*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 009-02*
“Ajari mereka untuk mengerti. Kemudian mereka akan dengan patuh melakukan segala perintahmu” jawab Ki Sarpa Kuning. Namun kemudian Ki Sarpa Kuning itu pun melanjutkan, “Tetapi hati-hatilah dengan mereka. Aku melihat keduanya mampu bertahan melawan dua orang murid Padepokan Gemulung”
“O, jadi mereka telah berbekal ilmu?” bertanya Gajah Wareng.
“Ya. Agaknya kita harus menilik ilmu yang telah ada di dalam diri mereka. Kita akan menyesuaikannya, untuk mengisi dan meningkatkan ilmu mereka, sesuai dengan tataran yang ada di dalam perguruan kita” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Apakah kemampuan mereka perlu dijajagi untuk menemukan alas peningkatan ilmu mereka?” bertanya Gajah Wareng.
“Terserah kepadamu. Mungkin perlu juga kau lakukan. Sebelum kau mulai dengan mengajarinya, maka kau perlu mengetahui dari mana kau akan mulai” jawab Ki Sarpa Kuning.
Gajah Wareng mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku dapat melakukannya sekarang”
“Jangan” berkata Ki Sarpa Kuning, “kita bawa anak-anak ini ke pasanggrahan kita. Kita tidak terlalu tergesa-gesa”
Gajah Wareng mengangguk-angguk. Katanya, “Baik guru. Kita akan pergi ke pasanggrahan”
Ki Sarpa Kuning pun kemudian bangkit pula. Sambil menggeliat ia berkata, “Aku sebenarnya mulai mengantuk. Tetapi marilah, kita akan pergi ke pasanggrahan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangu-mangu Bahkan mereka menjadi heran, bahwa Ki Sarpa Kuning itu telah membuat sebuah pasanggrahan di sekitar Kabuyutan yang sedang menjadi sasaran rencananya yang merupakan bagian dari sebuah rencana yang besar.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berbuat sesuatu. Mereka menurut saja ketika Gajah Wareng memerintahkan kepada mereka untuk berjalan mengikutinya.
“Kau sudah menjadi murid dari perguruan kami, “berkata Gajah Wareng, “kau harus mematuhi segala peugeran yang ada di dalam lingkungan kami”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka mengikut saja kemana kedua orang itu pergi.
Setelah meniti pematang beberapa lamanya, maka mereka pun meloncati parit dan sampai kesebuah jalan setapak, masih di tengah-tengah bulak. Mengikuti jalan kecil itu mereka menuju kearah lereng pegunungan yang menjadi daerah Kabuyutan yang sedang mengalami pergeseran kekuasaan sepeninggal Buyut yang memerintah.
“Paranggrahan kami berada di lereng bukit itu” berkata Gajah Wareng.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi pengertian tentang pasanggrahan itu sangat menarik perhatian. Karena itu, maka mereka pun telah didorong oleh satu keinginan untuk segera sampai ke lereng bukit dan melihat, apakah benar di lereng bukit itu terdapat sebuah pasanggrahan.
Perjalanan mereka semakin lama menjadi semakin cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun selalu menyesuaikan dengan langkah-langkah Ki Sarpa Kuning dan Gajah Wareng.
Karena itu, maka mereka pun tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Beberapa saat kemudian, mereka telah mulai mendaki lereng bukit berhutan. Mereka menyusup di antara hijaunya dedaunan di lereng gunung dan di antara pepohonan yang tumbuh dengan liar.
Ketika tiba tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat seekor ular yang cukup besar melilit di batang pohon yang tidak terlalu besar, maka mereka pun terkejut, sehingga langkah mereka terhenti.
Namun sambil tertawa Ki Sarpa Kuning berkata, “Jangan takut. Ular adalah sahabatku yang paling baik”
Namun terasa tengkuk kedua anak muda itu merenung ketika mereka merunduk di dekat kepala ular yang justru berkerut dan kemudian justru bergeser mundur.
Diluar sadarnya Mahisa Murti meraba cincin di jarinya, sementara Mahisa Pukat menyentuh gelang Kayu Bulenya. Seolah olah mereka berusaha untuk meyakinkan diri mereka, bahwa bagi mereka ular itupun tidak akan berbahaya.
Demikianlah, setelah menyusup gerumbul-gerumbul perdu di antara pepohonan yang besar, maka ke empat orang tiu pun memasuki Daerah hutan yang tidak begitu lebat. Seolah-olah beberapa bagian dari tetumbuhan di tempat itu telah dibersihkan, sehingga hutan itu memberikan tempat bagi beberapa orang untuk tinggal.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin heran. Mereka dibawa menyusup lebatnya hutan di lereng pegunungan, sehingga mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, dimana letaknya pesanggrahan Ki Sarpa Kuning itu.
Namun akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menarik nafas dalam-dalam ketika Gajah Wareng berkata, “sudah sampai”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat sebuah gubug yang terbuat dari kulit kayu dan beratap ilalang.
Sambil tertawa Ki Sarpa Kuning pun kemudian berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ”Inilah pesanggrahan itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Merekapun sadar, bahwa yang dimaksud dengan pesanggrahan itu adalah sarana yang telah mereka buat untuk tempat tinggal sementara.
Dalam pada itu, ternyata dua orang yang berada di dalam gubug itu telah merunduk, lewat pintu yang rendah, keluar dari gubug itu. Dengan kening yang berkerut mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat datang bersama Gajah Wareng dan Sarpa Kuning.
“Siapa orang itu?” bertanya salah seorang dari keduanya. Orang berkumis lebat itu memandang Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun kemudian katanya, “Nampaknya kedua anak ini tidak meyakinkan”
“Mereka memiliki bekal yang cukup” jawab Ki Sarpa Kuning, “Aku melihat keduanya berkelahi melawan anak-anak dari Gemulung. Menurut penilaianku, keduanya memiliki ilmu yang cukup. Jika mereka berada di antara kita untuk waktu yang cukup lama, maka mereka akan dapat mengikuti pendadaran ilmu dasar dari perguruan kita.
Orang berkumis lebat itu pun kemudian mmendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Katanya kemudian, “Apa kelebihannya sehingga anak ini berani melawan anak-anak Gemulung ?”
“Ilmunya cukup untuk mengimbangi tingkat ilmu orang-orang Gemulung itu” jawab Ki Sarpa Kuning, “katakan kepada Gajah Wareng, sebelum kalian meningkatkan ilmu kedua anak-anak itu sesuai dengan kedudukan mereka sebagai murid dari padepokan kita, maka kalian akan dapat menjajagi. Tetapi hati-hati. Sudah aku katakan, keduanya mampu mengimbangi murid-murid Ajar Gemulung”
“Bukan soal” jawab orang berkumis itu, “anak-anak Gemulung sama sekali tidak berarti apa-apa bagi kita. Seandainya Ajar Gemulung sendiri datang ke padepokan kita, maka murid yang paling lemah di antara kami, akan dapat mengimbangi llmunya. Karena itu, maka murid Gemulung tidak lebih dari seorang cantrik yang paling dungu di perguruan kita”
“Jangan berkata begitu” jawab Ki Sarpa Kuning, “Ajar Gemulung tentu merasa, bahwa dirinya memiliki ilmu yang tinggi”
“Setiap-orang dapat merasa demikian, tetapi kenyataannya. Ajar Gemulung tidak lebih dari orang orang kita yang paling bodoh sekalipun” jawab orang berkumis lebat, “tetapi baiklah. Lebih baik kita menjajaginya sehingga kita akan mendapat kenyataan yang sebenarnya”
“Tetapi biarlah keduanya beristirahat” berkata Ki Sarpa Kuning, “kita tidak tergesa-gesa”
Orang berkumis lebat itupun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah keduanya beristirahat. Besok mereka akan mengenal arti perguruan kita sebaik-baiknya. Baru hari berikutnya kita akan meningkatkan ilmu mereka sambil menjalankan tugas kita disini” Gajah Wareng pun kemudian berkata, “Marilah. Masuklah. Kau akan mendapat tempat di dalam pesanggrahan kita”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut sama sekali. Keduanya pun kemudian memasuki pintu gubug itu. Di dalamnya terdapat sebuah amben bambu yang besar. Agaknya semua orang tidur di amben bambu itu. karena amben itu adalah satu-satunya isi dalam gubug itu.
Sebenarnyalah, terdengar Gajah Wareng berkata, “Kalian akan mendapat tempat di paling tengah, karena kalian adalah orang-orang bungsu di antara kita. Kalian akan terlindung seandainya tiba-tiba saja pesanggrahan kita telah mendapat serangan dari siapa pun juga”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk. Namun kemudian merekapun menjadi berdebar-debar ketika orang berkumis lebat itu berkata, “Letakkan bungkusan kalian itu di amben itu. Atau barangkali kalian memang akan tidur sekarang?” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Kami tidak akan tidur. Tetapi kami akan beristirahat saja barang sejenak”
Orang berkumis lebat itu mengerutkan keningnya. Namun Ki Sarpa Kuning berkata, “Silahkan. Kalian dapat saja beristirahat sepuas-puasnya. Mumpung kau belum mulai dengan satu tugas tertentu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Arti kata kata itu akan dapat menggelisahkan mereka.
Dalam pada itu, maka kedua anak muda itu pun telah ditinggalkan oleh para pengikut Ki Sarpa Kuning. Dengan ragu-ragu keduanya mengamati gubug yang disebut pesanggrahan itu. Dindingnya yang dibuat dari kulit kayu nampak berlubang-lubang. Sedangkan amben bambu yang merupakan perabot gubug itu satu-satunya dibuat dengan kasar meskipun sempat juga diberi galar dan dibentangkan tikar selembar di atasnya.
Mahisa Pukat lah yang pertama tama duduk diatas amben itu. Terdengar amben itu berderit dan bergoyang sehingga suaranya terasa menggelitik telinga kedua orang anak muda itu.
Baru sejenak kemudian, Mahisa Murti pun duduk pula di amben itu. Sekali lagi amben itu berderit.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian terdiam sejenak untuk mendengarkan apakah ada orang yang dengan sengaja telah mengamatinya.
Mahisa Murtilah yang kemudian menggeleng lemah. Sementara Mahisa Pukat berdesis, “Mereka telah pergi”
“Tetapi mereka tentu ada di sekitar tempat ini. Mereka tentu mengamati kita jika kita keluar” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian ”Aku tidak peduli. Aku benar benar akan beristirahat”
Tanpa menunggu jawaban Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat itu pun kemudian membaringkan dirinya sambil menguap.
“Kau akan tidur?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku memang mengantuk Tetapi aku tidak ingin tidur jawab Mahisa Pukat.”
Mahisa Murti tidak menjawab. Bahkan ia pun kemudian. berdiri dan melangkah ke pintu yang masih tetap terbuka.
Ketika Mahisa Murti berdiri di telundak pintu, maka ia pun melihat dua orang murid Ki Sarpa Kuning duduk dibawah sebatang pohon yang lebat, sementara itu Ki Sarpa Kuning sendiri dan Gajah Wareng tidak nampak olehnya.
“Kemana kedua orang itu?” bertanya Mahisa Murti di dalam hatinya. Namun Mahisa Murti pun kemudian yakin, bahwa kedua orang itu tidak berada dekat di seputar rumah itu, karena Mahisa Murti pun telah mengelilingi ruangan itu dan meyakinkan tidak melihat seorangpuh dari antara lubang-lubang dinding dan tidak pula mendengar suara apa pun juga.
“Tutup pintu itu” desis Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Murti kemudian menjawab, “Biar saja. Jika pintu itu bergerak, maka mungkin sekali akan menarik perhatian mereka”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Murti pun telah berbaring pula di sebelahnya sambil berkata, “Malam nanti kita akan tidur di antara mereka. Kita harus mengatur diri. Kita jangan tidur bersama-sama”
“Aku setuju” jawab Mahisa Pukat.
“Nampaknya tempat ini bukan tempat yang nyaman” desis Mahisa Murti.
“Jika demikian, sekarang aku benar-benar ingin tidur” berkata Mahisa Pukat. Namun kemudian, “He, bagaimana kita akan makan?”
“Kita sudah berada di antara para murid Ki Sarpa Kuning. Kita harus menunggu, apakah kita akan mendapat makan dari mereka” jawab Mahisa Murti.
“Baiklah. Kita akan menunggu. Dan aku akan menunggu sambil tidur. Malam nanti, biarlah aku berjaga-jaga lebih lama” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak menjawab. Dibiarkannya Mahisa Pukat yang benar-benar ingin tidur, sementara ia akan berjaga-jaga meskipun juga sambil berbaring. Sementara itu, pintu gubug itu masih tetap terbuka. Namun Mahisa Murti telah menempatkan dirinya sedemikian, sehingga ia dapat langsung memandangi ke luar pintu.
Namun nampaknya para murid Ki Sarpa Kuning itu memang tidak berbuat apa-apa pada hari itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak diusiknya. Dibiarkannya kedua anak muda itu berbaring. Meskipun demikian, Mahisa Murti sama sekali tidak tertidur sedang Mahisa Pukat benar-benar telah mendengkur di sampingnya.
Tetapi karena Mahisa Murti juga tidak bergerak-gerak serta pernafasannya yang mengalir dengan teratur, maka seoian-olah ia pun tertidur pula.
Dengan demikian, ketika salah seorang dari murid Ki Sarpa Kuning itu menjenguk kedua anak muda itu, mereka mendapat kesan, seolah-olah keduanya memang sedang tertidur.
Murid Ki Sarpa Kuning itu agaknya telah memanggil kawannya. Ketika kawannya mendekatinya, maka ia pun berbisik, “Keduanya tertidur nyenyak. Mereka benar-benar tidak menaruh kecurigaan apa pun juga terhadap kita”
“Belum tentu” jawab kawannya, “mungkin demikian. Tetapi kemungkinan yang lain adalah, mereka anak-anak muda yang sangat sombong”
Kawannya tidak menjawab. Tetapi Mahisa Murti mendengar desah nafas panjang. Kemudian keduanya pun telati meninggalkan pintu yang masih saja terbuka itu.
Sepeninggal mereka, maka Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia berhasil mengelabuhi kedua murid Ki Sarpa Kuning itu. Namun Mahisa Murti pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat mengelabuinya untuk selanjutnya tanpa kemungkinan untuk diketahui.
Namun kedua anak muda itu memang sudah bertekad. Karena itu, apa pun yang akan terjadi, akan mereka hadapi dengan tabah. Apalagi mereka telah memakai cincin dan gelang yang akan dapat membebaskan mereka dari ketajaman racun para pengikut Ki Sarpa Kuning.
Dalam-pada itu, ternyata keduanya mendapat kesempatan yang cukup untuk beristirahat tanpa diganggu oleh siapapun. Meskipun Mahisa Murti tetap tidak tertidur, namun ia pun merasakan bahwa istirahatnya itu dapat menyegarkan tubuhnya. Bagaimanapun juga, ia telah mengerahkan tenaganya saat-saat ia berkelahi melawan orang-orang yang disebut murid-murid dari Gemulung.
Namun Mahisa Murti pun kemudian tidak membiarkan dirinya berbaring diam di amben yang besar itu. Justru karena tidak seorang pun yang mengganggunya, Mahisa Murti merasa aneh.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti pun telah bangkit dan duduk di bibir pembaringan. Derit amben itu telah membangunkan Mahisa Pukat, sehingga ia pun duduk pula di sebelah Mahisa Murti.
“Kau tidur nyenyak” desis Mahisa Murti.
“Tubuhku menjadi segar. He, apakah kau akan tidur sekarang. Biarlah aku menungguimu” berkata Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Kita sudah terlalu lama beristirahat tanpa diusik sama sekali. Sebentar lagi senja akan turun. Biarlah kita keluar dan melihat-lihat keadaan di sekeliling gubug yang disebutnya sebagai satu pesanggrahan ini” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bangkit sambil membenahi diri. Katanya, “Rasa-rasanya hari berjalan dengan cepat”
“Tetapi mungkin kerimbunan hutan membuat hari terasa sangat cepat. Marilah kita melihat. Jika kita melihat matahari, kita akan dapat mengira-ngirakan waktu” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi kita pun kehilangan kiblat. Mungkin kita akan salah hitung mengetahui kiblat” jawab Mahisa Pukat.
“Kita tunggu matahari mendekati terbenam. Kita akan mengetahui arah Barat. Kita dapat mengira-ngirakan di sebelah mana matahari bergeser sekarang ini. Kita tahu musim dan kita pun akan dapat mengetahui di saat matahari terbit, arah yang pasti” jawab Mahisa Murti pula.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan demikian, mereka akan (dapat mengetahui arah, dan membuat perhitungan-perhitungan tertentu yang dalam keadaan yang memaksa akan dapat dipergunakan untuk melindungi diri mereka.
Dengan demikian, maka kedua orang anak muda itu pun membenahi diri. Mereka belum tahu dimana mereka mendapatkan air. Mungkin sebuah belik yang tidak terlalu jauh, atau dengan cara-cara yang lain. Dan mereka pun belum tahu. apakah di malam itu mereka akan mendapatkan makanan.
Ketika mereka berdiri di depan pintu yang masih saja terbuka itu, mereka sudah tidak melihat lagi kedua orang murid Ki Sarpa Kuning di tempatnya.
Namun, merekapun berpaling ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa.
Kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat Ki Sarpa Kuning dengan ketiga muridnya berjalan menuju kearah mereka dari sisi.
Meskipun kedua anak muda itu telah bersiap-siap, namun mereka sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa. Keduanya justru melangkah keluar dan berdiri termangu-mangu di serambi yang rendah.
Dengan wajah cerah, Ki Sarpa Kuning pun kemudian berhenti beberapa langkah dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Katanya ”Kita sudah akan mulai. Menurut perhitunganku, kita tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Kemudian tugas kita yang sebenarnya akan mulai. Hutan di lereng bukit ini akan menjadi hak kita. Kita akan dapat berbuat apa saja. Membiarkan hutan ini menjadi semakin lebat, atau menjadikan tanah ini tanah pertanian yang subur”
Mahisa Murti hampir saja membantah. Namun ternyata ia masih mampu menahan diri, sehingga niatnya telah diurungkannya. Namun ia sadar sepenuhnya, bahwa yang akan terjadi adalah, hutan itu akan dibuat menjadi gundul seperti yang akan terjadi dimana-mana. Sama sekali tidak untuk dijadikan tanah pertanian seperti yang dikatakannya.
“Orang itu memang bodoh” berkata Gajah Wareng, “dalam keadaan yang tidak ada pilihan itu, ia masih bertanya, kenapa kita memilih hutan-hutan di lereng pegunungan, sedangkan ada hutan di tanah ngarai yang datar”
Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya, “Mereka memang dungu. Tetapi untunglah bagi kita, bahwa mereka tidak mengetahui makna dari keinginan kita”
“Seandainya orang itu mengetahui, apakah ia akan berani menolaknya?” bertanya Gajah Wareng.
“Kita tidak ingin bertengkar dengan orang-orang Kabuyutan itu. Bukan karena kita takut, tetapi kita tidak mau terganggu apabila kita sudah mulai dengan kerja kita yang sebenarnya” jawab Ki Sarpa Kuning, “yang terjadi sekarang ini sebenarnya tidak lebih dari sekedar persiapan. Baru kemudian kita akan melakukan tugas kita yang sebenarnya” Ki Sarpa Kuning berhenti sejenak, lalu katanya, “Nah, anak-anak. Bersiaplah. Kalian akan mendapat tugas. Disamping tugas-tugas itu, kalian adalah murid muridku yang berhak menerima bimbingan dan pembinaan bagi kemajuan ilmu kalian. Namun karena kalian sudah memiliki dasar ilmu, maka yang ingin kami lihat duhulu adalah kesediaanmu untuk mentaati paugeran perguruan ini. Aku ingin kalian menunjukkan bukti kerja yang berarti bagi perguruan ini”
“Apakah yang harus kami lakukan?” bertanya Mahisa Murti.
“Bersiap-siap sajalah. Mungkin kita akan menunjukkan kepada salah satu pihak di Kabuyutan itu, bahwa kehendak kita tidak dapat di cegah oleh siapa pun juga”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendesaknya lagi. Tetapi mereka sudah mengerti, bahwa pada suatu saat mereka harus melakukan tugas khusus di Kabuyutan yang telah kehilangan pemimpinnya itu. Bersama dengan murid-murid Ki Sarpa Kuning yang lain, mereka akan menakut nakuti penduduk yang berpihak kepada menantu Ki Buyut yang sudah tidak ada lagi itu, agar mereka tunduk kepada sikap saudara sepupu Ki Buyut yang juga menginginkan kedudukan tertinggi di Kabuyutan itu.
Namun dengan demikian, telah timbul satu pertentangan di hati kedua orang anak muda itu. Apakah mereka akan tetap berada di antara murid-murid Ki Sarpa Kuning jika mereka harus ikut memaksakan kehendak orang itu terhadap penduduk padukuhan. Penduduk yang sebagian besar berpihak kepada menantu Ki Buyut, namun yang sayangnya lemah hati. Sementara hanya sebagian kecil saja dari penduduk Kabuyutan itu yang berpihak kepada sudara sepupu Ki Buyut.
Tetapi kedua orang anak muda itu masih belum mendapat kesempatan untuk berbicara di antara mereka. Apalagi ketika kemudian Ki Sarpa Kuning mengajak murid-muridnya untuk masuk ke dalam gubugnya.
Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Aku belum mandi. Tetapi aku tidak tahu, dimana aku harus mandi”
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Namun masalahnya memang sederhana. Karena itu, maka katanya kepada salah seorang muridnya, “Tunjukkan belik di bawah pohon kemuning itu”
“Apakah di sini tidak ada semacam sungai atau parit?” bertanya Mahisa Pukat.
Ki Sarpa Kuning tiba-tiba tertawa. Katanya, “Belik itu cukup besar. Karena itu, maka di bawah belik itu mengalir sebuah parit yang cukup deras” Seorang dari murid Ki Sarpa Kuning itu pun kemudian mengantar kedua anak muda itu pergi ke belik. Murid yang menurut penilaian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat agak lebih lunak dari murid-murid yang lain. Orang itu nampaknya tidak seganas Gajah Wareng dan orang berkumis lebat itu.
Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertindak cukup hati-hati. Bahkan justru orang-orang yang demikian itulah yang mungkin akan dapat mencelakai mereka.
Karena itu, selama mereka menuju ke belik yang berada di bawah pohon kemuning itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berbicara apa pun juga, sementara orang yang menyertainya itu pun tidak bertanya apa pun juga.
Namun ketika mereka sudah berada di belik, maka Mahisa Murti pun berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan mandi sejenak. Jika Ki Sanak akan mendahului kami, kami persilahkan”
Orang itu termangu-mangu sejenak Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku tidak tergesa-gesa. Silahkan mandi. Aku pun akan mandi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak dapat mengusir orang itu agar mereka mendapat kesempatan untuk membicarakan langkah-langkah mereka berikutnya”
Namun pada satu kesempatan Mahisa Murti sempat berbisik, “Orang itu mendapat tugas untuk mengawasi kita”
“Jika kita mau kita akan dapat menyingkirkannya” jawab Mahisa Pukat.
“Itu tidak mungkin. Kita harus mempertanggung jawabkannya jika orang itu tidak kembali ke pasanggrahan” berkata Mahisa Murti selanjutnya.
Namun Mahisa Pukat menjawab ”Kau juga menyebutnya pesanggrahan?”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Tidak ada sebut lain yang lebih sesuai dari sebutan itu”
Mahisa Pukat pun tersenyum pula. Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak lagi, karena orang yang menunjukkan jalan kepada mereka itu pun mendekat.
Namun adalah tiba-tiba saja Mahisa Pukat bertanya kepada orang itu, “Ki Sanak. Kenapa gubug itu kalian sebut pesanggrahan?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun adalah di luar dugaan bahwa orang itu pun kemudian tertawa. Katanya, “Itu adalah satu sebutan yang paling menggelitik hati. Tetapi demikianlah yang dikehendaki oleh guru. Dan kita semua pun mengatakannya demikian pula”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling herpandangan sejenak. Namun mereka pun akhirnya tertawa juga.
“Agaknya Ki Sarpa Kuning juga termasuk orang yang mempunyai selera jenaka” berkata Mahisa Pukat.
“Ya” jawab orang itu, “tetapi dalam keadaan yang lain, maka ia bersikap lain pula. Sebagaimana ia tertawa dalam gurau yang jenaka, maka demikian pula dilakukannya saat ia menusukkan senjatanya ke lambung korbannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tetapi sikapnya tidak menunjukkan kegarangannya”
“Sudah aku katakan. Ia memang tidak melakukannya dengan garang. Tetapi dilakukannya sambil tertawa” jawab orang itu. Namun kemudian, “Tetapi itu tidak berarti bahwa guru tidak dapat bersikap garang. Pada suatu saat guru adalah orang yang paling garang yang pernah aku lihat”
“Apakah Ki Sarpa Kuning membunuh kedua muridnya sambil tertawa pula?” bertanya Mahisa Murti tiba-tiba.
“Dan mana kau tahu?” bertanya orang itu.
“Ki Sarpa Knning sendiri mengatakannya, bahwa ia telah membunuh dua orang muridnya karena mereka telah melakukan satu kesalahan yang besar” jawab Mahisa Murti.
Wajah orang itu menjadi tegang. Namun sekilas kemudian, kesan itu telah ditekannya dalam-dalam ke dalam dadanya, sehingga seolah-olah ia tidak mengalami satu sentuhan perasaan.
Namun yang sekilas itu telah dapat ditangkap oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, meskipun langit menjadi semakin suram dan wajah orang itu pun menjadi semakin kabur.
Tiba-tiba saja orang itu berkata, “Cepat. Jika kalian mau mandi, mandilah. Aku juga akan mandi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendesak lagi. Mereka pun kemudian mandi di belik di bawah pohon kemuning tua yang besar. Sementara itu. maka gelap pun mulai menjamah hutan itu.
Demikian mereka selesai mandi, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Kita sudah selesai. Kita harus segera kembali”, “Aku mengerti, bahwa kita harus kembali. Tetapi kenapa segera?” bertanya Mahisa Pukat
Wajah orang itu menegang. Namun hanya sejenak. Ia berusaha sebagaimana selalu dilakukan untuk menekan perasaannya.
“Kita mempunyai banyak tugas” jawab orang itu, “kita bukan orang-orang malas”
Mahisa Pukat pun tidak mendesaknya lagi. Namun yang tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yang paling dibenci oleh orang itu adalah Mahisa Murti, “Ki Sanak. Apakah memang benar, bahwa dua orang murid Ki Sarpa Kuning yang dibunuh itu mendapatkan hukuman mati secara wajar. Maksudku, apakah kesalahannya cukup besar untuk dibunuh oleh gurunya sendiri”
“Cukup” tiba-tiba orang itu membentak ”jangan persoalkan lagi hukuman itu”
“Ki Sanak sudah lama berada dilingkungan perguruan Ki Sarpa Kuning” jawab Mahisa Murti ”aku tidak mempunyai niat apa pun juga, kecuali sekedar bertanya, apakah sudah sepantasnya kedua orang murid itu dihukum mati. Dengan demikian aku ingin mengerti, batas-batas yang paling jauh dari tingkah laku murid-murid Ki Sarpa Kuning. Karena aku adalah orang baru, maka aku tidak ingin terjerumus ke dalam kesalahan yang akan dapat menjerat leherku”
Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ketegangan itu kembali mencengkamnya. Namun yang terdengar adalah geramnya, “Sekali lagi aku peringatkan, jangan persoalkan lagi kematian kedua orang murid Ki Sarpa Kuning itu”
“Kami tidak mempersoalkan kematiannya” sahut Mahisa Pukat, “tetapi bingkai yang harus kami ketahui, agar kami tidak salah langkah keluar dari bingkai itu sehingga kami mengalami nasib yang buruk di luar kesadaran kami, bahwa kami telah melakukan kesalahan”
Orang itu menggertakkan giginya. Namun dengan demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengetahui, bahwa sesuatu tengah bergejolak di dalam hati orang itu. Tentu ada hubungannya dengan peristiwa kematian dua orang murid yang dianggap bersalah itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berusaha untuk menyudutkan orang itu sehingga pada suatu saat orang itu akan mengatakan sesuatu yang mungkin berarti bagi keduanya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Marilah kita kembali. Tetapi jika kau berniat untuk berbaik hati, kau tentu akan mengatakan sesuatu tentang kematian kedua orang itu, agar aku tidak mengalami nasib serupa”
“Peristiwa itu memang merupakan satu hal yang sangat menggelitik hati kami. Bahkan terasa mengerikan” berkata Mahisa Pukat pula.
Orang itu menggeram. Tetapi ternyata dadanya telah menjadi penuh oleh gejolak perasaannya, sehingga hampir di luar sadarnya ia bergumam, “Peristiwa yang sangat aku sesalkan”
“Tentu semua murid Ki Sarpa Kuning menyesali peristiwa itu. Ki Sarpa Kuning pun menyesali pula, justru karena kedua muridnya telah melanggar paugerannya” berkata Mahisa Murti.
“Keduanya memang bersalah” jawab orang itu, “tetapi hukuman mati itu bukan karena kesalahan keduanya. Tetapi karena keduanya jatuh ke tangan orang-orang Singasari. Guru tidak berusaha untuk membebaskannya, tetapi guru telah membunuhnya”
“Maksud Ki Sarpa Kuning tentu wajar sekali, agar kedua orang itu tidak.akan dapat membuka rahasia. Tetapi jika keduanya tidak melakukan satu kesalahan, maka keduanya tidak akan ditangkap oleh orang-orang Singasari” potong Mahisa Pukat.
“Ternyata kau sudah tahu segala-galanya. Kenapa kau bertanya?” desis orang itu.
“AKu baru mendengar dari Ki Sarpa Kuning” jawab Mahisa Pukat ”tetapi apakah memang sebenarnya demikian, atau oleh hal-hal lain yang sebenarnya dilakukan oleh kedua orang itu?”
“Tidak ada hal-hal lain” jawab murid Ki Sarpa Kuning itu, “tetapi sebenarnya guru dapat menempuh cara lain. Ia tidak membunuh kedua muridnya, tetapi membebaskannya dari tangan-tangan orang Singasari itu”
“Tetapi yang dilakukan tidak demikian” sela Mahisa Murti, “Ki Sarpa Kuning telah membunuh mereka”
“Itulah yang gila. Salah seorang dari kedua orang yang terbunuh itu adalah adikku” suara orang itu hampir hilang ditelannya sendiri.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Rahasia itulah yang ternyata tersimpan di dalam dada orang itu. Salah seorang murid Ki Sarpa Kuning yang terbunuh itu adalah adiknya.
Karena itulah, maka meskipun hanya sekilas, terbayang dendam di wajah murid Ki Sarpa Kuning itu. Sehingga ia betapapun kecilnya, akan dapat menjadi benih yang akan dapat tumbuh dan menjadi satu sikap yang dapat menyulitkan kedudukan Ki Sarpa Kuning sendiri.
Dalam pada itu, rasa penyesalan di hati murid Ki Sarpa Kuning itu, justru ia sudah mengatakan bahwa yang terbunuh itu adalah adiknya. Namun ia tidak akan dapat menahan deru angin prahara yang bergejolak di dalam dadanya.
Tetapi rahasia itu sudah dikatakannya. Sementara itu gelap pun menjadi semakin pekat. Murid Ki Sarpa Kuning itu pun kem udian berkata, “Marilah. Kita sudah pergi terlalu lama” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan menyebut kematian kedua murid yang terbunuh itu lagi di hadapan Ki Sarpa Kuning. Menyangkut atau tidak menyangkut adikku yang terbunuh itu. Jika hal itu kalian lakukan, maka aku mempunyai kesempatan untuk berbuat banyak atas kalian berdua”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Bagi mereka sikap murid Ki Sarpa Kuning itu merupakan pertanda baik. Jika mereka dengan tepat dapat menanggapi api dendam yang menyala di hati orang itu, maka mereka akan dapat memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu.
Namun sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menyahut lagi. Mereka pun kemudian menyusuri jalan sempit menuju kembali ke gubug yang disebut Pasanggrahan itu.
Ketika mereka memasuki ruang dalam gubug itu, maka sebuah lampu minyak telah terpasang. Di amben yang besar itu masih berserakan mangkuk, cething dan tenong berisi nasi dan lauk-pauknya.
Ki Sarpa Kuning yang duduk di sudut amben itu memandang mereka bertiga yang memasuki ruang itu sekilas. Tetapi ia pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Sementara orang berkumis lebat itu berkata, “Aku kira kalian akan bermalam di belik itu. He, bukankah kalian belum makan?”
“Belum” jawab murid Ki Sarpa Kuning yang mengantar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke balik di bawah pohon kemuning tua yang besar itu, “Kami baru selesai mandi”
“Makanlah” berkata orang berkumis itu lagi. Murid Ki Sarpa Kuning yang pernah kehilangan adiknya itu pun kemudian duduk di sebelah cething yang berisi nasi itu sambil berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Makanlah, mumpung kalian masih mempunyai kesempatan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun orang itu kemudian melanjutkan, “Jika tenong ini sudah disingkirkan, maka kesempatan tinggal mencuci mangkuk itu saja”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya pun telah ikut pula bersama orang yang kehilangan adiknya itu makan di amben besar, satu-satunya perabot rumah yang lebih tepat disebut gubug itu. Meskipun gubug yang agak besar.
Dalam pada itu, maka seperti yang dikatakan sebelumnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapatkan tempat di tengah-tengah am ben besar itu.
Namun ketika Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang lain telah berbaring di amben itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja duduk di bibir amben itu sambil bersandar tiang.
“Kalian tidak tidur?” bertanya orang berkumis lebat. “Siang tadi kami tidur nyenyak” jawab Mahisa Murti, “karena itu, sekarang aku tidak mengantuk”
“Terserahlah” berkata Ki Sarpa Kuning kemudian, “aku akan tidur. Besok aku mempunyai tugas yang penting”
Gajah Wareng pun berusaha untuk segera dapat tidur. Sementara itu, maka Mahisa Murti dan mahisa Pukat masih saja duduk sambil berdiam diri. Meskipun orang-orang itu nampaknya sudah tertidur nyenyak, namun mungkin sekali mereka akan mendengar segala pembicaraan. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu tidak berani beranjak dari tempatnya, apalagi membuka pintu dan pergi keluar gubug itu.
Malam terasa menjadi semakin dingin. Sementara itu, nyamuk pun berterbangan mengerumuni orang-orang yang berada di dalam gubug itu. Tetapi keempat orang yang tertidur itu, seakan-akan tidak menghiraukan beberapa ekor nyamuk yang melekat di tubuh dan menghisap darah mereka.
Dengan isyarat Mahisa Pukat mempersilahkan Mahisa Murti untuk tidur. Disiang hari, Mahisa Murti tidak tidur sama sekali, sementara Mahisa Pukat sempat tidur beberapa lamanya.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bergeser dan menempatkan diri di antara keempat orang yang telah berbaring lebih dahulu.
Dalam pada itu, tinggal Mahisa Pukat sajalah yang duduk bersandar tiang. Namun agaknya ia memang merasa perlu untuk tetap mengamati keadaan.
Tetapi ternyata tidak ada tanda-tanda yang mencuriga kan. Keempat orang penghuni gubug itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Sehingga akhirnya, Mahisa Pukat pun telah ikut serta berbering di sisi Mahisa Murti, meskipun seperti yang sudah mereka sepakati, bahwa mereka akan tidur bergantian.
Karena itu, meskipun Mahisa Pukat juga berbaring di sisi Mahisa Murti, tetapi ia tidak memejamkan matanya. Ia bertahan untuk pada saatnya lewat tengah malam, ia akan membangunkan Mahisa Murti.
Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin dalam. Udara menjadi semakin dingin. Sementara itu suara kehidu pan malam di hutan terdengar ngelangut.
Bagaimanapun juga mata Mahisa Pukat kemudian diganggu pula oleh perasaan kantuk, namun ia berusaha untuk bertahan. Oleh latihan yang berat dan kebiasaannya yang telah menempanya, maka Mahisa Pukat berhasil mengatasi perasaannya dan tetap sampai lewat tengah malam, meskipun ia juga tetap berbaring di sisi Mahisa Murti.
Baru setelah ia yakin, tengah malam telah lewat, maka menjelang ujung malam, ia telah menyentuh Mahisa Murti beberapa kali, sehingga Mahisa Murti lah yang kemudian terbangun.
Mahisa Murti tidak saja membuka matanya sambil berbaring. Tetapi ia pun kemudian bangkit duduk sambil menggosok matanya.
Sejenak Mahisa Murti duduk mengusir kantuknya yang masih tersisa. Bahkan kemudian ia telah mengguncang tubuh Mahisa Pukat sambil berdisis, “Kau tidak akan keluar”
Mahisa Pukat yang kurang tahu maksudnya justru termangu-mangu. Namun Mahisa Murti mengulang tanpa ragu-ragu, “Kau pergi keluar tidak?”
“Untuk apa?” Mahisa Pukat yang kurang mengerti maksudnya justru bertanya.
“Kalau kau tidak ingin keluar, antar aku keluar” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Baru ia mengerti maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka ia pun kemudian bangkit sambil berdesis, “Kau tidak berani keluar sendiri?”
“Gelap sekali. Aku belum mengenal daerah ini” jawab Mahisa Murti.
“Kau kira aku sudah mengenalnya?” jawab Mahisa Pukat.
“Kita sama-sama belum mengenal. berkata Mahisa Murti kemudian, “karena itu, marilah, kita berdua keluar sebentar”
Sebelum Mahisa Pukat menjawab, Gajah Wareng yang menggeliat bergumam, “Penakut. Pergilah berdua. Jangan mengganggu orang tidur”
Kedua orang anak muda itu pun kemudian turun dari pembaringan dan melangkah ke pintu.
Tetapi langkah mereka tertegun ketika mereka mendengar Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya, “Gajah Wareng, kau sangka keduanya benar-benar takut? Aku juga merasa terganggu oleh sikap mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak didorong oleh perasaan takut meskipun agaknya mereka mempergunakan alasan itu. Tetapi agaknya mereka ingin melepaskan ketegangan karena mereka berada di antara kita hampir semalam suntuk”
“O” Gajah Wareng pun justru bangkit. Tetapi Ki Sarpa Kuning berkata, “Biarkan saja”
Gajah Wareng pun kembali berbaring, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meneruskan langkah kepintu. Perlahan-lahan mereka membuka selarak pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
“Persetan” Mahisa Murti bergumam, “orang itu mengerti niat kita”
“Jangan pedulikan” jawab Mahisa Pukat” Mahisa Murti pun tidak menjawab lagi. Tetapi keduanya pun kemudian telah berada di luar gubug yang pengab dan seolah-olah tidak berudara lagi itu.
Diluar terasa udara menjadi segar meskipun dingin. Keduanya sempat menggeliat dan mengendorkan ketegangan. Sebenarnyalah mereka merasa tegang tidur di antara orang-orang yang belum banyak mereka kenal, dan bahkan menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan.
Kedua anak muda itu berada di luar gubug itu untuk beberapa lama. Mereka menghirup udara dan menggeliat sambil menguap. Namun tiba-tiba terasa sesuatu telah mengenai tubuh mereka. Tidak hanya sekali dua kaii. Tetapi beberapa kali.
Keduanya menjadi curiga. Akhirnya keduanya menyadari, bahwa mereka telah dikenai dengan kerikil-kerikil kecil yang dilontarkan dari dalam gelapnya hutan.
Kedua anak muda itu saling berpandangan. Namun keduanya tidak segera dapat mengambil satu kesimpulan.
Bahkan Mahisa Pukat yang kemudian mendekati Mahisa Murti berdesis, “Kau merasakan sesuatu?”
“Ya, sentuhan kerikil-kerikil yang tentu sengaja dilemparkan oleh seseorang” jawab Mahisa Murti sambil berbisik.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Dengan cermat kedua anak muda itu berusaha untuk mengetahui, dari arah manakah kerikil-kerikil itu dilontarkan.
Ternyata mereka masih merasakannya. Kerikil-kerikil itu masih menyentuhnya. Tidak terlalu keras, tetapi cukup menggelitik keduanya.
“Apakah kita akan mencarinya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku menjadi bimbang” jawab Mahisa Murti, “aku sebenarnya ingin mengetahui, siapakah yang telah melemparkan kerikil-kerikil itu. Tetapi jika kita terlalu lama berada di luar, apakah orang-orang di dalam gubug itu tidak menjadi curiga”
“Tetapi agaknya kita tidak perlu terlalu lama mencari” jawab Mahisa Pukat ”orang itu agaknya memang memanggil kita. Lemparan-Iemparan kerikil ini terasa maksudnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja ragu-ragu. Namun mereka pun sadar, bahwa orang itu tentu memiliki ilmu yang jauh lebih baik dari ilmu kedua orang anak muda itu.
“Seandainya orang itu berniat buruk, maka lontaran pisau akan dapat membunuh kita berdua” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Aku mengerti. Tetapi bagaimana dengan orang-orang di dalam gubug itu?”
“Kita hanya memerlukan waktu sedikit saja. Jika kita tidak segera menemukannya, kita akan segera kembali” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti masih bimbang. Namun terasa kerikil itti menjadi semakin sering menyentuhnya. Sehingga karena itu, maka katanya, “Baiklah. Kita pergi ke kegelapan itu sejenak. Tetapi hati-hatilah. Mungkin kita telah dijebak”
Keduanya pun kemudian begerak mendekati bayangan gerumbul yang sangat pekat. Mereka menganggap bahwa lontaran-lontaran kerikil itu datang dari tempat itu.
Beberapa saat kemudian, selagi keduanya masih belum terbenam dalam kekelaman bayangan rimbunnya gerumbul-gerumbul itu, terdengar suara, “Cukup dekat. Jangan maju lagi. Kau diawasi oleh seseorang dari pintu gubuk itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling di luar sadar mereka. Sebenarnyalah, mereka melihat bayangan lampu minyak yang bergerak. Agaknya memang ada seseorang yang mengamatinya dari dalam rumah gubug yang disebut pesanggrahan itu.
“Berdiri sajalah di situ. Orang yang mengawasimu itu tidak akan melihat dengan jelas, apa yang kau lakukan” berkata suara itu, “Asal kau masih dapat dilihatnya dari tempatnya, itu sudah cukup”
“Siapa kau” desis Mahisa Murti.
“Kau tentu tidak mengenal aku, karena aku bersembunyi” jawab suara itu. Lalu, “Tetapi apakah kau masih ingat dengan seorang petani yang bernama Waruju?”
“O, kau?” desis Mahisa Pukat.
“Ya. Aku Ki Waruju” jawab suara itu, “hampir aku kehilangan kesabaran untuk menemuimu malam ini. Tetapi aku memang sengaja mengawasimu. Mungkin kau menemui kesulitan berada di dalam lingkungan orang-orang itu. Tetapi agaknya hari pertama ini kau tidak mengalami kesulitan apa-apa. Bukankah begitu?”
“Ya Ki Waruju” jawab Mahisa Murti, “hari ini kami tidak mengalami kesulitan”
“Bagus. Agaknya harapanku itu benar-benar terjadi. Meskipun demikian aku tidak sampai hati membiarkan kalian berdua mengatasi sendiri apabila kalian mendapat perlakuan yang tidak wajar dari Ki Sarpa Kuning” berkata Ki Waruju, “sykurlah Sekarang kembalilah ke pesanggrahan itu. Aku akan berusaha untuk dapat selalu mengamatimu. Tetapi mungkin kalian pada saat-saat tertentu lepas dari pengamatanku karena aku sedang berada di sawah. Karena itu, kalian harus selalu berhati-hati”
“Baik. Aku akan selalu mengingat pesan Ki Waruju” jawab Mahisa Murti.
“Pertemuan kita kali ini sudah cukup. Aku tidak mempunyai kepentingan khusus. Tetapi jangan terlalu tergantung kepada kehadiranku. Jika kalian membuat perhitungan sesuatu, anggap bahwa aku tidak ada” berkata Ki Waruju, “dengan demikian maka segala perhitungan tergantung kepada kekuatan kalian sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Ki Waruju itu berkata selanjutnya, “Meskipun demikian, aku berusaha untuk selalu dekat dengan kalian. Hanya di siang hari aku tidak akan dapat terlalu dekat”
“Terima kasih jawab Ki Waruju ”Kami mengerti maksud Ki Waruju”
“Nah, kembalilah. Agar kalian tidak dkurigai oleh orang-orang dalam gubug itu” berkata Ki Waruju selanjutnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian melangkah surut. Mereka sadar, bahwa orang-orang di dalam gubug itu memang berusaha untuk mengamatinya, meskipun tidak semata-mata. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun dengan sengaja telah berhenti pula di halaman yang tidak terlalu kelam oleh dedaunan yang padat. Mereka berbincang tentang apa saja dan seolah-olah mereka benar-benar sedang melepaskan ketegangan tanpa maksud apa-apa.
Orang yang berada di dalam gubug itu melihat dalam gelapnya malam bayangan keduanya. Tetapi mereka memang tidak tahu dengan pasti, apa yang telah dilakukan oleh kedua anak muda itu. Bahkan mereka mendengar suaranya, tetapi tidak jelas apa yang di bicarakannya.
Ki Sarpa Kuning sendiri adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia memiliki ketajaman penglihatan melampaui murid-muridnya. Tetapi Ki Sarpa Kuning itu pun tidak melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun nampaknya keduanya tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Meskipun demikian, akhirnya Ki Sarpa Kuning itu berkata, “Cepat sedikit. Apa saja yang kalian lakukan? Pintu yang terbuka itu membuat udara sangat dingin”
“Silahkan pintunya ditutup saja” jawab Mahisa Murti.
Tetapi Ki Sarpa Kuning berkata, “Cepat. Masuklah. Jangan menjawab lagi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membantah lagi. Mereka pun kemudian melangkah kepintu yang masih sedikit terbuka itu. Demikian mereka berada di dalam. maka mereka telah menutup pintu rapat-rapat dan menyelaraknya. Sehingga Ki Sarpa Kuning berdesis, “Nah, bukankah dengan demikian udara terasa hangat?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi mereka tidak segera berbaring di tempatnya. Keduanya masih saja duduk di bibir pembaringan untuk beberapa saat. Namun sementara itu, tidak ada lagi orang yang menghiraukan mereka, sehingga akhirnya keduanya pun telah berbaring pula di tempat mereka semula.
Meskipun demikian, Mahisa Murti benar-benar tidak tertidur lagi sebagaimana disepakati bersama dengan Mahisa Pukat. Meskipun Mahisa Murti seolah-olah telah tertidur pula seperti Mahisa Pukat, namun sebenarnyalah ia berjaga-jaga dengan hati-hati.
Namun dalam pada itu, sama sekali tidak terjadi sesuatu atas kedua anak muda itu. Ki Sarpa Kuning dan ketiga orang muridnya sama sekali tidak berbuat sesuatu. Mereka membiarkan saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap berbaring ketika mereka terbangun dan keluar dari gubug mereka. Bahkan seorang di antara murid-murid Ki Sarpa Kuning itu telah menjerang air dan menanak nasi.
Tetapi justru karena itu, kedua anak muda itu menjadi curiga.
Dalam pada itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya bangkit juga dari pembaringan mereka, dan selagi keduanya keluar dari pintu gubug itu, maka orang berkumis, salah seorang murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Nah, kau sudah cukup tidur. Makan telah tersedia. Karena itu, makanlah”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun Mahisa Murti telah menjawab, “Tetapi kami belum mandi”
Orang berkumis itu menggeram. Namun Gajah Wareng lah yang kemudian berkata ”Mandilah, dan makanlah. Jangan menunggu kami menjadi muak”
Rasa-rasanya ada sesuatu yang akan terjadi. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja berusaha untuk tidak memberikan kesan apa pun juga.
Bahkan Mahisa Pukat pun berkata seolah-olah tidak merasakan sesuatu atas sikap murid-murid Ki Sarpa Kuning itu, “Baiklah. Kami akan mandi dahulu di belik itu”
“Cepat” bentak Gajah Wareng, “aku tidak sabar lagi menunggu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah melangkah. Tetapi Gajah Wareng berkata kepada kawannya yang kemarin mengantarkan kedua anak muda itu, “Pergilah. Kau juga belum mandi”
Orang itu pun mengangguk kecil. Meskipun seakan-akan dari sorot matanya terbaca gejolak perasaannya.
Ketiga orang itu pun kemudian pergi ke belik untuk mandi. Sementara itu, Mahisa Murti telah mencoba untuk bertanya, “Aku tidak mengerti sikap Ki Sarpa Kuning dengan murid-muridnya. Mereka kadang-kadang nampak ramah dan baik hati, tetapi kadang-kadang wajah mereka menjadi seram dan menakutkan”
“Kau belum terbiasa dalam perguruan kami” jawab orang itu. Lalu, “Pada suatu saat kau akan terbiasa dengan sifat-sifat mereka. Mereka dapat lunak seperti sutera. Tetapi mereka kadang-kadang keras seperti batu hitam. Dan kadang-kadang menjadi tajam setajam duri landak”
“Membingungkan. Apakah ketika kau memasuki perguruan ini kau tidak menjadi bingung?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku membiasakan diri selama sepuluh bulan. Baru kemudian aku menjadi biasa dan mengerti apa yang harus aku lakukan. Pada saat yang demikian, baru terasa bahwa tempat ini agak kurang sesuai dengan pribadiku. Tetapi aku sudah terlambat. Aku tidak dapat keluar lagi dari tempat ini” ia berhenti sejenak, lalu, “Agak berbeda dengan adikku. Ia justru merasa tempat ini adalah tempat yang paling sesuai dengan dirinya”
“Apakah adikmu menyusul kemudian?” bertanya Mahisa Murti.
“Kami datang bersama-sama” jawab orang itu. Kemudian, “Tetapi ia pergi lebih dahulu justru ialah yang menganggap tempat ini adalah tempat yang paling baik
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya semakin mengenal orang yang pendiam itu. Orang yang lebih banyak berbuat daripada berbicara. Meskipun wajahnya nampak keras dan garang, namun ternyata isi dadanya jauh lebih lunak dari wadagnya itu. Justru karena ia merasa tersesat memasuki perguruan itu.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat pun bertanya pula, “Jika kau merasa tidak sesuai dengan tempat ini, kenapa kau tidak meninggalkannya?”
“Terlambat” jawab orang itu, “sudah aku katakan, bahwa ketika aku menyadari bahwa tempat ini kurang sesuai bagiku, aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk pergi. Kecuali jika aku memang sudah tidak ingin lagi hidup.
“Mereka mengancammu?” bertanya Mahisa Murti.
“Bagi perguruan ini, siapa pun yang tidak lagi diperlukan, maka mereka akan disingkirkan dalam arti yang sebenarnya” jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun bertanya, “Kenapa mereka tergesa-gesa memaksa aku mandi dan makan? Apakah ada tugas yang akan segera kita lakukan?”
“Ya. Kita akan pergi ke Kabuyutan di bawah” jawab orang itu, “tetapi apakah sebelumnya ada sesuatu yang penting akan dilakukan oleh guru, aku tidak mengetahuinya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka telah mendapat gambaran lebih banyak tentang perguruan yang aneh itu, perguruan yang diliputi oleh tajamnya racun dan bisa.
Beberapa saat lamanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mandi. Murid Ki Sarpa Kuning yang mengantarkan itu pun mandi pula, meskipun ia berkata, “Aku tidak terbiasa mandi sepagi ini. Aku mandi kapan saja aku mau. Kadang-kadang sehari penuh aku tidak mandi. Tetapi kadang-kadang sampai tiga kali atau lebih lagi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi dengan demikian mereka mendapat gambaran lebih banyak lagi. Kehidupan di perguruan itu memang tidak teratur.
“Jangan terlalu lama” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu kemudian” kita tentu dan ditunggu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun segera kembali ke pesanggrahan bersama murid Ki Sarpa Kuning yang menyertai mereka.
Sebenarnyalah, mereka memang sudah ditunggu. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian makan dan minum. Namun sebelum mereka selesai, Ki Sarpa Kuning telah memberikan penjelasan tentang rencananya hari itu.
“Kita akan pergi ke padukuhan di ujung Kabuyutan itu” berkata Ki Sarpa Kuning, “hari ini kedua anak muda itu belum sempat mendapat latihan-latihan dan pengenalan diri mereka. Tetapi hal itu akan segera dilakukan. Meskipun demikian, kalian telah terikat oleh paugeran ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun mereka mengangguk-angguk kecil. Bagaimanapun juga, mereka harus menunjukkan, bahwa mereka akan berusaha untuk menjadi murid yang baik.
Demikian mereka yang makan itu selesai, maka Ki Sarpa Kuning pun berkata, “Kita akanberangkat. Hari ini kita berjanji untuk mengunjungi mereka. Padukuhan yang memiliki penghuni paling baik dari seluruh Kabuyutan. Mereka menghargai sikap yang wajar tanpa dibuat-buat. Mereka menerima pemimpin yang paling baik yang akan dapat membuat Kabuyutan mereka menjadi Kabuyutan yang besar, subur dan sejahtera”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak bertanya apa pun juga. Tetapi ia dapat menghubungkan hal itu dengan keterangan yang pernah mereka dengar di kedai, bahwa dua padukuhan merupakan pengukung dari saudara sepupu Ki Buyut yang sebenarnya tidak berhak untuk mewarisi jabatan itu, karena Ki Buyut mempunyai seorang anak perempuan. Namun sayang bahwa menantunya adalah orang yang berhati lemah, sehingga ia hampir tidak pernah berbuat sesuatu untuk mendapatkan jabatan tertinggi di Kabuyutan itu.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Sarpa Kuning bersama dengan lima orang muridnya telah meninggalkan pesanggrahannya dan melangkah menuju ke Kabuyutan yang sedang bergejolak itu.
“Kita akan memiliki hutan-hutan di pegunungan ini” berkata Ki Sarpa Kuning “hutan ini akan kita buka menjadi tanah pertanian. Kita akan menebangi semua pepohonan agar kita dapat memanfaatkan tanahnya?”
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Ki Sarpa Kuning bersama dengan lima orang muridnya telah meninggalkan pesanggrahannya dan melangkah menuju ke
Kabuyutan yang sedang bergejolak.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun mereka yakin bahwa Ki Sarpa Kuning tahu benar akan ucapan-ucapannya. Ki Sarpa Kuning tentu tahu,
bahwa dengan menjadikan lereng pegunungan itu daerah yang tidak berpohon, maka bencana akan menyerang daerah subur yang memberikan alas persediaan makanan
bagi Singasari. Sawah dan ladang di setiap tahun akan mengalami bencana. Banjir atau kekeringan.
Demikianlah, maka iring-iringan kecil itupun kemudian menuruni lereng bukit dan keluar dari daerah berhutan yang hijau rimbun.
Perlahan-lahan mereka melangkah maju
melalui padang rumput dan perdu yang sempat. Kemudian mereka telah memasuki bulak-bulak persawahan.
“Kita menuju kepadukuhan yang nampak itu” berkata Ki Sarpa Kuning “kita akan meyakinkan mereka, bahwa mereka tentu akan dapat mencapai kemenangan dalam persoalan yang sedang mereka hadapi. Sebenarnyalah
saudara sepupu Ki Buyut itulah yang berhak atas kedudukan itu, karena Ki Buyut yang telah meninggal itu sebenarnya telah merampas hak saudara sepupunya”
Keterangan itu sangat menarik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mungkin hal itu sekedar merupakan alasan. Tetapi keterangan itu tentu akan melengkapi pengetahuannya terhadap seluruh Kabuyutan itu.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar