*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-007-01*
“ANAK SETAN!” geram yang bersenjata pedang yang panjang, “kalian mempelajari ilmu dari iblis yang mana? Namun demikian sebentar lagi kalian akan mati. Salah seorang dari kalian telah terlanjur mendengar maksud kehadiranku di tempat ini. Karena itu, tidak ada kemungkinan lain bagi kalian kecuali mati”
Mahisa Murti dan mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi mereka bergeser saling menjauh beberapa langkah. Pedang mereka mulai bergetar sementara dengan tajamnya keduanya memandangi orang-orang yang paling dekat di hadapannya.
Kedua orang berwajah kasar itu mengumpat. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur seorang melawan seorang.
Sejenak kemudian, keduanya pun telah bersiap pula. Namun agaknya Mahisa Pukat bersikap agak lain dari Mahisa Murti. Mahisa Pukat tidak menunggu. Tetapi ia lah yang kemudian bergeser mendekati orang yang bersenjata golok yang besar dan berat.
Dengan mengenali senjatanya, Mahisa Pukat menyadari, banwa orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tetapi ia benar-benar telah bersiap. Karena itu, maka pedangnya yang bergetar itupun mulai terjulur ke depan, meskipun anak muda itu belum dengan sungguh-sungguh menyerang.
Lawannya yang bersenjata golok itu mengumpat kasar. Tetapi goloknyapun telah bergetar pula. Bahkan golok itu kemudian terayun menghantam pedang Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat segera menarik pedangnya, sehingga tidak terjadi benturan senjata. Namun pedang itu pun berputar-putar dan terayun menyambar lambung.
Orang bersenjata golok itu memang dengan sengaja tidak menghindar. Tetapi ia berusaha menangkis Dedang itu dengan goloknya.
Namun sekali lagi, Mahisa Pukat menghindari benturan, ia sekali lagi menarik serangannya dan memutar pedangnya melingkar.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat pun telah berloncatan. Ia berusaha untuk mengimbangi kekuatan lawan dengan kecepatan geraknya. Ia harus dapat memaksa lawannya itu mengayun-ayunkan senjatanya yang berat. Betapapun besar tangannya, tetapi pada suatu saat, tenaganya itu tentu akan susut.
Dalam pada itu, Mahisa Murti yang sudah menggenggam pedangnya menjadi jauh lebih tenang. Karena itu, maka ia sama sekali tidak tergesa-gesa. Dibiarkannya lawannya memperhatikan sikapnya. Mungkin lawannya itu melihat satu perubahan padanya, sebagaimana dilihatnya ketika Mahisa Murti itu bersenjata sulur yang dibentakkannya dari batang beringin itu.
Ketenangan Mahisa Murti justru membuat lawannya menjadi gelisah. Karena itu, maka untuk menutupi kegelisahannya, orang berpedang itu telah membentak-bentak”
“Menyerahlah sebelum kau aku perlakukan dengan kasar”
“Ketika aku bertempur seorang diri tanpa senjata yang memadai, aku tidak mau menyerah. Apalagi sekarang” jawab Mahisa Murti. Lalu, “Sebaiknya kaulah yang menilai dirimu”
Orang itu menjadi sangat marah. Dengan kasar ia berkata, “Jika kau melawan, berarti kau telah membunuh kedua gadis itu pula”
“Sudah aku katakan, jangan memperbodoh orang lain. Sebaiknya kau sempat melihat dirimu sendiri” jawab Mahisa Murti.
Orang berpedang panjang itu menggeram. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya. Karena itu, maka kemudian, ia sudah meloncat menyerang Mahisa Murti. Meskipun Mahisa Murti merasa kedudukannya menjadi lebih baik, tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan. Ia masih tetap berhati-hati menghadapi lawannya yang menurut penilaiannya mempunyai tenaga yang cukup besar.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Mahisa Pukat melawan orang yang bersenjata golok yang besar, sedangkan Mahisa Murti bertempur melawan orang yang bersenjata pedang panjang. Namun sejenak kemudian, mulai terasa bahwa keseimbangan pertempuran itu telah berguncang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera dapat mendesak lawannya. Betapapun lawannya mengerahkan kekuatan dan kemampuannya, tetapi kedua anak muda itu memang memiliki kelebihan.
Dalam pada itu, selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur dengan sengitnya, maka beberapa orang telah turun ke tepian. Ki Buyut dan Widati diikuti oleh Mahisa Agni dan Witantra beserta beberapa orang bebahu yang penghuni Kabuyutan itu.
Ki Buyut terkejut ketika ia melihat dua orang gadis yang terbaring di tepian. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya. Sambil berjongkok ia meraba-raba tubuh kedua gadis itu yang ternyata tidak menjadi beku.
“Keduanya masih hidup” berkata Ki Buyut.
Mahisa Agni dan Witantra pun telah berjongkok pula di dekat kedua gadis itu. Keduanyapun segera mengetahui apa yang telah terjadi.
Gadis-gadis yang berada di tepian dan menjadi ketakutan itu, tiba-tiba saja telah mendapatkan keberanian mereka, ketika mereka melihat beberapa orang telah turun ke tepian, termasuk Ki Buyut sendiri. Karena itu, maka merekapun segera berlari-lari mendekati kedua kawannya yang terbaring diam itu.
Hampir berbarengan gadis-gadis itu berusaha untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Ki Buyut yang telah mendengar sebagian peristiwa itu dari Widati mengangguk-angguk saja. Meskipun ia tidak dapat mengerti keterangan dari gadis-gadis yang berbicara berbarengan dengan suara yang masih gemetar, namun persoalannya memang sudah didengarnya lebih dahulu. Dalam pada itu, maka Ki Buyut pun kemudian bertanya tentang dua orang anak muda yang telah lebih dahulu berada di tepian.
“Mereka berada disana” jawab gadis-gadis itu hampir erbareng pula.
Mahisa Agni dan Witantra termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak dapat menyembunyikan kecemasan mereka, karena mereka tidak tahu pasti, siapakah yang dihadapi oleh kedua orang anak muda itu.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Ki Buyut. Biarlah kami berdua melihat, apa yang telah terjadi. Biarlah kedua gadis itu dalam keadaannya. Menurut penglihatan kami mereka tidak dalam keadaan berbahaya” Ki Buyut mengerutkan keningnya. Dengan suara sendat ia berkata, “Bagaimana Ki Sanak berpendapat bahwa keadaan gadis ini tidak berbahaya. Mereka memang masih hidup, tetapi apakah mereka pingsan atau bahkan setengah mati” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti kegelisahaan Ki Buyut itu, karena kedua gadis itu masih berdiam diri meskipun masih ada pernafasan dan denyut nadi.
Tetapi Mahisa Agni pun tidak dapat mengabaikan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jika terjadi sesuatu atas kedua anak muda itu. sementara ia ada didekatnya, maka orang tua kedua anak muda itu tentu akan menyesalinya.
Karena itu, maka berkata Mahisa Agni kemudian , “Ki Buyut. Aku yakin bahwa keduanya tidak akan mengalami keadaan yang lebih gawat lagi. Biarlah kami melihat kedua anak muda itu sejenak. Sebaiknya kedua gadis itu dibawa saja ke tempat yang teduh. Tetapi sebaiknya ia dibiarkan saja dalam keadaannya. Kedua anak muda yang sedang bertempur itu aku harapkan akan dapat membantu membangunkan kedua gadis yang pingsan itu”
Ki Buyut tidak dapat menahan Mahisa Agni dan Witantra untuk naik ke tebing di seberang, untuk menyusul Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sedang bertempur.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agni dan Witantra pun bergegas meninggalkan Ki Buyut dan langsung memanjat tebing di seberang. Sementara itu, Ki Buyut dan orang-orangnya telah mengangkat kedua gadis yang seolah-olah pingsan itu menepi, ke tempat yang lebih teduh. Tetapi seperti pesan Mahisa Agni, kedua gadis itu sama sekali tidak diapa-apakan.
Dalam pada itu, demikian Mahisa Agni dan Witantra naik keatas tebing, maka mereka pun segera melihat perkelahian yang seru. Tetapi pada saat-saat terakhir, Mahisa Agni dan Witantra melihat bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berhasil mendesak lawan mereka.
Sambil menarik nafas Witantra berkata, “Tidak banyak yang perlu kita lakukan disini”
Mahisa Agni pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya.
Agaknya mereka akan dapat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi apakah kedua orang itu tidak akan mendapat bantuan dari kawan-kawannya?”
“Nampaknya mereka sudah cukup lama bertempur. Tentu sejak sebelum Widati lari ke Kabuyutan, Mahisa Murti sudah bertempur melawan mereka berdua. Jika ada kawan-kawan mereka, agaknya mereka tentu sudah datang membantu” berkata Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-angguk, ia sependapat dengan Witantra.
Sementara itu, pertempuran itu pun masih berlangsung terus. Namun kedua lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu sudah tidak lagi banyak mendapat kesempatan untuk melawan.
Karena itu, maka Mahisa Agni dan Witantra pun tidak merasa perlu untuk mencampuri persoalan mereka. Mereka hanya menunggu saja, saatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengakhiri pertempuran itu.
Namun dalam pada itu kedua orang yang bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun agaknya tidak mau melihat kenyataan itu. Mereka telah mengumpat-umpat dan berteriak-teriak. Mereka bertempur dengan kasarnya dan sama sekali tidak lagi mempergunakan akalnya.
Justru karena itu, maka kekalahan mereka pun menjadi semakin cepat. Senjata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai menyentuh tubuh lawan-lawannya. Karena itu. maka pada tubuh kedua orang berwajah kasar itu telah mengalir keringat dan darah membasahi kulit mereka. Meskipun demikian, orang bersenjata golok yang besar itu masih berteriak, “Menyerahlah atau aku akan mencincangmu. Kawan-kawanku akan ikut membantaimu jika mereka mengetahui bahwa kau telah berani menentang kehendakku”
“Apakah kau mempunyai kawan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kawan-kawanku akan segera datang” jawab orang itu.
“Tidak” berkata Mahisa Pukat, “kawan-kawanmu tidak tahu bahwa kau bertempur di sini”
“Anak iblis” teriak orang itu, “orang-orang yang mengetahui pertempuran ini tentu akan saling berceritera. Akhirnya kawan-kawanku akan mengetahuinya juga”
“Kau mulai putus asa” berkata Mahisa Pukat, “kau harap bahwa kawan-kawanmu akan menuntut balas jika kau mati di sini?”
Orang itu mengumpat kasar. Katanya , “Kau yang akan mati. Bukan aku”
Tetapi suaranya patah ketika pedang Mahisa Murti telah menyentuh pundaknya, sehingga orang itu meloncat surut. Perasaan pedih mulai menyengat tubuhnya yang basah. Namun sejenak kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun merasa bahwa mereka telah terlalu lama bertempur. Mereka ingin segera menyelesaikan pertempuran itu secepatnya. Mungkin yang dikatakan oleh kedua orang itu benar, bahwa mereka mempunyai banyak kawan di sekitar tempat itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak merasa menjadi gentar dan ketakutan. Tetapi mereka tidak menginginkan persoalannya akan menjadi semakin luas. Sehingga dengan demikian, maka keselamatan orang-orang Kabuyutan Randumalang akan terancam.
Karena itu, maka sejenak kemudian serangan-serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi semakin cepat. Pedang mereka berputaran dan dengan loncatan-loncatan yang cepat, mereka membuat lawan-lawan mereka menjadi kebingungan.
“Menyerahlah” berkata Mahisa Murti , “kami tidak akan membunuh”
“Kami yang akan membunuh kalian” teriak orang bersenjata pedang panjang itu.
“Sudahlah” berkata Mahisa Murti , “jangan seperti orang yang kehilangan ingatan. Kalian harus melihat kenyataan ini”
“Persetan” geram orang yang bersenjata golok yang besar, “dua orang gadis itu benar-benar akan mati. Hanya kami yang akan dapat menyelamatkan mereka”
“Jangan sebut-sebut itu lagi. Permainan itu adalah permainan yang sangat sederhana. Hampir setiap orang dapat mengurai sentuhan jari-jarimu, sehingga gadis-gadis itu akan terbangun”
Kedua orang itu mengumpat semakin kasar. Namun mereka benar-benar sudah terdesak. Bahkan Mahisa Pukat yang menjadi jemu, tiba-tiba telah melibat lawannya dengan cepatnya. Sejenak kemudian, terdengar lawannya itu mengeluh tertahan. Ketika ia meloncat surut, maka goloknya telah terlempar dari tangannya dan terjatuh beberapa langkah di sampingnya.
Dengan tanpa menghiraukan lawannya, orang itu meloncat dan berusaha untuk meraih senjatanya. Namun ia terkejut, ketika tiba-tiba saja kaki Mahisa Pukat telah menginjak tangkai golok itu. Sambil mengacungkan-pedangnya ke lambung orang itu, Mahisa Pukat berkata Aku tidak sedang bermain-main. Dalam keadaan yang khusus aku pun dapat membunuh”
Wajah orang itu menjadi merah. Namun kemudian berubah menjadi pucat. Ketika Mahisa Pukat mendesak lambungnya dengan tajam pedangnya.
“Kau mau mati?” geram Mahisa Pukat. “Jangan” desis orang itu.
Beberapa langkah orang itu surut, sementara ujung pedang Mahisa Pukat masih mengancamnya.
Sementara itu, lawan Mahisa Murti masih belum mau melihat kenyataaan itu. Meskipun ia tahu, bahwa kawannya telah kehilangan kesempatan untuk melawan, namun ia masih juga berusaha untuk bertempur terus sambil berteriak-teriak kasar.
Namun Mahisa Murti pun dengan cepat telah berusaha mengakhiri pertempuran itu pula. Ketika lawannya menyerangnya dengan sambaran pedang terayun mendatar, maka Mahisa Murti meloncat selangkah surut. Kemudian dengan sepenuh kekuatannya, Mahisa Murti telah memukul pedang lawannya. Ia ingin mengalahkan orang bersenjata pedang itu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat.
Ternyata bahwa kekuatan orang berwajah kasar itu memang sudah jauh susut. Ketika pedangnya terbentur pedang Mahisa Murti, maka ia tidak lagi mampu untuk mempertahankannya. Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Murti, sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat, maka senjata lawannya itu un telah terjatuh
Sejenak kedua orang itu termangu mangu. Tetapi mereka benar-benar harus melihat kenyataan itu. Senjata mereka telah terlepas dari tangan mereka.
“Katakan” berkata Mahisa Murti , “apakah kalian akan menyerah atau kalian masih akan melawan dengan tangan kalian? Atau barangkali kalian ingin mengambil senjata-senjata kalian”
Kedua orang itu terdiam. Rasa-rasanya apapun yang akan mereka lakukan sudah tidak akan berguna lagi. Karena keduanya tidak menjawab, maka Mahisa Murti un melangkah maju sambil berkata, “Baiklah. Agaknya kalian sudah tidak ingin melawan. Karena itu, maka kalian berdua adalah tawanan kami”
Kedua orang berwajah kasar itu saling berpandangan. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu lagi.
Lawannya masih menggeram. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia un kemudian berdiri tegak bagaikan membeku.
“Tidak ada gunanya lagi kalian melawan” berkata Mahisa Murti.
Sekilas nampak wajah mereka menegang. Namun kemudian kembali mereka harus menyadari kenyataan yang mereka hadapi.
“Kami tidak akan mengikat tangan dan kaki kalian. Tetapi kami ingin kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami” berkata Mahisa Murti.
“Katakan, siapakah kalian ini sebenarnya” desak Mahisa Murti.
Keduanya tidak segera menjawab. Namun ketika Mahisa Pukat mulai menyentuh salah seorang dari kedua orang itu dengan pedangnya, maka orang itu un berkata , “Kami hanya sekedar melakukan perintah”
“Perintah apa?” bertanya Mahisa Murti.
Sekali lagi Mahisa Pukat menekankan pedangnya. Dan orang itu un menjawab, “Kami mendapat perintah untuk menunggu di lereng bukit itu”
“Menunggu siapa?” bertanya Mahisa Murti kemudian. “Kami tidak begitu jelas. Tetapi kami harus menunggu orang-orang yang akan menyerahkan alat-alat penebang kayu kepada kami” jawab orang itu.
“Kalian mendapat perintah untuk menebangi hutan di lereng gunung” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya” jawab orang itu.
“Yang menghadap ke rah Kotaraja?” desak Mahisa Pukat pula.
“Ya” jawab orang itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kearah Mahisa Agni dan Witantra yang berdiri termangu-mangu.
“Akan menjadi jelas bagi kita” berkata Mahisa Pukat, “bahwa ada satu gerakan untuk berbuat demikian”
Kedua orang itu memandang anak muda itu sekilas. Namun ketika Mahisa Pukat berpaling ke rah mereka, maka mereka un telah berpaling pula.
“Kita bawa mereka ke Kabuyutan” berkata Mahisa Murti. “Ya” jawab Mahisa Pukat, “kita akan dapat berbicara lebih panjang”
Kedua orang itu menjajdi tegang. Agaknya mereka kurang senang untuk dibawa ke Kabuyutan. Namun mereka tidak akan dapat menolak seandainya kedua anak muda itu memaksa mereka.
Sebenarnya, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti itu pun menyarungkan senjata masing-masing. Namun dengan senjata kedua orang itu, mereka akan membawa keduanya ke Kabuyutan.
“Kalian harus menyadari, bahwa tingkah laku kalian akan menyeret kalian kedalam kesulitan” berkata Mahisa Pukat, “kami berdua adalah pengawal-pengawal Kabuyutan. Kalian harus selalu mengingat bahwa kalian tidak dapat memenangkan perkelahian ini. Apalagi jika kami, para pengawal di seluruh Kabuyutan bergerak bersama-sama. Maka betapapun besar kekuatan kalian, maka kalian tidak akan dapat mengalahkan kami. Karena itu, sebaiknya kalian harus selalu mengingatnya”
Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka memang merasa heran, apabila kedua anak muda itu benar-benar pengawal Kabuyutan, maka alangkah kuatnya Kabuyutan itu.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat bahkan berkata selanjutnya, “Kau baru melihat kemampuan kami, anak-anak muda. Kalian belum melihat kemampuan guru-guru kami. Jika guru-guru kami melibatkan diri maka kalian tidak akan lebih dari debu yang akan dihembuskannya tanpa mendapat kesempatan untuk melawan sama sekali. Nah, apakah kalian ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh guru-guru kami itu?”
Kedua orang itu termangu-mangu. Namun Witantra berdesah. “Anak ini”
Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Marilah mereka kita bawa.sekarang. Mungkin kedua gadis itu memerlukan pertolongan segera”
“Biarlah mereka melihat, apa yang dapat dilakukan oleh guru-guru kami. Sentuhan jari-jarinya sama sekali tidak berarti apa-apa” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Agni dan Witantra hanya berpandangan saja sekilas. Namun mereka tidak berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membawa kedua orang itu ke Kabuyutan. Betapapun perasaan tidak senang hampir memecahkan jantung mereka, tetapi mereka tidak dapat menolak untuk melakukannya.
Sejenak kemudian, keduanya pun telah melangkah ke tebing diiringi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu Mahisa Agni dan Witantra telah mengikutinya pula. Demikian mereka muncul di atas tebing, maka perhatian orang-orang yang berada di pinggir sungai itu pun tertuju kepada mereka. Beberapa orang yang masih saja menunggui gadis-gadis yang sedang terbaring diam di bawah sebatang pohon yang rimbun, setelah mereka di singkirkan dari atas pasir tepian yang panas.
Beberapa orang bersenjata tengah berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Dua orang berwajah kasar itu menjadi ragu-ragu. Sementara itu Mahisa Murti mendekatinya sambil berbisik, “Nah, marilah. Mereka adalah Ki Buyut, beberapa orang bebahu dan pengawal seperti kami berdua. Tetapi mereka tidak akan berbuat apa-apa jika kau tidak berbuat sesuatu yang tidak kami kehendaki”
Dua orang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka pun kemudian turun ke tepian. Beberapa orang gadis yang masih ada di tepian menunggui kawannya yang sedang tertidur itu diluar sadarnya berkata hampir berbareng, “Itulah orangnya”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berkata, “Nampaknya mereka sudah menyerah”
Para bebahu dan anak-anak muda yang ada di tepian itupun membenarkannya. Kedua orang itu nampaknya memang sudah tidak berdaya”
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diikuti oleh Mahisa Agni dan Witantra menjadi dekat, maka orang-orang yang ada di tepian itu pun bagaikan menyibak. Namun mereka pun kemudian mengerumuni kedua orang berserta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah berhasil menawan mereka.
“Benarkah ini orangnya?” bertanya Ki Buyut kepada Mahisa Murti.
“Ya Ki Buyut” jawab Mahisa Murti , “orang inilah yang telah membuat kerusuhan di tepian ini. Mereka telah mengganggu gadis-gadis yang sedang mandi”
“Lalu bagaimana dengan kedua gadis ini?” bertanya Ki Buyut pula.
Semua mata memandang kedua orang berwajah kasar itu. Seolah-olah mereka telah menumpahkan segera pertanggungan jawab kepada mereka, sehingga orang-orang di tepian itu telah menuntut agar kedua gadis itu dibangunkan.
Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu pun berkata, “Biarlah kami berdua berusaha untuk membangunkan kedua gadis itu. Kami sudah merasa bersalah, sehingga kami memang seharusnya memikul tanggung jawab atas kesembuhan kedua gadis itu”
“Cepat, lakukan” sahut Ki Buyut lantang.
“Tetapi ketika kedua orang itu baru melangkah selangkah, Mahisa Agni berkata, “Jangan orang itu”
“Ya” tiba-tiba saja Mahisa Murti menyahut, “Jangan orang itu. Ia akan dapat berbuat lebih buruk lagi terhadap kedua orang gadis itu, atau bahkan mempergunakan mereka sebagai perisai untuk melepaskan diri”
Langkah orang itu tertegun. Sementara Ki Buyut dan orang-orang Randumalang menjadi termangu-mangu. Apakah dengan demikian berarti bahwa kedua orang gadis itu akan tetap dibiarkan tidur nyenyak, sampai saatnya terbangun dengan sendirinya?.
Namun dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun berkata, “Jangan cemas. Kedua gadis itu tidak apa-apa”
Tetapi seorang laki-laki yang sudah mulai ubanan menyibak maju sambil berkata, “Kau dapat berkata seperti itu karena mereka bukan anakmu. Tetapi aku adalah ayah dari salah seorang gadis itu. Bagaimana aku dapat menganggap bahwa gadis-gadis itu tidak apa-apa.
Suasana menjadi tegang. Tiba-tiba saja salah seorang berwajah kasar itu berkata, “Gadis-gadis itu terkena racun. Tetapi aku mempunyai penawarnya. Racun itu memang hanya sekedar membuat tidur. Tetapi dalam batas tertentu, jika penawarnya tidak di trapkan, maka kedua gadis itu akan mengalami nasib yang buruk. Racun itu akan bekerja perlahan-lahan sebagaimana kena racun yang tidak terlalu kuat. Tetapi dengan pasti akan dapat membunuh korbannya.
“Nah, kau dengar” berkata orang yang rambutnya mulai ubanan itu, “jika anak itu meninggal, akulah yang kehilangan. Memang bukan kau”
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti mendekati orang berwajah kasar yang berbicara itu sambil berkata, “Nah, sekarang kita bertaruh. Jika kedua gadis itu nanti atau kapan pun akan mati atau mengalami nasib buruk, biarlah leherku menjadi taruhan. Tetapi jika gadis itu akan terbangun, atau orang lain mampu membangunkannya, maka lehermu menjadi taruhan. Leher yang menjadi taruhan akan dipotong perlahan-lahan dengan golokmu yang besar, berat tetapi tidak tajam sama sekali ini”
Terasa kulit orang itu meremang. Memang mengerikan sekali, bahwa lehernya harus dipotong perlahan-lahan, apa lagi dengan goloknya. Karena itu, maka untuk sesaat ia pun justru terdiam.
Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Mahisa Murtipun mendesak, “Bagaimana? Apakah kau bersedia mengadakan taruhan seperti yang kau katakan?”
Orang itu tidak menjawab. Namun dipandanginya goloknya yang masih dibawa oleh Mahisa Pukat.
“Nah, Ki Buyut” berkata Mahisa Murti, “orang itu tidak menyanggupinya. Karena itu sebenarnya tahu, bahwa kami pun dapat membangunkannya”
Orang yang mulai ubanan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika benar kau dapat membangunkan, maka bangunkanlah”
“Jangan tergesa-gesa” Jawab Mahisa Murti, “sudah kami katakan, gadis itu tidak akan mengalami sesuatu. Mereka memang sedang tidur nyenyak. Tetapi perlahan-lahan, ia akan bangun sendiri. Namun secara khusus mereka pun dapat juga dibangunkannya”
Orang itu menjadi tegang. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni pun berkata, “Bangunkan mereka agar orang-orang Kabuyutan itu tidak dicengkam oleh ketegangan.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti. Bahkan kemudian ditatapnya Mahisa Pukat yang berdiri dengan tegangnya.
Namun kemudian Mahisa Murti itu pun melangkah mendekati kedua gadis yang terbaring diam itu.
“Apakah kau benar-benar mampu melakukannya sehingga tidak akan mencelakakan anakku itu?” bertanya orang yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu.
“Percayalah” Mahisa Agnilah yang menjawab. Namun nampaknya orang itu masih tetap ragu-ragu sehingga ia pun kemudian bertanya kepada Ki Buyut, “Apakah aku dapat mempercayainya?”
Ki Buyut pernah mengalami satu peristiwa yang membuatnya tidak akan dapat melupakannya. Menurut penglihatannya, kedua anak muda itu memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Karena itu, meskipun agak kurang yakin, Ki Buyut itupun berkata, “Biarlah anak muda itu mencobanya”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berjongkok di samping gadis-gadis yang sedang tertidur nyenyak itu.
“Kenapa kau menjadi ragu-ragu” berkata Mahisa Agni, “bukankah kau mampu melakukannya? Sesuatu yang dapat kau lakukan dengan tidak usah memikirkan lagi akan menjadi terasa sulit jika kau harus merenunginya, mempertimbangkannya dan apalagi menjadi ragu-ragu” Mahisa Pukatlah yang kemudian mendekati Mahisa Murti sambil berkata , “Lakukan. Bukankah kita dapat melakukannya?”
Mahisa Murti mengangguk. Perlahan-lahan ia mulai menggerakkan tangannya meraba tengkuk gadis yang pertama. Dengan kemampuan yang sudah dipelajarinya dengan baik, maka ia pun segera menemukan simpul yang tertutup oleh sentuhan tangan kedua orang berwajah kasar itu. Dengan pengetahuannya itu, maka ia pun segera membuka simpul yang tertutup itu, meskipun masih ada juga sisa gejolak pada perasaannya.
Sejenak kemudian, gadis itu pun mulai menggeliat. Perlahan-lahan ia mulai bangkit sambil memandang orang-orang di sekelilingnya.
“Apa yang terjadi?” gadis itu bertanya. Namun perlahan-lahan ia mencoba mengingat kembali apa yang telah dialaminya. Bahkan demikian ia melihat kedua orang berwajah kasar itu, maka iapun telah menjerit ketakutan.
Tetapi ayahnya telah berada di sampingnya sambil berkata, “Aku ada disini. Jangan takut”
Gadis yang melihat ayahnya itu pun telah memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya. Di antara isak tangisnya, terdengar kata-katanya, “Aku takut. Aku takut”
“Sudahlah” berkata ayahnya , “kau sudah diselamatkan” Kemudian katanya kepada Mahisa Murti , “Terima kasih anak muda. Ternyata kau benar-benar mampu melakukannya”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian telah melakukan hal yang sama terhadap gadis yang lain, yang sesaat kemudian telah tersadar pula dari tidurnya.
“Di mana ayah gadis itu?” bertanya Ki Buyut.
“Ayahnya sudah pergi ke sawah ketika hal ini diketahui” jawab salah seorang, “tetapi ia sudah dipanggil”
Ki Buyut dan Widati lah yang kemudian menolong gadis yang juga menjadi ketakutan sebagaimana kawannya. “Orang itu tidak akan mengganggumu lagi” berkata Ki Buyut.
Gadis itu pun menangis pula. Tetapi ia mengangguk-angguk. Ia memang merasa aman dibawah pengawasan Ki Buyut dan beberapa penghuni Kabuyutannya.
Dalam pada itu kedua orang berwajah kasar itu pun menjadi semakin cemas melihat sikap orang-orang Kabuyutan Randumalang. Apalagi ketika tiba-tiba saja, ayah gadis yang pertama sadar itu menuding kedua orang itu sambil berkata, “Merekalah sumber malapetaka itu”
“Ya, mereka” seorang anak muda menyahut, “jika mereka masih ada, maka malapetaka ini tentu akan berulang kembali”
“Keduanya itulah sumber bencana” teriak yang lain. Adalah tiba-tiba saja, ketika terdengar seorang anak muda berteriak, “Bunuh keduanya”
Yang terdengar kemudian adalah teriakan-teriakan marah dari orang-orang Kabuyutan Randumalang. Seorang bertubuh gemuk justru telah mengangkat senjatanya sambil berteriak lehih keras lagi, “Bunuh mereka. Bunuh mereka” Orang-orang Kabuyutan Randumalang itu pun mulai bergerak. Mereka mulai mengacu-acukan senjata mereka dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi gelisah. Mereka pun kemudian telah berdiri dan bergeser mendekati kedua orang berwajah kasar itu.
Namun adalah diluar dugaan, bahwa kedua orang berwajah kasar itu telah menjadi sangat ketakutan melihat orang-orang Kabuyutan Randumalang yang marah. Bahkan dengan suara gemetar salah seorang berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Tolong anak muda. Tolonglah aku. Bukankah kalian pengawal Kabuyutan ini”
Sebelum Mahisa Murti menjawab, Mahisa Pukat lah yang menyahut, “Kau takut mati?”
“Aku tidak takut mati. Tetapi tidak dengan cara ini” jawab orang itu.
“Dengan cara apa?” bertanya Mahisa Pukat. “Bunuh aku dengan pedangmu” jawab orang itu.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang mengerikan sekali menghadapi orang-orang yang marah seperti itu. Mereka akan benar-benar melakukan seperti apa yang mereka katakan. Dengan cara yang tidak terkendali, justru karena dilakukan oleh sekelompok orang, mereka akan membunuh kedua orang itu. Bahkan orang-orang yang dalam kehidupannya sehari-hari tidak pernah membunuh seekor tikus pun, akan dapat membunuh dengan sangat kejam diantara banyak orang yang bersama-sama sedang marah.
Dalam pada itu, orang-orang Kabuyutan Randumalang itu pun menjadi semakin riuh. Perlahan-lahan mereka bergeser bersama-sama mendekati kedua orang berwajah kasar itu. Mereka berteriak semakin keras dan mereka pun mulai merundukkan senjata mereka.
Mahisa Agni dan Witantra pun menjadi semakin cemas melihat kemarahan orang-orang Randumalang itu. Karena itu keduanya telah melangkah mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Cobalah, hentikan mereka” berkata Mahisa Agni kepada Mahisa Murti.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berdiri menghadapi orang-orang yang sedang marah itu.
“Ki sanak” berkata Mahisa Murti, “Cobalah dengar keteranganku”
Tetapi orang-orang itu masih saja berteriak, “Bunuh mereka, bunuh mereka”
“Kalian benar-benar akan membunuh mereka?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Kami akan membunuh mereka. Orang-orang itu telah mencemaskan gadis-gadis kami” jawab salah seorang di antara orang-orang Randumalang itu.
“Mereka memang bersalah” jawab Mahisa Murti , “tetapi bukan begini cara untuk mengadilinya”
“Aku tidak peduli” berkata ayah salah seorang gadis yang pingsan. Orang-orang itu telah mengotori nama anakku”
“Tidak” jawab Mahisa Murti , “orang-orang itu belum berbuat apa-apa”
“Anakku telah tertidur diluar kehendaknya” jawab orang tua itu.
“Tetapi anakmu sudah bangun” jawab Mahisa Murti.
“Jadi, apakah akan kita biarkan saja orang-orang itu berbuat kesalahan yang sangat besar di Kabuyutan kami?” bertanya yang lain lagi.
“Mereka akan dihukum. Tetapi kita harus mempertimbangkannya dengan bening. Kita dapat menyerahkannya kepada Akuwu, atau mungkin wewenang Ki Buyut akan dapat mengadilinya. Tetapi tidak dengan beramai-ramai seperti ini, seolah-olah kalian berhak untuk mengadilinya disini” jawab Mahisa Murti.
“Kami berhak mengadilinya. Kedua gadis itu adalah anak-anak kami. Anak-anak Kabuyutan kami” jawab seorang yang bertubuh tinggi besar.
“Tidak” jawab Mahisa Murti, “kalian tidak berhak mengadilinya bersama-sama. Orang-orang yang khusus akan menentukan hukuman apa yang paling pantas ditilik dari kesalahan yang telah dilakukannya”
“Serahkan kepada kami” teriak seorang anak muda. “Serahkan kepada kami” teriak yang lain.
Mahisa Murti menjadi tegang. Orang-orang itu agaknya sudah sulit untuk diajak berbicara. Seandainya mereka akan memaksa, apakah berarti Mahisa Murti harus mencegahnya dengan kekerasan sehingga ia harus berkelahi melawan orang-orang itu?.
Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni melangkah maju sambil berkata lantang , “Ki Sanak. Dengarlah. Ada yang ingin aku katakan kepada kalian”
“Serahkan kepada kami. Tidak ada lagi yang akan kami bicarakan” sahut salah seorang dari mereka yang sedang marah itu.
“Dengarlah” suara Mahisa Agni semakin keras, “aku akan menyerahkan mereka kepada kalian. Tetapi dengar lebih dahulu”
Ternyata suara Mahisa Agni itu menyentuh telinga mereka, sehingga mereka pun mulai mendengarkannya Apalagi karena Mahisa Agni mengatakan bahwa orang-orang itu akan diserahkan kepada mereka.
“Dengar” berkata Mahisa Agni , “kami memang akan menyerahkan mereka, karena orang-orang ini sudah melakukan satu kesalahan di daerah kalian. Apakah begitu yang kalian maksudkan?”
“Ya. Serahkan kepada kami” sahut beberapa orang bersama-sama.
“Bukan hanya kedua orang ini yang akan aku serahkan kepada kalian. Jika kalian tidak lagi mempunyai pertimbangan lain, maka kami memang akan menyerahkan semua persoalan ini kepada kalian” jawab Mahisa Agni. Jawaban Mahisa Agni itu memang membuat orang-orang itu tercenung. Bahkan seorang anak muda bertanya, “Apa maksudmu?”
“Semua persoalan akan kami kembalikan” jawab Mahisa Agni, “karena kehadiran kami tidak berarti sama sekali di hadapan kalian, maka anggap saja, bahwa kami tidak pernah ada. Kedua anak itu akan dikembalikan kepada keadaannya semula. Kemudian kedua anak muda itu akan menyerahkan senjata kedua orang itu kepada mereka. Seterusnya, lakukan apa yang akan kalian lakukan”
Kata-kata Mahisa Agni itu telah menyentuh perasaan orang-orang yang marah itu. Seorang anak muda masih mencoba berteriak, “Mereka hanya berdua”
“Mereka hanya berdua. Anak-anak muda yang mengalahkan mereka juga berdua. Kemampuan mereka memang hampir seimbang” berkata Mahisa Agni.
Orang-orang Kabuyutan Randumalaug itu tidak segera mengetahui maksud Mahisa Agni. Karena itu, mereka masih saja berteriak-teriak, “Kami bunuh mereka. Mereka hanya berdua”
“Baik-baik” jawab Mahisa Agni, “mereka memang hanya berdua. Tetapi bertanyalah kepada Ki Buyut, apa yang dapat dilakukan kedua anak muda itu. Kedua orang itu pun tentu akan dapat melakukan sebagaimana dilakukan oleh kedua anak muda itu”
Orang-orang Randumalang itu tertegun sejenak. Namun semua orang pun kemudian berpaling kepada Ki Buyut. Seolah-olah mereka ingin mendapat penjelasan maksud kata-kata Mahisa Agni
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sepenuhnya maksud Mahisa Agni. Meskipun sebenarnya Ki Buyut pun menjadi sangat marah kepada kedua orang itu, tetapi ia masih mampu berpikir sebagaimana di kehendaki oleh Mahisa Agni. Karena itu, maka katanya kemudian kepada orang-orangnya , “He, orang-orang Randumalaug. Aku minta kalian menjadi tenang”
“Perintahkan kepada kami untuk membunuhnya” berkata salah seorang yang berjanggut lebat.
“Dengar” berkata Ki Buyut, “Usahakan mengerti maksud Ki Sanak itu”
“Katakan” berkata seorang anak muda.
“Aku tidak dapat memerintahkan kepada kalian untuk membunuhnya” berkata Ki Buyut.
“Kenapa?” bertanya orang tua dari gadis yang tertidur itu. “Aku tidak sampai hati membantai kalian di tepian ini” jawab Ki Buyut.
“Kenapa kami?” bertanya seseorang, “Kamilah yang akan membunuh orang itu”
“Tetapi kau dengar, bahwa kedua anak muda itu akan menyerahkan kembali kedua senjata yang mereka bawa kepada kedua orang itu” jawab Ki Buyut.
“Kami tidak takut” jawab seorang bertubuh tinggi.
“Dengar” berkata Ki Buyut, “menurut anak-anak muda dan kedua pamannya itu, kedua orang itu memiliki ilmu yang hampir seimbang dengan kedua orang anak muda ini. Nah, ketahuilah, bahwa aku pernah menyaksikan kedua anak muda ini bertempur. Bertempur dalam satu perang brubuh yang kisruh, maupun dalam perang tanding, seorang melawan seorang. Aku tahu, apa yang dapat mereka lakukan. Sedangkan aku pun tahu, apa yang dapat kalian lakukan” Ki Buyut itu berhenti sejenak, lalu, “karena itu, jika kalian berkeras untuk membunuh kedua orang itu beramai-ramai, maka yang akan terjadi adalah satu malapetaka”
“Kenapa?” bertanya beberapa orang berbareng.
Ki Buyut memandang kedua orang itu. Sebenarnya ia segan untuk mengatakannya, karena dengan demikian Ki Buyut mengakui kelemahan Kabuyutannya, sehingga dengan demikian maka bayangan yang buruk mulai menerawang di matanya. Orang-orang itu atau kawan-kawannya pada saat-saat lain tentu akan dengan berani berbuat sesuatu yang mungkin akan sangat mengerikan.
Karena Ki Buyut menjadi ragu-ragu, maka Mahisa Agnipun kemudian berkata, “Cepat Ki Buyut. Ambillah satu keputusan. Nampaknya nalar Ki Buyut telah mengalir kejurusan yang benar. Tetapi keragu-raguan Ki Buyut akan dapat menghambat penyelesaian”
Ki Buyut masih termangu-mangu. Sementara itu, orang yang lain telah bertanya pula , “Kenapa akan terjadi satu malapetaka?”
Ki Buyut mengangkat wajahnya. Agaknya ia sedang mencari kekuatan dari dalam dirinya untuk menyatakan maksudnya, “Dengarlah. Jika kau memaksa untuk membunuh mereka, maka keduanya tentu akan melawan. Sementara itu, kedua gadis itu akan menjadi tertidur lagi dan tidak seorang pun yang akan dapat membangunkannya”, “Baik. Katakan, beberapa orang di antara kalian akan melindungi gadis itu. Tetapi jika kedua orang itu melawan dengan kemampuan mereka sepenuhnya, maka tentu akan terjadi perkelahian yang sengit. Mungkin kedua orang itu akhirnya akan mati. Tetapi separo dari kalianpun akan mati” Ki Buyut memandang orang-orang Kabuyutan Randumalang itu dengan tajamnya. Seolah-olah ia memandang seorang demi seorang, menatap langsung ke matanya menghunjam sampai ke jantung. Lalu katanya, “Mungkin kau. Mungkin kau. mungkin kau yang masih sangat muda. Mungkin justru ayah gadis itu atau setiap orang di antara kalian mempunyai kemungkinan yang sama untuk mati”
Kata-kata Ki Buyut itu benar-benar telah menyentuh hati orang-orang itu. Apalagi ketika Ki Buyut menunjuk ke arah mereka, seolah-olah setiap orang telah ditunjuknya sambil berkata, “Kaulah yang mungkin akan mati. Atau kau. Atau kau. Atau kalian bertiga bersama-sama”
Wajah-wajah menjadi semakin tegang. Beberapa orang saling berpandangan. Sementara itu Ki Buyut pun berkata, “Baiklah. Mulailah. Siapa yang ingin terbunuh lebih dahulu, berusahalah untuk membunuh kedua orang itu. Senjata mereka akan segera diserahkan kepada mereka sebelum kalian sampai kepadanya”
Tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya, “Marilah. Siapa yang akan mendahului?” bertanya Ki Buyut kemudian.
Orang-orang itu masih berdiri tetap berdiri tegak. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum memberikan senjata kedua orang itu seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni.
Suasana menjadi semakin tegang. Orang-orang Randumalang berdiri dalam kebimbangan. Mereka masih didorong oleh kemarahan yang menghentak-hentak jantung. Tetapi mereka tidak dapat mengesampingkan kenyataan, bahwa kedua orang itu memang akan dapat membunuh sebagian dari orang-orang Randumalang itu. Karena itu, maka keragu-raguan mulai merayapi perasaan orang-orang Randumalang yang marah itu. Tidak seorang pun di antara mereka yang ingin lebih dahulu. Karena itu tidak ada di antara mereka yang bersedia untuk melangkah pertama kali sambil mengacungkan senjatanya menyerang kedua orang yang ingin mereka bunuh itu.
Dalam suasana yang tegang itu, maka Ki Buyut Randumalang menarik nafas dalam-dalam. Ia lah yang kemudian baru saja terbangun dari tidur yang tidak dikehendakinya itu. Sejenak orang-orang Kabuyutan Randumalang itu termangu-mangu.
Namun sekali lagi Ki Buyut berkata, “Marilah. Kita kembali ke Kabuyutan?”
Karena orang-orang itu masih belum bergerak, Ki Buyutlah yang melangkah pertama-tama meninggalkan tepian itu. Ketika ia berjalan di dekat orang tua gadis yang baru sadar itu, ia berkata, “Hati-hatilah dengan anak gadismu”
Orang itu menggangguk. Namun ia masih berdiri tegak di tempatnya. Baru ketika beberapa orang bebahu kemudian mengikutinya, maka yang lain pun mulai bergerak pula. Beberapa orang diantara mereka membayangi gadis-gadis yang masih saja ketakutan, sementara yang lain dengan ragu-ragu melangkah di antara batu-batu padas dengan kepala tunduk.
Pada saat orang-orang itu sampai di atas tebing, seseorang telah berlari-lari kearah mereka. Orang itu adalah ayah gadis yang seorang lagi. Ia tertegun ketika ia bertemu dengan Ki Buyut yang berjalan di paling depan. Dengan singkat Ki Buyut memberikan keterangan tentang anak gadisnya.
“Dimana anak itu sekarang?” bertanya orang itu.
“Di antara kawan-kawannya. Ia sudah tidak apa-apa” jawab Ki Buyut sambil berjalan terus.
Ketika orang itu mendekati anaknya, maka sambil menangis anak gadisnya memeluknya. Namun kemudian bersama-sama dengan yang lain mereka mengikuti Ki Buyut kembali ke padukuhan induk Kabuyutan Randumalang melangkah mendekati Mahisa Agni sambil berkata perlahan-lahan, “Aku berada dalam kesulitan. Jika kedua orang ini tetap hidup, maka akibatnya akan sangat pahit bagi Kabuyutan ini. Kali ini ada kedua orang anak muda itu, sehingga kami akan dapat melawan keduanya. Tetapi pada saat lain keduanya dan bahkan mungkin kawan-kawannya akan dapat berbuat apa saja. Mungkin tidak hanya separo orang Randumalang yang akan menjadi korban. Tetapi lebih dari itu”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia mengerti kesulitan yang dialami oleh Ki Buyut. Karena maka jawabnya, “Hal itu akan kita bicarakan kemudian. Kita akan mengambil satu keputusan yang paling baik tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan”
“Mereka tidak menghargai kemanusiaan” jawab Ki Buyut.
“Kita yang menghargai kemanusiaan. Dengan demikian maka kita memang berbeda dengan mereka” jawab Mahisa Agni.
Ki Buyut menarik nafas. Sementara itu ketegangan di tepian itu masih saja mencengkam. Karena itu, maka sejenak kemudian, maka Ki Buyut pun bertanya lantang , “ Nah, siapa yang akan melangkah lebih dahulu?”
Tidak seorangpun yang bergerak. Karena itu, maka Buyutpun berkata , “Jika demikian, agaknya kalian sudah merubah sikap kalian. Kalian agaknya dapat menerima satu pendapat, bahwa sebaiknya kita tidak mengadili mereka beramai-ramai di tepian ini. Kita akan membawa mereka di Kabuyutan”
Namun kata-kata Ki Buyut rasa-rasanya kurang meyakinkan. Bahkan Ki Buyut pun kemudian berpaling ke arah Mahisa Agni dengan lontaran pertanyaan pada sorot matanya.
“Tepat Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “kita akan membawa keduanya ke Kabuyutan. Kita akan dapat membicarakannya, apa yang sebaiknya kita lakukan akan orang-orang ini”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Lalu katanya , “Marilah. Kita akan kembali ke Kabuyutan. Kita akan berbicara dengan hati yang lebih tenang”
Tidak ada yang mereka bicarakan di sepanjang perjalanan. Semua orang terbenam dalam angan-angan mereka masing-masing. Iring-iringan itu bagaikan iring-iringan orang mengantar sanak kadang dalam keadaan duka.
Baru ketika orang-orang itu sudah naik keatas tebing dan berjalan menjauh, Mahisa Agni berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Marilah. Kita bawa kedua orang itu ke Kabuyutan Randumalang”
Mahisa Murtilah yang menyahut, “Marilah paman”
Namun dalam pada itu salah seorang dari kedua orang itu bertanya, “Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang marah itu kepadaku? Apakah kemarahan mereka tidak akan terungkat lagi?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi aku akan berusaha agar hal ini dapat diselesaikan dengan cara yang sebaik-baiknya”
“Apakah mungkin aku akan dibebaskan?” bertanya seorang yang lain.
Tetapi jawab Mahisa Agni sangat mengecewakannya, “Tidak Ki Sanak. Kalian memang akan mendapat hukuman. Tetapi tentu yang sesuai dengan kesalahan yang kalian lakukan. Dan dengan cara yang paling wajar”
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya mereka memang tidak dapat melihat kemungkinan lain. Bahwa mereka tidak jatuh ke tangan orang-orang yang sedang marah yang akan dapat mencincang mereka sampai lumat, adalah satu hal yang terlalu baik bagi mereka.
Namun demikian, kedua orang itu masih saja dibayangi oleh kemungkinan vang sangat buruk itu. Keduanya memang tidak percaya bahwa anak-anak muda serta orang-orang yang disebut guru-guru mereka itu benar-benar akan memberikan kembali senjata-senjata mereka jika orang-orang Kabuyutan Randumalang itu akan menghukum mereka beramai-ramai.
Dalam pada itu, selagi kedua orang itu lermangu-rnangu, maka Mahisa Agni pun berkata pula, “Marilah Ki Sanak. Kita menyusul orang-orang Kabuyutan itu”
“Kami tidak akan berkeberatan” jawab salah seorang dari mereka , “Tetapi kawan-kawan kami tentu akan mencari kami jika pada saatnya kami tidak kembali di antara mereka”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar