Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 021-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 021-03*

Tatapi pertapa itu tidak mau bermalam di padukuhan. Mereka melintasi padukuhan itu dan justru berhenti di sebuah pategalan yang agak luas. Pategalan kering yang ditumbuhi beberapa jenis pepohonan dan tanaman padi gaga.

“Kita bermalam disini,” berkata pertapa itu.

Muridnya mengikutinya memasuki pategalan itu dan menemukan sebuah tempat yang paling baik untuk bermalam.

Pertapa itu-pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon sambil menyusut tubuhnya yang basah oleh keringat.

“Apakah didalam impesmu masih ada air?” bertanya pertapa itu.

Putut itu-pun kemudian menyerahkan impesnya yang ternyata masih berisi air yang cukup untuk melepaskan haus mereka berdua. Namun keduanya sama sekali tidak membawa bekal lain.

Tetapi pertapa dan pututnya itu sudah terbiasa untuk tidak makan sehari penuh. Mereka sudah makan beberapa potong ketela pohon pada saat mereka berangkat, sehingga karena itu, mereka tidak memerlukannya lagi untuk sehari itu.

Malam itu mereka tertidur dengan nyenyaknya, meskipun tanpa berjanji mereka telah berbagai waktu. Pertapa itu tertidur sampai lewat sedikit tengah malam. Kemudian ketika ia terbangun, maka Pututnyalah yang tidur sampai menjelang dini hari.

Seperti yang mereka rencanakan, maka pagi-pagi benar mereka telah memasuki pintu gerbang Kota Raja. Dengan ingatannya yang tajam, maka pertapa itu telah menyusuri jalan yang langsung menuju ke rumah sahabatnya itu.

Tentu saja kedatangan mereka telah mengejutkan pemilik rumah itu. Seorang yang bertubuh tinggi, kekar dan kuat.

“Ajar Bomantara,” sapa pemilik rumah itu.

Pertapa yang dipanggil Ajar Bomantara itu tersenyum.

Katanya, “Itu bukan namaku. Tetapi baiklah, mungkin kau hanya ingat panggilan itu.”

“O, jadi aku salah menyebut namamu?” bertanya orang itu.

“Bukan salah. Itu memang panggilan bagiku sejak aku muda,” jawab pertapa itu.

“Marilah, silahkan masuk,” orang yang bertubuh tinggi kekar itu mempersilahkan.

Ketika Ki Ajar sudah duduk di sebuah amben bambu, maka ia-pun kemudian bertanya, “Bukankah aku masih mengenal rumahmu Ki Sadmaya. Aku sudah cemas bahwa kau tidak lagi tinggal di rumah ini, sehingga aku akan menjadi kebingungan untuk mencarimu.”

“Ah, jika aku pindah dari tempat ini, lalu aku akan tinggal dimana?” sahut Ki Sadmaya.

“Bukankah Ki Sadmaya mempunyai tanah yang luas dan rumah yang berceceran di seluruh tlatah Kediri,” Ki Ajar itu berkelakar.

Ki Sadmaya tertawa. Lalu katanya, “Kau masih juga senang bergurau sampai rambutmu menjadi putih seperti kapuk. He, bukankah kau dan seisi padepokanmu selamat?”

“Semuanya baik-baik saja Ki Sadmaya, sebagaimana keadaan disini bukan?” bertanya Ki Ajar.

“Sebagaimana kau lihat. Aku masih tetap seperti dahulu. Sehat, dan semuanya berjalan lancar. Anak isteriku juga sehat. Kebo sapiku juga menjadi baranahan anak beranak,” Ki Sadmaya itu-pun kemudian tertawa.

Ki Ajar-pun tertawa pula. Sementara muridnya dalam sekilas itu-pun telah teringat kembali, bahwa orang yang bernama Ki Sadmaya itu memang pernah mengunjungi padepokannya. Bukan hanya satu kali. Tetapi seperti yang dikatakan gurunya, yang terakhir kali adalah sekitar setahun yang lalu.

Demikianlah, maka pembicaraan selanjutnya dengan cepat telah berjalan semakin lancar, sehingga pada suatu saat Ki Sadmaya itu bertanya, “Siapakah yang datang bersamamu itu?”

Ki Ajar berpaling kepada Pututnya. Lalu katanya, “salah seorang cantrikku.”

Ki Sadmaya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tentu sudah pernah melihat sebelumnya.”

“Ya. Ia sudah lama berada di padepokanku. Ketika kau datang ke padepokan, ia sudah berada di padepokan itu pula.” Berkata Ki Ajar.

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Sambil memandang Putut itu ia bertanya, “Siapakah namamu anak muda.”

Putut yang duduk tepekur itu mengangkat wajahnya. Jawabnya, “Namaku Panjer, Ki Sadmaya. Putut Panjer.”

“O,” Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang pernah mendengar namamu ketika aku berkunjung ke padepokanmu. Tetapi mata tua ini agaknya sudah menjadi kabur, sehingga aku tidak dapat dengan segera mengenalmu. Tetapi ketika aku mendengar namamu, maka aku segera teringat.”

“Aku waktu itu sudah ikut melayani Ki Sadmaya ketika datang berkunjung ke padepokan kira-kira setahun yang lalu. Bahkan sejak kunjungan yang sebelumnya.”

Ki Sadmaya itu mengangguk-angguk. Kemudian ia-pun kembali bertanya kepada Ki Ajar, “Apakah kedatangan Ki Ajar mempunyai kepentingan yang sangat mendesak?”

Ki Ajar itu tertawa kecil. Katanya, “Tidak Ki Sadmaya. Aku tidak mempunyai kepentingan apa-pun juga. Aku hanya ingin melihat keadaan Kota Raja yang sudah lama sekali tidak aku lihat. Selebihnya, aku akan sempat menengok keselamatan Ki Sadmaya dengan keluarga.”

“Sokurlah jika kau tidak mempunyai kepentingan yang mendesak, sehingga kau akan mempunyai banyak kesempatan untuk melihat-lihat keadaan Kota Raja setelah perang berakhir,” berkata Ki Sadmaya.

Ki Ajar mengangguk-angguk kecil. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana keadaan setelah perang berakhir?”

“Keadaan sekarang sudah menjadi tenang,” berkata Ki Sadmaya, “Agaknya tidak ada lagi yang berani menentang kekuasaan Pengeran Singa Narpada.”

“Pangeran Singa Narpada?” ulang Ki Ajar, “Apakah Pangeran Singa Narpada itu nama Sri Baginda di Kediri.”

“Ah, tentu bukan,” Ki Sadmaya tertawa, “Kau benar-benar orang padepokan yang jauh ratu tetapi dekat batu. Kau tidak mengenal orang-orang penting yang terlibat dalam perang yang dahsyat kemarin?”

Ki Ajar menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku memang tidak mengenal orang-orang penting di Kediri. Mungkin dengan tinggal beberapa hari disini, pengetahuanku akan dapat bertambah. He, siapakah Pangeran Singa Narpada?”

Tetapi Ki Sadmaya belum sempat menjawab, ketika pembantunya menghidangkan makanan dan minuman bagi tamu-tamunya.

“Nah, marilah,” berkata Ki Sadmaya, “wedang jae hangat dengan gula kelapa. Jadah, jenang alot dan trasikan.”

Ki Ajar tersenyum sambil menyahut, “Terima kasih. Agaknya hidangan itu akan dapat menghangatkan tubuhnya setelah semalaman aku kedinginan.”

“Semalam Ki Ajar ada dimana? Pagi-pagi sekali Ki Ajar sudah berada di Kota Raja? Atau barangkali Ki Ajar sudah berada di Kota Raja sejak kemarin?”

“Aku adalah orang padepokan Ki Sadmaya,” jawab Ki Ajar, “Dimana-pun bagi kami tidak ada bedanya. Kami semalaman bermalam di perjalanan.”

“Di banjar padukuhan?” bertanya Ki Sadmaya.

Ki Ajar menggeleng. Jawabnya, “Tidak Ki Sadmaya. Kami berdua bermalam di pategalan. Tetapi bagi kami bukan sesuatu yang menyulitkan keadaan kami. Kami dapat tidur dimana saja.”

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Lalu, “Baiklah. Sekarang silahkan makan dan minum hidangan kami.”

Ki Ajar dan Putut yang mengikutnya itu-pun kemudian meneguk minuman hangat yang dihidangkan. Bagaimanapun juga terasa juga nikmatnya setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh tanpa bekal makanan apa-pun juga dan sekedar minum air yang mereka bawa dengan sebuah impes.

Karena itu, maka mereka-pun kemudian sibuk dengan makanan dan minuman yang dihidangkan.

Namun demikian Ki Ajar menjadi agak kecewa, karena pembicaraan yang terputus. Ia sudah hampir sampai pada satu keterangan yang diharapkannya.

“Tetapi aku tidak tergesa-gesa,” berkata Ki Ajar didalam hati, “Aku tidak boleh membiarkan perasaanku bergejolak, sehingga aku justru akan menarik perhatiannya.”

Karena itu, maka sikap Ki Ajar-pun telah dipertahankan sebagaimana dikatakannya. Ia sama sekali tidak mempunyai keperluan apa-pun juga di Kota Raja selain sekedar untuk melihat-lihat.

Namun Ki Ajar itu yakin, bahwa sebagai seorang yang memiliki sawah cukup luas dan ternak yang cukup banyak, Ki Sadmaya agaknya mempunyai banyak hubungan dengan orang-orang yang termasuk orang-orang yang penting. Menilik keadaan rumah dan halamannya, perabot-perabotnya, maka Ki Sadmaya memang seorang yang cukup kaya. Dan biasanya orang-orang kaya meskipun bukan pemimpin pemerintahan atau Senapati perang, namun ia akan mempunyai pengaruh yang cukup besar di lingkungannya.

Karena itu, maka Ki Ajar merasa bahwa ia telah berada di tempat yang benar. Bahkan seandainya ia tidak dapat memanfaatkan kedudukan dan pengaruh Ki Sadmaya yang kaya, maka kesemuanya tinggal di Kota Raja itu-pun telah memberikan banyak keuntungan baginya.

Sementara itu Ki Sadmaya sama sekali tidak memikirkan kepentingan yang justru dapat mempengaruhi peredaran sejarah Kediri jika usaha Ki Ajar itu berhasil. Karena itu, maka dengan tanpa berprasangka sama sekali, ia memberikan tempat kepada Ki Ajar, yang baginya adalah seorang pertapa.

Bagi Ki Sadmaya, pertapa yang disebutkan dengan Ki Ajar Bomantara itu tidak berbuat lebih banyak dari menekuni persoalan ajaran-ajaran tentang hidup dan kehidupan dalam hubungan dengan masa langgeng. Namun Ki Sadmaya juga mengetahui pada saat-saat ia berada di padepokan, bahwa para cantrik di padepokan itu juga sedikit mempelajari olah kanuragan yang akan dapat mereka pergunakan untuk menolong yang lemah dan melindungi orang-orang yang dibayangi oleh tindak kejahatan.

Karena itu, maka Ki Sadmaya sama sekali tidak menduga, bahwa kehadiran Ki Ajar itu ada hubungannya dengan kematian Pangeran Kuda Permati dan keadaan Pangeran Lembu Sabdata yang berada didalam kurungan.

Dengan demikian, maka Ki Sadmaya sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima Ki Ajar dan Putut Panjer sebagaimana ia diterima di padepokan mereka.

Sejak hari itu, maka Ki Ajar dan Putut Panjer berada di rumah Ki Sadmaya. Mereka berada di Pondok kanan. Dengan senang hati seluruh keluarga Ki Sadmaya memperlakukan Ki Ajar dan Putut Panjer sebagaimana keluarga mereka sendiri.

“Tinggallah disini sampai kapan kalian menghendaki,” berkata Ki Sadmaya, “rumahku terlalu besar untuk keluargaku,” berkata Ki Sadmaya, “rumahku terlalu besar untuk keluargaku yang kecil. Karena itu, seandainya kalian akan tinggal di rumahku untuk seterusnya-pun akau tidak berkeberatan sama sekali.”

“Terimakasih Ki Sadmaya,” jawab Ki Ajar, “Aku akan memanfaatkan kebaikan hati Ki Sadmaya. Mungkin aku akan berada di rumah ini untuk waktu yang lama, karena aku ingin mendapatkan pengalaman hidup di Kota Raja. Selama ini aku selalu berada di padepokan kecil yang terpencil dan sepi.”

“Silahkan,” sahut Ki Sadmaya, “Seandainya Ki Ajar memerlukan sesuatu, katanya saja. Mungkin aku dapat menolong. Seandainya Ki Ajar ingin seorang pengantar untuk melihat-lihat keadaan Kota Raja, seorang kemamanakanku yang tinggal bersamaku disini menjadi penunjuk.”

“Ki Sadmaya terlalu baik,” berkata Ki Ajar, “Bukan maksudku untuk terlalu merepotkan Ki Sadmaya dan keluarga.”

Ki Sadmaya tertawa. Katanya, “Aku tidak berbuat apa-apa.”

Ki Ajar-pun kemudian tertawa pula. Katanya, “Mungkin yang akan aku perlukan jauh lebih banyak dari yang Ki Sadmaya duga sebelumnya.”

Ki Sadmaya justru tertawa. Katanya, “Apakah yang Ki Ajar perlukan. Tetapi jika aku tidak mampu mengadakannya, maka aku-pun akan mengatakannya.”

Demikianlah, maka untuk beberapa lamanya Ki Ajar dan Putut Penjer telah menjadi bagian dari keluarga Ki Sadmaya. Dengan demikian kehadiran mereka di Kediri seakan-akan telah mendapatkan alas tempat berpijak yang mapan, sehingga mereka tidak perlu dengan susah payah memikirkannya.

Dalam kesempatan itulah, maka Ki Ajar dan Putut Panjer berusaha untuk mendapakan keterangan tentang keadaan Pangeraan Lembu Sabdata yang sedang dikurung dan dikawal kuat sekali oleh prajurit-prjurit pilihan dari Kediri.

Namun dalam pada itu, pada saat yang ditunggu, ternyata Ki Ajar dan Putut Sadmaya sempat juga berbincang dengan Ki Sadmaya tentang keadaan Kediri yang pada saat itu datang ke rumah itu telah terputus.

Dengan pendahuluan yang berputar-putar akhirnya Ki Ajar sampai pada satu pertanyaan, “Apakah kematian Pangeran Kuda Permati benar-benar membawa ketenangan di Kediri?”

“Agaknya memang demikian, setidak-tidaknya untuk sementara,” jawab Ki Sadmaya.

“Dan bagaimana dengan para pendukungnya?” bertanya Ki Ajar pula.

“Agaknya Ki Ajar tertarik juga dengan berita-berita tentang pertentangan yang terjadi di lingkungan istana Kediri?” desis Ki Sadmaya.

“Sebagai rakyat Kediri, maka berita itu memang sangat menarik. Berita yang kami dengar tidak jelas pada saat kami berada di padepokan. Kami seakan-akan hanya mendengar gemanya. Dengan demikian, maka bunyinya tidak lagi sejelas suara aslinya,” berkata Ki Ajar.

Ki Sadmaya tersenyum. Katanya, “Kematian Pangeran Kuda Permati pengaruhnya memang besar sekali. Para pengikutnya sedikit demi sedikit telah menyerah, sehingga akhirnya hampir semua pengikutnya telah menyerah pula. Sekarang kekuasaan seakan-akan berada di tangan Pangeran Singa Narpada yang telah berhasil menumpas pemberontakan Pangeran Kuda Permati, meskipun keberhasilannya terutama karena langkah yang diambil oleh isteri Pengeran Kuda Permati sendiri.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Nama yang memang dapat mendirikan bulu roma. Pangeran Singa Narpada. Aku kira nama itu adalah nama Sri Baginda dimasa mudanya atau sebutan lain bagi Sri Baginda, yang belum pernah aku dengar sebelumnya karena nama itu dihubungkan dengan kekuatan di Kediri.”

Ki Sadmaya tersenyum. Katanya, “Nama itu adalah nama seorang Pangeran.”

Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Seakan-akan diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah tidak ada diantara para Pangeran yang lain yang terlibat kedalam pemberontakan itu?”

Ki Sadmaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Memang ada. Dan itu bukan rahasia lagi. Adiknya, Pangeran Lembu Sabdata kini berada didalam tahanan.”

“O,” Ki Ajar masih mengguk-angguk, “jadi ada juga keluarga istana yang lain yang terlibat?”

Ki Sadmaya sama sekali tidak berprasangka. Apalagi yang dikatakannya itu adalah satu peristiwa yang sudah diketahui oleh hampir semua orang Kediri. Karena itu, maka dengan serta merta ia berkata, “Pangeran Lembu Sabdata telah bergerak cukup jauh. Sebelum Pangeran Kuda Permati dengan terang-terangan mengangkat senjata, maka yang bergerak adalah Pangeran Lembu Sabdata meskipun tidak langsung mengganggu Kota Raja dan sekitarnya, karena Pangeran Lembu Sabdata lebih banyak bergerak di Pakuwon yang berhadapan langsung dengan Singasari. He, apakah kau tidak pernah mendengar bahwa ada satu gerakan yang telah membuat hutan-hutan menjadi gundul terutama di lereng-lerang pegunungan di daerah-daerah yang subur, yang dapat menjadi lumbung makanan bagi Singasari? Tanah-tanah perdikan dan Pakuwon-pakuwon di sekitar Singasari telah menjadi sasaran. Tetapi pada suatu saat Pangeran Lembu Sabdata telah tertangkap oleh kekuatan yang dipasang oleh Singasari. Atas permintaan Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Lembu Sabdata dibawa ke Kidiri. Pada saat itulah, maka kedok Pangeran Kuda Permati mulai terbuka.”

“O,” Ki Ajar mengangguk-angguk. Seolah-olah ia memang belum pernah mendengar berita tentang pergolakan itu.

Sementara itu Ki Sadmaya-pun berkata seterusnya, “Nah, sampai sekarang Pangeran Lembu Sabdata itu masih berada didalam tahanan.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak dapat langsung bernyata tentang sesuatu yang lebih mendalam lagi. Yang dapat dikatakan kemudian adalah, “sampai kapan Pangeran Lembu Sabdata itu akan ditahan?”

Ki Sadmaya mengangkat pundaknya. Katanya, “Tidak seorang-pun yang dapat mengatakan. Mungkin sebentar lagi ia sudah dibebaskan. Tetapi mungkin ia akan ditahan sampai waktu yang tidak terbatas.”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Ia ingin mendengar apakah Pangeran itu memang terganggu kesadarannya.

Ternyata Ki Sadmaya itu memang mengatakan, “Ki Ajar. Ada sesuatu yang perlu kau ketahui tentang Pangeran itu. Pangeran yang masih muda itu ternyata sedang terganggu kesadarannya.”

“O, apakah gangguan itu disebabkan karena keadaannya selama ia berada didalam tahanan? Mungkin perlakuan yang tidak sewajarnya atau hal-hal lain?” bertanya Ki Ajar.

“Sebenarnya Sri Baginda sangat menyayanginya. Tetapi Sri Baginda tidak dapat berbuat sesuatu karena adiknya itu terbukti telah terlibat dalam satu pemberontakan bersama Pangeran Kuda Permati,“ jawab Ki Sadmaya, “Tetapi yang membuat kesadarannya itu terganggu adalah pada saat-saat ia mendengar berita kematian Pangeran Kuda Permati dan sebab kematiannya.”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Sementara itu tanpa diminta lagi Ki Sadmaya siudah menceriterakan sebab kematian Pangeran Kuda Permati yang telah sangat mengejutkan dan kemudian mengguncang perasaan Pangeran Lembu Sabdata.

“Kasihan,” berkata Ki Ajar. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Ki Sadmaya. Bukan maksudku untuk menyombongkan diriku. Mungkin aku memang seorang padepokan yang dungu. Tetapi ada sesuatu yang mungkin dapat aku lakukan. Aku adalah seorang pertapa yang selama ini berusaha untuk menemukan cara menolong sesama dengan cara-cara yang khusus. Karena itu, apabila tidak melanggar paugeran, apakah aku diperkenankan berusaha mengobati Pangeran Lembu Sabdata? Meskipun ia harus tetap berada didalam kurungan, namun alangkah baiknya, jika ia dapat disembuhkan dari sakit ingatannya itu.”

“Apakah kau dapat mengobati orang yang sakit ingatan?” bertanya Ki Sadmaya.

“Aku sudah berusaha untuk mempelajari berbagai jenis obat-obatan,” berkata Ki Ajar, “Tetapi yang dapat aku lakukan adalah atas orang-orang padukuhan kecil dan bodoh dan sederhana. Aku tidak dapat mengatakan, apakah aku juga dapat mengobati seorang Pangeran.”

Ki Sadmaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah ada bedanya?”

“Tentu ada,” jawab Ki Ajar, “orang-orang yang bodoh dan sederhana dengan mudah dapat berada dibawah pengaruh kekuatan jiwani yang ada didalam diriku. Tetapi apakah orang-orang yang berkepribadian kuat dan pandai sebagaimana seorang Pangeran akan dapat aku perlakukan seperti itu.”

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sekarang Pangeran Lembu Sabdata dalam keadaan dibawah pengawasan. Betapa-pun besar kesalahannya, ia memang perlu mendapat pertolongan jiwanya yang terganggu. Tetapi aku tidak tahu. apakah Pangeran Singa Narpada akan membenarkan.”

“Tetapi bukankah Pangeran Lembu Sabdata adalah adik Sri Baginda yang disayanginya? Mungkin Pangeran Singa Narpada tidak akan sependapat. Tetapi jika hal itu diperintahkan oleh Sri Baginda, apakah mungkin Pangeran Singa Narpada menentangnya?” bertanya Ki Ajar.

Ki Sadmaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku tidak banyak mengetahui seluk beluk istana.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia sudah memasuki satu langkah untuk dapat menuju ke sasarannya Tetapi ia harus menahan diri untuk melangkah lebih berhati-hati.

Katanya kemudian, “Ki Sadmaya. Bagiku keadaan Pangeran Lembu Sabdata itu sangat menarik untuk mendapat perhatian.”

Ki Sadmaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia-pun kemudian berkata, “Memang kita dapat menaruh belas kasihan. Tetapi apa yang dapat kita lakukan?”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Namun ia berkata, “Ki Sadmaya. Apakah Ki Sadmaya tidak dapat berusaha, lewat kawan-kawan Ki Sadmaya atau siapa-pun juga untuk dapat sampai pada satu kemungkinan mengobati Pangeran yang sakit itu? Tetapi dengan satu pengertian, bahwa aku sendiri tidak pasti bahwa aku akan dapat menyembuhkannya. Semuanya itu hanyalah satu usaha saja.”

Ki Sadmaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Ajar adalah seorang pertapa. Mungkin Ki Ajar memang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karena itu, jika ada jalan, maka Ki Ajar dapat mencobanya.”

“Aku sama sekali tidak akan berkeberatan. Adalah menjadi kewajiban kita untuk berusaha menolong sesama. Tetapi sekali lagi dengan keterangan, bahwa yang aku lakukan hanyalah satu usaha. Aku sama sekali tidak dapat memastikan bahwa usaha itu akan berhasil,” jawab Ki Ajar.

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Namun telah tumbuh didalam hatinya persoalan tentang Pangeran Lembu Sabdata yang sakit itu. Ia sudah lama mengetahui bahwa Pangeran Lembu Sabdata itu sakit. Tetapi sebelumnya ia tidak pernah menularkannya. Namun ketika ia berbicara dengan Ki Ajar tentang Pangeran itu, maka ia-pun telah sependapat, bahwa ada juga baiknya berusaha untuk mengobatinya. Ia sudah cukup menderita didalam tahanan. Apalagi jika harus menderita penyakit ingatan yang kadang-kadang membuatnya benar-benar lupa dan menyakiti dirinya sendiri tanpa disengaja.

Karena itu, maka Ki Sadmaya-pun kemudian berkata, “Ki Ajar. Akau akan mencoba untuk berhubungan dengan orang-orang yang aku kenal. Mungkin diantara mereka ada yang dapat menghubungkan kita dengan lingkungan istana yang kemudian dapat menjadi jembatan untuk sampai kepada usaha pengobatan Pangeran Lembu Sabdata.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menghargai usaha Ki Sadmaya. Mudah-mudahana berhasil, karena rasa-rasanya aku akan dibebani oleh kewajiban untuk menolong sesama, meskipun berulang kali aku katakan, hanya sekedar usaha.”

“Baiklah Ki Ajar. Namun dengan demikian, maka Ki Ajar akan berada di rumah ini untuk waktu yang lebih lama.” berkata Ki Sadmaya.

“Jika Ki Sadmaya tidak berkeberatan, maka aku-pun akan menunggu,” sahut Ki Ajar.

“Tentu tidak,” jawab Ki Sadmaya, “Namun demikian, aku masih harus berhati-hati. Mudah-muahan usaha itu tidak menyudutkan aku dalam kesulitan.”

“Kenapa?” bertanya Ki Ajar.

“Mudah-mudahan dengan demikian aku tidak dianggap terlibat dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Lembu Sabdata dan Pangeran Kuda Permati.”

Ki Ajar mengangguk-angguk. Namun katanya, “Ki Sadmaya memang harus berhati-hati. Dengan demikian Ki Sadmaya harus dapat meyakinkan, bahwa yang kita lakukan semata-mata karena kemanusiaan. Tentu Ki Sadmaya tahu bahwa orang-orang seperti aku ini tidak akan mempunyai pamrih apa-pun juga, selain usaha mendekatkan diri kepada sumber hidupnya.”

Ki Sadmaya sama sekali tidak menolak keterangan itu. Bagi Ki Sadmaya sahabaatnya itu memang benar-benar seorang pertapa yang hidupnya sebagian besar diserahkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Dengan demikian, maka Ki Ajar-pun telah menyatakan kesediaannya untuk tinggal di Kediri lebih lama lagi. Sementara itu Ki Sadmaya akan berusaha menghubungi orang-orang yang dikenalnya yang memungkinkannya untuk dapat berhubungan dengan orang yang berwenang mengijinkan pengobatan bagi Pangeran Lembu Sabdata.

Namun dalam pada itu, didalam biliknya Ki Ajar berkata kepada muridnya, “Mudah-mudahan usaha Ki Sadmaya berhasil. Setidak-tidaknya aku hanya memerlukan keterangan, dimana sebenarnya Pangeran Lembu Sabdata itu ditahan. Seandainya tidak ada ijin untuk mengobatinya, aku tidak peduli.”

“Kemudian guru akan terlibat kedalam satu pekerjaan yang amat rumit dan berbahaya,” berkata Putut itu.

“Aku menyadarinya. Tetapi aku akan melakukannya dengan baik. Aku akan gunakan kemampuanku dan kemampuanmu, sehingga kita akan dapat mengambil Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Ki Ajar.

“Tetapi, guru,” bertanya Putut itu, “Seandainya guru justru diperkenankan pengobatinya, apakah guru akan dapat mengambilnya? Jika demikian bukankah guru justru akan dicurigai dan Pangeran Singa Narpada akan mencarinya di padepokan kita?”

“Semuanya akan diatur sebaik-baiknya,” berkata Ki Ajar, “Jika aku dapat mengobatinya dan menyembuhkannya, maka aku akan membiarkannya tinggal untuk satu dua bulan. Baru kemudian kita akan mengambilnya dan memberikan kesan bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah melarikan diri.”

Putut itu mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa gurunya akan dapat melakukan semua rencananya dengan cermat.

Namun yang dilakukan oleh Ki Sadmaya bukannya usaha yang mudah. Ternyata ia harus menempuh jalan yang berbelit-belit untuk sampai pada seseorang yang mempunyai hubungan dengan keadaan Pangeran Lembu Sabdata.

Tetapi adalah seolah-olah diluar kehendaknya sendiri, bahwa Ki Sadmaya telah bekerja dengan tekun dan bersungguh-sungguh untuk mencari hubungan dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas bilik tahanan Pangeran Lembu Sabdata. Rasa-rasanya ia benar-benar didorong oleh perasaan kemanusiaannya, bahwa Pangeran Lembu Sabdata memang harus mendapat pengobatan.

Ternyata bahwa usaha Ki Sadmaya tidak sia-sia. Lewat orang-orang yang dikenalnya, maka akhirnya ia berhasil menghubungi seorang Senapati dari pasukan Pangeran Singa Narpada.

“Bukan dengan alasan apa-pun juga, tetapi sekedar alasan kemanusiaan,” berkata Ki Sadmaya kepada Senapati itu.

“Aku mengerti,” jawab Senapati itu, “Keadaan Pangeran Lembu Sabdata memang sangat memelas. Bahkan pada satu saat ketika Sri Baginda berkesempatan untuk melihatnya, maka nampak hatinya benar-benar tertusuk oleh keadaan adiknya itu. Tetapi sebagai seorang Raja yang harus berdiri diatas segala hubungan dan lingkungan, maka Sri Baginda tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Tetapi,” berkata Ki Sadmaya, “Apakah kira-kira Baginda berkeberatan, jika Pangeran Lembu Sabdata itu diobati. Tidak untuk dilepaskan.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bergumam, “apakah justru tidak lebih baik ia berada dalam keadaannya? Bukankah dengan demikian ia tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam tahanan? Tetapi jika ia disembuhkan, maka ia akan merasakan kepedihan sebagai seorang tawanan.”

Ki Sadmaya termangu-mangu sejenak. Ada juga kebenarannya pendapat Senapati itu. Tetapi bukankan dengan demikian hidup Pangeran Lembu Sabdata tidak berarti sama sekali, karena hidup tanpa kesadaran adalah sama artinya dengan kehilangan tataran martabatnya.

Hampir kepada diri sendiri Ki Sadmaya bergumam, “Apakah Pangeran Singa Narpada pernah menyatakan pendapatnya tentang Pangeran Lembu Sabdata?”

Senapati itu memandang Ki Sadmaya dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Sebagai seorang yang berjiwa besar seperti Pangeran Singa Narpada, maka sudah barang tentu ia berpendapat bahwa sebaiknya Pangeran Lembu Sabdata itu tidak mengalami goncangan jiwani. Tegasnya Pangeran Singa Narpada akan bergembira sekali jika Pangeran Lembu Sabdata itu dapat disembuhkan. Bukan saja dari gangguan ingatannya, tetapi juga dari racun yang telah merasuk kedalam dirinya yang ditusukkan lewat keyakinan Pangeran Kuda Permati.”

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika Pangeran Lembu Sabdata menemukan kembali kesadarannya, maka usaha untuk menyadarkannya bahwa sikap dan keyakinan Pangeran Kuda Permati itu salah, akan lebih mudah dilakukannya.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi nampaknya kau menaruh perhatian yang besar sekali terhadap Pangeran Lembu Sabdata.”

“Secara kebetulan di rumahku ada seorang pertapa yang singgah. Seorang sahabatku yang menetap di sebuah padepokan untuk mesu diri menangkap suara heningnya ketenteraman suasana dalam hubungannya dengan sumber hidupnya,” berkata Ki Sadmaya, “Ketika pertapa itu mendengar kabar bahwa Pangeran Sabdata terganggu jiwanya, maka ia-pun merasa terpanggil untuk berusaha mengobatinya, meskipun ia sudah mengatakan, bahwa yang dilakukannya adalah sekedar usaha. Mungkin usaha itu tidak berhasil, karena ia merasa tidak lebih dari orang kebanyakan seperti kita pula. Namun pertapa itu sama sekali tidak tahu menahu sangkut pautnya antara Pangeran Lembu Sabdata dengan Pangeran Kuda Permati dan Pangeran Singa Narpada. Karena menurut jalan hidupnya yang ditempuhnya ia kurang memperhatikan gejolak seperti yang pernah terjadi di Kediri pada saat-saat terakhir.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku akan mencoba mencari keterangan, mudah-mudahan aku dapat membantu pertapa itu. Karena menurut keyakinanku, tidak ada pihak yang berkeberatan jika Pangeran Lembu Sabdata mendapat pengobatan. Pangeran Singa Narpada tidak dan Sri Baginda-pun tidak. Tetapi untuk itu memang diperlukan ijin resmi dari Sri Baginda. Pangeran Lembu Sabdata adalah seorang tawanan, namun ia juga salah seorang keluarga Raja.”

Kis Sadmaya mengangguk-angguk. Katanya, “Kami menunggu hasilnya. Aku sudah minta pertapa itu untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan rumahku. Tetapi aku tidak tahu, sampai kapan ia dapat meninggalkan padepokannya.”

“Aku akan berusaha dapat memberikan keterangan secepatnya,” berkat Senapati itu.

Dengan demikian, maka keterangan Ki Sadmaya akan kesediaan Senapati itu, telah membuat Ki Ajar semakin mantap. Ia berharap bahwa ia benar-benar akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata. Setidak-tidaknya mengetahui dimana Pangeran itu disimpan.

Sebenarnyalah Senapati yang telah berhasil dihubungi Ki Sadmaya itu-pun berusaha untuk mendapat kesempatan berbicara langsung dengan Pangeran Singa Narpada. Menurut pendapatnya Pangeran Singa Narpada akan dapat menyampaikannya kepada Sri Baginda di Kediri.

Tetapi kesempatan untuk berbicara dengan Pangeran Singa Narpada tentang Pangeran Lembu Sabdata itu tidak didapatkannya dengan mudah. Pada saat-saat terakhir, Pangeran Singa Narpada masih juga sibuk untuk membenahi lingkungan keprajuritan Kediri yang telah dikoyak-koyak oleh Pangeran Kuda Permati. Dengan sangat hati-hati dan cermat. Pangeran Singa Narpada harus memilih, siapakah diantara para prajurit yang terlibat dalam usaha Pangeran Kuda Permati yang masih mungkin dikembalikan kedalam lingkungan keprajuritan. Sementara itu siapa pula yang harus di bina dengan penuh kesungguhan dan yang manakah yang tidak ada harapan lagi untuk dapat diangkat kembali dari dalam lumpur pelanggaran paugfran kesatria Kediri menurut pertimbangan yang wajar.

Untuk kepentingan itu Pangeran Singa Narpada harus menyusun sekelompok perwira yang benar-benar dapat dipercaya untuk menilai para prajurit yang dianggap bersalah. Termasuk para panglima di daerah perbatasan di ampat penjuru.

Namun Senapati itu tidak berputus-asa sebagaimana selalu dikatakannya kepada Ki Sadmaya.

“Tahanlah agar pertapa itu tetap tinggal di tempatmu untuk beberapa hari lagi,” berkata Senapati itu.

“Tetapi sampai kapan,” bertanya Ki Sadmaya,”usaha itu adalah sekedar karena rasa kasihan. Karena itu, sudah tentu aku tidak akan dapat mengikatnya terlalu lama.”

“Aku akan berusaha,” jawab Senapati itu. Namun katanya kemudian, “Bukankah usahamu dan usahaku ini juga hanya karena rasa kasihan? Bukankah aku dan Ki Sadmaya tidak mempunyai pamrih lain?”

“Ya. Ya. Aku mengerti,” jawab Ki Sadmaya.

Namun ternyata bahwa usaha Senapati itu tidak sia-sia. Pada satu saat kesempatan itu ternyata didapatkannya juga. Justru pada saat Pangeran Singa Narpada yang sedang melakukan pengamatan terhadap para prajurit di lingkungan Kota Raja Kediri tiba-tiba saja ingin menengok Pangeran Lembu Sabdata didalam bilik tahanannya.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam ketika ia berdiri dimuka pintu bilik yang kemudian dibuka. Dilihatnya Pangeran Lembu Sabdata sudah berubah sama sekali. Ketika pintu berderit, maka Pangeran Lembu Sabdata itu memang berpaling. Tetapi kemudian Pangeran itu tidak mengacuhkannya lagi. Seolah-olah tidak ada seorang-pun yang berdiri dimuka pintu.

Pangeran Singa Narpada melangkah dengan hati-hati memasuki bilik itu. Ia tidak ingin mengejutkan Pangeran Lembu Sabdata, karena dengan demikian mungkin Pangeran yang sedang sakit itu akan menjadi garang.

“Adimas Pengeran,” desis Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Lembu Sabdata berpaling sekilas? Namun kemudian ia kembali kepada sikapnya semula. Duduk disudut bilik yang khusus, yang terbuat dari batang-batang kayu yang dijalin rapat kecuali dibeberapa bagian untuk memberikan cahaya dan angin kedalam bilik itu yang dianyam agak jarang namun terikat kuat-kuat dengan tali ijuk.

Pangeran Singa Narpada merenungi keadaan Pengeran Lembu Sabdata itu dengan sentuhan di hatinya. Namun ia juga menyesali sikap keras hati dan keras kepala Pangeran yang masih terhitung muda itu, sehingga ia mengalami goncangan jiwa yang tidak teratasi.

Pangeran Lembu Sabdata itu tidak lagi menyadari, bagaimana ia berpakaian. Makan dan minumnya sama sekali tidak teratur meskipun ia mendapat pelayanan yang cukup baik. Rambutnya yang panjang terurai kumal yang tidak dikenakannya dikepalanya.

“Adimas,” desis Pangeran Singa Narpada.

Wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi tegang. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada dengan sorot mata yang mulai menyala.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak ingin terlibat kedalam kesulitan dengan seseorang yang terganggu jiwanya. Karena itu, maka ia-pun kemudian melangkah keluar pintu sambil bergumam, “Sungguh akhir yang sangat pahit.”

Senapati yang berhubungan dengan Ki Sadmaya tiba-tiba saja seperti mendapat jalan untuk menyampaikan maksudnya. Bahkan hampir diluar sadarnya ia menyahut, “Bukan Pangeran. Masih ada jalan keluar jika Pangeran tidak berkeberatan.”

Pangeran Singa Narpada tertarik kepada kata-kata Senapati itu. Dengan kerut di kening Pangeran Singa Narpada bertanya, “Apa maksudmu?”

Senapati itu menjadi berdebar-debar. Sejenak ia memperhatikan seorang pengawal menutup bilik itu. Sementara itu Pangeran Singa Narpada menunggu jawaban dari mulutnya.

Senapati itu-pun kemudian menceriterakan tentang seorang pertapa yang kebetulan berada di rumah seorang kenalannya. Pertapa itu bersedia mengobati Pangeran Lembu Sabdata yang sakit.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Apakah ia sengaja datang untuk mengobati Pangeran Lembu Sabdata?”

Senapati itu merasa bahwa ia harus berhati-hati. Pangeran Singa Narpada tentu tidak akan dengan mudah percaya kepada orang-orang yang belum dikenalnya. Juga kepada pertapa itu. Jika pertapa itu sengaja datang untuk mengobati Pangeran Lembu Sabdata, apakah ia mempunyai sesuatu pamrih yang terselubung?

Karena itu, maka Senapati itu-pun kemudian berkata, “Pangeran. Pertapa itu sama sekali tidak mengetahui apa yang pernah terjadi di Kota Raja ini. Ia datang sekedar menengok sahabatnya, Ki Sadmaya. Baru ketika ia berada di rumah Ki Sadmaya ia mendengar segala sesuatu yang pernah terjadi, termasuk Pengeran Lembu Sabdata yang ditahan karena terlibat kedalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati. Namun pertapa itu menaruh belas kasihan bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah mengalami kegoncangan jiwa. Jika segala pihak tidak berkeberatan, maka pertapa itu akan berusaha untuk mengobatinya, meskipun ia tidak menyanggupkan bahwa ia pasti akan benar-benar dapat menyembuhkannya.”

Pengeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandangi Senapati itu dengan tajamnya. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah Ki Sadmaya yang mengusahakannya. Bukankah kau menyebut-nyebut bahwa pertapa itu ada di rumah kawanmu yang bernama Ki Sadmaya?”

“Menurut pendapatku, Ki Sadmaya-pun tidak bersangkut paut dengan peristiwa yang baru terjadi. Ia bukan seseorang yang berkepentingan dengan pertempuran yang telah membakar Kediri selama ini. Ki Sadmaya-pun sekedar merasa belas kasihan ketika ia mendengar bahwa seorang Pangeran yang bersalah dan disimpan didalam kurungan telah mengalami kegoncangan jiwa,” berkata Senapati itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Ki Sadmaya itu.”

“Baiklah Pangeran,” jawab Senapati itu, “Aku akan membawa orang itu menghadap.”

Namun dengan demikian, maka Senapati itu-pun merasa bahwa tanggung jawabnya justru berkurang. Jika orang itu sudah bertemu langsung dengan Pangeran Singa Narpada, maka persoalannya akan langsung diketahui oleh Pangeran itu, sehingga jika terjadi sesuatu, kesalahannya tidak seluruhnya akan ditimpakan kepadanya.

Demikianlah, sebagaimana diperintahkan oleh Pangeran Singa Narpada, maka Senapati itu telah membawa Ki Sadmaya menghadap.

Dengan teliti Pangeran Singa Narpada bertanya tentang diri Ki Sadmaya sendiri, sikapnya dan kesetiaannya kepada Kediri, serta kemungkinan hubungan yang ada antara Ki Sadmaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

“Aku sama sekali tidak terlibat kedalam pertentangan yang baru saja terjadi Pangeran,” jawab Ki Sadmaya, “Bahkan aku pernah mengalami kesulitan karena tiga ekor kudaku telah diambil oleh orang-orang yang menyebut dirinya pejuang-pejuang dibawah pimpinan Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Katanya, “Kudamu diambil oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati, atau kau memang menyerahkan kudamu kepada mereka?”

“Mereka yang mengambil kuda-kudaku Pangeran,” jawab Ki Sadmaya, “Tetapi aku tidak berani melawan kehendak mereka. Aku harus menyerahkannya jika aku masih ingin hidup.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Siapa yang mengatakan kepadamu, bahwa Pangeran Lembu Sabdata adalah seorang Pangeran yang terlibat kedalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati dan kemudian mengalami sakit ingatan.”

Ki Sadmaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bukankah banyak orang-orang yang mengatakannya tentang keadaan Pangeran Lembu Sabdata? Kebanyakan diantara orang-orang itu sama sekali tidak berkeberatan jika Pangeran Lembu Sabdata dibatasi ruang geraknya karena ia jelas melakukan kesalahan. Tetapi bahwa kesadarannya telah terganggu itulah yang menumbuhkan belas kasihan, karena dengan demikian, maka keadaannya tentu akan menjadi cepat sekali rusak. Baik tubuhnya mau-pun jiwanya. Namun demikian segala sesuatunya terserah kepada Pangeran. Sementara itu sahabatku, pertapa itu-pun berkata bahwa ia hanya dapat berusaha, mungkin berhasil, tetapi mungkin juga tidak.”

Pangeran Singa Narpada melihat kejujuran disorot mata Ki Sadmaya. Karena itu, maka katanya, “Aku tidak berkeberatan Ki Sadmaya. Tetapi bagaimana dengan sahabatmu itu? Apakah padanya tidak ada niat tersembunyi?”

“Manurut pendapatku, tentu tidak Pangeran. Ia baru mendengar peristiwa yang terjadi di Kota Raja setelah ia berada di rumah,” berkata Ki Sadmaya.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada Sri Baginda. Pangeran Lembu Sabdata adalah seseorang yang pernah melakukan kesalahan terhadap Raja. Dan secara kebetulan ia adalah adik Raja itu pula. Karena itu, maka keputusan terakhir ada di tangan Sri Baginda.”

Ki Sadmaya mengangguk-angguk. Tetapi ia boleh berpengharapan bahwa Ki Ajar yang tinggal di rumahnya itu akan mendapat kesempatan untuk mengobati Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun ia tidak mempunyai hubungan apa-pun juga dengan Pangeran itu, tetapi tidak ada salahnya, jika Pangeran itu mendapat pertolongan atas dasar kemanusiaan semata-mata.

Dengan demikian, maka kepada Ki Ajar. Ki Sadmaya mempersilahkan untuk menunggu perintah lebih lanjut dari Pangeran Singa Narpada, setelah Pangeran Singa Narpada mendapat ijin dari Sri Baginda.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...