*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 19-04*
“Maaf kakangmas,” jawab Purnadewi, “Aku tidak berani melakukannya. Jika aku berada diantara para prajurit pengikut kakangmas Kuda Permati, maka ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Jika mereka tidak percaya bahwa aku adalah Purnadewi, isteri Pangeran Kuda Permati, maka nasibku akan menjadi sangat buruk. Aku akan dapat mengalami satu penderitaan yang paling pahit melampaui mati itu sendiri.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Yang disebut oleh Purnadewi itu-pun merupakan salah satu akibat peperangan yang tidak berkesudahan.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada-pun harus menemukan satu cara untuk melepaskan Purnadewi tetapi tidak terjerumus kedalam tangan orang-orang buas meskipun itu adalah orang-orang yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati yang setia.
“Carilah satu jalan yang paling baik,” berkata Sri Baginda kepada Pangeran Singa Narpada.
“Hamba akan memikirkannya Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Aku akan selalu berdoa bagi keselamatanmu dan keselamatan Pangeran Kuda Permati,” berkata Sri Baginda, “Mudah-mudahan nalarnya menjadi terang, sehingga usahamu akan berhasil. Jika demikian, maka Kediri akan bersorak dan memandangmu sebagai seorang perempuan yang paling berjasa bagi kedamaian tanah tercinta ini. Sementara hal itu belum terwujud, maka di sudut-sudut tanah ini masih akan terjadi pembantaian yang tidak mengenal perikemanusiaan.”
Purnadewi mengusap air matanya. Namun wajahnya menjadi tengadah sambil menjawab, “Hamba mohon doa restu Sri Baginda. Semoga usaha hamba akan berhasil, sehingga peperargan akan berhenti dan kematian tidak akan bertambah-tambah.”
“Pergilah,” berkata Sri Baginda kemudian.
Purnadewi-pun kemudian minta diri bersama Pangeran Singa Narpada. Mereka masih harus mencari jalan untuk mengirimkan Purnadewi, sehingga ia benar-benar akan sampai kepada Pangeran Kuda Permati.
Dengan dua orang perwira kepercayaannya, Pangeran Singa Narpada telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh oleh Purnadewi. Mereka menimbang kesulitan dan mungkin rintangan-rintangan yang akan dapat menggagalkan usaha Purnadewi.
“Usahanya tidak boleh gagal sebelum dimulainya,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Jika terjadi malapetaka atas Diajeng Purnadewi, sehingga ia tidak dapat mencapai Pangeran Kuda Permati, maka itu berarti bahwa ia telah gagal sebelum ia dapat mulai dengan tugas besarnya.”
Para perwira itu mengangguk-angguk. Berbagai pikiran telah mereka kemukakan. Mereka telah melihat berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, sehingga akhirnya mereka memiliki salah satu cara yang mempunyai kemungkinan buruk paling kecil.
“Mungkin cara ini dapat dicoba,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tetapi kita tetap bertanggung jawab atas keselamatan Diajeng Purnadewi.”
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada telah mengerahkan kemampuan pasukan sandinya untuk mengetahui dimanakah pasukan Pangeran Kuda Permati berada. Disaat terjadi pertempuran dalam beberapa hari berturut-turut, Pangeran Singa Narpada dapat mengikuti gerak pasukan Pangeran Kuda Permati. Dari satu daerah pertempuran ke daerah pertempuran berikutnya memberikan gambaran, kemanakah gerak pasukan itu berikutnya.
Dari pasukan sandinya Pangeran Singa Narpada-pun mendapat laporan bahwa pasukan Pangeran Kuda Permati nampak di luar daerah perbatasan sebelah Barat Kota Raja.
“Kita kirim Diajeng Purnadewi ke daerah itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tetapi kita harus mengamati perjalanannya sampai kita yakin, bahwa ia akan sampai ke daerah yang kini menjadi landasan pasukan Pangeran Kuda Permati di sisi Barat.”
Setelah mereka menemukan satu cara yang dianggap paling baik, maka Pangeran Singa Narpada itu-pun segera memanggil Purnadewi untuk memberitahukan, apa Purnadewi setuju dengan cara itu.
Purnadewi merenungi cara itu untuk beberapa saat. Tetapi ternyata baginya cara itulah yang paling baik. Memang masih ada kemungkinan-kemungkinan pahit yang dapat terjadi. Tetapi tidak ada usaha yang tidak mengalami hambatan apa-pun juga.
Karena itu, maka Purnadewi-pun kemudian berkata, “Baiklah kakangmas. Beri aku kesempatan. Aku akan mencoba melakukannya.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Diajeng. Ternyata kau memiliki keberanian melampaui keberanian seorang prajurit. Lakukanlah. Jika kau berhasil, maka kau benar-benar seorang pahlawan. Kediri benar-benar memerlukan kedamaian.”
Dengan demikian, maka rencana untuk melepaskan Purnadewi itu-pun dilakukan dengan sangat berhati-hati dan rahasia.
Pada saatnya, ketika Kota Raja sedang dicengkam oleh kesepian di malam hari, maka sesosok tubuh telah mengendap-endap meninggalkan halaman istana Pangeran Singa Narpada. Dengan sangat hati-hati orang itu telah berusaha diselimuti oleh kesenyapan. Hanya beberapa orang petugas sajalah yang masih tetap berjaga-jaga. untuk mendekati sebuah barak prajurit Kediri yang sedang uenerapa saat lamanya orang itu menunggu. Kemudian dengan penuh kewaspadaan orang itu menelusuri jalan sempit diluar dinding barak itu. Namun ternyata segalanya berjalan dengan lancar. Ketika orang itu sampai kepintu butulan, ternyata bahwa pintu butulan sama sekali tidak diselarak, sehingga orang itu perlahan-lahan telah mendorong pintu butulan itu, sehingga terbuka.
Sejenak orang itu mengamati keadaan di sekelilingnya. Namun kemudian ia-pun telah menyusup masuk kedalam lingkungan barak prajurit Kediri.
Halaman barak itu memang sepi. Yang berjaga-jaga di gardu di halaman depan nampaknya agak segan-segan untuk berkeliling. Beberapa orang diantara para penjaga itu sudah duduk terkantuk-kantuk, sehingga tidak seorang-pun diantara para penjaga itu yang melihat, apa yang dilakukan oleh sesosok tubuh yang memasuki halaman itu dari pintu butulan.
Dengan cekatan, orang yang berhasil memasuki halaman barak prajurit Kediri itu berusaha menemukan sebuah ruang yang dijaga secara khusus. Namun ternyata bahwa dua orang penjaga ruang yang khusus itu duduk sambil mendengkur. Tombaknya tersandar pada dinding. Nampaknya para penjaga terlalu percaya bahwa orang yang ada didalamnya itu tidak akan mampu berbuat sesuatu, karena dinding itu memang dibuat secara kusus.
Di dekat kedua penjaga itu terdapat dua buah bumbung yang nampaknya baru saja mereka pergunakan untuk minum. Ternyata bahwa minuman merekalah yang telah membuat keduanya menjadi mabuk, karena didalam minuman itu terdapat biji kecubung.
Dengan sangat berhati-hati orang yang memasuki halaman itu dengan diam-diam telah membuka sebuah selarak pintu yang besar yang terbuka dari papan yang tebal.
Demikian pintu itu terbuka, maka orang itu-pun dengan serta merta telah meloncat masuk.
Hampir saja terjadi salah paham dengan orang-orang yang berada didalam bilik itu. Tiga orang bersama-sama telah meloncat mendekatinya dengan kesiagaan yang tinggi. Untunglah bahwa ketiga orang itu belum menyerangnya.
“Tunggu,” Terdengar suara seorang perempuan.
Ketiga orang didalam bilik itu termangu-mangu. Cahaya lampu minyak yang kecil didalam bilik itu telah menerangi wajah orang yang dengan diam-diam memasuki bilik itu.
“Puteri,” Terdengar salah seorang dari ketiga orang itu berdesis.
“Ya Aku,” jawab orang yang memasuki bilik itu.
Ketiga orang yang ada didalam bilik itu termangu-mangu. Baru sejenak kemudian salah seorang diantara mereka bertanya, “Bagaimana puteri dapat sampai di bilik ini?”
“Satu ceritera yang panjang,” jawab orang yang memasuki bilik itu, “Sekarang, marilah. Kita keluar dari bilik ini dan berusaha meninggalkan Kota Raja. Aku harus segera menemukan kakangmas Kuda Permati.”
Ketiga orang itu saling berpandangan. Namun mereka tidak membantah. Ketika orang yang memasuki bilik itu memberikan isyarat, maka tiga orang itu-pun segera mengikutinya.
Dimuka bilik itu mereka melihat dua orang penjaga yang mendengkur. Dengan serta merta dua orang diantara mereka telah mengambil tombak yang tersandar didinding, sementara yang seorang lagi telah mengambil pedang salah seorang dari kedua orang yang tidur itu.
Namun ketika salah seorang diantara mereka telah mengacukan tombaknya untuk membunuh kedua penjaga yang tidur itu, maka orang .yang datang kemudian itu-pun mencegahnya, “Biarlah mereka tidur sampai esok. Mereka tengah mabuk karena di dalam minuman mereka terdapat biji kecubung.”
Orang yang akan membunuh keduanya itu-pun telah mengurungkan niatnya. Sementara itu, maka mereka-pun telah bergeser meninggalkan tempat itu.
Sebagaimana saat orang itu memasuki halaman lewat pintu butulan, maka mereka-pun telah keluar lewat pintu itu pula.
Diluar pintu mereka menelusuri jalan sempit menjauhi tempat itu. Beberapa puluh langkah kemudian mereka berhenti. Setelah mereka yakin, bahwa mereka tidak dikejar oleh para prajurit yang bertugas, maka orang yang telah membebaskan mereka itu-pun berkata, “Kita akan segera mencari Pangeran Kuda Permati. Aku akan ikut bersama kalian.”
“Tetapi bagaimana puteri dapat melakukan semua ini?” bertanya salah seorang dari ketiga orang itu.
“Sebenarnya aku juga telah ditangkap oleh kakangmas Singa Narpada ketika Pangeran Kuda Permati meninggalkan landasan utama perjuangan kita. Tetapi ternyata bahwa didalam tawanan aku dapat berhubungan dengan petugas sandi kakangmas Kuda Permati yang berhasil menyusup ke dalam lingkungan prajurit Kediri. Aku ternyata telah dilepaskan, bahkan orang itu, bersama beberapa orang yang lain telah mengatur apa yang berhasil aku lakukan malam ini.”
“Luar biasa,” desis salah seorang dari ketiga orang itu.
“Kita tidak mempunyai banyak waktu. Kita harus segera keluar dari Kota Raja sebelum semua pintu gerbang dan dinding Kota Raja dijaga pada setiap jengkalnya,” berkata orang yang telah membebaskan ketiga orang itu, “Jika para prajurit Kediri menyadari bahwa mereka telah kehilangan kita, maka kita akan sulit sekali mencari jalan keluar.”
Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka berusaha untuk tidak terlalu banyak bertanya.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang bersama-sama dengan orang yang membebaskannya itu telah berusaha untuk dapat keluar dari dinding Kota Raja. Mereka tidak dapat menembus lewat pintu gerbang yang dijaga ketat. Namun agaknya mereka tidak kekurangan akal. Mereka dapat memanjat dinding di tempat yang sepi, atau mereka dapat menempuh jalan lain. Keluar lewat urung-urung air.
Untuk beberapa saat mereka berbincang. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk keluar lewat urung-urung.
Karena itu, maka mereka-pun telah menyelusuri sebuah sungai kecil yang melintasi Kota Raja. Dengan sangat berhati-hati, maka mereka telah menyusup lewat urung-urung dan keluar dengan selamat dari lingkungan Kota Raja.
“Kita akan pergi kemana?” bertanya salah seorang dari ketiga orang itu.
Orang yang membebaskannya itu-pun memberikan beberapa keterangan tentang kemungkinan-kemungkinan yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati pada saat berakhir.
Sehingga akhirnya ia berkata, “Kita akan mencarinya di perbatasan sebelah Barat. Kita akan menempuh perjalanan yang rumit. Tetapi kita harus menemukannya.”
Ketiga orang yang telah dibebaskannya itu-pun kemudian berkata, “Apa-pun yang kita hadapi, kita akan melakukannya. Langkah ini adalah satu-satunya langkah yang paling baik yang dapat kita tempuh. Aku lebih senang mati terkapar di medan daripada meringkuk di dalam bilik sempit sebagai tawanan.”
“Bagus,” sahut orang yang membebaskannya, “Marilah. Kita akan segera meneruskan perjalanan.”
Dengan demikian, maka mereka berempat-pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Mereka mengendap-endap lewat jalan-jalan sempit menghindari kemungkinan bertemu dengan peronda dari Kediri.
Betapa-pun sulitnya perjalanan mereka, namun mereka dengan tekad yang teguh telah menembus berbagai macam kesulitan. Dengan sangat berhati-hati mereka melintasi sebuah bulak yang tidak begitu luas. Kemudian menerobos hutan kecil yang merupakan daerah berburu didalam keadaan yang tenang, sehingga di hutan itu masih terdapat binatang-binatang buruan yang buas. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Mereka lebih mementingkan keselamatan mereka dari kemungkinan tertangkap oleh para prajurit Kediri daripada kemungkinan untuk bertemu dengan binatang buas.
Orang perempuan yang telah membebaskan, mereka itulah yang seakan-akan menuntun ketiga orang yang telah dibebaskan itu. Perempuan itu seakan-akan telah mengenal jalan-jalan sempit itu dengan baik.
Ketika mereka kemudian keluar dari hutan itu, maka di hadapan mereka terbentang sebuah pategalan yang memanjang sepanjang jalan menuju kekejauhan, seakan-akan jalan itu menusuk langsung kejantung gelapnya malam.
“Kita sudah cukup jauh dari Kota Raja,” berkata orang itu, “Agaknya kita sudah terlepas dari kemungkinan terperangkap ke tangan para penjilat. Jika kita menempuh jalan lurus itu, maka kita akan sampai kesatu daerah yang berada dibawah pengaruh kakangmas Pangeran Kuda Permati.”
“Apakah puteri yakin?” bertanya salah seorang dari ketiga orang itu.
“Aku sudah berbicara langsung dengan petugas sandi yang mengatur perjalanan ini. Aku pasti, jika kita sudah sampai ke jalan ini, maka perjalanan kita akan segera sampai, meskipun jarak perjalanan yang akan kita tempuh masih cukup panjang,” berkata orang yang membebaskan ketiga orang itu.
Ketiga orang itu nampaknya masih ragu-ragu. Namun kemudian mereka-pun mengikuti perempuan yang berjalan di paling depan. Nampaknya tekad yang menyala di dalam dadanya membuatnya sama sekali tidak menjadi letih.
Sejenak kemudian, maka mereka-pun telah memasuki jalan yang panjang.
Sebagaimana dikatakan oleh perempuan itu, maka jalan itu memang menuju ke daerah yang sedang menjadi sasaran kekuatan Pangeran Kuda Permati. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Pangeran Kuda Permati nampak di sekitar perbukitan di ujung jalan itu. Beberapa padukuhan telah dilintasinya, sehingga berdasarkan atas perhitungan dan pengamatan dari para petugas sandi, maka diperhitungkan pasukan Pangeran Kuda Permati berada di arah perjalanan mereka.
Karena itu, maka keempat orang itu telah mempercepat perjalanan mereka. Mereka berharap agar mereka dapat mencapai daerah yang mereka tuju itu sebelum fajar.
Tetapi jika mereka harus kesiangan, maka mereka tidak akan melangkah surut. Jika mereka bertemu dengan sekelompok pasukan yang mereka, kenal ujud dan keadaannya, maka mereka akan dapat menyatakan diri kepada mereka, bahwa mereka berempat sedang mencari Pangeran Kuda Permati.
Namun sementara itu, ternyata bahwa mereka tidak usah berjalan sampai ke ujung jalan diperbukitan. Ketika mereka sampai di tengah-tengah bulak panjang di pinggir pategalan itu, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Beberapa orang berloncatan ke tengah jalan dengan senjata teracu.
“Berhenti,” salah seorang diantara orang-orang itu berkata lantang, “Siapa kalian dan kalian akan pergi ke mana?”
Keempat orang itu-pun berhenti. Di sekitarnya kemudian telah menebar sepuluh orang dengan senjata telanjang.
Orang yang membebaskan ketiga orang pengikut Pangeran Kuda Permati itu bergeser surut. Kedatangan orang-orang itu sangat, mengejutkannya. Bagaimana-pun juga, terasa bulu tengkuknya telah berdiri. Kegarangannya sebagai seorang yang telah membebaskan ketiga orang pengikut Pangeran Kuda Permati menjadi susut. Bahkan kemudian ia-pun telah berada diantara ketiga orang yang telah dibebaskannya itu.
“Kami adalah para peronda dari Kediri,” jawab salah seorang diantara ketiga orang yang telah dibebaskannya itu.
“Prajurit Kediri?” bertanya beberapa orang hampir berbareng.
“Ya,” jawab orang itu.
Wajah perempuan yang membebaskannya menjadi tegang. Ia tidak mengerti, kenapa orang itu mengaku bahwa mereka adalah para peronda dari Kediri.
Tiba-tiba saja terdengar beberapa orang diantara mereka yang menghentikan perjalanan keempat orang itu tertawa. Salah seorang diantara mereka berkata, “Nasib kalian memang buruk sekali. Jika kalian peronda dari Kediri, maka kita adalah sama-sama prajurit Kediri. Tetapi agaknya kalian telah menjadi penjilat kaki-kaki orang Singasari. Tetapi kami tidak. Kami adalah orang-orang Kediri sejati.
Orang-orang yang baru keluar dari Kota Raja itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu, mereka telah benar-benar dikepung oleh orang-orang yang menghentikan perjalanan mereka.
Dalam pada itu, salah seorang diantara mereka yang menghentikan perjalanan itu berkata lantang, “Menyerahlah, agar kami dapat membuat pertimbangan yang baik bagi nasib kalian.”
Keempat orang itu benar-benar telah dikelilingi ujung senjata, sehingga tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk lolos.
Namun orang yang mengaku prajurit Kediri yang sedang meronda itu sama sekali tidak gelisah. Bahkan dengan nada datar ia bertanya, “jadi kalian pengikut Pangeran Kuda Permati?”
“Ya,” jawab salah seorang dari mereka,”Aku tidak akan ingkar. Kami adalah pengikut Pangeran Kuda Permati.”
Orang yang mengaku peronda dari Kediri itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada perempuan yang telah membebaskannya, “Kita sudah menemukan kelompok yang benar. Menilik pakaian, sikap dan pengakuan mereka, aku percaya bahwa mereka adalah pengikut Pangeran Kuda Permati.”
Perempuan itu mengangguk. Tetapi nampak keragu-raguan mambayang di wajahnya.
“Ki Sanak,” berkata orang yang mengaku peronda dari Kediri itu, “Apa yang akan kalian lakukan jika kami menyerah?”
“Kami akan menentukan kemudian, setelah kalian kami bawa ke barak kami,” jawab salah seorang dari mereka.
“Baiklah. Kami menyerah,” jawab orang yang pengaku peronda dari Kediri itu, “Tetapi ketahuilah, bahwa sebenarnya kami bukan peronda dari Kediri. Kami adalah pengikut Pangeran Kuda Permati sebagaimana kalian.”
“Omong kosong,” teriak seorang diantara mereka sambil melangkah mendekat, “jangan menipu kami. Kau sangka dengan cara itu kau akan selamat.”
“Kami tidak akan menipu kalian,” jawab orang itu, “Ketahuilah, bahwa kami sedang dalam tugas khusus. Kami sedang mengantarkan puteri Purnadewi, isteri Pangeran Kuda Permati.”
Sejenak suasana menjadi tegang. Sepuluh orang yang berdiri melingkari itu memandang seorang perempuan yang berada diantara ketiga orang itu.
“Aku tidak percaya. Aku pernah bertemu dengan puteri Purnadewi,” berkata salah seorang dari mereka.
“Inilah puteri itu,” berkata orang yang mula-mula menyebut dirinya peronda dari Kediri.
“Biarlah orang itu maju. Aku ingin melihat, apakah benar ia puteri Purnadewi.”
Perempuan yang membebaskan ketiga orang itu-pun kemudian dipersilahkan bergeser maju. Dengan kulit yang meremang, perempuan itu membiarkan dirinya diamati oleh beberapa orang yang mencegat perjalanannya.
Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja seorang diantara mereka yang mencegat itu berteriak, “Bohong. Orang ini bukan puteri Purnadewi.”
“Gila,” geram orang yang semula mengaku peronda dari Kediri, “puteri ini adalah puteri Purnadewi.”
“Perempuan ini sangat cantik,” berkata orang yang bertubuh kekar dengan kumis dan jambang yang panjang, “Aku tidak percaya jika perempuan ini isteri Pangeran Kuda Permati, maka mungkin isteri Pangeran Kuda Permati ada disini. Aku tahu, bahwa isteri Pangeran Kuda Permati berada di landasan utama di sisi sebelah Utara. Bagaimana mungkin puteri Purnadewi berkeliaran disini bersama kalian bertiga.”
“Ceriteranya cukup panjang,” jawab orang yang mengaku sebagai peronda dari Kediri, “Nanti, jika kami telah menghadap Pangeran Kuda Permati, kami akan menceriterakan. Nah, sekarang, bawa kami kepada Pangeran Kuda Permati.”
Tetapi orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “jangan mencoba membohongi kami. Kami sangat berterima kasih kepada kalian, bahwa kalian telah membawa seorang perempuan cantik bagi kami. Nah, dengan demikian, maka tugas kalian telah selesai. Sepantasnyalah bahwa kalian bertiga harus dibinasakan agar kalian tidak akan dapat mengatakan apa-pun juga tentang kami.”
“Gila. Jadi kau berani berbuat demikian terhadap puteri Purnadewi?” bertanya salah seorang dari ketiga orang yang telah dibebaskan oleh puteri itu.
“Kami tidak percaya bahwa orang ini adalah puteri Purnadewi. Tetapi seandainya benar, maka tidak ada seorang-pun yang akan dapat menyampaikannya kepada Pangeran Kuda Permati, sehingga kami tidak akan pernah mendapat hukumannya, sementara perempuan ini dapat kami simpan baik-baik sampai saatnya kami akan membunuhnya pula, agar rahasia kami tidak akan dapat diketahui oleh siapapun juga.”
“Gila. Jadi kalian memang sudah gila,” geram salah seorang dari ketiga orang yang sudah dibebaskan oleh Purnadewi itu.
“Apa-pun yang kau katakan, kami tidak akan berkeberatan,” jawab orang berjambang lebat itu.
Sejenak kemudian suasana-pun menjadi semakin tegang. Purnadewi benar-benar menjadi ketakutan. Tubuhnya terasa gemetar, sementara jantungnya bagaikan akan terlepas dari tangkainya.
Orang-orang yang mengepungnya itu bergeser semakin mendekat. Rasa-rasanya memang tidak ada lagi jalan untuk keluar dari lingkaran itu.
Namun ketiga orang yang telah dibebaskan oleh Purnadewi itu merasa bertanggung jawab atas keselamatan puteri itu. Karena itu, apa-pun yang akan terjadi, mereka sama sekali tidak akan gentar.
Sementara itu, orang berjambang lebat itu berkata sambil tertawa, “Nah, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Kalian tidak akan dapat menipu kami. Kau sangka dengan menyebut nama Puteri Purnadewi, maka segala sesuatunya akan dapat berjalan sebagaimana kau inginkan?”
“Tetapi puteri ini benar-benar puteri Purnadewi,” salah seorang dari ketiga orang itu berteriak.
Orang berjambang lebat itu masih saja tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kalian jangan menganggap kami terlalu dungu. Perempuan cantik itu sangat kami perlukan.”
“Gila,” geram seorang yang lain, “Kalian tentu belum pernah melihat puteri Purnadewi.”
“Cukup,” bentak orang berjambang itu tiba-tiba, “Aku sudah muak mendengarnya. Sekarang bersiaplah untuk mati. Perempuan itu akan kami bawa kembali ke sarang kami.”
Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak ingin mengorbankan puteri Purnadewi. Karena itu, maka mereka tidak lagi memikirkan diri mereka sendiri. Yang terlintas di dalam angan-angan mereka adalah keselamatan isteri Pangeran Kuda Permati itu.
Karena itu, maka ketiga orang itu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Untunglah bahwa dua diantara mereka telah membawa tombak dan seorang yang lain membawa pedang.
“Jadi kalian akan melawan?” bertanya orang berjambang itu.
“Atas nama Pangeran Kuda Permati kami harus menyelamatkan puteri Purnadewi,” berkata salah seorang dari ketiga orang itu.
“Jangan sebut-sebut Pangeran Kuda Permati,” berkata orang berjambang itu, “Tingkahmu itu hanya akan mencelakai dirimu sendiri. Semakin gila kelakuanmu, maka jalan kematianmu-pun menjadi semakin sulit dan pahit.”
“Kami adalah prajurit,” jawab salah seorang diantara ketiga orang itu, “Apakah kau kira kami dapat kau takut-takuti dengan kematian yang bagaimana-pun juga?”
“Persetan,” geram orang berjambang itu, “Kalian memang harus dicincang di sini.”
Ketiga orang itu tidak menjawab lagi. Ketika mereka melihat orang-orang yang mengepungnya bergeser semakin dekat, maka ketiga orang itu-pun telah bersiap untuk bertempur. Mereka berdiri menghadap ketiga arah di seputar Purnadewi yang ketakutan.
Sejenak kemudian, maka orang berjambang itu-pun memberikan aba-aba, “Cincang ketiga orang ini. Mereka tidak boleh mati terlalu cepat. Mereka terlalu sombong untuk dibunuh dengan tusukan di dada. Tetapi mereka harus mengalami satu keadaan bahwa mereka merasa sangat menyesal atas tingkah laku mereka.”
Orang-orang yang mengepung itu-pun mulai bergerak. Senjata mereka mulai teracu-acu. Bahkan yang lain-pun telah mulai menyerang dengan garangnya.
Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang seru. Ketiga orang itu telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya.
Ternyata ketiga orang itu memang memiliki kelebihan dari orang-orang yang mengepungnya. Ketiga orang itu adalah perwira yang mendapat kepercayaan dari Pangeran Kuda Permati sebelum mereka tertangkap oleh pasukan Pangeran Singa Narpada.
Karena itu, maka orang-orang yang mengepungnya itu tidak segera dapat mengalahkan mereka, meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.
Namun bagaimana-pun juga kemampuan ketiga orang itu, tetapi ketika orang-orang yang mengepung mereka itu bertempur dengan keras dan kasar, maka mereka-pun segera mengalami kesulitan. Apalagi mereka masih harus melindungi Puteri Purnadewi, sehingga kedudukan mereka-pun menjadi sangat terikat.
Orang berjambang itu memperhatikan pertempuran itu sejenak. Tiba-tiba saja terdengar ia tertawa berkepanjangan. Katanya dengan suara lantang, sehingga mengatasi suara benturan senjata, “Nah, ternyata kalian tidak akan berumur sampai matahari terbit. Kalian akan mengalami kematian yang sangat berkesan disaat terakhir.”
Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka.
Namun bagaimana-pun juga, ternyata bahwa orang-orang yang mengepungnya itu-pun prajurit-prajurit terlatih. Tetapi pengaruh keadaan mereka membuatnya menjadi semakin kasar.
Karena itu, maka mereka telah berusaha untuk menerobos ketiga orang yang melindungi puteri Pjrnadewi itu untuk mengambilnya sebelum mereka akan membunuh ketiga orang itu.
Kesulitan utama dari ketiga orang itu justru terletak pada usaha mereka melindungi puteri Purnadewi, bukan untuk keselamatan mereka sendiri.
Karena itulah, maka orang-orang yang mengepungnya itu-pun semakin lama semakin mendesak u Bahkan kemudian perlawanan ketiga orang itu-pun menjadi semakin kacau, ketika ada diantara lawan mereka yang tidak lagi merasa perlu bertempur tetapi mereka ingin sekedar menerobos masuk mendekati Purnadewi.
Jika mereka dapat menangkap perempuan itu, dan mengancamnya, maka perlawanan ketiga orang pengawalnya itu tentu akan terhenti.
Dengan demikian, maka ketiga orang pengawalnya itu kadang-kadang menjadi bingung karena orang-orang yang dengan kasar ingin menembus pertahanan mereka.
Purnadewi sendiri menjadi semakin ketakutan. Orang-orang itu ternyata benar-benar tidak percaya bahwa ia adalah Purnadewi yang menurut orang-orang yang mencegat itu sama sekali tidak masuk akal bahwa ia berkeliaran di malam hari bersama tiga orang laki-laki.
“Tidak ada seorang-pun diantara mereka yang mengenal kami,” desis salah seorang dari ketiga orang perwira yang melindungi Purnadewi itu.
Dalam keadaan yang sulit itu telah terjadi sesuatu yang agak kurang dapat dimengerti oleh semua pihak. Dalam kekalutan yang tidak teratasi oleh ketiga orang pengawal Purnadewi itu telah muncul sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka berpakaian seperti petani-petani. Bahkan dua diantara lima orang petani itu membawa cangkul, sedang seorang diantaranya membawa keranjang rumput. Tetapi keranjang itu masih kosong, sementara sebuah parang terselip pada keranjang itu.
Lima orang petani itu tidak melarikan diri melihat pertempuran yang ramai itu. Tetapi ternyata mereka justru telah mendekati. Yang membawa cangkul dan keranjang itu-pun telah diletakkan, sedangkan yang lain memperhatikan pertepuran itu dengan saksama.
“He, kenapa kalian berkelahi di sini?” berkata salah seorang dari para petani itu.
Tidak seorang-pun yang menjawab, sehingga dengan suara yang lebih keras petani itu berkata, “He, kenapa kalian berkelahi di daerah pategalan ini he? Apa yang kalian perebutkan.”
Yang terdengar kemudian adalah jawaban salah seorang pengawal Purnadewi, “Kami tidak tahu. Orang-orang itu telah menyerang kami. Mungkin mereka ingin merampok, bahkan merampok dan mengambil perempuan ini.”
Para petani itu terdiam sejenak. Lalu yang lain bertanya, “Apakah perempuan itu membawa harta benda.”
“Tidak,” jawab pengawalnya.
Seorang diantara para petani itu-pun telah maju selangkah. Katanya, “satu pertempuran yang tidak adil. Tiga orang harus bertempur melawan sepuluh orang. Aku tidak tahu, apa sebab yang sebenarnya. Tetapi sebaiknya pertempuran ini dihentikan saja. Kalian dapat berbicara untuk memecahkan persoalan diantara kalian. Kecuali jika memang benar ada usaha perampokan, maka biasanya perampokan tidak dapat diselesaikan dengan pembicaraan.”
“Tutup mulutmu,” teriak salah seorang dari sepuluh orang yang dihentikan iring-iringan Purnadewi itu, “pergi atau kalian akan ikut kami cincang disini.”
“Kami tidak akan pergi,” jawab salah seorang dari kelima orang petani itu, “Kami akan menjadi saksi, bahwa di sini telah terjadi pertempuran yang tidak adil. Tiga orang harus bertempur melawan sepuluh orang apa-pun persoalannya. Menurut perhitungan nalar, tentu bukan yang tiga oranglah yang telah mulai dengan pertempuran ini. Tetapi tentu yang merasa dirinya kuat. Karena itu, kami ingin mencari keterangan tentang kalian untuk menjadi bahan kesaksian kami.”
“Gila,” teriak orang berjambang lebat, “cepat pergi.”
“Baiklah. Kami akan pergi. Kami akan melaporkan peristiwa ini kepada sekelompok pasukan berkuda yang ada di padukuhan sebelah.”
“Pasukan berkuda dari mana?” bertanya salah seorang diantara mereka.
“Aku tidak tahu. Tetapi aku kira prajurit-prajurit Kediri yang meronda,” jawab petani.
“Jangan gila. Jika demikian, maka kalian-pun sepantasnya harus dibunuh disini. Nasib kalian-pun ternyata sangat buruk seperti ke tiga orang ini,” berkata orang berjambang itu.
“Tetapi kalian tidak dapat begitu saja membunuh kami,” berkata petani itu, “itu sama sekali tidak berperikemanusiaan karena kami tidak mempunyai persoalan dengan kalian.”
“Kami tidak peduli,” jawab orang berjambang.
“Kalau begitu, kami memang harus melaporkan perkelahian ini,” jawab salah seorang petani itu.
“Apa salah kami?” bertanya salah seorang petani.
“Kalian akan dapat menjadi saksi. Itu kesalahan kalian yang sangat menentukan. Sementara itu, kalian-pun berusaha untuk dapat menjadi saksi,” jawab orang berjambang.
Hampir berbareng kelima orang petani itu melangkah surut. Setelah menggapai cangkul dan keranjangnya, maka kelimanya benar-benar telah beranjak pergi.
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar perintah.
“Tahan mereka. Mereka memang akan dapat menjadi saksi dan mungkin mereka benar-benar akan melapor.”
Dua orang diantara sepuluh orang yang menghentikan Purnadewi dan para pengawalnya itu telah meninggalkan arena dan mengancam para petani itu. Seorang diantara mereka membentak, “Kalian tidak dapat meninggalkan tempat ini.”
“Kenapa? Kami akan melaporkan perkelahian ini,” jawab petani.
“Dungu. Kalian tidak boleh pergi, justru karena kalian akan melapor itu, “Jawab orang yang menahannya.
Para petani itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantaranya berkata, “Siapa-pun tidak berhak menahan kami, apa-pun yang akan kami lakukan. Kalian-pun tidak. Kami akan menemui pasukan berkuda itu untuk melerai pertempuran yang tidak adil ini.”
“Jangan banyak bicara,” bentak salah seorang dari kedua orang yang menahan mereka, “Selangkah lagi kalian maju, maka kalian akan menyesal. Aku sudah memperingatkan. Jika kalian memaksa, maka kalian akan mati.”
“Mati? Jadi jika aku melangkah lagi, aku akan mati? Begitu mudahnya seseorang mati,” desis salah seorang diantara para petani itu.
“Tutup mulutmu,” bentak orang yang menahannya.
“Kalian tidak boleh pergi. Duduk disitu sampai kami menyelesaikan ketiga orang itu.”
Tetapi petani itu menjawab, “Jangan urusi kami. Biar saja kami berbuat menurut keinginan kami sendiri.”
Wajah orang yang menahan para petani itu menjadi tegang. Ketika seorang diantara para petani itu melangkah, maka salah seorang dari kedua orang yang menahannya itu telah meloncat di hadapannya sambil mengacukan senjatanya, “Selangkah lagi kau maju, maka kau benar-benar akan mati.”
Petani itu memang berhenti. Tetapi kemudian katanya. “Aku tidak mempunyai waktu untuk menanggapi permainanmu yang kasar itu.”
Petani itu seakan-akan tidak menghiraukannya lagi. Ia masih saja melangkah maju.
Namun dengan demikian, maka orang yang menahannya itu sudah kehilangan kesabaran. Dengan serta merta orang itu telah mengayunkan senjatanya. Ia tidak bermain-main sama sekali, karena senjatanya sekali ayun akan dapat membunuh petani itu.
Tetapi yang terjadi adalah sesuatu yang tidak diduga sama sekali oleh orang yang menyerangnya. Ayunan senjatanya itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Bahkan karena ia mengayunkan dengan segenap kekuatannya, maka ia sendiri telah terseret oleh ayunan senjata itu, sehingga terhuyung-huyung. Dengan susah payah orang itu berusaha mempertahankan keseimbangannya.
Tetapi petani itu tidak tinggal diam. Ketika orang yang menyerangnya itu hampir menguasai keseimbangannya kembali, maka dengan kakinya ia telah mendorongnya.
Seakan-akan tenaga yang dikeluarkan adalah tenaga yang tidak ada artinya sama sekali. Namun akibatnya ternyata luar biasa. Orang yang menyerangnya itu terdorong beberapa langkah dan kemudian jatuh terjerembab di tanah yang berdebu. Dengan demikian wajahnya yang basah oleh keringat itu menjadi seperti ditaburi tepung. Namun bukan itu saja. Tubuhnya terasa sakit. Namun yang lebih sakit lagi adalah perasaannya. Petani-petani dungu itu ternyata mampu mendorongnya sampai jatuh terjerembab.
Sementara itu, seorang kawannya yang melihat orang yang jatuh terjerembab, benar-benar menjadi marah. Dengan serta merta, maka ia-pun telah menyerang pula dengan senjatanya. Tetapi ia tidak mau mengalami peristiwa seperti kawannya itu. Karena itu, ia tidak lagi menganggap petani itu sama sekali tidak memiliki kemampuan sebagaimana kesalahan yang dilakukan oleh kawannya.
Namun dalam pada itu, serangannya telah memancing pertempuran. Petani itu tiba-tiba pula telah mencabut parangnya di lambung. Parang pembelah kayu yang nampaknya sudah berkarat. Tetapi justru karena itu, maka nampaknya parang iiu memiliki kekuatan tersendiri.
Sejenak kemudian orang itu-pun telah terlibat dalam satu perkelahian melawan petani yang berparang itu. Sementara seorang di antara kedua orang yang telah terjatuh dan terjerembab itu telah bangkit sambil membenahi dirinya.
Namun ketika ia melangkah mendekati petani yang sedang bertempur itu, maka petani yang membawa keranjang-pun mendekatinya, “Kau juga ingin berkelahi?”
“Persetan,” geramnya. Namun ia tidak menunggu lebih lama. Tiba-tiba saja ia sekali mengayunkan senjatanya mengarah ke kepala petani itu.
Tetapi terjadi lagi satu kejutan bagi orang yang menyerangnya itu. Petani itu sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan dengan gerak sederhana ia menangkis serangan itu dengan keranjangnya.
Benturan yang terjadi benar-benar mengejutkan. Keranjang yang ujudnya tidak lebih dari keranjang rumput itu ternyata mampu menahan serangan senjatanya yang pernah dipergunakannya diberbagai medan pertempuran.
Karena itu, maka orang itu-pun telah berbuat jauh lebih banyak lagi. Dengan cepat ia harus berusaha mengatasi kejutan itu.
Dengan gerak yang sangat cepat, maka orang itu-pun telah memutar senjatanya. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat telah menyerang petani itu dengan tusukan senjatanya.
Tetapi ia benar-benar kehilangan akal menghadapi petani itu. Demikian pedangnya menyusup di antara lubang-lubang keranjangnya, maka keranjang itu telah diputarnya, sehingga senjata itu-pun terputar pula. Demikian cepat dan kuatnya, sehingga ia tidak mampu berbuat sesuatu, sehingga ternyata senjatanya itu telah terlepas dari tangannya.
“Gila,” geram orang itu. Namun ia tidak sempat mengumpat lebih panjang lagi, karena keranjang itu telah terayun dan membentur kepalanya.
Benturan itu memang tidak terlalu keras, sebagaimana ayunan itu-pun tidak terlalu keras. Tetapi yang tidak terlalu keras itu telah membuatnya pening. Matanya menjadi berkunang-kunang.
Hampir tidak masuk akal bahwa orang itu-pun kemudian telah menjadi pingsan.
Sementara itu, dua orang masih bertempur dengan sengitnya. Ternyata bahwa parang petani yang sedang bertempur itu adalah parang yang luar biasa. Bukan sekedar parang pembelah kayu sebagaimana ujudnya.
Karena itu, maka lawannya, salah seorang dari kedua orang yang berusaha mencegah para petani itu meninggalkan arena tidak mampu melawannya. Setiap benturan senjata telah membuat tangan orang itu merasa sangat sakit. Semakin lama semakin keras menggigit telapak tangannya.
Karena itu, maka orang itu-pun berusaha untuk menghindarkan benturan senjata. Setiap kali orang itu berusaha mengelakkan serangan dan apabila serangannya ditangkis dengan parang itu, maka ia telah mengurungkan serangannya.
Dengan demikian, maka orang itu berada dalam kedudukan yang semakin lama semakin lemah.
Sementara itu, maka kawan-kawan dari kedua orang itu melihat apa yang telah terjadi. Dua orang kawannya sama sekali tidak berdaya menahan para petani itu. Bahkan seorang diantara mereka telah jatuh pingsan, sementara yang lain telah terdesak dan sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.
“Gila,” geram orang berjambang lebat, “Bunuh mereka. Biarlah ketiga orang pengawal perempuan ini kita selesaikan kemudian. Hadapi mereka seorang dengan seorang.”
Perintah itu tidak diulangnya. Ampat orang diantara orang-orang yang mengepung tiga orang pengawal Purnadewi itu telah meninggalkan arena dan berlari-lari ke arah para petani yang mencurigakan itu.
Dengan demikian, maka para petani itu seluruhnya telah terlibat kedalam pertempuran yang sengit seorang melawan seorang. Sementara seorang diantara lawan para petani yang terdahulu itu menjadi semakin tidak berdaya.
Karena enam orang telah terserap oleh para petani itu, maka ketiga orang pengawal Purnadewi sempat menarik nafas dalam-dalam. Demikian lawan-lawannya meninggalkan kepungan, maka tugas mereka menjadi terasa sangat ringan. Seorang dari mereka berhadapan dengan seorang lawan. Hanya seorang saja dari ketiga orang itu harus bertempur melawan dua orang lawan.
Namun ketiga orang itu adalah perwira ang terpercaya dari pasukan yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati, sehingga dengan demikian, maka dalam waktu dekat, empat orang yang berusaha untuk menahan ketiga orang pengawal Purnadewi itu telah terdesak.
Namun dalam pada itu, ketiga orang pengawal itu mau-pun Purnadewi sendiri juga menjadi cemas. Mereka tidak tahu pasti siapakah kelima orang petani itu. Yang pasti bahwa mereka bukannya Pangeran Kuda Permati. Jika diantara mereka terdapat Pangeran Kuda Permati, maka mereka tidak akan berbuat demikian lamban. Mereka akan langsung menyerang, dan menghancurkan sepuluh orang yang telah berani mengganggu perjalanan Purnadewi.
Tetapi kelima orang petani itu telah mempergunakan cara yang aneh untuk membantu ketiga orang yang mengawal Purnadewi itu.
Namun apa-pun yang akan mereka hadapi kemudian, tetapi mereka sudah terlepas dari tingkah laku sepuluh orang yang sangat menyakiti hati itu.
Sebenarnyalah bahwa orang-orang yang mencegat perjalanan Purnadewi itu tidak dapat bertahan terlalu lama.....
Bersambung... !-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar