Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 023-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 023-02*

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia mulai mengingat-ingat, orang-orang yang pernah berhubungan dengan Pengeran Kuda Permati. Namun diantara sekian banyak orang yang dikenalnya, tiga orang yang telah menarik perhatian.

“Ulangi, siapakah tiga orang yang kau sebut terakhir,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Nampaknya mereka perlu mendapat perhatian.”

“Itulah sebabnya, mereka aku sebut terakhir, karena menurut pendapatku mereka jugalah yang paling berpengaruh atas Pangeran Singa Narpada,” jawab Senapati itu. Yang kemudian mengulangi menyebut tiga orang yang dikatakannya dalam urutan terakhir. “Seorang yang disebut Panembahan Bajang. Seorang Panembahan yang bertubuh kecil. Namun memiliki ilmu yang sulit dicari duanya. Menurut pendengaranku. Panembahan ini datang dari Timur. Aku belum tahu, dimanakah Padepokannya. Namun seorang pengawal Pangeran Kuda Permati pernah datang ke padepokan itu.”

“Kau tahu, siapakah pengawal itu?” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Seorang Senapati dari pasukan berkuda. Menurut pengertianku, ia tidak terbunuh dalam peperangan, karena aku pernah melihatnya juga tertawan,” jawab Senapati itu, “Namanya Arya Rumpit.”

“O.“ Pangeran Singa Narpada mengangguk angguk. ”Aku mengenalnya, Arya Rumpit. seorang Senapati dari pasukan berkuda.”

“Ya. Arya Rumpit pernah datang ke padepokan Panembahan Bajang,” berkata Senapati itu pula. Lalu, “Arya Rumpit pulalah yang pernah datang kepada orang Kedua. Seorang pertapa yang jarang nampak bersama Pangeran Kuda Permati. Tetapi Pertapa itu pulalah yang telah banyak memberikan ilmu kepada Pangeran Kuda Permati. Ialah penganjur yang paling gigih agar Pangeran Kuda Permati melepaskan diri dari ikatan hubungan dengan Singasari yang dianggapnya telah menghina Kediri.”

Perwira Pangeran Kuda Permati itu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Pangeran Singa Narpada. Tetapi ia ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Ki Sanak,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku minta kau menyadari keadaan yang dihadapi oleh Kediri. Aku memang dapat memaksamu untuk berbicara. Tetapi aku kira, aku tidak bermaksud demikian. Aku berharap bahwa kau yang telah mengalami perang yang berakhir dengan kehancuran dimana-mana itu dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih menghadapi keadaan sekarang ini.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Sebenarnya iapun tidak ingin melihat lagi mereka sebagaimana yang pernah dibuat oleh Pangeran Kuda Permati semasa hidupnya.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada, ”Aku minta kesadaranmu Ki Sanak. Bagaimanapun juga ternyata kau adalah putra Kediri. Bahkan dalam jenjang keprajuritan, kau adalah seorang perwira yang pernah menjadi Senapati terdekat dengan Pangeran Kuda Permati. Apakah kau tidak menjadi iba melihat Kediri dibakar api pertempuran dan mengorbankan putra-putra terbaiknya.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya keadaan yang parah itu tidak terulang lagi.”

“Kau dapat membantu menciptakan satu suasana yang lebih baik, jika kau dapat menyebut nama orang-orang yang pernah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Sebab hilangnya Pangeran Lembu Sabdata akan dapat menumbuhkan satu keadaan sebagaimana pernah terjadi. Dan kau melihat, akibat dari peristiwa itu bagi Kediri.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Ada satu beban yang terasa memberati hatinya. Ia memang dapat mengelak sebagaimana seharusnya dilakukan. Perwira itu tahu pasti, dengan siapa ia berhadapan. Tetapi sebenarnyalah, sebagai seorang Senapati yang tangguh, ia tidak gentar seandainya ia harus menghadapi tekanan kekerasan. Dan iapun akan sanggup untuk tetap membungkam bahkan sampai nyawanya terlepas dari tubuhnya.

Namun yang membebaninya bukan perasaan gentar menghadapi tekanan kekerasan. Sebagaimana pernah dilakukan oleh isteri Pangeran Kuda Permati sendiri dengan mengorbankan orang yang paling dicintainya bahkan menuntut kematiannya sendiri, maka seharusnya iapun melakukannya. Ia harus membantu memadamkan sumber api itu sendiri.

Tetapi sebenarnyalah Senapati itu tidak tahu pasti, orang-orang yang manakah yang pantas untuk dicurigai mengambil Pangeran Lembu Permati. Namun demikian, agaknya jika ia memang menghendaki membantu mencegah timbulnya lagi bantuan kekerasan dan pembunuhan, maka ia dapat menyebut beberapa nama. Meskipun ada kemungkinan bahwa nama-nama yang disebutnya itu ternyata tidak ada hubungannya dengan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata.

“Nah, kemudian terserah kepadamu,” berkata Pangeran Singa Narpada selanjutnya, “Tetapi satu hal yang ingin aku katakan, aku tidak akan memaksa lagi seseorang untuk berbicara, kecuali atas kesadarannya sendiri.“

“Tidak seorang pun yang akan dapat memaksa aku berbicara Pangeran,” berkata Senapati itu, “Tetapi sebagaimana telah aku alami sendiri, betapa parahnya Kediri jika terjadi lagi permusuhan seperti pada masa hidupnya Pangeran Kuda Permati. Lepas dari salah dan benar, namun Kediri benar-benar telah menjadi neraka. Karena itu, alangkah terpujinya langkah yang diambil oleh isteri Pangeran Kuda Permati dipandang dari satu segi, meskipun akan berlawanan jika dinilai dari segi lain.”

“Kau bebas untuk memilih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”yang manakah yang baik dan dipandang dari segi mana menurut kehendakmu sendiri.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan menyebut beberapa nama Pangeran.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam.

Sebenarnyalah bahwa Senapati itu telah menyebut beberapa nama orang-orang berilmu yang pernah dihubungi oleh Pangeran Kuda Permati menurut pengetahuannya.

“Apakah mereka tidak terlibat dalam pertempuran?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ada diantara mereka yang langsung memasuki medan dengan para pengikutnya, tetapi ada diantara mereka yang tidak, yang sekedar membantu dengan cara yang lain. Bahkan ada dua tiga orang yang memberikan bantuan dengan cara yang sangat khusus. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi yang seakan-akan telah menggabungkan kemampuan mereka dan melimpahkannya kepada Pangeran Kuda Permati,” berkata Senapati itu.

“Maksudmu dua tiga orang itu bersama-sama memberikan ilmu mereka masing-masing kepada Pangeran Kuda Permati?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya,” jawab Senapati itu.

“Tetapi apakah kau tahu, siapakah diantara mereka yang memiliki ilmu sirep yang sangat tajam?” bertanya Pangeran Singa Narpada mendesak.

Senapati itu menggeleng. Katanya, “Sayang, aku tidak mengetahuinya. Namun ternyata Pangeran Kuda Permati sendiri sampai akhir hidupnya tidak pernah mempergunakan ilmu seperti itu.”

Sebenarnyalah bahwa Arya Rumpit baru untuk pertama kali berhadapan langsung dengan Pangeran Singa Narpada. Namun demikian bukan berarti bahwa Arya Rumpit tidak mengenal Pangeran Singa Narpada. Sebagai seorang Senapati maka ia telah mengenal Pangeran Singa Narpada dengan baik, bahkan Pangeran Singa Narpada pun telah mengenalnya.

“Marilah,“ Pangeran Singa Narpada mempersilahkan, ”Kita bertemu lagi.”

“Sayang, dalam keadaan yang kurang memadai Pangeran,“ jawab Arya Rumpit. Seorang Senapati dari pasukan berkuda.

“Keadaan telah menentukan, cara yang paling baik bagi pertemuan kita kali ini adalah cara ini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga menjawab, “Pangeran lah yang menentukan.”

“Ya, karena kau adalah seorang tawanan,” berkata Pangeran Singa Narpada dengan tegas.

Arya Rumpit mengangguk. Jawabnya, “Pangeran benar. Aku sekarang seorang tawanan dan Pangeran adalah orang yang menawan aku.”

“Karena itu, maka kau harus menyadari apa yang mungkin terjadi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit memandang Pangeran Singa Narpada dengan wajah yang membayangkan ketabahan hati seorang Senapati. Namun dengan penuh kesadaran akan kedudukannya pada pertemuan itu. Bahwa ia memang berhadapan dengan seorang Pangeran yang berhati singa.

“Arya Rumpit,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Aku yakin bahwa kau mengetahuinya. Karena itu, maka aku minta kau dapat menjawab sebagaimana kau ketahui.”

“Silahkan Pangeran,” berkata Arya Rumpit, ”Aku tidak akan dapat berbuat lain kecuali menjawab semua pertanyaan dengan sebaik-baiknya.”

“Terima kasih,” desis Pangeran Singa Narpada, ”Dengan demikian kau akan membantu menghindarkan Kediri dari malapetaka yang lebih besar.”

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti. Kematian-kematian yang telah terjadi di Kediri sekarang menjadi tanpa arti. Selama masih ada orang-orang yang menentang penempatan kembali tataran derajat Kediri, maka selama itu usaha untuk hal itu tidak akan berhasil.”

“Tepat,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”langkah yang diambil oleh Pangeran Kuda Permati tidak lebih dari penyebaran kematian yang sia-sia. Tidak ada apapun yang akan dicapai meskipun seandainya Pangeran Kuda Permati berhasil merebut Kediri dengan caranya, karena Singasari akan dapat melakukan satu langkah yang akan menyebabkan keadaan Kediri semakin parah. Mungkin Kediri akan dimusnahkan sampai ke akar-akarnya dan tidak akan mungkin bangkit kembali.”

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Ia kurang sependapat dengan Pangeran Singa Narpada. Sebagai senapati yang berjuang atas dasar satu sikap yang diyakini, maka Arya Rumpit pun berkata, “Jika Kediri utuh dan bulat, maka Singasari tidak akan dapat menindas kekuatan Kediri.”

“Satu mimpi yang buruk,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Seolah-olah kita tidak mengetahui kekuatan Singasari yang sebenarnya. Tetapi jika memang demikian, maka adalah satu kebodohan yang tidak dapat dimanfaatkan, karena kebodohan itu ternyata akan dapat memusnahkan Kediri.“

Arya Rumpit termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun menyadari bahwa perbedaan sikap itu memang sulit untuk dipertemukan. Dalam kedudukannya maka agaknya tidak ada gunanya baginya untuk membantah. Pangeran Singa Narpada tentu juga mempunyai landasan sikap yang kuat.

Karena Arya Rumpit tidak menjawab, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata selanjutnya, “Arya Rumpit. Sebenarnya aku mengharap bantuanmu dalam kedudukannya. Dalam pertempuran yang telah berlangsung sekian lama dengan menelan korban sekian banyaknya, ternyata kita masih belum mencapai satu penyelesaian yang tuntas. Kami ingin berhubungan dengan orang-orang yang pernah menjadi landasan kekuatan Pangeran Kuda Permati. Aku ingin berbicara dengan mereka sehubungan dengan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata. Jika hilangnya Pangeran Lembu Sabdata itu merupakan atau persiapan bagi satu kekuatan sebagaimana pernah dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati, maka kau akan dapat membayangkan, bahwa yang pernah terjadi akan terulang kembali. Mungkin akan menjadi lebih dahsyat lagi dari neraka yang pernah diciptakan oleh Pangeran Kuda Permati.”

Arya Rumpit menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia berbeda sikap, tetapi iapun mengakui bahwa jika Pangeran Lembu Sabdata kemudian mengambil langkah seperti Pangeran Kuda Permati, maka yang terjadi tidak akan lebih berarti dari langkah yang pernah diambil oleh Pangeran Kuda Permati itu.

Seperti Senapati yang mendampingi Pangeran Kuda Permati pada saat terakhirnya dan menghentikan perlawanannya terhadap kekuatan Pangeran Singa Narpada, maka Arya Rumpit pun tidak melihat bahwa langkah-langkah yang sama akan dapat memberikan arti. Bahkan ia telah menduga, bahwa langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada dengan mencari keterangan tentang orang-orang yang pernah melandasi kekuatan Pangeran Kuda Permati itu adalah karena telah tercium adanya usaha ke arah itu.

Untuk beberapa saat lamanya Arya Rumpit itu termangu-mangu. Ada beberapa macam pertimbangan yang bergejolak di dalam hatinya. Bagaimanapun juga rasa-rasanya sangat berat baginya untuk mengkhianati setiap pengikut Pangeran Kuda Permati. Apalagi orang-orang yang pernah melandasi perjuangan Pangeran Kuda Permati dengan ilmu dan sipat kandel.

Namun keterangan Pangeran Singa Narpada memang masuk di akalnya. Orang-orang yang telah memberikan bekal ilmu dan pusaka kepada Pangeran Kuda Permati itu, seakan-akan tidak ikut mengalami betapa pahitnya perjuangan. Seperti seorang penyabung ayam yang memasang taji di kaki ayam jantannya Namun yang kemudian masuk ke arena dan bertarung sampai mati adalah ayam itu sendiri.

Sementara itu penyabung ayam itu akan mencari ayam yang lain yang akan dilemparkan pula ke arena untuk mati atau menang dan memberikan keuntungan yang besar baginya.

“Apakah kau melihat kemungkinan bahwa pusaka Pangeran Lembu Sabdata atau orang-orang yang berdiri di belakangnya sebagaimana pada masa Pangeran Kuda Permati itu akan mencapai satu hasil sebagaimana diharapkan, atau sekedar menambah angka kematian yang sia-sia?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Cara Pangeran memeras keterangan kali ini ternyata tidak sebagaimana aku duga. Tetapi justru karena itu agaknya Pangeran telah berhasil. Aku justru merasa ingin menyebut orang-orang yang Pangeran anggap landasan perjuangan Pangeran Kuda Permati itu, karena mereka seakan-akan membiarkan Pangeran Kuda Permati tenggelam dalam gejolak perjuangannya tanpa berbuat apa-apa selain menonton sebagaimana menonton ayam sabungannya yang mati di arena. Dan kini mereka telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata untuk dijadikan ayam sabungan mereka yang baru dan kemudian membiarkannya mati sebagaimana Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Agaknya Arya Rumpit pun mempunyai penilaian yang hampir sama meskipun tanpa mengorbankan keyakinannya, karena sebenarnyalah bahwa Arya Rumpit seakan-akan telah menuntut kepada orang-orang yang melepaskan Pangeran Kuda Permati berjuang sampai batas kematiannya.

Karena itu, Pangeran Singa Narpada tidak mendesaknya. Ia menunggu saja sampai saat Arya Rumpit mengucapkan karena dorongan kehendaknya sendiri. Karena Pangeran Singa Narpada menyadari, bahwa apabila orang itu tersinggung, mungkin ia akan membatalkan niatnya. Jika demikian maka tidak akan ada cara untuk dapat memeras keterangannya bahkan sampai kematiannya sekalipun.

Justru karena Pangeran Singa Narpada tidak menyahut atau bahkan mendesaknya, maka Arya Rumpit telah bercerita tentang orang-orang yang telah mendorong dan kemudian memberikan bekal ilmu kepada Pangeran Kuda Permati.

Katanya kemudian, “Nah, jika Pangeran ingin bertindak atas mereka, lakukan.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Keterangan yang diberikan oleh Arya Rumpit itu sesuai dengan keterangan Senapati yang pada saat pergolakan terjadi dekat dengan Pangeran Kuda Permati, yang telah menghentikan perlawanan setelah Pangeran Kuda Permati terbunuh justru oleh isterinya sendiri.

Arya Rumpit pun telah menyebut pula tiga orang sebagaimana pernah dikatakan oleh Senapati itu. Dan Arya Rumpit pun telah menunjukkan padepokan mereka masing-masing.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku percaya sepenuhnya kepadamu Arya Rumpit. Aku berterima kasih karena kau telah bersedia membantu aku, meskipun dengan tujuan yang lain. Tetapi keteranganmu itu telah memberikan batasan, kemana sebaiknya aku bergerak, meskipun kemungkinan justru bukan ketiga orang itu yang telah melakukannya.”

“Memang mungkin Pangeran. Tetapi jika yang melakukannya orang lain, maka aku tidak akan dapat memberikan petunjuk apapun juga,” berkata Arya Rumpit.

“Baiklah. Aku akan mulai dengan ketiga orang itu,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi Pangeran harus berhati-hati. Aku tahu bahwa Pangeran Singa Narpada memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Tetapi ketahuilah Pangeran, bahwa ketiga orang itu, atau seorang-seorang diantara mereka, adalah orang-orang yang melampaui tataran orang kebanyakan. Mereka seakan-akan memiliki ilmu iblis yang nggegirisi.” berkata Arya Rumpit.

“Aku akan mencobanya,” sahut Pangeran Singa Narpada, “mudah-mudahan aku dapat menemukannya.”

“Iblis-iblis itu tidak sendiri di dalam padepokan mereka. Mungkin ada putut atau cantrik terpercaya yang juga memiliki ilmu. Karena itu, Pangeran jangan membawa pengawal biasa, atau jika Pangeran membawa pengawal prajurit, bawalah pasukan segelar sepapan. Kepung padepokan itu satu demi satu dan hancurkan mereka sampai ke akarnya,” berkata Arya Rumpit.

“Nampaknya kau mendendam,” desis Pangeran Singa Narpada yang baru dapat diucapkannya setelah Arya Rumpit menyebut ketiga orang yang dimaksud.

Wajah Arya Rumpit menegang. Namun ia menjawab dengan jujur. “Ya. Justru mereka tidak melibatkan diri langsung setelah Pangeran Kuda Permati terseret oleh arus pemberontakannya, sehingga kematiannya,“ jawab Arya Rumpit.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tugas yang terbentang di hadapannya ternyata akan merupakan beban yang memang berat dan sulit untuk diselesaikan. Tetapi tidak ada tugas yang diingkari oleh Pangeran Singa Narpada.

Sejenak kemudian maka katanya kemudian, “Aku berterima kasih kepadamu, Arya Rumpit. Barangkali kau dapat memperalat aku untuk melepaskan dendammu. Tetapi sebenarnya aku sendiri sangat berkepentingan. Mungkin salah seorang diantara merekalah yang telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata.“

“Silahkan Pangeran,” berkata Arya Rumpit kemudian, ”Mudah-mudahan Pangeran berhasil, sehingga Pangeran Lembu Sabdata tidak akan menjadi ayam sabungan yang kedua yang akan dilemparkan sampai mati ke arena.”

Dengan demikian, maka Arya Rumpit pun telah dikembalikan ke dalam bilik tahanannya, sementara Pangeran Singa Narpada sempat berbincang dengan Mahisa Bungalan ketika ia berada di istananya kembali.

“Apakah kita akan pergi ke padepokan-padepokan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Kita akan pergi. Tidak banyak padepokan yang harus kita datangi. Hanya tiga. Mudah-mudahan kita akan berhasil,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Mudah-mudahan Pangeran Lembu Sabdata ada di salah satu diantara ketiga padepokan yang disebut itu,” jawab Mahisa Bungalan.

“Tetapi aku harus berbicara dengan Sri Baginda. Mudah-mudahan Sri Baginda tidak berkeberatan jika aku meninggalkan Kediri. Mungkin tidak terlalu lama, tetapi mungkin kita tidak akan kembali,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Arya Rumpit telah mengatakan, bahwa padepokan-padepokan itu merupakan tempat-tempat yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang disebut oleh Arya Rumpit dan Senapati yang terdekat dengan Pangeran Kuda Permati itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.” Jawab Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi itu adalah tanggung jawab seorang prajurit.”

Mahisa Bungalan pun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari bahwa salah satu kemungkinan yang dapat terjadi dengan tugasnya adalah kematian.

Demikianlah keduanya telah bersepakat untuk mencari orang-orang yang sudah disebut oleh Arya Rumpit. Meskipun mungkin yang akan mereka dapatkan sekedar keterangan, namun jika keterangan itu dapat memberikan kejelasan mengenai masalah yang dihadapi oleh Kediri, maka keterangan itu akan menjadi sangat berarti.

Namun yang harus dilakukan lebih dahulu oleh Pangeran Singa Narpada adalah mohon diri kepada Sri Baginda, sementara itu ia harus menghubungi para Panglima di perbatasan Kota Raja untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika Pangeran Singa Narpada menghadap Sri Baginda, maka seperti yang diduganya, Sri Baginda merasa agak berkeberatan untuk memberikan ijin kepada Pangeran Singa Narpada untuk meninggalkan Kota Raja.

“Jika terjadi sesuatu, maka tidak ada orang yang dapat aku ajak berbincang sekarang ini,” berkata Sri Baginda.

“Sebenarnya Sri Baginda tidak perlu mencemaskan keadaan sekarang ini. Suasananya menjadi semakin baik. Sementara itu kesiagaan prajurit di daerah perbatasan menjadi semakin mantap.“ Pangeran Singa Narpada berusaha meyakinkan. “Panji Sempana Murti adalah seorang Senapati yang dapat dipercaya, sementara itu Senapati yang lain di perbatasan juga telah menjadi semakin baik dalam tugasnya.”

Sri Baginda masih juga ragu-ragu. Namun Pangeran Singa Narpada menjelaskan, “Sri Baginda. Sementara ini hamba telah mengamati perkembangan keadaan. Sudah tentu jika terjadi satu gerakan, maka hal itu tidak akan dapat dilakukan dengan tiba-tiba. Satu kekuatan tentu harus disusun, sehingga baru kemudian gerakan itu dapat dilakukan. Sementara kekuatan itu disusun, maka para petugas sandi Kediri yang semakin tajam mengamati keadaan setelah pengalaman pahit yang terjadi baru-baru ini, tentu akan dapat menciumnya.”

Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku pun mencemaskan dalam tugasmu yang berat itu. Apakah tidak ada orang lain yang dapat kau percaya untuk pergi. Sementara kau bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sepeninggal Pangeran Lembu Sabdata?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sri Baginda. Dalam tugas yang berat ini, hamba tidak akan dapat sekedar mempercayakan kepada orang lain. Memang mungkin hamba tidak akan dapat kembali karena hamba gagal keluar dari tugas ini dengan selamat. Tetapi masih ada beberapa orang Senapati yang dapat dipercaya. Pangeran-pangeran yang lain, jika Sri Baginda menunjuknya dengan dukungan para Senapati akan dapat menyelesaikan persoalan. Sedangkan jika Sri Baginda tidak lagi mampu mengatasi persoalan yang timbul dengan dukungan para Senapati, maka Sri Baginda dapat berhubungan dengan Singasari.”

Sri Baginda termangu-mangu. Tetapi ia menyadari, bahwa yang akan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada itu adalah sebagian dari satu usaha untuk ketenangan Kediri. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain bagi Sri Baginda selain mengijinkannya.

Karena itu, setelah dipertimbangkan masak-masak, maka Sri Baginda pun kemudian berkata, “Pangeran Singa Narpada. Aku memang tidak dapat mencegahmu. Kepergianmu juga merupakan salah satu usaha untuk ketenangan Kediri. Namun pesanku, kau harus sangat berhati-hati. Jika kau merasa bahwa usahamu tidak akan berhasil, maka lebih baik usahamu itu kau lepaskan. Kau kembali ke Kota Raja dan membuat persiapan-persiapan seperlunya.”

“Hamba Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”hamba akan selalu membuat perhitungan-perhitungan, yang manakah yang paling menguntungkan untuk dilakukan.”

Demikianlah, maka Sri Baginda pun akhirnya telah mengijinkan Pangeran Singa Narpada untuk pergi. Namun dengan berbagai macam pesan dan permintaan-permintaan.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada pun berpesan, agar kepergiannya dirahasiakan. Tidak ada orang lain yang perlu diberitahukan tentang kepergiannya itu.

“Jika perlu, justru Sri Baginda hamba mohon untuk memberikan kesan bahwa hamba kembali memasuki sanggar sebagaimana hamba lakukan beberapa waktu yang lewat.” Mohon Pangeran Singa Narpada.

Dengan penuh pengertian Sri Baginda mengangguk-angguk sambil menjawab, “Aku akan melakukannya.”

Karena itulah, maka ketika Pangeran Singa Narpada meninggalkan Kota Raja, tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali kepercayaannya. Seperti pada waktu ia memasuki halaman istananya, maka Pangeran Singa Narpada pun meninggalkan istananya dengan meloncati dinding.

Tetapi Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan yang menyertainya menjadi terkejut. Demikian mereka turun ke dalam kegelapan, diluar dinding halaman mereka mendengar desir di belakang mereka. Ketika mereka dengan cepat memperhatikan arah suara itu, maka mereka telah melihat dua sosok bayangan yang meloncat turun.

Jantung Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun menjadi berdegupan. Dengan serta merta keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua sosok tubuh itu harus ditangkapnya agar tidak membuka rahasia kepergian Pangeran Singa Narpada.

Namun tiba-tiba saja terdengar seorang diantara keduanya berdesis, “Aku kakang.”

“Siapa?“ Mahisa Bungalan menegaskan.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,“ jawab suara itu.

“O, anak itu,“ geram Mahisa Bungalan. ”Kenapa kau membuat kami terkejut. Dan apa kerjamu disini?”

“Aku ingin menyusul kakangmas,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin kakang memerlukan bantuan kami.”

“Tetapi caramu bukan cara yang baik,” jawab Mahisa Bungalan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Baru kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami ingin melihat-lihat suasananya. Kami tidak yakin, bahwa kami akan dapat memasuki lingkungan istana Pangeran Singa Narpada melalui jalan yang lain.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku memohonkan maaf bagi keduanya Pangeran.“

“Baiklah,” jawab Pangeran Singa Narpada yang sebenarnya kurang senang juga atas tingkah kedua anak muda itu.

Sementara itu, Mahisa Bungalan pun bertanya, “Kenapa kau tinggalkan rumah? Apakah kau sudah selesai dengan langkah terakhir daripada laku yang harus kau jalankan dengan ilmumu!”

“Sudah kakang. Pada saat kakang meninggalkan rumah, maka aku sudah mendekati laku terakhir itu. Demikian kami berdua menyelesaikan laku terakhir dalam tuntunan ayah dan paman Witantra maka kami mohon diri untuk menyusul kakang.“ jawab Mahisa Murti.

“Bagaimana jika kalian tidak dapat bertemu dengan aku?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kami dapat menempuh dua jalan. Kembali pulang atau kembali ke tugas-tugasku dengan pertanda cincin sandi ini,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Kemudian ia-pun bertanya pula, “Kapan kau memasuki halaman ini?”

“Sejak senja. Kami merasa bingung, bagaimana caranya untuk dapat menemui kakang. Kami telah menunggu beberapa lama. Tetapi kami tidak melihat kakang sama sekali. Baru kemudian kami melihat kakang keluar dari pintu samping dan justru keluar dari halaman istana ini.”

“Sudahlah,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Sekarang kita bicarakan, bagaimana dengan kedua adikmu. Bahwa keduanya bukan anak-anak lagi, telah ternyata bahwa keduanya mampu menyelesaikan laku terakhir dari puncak ilmunya. Karena itu menurut perhitunganku, maka keduanya telah memiliki bekal yang cukup untuk memasuki dunia olah kanuragan dengan segala macam semak dan durinya.”

“Ya. Jika tidak, maka ayah tentu tidak akan melepaskannya,” sahut Mahisa Bungalan. Namun kemudian ia masih bertanya kepada kedua adiknya, “He, apakah kalian berhasil dengan baik melampaui hambatan terakhir dalam laku yang kalian jalani.”

“Ya. Kakang,” jawab Mahisa Murti, “Kami berhasil dengan baik menurut keterangan ayah dan paman Witantra.”

“Baiklah. Marilah, kita keluar dari Kota Raja. Baru kemudian kita menentukan langkah-langkah,” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada pun segera beringsut dari tempatnya dan meninggalkan istana kepangeranan untuk waktu yang tidak ditentukan.

Dalam perjalanan keluar kota itu Mahisa Bungalan masih bertanya, “Laku yang kalian jalani nampaknya begitu tergesa-gesa. Hanya berselisih sedikit saja dari keberangkatanku. Apakah ayah dan paman Witantra memang mempercepat laku yang harus kau jalani?”

“Tidak,” sahut Mahisa Murti, “Kami menjalani laku sebagaimana direncanakan. Tidak ada yang dipercepat.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Agaknya karena ia sendiri sibuk dengan usaha untuk mencapai puncak ilmu yang diwarisinya dari Mahisa Agni, maka Mahisa Bungalan kurang dapat mengikut tahap-tahap laku yang ditempuh adiknya, sehingga terasa begitu cepat selesai.

Namun Mahisa Bungalan pun menyadari, bahwa dalam waktu pengembaraannya, kedua adiknya itu dengan tekun di dalam sanggar untuk mempersiapkan diri.

Demikianlah, maka dengan sangat hati-hati mereka telah keluar dari dinding kota. Untuk menghindari bermacam-macam masalah, maka mereka tidak keluar melalui pintu gerbang yang dijaga oleh para pengawal. Tetapi mereka telah meloncati dinding.

Malam itu juga maka keempat orang itu telah menjadi semakin jauh dari dinding Kota Raja, melintasi daerah kuasa para Panglima di perbatasan dan ketika fajar menyingsing, mereka tengah menyusuri jalan yang semakin jauh.

“Kita langsung menuju ke sasaran. Kita memerlukan waktu dua hari perjalanan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk. Namun kemudian ia berdesis di telinga Pangeran Singa Narpada, ”Bagaimana dengan kedua adikku?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Bukankah kau percaya kepada kedua adikmu?”

“Ya. Aku percaya kepada mereka. Apalagi mereka sebenarnya memiliki pertanda cincin petugas sandi dari Singasari,” jawab Mahisa Bungalan.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian kita tidak mempunyai keberatan. Tetapi mereka harus mengerti, bahwa kita menempuh satu perjalanan yang berbahaya. Yang harus aku pertanyakan adalah justru kau dan kedua adikmu. Kalian adalah tiga orang bersaudara.”

“Kenapa jika kami bersaudara?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku kadang-kadang menasehatkan kepada prajurit-prajuritku yang akan pergi ke medan perang. Jika ada diantara mereka kakak beradik, aku memberi kesempatan kepada mereka untuk tinggal salah seorang diantaranya.”

Mahisa Bungalan lah yang kemudian mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Pangeran Singa Narpada. Katanya, “Aku mengerti Pangeran. Jika terjadi bencana, biarlah kami tidak digulung bersama-sama.”

“Ya.“ Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk.

“Mudah-mudahan kami tidak mengalami nasib buruk, sehingga ayah kami akan kehilangan ketiga anaknya sekaligus,” berkata Mahisa Bungalan. ”Tetapi ayah pun adalah seorang pengembara pada masa mudanya, bahkan pekerjaan ayah pun menuntut agar ayah sebagai pedagang wesi aji dan batu-batuan masih juga harus mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu ayah tentu menyadari, bahaya yang mengancam kami, sementara ayah justru telah mengirimkan kedua adikku itu kepadaku. Maksudnya tentu berlawanan dengan kecemasan Pangeran. Ayah bermaksud agar kami dapat saling menolong.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah jika demikian. Tetapi kalian bertiga harus dapat membagi tugas dan kewajiban kalian sehingga kemungkinan yang paling buruk akan dapat dihindari.”

“Baiklah Pangeran. Kita akan melihat suasana pada saat-saat kita sudah mendekati sasaran. Pangeran lah yang akan memilih, yang manakah yang akan kita datangi lebih dahulu.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan berjalan beberapa ratus patok lagi. Kita akan dapat beristirahat karena semalam-malaman kita berjalan terus.”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi iapun berpaling juga kepada kedua adiknya. Kedua orang itu tentu merasa letih juga karena mereka menempuh perjalanan sejak hari sebelumnya, sehingga ketika senja turun keduanya telah memasuki halaman istana Pangeran Singa Narpada.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak menanyakannya. Meskipun letih, tetapi kedua adiknya tentu telah mampu mengatur kemampuan tubuh mereka karena latihan-latihan yang mereka jalani sebelumnya.

Namun bagaimanapun juga, Mahisa Bungalan memang menganggap perlu bahwa mereka harus beristirahat. Apalagi perjalanan mereka sudah cukup jauh, serta dengan pakaian yang mereka kenakan, maka tidak seorang pun akan mengenali mereka lagi sebagai orang-orang dari lingkungan istana dan keprajuritan.

Keempat orang itu masih berjalan sampai matahari naik sepenggalah. Ketika mereka melintasi sebuah pasar yang ramai, maka Pangeran Singa Narpada mengajak mereka untuk berhenti barang sebentar.

“Kita singgah di salah sebuah warung. Tiba-tiba saja aku ingin minuman-minuman panas sebagaimana kebiasaanku tiap pagi,” berkata pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, maka keempat orang itupun telah singgah di sebuah warung diluar pasar yang ramai itu. Keempat orang itu sudah tidak perlu lagi mencemaskan tentang kehadirannya, bahwa akan ada orang yang mengenalnya.

Dengan gaya sebagaimana para petani, maka keempat orang itupun telah memesan makanan dan minuman.

Pada kesempatan itu pula Mahisa Bungalan telah memberitahukan kepada kedua adiknya, apa yang harus mereka lakukan? Dengan perlahan-lahan dan hati-hati Mahisa Bungalan menyebut arah kepergian mereka.

“Kami belum pernah melihat padepokan-padepokan itu,” berkata Mahisa Bungalan, “Kami mendapat petunjuk arah dan ciri-ciri orang yang akan kita temui.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa tugas mereka adalah tugas yang cukup berat. Mencari Pangeran Lembu Sabdata dan mahkota yang hilang itu.

“Bukankah kalian pernah mengenal Pangeran Lembu Sabdata?” bertanya Mahisa Bungalan, “Mungkin ada perubahan-perubahan pada dirinya. Umurnya pun semakin tua seperti umur kalian yang memanjat pula. Tetapi mungkin juga Pangeran Lembu Sabdata dengan sengaja telah berusaha untuk berubah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti menyahut, “Kami akan berusaha untuk dapat mengenalinya jika kami menemuinya. Mudah-mudahan kami tidak dikelabui oleh usaha yang memang mungkin dilakukannya.”

“Kita bersama-sama akan berusaha,” sahut Pangeran Singa Narpada, ”ia adalah saudaraku. Aku mengenalnya sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Tetapi memang ada satu kemungkinan bahwa dengan sengaja ia berusaha untuk berubah. Karena itu, maka diperlukan daya ingat yang kuat jika kita bertemu dengan Lembu Sabdata.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Sementara itu, makanan dan minuman yang mereka pesan-pun telah tersedia. Pangeran Singa Narpada pun telah meneguk minuman panasnya. Badannya yang terasa dingin telah menjadi segar.

Setelah meneguk beberapa teguk dan makan beberapa kerat makanan, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata hampir berbisik, ”Mungkin kita dapat datang ke padepokan Panembahan Bajang. Menurut keterangan Pangeran, jalan ke Panembahan Bajang adalah jalan yang paling mudah ditelusuri.”

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Demikianlah menurut Arya Rumpit.”

“Tetapi bukankah Pangeran percaya kepada Arya Rumpit?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. aku percaya kepada Arya Rumpit. Senopati itu agaknya telah dibakar dendam pula di hatinya,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Dengan demikian maka keterangannya dapat kita jadikan pedoman,” berkata Mahisa Bungalan.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, kita memang akan berpegangan kepada keterangannya.”

Dengan demikian, maka setelah mereka selesai dan membayar minuman dan makanan, mereka pun telah meninggalkan warung itu.

Untuk beberapa saat mereka masih beristirahat di sebelah pasar itu sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik untuk mendapatkan kebutuhan masing-masing.

Ternyata keadaan di pedesaan sudah berangsur tenang. Tidak nampak sama sekali bekas-bekas pertempuran yang membakar Kediri, yang ajangnya memang sebagian terbesar adalah daerah-daerah perbatasan.

Setelah beristirahat beberapa lamanya, dan setelah mereka membeli bekal yang dapat mereka makan sambil berjalan untuk sekedar mengisi waktu dan kejenuhan di perjalanan pada saat-saat mereka letih berbicara, maka mereka pun telah melanjutkan perjalanan mereka yang masih panjang.

Demikianlah, maka sebagai pengembara yang berpengalaman, maka keempat orang itu menempuh perjalanan mereka dengan rancak. Tidak ada hambatan yang terasa mengganggu. Panas matahari, debu yang mengepul, haus dan kelelahan sama sekali tidak dapat menahan perjalanan mereka. Latihan-latihan yang berat serta laku yang pernah mereka jalani pada saat-saat mereka menuntut ilmu sampai ke puncak, telah membentuk mereka menjadi orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Namun demikian, bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan.

Sebagaimana telah mereka ketahui, mereka memerlukan waktu perjalanan dua hari, jika mereka memang ingin menu-juke padepokan Panembahan Bajang.

Perjalanan itu dapat mereka tempuh tanpa kesulitan yang berarti. Seperti petunjuk yang diberikan oleh Arya Rumpit, maka padepokan yang dihuni oleh Panembahan Bajang terletak tidak terlalu jauh dari padukuhan-padukuhan yang terbesar di sekelilingnya.

“Kita harus mengetahui medan yang akan kita hadapi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Maksud Pangeran, kita tidak akan langsung memasuki padepokan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Kita akan melihat suasana padepokan itu,“ jawab Pangeran Singa Narpada, ”Meskipun barangkali kehadiran kita akhirnya diketahui juga oleh Panembahan Bajang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun dengan demikian, kita sudah dapat mengetahui serta sedikit tentang padepokan itu. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata ada pula di padepokan itu.”

Namun mereka harus berhati-hati, karena padepokan itu merupakan padepokan yang berada diantara padukuhan-padukuhan yang barangkali telah terjalin satu kehidupan yang akrab.

Mungkin Panembahan Bajang justru merupakan orang yang sangat dihormati dan disukai oleh orang-orang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya.

Tetapi segala sesuatunya masih harus diamati dengan cermat.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan ketiga orang yang datang bersamanya telah berusaha untuk mendapatkan tempat bersembunyi yang baik yang dapat mereka pergunakan untuk segala keperluan. Tidur, beristirahat sambil makan dan minum, berbincang dan merayap mendekati padepokan itu.

“Kita tidak mungkin membuat api disini,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Asap yang mengepul akan menarik perhatian.”

“Jadi?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kita membeli makanan dan kita minum air belik yang mungkin terdapat di sekitar tempat ini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengerti bahwa Pangeran Singa Narpada sebagai seorang Pangeran, telah membawa bekal uang yang cukup banyak, sementara Mahisa Bungalan sendiri juga membawa bekal uang. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membawa pula.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada berkata, “Aku yakin, bahwa pada salah satu padukuhan yang banyak terdapat di sekitar padepokan itu, tentu terdapat satu atau bahkan lebih pasar.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi pasar itu masih harus dicari.

Dengan demikian, maka ketika fajar menyingsing di hari berikutnya, Mahisa Bungalan lah yang mendapat tugas untuk menemukan sebuah pasar, karena orang yang paling sedikit pernah bersentuhan dengan Pangeran Lembu Sabdata. Jika benar Pangeran Lembu Sabdata ada di daerah itu, maka mungkin sekali mereka bertemu. Baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Lembu Sabdata tentu tidak akan saling mengenal.

Dengan ujud seorang pengembara Mahisa Bungalan telah menyelusuri jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Dengan pengalaman seorang pengembara maka Mahisa Bungalan tidak terlalu sulit untuk menemukan yang dicarinya. Diikutinya orang-orang yang agaknya membawa dagangan untuk dijual. Mereka pada umumnya akan pergi ke pasar atau tempat yang kegunaannya seperti pasar.

Sebenarnyalah dengan mudah akhirnya Mahisa Bungalan memang menemukan sebuah pasar. Memang pasar yang kecil saja, tetapi di dalamnya terdapat kebutuhan yang diperlukan.

Kecuali mendapat apa yang diperlukan, maka Mahisa Bungalan pun telah mendapat satu keyakinan bahwa ia tidak datang ke tempat yang salah. Bangunan yang berada diantara padukuhan-padukuhan itu memang benar sebuah padepokan yang dihuni oleh Panembahan Bajang. Padepokan itu benar bernama Padepokan Tegal Karang.

Ketika ia kembali ke tempat persembunyiannya, maka iapun telah memberitahukan hal itu kepada Pangeran Singa Narpada, bahwa mereka telah datang di tempat yang benar.

“Bangunan itu memang padepokan Tegal Karang,” berkata Mahisa Bungalan.

“Arya Rumpit tidak berbohong,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kita akan menyelidiki padepokan itu,” berkata Mahisa Bungalan, “Mungkin padepokan itu merupakan padepokan tempat persembunyian Pangeran Lembu Sabdata.”

“Ya. Kita harus mengamatinya,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian, maka mereka pun telah menyusun satu rencana yang akan mereka lakukan bergantian. Setiap hari mereka akan mengamati pintu gerbang padepokan itu. Pangeran Singa Narpada yang mengenal dengan baik Pangeran Lembu Sabdata akan mengamati bersama Mahisa Bungalan, sementara di hari berikutnya akan mengamati padepokan itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah mengenal Pangeran Lembu Sabdata pula.

Dengan telaten mereka melakukan tugas itu. Tetapi mereka-tidak pernah melihat orang yang mereka cari lewat pintu gerbang itu keluar maupun masuk. Bahkan mereka pun tidak pernah melihat seorang yang bertubuh kerdil keluar masuk pintu gerbang itu.

“Kita harus melihat lebih dekat lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan hati-hati mereka mencoba mendekati padepokan itu dan bahkan mereka telan berada di depan pintu gerbang.

Ketika seorang cantrik kebetulan keluar dari pintu gerbang maka Mahisa Bungalan dalam pakaian seorang pengembara telah menemuinya. Dengan suara memelas iapun berkata, “Ki Sanak, apakah aku dapat minta seteguk air?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditunjuknya sebuah genthong yang berisi air yang memang diletakkan di sisi gerbang.

“Kami memang sudah selalu menyediakan air bersih. Silahkan minum Ki Sanak.”

“O, terima kasih,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi siapakah yang menghuni tempat ini? Agaknya sebuah padepokan.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...