Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 022-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 22-02*

Wajah Pangeran Singa Narpada menjadi tegang. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah menyetujui permohonan untuk mengobati Pangeran Lembu Sabdata.

Namun sikapnya sebagai seorang Senapati telah menentukan langkahnya pula. Katanya, “Ki Sadmaya, aku akan meneliti persoalan ini sampai tuntas. Tetapi untuk sementara kau dikenakan tahanan.”

Jantung Ki Sadmaya bagaikan terhenti karenanya. Tetapi semua orang tahu sifat Pangeran Singa Narpada. Karena itu, segala keluhannya tidak akan didengarnya.

Demikianlah, Ki Sadmaya dengan Senapati yang pernah menghubungkannya dengan Pangeran Singa Narpada telah ditahan. Namun mereka berusaha untuk menenangkan diri sendiri. Senapati itu pun berkata kepada Ki Sadmaya di dalam bilik tahanannya, “Maksud kita adalah baik. Jika ternyata kita mengalami akibat yang sebaliknya adalah nasib kitalah yang sangat buruk. Tetapi aku yakin bahwa kebenaranlah yang akhirnya akan ditegakkan oleh Pangeran Singa Narpada. Aku yakin akan sikapnya.”

“Mungkin jiwanya dapat kita percaya,” berkata Ki Sadmaya. ”Tetapi seseorang mungkin akan dapat khilaf.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah yang aku sebut dengan nasib buruk yang ada pada diri kita.”

Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada ternyata ingin pergi juga ke padepokan Ki Ajar. Meskipun Ki Sadmaya mengatakan bahwa Ki Ajar adalah orang yang menurut pengenalannya tidak akan mungkin melibatkan diri ke dalam persoalan Pangeran Lembu Sabdata, namun Pangeran Singa Narpada ingin melihat, apa yang ada di padepokan Ki Ajar itu untuk meyakinkannya. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata justru berada di padepokan itu.

Ternyata Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan untuk membawa Ki Sadmaya dan Senapati yang menghubungkannya dengan dirinya. Selain kedua orang itu merupakan orang-orang yang dicurigai, Ki Sadmaya harus menunjukkan dimanakah letak padepokan Ki Ajar yang telah mengobati sakit ingatan Pangeran Lembu Sabdata.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan sekelompok prajurit pilihan dari pasukan berkuda untuk mengiringinya ke sebuah padepokan kecil untuk menemui Ki Ajar yang telah mengobati Pangeran Lembu Sabdata.

Ketika iring-iringan itu sampai di padepokan Ki Ajar, ternyata Ki Ajar dan pututnya telah berada di padepokan. Demikian mereka sampai ke padepokan, maka Ki Ajar telah mengumpulkan semua cantriknya untuk memberikan beberapa pesan.

“Jangan mencelakai aku,” berkata Ki Ajar, “Jika seseorang bertanya kepada kalian, maka kalian harus menjawab, bahwa dalam waktu-waktu terakhir, lebih dari sebulan, aku tidak pernah meninggalkan padepokan ini. Apakah kalian mengerti?”

Para cantrik mengangguk-angguk meskipun mereka kurang pasti, apakah yang dimaksud oleh Ki Ajar. Sementara itu Ki Ajar berkata selanjutnya, “Jika kalian mengatakan yang lain, itu berarti bahwa kalian telah menjerumuskan aku ke dalam kesulitan. Kalian tidak perlu mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun siapapun yang bertanya kepada kalian, termasuk para prajurit dari Kediri, maka jawab kalian adalah sebagaimana aku katakan. Sudah lama aku tidak meninggalkan padepokan. Dengan demikian kalian telah menyelamatkan jiwaku.”

Para cantrik itu pun mengangguk-angguk. Meskipun mereka tidak mengerti sebabnya, tetapi mereka pahami pesan itu. Kepada siapapun juga, mereka harus mengatakan bahwa Ki Ajar sudah lama tidak meninggalkan padepokan. Sudah sebulan lebih.

Karena itu, ketika sekelompok prajurit datang ke padepokan itu, maka para cantrik pun telah bersiap menjawab pertanyaan yang akan diberikan kepada mereka. Mereka harus mengatakan bahwa Ki Ajar sudah lama tidak meninggalkan padepokan.

Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Ki Ajar. Ketika Pangeran Singa Narpada sampai ke padepokan itu, maka bersama Ki Sadmaya dan Senapati yang menghubungkannya dengan Pangeran Singa Narpada, iapun telah minta untuk langsung berbicara dengan Ki Ajar, sementara itu ia sudah menugaskan beberapa Senapati bawahannya yang lain untuk menghubungi para cantrik dan menanyakan serba sedikit tentang Ki Ajar.

Namun cantriknya yang sedikit jumlahnya itu, semuanya telah mendengar pesan Ki Ajar tentang jawaban yang harus diberikan kepada orang-orang yang akan bertanya kepada mereka tentang Ki Ajar.

Demikianlah, telah terjadi pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang Pangeran Lembu Sabdata. Ketika Pangeran Singa Narpada mengatakan bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah hilang dari bilik tahanannya.

Ki Ajar itu telah terkejut bukan buatan. Untuk sejenak mulutnya bagaikan terbungkam, sehingga justru karena itu, ia tidak segera menjawab.

Namun kemudian katanya tersendat, “Jika demikian, sia-sialah aku mengobatinya. Ternyata ada orang lain yang tanpa belas kasihan telah memanfaatkan keadaan Pangeran Lembu Sabdata.”

Ki Sadmaya menarik nafas dalam-dalam. Sikap Ki Ajar meyakinkan sekali, bahwa ia memang tidak tahu menahu tentang Pangeran Lembu Sabdata.

Sementara itu Ki Ajar pun telah melanjutkan. “Pangeran, dengan didorong oleh perasaan kemanusiaan yang tinggi, aku telah mengerahkan segenap ilmuku tanpa mengenal siapa Pangeran Lembu Sabdata itu. Aku hanya mengenalnya sebagai seorang yang berada di dalam tawanan dalam keadaan sakit ingatan. Namun setelah Pangeran itu sembuh untuk beberapa saat, ia telah hilang dengan cara yang sangat aneh. Tetapi apakah tidak mungkin bahwa Pangeran itu telah melarikan diri tanpa bantuan orang lain? Jika demikian, maka aku akan merasa sangat berdosa. Seakan-akan usahaku mengobatinya atas dasar kemanusiaan itu, justru telah menimbulkan malapetaka. Bukan saja bagi Pangeran Lembu Sabdata, tetapi juga bagi orang lain.”

Sikap Ki Ajar benar-benar meyakinkan. Karena itu, Pangeran Singa Narpada tidak dapat mendesaknya. Tetapi ia menjawab, “Ki Ajar. Pangeran Lembu Sabdata tentu mendapat bantuan dari orang lain. Adalah tidak mungkin bahwa ia dapat melepaskan diri dengan cara seperti itu?”

“Cara yang mana Pangeran?” bertanya Ki Ajar.

“Dengan ilmu sirep,” jawab Pangeran Singa Narpada. “Semua orang yang bertugas telah tertidur nyenyak. Dalam kesempatan yang demikian dinding bilik tahanan itu telah dirusakkan dengan paksa.”

“Sirep? Dengan tanah kuburan?“ bertanya Ki Ajar.

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya.

Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya. “Kau kira cara itu akan mampu mempengaruhi seorang saja dari para prajurit yang terlatih lahir dan batin?”

“Jadi?” bertanya Ki Ajar.

“Dengan kekuatan ilmu yang dipancarkan dari kesadaran jiwa yang sangat kuat. Dengan demikian, maka getaran pancaran kekuatan jiwa itu dapat mempengaruhi jiwa orang lain yang lebih lemah dari padanya.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu, “Sebagaimana yang Ki Ajar lakukan atas orang lain yang telah Ki Ajar sembuhkan dari sakit ingatan.”

Terasa jantung Ki Ajar berdetak semakin cepat. Tetapi ia berusaha sekuat tenaganya untuk tidak memberikan kesan apapun. Katanya, “Ah, yang aku lakukan tidak lebih dari yang dilakukan oleh ayahku, kakekku dan mungkin dari orang tua mereka. Mungkin aku memiliki kepribadian yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Namun sudah, barang tentu dalam persoalan yang sangat khusus.”

“Aku mengerti Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Memang persoalannya tidak sama. Orang yang memiliki kemampuan memancarkan pengaruh pribadinya untuk membuat mereka kehilangan kesadaran dan tertidur, belum tentu dapat mempergunakan pengaruh pribadinya itu untuk mengobati seseorang yang sakit ingatan.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Pangeran Singa Narpada memang sudah tidak mencurigainya lagi.

Tetapi dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Mungkin persoalan kita sudah selesai Ki Ajar. Tetapi aku masih menunggu hasil pengamatan beberapa orang Senapatiku.”

Ki Ajar menjadi berdebar-debar. Jika ada seorang saja diantara para cantriknya yang salah ucap, maka akibatnya tentu akan sangat parah baginya dan bagi padepokan kecilnya itu. Padepokan yang telah dibangunnya untuk waktu yang sangat lama melalui perjuangan yang berat.

Karena itu, bagaimanapun juga, terasa jantung Ki Ajar itu dicengkam oleh ketegangan, karena Ki Ajar menyadari bahwa tidak semua cantrik memiliki kecerdasan berpikir.

Sementara itu, beberapa orang Senapati memang telah memanggil para cantrik untuk berbicara seorang dengan seorang. Para Senapati itu telah menanyakan kegiatan dari Ki Ajar. Apa saja yang telah diajarkan di padepokan kecil itu.

“Kami belajar olah kajiwan,” jawab para cantrik meskipun mereka tidak saling berbicara sebelumnya. Tetapi mereka dapat menghubungkan, pesan Ki Ajar dengan kehadiran para prajurit dan justru karena para prajurit itu telah bertanya kepada mereka tentang kegiatan Ki Ajar.

Ternyata bahwa para cantrik itu telah berusaha untuk melindungi nama baik dan keselamatan Ki Ajar. Karena itu, maka mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk berbicara sebagaimana dipesankan oleh Ki Ajar.

Senapati yang berbicara dengan para cantrik itu ternyata memang bertanya, apakah Ki Ajar baru saja pergi meninggalkan padepokan.

Namun semua cantrik yang dipanggil para Senapati itu menjawab, “Sudah lama guru tidak meninggalkan padepokan.”

“Berapa lama?” bertanya para Senapati.

“Sudah lebih dari sebulan,” jawab para cantrik.

Para Senapati itu kemudian bertanya tentang lingkungan mereka dan mereka pun bertanya apakah padepokan itu baru saja menerima tamu.

“Kami jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah menerima tamu,” jawab para cantrik.

“Apakah kemarin ada tamu?” desak Senapati-senapati itu.

Tetapi jawabnya para cantrik di tempat yang terpisah-pisah itu, “Tidak tuan. Tidak ada seorang tamu pun. Apalagi dalam waktu dekat ini.”

Ketika kemudian para Senapati itu selain bertemu dan berbicara tentang hasil pengamatan mereka padepokan itu dan para cantrik, serta menyampaikannya kepada Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada itu pun berkata, “Memang tidak ada alasan untuk mencurigai Ki Ajar yang sederhana ini.”

Dengan demikian, maka Ki Ajar pun telah dibebaskan dari segala tanggung jawab atas hilangnya Pangeran Lembu Sabdata. Sehingga karena itu, maka juga tidak ada alasan lagi untuk lebih lama menahan Ki Sadmaya dan Senapati yang telah menghubungkannya dengan Pangeran Singa Narpada.

Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Singa Narpada itu pun langsung minta diri bersama para pengiringnya. Sebaliknya keputusan bahwa Ki Ajar memang tidak tahu menahu tentang keadaan dan usaha Pangeran Lembu Sabdata yang telah melepaskan diri, maka Pangeran Singa Narpada pun mengambil keputusan pula untuk membebaskan Ki Sadmaya dan Senapati yang menghubungkannya.

Sepeninggal Pangeran Singa Narpada, maka Ki Ajar pun telah menarik nafas dalam-dalam. Muridnya yang paling dipercayainya itu pun bertanya, “Apakah ini berarti bahwa kita sudah bebas sama sekali dari semua tuduhan?”

“Kita masih menunggu,” jawab gurunya, “Dalam beberapa saat ini, Pangeran Singa Narpada tentu masih memasang petugas sandinya untuk mengamati kita. Jika dalam saat-saat yang demikian kita pergi ke gubug Pangeran Lembu Sabdata, maka kita tentu akan terjebak karenanya.”

“Jika demikian kita akan menunggu. Sementara itu, aku akan mengamati pula, apakah masih ada para petugas sandi itu di sekitar padepokan ini,” sahut pututnya.

“Tidak mudah untuk mengetahui kehadirannya,” berkata Ki Ajar.

“Aku sadar guru. Tetapi aku akan mencoba. Bukankah tidak ada bahayanya untuk melihat-lihat pategalan sambil mengamati keadaan,” berkata Putut itu, “Memang mungkin aku gagal menemukan mereka. Tetapi aku akan mencobanya.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi untuk sementara kita dapat mengambil satu kesimpulan bahwa kita sudah dibebaskan. Justru karena tidak ada pesan apapun juga, maka Pangeran Singa Narpada menganggap bahwa persoalan kita sudah selesai.”

Demikianlah, maka Ki Ajar tidak lagi merasa gelisah dengan hadirnya siapapun juga yang berusaha untuk mengkhianatinya.

Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata yang ditinggalkan seorang, diri di dalam sebuah gubug di pinggir hutan yang lebat sama sekali tidak merasa gentar. Meskipun ada juga sepercik kecemasan, namun ternyata kemudian ia merasa mapan untuk tinggal di tempat itu.

Ternyata di dalam gubug itu terdapat alat-alat dapur yang lengkap. Senjata yang pendek, sedang dan senjata panjang. Bahkan ada sejenis senjata lontar.

Dengan senjata-senjata itu, Pangeran Lembu Sabdata harus mempertahankan diri. Namun jika pada suatu saat ia lengah, maka mungkin sekali ia akan dapat diterkam oleh seekor harimau atau sekelompok anjing hutan.

Dari hari ke hari, Pangeran Lembu Sabdata berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan alam di sekitarnya. Pategalan, tanah garapan, sungai, padang rumput dan perlu serta hutan yang masih pepat, ditumbuhi berbagai batang pohon raksasa.

Namun karena tekad yang telah membara di dalam dadanya, maka Pangeran Lembu Sabdata pun tidak pernah mengeluh karena keadaannya. Sepekan dua pekan, terasa juga kerinduan Pengeran Lembu Sabdata untuk dapat bertemu dan berbicara dengan seseorang. Tetapi keinginan itu akhirnya kabur juga.

Apalagi ketika Pangeran Lembu Sabdata mulai membuka kitab yang diberikan oleh Ki Ajar yang membawanya ke tempat itu. Maka Pangeran Lembu Sabdata mulai dapat memahami arti hidupnya dalam keterasingannya. Karena dengan mempelajari ilmu itu, ia berharap bahwa pada suatu ketika ia akan hadir kembali di tengah-tengah sekelompok orang yang akan tercengang menyaksikan kemampuannya.

“Tentu bukan sekedar untuk dipertontonkan,” berkata Pangeran Lembu Sabdata di dalam hatinya, “Ada satu tujuan yang penting bagi kebebasan orang-orang Kediri sejati.”

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah menenggelamkan sebagian besar waktunya dengan isi kitab Ki Ajar. Dibacanya isi kitab itu. Kemudian ia mulai melakukannya. Membiasakan diri dengan gerakan-gerakan tertentu, kemudian memahaminya dan mengerti artinya sehingga akhirnya gerakan itu dapat dikuasai watak dan kegunaannya.

Pangeran Lembu Sabdata di setiap hari bangun pagi-pagi benar. Setelah mandi di sebuah mata air di pinggir sungai, maka iapun mulai mengadakan latihan-latihan bagi wadagnya. Berlari-lari, berloncatan dari atas batu ke batu, mendaki lereng-lereng bukit kecil, memanjat pohon dan gerakan-gerakan yang lain yang berarti bagi ilmunya dan bagi kekuatan jasmaniahnya.

Kemudian Pangeran Lembu Sabdata melakukan sebagaimana kebanyakan orang, menyiapkan makannya bagi sehari penuh. Menanak nasi atau merebus jagung, atau bahan makanan yang lain di samping daging hasil buruannya. Juga kadang-kadang hijau-hijauan yang dipetiknya dari halamannya. Namun juga Pangeran Lembu Sabdata sering mencari lauk bagi makannya dari dalam air. Ikan air atau udang yang banyak terdapat di sungai yang mengalir di sebelah tanah yang terbentang di sisi pondoknya.

Jika matahari menjadi semakin tinggi, maka Pangeran Lembu Sabdata telah bekerja di sekitar pondoknya, menggarap tanah untuk dipetik hasilnya. Beberapa jenis tanaman telah ditanamnya.

Baru lewat tengah hari, Pangeran Lembu Sabdata telah tenggelam dengan latihan-latihan yang berat tanpa mengenal lelah. Bahkan sampai malam turun.

Ketika tubuhnya telah dicengkam oleh keletihan, maka barulah Pangeran Lembu Sabdata masuk ke dalam pondok kecilnya. Makan apa yang ada, beristirahat sejenak, kemudian membaringkan dirinya di atas sebuah amben. Pangeran Lembu Sabdata tidak pernah memerlukan lampu minyak atau obor. Sekali-sekali ia membakar dedaunan kering di dalam rumah kecilnya sekedar untuk mengusir nyamuk.

Dengan cara hidup yang demikian, Pangeran Lembu Sabdata telah meningkatkan kemampuan olah kanuragannya setapak demi setapak. Bagaimana juga ia menempa diri, namun Pangeran Lembu Sabdata masih juga berusaha untuk selalu berdiri diatas martabatnya sebagai manusia. Ia tidak akan merendahkan dirinya dan hidup menyerupai binatang di dalam hutan. Sehingga karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata telah membuat beberapa catatan dengan goresan-goresan duri pada kekayuan tentang peri kehidupannya di masa yang lalu sebagaimana diingatnya. Hanya coretan-coretan pendek, tetapi memberikan satu gambaran dari sikap dan tata cara hidup sebagai mahluk yang mempunyai martabat tertinggi.

Dalam pada itu, untuk beberapa lama, Ki Ajar masih belum pergi menengok Pangeran Lembu Sabdata. Ia masih ingin meyakinkan bahwa ia tidak akan diamati-amati lagi oleh siapapun juga. Terutama Pangeran Singa Narpada.

Sementara Ki Ajar masih berusaha untuk melihat suasana di sekitarnya, maka di Kediri, para pemimpin masih juga menjadi pening jika sekali-sekali mereka berbicara tentang Pangeran Lembu Sabdata. Namun betapapun mereka berusaha untuk melacak namun Pangeran Lembu Sabdata seakan-akan telah lenyap seperti asap.

Namun dalam pada itu, setiap kali Pangeran Singa Narpada berpesan, “Kita jangan menjadi lengah. Aku yakin bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak sekedar lari dan bersembunyi sambil menunggu saat-saat ia mati ditelan oleh umurnya. Tetapi pada suatu saat ia akan bangkit dan muncul sebagaimana pernah terjadi dengan Pangeran Kuda Permati.”

Para Senopati mempercayai keterangan itu. Merekapun menganggap bahwa akan terjadi memang demikian. Karena itu, maka atas perintah Pangeran Singa Narpada, maka para Senopati telah menekankan kepada Senopati-senopati yang lebih muda, yang sebaya atau yang lebih muda dari Pangeran Lembu Sabdata untuk tetap berhati-hati.

“Setiap saat, akan terjadi ledakan seperti meledaknya gunung berapi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui, kapan waktu yang mereka cemaskan itu akan datang. Mungkin setahun, mungkin dua tiga tahun atau lebih.

Namun Pangeran Lembu Sabdata memang tidak akan tergesa-gesa. Ki Ajar yang masih belum pernah menengoknya itu masih harus mempersiapkan segala-galanya. Agar rencana Pangeran Lembu Sabdata berjalan lancar, maka masih harus diusahakan untuk memperoleh sebuah benda yang sangat mahal, bukan saja harganya, tetapi juga nilainya sebagai benda yang dikeramatkan.

Tetapi untuk mengambil benda itu, Ki Ajar harus memperhitungkannya dengan sangat cermat. Mengambil sebuah benda di gedung perbendaharaan, adalah satu pekerjaan yang sangat berbahaya. Mungkin Ki Ajar akan dapat mempergunakan cara yang sama sebagaimana dipergunakannya pada saat ia mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Namun mungkin ia harus mengambil cara lain, karena di gedung perbendaharaan mungkin sekali terdapat orang-orang yang akan mampu bertahan terhadap kekuatan sirepnya.

Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, Ki Ajar masih belum bertindak. Sementara itu, ia mulai meyakini bahwa padepokannya sudah tidak diawasi lagi oleh siapapun juga, sehingga dengan demikian, maka ia sudah mempunyai kesempatan untuk pergi.

Dalam satu dua pekan, Ki Ajar sendiri telah melihat-lihat keadaan di sekitar padepokannya. Baru kemudian, ia memutuskan untuk menengok Pangeran Lembu Sabdata yang berada di tempat pengasingannya.

“Kau ikut aku,” berkata Ki Ajar kepada muridnya yang paling dipercayainya. Sementara itu kepada murid-muridnya yang lain, Ki Ajar mengatakan, bahwa ia ingin pergi ke tempat-tempat yang memungkinkannya untuk melakukan samadi.

“Apakah guru sudah dapat menyebut, dimana guru akan melakukan Samadi?” bertanya seorang muridnya.

“Aku akan berjalan,” jawab Ki Ajar, “baru jika terasa olehku tempat yang sesuai, maka aku akan berhenti dan melakukan samadi barang dua tiga pekan. Mudah-mudahan aku dapat kembali dengan selamat. Sementara itu, jika ada orang yang bertanya tentang aku, maka katakanlah, aku sedang samadi di tempat yang masih akan diketemukan kemudian.”

“Baiklah guru,” jawab muridnya, “Tetapi kami mohon guru tidak akan terlalu lama pergi.”

“Tidak. Aku tidak akan terlalu lama pergi,” jawab Ki Ajar.

Demikianlah, pada hari-hari yang sudah ditentukan, maka Ki Ajar dan pututnya itu pun telah meninggalkan padepokannya. Demikian hati-hati, Ki Ajar tidak langsung menuju ke tempat Pangeran Lembu Sabdata disembunyikan. Tetapi ia mengambil jalan melingkar. Meskipun agak jauh, tetapi jika orang-orang padukuhan di sekitar padepokannya melihat, maka arah kepergiannya bukannya arah yang menuju ke tujuannya.

Karena itu, maka Ki Ajar memerlukan waktu yang lebih lama untuk menempuh jarak ke pondok Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi selisih waktu itu sama sekali tidak berpengaruh apapun juga, baik bagi Pangeran Lembu Sabdata, maupun bagi Ki Ajar dan muridnya.

Namun akhirnya, Ki Ajar pun sampai juga ke pondok Pangeran Lembu Sabdata. Pangeran yang berada di tempat yang terasing dan yang sudah cukup lama tidak bertemu dengan seseorang.

Karena itu, maka kedatangan Ki Ajar telah memberikan kegembiraan yang luar biasa kepada Pangeran Lembu Sabdata. Kedatangan Ki Ajar seakan-akan telah menempatkannya kembali kepada kedudukannya dan ke dalam lingkungan sesamanya. Karena sebenarnyalah bahwa seseorang pada dasarnya akan berusaha untuk hidup di dalam lingkungannya. Bukan sendiri-sendiri tanpa saling berhubungan.

Ki Ajar yang sudah lama tidak bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata itu, melihat pada saat kedatangannya bahwa Pangeran Lembu Sabdata memang agak kurus. Tetapi Ki Ajar itu pun melihat bahwa Pangeran itu nampak memiliki sesuatu yang belum dimilikinya sebelumnya.

Setelah Ki Ajar dipersilahkan duduk, dan setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Pangeran Lembu Sabdata pun mulai menceriterakan pengalaman yang didapatkannya selama ia berada di tempat yang terasing itu.

“Aku ternyata mampu menggarap tanah,” berkata Pangeran Lembu Sabdata, “Sementara itu, aku mampu pula memaksa diri untuk mempelajari ilmu sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ki Ajar.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengagumi Pangeran. Ternyata Pangeran dengan cepat mampu menyesuaikan diri. Pangeran dapat hidup dalam suasana yang lain sama sekali dengan suasana yang pernah Pangeran alami di Kediri.”

“Tetapi meskipun hidup disini bagaikan hidup dalam dunia mimpi, tetapi agaknya masih lebih baik daripada hidup di dalam bilik kurungan. Apalagi dalam keadaan kehilangan ingatan. Di dalam bilik itu aku tidak lebih dari pangewan-ewan yang tidak berharga sama sekali. Pada saat aku masih dicengkam oleh sakit ingatan, maka mungkin orang akan meludahiku jika mereka lewat di muka bilik tahanan itu,” sahut Pangeran Lembu Sabdata.

“Tidak Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Tidak ada yang memperlakukan Pangeran seperti itu.”

“Tentu ada,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Aku tidak lebih dari seekor keledai di hadapan Pangeran Singa Narpada.”

“Ternyata Pangeran Singa Narpada masih juga mengingat bahwa Pangeran adalah keluarga sendiri. Ternyata Pangeran Singa Narpada tidak berkeberatan ketika seseorang memohon untuk mengobati Pangeran pada saat Pangeran sakit ingatan,” berkata Ki Ajar.

“Sekedar memamerkan diri, agar kakangmas Singa Narpada dianggap orang yang baik hati,” sahut Pangeran Lembu Sabdata.

Ki Ajar tersenyum. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak Pangeran. Bukan sekedar memamerkan kebaikan hati. Tetapi sebenarnyalah Pangeran Singa Narpada tidak berkeberatan jika Pangeran Lembu Sabdata mendapat pengobatan dan sembuh dari penyakit Pangeran. Tetapi sudah barang tentu bahwa Pangeran Singa Narpada tidak ingin melihat Pangeran meninggalkan bilik tahanan itu. Karena Pangeran Lembu Sabdata merupakan orang yang sangat berbahaya bagi Pengeran Singa Narpada.”

Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Kakangmas Singa Narpada membenci aku sejak aku masih kanak-kanak.”

“Tentu tidak Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Pangeran Singa Narpada dan Pangeran Lembu Sabdata telah memilih jalan sendiri dalam hubungan dengan keadaan Kediri sekarang ini. Karena itu, maka jika ada jarak antara Pangeran Singa Narpada dan Pangeran Lembu Sabdata tentu tidak sejak Pangeran Lembu Sabdata masih kanak-kanak.”

Pengeran Lembu Sabdata menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kapan pun mulainya, tetapi bagi Pangeran Singa Narpada aku memang merupakan musuh yang sangat dibencinya. Kepergianku tentu akan menggoncangkan Kediri meskipun hanya sesaat. Kemudian Kediri akan tenang lagi untuk beberapa lama, sampai saatnya aku ikan muncul lagi sebagaimana Ki Ajar harapkan.”

“Ya Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Namun setelah rangkaian dari segala rencana ini lengkap.”

Pangeran Lembu Sabdata pun kemudian mendapat penjelasan dari rencana Ki Ajar. Sebelum bertindak lebih jauh, maka Mahkota yang keramat itu harus sudah berada di tangan.

“Segalanya terserah kepada Ki Ajar,” berkata Pangeran Lembu Sabdata, “Aku hanya akan melaksanakan sebagaimana Ki Ajar kehendaki.”

“Pangeran adalah trah Raja-raja di Kediri. Karena itu, maka Pangeran pun berhak menduduki tahta. Memang tidak semua orang kuat memikul beban itu. Tetapi Mahkota itu adalah pertanda wahyu. Siapa yang memiliki mahkota itu akan dapat dan kuat memanggul tugas sebagai Raja di Kediri.”

“Jika demikian, maka tidak usah trah para Raja di Kediri akan dapat menjadi Raja,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Menurut nalar memang demikian Pangeran. Tetapi bagi kepentingan para pendukung, maka mereka akan lebih percaya bahwa pemimpin mereka adalah salah seorang dari keluarga Raja sendiri.”

Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa yang sebenarnya akan mengemudikan semua gerakan adalah Ki Ajar. Namun ia sama sekali tidak merasa kecil dan berkeberatan untuk sekedar menjadi alat. Pangeran Lembu Sabdata memang tidak merasa lagi harus berdiri tegak diatas kepribadiannya. Dirinya sendiri telah menjadi kabur baginya, sehingga dengan demikian, maka ia akan melakukan semua perintah Ki Ajar yang telah mengobatinya.

Sebenarnyalah Ki Ajar telah menumpukan harapannya kepada Pangeran Lembu Sabdata setelah Pangeran Kuda Permati terbunuh, justru oleh isterinya sendiri.

Demikianlah, maka Ki Ajar untuk beberapa hari memang berada di pondok itu bersama seorang muridnya. Dengan tekun dan bersungguh-sungguh keduanya berusaha untuk meningkatkan ilmu Pangeran Lembu Sabdata. Yang sudah dipelajarinya dari kitab yang ditinggalkan oleh Ki Ajar, kemudian mendapat penjelasan dan tuntunan untuk mengembangkannya dari Ki Ajar.

“Pangeran harus memiliki tingkat ilmu sebagaimana Pangeran Kuda Permati. Dengan demikian, maka kita bertiga akan dengan mudah mengambil Mahkota yang tersimpan di gedung perbendaharaan. Kemudian setelah memiliki Mahkota yang menjadi lambang wahyu Kraton itu, maka semuanya akan dapat kita lakukan. Mungkin dengan cara sebagaimana pernah ditempuh oleh Pangeran Kuda Permati dengan perlawanan terbuka. Tetapi mungkin dapat dilakukan dengan cara lain,” berkata Ki Ajar.

“Cara lain yang bagaimana?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Aku belum tahu. Tetapi mungkin dengan cara membunuh seorang demi seorang diantara mereka yang menentang niat Pangeran Lembu Sabdata. Yang utama adalah Pangeran Singa Narpada. Kemudian Pangeran-pangeran yang lain. Baru kemudian para Senapati. Diantara mereka yang pertama adalah Panji Sempana Murti,” jawab Ki Ajar. Tetapi kemudian katanya lebih lanjut, “Namun semuanya itu jangan kau pikirkan sekarang Pangeran. Yang penting bagi Pangeran sekarang adalah menempa diri.”

Pangeran Lembu Sabdata mengangguk. Memang yang penting baginya adalah menyempurnakan ilmunya. Baru rencana-rencana itu akan dipelajarinya untuk dilaksanakannya.

Dengan demikian, maka dari hari ke hari, Ki Ajar telah memberikan latihan-latihan yang berat. Pada satu saat Ki Ajar telah membuka satu kemungkinan pengembangan satu jenis ilmu. Sementara di saat lain, Pangeran Lembu Sabdata harus mulai dengan tata gerak yang baru untuk melengkapi ilmu yang telah dipelajarinya.

Waktu yang ada telah dipergunakan oleh Pangeran Lembu Sabdata sebaik-baiknya. Ia mengerti, bahwa Ki Ajar tidak akan terlalu lama berada di tempat itu.

Karena itu, maka iapun memanfaatkan waktu yang tersedia dengan latihan-latihan yang berat, agar jika Ki Ajar meninggalkannya, maka ia sudah mempunyai bahan yang cukup banyak.

Dalam pada itu, sementara Pangeran Lembu Sabdata sedang menempa diri, maka dua orang kakak beradik di tempat yang berjarak ribuan tonggak, sedang sibuk membajakan diri pula. Sebagaimana telah mereka putuskan, bahwa keduanya akan pergi ke Kediri untuk menyatakan, bahwa untuk sementara mereka akan menarik diri dari tugas-tugas sandi. Mereka akan menjalani laku sebagai dua orang penerus dari salah satu cabang perguruan olah kanuragan.

Dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal lelah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melakukan sebagaimana dijanjikaannya kepada kakak dan ayahnya. Mereka berusaha untuk tidak mengecewakan cabang perguruan Mahendra, karena ayahnya memang tidak mempunyai murid yang lain kecuali anak-anaknya sendiri.

“Selagi ayah belum menjadi pikun,” berkata Mahendra, “Kalian harus menjadi orang yang pantas berkelana diantara mereka yang memiliki kemampuan olah kanuragan. Bukan untuk menunjukkan kelebihanmu dan bertindak sewenang-wenang. Namun kalian justru harus berada dalam keadaan bertapa Ngrame. Satu laku sebagai pertapa yang selalu siap untuk menolong orang lain yang memerlukan pertolongan.”

Kedua anaknya selalu mendengarkan nasehat ayahnya itu. Keduanya berusaha untuk mengerti dan meresapi makna dari nasehat itu.

Dengan demikian maka keduanya telah berusaha dengan sungguh-sungguh, sejauh jangkauan kemampuan tubuh dan jiwa mereka.

Hampir setiap hari keduanya selalu berada di dalam sanggar. Sekali-sekali mereka menyusuri lereng pegunungan dan memasuki hutan-hutan lebat yang dapat mereka jangkau dalam latihan-latihan mereka. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan alam dan berusaha menyatukan diri dengan kekuatan alam itu. Mereka melihat angin yang menggoyang dedaunan. Merekapun melihat topan yang mengguncang pepohonan. Dan mereka melihat juga prahara yang mengamuk memutar pohon-pohon raksasa dan kemudian menumbangkannya timpa-menimpa.

Kedua anak muda itu juga melihat gemercik air sungai yang jernih mengalir disela-sela bebatuan. Merekapun melihat banjir yang melanda tebing. Dan mereka pun melihat arus banjir bandang yang menyeret rumpun-rumpun pering ori, menghanyutkan batu-batu sebesar gunung anakan. Menggugurkan tebing-tebing pegunungan.

Merekapun melihat betapa api menghangatkan tubuh yang kedinginan di malam hari. Tetapi api itu juga membuat air menjadi mendidih karenanya, dan kedua anak itu pada suatu saat telah melihat betapa dahsyatnya hutan yang terbakar. Binatang-binatang seisi hutan berlari-larian berebut dahulu. Seekor harimau telah berlari meloncati seekor kambing tanpa berpaling. Sementara anjing-anjing hutan menggonggong tidak berkeputusan, saling melanggar derap kijang yang kepanasan. Ujung lidah api yang meloncat ke udara bagaikan menggapai langit dan membakar awan yang bergayutan.

Semua yang terjadi itu tidak lepas dari pengamatannya. Bahkan semua gejala kejadian alam.

Jika hal yang berkesan di hatinya itu diungkapkan kepada ayah mereka, maka ayah mereka pun segera memberikan petunjuk-petunjuk dalam hubungan dengan ilmu mereka. Kekuatan angin, air dan api. Kekuatan alam yang mungkin akan dapat menjadi landasan kekuatan ilmu mereka. Ilmu Gundala Sasra, Bajra Geni, Sapu Angin dan kekuatan-kekuatan lain bersandar kepada kekuatan air, api dan angin. Sementara itu, ilmu yang lain berlandaskan kepada kekuatan yang disadap dari kekuatan bumi. Aji Sangga Buana dan kekuatan-kekuatan lain akan mempunyai arti yang sangat besar, apabila seseorang mampu menguasainya.

Dengan cara yang khusus Mahendra memberikan petunjuk kepada kedua orang anak laki-lakinya yang dianggapnya sudah dewasa sepenuhnya, untuk menelusuri lebih dahulu ilmu dari cabang perguruannya sendiri. Baru kemudian dengan alas itu mereka akan membuka pengembangannya lebih jauh berdasarkan atas pengamatan mereka terhadap alam di sekeliling mereka.

Sebenarnyalah, bahwa kesempatan yang didapat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata lebih baik dari Mahisa Bungalan. Kedua anak muda itu mendapat kesempatan lebih luas untuk mengenali ilmu mereka dan menukik kekedalamannya. Baru kemudian, ternyata bahwa Witantra pun telah ikut pula turun ke sanggar. Karena Witantra bersumber dari ilmu yang sama dengan Mahendra, maka Witantra dapat langsung ikut serta membimbing keduanya.

Meskipun di dalam perkembangannya, ada sedikit perbedaan antara Mahendra dan Witantra, namun pada dasarnya keduanya memang bersumber dari perguruan yang sama.

Agak berbeda dengan Mahisa Agni yang menjadi semakin tua. Tidak ada keinginan apapun lagi padanya, kecuali mewariskan ilmunya sampai tuntas. Namun karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih dalam tempaan ayah dan paman yang sekaligus menjadi gurunya, maka Mahisa Agni telah memilih Mahisa Bungalan untuk mewarisi ilmunya sepenuhnya.

Namun karena Mahisa Bungalan adalah seorang Senapati di Singasari, maka segalanya berjalan dalam keadaan yang lebih terbatas. Mahisa Bungalan tidak mempunyai waktu seluas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Tetapi dengan ijin panglimanya, maka Mahisa Bungalan mendapat juga waktu untuk melakukannya pada saat-saat tertentu di setiap hari.

Tetapi seperti yang pernah dilakukan Mahisa Agni, maka pada saat-saat terakhir, Mahisa Bungalan harus menempatkan diri sepenuhnya untuk menjalankan laku. Tetapi atas pengaruh Mahisa Agni di lingkungan istana Singasari, maka ijin itu bukan persoalan yang sulit bagi Mahisa Bungalan apabila saatnya nanti tiba.

Namun dalam pada itu, ternyata sebuah berita dari Kediri telah mengejutkan beberapa kalangan di Singasari. Sri Baginda di Kediri memang tidak memberikan laporan secara resmi bahwa Pangeran Lembu Sabdata yang ditahan berhasil melarikan diri. Tetapi justru para petugas sandi di Kediri lah yang mengetahui dan memberikan laporan kepada para pemimpin di Singasari, bahwa Pangeran Lembu Sabdata, seorang Pangeran pengikut Pangeran Kuda Permati telah terlepas dari bilik tahanannya. Petugas sandi di Kediri dapat memberikan laporan terperinci tentang pelarian itu. Juga tentang keadaan Pangeran Lembu Sabdata sebelumnya, yang mengalami sakit ingatan dan kemudian telah disembuhkan oleh seorang pertapa. Namun yang beberapa saat kemudian, Pangeran itu justru telah hilang.

Dengan jelas petugas sandi itu memberikan laporan, bagaimana Pangeran Lembu Sabdata itu lenyap tanpa diketahui oleh para petugas yang tertidur.

Hilangnya Pangeran Lembu Sabdata ternyata merupakan peristiwa yang mendapat tanggapan yang luas bagi Singasari. Pangeran Lembu Sabdata adalah seorang Pangeran yang keras hati. Selebihnya, Pangeran Lembu Sabdata akan dapat menjadi bibit yang tumbuh menjadi bahan yang akan dapat membakar kembali perlawanan Kediri terhadap Singasari. Apalagi para petugas sandi di Kediri tahu pasti bahwa Pangeran Lembu Sabdata adalah seorang pangeran yang sangat di kasihi oleh Sri Baginda di Kediri.

Karena itu, maka bukan saja di Kediri, bahwa Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan petugas-petugas sandi khusus untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata, namun di Singasari pun telah turun pula perintah rahasia untuk melakukan hal yang sama. Para pemimpin di Singasari yang menanggapi lepasnya Pangeran Lembu Sabdata itu sebagai satu persoalan yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh telah memberikan perintah pula kepada beberapa orang petugas sandi pilihan untuk melacak jejak Pangeran Lembu Sabdata.

Tetapi pekerjaan melacak Pangeran Lembu Sabdata bukannya pekerjaan yang mudah, karena Pangeran Lembu Sabdata telah jatuh ke tangan seseorang yang memiliki perhitungan yang mapan di samping memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas serta ilmu kanuragan yang tinggi.

Karena itu Pangeran Lembu Sabdata yang berada di persembunyiannya, telah menempa diri sebaik-baiknya.

Sekali-sekali ia berada di tempat itu sendiri, karena Ki Ajar telah meninggalkannya dan berada di padepokannya. Tetapi pada kesempatan lain, pertapa itu telah berada di pondok persembunyian Pangeran Lembu Sabdata itu untuk menempanya.

Namun bersamaan dengan itu, di Singasari, dua orang kakak beradik telah melakukan hal yang serupa. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha dengan laku yang sangat berat untuk mewarisi ilmu ayahnya dan pamannya Witantra, sedangkan di tempat lain, atas ijin panglimanya. Mahisa Bungalan telah menyisihkan sebagian waktu tugasnya untuk bekerja keras menuju kepada suatu kesempatan untuk sepenuhnya menerima ilmu yang ada di dalam diri Mahisa Agni.

Demikianlah, maka waktu pun berjalan dari hari ke hari, bulan ke bulan sehingga akhirnya tahun pun berlalu. Mereka yang sedang bergulat dengan laku untuk meningkatkan ilmu kanuragan telah mendekati batas-batas kemampuan untuk sampai ke puncak pewarisan. Meskipun laku itu ditempuh menurut jalur cabang ilmu masing-masing, namun dalam keseluruhannya mereka telah bekerja sangat keras dari waktu ke waktu.

Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata yang hidup terpencil itu telah mengalami beberapa perubahan. Bukan saja karena dari hari ke hari ia telah bekerja keras, namun sengatan matahari telah membuat kulitnya menjadi kehitam-hitaman. Dalam kesibukannya Pangeran Lembu Sabdata tidak sempat lagi memelihara rambutnya, kumisnya dan janggutnya yang tumbuh dengan kusut dan tidak terpelihara.

Dengan demikian, maka wajah Pangeran Lembu Sabdata dan bahkan ujud lahiriahnya seakan akan telah berubah.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Ajar telah mengambil satu kesimpulan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak akan mudah dikenal lagi oleh orang-orang Kediri, bahkan oleh orang-orang yang terdekat sekalipun.

Dengan kesimpulan itu maka Ki Ajar pun telah berbicara dengan Pangeran Lembu Sabdata tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukannya.

“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Sudah cukup lama Pangeran hidup menyendiri, sehingga dengan demikian mungkin sekali ada persoalan-persoalan yang tidak lagi dapat Pangeran ingat di dalam pergaulan antara manusia. Karena itu sebaiknya, Pangeran mulai mengenali kembali, hubungan diantara sesama.”

“Maksud Ki Ajar?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Sebaiknya Pangeran pergi ke Kediri untuk mengenang kembali tata pergaulan hidup yang pernah Pangeran tinggalkan untuk waktu yang lama,” berkata Ki Ajar, “Dengan demikian jika saatnya tiba, maka Pangeran akan dapat bertindak dengan tepat dan tidak terpisah dari para pendukung Pangeran kemudian.”

“Siapakah pendukungku itu?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Masih belum jelas sekarang,” jawab Ki Ajar, “Tetapi tentu dapat diperkirakan. Mereka adalah putera-putera Kediri sejati. Karena itu, maka Pangeran harus mengenal mereka, sementara mereka belum saatnya mengenal Pangeran. Untuk menjaga segala kemungkinan, biarlah muridku selalu mengawasi Pangeran dalam perjalanan-perjalanan. Jika Pangeran merasa untuk satu perjalanan telah cukup, maka Pangeran dapat kembali tidak perlu ke pondok terpencil ini, tetapi silahkan kembali ke padepokanku.”

Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk, sementara Ki Ajar meneruskan, “Kecuali segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan cepat, maka kesempatan Pangeran untuk menyempurnakan kemampuan Pangeran dalam olah kanuragan akan menjadi semakin banyak. Pangeran akan mempunyai kawan berlatih dan aku pun akan selalu ada untuk memberikan tuntunan kepada Pangeran. Sebenarnyalah sampai saat ini ilmu Pangeran sudah meningkat hampir berlipat. Dalam kehidupan sewajarnya, maka Pangeran adalah orang yang pilih tanding. Tetapi sebaiknya untuk sementara Pangeran tidak perlu menunjukkan kemampuan itu kecuali untuk melindungi diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk.”

“Pangeran yang lain. Pangeran harus mulai mempelajari kemungkinan untuk mengambil mahkota dari Gedung Perbendaharaan. Baru kemungkinan-kemungkinannya, karena aku sendirilah kelak yang akan mengambilnya meskipun mungkin juga bersama dengan Pangeran. Ingat Pangeran, Pangeran lah yang kelak akan mempergunakan mahkota itu.”

Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Aku akan melihat kehidupan yang sudah lama aku tinggalkan. Tetapi sudah tentu maksud Ki Ajar bahwa aku hadir di tengah-tengah pergaulan itu tidak sebagai Pangeran Lembu Sabdata. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

“Tepat Pangeran,” jawab Ki Ajar, “Pangeran dapat menyebut diri Pangeran dengan siapa saja. Demikian pula muridku. Sementara itu, di samping Pangeran mengenali kembali tata kehidupan di Kediri, maka ada pula tugas yang penting bukan gemerlapnya intan berlian yang ada pada mahkota itu, serta kemukten yang akan Pangeran dapatkan, tetapi dengan mahkota itu, maka Pangeran mendapat kekuasaan untuk menentukan langkah-langkah yang paling baik bagi Kediri menghadapi Singasari. Namun sekali lagi ingat Pangeran. Jangan tergesa-gesa agar langkah kita tidak salah lagi sebagaimana pernah terjadi.”

“Baik Ki Ajar,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “aku akan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Lebih baik kita mematangkan semua rencana baru melangkah daripada kita mulai dengan cepat tetapi langkah kita sesat.”

“Bagus Pangeran. Nah, jika demikian kita akan segera mulai. Pangeran akan segera meninggalkan pondok kecil ini dan akan tinggal bersama kami. Pada saatnya Pangeran akan berangkat ke Kediri dari padepokan kami,” berkata Ki Ajar kemudian.

Namun demikian, mereka masih tinggal dua hari lagi di pondok kecil itu, karena Pangeran Lembu Sabdata tidak sampai hati meninggalkan pondoknya begitu saja. Ia masih sempat memetik jagung dan menyimpannya dengan baik.

Meskipun jika ia kelak sempat singgah jagung itu sudah dimakan bubuk sekalipun.

Dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata akan memasuki tahap berikutnya dari perjuangannya. Agaknya Ki Ajar menganggap bahwa ujud Pangeran Lembu Sabdata telah berubah, sehingga ia tidak lagi mudah dikenal, serta Pangeran Lembu Sabdata pun telah memiliki ilmu yang jauh meningkat, meskipun masih harus disempurnakan.

Dalam waktu-waktu tertentu, Pangeran Lembu Sabdata akan berada di Kediri, sementara di saat yang lain, Pangeran Lembu Sabdata akan menekuni ilmunya di dalam sanggar padepokan Ki Ajar. Dengan demikian, maka ia mulai dengan langkah-langkahnya yang baru untuk mencapai tujuan akhir, yang menurut Ki Ajar, tegaknya kembali Kediri sebagaimana sebelum Tumapel menguasainya dan kemudian disebut dengan Singasari.

Pada waktu yang sudah ditentukan, maka Ki Ajar telah membawa Pangeran Lembu Sabdata ke padepokannya. Ia tidak takut lagi dikenali petugas sandi Kediri, bahwa ia telah menyembunyikan Pangeran Lembu Sabdata. Apalagi menurut pengamatan Ki Ajar. Kediri seolah-olah telah melupakan Pangeran Lembu Sabdata yang telah hilang itu.

Sebenarnyalah bahwa Kediri seakan-akan memang telah melupakan Pangeran Lembu Sabdata. Setelah untuk waktu yang lama tidak ada persoalan yang timbul karena hilangnya Pangeran itu, maka orang-orang Kediri mengira, bahwa Pangeran Lembu Sabdata benar-benar hanya ingin melarikan diri dan tidak akan berbuat apa-apa lagi.

Agak berbeda dengan mereka, maka Pangeran Singa Narpada masih tetap mengingatnya. Beberapa orang bawahannya masih selalu diperingatkannya agar mereka jangan lengah.

“Suasana di Kediri nampak tenang Pangeran,” berkata seorang Senapati.

“Mungkin sekarang masih tetap tenang,” berkata Pangeran Singa Narpada. ”Namun mungkin sekali setiap saat akan dapat meledak kesulitan yang menerpa Kediri.”

“Tetapi Pangeran,” berkata Senapatinya yang lain, “Jika Pangeran Lembu Sabdata itu mengadakan gerakan betapapun kecilnya, maka para petugas sandi akan berhasil menciumnya. Kita telah melepaskan petugas sandi di seluruh sudut tanah ini.”

“Tetapi para petugas sandi itu jangan tertidur pada saat seperti ini. Meskipun tiga empat tahun mendatang, aku masih akan tetap selalu memperingatkan kalian untuk tidak menjadi lengah. Bahkan sepanjang umurku,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Para Senapatinya mengangguk-angguk. Namun selain Pangeran Singa Narpada, tidak banyak lagi para Panglima yang masih menaruh perhatian terhadap Pengeran Lembu Sabdata yang sudah dianggap hilang itu.

Tetapi bahwa masih ada satu dua orang yang selalu mengingatnya, maka Pangeran Lembu Sabdata masih belum bebas sepenuhnya untuk berbuat sekehendak hatinya.

Namun dalam pada itu, meskipun Pangeran Singa Narpada selalu memperingatkan agar prajurit-prajurit Kediri tidak menjadi lengah, namun tidak seorang pun yang masih dapat mengenali Pangeran Lembu Sabdata ketika Pangeran itu memasuki gerbang Kota Raja. Tidak seorang pun yang memperhatikannya. Kulitnya yang hitam karena terbakar oleh terik matahari, serta jambang dan kumis serta janggutnya yang tumbuh tidak teratur telah merubah ujudnya sehingga ia benar-benar tidak dikenal. Apalagi pakaiannya yang kusut dan sikapnya yang nampak kasar.

Dengan leluasa Pangeran Lembu Sabdata menelusuri jalan-jalan di Kota Raja sebagaimana dilakukan oleh orang-orang lain. Tidak ada prajurit yang menyapanya. Tidak ada perwira yang mencurigainya dan tidak ada orang-orang yang dapat mengenalinya.

Kepada Putut yang menyertainya, Pangeran Lembu Sabdata berkata, “Aku leluasa untuk bertindak sekarang.”

“Pangeran tidak perlu tergesa-gesa,” berkata Putut itu, “Segalanya akan diatur oleh guru.”

“Aku mengerti. Maksudku, bahwa aku mempunyai keleluasaan untuk berada di dalam Kota ini. Bukankah gurumu juga memerlukan banyak keterangan sebelum kita memasuki gedung perbendahaaraan? Sebagai seorang Pangeran, aku banyak mengenal istana. Dan aku pun masih dapat mengingat jalan-jalan yang dapat ditempuh untuk memasuki gedung perbendaharaan dan gedung pusaka,” berkata Pangeran Lembu Sabdata.

“Ya Pangeran,” jawab Putut itu, “pada saatnya pengenalan Pangeran itu akan sangat berguna. Tetapi sebelumnya maka kita masih harus meyakinkan apakah pengenalan Pangeran itu masih tepat.”

“Tentu,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Sebelum kita melangkah, segalanya harus pasti. Aku tidak mau terjebak sebagaimana terjadi atas Pangeran Kuda Permati.”

Putut itu mengangguk-angguk. Agaknya Pangeran Lembu Sabdata masih tetap dikuasai oleh Ki Ajar, sehingga segala langkah-langkahnya dengan mudah dapat dikendalikan.

Namun demikian Pangeran Lembu Sabdata bukannya merupakan alat mati. Ia masih tetap memiliki kemampuan mempergunakan akalnya, namun ia telah kehilangan sebagian dari kepribadiannya, karena pengaruh pribadi Ki Ajar yang sangat kuat atas dirinya.

Untuk beberapa lama Pangeran Lembu Sabdata berada di Kota Raja. Ia tidak bermalam di tempat seseorang. Tidak ada seorang pun yang dipercaya oleh Ki Ajar untuk mengenali Pangeran Lembu Sabdata. Seandainya ia bermalam juga di rumah seseorang, maka ia harus dikenal sebagai cantrik Ki Ajar dan bukan sebagai Pangeran Lembu Sabdata.

Bersambung.......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...