Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 023-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 023-03*

“Ya. Sebuah padepokan. Aku adalah salah seorang cantriknya. Padepokan ini dipimpin oleh Panembahan Bajang,” jawab cantrik itu.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Lalu iapun bertanya, “Apakah setiap orang boleh menghadap?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Dipandangi Mahisa Bungalan dengan tajamnya. Kemudian iapun bertanya, “Kau siapa Ki Sanak?”

“Aku seorang pengembara,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku sudah lama mengembara. Sebenarnya aku ingin berhenti. Semisal burung yang terbang di udara, aku menjadi kelelahan. Aku ingin mendapat tempat untuk hinggap.”

“Kau dapat beristirahat di padepokan ini Ki Sanak,” jawab cantrik itu.

“Apakah pemimpin padepokan ini tidak akan marah?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Tidak. Tentu tidak. Panembahan Bajang adalah seorang Panembahan yang sangat baik. Ia suka menolong orang-orang yang mengalami kesulitan,” jawab cantrik itu.

“Jadi aku juga diperkenankan menghadap?” bertanya Mahisa Bungalan itu pula.

“Tentu Ki Sanak jika Panembahan kebetulan ada,” jawab cantrik itu, “Tetapi sayang, Panembahan sedang tidak ada di tempat.”

“O.“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. “jadi Panembahan Bajang itu sedang pergi?”

“Ya,” jawab cantrik itu.

“Kemana?” bertanya Mahisa Bungalan, “Dan kapan Panembahan Bajang itu akan pulang?”

“Panembahan Bajang sedang mengunjungi kawan-kawannya. Ia mungkin berada di padepokan Lemah Teles, tetapi mungkin berada di padepokan Ara-ara Lawang,” jawab cantrik itu.

“O.“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula. “Siapakah yang tinggal di kedua padepokan itu.“

Di Lemah Teles tinggal Ki Ajar Bomantara, sedangkan di padepokan Ara-ara Lawang tinggal mPu Lengkon,” jawab cantrik itu.

“Keduanya sahabat Panembahan Bajang?” bertanya Mahisa Bungalan pula.

“Ya. Mereka adalah orang-orang yang paling akrab dengan Panembahan Bajang,” jawab cantrik itu.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi Ki Sanak, selain Panembahan Bajang, apakah ada orang lain yang berpengaruh di padepokan ini dan dapat memberikan perlindungan kepadaku jika aku berada di padepokan ini?”

“Kenapa kau bertanya begitu? Tidak akan ada apa-apa. Aku bertanggung jawab. Jika terjadi sesuatu atasmu pada saat Panembahan Bajang pulang, biarlah leherku dipenggal. Kau tidak perlu perlindungan apapun juga,” jawab cantrik itu. “Apalagi di padepokan ini memang tidak ada orang lain. Panembahan Bajang memimpin padepokan ini seorang diri,” jawab cantrik itu.

“Dan ia juga pergi seorang diri?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Panembahan Bajang pergi seorang diri. Sudah menjadi kebiasaannya pergi seorang diri kemanapun,” jawab cantrik itu. Namun tiba-tiba cantrik itulah yang bertanya, “Kau terlalu banyak ingin mengerti Ki Sanak.”

“O, tidak.” Dengan serta merta Mahisa Bungalan menjawab, “Aku hanya ingin berbicara. Apa saja.”

“Baiklah. Silahkan, bukankah kau ingin minum dan kemudian ingin berteduh di padepokan kami?” bertanya cantrik itu.

“Aku memang ingin minum Ki Sanak. Tetapi apakah aku akan berteduh di padepokan ini atau tidak, akan aku bicarakan dengan kawanku. Tetapi karena Panembahan Bajang tidak ada, mungkin aku akan singgah kemudian,“ jawab Mahisa Bungalan.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun terbersit kesan pada wajahnya, bahwa cantrik itu justru ingin lebih banyak tahu tentang Mahisa Bungalan itu.

Namun dalam pada itu, dengan sikap seorang yang sangat letih, iapun melangkah mendekati genthong yang berisi air. Dengan sebuah siwur dari batok kelapa ia mengambil air dari genthong itu dan meneguknya. Alangkah segarnya.

Pangeran Singa Narpada pun kemudian mendekat pula ketika Mahisa Bungalan memanggilnya dan minum pula sepuas-puasnya.

Melihat betapa kedua orang itu minum, maka seakan-akan kecurigaan cantrik itu menjadi hilang. Karena itu, maka iapun bertanya, “Jadi, apakah kalian akan singgah atau tidak?”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku akan datang lagi pada saat Panembahan Bajang ada di padepokan.”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah. Sebenarnya tidak akan terjadi sesuatu meskipun Panembahan tidak ada. Tetapi jika kalian ragu-ragu, apa boleh buat.”

“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah kami ingin singgah di kesempatan lain,” jawab Mahisa Bungalan.

Cantrik itupun kemudian melangkah pergi. Agaknya ia akan pergi ke sawah atau ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari di padepokan itu.

Dengan demikian, maka baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Singa Narpada mengambil kesimpulan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak ada di tempat itu. Seandainya ia ada di padepokan itu, maka ia tidak lebih dari cantrik kebanyakan. Karena itu, maka keduanya menganggap bahwa untuk sementara padepokan itu dapat ditinggalkan.

“Jika kita singgah di padepokan itu, dan Lembu Sabdata ada diantara mereka yang disebut para cantrik, maka ia akan segera mengenal aku,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Jika ia mengenal aku lebih dahulu daripadanya, maka ia tentu akan dengan diam-diam meninggalkan padepokan ini dan bersembunyi di tempat yang lebih rumit lagi.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan demikian maka tugasnya bersama Pangeran Singa Narpada akan menjadi semakin sulit.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada melanjutkan. “Sedangkan jika Lembu Sabdata tidak ada di padepokan itu, maka waktu kita pun akan terampas jika kita singgah.”

“Ya Pangeran,” jawab Mahisa Bungalan yang memang tidak ingin singgah di tempat itu, “Karena itu, maka kita akan berjalan terus, ke padepokan berikutnya.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita kembali ke tempat kita bersembunyi untuk menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kita akan segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Dari Arya Rumpit aku sudah mendapat ancar-ancar kedua padepokan itu. Mudah-mudahan kita akan dapat menemukannya.”

Dengan demikian maka keduanya pun telah meninggalkan padepokan yang sedang ditinggalkan oleh pemimpinnya itu. Mereka yakin bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak ada di padepokan itu. Selain keterangan cantrik itu, memang tidak ada seorang-pun yang pantas dicurigai sebagai Pangeran Lembu Sabdata yang hilir mudik dan keluar masuk padepokan itu.

Namun demikian Pangeran Singa Narpada masih ingin meyakinkan lagi untuk barang sehari. Dari tempat yang tersembunyi menjelang matahari terbit, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan mengamati isi padepokan itu dari sebatang pohon di luar dinding, sementara di sore harinya, menjelang senja, pengamatan itupun diulanginya. Namun hasilnya, mereka memang tidak melihat orang yang mirip atau dapat disangka sebagai Pangeran Lembu Sabdata.

Karena itulah, maka di hari berikutnya, ketika sisa malam masih gelap, maka Pangeran Singa Narpada bersama-sama dengan kelompoknya telah meninggalkan tempat persembunyiannya dan melangkah menuju ke padepokan yang lain.

“Kita mau kemana?” bertanya Pangeran Singa Narpada, ”Kepada Ki Ajar yang dipanggil guru oleh Pangeran Kuda Permati atau ke padepokan mPu Lengkon?”

“Terserahlah kepada Pangeran,” jawab Mahisa Bungalan, “bagi kita agaknya sama saja. Seandainya kita tahu kemana Panembahan Bajang itu pergi, maka kita akan memilih mengunjungi padepokan yang dikunjungi oleh Panembahan Bajang itu. Tetapi karena kita tidak tahu, maka yang manapun akan sama saja bagi kita.”

“Ya. Beruntunglah jika kita sampai ke padepokan yang kebetulan dikunjungi pula oleh Panembahan Bajang,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian maka mereka akan menuju ke padepokan yang paling dekat diantara padepokan Ki Ajar dan padepokan mPu Lengkon.

“Kita hanya memerlukan waktu kira-kira dua hari untuk sampai ke padepokan mPu Lengkon. Sedangkan jika kita pergi ke padepokan Ki Ajar, kita memerlukan waktu tiga hari. Meskipun demikian masih juga tergantung apakah kita selalu berada di jalan yang benar. Jika kita salah memilih jalan, mungkin waktunya akan dapat menjadi lebih panjang,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Sebagaimana orang yang pernah mengembara maka mudah-mudahan kita tidak terlalu banyak mengalami kesulitan untuk mengenali jalan yang sudah diancar-ancarkan. Tetapi memang tidak mustahil bahwa kita salah memilih jalan sehingga kita akan memakan waktu yang lebih panjang,” jawab Mahisa Bungalan.

Namun baik Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan, maupun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah orang-orang yang sudah terbiasa melakukan pengembaraan sehingga bagi mereka perjalanan yang mereka tempuh saat itu bukanlah perjalanan yang akan sampai kepada batas jalan buntu, karena mereka akan mungkin memecahkan kesulitan-kesulitan untuk sampai ke tujuan.

Dengan tidak banyak kesulitan di perjalanan mereka mencari pertanda-tanda yang pernah disebut oleh Arya Rumpit yang akan membawa mereka sampai ke padepokan mPu Lengkon. Ternyata bahwa pertanda-pertanda itu cukup meyakinkan sehingga keempat orang itu merasa bahwa mereka akan dapat sampai ketujuan sesuai dengan waktu yang diperkirakan atau seandainya menjadi bertambah panjang, tentu tidak akan sampai menjadi dua kali lipat.

Seperti perjalanan yang pernah ditempuh, baik oleh keempat orang itu ketika mereka pergi ke padepokan Panembahan Bajang, maupun perjalanan-perjalanan yang lain dari Pangeran Singa Narpada sendiri, maka mereka tidak perlu cemas mengalami kesulitan tentang makan dan minum di perjalanan, karena Pangeran Singa Narpada memang membawa bekal uang yang cukup. Sehingga kadang-kadang justru telah menimbulkan berbagai tanggapan dari orang-orang yang bersamaan berada di dalam sebuah warung. Bahkan ada juga pemilik warung yang ragu-ragu, apakah ia akan memenuhi semua pesanan keempat orang itu. Ada pemilik warung yang berprasangka bahwa keempat orang itu akan tidak membayar pesanan mereka dan begitu saja pergi sebagaimana memang pernah terjadi bahwa sekelompok orang-orang yang tidak bertanggung jawab memesan makanan dan minuman serta menghabiskannya, namun tidak mau membayar harganya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak pernah merugikan orang lain dengan cara yang demikian. Namun justru karena itu, maka orang-orang yang melihatnya menjadi heran, bahwa sekelompok pengembara nampaknya membawa bekal yang cukup banyak.

Namun agaknya bekal yang cukup itu memang selalu menarik perhatian. Ternyata keempat orang pengembara itu telah terjebak ke dalam sebuah padukuhan yang dihuni oleh sekelompok perampok yang garang.

Ketika keempat orang itu mohon untuk diijinkan bermalam di banjar, maka dengan ramah orang yang menjaga banjar itu mempersilahkan. Bahkan keempat orang itu telah mendapatkan pelayanan yang sangat baik.

Tetapi dalam pada itu, penjaga banjar itu telah menghubungi Ki Bekel dari padukuhan itu dan menceriterakan bahwa empat orang pengembara bermalam di banjar.

“Apakah mereka membawa sesuatu yang berharga?” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak tahu Ki Bekel. Tetapi Ki Subra siang tadi berceritera tentang empat orang pengembara yang dijumpainya di sebuah warung dan ternyata menurut pengamatannya, membawa uang yang cukup banyak,” jawab penjaga banjar itu.

“Hubungi Subra dan tanyakan kepadanya, apakah benar orang-orang itu yang dimaksud. Jika benar, maka malam nanti, kalian dapat bertindak,” jawab Ki Bekel.

“Jika bukan?” bertanya penjaga itu.

“Biarkan mereka bermalam dengan tenang dan tidur dengan nyenyak di Banjar ini. Biarlah mereka menceriterakan kepada orang-orang yang mereka jumpai bahwa padukuhan kita adalah padukuhan yang sanggup memberikan tempat bagi orang yang kemalaman, memberikan minum bagi orang yang kehausan dan memberi makan kepada orang yang kelaparan,” berkata Ki Bekel. ”Tetapi jika benar keempat orang itu memiliki bekal yang berarti bagi kita, maka keempatnya nanti malam harus dikubur di tempat yang sudah disediakan bagi mereka yang mengalami nasib buruk di padukuhan ini.”

Penjaga banjar itu mengangguk-angguk. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian pergi ke rumah Ki Subra untuk meyakinkan apakah keempat orang itu benar orang-orang yang dimaksud.

Ketika orang yang disebut Ki Subra dihubungi oleh penjaga banjar itu, maka iapun segera pergi ke banjar untuk melihat apakah benar keempat orang itu adalah orang yang dilihatnya di warung dengan bekal uang yang cukup banyak.

“Ya. Mereka,” berkata Ki Subra.

“Menurut Ki Bekel, kita dapat bertindak malam nanti,” berkata penjaga banjar itu.

Ki Subra mengangguk-angguk. Katanya, “berikan isyarat kepada orang-orang padukuhan ini, bahwa malam ini kita menjebak empat orang yang harus kita selesaikan.”

Penjaga banjar itu mengangguk-angguk. Karena itulah, maka sejenak kemudian, maka penjaga banjar itu telah memukul kentongan dengan irama dara muluk, tetapi dengan beberapa isian yang tidak terbiasa terdengar pada irama dara muluk. Isian dengan pukulan ganda empat, dua kali berturut-turut.

Orang-orang lain dari penghuni padukuhan itu tidak tahu apakah arti dari bunyi kentongan itu. Nadanya memang tidak jauh berbeda dengan nada dara muluk biasa, sehingga dalam sekilas, orang-orang yang mendengarkannya menganggap bahwa bunyi kentongan itu memang bernada dara muluk. Bahkan ada yang menganggap bahwa pemukul kentongan itu telah membuat beberapa kesalahan yang tidak disengaja.

Tetapi bagi penghuni padukuhan itu, maka suara kentongan itu merupakan satu perintah, agar penghuni padukuhan itu bersiap-siap. Ada empat orang di banjar yang akan mereka jadikan mangsa, sehingga sebidang tanah yang memang mereka sediakan di pinggir padukuhan itu akan bertambah dengan empat orang penghuni baru di dalam selimut tanah yang merah. Tanah yang di dalamnya telah disimpan berpuluh bahkan beratus mayat orang-orang yang terjebak dan bermalam di padukuhan itu. Bahkan mereka yang lewat di siang hari pun, jika mereka dianggap membawa bekal yang cukup, akan dapat diseret masuk ke dalam lubang yang digali di tempat itu.

Namun karena seisi padukuhan itu telah menceburkan diri dalam kerja yang kotor itu, maka justru rahasia mereka menjadi sangat rapat. Jika terjadi seseorang yang hilang di perjalanan maka orang tidak akan mengira bahwa orang itu telah hilang di padukuhan itu. Siang maupun malam.

Tetapi ternyata keempat orang yang berada di banjar saat itu, telah tertarik dengan bunyi kentongan itu. Bahkan Mahisa Pukat telah berdesis di telinga Mahisa Murti, “Kau dengar irama yang aneh itu?”

“Ya, irama dara muluk. Tetapi ada perbedaan dari irama yang biasa kita dengar. Mungkin padukuhan ini memang mempunyai kebiasaan yang berbeda,” sahut Mahisa Murti.

Namun agaknya Pangeran Singa Narpada pun telah merasa tergelitik oleh bunyi kentongan itu. Pengalamannya ketika ia pergi ke Singasari telah memperingatkannya, bahwa ia harus berhati-hati.

“Mungkin seseorang telah melihat bekal yang aku bawa sebagaimana pernah terjadi,” berkata Pangeran Singa Narpada yang kemudian menceriterakan apa yang pernah dialami di perjalanan ke Singasari. “Mungkin kita akan berhadapan dengan sekelompok orang, bahkan mungkin lebih luas lagi. Irama suara kentongan itu memang sangat menarik perhatian.”

Mahisa Bungalan pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita agaknya harus berhati-hati. Keramahan penjaga banjar itu memang agak berlebihan terhadap kita, empat orang pengembara. Mungkin dibalik sikapnya itu memang terdapat maksud yang kurang baik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menangkap kesan dari ceritera Pangeran Singa Narpada tentang orang yang menginginkan uang yang dibawanya. Memang tidak mustahil bahwa orang-orang padukuhan itupun menghendaki uang yang dibawa oleh Pangeran itu pula. Ditambah dengan bekal Mahisa Bungalan dan kedua adiknya.

Bagaimanapun juga keempat orang itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka menjadi ketakutan. Tetapi jika terjadi benturan kekuatan, maka mungkin akan jatuh korban karenanya. Orang-orang padukuhan itu mungkin telah salah menilai keempat pengembara yang berada di banjar itu. Jika keempat orang itu tersudut ke dalam keadaan yang sulit, maka sengaja atau tidak sengaja mereka akan dapat melepaskan kemampuan ilmu mereka yang nggegirisi.

Namun demikian mereka juga tidak menganggap bahwa isi padukuhan itu adalah orang-orang yang lemah. Memang mungkin saja ada diantara mereka yang memiliki kemampuan yang tinggi, yang memimpin kawan-kawannya melakukan pekerjaan yang kelam itu.

Tetapi mereka harus menunggu. Mungkin semua yang buram itu tidak lebih dari sekedar prasangka. Sehingga dengan demikian maka mungkin tidak akan terjadi sesuatu atas mereka.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka beberapa orang anak muda telah berada di gardu di depan banjar.

Agaknya memang sesuatu yang wajar. Anak-anak muda itu sebagaimana padukuhan yang lain, sedang mendapat giliran meronda. Bahkan semakin malam, seperti juga di padukuhan-padukuhan lain, gardu itu menjadi semakin penuh. Yang ada di gardu ternyata bukan hanya mereka yang meronda saja, tetapi anak-anak muda yang tidak segera dapat tidur, juga keluar rumah dan berada di gardu untuk mencari kawan bergurau dan kadang-kadang bertengkar.

Namun semuanya itu tidak terlepas dari pengamatan keempat orang yang mendapat kesempatan bermalam di banjar. Mereka dengan seksama memperhatikan setiap perkembangan keadaan diluar banjar. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian mereka melihat beberapa orang yang duduk-duduk di serambi banjar itu.

“Orang diluar menjadi semakin banyak,” desis Mahisa Pukat.

“Kita memang harus berhati-hati,” sahut Mahisa Murti sambil berbaring di tempatnya.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan nampaknya sudah tertidur nyenyak, karena mereka sama sekali tidak bergerak dan nafas mereka beredar dengan sangat teratur.

Namun sebenarnyalah mereka tidak tertidur. Mereka masih tetap memperhatikan suasana dengan cara mereka. Meskipun demikian setiap peristiwa diluar banjar itu tidak luput dari perhatian mereka. Juga kehadiran orang-orang yang semakin lama menjadi semakin banyak. Baik di gardu maupun di serambi banjar.

Mendekati tengah malam, maka Ki Bekel pun telah datang pula di banjar. Yang terdengar dari dalam banjar hanyalah percakapan yang tidak jelas maknanya. Namun keempat orang pengembara itu menduga, bahwa yang diucapkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh diantara orang-orang yang lain adalah perintah-perintah. Keempat orang yang berada di dalam banjar itu tidak mengetahui, siapakah sebenarnya yang baru datang itu.

Untuk beberapa saat keadaan justru menjadi sepi. Namun kemudian keempat orang yang berada di dalam banjar itu mendengar desir-desir langkah kaki tidak hanya di bagian depan dari banjar itu. Tetapi menurut tangkapan mereka, beberapa orang justru telah berada di sisi dan di belakang banjar.

Karena itu maka keempat orang yang berada di dalam banjar itu semakin menyadari keadaan mereka.

Keempat orang itu terkejut, ketika mereka mendengar kentongan yang tiba-tiba saja berbunyi. Juga dalam irama dara muluk dengan isian bunyi pukulan ganda empat, dua kali berturut-turut.

Pangeran Singa Narpada telah menggamit Mahisa Bungalan yang berbaring di sebelahnya, sementara Mahisa Bungalan telah menggamit Mahisa Murti dan selanjutnya Mahisa Pukat. Mereka menganggap bahwa bunyi kentongan itu tentu satu isyarat yang harus mereka perhatikan dengan saksama.

Karena itu, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun telah bergeser menjauh dari Mahisa Bungalan. Rasa-rasanya detak jantung mereka pun menjadi semakin cepat berdetak.

“Kita telah dijebak,” desis Mahisa Murti di telinga Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “Jika kita dipaksa mempergunakan kekerasan apa boleh buat. Meskipun sebenarnya kita tidak ingin.”

Mahisa Murti tidak menyahut lagi. Namun mereka menyadari, bahwa orang-orang yang berada di luar banjar itu menjadi semakin banyak.

Sebenarnyalah, diluar Ki Bekel telah mengatur orang-orangnya. Banjar yang dibangun di tengah-tengah halaman dan kebun itu memang sudah diatur, bahwa orang-orang padukuhan itu akan dapat mengepung dengan rapat.

Dengan ketajaman pendengarannya, keempat orang yang berada di dalam banjar itupun menyadari, bahwa banjar itu memang sudah dikepung rapat. Sentuhan senjata tanpa sengaja telah menimbulkan kesan bahwa orang-orang yang berada di halaman di sekeliling banjar itu bersenjata.

Dengan demikian maka keempat orang yang berada di banjar itu telah dicengkam oleh ketegangan. Tanpa melihat dengan mata kewadagan, mereka sudah dapat mengetahui betapa rapatnya banjar itu telah dikepung.

Karena itulah, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian justru telah bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu Mahisa Bungalan pun telah berdiri pula sambil berjalan hilir mudik, sedangkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk pula di bibir pembaringan mereka yang besar.

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun mendengar langkah orang mendekati pintu bilik mereka. Perlahan-lahan mereka pun kemudian mendengar bahwa pintu bilik itu telah diketuk.

“Siapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku. Ki Bekel,” jawab suara diluar pintu.

Pangeran Singa Narpada tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian membuka pintu bilik itu.

Diluar pintu seorang yang rambutnya telah mulai memutih berdiri termangu-mangu. Di belakangnya berdiri empat orang anak muda yang bersenjata tombak pendek justru telah teracu.

“Apakah aku berhadapan dengan Ki Bekel?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya Ki Sanak,” jawab Ki Bekel, ”Aku adalah Bekel yang memerintah di padukuhan ini.”

“O, marilah Ki Bekel,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Ki Bekel yang telah memberikan tempat kepada kami untuk bermalam di sini.”

“Banjar ini memang aku peruntukkan bagi mereka yang membutuhkan di samping bagi kepentingan rakyat padukuhan ini sendiri. Orang yang kemalaman akan dapat tidur disini dengan nyenyak seperti yang kami harapkan dapat terjadi pula atas kalian.”

“Ya Ki Bekel. Kami telah tertidur nyenyak disini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi tentu saja banjar ini jangan di salah gunakan,” berkata Ki Bekel.

“Disalah-gunakan bagaimana maksud Ki Bekel?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ternyata kalian adalah orang-orang yang menjadi buruan prajurit Singasari maupun Kediri karena kalian terlibat dalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati yang telah terbunuh,” berkata Ki Bekel.

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Lalu ia-pun bertanya, “Bagaimana mungkin Ki Bekel dapat menuduh kami termasuk para pengikut Pangeran Kuda Permati?”

“Kami sudah mendapat keterangan tentang kalian berempat. Karena itu, kalian tidak usah ingkar. Sekarang berikan semua yang kalian bawa untuk kami periksa apakah isinya. Mungkin kalian membawa sesuatu yang menjadi larangan atau kalian memang sengaja menyembunyikan sesuatu milik para pengikut Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Sekali ia berpaling ke arah Mahisa Bungalan. Sementara Mahisa Bungalan telah berdiri pula di sisinya sambil berkata, “Barang-barang apakah yang dimaksud dengan barang larangan Ki Bekel.”

“Sudahlah,“ potong Ki Bekel. “Kami sudah berbuat baik kepada Ki Sanak berempat dengan memberikan tempat untuk bermalam. Tetapi ternyata bahwa kalian bukannya orang yang pantas mendapat tempat yang baik. Sekarang berikan kampil yang kalian bawa untuk kami lihat apa isinya.”

Pangeran Singa Narpada berpaling ke arah kampilnya yang diletakkannya di pembaringan. Kampil itu berisi beberapa lembar pakaian dan uang.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun menjawab, “Ki Bekel. Kampil itu berisi bekal kami di perjalanan. Beberapa lembar pakaian dan sedikit uang. Kami tidak membawa apa-apa lagi.”

”Berikan kampil itu. Bukan hanya sebuah, tetapi semua yang kalian bawa. Kami pun ingin melihat kantong-kantong ikat pinggang kalian dan semua yang ada pada kalian sekarang ini,” suara Ki Bekel menjadi semakin keras.

Maka sadarlah Pangeran Singa Narpada, bahwa ia berhadapan dengan seluruh isi padukuhan. Padukuhan yang aneh, yang jarang ditemuinya. Ternyata bahwa seisi padukuhan itu telah terlibat ke dalam satu perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan telah dipimpin oleh Ki Bekel dari padukuhan itu sendiri.

Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun akhirnya menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat lain kecuali dengan kekerasan.

Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam pada itu, karena keempat orang pengembara itu tidak segera menyerahkan barang-barang mereka, maka Ki Bekel itu-pun menjadi semakin keras berkata, “Cepat. Kami ingin melihat apa yang kalian bawa. Jika kalian tidak merasa bersalah dan memang bukan pengikut Pangeran Kuda Permati, maka kalian tentu tidak akan berkeberatan untuk menyerahkan barang-barang kalian sekedar kami lihat.”

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa Mahisa Pukat telah bertanya, “Ki Bekel. Apakah Ki Bekel juga mengetahui serba sedikit tentang pemberontakan Pangeran Kuda Permati? Apakah daerah ini juga tersentuh oleh gejolak pemberontakan itu?”

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Lalu katanya, “Kami adalah kawula yang setia dari Singasari yang harus ikut menumpas semua pemberontakan yang menentang Singasari. Karena Pangeran Kuda Permati memberontak kepada Kediri untuk melepaskan Kediri dari ujud kesatuannya dengan Singasari, maka pemberontakan itu harus ditumpas.”

Jawaban itu memang menarik perhatian. Seolah-olah Ki Bekel memang telah berbuat sesuatu bagi kesatuan Singasari. Namun ternyata yang diajak berbicara oleh Ki Bekel itu adalah Pangeran Singa Narpada. Orang yang telah dengan susah payah memadamkan pemberontakan itu sendiri.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak akan dapat mengatakan tentang dirinya yang sebenarnya, untuk kepentingan tugasnya yang lebih besar. Demikian pula Mahisa Bungalan.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Ki Bekel. Kami adalah pengembara yang tidak mempunyai sangkut paut dengan persoalan yang bergejolak antara Kediri dan Singasari. Meskipun gelombang pemberontakan itu terasa juga oleh kami dalam pengembaraan kami, tetapi bukankah pemberontakan itu sendiri sudah ditumpas sekarang ini? Karena itu, maka adalah janggal jika Ki Bekel masih juga menuduh kami, atau setidak-tidaknya menduga kami mempunyai hubungan dengan pemberontakan itu.”

“Jangan banyak bicara,” bentak Ki Bekel, ”berikan kampil itu kepadaku. Keputusan tentang kalian, tergantung dari hasil pemeriksaan kami atas barang-barang yang kalian bawa. Jika barang-barang yang kalian bawa tidak mencurigakan, maka kalian tidak perlu gelisah. Kalian akan kami bebaskan. Tetapi jika yang ada di dalam kampil kalian itu barang-barang terlarang, maka kalian harus mempertanggung jawabkannya. Hukuman bagi seorang pengkhianat adalah hukuman gantung di halaman banjar, disaksikan oleh orang-orang padukuhan ini.”

“Apakah Ki Bekel berhak menjatuhkan hukuman itu kepada seseorang dengan alasan bahwa orang itu telah terlibat ke dalam satu pemberontakan?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kenapa tidak,” jawab Ki Bekel.

“Apakah Ki Bekel dalam hal ini tidak melampaui kuasa Akuwu yang membawahi padukuhan ini? Setidak-tidaknya Ki Buyut dari Kabuyutan ini?”

“Dalam keadaan seperti ini aku berhak mengatasi segala kemelut yang terjadi di padukuhanku,” jawab Ki Bekel.

“Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa? Bukankah dengan demikian Ki Bekel tidak mempunyai alasan untuk bertindak atas kami berempat?” bertanya Mahisa Bungalan pula.

Wajah Ki Bekel menjadi merah. Dari pembicaraan itu, ki Bekel Justru telah mendapat kesan lain tentang keempat orang itu. Keempatnya bukan sekedar pengembara sebagaimana para pengembara yang lain. Tetapi keempat orang itu adalah orang-orang yang memiliki bekal pengertian tentang peristiwa yang telah terjadi di atas tanah yang mereka huni itu.

Namun ternyata bahwa telah tumbuh pula dugaan yang justru berlawanan dengan keadaan keempat orang itu yang sebenarnya. Ki Bekel yang mengetahui dari laporan salah seorang penghuni padukuhannya bahwa keempat orang pengembara itu membawa banyak uang di dalam kampilnya, telah dihinggapi dugaan bahwa bukannya pengembara, tetapi mereka adalah orang-orang yang berkelakuan jahat. Mereka adalah perampok dan penyamun.

Karena itulah, maka Ki Bekel menganggap perlu untuk lebih berhati-hati menghadapi mereka. Karena biasanya para perampok dan penyamun memiliki bekal kemampuan olah kanuragan.

Tetapi seisi padukuhan itupun adalah perampok dan penyamun. Mereka sudah terbiasa membantai korban-korban mereka. Baik mereka yang bermalam di banjar itu, ataupun mereka yang sekedar lewat di padukuhan itu. Orang-orang yang terjebak ke dalam tangan-tangan penghuni padukuhan itu, biasanya telah hilang tanpa memberikan bekas. Tetapi kuburan yang tersembunyi di pinggir padukuhan itu telah bertambah lagi dengan penghuni yang baru.

Menghadapi keempat pengembara itu, Ki Bekel ternyata bersikap lebih berhati-hati. Dengan tajam ia kemudian berkata. ”Ki Sanak. Sebaiknya kalian tidak usah mempersoalkan sikap kami. Kami menghendaki kalian menyerahkan barang-barang yang kalian bawa. Jangan banyak bicara lagi, karena kesabaran kami akan sampai kepada batasnya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia bukan termasuk orang yang dapat bersabar menghadapi persoalan-persoalan yang demikian. Namun demikian, ia masih berusaha untuk mengekang diri. Dengan menahan perasaannya ia berkata, “Ki Bekel. Baiklah, jika Ki Bekel berkeberatan kami tinggal di banjar ini, biarlah kami meneruskan perjalanan meskipun hari belum pagi.”

“Tidak. Kami tidak berkeberatan siapapun bermalam di banjar ini. Tetapi serahkan barang-barang kalian untuk kami lihat, apakah ada barang-barang yang menjadi barang larangan,” jawab Ki Bekel.

Pangeran Singa Narpada mengatupkan giginya untuk menahan gejolak perasaannya. Namun yang kemudian menjawab ternyata adalah Mahisa Pukat. Katanya, “Ki Bekel. Barang-barang kami adalah milik kami. Meskipun demikian, jika Ki Bekel ingin melihat, marilah, masuklah ke dalam bilik ini tanpa ada orang lain. Silahkan melihat isinya. Tetapi jangan bawa kampil kami keluar dari bilik ini.”

Ki Bekel memandang Mahisa Pukat dengan sorot mata yang memancarkan gejolak perasaannya. Dengan nada keras ia berkata, “Serahkan. Aku akan membawa barang-barang kalian ke gardu untuk melihat isinya disaksikan oleh para peronda.”

“Tidak. Ki Bekel hanya dapat melihat isinya disini, di hadapan kami para pemiliknya. Jika ada barang-barang terlarang, silahkan menunjukkan dan mungkin Ki Bekel dapat berbuat sesuatu atas penemuan barang-barang terlarang itu,” jawab Mahisa Pukat.

Wajah Ki Bekel menjadi semakin tegang. Agaknya keempat orang itu bukan pengembara yang dengan mudah dapat diancamnya dan menjadi ketakutan. Tetapi keempat orang itu tentu memiliki bekal yang cukup sehingga mereka berani menentang perintahnya.

Karena itu, maka dalam kemarahannya Ki Bekel itu memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap dan berhati-hati.

“Ki Sanak,“ geram Ki Bekel, ”Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa disini. Di luar banjar ini telah berkumpul semua laki-laki dari padukuhan ini. Mereka datang untuk menjaga nama baik padukuhannya dari sentuhan para pemberontak.”

Pangeran Singa Narpada ternyata juga sudah kehilangan kesabarannya sehingga katanya dengan nada yang menjadi keras, “Ki Bekel. Jangan mengada-ada. Katakan saja maksudmu yang sebenarnya. Apakah kau dan seisi padukuhan ini ingin merampok kami?”

Wajah Ki Bekel menjadi merah membara. Ia yakin, bahwa keempat pengembara itu bukan pengembara kebanyakan. Mungkin mereka pun memang perampok-perampok yang menyamar sebagai pengembara. Karena itu, maka katanya, “Dengan kekasaran sikapmu itu, aku yakin bahwa kalian memang pemberontak atau perampok-perampok yang memanfaatkan keadaan yang kalut ini untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Jika demikian, maka menyerahlah. Kalian akan kami tangkap.”

“Ki Bekel,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Ternyata dibalik keramahan orang-orangmu yang mempersilahkan kami bermalam di banjar ini tersembunyi niat yang sangat jahat. Tetapi jangan mengharap bahwa kami akan menyerahkan barang-barang kami. Kami akan mempertahankannya dengan kemampuan dan tenaga yang ada pada kami.”

“Kalian akan melawan semua orang laki-laki di padukuhan ini?” bertanya Ki Bekel.

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada tegas, ”Siapapun yang tersangkut dalam usaha perampokan ini, akan kami hancurkan. Jangan menyesal bahwa banjar ini akan menjadi karang abang. Bahkan mungkin seisi padukuhan ini akan ditelan oleh amuk api yang menyalakan kemarahan hati kami.”

“Gila,“ geram Ki Bekel, ”Kau jangan mengigau seperti itu. Kau kira bahwa kau akan dapat menakut-nakuti kami?”

“Kaulah yang menakut-nakuti kami. Tetapi kami akan menunjukkan bahwa kami bukan kelinci-kelinci yang ketakutan melihat moncong serigala,” jawab Pangeran Singa Narpada yang marah.

Bahkan Mahisa Pukat pun kemudian telah berteriak nyaring, “Minggirlah. Aku akan turun ke halaman. Aku akan keluar dari tempat ini. Siapa yang berusaha mencegah aku, maka aku akan membunuhnya.”

Mahisa Pukat tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian mengambil seikat barang-barangnya. Kemudian mengikatkannya pada lambungnya. Kepada Mahisa Bungalan ia berkata, “Marilah kakang. Jangan menunggu lebih lama lagi.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun telah mengambil kampilnya pula. Seperti Mahisa Pukat, maka iapun mengikatkan kampil itu dengan tali pada lambungnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Bungalan pun melakukannya pula hal yang serupa. Sehingga mereka berempat kemudian telah siap untuk keluar dari banjar itu dan turun ke halaman yang dipenuhi oleh orang-orang padukuhan itu. Mereka ternyata telah siap menunggu dengan senjata-senjata mereka.

Yang justru berada di paling depan adalah Mahisa Pukat. Ketika ia melangkah maju, maka Ki Bekel pun telah melangkah surut.

Empat orang anak muda yang menyertai Ki Bekel telah mengacukan tombak mereka untuk mencegah keempat orang itu melangkah terus. Bahkan Ki Bekel pun telah menarik pula senjatanya. Sebilah keris yang besar yang diselipkannya di punggungnya.

“Kami akan menghabisi jiwa kalian,“ geram Ki Bekel.

Namun sama sekali tidak diduga, bahwa Mahisa Bungalan tanpa menjawab telah mulai dengan serangannya. Terlalu cepat untuk dapat diikuti dengan mata wadag. Namun yang terjadi sangat mengejutkan Ki Bekel dan anak-anak muda yang mengawalnya.

Tiba-tiba saja sebuah diantara tombak pendek itu telah beralih ke tangan Mahisa Bungalan. Bahkan kemudian dengan gerak yang tidak diketahui ujung pangkalnya, maka ketiga tombak yang lain pun telah terlepas pula. Sementara itu terdengar Mahisa Bungalan berkata, “Pergunakan semata untuk mengurangi Kematian.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun sadar, bahwa kedua adik Mahisa Bungalan yang baru saja menyelesaikan laku untuk mencapai ilmu puncaknya itu akan lebih berbahaya jika ia tidak memegang senjata. Jika keduanya melepaskan ilmunya dengan tangannya yang tidak memegang senjata, maka mungkin justru akan menelan korban lebih banyak dari antara orang-orang padukuhan itu yang tidak memiliki ketahanan tubuh yang memadai. Namun jika mereka menggenggam tombak, maka keadaannya akan berbeda. Keduanya akan terikat dalam permainan senjata. Jika mereka sudah merasa aman dengan perlindungan senjata itu, maka mereka tidak akan sampai ke puncak ilmu mereka yang nggegirisi.

Sementara itu, Ki Bekel yang melihat peristiwa yang tidak diduganya, bahkan di dalam mimpi sekalipun, dengan serta merta telah meloncat berlari ke halaman sambil meneriakkan aba-aba, “Mereka adalah iblis-iblis terkutuk. Bersiaplah. Kita akan membunuh mereka beramai-ramai.”

Mahisa Murti, Mahisa Bungalan dan bahkan Pangeran Singa Narpada pun telah mengambil senjata-senjata yang terlepas dari tangan anak-anak muda yang mengawal Ki Bekel. Sehingga dengan demikian maka anak-anak muda itu telah berlari pula mengikuti Ki Bekel turun ke halaman.

Keempat orang yang berada di banjar itupun telah maju selangkah demi selangkah melintasi pendapa. Mahisa Bungalan lah yang kemudian berada di paling depan. Ketika ia berdiri di tangga pendapa, maka sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh halaman dan memperhatikan orang-orang padukuhan itu yang berpencar dengan senjata di tangan, maka Mahisa Bungalan itupun berkata, “Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya kalian kehendaki dari kami? Mungkin kalian menyangka bahwa kami membawa bekal yang cukup banyak, sehingga kalian telah bersusah payah berusaha untuk merampok kami, justru dipimpin oleh Ki Bekel sendiri. Apakah dengan demikian berarti bahwa kalian telah kehilangan martabat kemanusiaan kalian dan sampai hati melakukan tindak terkutuk itu bersama-sama?”

“Persetan,“ Ki Bekel lah yang menjawab, “Kalian adalah orang-orang yang terlibat ke dalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati. Karena itu, maka kalian harus mati. Barang-barang yang kalian bawa akan menjadi bukti dari pengkhiatan kalian itu.”

“Apakah yang kami bawa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ternyata kalian berkeberatan memperlihatkan barang-barang yang kalian bawa kepada kami,” teriak Ki Bekel.

“Bohong,“ Mahisa Pukat pun berteriak pula, “Kalian akan merampas bekal kami. Jangan banyak bicara. Kami sudah siap. Jangankan seisi padukuhan ini, seisi Pakuwon ini pun kami tidak akan gentar.”

Wajah-wajah di halaman itu menjadi tegang. Keempat orang itu nampaknya benar-benar tidak merasa gentar menghadapi laki-laki seisi padukuhan. Dengan tombak pendek yang berhasil mereka rampas, keempat orang itu nampaknya benar-benar bersiap untuk melawan.

Namun dalam pada itu Ki Bekel masih berkata, “Masih ada kesempatan bagi kalian. Jika kalian menyerah dan menyerahkan barang-barang terlarang yang kalian bawa, maka kalian akan mendapat pengampunan. Kalian akan mengalami nasib yang lebih baik daripada nasib kalian jika kalian berusaha untuk melawan kami.”

Mahisa Pukat pun telah turun dari tangga pendapa diikuti oleh Mahisa Murti. Mereka telah bersiap menghadapi orang-orang yang mulai bergerak. Dengan teriakan-teriakan nyaring Ki Bekel memerintahkan orang-orangnya untuk mengepung dan menyerang keempat orang pengembara yang bermalam di banjar mereka itu.

Sementara itu, dari halaman di samping pendapa itupun beberapa orang telah menjadi semakin dekat. Bahkan dari sisi sebelah menyebelah beberapa orang telah naik pula ke pendapa dengan senjata teracu.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian melawan orang-orang padukuhan. Tetapi ketika ia mengingat bahwa padukuhan itu adalah sarang perampok yang dapat menjebak orang-orang yang lewat di padukuhan itu, maka timbul pula niatnya untuk membuat seisi padukuhan itu jera, meskipun mungkin harus ada pula korban yang jatuh.

“Cukup,“ potong Mahisa Pukat, “Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dahulu. Bukan salah kami jika separuh dan kalian akan mati, dan yang separuh lagi akan berlari terbirit-birit.“

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...