Sabtu, 26 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 016-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-016-01*







Karena itu Mahisa Murti pun lalu berkata, “Ki Sanak. Berikanlah kesempatan kepadaku untuk meninggalkan tempat ini”

“Sudah aku katakan, bahwa semua pengembara yang tidak ada artinya bagi pergaulan hidup, akan aku singkirkan. Aku sudah menunggumu di sini sejak kemarin. Aku yakin bahwa pada satu saat kau akan kembali. Karena itu, maka sekarang aku tidak akan melepaskan lagi” berkata raksasa itu.

“Baiklah” berkata Mahisa Murti kemudian, “kita akan berterus terang. Untuk siapa kau bekerja he? Apakah kau kawan-kawan penunggang kuda yang kemarin datang ke simpang empat itu untuk merampasi kuda penduduk daerah ini?”

“Kau mulai mengigau he. Apa yang kau katakan itu?” raksasa itu menggeram.

“Aku tidak peduli. Tetapi selama aku berada di tempat ini, aku melihat kau dan dua orang berkuda telah berbuat aneh-aneh. Kau kira bahwa kami percaya alasanmu untuk membunuh semua pengembara, pengemis dan orang-orang yang kau sebut tidak berarti? Jika benar hal itu kau lakukan, alangkah besar dosamu. Bukan saja bagi Kediri, tetapi juga di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang” Mahisa Murti berhenti sejenak, Lalu, “nah, katakan saja, apa alasanmu sebenarnya”

“Anak setan” orang itu hampir berteriak, “menyeralah. Kalian memang harus ditangkap”

“Sesudah ditangkap?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu menjadi bingung. Tetapi sebelum ia menjawab, Mahisa Pukat telah mendahuluinya, “ angan katakan, bahwa kau akan membinasaan semua pengembara dan orang-orang yang tidak berarti karena kami berdua tidak percaya akan alasanmu itu”

“Persetan” geram raksasa itu, “apapun alasannya, menyerahlah. Kami mencurigai kau berdua. Kalian tentu bukan pengembara seperti yang kalian katakan. Jika kalian tidak percaya bahwa aku akan membinasakan semua pengembara, maka aku pun tidak percaya bahwa kalian adalah pengembara”

“Nah, dengan demikian persoalannya menjadi lebih jelas” jawab Mahisa Pukat, “bukankah dengan demikian kita dihadapkan pada satu pilihan? Kami berdua akan berjalan terus. Jika kau tetap pada niatmu akan menangkap kami, maka kami akan mempertahankan diri. Dan kita akan berkelahi. Meskipun kau bertubuh raksasa, tetapi kami berdua sama sekali tidak takut. Jika kemarin kami berdua melarikan diri, kami masih berniat untuk tetap dalam keadaan kami, dua orang pengembara. Tetapi ternyata kami tidak akau dapat menyatakan diri kami seperti itu, karena kau sudah mencurigai kami. Karena itu, tidak ada pilihan lain.. Kita berkelahi. Jika kami menang, kami akan meneruskan perjalanan”

“Jika kalian kalah?” bertanya raksasa itu.

“Kami akan melarikan diri dan mencari jalan lain untuk dapat menyeberang” jawab Mahisa Pukat pula.

“Kalian tidak akan sempat melarikan diri. Aku akan menangkap kalian dan membawa kalian kepada pemimpinku” jawab raksasa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun bersikap untuk menghadapi segala. kemungkinan. Karena itu. maka keduanya pun justru telah merenggang.

“Jadi kalian benar-benar akan melawan?” geram raksasa itu.

“Apaboleh buat. Kita sudah tidak saling mempercayai. Karena itu, maka jalan yang dapat kita tempuh adalah kekerasan. Kau akan memaksakan kehendakmu, sementara kami akan mempertahankan sikap kami pula” jawab Mahisa Pukat.

Raksasa itu tidak bertanya lagi. Tetapi ia pun kemudian mempersiapkan diri untuk bertempur. Memang tidak ada jalan lama yang dapat mereka lakukan saat itu, kecuali memaksa atau bertahan

Raksasa itulah yang pertama-tama mulai menyerang. Dengan loncatan yang cepat ia menerkam Mahisa Pukat, Tetapi Mahisa Pukat yang benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan sempat mengelak dan meloncat surut.

Pada saat yang tepat, Mahisa Murti pun telah meloncat menyerang raksasa itu dengan kakinya. Demikian cepatnya, sehingga raksasa itu tidak sempat mengelak, setelah serangannya atas Mahisa pukat gagal. Dengan lengannya ia telah berusaha melindungi lambungnya yang menjadi sasaran serangan Mahisa Murti.

Satu benturan telah terjadi. Benar-benar mengejutkan raksasa itu. Ternyata serangan kaki Mahisa Murti telah mendorong raksasa itu beberapa langkah menyamping. Hampir saja raksasa itu jatuh dan kehilangan keseimbangan. Namun, sambil menggeram, akhirnya raksasa itu berhasil menguasai dirinya dan tegak kembali.

“Anak setan” raksasa itu mengumpat, “jangan kau kira bahwa dengan demikian aku tidak dapat mengimbangi kekuatanmu. Aku terlalu gegabah menghadapi kalian. Aku, kira kalian tidak lebih dari anak-anak yang berkepala batu. Tetapi ternyata bahwa kalian memang memiliki bekal ilmu kenuragan”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka pun sudah mengira bahwa raksasa itu bukannya tidak memiliki kekuatan untuk menandingi kedua anak muda itu, tetapi raksasa itu telah menganggap kedua anak muda itu terlalu lemah, sehingga ketika terjadi benturan, raksasa itu terkejut.

Namun dengan demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun harus menjadi semakin berhati-hati. Dengan menyadari kekuatan lawannya, maka raksasa itu tentu akan mempergunakan kekuatannya lebih besar lagi.

Tetapi, dengan menggabungkan kekuatannya, kedua anak muda itu masih tetap mengharap untuk dapat menerobos jalan dan menyeberang sungai menuju ke tempat yang disebut oleh Senapati dari Singasari di Talang Amba, yang sebenarnya adalah salah seorang dari sekelompok pasukan sandi dari Singasari.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang semakin sengit. Orang bertubuh tinggi besar itu tidak lagi menganggap kedua lawannya itu sebagai anak-anak yang mengajaknya bermain-main. Tetapi kedua orang anak muda itu adalah benar-benar lawan yang harus dihadapinya dengan segenap kemampuannya.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk memecah perhatian raksasa itu. Mereka bertempur berpasangan dalam arena yang sempit. Tetapi kecepatan gerak mereka agaknya telah berhasil membuat raksasa itu menemui kesulitan.

Mahia Murti dan Mahisa Pukat telah menyerang raksasa itu berganti-ganti. Mereka selalu berusaha menghindari benturan setelah mereka menyadari, bahwa raksasa itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi serangan yang cepat dan datang bergantian, bahkan kadang-kadang beruntun susul menyusul, membuat raksasa itu benar-benar menjadi marah”

“Anak-anak yang tidak tahu diri” geramnya, “apakah dengan demikian kalian menyangka akan dapat lepas dari tanganku”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi keduanya adalah anak-anak muda yang telah menempa diri dalam olah kanuragan. Mereka bukan saja berlatih kecepatan gerak, tetapi mereka pun telah dengan teratur meningkatkan kekuatan tenaga mereka. Keduanya dengan matang menguasai tenaga-tenaga mereka. Keduanya dengan matang menguasai tenaga cadangan yang dapat mereka pergunakan setiap saat yang mereka kehendaki.

Karena itu, maka perlawanan mereka terhadap raksasa itu pun benar-benar merupakan satu kekuatan yang mapan menghadapi kekuatan yang besar dari raksasa yang marah itu.

Demikianlah pertemuan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka sehingga dengan demikian maka yang terjadi kemudian adalah benturan ilmu yang semakin tinggi.

Serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi semakin cepat datang dari arah yang berbeda. Sementara itu, raksasa itu pun telah mempergunakan ketangkasannya untuk mengatasi setiap serangan. Dengan mempercayakan diri pada kebesaran tenaganya, orang bertubuh tinggi besar itu, hampir tidak pernah berusaha untuk menghindari serangan. Tetapi ia selalu berusaha untuk membentur setiap serangan.

Namun lambat laun, orang itu pun merasa bahwa kekuatan kedua anak muda itu menjadi semakin meningkat, sejalan dengan peningkatan ilmu mereka. Tenaga cadangan keduanya telah dipergunakan hampir sampai kepuncak kemampuan.

“Gila” geram raksasa itu, “ternyata kedua anak ini memiliki kekuatan iblis”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah sampai pada kemampuan yang tinggi dalam pengerahan tenaga cadangannya, ternyata merasakan kelebihan mereka atas kekuatan raksasa itu. Kekuatan yang besar, tetapi kekuatan wadagnya saja.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berharap untuk dapat keluar dari pertempurran itu dan melanjutkan perjalanan mereka, menyeberangi sungai untuk mencapai tujuan sebagaimana dikatakan oleh Senopati dari Singasari yang berada di Talang Amba itu.

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian bertempur semakin cepat. Mereka ingin segera menyelesaikan perkelahian itu.

Tetapi sama sekali tidak ada niat mereka untuk membunuh raksasa yang marah itu. Sebagaimana raksasa itu pun semula tidak benar-benar ingin membunuh mereka. Ternyata bahwa ketika keduanya melarikan diri, raksasa itu sama sekali tidak mengejarnya.

Ketika serangan-serangan kedua anak muda itu menjadi semakin cepat, maka raksasa itu pun menjadi semakin bingung. Serangan-serangan datang dari dua arah yang berbeda dengan kecepatan yang semakin tinggi.

Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat semakin sering berhasil mengenai tubuh orang bertubuh besar itu. Meskipun serangan-serangan itu bukannya serangan yang menentukan akhir dari perlawanan raksasa itu, tetapi kulit daging raksasa itu semakin lama menjadi semakin terasa sakit. Di beberapa tempat tulang-tulangnya pun menjadi memar.

Betapapun raksasa itu mengerahkan kemampuannya, tetapi kedua anak muda itu ternyata terlalu cepat untuk dapat ditundukkannya.

Dengan demikian, maka perlawanannya raksasa itu pun semakin lama justru menjadi semakin lemah. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk membuat raksasa itu tidak berdaya.

Tetapi raksasa yang marah itu justru berteriak, “Cepat, menyerahlah sebelum aku benar-benar marah dan benar-benar ingin membunuh kalian”

Tetapi Mahisa Pukatlah yang menjawab, “Akulah yang akan membunuhmu. Aku tidak senang melihat orang-orang yang tidak berarti hidup dalam lingkungan peradaban manusia. Orang yang tanpa berperikemanusiaan berusaha untuk membunuh para pengembara”

“Gila” geram raksasa itu.

Namun serangan Mahisa Pukat dengan kakinya, tiba-tiba saja telah menghantam lambungnya. Meskipun raksasa itu berusaha melindungi dengan sikapnya sambil merendah, namun kaki Mahisa Pukat yang cepat, berhasil menyusup dan langsung mengenai lambung itu.

Raksasa itu terdorong beberapa langkah. Sebelum ia dapat berdiri tegak, Mahisa Murti lah yang meloncat menyerang, menghantam raksasa itu pada dadanya.

Raksasa itu terhuyung-huyung. Hampir saja dia jatuh terguling. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat telah meloncat menyambarnya dan mendorongnya untuk tetap tegak. Tetapi ia pun segera meloncat menjauh sambil berkata, “Hampir saja kau terguling di sepanjang lorong yang menurun ini dan mandi tanpa melepaskan pakaianmu”

“Gila” teriak raksasa itu, “kalian telah mempermainkan aku he?”

“Jangan marah” sahut Mahisa Murti, “kau sedang berhadapan dengan pengembara yang tidak punya arti”

“Tutup mulutmu” geram raksasa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justeru tertawa. Namun kemudian mereka merasa, bahwa yang mereka lakukan agaknya sudah cukup. Mereka harus mendapat kesempatan untuk meneruskan perjalanan tanpa diikuti oleh raksasa itu.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Kita jangan terlalu lama bermain-main dengan raksasa ini. Marilah kita meneruskan perjalanan. Pengembaraan kami masih sangat panjang”

“Aku bunuh kau pengembara” teriak orang bertubuh tinggi besar itu.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menghiraukannya lagi. Dengan serta merta keduanya menyerang bersama-sama sehingga orang bertubuh tinggi besar itu, tidak mampu menghindarkan dirinya. Demikian cepat kedua serangan itu beruntun menghantam tubuhnya, maka raksasa itu pun telah terhuyung-huyung.

Terdengar raksasa itu menyeringai menahan saat, sementara itu maka Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Kita akan meninggalkannya”

Mahisa Murti tidak menyahut. Keduanya pun kemudian dengan cepat meloncat meninggalkan raksasa yang sedang kesakitan itu.

“Gila” geramnya. Tetapi ia tidak segera dapat bangkit, apalagi mengejar kedua anak muda itu. Bahkan ia pun sama sekali tidak berniat melakukannya, karena ia yakin, bahwa ia tidak akan dapat berbuat banyak atas kedua orang anak muda itu. Seandainya ia berhasil mengejarnya, namun ia tidak akan dapat menangkapnya, karena ternyata ia tidak dapat mengalahkan kedua orang anak muda yang semula disebutnya pengembara. Namun yang sejak semula memang menarik perhatiannya.

Sepeninggal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berlari menghambat turun ke sungai dan menyeberanginya, orang bertubuh tinggi besar itu bangkit dengan susah payah. Tubuhnya terasa nyeri. Namun hatinya pun ikut terasa pedih, karena anak-anak muda itu ternyata telah mempermainkannya. Pada saat ia hampir jatuh terguling, seorang di antara anak-anak muda itu telah menahannya dan mendorongnya untuk tetap tegak.

Perlahan-lahan orang itu pun menuruni lorong yang turun ke sungai. Kepada dirinya sendiri berkata, “Biarlah anak-anak itu pergi. Tetapi jika ia mengambil arah yang kami cemaskan, maka ia akan bertemu dengan hambatan-hambatan berikutnya”

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan orang bertubuh tinggi besar itu. Sebenarnya jika mereka menghendaki, mereka akan dapat berbuat lebih banyak. Namun betapapun raksasa itu marah, tetapi kedua anak muda itu mendapat kesan bahwa sebenarnya orang bertubuh tinggi dan besar itu bukannya orang yang bermaksud jahat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah menyeberangi sungai. Dengan hati-hati mereka melanjutkan perjalanan. Dengan teliti mereka memperhatikan setiap bentuk dan gejala alam yang ada di sekitarnya.

Ternyata dalam beberapa hal mereka mengenali tempat itu sebagaimana diceriterakan oleh Senopati yang berada di Talang Amba. Beberapa pertanda telah mereka lalui, sehingga akhirnya mereka sampai ke sebuah bulak yang panjang.

“Inikah bulak yang disebut oleh Senopati itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Bulak panjang yang gawat. Senopati itu sama sekali tidak menyebut apa-apa tentang sungai itu. Tetapi kita telah menjumpai sebuah hambatan. Sedangkan bulak ini telah disebut sebagai tempat yang gawat. Yang harus kita lalui dengan sangat hati-hati sebelum kita memasuki padukuhan sebelah. Padukuhan yang kita tuju” jawab Mahisa Murti.

“Apa boleh buat” berkata Mahisa Pukat sambil memandang bulak yang panjang itu, namun sebaiknya kita memang berhati-hati”

“Kita tidak akan melalui jalan bulak itu. Kita sudah tahu bahwa di jalan itu kita akan menjumpai sebuah rintangan apapun ujudnya. Tentu rintangan yang dipasang untuk melindungi tujuan kita” berkata Mahisa Murti.

Tetapi Mahisa Pukat tiba-tiba saja berkata, “Kita sebenarnya tidak perlu cemas atas hambatan-hambatan itu. Sebenarnya kita tahu, bahwa hambatan-hambatan itu tidak akan menghancurkan kita. Hambatan itu hanya sekedar satu cara untuk meyakinkan siapakah sebenarnya yang datang”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Hambatan itu tidak benar-benar akan membunuh. Bagaimana jadinya jika yang mereka hadapi benar-benar orang lewat tanpa maksud apa-apa”

“Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Pukat.

“Namun aku tetap berpendapat, bahwa sebaiknya kita tidak memasuki padukuhan sebelah lewat jalan itu. Kita akan dapat mendekati padukuhan itu lewat pematang dan tanggul-tanggul parit” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita memang dapat berusaha memperkecil persoalan. Mudah-mudahan dengan cara ini kita terlepas dari hambatan yang disebut gawat oleh Senopati Singasari itu, karena hambatan itu agaknya memang dipasang di sepanjang jalan itu”

Demikianlah kedua anak itu yang sudah mendapat pesan bahwa mereka akan melalui sebuah jalan panjang di bulak yang luas, telah mengambil langkah untuk menempuhnya tidak melalui jalan sewajarnya. Mereka mencoba untuk menghindari hambatan yang mungkin ada dengan melalui pematang dan tanggul-tanggul parit.

“Pokoknya tujuan kita jelas. Padukuhan itu” berkata Mahisa Murti, “agar kita tidak kehilangan kiblat dan tersesat ke padukuhan yang lain, maka kita akan memperhatikan pepohonan di sepanjang jalan itu. Dengan demikian kita akan selalu dapat mengikuti arah jalan itu. Jalan yang menurut keterangan adalah jalan satu-satunya”

Mahisa Pukat mengangguk.

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun segera turun ke pematang dan berjalan menyusurinya. Namun dalam keremangan malam mereka tidak kehilangan kiblat. Mereka mengikuti pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan untuk tetap memelihara jarak dan arah.

Dengan cepat mereka melintasi kotak demi kotak. Mereka meloncati parit dan kadang-kadang meniti titian bambu yang licin dan bahkan melintasi pematang-pematang yang ditanami dengan berbagai macam tanaman, sehingga keduanya mengalami kesulitan agar tidak merusakkan tanaman itu.

Ketika keduanya sampai ke tengah bulak, maka keduanya terhenti sejenak. Memang agaknya tidak ada rintangan yang mereka temui. Mungkin agak berbeda dengan apabila mereka menempuh perjalanan lewat jalan di sebelah.

Namun dalam pada itu, kedua orang anak muda itu terhenti. Dalam kegelapan malam, penglihatan mereka yang tajam, telah menangkap gerak yang mencurigakan. Tanpa melihat seseorang, mereka melihat dedaunan yang bergoyang-goyang.

“Berhati-hatilah” desis Mahisa Murti, “agaknya kita memang harus menjumpai rintangan, yang dimaksud meskipun kita sudah memilih jalan”

Mahisa Pukat pun telah besiap pula. Pengalaman mereka sebagai pengembara telah memperingatkan mereka, bahwa yang ada di hadapan mereka adalah sejenis binatang merangkak. Binatang yang berbahaya tetapi yang tidak segera dapat mereka lihat.

Dada kedua anak muda itu berdebaran ketika tiba-tiba saja di sela-sela batang-batang padi muncul seekor binatang yang besar. Ketika binatang yang menyusuri pematang itu berpaling ke arah kedua orang anak muda itu, maka kedua belah matanya nampak bagaikan bercahaya kehijauan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mengenali jenis binatang itu. Harimau.

“Ternyata kita memang harus menghadapinya” guman Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berkata, “Kita memang, tidak mempunyai pilihan lain. Aku tidak tahu, bagaimana itu dapat diatur untuk mencegat perjalanan kita. Padahal kita sudah tidak mengambil jalan yang seharusnya kita lalui”

“Apakah seandainya kita melalui jalan itu, kita tidak akan bertemu dengan seekor harimau?” bertanya Mahisa Pukat.

“Entahlah” jawab Mahisa Murti. Lalu, “Tetapi kehadiran seekor harimau di tempat ini pun agak menarik perhatian. Menurut pendapatku daerah ini tidak terlalu dekat dengan hutan yang lebat dan luas. Agaknya kehadiran seekor harimau di tempat ini pantas dipertanyakan”

“Aku sependapat” desis Mahisa Pukat, “jika harimau ini berada di tempat ini sehari-harinya, apakah tidak menakut-nakuti para petani yang pergi ke sawah untuk mengairi tanamannya?”

Tetapi keduanya tidak sempat berbincang lebih lama. Harimau itu agaknya telah melihat kedua anak muda itu, sehingga selangkah demi selangkah harimau itu merunduk maju.

“Lebih baik kita pergi ke jalan itu” berkata Mahisa Murti, “agaknya kita akan mendapat tempat yang lebih luas untuk berkelahi melawan harimau itu”

“Masih beberapa puluh langkah, harimau itu tidak akan menunggu” jawab Mahisa Pukat.

“Marilah kita coba. Aku akan berjalan di belakang. Kau berjalan di depan. Kita menuju ke jalan di tengah-tengah bulak” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah lewat pematang yang menyilang, ke arah jalan di tengah-tengah bulak yang semula mereka hindari.

Sebenarnyalah seperti dugaan Mahisa Murti. Harimau itu tidak segera menyerang. Tetapi harimau itu pun mengikuti saja kedua anak muda yang berjalan semakin cepat menuju kejalan.

Mahisa Pukat yang berada di depan sempat bertanya, “Harimau itu tidak berbuat apa-apa”

“Sekarang harimau itu tidak berbuat apa-apa. Kau lihat, bahwa harimau tadi sudah merunduk. Sekarang seolah-olah harimau itu memberi kesempatan kita untuk mencari jalan itu. Agaknya harimau itu pun ingin berkelahi di tempai yang agak luas”

Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi harimau itu memang agak aneh menurut pendapat kedua orang anak muda itu.

Beberapa saat lagi keduanya akan segera sampai ke jalan yang menghubungkan sebuah padukuhan dengan padukuhan berikutnya yang terpisah oleh bulah yang panjang. Di jalan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mempunyai kesempatan lebih baik bila berkelahi tanpa merusak tanaman yang sedang tumbuh dengan suburnya.

Harimau itu seakan-akan mengerti maksud kedua anak muda itu, dan agaknya harimau itu pun tidak berkeberatan. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, kedua anak muda itu sudah meloncat parit dan berdiri di sebuah jalan yang cukup luas, yang agaknya di siang hari merupakan jalan yang tidak begitu sepi.

“Kita menunggu harimau itu” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat bergeser beberapa langkah menjauhi Mahisa Murti. Namun ia masih bertanya, “Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika kita menempuh jalan ini di siang hari”

“Ya. Hambatan apakah yang kira-kira akan kita jumpai. Tetapi agaknya tentu bukan seekor harimau” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Mungkin kita akan menjumpai seekor lembu yang mengamuk, atau sekelompok penyamun atau apa saja” sahut Mahisa Pukat.

Namun keduanya harus terdiam, karena harimau yang menjadi semakin dekat itu mulai mengaum.

“Bersiaplah. Harimau itu sudah berbalik hati memberi kesempatan kepada kita untuk mendapatkan tempat berpijak yang lebih luas untuk menghadapinya” berkata Mahisa Murti, “agaknya harimau ini pun bukan sejenis harimau yang hanya tahu menerkam dan membunuh”

Mahisa Pukat pun segera bersiap. Ia sependapat dengan Mahisa Murti, bahwa harimau itu termasuk harimau yang baik. Yang dapat mengerti dan memberi kesempatan kedua anak muda itu untuk mencari tempat yang paling baik untuk melawannya. Namun agaknya harimau itu sependapat dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa jika mereka berkelahi di antara tanaman yang hijau, tentu akan menimbulkan kerusakan dan merugikan para petani yang tidak tahu menahu tentang kedua orang anak muda itu.

Namun bagaimanapun juga ujud yang mereka hadapi adalah seekor harimau yang besar yang mempunyai gigi dan kuku yang tajam, sehingga karena itu, maka keduanya-pun tidak dapat membiarkan tubuh mereka dikoyak oleh kuku dan gigi harimau itu.

Dengan gerak nalurilah, maka kedua anak muda itu telah mengagapai pisau belati mereka yang tersimpan di bawah kain panjang. Dengan pisau belati itu mereka akan menghadapi tajamnya gigi dan kuku harimau itu.

Ketika harimau itu mulai merunduk lagi, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berdiri pada jarak beberapa langkah. Karena itu, maka harimau itu nampaknya memang harus memilih. Apakah ia akan menerkam Mahisa Murti atau Mahisa Pukat.

Namun ternyata kedua anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan dan ketakutan. Keduanya berdiri tegak dengan lutut yang agak merendah. di tangan mereka telah tergenggam pisau-pisau belati yang tajam, setajam ujung taring harimau itu.

Untuk beberapa saat harimau itu masih merunduk. Sekali di tatapnya Mahisa Pukat sambil menggeram. Kemudian harimau itu pun berpaling kepada Mahisa Murti.

Dalam pada itu, kedua anak muda itu pun telah menunggu. Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat. Seakan-akan keduanya tanpa berkedip menatap harimau yang menggeram.

Sejenak suasana dicengkam oleh ketegangan. Namun kemudian terdengar harimau itu mengaum dahsyat. Dengan tangkasnya harimau itu meloncat menerkam ke arah Mahisa Murti.

Mahisa Murti yang memperhatikan gerak kaki harimau itu pun segera menyadari bahwa harimau itu telah meloncat ke arahnya. Karena itu, maka ia pun segera menempatkan diri. Pisaunya mulai bergerak.

Tetapi Mahisa Murti cukup tangkas. Kakinya yang seakan-akan melekat pada bumi, tiba-tiba saja melemparkan tubuhnya menyamping.

Harimau itu terkejut. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti itu hanya sekejap saja sebelum harimau dengan kuku-kukunya yang tajam terjulur ke depan itu menggapainya.

Karena kehilangan sasarannya, harimau itu mengaum dahsyat sekali. Namun tiba-tiba saja terasa sesuatu menindih punggungnya. Tangan yang kuat telah melingkar di lehernya.

Harimau itu menggeliat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melemparkan tubuh yang telah melekat di punggungnya itu. Bahkan harimau itu pun telah berguling di tanah.

Ternyata kekuatan harimau itu memang luar biasa. Mahisa Murti yang telah meloncat ke punggung harimau itu telah terlempar pada saat harimau itu berguling. Namun dengan tangkasnya Mahisa Murti meloncat bangkai sehingga ketika harimau itu bangkit berdiri pula di atas ampat kakinya, Mahisa Murti telah meloncat sekali lagi ke punggunya dan melekat lebih erat.

Namun Mahisa Murti tidak mau terlambat. Sebelum ha rimau itu melemparkannya, tiba-tiba saja pisau belatinya telah menghunjam ke tubuh harimau itu.

Sekali lagi harimau itu mengamuk dahsyat. Sekali lagi harimau itu menggeliat. Bahkan melonjak dan jatuh berguling dengan kemarahan yang menghentak-hentak oleh luka di punggungnya.

Sekali lagi Mahisa Murti tidak berhasil bertahan pada punggung harimau itu dan terlepas terpental beberapa langkah. Namun Mahisa Murti memang lebih cepat bergerak daripada lawannya. Ternyata Mahisa Murti telah melenting dan berdiri tegak lebih dahulu dari harimau itu.

Pada saat harimau itu tegak. Mahisa Murti justru telah menyerangnya. Pisaunya menyambar mendatar. Namun harimau itu mengerutkan tubuhnya bahkan tangannyalah yang berusaha untuk menggapai tangan Mahis Murti.

Tetapi Mahisa Murti berhasil menghindar. Bahkan ia pun telah siap untuk meloncat lagi justru menerkam harimau itu. Namun karena harimau itu menghadap ke arahnya, maka Mahisa Murti harus berhati-hati menghadapinya.

Sementara itu, maka Mahisa Murti telah berhasil menarik perhatian harimau itu. Bahkan harimau itu telah siap menerkam dengan kuku-kukunya yang tajam Selangkah harimau itu maju dengan kepala merendah siap untuk meloncat pada jarak yang hanya dua tiga langkah.

Namun harimau itu terkejut. Ia mendengar gemersik di belakangnya. Karena itu, maka dengan gerak naluriah harimau itu berpaling.

Pada saat yang demikian, dengan kecepatan yang tinggi Mahisa Murti sempat meloncat maju. Pisaunya mematuk leher harimau yang berpaling itu.

Namun pendengaran harimau itu memang sangat tajam. Gerak Mahisa Murti sekan-akan diketahuinya sehingga karena itu, maka justru sekali lagi tangan harimau itu terangkat, seakan-akan menangkis tangan Mahisa Murti.

Mahisa Murti berhasil mengenai lengan harimau itu. Tetapi tangannya pun telah tergores pula oleh kuku-kuku harimau yang tajam itu.

Mahisa Murti berdesis. Ia bergerser surut. Terasa tangannya menjadi pedih. Namun ia pun segera bersiap kembali untuk menghadapi harimau itu.

Pada saat yang demikian, sekali lagi harimau itu terkejut. Seperti yang terjadi sebelumnya, sesosok tubuh telah menindihnya dari belakang. Dan tangan yang kuat telah melingkar pula di lehernya.

Mahisa Pukat yang melihat kedudukan Mahisa Murti yang sulit telah melekat di punggung harimau itu. Ia tidak ingia kehilangan kesempatan. Karena itu, maka dengan segenap kekuatan yang ada padanya, ia tidak hanya menghunjamkan pisaunya sekali pada tubuh harimau itu. Tetapi berkali-kali.

Harimau itu benar-benar marah. Dengan dahsyatnya harimau itu mengaum sambil menggeliat dan berguling-guling. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melemparkan Mahisa Pukat dari punggungnya.

Mahisa Pukat berusaha untuk tidak terlepas. Tetapi tiba-tiba saja tubuhnya telah terantuk batu padas, sehingga kulitnya bagaikan telah terkoyak oleh batu yang runcing itu.

Pada saat-saat yang demikian, ternyata tangan Mahisa Pukat terlepas. Namun seperti yang dilakukan oleh Mahisa Murti, maka dengan cepat ia pun meloncat berdiri. Harimau itu pun telah berdiri pula. Justru terlalu dekat di hadapan Mahisa Pukat. Namun sekali lagi ternyata Mahisa Pukat lebih cepat bergerak dari pada harimau itu, sehingga justru pisau Mahisa Pukatlah yang menyambar kening harimau itu.

Harimau itu melangkah surut sambil mengaum sekali lagi. Ternyata tubuhnya telah menjadi merah oleh darahnya yang mengalir dari luka-lukanya. Apalagi kedua anak muda itu kemudian telah bersiap menghadapinya.

Sejenak harimau itu termangu-mangu. Namun ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergerak bersama dari dua arah mendekati harimau itu, maka harimau itu pun telah mengaum lebih dahsyat lagi oleh kemarahan yang bergejolak di dalam dadanya.

Mahisa Murti dan Mahisa Puat tertegun. Tetapi ketika pisau belati kedua anak muda itu mulai bergerak lagi, tiba-tiba harimau itu telah meloncat. Tidak menyerang salah seorang dari kedua anak muda itu, tetapi harimau itu telah meloncat berlari memasuki daerah persawahan, menyusup di antara batang-batang padi yang hijau.

Mahisa Pukat telah siap pula untuk berlari mengejar. Tetapi Mahisa Murti telah menggamitnya sambiil berdesis, “Biarkan harimau itu lari. Kita tidak akan dapat mengejarnya”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Ya. Kita memang tidak akan dapat mengejarnya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu-mangu beberapa saat. Tetapi kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam Mahisa Murti berkata, “Kita akan meneruskan perjalanan. Kita akan menuju ke padukuhan di depan kita”

“Baiklah” jawab Mahisa Pukat yang kemudian bertanya, “apakah kita akan menempuh jalan ini atau seperti tadi kita akan berjalan lewat pematang?”

“Kita akan berjalan melalui jalan ini” berkata Mahisa Murti, “tetapi kita perlu mengobati luka-luka kita. Meskipun tidak terlalu dalam, namun kita harus menempatkan darah yang mengalir ini lebih dahulu”

Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Tubuhnya juga terluka ketika tubuh itu dibanting-banting oleh harimau itu dan membentur padas yang tajam, sedangkan Mahisa Murti terluka tersentuh oleh kuku harimau itu.

Setelah menaburkan obat pada luka yang berdarah, maka keduanya pun telah melanjutkan perjalanan. Mereka tidak algi menghindari jalan yang mereka lalui seperti sebelumnya.

“Mungkin kita masih akan bertemu dengan hambatan lagi” berkata Mahisa Murti.

“Mungkin sekelompok penyamun” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi dipandanginya bulak panjang yang terbentang di hadapannya. Rasa-rasanya mereka berdua memang telah memasuki satu daerah yang asing dan penuh dengan rahasia.

Kedua anak muda itu berjalan dengan hati-hati. Mereka tidak menyelipkan pisau mereka di bawah kain panjang mereka. Tetapi mereka telah meletakkan pisau-pisau belati mereka di luar agar setiap saat diperlukan, mereka dengan cepat dapat menariknya dari sarungnya.

Bahkan kedua anak-anak muda itu seakan-akan selalu menggenggam hulu pisau belatinya sambil berjalan menyusuri jalan bulak yang panjang itu.

Pada setiap langkah, baik Mahisa Murti maupun , Mahisa Pukat tidak pernah terlepas dari perhatian mereka terhadap keadaan di sekitarnya. Malam yang gelap, batang-batang padi yang bergerak oleh sentuhan angin malam yang lembut dan suara langkah kaki mereka sendiri.

Namun untuk beberapa saat lamanya, mereka sama sekali tidak mengalami gangguan apapun juga. Tidak .ada binatangdan tidak ada seorang pun yang mereka jumpai, sehingga akhirnya mereka mendekati regol padukuhan.

“Kita akan memasuki padukuhan itu” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Ternyata ciri-cirinya tepat seperti yang dikatakan oleh Senopati itu. Tetapi bukankah pesannya, agar kita tidak memasuki padukuhan itu lewat regol. Baik siang, maupun malam?” jawab Mahisa Pukat.

“Ya” Mahisa Murti mengangguk-angguk, “orang yang akan kita datangi tidak banyak dikenal di padukuhan ini. Seandainya ia dikenal juga, tentu bukan sebagai petugas sandi dari Singsari”

Ketika anak muda itu pun kemudian terdiam. Tempat yang mereka tuju telah ada di depan mereka. Dari tempat itu, seorang Senapati lain dari Singasari memimpin tugas-tugas sandi atas beberapa orang kepercayaan mereka. Petugas-petugas itulah yang agaknya hilir mudik di daerah perbatasan, dan bahkan mungkin di seluruh kota Kediri.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya mengamati pintu gerbang itu. Mereka yakin, bahwa di belakang pintu gerbang itu terdapat sebuah gardu. Namun mereka tidak tahu, apakah di dalam gardu itu terdapat pata peronda atau tidak.

“Kita akan memilih meloncat dinding di sisi sebelah kiri sebagaimana disarankan oleh Senopati itu, kecuali dalam keadaan yang khusus menurut pertimbangan kita. Namun agaknya saat ini kita tidak menjumpai persoalan yang dapat memaksa kita untuk memilih tempat lain” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Memang tidak ada persoalan yang harus merubah cara sebagaimana ditunjukkan oleh Senapati Singasari yang berada di Talang Amba.

Karena itu, maka keduanya pun telah bergeser ke kiri menuju ke sebatang pohon yang besar dan rimbun, yang akan dapat membayangi mereka, saat mereka memasuki dinding padukuhan.

“Pohon itu tentu pohon preh” desis Mahisa Pukat bukankah di sebelahnya ada sebatang pohon siwalan?”

“Ya” Mahisa Murti mengangguk, “kita akan meloncati dinding di bawah pohon preh itu”

Kedua anak muda itu pun kemudian dengan hati-hati telah memasuki bayangan pohon preh yang kelam. Dengan hati-hati pula keduanya berusaha untuk meloncati dinding tanpa mengetahui apakah yang ada di dalam dinding itu.

Namun ketika keduanya menelungkup melekat dinding itu dalam bayangan pohon preh, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu di báwah mereka.

Namun demikian keduanya masih menunggu sesaat untuk menyakinkan bahwa mereka tidak akan menjumpai kesulitan apabila mereka kemudian meloncat turun.

Malam memang terasa sangat sepi dan kelam. Tetapi udara yang mengalir serasa memberi peringatan, bahwa sebentar lagi fajar akan menyingsing.

Diluar sadarnya Mahisa Murti pun memandang Mahisa Pukat yang masih menelungkup. Perlahan-lahan ia berdesis dan kemudian memberi isyarat untuk meloncat turun.

Sesaat kemudian keduanya telah berada di dalam dinding padukuhan. Dengan hati-hati keduanya meraya di sepanjang dinding padukuhan itu, untuk mencari ciri-ciri yang dapat menunjukkan arah, kemana mereka harus pergi.

Tiba-tiba keduanya tertegun. Mereka melihat sebuah jalan sempit yang ujungnya ditumbuhi sebatang pohon kulbandang. Daunnya yang berwarna ke kuning-kuningan cepat menarik perhatian.

“Disebelah pohon itu terdapat sebuah tugu batu” desis Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk. Perlahan-lahan ia merayap mendekatinya. Sebenarnya mereka melihat sebuah tugu yang tidak terlalu besar. Tugu yang menurut Senopati Singa-sari di Talang Amba berisi keterangan tentang wewenang seorang Kepala Tanah Perdikan di masa lampau, tiga keturunan sebelum Buyut yang sedang memerintah.

Dengan demikian maka keduanya telah memasuki lorong sempit itu. Menyusup di bawah pohon kulbandang dan kemudian berjalan dengan sangat hati-hati menuju sebuah halaman rumah yang tidak terlalu sempit, tetapi juga bukan termasuk halaman yang luas, yang di dalamnya tumbuh sebatang pohon pucung.

“jika pohon pucung itu sudah ditebang” berkata Senapati di Talang Amba, “atau roboh oleh angin, kalian dapat melihat cirri dari pintu gerbang halaman yang tidak terlalu besar. Kau akan melihat bahwa gawang pintunya sebelah kiri dan sebelah kanan tidak sama besar”

Karena itu, maka kedua anak muda itu berusaha mengamati setiap halaman dengan saksama. Namun mereka tidak perlu mengamati gawang pintu regol, karena kemudian mereka telah melihat sebatang pohon pucang yang sudah sangat tinggi.

“Pohon itu masih ada” berkata ia masih juga meyakinkan melihat gawang pintu gerbang. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Senapati itu, gawang pintu gerbang itu sebelah kiri dan kanan memang tidak sama.

“Rumah inilah yang harus kita datangi” berkata Mahisa Murti.

“Apakah kita akan segera masuk?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Kita harus memperlihatkan ciri kita setelah orang yang kita hadapi menyebut satu kalimat sandi” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia harus selalu ingat, semua pertanda, ciri kata-kata rahasia sebagai pertanda bahwa mereka berhadapan dengan orang yang benar.

Sejenak kemudian, kedua orang anak muda itu pun berusaha untuk membuka pintu regol. Ternyata pintu itu sama sekali tidak diselarak. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat yang mereka masuki kemudian adalah tempat yang penting, yang menjadi pusat pengendalian petugas-petugas rahasia Singasari di Kediri.

Dengan tidak ragu-ragu, karena semua ciri yang disebut oleh perwira Singsari di Talang Amba itu telah mereka ketemukan, maka mereka pun langsung menuju ke seketheng sebelah kiri. Kemudian tanpa ragu-ragu pula Mahisa Murti mengetuk pintu seketheng itu dua kali berganda.

Sejenak kedua anak muda itu menunggu. Sementara itu Mahisa Pukat yang menengadahkan kepalanya telah melihat cahaya fajar mulai mewarnai langit.

“Hampir pagi” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk. Ia pun melihat langit yang semakin cerah. Karena itu, maka katanya, “Mudah-mudahan kita segera menemuinya. Meskipun kita tidak terikat waktu, tetapi semakin cepat agaknya semakin baik bagi kita. Apapun yang kemudian terjadi, kita sudah berada di bawah pengetahuan yang bertugas di sini”

Mahisa Pukat tidak sempat menjawab. Di dalam seketheng telah terdengar langkah mendekati.

Sejenak kemudian pintu pun terbuka. Seorang perempuan berdiri tegak di pintu.

Untuk sesaat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun kemudian perempuan itu pun bertanya, “Apakah kalian mencari seseorang?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bingung. Mereka mengharap seseorang menerima mereka dan langsung mengucapkan kata sandi. Tetapi yang sekarang mereka temui adalah seorang perempuan yang bertanya sewajarnya.

Namun akhirnya Mahisa Murti pun menjawab, “Kau ingin bertemu dengan pemilik rumah ini”

Jawaban perempuan itu semakin membingungkannya. Katanya, “Ya. Akulah pemilik rumah ini. Aku menjadi cemas melihat kedatangan kalian pada waktu yang bukan sewajarnya seperti ini”

Sejenak kedua anak muda itu saling berpandangan. Tetapi Mahisa Murti pun akhirnya berkata, “Aku datang dengan ketukan khusus pada pintu seketheng sebelah kiri”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Marilah. Silahkan masuk”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengikutinya. Mereka menjadi ragu-ragu. Jika penghuni rumah itu sudah berganti karena sesuatu hal, mungkin dengan kekerasan atau pertimbangan-pertimbangan lain, maka mereka akan menemui kesulitan.

Dalam kebimbangan maka Mahisa Murtipu kemudian menuju ke pintu butulan. Dari dalam cahaya lajspu memancar keluar lewat daun pintu yang terbuka.

“Marilah anak-anak muda” perempuan itu mempersilahkan.

Kedua anak muda itu melangkah masuk. Mereka memasuki ruang yang tidak begitu luas. Memang agak berbeda dengan bayangan mereka, bahwa mereka akan memasuki ruang dalam di belakang pringgitan.

“Silahkan” berkata perempuan itu selanjutnya, “masuklah ke ruang tengah”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin ragu. Namun keduanya tidak dapat melangkah surut. Dari dalam terdengar suara berat “Masuklah anak-anak muda. Kami memang sedang menunggu kedatangan kalian”

Kedua anak muda itu tertegun sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti berdesis, “Apaboleh buat” Diikutsertakan Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti pun memasuki pintu yang ditunjuk oleh perempuan itu. Hampir diluar sadar mereka, tangan kedua anak itu melekat pada hulu pisau belati mereka.

Demikian mereka memasuki ruang u, maka jantung mereka terasa berdegup semakin keras. Nafas mereka terhenti sejenak. Betapa keduanya terkejut ketika keduanya melihat orang bertubuh raksasa dan pemilik warung itu berada di dalam ruangan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri tegak di depan pintu. Wajah mereka menjadi tegang.

Namun dalam pada itu, terdengar pemilik warung itu berkata, “Acungkan tangan kalian dengan jari-jari yang mengembang” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Orang itulah yang memang mereka cari. Kata-kata itu adalah kata-kata yang memang harus mereka dengar dari mulut pemilik rumah itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengulurkan tangan mereka. Jelas terlihat oleh orang yang menjadikan dirinya pemilik warung itu, cincin khusus di jari kedua anak muda itu.

Agaknya pemilik warung itu mengenali sikap keduanya. Sikap yang memang harus diperlihatkan jika mereka berada di tempat itu.

“Bagus” berkata pemilik warung itu, “duduklah. Ternyata kalian adalah anak-anak kelinci sebagaimana aku duga meskipun agak kurang meyakinkan. Tetapi sikap kalian menimbulkan kepercayaan padaku, bahwa kalian memang datang untuk kepentingan Singasari”

“Ya” jawab Mahisa Murti, “kami datang untuk melaporkan diri”

“Besok kita bicarakan tentang diri kita masing-masing. Sekarang kalian dapat beristirahat” berkata orang yang dikenal sebagai pemilik warung itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun kemudian orang yang bertubuh raksasa itu pun berkata, “Marilah Ikut aku”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. Namun orang bertubuh raksasa itu tersenyum sambil berkata, “Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi. Bukankah kalian telah mengalahkan aku”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Ketika mereka berpaling kepada orang yang dikenalnya sebagai pemilik warung itu, maka dilihatnya orang itu pun tersenyum.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengikuti orang bertubuh raksasa. Mereka kemudian dibawa ke serambi belakang dan kemudian keduanya dibawa masuk ke dalam sebuah bilik yang tidak terlalu luas.

“Beristirahatlah” berkata orang bertubuh tinggi besar itu, “besok masih banyak waktu bagi kalian untuk berbicara tentang tugas kalian”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Keduanya memasuki bilik yang tidak terlalu luas itu. Sebuah lampu minyak masih menyala. Namun meskipun kecil, tetapi bilik itu nampak bersih.

Sehingga tikar pandan yang putih terbentang di atas sebuah amben bambu yang cukup besar untuk kedua anak muda itu. Sebuah geledek bambu berada di sudut dan sebuah dingklik kayu melekat dinding di bawah lampu minyak yang masih menyala.

Selagi keduanya mengamati ruangan itu, maka orang bertubuh raksasa itu berkata, “Silahkan. Aku akan pergi. Masih ada waktu meskipun hanya sekejap”

“Terima kasih” sahut Mahisa Pukat.

Ketika orang itu meninggalkan kedua anak muda itu, maka Mahisa Murti pun telah menutup pintu bilik itu dan menyelaraknya. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun membaringkan dirinya di amben itu.

“Aku memang merasa lelah” berkata Mahisa Murti.

“Kita akan dapat beristirahat” berkata Mahisa Pukat, “nah jika kau lelah sekali, tidurlah. Aku sudah terlanjur tidak merasa mengantuk”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...