*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-011-01*
Ki Sarpa Kuning tidak memburunya lagi. Ia tahu bahwa lawannya ternyata cukup cekatan meskipun dengan demikian bukan berarti bahwa Ki Waruju akan dapat mengimbangi kecepatan gerak Ki Sarpa Kuning.
Dalam pada itu, beberapa orang yang berada di pinggir arena itu menjadi tegang. Gajah Wareng dan seorang saudara seperguruannya menjadi tegang pula. Namun, tidak kalah tegangnya adalah murid Ki Sarpa Kuning yang telah dikecewakannya karena adiknya terbunuh itu dan kakak beradik Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Mereka meyakinkan pertempuran itu dengan jantung yang berdentangan. Meskipun murid-murid Ki Sarpa Kuning menganggap bahwa gurunya adalah orang yang tidak terkalahkan, namun, menghadapi orang yang tidak dikenal itu, mereka menjadi berdebar-debar juga.
Sementara itu, Ki Sendawa yang terengah-tengah berdiri di antara orang-orangnya. Betapapun terasa tubuhnya nyeri dan sendi-sendi tulangnya serasa terlepas satu dengan yang lain, namun keinginannya untuk menyaksikan pertempuran itu telah memaksanya untuk tetap berdiri di tempatnya.
Di sisi lain, Ki Sanggarana pun berada di antara orang-orangnya yang tegang pula. Mereka menyaksikan orang yang menyebut dirinya Waruju itu dengan mata yang hampir tidak berkedip. Namun bagaimanapun juga, terbersit juga kecemasan mereka, karena mereka menganggap bahwa orang yang telah berdiri dipihak Ki Sendawa itu tentu orang yang memiliki ilmu tidak ada duanya. Sementara itu mereka masih belum yakin, apakah orang yang menyebut dirinya Ki Waruju itu akan mampu mengimbangi ilmu Ki Surpa Kuning.
Dalam pada itu, pertempuran antara kedua orang di arena itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Ki Sarpa Kuning yang masih menjajagi ilmu lawannya itu sedikit demi sedikit telah meningkatkan ilmunya, sementara Ki Waruju berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tingkat kemampuan lawannya. Namun dalam pada itu, Ki Waruju pun yakin, bahwa Ki Sarpa Kuning masih dalam tingkat ancang-ancang.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi cepat meningkat. Apalagi ketika pada suatu kali Ki Waruju telah mencoba untuk mengejutkan Ki Sarpa Kuning.
Selagi Ki Sarpa Kuning berusaha untuk mengetahui tingkat kemampuan lawannya, tiba-tiba saja Ki Waruju telah meningkatkan ilmunya melampaui tataran yang diambil oleh Ki Sarpa Kuning. Dengan kecepatan yang tidak diduga oleh lawannya, Ki Waruju telah menyerang dengan lontaran kaki menyamping.
Ki Sarpa Kuning benar-benar telah dikejutkan oleh serangan itu. Ternyata ia tidak sempat mengelak dan menangkis, karena yang terjadi adalah sangat tiba-tiba justru ketika Ki Sarpa Kuning berusaha mengetahui tingkat ilmu lawannya.
Karena itu, maka serangan kaki itu telah memasuki pertahanan Ki Sarpa Kuning yang masih belum terlalu ketat langsung mengenai lambung.
Ki Sarpa Kuning terdorong selangkah surut. Ternyata sentuhan itu cukup menyakitinya, seshingga karena itu, maka Ki Sarpa Kuning itu telah menggeram.
“Anak setan“ geramnya.
Ki Waruju sama sekali tidak menjawab. Dibiarkannya saja Ki Sarpa Kuning itu mengumpat-umpat.
Dalam pada itu maka Ki Sarpa Kuning pun meneruskan, “Kau kira kau benar-benar berhasil menyakitiku?“
“Aku tahu, bahwa kau sedang lengah” jawab Ki Waruju, “karena itu, maka aku mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya selagi kau masih tetap menganggap aku anak bawang di permainan ini”
“Gila“ geram Ki Sarpa Kuning, “Kau memaksa aku untuk mempercepat kematianmu”
“Biarlah segalanya kita selesaikan dengan cepat. Dengan demikian kita tidak akan berlarut-larut berada di arena ini tanpa ujung dan pangkal”
Ki Sarpa Kuning menggeram. Lawannya benar-benar seorang yang keras kepala. Bahkan agak terlalu sombong.
Karena itu, maka Ki Sarpa Kuning pun telah bersiap untuk segera meningkatkan ilmunya dan melumpuhkan lawannya yang telah menyakitinya itu.
Namun Ki Waruju telah memperhitungkannya sehingga karena itu ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi di arena.
Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka dengan cepat, karena mereka berusaha untuk mempercepat penyelesaian dari pertempuran itu. Apalagi setelah mereka saling menjajagi, maka mereka mendapat kesan, bahwa lawan-lawan mereka adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Namun, ternyata keduanya memang orang-orang yang berilmu melampaui orang kebanyakan. Sehingga semakin tinggi mereka mengerahkan ilmu mereka, maka orang-orang yang berada di sekitar arena itu menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan sebagian besar dari mereka sama sekali tidak tahu, apa yang telah terjadi.
Demikianlah, Ki Sarpa Kuning telah dengan sungguh-sungguh berusaha melumpuhkan perlawanan Ki Waruju. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa di padukuhan induk Kabuyutan Talang Amba itu, akan dijumpainya seseorang yang memiliki ilmu yang dapat mengimbanginya.
Namun Ki Sarpa Kuning tidak menjadi gentar. Ia memiliki pengalaman yang luas dalam dunia petualangan olah kanuragan. Karena itu, maka ia pun dengan penuh keyakinan berniat untuk dengan cepat melumpuhkan lawannya.
Tetapi, Ki Waruju tidak membiarkan dirinya menjadi korban kegarangan Ki Sarpa Kuning. Dengan mantap ia pun menempatkan diri sebagai lawan yang tangguh.
Benturan-benturan kekuatan semakin lama menjadi semakin sering terjadi. Ketika kecepatan serangan masing-masing menjadi semakin meningkat, maka mereka tidak lagi sempat untuk setiap kali menghindar. Tetapi mereka mulai menangkis setiap serangan, sehingga kekuatan mereka pun telah saling berbenturan.
Namun dalam pada itu, keduanya merasakan bahwa benturan-benturan kekuatan wajar mereka, sama sekali tidak akan menghasilkan satu penyelesaian. Agaknya mereka mempunyai kekuatan yang seimbang, sehingga yang satu tidak akan dapat mengalahkan yang lain.
Karena itu, maka mereka pun mulai menambah tenaga cadangan yang akan dapat melipatkan kekuatan dan kemampuan mereka.
Ki Sarpa Kuning benar-benar tidak lagi berusaha untuk mengekang diri. Dengan serta merta, maka ia pun telah memusatkan segenap kemampuannya dengan dorongan tenaga cadangan di dalam dirinya. Meskipun dengan tenaga wajar, lawannya mampu mengimbangi ilmunya, namun dalam puncak kemampuan dengan dilandasi tenaga cadangan yang dengan sepenuhnya telah dikuasainya, maka lawannya akan dihancur lumatkan.
Ki Waruju yang bergeser surut, melihat betapa Ki Sarpa Kuning telah memusatkan segenap daya di dalam dirinya lahir dan batin untuk melepaskan ilmu puncaknya. Sehingga karena itu, maka Ki Waruju pun telah melakukan hal yang sama. Ia tidak mau menjadi lumat oleh kekuatan yang akan terlontar dari puncak ilmu lawannya.
Dengan demikian, maka Ki Waruju pun telah menyalurkan kekuatan cadangan di dalam diri untuk memperkuat daya tahan tubuhnya serta lewat telapak tangannya. Sehingga dengan demikian, maka setiap sentuhan akan dapat berakibat gawat bagi lawannya.
Sejenak kemudian, maka yang terjadi di arena itu, benar-benar tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengikutinya. Bahkan Ki Sendawa dan Ki Sanggarana pun menjadi heran, melihat betapa keduanya bagaikan telah berubah menjadi bayangan yang saling berterbangan.
Ki Sarpa Kuning pun menjadi semakin heran. Ternyata Ki Waruju itu benar-benar seorang yang pilih tanding. Seorang yang memiliki ilmu yang dapat mengimbangi ilmunya. Bukan saja dalam batas-batas kewajiban. Namun Ki Waruju itu pun mampu mengimbangi ilmunya yang dilandasi dengan tenaga cadangannya.
Benturan-benturan yang terjadi pun telah menjadi semakin dahsyat. Meskipun yang saling berbenturan itu ada lah tubuh-tubuh yang kasat mata dari kedua orang yang sedang bertempur itu, namun sebenarnyalah yang berbenturan adalah kekuatan cadangan yang sulit untuk dimengerti.
Kecepatan gerak mereka pun menjadi semakin meningkat. Yang nampak di arena itu bagaikan beberapa orang yang saling memburu, menyerang dan berbenturan. Ki Sarpa Kuning dan Ki Waruju seakan-akan telah berubah, tidak lagi seorang melawan seorang. Tetapi arena itu seakan-akan telah menjadi penuh oleh kedua orang yang sedang bertempur itu, meskipun orang-orang yang menyaksikan itu akhirnya menyadari, bahwa yang ada diarena itu tetap seorang Ki Sarpa Kuning dan seorang Ki Waruju. Namun karena kecepatan gerak mereka, maka seolah-olah seluruh arena itu telah terisi oleh keduanya.
Dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning semakin lama menjadi semakin gelisah. Ia menyadari bahwa lawannya memang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga ia akan merlukan waktu dan puncak kemampuannya untuk pada suatu saat nanti mengalahkannya.
Sementara itu, Ki Sanggarana telah mengelus dadanya. Ketegangan yang sangat serasa telah mengguncang jantungnya.
“Seandainya orang-orang Talang Amba lah yang harus melawan Ki Sarpa Kuning dengan murid-muridnya, apakah yang akan terjadi” berkata Ki Sanggarana di dalam hatinya. Namun kecemasan yang lainpun telah tumbuh, “Bagamanakah akibatnya jika murid-murid Ki Sarpa Kuning itu turun pula ke arena tanpa menghargai sebuah perjanjian?“
Meskipun Ki Sanggarana mengenali seorang di antara murid Ki Sarpa Kuning itu sebagai orang yang pernah datang ke rumahnya, namun ia hanya seorang di antara murid-muridnya yang lain.
Dalam pada itu, Ki Sendawa pun menjadi tegang. Dalam kebingungannya, ia mulai kehilangan harapan. Ternyata Ki Sarpa Kuning bukan satu-satunya orang yang memiliki Ilmu yang luar biasa. Ternyata kemanakannya, menantu Ki Buyut itu pun mampu mendapatkan dukungan dari orang yang memiliki ilmu yang seimbang dengan ilmu Ki Sarpa Kuning. Bahkan belum ada tanda-tanda apapun bahwa Ki Sarpa Kuning akan dapat memenangkan pertempuran itu.
“Tetapi, Ki Sarpa Kuning membawa lima orang murid-murid” berkata Ki Sendawa di dalam hatinya., “menurut Ki Sarpa Kuning setiap orang muridnya akan dapat melawan anak-anak muda sepadukuhan”
Namun menilik apa yang dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning, Ki Sendawa pun yakin, bahwa mereka akan dapat melakukannya.
Demikianlah, pertempuran antara Ki Sarpa Kuning melawan Ki Waruju itu berlangsung semakin lama menjadi semakin dahsyat. Bagi penglihatan orang-orang Talang Amba, maka pertempuran itu tidak lagi dapat disebutnya, karena mereka tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Keduanya bagaikan berada di seluruh arena, berputaran, berloncatan dan bergeser dengan cepatnya. Tangan-tangan mereka pun seolah-olah telah berubah menjadi beberapa pasang yang bergerak bersama-sama.
Dalam pada itu, setiap saat keduanya bagaikan lebur menjadi satu. Namun tiba-tiba seorang di antara mereka telah melejit keluar dari putaran. Tetapi secepat ia terlempar keluar, ia pun telah melihat lagi ke dalam putaran yang semakin cepat.
Keduanya benar-benar bertempur dalam puncak ilmu mereka. Benturan demi benturan telah terjadi. Desak mendesak, serang-menyerang. Kadang-kadang keduanya dengan sengaja telah membenturkan ilmu mereka tanpa pengekangan diri.
Dalam pada itu, dalam puncak kekuatan masing-masing, maka ternyata mereka harus mempertaruhkan ketahanan tubuh mereka. Dalam keseimbangan ilmu, maka siapakah yang memiliki ketahanan lebih baik, maka ia akan dapat bertahan melampaui kemampuan bertahan lawannya.
Sebenarnyalah, bahwa ketahanan tubuh Ki Waruju telah diuji. Sebaliknya Ki Sarpa Kuning pun telah mengalami pendadaran yang sangat berat. Betapapun mereka memperhitungkan setiap kemungkinan dalam perang tanding itu, namun pada suatu saat, mereka telah mengerahkan puncak kekuatan mereka masing-masing. Tetapi puncak-puncak kekuatan itu tidak mampu menunjukkan tanda-tanda untuk dapat mengakhiri pertempuran.
Karena itu, maka mereka pun akhirnya harus memperhitungkan untuk tidak lebih dahulu kehilangan tenaga.
Dengan kesadaran itu, maka keduanya menjadi semakin berhati-hati. Keduanya mencoba untuk menguasai perasaannya sepenuhnya, sehingga mereka tidak akan terdorong kedalam satu tindakan yang tidak berarti namun hanya dapat menghabiskan tenaga saja.
Dengan demikian, pertempuran itu pun nampaknya menjadi semakin mengendor. Meskipun masih dalam batas-batas ketidak mampuan untuk dikenalinya oleh orang-orang Talang Amba.
Meskipun demikian, maka kedua orang yang sedang bertempur itu tidak dapat menyingkirkan diri dari keterbatasan mereka. Mereka bukan orang-orang yang dapat membebaskan diri dari kemungkinan badaniah. Karena itulah, meskipun mereka bertempur dengan landasan tenaga cadangan mereka, tetapi mereka tetap tidak mampu mempertahankan tataran kekuatan mereka.
Itulah sebabnya, maka kekuatan mereka pun mulai menjadi susut.
Tetapi kecepatan menyusut kekuatan kedua orang itu ternyata tidak sama. Ki Sarpa Kuning yang terlalu bernafsu untuk mengalahkan lawannya dengan cepat, telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya tanpa kekangan. Ketika ia menyadari bahwa ia akan bertempur untuk waktu yang lama, serta memerlukan ketahanan yang besar, sebenarnyalah, ia telah memeras sebagian besar dari tenaganya.
Itulah sebabnya, maka yang nampak mulai susut, adalah justru tenaga Ki Sarpa Kuning.
Bukan berarti bahwa tenaga Ki Waruju tidak menyusut, tetapi susutnya tenaga Ki Sarpa Kuning agak lebih cepat dari susutnya tenaga Ki Waruju. Sehingga dengan demikian, maka akhirnya mulai nampak, bahwa keseimbangan diantara kedua orang itu mulai bergerak.
Perlahan-lahan tetapi pasti, Ki Waruju mempunyai kemungkinan yang lebih baik dari lawannya. Ketika kekuatan Ki Sarpa Kuning menjadi semakin susut, maka benturan-benturan kekuatan pun menjadi tidak lagi seimbang.
Karena itulah, maka kadang-kadang Ki Sarpa Kuning harus terdorong beberapa langkah surut jika Ki Waruju dengan sepenuh tenaganya membenturkan diri terhadap serangan Ki Sarpa Kuning.
Dalam pada itu, benturan-benturan yang terjadi, serta sentuhan serangan dari kedua belah pihak telah membuat tubuh mereka menjadi sakit. Terlebih-lebih lagi Ki Sarpa Kuning. Terasa kulit dagingnya bagaikan lumat serta tulang-tulangnya menjadi retak.
Demikianlah sejenak kemudian, keduanya telah terlibat lagi ke dalam pertempuran yang sengit. Namun betapa kemarahan membakar isi dadanya, namun ternyata bahwa Ki Sarpa Kuning menjadi semakin kehabisan kesempatan. Sementara itu, Ki Waruju yang menganggap bahwa orang seperti Ki Sarpa Kuning itu tidak akan dapat lagi berubah, maka tidak ada jalan lain kecuali menyingkirkannya untuk selamanya.
Karena itu, maka ketika pertempuran itu mulai lagi menyala maka Ki Waruju lelah mulai lagi dengan serangan-serangannya yang gawat.
Ki Sarpa Kuning benar-benar mengalami kesulitan. Dalam keadaan yang paling gawat ia masih melemparkan seekor ular ke arah lawannya. Tetapi ular itu tidak berarti apa-apa, sementara kemarahan Ki Waruju menjadi semakin membakar jantung.
Ki Waruju tidak mengira bahwa Ki Sarpa Kuning melespaskan senjata rahasianya yang merupakan ular hidup, ia tidak sempat menangkis, sehingga ular itu menggigit pundaknya.
Tetapi dengan tangannya Ki Waruju meraba ular yang masih menggigit pundaknya. Perlahan-lahan Ki Waruju memijat kepala ular itu, sehingga akhirnya ular itu pun menggeliat dan melilit-lilit. Tetapi tangan Ki Waruju terlalu kuat, sehingga akhirnya kepala ular itu pun pecah karenanya.
Karena ular itu kemudian mati. maka gigitannya pun telah terlepas. Dengan wajah geram, Ki Waruju melemparkan ular itu kearah Ki Sarpa Kuning.
“Inilah ularmu” berkata Ki Waruju.
Ki Sarpa Kuning terkejut bukan buatan. Ular itu telah menggigit. Tetapi sudah sekian lama Ki Waruju masih tetap berdiri. Bahkan dengan mudah ia melepaskan gigitan ularnya dan melemparkannya kepadanya. Ular itu sudah mati.
“Kau tentu masih menunggu Ki Sarpa Kuning” berkata Ki Waruju kemudian, “kau menunggu kapan aku jatuh terkulai oleh kekuatan bisa bandotan kerdilmu. Tetapi sayang sekali Ki Sarpa Kuning. Aku tidak akan mati karena bisa ularmu”
“Anak setan” geram Ki Sarpa Kuning, “Kau akan mati”
Tetapi tiba-tiba saja Ki Warjju itu melangkah maju sambil berkata, “Bisamu tidak dapat membunuhku. Ularmu memang sudah tidak berbisa”
Kemarahan yang membawa membayang di wajah Ki Sarpa Kuning Sekali lagi ia mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya. Sekali lagi ia meloncatkan ularnya ke arah Ki Waruju.
Ki Waruju pun bergeser. Tetapi dengan tangannya ia menangkap kedua ekor ular itu dan meremasnya. Katanya, “Apakah kau masih mempunyai ular yang lain.
Wajah itu semakin tegang. Ketika tangan Ki Waruju menangkap kedua ekor ular itu, maka ular itu telah mematuknya. Tetapi Ki Waruju sama sekali tidak menghiraukannya. Ia sama sekali tidak menjadi cemas karena gigitan ular itu.
Ketegangan memang telah memuncak di jantung Ki Sarpa Kuning. Ia tidak segera melihat Ki Waruju jatuh dengan lemahnya. Ia tidak melihat Ki Waruju menjadi kejang dan kulitnya bernoda biru kehitaman. Tetapi ternyata bahwa Ki Waruju itu masih tetap tegak dihadapannya.
Dengan demikian, maka Ki Sarpa Kuning itu menjadi semakin geram. Tetapi juga kegelisahan yang sangat telah mencengkamnya. Sebuah pertanyaan telah membakar dadanya, “Kenapa orang itu tidak mati”
Dalam pada itu, Ki Waruju telah melangkah mendekatinya. Agaknya Ki Waruju benar-benar telah sampai pada satu keputusan untuk mengakhiri pertempuran itu.
“Ki Sarpa Kuning” berkata Ki Waruju, “nampaknya kita memang harus saling membunuh. Jika bukan kau, akulah yang akan terbunuh. Dan kau benar-benar telah mencobanya dengan bisa ularmu. Tetapi sayang bahwa bisa ularmu itu tidak berarti apa-apa bagiku”
“Omong kosong. Kau memang akan mampu bertahan seandainya kau mempunyai ilmu kebal. Tetapi hanya untuk beberapa saat. Apalagi karena bisa ularku telah masuk kedalam urat darahmu”
“Aku akan tetap hidup. Kaulah yang terpaksa harus mati di arena ini” geram Ki Waruju.
Ki Sarpa Kuning yang sudah tidak dapat mengekang gejolak kemarahannya tiba-tiba telah meloncat menerkamnya. Agaknya orang itu tidak lagi menghiraukan ular-ularnya yang telah dibunuh oleh Ki Waruju serta yang masih ada di kantong ikat pinggangnya.
Tetapi Ki Waruju sudah memperhitungkannya. Ki Sarpa Kuning akan menjadi kehilangan pengekangan diri dan tidak lagi dapat mengendalikan nalarnya. Dengan kemarahan yang meluap ia telah menyerang beruntun dengan sepenuh kemampuannya.
Ki Waruju yang masih tetap menguasai perasaannya, dengan cermat telah menghindari serangan-serangan itu. Dengan loncatan pendek ia memiringkan tubuhnya, sehingga serangan lawannya menyambar sejengkal dihadapannya.
Ki Waruju tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat ia telah membalas serangan itu justru dengan menyerang tangan Ki Sarpa Kuning yang terjulur.
Demikian cepatnya, sehingga meskipun Ki Sarpa Kuning berusaha menarik tangannya, tetapi serangan lawannya masih tetap mengenainya.
Ki Sarpa Kuning mengeluh. Tangannya terasa nyeri. Namun ia cepat bertindak. Sambil memutar tubuhnya, kakinya telah menyambar mendatar.
Tetapi Ki Waruju pun cepat bergerak. Ia sadar, bahwa tenaganya masih lebih baik dari tenaga lawannya. Karena itu, maka dengan sengaja ia telah membenturkan kekuatannya dengan menangkis serangan itu.
Sekali lagi telah terjadi satu benturan kekuatan. Tetapi kekuatan keduanya sudah tidak lagi penuh seperti saat mereka baru mulai.
Meskipun demikian benturan ilmu itu masih tetap mendebarkan hati.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa tenaga Ki Sarpa Kuning benar-benar telah jauh surut. Ketika kakinya membentur kedua belah tangan Ki Waruju yang menangkis serangan itu, dan bahkan Ki Waruju telah mendorongnya, maka Ki Sarpa Kuning telah kehilangan keseimbangannya. Terhuyung-huyung ia terdorong surut. Namun ketika ia berusaha memperbaiki keadaannya, maka serangan Ki Waruju telah menyusulnya. Dengan derasnya Ki Waruju meloncat mendekat. Kemudian dengan sekali berputar ia telah menyerang lawannya. Sambil memiringkan tubuhnya Ki Waruju menjulurkan kakinya tepat mengenai lambung Ki Sarpa Kuning.
Terdengar Ki Sarpa Kuning mengaduh perlahan Namun kemarahan yang meledak-ledak telah memaksa dirinya untuk bertahan. Ketika ia terdorong oleh serangan itu dan jatuh, dengan cepat ia berusaha untuk bangkit. Bahkan sambil berteriak nyaring untuk mengatasi getar di dalam jantungnya.
Tetapi serangan Ki Waruju telah memburunya. Demikian ia bangkit, maka Ki Waruju telah menyerangnya. Tangannya terjulur lurus mengarah kedada.
Namun Ki Sarpa Kuning tidak mau dadanya dipecahkan oleh serangan lawannya. Dengan cepat ia justru menjatuhkan dirinya bersandar kedua tangannya.
Ki Waruju lah yang kemudian menjadi tergesa-gesa. Ia memang ingin segera menyelesaikan tugasnya. Karena itu, maka ia pun telah berusaha menyerang saat Ki Sarpa Kuning masih belum bangkit.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Justru kaki Ki Sarpa Kuninglah yang mengenai dadanya ketika ia meloncat maju. Ki Sarpa Kuning masih dapat mempergunakan sisa tenaganya untuk melenting dan langsung menyerang ke arah dada.
Ki Waruju terdorong surut. Sementara itu Ki Sarpa Kuning sempat meloncat bangkit dan memperbaiki keadaannya. Namun sementara itu, Ki Waruju pun telah bangkit pula berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah, sejenak kemudian keduanya telah terlibat lagi ke dalam pertempuran yang sengit. Namun betapa kemarahan membakar isi dadanya, namun ternyata bahwa Ki Sarpa Kuning menjadi semakin kehabisan kesempatan. Sementara itu, Ki Waruju yang menganggap bahwa orang seperti Ki Sarpa Kuning itu tidak akan dapat lagi berubah, maka tidak ada jalan lain kecuali menyingkirkannya untuk selamanya.
Karena itu, maka ketika pertempuran itu mulai lagi menyala, maka Ki Waruju telah mulai lagi dengan serangan-serangannya yang gawat.
Ki Sarpa Kuning benar-benar mengalami ksulitan. Dalam keadaan yang paling gawat, ia masih melemparkan seekor ular ke arah lawannya. Tetapi, ular itu tidak berarti apa-apa, sementara kemarahan Ki Waruju menjadi semakin membakar jantung.
Serangan Ki Sarpa Kuning dengan sisa-sisa tenaganya tidak banyak memberinya peluang. Bahkan serangan-serangan balasan Ki Waruju telah berhasil melukai bagian dalam dadanya.
Ketika kaki Ki Waruju mengenai, pusat dadanya, rasa-rasanya dada itu akan pecah dan seluruh isinya bagaikan dirontokkannya. Terhuyung-huyung Ki Sarpa Kuning terdorong surut. Namun serangan berikutnya, telah melemparkannya dan jatuh terbanting di tanah.
Adalah nasib yang sangat buruk telah menimpanya. Ki Sarpa Kuning yang memiliki ilmu yang mapan itu tidak berhasil menempatkan dirinya pada saat ia terlempar. Begitu kuat dorongan kaki Ki Waruju, sementara kekuatan Ki Sarpa Kuning telah hampir lenyap, telah melemparkannya sehingga ia jatuh terlentang dengan bagian belakang kepalanya membentur batu di pinggir arena.
Batu itu memang tidak begitu besar. Tetapi bagian belakang kepala adalah bagian yang terlalu lemah. Karena itu, maka demikian kepalanya terantuk batu, maka rasa-rasanya langit pun menjadi gelap.
Betapa besarnya daya lahan Ki Sarpa Kuning. Namun bagian dadanya yang lerluka dan bagian belakang kepalanya yang terbentur batu oleh dorongan kekuatan yang jarang ada bandingnya, telah membuat Ki Sarpa Kuning itu kehilangan kesadarannya. Bahkan kemudian darah yang berwarna gelap pun telah meleleh dari bibirnya
Orang-orang yang berada di pinggir arena itu pun menjadi bertambah tegang. Namun sejenak kemudian, ketegangan itu dipecahkan oleh geram murid Ki Sarpa Kuning yang bernama Gajah Wareng.
“Gila” geramnya, “kau melukai guruku. Tidak ada hukuman yang pantas bagimu kecuali hukuman mati”
Ki Waruju termangu-mangu. Namun bagaimanapun juga, nafasnya pun telah menjadi tersendat-sendat. Ia sudah mengerahkan segenap sisa kemampuannya pada saat terakhir, sehingga kekuatannya itu pun seolah-olah telah terkuras habis.
Dalam pada itu, Gajah Wareng diikuti oleh saudara seperguruannya yang berkumis lebat itu pun telah memasuki arena. Dengan sorot mata yang menyala dipandanginya Ki Waruju yang berdiri mematung di tempatnya.
“Bersiaplah untuk mati” berkata Gajah Wareng, “kami berdua mempunyai kekuatan melampaui guru seorang diri. Apalagi jika nanti ketiga adik seperguruanku itu akan melibatkan dirinya memasuki arena. Kau tidak akan berarti apa-apa”
Wajah Ki Waruju menjadi tegang. Sekilas dipandanginya Ki Sanggarana. Namun Ki Sanggarana sendiri menjadi bingung menghadapi keadaan.
Sementara itu, orang-orang yang berada di seputar arena pun menjadi semakin tegang pula. Ketika mereka memandang Ki Sendawa yang berdiri tegak dipinggir arena, maka mereka pun menjadi berdebar-debar karenanya.
Ki Sendawa yang sudah sempat beristirahat beberapa saat itu pun telah menjadi agak segar. Ketika ia melihat Ki Sarpa Kuning terbanting jatuh dan kemudian tidak sadarkan diri. Jantungnya bagaikan telah membeku. Namun darahnya menjadi panas kembali ketika ia melihat sikap murid-murid Ki Sarpa Kuning itu.
Ki Waruju memandang kedua murid Ki Sarpa Kuning itu dengan tajamnya. Kemudian dengan suara yang berat ia berkata, “Kalian akan melawan aku?“
“Bukan sekedar melawan” jawab Gajah Wareng, “Aku akan membunuhmu”
“Gurumu tidak dapat membunuhku” jawab Ki Waruju.
“Aku tidak sendiri” jawab Gajah Wareng, “dan kau tidak akan mampu melawan kami berdua, sebab kekuatan kami berdua melampaui kekuatan guru”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian ternyata murid-murid yang setia. Ketika kalian melihat guru kalian tidak berdaya, maka kalian telah berusaha untuk membunuh diri”
“Gila” geram Gajah Wareng, “jangan terlalu sombong. Aku tahu bahwa tenagamu sudah susut dan bahkan hampir habis seluruhnya. Aku tahu bahwa kau tidak akan dapat bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Dan aku-pun tahu, bahwa membunuhmu dalam keadaan yang demikian adalah satu pekerjaan yang sangat mudah, seperti memijat buah ceplukan matang”
Ki Waruju berusaha untuk mengatur pernafasannya. Namun ia masih menjawab, “Aku sudah sempat beristirahat sekarang. Kalian tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sementara para pengikut Ki Sanggarana akan dapat membantuku”
Gajah Wareng memandang berkeliling. Namun matanya membentur sorot mata pada pengikut Ki Sendawa yang menyala. Karena itu sambil tersenyum ia berkata, “Aku dan Ki Sendawa juga tidak sendiri”
Ki Waruju tertegun sejenak. Namun ia menjadi berdebar-debar ketika Gajah Wareng berbicara kepada adik seperguruannya yang telah dikecewakan oleh gurunya itu, “Jaga baik-baik. Lakukan yang kau anggap perlu. Aku tidak segan membakar halaman banjar ini dengan pertempuran sehingga halaman ini akan dipenuhi oleh bangkai anak-anak Talang Amba yang berserakan silang melintang. Apakah ia pengikut Ki Sendawa atau pengikut Ki Sanggarana, sementara aku berdua akan membunuh orang yang sombong ini sebelum kita akan menolong guru”
Ketegangan telah membakar seluruh halaman banjar itu. Ki Sanggarana yang berusaha dengan susah payah untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih luas, menjadi korban adalah orang-orang Talang Amba. Apakah ia pengikut Ki Sendawa atau pengikutnya.
Dalam ketegangan itu, suara Mahisa Murti telah memecahkan keheningan, “Aku akan turun kearena”
Semua mata memandanginya. Namun tiba-tiba Gajah Wareng menyahut, “Jangan tergesa-gesa. Tunggulah jika saatnya telah tiba. Kau akan mendapat kesempatan cukup banyak”
Mahisa Murti tersenyum. Tetapi ia melangkah maju memasuki arena sambil berkata, “Aku sudah tidak sabar lagi”
“Jangan mengganggu kami” berkata orang berkumis, “Aku berdua sudah siap membunuh orang gila itu”
Tetapi Mahisa Murti justru bertolak pinggang sambil berkata, “Jangan salah mengerti Ki Sanak. Ki Waruju masih terlalu lelah untuk menghadapi kalian berdua. Karena itu. maka biarlah kami berdua mewakilinya”
Gajah Wareng menjadi tegang. Matanya bagaikan hendak meloncat keluar. Dengan gagap oleh gejolak perasaannya ia bertanya, “Apa maksudmu he?“
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “Aku dan saudaraku berdiri dipihak Ki Waruju.
“Gila. Apa maksudmu? Apa maksudmu he? Kau ingin berkhianat justru setelah guru dalam keadaan yang sulit?” bertanya Gajah Wareng dengan Kemarahan yang membakar dadanya.
“Ya Ki Sanak. Tetapi sama sekali bukan berkhianat dalam pengertian yang wajar. Aku memang sudah berkhianat sejak aku menerima tawarannya untuk menjadi muridnya” jawab Mahisa Murti.
“Anak gila“ Gajah Wareng hampir berteriak, “sejak mula aku sudah tidak mempercayaimu”
“Aku pun mengerti bahwa kalian tidak mempercayaiku” jawab Mahisa Murti, “tetapi kesempatan yang paling haik itu dapat aku pergunakan untuk mengerti serba sedikit tentang isi dari perguruan Ki Sarpa Kuning”
Gajah Wareng tidak dapat menahan diri lagi. Sementara itu orang berkumis yang juga sudah berada di arena itu pun menggeram, “Aku akan membunuhmu lebih dahulu”
Dengan serta merta orang itu telah menyerang Mahisa Murti. Namun sementara itu, Mahisa Pukat pun telah berada di arena pula. Dengan nada dalam ia berkata, “Gajah Wareng. Biarlah aku yang melawanmu”
Gajah Wareng menggeretakkan giginya. Ketika ia memandang saudara muda seperguruannya yang berdiri termangu-mangu di luar arena, ia pun berkata, “Marilah. Agar tugas kita cepat selesai, ikutlah dalam permainan ini”
Orang itu nampak ragu-ragu. Namun kemudian dengan tegas ia menjawab, “Tidak”
“He, kau pun akan berkhianat pula?“ geram Gajah Wareng.
Orang itu berdiri tegak tanpa bergerak. Ia sudah dikecewakan oleh perguruannya. Sejak ia memasuki perguruan itu, ia sudah di bebani oleh satu perasaan yang tidak dapat dicernakannya. Apalagi ketika adiknya sudah terbunuh karena tangan gurunya sendiri
“He cepat” teriak Gajah Wareng, “Jika kau benar-benar ingin berkhianat, maka kau menyadari, hukuman apa yang akan kau terima nanti”
Tetapi orang itu menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak akan membantu kalian. Apapun yang terjadi atas guru, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Hatiku sudah pernah dilukainya. Adikku telah dibunuhnya”
“Adikmu telah berkhianat. Jika kau melakukannya juga, maka kau pun akan mati seperti adikmu” geram orang berkumis yang sudah mulai bertempur melawan Mahisa Murti.
Tetapi orang itu tetap tidak beranjak dari tempatnya.
Sementara itu, kemarahan Gajah Wareng pun menjadi semakin meningkat. Karena itulah, maka ia pun tidak berbicara lebih lanjut. Yang dihadapinya adalah anak muda yang telah dibawa oleh gurunya memasuki baraknya. Namun yang ternyata dalam keadaan yang gawat ia sudah berkhianat.
Dengan demikian telah terjadi dua putaran perkelahian. Gajah Wareng bertempur melawan Mahisa Pukat, sementara saudara seperguran Gajah Wareng yang berkumis itu bertempur melawan Mahisa Murti.
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berharap hal itu terjadi. Tetapi karena ia belum mengerti maksud Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu sebelumnya, maka ia hanya dapat menunggu.
Ki Sanggarana pun menjadi agak bingung. Tetapi akhirnya ia dapat menduga-duga apa yang telah terjadi meskipun mungkin tidak tepat sebagaimana sebenarnya.
Demikianlah, pertempuran antara murid-murid Ki Sarpa Kuning melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menjadi semakin seru. Seperti gurunya, maka kedua murid
Ki Sarpa Kuning itu pun bertempur dengan garangnya. Keduanya mampu bergerak cepat dan tangkas.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak-anak muda yang telah menempa diri sebaik-baiknya. Karena itulah, maka dengan baik pula mereka dapat melayani lawan-lawannya.
Mahisa Murti berusaha untuk memancing lawannya mengambil jarak dari pertempuran antara Mahisa Pukat dengan Gajah Wareng, sehingga dengan demikian, maka keduanya tidak akan saling mengganggu.
Sementara kedua orang murid Ki Sarpa Kuning itu bertempur, orang-orang yang berada di seputar arena itu benar-benar telah dicengkah oleh perasaan yang membingungkan. Tiba-tiba saja dikalangan murid-murid Ki Sarpa Kuning sendiri telah terjadi pertengkaran sehingga mereka telah saling bertempur.
Baik para pengikut Ki Sendawa, maupun para pengikut Ki Sanggarana. tidak segera dapat mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi.
Namun Ki Waruju tersenyum menyaksikan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur melawan kedua orang murid Ki Sarpa Kuning, sementara itu ia sendiri mendapat kesempatan untuk beristirahat. Apabila perlu, maka tenaganya yang akan segera pulih kembali itu, akan dapat dipergunakannya sebaik-baiknya.
Namun ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang memiliki bekal yang cukup. Karena itu. maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Gajah Wareng dan orang berkumis itu adalah murid-murid Ki Sarpa Kuning yang paling dipercaya. Namun keduanya tidak segera dapat menguasai Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dalam keadaan yang paling gawat itu, Ki Sendawa berusaha untuk mempersiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Kepada kepercayaannya ia memerintahkan agar dengan diam-diam pasukannya disiapkan. Setiap saat mereka akan dapat bertindak.
Agaknya Ki Waruju cukup waspada. Ia melihat gerak-gerak yang mencurigakan dari Ki Sendawa dengan beberapa orang pembantunya.
Karena itu, maka Ki Waruju itu pun tidak tinggal diam. Ia pun kemudian dengan diam-diam bergeser mendekati Ki Sanggarana sambil berbisik, “Hati hatilah. Keadaan dapat menjadi semakin buruk. Ki Sendawa telah menyiapkan orang-orangnya”
“Apakah harus terjadi benturan kekuatan antara para pengikut paman Sendawa dan pengikut-pengikut?” bertanya Ki Sanggarana dengan cemas.
“Hanya mempersiapkan diri. Berjaga-jaga. Mudah-mudahan hal itu tidak akan terjadi” jawab Ki Waruju.
Ki Sanggarana menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun memerintahkan kepada orang-orang yang dipercayanya untuk bersiap-siap.
“Kalian hanya bersiaga saja, pesannya kalian tidak mendapat wewenang untuk menyerang tanpa perintahku langsung. Aku sendiri yang akan meneriakkan aba-aba jika kalian memang harus bertempur”
Kepercayaan itu mengangguk. Namun sebentar kemudian, ia pun telah menjatuhkan perintah untuk bersiaga sepenuhnya.
“Setiap saat keadaan akan dapat menjadi sangat menentukan Bahkan menentukan hidup dan mati dari Kabuyutan Talang Amba” berkata kepercayaan Ki Sanggarana itu kepada para pengikutnya.
Kepercayaannya itu pun mengangguk-angguk. Sejenak kemudian maka ia pun telah menyusup diantara para pengikut Ki Sanggarana dan memberikan pesan kepada mereka sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sanggarana.
Dalam pada itu, Mahisa Murti yang bertempur melawan murid Ki Sarpa Kuning yang berkumis itu pun telah berhasil menjajagi kemampuan lawannya. Tidak terlalu berbahaya, meskipun bukan berarti bahwa ia dapat mengabaikannya.
Orang berkumis itu sendiri telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan sepenuh kekuatannya ia menyerang dan berusaha mendesak Mahisa Murti. Namun serangan-serangannya ternyata tidak banyak berhasil. Dengan tangkasnya Mahisa Murti selalu dapat menghindarkan diri. Namun demikian, serangan-serangan orang berkumis itu kadang-kadang memang sangat berbahaya.
Dalam kesempatan selanjutnya, Mahisa Murti ternyata harus mengakui kecepatan gerak lawannya. Bahkan kadang-kadang langkah tidak diduganya.
Karena itu. maka Mahisa Murti pun harus berbuat sebaik-baiknya.
Ketika serangan orang berkumis itu datang membadai. maka Mahisa Murti pun dengan tangkas berhasil menghindarinya. Tetapi ternyata orang itu telah meloncat menyamping. Kakinya terjulur lurus kearah lawannya dengan sepenuh kekuatan. Tetapi ternyata bahwa kaki itu tidak mengenai Mahisa Murti, karena Mahisa Murti masih sempat menarik diri selangkah surut.
Namun agaknya lawannya tidak membiarkannya. Dengan serta merata orang berkumis itu memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya dalam serangan mendatar.
Demikian cepatnya, sehingga Mahisa Murti tidak sempat mengelak lagi. Namun justru karena itu. maka timbullah niat Mahisa Murti untuk membenturkan kekuatannya.
Karena itu, maka Mahisa Murti dengan sengaja tidak menghindar. Tetapi ia melindungi dadanya dengan kedua tangannya yang bersilang di dadanya.
Kaki lawannya itu telah membentur tangannya yang melindungi dada. Benturan itu terjadi dengan kerasnya.
Terasa tangan Mahisa Murti bagaikan dihentakkan oleh kekuatan yang luar biasa besarnya, sehingga tangan itu telah menghentak didadanya pula. Tetapi dengan demikian, sebagian tenaga serangan itu telah dipunahkannya, sehingga dadanya tidak menjadi retak karenanya. Meskipun demikian Mahisa Murti itu telah terdesak selangkah mundur.
Sementara itu, kaki lawannya pun serasa telah membentur selembar kepingan baja yang tebal dan kuat. Kakinya justru bagaikan akan patah.
Orang berkumis itu menyeringai menahan sakit. Kakinya yang melingkar mengenai tangan yang bersilang itu bagaikan telah terdorong pula, sehingga orang berkumis itu justru terhuyung-huyung.
Tetapi ia pun cepat memperbaiki keadaannya. Ketika kemudian Mahisa Murti menyerang, maka orang itu sempat meloncat jauh-jauh sekaligus mengambil kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi serangan-serangan berikutnya.
Sementara itu, Gajah Wareng pun telah mengumpat dengan kasarnya. Ternyata bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki ketangkasan bergerak yang luar biasa. Bahkan kekuatannya pun sama sekali, tidak diduganya.
Mahisa Pukat memang memiliki kemampuan diluar dugaan lawannya. Gajah Wareng yang menyangka bahwa anak-anak yang dibawa gurunya itu baru sekedar memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Namun ternyata bahwa ia harus memeras kemampuannya untuk menghadapinya.
Pertempuran antara Gajah Wareng dan Mahisa Pukat itu pun semakin lama menjadi semakin sengit, sebagaimana terjadi antara Mahisa Murti dengan lawannya. Sekali-kali Mahisa Pukat memang berusaha mengambil jarak untuk mengetahui serba sedikit tentang tata gerak lawannya. Namun tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang dengan garangnya. Serangan yang tiba-tiba dan yang sering membuat lawannya kehilangan kesempatan sehingga memaksa lawannya itu untuk menghindar jauh-jauh.
Tetapi, setiap kali Mahisa Pukat tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Dengan cepat ia memburu dengan serangan-serangan beruntun.
Tetapi, Gajah Wareng murid terpercaya dari Ki Sarpa Kuning itu pun memiliki kemampuan yang tinggi pula. Karena itu. Setiap kali ia berhasil membebaskan diri dari amukan serangan Mahisa Pukat. Bahkan sekali-sekali ia pun mampu membalas menyerang dengan garangnya. Bahkan kadang-kadang serangannya pun datang menghantam Mahisa Pukat dengan sepenuh kekuatannya
Tetapi, Mahisa Pukat yang trengginas itu tidak terlalu banyak mengalami kesulitan Bahkan dengan tepat ia selalu berhasil memotong serangan lawannya yang kadang-kadang juga sangat berbahaya.
Ternyata pertempuran antara kedua orang murid Ki Sarpa Kuning melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menurut pengertian beberapa orang di sekitar arena itu juga murid Ki Sarpa Kuning, telah menimbulkan berbagai persoalan di dalam hari mereka. Pertempuran itu sendiri telah menggetarkan jantung mereka. sementara itu perselisihan di antara murid-murid Ki Sarpa Kuning itu sendiri telah membingungkan mereka.
Yang berdiri termangu-mangu adalah murid Ki Sarpa Kuning yang menjadi kecewa atas kematian adiknya itu. Ia memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ada semacam perasaan tersinggung jika ia melihat ilmu sebagaimana dimilikinya itu tidak mampu berbuat banyak atas kedua anak muda yang bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Namun ia tidak ingin membantu murid-murid Ki Sarpa Kuning yang telah menyakiti hatinya dengan membunuh adiknya itu. Dalam pada itu, orang berkumis yang bertempur melawan Mahisa Murti itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Mahisa Murti benar-benar telah berniat untuk mengakhiri pertempuran. Sehingga karena itu, maka ia pun benar-benar telah sampai ke puncak ilmunya.
Orang berkumis itu pun merasakan, betapa serangan-serangan Mahisa Murti menjadi semakin mendesaknya. Seolah-olah ia telah kehilangan kesempatan sama sekali. Serangan-serangan yang datang membadai itu tidak dapat dielakkannya seluruhnya. Sekali-kali serangan Mahisa Murti telah berhasil menyusup di sela-sela pertahanannya dan mengenai tubuhnya.
Orang berkumis itu mengumpat-umpat. Tetapi adalah satu kenyataan bahwa tubuhnya telah disakiti oleh serangan-serangan Mahisa Murti.
“Anak Setan” orang itu menggeram. Dikerahkannya segenap kemampuannya. Dengan garangnya ia berusaha untuk membalas memecahkan pertahanan lawannya.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Justru karena ia berusaha untuk menyerang dengan sepenuh kekuatannya, maka ia telah terpancing untuk mengerahkan segenap kekuatan dan tenaganya.
Karena itulah, maka tenaganya pun menjadi kian susut. Semakin banyak ia memeras tenaganya, maka tenaga itu pun menjadi semakin cepat susut pula.
Dengan demikian, maka perlawanannya justru menjadi semakin tidak berimbang. Ketika Mahisa Murti menyerangnya dengan tangannya yang terjulur ke dadanya, ia masih mampu mengelak dengan menarik sebelah kakinya dalam setengah lingkaran menyamping sambil memiringkan tubuhnya. Tetapi adalah diluar dugaan bahwa tangan yang terjulur itu telah terayun menyamping.
Orang berkumis itu berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangannya, agar serangan tangan lawannya tidak mengenai keningnya.
Tetapi Mahisa Murti telah merubah serangannya. Dengan cepat tangan itu ditariknya. Sambil memiringkan tubuhnya, kakinya telah terangkat. Cepat sekali mengarah lambung.
Orang berkumis itu masih berusaha menangkis. Tetapi kaki Mahisa Murti ternyata lebih cepat, sehingga orang itu pun mengaduh perlahan ketika lambungnya telah dihentakkan oleh kaki Mahisa Murti sehingga dengan demikian, maka tubuhnya pun telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.
Dengan cepat orang itu berusaha berdiri. Namun terasa betapa perutnya menjadi mual. Perasaan pedih telah menyengat pula sehingga demikian ia tegak, maka ia pun telah terhuyung-huyung.
Mahisa Murti tidak melepaskan kesempatan itu. Justru pada saat orang itu terhuyung-huyung, maka Mahisa Murti telah meluncurkan serangannya yang menentukan. Sekali lagi ia mempergunakan kakinya. Dengan loncatan yang panjang, maka kakinya terjulur menyamping langsung menghantam dada.
Sekali lagi lawannya terlempar dan jatuh terlentang. Demikian kerasnya, sehingga orang itu tidak sempat untuk mengaduh lagi. Demikian ia terbanting jatuh, maka ia pun telah menjadi pingsan.
Gajah Wareng mengumpat dengan kasarnya. Ketika ia melihat saudara seperguruannya itu terjatuh dan tidak dapat bangkit lagi, maka ia pun menjadi gelisah. Tetapi ia tidak menghentikan perlawanannya.
“Menyerahlah” berkata Mahisa Pukat.
Tetapi jawaban orang itu adalah umpatan yang menyakitkan telinga. Bahkan kemudian ia pun berkata kepada adik seperguruannya yang telah dianggapnya berkhianat, “Kau telah menjadi gila. Jika kau tidak mau melibatkan diri, maka kau akan aku bunuh seperti adikmu”
Orang itu tidak menjawab sama sekali. Ancaman itu memang mendebarkan jantung. Tetapi ketika ia melihat Ki Sarpa Kuning yang terbaring dan tidak bergerak lagi sebagaimana saudaranya seperguruannya yang seorang lagi, maka kecemasannya pun segera larut. Ki Sarpa Kuning sudah tidak akan dapat menghukumnya, sementara ia memang tidak takut kepada Gajah Wareng.
Dalam pada itu, maka Gajah Wareng benar-benar telah terdesak. Mahisa Murti yang telah kehilangan lawannya pun telah mendekatinya. Namun ia sama sekali tidak mengganggu pertempuran itu.
Ketika Mahisa Pukat kemudian mendesak lawannya semakin tajam, maka Gajah Wareng telah mengambil satu sikap yang mengejutkan. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Ki Sendawa. Kali ini adalah kesempatan yang terakhir. Jika kau tidak berhasil, maka untuk selamanya kau akan kehilangan kesempatan. Cepat, siapkan orang-orangmu”
Ki Sendawa yang masih dicengkam oleh gejolak perasaannya melihat kekalahan demi kekalahan itu pun terkejut. Namun sekali lagi ia menghadapi satu kenyataan. Ki Sarpa Kuning sudah dikalahkan. Seorang muridnya sudah terbaring diam. Seorang muridnya yang lain berdiri termangu-mangu diluar arena, sementara dua orang murid yang masih muda itu justru telah berpihak kepada Ki Sanggarana.
Dalam kebimbangan itu sekali lagi terdengar suara Gajah Wareng, “Cepat. Lakukan. Bukankah kau tidak datang sendiri?”
Tetapi sebelum Ki Sendawa berbuat sesuatu, Ki Sanggarana yang menjadi cemas, bahwa akan terjadi pertempuran yang melibatkan orang-orang Talang Amba yang akan melawan orang-orang Talang Amba sendiri, telah tampil didampingi oleh Ki Waruju.
Dengan suara lantang ia berkata, “Paman Sendawa. Paman telah melihat apa yang telah terjadi di halaman banjar ini. Apakah paman masih belum puas dan masih, akan berusaha untuk membenturkan kekuatan diantara saudara sendiri?“
Gajah Wareng yang masih bertempur itu pun berteriak, “Jangan hiraukan”
Tetapi suaranya terputus karena Mahisa Pukat yang menjadi jengkel telah menyerangnya dengan serta merta. Kakinya yang berhasil menghantam lambungnya telah melemparkannya.
Tetapi Gajah Wareng cukup tangkas, sehingga ia tidak terbanting jatuh karenanya. Meskipun demikian, ia harus meloncat jauh-jauh dari lawannya untuk menghindari serangan berikutnya yang akan dapat menghantamnya pula.
“Paman” berkata Ki Sanggarana kemudian, “paman tahu, bahwa orang terpenting yang akan membantu paman telah dikalahkan. Apa sebenarnya yang akan dapat paman lakukan?”
Namun ternyata Ki Sendawa yang sudah dibayangi oleh kekuasaan seorang Buyut itu pun masih juga menjawab, “Aku datang dengan para pengikutku”
“Jumlah mereka tidak sebanyak jumlah orang-orangku. Tetapi yang lebih buruk lagi, orang-orang paman dan orang-orangku, keduanya adalah orang-orang Talang Amba. Mungkin di antara mereka yang berpihak kepada paman, adalah saudara salah seorang di antara mereka yang berpihak kepadaku”
“Jangan cengeng” teriak Gajah Wareng. Tetapi sekali lagi serangan Mahisa Pukat telah melemparkannya.
Ki Sendawa termangu-mangu Ia memang menghadapi satu kenyataan, bahwa Ki Sarpa Kuning telah terbaring diam. Murid-murid Ki Sarpa Kuning tidak lagi dapat diharapkan, bahkan ada di antara mereka yang berpihak kepada Ki Sanggarana.
Namun dalam keragu-raguan itu ia masih berteriak, “Sanggarana. Apakah kau masih akan berkeras kepala? Meskipun orang-orangku dan pengikutmu sama-sama orang Talang Amba, namun mereka berpijak pada alas berpikir yang berbeda. Orang-orangku adalah orang-orang yang dengan jujur melihat satu kenyataan tentang darah keturunan kita, sementara orang-orangmu adalah orang-orang yang telah kau bayar untuk berpihak kepadamu”
“Paman jangan memutar-balikkan satu kenyataan. Apalagi paman sudah kalah janji dalam arena ini Ki Sarpa Kuning pun telah kalah. Dan apalagi?” bertanya Ki Sanggarana.
“Tetapi orang-orang tidak akan kalah. Kita akan bertempur, pasukanku akan menggilas pasukanmu” teriak Ki Sendawa.
Sekali lagi ketegangan telah memuncak. Sementara itu. Gajah Wareng memang sudah tidak akan mampu berbuat sesuatu. Harapannya satu-satunya adalah, bahwa Ki Sendawa akan memerintahkan orang-orangnya untuk bertempur. Jika pertempuran itu benar-benar terjadi, maka mungkin ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar