Kamis, 17 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 006-02

*HIJAUNYA LEMBAH: JILID 006-02*

Sementara kedua orang itu berkelahi, kawannya yang datang bersama-sama berkuda itu menjadi heran. Di tempat yang terpencil dan sepi itu ada juga orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, hampir di luar sadarnya ia bertanya kepada orang bertubuh tinggi yang berdiri beberapa Langkah dari padanya, “He, apakah kau juga orang padukuhan ini?”

Orang bertubuh tinggi itu menggeleng. Sambil memperhatikan pertempuran itu ia berkata, “Aku bukan orang padukuhan ini. Demikian pula kawanku itu”

“O” orang berkuda itu mengangguk-angguk, “kenapa kalian berada disini?”

“Itu urusan kami. Tetapi mungkin ada baiknya kau mengetahui bahwa aku sedang menunggu pesanan kami pada pandai besi di sudut pasar itu. Tetapi karena solahmu, ia sekarang menjadi ketakutan dan menghentikan kerjanya, padahal aku tergesa-gesa. Dalam beberapa hari ini, pesananku harus sudah selesai” jawab orang bertubuh tinggi itu.

“Kau pesan apa?” bertanya orang berkuda itu.

“Bukan pula urusanmu” jawab orang bertubuh tinggi. Tetapi ia berkata, “Kami memesan kapak penebang kayu”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya
“He, kau memesan kapak. Kapak penebang kayu?”

“Ya, kenapa?” bertanya orang bertubuh tinggi itu.

“Tunggu. Apakah kau kawan orang yang bernama Sambu?” bertanya orang berkuda itu.

“Ya. Sambu adalah kawanku yang berkelahi itu” jawab orang bertubuh tinggi itu. Sejenak orang berkuda itu termangu-mangu. Dipandanginya orang yang berkelahi itu dengan seksama. Sementara itu, orang bertubuh tinggi itu berkata, “Kau mendendam orang yang bernama Sambu? Ingat, aku adalah kawannya. Kawan baiknya”

Orang yang datang berkuda itu berdiri mematung. Di antaranya orang yang berkelahi yang disebut bernama Sambu itu. Sementara perkelahian itu sendiri menjadi semakin sengit.

Namun tiba-tiba saja orang itu berteriak, “Hentikan. Hentikan permainan itu”

“Kenapa?” orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu bertanya dengan heran.

“Hentikan. Aku akan mengatakan sesuatu” orang itu masih saja berteriak.

Ternyata bahwa suaranya telah didengar oleh orang-orang yang berkelahi itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja mereka telah. berloncatan mundur dan menghentikan perkelahian.

“Jangan bodoh” berkata orang yang menghentikan perkelahian itu. Lalu ia pun bertanya kepada orang berwajah kasar yang telah menghentikan perkelahian itu, “Kaukah yang bernama Sambu?”

Orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun iapun menjawab, “Ya. Aku yang disebut orang Sambu”

Tiba-tiba orang berkuda itu tertawa. Iapun kemudian melangkah mendekati kawannya yang masih terengah-engah.

Katanya, “Untunglah bahwa senjatamu belum tergores di kulitnya”’

“Senjataku yang akan membelah jantungnya” jawab orang yang disebut bernama Sambu itu.

“Perkelahian ini tidak ada gunanya. Bukankah kita datang ke tempat ini untuk mencari Sambu. Orang itulah yang bernama Sambu” berkata orang yang tidak terlibat ke dalam perkelahian itu.

Kawannya mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang baru saja menjadi lawannya itu. Katanya, “Apakah benar, orang itu bernama Sambu?”

“Tidak ada dua atau tiga. Akulah Sambu itu” jawab orang berwajah kasar itu.

“Baiklah. Menilik ciri-cirimu, agaknya memang benar, bahwa kau bernama Sambu. Tetapi justru karena kau mengaku kadang pemilik kedai itulah, maka aku sama sekali tidak mengira, bahwa kaulah yang disebut Sambu itu” berkata orang berkuda itu.

“Sikapmu terlalu sombong. Seolah-olah kau dapat berbuat apa saja. Aku bukan sanak bukan kadang pemilik kedai itu. Tetapi di hadapanku membuat telingaku panas. Kau kira tidak ada orang lain yang dapat mengimbangi kejantananmu yang gila itu” jawab orang yang disebut Sambu.

“Baiklah. Marilah kita hentikan kesalah-pahaman ini. Kami adalah orang-orang dari Padepokan Mayang. Kami adalah murid Ki Ajar Trumadipa yang bergelar Ki Ajar Kembang Mayang” jawab salah seorang dari kedua orang berkuda itu.

Orang yang disebut Sambu itu menggeram. Katanya, “Kau memang orang-orang gila. Orang-orang padepokan Mayang memang orang-orang gila.. Kenapa kalian berlaku begitu sombong kepada pemilik kedai yang tidak berarti apa-apa itu?”

Orang padepokan Mayang itu tertawa. Salah seorang diantara mereka berkata, “Setiap orang harus mengerti, bahwa orang-orang padepokan Mayang tidak dapat dicegah untuk melakukan apa saja”

“Tetapi tidak menyombongkan diri dihadapanku” berkata orang yang bernama Sambu itu.

“Kita telah bertemu dalam keadaan yang khusus. Tetapi itu baik sekali bagi kami. Dengan demikian kami benar-benar mengetahui, bahwa orang-orang yang telah berada di daerah ini memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan” berkata salah seorang dari padepokan Mayang itu. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah kedua orang yang berada di dalam kedai itu?”

“Aku tidak tahu. Dua orang pejalan yang singgah dan memesan minuman dan makanan” jawab orang yang disebut Sambu itu.

“Di kedai yang lain ada juga dua orang anak muda bersama seorang tua dan seorang gadjs” berkata orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

“Apa yang mereka lakukan?” bertanya orang padepokan Mayang.

“Mengintip. Mereka menjadi ketakutan karena perkelahian itu. Tetapi mereka ingin melihatnya. Kuda-kuda di depan kedai itu tentu kuda-kuda mereka” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

“Kuda yang bagus” berkata salah seorang dari padepokan Mayang.

“Ya. Kuda-kuda yang berada di depan kedai yang lain itu tentu kuda-kuda kedua orang yang berada di dalam kedai itu pula. He, apakah mereka secara kebetulan berhenti di kedua kedai itu, atau mereka memang bersama-sama datang ke tempat ini” bertanya Sambu kepada kawannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

“Aku tidak melihat mereka datang. Ketika aku melihat ke dalam kedai sebelah dari pintu butulan, aku melihat dua orang anak muda yang ketakutan itu mengintip” jawab orang yang bertubuh tinggi.

“Mereka bukan urusan kita” berkata Sambu kemudian, “nah, agaknya kalian membawa persoalan dari padepokan Mayang”

“Ya. Ada yang ingin kami katakan kepadamu dan rencana-rencana yang akan kita lakukan” jawab salah seorang dari kedua murid padepokan Mayang itu.

“Marilah. Singgahlah di pondok kami” berkata Sambu kemudian.

Namun salah seorang dari kedua murid padepokan Mayang itu berkata, “Kuda itu sangat menarik. Aku memerlukannya”

Sambu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kalian memang suka membuat persoalan. Aku sama sekali tidak memerlukan kuda itu. Aku sudah mempunyai kuda yang baik yang selalu mengawani aku kemanapun aku pergi”

“Tetapi kudaku terlalu kecil. He, apakah anak-anak itu masih ketakutan di dalam kedai itu?” bertanya orang padepokan Mayang itu.

Tetapi tingkah laku orang-orang padepokan Mayang itu agaknya kurang sesuai dengan sikap Sambu sehingga katanya, “Kau telah memancing keributan. Aku merasa tersinggung dengan sikapmu. Mungkin aku adalah orang yang kasar dan kurang dapat berpikir tenang. Tetapi aku tidak akan berbuat seperti yang kau lakukan di warung itu. Ketika aku mendengar orang-orang di kedai itu berbicara tentang kapak, aku berusaha untuk memaksa mereka beralih ke masalah yang lain. Namun tiba-tiba saja kau datang dengan sikap yang memang memancing keributan.

Sekarang kau akan membuat persoalan lagi dengan kuda-kuda itu”

“Jangan hiraukan aku” jawab orang padepokan Mayang itu, “kuda yang baik akan membantu tugas-tugas kita. Sebentar lagi kita harus mulai. Sebagian dari percobaan yang kita lakukan telah menunjukkan hasil yang baik. Karena itu, maka kita harus melakukannya di pegunungan di sekitar Kota Raja”

“Tetapi tidak ada hubungannya dengan kuda-kuda itu. Dengan kudamu, kau cukup rancak melakukan tugasmu” berkata Sambu.

“Biarlah aku mempertanggung-jawabkannya berkata orang padepokan Mayang itu.

Sambu tidak menghiraukannya lagi. Iapun kemudian berjalan bersama kawannya yang bertubuh tinggi kekurusan dan orang padepokan Mayang yang seorang lagi. Sementara yang lain, benar-benar telah mendekati kuda yang terikat di depan kedai yang tutup itu.

“Kuda yang bagus” desis orang itu, “aku memang memerlukannya”

Iapun kemudian mengikat kudanya sendiri pada sebuah patok di depan kedai itu. Kemudian iapun mendekati kuda yang tegar berwarna coklat kehitaman diantara tiga ekor kuda yang lain.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahis Pukat di dalam kedai itu menggeram, “Gila. Itu kudaku”

Mahisa Murti pun menjadi tegang. Sementara pemilik kedai itu berdesis, “Biarlah. Apakah artinya seekor kuda. Jika kita mencegahnya, mungkin nyawa kitalah yang akan mereka ambil. Sementara kuda itu akhirnya akan dibawanya juga”

“Tetapi aku tidak mau kehilangan” berkata Mahisa Pukat.

“Jangan cegah” desis pemilik kedai itu.

Tetapi Mahisa Pukat ternyata bersikap lain. Ia pun telah membuka selarak pintu dan pintu kedai itupun tiba-tiba telah terbuka. Sambil berdiri dimuka pintu ia berkata kepada orang yang sudah mulai melepas tali kudanya, “Itu kudaku”

Orang padepokan Mayang itupun terkejut. Bahkan kawan-kawannya yang lain, yang telah mendahuluinya pun terkejut pula. Karena itu maka mereka pun telah tertegun dan berpaling.

Orang padepokan Mayang yang sudah terlanjur melepas tali kuda Mahisa Pukat itupun menjawab lantang, “Aku tahu, ini kudamu. Aku sengaja mengambilnya. Aku memerlukannya”

Wajah Mahisa Pukat menjadi merah. Dengan lantang pula ia menjawab, “He, apakah kau sama sekali tidak menghormati hak milik seseorang?”

“Aku menghormatinya. Tetapi keinginanku memang tidak dapat dicegah. Aku ingin membawanya. Dan karena itu, maka aku akan membawanya. Kau dapat memakai kudaku yang tidak kalah tegarnya dari kudamu”

“Jika kudamu tidak kalah baik dari kudaku, apa artinya perbuatanmu itu? Hanya sekedar memancing persoalan?” jawab Mahisa Pukat.

Orang yang bertubuh tinggi kekurusan itu menjadi heran. Ternyata anak muda itu tidak sedang ketakutan seperti yang disangkanya. Bahkan anak muda itu menunjukkan sikap yang berani dan tegas.

Orang padepokan Mayang itupun mulai menjadi marah. Dengan nada kasar ia berkata, “Jangan mencoba untuk mempertahankan kudamu. Aku dapat berbuat apa saja. Aku tidak mau diganggu. Apalagi dicegah untuk melakukan sesuatu”

“Aku tidak akan mengganggumu dan tidak akan mencegahmu melakukan apa saja. Tetapi tidak merugikan orang lain. Apalagi yang kau rugikan itu adalah aku sendiri” jawab Mahisa Pukat tanpa ragu-ragu.

“Jika kau merasa dirugikan, kau mau apa?” orang padepokan Mayang itupun telah kehilangan kesabaran.

Tetapi Mahisa Pukat tidak menjadi takut. Iapun melangkah kedepan mendekati orang padepokan Mayang itu sambil berkata, “Lepaskan kudaku, jika kau tidak ingin terjadi keributan. Tetapi jika kau memang menghendaki keributan, aku akan melayanimu”

Jawaban Mahisa Pukat itu benar-benar tidak terduga. Karena itu kemarahan orang padepokan Mayang itu tidak terkendali lagi. Setiap kali ia memang tidak mau ditantang oleh siapapun juga, sehingga karena itu, maka setiap kali ia telah mempergunakan kekerasan.

Karena itu, maka ia pun telah melepaskan kuda yang diinginkannya itu. Dengan langkah satu-satu ia pun mendekati Mahisa Pukat pula sambil berkata, “Anak muda. Kau belum mengenal aku. Kau akan menyesal, jika kau mengetahui siapa aku” Sekali lagi jawaban Mahisa Pukat membuat telinga orang itu menjadi panas, “Kaupun belum mengenal aku. Jika kau sudah mengenal aku, maka kau tidak akan berani menyentuh kudaku”

“Siapa kau?” teriak orang padepokan Mayang itu.

“Siapapun aku, aku akan membuktikan bahwa kau harus berjongkok dan minta ampun kepadaku” jawab Mahisa Pukat yang merasa sangat tersinggung oleh tingkah laku orang itu.

Mahisa Murti yang kemudian juga keluar dari kedai itu menarik nafas panjang melihat sikap Mahisa Pukat. Tetapi ia pun mengerti, bahwa Mahisa Pukat benar-benar menjadi marah. Orang itu benar-benar telah menghinanya dengan mengambil kudanya dengan paksa.

Tetapi orang itu pun tidak kalah marahnya. Dengan nada tinggi ia berteriak, “Jangan menentang orang-orang dari padepokan Mayang. Kami akan membunuh jika kami ingin membunuh. Jika kau lebih sayang kepada kudamu daripada kepada nyawamu, marilah. Mendekatlah”

“O, jadi kau orang dari padepokan Mayang. Padepokan yang tidak ada artinya sama sekali. Adalah menggelikan sekali bahwa seseorang dari Padepokan Mayang akan berani menentang orang dari Padepokan Mahesa” teriak Mahisa Pukat tanpa berpikir panjang.

Mahisa Murti hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak mencegahnya. Dalam kemarahan yang memuncak, Mahisa Pukat tidak akan mendengarkan pendapat orang lain.

Dalam pada itu, orang dari Padepokan Mayang itu pun menjadi sangat marah, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Dengan gigi gemeretak ia mendekati Mahisa Pukat sambil berkata lantang, “Kaulah yang harus berjongkok dan minta ampun”

Tetapi Mahisa Pukat yang marah itu tidak menunggu terlalu lama. Tiba-tiba saja ia sudah bergeser maju. Tangannya terjulur lurus mengarah ke dada lawannya yang terkejut melihat sikapnya.

Tetapi Mahisa Pukat masih belum benar-benar ingin menyakiti lawannya. Karena itu, maka ia masih membiarkan lawannya beringsut mengelak. Namun kemudian, keduanya benar-benar telah bersiap untuk bertempur. Sambu. kawannya dan orang Padepokan Mayang yang seorang lagi itupun terpaksa berhenti juga menyaksikan perkelahian itu. Namun menilik pada benturan yang pertama, mereka segera mengetahui, bahwa anak muda yang disangkanya ketakutan itu ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Karena itu, maka perkelahian itu segera menarik perhatian. Dengan demikian maka ketiga orang itu pun kemudian telah memperhatikan pertempuran itu dengan seksama.

“Gila” geram Sambu, “ kenapa kau tadi mengatakan bahwa anak itu mengintip perkelahian dengan ketakutan?”

“Kesan yang aku dapat memang demikian” jawab kawannya yang bertubuh tinggi kekurusan, “tetapi ternyata aku keliru. Atau mereka dengan sengaja membuat kesan yang demikian”

“Jika demikian, maka kawannya yang seorang, mungkin juga dua orang berkuda yang lain yang datang bersamanya, juga orang-orang yang harus diperhitungkan” berkata Sambu kemudian.

Kawannya tidak menyahut. Tetapi sekilas dipandanginya Mahisa Murti yang berdiri termangu-mangu. Namun karena ketiga orang kawan orang Mayang yang berkelahi itu semakin mendekat, maka Mahisa Murti pun telah beringsut mendekat pula.

Namun langkahnya tertegun ketika ia mendengar Ki Buyut berkata, “Jangan tinggalkan kami berdua”

Mahisa Murti memandanginya sejenak. Ki Buyut berdiri termangu-mangu dibelakang pintu.

“Tutuplah pintu itu” berkata Mahisa Murti, “aku harus mendekatinya.

Ki Buyut tidak mencegahnya lagi. Tetapi Widati yang ketakutan itu pun beringsut mendekati ayahnya.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang marah itu pun bertempur semakin lama semakin garang. Lawannya, orang Padepokan Mayang itu berusaha untuk dengan segera mengakhiri pertempuran.

Tetapi ia terbentur pada satu kenyataan, bahwa lawannya yang masih muda itu ternyata tidak semudah yang disangkanya untuk dikalahkannya.

“Anak iblis” geram orang padepokan Mayang itu, “semakin gila tingkah lakumu, semakin dalam kau akan menyesal, karena jalan kematianmu akan menjadi semakin sulit”

Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi ia bergerak semakin cepat, sehingga demikian mulut lawannya terkatup, ia telah terdorong dua langkah surut, karena tangan Mahisa Pukat menyentuh dadanya.

Sekali lagi orang itu mengumpat. Dengan tergesa-gesa ia memperbaiki keseimbangannya. Ketika Mahisa Pukat menyerengnya, maka lawannya telah meloncat jauh-jauh menghindar untuk mengambil jarak dari anak muda yang bergerak cepat itu.

Sejenak kemudian, ketika orang Padepokan Mayang itu berhasil memperbaiki keadaannya, maka pertempurannya telah menjadi semakin sengit, karena serangan Mahisa Pukat datang bagaikan banjir bandang.

Sambil mengumpat orang padepokan Mayang itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi anak muda yang dianggap penakut itu, benar-benar memiliki ilmu yang tinggi, yang dapat menggetarkan pertahanannya.

Sebenarnyalah, semakin lama orang padepokan Mayang itu menjadi semakin terdesak. Satu hal yang sama sekali tidak disangkanya. Jika semula ia harus melihat kenyataan, hadirnya Sambu dan kawannya, ia pun harus malihat kenyataan yang lain pula. Anak-anak muda yang memiliki kemampuan jauh di atas yang diduganya.

Seorang kawannya yang berdiri termangu-mangu bersama Sambu dan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi cemas melihat keadaan kawannya. Ia pun melihat, bahwa kawannya itu semakin lama menjadi semakin terdesak oleh anak muda yang mampu bergerak seperti burung sikatan.

Tetapi setiap kali ja berniat melibatkan diri, maka ia pun harus memperhitungkan anak muda yang seorang lagi. Anak muda yang nampaknya juga mempunyai kemampuan seperti anak muda yang sedang bertempur itu.

Dalam pada itu, Sambu pun telah menggeram, “Sudah aku katakan. Orang itu memang senang mencari perkara. Jika ia tidak menjadi sangat tamak dan berniat untuk mengambil kuda itu, tidak akan mengalami kesulitan”

Kawannya yang berdiri di dekat Sambu itu menyahut, “Sudah menjadi kebiasaan kami untuk melakukan apa yang kami inginkan. Karena itu, maka sudah menjadi kewajiban kami untuk menyelamatkan saudara seperguruanku. Kuda itu harus didapatkannya dan anak muda itu akan mati di tangannya”

“Kau harus memperhitungkan yang seorang itu” berkata Sambu.

“Kami akan memilih mati daripada niat kami tidak terpenuhi” jawab orang padepokan Mayang itu.

“Hanya karena seekor kuda?” bertanya Sambu, “bukankah kalian mempunyai tugas yang lebih penting dari merampas seekor kuda?”

“Soalnya bukan seekor kuda. Tetapi orang-orang Padepokan Mayang tidak dapat dicegah semua kemauannya” jawab orang Dadepokan Mayang itu.

Sambu dan kawannya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat Sambu berkata, “Kalian memang orang-orang sombong yang tidak tahu diri. Kau minta pemilik kedai itu mengadakan apa yang tidak ada, dan tidak mungkin diadakannya. Sekarang kalian memaksa diri untuk mendapatkan seekor kuda dengan mengorbankan tugas-tugas kalian yang lebih besar dan lebih berarti. Aku tidak mengerti cara kalian berpikir”

“Karena kalian tidak mempunyai harga diri yang pantas” jawab orang padepokan Mayang itu.

“Coba katakan. Apakah dengan merampok seekor kuda itu kalian mempunyai harga diri?” bertanya Sambu.

Orang padepokan Mayang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Semua kehendak kami harus terjadi”

“Aku tidak turut campur dengan persoalanmu Aku bukan ukuran perampok kuda yang tidak berarti”

Orang padepokan Mayang itu memandang Sambu dan kawannya dengan wajah yang tegang. Katanya, “Jadi kau tidak berpihak kepada kami? Bukankah aku datang ke tempat ini untuk mencarimu. Bukankah dengan demikian ada hubungan di antara kita?”

“Ya. Kita mempunyai hubungan dalam tugas besar kita. Bukan sebagai perampok kuda. Kita berbicara tentang kapak penebang kayu dan persiapan untuk satu kerja besar itu” jawab Sambu, “aku akan berpihak kepadamu dalam persoalan yang penting itu. Tetapi tidak dalam persoalan-persoalan yang tidak berarti seperti yang kalian lakukan itu”

Orang padepokan Mayang itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram, “Persetan dengan pengecut seperti kalian. Aku akan berbuat sebaik-baiknya sebagaimana anak padepokan Mayang. Aku tidak mau harga diriku dinodai dengan penolakan atas kehendak kawanku untuk memiliki kuda itu”

“Sungguh-sungguh pikiran gila” geram Sambu. Tetapi ia tidak meninggalkan tempat itu. Bahkan ia masih menyaksikan pertempuran itu dengan seksama.

Sementara itu, maka orang padepokan Mayang yang tidak sedang bertempur itu pun mendekat. Wajahnya benar-benar menjadi tegang. Ia tidak mengingkari kenyataan, bahwa kawannya benar-benar telah terdesak.

Meskipun demikian, tidak ada niatnya untuk mengurungkan maksudnya memiliki kuda Mahisa Pukat. Orang itu masih berharap, bahwa anak muda yang berdiri di luar arena itu, tidak memiliki kemampuan seperti anak muda yang sedang bertempur itu. Bahkan orang itu menganggap bahwa dirinya memiliki kelebihan dari kawannya yang berkelahi melawan Mahisa Pukat itu.

Karena itu, maka ia telah bertekad untuk membantu kawannya apabila kawannya itu benar-benar terdesak, dengan perhitungan, bahwa anak muda yang seorang lagi akan ikut serta bertempur pula.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra pun termangu-mangu melihat persoalan yang telah berkisar itu.

Semula pemilik kedai itu telah dapat menarik nafas lega ketika orang-orang yang berselisih itu mengakhiri perkelahian dan bahkan mereka pun telah beranjak pergi.

Tetapi persoalannya justru berkembang lagi. Yang kemudian terlihat ke dalam perselisihan itu, adalah orang-orang yang sedang berada di kedai sebelah.

“Seharusnya anak-anak muda itu tidak melayaninya” berkata pemilik kedai itu.

“Orang itu akan mengambil kudanya” jawab Mahisa Agni.

“Ia tidak akan mengambilnya. Tetapi akan menukarnya. Bukankah dengan demikian akan lebih baik dari pada anak muda itu harus bertempur melawan orang-orang berilmu tinggi” berkata pemilik kedai itu. Lalu, “Dengan perkelahian itu, maka ia akan dapat bukan saja kehilangan kudanya. Tetapi juga nyawanya. Nampaknya kedua orang berkuda itu adalah orang-orang yang keras pada sikapnya disediakan tuak tanpa mengerti sama sekali, bahwa aku tidak akan dapat mengusahakannya dengan apapun juga”

Mahisa Agni dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak dapat menjawab bahwa sudah sewajarnya jika anak muda itu mempertahankan kuda mereka.

Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Pukat dan salah seorang dari padepokan Mayang itu menjadi semakin seru. Tetapi juga menjadi semakin jelas, bahwa Mahisa Pukat akan dapat menguasai keadaan.

Karena itu, maka kawannya yang seorangpun bergeser semakin dekat, la tidak dapat melihat kawannya dikalahkan dan kuda itu tidak akan dapat dimilikinya. Tetapi ia pun sadar, bahwa ia harus memperhitungkan anak muda yang juga bergeser semakin dekat itu.

“Anak setan” geram orang padepokan Mayang itu, “kawanmu telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan yang tidak akan dapat diatasinya”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun menjawabnya, “Kau benar-benar tidak tahu, atau sekedar pura-pura tidak tahu untuk membesarkan hatimu sendiri. Kawanmu menjadi semakin terdesak. Sebentar lagi, kawanmu itu akan kehabisan tenaga dan ia akan terkapar dengan lemahnya”

“Aku bunuh kawanmu” geram orang padepokan itu.

“Jika kau memasuki arena, kau pun akan mengalami nasib seperti kawanmu. Kehabisan nafas dan tenaga” jawab Mahisa Murti, “he, apakah kau tidak melihat, bahwa saudaraku itu tidak melakukan serangan-serangan yang dapat benar-benar membahayakan jiwa kawanmu itu. Meskipun saudaraku benar-benar marah karena terhina oleh tingkah kawanmu, tetapi pada dasarnya ia memang bukan pembunuh”

“Omong kosong. Kawankulah yang akan membunuhnya”

Mahisa Murti memandang orang itu sekilas. Kemudian kepada kedua orang yang lain, yang seorang di antaranya justru telah berkelahi melawan salah seorang dari kedua orang berkuda itu. Namun yang ternyata mereka adalah orang-orang yang harus saling berhubungan dalam tugas-tugas yang sangat menarik perhatian.

Tetapi agaknya kedua orang itu sama sekali tidak tertarik untuk ikut campur. Keduanya mengamati perkelahian itu dengan tegang. Tetapi keduanya tidak bergeser dari tempatnya ketika orang berkuda itu menjadi kecemasan.

Dalam pada itu, maka lawan Mahisa Pukat itu benar-benar tidak mempunyai banyak kesempatan lagi. Tenaganya menjadi semakin lemah dan nafasnyapun menjadi semakin tersengal-sengal di lubang hidungnya.

Dengan demikian, kawannya dari padepokan Mayang itu menjadi gelisah. Ia dihadapkan pada satu kenyataan tentang kekalahan kawannya. Tetapi iapun tidak dapat mengingkari bahwa anak muda yang seorang itu akan ikut menentukan pula. jika ia turun ke arena.

Sekali-sekali orang padepokan Mayang itu berpaling kearah Sambu dan kawannya yang bertubuh tinggi kekurusan. Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukannya. Agaknya mereka benar-benar berpegang kepada satu keputusan untuk tidak ikut campur dalam persoalan yang disebutnya perampokan seekor kuda.

“Persetan” geram orang padepokan Mayang itu di dalam hati, “aku tidak peduli apa yang terjadi Aku tidak peduli apakah kedua orang gila itu akan membantuku. Aku harus menyelamatkan nama padepokan Mayang”

Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia melangkah mendekati kawannya yang sudah benar-benar terdesak sambil berkata, “Kita bunuh anak itu. Kehendak orang-orang padepokan Mayang tidak boleh ditentang oleh siapapun juga”

Namun dalam pada itu. terdengar Sambu berteriak, “Jangan gila. Biarkan kawanmu itu berkelahi seorang lawan seorang. Kau bicara tentang harga diri. Tetapi berkelahi berpasangan menghadapi seorang lawan, agaknya perlu dipertimbangkan”

Mahisa Murti berpaling ke arah Sambu dan kawannya. Tetapi ia sadar, bahwa keberatan kedua orang berwajah kasar itu tentu tidak pada sifat kejantanan dan harga diri. Tetapi kedua orang itu mempunyai nalar yang lebih baik untuk memperhitungkan keadaan. Karena ternyata kedua orang itu pun sedang mengawasinya.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “kau dengar peringatan kawanmu itu?. Mereka mengerti bahwa sebaiknya kau tidak usah bertempur berpasangan. Akibatnya hanya akan menambah kesulitan saja”

“Persetan” geram orang itu.

Sebenarnyalah ia memang tdiak mau berpikir lagi ia lebih memanjakan perasaannya. Bahkan agar ia tidak mengurungkan niatnya, maka dengan tergesa-gesa ia telah meloncat menyerang Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tidak membiarkan Mahisa Pukat bertempur seorang diri melawan kedua orang lawannya. Meskipun Mahisa Pukat akan memenangkan perkelahian melawan seorang diantaranya, namun melawan dua orang bersama-sama, masih harus dipertimbangkan, apakah ia akan mampu melakukannya.

Namun ketika Mahisa Murti mendekat, terdengar Mahisa Pukat berkata, “Tunggu. Aku akan membuktikan bahwa kegilaan mereka berdua tidak ada gunanya. Karena itu, amati saja aku di luar arena sehingga kau dapat memberi kesempatan kepadaku untuk membuktikannya”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat benar-benar ingin melakukan seperti apa yang dikatakannya.

Karena itu, maka tata geraknya pun tiba-tiba menjadi semakin cepat. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti, betapapun kemarahan Mahisa Pukat menghentak jantungnya, tetapi ia masih sempat menahan diri untuk tidak melakukan satu perbuatan yang akan dapat menumbuhkan persoalan yang berkepanjangan.

Namun menghadapi dua orang yang bertempur berpasangan, Mahisa Pukat harus berbuat lain. Meskipun ia tidak berniat untuk mambunuh, namun jika hal yang demikian terjadi, adalah di luar kemampuannya untuk mencegahnya.

Karena itu, tata geraknya pun kemudian telah mengejutkan lawannya. Lawannya yang pertama, yang telah kehilangan sebagian besar tenaganya, benar-benar tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Pukat.

Dalam keadaan yang tidak terduga, justru pada saat kehadiran kawannya, serangan Mahisa Pukat datang dengan serta merta. Kakinya terjulur lurus tepat mengenai dada, sehingga orang itu telah terdorong surut beberapa langkah. Bahkan tubuhnya kemudian tidak lagi dapat dikuasainya, sehigga orang itu telah terjatuh, meskipun dengan serta merta ia masih mampu untuk bangkit.

Mahisa Pukat tidak dapat memburunya. Karena lawannya yang baru telah menyerangnya pula. Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat pun telah berloncatan dengan cepatnya menghadapi kedua lawannya. Tetapi seorang di antaranya benar-benar hampir tidak berdaya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Pukat tidak hanya mengalami kesulitan dalam perkelahian itu.

Namun demikian, karena ia mendapat lawan yang masih segar, maka ia pun harus berbuat sebaik-baiknya, agar ia dapat mengimbangi lawannya.

Dalam pada itu, Sambu berdiri termangu-mangu. Sekali-sekali terdengar ia mengumpat, “Orang gila itu telah membuat persoalan menjadi bertambah rumit”

“Apakah kita benar-benar akan diam saja?” bertanya orang yang bertubuh tinggi kekurusan.

Sambu tidak segera menjawab. Diperhatikannya pertempuran itu dengan seksama. Ia pun kemudian melihat, bahwa Mahisa Pukat yang muda itu berhasil mendesak kedua lawannya, orang-orang dari padepokan Mayang.

“Salah mereka sendiri” tiba-tiba saja Sambu bergumam. “Tetapi jika keduanya kalah, apakah tidak akan berakibat buruk pula bagi kita” jawab orang yang tinggi kekurusan.

“Kenapa?” bertanya Sambu.

“Kedua orang itu dapat menganggap kita tidak bersahabat. Dengan demikian, maka hubungan kita untuk selanjutnya dengan orang-orang padepokan Mayang akan menjadi buruk. Padahal kita akan saling memerlukan dalam kerja yang besar itu bagi kepentingan Kediri” jawab orang yang bertubuh kurus.

“Aku sudah memperingatkan” jawab Sambu, “tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan. Aku dapat melaporkan kepada para pemimpin di padepokan Mayang, bahwa kedua orang itu memang mempunyai tingkah yang tidak menguntungkan. Mereka selalu memancing persoalan. Bahkan aku sendiri sudah terpancing untuk melawan mereka, karena sikapnya yang sewenang-wenang. Mungkin kita juga pernah melakukannya. Tetapi tentu tidak akan sekarang keduanya, meskipun menilik ujud lahiriah, kita adalah orang-orang yang jauh lebih kasar dari orang-orang padepokan Mayang itu”

Tetapi kawannya itu masih berkata, “Mungkin para pemimpin padepokan Mayang itu. mempercayai laporan kita. Tetapi mungkin mereka lebih percaya kepada orang-orangnya sendiri, sehingga sikap kita akan mereka gawat. Apalagi jika salah seorang dari mereka, atau bahkan kedua-duanya, terbunuh di sini”

Sambu menarik nafas dalam-dalam. Diamatinya perkelahian itu dengan seksama.

“Kita dapat bertempur melawan anak muda yang seorang” berkata kawan Sambu itu.

“Anak muda itu tentu memiliki kemampuan seperti anak muda yang sedang berkelahi itu. Anak muda yang berkelahi itu dapat melawan kedua orang padepokan Mayang itu” jawab Sambu.

“Ada bedanya,” jawab kawannya, “kita bertempur bersama. Kitapun mulai bersama. Tidak demikian dengan kedua orang padepokan Mayang itu. Seorang diantara mereka sudah terlalu lemah, sehingga seakan-akan anak muda itu bertempur melawan dua orang secara bergantian.”

Sambu mengerutkan kening. Sekali-kali dipandanginya Mahisa Murti yang memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Akan tetapi iapun merasa yakin, bahwa Mahisa Pukat akan menyelesaikan perkelahian itu dengan baik.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Murti mengerutkan keningnya, ketika ia melihat salah seorang dari kedua lawan Mahisa Pukat itu berusaha untuk memulihkan tenaganya dengan mengatur pernafasannya sebaik-baiknya, sambil duduk di pinggiran arena, sementara yang seorang telah berusaha untuk mengikat Mahisa Pukat dalam suatu perkelahian, sehingga Mahisa Pukat tidak akan sempat mengganggu orang yang sedang memusatkan nalar budinya dan mengatur pernafasannya untuk mendapatkan kesegaran kembali.

Tapi Mahisa Murtipun kemudian tersenyum menyaksikan kebodohan itu. Karena dengan demikian yang lain pada saatnya akan merasa segar, namun kawannya yang bertempur terus itu akan menjadi kelelahan.

Dalam pada itu, Sambu masih menunggu. Agaknya ia masih saja ragu-ragu. Apakah sebaiknya ia melibatkan diri atau tidak.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, orang yang duduk mengatur pernafasannya itu telah bangkit, dan berdiri. Dengan langkah yang segar ia memasuki arena.

Tetapi sementara itu, kawannya yang memancing perkelahian dengan Mahisa Pukat itulah yang kelelahan. Ketika kawannya yang seolah-olah telah mendapatkan kekuatannya kembali itu memasuki arena, seolah-olah tenaganya telah terkuras habis pula.

Dengan demikian, maka Mahisa Pukat seakan-akan hanya melawan seorang pula dari keduanya. Meskipun yang seorang itu seakan-akan telah bertempur dengan tenaga yang utuh, tetapi kawannya hampir tidak mampu lagi untuk berloncatan.

Ketika terjadi lagi seperti terdahulu, Mahisa Murti harus berpikir cepat. Orang yang sudah kelelahan itulah yang kemudian duduk di luar arena perkelahian, sementara yang lainnya bertempur melawan Mahisa Pukat untuk mengikatnya, sehingga ia tidak dapat mengganggu yang sedang beristirahat, memusatkan nalar budinya dan mengatur pernafasannya untuk kesegaran tubuhnya.

“Gila” geram Mahisa Murti kemudian, dengan demikian maka setiap kali lawan Mahisa Pukat akan mendapat kesegaran baru di dalam tubuh mereka. Meskipun mereka tidak akan sempat bertempur berpasangan, namun pada suatu saat Mahisa Pukatlah yang akan kehabisan tenaga, sementara lawannya masih akan tetap segar meskipun bergantian.

Karena itulah, maka Mahisa Murtipun akhirnya memutuskan untuk tidak tinggal diam, meskipun tidak dikehendaki oleh Mahisa Pukat.

Pada kesempatan itulah, maka sekali lagi kawan Sambu berkata, “Lihat, anak itu akan tampil pula ke arena”, ketika ia menyadari kelemahan yang akan terjadi pada kannya yang bertempur melawan kedua orang padepokan Mayang yang licik itu.

Sambu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun sadar, jika anak muda yang seorang itu ikut campur, maka kedua orang padepokan Mayang itu tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu. Satu-satu mereka akan dilumpuhkan, apabila anak muda yang kanan melibatkan diri itu mempunyai kemampuan seperti anak muda yang sedang bertempur itu. Tetapi untuk beberapa saat, ia masih tetap berdiri di tempatnya.

Dalam pada itu maka Mahisa Murti telah berdiri di pinggir arena. Ia akan langsung berbuat sesuatu atas orang padepokan Mayang yang sedang mengatur pernafasannya untuk memulihkan setidak-tidaknya sebagian dari tenaganya, sehingga ia akan dapat melawan Mahisa Pukat dan memberi kesempatan kawannya yang lain untuk beristirahat.

Sementara itu tenaga Mahisa Pukat memang sudah terasa mulai surut. Meskipun ia belum menyadari arti dari usaha lawannya itu. Namun terasa nafasnya mulai berdebaran di lubang hidungnya, sementara tata geraknyapun menjadi lamban.

“Jangan ganggu aku” berkata Mahisa Pukat ketika ia melihat Mahisa Murti mendekat.

“Kau sudah terpancing oleh arus perasaanmu” berkata mahisa Murti, “kedua orang itu tidak akan dapat memenangkan perkelahian ini dalam keadaan wajar. Tetapi mereka mempunyai cara untuk membuatmu lelah dan kemudian dengan tidak sadar tenagamu akan terkuras habis.

Mahisa Pukat tidak menjawab. Akan tetapi ia mulai berpikir dan menilai lawan-lawannya. Sambil berloncatan mundur Mahisa Pukat berkata, ”Kau benar, aku merasa menjadi letih.”

“Karena itu, biarkan aku mencekik orang yang sedang duduk mengatur pernafasan ini,” berkata Mahisa Murti sambil mendekati orang yang sedang mengatur pernafasannya. Namun kemudian ia berkata, “Selesaikan lawanmu, aku akan menunggu orang ini selesai dengan pemulihan tenaganya.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Dibiarkannya Mahisa Murti berdiri beberapa langkah dari orang yang sedang mengatur pernafasannya itu.

Namun dalam pada itu, Sambu dan kawannya menjadi semakin gelisah. Ia tidak dapat membiarkan bencana itu terjadi atas orang-orang padepokan Mayang, meskipun hal itu terjadi karena pokal mereka sendiri. Bagaimanapun juga, kedua orang itu adalah orang-orang yang mendapat tugas untuk menghubungi mereka.

Dalam pada itu, dalam keadaan yang gawat, ketika orang yang sedang memulihkan tenaganya itu mulai bergerak, maka Sambupun tiba-tiba berkata, “Jangan ganggu orang itu, anak muda.”

Mahisa Murti memandangi kedua orang itu sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa? Orang ini akan berkelahi berpasangan melawan saudaraku. Itu tidak adil. Biarlah kami berkelahi seorang lawan seorang. Saudaraku melawan lawannya yang sudah kelelahan itu. Aku akan melawan orang yang baru saja memulihkan tenaganya ini.”

“Jangan, lebih baik kau biarkan saudaramu bertempur secara jantan,” jawab orang yang bertubuh tinggi kekurusan.

“He, apa artinya kejantanan menurut kau Ki Sanak?” Bertanya Mahisa Murti. “Apakah maksudmu saudaraku harus bertempur melawan dua orang? Lalu bagaimana dengan kedua orang kawanmu itu? Apakah mereka kau sebut jantan?”

Sambu menggeretakkan giginya. Lalu katanya, “Baiklah aku akan mengatakan dengan bahasa yang lebih sederhana. Jangan kau campuri mereka. Jika kau memasuki arena, kami berduapun akan ikut campur pula. Kami berdua akan bertempur melawan kau, sementara kedua kawanku itu akan menyelesaikan kawanmu yang berusaha mempertahankan kudanya itu.”

Wajah Mahisa Murti menjadi merah mendengar kata-kata itu. Namun ia memang tidak dapat untuk berdiam diri saja tanpa berbuat sesuatu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Aku sudah menduga, bahwa kalian memang tidak dapat untuk berdiam diri saja tanpa dapat memberikan arti yang wajar kepada sifat kejantanan seperti yang kau katakan. Tetapi baiklah. Apa boleh buat. Aku benar-benar akan bertempur.”

Sambu dan kawannya yang bertubuh tinggi itupun melangkah mendekat, sementara orang yang sedang memulihkan kekuatannya itu telah berdiri tegak pula.

“Kita memang akan bertempur,” geram mahisa Murti kemudian.

Sambu dan kawannya itu telah menjadi semakin dekat. Bahkan kedua telah bersiap-siap untuk menyerang Mahisa Murti yang bergeser selangkah.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka mendengar suara di belakang mereka. “Itu tidak adil.”

Sambu dan kawannya berpaling. Mereka melihat dua orang yang berada di kedai sebelah berdiri termangu-mangu.

“Apakah kau juga akan ikut bertempur?” Bertanya Sambu.

“Apa boleh buat. Jika kau mencampuri pula persoalan ini,” jawab Mahisa Agni.

“Ingat Ki Sanak,” berkata Sambu, kau sedang berhadapan dengan seorang yang terbiasa membunuh. Jangan bermain api, agar tanganmu tidak terkobar karenanya.”

“Aku sungguh-sungguh tidak dapat membiarkan ketidak adilan ini terjadi, apapun yang akan aku alami,” jawab Witantra.

“Persetan,” geram Sambu. “Seandainya kalian memiliki ilmu seperti anak-anak muda ini, namun kawanku banyak tersebar di sini. Aku dapat memberikan isyarat agar mereka datang kemari. Dengan demikian, maka kalian akan dicincang di sini dan nama kalian sama sekali tidak akan dikenal lagi oleh siapapun juga.”

“Itu bukan persoalanku,” jawab Witantra. “Yang paling penting aku harus bertindak untuk menentang ketidak adilan ini.”

Sambu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia dapat melihat kedalaman wajah kedua orang itu, sehingga Sambupun mengetahui bahwa kedua orang itu memiliki kematangan yang lebih mapan dari kedua anak-anak muda itu.

Karena itu, maka iapun kemudian menggamit kawannya yang bertubuh tinggi kekurusan itu sambil berdesis, “Apa yang akan kita lakukan?”

“Memberikan isyarat kepada kawan-kawan kita,” jawab orang bertubuh tinggi kekurusan itu.

Sambu masih ragu-ragu. Bahkan kemudian ia memikirkan persoalan yang lebih besar dari sekedar persoalan seekor kuda. Maka iapun berkata, “Jika terjadi benturan di sini, maka persoalannya mungkin akan berkembang lebih luas. Mungkin mereka bukan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan di belakang mereka. Apakah dengan demikian, yang sudah kita persiapkan untuk waktu yang lama itu akan terhambat hanya karena seekor kuda?”

Kawannya yang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jadi apakah kita akan membiarkan kawan-kawan kita itu mengalami cedera?”

“Mereka bukan pembunuh,” desis Sambu. “Apa bila kita biarkan mereka berkelahi maka mereka tidak akan menyelesaikan perkelahian itu dengan pembunuhan. Apalagi jika kita biarkan anak muda yang seorang lagi memasuki arena, maka kemungkinan terjadi pembunuhan akan lebih kecil lagi.”

Orang yang bertubuh tinggi kurus itu menghela nafas dalam-dalam. Katanya, “Terserah kepadamu.”

Karena itu maka Sambulah yang kemudian mengambil keputusan. Ia takkan mencampuri perkelahian itu.

“Baiklah Ki Sanak,” berkata Sambu kemudian, “aku sependapat. Perkelahian itu harus adil. Karena itu aku tidak akan mencampuri persoalan mereka.”

Witantra menghela nafas dalam-dalam. Sementara itu mereka melihat orang yang telah berusaha memulihkan kekuatannya itupun tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya telah memasuki medan dan melawan Mahisa Pukat. Sementara yang lainnya bergeser untuk beristirahat dan mengatur pernapasan untuk memulihkan kekuatannya.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah kekuatan Mahisa Pukat telah mulai susut. Karena itu ketika lawannya yang telah mendapatkan kembali sebagian besar dari kekuatannya itu turun ke arena, maka Mahisa Pukat mulai mengalami kesulitan untuk mengimbanginya.

Mahisa Murti yang melihat Mahisa Agni dan Witantra sudah hadir pula di arena, segera mengambil keputusan. Ia sadar, bahwa keduanya tentu tidak akan tinggal diam dalam keadaan yang paling gawat.

Karena itu tanpa berpikir lebih panjang lagi, Mahisa Murti mendekati arena perkelahian itu sambil berkata, “Beristirahatlah seperti lawanmu itu. Aku akan menggantikanmu melawan orang ini.”

Mahisa Pukat memang tidak dapat ingkar lagi. Nafasnya menjadi semakin memburu oleh keletihan setelah ia harus bertempur melawan dua orang yang dengan licik berganti-ganti beristirahat dan memulihkan kekuatan mereka dengan mengatur nafas sebaik-baiknya.

Karena itu, maka kehadiran Mahisa Murti tidak lagi dicegahnya. Namun demikian Mahisa Murti turun ke arena, maka sebenarnyalah bahwa mereka sudah dapat menduga akhir dari pertempuran itu.

Ternyata Sambu dan kawannya yang kekurus-kurusan itu benar-benar tidak berbuat apa-apa. Mereka sempat memikirkan tugas yang sebelumnya dibebankan kepada mereka.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah berhasil menguasai lawannya. Sambil mengumpat-umpat orang padepokan Mayang itu berusaha bertahan. Tetapi kemampuan Mahisa Murti memang melampaui kemampuannya, sebagaimana Mahisa Pukat.

Dalam pada itu. Mahisa Pukat sempat beristirahat sebagaimana dilakukan oleh lawannya yang seorang. Demikian orang padepokan Mayang itu siap tampil lagi di medan, maka Mahisa Pukat telah siap pula melawannya.

Sementara itu Mahisa Agni dan Witantra dengan sangat hati-hati mendekati Sambu dan kawannya. Dengan nada datar Mahisa Agni berkata “Kau telah berbuat dengan bijaksana. Ternyata bahwa kami salah menilai kalian. Aku kira kalian adalah orang-orang yang lebih kasar dari orang-orang yang bertempur itu. Ternyata bahwa kalian mempunyai penalaran yang lebih mapan.”

“Kau tidak usah memuji,” jawab Sambu, “aku hanya ingin mempersempit persoalan.”

“Itu adalah sikap yang bijaksana” desis Witantra.

Sambu justru menggeram. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam orang-orang itu. Tetapi ia masih berusaha untuk menahan diri, agar ia tidak harus menghadapi persoalan yang justru akan mengganggu tugas pokoknya. Sementara persoalan baru itu sama sekali tidak berarti.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendapat kesempatan berkelahi seorang melawan seorang itupun segera dapat menguasai lawan-lawannya. Orang padepokan Mayang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun mereka harus melihat satu kenyataan, bahwa mereka berdua tidak dapat mengalahkan kedua orang anak muda itu.

Bahkan pada suatu saat, orang yang bertempur melawan Mahisa Murti benar-benar telah tidak berdaya lagi. Ketika terjadi benturan kekuatan, maka orang itu terdorong beberapa langkah surut. Mahisa Murti yang melihat kesempatan itupun segera memburunya. Dengan satu sentuhan yang tepat mengenai dadanya, orang padepokan Mayang itu telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah.

Demikian orang itu berusaha bangkit, Mahisa Murti telah berdiri di dekatnya. Dengan kaki renggang ia memandangi lawannya yang sudah menjadi sangat lemah itu.

“Kau masih akan melawan?“ bertanya Mahisa Murti.

Lawannya itupun mengerang tertahan. Punggungnya serasa hendak patah, sementara tenaganya rasa-rasanya sudah terhisap habis sama sekali.

Dalam pada itu, Mahisa Pukatpun telah menyelesaikan perkelahiannya pula. Lawannya sama sekali tidak lagi berdaya untuk melawannya. Bahkan, untuk bangkitpun orang itu sudah tidak mampu lagi.

“Katakan,“ bentak Mahisa Pukat, “apakah kau masih menginginkan kudaku?”

Terdengar orang itu mengumpat. Tetapi ia tidak menjawab.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Murti kemudian. “kita sudah menjawab bahwa kita tidak akan memberikan kuda kita kepada mereka.”

Mahisa Pukat memandang orang yang sudah tidak berdaya itu. Kemudian katanya, “Aku ingin mendengar jawabnya.”

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Ia tidak dapat berkata apa-apa. Tetapi yang jelas, kita tidak memberikannya.”

Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi iapun kemudian beringsut meninggalkan orang itu dan melangkah mendekati Mahisa Murti.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Meneruskan perjalanan,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun memandang Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti. Ketika keduanya mengangguk kecil, maka Mahisa Pukat pun menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu maka Mahisa Murtipun berkata, ”Marilah. Kita masih harus membayar makanan dan minuman.”

Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian meninggalkan kedua orang padepokan Mayang yang hampir pingsan itu. Mereka memasuki kedai untuk membayar harga makanan dan minuman yang telah mereka pesan bersama Ki Buyut dan Widati.

“Bagaimana?“ bertanya Ki Buyut yang kecemasan.

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Pukat. “Orang itu tidak akan berbuat apa-apa lagi.”

Ki Buyut tidak bertanya lagi. Iapun sudah mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyelesaikan lawan-lawan mereka, sementara orang-orang lain itu tidak berbuat sesuatu karena mereka harus memperhitungkan Mahisa Agni dan Witantra yang nampaknya akan ikut campur pula dalam persoalan itu.

Dalam pada itu, ketika Mahisa Agni dan Witantrapun telah membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, maka merekapun telah meninggalkan kedai itu pula, sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama Ki Buyut dan Widati.

Sementara itu, demikian kelompok kecil itu menjauh, maka Sambu dan kawannya telah mendekati kedua orang padepokan Mayang yang hampir pingsan itu.

“Kalian orang-orang gila,” geram salah seorang dari orang padepokan Mayang itu. “Kalian ternyata benar-benar tidak mau membantu kami.”

“Kalianlah yang dungu,“ bentak Sambu “kau kira kita harus membunuh diri hari ini ketika kita sedang menyelesaikan sebagian pekerjaan kita?“

“Pengecut,“ bentak orang padepokan Mayang itu. “Kita yang akan membunuh mereka. Bukan kita yang akan mereka bunuh.”

“Kau tidak mau melihat kenyataan yang terjadi atas dirimu,“ bentak Sambu. “Apa yang bisa kau lakukan atas dua orang anak muda itu? Apakah kau mampu membunuh mereka, kemudian merampas kuda mereka seperti yang selalu kau katakan, bahwa orang-orang padepokan Mayang tidak mau ditentang kemauannya?“

Orang padepokan Mayang itu menggeram. Katanya, “Apa bila kalian memiliki sedikit saja kesetia-kawanan, maka kita akan sempat membunuh kedua anak muda itu.”

“Kau tidak memperhitungkan kedua orang tua yang berada di kedai sebelah, yang sudah menyatakan tekadnya untuk ikut campur pula jika kami berdua berusaha membantumu.“

“Bunuh mereka lebih dahulu“ teriak orang padepokan Mayang yang seorang.

“Orang dungu yang gila,” geram Sambu, “merekalah yang akan membunuh kita. Tetapi karena kami berdua tidak ikut campur, maka kedua anak muda itu tidak membunuhmu. Kau harus tahu, bahwa jika kami berdua membuat mereka semakin marah, maka mereka tidak akan dapat mengekang lagi”

“Perhitungan seorang pengecut” orang padepokan Mayang itu masih saja mengumpat.

“Ingat, jika bukan mereka, maka akupun dapat membunuhmu dengan cara pengecut, selagi kalian belum dapat melakukan perlawanan. Jika kalian membuat kami marah, maka kami akan mengambil satu sikap sesuai dengan tabiat kami yang sebenarnya. Kami dapat membuang mayat kalian dan mengapuskan segala macam kesan, bahwa kalian pernah datang ketempat ini” berkata Sambu.

Orang-orang padepokan Mayang itu masih mengumpat-umpat. Tetapi suaranya tidak lagi didengar oleh Sambu dan kawannya.

“Marilah. Bangkitlah dan kita pergi ke pondokku. Kudamu masih tetap kudamu yang kau anggap tidak cukup tegar dibandingkan dengan kuda anak muda itu. Dengan demikian, kau harus menyadari bahwa suatu ketika keinginan orang-orang padepokan Mayang tidak terpenuhi” berkata Sambu pula.

Sambu dan kawannya kemudian berusaha membantu kedua orang padepokan Mayang itu untuk bangkit.

“Aku perlu tuak,“ tiba-tiba saja yang seorang berdesis.

“Kau mulai gila lagi,“ bentak Sambu, “aku akan mencegahmu.”

Orang itu mengumpat. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, maka Sambu dan kawannya itu telah membantu orang-orang padepokan Mayang itu untuk bangkit dan menuntun mereka berjalan ke serambi kedai di sebelah.

“Beri aku air,” desis Sambu.

Dengan tergesa-gesa pemilik kedai yang ketakutan itupun lalu memberikan semangkuk air yang kemudian diminum oleh kedua orang padepokan Mayang yang tidak berdaya lagi itu.

Dengan air yang beberapa teguk itu, maka kedua orang padepokan Mayang itu merasa tubuhnya menjadi segar. Perlahan-lahan mereka menggerakkan tangan dan kakinya. Kemudian bangkit perlahan-lahan.

Namun demikian mereka berdiri tegak, salah seorang diantara mereka berteriak, “Mana anak-anak muda itu?”

“Jangan mengigau. Seharusnya kesadaranmu menjadi semakin pulih” berkata Sambu.

“Aku tidak mengigau” jawab salah seorang diantara kedua orang padepokan Mayang itu.

“Jika demikian, maka kau memang ingin membunuh diri,” jawab Sambu. “Jika kau ingin berkelahi lagi, berarti bahwa kau akan mati”

“Persetan” geram orang itu.

“Sudahlah. Marilah, kita pergi ke pondokku,” kata Sambu, “kita beristirahat dan berbicara tentang sesuatu yang berarti bagi kita. Bukan pekerjaan yang hanya menimbulkan kesulitan saja”

Orang-orang padepokan Mayang itu termangu-mangu. Tapi ketika orang yang mengingini kuda Mahisa Pukat itu memandang patok-patok yang kini telah kosong, selain kudanya sendiri, ia mengumpat. Katanya, “Pada suatu saat aku akan benar-benar merampas kuda itu. Anak muda itu akan aku bunuh dan aku cincang sampai lumat.”

“Berbicaralah apa saja yang kau suka. Tetapi kami telah melihat satu kenyataan tentang kau dan anak-anak muda itu,” berkata Sambu “karena itu hentikan igauanmu tentang mereka. Kita dapat berbicara yang lain, yang lebih berarti bagi rencana besar kita.”

Orang padepokan Mayang itu masih mengumpat-umpat. Tetapi mereka tak dapat berbuat apa-apa. Karena itulah maka merekapun kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil menuntun kuda masing-masing menuju tempat tinggal Sambu selama berada di daerah itu.


Bersambung.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...