*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 009-03*
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang merasa bahwa ke terangan Ki Sarpa Kuning itu ditujukan kepada mereka pun telah memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, karena murid-murid Ki Sarpa Kuning yang lain tentu telah mengetahuinya.
Dengan tanpa berpaling kearah kedua anak muda itu, Ki Sarpa Kuning berkata lebih lanjut, “Ayah saudara sepupu Ki Buyut yang meninggal itulah yang seharusnya menerima warisan kedudukan Buyut di Kabuyutan itu. Tetapi tanpa diketahui sebabnya, maka orang itu telah meninggal. Sementara itu, anaknya masih terlalu kecil untuk dapat menggantikannya. Dalam keadaan yang tidak menentu, maka ayah Ki Buyut itulah yang kemudian mengambil alih kekuasaan saudaranya yang meninggal itu. Sehingga akhirnya, kedudukan itu telah di warisi pula oleh Ki Buyut. Tetapi sepeninggal Ki Buyut, kedudukan itu kembali menjadi persoalan. Saudara sepupunya yang bukan kanak-kanak lagi sebagaimana saat ia ditinggalkan oleh ayahnya, sehingga ia tidak kehilangan untuk yang kedua kalinya”
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah saudara sepupu Ki Buyut itu lebih tua dari Ki Buyut yang telah meninggal itu?”
“Ya. Aliran darah di dalam tubuhnya lebih tua dari Ki Buyuf yang meninggal meskipun umurnya lebih muda sedikit dari Ki Buyut yang meninggal itu” jawab Ki Sarpa Kuning.
Mahisa Murti tidak bertanya lagi. Tetapi ia tidak dapat mempercayai sepenuhnya ceritera tentang saudara sepupu Ki Buyut itu.
Demikianlah, maka mereka pun telah berada di ngarai yang luas. Selangkah demi selangkah mereka mendekati padukuhan yang oleh Ki Sarpa Kuning disebut padukuhan yang paling baik dan dihuni orang-orang yang paling pandai di seluruh Kabuyutan yang sedang bergejolak itu.
Padukuhan itu memang sebuah padukuhan yang besar. Agak lebih besar dari padukuhan padukuhan yang lain. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun pernah mendengar bahwa ada dua padukuhan yang mendukung saudara sepupu Ki Buyut itu untuk memegang jabatan yang kosong itu. Tetapi Kabuyutan yang lain berpihak kepada menantu Ki Buyut yang telah meninggal dunia itu.
Ternyata kedatangan Ki Sarpa Kuning ke Kabuyutan itu sama sekali tidak mengejutkan penghuninya yang rasa-rasanya sudah mengenalnya. Bahkan beberapa orang telah menyapanya dengan ramah dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Agaknya Ki Sarpa Kuning telah sering datang ke Ka buyutan ini” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di dalam hatinya.
Sebenarnya kedatangan Ki Sarpa Kuning saat itu bukannya untuk yang pertama kali. Sebelumnya ia memang sudah beberapa kali mengunjungi saudara sepupu Ki Buyut yang sudah meninggal itu dan membicarakan berbagai kemungkinan yang dapat dilakukannya.
Karena itu, maka kedatangannya itu pun telah disambut dengan baik oleh orang-orang yang menghuni padukuhan itu.
Perlahan-lahan iring-iringan itu maju menyusuri jalan padukuhan menuju ke sebuah halaman rumah yang cukup luas. Halaman rumah yang menjadi pusat perhatian bukan saja penghuni padukuhan itu, tetapi juga padukuhan pa dukuhan di sekitarnya.
Ketika iring-iringan itu memasuki regol halaman rumah itu, maka seorang yang bertubuh tinggi, kekar dan berdada bidang, diiringi oleh dua orang laki-laki yang memiliki tubuh yang sama seperti orang yang pertama, telah menyongsongnya.
Sambil tersenyum orang itu berkata, “Marilah Ki Sarpa Kuning. Kami sudah menunggu sejak kemarin”
Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya ”Aku sedang mempersiapkan diri. Seperti yang aku katakan, maka aku telah datang dengan murid-muridku. Mereka akan dengan senang hati membantu usaha Ki Sendawa untuk menegakkan keadilan di Kabuyutan ini”
Orang bertubuh raksasa itu tersenyum. Katanya, “Nampaknya orang-orang dungu itu benar-benar tidak dapat dikasihani. Mereka menjadi putus asa dan dengan membabi-buta berusaha mempertahankan keinginan mereka dengan kekerasan. Di beberapa tempat pande-pande besi dikerahkan untuk membuat senjata. Dengan demikian, maka mereka lelah mempersiapkan perlawanan untuk mempertahankan ketamakan yang sudah harus dihentikan itu”
Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya, “Semakin cepat mereka mengangkat senjata, akan menjadi semakin baik. Tetapi aku tetap menasehatkan, agar Ki Sendawa tidak mendahului menyerang mereka dengan kekerasan. Dengan demikian, maka Ki Sendawa tidak dapat dituduh membangkitkan perselisihan berdarah di Kabuyutan ini, karena bagaimanapun juga, kemungkinan Akuwu akan menilai keadaan untuk mengambil satu keputusan, akan menentukan sekali”
“Aku sependapat” berkata Ki Sendawa, yang kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di pendapa
“Tetapi keadaan seperti ini sangat menegangkan. Seolah-olah tidak akan ada habis-habisnya”
Ki Sarpa Kuning tersenyum. Katanya, “Itu merupakan satu ujian bagi Ki Sendawa. Namun, bukan berarti bahwa Ki Sendawa hanya dapat menunggu sambil berdiam diri”
“Apa yang sebaiknya aku lakukan?” bertanya Ki Sendawa.
“Seperti yang sudah pernah aku sarankan” jawab Ki Sarpa Kuning ”menyatakan diri sebagai Buyut yang memerintah Kabuyutan ini dan mewajibkan semua orang tunduk kepada perintah Ki Sendawa sebagai Buyut yang baru”
“Jika mereka tidak bersedia tunduk akan perintahku?” bertanya Ki Sendawa.
“Ki Sendawa dapat bertindak atas nama penguasa di Kabuyutan ini” jawab Ki Sarpa Kuning, “siapa yang menentang perintah Ki Sendawa, berarti menentang perintah Ki Buyut yang berkuasa. Orang itu dapat ditangkap”
“Bukankah itu berarti aku mempergunakan kekerasan?” bertanya Ki Sendawa.
“Tidak. Tetapi itu adalah hak Ki Buyut” jawab Ki Sarpa Kuning.
“Mereka akan menentang” jawab Ki Sendawa, “apalagi mereka merasa jumlah mereka lebih banyak. Bukankah sudah aku katakan, bahwa mereka telah mempersiapkan senjata? Setiap laki-laki akan bersenjata dan akan menentang setiap tindakanku”
“Bukankah itu yang kita tunggu?” Kita akan menuduh mereka melakukan satu pemberontakan. Kita akan dapat menindak mereka dengan kekerasan. Bukan kita yang mendahului, tetapi mereka. Kita bertindak setelah mereka melakukan pemberontakan” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Jumlah mereka jauh lebih banyak” berkata Ki Sendawa. “Jumlah itu tidak berarti. Laki-laki di padukuhan padukuhan yang mendukung Ki Sendawa cukup banyak, meskipun tidak sebanyak pihak lawan. Tetapi kami berenam dapat Ki Sendawa nilai sama dengan orang-orang dungu itu sebanyak lima atau enam padukuhan?” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Seorang di antara kalian dapat melawan orang sepadukuhan?” bertanya Ki Sendawa.
“Aku hanya memerlukan sejumlah orang untuk mengacaukan perhatian mereka” jawab Ki Sarpa Kuning.
Ki Sendawa termangu-mangu. Ia tidak mengerti maksud Ki Sarpa Kuning, sehingga Ki Sarpa Kuning itu menjelaskan, “Salah seorang dari kami, akan dapat melawan laki-laki sepadukuhan jika beberapa orang membantu kami. Mereka hanya memancing berhatian dan bertahan. Sementara kami akan menghancurkan yang lain, yang bukan merupakan persoalan yang sulit. Apalagi jika sudah sampai kepada puncak kekerasan, sehingga kami menggenggam senjata di tangan. Maka kami akan dapat bekerja dengan cepat”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, terasa tengkuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meremang.
Namun dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning berkata, “Tetapi kami bukan pembunuh biadab yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Kami hanya membunuh dalam keadaan yang terpaksa sekali. Karena itu, maka jika harus terjadi kekerasan pada tataran pertama, kami tidak akan mempergunakan senjata. Sukurlah jika orang-orang dungu itu segera menyadari kekeliruan mereka, sehingga mereka tidak memerlukan langkah kekerasan yang lebih tajam lagi”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Apakah yang akan kalian lakukan pertama-tama?”
“Sudah aku katakan” jawab Ki Sarpa Kuning, “angkat dirimu sendiri sebagai Buyut. Berikan perintah. Yang tidak mau tunduk, harus dianggap sebagai pemberontak. Kami akan memaksa mereka tunduk kepada semua perintahmu. Nah, jika mereka kemudian melawan dengan senjata, barulah kami akan mempergunakan senjata pula, bersama-sama orang-orang yang mendukungmu”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Ia sudah mempunyai gambaran, apa yang harus dilakukannya. Dan ia pun ternyata sependapat dengan Ki Sarpa Kuning. Padahal menurut penilaian Ki Sendawa, upah yang dituntut Ki Sarpa Kuning sama sekali tidak memadai. Ki Sarpa Kuning hanya menghendaki hutan di lereng perbukitan yang termasuk wilayah Kabuyutan yang sedang bergejolak itu.
Namun Ki Sendawa sama sekali tidak mengetahui, bahwa yang dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning itu bukan berdiri sendiri. Di tempat lain, di lereng pebukitan yang lain, maka sekelompok orang telah melakukan hal yang sama. Bahkan ada di antara mereka yang dengan serta mereka menebangi hutan-hutan di lereng bukit yang menghadap daerah persawahan yang dapat mendukung persediaan makan bagi Singasari.
Ternyata Ki Sendawa tidak menunda rencananya lebih lama lagi. Ia pun kemudian mengumpulkan pendukung-pendukungnya untuk menentukan, langkah yang segera akan mereka ambil.
“Sambil menunggu Keputusan Akuwu, maka aku akan menyatakan diri sebagai orang yang bertanggung jawab atas pedukuhan ini” berkata Ki Sendawa kepada para pendukungnya.
Ternyata para pendukungnya sependapat. Salah seorang dari mereka justru berkata, “Jika akan terjadi sesuatu biarlah segera terjadi. Dengan demikian semuanya akan segera menjadi jelas. Yang akan mukti biarlah mukti, yang akan mati biarlah mati”
Ki Sendawa mengangguk angguk. Bahkan ia pun kemudian berkata ”Pada purnama naik sepekan mendatang, aku akan menyatakan diri menjadi Buyut yang berkuasa sepenuhnya di Kabuyutan Talang Amba. Kabuyutan yang memiliki kemungkinan yang sangat baik bagi kesejahteraan di hari depan”
“Kita akan menyelenggarakan semua persiapannya” berkata salah seorang pendukungnya, “kita tidak perlu menghiraukan lagi orang-orang lain mengigau tentang hak”
“Aku adalah orang yang paling berhak atas Kabuyutan ini. Hanya karena ayahku meninggal di saat aku masih terlalu kecil, maka aku tidak dapat menggantikan kedudukannya dan dengan serakah telah diambil oleh pamanku sendiri” jawab Ki Sendawa ”bahkan tidak mustahil bahwa kematian ayahku itu adalah satu akibat dari rencana yang telah tersusun sebelumnya. Jika benar demikian, maka adalah hakku, bukan saja mengambil jabatan yang ditinggalkan oleh ayahku itu kembali, tetapi juga menuntut balas atas kematian ayahku itu”
“Ki Sendawa telah melangkah ke arah yang benar” berkata Ki Sarpa Kuning, “kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan”
“Baiklah” berkata Ki Sendawa, “sebaiknya kalian tinggal saja di padukuhan ini agar semua rencana dapat kami katakan tanpa saling menunggu”
Ki Sarpa Kuning berpaling ke arah murid-muridnya. Sementara itu Gajah Wareng berkata, “Aku sependapat dengan Ki Sendawa guru”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia memandang kearah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sambil bertanya, “Bagaimana dengan kalian?”
Mahisa Murti sudah memutuskan untuk tidak kehilangan kesempatan. Karena itu dengan mantap ia menjawab, “Aku setuju. Dengan demikian kita tidak banyak kehilangan waktu untuk hilir mudik”
“Disini kita akan dapat cepat bertindak” sambung Mahisa Pukat.
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengenal tabiat kedua anak muda itu sedalam-dalamnya. Meskipun demikian, Ki Sarpa Kuning itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Kita tinggal di sini. Tetapi bagaimana dengan pesanggrahan kita?”
“Tidak ada yang akan berani mengusiknya” jawab Gajah Wareng, “apalagi mereka yang mengetahuinya, bahwa rumah itu adalah pesanggrahan kita”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Agaknya murid-muridnya sependapat, bahwa mereka akan tetap berada di padukuhan itu. Namun akhirnya Ki Sarpa Kuning pun mengerti, bahwa hidup dipadukuhan itu memang lebih menarik daripada hidup di hutan di antara lebatnya dedaunan dan batang-batang kayu yang menjulang ke langit. Di antara aum harimau dan derik cengkerik.
Tetapi di padukuhan mereka hidup di antara ringkik kuda dan dengus lembu di kandang. Pagi-pagi tercium bau ketela pohon yang direbus dengan santan atau dengan badek gula kelapa. Menjelang matahari sepenggalah, terdengar suara lesung berdentang. Orang-orang mulai menumbuk padi. Gadis-gadis pergi ke sungai untuk mencuci dan api di dapur pun menjadi semakin besar menyala.
Ki Sarpa Kuning pun masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian ”Baiklah. Akupun tidak akan mengecewakan kalian. Kita akan tinggal di padukuhan ini. Sementara itu, Ki Sendawa akan menyatakan dirinya sebagai Buyut yang berkuasa.
Demikianlah, maka sejak saat itu Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya tinggal di gandok rumah Ki Sendawa. Dengan sungguh-sungguh Ki Sarpa Kuning berpesan, agar murid-muridnya tidak mengecewakan penduduk padukuhan itu. Mereka harus menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar benar akan dapat memberikan jalan keluar dari kesulitan yang tengah mereka hadapi.
“Aku benci kepada orang-orang yang bertindak sendiri-sendiri” berkata Ki Sarpa Kuning, “apalagi yang ternyata kemudian dapat merugikan kita semuanya. Merusak rencana besar kita. Aku akan sampai pada suatu keputusan untuk membunuh orang-orang yang demikian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang masih bingung menghadapi sifat orang aneh itu, sebagaimana Ki Sarpa Kuning pun masih berusaha untuk mengerti sikap kedua anak muda itu.
Dalam pada itu, Ki Sendawa benar-benar telah mempersiapkan diri untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Buyut tanpa menghiraukan pertimbangan orang lain. Sesuai dengan pendapat Ki Sarpa Kuning, maka setelah ia menyatakan diri menjadi Buyut maka ia akan dapat mejmerin tah Kabuyutan itu. Siapa yang tidak tunduk kepada perintahnya, maka ia akan dapat menundukkan mereka dengan kekerasan. Dan ia pun telah mempunyai kekuatan untuk berbuat demikian. Kecuali sebagian penghuni Kabuyutan itu memang berpihak kepadanya, maka enam orang yang ada di rumahnya itu tentu akan dapat membuat pengeram-eram, sehingga tidak akan ada lagi orang yang akan berani menentangnya.
Ternyata persiapan Ki Sendawa itu terdengar oleh pihak yang tidak sependapat dengan sikap itu. Dengan serta merta, maka berita itu pun segera tersebar sampai ke setiap telinga.
“Apakah benar demikian?” bertanya menantu Ki Buyut yang telah meninggal itu.
“Ya kakang” jawab seorang anak muda yang mendengar berita itu ketika ia berada di pasar, “tidak salah perhitungkan kita, bahwa akhirnya kita memang akan mempergunakan pedang. Kita sudah cukup banyak mempersiapkan senjata. Jika Sendawa keras kepala, maka kita akan bertindak tegas. Tidak ada cara lain yang dapat kita lakukan selain mempergunakan pedang”
Seorang anak muda yang lain, yang berwajah bulat juga menggeram, “Jangan terlalu lamban. Sudah waktunya kita berbuat sesuatu. Beberapa hari lagi, Sendawa akan menyatakan diri sebagai Buyut di Kabuyutan ini. Tetapi ia tidak berhak sama sekali. Bukankah anak Ki Buyut satu-satunya adalah isterimu?”
Menantu Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia berkata ”Apakah keuntunganku memperebutkan kedudukan itu. Seandainya aku benar-benar menjadi Buyut di Kabuyutan ini, apakah kalian yakin, bahwa aku akan berbuat lebih baik dari paman Sendawa?”
“Tentu, kau akan dapat berbuat lebih baik” jawab anak muda yang berwajah bulat, “bagi kami pun lebih baik. Kami akan dapat lebih mudah berhubungan dengan Buyut dari Kabuyutan ini. Kau tentu akan lebih banyak mengerti tentang kami. Kau pun tentu akan dapat lebih banyak memikirkan kepentingan kami”
“Bukankah tidak seharusnya demikian” jawab menantu Ki Buyut itu ”seorang Buyut tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saja. Dalam hal ini kawan-kawannya. Bukan pendukungnya sekalipun. Seorang Buyut harus dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan seluruh rakyatnya. Merata. Siapa pun mereka. Dan aku tidak yakin bahwa aku akan dapat berbuat demikian”
“Hatimu terlalu membeku” berkata seorang anak muda yang bertubuh raksasa ”cobalah sedikit bergairah memandang hidup dan kehidupan ini. Jika orang lain berbuat bagi kepentingan diri sendiri, apakah kau tidak berhak berbuat demikian pula. Bahkan jangkauanmu lebih luas lagi. Bukan sekedar diri sendiri, tetapi untuk kepentingan lingkunganmu. Kawan-kawanmu dan orang-orang yang mendukungmu”
“Jangan begitu” jawab menantu Ki Buyut, “bagiku akan menjadi semakin sulit untuk menerima tawaran ini, jika kedudukan yang kalian julurkan kepadaku itu semata-mata hanya karena kalian akan mendapat kesempatan pertama dalam banyak hal yang bakal terjadi di Kabuyutan ini. Bukan karena jika aku, salah seorang kawanmu menjadi Buyut, maka segalanya akan menjadi mudah bagi kalian”
“Kau memang terlalu lemah” berkata anak muda yang berwajah bulat. Tetapi, lihat, berapa padukuhan yang berdiri di pihakmu dan berapa padukuhan yang berpihak kepada Sendawa yang tamak itu?”
Menantu Ki Buyut itu termangu-mangu. Dipandanginya beberapa orang kawannya yang dengan keras mendorongnya untuk berjuang agar kedudukan ayah mertuanya itu dapat dipegangnya. Tetapi menantu Ki Buyut itu pun sadar, bahwa kawan-kawannya itu tidak memiliki pandangan yang jauh. Mereka mendorongnya untuk menjadi seorang Buyut, agar dengan demikian kawan-kawannya itu mendapat banyak kesempatan untuk berbuat sesuai dengan keinginan mereka di Kabuyutan itu, karena Buyut yang berkuasa adalah kawan sendiri. Mereka pun tidak akan segera mengajukan permintaan atas satu hal yang mereka anggap akan dapat menguntungkan. Selebihnya Buyut muda itu tidak akan banyak menentang jika mereka mengusulkan sesuatu, karena mereka telah dengan gigih mendorongnya untuk menduduki tempatnya.
Karena itu, maka menantu Ki Buyut itu menjadi semakin segan untuk berbuat sesuatu. Meskipun ia melihat juga. bahwa tidak semua pendukungnya berbuat demikian.
Sebenarnya bahwa di antara anak anak muda itu, terdapat seorang yang agak lebih tua dari mereka. Orang yang tidak banyak berbicara itu tiba-tiba saja berkata, “Kalian telah melakukan satu kesalahan yang sangat besar”
Anak-anak muda itu berpaling kepadanya. Anak muda yang bertubuh raksasa itu pun bertanya, “Apa maksudmu berkata demikian?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian membuat satu gambaran yang salah terhadap kedudukan yang sedang dipertengkarkan itu”
“Kenapa? Apakah kau setuju jika Sendawa itu mengangkat dirinya menjadi Buyut di Kabuyutan ini?” bertanya anak muda yang berwajah bulat.
“Tidak tentu tidak, ia sama sekali tidak berhak” jawab orang itu. Lalu, “Aku sudah banyak mendengar ceritera tentang Sendawa yang mengaku berhak atas kedudukan Buyut itu. Ia merasa dirinya mewarisi kedudukan itu, karena menurut ceriteranya, ayahnyalah yang seharusnya menjadi Buyut seandainya ayahnya itu tidak meninggal. Bahkan ia telah membuat dongeng khusus tentang kematian ayahnya itu. untuk meyakinkan banyak orang tentang haknya”
“Nah, jika demikian, apakah keberatanmu jika menantu Ki Buyut ini duduk dalam jabatan yang memang menjadi haknya” bertanya anak muda berwajah bulat itu.
“Aku tidak berkeberatan” jawab orang yang sudah lebih tua itu, “tetapi latar belakang dukungan kalian itulah yang salah. Kalian menyudutkan calon Buyut itu ke dalam satu keadaan yang sulit. Jika ia kelak benar-benar menduduki jabatan itu, maka seolah-olah ia terikat kepada satu perjanjian untuk memberikan wewenang khusus kepada kalian. Dan itu akan sangat merugikan kedudukannya”
Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian anak muda bertubuh raksasa itu bertanya dengan wajah yang tegang, “Jadi kau ingin mengurangi hak kami. Kami adalah anak-anak muda yang memang memiliki hari depan yang lebih panjang dari kau orang-orang sebaya dengan kalian”
“Aku juga belum terlalu tua. Umurku tidak terpaut banyak dengan umurmu” jawab orang itu, “tetapi sikapku justru sebaliknya. Justru karena kalian adalah anak-anak muda. Kalian harus ikut membina masa depan yang baik bagi Kabuyutan ini. Dan jangan lupa. Anak-anak muda bukan hanya kalian. Beberapa orang yang sekarang ada di sini”
Anak muda bertubuh raksasa itu bangkit berdiri dan selangkah mendekat, “Baiklah. Jika kau berbeda sikap dengan kami, jangan campuri persoalan kami. Pergi sajalah kepada Sendawa dan nyatakan dukunganmu atas orang itu”
“Tidak anak-anak muda. Aku tetap disini. Aku mendukung pewaris yang lebih sah dari Sendawa. Tetapi juga yang lebih baik. Aku melihat umsur itu ada pada menantu Ki Buyut itu. Tetapi jangan racuni sifat-sifat itu dengan kepentingan kalian sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang banyak”
“Aku mengerti” tiba-tiba menantu Ki Buyut memotong, “aku sadar bahwa kedudukan yang berat itu menuntut beberapa hal. Dan itu yang aku tidak punya Selebihnya aku memang tidak sanggup memenuhi keinginan kalian. Karena keinginan kalian, tercermin dalam sikap kalian yang mementingkan diri sendiri”
Beberapa orang anak muda itu menjadi tegang. Namun orang yang lebih tua itu berkata, “Kita akan melihat sikap anak-anak muda pada umumnya. Bukan hanya pada beberapa orang yang justru sahabat dekatmu”
Menantu Ki Buyut itulah yang menjadi tegang. Sementara orang yang lebih tua itu berkata, “Aku akan berbicara dengan mereka”
“Itu tidak perlu” berkata anak muda berwajah bulat, “kami mewakili mereka”
“Tidak” jawab orang yang lebih tua, “kalian justru menodai kejernihan tekad mereka. Aku yakin, jika kalian bertemu dengan anak-anak muda dari padukuhan di ujung Kabuyutan Talang Amba ini, kalian akan melihat sikap-sikap wajar dari anak-anak muda. Tetapi justru kalian yang ada di sekitar priadi harapan, telah memberikan alasan yang salah”
Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk bersikap. Mereka memang tidak berani mengambil satu tindakan apa pun terhadap orang yang lebih tua dari mereka itu, karena mereka mengetahui bahwa orang itu memiliki lingkungan yang luas juga dari lingkungan anak-anak muda seperti yang dikatakannya. Karena itu, untuk beberapa saat anak-anak muda itu saling berdiam diri.
Dalam pada itu, ternyata orang yang lebih tua itu pun menjadi kecewa melihat sikap beberapa orang anak muda yang lebih memandang kepentingan sendiri dari kepentingan seisi Kabuyutan. Bagi mereka, jika seorang sahabat mereka dapat menduduki tempat yang paling tinggi di wewengkon itu, maka hal itu akan merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mereka. Seakan-akan apa yang akan mereka lakukan akan dapat terjadi tanpa ada yang berani menghalangi.
Namun ternyata bahwa menantu Ki Buyut sendiri menyadari akan hal itu. Tetapi dengan demikian akibatnya, menantu Ki Buyut itu menjadi semakin jauh dari satu kesanggupan untuk berjuang mencapai kedudukan yang ditinggalkan oleh mertuanya.
“Jika kedudukan itu benar-benar dipegang oleh Sendawa, maka hancurlah Kabuyutan ini” berkata orang yang lebih tua itu di dalam hatinya. Karena orang itu pun mengetahui, hubungan Sendawa dengan orang-orang yang menginginkan hutan di lereng bukit sebelah, hutan-hutan yang lebat yang membuat bukit itu menjadi hijau.
“Kita masih mempunyai waktu” berkata orang itu, “menurut pendengaranku, di saat purnama naik, Sendawa akan mengangkat dirinya menjadi Buyut di Kabuyutan ini. Semua persiapan sudah dilakukan. Sementara itu, kita akan mematangkan sikap disini. Aku condong untuk mempertemukan beberapa unsur yang ada, sehingga sikap kita akan dilandasi oleh satu sikap yang jujur terhadap Kabuyutan ini.
Anak-anak muda, sahabat menantu Ki Buyut itu tidak menyahut. Mereka memang harus membuat perhitungan sebaik-baiknya menghadapi perkembangan keadaan.
Demikianlah, orang yang lebih tua itu pun kemudian minta diri. Namun ia tentu tidak akan tinggal diam. Dengan lahdasan sikapnya, ia tentu akan berbuat banyak bagi Kabuyutan mereka.
Menantu Ki Buyut masih duduk termangu-mangu. Beberapa orang sahabatnya masih berada di rumahnya. Namun akhirnya orang berwajah bulat itu berkata, “Kau memang terlalu lemah. Tetapi baiklah. Apapun yang akan kau lakukan, aku masih tetap memilih kau daripada Sendawa itu”
Orang bertubuh raksasa itu memandangnya dengan kerut di dahi. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Hatimu pun sudah menjadi cair?”
“Tidak. Tetapi aku melihat kekerasan di hati menantu Ki Buyut ini di antara kelemahannya. Ia tetap tidak mau mengerti niat baik kita” jawab anak muda berwajah bulat. Namun kemudian ”Atau ia justru sudah mengerti sepenuhnya, bahwa kita sekedar ingin memanfaatkannya untuk kepentingan kita sendiri”
“Kepana kau berkata begitu?” bertanya kawannya yang lain.
“Aku dapat mengerti, apa yang dikatakan oleh orang tadi. Dan aku kira, kita wajib memikirkannya” jawab orang berwajah bulat.
Menantu Ki Buyut itu pun menjadi berdebar-debar. Nampaknya ada perkembangan sikap pada sahabat-sahabatnya itu.
Dalam pada itu, maka anak-anak muda itu pun kemudian mulai merenungi diri mereka sendiri. Sementara itu, anak muda berwajah bulat itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan minta diri. Aku akan memikirkan, apa yang sebaiknya aku lakukan”
“Terima kasih” berkata menantu Ki Buyut itu, “tetapi sebaiknya kalian melihat kemungkinan lain untuk menunjuk seorang calon Buyut yang baik, berwibawa dan memiliki kemampuan.”
Anak muda berwajah bulat itu tersenyum Katanya, “Kami akan merenungi diri kami Tetapi kau pun harus merenungi dirimu pula. Kau itu siapa? Kau itu anak siapa, menantu siapa dan bagaimana sikap dan tanggapan orang-orang Kabuyutan ini terhadapmu? Ingat, kau adalah anak Ki Sanggabaya. He, apakah kau masih ingat akan namamu sendiri? Bukankah kau bernama Sanggarana?”
Wajah menantu Ki Buyut itu menjadi tegang. Sementara anak muda berwajah bulat itu berkata, “Selebihnya kau adalah menantu Ki Buyut. Isterimu adalah anak satu-satunya. Jika sikap kami semula membuatmu semakin ragu, maka marilah kita bersama-sama mulai menilai diri”
Menantu Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak sempat berpikir terlalu lama, karena anak-anak muda itu pun kemudian telah meninggalkannya.
Sepeninggal anak-anak muda itu, maka isterinya pun telah mendekatinya. Dengan lembut isterinya itu berkata, “Kakang Jangan risaukan kedudukan ayah yang nampaknya menjadi masalah sekarang ini. Aku tidak terlalu berharap, bahwa kau akan dapat mewarisinya. Yang penting bagi kita, bahwa hidup kita menjadi tenang. Tidak ada masalah-masalah yang dapat menggangu rumah tangga ini. Aku tidak terlalu tertarik kepada kekuasaan. Kepada harta dan benda yang mungkin akan kita dapatkan dengan alas kedudukan ayah itu. Yang aku rindukan adalah satu suasana yang damai di antara kita, di antara lingkungan kita”
Suaminya mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian ”Aku mengerti. Tetapi masalahnya bukan kedudukan dan kekuasaan. Tetapi apakah kita akan dapat hidup tenang tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekitar kita? Apakah kita dapat merasa damai hidup di antara kegelisahan. Yang aku inginkan, tidak harus aku yang akan mewarisi kedudukan ayah. Tetapi jangan paman Sendawa. Rasa-rasanya aku memang tidak rela melihat paman Sendawa berkuasa di Kabuyutan ini”
Isterinya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman Sendawa memang memiliki sifat yang aneh”
Suaminya merenung sejenak. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata kawannya tentang dirinya. Terngiang kembali kata-kata sahabatnya itu ”Ingat, kau adalah anak Sanggabaya. He, apakah kau masih ingat akan namamu sendiri?” Bukankah kau bernama Sanggarana?”
Menantu Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Nama itu memang nama kebanggaan, sebagaimana ayahnya berbangga dengan namanya. Ayahnya adalah seorang pemburu yang disegani. Bukan saja karena ia memiliki ketajaman pengamatan terhadap binatang buruannya, tetapi Ki Sanggabaya adalah orang yang dekat sekali dengan orang-orang di sekitarnya. Orang yang mempunyai ruang pergaulan yang luas, yang mempunyai kebiasaan menolong orang yang memerlukannya. Bukan saja dalam soal-soal yang pelik. Tetapi ketika seorang janda miskin tidak lagi dapat tidur di musim hujan karena atap rumahnya tiris di segala tempat, maka Ki Sanggabaya dengan senang hati memperbaiki atap rumah itu.
Itulah sebabnya, maka ketika Ki Buyut melihat anak gadisnya berhubungan dengan anak Ki Sanggabaya, ia sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kemudian anak Ki Sanggabaya itu benar-benar diambilnya sebagai menantu.
Namun, dalam keadaan yang gawat setelah Ki Buyut meninggal dan ayahnya sendiri juga sudah tidak ada, ia tidak dapat mengambil sikap yang mantap untuk mengatasi keadaan.
Selagi menantu Ki Buyut itu merenung, maka isterinya pun berkata, “Kakang, apakah kau pernah bertemu dan berbicara langsung dengan paman Sendawa?”
Suaminya menggeleng. Katanya, “Belum. Tetapi aku sebenarnya merasa segan untuk berbicara. Paman Sendawa nampaknya sudah mengambil satu keputusan untuk mewarisi jabatan itu. Pada saat bulan purnama mendatang, paman ingin menyatakan dirinya sebagai Buyut yang sah di Kabuyutan ini”
“Ah, aku tidak merisaukannya” desah isterinya, “biar sajalah paman Sendawa menjadi Buyut di Kabuyutan. Mungkin dalam waktu satu dua hari masih ada orang yang menentangnya. Tetapi lambat laun akan menjadi tenang juga nantinya”
Suaminya menarik nafas dalam-dalam. Isterinya memang tidak memandang persoalannya cemas melihat perkembangan hubungan antara suaminya dengan pamannya, agaknya lebih senang memilih kedamaian di dalam lingkungan keluarganya.
“Tetapi persoalannya tidak terbatas pada persoalan keluarga” berkata menantu Ki Buyut itu dalam hatinya.
Namun demikian, menantu Ki Buyut itu tidak dapat mengabaikan sifat isterinya. Sementara itu kegelisahannya tentang keadaan Kabuyutan itu tetap mencengkamnya.
Dalam pada itu, akhirnya menantu Ki Buyut itu berkata, “Baiklah Nyai. Biarlah aku memikirkannya. Tetapi aku kira, aku tidak dapat mengambil sikap sendiri. Aku akan selalu berhubungan dengan kawan-kawanku. Mungkin juga aku memerlukan pendapat orang-orang tua di Kabuyutan ini”
“Tetapi berhati-hati dengan kawan-kawanmu itu kakang” berkata isterinya.
“Aku mengerti. Ada di antara mereka yang ingin melihat aku mempunyai kekuasaan itu, namun merekalah yang akan dapat mempergunakannya. Aku akan berhati-hati” jawab menantu Ki Buyut.
Dalam pada itu, selagi menantu Ki Buyut selalu diselubungi oleh berbagai macam pertimbangan, juga karena sikap isterinya, orang-orang di Kabuyutan itu digelisahkan oleh persiapan yang dilakukan oleh Ki Sendawa. Tanpa menghiraukan pendapat orang lain, Ki Sendawa yang merasa dirinya kuat karena kehadiran Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya, benar-benar berniat untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Buyut di Kabuyutan Talang Amba.
Sebenarnyalah bahwa Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya telah berusaha untuk menakut-nakuti pihak-pihak yang tidak sependapat dengan Ki Sendawa. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ingin mendapat kepercayaan dari Ki Sarpa Kuning pun telah melakukan sebagaimana dilakukan oleh murid-muridnya yang lain. Bahkan kadang-kadang kedua anak-anak muda itu justru bertindak lebih keras dan kasar.
“Anak-anak yang aneh” berkata Gajah Wareng, “nampaknya mereka benar-benar petualang yang tidak mempunyai tujuan”
Ki Sarpa Kuning mengangguk angguk. Katanya kemudian, “Tetapi menilik ilmunya, keduanya tentu pernah berguru kepada seseorang yang berhasil membentuknya, sehingga keduanya mempunyai dasar ilmu yang mapan. Bahkan aku pernah menjajaginya, dan keduanya menunjukkan satu kemampuan yang tinggi”
“Karena itu, kita tidak boleh terlalu percaya kepadanya” berkata orang berkumis.
Sementara murid Ki Sarpa Kuning yang seorang lagi tidak menyambung sama sekali.
“Jangan sakiti hati mereka” berkata Ki Sarpa Kuning, “jika mereka kemudian merasa kerasan bersama kita, mereka merupakan kekuatan yang cukup membantu. Satu dua kali, aku akan benar-benar membimbing mereka, meningkatkan ilmu dasar yang telah mereka miliki”
“Tetapi apakah guru sudah pernah menanyakan, siapakah guru anak-anak itu?” bertanya Gajah Wareng.
“Mereka mengatakan, bahwa gurunya adalah kakeknya” jawab Ki Sarpa Kuning, “tetapi aku belum bertanya lebih jauh agar mereka tidak merasa dicurigai”
Gajah Wareng mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi keduanya tidak boleh terlalu manja”
“Tidak. Tetapi jangan terlalu terasa diawasi dan dicurigai” berkata Ki Sarpa Kuning, “jika pekerjaan kita di Kabuyutan ini selesai, maka terserahlah kepada kalian”
Namun dalam pada itu, di luar pengamatan Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk dapat berhubungan dengan seseorang. Ketika pada suatu hari keduanya sedang membentak-bentak seorang petani yang lewat dijalan kecil di sebelah padukuhan tempat tinggal Ki Sendawa, di antara oleh sebuah bulak kecil, Ki Sarpa Kuning memandanginya sambil tersenyum.
“Apa yang dilakukan anak-anak itu?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
“Aku kurang tahu” jawab Gajah Wareng, “tetapi mereka sekarang mempunyai kesukaan baru. Menakuti orang lewat sambil memberitakan niat Ki Sendawa untuk mengangkat dirinya beberapa hari lagi”
Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya, “Mereka meniru saja apa yang kalian lakukan. Nampaknya mereka mempunyai darah yang cukup panas. Aku cenderung untuk menganggap bahwa mereka memang petualang”
Gajah Wareng tertawa. Katanya, “Ada niatku untuk sedikit mengekang kemajuan mereka”
“Jangan sekarang” cegah Ki Sarpa Kuning. Gajah Wareng menarik nalas dalam dalam Sementara itu, orang berkumis itu pun berkata Jika mereka mendapat kesempatan bermanja-manja terlalu lama, maka mereka akan salah menilai diri mereka dalam pandangan kami. Seolah-olah mereka memang orang-orang penting yang pantas bermanja-manja.
Ki Sarpa Kuning tidak menjawab. Tetapi ia melihat Mahisa Pukat mendorong petani itu sehingga jatuh ke dalam parit yang berair.
Kedua anak muda itu tertawa berkepanjangan sehingga perut mereka berguncang-guncang. Sementara itu, orang yang terjatuh ke dalam parit itu berusaha untuk bangkit dan kemudian lari terbirit-birit menjauhi anak-anak muda yang bengal itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berdiri bertolak pinggang sambil memandangi orang yang melarikan diri itu Namun dalam pada itu Mahisa Murti berkata, “Orang-orang Talang Amba menjadi gelisah karena sikap menantu Ki Buyut itu. Nampaknya Ki Waruju mencemaskannya”
“Ya” desis Mahisa Pukat, “terakhir tadi Ki Waruju minta agar kita berusaha menunda rencana Ki Sendawa”
“Itu yang sulit kita lakukan” jawab Mahisa Murti, “apakah yang dapat membuat rencana itu tertunda?”
“Kita harus mencarinya” jawab Mahisa Pukat, “sementara itu Ki Waruju akan berusaha menghubungi menantu Ki Buyut dan mendorongnya untuk menerima desakan orang-orang Talang Amba untuk menerima warisan jabatan mertuanya”
“Tugas yang pelik” berkata Mahisa Murti, “tetapi kita akan mempelajarinya. Tetapi ada dua cara. Menunda rencana Ki Sendawa, atau mempercepat usaha Ki Waruju.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kedua-duanya”
Namun keduanya tidak berbicara lebih panjang lagi. Ketika mereka kemudian berpaling, mereka melihat Gajah Wareng memperhatikan mereka. Namun Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang lain sudah tidak ada lagi di tempatnya.
“Marilah” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tidak menjawab. Keduanya pun kemudian mendekati Gajah Wareng yang berdiri termangu-mangu.
Ketika kedua orang anak muda itu menjadi semakin dekat, Gajah Wareng bertanya, “Apa yang kau lakukan?”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Tetapi ketika aku bertanya kepadanya, maka jawabnya sangat menyakitkan hati”
“Kau bertanya tentang apa?” bertanya Gajah Wareng. “Tentang menantu Ki Buyut itu” jawab Mahisa Murti. “Tentang apanya?” desak Gajah Wareng.
“Rencananya, menurut petani itu, orang-orang Talang Amba sependapat, bahwa menantu Ki Buyut itu kelak menggantikannya He, bukankah kita tidak berpendapat begitu?” justru Mahisa Murti lah yang bertanya.
“Tetapi kenapa kau sakiti orang itu?” bertanya Gajah Wareng pula.
“Kenapa? Pertanyaanmu aneh sekali. Bukankah kau yang mula-mula melakukannya? Ternyata menyenangkan sekali melihat orang lain ketakutan. Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan orang lain menjadi ketakutan dan kehilangan pegangan” jawab Mahisa Pukat.
“Anak-gila” geram Gajah Wareng ”apakah kau mendapat kesenangan melihat orang-orang ketakutan”
“Ya. Lucu sekali” Mahisa Pukat tertawa ”pada kesempatan lain aku ingin melihat, bagaimanakah wajah orang yang akan mengalami ketakutan menjelang kematiannya”
“Gila” geram Gajah Wareng, “apa yang akan kau lakukan untuk itu?”
“Jika seseorang harus dibunuh, maka kesempatan itu akan aku pergunakan sebaik-baiknya. Senang sekali melihat orang yang tahu pasti, bahwa dirinya akan dibunuh tanpa dapat melawan” Mahisa Pukat tertawa berkepanjangan.
“Ternyata kau anak iblis. Kau benar-benar petualang yang sangat buas. Jauh melampaui dugaanku saat aku melihat wajah-wajah kalian yang nampak lunak” geram Gajah Wareng, “tetapi ingat. Kau adalah murid-murid dari perguruan Ki Sarpa Kuning. Segala yang kau lakukan, berarti langkah yang diambil oleh Ki Sarpa Kuning pula. Jika kalian salah langkah, maka kalian harus menyadari”
“Mati” sahut Mahisa Pukat.
Wajah Gajah Wareng menjadi tegang. Tetapi ia pun menjawab, “Ya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun tidak menjawab lagi. Mereka memang sudah mengerti sebagaimana setiap kali dikatakan, baik oleh Ki Sarpa Kuning sendiri maupun oleh murid-muridnya, bahwa mereka tidak segan-segan membunuh meskipun murid sendiri, apabila dianggap melakukan kesalahan.
“Marilah” berkata Gajah Wareng kemudian ”kita kembali ke pondok kita”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Mereka pun kemudian berjalan menuju kerumah Ki Sendawa, dimana mereka tinggal untuk sementara.
Dalam pada itu, untuk mengikat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Ki Sarpa Kuning telah memberikan kesempatan kepada kedua orang anak muda yang disebut pula sebagai muridnya itu untuk berlatih bersamanya. Dengan demikian, maka Ki Sarpa Kuning ingin mengikat kedua anak muda itu dalam satu paugeran yang lebih ketat lagi.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun ternyata cukup berhati-hati. Dalam latihan-latihan yang kesempatan tidak terlalu banyak itu, mereka selalu berusaha untuk menyembunyikan unsur gerak yang mungkin akan dikenalnya oleh Ki Sarpa Kuning yang pernah bertempur melawan Witantra.
Untunglah bahwa kedua anak muda itu mendapat bimbingan yang cukup pula dari Mahisa Agni meskipun tidak sedalam sebagaimana mereka terima dari ayahnya sendiri yang memiliki sumber ilmu dari perguruan yang sama dengan Witantra. Namun dengan menonjolkan beberapa ciri khusus dari perguruan lain maka ilmu mereka yang sejalan dengan ilmu Witantra dapat mereka sembunyikan untuk sementara.
Yang dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning pun hanya sekedar untuk mengikat kedua anak muda itu saja Tanpa sasaran dan ke dalaman yang jelas, sehingga memang tidak ada apa pun yang dapat meningkatkan ilmu kedua anak muda itu dengan pasti, meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mengakui, bahwa Ki Sarpa Kuning termasuk orang yang memiliki kelebihan meskipun ia tidak dapat mengimbangi kemampuan Witantra.
Namun daiam pada itu, yang selalu menjadi pikiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam cara untuk menunda niat Ki Sendawa mengangkat dirinya sendiri menjadi Buyut di Kabuyutan itu. Dengan demikian maka mereka akan dapat memberi kesempatan Ki Waruju membuat satu perubahan keadaan pada pihak yang lain yang merupakan imbangan kemungkinan bagi seorang Buyut yang baru.
Sementara itu, Ki Waruju pun sedang sibuk mencari jalan, untuk ikut serta melibatkan diri ke dalam satu pacuan yang kurang seimbang itu. Ki Sendawa dengan sepenuh hati dan bahkan memberikan pengorbanan yang mahal untuk mencapai keinginannya, sementara menantu Ki Buyut itu nampaknya dengan segan menanggapi perkembangan keadaan. Bahkan setiap kali ia berkata, “Apakah tidak ada orang lain yang lebih baik dari aku?”
Orang-orang tua Kabuyutan Talang Amba pun telah menentukan satu pendapat. Mereka tidak melihat orang lain yang lebih berhak daripada menantu Ki Buyut itu.
“Soalnya bukan berhak atau tidak berhak berkata menantu Ki Buyut itu, “tetapi apakah ada orang yang lebih baik dari aku. Seandainya benar aku mempunyai hak itu, apakah aku dapat melimpahkan hak itu kepada orang lain? Jika orang lain yang akan terpilih, maka agaknya paman Sendawa tidak akan terlalu sakit hati”
Tiba-tiba saja di antara orang-orang tua itu terdapat seorang pedagang keliling yang memperdagangkan batu-batu akik dan besi aji. Tetapi orang itu bukan Mahendra. Melainkan Ki Waruju. Dengan penuh minat orang itu mengikuti segala pembicaraan tentang kemungkinan diangkatnya seorang Buyut bagi Kabuyutan Talang Amba.
Dengan memperhatikan setiap pembicaraan, maka Ki Waruju itu pun kemudian berkata di antara orang-orang tua di Talang Amba, “Memang tidak ada pilihan lain. kecuali menantu Ki Buyut itu”
“Ya” desis seorang di antara mereka anak-anak muda juga sependapat, bahwa menantu Ki Buyut itulah yang paling sesuai. Bukan saja karena ia disukai orang banyak, tetapi ia memang berhak. Jika ia menolak, maka hak itu tentu akan jatuh ke tangan Sendawa. Karena menurut aliran darahnya, maka ia adalah saudara sepupu Ki Buyut. Dengan demikiun. maka kemungkinan itu pun akan dapat terjadi”
Hal itulah yang membuat menantu Ki Buyut itu menjadi semakin bingung. Ia pun akhirnya menyadari, jika ia menolak, maka berarti hak itu akan jatuh ke tangan orang kedua. Orang itu adalah Ki Sendawa.
Namun menantu Ki Buyut itu pun melihat kemungkinan yang lain. Ia melihat pande-pande besi membuat pedang. Dengan demikian, maka kemungkinan timbulnya kekerasan akan dapat terjadi. Jika demikian, maka alangkah pahitnya untuk menjadi seorang Buyut yang berdiri di atas runtuhnya korban. Dan korban itu adalah kawan-kawan bahkan saudara-saudara sendiri.
“Kau terlalu dibayangi oleh kekerdilan sikapmu” seorang kawannya menjadi tidak sabar lagi. Lalu, “Apa sebenarnya yang kau kehendaki? Sendawa menjadi Buyut, kemudian menindas kita semuanya sehingga memaksa kita untuk melawannya? Dalam keadaan yang demikian, maka kitalah yang berdiri dalam alas yang lemah. Kita telah melawan Ki Buyut Talang Amba yang memegang kekuasaan sambil menunggu pengesahan dari Akuwu”
Menantu Ki Buyut itu menjadi semakin bingung. Rasa-rasanya ia berdiri di jalan simpang yang kedua-duanya menuju kesulitan. Jika ia menerima permintaan kawan-kawannya, maka ia akan ditetapkan menjadi Buyut sambil menunggu pengesahan Akuwu. Tetapi orang-orang tua di Talang Amba akan mempertanggung jawabkannya. Namun dengan demikian tentu akan terjadi sesuatu. Mungkin benturan kekerasan. Sementara itu isterinya akan menyalahkannya, seolah-olah ia lebih mementingkan kedudukan Ki Buyut, mertuanya yang telah meninggal itu dari pada isterinya. Seolah-olah bahwa ia bersedia kawin dengan isterinya itu karena ia memang menginginkan kedudukan. Ternyata ia lebih mementingkan kedudukan itu, meskipun isterinya, anak perempuan Ki Buyut itu sendiri berkeberatan. Selebihnya, Talang Amba tentu akan bergejolak.
Dengan suara parau menantu Ki Buyut itu berkata, “Ada berbagai macam pertimbangan yang memberati hatiku. Semula-kawan-kawanku ingin memanfaatkan aku. Kemudian, kita tidak boleh menutup mata, bahwa paman Sendawa telah membuat hubungan dengan orang-orang yang akan dapat menyulitkan kita”
“Jangan hiraukan mereka” berkata salah seorang anak muda, “kita sudah mempunyai senjata”
Dalam hal yang demikian, Ki Waruju memang menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika anak muda itu melanjutkan, “Kita akan melawan setiap tindakan kekerasan dengan kekerasan. Jika Sendawa ingin mempergunakan kekerasan, maka kita semuanya, setiap laki-laki akan menggenggam pedang. Nah, berapa jumlah mereka dan berapa jumlah kita”
Wajah menantu Ki Buyut itu pun menjadi tegang. Katanya, “Mungkin jumlah mereka tidak terlalu banyak.
Tetapi jika paman Sendawa membawa orang-orang yang memang menjual tenaganya untuk menyebarkan pertentangan, maka apakah kita akan melawannya?”
“Coba” seorang anak muda yang lain dengan wajah merah berkata, “apakah kita akan menyerahkan leher kita untuk dicekiknya?”
Pembicaraan itu menjadi semakin meninggi. Namun orang-orang itu masih belum dapat memaksa menantu Ki Buyut untuk memberikan kesanggupannya. Katanya, “Aku ingin waktu sepekan”
“Saat purnama itu menjadi semakin dekat” desis seorang yang sudah agak tua, “pertimbangan baik-baik. Jika kita akan mendesak, itu adalah karena kita ingin berbuat yang paling baik bagi Kabuyutan kita”
Dalam pada itu, ketika menantu Ki Buyut itu masih dicengkam oleh keragu-raguan, maka anak-anak muda telah mempersiapkan diri untuk menghadapi sikap Ki Sendawa. Seorang di antara mereka memutuskan untuk bertindak sebelum saat Ki Sendawa menyatakan dirinya menjadi Buyut di Talang Amba. Sekelompok yang lain bahkan telah membuat rencana untuk menyerang padukuhan tempat tinggal Ki Sendawa.
Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Waruju telah berusaha untuk menemui menantu Ki Buyut. Sambil menawarkan berbagai jenis batu akik, maka Ki Waruju berkata, “Tanpa seorang yang memegang kendali, maka keadaan akan menjadi sangat buruk. Berbagai pihak akan dapat bertindak sendiri-sendiri. Sementara itu, Ki Sendawa telah bersiap menyambut mereka”
“Aku akan memikirkannya” jawab menantu Ki Buyut.
Ki Waruju hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Ia hanya berharap mudah-mudahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil mencari cara agar rencana Ki Sendawa dapat tertunda.
Tetapi sulit sekali bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk dapat melakukan rencana itu. Hampir setiap langkah mereka diawasi. Meskipun kadang kadang karena usaha kedua anak muda itu untuk mendapatkan kepercayaan, mereka dapat sesaat sesaat melepaskan diri dari pengamatan Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya. Namun pada suatu saat, di luar dugaan, Manisa Murti dan Mahisa Pukat yang berusaha untuk mendapat kesempatan bertemu dengan Ki Waruju sebagaimana sering dilakukannya, telah melihat sesuatu yang mula-mula sulit dimengerti. Namun, akhirnya mereka pun menyadari apa yang akan terjadi.
Dengan sangat berhati-hati, mula-mula kedua orang anak muda itu telah berusaha untuk keluar dari gandok ketika tengah malam telah lewat. Ketika Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya tengah tidur. Sementara mereka pun telah menyiapkan jawaban apabila salah seorang dan mereka akan terbangun dan bertanya apa yang akan mereka lakukan.
“Ke belakang” desis Mahisa Murti, “atau ke sungai” Namun dengan sangat berhati-hati ternyata mereka berhasil keluar dari gandok. Meskipun kemudian mereka tidak dapat melampaui para peronda yang ada di gardu.
“Kita akan berpesan kepada mereka” berkata Mahisa Murti, “agaknya itu lebih baik daripada Ki Sarpa Kuning mencurigai kita”
Mahisa Pukat pun tidak berkeberatan. Mereka justru berpesan kepada para peronda, bahwa keduanya akan pergi ke sungai.
“Seorang dari kawanmu juga baru saja keluar” berkata peronda itu.
“Siapa?” bertanya Mahisa Murti, “Gajah Wareng atau yang berkumis atau Ki Sarpa Kuning?”
Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka masih kurang teliti mengamati keadaan, karena mereka tidak sempat menghitung berapa orang yang sedang tidur di gandok itu.
“Yang paling muda” jawab peronda itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Yang paling muda di antara mereka adalah seorang yang adiknya telah dibunuh oleh Ki Sarpa Kuning, karena dianggap bersalah dan justru jatuh ke dalam tangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan ragu-ragu Mahisa Murti pun bertanya, “Kemana perginya?”
“Aku kurang tahu. Tetapi ia nampak gelisah. Sudah agak lama ia duduk di serambi gandok tanpa berbuat sesuatu. Namun kemudian ia turun kehalaman. Untuk beberapa lamanya ia duduk ditangga pendapa, seolah-olah sedang merenungi sesuatu. Baru kemudian ia keluar regol.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya orang itu sudah keluar lama sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terbangun dan keluar dari gandok untuk mencari kesempaan bertemu dengan Ki Waruju. Mungkin Ki Waruju berada di luar regol padukuhan.
“Kemana orang itu pergi?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kenapa dengan kawanmu itu?” bertanya salah seorang dari para peronda itu.
“Entahlah. Nampaknya tidak apa-apa. Tetapi mungkin ia pun pergi ke sungai. Kegelisahannya disebabkan karena kemalasannya. Mungkin ia segan pergi. Tetapi perutnya memaksanya juga untuk pergi” jawab Mahisa Pukat.
Para peronda itu mengangguk-angguk. Yang seorang kemudian berkata, “Ia pergi kearah Barat.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar