*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 022-03*
Namun lebih baik agaknya jika Pangeran Lembu Sabdata tidak bermalam di rumah seseorang. Ia dapat berada dimana saja. Bermalam di pategalan, di padang perdu atau di tepian sungai.
“Sebenarnya, kita dapat memanfaatkan waktu ini untuk mengenali kembali gedung perbendaharaan dan gedung pusaka itu,” berkata Pangeran Lembu Sabdata.
“Jangan sekarang Pangeran,” jawab putut itu, “Kedatangan kita kali ini hanya untuk memastikan bahwa Pangeran memang sudah tidak dikenal lagi. Setelah itu, maka kita akan kembali. Sebelum guru menentukan langkah-langkah berikutnya, Pangeran mendapat kesempatan untuk menempa diri, mempertebal kemampuan menghadapi kemungkinan-kemungkinan mendatang yang berat.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi kita sudah yakin, bahwa aku sudah tidak dikenal sama sekali.”
Putut itu pun mengangguk-angguk. Ia memang sependapat bahwa tidak ada lagi yang mengenal Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun demikian Putut itu berkata, “Tetapi Pangeran, masih harus diperhatikan satu kemungkinan. Jika Pangeran Singa Narpada sendiri melihat Pangeran, apakah ia juga tidak mengenalnya. Karena tangkapan penglihatan pandangan Pangeran Singa Narpada bukan sekedar mempergunakan mata wadagnya, tetapi juga mempergunakan mata hatinya.”
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata itu tersenyum sambil berkata, “Dahulu aku kagum melihat kakangmas Pangeran Singa Narpada dalam ilmu kanuragan. Tetapi sekarang sama sekali tidak. Bahkan aku sekarang sudah siap seandainya kita harus memasuki perang tanding sekalipun.”
Tetapi Putut itu menggeleng. “Belum Pangeran. Mungkin sebentar lagi. Pangeran masih harus menyempurnakan ilmu yang sudah Pangeran miliki sekarang di dalam hubungannya dengan kemungkinan-kemungkinan hadirnya kekuatan di dalam alam di sekeliling Pangeran.”
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata menjawab, “Apakah kau kira Kakangmas Pangeran Singa Narpada juga mampu mengungkapkan kekuatan alam di dalam ilmunya.”
“Ya Pangeran,” jawab Putut itu, “Aku tidak hanya mengira, tetapi aku pasti. Dalam keadaan yang paling gawat, apalagi dalam perang tanding, maka Pangeran Singa Narpada akan mampu mengungkapkan kekuatan alam dan melontarkannya lewat ilmunya. Pangeran jangan salah menilai kemampuan orang lain, apalagi yang akan mungkin berhadapan sebagai lawan. Jika Pangeran salah menilai, maka kesulitan yang pernah di alami Pangeran Kuda Permati akan terulang kembali, meskipun dalam ujud yang berbeda.”
Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi ia tidak menolak pendapat Putut itu.
Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian meninggalkan Kota Raja setelah mereka menganggap kunjungannya mereka telah cukup. Pangeran Lembu Sabdata telah meyakini dirinya, bahwa ia tidak akan dapat dikenal lagi. Namun ia tetap memperhatikan pendapat Putut itu, bahwa mungkin sekali, Pangeran Singa Narpada masih akan dapat mengenalinya.
Ki Ajar yang kemudian menerima keduanya dan mendengarkan laporan mereka, mengangguk-angguk. Senyumnya nampak bermain dibibirnya.
“Segalanya akan berjalan baik.” Katanya, “Tetapi sudah tentu kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Namun meskipun lambat, tetapi pasti. Pada suatu saat Kediri akan bangun.”
“Apakah waktunya masih lama?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
“Ya, semua akan berlangsung kelak, pada suatu saat,” jawab Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata hanya dapat menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya ia ingin semuanya terjadi lebih cepat. Tetapi ia tidak akan dapat berbuat sendiri tanpa Ki Ajar dan orang-orangnya. Apalagi pengaruh kekuatan pribadi Ki Ajar tanpa disadarinya masih tetap mencengkamnya.
“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Pangeran memang akan kembali ke Kota Raja dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pangeran harus berusaha untuk mengenali kembali letak gedung perbendaharaan dan gedung pusaka. Baru kemudian kita merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Sementara itu Pangeran masih sempat meningkatkan ilmu Pangeran. Sehingga benar-benar akan mampu mengimbangi ilmu Pangeran Singa Narpada.”
“Apakah kemampuanku masih berjarak jauh dari ilmu kakangmas Singa Narpada?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
Ki Ajar tersenyum. Katanya, “Memang tidak terlalu jauh Pangeran. Tetapi Pangeran masih harus bekerja keras untuk mengejarnya. Karena itu, Pangeran harus mempergunakan semua kesempatan untuk meningkatkan ilmu Pangeran.”
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Ia tidak akan ingkar untuk melakukannya. Bahkan Pangeran Lembu Sabdata telah bekerja keras untuk dapat menempatkan dirinya di sisi Pangeran Singa Narpada di dalam olah kanuragan. Diam-diam ia berkeinginan untuk pada suatu saat dapat melakukan perang tanding dengan Pangeran Singa Narpada yang ditakuti oleh setiap orang di Kediri.
“Jika kelak terbukti aku dapat mengalahkannya, maka ceritera tentang kakangmas Pangeran Singa Narpada seakan-akan ia memiliki kemampuan diatas kemampuan manusia adalah sekedar dongeng yang akan runtuh nilainya. Ia tidak lebih seseorang yang berwatak keras dan bengis. Yang mempergunakan kekerasan untuk mencapai maksudnya.”
“Ya,” jawab Ki Ajar, “pada saat yang demikian, maka Pangeran harus dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Pangeran harus berdiri diatas martabat Pangeran yang sebenarnya dan menyatakan diri sebagai Yang Paling Berkuasa di Kediri dan tidak lagi mengakui kekuasaan Singasari. Tetapi sebelum sampai ke mata tangga yang demikian, masih sangat banyak yang harus Pangeran lakukan.”
“Aku akan melakukannya. Apapun juga,” jawab Pangeran Lembu Sabdata. Keinginannya itu merupakan dorongan bagi usahanya untuk sampai kepada satu tataran yang diinginkannya.
Karena itulah, maka di hari-hari berikutnya, Pangeran Lembu Sabdata telah kembali tenggelam di dalam sanggarnya. Tetapi ia sudah tidak sendiri lagi.
Pengeran Lembu Sabdata mendapat kesempatan berlatih bersama Putut yang tertua diantara murid-murid Ki Ajar, setelah Pangeran Kuda Permati tidak ada. Bersama Putut itu ilmu Pangeran Lembu Sabdata menjadi semakin meningkat. Sementara Ki Ajar mempelajari kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Pangeran itu di Kediri.
Untuk mengetahui keadaan dengan baik, maka sekali-sekali Ki Ajar pun telah pergi pula ke Kediri dalam ujud yang tidak mudah dikenal. Bahkan oleh Ki Sadmaya sekalipun.
Ternyata bahwa orang-orang Kediri agaknya memang telah melupakan persoalan Pangeran Sabdata. Sekali-sekali ia memancing pembicaraan di kedai-kedai dengan orang-orang Kediri. Namun pada umumnya mereka sudah menganggap bahwa persoalan Pangeran Lembu Sabdata itu sudah selesai.
Sambil tersenyum di dalam hati, maka Ki Ajar pun merasa bahwa saatnya menjadi semakin mantap. Yang pertama akan dilakukan adalah mengambil mahkota yang keramat yang akan dapat menjadi pendukung kekuasaan Pangeran Lembu Sabdata kelak.
Sementara itu, kemampuan Pangeran Sabdata pun telah menjadi semakin meningkat. Dalam saat-saat tertentu, Ki Ajar sendiri telah menuntun Pangeran Lembu Sabdata memanjat ke kemampuan puncak.
Namun bersamaan dengan itu, di Singasari, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menempa diri dengan tanpa mengenal letih. Apapun yang diperintahkan oleh Mahendra dan Witantra telah mereka lakukan. Kedua anak muda itu tidak pernah mengeluh meskipun ia mendapat tempaan yang luar biasa beratnya dari ayahnya sendiri serta pamannya Witantra, seorang yang kebetulan adalah saudara seperguruan ayahnya.
Di samping mereka berdua, Mahisa Bungalan pun telah mempersiapkan diri untuk sampai ke puncak ilmu yang diturunkan oleh Mahisa Agni. Memang lain dengan ilmu yang diturunkan oleh Mahendra dan Witantra kepada Mahisa Bungalan. Tetapi dengan bimbingan Mahisa Agni, Mahisa Bungalan sejak sebelumnya telah mencerna kedua jalur ilmu itu sehingga menjadi luluh, justru saling mengisi dan saling memperkuat dalam kedudukan masing-masing.
“Mahisa Bungalan,“ berkata Mahisa Agni, “Jika pada saatnya kau memahami semua ilmuku sampai tuntas, serta kedua adiknya memiliki ilmu ayahnya dan pamanmu Witantra, maka kalian akan dapat saling menyadap dan dengan hati-hati membuat jenis ilmu yang berbeda itu menjadi luluh di dalam diri kalian.”
“Mudah-mudahan paman,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi bukankah di dalam diriku kedua jalur ilmu itu sudah ada?”
“Tetapi belum dalam kedudukan seimbang. Ilmu yang aku berikan kepadamu sampai saat terakhir, telah mewarnai kemampuanmu. Apalagi sebentar lagi, kau akan sampai pada batas kemampuan yang tuntas. Sementara itu pengalamanmu akan mampu mengembangkan ilmu yang aku berikan kepadamu itu sampai pada puncaknya, Gundala Sasra.”
Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa untuk sampai ke puncak ilmu itu ia harus menjalani laku yang sangat berat. Ketika Mahisa Agni dipersiapkan untuk menerima ilmu itu, ia harus mencari akar wregu putih sehingga Mahisa Agni harus mendaki lereng-lereng pegunungan yang sangat terjal. Ternyata bahwa yang penting bagi Mahisa Agni bukannya mendapat wregu putih, tetapi yang penting adalah laku yang dijalani.
Mahisa Agni telah mengatakan hal itu kepada Mahisa Bungalan, karena cara Mahisa Agni menurunkan ilmunya memang berbeda dengan cara gurunya menurunkannya kepadanya, justru pada saat Mahisa Agni kecewa dengan kenyataan hidupnya pada saat itu.
“Aku tidak perlu memaksakan dengan cara seperti yang dilakukan oleh guru, seolah-olah aku memang harus mengambil akar wregu putih itu. Namun dengan kesadaran yang tinggi, kau harus melakukan laku sebagaimana pernah aku lakukan. Kau harus mempersiapkan dirimu lahir dan batin. Sudah saatnya kau minta ijin kepada Panglimamu bahwa kau memerlukan waktu empat puluh hari empat puluh malam.” berkata Mahisa Agni.
“Tetapi aku diijinkan untuk minta waktu sepanjang itu paman?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku akan membantumu,” jawab Mahisa Agni.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun telah menghubungi Panglima yang memegang pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan untuk minta ijin bagi Senapati muda itu waktu selama empat puluh hari empat puluh malam.
“Untuk apa?” bertanya panglima itu.
“Ia akan menjadi Prajurit linuwih. Beri saja ia waktu justru lima puluh hari lima puluh malam, karena ia memerlukan persiapan dan pembenahan sebelum dan sesudah ia menyadap ilmunya sampai tuntas,” berkata Mahisa Agni.
Pengaruh Mahisa Agni adalah sedemikian besarnya. Meskipun ia sudah menjadi semakin tua, namun ia adalah orang yang sangat dihormati di Singasari.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan yang sudah berangkat lebih dahulu dari kedua adiknya di dalam berpacu dengan ilmu, telah mendapat kesempatan lebih dahulu untuk menerima puncak ilmu dari jalur ilmu Mahisa Agni.
Dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan Mahisa Bungalan pun telah mempersiapkan diri.
“Duduklah,” berkata Mahisa Agni, “pusatkan segala inderamu. Nalar budimu. Siapkan segala petunjuk yang telah aku berikan untuk membuka pintu jiwamu. Aku mengetrapkan arus mewarnai ilmu ini. Laku yang aku tempuh mungkin agak berbeda dengan yang dilakukan oleh guruku. Tetapi aku yakin, bahwa akibatnya akan sama.”
Mahisa Bungalan pun kemudian memperhatikan dan melakukan sesuai dengan yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Sementara itu Mahisa Agni duduk di depannya. Kedua tangan Mahisa Agni terletak di pundak Mahisa Bungalan yang bersilang tangan di dada.
“Pejamkan matamu, dan laku itu akan sampai ke puncak,” desis Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan pun memejamkan matanya, sementara itu mulai terasa getaran yang tidak dikenal telah bergerak lewat sentuhan tangan Mahisa Agni menyusuri urat darahnya menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dalam kepekaan matanya yang terpejam, Mahisa Bungalan telah melihat beberapa warna yang bergetar, kemudian berputar saling menindih. Merah, hijau, kuning, hitam dan akhirnya putaran warna itu menjadi putih.
Mahisa Bungalan merasa tubuhnya berguncang. Bahkan kemudian seakan-akan ia telah kehilangan gaya beratnya. Hampir saja tubuhnya terangkat dan melayang. Namun sambil memejamkan matanya Mahisa Bungalan telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertahan, sehingga ia tetap duduk di lantai sanggarnya.
Namun sejenak kemudian, maka rasa-rasanya bumi lah yang berputar, semakin lama semakin cepat. Dalam putaran itu tiba-tiba saja di rongga matanya yang terpejam itu telah melihat dirinya sendiri. Berdiri tegak dalam putaran yang semakin cepat. Sekali-sekali tubuh itu nampak terhuyung, namun Mahisa Bungalan telah menghentakkan kekuatannya untuk bertahan agar bayangan itu tetap berdiri dengan penuh keyakinan, bahwa ia mampu berbuat sesuatu bagi bayangan dirinya yang melangkah mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, semakin dekat, sehingga akhirnya, sebagaimana pernah terjadi dengan Mahisa Agni dengan laku yang agak berbeda, bayangan dirinya itu telah menghentak menyusup dan luluh dengan dirinya sendiri.
Terasa tubuh Mahisa Bungalan itu berguncang. Sejenak warna-warna di dalam rongga matanya itu memancar semakin terang dan kembali berputar menjadi cahaya yang putih berkilauan. Namun kemudian semuanya menjadi gelap. Pekat. Namun pada saat terakhir, terasa perubahan telah terjadi di dalam dirinya.
Ternyata Mahisa Bungalan telah menjadi pingsan.
Dengan laku yang berat sebagaimana Mahisa Agni mengambil akar wregu putih di lereng gunung yang tinggi dan curam, maka Mahisa Bungalan mempersiapkan dirinya untuk menerima warisan dari puncak ilmu dari jalur perguruan Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak melakukannya dengan memanjat tebing yang tinggi dan curam. Tidak pula harus memasuki goa yang terjal dan berebut akar wregu dengan Buyut Ing Wangon. Tetapi Mahisa Bungalan harus berada di dalam sanggar menempa diri dengan mengarahkan segenap kemampuan dan daya tahan tubuhnya.
Dari hari ke hari, Mahisa Bungalan memang bagaikan merangkak mendaki tebing gunung yang curam. Ia maju setapak demi setapak, namun pasti menuju ke puncak kemampuan ilmu Gundala Sasra. Yang dikuasainya sampai saat terakhir belumlah ilmu warisan Mahisa Agni seutuhnya. Baru setelah ia menjalankan laku, ia sampai kepada tataran tangga terakhir dari ilmunya.
Dengan sepengetahuan ayahnya, Mahisa Bungalan menempatkan dirinya pada langkah-langkah yang sulit dan berat. Sekali-sekali ia harus mengikuti setiap gerak dan langkah Mahisa Agni. Namun kadang-kadang ia harus berdiri sebagai lawan yang harus mengimbangi kekuatan ilmu orang yang telah mengangkatnya menjadi murid tunggalnya itu.
Demikianlah, pada saatnya, maka Mahisa Agni itu telah memaksakannya untuk bertempur dengan segenap ilmu dan kemampuan yang telah dimilikinya. Dalam sanggar yang cukup luas, keduanya telah bertempur dengan dahsyatnya. Serangan dibalas dengan serangan. Kecepatan gerak diimbangi dengan kecepatan gerak pula. Demikian cepatnya, sehingga keduanya seakan-akan tidak lagi berpijak di atas tanah. Sentuhan-sentuhan kaki mereka , telah melemparkan mereka dengan loncatan-loncatan yang panjang dan cepat. Sehingga akhirnya, keduanya bagaikan telah berayun di putaran angin pusaran yang dahsyat. Ayunan tangan mereka bagaikan prahara yang mengamuk, sementara serangan-serangan kaki mereka bagaikan hentakkan banjir bandang yang tidak tertahan oleh bendungan besi sekalipun.
Dalam pusaran yang semakin cepat, maka Mahisa Agni telah memberikan isyarat, untuk memperlambat gerak mereka. Demikianlah perlahan-lahan pusaran itu menjadi susut, sehingga akhirnya berhenti sama sekali.
“Sekarang saatnya telah sampai dalam keadaanmu yang siap untuk menerimanya,” berkata Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi terasa tubuhnya menjadi sangat letih dan kulit dagingnya terasa sakit oleh sentuhan-sentuhan serangan Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat menolak dan menunda perintah gurunya itu.
Mahisa Agni yang meletakkan kedua tangannya di pundak Mahisa Bungalan, dengan cepat menangkapnya. Kemudian meletakkannya perlahan-lahan.
“Laku ini terlalu berat baginya,“ gumam Mahisa Agni kepada diri sendiri. ”Tetapi ini adalah jalan memintas. Sementara itu, Mahisa Bungalan menjadi pingsan ketika pewarisan ilmu ini sudah selesai. Mahisa Bungalan telah menerimanya dengan bulat, sehingga jika ia sadar nanti, maka ilmu itu telah ada pula di dalam dirinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni sendiri juga merasa letih. Keringat telah mengembun di wajah dan di seluruh tubuhnya. Rambutnya yang telah memutih pun rasa-rasanya ikut menjadi basah.
Dalam keletihan itu terasa oleh Mahisa Agni, bahwa ia memang sudah terlalu tua.
Untuk beberapa saat, Mahisa Agni menunggu sambil sekali-sekali mengusap keringat di tubuh Mahisa Bungalan. Namun sejenak kemudian, maka Mahisa Bungalan itu mulai membuka matanya. Perlahan-lahan. Bayangan-bayangan yang kabur mulai nampak. Semakin lama menjadi semakin jelas.
Akhirnya Mahisa Bungalan menyadari seluruhnya yang telah terjadi pada dirinya. Ia telah menerima warisan ilmu dari Mahisa Agni.
Perlahan-lahan Mahisa Bungalan bangkit, dan duduk kembali di hadapan Mahisa Agni.
“Mahisa Bungalan,“ desis Mahisa Agni, “Kau mampu bertahan sampai tahap terakhir dari pewarisan ilmuku kepadamu. Karena itu, maka menurut pendapatku, kau telah memiliki ilmuku selengkapnya. Puncak ilmu Gundala Sasra telah kau kuasai pula.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis, “Terima kasih paman. Mudah-mudahan aku dapat memanfaatkannya untuk kepentingan yang sesuai dengan keinginan paman.”
“Jika kau selalu ingat kepada Sumber Hidupmu, maka kau tentu akan selalu mengabdikan ilmumu bagi kepentingan Sumber Hidupmu dalam hubungannya dengan sesamamu. Karena sebenarnyalah kau harus menganggap dan memperlakukan sesamamu sebagaimana dirimu sendiri,” berkata Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa dengan ilmu puncak itu, tanggung jawabnya justru menjadi semakin besar.
“Beristirahatlah,” berkata Mahisa Agni, “kau dapat melihat hasil laku ini pada kesempatan lain.”
Mahisa Bungalan mengangguk kecil. Sementara itu Mahisa Agni pun telah bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah.“
Mahisa Bungalan pun kemudian berdiri pula. Tetapi seluruh tubuhnya masih merasa lemas. Tulang-tulangnya bagaikan dilepas dari anggauta badannya.
Tertatih-tatih Mahisa Bungalan mengikuti Mahisa Agni keluar dari sanggar. Kemudian, dengan langkah satu-satu mereka pun meninggalkan sanggar yang telah memberikan satu arti di dalam kehidupan Mahisa Bungalan itu.
Hari itu Mahisa Bungalan telah meluangkan waktunya untuk benar-benar beristirahat.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menjalani laku yang berat. Tetapi mereka masih belum sampai kepada satu saat, dimana mereka dapat mewarisi ilmu puncak Mahendra dan Witantra. Karena itu keduanya masih harus bekerja keras.
“Waktunya tidak akan lama lagi,” berkata Mehendra, “Jika kalian dengan tekun mengikuti semua laku yang harus kalian jalani, maka dalam waktu dekat, kalian akan dapat mewarisi ilmu puncak Bajra Geni.”
“Kami akan berusaha ayah,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Semua dasar ilmu itu sudah kalian miliki. Yang perlu kalian lakukan adalah menempa alas yang akan menjadi dasar meletakkan puncak ilmu Bajra Geni itu,” berkata Mahendra pula.
“Kami akan melakukan apa yang seharusnya kami lakukan,” jawab Mahisa Pukat.
Menurut pengetahuanku, kakakmu Mahisa Bungalan pada saat-saat ini sedang mengalami tempaan terakhir. Mudah-mudahan telah berlangsung pewarisan ilmu Mahisa Agni kepada kakakmu Mahisa Bungalan. Jika kalian kelak telah menguasai ilmu puncak Bajra Geni, sedangkan kakakmu menguasai ilmu puncak Gundala Sasra, maka kalian akan dapat saling menghadap dengan mempelajari kemungkinan-kemungkinan agar kedua ilmu itu dapat luluh sehingga kalian menemukan satu ujud kemampuan melampaui keduanya, karena sebenarnyalah kalian harus memiliki kelebihan dari yang tua-tua ini. Tetapi kalian tidak boleh meninggalkan sifat dan watak dari ilmu yang kalian pelajari dan kalian cari kemungkinan-kemungkinannya untuk dikembangkan itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi laku puncak yang paling berat sebelum mereka akan menerima puncak ilmu Bajra Geni.
Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus berbuat lebih banyak lagi, sementara Mahisa Bungalan tengah bersiap-siap untuk melihat hasil laku yang sangat berat yang sudah diselesaikannya.
Dalam pada itu, pada saat yang demikian, seseorang tengah berusaha untuk mengambil sebuah benda keramat dari gedung pusaka di istana Kediri.
Pertapa yang membimbing Pangeran Lembu Sabdata itu akhirnya mengambil keputusan, bahwa mereka sudah sampai pada saatnya untuk mengambil pusaka yang akan dapat menjadi kekuatan bagi Pangeran Lembu Sabdata untuk menaiki tahta di Kediri.
“Jika mahkota itu sudah berada di tangan kita, maka segala sesuatunya tentu akan dapat berlangsung dengan baik, meskipun mungkin kita baru akan mempergunakan tiga, atau empat tahun mendatang. Bahkan mungkin sepuluh tahun lagi,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Tetapi ia yakin, jika mahkota itu sudah berada di tangan mereka, maka mereka tentu tidak akan merasa perlu menunggu lebih lama lagi. Karena itu, maka yang harus segera mereka lakukan adalah menguasai mahkota itu.
Untuk merintis jalan, maka Pangeran Lembu Sabdata yang sudah tidak dikenal lagi itu, beberapa kali telah memasuki Kota Raja disela-sela latihan-latihannya yang berat.
Dengan usaha yang tekun, maka ia berhasil mendekati tujuannya. Dengan laku seorang pencuri. Pangeran Lembu Sabdata masuk ke dalam lingkungan istana. Menilik para petugas di malam hari, maka Pangeran Lembu Sabdata mengambil kesimpulan bahwa gedung perbendaharaan dan gedung pusaka masih terletak sebagaimana ia mengenal dahulu. Tidak ada perubahan-perubahan yang berarti di dalam lingkungan istana Kediri.
“Jadi menurut pendapat Pangeran, segala sesuatunya masih sebagaimana saat Pangeran meninggalkan istana?” bertanya Ki Ajar.
“Ya. Hampir tidak ada perubahan. Karena itu aku yakin, bahwa gedung perbendaharaan dan gedung pusaka masih bangsal yang dahulu pula, ternyata masing-masing masih dijaga dengan kuat oleh beberapa orang prajurit,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.
“Baiklah. Agaknya kita sudah cukup lama menunggu. Orang-orang Kediri tentu sudah melupakan peristiwa hilangnya Pangeran Lembu Sabdata. Namun mereka akan segera dikejutkan lagi oleh satu peristiwa yang tidak kalah pentingnya dengan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Ki Ajar.
Demikianlah, maka Ki Ajar pun segera mempersiapkan diri. Karena ia menganggap bahwa tugasnya itu merupakan tugas yang sangat penting, menyangkut sebuah benda keramat, maka sebelum melakukannya, Ki Ajar telah mengambil waktu tiga hari untuk menjalankan laku bagi kepentingan usahanya untuk mengambil pusakanya itu. Tiga hari tiga malam Ki Ajar berada di dalam sanggarnya, bersamadi untuk menempa diri lahir dan batin. Mengungkat semua kekuatan yang ada di dalam dirinya, agar usahanya untuk mengambil pusaka yang keramat itu dapat berhasil. Ki Ajar pun telah melakukan samadi, agar tuah pusaka yang akan diambilnya, itu tidak akan mengutuknya sehingga ia akan mengalami bencana pada saat ia mengambilnya.
Demikianlah, setelah Ki Ajar selesai dengan lakunya, maka bersama Pangeran Lembu Sabdata dan muridnya yang paling dipercayainya itu telah menuju ke Kota Raja.
Pangeran Lembu Sabdata telah yang kemudian menjadi penunjuk jalan yang sangat baik. Pangeran itu mengenal segala lekuk liku istana Kediri.
Karena itu, maka Ki Ajar pun telah berhasil memasuki lingkungan istana yang menuju ke gedung perbendaharaan.
“Kita akan mengetrapkan ilmu sirep,” desis Ki Ajar.
“Marilah guru,” berkata muridnya, “Kita akan melakukannya sebagaimana saat kita mengambil Pangeran Lembu Sabdata.”
“Jangan,” berkata Ki Ajar, “Kita hanya akan melepaskan sirep bagi lingkungan kecil. Aku hanya ingin mempengaruhi beberapa orang penjaga di muka pintu. Jika kita melepaskan sirep seperti saat kita mengambil Pangeran Lembu Sabdata, maka kita justru akan segera diketahui. Beberapa orang Senapati pilihan pengawal Sri Baginda, atau mungkin bahkan Sri Baginda sendiri, akan segera mengenali ilmu itu. Apalagi jika mereka memang belum tidur karena sesuatu sebab. Bahkan kau yakin, seseorang yang berilmu tinggi seperti Sri Baginda akan mengalami sentuhan yang sebaliknya. Sri Baginda akan segera mengetahui, bahwa di istana ini telah disebarkan sirep.”
“Jadi, apa yang kita lakukan?” bertanya muridnya.
“Aku akan menyebarkan sirep yang lemah dan yang hanya akan meliputi pintu gedung perbendaharaan dan pintu gedung pusaka yang letaknya berdekatan.”
“Bagaimana dengan para peronda?” bertanya muridnya.
“Kalian harus mengawasi mereka. Jika kalian melihat peronda memasuki lingkungan ini dan terlepas dari sirep, maka kalian harus memberikan isyarat,” berkata Ki Ajar.
Muridnya dan Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa yang mereka lakukan itu adalah satu pekerjaan yang sangat berbahaya. Tetapi untuk mencari satu keinginan yang besar, tentu harus berani memberikan taruhan yang besar pula. Termasuk nyawa mereka.
Sejenak kemudian, maka Ki Ajar pun telah mengetrapkan ilmunya. Sasarannya adalah beberapa orang prajurit yang bertugas di pintu gedung perbendaharaan dan gedung pusaka.
Ternyata Ki Ajar memang seorang yang memiliki kemampuan yang jarang ada duanya. Ilmunya merupakan ilmu yang sulit dicari bandingannya, sehingga dengan demikian, maka usahanya untuk mempengaruhi para prajurit itu pun perlahan-lahan telah berhasil.
Para prajurit yang bertugas di muka pintu itu tidak dapat mengelakkan diri dari serangan ilmu sirep pertapa yang memiliki ilmu linuwih. Karena itu, maka perlahan-lahan mata mereka pun telah terpejam tanpa menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi, justru pada saat mereka sedang bertugas.
Sejenak kemudian, maka para petugas itu pun telah benar-benar tertidur. Senjata mereka pun tersandar di dinding dan terlepas dari pegangan tangan mereka.
Ki Ajar dan kedua orang pengikutnya melihat keadaan itu dari kegelapan. Setelah mereka yakin, bahwa para prajurit itu sudah tertidur maka Ki Ajar pun berdesis, “Sekarang datang waktunya. Aku akan mengambil mahkota itu. Mudah-mudahan laku yang telah aku jalani sebelum kita memasuki istana ini akan berarti. Bahwa aku tidak akan terkena kutuk mahkota itu karena aku telah memperlakukannya lain dari yang seharusnya. Tetapi aku yakin, bahwa pribadiku akan mampu mengatasinya, apalagi setelah aku menjalani laku tiga hari tiga malam itu.”
“Kami akan mengamati dari tempat ini guru,” berkata muridnya.
“Ya. Demikianlah aku keluar dari gedung perbendaharaan aku akan menyerahkan mahkota itu kepada Pangeran Lembu Sabdata. Ia adalah orang yang lebih berhak memilikinya dan memanfaatkannya daripada orang lain. Karena itu, maka agaknya Pangeran Lembu Sabdata tidak akan terkena kutuk atau semacamnya dari mahkota itu karena darah raja-raja Kediri mengalir di dalam tubuhnya,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata sendiri tidak menjawab. Ia memang tidak mempunyai sikap apapun juga selain sikap sebagaimana dikehendaki oleh Ki Ajar.
Demikianlah sejenak kemudian, maka Ki Ajar itu pun telah mempersiapkan diri lahir dan batin. Ia siap bertempur jika ia menjumpai seorang prajurit atau Senapati yang melihat perilakunya. Tetapi iapun siap mengambil pusaka yang dianggap bertuah dan memiliki kekuatan gaib itu, serta menghindari akibat-akibat yang tidak baik daripadanya.
Pangeran Lembu Sabdata dan Putut itu pun kemudian hanya dapat memandangi dengan hati yang berdebar-debar ketika Ki Ajar bangkit berdiri dan berjalan dengan tenangnya menuju ke pintu gedung perbendaharaan itu. seolah-olah ia yakin bahwa tidak seorang pun yang akan dapat melihatnya. Bukan saja yang sedang tertidur, tetapi orang lain pun seakan-akan tidak akan dapat melihatnya pula.
Nampaknya memang tidak ada hambatan apapun. Demikian rencananya Ki Ajar itu langsung berjalan ke pintu dan membuka selaraknya.
Namun demikian Ki Ajar melangkah masuk, tiba-tiba saja ia merasa seakan-akan sebuah kekuatan yang sangat besar telah mendorongnya keluar.
Ki Ajar tergeser selangkah surut. Rasa-rasanya demikian dahsyatnya hentakkan itu sehingga tanpa dapat dilawannya.
Sejenak Ki Ajar termangu-mangu. Dipusatkannya daya tahannya. Dengan segenap ilmu dan kemampuan serta kekuatan yang ada di dalam dirinya, Ki Ajar telah mencoba melangkah sekali lagi masuk. Kembali terasa tubuhnya bagaikan didorong keluar dari gedung perbendaharaan itu.
Ki Ajar adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu maka sekali lagi ia menghentakkan kekuatannya dengan alas ilmunya. Setapak ia berhasil maju, tetapi tiba-tiba saja dari dalam ruangan itu telah berhembus prahara yang sangat dahsyatnya.
Tubuh Ki Ajar bagaikan hanyut oleh prahara itu. Hanya karena kemampuan Ki Ajar yang sangat tinggi sajalah maka ia tidak terlempar. Meskipun demikian, sekali lagi ia terdorong keluar.
Ki Ajar yang kemudian telah berada kembali diluar pintu itu termangu-mangu sejenak. Tubuhnya telah basah oleh keringat. Ada sesuatu yang ternyata harus diatasinya.
Namun tiba-tiba saja Ki Ajar itu menyadari betapa isi dari Gedung perbendaharaan itu selain harta benda kerajaan juga benda-benda pusaka yang bertuah sebagaimana senjata-senjata yang terdapat di gedung pusaka di sebelah gedung perbendaharaan itu.
Karena itu, maka Ki Ajar itu pun segera mengambil langkah yang paling mungkin untuk mengatasi kesulitan itu. Iapun kemudian berjongkok di depan pintu, menyembah dan kemudian beringsut masuk.
Memang sangat mengherankan Ketika Ki Ajar berjalan dengan langkah jongkok, ternyata ia tidak didera oleh kekuatan yang tidak dikenalnya. Rasa rasanya ia memasuki sebuah ruangan sebagaimana ruang yang lain. Namun demikian terasa bahwa ruang di gedung perbendaharaan itu sangat panas.
Sejenak Ki Ajar termangu-mangu. Tetapi ia pernah mendengar dari beberapa orang berilmu tinggi tentang mahkota yang memiliki tuah dan kekuatan untuk menjadi sipat kandel serta memiliki kekuatan untuk menjadi tempat bersemayamnya wahyu keraton.
Juga dari Pangeran Lembu Sabdata yang pada suatu masa pernah ikut memandikan beberapa macam benda-benda keramat di gedung perbendaharaan itu, Ki Ajar mendapat petunjuk letak mahkota yang dimaksudkan. Mahkota yang hanya dipakai sekali dalam waktu setahun.
Sambil berjalan jongkok Ki Ajar meneliti isi dari gedung perbendaharaan itu dengan cermatnya.
Berbagai macam benda terletak di dalam gedung perbendaharaan. Benda yang sederhana sampai benda yang sangat berharga. Namun kesemuanya itu dianggap sebagai benda yang dihormati di istana Kediri. Tiga buah topeng yang paling keramat terdapat di dalam gedung perbendaharaan itu pula. Dua buah bende. Semacam slepe yang berwarna kuning kemerahan karena bintik-bintik yang tidak diketahui asalnya. Dan beberapa macam benda yang lain. Namun yang berada di tengah-tengah ruangan, dibungkus oleh kain putih, adalah sebuah mahkota.
Ki Ajar telah mendapat petunjuk letak mahkota itu. Demikian pula bentuk dan ujudnya. Namun ternyata mahkota itu terbungkus sehingga Ki Ajar tidak langsung dapat melihat bentuk dan ujudnya.
Untuk sesaat Ki Ajar termangu-mangu. Namun iapun kemudian yakin, bahwa yang berada di tengah dan dibungkus oleh kain putih itu adalah mahkota yang dikehendakinya.
Perlahan-lahan Ki Ajar mendekatinya. Kemudian dipusatkannya nalar budinya. Dengan menempatkan diri ke dalam puncak pengaruh kepribadiannya, maka Ki Ajar itu berusaha untuk mengambil mahkota itu.
Namun tiba-tiba saja semacam awan panas telah menghembusnya. Tidak terlalu keras, tetapi rasa-rasanya seluruh tubuhnya telah terbakar.
Ki Ajar itu menyeringai menahan sakit. Namun juga dikerahkannya segenap kemampuan daya tahannya, sehingga akhirnya perlahan-lahan ia dapat mengatasi perasaan panas yang menerpa tubuhnya.
Sejenak Ki Ajar termangu-mangu. Namun iapun segera teringat pada saat ia memasuki gedung itu. Karena itu, maka iapun kemudian telah duduk dengan tertib dan menyembah mahkota itu beberapa kali sambil mengatur perasaannya.
Kemudian dengan keyakinan yang teguh akan diri dan pribadinya akhirnya Ki Ajar itu pun menggapai mahkota yang keramat itu.
Ternyata Ki Ajar itu berhasil. Dengan jantung yang berdebar-debar ia mengangkat mahkota yang terbungkus kain putih itu.
Namun demikian ia mengangkat benda yang terbungkus oleh kain putih itu, ia menjadi ragu-ragu. Ternyata benda itu sangat berat.
“Jika benar ini mahkota, apakah seseorang dapat memakainya untuk waktu yang lebih dari sepenginang,” bertanya Ki Ajar itu kepada diri sendiri.
Karena keragu-raguan itulah, maka Ki Ajar pun kemudian telah membuka bungkusan itu dan melihat benda yang dipegangnya.
Ternyata bahwa benda itu memang sebuah mahkota. Mahkota yang berwarna kekuning-kuningan yang tentu terbuat dari emas bertatahkan intan permata yang gemerlapan.
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Tentu mahkota itulah yang dimaksud. Mahkota yang bukan saja karena mahal sekali harganya, tetapi juga karena pada mahkota itu bersemayam wahyu keraton.
Tetapi mahkota itu ternyata sangat berat.
“Memang hanya orang-orang yang memiliki darah raja-raja Kediri sajalah dapat memakainya untuk waktu yang agak lama,” berkata Ki Ajar itu di dalam hatinya.
Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Ajar itu pun telah keluar dari gedung perbendaharaan. Kemudian duduk dengan hitmatnya. Mengangguk dalam-dalam sampai dahinya menyentuh lantai sambil membawa mahkota yang sangat berat itu.
Kemudian, Ki Ajar itu baru bangkit berdiri. Dengan sedikit kesulitan ia telah menyelarak pintu kembali.Ki Ajar memang seorang yang sangat yakin akan dirinya.
Tanpa menghiraukan apapun niga, iapun telah berjalan dengan tenang sebagaimana ia pergi ke pintu gedung perbendaharaan itu.
"Marilah berkata Ki Ajar setelah ia mendekati Pangeran Lembu Sabdata dan muridnya.
“Apakah semuanya sudah selesai?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
"Sudah. Inilah Mahkota itu. Terimalah Kau adalah seseorang yang mempunyai darah para raja di Kediri. Mudah-mudahan karena itu, kau tidak terkena pengaruh tuahnya”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar