*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-022-01*
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya dengan nada dalam, “Ya. Apa boleh buat. Justru karena Sri Baginda tidak mau berpihak kepada Pangeran Kuda Permati atau cita-citanya yang akan tetap hidup di dada orang-orang Kediri yang sejati.”
Muridnya mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa tugas yang akan dilakukannya adalah tugas yang sangat berat. Mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Kemudian mengambil pusaka Mahkota yang tersimpan di dalam Gedung perbendaharaan yang dijaga kuat.
Tetapi hal itu sudah menjadi tekad gurunya, sehingga Putut itu hanya akan dapat melakukannya apapun yang mungkin dapat terjadi dengan dirinya.
Demikianlah, maka segala persiapannya telah dilakukan. Sekali lagi Ki Ajar minta diri kepada para cantrik yang akan menunggui padepokan.
“Berapa lama Guru akan pergi?” bertanya salah seorang cantriknya.
“Tidak lebih dari sepuluh hari,” jawab pertapa itu.
“Sepuluh hari?“ ulang cantriknya.
“Sepuluh hari menurut hitunganku,” jawab Ki Ajar sambil tersenyum.
“Ah. Tentu seperti pada saat guru pergi beberapa saat yang lampau. Guru juga mengatakan hanya sepuluh hari. Tetapi ternyata sampai berlipat tiga,” jawab cantriknya.
Pertapa itu hanya tersenyum saja. Tetapi seperti yang dikatakan oleh cantrik-cantriknya, ia memang mungkin memerlukan waktu lebih dari sepuluh hari. Namun mungkin justru lebih pendek. Ia harus dengan cepat dapat mengambil Pangeran Lembu Sabdata dan membawanya ke padepokan. Tidak lebih dari sehari. Di hari berikutnya ia harus membawa Pangeran Lembu Sabdata ke sebuah gubug kecil yang sudah dipersiapkan. Gubug kecil yang jauh terpencil, sehingga tidak akan mungkin diketemukan oleh orang-orang Kediri. Bahkan seandainya orang-orang Kediri itu mendekati gubug itu, maka Pengeran Lembu Sabdata akan dengan mudah bersembunyi di hutan yang tidak jauh dari gubug itu.
Di gubug itulah Pangeran Lembu Sabdata harus menempa diri lahir dan batin dibawah bimbingan pertapa itu, sehingga pada suatu saat Pangeran Lembu Sabdata akan memiliki ilmu sebagai mana Pangeran Kuda Permati.
Demikianlah, pada saatnya, maka pertapa itu telah berangkat ke Kota Raja bersama pututnya. Tetapi mereka tidak akan pergi ke rumah Ki Sadmaya. Mereka akan berada di tempat yang tersembunyi sebagaimana sudah mereka tentukan pada saat mereka berada di Kota Raja cukup lama sambil mengobati Pangeran Lembu Sabdata.
Ternyata semuanya berjalan sebagaimana mereka rencanakan. Kedua orang itu berada di sebuah padang perdu yang terbuka di luar Kota Raja. Namun dari tempat mereka bersembunyi mereka dapat mencapai tujuan untuk waktu yang tidak terlalu lama.
Namun demikian pada hari-hari pertama, mereka pun telah menyiapkan sebuah persembunyian di dalam Kota Raja. Mereka telah menemukan sebuah bangunan lama yang rusak dan tidak terpelihara, sehingga mereka dapat mempergunakan bangunan itu sebagai tempat bersembunyi dalam keadaan memaksa, jika mereka tidak sempat meloncati dinding dan keluar ke padang perdu.
Dengan cermat keduanya mempersiapkan segala sesuatunya yang mereka perlukan. Termasuk bekal makanan dan air minum karena segala kemungkinan dapat terjadi.
Setelah semua persiapan mereka selesaikan dengan baik, maka mulailah keduanya menyelidiki sasaran.
Ternyata Pangeran Lembu Sabdata masih berada di tempatnya semula. Pangeran itu tidak dipindahkan ke tempat lain. Penjagaan pun tidak lagi dilakukan terlalu ketat, karena sikap Pangeran Lembu Sabdata yang semakin meyakinkan, bahwa ia sudah pasrah sebulat-bulatnya.
Pada malam hari dengan diam-diam pertapa itu melihat-lihat suasana. Bagaimana mereka akan dapat membawa Pangeran Lembu Sabdata itu keluar dari lingkungannya.
Dari tempat yang gelap, Ki Ajar dan muridnya mengamati keadaan dengan saksama. Mereka memperhatikan di mana para peronda itu berada. Kapan diantara mereka akan berkeliling di seputar bilik tahanan itu. Berapa orang dan apakah mereka siap dengan senjata mereka.
Ternyata semuanya tidak berubah seperti yang pernah mereka kenal sebelumnya. Pada saat pertapa itu mengobati Pangeran Lembu Sabdata, maka keadaan itu telah dipelajari dengan saksama.
“Semuanya masih seperti sediakala,” desis Ki Ajar.
“Ya guru,” jawab muridnya, “Menurut pendapatku, kita akan dapat segera mulai.”
“Besok kita akan mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Malam ini kita akan berada di bangunan yang rusak itu, agar kita tidak terlalu letih keluar masuk kota. Bukankah kita sudah menyediakan bekal di tempat itu?” bertanya Ki Ajar.
“Sudah guru. Semuanya sudah tersedia,” jawab Putut itu.
Demikianlah, maka hari-hari yang menegangkan itu akan segera sampai ke puncaknya. Di malam berikutnya, pertapa itu benar-benar berniat untuk mengambil Pangeran Lembu Sabdata dari tempatnya. Pertapa itu berharap usahanya akan berhasil karena para petugas agaknya benar-benar sudah menjadi lengah.
Pada hari yang berikutnya, pertapa dan muridnya berada di rumah yang rusak itu, sejak semalam. Mereka mencoba untuk beristirahat, mengurangi ketegangan yang rasa-rasanya telah mencengkam jantung mereka.
Hampir sehari-harian keduanya duduk sambil berbincang. Kemudian berbaring dan tidur dengan nyenyak. Mereka benar-benar melepaskan segala macam ketegangan yang akan dapat membuat mereka menjadi ragu-ragu untuk bertindak.
Baru ketika matahari mulai turun sampai ke batas dataran edarnya, maka kedua orang itu mulai bersiap-siap. Langit semakin lama menjadi semakin suram. Dan sebentar kemudian maka bintang-bintang pun mulai bergayutan di lembaran yang biru kehitaman.
“Apakah kau sudah siap?” bertanya pertapa itu kepada muridnya.
“Sudah guru,” jawab muridnya.
“Lahir dan batin?” bertanya gurunya pula.
“Ya guru. Lahir dan batin,” jawab muridnya pula.
“Kau sudah makan?” tiba-tiba saja gurunya memberikan pertanyaan yang tidak diduga.
Dengan ragu-ragu muridnya menjawab, “Sudah guru. Bekal yang kita sediakan masih cukup.”
Gurunya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita berangkat sekarang, untuk melakukan satu tugas yang sangat penting. Satu tugas yang akan menyangkut sejarah kehidupan Kediri dan Singasari. Jika kita berhasil, meskipun nama kita tidak pernah disebut-sebut oleh sejarah, tetapi kitalah yang sebenarnya memegang peranan dalam perubahan-perubahan yang akan terjadi. Tetapi kau jangan menjadi sakit hati karenanya, jika kelak orang yang disebut pahlawan dari orang-orang Kediri sejati bukan namamu dan namaku.”
Putut itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya guru. Aku mengerti. Tetapi sebenarnyalah bahwa yang penting bagiku adalah tercapainya satu keinginan yang luhur. Siapapun yang akan disebut sebagai pahlawannya.”
“Bagus,” sahut pertapa itu. “Jika demikian kita memang dapat mulai sekarang.”
“Ya guru. Aku sudah siap,” jawab muridnya.
Demikianlah keduanya kemudian meninggalkan bangunan tua yang telah rusak itu. Mereka memasuki malam yang semakin gelap menuju ke lingkungan istana Kediri. Mereka sudah bertekad untuk melepaskan Pangeran Lembu Sabdata yang akan mereka siapkan untuk merubah kedudukan Kediri terutama di hadapan Singasari.
Dengan hati-hati kedua orang itu merayap di sepanjang dinding-dinding halaman menuju ke sasaran.
Dalam perjalanan, murid pertapa itu pun sudah benar-benar mempersiapkan diri. Ia sudah mempersiapkan jenis-jenis senjata kecilnya. Ia membawa paser-paser kecil yang disimpan di dalam kantung-kantung ikat pinggangnya melingkari lambungnya. Sementara itu dalam pertempuran yang keras. Putut itu sudah menyiapkan senjatanya yang sangat dibanggakannya. Sebilah keris yang besar yang diletakkannya di punggungnya. Setiap saat diperlukan, maka senjata-senjata itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Berapa pun lawan yang akan dihadapinya, maka paser-paser kecilnya akan dapat membantunya.
“Tetapi mungkin Pangeran Lembu Sabdata sendiri sudah tidak mempunyai keinginan untuk berbuat sesuatu,” berkata Putut itu di dalam hatinya, sehingga ia tidak dapat berharap bahwa dalam usaha, melarikan diri. Pangeran Lembu Sabdata akan berusaha untuk melindungi dirinya sendiri jika terjadi benturan kekerasan.
Semakin lama mereka menjadi semakin mendekati sasaran. Bilik yang dipergunakan untuk menahan Pangeran Lembu Sabdata memang berada di tempat yang sulit untuk dicapai. Meskipun tidak berada di lingkungan istana, tetapi letaknya tidak terlalu jauh. Dalam satu lingkungan yang memang disediakan untuk menahan dan mengurung keluarga istana yang melakukan kesalahan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di sekitar lingkungan tersebut. Satu lingkungan yang dibatasi oleh dinding yang cukup tinggi.
“Kita menunggu kesempatan,” berkata pertapa itu.
Untuk beberapa saat keduanya duduk di dalam kegelapan mengawasi lingkungan yang akan mereka masuki.
“Peronda,” desis putut itu.
Pertapa itu mengangguk kecil. Katanya, “Peronda itu dalam saat-saat tertentu mengelilingi lingkungan yang dibatasi oleh dinding itu.”
“Ya. Mereka akan berhenti di muka gardu dan kemudian duduk-duduk diantara para petugas yang lain,” jawab putut itu.
“Kau masih mengingat semuanya. Namun, jalan manakah yang paling baik kita lalui?” bertanya pertapa itu.
“Mereka akan meronda lagi mengelilingi tempat itu. Namun kita akan sempat meloncat dari sudut di dekat pohon mulwa itu. Jika kita melompat di sudut itu, maka kita akan berada di dekat sumur. Aku pernah mengambil air di sumur itu dan memperhatikan sudut dinding itu dengan saksama. Di sebelah sumur itu ada sebuah bangunan kecil. Tempat untuk menyimpan makanan kuda. Rumput dan kulit padi,” berkata Putut itu.
“Baiklah. Kita akan masuk dengan meloncati dinding di sudut itu,“ berkata gurunya.
Ki Ajar itu pun kemudian mempersiapkan diri. Tetapi ia tidak segera beranjak dari tempatnya sehingga muridnya itu pun menjadi heran. Bahkan kemudian bertanya, “Marilah guru, selagi peronda itu baru saja lewat.”
“Kau kira sebentar lagi mereka akan lewat?” bertanya gurunya.
“Ya. Dalam saat-saat tertentu mereka meronda mengelilingi dinding itu, “Jawab muridnya.
“Ya. Karena itu, maka kita harus berusaha agar mereka tidak lagi mengelilingi dinding itu,” jawab gurunya.
“Maksud guru?” bertanya putut itu.
“Apakah kau tidak mengerti?” gurunya justru bertanya.
Muridnya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Gumamnya, “Apakah guru akan mengetrapkannya?”
Gurunya tersenyum sambil menjawab, “Ya. Aku akan mengetrapkannya. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku ingin usahaku berhasil sepenuhnya. Tanpa banyak mengalami kesulitan.”
Muridnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian maksud guru, maka terserahlah.”
“Apakah kau tidak sependapat,” bertanya gurunya.
“Tentu saja aku sependapat guru. Semakin mudah tugas ini kita selesaikan, tentu semakin baik,” jawab putut itu.
“Baiklah. Aku akan mengetrapkannya. Dengan sirep yang kuat maka semua petugas tentu akan tertidur nyenyak, jika ada satu atau dua orang yang terlepas dari pengaruh sirep itu. maka kita memang harus bertempur. Tetapi lawan kita tidak akan terlalu banyak.”
Putut itu mengangguk angguk. Desisnya, “Jika ada yang terlepas dari sirep itu, apakah mereka tidak akan mengenali kita lagi?”
“Memang mungkin. Karena itu, kita harus dapat menyamar diri. Jika tidak terpaksa sekali, kita tidak akan menunjukkan diri bahwa kita datang berdua. Jika mereka melihat kita datang berdua, maka mereka tentu akan menghubungkan jumlah itu dengan kehadiran kita beberapa saat yang lampau, saat kita mengobati Pangeran Lembu Sabdata,” berkata gurunya.
Agaknya putut itu masih agak kurang jelas maksud gurunya karena itu, maka iapun bertanya, “Apakah kita hanya boleh masuk seorang-seorang saja?”
“Tentu tidak. Tetapi jika ada orang, yang lepas dari sirep, maka mereka tidak boleh melihat bahwa kita berdua,” jawab gurunya, “Karena itu, maka seorang diantara kita akan menyembunyikan diri.”
Muridnya mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya lagi.
Sejenak kemudian, maka gurunya itu pun duduk dengan kaki dan tangan bersilang. Ia ingin menempuh jalan yang paling aman. Karena itu, maka iapun segera memusatkan nalar dan budinya, untuk membangunkan ilmu sirep yang akan dapat membuat semua orang di dalam lingkungan sasarannya menjadi tertidur nyenyak.
“Bantu aku,” desis Ki Ajar itu.
Muridnya pun telah mempelajari ilmu itu pula meskipun belum sempurna sebagaimana gurunya. Namun dengan kemampuan yang ada, maka ia akan dapat membantu mempertajam sirep yang dilontarkan oleh gurunya.
Karena itu maka kedua orang itu pun telah memusatkan ilmunya dan melontarkannya ke sasaran, satu lingkungan yang menjadi tempat menahan orang-orang yang bersalah dari lingkungan keluarga istana.
Demikianlah maka sejenak kemudian, maka ilmu itu pun mulai menebar diatas sasaran Udara yang tidak nampak oleh mata wadag rasa-rasanya telah berubah. Seakan-akan telah ditaburkan serbuk yang langsung mempengaruhi pernafasannya mereka sehingga orang-orang yang ada di dalam lingkungan itu pun telah menjadi mengantuk semuanya.
Tidak seorang pun yang berusaha menahan diri dari cengkeraman perasaan kantuknya. Ternyata malam itu tidak seorang pun yang cukup kuat untuk mengatasi kekuatan sirep yang menerkam seluruh lingkungan itu.
Beberapa saat lamanya Ki ajar dan muridnya masih dalam pemusatan nalar dan budi. Mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka, karena taruhan dari kerja mereka saat itu terlalu besar. Pangeran Lembu Sabdata. Karena itu maka mereka tidak mau gagal.
Setelah melepaskan ilmu mereka, maka untuk beberapa saat keduanya menunggu. Baru kemudian mereka mulai bergerak. Meskipun menurut perhitungan mereka, orang-orang yang bertugas di tempat itu sudah tertidur nyenyak, namun mereka tidak meninggalkan kewaspadaan, karena menurut dugaan mereka mungkin satu dua orang mampu mengatasi kekuatan sirep itu.
Dengan hati-hati keduanya pun kemudian meloncati sudut dinding. Dengan demikian, mereka turun di bagian dalam dinding itu di dekat sumur.
Seperti yang dikatakan oleh pututnya, maka Ki Ajar itu pun melihat sebuah rumah kecil tempat menyimpan makanan kuda, sementara kandang kuda itu sendiri terletak beberapa puluh langkah dari tempat itu.
“Marilah,” berkata Ki Ajar, “tetapi ingat, jika ada diantara para petugas dapat membebaskan diri, maka kita hanya boleh terlihat olehnya salah seorang saja.”
“Baiklah guru. Jika demikian, aku akan mengambil jarak dari guru,” berkata putut itu.
Gurunya tidak menjawab. Tetapi dibiarkannya muridnya itu bergeser mengambil jarak. Sementara itu, Ki Ajar sendiri telah pergi langsung menuju ke bilik tempat Pangeran Lembu Sabdata itu dikurung.
Ternyata bahwa sirep itu sendiri telah berpengaruh pula terhadap Pangeran Lembu Sabdata, sehingga Pangeran Lembu Sabdata pun telah tertidur dengan nyenyaknya.
Untuk beberapa saat lamanya Ki Ajar itu berdiri termangu-mangu di depan bilik Pangeran Lembu Sabdata. Bilik yang sangat kuat dan dijaga oleh beberapa orang prajurit. Namun malam itu, para prajurit itu terbaring diam karena mereka telah tertidur nyenyak.
Seorang prajurit tersandar pada dinding kayu dengan mata terpejam.
Demikian kuatnya sirep yang dilontarkan oleh Ki Ajar bersama murid-muridnya, maka para prajurit yang tertidur itu seakan-akan bagaikan telah mati.
Demikian pula dengan Pangeran Lembu Sabdata.
Ki Ajar yang berdiri di depan bilik itu pun masih termangu-mangu. Dipandanginya Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur nyenyak. Ada beberapa bagian dari dinding kayu yang diikat rapat itu agak renggang untuk memasukkan udara dan cahaya. Agaknya di tempat itu ia akan dapat dicari kemungkinan, merusak dinding dengan cara yang paling baik.
“Aku tidak akan mempergunakan kekerasan,” berkata Ki Ajar, ”Kesannya harus lain dari sekedar mendorong dinding hingga roboh.”
Akhirnya Ki Ajar itu telah mengambil sebilah pisau belati yang tajam. Dengan pisau belati itu, Ki Ajar telah memotong tali-tali pengikat dinding kayu. Tali yang kuat dan beranyam itu ternyata tidak terlalu mudah untuk diputuskan.
Namun karena tidak seorang pun yang menghalangi pekerjaan itu, maka meskipun agak lama, Ki Ajar berhasil membuka beberapa batang kayu pada dinding itu.
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Dinding yang terbuka itu telah cukup memberikan jalan kepadanya untuk memasuki bilik tahanan itu dan mendapatkan Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur nyenyak.
Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, Ki Ajar telah membangunkan Pangeran Lembu Sabdata dengan memijat pada bagian tubuhnya yang sangat peka, dibawah telinga sebelah kiri.
Pangeran Lembu Sabdata yang sedang tertidur nyenyak itu ternyata terpengaruh juga oleh sentuhan tangan Ki Ajar, perlahan-lahan Pangeran Lembu Sabdata itu membuka matanya.
Ketika ia kemudian sadar sepenuhnya, dan dilihatnya Ki Ajar berada di dalam bilik itu, maka iapun segera bangkit dan duduk di bibir amben pembaringannya.
“Pangeran,” berkata Ki Ajar, ”Apakah Pangeran mengerti maksud kedatanganku?”
Pangeran Lembu Sabdata mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa batang kayu dari dinding biliknya itu telah terbuka, karena tali temalinya telah terputus.
Karena itu, Pangeran Lembu Sabdata yang memang sudah berada dibawah pengaruh pribadi Ki Ajar itu setelah ia mendapat pengobatan, segera menjawab, “Aku mengerti Ki Ajar. Ki Ajar ingin membawa aku keluar dari tempat ini.”
“Bagus,” berkata Ki Ajar, “marilah. Waktunya sudah tiba. Pangeran harus keluar dari tempat ini. Perjuangan Pangeran masih panjang. Umur Pangeran masih cukup muda untuk menyongsong masa depan yang baik bagi Kediri.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk kecil. Jawabnya dengan nada datar, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Ajar.”
“Baiklah Pangeran,” berkata Ki Ajar, ”Marilah. Kita keluar dari tempat ini.”
Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak menjawab. Ketika Ki Ajar membimbingnya, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun hanya mengikutinya saja. Mereka menyusup diantara dinding kayu yang dipecahkan oleh Ki Ajar. Tidak dengan bantuan ilmunya yang luar biasa, tetapi dengan memotong tali-tali pengikatnya meskipun dengan demikian, waktunya menjadi bertambah panjang.
Tetapi Ki Ajar tidak menjadi cemas, bahwa para prajurit yang menjaga tempat itu akan segera terbangun. Sirep yang dilontarkan bersama muridnya adalah sirep yang sangat kuat. Jika tidak ada kekuatan lain yang mempengaruhinya, maka menjelang pagi para prajurit itu tentu baru akan bangun.
Sejenak kemudian, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah melangkah keluar dari dalam biliknya lewat beberapa batang kayu yang telah dilepas dari ikatannya.
PANGERAN Lembu Sabdata melihat dua orang tertidur di dekat pintu biliknya. Di ujung ruangan di depan biliknya, ia melihat prajurit yang lain tertidur sangat nyenyak diatas tikar yang sudah terbentang. Tombaknya terletak di sisinya, sementara seorang yang lain tidur sambil tersandar dinding.
Pangeran Lembu Sabdata itu mengetahui, betapa kuatnya sirep yang mencengkam tempat itu. Ia sendiri sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, selain perasaan kantuk yang mencengkam kemudian tertidur nyenyak, sampai saatnya Ki Ajar itu membangunkannya.
Dengan hati-hati kedua orang itu meninggalkan barak khusus itu. Di gardu kecil tiga orang juga sedang tertidur nyenyak pula. Bahkan dua orang yang sedang mengelilingi halaman di bagian dalam lingkungan itu telah tertidur pula bersandar sebatang pohon di halaman.
Karena itu, Ki Ajar dan Pangeran Lembu Sabdata berjalan saja sebagaimana mereka berjalan dalam keadaan bebas di jalan-jalan raya.
Putut yang memisahkan diri dari Ki Ajar itu melihat keduanya melintasi halaman samping menuju ke sumur dari mana mereka masuk. Karena itu, maka iapun telah bergeser pula mendekati sudut dinding halaman itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Ajar dan Pangeran Lembu Sabdata telah meloncati dinding itu. Demikian pula murid Ki Ajar itu pun telah menyusulnya pula.
“Ki Ajar tidak sendiri?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
“Tidak Pangeran. Aku datang berdua dengan muridku, sebagaimana saat aku mengobati Pangeran beberapa waktu yang lalu di tempat ini pula,” jawab Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia sudah mengenal Putut itu pada saat Ki Ajar mengobatinya. Karena itu, maka ia tidak bertanya lagi tentang Putut itu.
Demikianlah, malam itu ketiga orang itu telah berusaha keluar dari dinding kota. Mereka tidak boleh terkurung di dalam Kota Raja. Jika akhirnya diketahui bahwa Pangeran Lembu Sabdata sudah tidak ada di dalam biliknya, maka para prajurit tentu akan mencarinya di seluruh Kota Raja.
Tetapi menurut perhitungan Ki Ajar, maka baru menjelang dini hari orang-orang yang terbius oleh ilmu sirepnya itu akan terbangun dan menyadari apa yang telah terjadi. Sementara itu, mereka bertiga telah jauh dari Kota Raja dan tidak lagi dapat diikuti jejak perjalanan mereka. Karena itu, menurut perhitungan Ki Ajar, maka prajurit-prajurit Kediri tidak akan dapat lagi menyusul mereka, apalagi Ki Ajar pun kemudian telah memilih jalan-jalan sempit dan yang jarang sekali dilalui orang.
Namun karena ketiga orang itu memiliki kemampuan melampaui kebanyakan orang, maka perjalanan yang bagaimanapun beratnya dapat mereka tempuh dengan rancak dan seakan-akan tidak terjadi hambatan apapun juga.
Mereka telah meninggalkan Kota Raja dengan meloncati dinding tanpa kesulitan. Kemudian menyusuri jalan kecil menjauhi dinding Kota Raja. Mereka melintasi sebuah sungai kecil dan naik ke tebing memasuki jalan bulak yang sempit. Selanjutnya, mereka memilih jalan yang tidak akan mungkin ditelusuri oleh para prajurit Kediri apabila mereka mengetahui bahwa bilik tahanan Pangeran Lembu Sabdata telah kosong.
Sementara itu, para pengawal yang ditinggalkan dalam keadaan tertidur nyenyak, masih juga tertidur di tempatnya. Satu dua orang mulai menggeliat. Tetapi mereka kembali lagi tertidur sambil mendengkur. Senjata-senjata mereka pun telah terlepas dari tangan. Tombak-tombak tersandar di dinding, sedangkan yang tertidur di halaman, tombak-tombak mereka justru terletak di tanah.
Agaknya mereka memang masih belum akan terbangun. Kekuatan sirep yang mencengkam mereka memang terlalu kuat untuk dapat mereka lawan.
Namun dalam pada itu, di istananya Pangeran Singa Narpada justru merasa gelisah. Ia tidak dapat tidur nyenyak. Setiap kali ia terbangun dan bahkan seakan-akan terdengar suara memanggil-manggilnya.
Ketajaman penggraita Pangeran Singa Narpada telah memaksanya untuk bangkit. Kegelisahannya itu telah memberikan berbagai macam dugaan. Namun yang sangat menggelisahkannya kemudian adalah justru Pangeran Lembu Sabdata.
Pangeran Singa Narpada berusaha untuk menyingkirkan dugaannya yang bukan-bukan. Ia percaya bahwa Pangeran Lembu Sabdata memang sudah berubah. Apalagi penjagaan di sekitar tempat tahanannya terlalu kuat untuk dapat ditembusnya, meskipun Pangeran Lembu Sabdata memiliki kelebihan. Tetapi menurut pengenalan Pangeran Singa Narpada. kemampuan Pangeran Lembu Sabdata masih belum nggegirisi sehingga masih akan dapat dikuasai oleh sekelompok prajurit yang bertugas. Bahkan seandainya terdapat kesulitan, maka para prajurit itu tentu akan memberikan isyarat dengan kentongan.
Namun demikian Pangeran Singa Narpada tidak berhasil mengekang perasaannya. Karena itu, maka iapun kemudian turun ke halaman. Diperintahkannya beberapa orang pengawalnya untuk bersiap. Kemudian berkuda mereka telah pergi ke tempat Pangeran Lembu Sabdata ditahan.
Ketika mereka memasuki lingkungan itu, maka betapa terkejutnya Pangeran Singa Narpada. Sejak ia berada di pintu gerbang, dan mengetuk pintu yang tertutup tanpa ada seorang pun yang menyahut, jantungnya terasa berdebar semakin keras.
Beberapa kali Pangeran Singa Narpada mengetuk pintu gerbang. Namun tidak seorang pun yang menyahut membuka pintu. Bahkan suasana yang terasa menyentuh perasaannya, membuatnya semakin berdebar-debar.
“Sesuatu telah terjadi,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Ya Pangeran,” jawab pengawalnya, “Tentu sesuatu telah terjadi. Aku merasakan satu pengaruh yang asing.”
“Apakah kau merasa mengantuk?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya Pangeran. Rasa-rasanya udara terlalu segar, sehingga mata pun rasa-rasanya ingin terkatub,” berkata pengawalnya itu.
Jantung Pangeran Singa Narpada berdegup semakin cepat. Karena itu, iapun menjadi gelisah dan tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Dengan lantang ia memerintahkan semua pengawalnya, katanya, “bertahanlah terhadap pengaruh asing ini. Ada yang tidak wajar. Siapa yang tidak mampu mempertahankan kesadarannya, maka ia akan ketinggalan. Mungkin satu bencana akan menerkam kalian.”
Tidak ada yang menyahut. Namun para pengawal itu mendapat kesempatan untuk mempertahankan diri. Karena itu, maka mereka tidak segera terpengaruh dan jatuh tertidur. Apalagi sumber pengaruh itu telah pergi, dan pengaruh sirep itu perlahan-lahan telah susut.
Namun Pengeran Singa Narpada yang menjadi gelisah itu tidak dapat menahan diri lagi. Ia tidak lagi mengetuk pintu gerbang itu perlahan-lahan. Tetapi iapun kemudian telah melangkah beberapa langkah mundur.
Para pengawalnya yang telah mengenal watak dan sifat Pangeran Singa Narpada itu pun telah menyibak. Mereka tahu, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada yang marah itu.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian Pangeran Singa Narpada itu telah meloncat maju, kemudian tubuhnya berputar menyamping. Dengan loncatan panjang, tubuhnya menjadi bagaikan datar dengan tanah dengan kaki meluncur ke arah pintu gerbang itu.
Satu benturan yang sangat kuat telah terjadi. Pintu gerbang yang kuat itu tiba-tiba saja telah pecah oleh kekuatan kaki Pangeran Singa Narpada. Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak sekedar mempergunakan tenaga wajar. Tetapi ia sudah mengetrapkan ilmunya, sehingga dengan demikian, maka pintu gerbang yang kuat itu telah dipecahkannya.
Dengan tidak sabar lagi, maka Pangeran Singa Narpada dan para pengawalnya itu pun segera berloncatan memasuki pintu gerbang. Namun yang kemudian mereka lihat benar-benar telah membuat jantung Pangeran Singa Narpada bagaikan berhenti.
Meskipun derak pintu yang pecah itu hampir memecahkan pula selaput telinga, namun beberapa orang pengawal pintu gerbang itu telah tertidur dengan nyenyaknya di gardu mereka.
“Gila,“ geram Pangeran Singa Narpada. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang tertidur itu. Tetapi iapun langsung berlari menuju ke bilik tahanan Pangeran Lembu Sabdata.
Meskipun di lingkungan itu ada pula beberapa orang bangsawan yang ditahan dalam persoalan yang berbeda-beda, namun yang terpenting bagi Pangeran Singa Narpada Lembu Sabdata, yang ditahan karena telah memberontak terhadap Kediri dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati.
Sebenarnyalah, kemarahan Pangeran Singa Narpada hampir saja memecahkan dadanya. Ternyata bahwa bilik kurungan Pangeran Lembu Sabdata telah terbuka. Beberapa batang kayu yang kokoh telah terlepas dari ikatannya, sementara beberapa orang penjaga tertidur dengan nyenyaknya.
“Gila, gila!” teriak Pangeran Singa Narpada. Tetapi yang mendengar suaranya hanyalah para pengawalnya.
Dalam ketegangan itu, serta kesadaran akan pengaruh sirep maka para pengawal Pangeran Singa Narpada berhasil bertahan. Mereka dapat mengesampingkan perasaan kantuk yang sebenarnya juga meraba perasaan mereka.
Namun dalam pada itu, satu kenyataan telah terjadi. Pangeran Lembu Sabdata telah terlepas dari bilik tahanannya.
Kemarahan Pangeran Singa Narpada tidak tertahankan lagi ketika ia menjumpai bilik itu benar-benar telah kosong. Dengan kekuatan ilmu yang luar biasa, maka Pangeran Singa Narpada telah menghantam dinding bilik itu hingga pecah berantakan. Meskipun tali-talinya cukup kuat dan anyaman yang rapat, namun ternyata bahwa dinding bilik itu dalam sejenak telah berserakan.
Tetapi sebenarnyalah, bahwa Pangeran Lembu Sabdata memang sudah tidak ada didalamnya.
Dengan suara lantang Pangeran Singa Narpada kemudian berteriak, “Cari di seluruh halaman ini, sementara itu yang lain supaya membunyikan tanda bahaya.”
Perintah itu tidak perlu diulang. Sejenak kemudian semua pengawal Pangeran Singa Narpada telah tersebar di seluruh halaman, sementara seorang diantara mereka telah membunyikan kentongan dengan nada titir.
Suara kentongan itu segera terdengar oleh para peronda diluar lingkungan itu. Dengan serta merta mereka telah menyambut isyarat itu dan menyambungnya. Dengan demikian maka sejenak kemudian suara kentongan itu telah menjalar ke seluruh Kota Raja. Bahkan padukuhan-padukuhan di perbatasan pun telah ikut membunyikan tanda bahaya itu pula.
Seluruh kota menjadi sibuk. Para prajurit berkeliaran hilir mudik. Namun ada diantara mereka yang dengan serta merta sekedar mengamati keadaan sebelum mereka tahu pasti apa yang telah terjadi. Namun dengan demikian mereka akan dapat mencegah hal-hal yang tidak diharapkan.
Baru beberapa saat kemudian, persoalannya menjadi jelas. Pangeran Lembu Sabdata, salah seorang terpenting dari para pengikut Pangeran Kuda Permati telah terlepas dari tahanannya. Mungkin melarikan diri, tetapi mungkin ada orang lain yang membantunya.
Ternyata kekuatan sirep yang mencengkam para pengawal Pangeran Lembu Sabdata cukup kuat. Baru beberapa saat kemudian, para pengawal itu berhasil dibangunkan.
Dengan tergesa-gesa Pangeran Singa Narpada telah memanggil pemimpin pengawal yang saat itu bertugas. Dengan wajah yang memancarkan kemarahan tiada terhingga, Pangeran Singa Narpada minta pertanggungan jawab pemimpin pengawal itu.
Tetapi tidak ada sesuatu yang dapat dikatakan oleh pemimpin pengawal itu kecuali pasrah.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja kami telah digulung oleh perasaan kantuk yang tidak terlawan,” jawab pemimpin pengawal itu.
“Itu suatu bukti bahwa kalian secara jiwani tidak bersiap. Jika kalian bersiap, maka tidak akan terjadi, bahwa semua orang di dalam lingkungan ini tertidur.” Bentak Pangeran Singa Narpada.
“Ya Pangeran,” jawab pemimpin pengawal itu. Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat mengelakkan tanggung jawab, bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah terlepas.
Namun dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada telah memastikan satu kesimpulan bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak dapat berbuat sendiri. Tentu ada pihak lain yang telah membantunya untuk melepaskan diri.
Sementara itu, di seluruh Kota Raja telah diadakan pengamatan yang saksama. Seolah-olah para prajurit telah memasuki semua pintu rumah. Dengan garang prajurit berusaha untuk menemukan seorang yang telah melarikan diri dari bilik kurungannya. Dan orang yang melarikan diri itu adalah Pangeran Lembu Sabdata.
Malam itu Kediri benar-benar menjadi gempar. Prajurit berkuda hilir-mudik di jalan-jalan raya. Setiap sudut Kota telah diawasi oleh pasukan khusus sementara yang lain memasuki setiap halaman.
Malam itu juga Pangeran Singa Narpada telah menghadap Sri Baginda. Dengan cemas Pangeran Singa Narpada melaporkan yang telah terjadi.
Sri Baginda untuk beberapa saat termenung dengan pandangan mata yang sayu. Sebenarnya ia sudah memikirkan, kapan Lembu Sabdata dapat dilepaskan. Namun yang terjadi ternyata telah membuat jantungnya berdebar-debar.
Yang terbayang oleh Sri Baginda adalah peperangan sebagaimana telah terjadi. Kematian yang tidak terbendung. Permusuhan dan dendam. Jika Pangeran Lembu Sabdata membakar dendam di hati orang-orang yang menjadi korban dalam perang yang baru lalu, maka segalanya itu akan terulang kembali.
Sri Baginda itu menarik nafas dalam-dalam. Juga terbayang, betapa puteri Purnadewi telah mengorbankan cintanya, mengorbankan yang paling berharga dalam hidupnya untuk mengakhiri perang yang menelan korban tiada terhitung jumlahnya.
“Apakah semuanya itu akan terulang kembali?” bertanya Sri Baginda di dalam hatinya.
Namun kemudian katanya kepada Pangeran Singa Narpada, “Terserahlah kepadamu. Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Namun aku ingin pertumpahan darah dapat dicegah. Setidak-tidaknya dapat dikekang sehingga Kediri tidak akan menjadi semakin surut karenanya. Apalagi jika Singasari menganggap perlu untuk ikut memecahkan persoalan ini.”
Pangeran Singa Narpada mengerti sepenuhnya, betapa perasaan Sri Baginda. Namun Pangeran Singa Narpada tidak dapat berbuat lain, kecuali menyelamatkan Kediri.
Malam itu para prajurit tidak dapat menemukan Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun semua pintu gerbang ditutup dan dinding Kota Raja diawasi dari sudut sampai ke sudut, namun tidak seorang pun yang dapat memberikan jawaban, bagaimana dengan Pangeran Lembu Sabdata.
Karena itu, yang dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada adalah perintah yang disampaikan kepada semua Senapati di daerah perbatasan untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dan berusaha untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata yang telah melarikan diri.
Sebagaimana Pangeran Singa Narpada, maka Panji Sempana Murti pun menjadi geram. Seperti Pangeran Singa Narpada pula, iapun telah jemu melihat darah putera-putera Kediri tertumpah. Tetapi seperti juga Pangeran Singa Narpada ia tidak akan dapat membenarkan semua bentuk pengkhianatan dan pemberontakan terhadap Kediri.
Dalam pada itu, selain usaha langsung untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata, maka Pangeran Singa Narpada pun telah berbicara dengan beberapa orang pembantunya yang terpenting untuk melihat kemungkinan-kemungkinan, siapakah yang telah membantu Pangeran Lembu Sabdata keluar dari bilik tahanannya.
Sementara itu, selagi Kota Raja dan daerah di sekelilingnya terjadi keributan, maka Pangeran Lembu Sabdata sudah menjadi semakin jauh. Bersama Ki Ajar dan muridnya, mereka melintasi jalan-jalan sempit, bulak-bulak panjang, menyeberangi sungai dan menuruni tebing-tebing bukit.
“Kita tidak perlu cemas lagi Pangeran,” berkata Ki Ajar. ”Kita sudah berada di tempat yang cukup jauh. Tidak akan ada usaha menyusul kita melalui jalan ini.”
Sebenarnyalah tidak ada prajurit yang mengikuti jejak Pangeran Lembu Sabdata lewat jalan yang benar. Mereka memang menyebar prajurit berkuda ke seluruh arah. Tetapi mereka tidak pernah memikirkan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah melarikan diri melalui jalan-jalan sempit yang jarang dilalui orang. Seandainya ada beberapa prajurit yang berpikir demikian, namun jalan yang demikian itu jumlahnya sangat banyak.
Karena itu, maka sangat sulitlah bagi para prajurit Kediri untuk dapat melacak kemana Pangeran Lembu Sabdata itu pergi.
Tetapi bahwa di hari pertama para prajurit tidak dapat menemukan Pangeran Lembu Sabdata, bukan berarti bahwa mereka tidak akan berusaha mencarinya. Dengan sungguh-sungguh para pemimpin Kediri berbicara diantara mereka, kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan Pangeran Lembu Sabdata.
Ketika para pemimpin di Kediri masih sibuk menebak-nebak, apa yang telah terjadi dengan Pangeran Lembu Sabdata, maka Pangeran Lembu Sabdata bersama Ki Ajar yang telah menyembuhkannya sekaligus mempengaruhi pribadinya, diikuti oleh seorang muridnya menuju ke sebuah tempat yang terpencil. Tidak di padepokan Ki Ajar, tetapi ke tempat yang memang khusus dibangun oleh Ki Ajar bagi tempat yang akan dihuni oleh Pangeran Lembu Sabdata.
“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “untuk beberapa saat lamanya Pangeran harus mengasingkan diri. Mungkin untuk sementara Pangeran tidak akan berhubungan dengan siapapun, kecuali aku dan pututku yang sekali-sekali akan datang mengunjungi Pangeran.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak mempunyai sikap menghadapi tawaran itu. Seakan-akan ia berada dibawah perintah Ki Ajar tanpa dapat membuat pertimbangan-pertimbangan.
Ketika malam datang, maka ketiga orang itu telah bermalam di sebuah padang rumput. Di malam hari titik-titik embun membuat udara menjadi semakin dingin. Namun bagai para pejalan itu, pengaruh udara sama sekali tidak terasa mengganggu.
Baru di hari berikutnya mereka melanjutkan perjalanan dan memasuki sebuah padang perdu.
“Kami sudah menyiapkan sebuah gubug kecil Pangeran. Kami mohon Pangeran bersedia tinggal di gubug itu untuk waktu yang tidak terbatas. Di gubug itu Pangeran akan menempa diri untuk menghadapi tugas yang sangat berat,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk. Jawabnya, “Apakah yang harus aku lakukan, akan aku lakukan. Sekalipun aku harus melalui laku yang sangat berat. Asal aku masih dapat berpengharapan bahwa putera-putera Kediri sejati akan berhasil.”
“Kami akan bersama-sama berharap,” berkata Ki Ajar. Lalu, “Semuanya itu kami lakukan untuk mengatasi kecerdikan Pangeran Singa Narpada. Karena itu, aku dan muridku akan berada di padepokan sampai saatnya Pangeran Singa Narpada mencari Pangeran ke padepokanku. Tetapi jika mereka tidak menemukan Pangeran di padepokanku, maka mereka tentu akan mengambil kesimpulan lain.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Tetapi kakangmas Pangeran Singa Narpada adalah orang yang cerdik dan keras. Mungkin kakangmas Singa Narpada akan dapat memaksa Ki Ajar untuk berbicara dengan caranya.”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan berusaha untuk bertahan. Aku sudah tua. Seandainya aku harus mati, maka aku tidak akan kecewa. Tetapi jika yang terjadi demikian, maka Pangeran harus menentukan langkah-langkah yang harus Pangeran ambil. Sementara itu, aku percaya bahwa muridku satu-satunya yang mengetahui tentang Pangeran, tentu akan berbuat sebagaimana aku lakukan. Ia akan mengikhlaskan jiwanya. Bukan untuk Pangeran, tetapi untuk Kediri. Namun lantaran bagi kebebasan Kediri adalah Pangeran.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa ia akan memikul beban yang sangat berat yang diletakkan oleh Ki Ajar itu diatas pundaknya. Tetapi memang tidak ada pertimbangan lain di hatinya, kecuali melakukannya dengan penuh tekad dan kemauan, sebagaimana dikehendaki oleh Ki Ajar.
Demikianlah, akhirnya mereka bertiga telah berada di sebuah gubug kecil yang benar-benar terpencil. Sebidang tanah terbentang di belakang gubug itu. Sebuah sungai kecil mengalir di sebelah sebidang tanah itu, sehingga dengan mudah tanah itu dapat diairi.
“Pangeran,” berkata Ki Ajar ketika mereka memasuki gubug yang sudah dipersiapkan itu, “pangeran akan tinggal di gubug ini. Memang jauh berbeda dengan tinggal di sebuah istana. Tetapi disini Pangeran mengemban satu tugas.”
Pangeran Lembu Sabdata memandang berkeliling. Di dalam rumah itu terdapat beberapa perabot yang sederhana. Amben untuk tidur, geledeg bambu dan dilengkapi dengan perapian, belanga dan beberapa mangkuk.
“Nah, Pangeran harus berusaha untuk dapat tetap hidup dalam keadaan seperti ini. Sebelum Pangeran berhasil memetik hasil dari tanah itu, aku menempatkan beberapa beruk beras dan jagung. Pangeran dapat memburu binatang liar untuk dibuat lauk atau bahkan untuk memperpanjang penggunaan beras dan jagung,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Namun tekad yang sudah diletakkan oleh Ki Ajar di dalam hatinya, membuatnya tidak gentar menghadapi apapun. Juga menghadapi kesepian yang panjang.
“Malam ini aku bermalam disini Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Ada beberapa pesan yang akan aku sampaikan. Tetapi besok aku harus berada di padepokan.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menentukan lain dari yang ditentukan oleh Ki Ajar. Sementara itu Ki Ajar berkata selanjutnya, “Semula aku berniat membawa Pangeran ke padepokan barang semalam, baru kemudian Pangeran akan aku sisihkan. Namun agaknya lebih aman jika aku membawa Pangeran langsung ke tempat ini. Akulah yang akan bermalam di tempat ini satu malam.”
Seperti yang dikatakan, maka Ki Ajar dan muridnya telah bermalam semalam di gubug itu. Di malam itu, Ki Ajar telah menyempurnakan pengaruhnya atas Pangeran Lembu Sabdata. Namun selain itu, Ki Ajar pun telah menentukan untuk meningkatkan ilmu Pangeran Lembu Sabdata dengan memberikan sebuah kitab yang berisi ajaran-ajaran tentang olah kanuragan.
“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Aku mempunyai sebuah kitab yang tidak terlalu besar. Aku minta Pangeran mempelajarinya selama aku masih belum sempat memberikan tuntutan langsung kepada Pangeran. Selama itu Pangeran dapat berlatih sendiri. Menentukan laku yang paling sesuai dengan sifat dan kebiasaan Pangeran. Dengan demikian, jika aku datang kelak, semua persiapan telah mapan, sehingga Pangeran akan segera melejit menjadi orang yang memiliki ilmu yang tidak ada duanya, justru akan melampaui kemampuan Pangeran Kuda Permati.”
“Aku akan melakukan yang dianggap baik oleh Ki Ajar,” berkata Pangeran Lembu Sabdata.
Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Pangeran. Yang harus Pangeran lakukan adalah dengan sungguh-sungguh mempelajari dan berlatih berdasarkan atas kitab yang akan aku serahkan kepada Pangeran, sebagai laku pendahuluan sebelum aku sendiri sempat menuntun Pangeran. Tetapi jika kemudian aku ditangkap bersama muridku, dan kemudian karena tindakan Pangeran Singa Narpada aku dan muridku tidak lagi sempat menjumpaimu, maka kitab itu adalah bekal yang paling berharga bagimu. Kau harus dapat memanfaatkannya sebaik-baiknya. Baru setelah Pangeran menguasai sepenuhnya. Pangeran dapat mulai dengan langkah-langkah berikutnya.”
“Baik Kiai,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Namun aku masih berharap bahwa Ki Ajar masih akan mempunyai kesempatan untuk menentukan di kemudian hari. Kapan pun.”
“Aku berharap demikian,” jawab Ki Ajar, “Mudah-mudahan semuanya dapat berlangsung dengan baik dan tidak ada kesulitan, juga tentang Pangeran Singa Narpada yang kita cemaskan.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk saja.
Demikianlah, maka Pangeran Lembu Sabdata mulai dengan satu kehidupan baru. Ia harus hidup sendiri untuk waktu yang tidak terbatas. Sehingga pada satu saat ia akan turun ke medan dengan kemampuan yang tidak lagi terlawan.
Malam itu, Ki Ajar benar-benar bermalam di gubug kecil itu. Di dalam kelam, ternyata gubug itu diliputi oleh gemeresaknya suara malam. Sekali-sekali terdengar aum seekor harimau di hutan di seberang sungai kecil di dekat gubug itu. Kemudian di kejauhan anjing hutan meraung menggetarkan jantung.
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak gentar mendengar suara-suara malam yang menyeramkan. Rasa-rasanya ia sudah kebal dari perasaan takut dan cemas. Ia seakan-akan merasa bahwa hidupnya itu tidak lebih dari sekedar kelebihan dari masa hidupnya yang sebenarnya setelah ia mengalami sakit ingatan.
Ternyata Ki Ajar tidak menunggu sampai matahari terbit. Ketika langit mulai diwarnai oleh cahaya fajar, Ki Ajar dan muridnya telah meninggalkan gubug itu. Sebenarnyalah Ki Ajar digelisahkan oleh perhitungan, bahwa mungkin sekali Pangeran Singa Narpada akan datang ke padepokannya.
Dengan demikian, maka sepeninggal Ki Ajar, Pangeran Lembu Sabdata benar-benar berada di dalam kesendirian. Namun ia sudah bertekad bulat untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Ki Ajar. Ia harus mempelajari isi kitab itu sampai saatnya Ki Ajar datang kepadanya untuk menyempurnakannya. Bahkan Ki Ajar telah berpesan, jika ia tidak datang lagi ke gubug itu, maka segala sesuatunya terserah kepada Pangeran gubug itu, maka segala sesuatunya terserah kepada Pangeran Lembu Sabdata.
Dalam pada itu, dengan tergesa-gesa Ki Ajar kembali ke padepokannya. Dengan kemampuannya yang tinggi, maka mereka telah berjalan dengan kecepatan yang tinggi. Melampaui kecepatan orang kebanyakan yang berjalan tergesa-gesa.
“Pangeran Sing Narpada tentu akan berusaha untuk memecahkan teka-teki hilangnya Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Ki Ajar kepada muridnya.
Sebenarnyalah, saat itu Pangeran Singa Narpada dengan tergesa-gesa telah pergi ke rumah Ki Sadmaya. Menurut perhitungan Pengeran Singa Narpada, tidak ada orang lain yang pernah berhubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata sebelumnya kecuali Ki Sadmaya dengan tamunya, Ajar yang telah mengobati Pangeran Lembu Sabdata yang sakit ingatan. Meskipun hal itu sudah dilakukan agak lama, namun tidak ada orang lain yang pantas untuk ditanya, apakah mereka mengerti serba sedikit tentang Pangeran Lembu Sabdata yang hilang.
Kedatangan Pangeran Singa Narpada sendiri ke rumah Ki Sadmaya ternyata telah mengejutkannya. Setiap orang mengerti, betapa marahnya Pangeran Singa Narpada, atas hilangnya Pangeran Lembu Sabdata dari biliknya.
Karena itu, kehadiran Pangeran Singa Narpada di rumah Ki Sadmaya telah membuat jantungnya bergetar cepat.
Sebagaimana sifatnya, maka Pangeran Singa Narpada pun tidak ingin bertanya melingkar-lingkar. Iapun dengan serta merta bertanya tentang hubungan Ki Sadmaya dengan orang yang telah mengobati Pangeran Lembu Sabdata.
“Kami adalah sahabat baik,” jawab Ki Sadmaya, ”Sejak kami masih muda. Tetapi jalan hidup kami ternyata berbeda. Aku tinggal seperti sekarang ini di Kota Raja, sedang sahabatku itu tinggal di tempat yang terpencil. Untuk waktu yang lama kami tidak bertemu. Namun tiba-tiba kami berhubungan lagi sebagai dua orang sahabat.”
“Bagaimana menurut pendapat Ki Sadmaya tentang Ajar itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada, ”Apakah mungkin ia mempunyai kepentingan dengan Pangeran Lembu Sabdata?”
“Pangeran,” jawab Ki Sadmaya, ”Menurut pendapatku, sahabatku itu adalah orang yang berpikir sederhana. Mungkin ia memang memiliki kepandaian sebagaimana para dukun di padepokan-padepokan, antara lain mengobati orang sakit ingatan. Tetapi jangkauan pikirannya tidak akan sampai kepada persoalan yang lebih jauh dalam hubungannya dengan pemerintahan. Menurut pendapatku, Ki Ajar itu tidak akan berbuat sesuatu atau katakanlah tersangkut dalam persoalan ini.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Jika demikian, maka engkau adalah satu-satunya orang yang dapat dituduh berkepentingan dengan Lembu Sabdata.”
Wajah Ki Sadmaya menjadi pucat. Katanya, “Kenapa aku Pangeran? Aku sama sekali tidak berkepentingan apapun juga. Sebelumnya aku tidak pernah berhubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata, apalagi ketika ternyata Pangeran Lembu Sabdata terlibat ke dalam pemberontakan itu. Jika aku menghubungkan Ajar itu dengan Pangeran, adalah karena aku mendengar bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah terserang penyakit ingatan. Aku hanya membayangkan, alangkah malangnya seseorang yang tidak lagi menyadari dirinya sendiri. Apalagi seseorang yang sedang berada di dalam tahanan. Tidak lebih dan tidak kurang. Apalagi sebelumnya bukankah aku telah menghadap Pangeran yang telah menyetujui pengobatan itu.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar