*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 018-03*
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menolak kata Singa Narpada, karena setiap orang memang melihat apa yang telah terjadi.
Meskipun demikian, betapa kerasnya kata-kata Pangeran Singa Narpada, namun masih tersirat kesetiaannya yang lebih tinggi dari Pengeran Kuda Permati. Karena itu, maka Sri Bagindapun telah bertanya, “Singa Narpada. Kau boleh mengatakan apa saja. Tetapi aku merasa bahwa aku sedang berusaha untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar. Tetapi aku ternyata telah gagal. Dan sekarang, aku tidak mempunyai pilihan lain untuk menghadapi Pangeran Kuda Permati yang telah menyebarkan bibit permusuhan di mana-mana. Di Singasari telah terjadi pula permusuhan, karena beberapa kelompok orang yang menganut perintah dan cita-citanya telah berusaha untuk melumpuhkan Singasari dengan membinasakan hutan di lereng-lereng pegunungan.“
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Ia tidak segera dapat melepaskan diri dari kekecewaannya, bahwa ia telah beberapa lamanya dibatasi geraknya yang menurut Pangeran Singa Narpada tidak lebih dan tidak kurang daripada disekap dalam tahanan.
Betapa kasar sifat dan watak Pangeran Singa Narpada, tetapi ternyata bahwa kesetiaannya masih juga mengatasi gejolak perasaannya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Apakah perintah Sri Baginda atas hamba?“
“Kau akan termasuk salah seorang Senapati yang akan menumpas gerakan Kuda Permati. Di sini ada dua orang utusan dari Singasari yang bersedia untuk memberikan bantuan apa saja yang aku perlukan. Tetapi untuk sementara ini aku tidak memerlukan bantuan apa-apa. Bagaimana katamu tentang hal itu?“
Pangeran Singa Narpada berpaling kearah kedua orang utusan dari Singasari itu. Namun kemudian katanya, “Hamba sependapat Sri Baginda. Untuk sementara kita tidak memerlukan bantuan. Biarlah kita bersikap dewasa, menyelesaikan persoalan kita sendiri. Baru apabila kita memang tidak mampu lagi berbuat demikian, kita akan menentukan sikap selanjutnya.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Karena itu, maka lakukan segera persiapan-persiapan yang perlu. Kau dapat menghubungi Panji Sempana Murti yang sudah bertindak lebih dahulu.“
“Hamba akan melaksanakan segala perintah Sri Baginda betapapun kecewanya perasaan hamba” jawab Pangeran Singa Narpada.
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Mahisa Agni dan Witantra, “Demikianlah Ki Sanak. Kalian sudah melihat apa yang terjadi di Kediri. Kalian dapat melaporkannya kepada Sri Maharaja. Di antaranya bahwa Kediri ingin menyelesaikan persoalannya sendiri dengan sikap sebagaimana kalian lihat dalam pertemuan ini.“
Mahisa Agni bergeser setapak. Katanya, “Baiklah Sri Baginda. Aku akan membawa laporan ini kepada Sri Maharaja. Mudah-mudahan Sri Baginda berhasil. Namun demikian, apapun yang Sri Baginda perlukan, maka Singasari akan berusaha untuk memenuhinya menurut kemampuan yang ada.“
“Terima kasih” jawab Sri Baginda, “segala sesuatu yang terjadi sebagaimana kalian lihat, adalah jawabanku atas titah Sri Maharaja.“
“Kami mengerti seluruhnya” jawab Mahisa Agni, “namun demikian, adalah menjadi kewajiban kami untuk mengikuti semua perkembangan yang terjadi di Kediri. Kami akan mengamati hasil langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Singa Narpada.“
“Silahkan. Tetapi apakah dengan demikian berarti kalian akan tetap tinggal di Kediri untuk waktu yang tidak terbatas?” bertanya Sri Baginda.
“Ya. Meskipun kami tidak akan berbuat apa-apa selain melihat perkembangan keadaan” jawab Mahisa Agni.
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Kami sama sekali tidak berkeberatan. Justru dengan demikian kalian akan mengetahui langsung apa yang terjadi. Bukan sekedar laporan yang mungkin dapat kembangkan atau menyusut dari kenyataan.”
Dengan demikian, maka Mahisa Agni dan Witantra bersama sekelompok pengawalnya dibawah pimpinan Mahisa Bungalan akan tetap berada di Kediri atas persetujuan para pemimpin di Kediri.
Dalam pada itu, setelah pertemuan yang dihadiri oleh utusan dari Singasari itu, maka Pangeran Singa Narpada telah mendapat perintah dari Sri Baginda untuk mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh Pengeran Kuda Per-mati. Namun bagaimanapun juga, Sri Baginda masih juga berpesan, agar Pangeran Singa Narpada berusaha untuk membatasi sejauh-jauhnya pertumpahan darah. Terutama atas rakyat yang tidak mengerti persoalan yang timbul di Kediri antara beberapa orang pemimpin yang berbeda pendirian.
“Bagaimanapun juga, hamba masih juga berjantung” berkata Pangeran Singa Narpada.“
“Aku selalu cemas melihat sikapmu. Jika kau bergabung dengan Panji Sempana Murti, maka rasa-rasanya Kediri akan terbakar oleh gejolak pasukanmu. Namun mudah-mudahan kau mengerti getar kata nuraniku” pesan Sri Baginda.
“Hamba akan memperhatikannya” jawab Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah yang dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada, pertama-tama adalah kembali ke istananya dan memanggil beberapa orang perwira yang dekat dengan dirinya dalam pasukannya.
Ternyata bahwa beberapa orang di antara para pemimpin dari pasukannya telah bekerja bersama dengan Panji Sempana Murti. Dari mereka Pangeran Singa Narpada mendengar dengan jelas apa yang pernah dilakukan oleh Panji Sempana Murti, sebagai salah satu panglima yang bertugas di perbatasan.
“Tetapi Panji Sempana Murti mengahadapi satu kesulitan” berkata para perwira itu, “di beberapa daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati sudah terlalu dalam. Mereka sudah menyatu dengan rakyat daerah itu, sehingga jika kita datang ke tempat itu, maka mereka seakan-akan telah hilang luluh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan demikian, maka sulit bagi Panji Sempana Murti untuk membedakan, yang manakah pasukan Pangeran Kuda Permati dan yang manakah rakyat kebanyakan yang tidak tahu-menahu tentang persoalan yang sedang bergejolak di Kediri.“
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada kecewa ia berkata, “Sebenarnya kita sudah terlambat. Kita memang akan menghadapi terlalu banyak persoalan. Yang harus kita lakukan adalah mengetahui dimanakah induk pasukan Pangeran Kuda Permati itu berada.“
Dengan demikian, maka para pemimpin dalam pasukan Pangeran Singa Narpada itu telah menganjurkan, agar Pangeran Singa Narpada berhubungan langsung dengan Panji Sempana Murti yang sudah mendahului bertindak dengan cara yang sesuai dengan sikap Pangeran Singa Narpada.
“Baiklah. Aku akan menemuinya” berkata Pangeran Singa Narpada.
Pangeran Singa Narpada memang bertindak cepat. Ia tidak menunggu terlalu lama. Setelah semua pendapat saling disesuaikan di antara para pemimpinnya, maka iapun segera memberitahukan kahadirannya kepada Panji Sempana Murti yang memang sudah menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Singa Narpada.
Pertemuan di antara Pangeran Singa Narpada dengan Panji Sempana Murti memang mempertemukan pendapat mereka. Panji Sempana Murti pun mengucapkan terima kasih, bahwa sebagian dari pasukan Pangeran Singa Narpada dengan diam-diam telah membantunya.
“Sekarang seluruh pasukanku dapat bergerak dengan bebas berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu kita tidak akan menunggu. Kita akan bergerak dan menggelitik pasukan Pangeran Kuda Permati.“
”Apa yang akan Pangeran lakukan?” bertanya Panji Sempana Murti.
“Menempatkan pasukanku di daerah yang selama ini menjadi daerah pasukan Pangeran Kuda Permati” jawab Pangeran Singa Narpada.
Panji Sempana Murti mengerutkan keningnya. Ia sendiri tidak akan berbuat sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada. Namun kemudian Panji Sempana Murti itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Inilah gaya Pangeran Singa Narpada. Aku sudah disebut orang yang tidak berjantung. Tetapi Pangeran Singa Narpada memang tidak tanggung-tanggung. Ia menantang langsung Pangeran Kuda Permati dan tentu tidak akan segan-segan bertindak tegas.”
Namun demikian Panji Sempana Murti masih memikirkan, apa yang dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada terhadap lingkungan yang sulit untuk diadakan, yang manakah para pengikut Pangeran Kuda Permati dan yang mana yang bukan.
Sebenarnyalah, Pangeran Singa Narpada pun segera mempersiapkan seluruh pasukannya yang besar. Ia sudah mendapat laporan tantang langkah-langkah yang sudah diambil oleh Panji Sempana Murti yang membentuk kekuatan di setiap padukuhan. Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada merencanakan penempatan seluruh kekuatan pasukannya di hadapan Pangeran Kuda Permati. Sementara itu, Panji Sempana Murti akan tetap berada dalam wilayah tugasnya dan tetap memelihara ketahanan kekuatan di setiap padukuhan dengan mempersiapkan pasukan berkuda yang dapat bergerak dengan cepat.
“Selain tugas keprajuritan, maka kita mempunyai tugas yang lebih berat” berkata Pangeran Singa Narpada, “untuk mengurangi korban yang tidak perlu, maka kita harus memberikan kesadaran, bahwa langkah Kuda Permati adalah langkah yang salah. Kita kan memberikan batas waktu kepada orang-orang yang berpihak kepadanya. Sesudah batas waktu itu lewat, maka kita akan mengambil tindakan tegas.“
Panji Sempana Murti mengerutkan keningnya. Tetapi ia belum dapat membayangkan, tindakan apa yang akan diambil oleh Pangeran Singa Narpada. Tetapi jika Pangeran Singa Narpada sudah mengatakan akan mengambil tindakan yang tegas, itu berarti bahwa segala sesuatunya akan berlangsung dengan keras.
Namun pimpinan perlawanan atas pemberontakan Pangeran Kuda Permati sudah diambil alih oleh Pangeran Singa Narpada. Tidak lagi berada ditangan Panglima daerah perbatasan yang berhadapan langsung dengan kegiatan Pangeran Kuda Permati.
Demikianlah, maka setelah semua rencana disiapkan dengan masak menurut keputusan Pangeran Singa Narpada dengan para Senapatinya, maka langkahpun segera mulai dilaksanakan.
Pengeran Singa Narpada telah mengatur pasukannya dan seperti rencananya, mereka kemudian ditempatkan di beberapa padukuhan yang berdekatan, dihadapan daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati.
Namun dalam pada itu. Pangeran Singa Narpada pun menyadari bahwa Pangeran Kuda Permati tidak akan dapat digertak dengan pasukannya yang kuat. Pangeran Kuda Permati akan menarik diri dengan induk pasukannya. Namun ia tentu masih meninggalkan kekuatan di antara rakyat dibawah pengaruhnya.
“Kita memerlukan waktu yang lama” berkata Pangeran Singa Narpada kepada Panji Sempana Murti dalam satu pertemuan, “kau harus berusaha untuk tetap meyakinkan orang-orang yang belum terperangkap oleh pengaruh Kuda Permati, bahwa yang dilakukan adalah satu langkah yang sesat.“
“Aku akan berusaha Pengeran” jawab Panji Sempana Murti, “sementara itu, apa yang akan Pangeran lakukan untuk memerangi pengaruh Pangeran Kuda Permati. Bukan pasukannya dalam ujud wadag yang pada saat-saat tertentu nampak dalam satu kesatuan, namun yang pada saat lain hilang luluh didalam kehidupan rakyat sehari-hari.“
“Itulah yang aku anggap sebagai satu perjuangan yang lama. Tetapi kuta tidak boleh berkecil hati. Aku akan mengirimkan pasukannya untuk memasuki padukuhan-padukuhan dibawah pengaruh Pengeran Kuda Permati. Aku akan memerintahkan pasukanku untuk mengerti, mengenal,dan memasuki lingkungan hidup mereka. Para prajurit itu akan menghitung jumlah jiwa disetiap rumah. Mengetahui apakah hubungan keluarga di antara mereka dan dengan pasti mengetahui pekerjaan orang-orang yang ada di padukuhan itu. Tidak boleh ada yang terlampaui, tetapi juga tidak boleh ada orang-orang yang tidak terhitung berada di padukuhan itu.” berkata Pangeran Singa Narpada.
Panji Sempana Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu pekerjaan yang sulit sekali dilakukan“
“Ya. Tetapi hal itu harus kita lakukan. Kita akan mengadakan penelitian untuk beberapa padukuhan. Kemudian kita akan mengamatinya untuk beberapa lama. Pada saat-saat tertentu, siang atau malam, kita akan memasuki rumah-rumah dan meneliti, apakah ada orang-orang yang tidak terhitung berada di rumah-rumah itu.” berkata Pengeran Singa Narpada.
Panji Sempana Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti apa yang akan terjadi kemudian. Orang-orang yang dicurigai tidak akan mendapat kesempatan apapun juga untuk mengelak dari tuduhan yang dapat membawa mereka kedalam satu keadaan yang paling pahit.
Sebenarnyalah, bahwa Pangeran Singa Narpada benar-benar akan bertindak tegas sebagaimana dikatakannya.
Dalam pada itu, dalam gejolak yang kemudian terasa semakin keras, maka Pugutrawe dengan hati-hati berusaha untuk dapat mengikuti segala perkembangan. Lewat seorang petugas sandi. Pugutrawe tahu pasti, bahwa dua orang utusan dari Singasari berada di Kediri dengan sekelompok kecil prajurit dibawah pimpinan Mahisa Bungalan. Pugutrawe telah mengetahui, bahwa Mahisa Bungalan sebenarnya adalah kakak dari dua orang anak muda yang berada didalam lingkungan tugasnya.
Karena itu, maka Pugutrawe pun telah memberikan beberapa petunjuk kepada Mahisa.Murti dan Mahisa Pukat untuk berada didalam lingkungan pengaruh Pangeran Kuda Permati.
“Nampaknya kalian memiliki sumber yang dapat dipercaya di lingkungan mereka” berkata Pugutrawe.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sampai sekarang aku masih mempercayakan.“
“Tetapi kalian harus lebih berhati-hati jika kalian mondar-mandir melintasi perbatasan yang semu antara pengaruh Pangeran Kuda Permati dan P ngaruh Pangeran Singa Narpada. Keduanya adalah orang yang keras dan kekerasannya itu berpengaruh sampai kepada para Senapati, bahkan para prajuritnya. Jika kau tertangkap baik oleh Pengeran Singa Narpada, maupun oleh Pangeran Kuda Permati, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk.“
“Kami akan berhati-hati” jawab Mahisa Murti, “namun agaknya memang sekarang waktunya untuk berada di antara kedua kekuatan itu, agar kita dapat selalu mengikuti apa yang terjadi. Dengan berada di dalam pasukan yang dibentuk oleh Panji Sempana Murti yang tersusun dalam golongan-golongan itu, sekarang sulit sekali untuk dapat melihat apa yang terjadi di baris pertama dari benturan yang sebenarnya.”
Pugutrawe mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, ”Tetapi bagaimanapun juga, mondar-mandir seperti yang kalian lakukan itu memerlukan satu perhitungan tersendiri. Hati-hatilah, karena jika kalian tertangkap oleh siapapun, sulit bagi kalian untuk tidak mengatakan sesuatu tentang apa-apa yang kau ketahui.“
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa Pugutrawe akan sangat berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan itu.
Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang selalu hilir-mudik antara kedua daerah pengaruh yang berbeda. Tetapi mereka mempunyai tempat untuk hinggap selagi mereka berada di dalam lingkungan pengaruh Kuda Permati. Mereka berada di tempat Ki Waruju yang dikenal dalam lingkungannya sebagai pedagang ternak yang berhasil.
Dengan demikian, maka atas petunjuk kedua belah pihak, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.
Di daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati, Ki Waruju berhasil berhubungan dengan orang-orang yang terlibat langsung dalam pasukan Pangeran Kuda Permati. Sebagai seorang pedagang yang mempunyai hubungan yang luas, maka kesempatan yang diusahakan dengan segala cara akhirnya berhasil. Ki Waruju merupakan salah seorang yang sering mendapat pesanan untuk melayani kepentingan pasukan induk Pangeran Kuda Permati.
Meskipun demikian, sangat sulit bagi Ki Waruju untuk mengetahui, tempat persembunyian Pangeran Kuda Permati. Tetapi terasa olehnya, bahwa ada satu tempat yang terlindung oleh berlapis-lapis pengaman yang merupakan pusat pengendalian pasukan Pengeran Kuda Permati yang tersebar.
Agaknya pengamanan yang berlapis-lapis itu memang sulit untuk ditembus dengan cara apapun juga. Apalagi tempat itu baru merupakan angan-angan yang tidak diketahui letaknya.
Namun demikian, lambat laun, Ki Waruju mempunyai hubungan yang semakin baik dengan para prajurit dari pasukan induk Pangeran Kuda Permati. Bahkan sekali-kali Ki Waruju sempat mempertunjukkan bukan saja kuda yang tegar dan kuat yang sangat menarik bagi para prajurit, tetapi juga bermacam-macam batu-batu akik yang dianggap mempunyai tuah dan kasiat, berbagai macam pusaka yang mempunyai kemampuan melindungi para pemiliknya dari bahaya yang tersembunyi.
Ternyata Ki Waruju dapat mengambil hati para prajurit itu. Sekali-sekali ia memberikan sebutir batu akik yang sangat bagus bagi seorang prajurit yang sudah dikenalnya dengan baik.
“Tetapi jangan rampas kudaku” bisiknya kepada prajurit itu, “kuda itu adalah binatang yang aku perdagangkan.
“Tetapi kau memang bodoh” berkata prajurit itu, “siapa yang pada saat ini bersedia membeli seekor kuda yang tegar dan kuat? Jika seseorang melakukannya, besok kuda itu sudah kami ambil.“
“Aku menjualnya di tempat yang jauh” berkata Ki Waruju, “di sini harga kuda sangat murah. Lebih baik dijual daripada diambil oleh para prajurit. Juga barangkali kau ikut mengambilnya. Kemudian dengan diam-diam kau bawa kuda itu keluar daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati. Maka disana kuda itu akan laku dengan harga yang tinggi.“
“Kau memang pantas disebut pengkhianat” berkata prajurit itu.
“Kenapa?” bertanya Ki Waruju.
“Kau curi kuda-kuda kami. Kuda-kuda yang sebenarnya dapat kami pergunakan untuk perjuangan kami menentang orang-orang Singasari. Bahkan mungkin kuda-kuda itu kau jual kepada orang-orang Singasari.” geram prajurit itu.
Tetapi Ki Waruju tertawa. Katanya, “Coba, buatlah satu perbandingan. Berapa ekor kuda yang pernah kalian ambil dan kalian pergunakan, sementara itu aku berusaha mengambil keuntungan dari keadaan ini hanya seekor dari ratusan. Sementara itu keuntungan yang aku dapatkannya, sebagian juga aku pergunakan bagi perjuangan ini. He, darimana kau dapat akik sebagus itu? Sementara itu, aku telah memberi sebuah gelang akar beringin putih kepada seorang kawanmu yang berhidung pesok itu. Sedangkan itu, aku berjanji untuk mencari sebilah keris yang mempunyai watak seorang prajurit sejati. Berdaun lurus dan memiliki pamor manggada. Selebihnya akupun masih harus menyediakan sekelompok kambing yang akan kalian pergunakan untuk bujana menjelang akhir pekan.“
“Tetapi bukanlah duapuluh lima ekor kambing itu akan dibayar harganya? Dari dua puluh ekor kambing itu kau akan mendapat keuntungan yang besar.” berkata prajurit itu., “Ah, kau mempunyai penilaian yang salah terhadap usahaku. Aku memang seorang pedagang yang mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Tetapi bagi perjuangan ini, aku bersikap lain. Lebih baik mencuri membawa seekor kuda keluar untuk mendapat untung berlipat ganda daripada mencari keuntungan dari ternak yang aku jual bagi para prajurit. Kambing dan ternak-ternak lain yang aku serahkan bagi para prajurit, aku sama sekali tidak mengambil keuntungan. Bahkan duapuluh lima ekor kambing yang akan aku serahkan nanti, telah aku beri harga dibawah harga yang seharusnya, karena nampaknya perjuangan kita telah semakin meningkat. Aku dengar pangeran Singa Narpada telah dibebaskan dari tahanannya dan sekarang meletakkan pasukannya di luar daerah perbatasan langsung menghadap daerah ini.” berkata Ki Waruju.
Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran Singa Narpada memang seorang Pangeran yang kurang waras. Ia seorang yang kasar dan dungu, melampaui Panji Sempana Murti.“
“Uh” geram Ki Waruju, “keduanya memang orang-orang yang tidak tahu diri. Tetapi kenapa Pangeran Kuda Permati tidak membalas sakit hati kita semuanya, karena sergapan Panji Sempana Murti yang tiba-tiba itu?“
“Kami tidak sempat melakukannya. Pangeran Kuda Permati telah dipanggil oleh Sri Baginda. Tetapi hasil pembicaraan itu adalah dilepaskannya Pangeran Singa Narpada” berkata prajurit itu.
“Kenapa tiba-tiba saja Sri Baginda bersikap demikian?” bertanya Ki Waruju.
“Tentu karena hasutan dua orang utusan dari Singasari yang ada di Kota Raja. Mereka memang harus disingkirkan. Dan ini sudah menjadi rencana Pangeran Kuda Permati.“
Ki Waruju mengerutkan keningnya. Tetapi untuk tidak menimbulkan kecurigaan, seolah-olah ia sama sekali tidak memperhatikan kata-kata prajurit itu. Bahkan ia justru bertanya, “Kenapa Sri Baginda tidak menangkap saja kedua orang Singasari itu? Jika kita semuanya sepakat untuk mengangkat senjata, maka aku kira Singasari tidak akan dengan mudah memaksakan kehendaknya. Mereka harus berpikir ulang, apakah mereka akan tetap bertahan untuk tinggal di Kediri atau melepaskannya saja.”
“Masih banyak penjilat di tanah ini” jawab prajurit itu, “mereka harus kita singkirkan sebagaimana kita akan menyingkirkan orang-orang Singasari itu.“
“Bagaimana mungkin kita dapat menyingkirkan orang-orang Singasari itu. Mereka berada di Kota Raja, di dekat istana Sri Baginda. Jika Sri Baginda memang tidak menghendaki demikian, maka agaknya hal itu tidak akan dapat dilakukan.” berkata Ki Waruju. Lalu, “seharusnya Sri Baginda bertindak tegas.”
“Sri Baginda bukan orang kuat” jawab prajurit itu, “tetapi Sri Baginda harus melihat satu kenyataan, bahwa kedua orang itu akan tersingkir.”
Tetapi Ki Waruju tertawa; kecut. Katanya, “Mudah sekali untuk.mengatakannya. Tetapi sulit sekali untuk melakukannya“
“Kau memang dungu” geram prajurit itu, “yang kau ketahui hanya keuntungan melulu. Mencuri menyingkirkan kuda-kuda tegar dari daerah ini dan menjualnya di daerah yang dikuasai oleh para penjilat. Itu pengkhianat, karena dengan demikian kau sudah membantu para penjilat untuk memperkokoh kekuasaan Singasari.“
Tetapi Ki Waruju justru tertawa. Katanya, “Tetapi aku memang melakukannya. Bukan sekedar berbicara tentang hal itu.”
“Anak setan” geram prajurit itu, “kamipun akan melakukannya. Lihat, dalam waktu singkat, kedua orang itu akan menjadi mayat di pesanggrahannya. Pesanggrahan itu adalah milik orang Kediri. Mereka sudah menodainya dan mengotorinya.
Ki Waruju masih tertawa. Tetapi tiba-tiba tertawanya tertahan ketika prajurit itu membentaknya, “Diam. Kau kira aku hanya bergurau.”
“Tidak.” jawab Ki Waruju sambil menahan tertawanya, aku percaya. Besok jika kalian berhasil, mudah-mudahan akibatnya akan menguntungkan Kediri.”
“Tentu. Jika kedua orang itu terbunuh, Singasari akan marah kepada Kediri. Bahkan kita berharap Singasari akan mengambil tindakan. Dengan demikian, maka Sri Baginda akan terpaksa membela diri, melawan Singasari. Kecuali jika Sri Baginda di Kediri benar-benar telah kehilangan harga dirinya. Menyerah untuk diikat dan digiring di sepanjang jalan dan akhirnya di gantung di alun-alun.”
Ki Waruju tidak tertawa lagi. Ia melihat prajurit itu berbicara dengan sungguh-sungguh. Jika ia masih mentertawakannya maka prajurit itu tentu akan marah kepadanya
Namun dalam itu, sesuatu sudah dapat ditangkapnya. Agaknya memang benat-benar ada rencana Pangeran Kuda Permati untuk menyingkirkan Mahisa Agni dan Witantra.
Karena, itu, maka Ki Waruju pun kemudian mencari hubungan dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Untunglah bahwa kedua anak muda itu selalu mondar-mandir melintasi perbatasan yang semu, namun cukup berbahaya.
Ketika rencana itu diberitahukan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka keduanya menganggap bahwa berita itu adalah berita yang penting. Jadi atau tidak jadi rencana itu dilaksanakan, maka orang-orang Singasari yang berada di Kota Raja harus mengetahuinya.
Dengan cepat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membawa berita itu kepada Pugutrawe. Didalam gelapnya malam keduanya telah kembali memasuki daerah Pangeran Panji Sempana Murti.
Pugutrawe pun sependapat, bahwa berita itu harus segera sampai kepada para utusan yang berada di Kediri. Karena itu, maka lewat jalur petugas sandi yang ada di Kediri, maka Pugutrawe ingin memasukkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke dalam lingkungan para pengawal yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan untuk menyampaikan sendiri berita yang diterimanya dari daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati.
Dengan kerja yang cermat, akhirnya para petugas sandi Singasari di Kediri berhasil menghubungi Mahisa Bungalan dan menyampaikan rencananya untuk menyerahkan dua orang anak muda yang akan menyampaikan berita yang sangat penting.
“Kau percaya kepada keduanya?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Keduanya mempergunakan pertanda petugas sandi langsung dari para petugas sandi di Singasari” jawab petugas itu.
“Baiklah. Bawa mereka kemari. Tengah malam nanti. Aku menunggu kalian di luar regol, di bawah pohon asem di seberang jalan.” berkata Mahisa Bungalan.
Sebenarnyalah, pada tengah malam yang senyap, petugas itu telah membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menemui Mahisa Bungalan. Kedua anak muda itu sama sekali tidak terkejut, karena mereka tahu, bahwa mereka akan dipertemukan dengan Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Bungalan lah yang terkejut melihat kedua adiknya datang bersama petugas sandi yang pernah menghubunginya.
Untuk beberapa saat Mahisa Bungalan seakan-akan ingin meyakinkan, bahwa yang datang itu keduanya memang adiknya. Sehingga karena itu, maka orang yang membawa kedua anak muda itu justru menjadi berdebar-debar.
“Kenapa dengan keduanya?” bertanya orang itu.
“Tidak apa-apa” jawab Mahisa Bungalan. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Aku percaya kepadamu, bahwa keduanya tidak akan berbahaya bagiku dan bagi kedua orang yang aku lindungi keselamatannya itu.
“Keduanya mengenakan pertanda” jawab orang itu, “jika terjadi sesuatu, maka dapat ditelusuri, cari dan pertanda itu diberikan oleh siapa” jawab orang itu.
“Baiklah. Terima kasih. Aku akan membawanya menghadap untuk memberikan keterangan sebagaimana pernah kau singgung sebelumnya.” jawab Mahisa Bungalan.
Demikianlah, maka orang yang menyerahkan kedua anak muda itupun meninggalkan Mahisa Bungalan, dan hilang dalam kegelapan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ternyata tidak sempat bertanya tentang keadaan kakaknya itu. Demikian orang yang menyerahkan mereka itu hilang, maka Mahisa Bungalan telah berdesis, ”Ikuti aku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun Mahisa Bungalan telah melangkah menyeberangi jalan dan membawanya masuk kedalam regol sebuah istana yang diperuntukkan bagi kedua utusan dari Singasari.
Dengan ketukan dua kali ganda, maka regol itu pun terbuka. Namun demikian, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki regol itu pula di belakang Mahisa Bungalan, beberapa ujung tombak telah mengarah ke tubuhnya.
“Biarkan mereka” desis Mahisa Bungalan. Ujung-ujung tombak itupun kemudian telah merunduk dan kedua orang anak muda itu melangkah terus mengikuti Mahisa Bungalan memasuki seketheng dan tiba di serambi. samping.
Baru ketika mereka sudah duduk di sebuah amben kayu diserambi Mahisa Bungalan bertanya, “Kenapa Kalian berada di sini.”
Mahisa Murti lah yang menjawab, “Sebagaimana dikatakan oleh orang yang membawa kami kemari. Kami telah menyatakan diri dalam tugas sandi“
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kalian telah memasuki satu arena petualangan yang sangat berbahaya. Jauh lebih berbahaya daripada kalian memasuki sarang sekelompok penjahat yang paling garang.”
“Kami menyadari” jawab Mahisa Murti, “tetapi kami merasa terpanggil untuk melakukannya. Ternyata dunia tugas terselubung ini sangat menarik.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk kecil. Ia dapat mengerti, bahwa agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ubahnya seperti dirinya sendiri pada umur yang sama, ingin mengalami peristiwa-peristiwa yang menggetarkan jantung mereka. Mereka ingin mendapat pengalaman hidup yang berkesan bagi masa depan mereka.
Mahisa Bungalan kemudian tidak lagi mempersoalkan, kenapa kedua orang adiknya itu telah melibatkan diri. Bahkan ia merasa bersyukur, bahwa dengan demikian ia dapat bertemu dengan kedua adiknya itu sebagaimana dipesankan oleh ayahnya.
Yang ditanyakan Mahisa Bungalan kemudian adalah pesan yang ingin disampaikannya tentang persoalan yang menyangkut sekelompok petugas dari Singasari di Kediri.
Mahisa Murti pun kemudian menyampaikan sesuatu dengan keterangan yang diperolehnya, bahwa Pangeran Kuda Permati berniat untuk membinasakan kedua utusan dari Singasari yang beraada di Kediri.
“Apakah kau yakin?” bertanya Mahisa Bungalan, “dari mana kau mendapat keterangan tentang hal itu?”
“Dari lingkungan daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati” jawab Mahisa Murti, “tegasnya dari paman Waruju.“
“He, jadi Ki Waruju juga melibatkan diri dalam hal ini” Bertanya Mahisa Bungalan
“Ya. Tetapi paman Waruju bekerja atas kehendak sendiri tanpa ikatan dengan siapapun. Dengan suka rela ia berusaha untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang berarti yang kemudian disampaikan kepada kami berdua.” Mahisa Pukatlah yang menjawab.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku tahu, bahwa Ki Waruju berusaha untuk membantu kalian berdua. Jika kalian berdua tidak memasuki tugas ini, maka agaknya Ki Waruju juga tidak akan mempertaruhkan dirinya untuk melakukan tugas yang demikian, Apalagi atas tanggung jawab sendiri.”
“Kami mengerti” jawab Mahisa Murti, “mudah-mudahan paman Waruju tidak akan mengalami kesulitan dengan beban yang diletakkannya sendiri di pundaknya itu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Keterangan dari Ki Waruju itu sangat kami hargai. Tetapi rencana Pangeran Kuda Permati itu akan sangat sulit dilakukan. Di lingkungan ini terdapat barak prajurit Kediri yang cukup kuat, yang memang dipersiapkan untuk melindungi kami apabila diperlukan. Seandainya Pangeran Kuda Permati dengan diam-diam menyerang kami, maka kami akan dapat sekedar bertahan sambil memberikan isyarat ke barak itu. Dengan cepat mereka akan datang dan menyapu pasukan Pangeran Kuda Permati.“
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merenung sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun menjawab, “Adanya prajurit dalam barak itu tentu sudah diketahui oleh Pangeran Kuda Permati. Karena itu, Pangeran itu tentu sudah memperhitungkannya.“
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar. Agaknya kami memang harus berhati-hati menghadapi rencana Pangeran Kuda Permati itu. Karena itu, marilah kita menghadap paman Mahisa Agni dan paman Witantra.“
Demikianlah, di hadapan Mahisa Agni dan Witantra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah melaporkan, apa yang mereka dengar tentang rencana Pangeran Kuda Permati. Seperti Mahisa Bungalan, maka keduanya memang menganggap bahwa mereka harus bersiap menghadapinya.
“Memang di bagian lain dari Kota Raja ini terdapat sepasukan prajurit Kediri” berkata Mahisa Agni, “tetapi bagaimanapun juga kita harus bersiap-siap. Meskipun jumlah kita tidak terlalu besar, tetapi mudah-mudahan kita akan dapat mempertahankan diri sendiri. Kita memang akan dapat menghadapi banyak sekali kemungkinan.“
“Karena itu, maka sebaiknya kau tetap berada di sini” berkata Witantra kemudian, “sehingga kau akan dapat melihat sendiri, apa yang telah terjadi. Bukankah dengan demikian kau akan dapat memberikan laporan terperinci tentang peristiwa yang terjadi itu?”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar