kau terlalu teliti mengamati seseorang. Baiklah. Kita akan berbicara dengan terbuka. Mungkin akan lebih bermanfaat bagimu”
“Aku sudah mengira” berkata Mahisa Murti, “tetapi berkatalah. Apakah kau akan memberikan satu pendapat tentang Ki Sarpa Kuning”
“Ya” jawab orang itu ”tetapi biarlah aku memperkenalkan diri agar kau dapat mempercayai kata-kataku”
“Siapa kau?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu menunjukkan satu jari tangannya yang mengenakan sebuah cincin. Cincin dengan mata batu akik yang mirip sekali dengan batu akik yang ada pada cincinnya. Akik Jamur Gunung.
“Kau kenal akik serupa itu?” bertanya petani itu. Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sekilas. Namun kemudian ia pun menunjukkan cincinnya pula sambil berkata, “Akik itu mirip dengan akik ini”
“Bukan hanya mirip” jawab petani itu, “tetapi akik ini adalah belahan akik yang kau pakai. Akik Jamur Gunung. Akik yang dapat menjadi menawar bisa yang paling tajam sekalipun”
“Darimana kau dapatkan akik itu?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu tersenyum. Katanya, “Darimana pula kau dapatkan akik itu?”
“Ayah” jawab Mahisa Murti.
“Darimana ayahmu mendapatkannya?”orang itu bertanya pula.
“Dari seorang sahabatnya” jawab Mahisa Murti. “Darimana sahabat ayahmu itu mendapatkan cincin dan batu akik itu?” desak petani itu.
“Aku tidak tahu. Ayah tidak pernah menceriterakannya” jawab Mahisa Murti.
“Baiklah. Mungkin akan berarti bagimu. Akik itu memang belahan akik yang aku pakai ini. Semula seorang tua yang lebih banyak mengasingkan dirinya, mendapatkan sebongkah batu yang aneh. Yang ternyata memiliki kemampuan untuk menawarkan segala macam bisa. Sementara itu, orang tua itu mempunyai dua orang murid. Karena itu, maka batu itu pun telah dibelah. Satu diberikan kepada sahabat ayahmu itu, dan satu kepadaku. Kami adalah saudara seperguruan. Tetapi sahabat ayahmu itu tidak mempunyai sanak keluarga yang akan mewarisi akik yang memiliki arti yang sangat besar itu. Menurut pendapatnya, tidak ada orang lain yang lebih baik dari ayahmu untuk memilikinya. Ternyata bahwa akik itu benar-benar diberikan kepadanya, sebagaimana dikatakannya kepadaku” bertanya orang itu lebih lanjut Lalu, “Karena itu, maka meskipun tidak langsung kita mempunyai hubungan”
Mahisa Murti mengangguk angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas penjelasan itu. Selanjutnya, apa yang dapat kita lakukan kemudian”
“Anak muda” berkata orang itu, “masih ada kelanjutan ceriteranya. Kita yang semula seperguruan, akhirnya terpaksa berpisah. Ketika guru meninggal, maka kami telah mengambil jalan kami masing-masing. Sahabat ayahmu memilih satu kehidupan yang tenang dan wajar, sementara itu, aku pergi mengembara. Memang ada bedanya. Sahabat ayahmu itu hidup dalam satu lingkungan masarakat biasa. Sedang aku, untuk waktu yang lama terombang-ambing dalam satu keadaan yang tidak menentu. Namun akhirnya aku pun berhasil melontarkan diriku dari arus petualangan dan memasuki kehidupan masyarakat biasa. Namun pada saat terakhir, aku tahu, bahwa cincin Jamur Gunung itu telah berada di tanganmu karena kalian akan memasuki satu pengembaraan yang membawa satu niat tertentu”
“Darimana kau tahu?” bertanya Mahisa Murti.
“Ayahmu telah menyampaikannya kepada sahabat ayahmu itu” jawab orang itu, “Adalah kebetulan, bahwa aku telah berjumpa dengan ayahmu di tempat saudara seperguruanku itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, dengan nada dalam Mahisa Murti bertanya, “Jadi orang itu masih hidup?”
Petani itu tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Orang itu masih hidup. Aku masih sering berkunjung kepadanya, sebagaimana dilakukan oleh ayahmu”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Orang dalam pakaian petani itu mengetahui banyak hal tentang dirinya, sehingga karena itu, maka kedua orang anak muda itu tidak akan dapat ingkar lagi tentang diri mereka.
“Anak muda” berkata orang itu, “ceritera ayahmu tentang pengembaraanmu, sangat menarik hatiku. Namun juga menimbulkan kecemasan. Karena itu, maka aku berusaha untuk dapat mengikuti jejakmu”
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu Mahisa Pukat lah yang bertanya lebih dahulu, “Bagaimana kau dapat mengikuti kami. Kau nampaknya tinggal di tempat ini dan mengerjakan sawahmu di bulak ini. Padahal, pada suatu saat kami tentu akan meninggalkan tempat ini”
Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku sama sekali tidak sedang menggarap sawah. Aku memang membawa cangkul dan berpakaian seperti petani kebanyakan. Tetapi aku bukan orang padukuhan ini”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, ia mengerti maksud orang itu. Karena itu, maka katanya, “Jika demikian, maka kau berada di tempat ini sejak kami berkelahi?”
“Ya” jawab orang itu.
“Bukankah saat itu ada di sini pula Ki Sarpa Kuning dan orang yang disebut dengan Ajar Gemulung?” bertanya Mahisa Pukat pula.
“Ya” jawab orang itu.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam dalam. Tetapi dengan demikian, anak-anak muda itu dapat menilai, bahwa orang dalam pakaian petani itu bukan pula orang kebanyakan. Ia hadir bersama Ki Sarpa Kuning dan Ajar Gemulung. Agaknya orang itu pun memiliki kemampuan yang seimbang dengan Kedua orang itu. Apalagi dengan cincin bermata batu akik Jamur Gunung yang memiliki kemampuan menawarkan bisa. Sehingga dengan demikian maka ular-ular hitam Ki Sarpa Kuning tidak akan banyak berpengaruh atasnya.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti lah yang bertanya, “Ki Sanak. Apakah kami boleh mengetahui nama Ki Sanak”
Orang itu tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Pada suatu saat ayahmu pun akan menyebutnya. Namaku sebagaimana ayahmu memanggilku adalah Waruju. Ki Waruju”
“Terima kasih Ki Waruju. Dengan demikian, aku tidak lagi kebingungan untuk menyebutnya” desis Mahisa Pukat kemudian.
Sementara itu, maka Ki Waruju pun berkata, “Sudahlah. Kau sudah mengenal aku. Karena itu, sekarang lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi hati-hatilah. Kau akan memasuki satu lingkungan yang gawat. Ki Sarpa Kuning akan tetap mencurigai kalian sebagai dua orang anak muda yang bersama sama dengan prajurit Singasari yang menangkap dua orang muridnya”
“Ayah menceriterakannya juga?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Dan ternyata perhitungan ayahmu benar. Ki Sarpa Kuning berusaha untuk menemukan dua orang anak muda itu” jawab Ki Waruju, “untunglah bahwa kalian dengan cerdik telah berusaha untuk mengaburkan unsur-unsur ilmumu yang kau sadap dari ayahmu, karena Witantra bersumber dari orang yang sama dengan ilmu ayahmu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia semakin yakin akan orang yang sedang dihadapinya. Karena itu maka katanya, “Jika demikian, bagaimana pendapat Ki Waruju, apakah kami sebaiknya memasuki padepokan Ki Sarpa Kuning atau tidak”
“Memang satu kesempatan bagimu” berkata Ki Waruju, “tetapi seperti yang aku pesankan. Hati-hatilah. Kau akan memasuki sebuah sarang serigala”
“Apakah Ki Waruju sependapat?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mungkin akan dapat berarti bagi Mahisa Agni dan Witantra yang bekerja untuk kepentingan Singasari” jawab Ki Waruju, “Jika bulat niat kalian, lakukanlah. Aku akan selalu berusaha untuk membayangi kalian. Kalian dapat memberikan isyarat-isyarat tertentu kepadaku. Mudah-mudahan kau akan dapat berhasil”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata orang yang bersama Ki Waruju itu telah mendorong mereka untuk memasuki padepokan Ki Sarpa Kuning, karena dengan demikian, ada kemungkinan bagi mereka untuk mengetahui rencana orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan Singasari melalui jalan panjang, namun hasilnya pada suatu saat akan meyakinkan.
“Baiklah Ki Waruju” berkata Mahisa Murti kemudian, “kami mohon restu. Mudah-mudahan kami dapat keluar dari padepokan itu dengan selamat”
“Akik Jamur Gunung dan gelang Kayu Bule itu akan sangat bermanfaat. Jagalah, agar benda-benda itu tidak terpisah dari tubuhmu, kapan pun juga” berkata Ki Waruju. Lalu, “Nah, sekarang pergilah kepada Ki Sarpa Kuning yang menunggumu. Katakan bahwa kau berbicara dengan seorang petani yang ketakutan melihat perkelahian itu. Tetapi setelah perkelahian selesai, maka pelani itu berusaha untuk mendekat kalian dan berbicara serba sedikit. Karena kedatanganmu yang berjarak waktu tentu akan menimbulkan pertanyaan padanya”
“Baiklah Ki Waruju” jawab Mahisa Murti, “kami berdua mohon diri. Sejauh mungkin kami akan selalu berusaha untuk berhubungan dengan Ki Waruju”
Petani yang bernama Ki Waruju itu pun kemudian bangkit sambil bergumam, “Kita akan berpisah. Usahakan pada waktu-waktu tertentu memisahkan diri dari orang-orang padepokan itu. Mungkin aku akan mendapat kesempatan untuk menemui kalian.”
“Terima kasih. Kami mohon doa Ki Waruju, agar kami dapat melakukan tugas ini dengan selamat, sehingga akan bermanfaat bagi banyak orang dan bagi Singasari” berkata Mahisa Murti.
Ki Waruju itu pun kemudian meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu kedua orang anak muda itu pun telah bersiap-siap untuk datang kepada Ki Sarpa Kuning yang menunggu mereka di bawah pohon preh, di tengah-tengah bulak yang luas itu.
Namun bagaimana pun juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa betapa jantungnya berdetak semakin cepat. Yang mereka lakukan adalah langkah-langkah yang sangat berbahaya. Namun yang akan mungkin menyingkap satu tabir tentang usaha membuat lembah dan lereng pegunungan menjadi gundul, sehingga kehidupan di sekitarnya akan terancam karenanya.
Namun bagaimanapun juga, keduanya sudah menentukan sikap, bahwa mereka akan memasuki satu padepokan yang dipimpin oleh Ki Sarpa Kuning.
Ketika kedua anak muda itu sampai di bawah pohon preh yang tumbuh di dekat sebuah mata air yang cukup besar, mereka melihat Ki Sarpa Kuning duduk bersandar sebongkah batu yang besar.
“Aku hampir tertidur” berkata Ki Sarpa Kuning, “nah, apakah kalian sudah mengambil satu keputusan? Aku kira kalian menjadi ketakutan, justru melarikan diri”
“Tidak Ki Sarpa Kuning” berkata Mahisa Murti, “kami sedang berbincang ketika seorang petani yang ketakutan berusaha untuk mendekati kami dan menanyakan apa yang telah terjadi, “
“Seorang petani?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
“Salah seorang dari para petani yang bekerja di sawah itu” jawab Mahisa Murti, “setelah tidak ada lagi untuk hiruk pikuk, maka ia mencoba mendekati kami dan menanyakan apa yang telah terjadi”
“Dan kau berceritera tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi?” bertanya Ki Sarpa Kuning. “Sebagian. Tentang orang-orang Gemulung yang akan merampas milikku yang tidak seberapa” jawab Mahisa Murti.
“Duduklah” Ki Sarpa Kuning mempersilahkan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk beberapa langkah di hadapan Ki Sarpa Kuning.
“Kalian sudah ambil keputusan?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan beberapa saat. Baru kemudian Mahisa Murti berkata, “Tetapi apakah dengan memasuki padepokan Ki Sarpa Kuning, kebehasanku akan dirampas sehagaimana dua orang murid Ki Sarpa Kuning yang terbunuh itu?”
Terdengar Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya, “Tentu tidak anak muda. Kedua orang muridku itu pun tidak akan mengalami perlakuan yang demikian, jika mereka tidak melanggar paugeran padepokan” Ki Sarpa Kuning berhenti sejenak. Lalu dengan tiba-tiba ia bertanya, “Kebebasan apa yang kau maksud? Tentu kebebasan itu ada batasnya. Kau tentu saja tidak akan dapat melanggar paugeran padepokan seperti dua orang muridku yang terbunuh itu. Mereka telah berusaha merampas dua orang gadis dari sebuah padukuhan. Itu adalah kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Apalagi kemudian keduanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang mengaku prajurit Singasari. Apakah dengan demikian bukan berarti satu bencana buat padepokan kami? Juga buat kawan-kawan kami yang bekerja bersama kami untuk satu tujuan yang mulia bagi Kediri? Nah, atas kesalahan itulah maka kedua orang itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali dihukum mati. Dan aku sendirilah yang melaksanakan hukuman itu, setelah kawan-kawannya gagal melakukannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka tidak mempunyai bayangan yang pasti tentang padepokan yang dipimpin oleh Ki Sarpa Kuning. Seorang yang memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang racun dan bisa.
“Tetapi,” bertanya Mahisa Pukat kemudian, “apakah berarti pula bahwa kami tidak akan boleh keluar dari padepokan? Maksudku, untuk meneruskan pengembaraan kami jika saatnya kami anggap sudah tiba?”
“Tentu. Kami tidak akan berkeberatan setelah ilmu kalian kami anggap mapan. Setelah kalian memiliki ilmu dasar bagi padepokan kami. Sebagaimana orang-orang terpenting di padepokan kami, kami tidak pernah mengikat mereka untuk tetap berada di padepokan. Satu dua di antara mereka telah memencar dan melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Namun sudah tentu, bagi mereka, segala tingkah laku harus mereka pertanggung jawabkan sendiri. Tidak lagi menjadi tanggung jawab padepokan kami”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun demikian mereka tidak dapat memegang teguh semua perkataan Ki Sarpa Kuning. Sehingga apabila pada suatu saat mereka mengalami perlakuan yang lain, mereka harus sudah mempersiapkan diri sehaik baiknya menghadapi kemungkinan itu.
“Sekarang, katakan. Apakah kalian bersedia tinggal bersama kami?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
“Kami masih tetap ragu-ragu” jawab Mahisa Murti, “bagaimana jika kami tidak bersedia?”
“O, sudah tentu aku tidak dapat memaksa anak muda. Kalian adalah orang-orang yang bebas menentukan sikap. Kalian masih belum dibatasi oleh paugeran padepokan kami sehingga kalian masih belum terikat sama sekali” berkata Ki Sarpa Kuning, “selanjutnya jika kalian akan meneruskan pengembaraan kalian, aku titip salam kepada orang-orang yang kau temui di perjalanan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru menjadi termangu-mangu. Agaknya Ki Sarpa Kuning benar-benar tidak ingin memaksakan satu sikap kepada keduanya. Namun justru karena itu. niat mereka untuk berada di padepokan yang dipimpin oleh Ki Sarpa Kuning itu menjadi semakin besar.
Karena itu, maka sejenak kemudian, setelah berpikir kembali tentang rencana mereka, maka Mahisa Murti pun berkata, “Ki Sarpa Kuning. Meskipun ada keragu-raguan, tetapi tawaran dan sikap Ki Sarpa Kuning telah menarik keinginan kami justru menjadi semakin besar untuk mencoba berada di dalam lingkungan padepokan yang Ki Sarpa Kuning pimpin itu. Meskipun demikian, kami masih ingin bertanya lagi, apakah setiap saat yang kami inginkan, kami dapat meninggalkan padepokan itu, meskipun kami masih belum memiliki kemampuan dasar yang disyaratkan sebagaimana Ki Sarpa Kuning katakan.
“Pintu padepokan selalu terbuka anak muda” jawab Ki Sarpa Kuning, “jika ada muridku yang meninggalkan padepokan sebelum mencapai tingkat Kemampuan dasar bagi padepokan kami, maka ia akan menyesal sendiri. Orang yang demikian tentu belum memiliki bekal yang cukup, sementara itu, orang itu sudah terlepas dari perlindungan dan tanggung jawab padepokan. Dengan demikian, jika mereka mengalami kesulitan, maka orang itu harus mempertanggung-jawabkan keadaannya itu sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa mereka tidak akan dapat begitu saja mempercayai keterangan Ki Sarpa Kuning itu Mungkin yang dikatakannya itu, tidak lebih dari separuh yang dapat dipercayainya.
Namun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah bertekad untuk memasuki padepokan itu. Karena itu. maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sarpa Kuning. Aku tidak berkeberatan untuk berada di dalam padepokanmu. Mungkin aku akan merasa berbahagia sekali menjadi murid padepokan itu, karena dengan demikian aku akan dapat meningkatkan ilmuku. Namun apabila aku berpendirian lain, maka dengan leluasa aku akan dapat meninggalkan padepokanku dan meneruskan pengembaraanku yang tanpa tujuan ini”
“Bagus” desis Ki Sarpa Kuning, “jika kalian memang bersedia, aku akan sangat senang. Kalian akan menjadi pengganti kedua orang muridku yang terpaksa aku singkirkan karena tingkah lakunya. Dengan demikian, maka jumlah muridku akan tetap”
“Tetapi apakah padepokan Ki Sarpa Kuning terletak jauh dari sini?” bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Memang agak jauh” jawab Ki Sarpa Kuning, “tetapi tidak sangat jauh. Kita memang memerlukan bermalam di perjalanan. Namun sebagai pengembara, bukankah kalian telah terbiasa tidur berselimut embun?”
“Ya. Bukan soal lagi bagiku” jawab Mahisa Pukat jadi kapan kita akan berangkat?” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya ketika Ki Sarpa Kuning justru tertawa. Katanya, “Jangan tergesa-gesa. Aku masih mempunyai pekerjaan sedikit di daerah ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu mangu sejenak. Namun mereka pun segera teringat akan keterangan pemilik warung dan kedua orang murid Ajar Gemulung.
“Agaknya Ki Sarpa Kuning benar-benar telah terlibat dalam perebutan kekuasaan di Kabuyutan ini” berkata kedua anak muda itu di dalam hiatinya, “dengan pamrih yang dapat menguntungkan rencana besar yang dibuat oleh beberapa orang Kediri, maka Ki Sarpa Kuning telah berusaha untuk menempatkan orang yang akan berada dibawah pengaruhnya di Kabuyutan itu”
Namun nampaknya hal itu akan sangat berarti bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Pekerjaan apakah yang masih harus diselesaikan di sini?”
“Kalian akan mengetahui pada saatnya. Sebenarnyalah bahwa aku tidak sendiri berada di tempat ini. Ada tiga orang yang menyertaiku. Berempat dengan aku sendiri” jawab Ki Sarpa Kuning.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan Namun mereka tidak dapat memaksa Ki Sarpa Kuning untuk mengatakan rencananya pada saat itu juga. Sehingga dengan demikian, maka mereka pun harus menunggu dengan sabar. Tetapi mereka telah dapat membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning.
Dalam pada itu, maka Ki Sarpa Kuning pun kemudian berkata, “Aku memang menjelajahi daerah Kediri Sampai jarak yang jauh. Aku mengemban satu tugas yang berat. Karena itu, jika kalian memasuki padepokanku, berarti kalian akan ikut memikul beban yang berat itu. Mungkin tidak dengan saudara seperguruan. Tetapi beberapa kawan dari padepokan lain akan hadir bersama kita dalam tugas tertentu, seperti dua orang muridku yang terpaksa aku binasakan sendiri itu, setelah kawan-kawannya, seperti yang aku katakan, bukan seperguruan, gagal menyingkirkannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Sarpa Kuning pun berkata, “Mungkin kalian kelak juga tidak akan terlalu lama berada di padepokan. Kalian akan mendapat ilmu kalian di sepanjang perjalanan untuk tugas tertentu. Kali ini di Kabuyutan ini. Kita tidak harus mempergunakan sanggar atau ruang khusus untuk berlatih. Kita dapat berlatih di lereng gunung, di hutan atau di lembah-lembah yang curam”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Mereka sadar, bahwa mereka pun akan segera terlibat dalam tugas-tugas yang mendebarkan. Yang pertama akan mereka lakukan adalah campur tangan dalam memperebutkan kekuasaan di Kabuyutan yang tenang itu. Namun yang pada saat terakhir telah diguncang oleh pertentangan di antara mereka setelah mereka kehilangan pemimpin mereka.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai dengan kebimbangan kebimbangan baru. Jika Ki Sarpa Kuning dengan langsung melibatkan diri dalam pertentangan antara mereka yang ingin memimpin Kabuyutan itu, apakah mereka berdua akan dengan sepenuhnya melibatkan diri pula. Apakah pada suatu saat mereka berdua akan berhadapan dengan orang orang Kabuyutan itu, yang nampaknya telah bersiap-siap justru mempersiapkan senjata senjata yang akan mereka pergunakan. Sehingga dengan demikian, maka nampaknya sudah membayang, kekerasan yang akan timbul di Kabuyutan itu.
Tetapi kedua orang anak muda itu masih belum mengambil sikap apa pun juga. Mereka masih mempunyai waktu untuk membicarakan di antara mereka. Bahkan jika perlu mereka akan minta petunjuk dari Ki Waruju.
Karena itu maka mereka pun tidak lagi menanyakan sesuatu. Ketika Ki Sarpa Kuning kemudian diam saja sambil bersandar sebongkah hatu, maka kedua orang anak muda itu pun sama sekali tidak mengusiknya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun duduk pula sambil berdiam diri dibayangan daun preh yang rimbun.
Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Kita akan berada di tempat ini sampai seseorang datang”
“Siapa?” bertanya Mahisa Murti hampir di luar sadarnya. “Salah seorang muridku” jawab Ki Sarpa Kuning, “ia akan memberikan beberapa keterangan tentang Kabuyutan ini. Aku tidak berkeberatan jika kalian mendengarkannya. Kalian boleh sejak hari ini mengikuti beberapa kegiatan yang akan kita lakukan pada waktu yang dekat”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun mereka justru menjadi semakin berhati-hati. Mereka merasa hahwa mereka baru saja memasuki lingkungan Ki Sarpa Kuning yang bagi keduanya merupakan suatu rahasia yang masih tertutup. Namun mereka telah mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan tertentu yang penting. Sehingga justru karena itu, maka mereka pun merasa, bahwa ada sesuatu yang harus mereka perhatikan sebaik-baiknya.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu tidak bertanya lebih lanjut. Mereka kembali duduk sambil berdiam diri di bawah bayangan rimbunnya daun preh.
Sebenarnyalah, setelah beberapa lama mereka menunggu, maka seseorang telah datang mendekati Ki Sarpa Kuning. Tetapi demikian orang itu melihat Mahisa Murti dan mabisa Pukat, maka orang itu pun telah tertegun sejenak.
Tetapi Ki Sarpa Kuning yang melihat orang itu datang, dan tertegun, tersenyum sambil berkata, “Jangan terkejut. Kedua anak muda itu adalah saudara seperguruanmu yang baru. Aku telah memungut mereka dan menjadikan mereka murid-muridku untuk menggantikan dua orang adik seperguruanmu yang telah aku bunuh itu”
Orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian orang itu pun bertanya, “Siapa nama mereka?”
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia berkata, “Bertanyalah sendiri. Aku tidak sempat menanyakannya.”
Orang itu pun kemudian mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk terkantuk-kantuk. Namun sikap orang itu benar-benar mengejutkan kedua anak muda itu. Dengan kasar orang itu telah mengguncang kaki Mahisa Murti dengan kakinya sambil membentak, “Siapa namamu he?”
Mahisa Murti benar-benar terkejut. Darahnya tiba-tiba saja menggelegak. Untunglah, bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia pun kemudian perlahan-lahan berdiri sambil menjawab, “Namaku Nandi”
“Yang seorang?”orang itu membentak lagi.
“Kawanku. Namanya Wastu” jawab Mahisa Murti sambil berpaling kepada Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat pun telah berdiri pula. Ketika orang yang baru datang itu memandanginya, maka Mahisa Pukat pun mengangguk hormat. Sementara itu di dalam hatinya ia mengulang nama yang diberikan kepadanya, “Wastu. Aku tidak boleh lupa”
“Apa alasan kalian, bahwa kalian telah memasuki perguruan kami?” bertanya orang itu.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti sareh, “Ki Sanak sudah mengenal namaku. Apakah aku boleh mengenal nama Ki Sanak”
Orang itu memandang Mahisa Murti dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “Namaku Gajah Wareng”
“Gajah Wareng?” ulang Mahisa Murti.
“Ya. Kenapa?” bertanya orang itu.
“Tidak apa-apa” Mahisa Murti menjawab. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Satu nama yang tidak pantas baginya. Hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan yang mapan sajalah yang pantas menyebut dirinya bernama Gajah. Tetapi agaknya memang siapa pun dapat membuat namanya sendiri menjadi kebanggaan”
Dalam pada itu, maka Gajah Wareng itu pun bertanya sekali lagi, “Kalian belum menjawab, apa alasan kalian memasuki perguruan kami”
“Kami mendapat tawaran dari Ki Sarpa Kuning. Dan kami pun tidak berkeberatan karena kami memang ingin meningkatkan ilmu kami” jawab Mahisa Murti.
Orang yang bernama Gajah Wareng itu pun berpaling kearah Ki Sarpa Kuning. Kemudian dengan nada rendah ia bertanya, “Jadi guru yang memintanya?”
“Ya” jawab Ki Sarpa Kuning acuh tidak acuh, “sudah aku katakan. Aku memungutnya dan mengambilnya sebagai ganti kedua orang adik seperguruan yang aku bunuh itu”
Orang yang bernama Gajah Wareng itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Baik. Aku akan memerlakukan kalian seperti aku memerlakukan kedua adik seperguruanku yang terbunuh itu”
“Nah, anak-anak muda” berkata Ki Sarpa Kuning, “sejak saat ini, kau adalah anggauta dari perguruan yang besar ini. Kau berhak menerima tuntunan ilmu. Tetapi kau berkewajiban untuk menjalankan semua perintah dari guru serta saudara-saudara seperguruanmu yang lebih tua”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai merasa, bahwa mereka tengah memasuki satu pengalaman baru. Namun karena mereka memang sudah bertekad untuk melakukannya, maka mereka pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka.
Dalam pada itu, maka orang yang menyebut dirinya bernama Gajah Wareng itu pun kemudian berkata, “Guru, apakah anak-anak ini dapat kita ikut sertakan dalam tugas-tugas kita di Kabuyutan ini?”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar