*HIJAUNYA LEMBAH. JILID021-02*
Ternyata sebagaimana dilaporkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Mahisa Bungalan-pun sependapat dengan langkah-langkah yang diambil oleh Panji Sempana Murti di Kediri. orang-orang yang melarikan diri ke Singasari itu menghadapi perlawanan yang sama, sementara Mahisa Bungalan telah mengerahkan prajuritnya sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, sepasukan prajurit masih berjuang untuk dapat menguasai api. Dengan susah payah mereka berhasil memisahkan hutan yang terbakar itu dengan bagian yang masih belum tersentuh api. Meskipun dengan demikian mereka harus mengorbankan beberapa patok tanaman di hutan itu. Namun ternyata mereka tidak sempat menebangi pohon-pohon raksasa, sehingga karena itu, maka kadang-kadang garis pemisah itu harus berbelok apabila membentur pohon raksasa yang tidak mungkin ditebang dalam waktu dekat.
Dengan bekerja keras, maka akhirnya para prajurit itu dapat membatasi daerah yang menjadi mangsa api. Meskipun para prajurit itu tidak mampu menahan hutan yang tertelan oleh nyala api itu, tetapi api itu tidak lagi menjalar keluar dari daerah yang terkurung oleh garis pemisah yang dibuat oleh para prajurit.
Sementara itu, maka orang-orang Kediri yang menyusup ke Singasari-pun menjadi semakin kehabisan ruang gerak. Mereka terdesak masuk kedalam hutan-hutan yang lebat dan jauh dari padukuhan untuk menghindarkan diri dari kejaran orang-orang Singasari. Sementara itu seperti di Kediri, maka di padukuhan-padukuhan anak-anak muda telah bangkit dan dengan berani melawan mereka meskipun setiap kali anak-anak muda di padukuhan-padukuhan itu masih harus membunyikan kentongan untuk memanggil para prajurit dari pasukan berkuda untuk segera datang membantu mereka.
Dengan demikian, maka pada suatu saat, orang-orang Kediri itu telah benar-benar merasa terjepit.
Namun dengan demikian, maka mereka-pun telah kehilangan tujuan mereka. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar mempertahankan hidup. Kadang-kadang mereka menyamun dan merampok. Tetapi usaha itu-pun semakin lama menjadi semakin sulit dilakukan karena tekanan pasukan Mahisa Bungalan.
Maka akhirnya tidak ada jalan lain bagi mereka daripada menyerahkan diri.
Karena itulah, maka baik di Singasari, mau-pun di Kediri, suasana berangsur menjadi tenang. Beberapa kelompok kecil yang masih tertinggal tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerahkan diri. Apa-pun yang akan mereka alami, maka mereka akhirnya harus memilih langkah itulah yang dapat mereka ambil satu-satunya.
Dengan demikian, maka yang dapat di atas di Singasari bukan saja orang-orang yang melarikan dari Kediri, tetapi juga alas-alas tempat berpijak dari orang-orang Kediri itu, yang memang sejak semula berada di Singasari sendiri.
Namun demikian, bukan berarti bahwa segala sesuatunya telah selesai. Orang-orang Singasari kemudian masih selalu sibuk dengan hutan-hutan mereka. Baik yang ditebangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan apalagi yang telah dibakar, sehingga sebagian dari hutan yang subur itu telah menjadi sebuah padang yang merah gersang. Namun demikian, api itu tidak dapat membuat tanah itu menjadi cengkar. Karena jika sekali saja hujan menitik, maka turnbuh-tumbuhan-pun akan tumbuh pula dipadang yang merah dan gersang itu.
Ketika musim hujan kemudian tiba, maka para prajurit Singasari mempunyai kesibukan baru. Bersama rakyat dibawah lereng bukit, mereka telah berusaha untuk menanam pepohonan di hutan-hutan yang telah ditebangi serta yang telah dimakan oleh api. Sehingga dengan demikian, maka lereng-lereng yang gersang itu kemudian mulai nampak hijau subur lagi. Meskipun pepohonan yang ada kemudian masih baru tumbuh, namun hijaunya seminya dedaunan memberikan warna harapan bagi masa depan.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Kediri masih belum tenang benar meskipun tidak nampak pada wujud lahiriahnya. Namun demikian, beberapa orang bangsawan justru mulai merenungi perjuangan Pangeran Kuda Permati. Jika semula seakan-akan mereka tidak sempat untuk memikirkannya, namun kemudian ketika Kediri menjadi tenang, maka waktu-pun terasa semakin lapang untuk melihat Kediri dalam hubungannya dengan Pakuwon dan Singasari sendiri.
Ketika seorang Pangeran sempat datang ke sebuah ruang tempat membatasi gerak Pangeran Lembu Sabdata, maka Pangeran itu mendengar dalam ketidak sadarannya Pangeran Lembu Sabdata telah mengigau tentang cita-cita perjuangan Pangeran Kuda Permati.
“Cita-cita itu memang menarik,” berkata Pangeran itu, “Tetapi cara yang diambil oleh Kakangmas Kuda Permati ternyata keliru.”
Namun dalam pada itu, Pangeran yang menganggap langkah-langkah Pangeran Kuda Permati itu keliru, telah merenungkan cara-cara yang lebih tepat untuk berbuat sesuatu.
Dengan demikian, maka keinginan Kediri untuk memisahkan diri atau bahkan sebaliknya menguasai Singasari tidak dapat dipadamkan sejalan dengan padamnya pemberontakan Pangeran Kuda Permati. Namun para Pangeran di Kediri tidak ingin melakukan kesalahan sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati yang jusru telah membakar Kediri dan mengorbankan putera-putera terbaiknya.
“Cara yang ditempuh harus cara yang lebih baik dengan persiapan yang lebih masak,” berkata seorang Pangeran, “Karena itu, maka selagi Sri Baginda di Kediri masih memegang pemerintahan, maka sulit bagi Kediri untuk dapat berbuat sesuatu.”
Beberapa orang pemimpin Kediri menganggap bahwa persatuan dibawah Singasari sebenarnya dapat terjadi sebaliknya. Persatuan dibawah pimpinan Kediri. Tanpa mengorbankan usaha mempersatukan daerah yang sangat luas dalam satu panji-panji. Namun Kedirilah yang seharusnya memegang panji-panji kekuasaan.
Tetapi semuanya masih harus disimpan didalam hati. Para pemimpin itu sadar, bahwa mereka masih harus menunggu satu tataran keturunan lagi untuk dapat bertindak sesuai dengan mimpi yang mengasyikkan itu.
Namun sebaliknya, Singasari yang melihat kesungguhan para pemimpin Kediri melawan pemberontakan Pangeran Kuda Permati merasa bahwa para pemimpin di Kediri benar-benar menempatkan diri pada tata hubungan yang sudah ada antara Kediri dan Singasari. Karena itu, maka Singasari telah menaruh kepercayaan yang semakin besar kepada Kediri.
Bersamaan dengan kepercayaan yang semakin tebal itu, maka pepohonan di lereng-lereng pegunungan-pun tumbuh dengan suburnya. Hutan-hutan yang semula kehilangan kelebatannya, telah menjadi lebat kembali. Seribu macam pepohonan telah membuat hutan-hutan menjadi hijau dan lembah-lembah-pun nampak semakin subur bagaikan dibentangi selembar permadani yang hijau tebal menyelubungi lembah dan lereng pegunungan.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah melakukan satu tugas yang penting. Dalam keadaan yang paling sulit dalam hubungan antara Singasari dan Kediri, maka kedua anak muda itu telah ikut serta menunaikan tugas-tugas yang berbahaya.
Dalam keadaan yang semakin tenang, maka keduanya telah menjadi lebih banyak berada kembali di rumahnya.
Namun satu hal yang masih tetap mengganggu perasaan mereka, adalah masa-masa permulaan dari petualangan mereka.
Namun mereka selalu teringat pula pesan ayahnya dan juga kakaknya, agar mereka tidak terlalu cepat menyangkutkan nama-nama mereka dengan nama-nama seorang gadis.
Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bukannya menghentikan sama sekali kegiatan mereka hilir mudik antara Singasari dan Kediri. Sekali-sekali ia masih juga berada di Kediri, di sebuah kedai nasi dan bahkan masih juga membantu Pugutrawe menyelenggarakan kedai itu.
Namun adalah berita yang sulit untuk mendapat tempat dalam pembicaraan-pembicaraan resmi, bahwa pada saat yang demikian ternyata ada benih-benih yang pada suatu saat akan dapat tumbuh menjadi pohon raksasa yang akarnya menghunjam jauh kedalam tanah dan mencengkeram tanpa dapat dilepaskan lagi.
“Kakang Mahisa Bungalan,” berkata Mahisa Murti pada suatu saat, “para petugas sandi di Kediri masih tetap mencemaskan keadaan.”
“Kami dapat mengerti,” jawab Mahisa Bungalan, “Tentu sisa-sisa sikap para pengikut Pangeran Kuda Permati tidak dapat dihapuskan dalam waktu satu dua hari.”
“Bukan kakang,” potong Mahisa Pukat, “bukan sisa-sisa sikap, Pangeran Kuda Permati, tetapi justru semacam satu keyakinan yang baru tumbuh. Mereka sama sekali tidak menghendaki peristiwa yang baru saja terjadi itu terulang. Satu peristiwa pahit yang telah hampir saja melumpuhkan Kediri. Pada umumnya para pemimpin di Kediri telah memuji sepak Pangeran Singa Narpada, yang meskipun seorang yang keras hati, namun dengan tidak jemu-jemunya berusaha untuk mengurangi korban sejauh dapat dilakukan. Bahkan usahanya untuk mempertemukan puteri Purnadewi dengan Pangeran Kuda Permati merupakan landasan yang paling tepat untuk menghentikan perang yang tiada berkeputusan. Kemudian pengorbanan puteri Purnadewi adalah pengorbanan yang tidak ada taranya.”
“Jadi apa yang mereka lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Lebih berbahaya dari sekedar menebangi pepohonan. Meskipun juga satu rencana jangka yang panjang,” jawab Mahisa Murti.
“Ya, apa?” desak Mahisa Bungalan.
“Mereka menanamkan pengertian, bahwa sebenarnya Kediri mempunyai kedudukan yang lebih penting dari Singasari,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian sambil tersenyum, “jangan dirisaukan. Kesadaran itu tidak akan dapat mempangaruhi para pemimpin Kediri yang sudah meyakini, bahwa hubungaan antara Kediri, Singasari dan keluarga yang lain adalah hubungan yang serasi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memberikan bukti-bukti yang dapat meyakinkan Mahisa Bungalan. Tetapi ia berusaha untuk memperingatkan para pemimpin di Singasari lewat Mahisa Bungalan, agar mereka tidak menjadi lengah.
“Jangan cemas,” ulang Mahisa Bungalan, “Meskipun demikian peringatan ini akan kami perhatikan. Kami akan selalu menunggu keterangan-keterangan yang dapat memberikan petunjuk tentang pergolakan yang terjadi di Kediri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Kami akan mencoba. Tetapi keterangan yang akan dapat kami berikan tergantung sekali kepada kegiatan kawan-kawan kita yang ada di Kediri. Tetapi kita dapat yakin, bahwa mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Bukan untuk mencari kesalahan-kesalahan, tetapi untuk kepentingan bersama. Karena persoalan hubungan antara Kediri dan Singasari akan menyangkut kelestarian hidup Singasari sebagai satu kesatuan yang besar yang meliputi daerah yang sangat luas.”
Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Kalian benar. Karena itu, maka setiap keterangan akan kami hargai. Namun aku ingin memperingatkan kepada kalian, bahwa kalian jangan terlalu dicengkam oleh kegiatan-kegiatan yang masih belum menunjukkan arah yang pasti.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Mahisa Pukat menjawab, “Baiklah kakang. Tetapi kamipun tidak akan dapat terlalu mengabaikan keadaan di Kediri.”
Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasakan bahwa orang-orang dan terutama para pemimpin di Singasari terlalu percaya bahwa Kediri benar-benar telah dapat diamankan. Bukan saja dari unsur gerak kewadagannya, tetapi juga unsur kejiwaannya. Sehingga dengan demikian, maka Singasari yang mengikuti pergolakan di Kediri itu menganggap bahwa pemimpin-pemimpin di Kediri telah menunjukkan satu sikap yang dapat diandalkan untuk menanggulangi pikiran-pikiran lain yang tumbuh di Kediri.
Namun Singasari melupakan satu hal yang sebenarnya sangat penting. Sri Baginda sendiri sebenarnya selalu dibayangi oleh keragu-raguan, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak segera menghambat gerakan Pangeran Kuda Permati, sehingga gerakkan itu sempat menjadi besar dan sulit untuk diselesaikan. Bahkan Sri Baginda merasa sangat kecewa ketika Pangeran Singa Narpada menangkap Pangeran Lembu Sabdata, sehingga justru telah mengambil satu kebijaksanaan yang aneh. Keduanya telah dimasukkan kedalam tahanan.
Baru ketika api peperangan tidak dapat dipadamkan, Pengeran Singa Narpada telah diberi kesempatan untuk bertindak. Meskipun agak terlambat, namun akhirnya dengan bantuan dan pengorbanan yang tiada taranya dari puteri Purnadewi, api peperangan dapat dipadamkan.
Tetapi keraguan-raguan Sri Baginda itu merupakan satu hal yang sangat gawat bagi perkembangan Kediri selanjutnya. Langkah-langkah yang kemudian diambil sama sekali tidak menunjukkan satu kepastian sikap menghadapi Singasari. Sehingga nampak satu kecenderungan bahwa sebenarnya Sri Baginda juga melihat satu sisi yang lain dari hubungan antara Kediri dan Singasari.
Namun demikian, Sri Baginda masih tetap memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Sebagai seorang Raja, maka Sri Baginda harus memperhatikan keadaan rakyatnya dalam keseluruhan segi kehidupan mereka.
Karena itu, maka untuk sementara, Sri Baginda di Kediri tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa didalam hubungan antara Kediri dan Singasari terdapat persoalan.
Namun tidak mudah untuk melihat batin seseorang. Tidak ada orang yang tahu, apa yang tersimpan di hati Sri Baginda di Kediri.
Pada saat-saat menjelang tidur, Sri Baginda selalu merenungi persoalan yang hidup didalam lingkungannya. Juga persoalan yang hidup didalam dirinya.
Tetapi Sri Baginda mencoba untuk berlaku bijaksana, sehingga ia hanya dapat berkata didalam hatinya, “Aku akan menyerahkan segala sesuatunya kepada penggantiku kelak. Apakah ia akan tetap menerima kenyataan Kediri seperti sekarang, atau ia mempunyai pilihan lain.”
Karena itu, bagi Sri Baginda, persoalan hubungan antara Kediri dan Singasari telah ditundanya untuk satu keturunan. Sementara itu putera Sri Baginda mulai tumbuh menjadi seorang anak yang mempunyai kelebihan dari anak-anak yang lain. Dalam masa anak-anaknya putera Sri Baginda di Kediri telah menunjukkan bahwa ia akan dapat menjadi seorang yang melampaui tataran orang kebanyakan.
Sementara itu, semakin lama keadaan baik di Kediri mau-pun di Singasari dalam ujud lahiriahnya, menjadi semakin tenang. Tidak ada lagi pertempuran-pertempuran yang merenggut berpuluh jiwa. Tidak ada lagi kekerasan yang membakar hubungan antara manusia. Meskipun seka-li-sekali masih juga terdengar suara titir yang memberitahukan peristiwa yang dapat menimbulkan kematian dan bencana, sebagaimana terjadinya perampokan dan kekerasan yang lain, namun peristiwa yang demikian jarang sekali terjadi. Para prajurit di Kediri mau-pun di Singasari serta daerah-daerah yang lain akan dengan cepat mengatasinya. Sehingga dengan demikian, maka menurut ujud lahiriahnya, Singasari dan keluarga besarnya telah menjadi tenang.
Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Bungalan sempat memperhatikan keadaan dua adiknya. Karena itu pada saat ia mendapat kesempatan untuk pulang dan kebetulan sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ada di rumah, maka Mahisa Bungalan telah minta waktu kepada ayahnya untuk dapat berbicara dengan kedua adiknya itu di hadapan ayahnya.
“Apa yang penting untuk dibicarakan secara khusus Mahisa Bungalan?” bertanya Mahendra.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ayah. Aku tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk bertualang, untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman didalam kehidupannya sebagai bekal dimasa mendatang. Tetapi keduanya harus memperhatikan keadaan yang berkembang di sekitar kita sekarang. Setiap orang menjadi semakin tinggi tingkat ilmunya. Memang dalam bertualang, keduanya akan mendapat pengalaman yang dapat memberikan arti kepada ilmu dasar mereka untuk berkembang. Tetapi pada mulanya apa yang mereka kuasai adalah masih pada tataran yang belum menodai.”
Mahendra mengangguk-angguk. Ia mulai mengerti maksud anaknya. Ternyata bahwa Mahisa Bungalan juga masih tetap memperhatikan keadaan adiknya meskipun ia sendiri selalu terlibat kedalam tugas-tugas yang sangat berat. Karena itu, maka Mahendra-pun berkata, “Jadi, kau bermaksud untuk menahan kedua adikmu agar tetap tinggal di rumah. Setidak-tidaknya untuk sementara, agar dengan demikian, maka mereka mendapat kesempatan melengkapi bekal mereka?”
“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “aku menjadi cemas bahwa dasar ilmu dari perguruan yang tersalur kepada kita akan menjadi semakin berkurang. Bukankah kita mengenal paman Witantra yang seakan-akan tidak ada tandingnya di samping paman Mahisa Agni. Keduanya sudah terlalu tua. Sementara itu ayah juga sudah menjadi semakin tua pula. Tetapi mungkin kemampuan yang ayah miliki masih tersimpan sebagian besar didalam diri ayah sendiri. Karena itu, maka apakah sekiranya ayah tidak berniat untuk menuangkan ilmu yang ada di dalam diri ayah itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sampai tuntas. Mereka akan dapat menjadi pewaris ilmu ini dengan sepenuhnya. Akan lebih mantap kiranya, jika kami yang muda-muda ini juga mampu menguasai dengan sempurna ilmu Bajra Geni atau jika paman Mahisa Agni tidak berkeberatan, ilmu yang pada akhirnya akan mampu melontarkan kekuatan aji Gundala Sasra. Dalam petualangannya kelak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapat lebih banyak memberikan arti kepada kehidupan di sekelilingnya.”
Mahendra mengangguk-angguk pula. Sebenarnya ia sependapat dengan Mahisa Bungalan. Jika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sempat menyadap ilmu puncak dari saluran ilmu mereka, maka cabang ilmu mereka-pun semakin lama akan menjadi semakin susut, sehingga akhirnya, akan merupakan cabang ilmu yang tidak bernilai dibandingkan dengan cabang ilmu yang lain.
Karena itu, maka Mahendra-pun kemudian berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Anak-anak. Kalian mendengar keterangan kakakmu yang tentu sudah kalian mengerti maksudnya? Karena itu akan memerlukan pendapatmu apakah kalian setuju dengan kakakmu Mahisa Bungalan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Namun rasa-rasanya mereka masih senang menempuh perjalanan hilir mudik dari Kediri ke Singasari dengan membawa persoalan-persoalan yang kadang-kadang nampaknya tidak berarti, tetapi ternyata harus mendapat perhatian yang cukup besar. Apalagi hubungannya dengan orang-orang Singasari dalam tugas sandi di Kediri menjadi semakin rapat, sehingga rasa-rasanya mereka tidak akan dapat meninggalkan kawan-kawan mereka itu.
Karena kedua adiknya tidak segera menjawab, maka Mahisa Bungalan kemudian berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mungkin kau merasa bahwa kau terpanggil untuk melakukan tugasmu sekarang, sehingga kau menyenanginya. Tetapi kau harus memikirkan masa depan yang panjang bagi tugas-tugas yang lebih besar. Selebihnya siapakah yang akan mewarisi kemampuan yang tersimpan didalam cabang ilmu pada jalur keluarga kita?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun akhirnya Mahisa Murti-pun berkata, “Banyak yang harus kami pertimbangkan kakang. Tetapi yang paling menyentuh hati kami adalah pertanyaan kakang. Siapakah yang akan mewarisi ilmu keluarga kita seutuhnya, karena satu kenyataan bahwa kami berdua sekarang memang bukan apa-apa.”
“Jadi, apakah kalian sudah dapat mengambil satu kepastian sikap?” bertanya Mahisa Bungalan.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukatlah yang menjawab, “Kakang. Dengan demikian, maka rasa-rasanya memang ada kewajiban bagiku untuk melanggengkan cabang ilmu keluarga kita, dan bahkan mungkin juga ilmu yang tersimpan didalam diri paman Witantra dan paman Mahisa Agni. Paman Witantra mempunyai jalur ilmu yang sama dengan ayah, tetapi paman Mahisa Agni agaknya mempunyai sumber ilmu yang berbeda. Jika sampai saat ini ilmu yang kami pelajari masih jauh dari pada utuh, maka baiklah, kami akan bersedia untuk melakukannya.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya ilmu dasarnya memang sudah kalian kuasai. Tetapi kalian harus membuka kemungkinan untuk mengembangkannya dengan laku yang berat. Itulah yang harus kalian lakukan kemudian.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Tetapi kami harus minta diri kepada kawan-kawan kami di Kediri.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat dengan begitu saja meninggalkan tugasnya. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun harus melaporkan kepada perwira yang telah memberikan kepadanya pertanda bagi petugas sandi di Kediri, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat berhubungan dengan seorang pemilik kedai bernama Pugutrawe dan kemudian bekerja bersamanya dengan bantuan beberapa orang dan terutama bantuan Ki Waruju meskipun ia tidak termasuk dalam lingkungan para petugas sandi, tetapi ia cukup banyak memberikan pertolongan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di dalam tugas-tugasnya.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan-pun kemudian berkata. “Aku tidak berkeberatan jika kalian memang ingin minta diri kepada orang-orang yang telah bekerja bersamamu dalam tugas sandimu. Tetapi setelah itu, kau harus kembali kepada ayah dan mulai dengan menempa diri lebih baik lagi bagi kepentingan di masa depan. Bukankan kau menyadari, bahwa dalam keadaan yang kemelut, yang menurut keterangan kalian sendiri, Kediri justru bergerak lebih jauh dari sekedar menebangi pepohonan, karena beberapa orang pemimpin mereka justru telah menyebarkan keyakinan yang meracuni hubungan Kediri dan Singasari, maka setiap orang memerlukan bekal untuk menghadapi masa yang mungkin akan diliputi oleh pertentangan di Kemudian hari?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat-pun berkata, “Baiklah Kakang. Aku mengerti sepenuhnya bahwa kami harus berusaha untuk tidak ditinggalkan oleh kemajuan ilmu disekeliling kami. Karena itu, maka kami akan dengan segera berada kembali di rumah untuk berbuat sebaik-baiknya, agar ilmu kami dapat meningkat.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Jika kalian kembali, segala sesuatunya terserah kepada ayah. Ayah dapat menempa kalian tanpa bantuan orang lain, tetapi ayah juga dapat minta bantuan paman Witantra dan paman Mahisa Agni sebagaimana dilakukan atas aku dahulu. Tetapi ternyata banwa aku tidak dapat menekuni keinginan ayah untuk menjadi seorang yang berilmu tingi. Karena itu, selagi masih ada kesempatan bagi kalian, maka kalian dapat mempergunakan sebaik-baiknya.”
Mahisa Murti memandang ayahnya sekilas. Kemudian katanya, “Bagaimana dengan keputusan ayah? apakah kami boleh pergi lebih dahulu ke Kediri sebagaimana dikatakan oleh kakang Mahisa Bungalan.”
“Aku sependapat dengan kakakmu,” jawab Mahendra, “Tetapi berhati-hatilah. Kalian harus dapat menjelaskan dengan meyakinkan bahwa kalian tidak menarik diri. Tetapi kalian ingin memperlengkap bekal kalian untuk melakukan tugas tugas kalian kelak. Dengan demikian, maka kalian tidak akan mengalami banyak hambatan.”
“Baiklah ayah,” berkata Mahisa Murti, “Kami akan segera berangkat dalam waktu dekat. Jika hari ini kami selesai berbenah diri, maka besok pagi-pagi benar kami akan berangkat ke Kediri, menemui kawan-kawan yang berada di Kediri.”
“Pergilah,” berkata Mahendra, “Sementara itu aku sempat berbicara dengan paman-pamanmu Witantra dan Mahisa Agni. Dalam usia mereka yang semakin tua, apakah mereka masih sanggup untuk bekerja keras, menempa kalian, sehingga kalian memiliki kemampuan yang pantas bagi tugas-tugas kalian kelak.”
Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah memutuskan untuk segera pergi ke Kediri, agar mereka segera dapat mulai dengan satu tugas baru yang tidak kalah beratnya dari tugas yang pernah diembannya sebelumnya meskipun tugas-tugas mendatang lebih condong kepada tugas-tugas untuk kepentingan pribadi. Tetapi hasilnya kelak akan dapat dipergunakannya sebagai bekal pengabdiannya kepada Singasari.
Demikianlah, seperti yang dikatakannya, maka di keesokan harinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah siap untuk berangkat. Di halaman, ayahnya mengantarkannya sampai ke regol, sementara Mahisa Bungalan telah tidak ada lagi di rumah itu karena ia sudah kembali semalam ke baraknya.
“Hati-hatilah,” berkata Mahendra, “jangan terjerat justru pada saat kau ingin menyatakan diri untuk sementara meninggalkan tugas-tugas sandi itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun dengan tulus menyatakan kesanggupan mereka untuk selalu mengingat segala pesan ayahnya.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu-pun telah meninggalkan rumahnya menuju ke Kediri. Dengan demikian, maka keduanya telah menempuh jarak yang cukup jauh. Namun jarak itu sudah ditempuhnya berulang kali, selama mereka melakukan tugas sandi mereka.
Sementara itu, di sebuah padepokan yang terpencil jauh dari pusat-pusat keramaian, seorang pertapa duduk terpekur merenungi ujung tongkatnya yang terbuat dari emas, berukir kepala seekor kuda. Sekali-sekali pertapa yang duduk sendiri diatas sebuah batu hitam di halaman samping padepokannya itu tanpa ada seorang cantrik-pun yang menemaninya, karena pertapa itu memang ingin duduk sendiri.
Namun kemudian ia jemu pada kesendiriannya, dan dipanggilnya seorang putut yang peling dekat dengan dirinya.
Tetapi Putut itu hanya dapat duduk sambil menunduk. Ia tidak berani berbicara mendahului pertapa yang nampaknya sedang berduka itu.
Namun akhirnya pertapa itulah yang bertanya kepada Putut itu, “Apakah pekerjaanmu sudah selesai?”
Putut itu mengangguk hormat sambil menjawab, “Masih ada yang belum selesai guru. Tetapi tidak terlalu penting.”
“Apa?” bertanya pertapa itu.
“Kami, para cantrik sedang memperbaiki sanggar. Tetapi sebagian terbesar dari pekerjaan yang penting telah kami selesaikan, sehingga aku rasa, aku tidak perlu selalu menungguinya.”
Pertapa itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Bagaimana pendapatmu tentang persoalan yang tadi malam aku katakan kepadamu?”
Putut itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Maksud guru, persoalan yang menyangkut Pangeran Lembu Sabdata?”
“Ya,” jawab pertapa itu.
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Menurut pengamatanku, jarak antara Pangeran Kuda Permati dan Pangeran Lembu Sabdata terlalu jauh, sehingga apabila guru berniat menempatkan Pangeran Lembu Sabdata didalam tugas-tugas Pangeran Kuda Permati, maka masih diperlukan waktu yang sangat lama.”
“Kita tidak tergesa-gesa. Jika perlu kita akan menunggu satu atau dua keturunan lagi. Itu lebih baik daripada kita untuk sepanjang abad membiarkan keadaan seperti sekarang ini.”
“Perjuangan Pangeran Kuda Permati ternyata gagal guru,” berkata Putut itu.
“Kegagalannya justru terjadi sangat menyedihkan. Aku sebenarnya berharap, bahwa Pangeran Kuda Permati akan mendapat kesempatan bertemu dalam peperangan atau dimana saja, bahkan dalam perang tanding sekali-pun di hadapan saksi-saksi. Aku yakin, bahwa Pangeran Kuda Permati akan dapat mengalahkan Pangeran Singa Narpada betapa-pun juga garangnya Pangeran yang keras kepala dan keras hati itu.”
“Aku sependapat guru,” jawab Putut itu.
“Tetapi kematian Pangeran Kuda Permati adalah kematian yang paling pahit dari seorang prajurit. Ia dibunuh oleh isterinya sendiri yang menjadi jemu melihat tingkah laku suaminya,” berkata pertapa itu.
“Tetapi untuk membentuk Pangeran Lembu Sabdata diperlukan jalan yang sangat panjang. Ia sekarang masih berada didalam tahanan di Kediri serta diawasi dengan ketat, apalagi sekarang Pangeran Lembu Sabdata dikabarkan menderita gangguan syarafnya,” berkata Putut itu.
“Penyakitnya bukan soal bagiku. Aku akan mengobatinya. Sementara sudah aku katakan, bahwa kita tidak terikat akan waktu. Meskipun aku memerlukan waktu yang lama, tetapi akhirnya waktu itu akan datang juga.”
“Tetapi Pangeran Lembu Sabdata tidak dalam keadaan bebas sekarang guru,” berkata Putut itu.
Pertapa itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Apakah pada satu saat ia tidak akan dibebaskannya?”
“Jika penyakitnya belum sembuh, maka aku kira ia masih akan tetap dalam satu pembatasan. Bukan hanya karena ia terlibat dalam gerakan Pangeran Kuda Permati. Tetapi juga karena penyakitnya itu.”
“Ketahuilah,” berkata pertapa itu kepada Pututnya, “Aku sama sekali tidak dapat menerima akhir dari perjuangan Pangeran Kuda Permati. Aku harus berbuat sesuatu. Karena itu, maka aku akan mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Ia akan tinggal di padepokan ini. Aku akan menempanya dalam ilmu dan ulah kanuragan, sehingga akhirnya ia memiliki kemampuan seperti Pangeran Kuda Permati. Baru kemudian aku akan melepasnya, sementara itu bukankah para pemimpin di Kediri sendiri masih juga selalu dibayangi oleh keragu-raguan sikap sebagaimana Sri Baginda sendiri? Nah, pada suatu saat maka pemberontakan seperti yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati akan terjadi lagi. Jauh lebih dahsyat, sementara Pangeran Singa Narpada sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa, karena ia akan menjadi semakin tua, dan kekuatannya akan menjadi aus dimakan umurnya.”
Putut itu tidak menjawab. Tetapi agaknya gurunya telah membuat perhitungan yang mantap untuk mulai dengan langkah-langkah barunya sepeninggal Pangeran Kuda Permati, murid kesayangannya. Apalagi kematian Pangeran Kuda Permati bagi pertapa itu adalah kematian yang sangat menyakitkan. Lebih baik Pangeran Kuda Permati mati dipeperangan daripada mati di pembaringan.
Namun demikian Putut itu-pun mengulang lagi, “Tetapi guru. Pangeran Lembu Sabdata ada didalam tahanan yang dijaga sangat ketat atas perintah Pangeran Singa Narpada.”
Pertapa itu tersenyum. Katanya, “Apa katamu jika aku memerintahkan kepadamu untuk mengambil Pangeran Lembu Sabdata?”
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika aku mendapat perintah itu guru, maka aku akan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, apa-pun yang akan terjadi.”
Pertapa itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kau adalah muridku yang dapat aku banggakan. Sebenarnya aku dapat menjadikan kau pengganti Pangeran Kuda Permati didalam olah kanuragan. Tetapi untuk memimpin perlawanan ini aku memang merasa perlu bekerja bersama dengan pihak istana atau keluarganya. Dengan seorang Pangeran, maka segalanya akan berjalan lebih lancar dan para pengikut-pun akan menjadi tidak ragu-ragu, bahwa trah istana telah melibatkan diri pula.”
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti sepenuhnya. Seandainya ia menjadi semakin matang didalam ilmu, namun ia tidak akan dapat berjuang untuk menggantikan kedudukan Pangeran Kuda Permati. Hanya orang yang memiliki darah bangsawan sajalah yang akan dipercaya untuk memegang pimpinan dan kelak menjadi Raja didalam satu negara Kediri yang menguasai semua daerah yang sekarang dipersatukan oleh Singasari.
Karena itu, maka yang akan dapat menggantikan kedudukan Pangeran Kuda Permati, sehingga akan mendapat pengikut yang meyakinkan adalah keluarga istana Kediri sendiri.
Dengan demikian, maka Putut itu-pun berkata, “Guru. Sebenarnyalah hanya keluarga bangsawan sajalah yang akan dapat menerima wahyu keraton. Karena itu, maka aku kira, apa yang guru maksudkan dengan mengambil Pangeran Lembu Sabdata adalah jalan yang paling tepat. Namun jika usaha mengambil itu gagal oleh Pangeran Singa Narpada, maka baik yang mengambil mau-pun yang diambil tentu tidak akan ada ampun lagi. Pangeran Singa Narpada tidak akan memberikan kemungkinan lagi bahwa pada suatu saat usahaku berhasil.”
“Hukuman mati?” bertanya pertapa itu.
“Ya, guru,” jawab Putut itu. Tetapi katanya kemudian, “Namun demikian, apa-pun yang mungkin terjadi akan aku lakukan jika guru memerintahkan aku untuk mengambil Pangeran Lembu Sabdata di bilik tahanannya.”
Pertapa itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Apakah kau sudah mengetahui dimana Pangeran Lembu Sabdata ditahan, dan apakah kau dapat mengira-irakan kekuatan yang menjaganya?”
“Belum guru. Tetapi sudah barang tentu, untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata, maka hal itu harus diketahui lebih dahulu.”
Pertapa itu tersenyum. Lalu katanya, “Aku percaya padamu. Aku percaya kepada keberanianmu dan kesetiaanmu. Namun untuk tugas ini aku tidak sampai hati menyerahkannya kepadamu.”
“Kenapa guru? Apakah guru tidak yakin akan kemampuanku?” bertanya Putut itu.
“Jika aku memaksamu pergi, maka akan sama artinya dangan aku tlah membunuhmu,” berkata pertapa itu, “Aku mengerti betapa kuatnya penjagaan di Kediri khususnya pada tempat Pangeran Lembu Sabdata itu disimpan. Karena itu, pekerjaan ini hanya pantas aku lakukan sendiri. Mungkin aku akan membawamu untuk membantuku. Tetapi bukan kau sendiri.”
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih guru. Tetapi aku akan tetap menerima tugas apa-pun juga meskipun kemungkinan maut itu membahayangiku.”
“Aku percaya kepadamu. Tetapi tugas ini bukan tugas anak-anak,” jawab pertapa itu. Lalu, “Siapkan sanggar. Aku akan berada dalam sanggar sebelum aku mengambil keputusan pergi ke Kediri.”
Putut itu mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Apakah aku harus melakukannya sekarang guru.”
“Ya. Bersihkan dirimu sesudah itu, dan ikut dalam dunia hening, agar usahaku berhasil,” berkata pertapa itu.
Sejanak kemudian Putut itu-pun telah meninggalkan pertapa itu. Ia pergi kepada para cantrik yang sedang memperbaiki sanggar. Namun seperti yang dikatakannya, bahwa pekerjaan itu memang sudah hampir selesai. Sehingga karena itu, maka pekerjaan itu sudah dapat dihentikannya.
Diberitahukannya kepada para cantrik, bahwa guru mereka akan berada dalam sanggar untuk melakukan semedi. Bukan untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan.
“Beristirahatlah,” berkata Putut itu, “pekerjaan kalian agaknya memang sudah selesai.”
Para cantrik-pun kemudian telah meninggalkan pekerjaan mereka membersihkan dan memperbaiki sanggar itu, karena sanggar itu akan dipergunakan oleh guru mereka.
Putut itu-pun kemudian telah pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya, karena ia akan ikut bersama gurunya memasuki sanggar dan melakukan semedi.
Demikianlah, maka pertama itu telah mengambil satu keputusan didalam samadinya untuk melepaskan dan membawa Pangeran Lembu Sabdata ke padepokan itu. Pangeran Lembu Sabdata harus menjadi lambang perjuangan orang-orang Kediri sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati. Bahkan pertapa itu akan berusaha untuk mempengaruhi sikap Sri Baginda yang masih selalu diombang-ambingkan oleh keragu-raguan itu. Jika hal itu berhasil dilakukan, dan Sri Baginda sendiri dapat menentukan sikapnya melawan Singasari, maka sebenarnya Kediri akan mampu melaksanakannya. Bahkan mungkin Singasari akan banyak kehilangan dukungan dari Pakuwon-pakuwon yang akan berpihak kepada Kediri atau usaha mereka untuk membebaskan dari pengaruh Singasari.
Tengah malam, maka pertapa bersama muridnya yang paling dekat dengan dirinya itu telah menyelesaikan semadinya. Mereka keluar dari sanggar setelah semua orang tertidur nyenyak.
“Ya guru,” jawab Pututnya, “lalu, apakah guru juga akan beristirahat.”
“Ya. Sebentar lagi,” jawab gurunya.
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia-pun telah pergi kedalam biliknya, sementara gurunya telah pergi ke samping padepokannya dan duduk diatas sebuah batu hitam sebagaimana sering dilakukannya.
Sepi malam terasa meresap sampai kepusat jantung. Pertapa yang duduk diatas sebuah batu seorang diri itu memandang ke dalam kegelapan. Seolah-olah ia ingin melihat apa yang terdapat dibalik kegelapan itu.
Pertapa itu tidak dapat mengingkari penglihatan hatinya terhadap persoalan yang akan dilakukannya. Sebagaimana ia memandang malam itu, maka persoalan yang dihadapinya-pun terlalu gelap baginya. Ia memang mungkin dapat mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Namun apakah Pangeran itu akan dapat memenuhi keinginannya.
“Tetapi aku harus berusaha,” berkata pertapa itu di dalam hatinya. Apa-pun yang akan terjadi, namun pertapa itu merasa harus berbuat sesuatu sebagaimana diputuskan didalam samadinya. Bahwa ia akan mengambil Pangeran Lembu Sabdata.
Meskipun dalam keheningan dunianya ia tidak menemukan jawaban yang terang, namun ia telah menemukan satu tekad untuk melakukannya.
Pertapa itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu dikejauhan mulai terdengar suara ayam jantan yang berkokok bagaikan saling bersahutan.
Pertapa itu-pun kemudian berdiri dan meninggalkan batu yang sering menjadi tempat baginya untuk menyendiri itu. Pada sisa malam ia memasuki biliknya. Namun ia tidak dapat melepaskan diri dari gejolak perasaannya. Karena itu, meskipun kemudian pertapa itu berbaring dipembaringannya, namun matanya sama sekali tidak terpejam.
Demikianlah, maka sejak hari itu, maka pertapa beserta seorang Pututnya yang terdekat telah menyiapkan diri lahir dan batin untuk mengadakan perjalanan ke Kediri dan mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Mereka masih harus menyelidiki dimana Pangeran itu ditahan dan mereka masih harus mengetahui sampai seberapa jauh ketatnya penjagaan.
“Selama ketatnya penjagaan hanya sekedar ketatnya penjagaan kewadagan, maka aku akan dengan mudah menembusnya dan membawa Pangeran itu ke padepokan ini,” berkata pertapa itu kepada Pututnya.
Pututnya itu-pun mengangguk hormat. Ia mengerti maksud pertapa itu. Bahwa ia akan dapat mempergunakan ilmunya untuk menyesatkan atau bahkan untuk menghapuskan sama sekali pengamatan orang-orang Kediri terhadap kehadirannya.
Yang penting baginya hanyalah menentukan saja, kapan ia akan pergi ke Kediri dan melakukan niatnya itu.
Akhirnya, pertapa itu-pun mengambil keputusan bahwa di hari terakhir pekan itu mereka akan berangkat ke Kediri untuk melaksanakan maksudnya.
Pada hari yang ditentukan, maka pertapa itu telah memanggil murid-muridnya yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Tetapi pertapa itu tidak berkata sebenarnya apa yang akan dilakukannya. Ia hanya mengatakan, bahwa untuk beberapa waktu ia akan meninggalkan padepokan itu bersama Putut yang dianggap paling tua diantara murid-muridnya itu.
“Kapan guru akan datang kembali?” bertanya seorang cantrik.
“Aku tidak dapat mengatakannya, “jawab pertapa itu, “Tetapi tidak akan lebih dari sepuluh hari.”
“Sepuluh hari,” ulang seorang cantrik, “begitu lama?”
Pertapa itu berpaling. Dipandanginya cantrik itu sejenak. Lalu jawabnya sambil tersenyum, “Hanya sepuluh hari. Terlalu pendek untuk satu tugas tertentu.”
Cantrik itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Dalam pada itu, maka pertapa itu-pun telah menunjuk salah seorang muridnya yang tertua diantara mereka yang ditinggalkannya untuk bertanggung jawab atas padepokan itu selama ditinggalkannya bersama muridnya yang tertua.
“Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang gawat terjadi selama guru tidak di padepokan,” berkata muridnya itu.
“Kalian sudah cukup dewasa, sehingga sudah saatnya bagi kalian untuk belajar bertanggung jawab, karena pada satu saat, gurumu ini akan pergi untuk tidak kembali,” berkata gurunya kemudian.
Para cantriknya tidak bertanya lagi. Mereka menyadari tentu ada satu tugas yang sangat penting yang akan dilakukan oleh guru mereka, karena mereka menyadari, guru mereka itu jarang sekali keluar dari gerbang padepokan jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Apalagi menurut pengamatan mereka dalam beberapa hari terakhir, gurunya nampak murung dan lebih senang duduk seorang diri.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertapa itu-pun telah minta diri untuk berangkat menuju ke tempat yang tidak diberitahukannya pula kepada murid-muridnya yang ditinggalkannya.
Namun demikian mereka lepas dari padepokannya, maka mereka-pun tidak membuang waktu. Mereka langsung dengan cepat menuju ke Kota Raja Kediri.
“Waktu kita tidak terlalu lama,” berkata Putut itu.
Tetapi pertapa itu tersenyum. Katanya, “Kita tidak terikat kepada yang sepuluh hari itu. Aku hanya menyebut angka asal saja. Mungkin kita memang memerlukan waktu yang lebih lama.”
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Namun baginya sepuluh hari adalah waktu yang sangat sempit. Mereka masih belum tahu keadaan Pangeran Lembu Sabdata yang sesungguhnya. Sehingga karena itu, mereka masih harus mempelajarinya sebelum berbuat sesuatu.
Demikianlah, maka kedua orang itu-pun berusaha untuk dapat mencapai Kediri secepat-cepatnya. Tetapi keduanya sengaja tidak mempergunakan kuda, agar mereka dapat bergerak lebih bebas selama mereka di Kediri tanpa terganggu oleh persoalan kudanya.
Sebenarnyalah bahwa jarak bukan merupakan persoalan bagi kedua orang itu. Seandainya mereka harus berjalan dari ujung sampai keujung tanah ini-pun akan mereka lakukan dengan tanpa merasa letih sama sekali.
Karena itu, jarak antara padepokan mereka sampai ke Kota Raja, bukanlah sesuatu yang pantas mereka persoalkan.
Demikianlah, maka keduanya berjalan dengan cepat menuju ke Kota Raja. Tetapi bagaimanapun juga, jarak yang memisahkan antara padepokan mereka dan Kota Raja memerlukan waktu untuk melintasinya. Karena itu, maka perjalanan mereka-pun telah melampaui waktu demi waktu.
Saat-saat matahari sampai kepuncak, keduanya sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ketika matahari mulai condong ke Barat dan turun mendekati punggung bukit. Keduanya masih tetap berjalan dengan langkah yang tetap, seolah-olah mereka baru menempuh perjalanan beberapa puluh tonggak saja.
Dibawah teriknya matahari yang sudah mulai merendah, pertapa itu berkata kepada Putut yang menyertainya, “Aku mempunyai seorang sahabat di Kota Raja. Mudah-mudahan ia masih tinggal di tempatnya. Meskipun aku sudah cukup lama tidak memasuki Kota Raja, tetapi belum setahun yang lalu, sahabatku itu pernah berkunjung ke padepokan kita.”
“Yang mana yang guru maksudkan?” bertanya Putut itu.
“Umurnya sebaya dengan aku. Tetapi tubuhnya nampak lebih kuat dan kekar, meskipun itu belum menentukan bahwa ia memiliki kelebihan dari aku. Bukan maksudku untuk menyombongkan diri, tetapi agar kau mendapat gambaran yang benar tentang orang itu. Orang yang bertubuh tegap, tinggi dan kekar itu memang seorang yang kuat. Tetapi ilmunya tidak cukup tinggi. Karena itu, ia tidak banyak berbicara dalam dunia kanuragan. Yang dilakukan adalah, menggarap sawahnya yang cukup luas serta memelihara ternaknya yang cukup banyak.”
“Apakah ia orang kaya?” bertanya Putut itu.
“Ya. Ia adalah seorang yang kaya meskipun tidak terlalu kaya. Tetapi penghasilannya melampaui kebutuhannya, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk memperluas tanahnya dan memperbanyak binatang pemeliharaannya,” jawab pertapa itu.
Muridnya mengagguk-angguk. Lupa-lupa ingat ia memang pernah mengenal orang itu. Namun kemudian muridnya itu-pun bertanya, “Apakah maksud guru, kita akan singgah ke rumah sahabat guru itu?”
Pertapa itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang ingin pergi ke rumahnya. Kecuali orang itu memiliki pengaruh yang cukup bagi orang-orang di sekitarnya, maka rumahnya-pun cukup luas untuk memberi tempat kepada kita bermalam selama kita berada di Kediri. Namun sudah barang tentu, bahwa kita tidak akan dapat mengatakan kepadanya, keperluan kita yang sebenarnya berada di Kediri.”
“Jadi, bagaimanakah dengan Pangeran Lembu Sabdata setelah berhasil kita bebaskan,” bertanya muridnya.
“Kita tidak akan membawanya ke rumah sahabatku itu,” jawab pertapa itu.
Muridnya mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya. Karena itu, maka ia-pun tidak bertanya lagi.
Namun dalam pada itu, gurunyalah yang berbicara lebih lanjut tentang sahabatnya itu, “Mudah-mudahan sahabatku itu tidak melibatkan diri dalam pertentangan yang baru saja berakhir dan apalagi berpihak kepada Pangeran Singa Narpada.”
Muridnya mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia justru bertanya, “Bagaimanakah jika ternyata sahabat guru itu berpihak kepada Pangeran Singa Narpada, atau setidak-tidaknya menentang usaha Pangeran Kuda Permati dan Pangeran Lembu Sabdata?”
“Bukankah kita tidak mengatakan niat kita yang sebenarnya?” sahut gurunya. Lalu, “Karena itu, maka kita harus berhati-hati. Kita jangan terjebak kedalam satu keadaan yang dapat menggagalkan usaha kita justru dari hal-hal yang kecil dan kurang berarti.”
Muridnya mengangguk-angguk. Namun ia-pun sadar, bahwa mereka harus merahasiakan tujuan mereka untuk berada di Kediri.
Sementara itu gurunya berkata, “Aku dapat mencari alasan kenapa aku datang ke Kediri.”
Muridnya berpaling ke arah pertapa yang berjalan sambil menatap jalan di hadapannya tanpa berpaling sama sekali. Sementara itu muridnya berkata, “Aku mengerti guru.”
“Ya. Aku memang selalu percaya kepadamu. Karena itu, kau aku bawa bersamaku ke Kediri. Aku yakin bahwa kau akan dapat membantuku. Bukan sebaliknya mempersulit tugasku untuk mengambil Pangeran Lembu Sabdata,” berkata pertapa itu.
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa tugas yang akan dilakukan oleh gurunya bukan tugas yang ringan. Mengambil Pangeran Lembu Sabdata dari bilik yang mengurungnya, yang tentu dijaga dengan rapat sekali oleh para prajurit Kediri.
Betapa panjangnya perjalanan mereka, namun keduanya semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan Kota Raja. Ketika matahari turun, mereka memang belum memasuki pintu gerbang Kota Raja, bahwa mereka masih berada ditepi sebuah hutan kecil yang tidak terlalu lebat, namun yang justru menjadi daerah perburuan bagi para keluarga Istana dalam saat-saat yang tenang. Namun selama Kediri bergolak daerah itu seakan-akan menjadi jarang sekali disentuh kaki. Jarang sekali terdengar derap kaki kuda para bangsawan yang berburu bersama para hambanya. Justru karena itu, maka binatang di hutan itu-pun merasakan hidup mereka menjadi agak tenang.
“Kita akan meneruskan perjalanan,” berkata pertapa itu, “Dan kita akan berhenti pada jarak yang memungkinkan, besok pagi-pagi benar kita memasuki pintu gerbang.”
Muridnya mengangguk kecil sambil menjawab, “Terserah saja kepada guru. Aku akan melakukan apa yang dilakukan oleh guru.”
Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan kecil di seberang padang ilalang yang membatasinya dengan hutan kecil itu, matahari telah jauh tenggelam, sehingga di gardu regol padukuhan obor telah dinyalakan. Namun demikian belum seorang-pun yang berada di gardu dalam tugas ronda.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar