*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 016-04*
Namun ternyata sebelum mereka bertiga sampai ke bayangan randu alas, langkah mereka telah terhenti. Betapa terkejut ketiga orang itu ketika tiba-tiba saja tiga orang meloncat dari dalam gerumbul di pinggir jalan.
Kedua orang peronda itu rasa-rasanya hampir menjadi pingsan. Mereka menjadi gemetar ketika mereka melihat tiga orang berdiri bertolak pinggang di hadapan mereka.
“Siapakah kalian?” bertanya salah seorang dari ketiga orang itu.
Untuk beberapa saat tidak ada jawaban. Namun justru anak yang melaporkan kudanya yang akan diambil orang itulah yang menjawab, “kami adalah tiga orang peronda”
“Peronda” desis salah seorang dari ketiga orang itu, “kau juga?” ia bertanya kepada anak itu.
“Ya. Ayah tidak dapat meronda malam ini karena sakit. Aku mewakilinya” jawab anak itu. Bahkan anak itu pun sempat pula bertanya, “Kalian siapa?”
“Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka menjawab, “kami hanya melihat-lihat suasana saja. Kami mengawasi tata kehidupan Kabuyutan ini. Tidak boleh ada kecurangan yang terjadi”
“Kecurangan apa?” bertanya anak itu.
“Pergilah. Bukankah kalian meronda? Awasi, jangan ada pencuri” berkata salah seorang dari ketiga orang itu, “jika ada pencuri, kalian harus segera memukul isyarat”
Kedua peronda itu pun segera menggamit anak itu. Mereka berdua ingin segera meninggalkan ketiga orang yang tidak mereka kenal itu.
Tetapi sebelum mereka melangkah, salah seorang dari ketiga orang itu yang lain tiba-tiba saja bertanya, “jika kalian meronda, kenapa kalian melewati bulak ini? Biasanya para peronda hanya meronda di padukuhan masing-masing”
“Ya” jawab anak itu, “tetapi sekali-sekali kami ingin berhubungan dengan kawan-kawan di padukuhan sebelah”
Orang itu menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Katakan, apa sebenarnya keperluan kalian di malam hari begini”
Anak itu mulai menjadi bingung. Ia tidak siap untuk menjawab pertanyaan yang berkepanjangan. Sementara itu kedua orang peronda yang mengawaninya benar-benar telah menjadi ketakutan.
“Ayo, katakan. Apa sebenarnya keperluan kalian melintasi bulak ini” desak salah seorang dari ketiga orang itu.
Anak itu termangu-mangu. Ia benar-benar tidak dapat menjawab.
Namun dalam pada itu, salah seorang peronda itulah yang menjawab, “Kami sekedar mengantarkan anak ini pulang”
“Pulang?” orang itu menjadi heran, “bukankah ia sedang mewakili ayahnya meronda?”
Peronda yang lain tiba-tiba saja menemukan akal. Jawabnya, “Ya. Tetapi Ki Buyut justru marah. Seharusnya ayahnyalah yang hari ini mendapat giliran ronda di Kabuyutan. Tetapi ia mewakilkan anak ingusan ini sehingga Ki Buyut memerintahkan kami mengantarkan pulang saja dan menyampaikan pesan kepada ayahnya, bahwa yang dilakukan itu tidak dibenarkan oleh Ki Buyut”
Ketiga orang yang berdiri di tengah jalan itu mengangguk-angguk. Kemudian salah seorang berkata, “Aku masih kurang yakin akan kata-katamu. Tetapi pergilah. Jika aku bertanya lebih lama, kalian akan pingsan”
Ketiga orang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta mereka meninggalkan ketiga orang itu melanjutkan perjalanan mereka. Langkah mereka menjadi semakin panjang didorong oleh denyut jantung yang semakin cepat.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menyaksikan hal itu justru tertarik karenanya. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang ketiga orang itu. Namun menurut pengamatan mereka, ketiga orang itu bukan orang dari Kabuyutan itu, ternyata kedua orang peronda itu tidak mengenalnya.
Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Marilah, Kitalah yang kemudian lewat”
“Tetapi mereka akan dapat mengenali wajah kita di siang hari jika kita bertemu di manapun” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya memang ingin bertemu dengan ketiga orang itu. Karena itu, maka katanya, “Aku akan menemui mereka sendiri dengan menyamarkan wajahku. Dengan demikian maka kesan bahwa kita selalu berdua akan hilang. Mereka tidak akan menyangka bahwa salah seorang dari kitalah yang telah menjumpainya di bulak ini”
“Tetapi bagaimana jika ternyata kemampuan mereka melampaui kemampuan kita masing-masing, sehingga kau akan dapat ditangkapnya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kau datang kemudian sebagai orang lain. Kau dapat memakai alasan apapun untuk berpihak kepadaku” jawab Mahisa Murti.
“Juga dengan menyamarkan wajah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi rasa-rasanya memang ingin mengenal orang-orang itu lebih dekat. Sehingga akhirnya Mahisa Pukat itu berkata, “Baiklah. Lakukan. Aku akan mengamati dari kejauhan”-
“Tetapi hati-hatilah” desis Mahisa Murti, “jangan justru tertidur dan tidak melihat akibat dari perkelahian yang mungkin sekali akan terjadi”
Mahisa Pukat tersenyum. Sementara itu Mahisa Murti sudah mulai mengotori wajahnya dengan lumpur. Ia mempertebal garis-garis wajahnya dan garis-garis pada tulang iganya.
Dengan demikian, di keremangan malam, wajah Mahisa Murti dan ujud tubuhnya sudah berubah. Seseorang yang belum mengenalnya dengan baik tidak akan dapat lagi mengingat wajah itu.
Demikianlah maka Mahisa Murti itu pun kemudian melengkapi penyamarannya dengan mengurai rambutnya dan diikat pada ujungnya.
“jika kau terpaksa menyusul aku, kau tidak perlu mengurai rambutmu agar nampak satu kelainan di antara kita” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk. Ia mengerti, bahwa harus ada kesan bahwa keduanya adalah orang lain yang tidak saling berhubungan.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti pun telah melangkah ke jalan bulak yang panjang itu. Ia berjalan dengan cepat menuju ke arah tiga orang yang sudah mulai bergeser menyingkir.
Tetapi ketika mereka melihat seseorang berjalan dalam kegelapan malam, maka ketiga orang itu pun berhenti.
Ketiganya kemudian telah bergeser pula ketengah. Mereka memberi isyarat kepada Mahisa Murti agar menghentikan langkahnya.
Mahisa Murti berhenti beberapa langkah dari ketiga orang itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu mengamati ketiga orang itu. Meskipun malam terasa gelap, tetapi ia berhasil mengamati ketiga orang itu lebih jelas. Ternyata bahwa ketiganya adalah orang-orang yang bertubuh kekar.
Seorang di antara ketiga orang itu pun mendekatinya sambil berdesis, “Ki Sanak. Siapakah kau? Dan apakah keperluanmu malam-malam begini?”
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku hanya akan lewat. Aku akan pergi ke padukuhan sebelah”
“Untuk apa?” bertanya ketiga orang itu.
“Aku akan mengambil seekor kuda yang telah aku beli” jawab Mahisa Murti.
“He” ketiga orang itu terkejut, “malam-malam begini?” bertanya salah seorang di antara mereka.
“Ya. Pemilik kuda itu minta agar aku mengambilnya di malam hari” jawab Mahisa Murti.
“Kuda siapa? Dan apa warnanya?” bertanya orangitu pula.
“Nama pemiliknya aku lupa. Aku hanya mengenalnya dengan panggilan semasa kami masih kanak-kanak. Aku memanggilnya Gandang karena ia pandai berdendang dengan suara yang mantap panjang. Warna kudanya putih berbelang hitam” jawab Mahisa Murti.
“Bukan dawuk?” bertanya orang itu pula.
“Tidak. Aku tidak suka kuda dawuk. Tetapi karena aku memang pedagang kuda, maka jika kau mempunyai kuda berwarna dawuk pun aku mau juga membeli”
Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Jadi kaulah yang sering membeli kuda di Kabuyutan ini?”
“Bukan hanya di Kabuyutan ini” jawab Mahisa Murti dengan nada meninggi, untuk memberikan kesan lain dari suaranya sendiri, “Aku memang pedagang kuda. Aku membeli kuda dari mana saja. Bahkan dari Kota Raja sekalipun. Dan aku adalah pedagang kuda yang sering menerima pesanan dari pasukan berkuda Kediri”
Ketiga orang itu pun mengangguk-angguk. Seorang yang paling tua dari ketiga orang itu berkata, “Jika demikian adalah kebetulan sekali. Aku memerlukan seorang pedagang kuda. Marilah. Ikut aku. Mungkin kau akan mendapatkan beberapa ekor kuda yang baik dan harganya murah”
“Kuda apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Kuda tunggangan. Sesuai untuk prajurit berkuda” jawab orang itu.
Mahisa Murti mulai berhati-hati. Ternyata orang itu cukup cerdik. Ia tidak dengan serta merta menanggapi masalahnya. Tetapi orang itu sempat berusaha memancing Mahisa Murti.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Aku akan datang kepada kalian. Dimana rumah kalian?”
“Marilah. Kita pergi bersama-sama” jawab orang yang tertua itu.
“Jangan sekarang. Aku sudah berjanji untuk mengambil jaran putih itu. Harganya cukup murah. Nampaknya pemiliknya agak tergesa-gesa menjualnya” jawab Mahisa Murti.
Orang tertua itu mengingat-ingat. Na. mun kemudian katanya, “Di padukuhan itu tidak ada kuda putih dengan belang-belang hitam”
“Ah, jangan berkata begitu Ki Sanak” jawab Mahisa Murti “Aku sudah melihat di kandangnya”
“Jangan bohong Ki Sanak” berkata orang tertua itu, “kau harus mengatakan yang sebenarnya. Warnanya tentu tidak putih berbelang hitam”
“He” Mahisa Murti menjadi heran, “apakah kau mengenal semua kuda di Kabuyutan ini? Siapakah kalian sebenarnya? Apakah kalian memang petugas untuk mengetahui jumlah dan warna kuda di Kabuyutan ini?”
“Sudahlah” sahut orang itu “berkatalah berterus terang. Kuda itu warnanya tentu lain. Tetapi pemilik kuda itu berpesan kepadamu agar kau. tidak mengatakan yang sebenarnya. Di padukuhan itu tinggal ada tiga ekor kuda. Dan kami tahu dengan pasti warna dari ketiganya. Karena itu, sebut saja, kuda yang manakah yang akan kau ambil?”
Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kau memang aneh. Sudah aku katakan. Kuda putih berbelang hitam”
Wajah ketiga orang itu menjadi semakin tegang. Di cobanya untuk memandang wajah Mahisa Murti dengan jelas. Tetapi Mahisa Murti yang menyadari akan hal itu, telah berusaha untuk tidak dengan mudah dikenali bahwa ia telah mempergunakan samaran wajah dengan lumpur.
Untunglah bahwa malam yang gelap telah melindunginya, sehingga orang-orang itu tidak mudah untuk mengetahui wajah Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, ketiga orang itu menjadi semakin curiga kepada orang yang mengurai rambutnya itu. Dengan lantang salah seorang dari ketiga orang itu berkata, “Ki Sanak. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi atasmu jika kau berkeras untuk mengatakan, bahwa kau adalah seorang pedagang kuda yang akan mengambil kuda berwarna putih berbelang hitam. Aku tahu pasti bahwa kuda berwarna itu tidak ada karena aku adalah penghuni padukuhan itu”
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “jika kalian penghuni padukuhan itu, kenapa, kalian tidak mengenali para peronda itu?”
Ketiga orang itu terkejut. Seorang di antara mereka dengan serta merta bertanya, “Jadi kau mengetahui kedua orang peronda yang mengantarkan anak itu?”
“Bukankah baru saja mereka bertemu dengan kalian? Waktu itu aku agak takut jika terjadi sesuatu sehingga aku berhenti di balik gerumbul itu. Baru setelah kedua peronda itu pergi akan melanjutkan perjalanan” jawab Mahisa Murti.
Ketiga orang itu menjadi tidak sabar lagi. Orang yang mereka hadapi tentu orang yang mempunyai kepentingan tersendiri. Karena itu, maka salah seorang dari ketiganya berkata, “Ki Sanak. Tidak ada pilihan lain bagimu, kau harus ikut aku”
Mahisa Murti surut selangkah. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Untuk apa? Aku sudah berjanji dengan orang itu”
“Kau tidak akan dapat mengambil kuda yang manapun” berkata orang tertua di antara ketiga orang itu “Tidak boleh ada seekor kuda pun yang keluar dari setiap padukuhan”
“Siapakah yang membuat peraturan itu? Jika kau yang membuat, siapakah kau sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti.
Ketiga orang itu tidak mau lagi berbicara terlalu panjang. Tiba-tiba saja mereka telah berpencar. Seorang di antara mereka berkata, “Kau memang harus mendapat pelajaran dari sikapmu itu. Menyerahlah. Kau akan aku hadapkan kepada orang yang berhak mengadilimu”
Mahisa Murti berkisar sambil berkata, “Ki Sanak. Jika Ki Sanak bersikap demikian, maka persoalannya akan berkisar pula. Sebenarnya aku tidak ingin perselisihan ini terjadi. Tetapi kalian terlalu banyak mencampuri persoalanku. Karena itu, aku harus berusaha melindungi diriku sendiri”
Ketiga orang itu menjadi semakin terbakar oleh sikap Mahisa Murti Karena itu, maka yang tertua diantara mereka pun berkata kepada kawan-kawannya, “Kita akan menangkapnya. Sikapnya sangat mencurigakan. Tetapi jika ia melawan dan benar-benar tidak mau mengerti, apa boleh buat”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia mulai bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
“Orang gila ini merasa mampu menghadapi kami bertiga” geram orang tertua di antara ketiga orang itu.
Mahisa Murti masih tetap berdiam diri. Tetapi ia benar-benar telah siap.
Demikianlah, ketika salah seorang dari ketiga orang itu mulai menyerang, maka Mahisa Murti pun meloncat menghindar. Tetapi adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Murti telah meloncat menyerang orang lain di antara ketiga lawannya.
Serangan itu demikian tiba-tiba sehingga orang itu tidak sempat menghindar. Karena itu, maka orang itu pun telah menangkis serangan Mahisa Murti dengan tangannya.
Dalam benturan itu, terasa oleh kedua belah pihak akan kekuatan masing-masing. Mereka pun sadar, bahwa kekuatan itu bukannya kekuatan puncak. Namun dapat mereka pergunakan sebagai penjajagan dalam keseimbangan, mereka.
Ternyata orang yang menangkis serangan Mahisa Murti itu terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa pedagang kuda itu memiliki kekuatan yang mengejutkan. Jika mereka bertempur bertiga, bukan karena ketiga orang itu menganggap bahwa orang yang mengaku pedagang kuda itu memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan mereka masing-masing. Tetapi semata-mata agar tugas mereka cepat selesai.
Namun ternyata bahwa mereka telah membentur satu kemampuan yang pantas mereka perhitungkan masak-masak.
Dengan demikian, maka orang yang telah membentur kekuatan Mahisa Murti itu menjadi lebih berhati-hati. Bahkan ia sempat memperingatkan kawan-kawannya, “Hati-hatilah. Pedagang kuda ini mempunyai kekuatan iblis.
Tetapi orang tertua di antara mereka bertiga itu pun menyahut, “Bahkan seandainya ia iblis itu sendiri, maka kita akan menggulungnya dan menghadap pimpinan kita. Orang itu sudah berbicara tentang seekor kuda. Satu hal yang akan sangat menarik perhatian. Karena itu, marilah, kita menyelesaikan tugas ini dengan cepat”
“Panggil kawan-kawanmu” tiba-tiba saja Mahisa Murti menyahut, “jangan hanya bertiga”
“Gila. Kau sangka aku seorang seorang tidak dapat memenggal lehermu? Soalnya kami ingin cepat dengan tugas gila ini” jawab orang tertua.
“Karena itu, akan lebih cepat lagi jika kalian memanggil lima atau sepuluh orang lagi, atau justru pemimpin-mu itu sendiri” berkata Mahisa Murti.
Darah ketiga orang itu bagaikan mendidih mendengar penghinaan Mahisa Murti. Karena itu, maka ke-tiganya pun kemudian telah mengerahkan kemampuan mereka untuk menangkap Mahisa Murti. Bahkan orang tertua di antara mereka bertiga itu pun berkata, “Tangkap anak ini, hidup atau mati”
Perintah itu jelas bagi Mahisa Murti. Jika orang-orang itu tidak mampu menangkapnya, maka mereka tidak akan segan-segan mempergunakan cara yang paling keras untuk membunuhnya.
Memang terbersit juga sedikit penyesalan, bahwa usahanya sekedar mengetahui keadaan ketiga orang itu telah mendorongnya kedalam pertempuran antara hidup atau mati. Tetapi apa yang didengarnya tentang ketiga orang itu ternyata cukup memberinya bahan laporan kepada Pugutrawe.
Namun Mahisa Murti tidak dapat melangkah surut. Ia sudah terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Tiga orang itu telah menyerangnya beruntun susul menyusul dari arah yang berbeda.
Tetapi ternyata bahwa ketiganya bukanlah orang-orang yang pantas disegani. Agaknya mereka hanyalah orang-orang yang melaksanakan perintah bagi tugas-tugas yang kasar, tetapi tidak berbahaya. Agaknya merekalah orang-orang yang melaksanakan mengambil kuda-kuda yang tersebar di padukuhan-padukuhan. Agaknya orang-orang seperti ketiga orang itu pulalah yang pernah dilihatnya di warung Pugutrawe, menakut-nakuti seorang pemilik kuda yang menyingkirkan kudanya.
Meskipun demikian, dengan bertempur bersama, ketiga orang itu merupakan lawan yang memerlukan perhatian dari Mahisa Murti. Mereka ternyata mampu juga bergerak cepat dan kadang-kadang memang menyulitkan.
Tetapi Mahisa Murti memiliki bekal dan pengalaman yang jauh lebih baik dari ketiga orang itu.
“Agaknya mereka memang prajurit Kediri dari tataran terendah yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “nampaknya mereka mampu bertempur dalam pasangan yang sangal baik, sehingga agaknya mereka telah terlatih untuk bertempur berpasangan. Tetapi nampaknya bekal mereka secara pribadi masih belum mencukupi untuk turun kedalam arena yang lebih khusus dari sebuah pertempuran gelar atau pertempuran dalam pasangan seperti yang dilakukan sekarang.
Dengan demikian, maka Mahisa Murti ternyata mempunyai kesempatan lebih baik dari ketiga orang itu untuk memenangkan pertempuran. Meskipun demikian, Mahisa Murti masih harus berhati-hati. Kadang-kadang ketiga orang itu mampu melakukan gerakan yang mengejutkan dansangat berbahaya.
Namun dalam pada itu, ketiga orang itu pun merasa heran menghadapi pedagang kuda yang membiarkan rambutnya terurai itu. Ternyata tidak semudah yang mereka perkirakan untuk menangkap pedagang kuda itu. Bahkan dengan tegas yang tertua di antara mereka telah menjatuhkan perintah, “Tangkap hidup atau mati”
Namun orang yang mengaku pedagang kuda itu mampu mengimbangi kemampuan bersama dari tiga orang itu. Bahkan kadang-kadang orang yang mengaku pedagang kuda itu melakukan langkah-langkah yang mengejutkan dan bahkan membingungkan.
Dengan demikian maka ketiga orang itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Kemarahan yang menghentak di dalam dada mereka, seakan-akan membuat mereka bertiga semakin garang.
Dalam pada itu, di tempat persembunyiannya, Mahisa Pukat menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Tetapi kemudian ia pun melihat, bahwa keadaan Mahisa Murti semakin lama justru menjadi semakin baik. Ketiga orang lawannya seakan-akan menjadi kebingungan melihat tata gerak Mahisa Murti yang cepat, yang kadang-kadang hanyabagaikan bayangan saja bagi mereka. Sekali mel_oncat di antara mereka, kemudian bagaikan terlepas dari pengamatan mereka bertiga. Namun yang tiba-tiba saja menyerang dengan garangnya.
Namun sejenak kemudian Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ketika orang yang marah itu telah menggenggam senjata masing-masing. Agaknya mereka tidak hanya sekedar akan menangkap Mahisa Murti, tetapi seperti yang dikatakannya, tangkap hidup atau mati.
Sejenak kemudian, maka tiga buah pedang telah berputaran. Ketiga orang itu menyerang dengan dahsyatnya.
Sekali terayun menyambar, kemudian yang lain mematuk dengan dahsyatnya.
Mahisa Murti menjadi gelisah menghadapi tiga ujung pedang itu. Agaknya ketiga orang itu mampu mempergunakan senjata mereka dengan baik.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti hanya mampu meloncat dan menghindari serangan-serangan yang datang beruntun itu. Ia masih belum mengambil satu keputusan yang mantap untuk menghadapi ketiga lawannya.
“Sebenarnya aku tidak ingin melukai apalagi membunuh mereka” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “Aku hanya ingin tahu tentang mereka dan sedikit tentang kuda dalam hubungan dengan mereka”
Karena itu, maka ia pun berusaha untuk menemukan satu penyelesaian yang paling baik dari pertempuran itu.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat melihat, bahwa Mahisa Murti telah mengalami kesulitan, menghadapi ketiga orang yang bersenjata pedang itu, sementara itu Mahisa Murti ma-sih belum mencabut pisau belati yang dibawanya di bawah kain panjangnya.
“Apa lagi yang ditunggunya?” bertanya Mahisa Pukat di dalam hatinya, “apakah ia benar-benar ingin melawan dengan tangannya? Satu pekerjaan yang sangat berbahaya, baginya”
Dalam kegelisahan Mahisa Pukat melihat Mahisa Murti menjadi semakin terdesak. Namun Mahisa Murti masih belum mempergunakan senjata apapun.
Karena itu, maka Mahisa Pukat mengira, bahwa Mahisa Murti sedang menunggunya. Mereka akan bertempur berpasangan tetapi tanpa mempergunakan senjata.
Tetapi yang terjadi ternyata agak kurang dimengerti oleh Mahisa Pukat. Dalam satu kesempatan, maka Mahisa Murti telah meloncat jauh-jauh. Tiba-tiba saja Mahisa Murti telah berlari ke kegelapan malam.
“Jangan biarkan orang itu lari” teriak salah seorang dari ketiga orang yang bersenjata pedang itu.
Seorang di antara mereka mencoba untuk mengejarnya. Tetapi ternyata langkah Mahisa Murti lebih cepat, sehingga jaraknya justru semakin jauh. Bahkan akhirnya orang itu pun menyadari, seandainya ia berhasil menyusul orang yang mengaku pedagang kuda itu, maka apakah ia benar-benar akan dapat menangkapnya.
Mahisa Pukat yang masih berada di tempatnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Murti. Namun tiba-tiba saja ia masih ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketiga orang itu. Justru karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah bergeser mendekat.
Dalam pada itu salah seorang dari ketiga orang itu berkata, “Aku tidak percaya, bahwa orang itu benar-benar pedagang kuda. Orang itu tentu sedang menyelidiki persoalan kuda yang memang telah menggelisahkan orang-orang di padukuhan ini”
“Tentu ada yang melaporkan” berkata yang lain.
“Jangan bodoh” berkata kawannya, “ada atau tidak ada yang melaporkan, akhirnya hal ini akan diketahuinya juga oleh pimpinan wilayah yang diangkat oleh Sri Baginda di Kediri”
Tetapi kawannya tertawa. Katanya, “Kita tidak usah cemas. Tidak ada kepastian lagi di Kediri. Sikap para bangsawan sudah menjadi kacau. Bahkan sikap Sri Baginda sendiri telah meragukan. Aku tidak yakin bahwa Panji Sempana Murti akan berani bertindak. Jika ia bertindak, berarti ia akan berhadapan dengan Pangerana Kuda Permati”
“Aku tidak tahu sikap Panji Sempana Murti kemudian berkata kawannya, “ tetapi kita harus melaporkan, bahwa kita telah bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Mungkin orang itu berpihak kepada Pangeran Singa Narpada, tetapi mungkin juga orangnya Panji Sempana Murti”
“Siapa pun orang itu, kita wajib melaporkan peristiwa vang terjadi malam ini, sejak keberangkatan tiga orang yang menyebut dirinya peronda-peronda itu”
“Aku percaya bahwa mereka adalah peronda” berkata yang lain, “tetapi ternyata ada orang yang mengikuti mereka dan menilai persoalan yang telah terjadi di padukuhan-padukuhan ini”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, yang tertua di antara mereka berkata, “Marilah. Tidak ada gunanya kita berada di sini. Tidak akan ada orang yang akan menyingkirkan kudanya. Mereka sudah menjadi takut untuk berbuat demikian. Tetapi persoalan yang terjadi Ini benar-benar harus mendapat perhatian”
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun segera meninggalkan bulak itu. Mereka berjalan melintasi pematang dan hilang di gelapan.
Demikian mereka hilang, maka Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Beberap hal memang dapat melengkapi laporan yang akan mereka berikan kepada Pugutrawe untuk mempersiapkan langkah-langkah yang akan dapat mereka ambil menghadapi keadaan Kediri dalam keseluruhan. Namun satu hal perlu diperhatikan, di Kediri sedang timbul gejolak di antara para pemimpinnya. Sikap mereka menghadapi kekuasaan Singasari ternyata berbeda-toeda.
Ketika Mahisa Pukat sudah yakin bahwa ketiga orang itu sudah menjadi semakin jauh, maka ia pun telah muncul kejalan. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat tinggal Pugutrawe.
Namun tiba-tiba saja ia pun berkisar dan siap menghadapi segala kemungkinan, ketika ia mendengar desir langkah mendekat.
Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam, ketika ternyata bahwa yang datang adalah Mahisa Murti.
“Kau membuat aku bingung” berkata Mahisa Pukat.
“Aku menghindarkan diri dari kemungkinan yang lebih buruk” jawab Mahisa Murti, “Aku tidak sempat memberimu isyarat. Mudah-mudahan kau dapat mengerti”
“Tentu. Ketika kau melarikan diri, aku hampir saja meloncat ke medan. Aku mengira bahwa kau menghendaki aku ikut bertempur tetapi tanpa senjata” jawab Mahisa Pukat.
“Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita ketahui” berkata Mahisa Murti, “ternyata bahwa di Kabuyutan ini berkeliaran orang-orang yang tidak menghendaki seekor kuda pun terlepas. Sementara itu, mereka masih juga menahan diri tidak mengambil semua kuda. sekaligus.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang didengarnya sepeninggal Mahisa Murti. Dugaan bahwa di Kediri sedang berkembang ketidak pastian, agaknya memang benar. Bahkan sikap Sri Baginda pun meragukan.
Kedua anak muda itu pun kemudian bersepakat untuk segera menemui Pugutrawe. Mereka juga harus melaporkan, bahwa malam itu dua orang bebahu Kabuyutan telah berusaha untuk menemui Panji Sempana Murti. Tetapi keduanya sama sekali tidak dapat membayangkan sikap Panji Sempana Murti itu sendiri menaggapi kemelut yang sedang terjadi. Apakah ia akan segera mengambil sikap, atau justru akan menunggu tanpa batas waktu.
Sebenarnyalah pada saat itu, kedua orang bebahu dari Kabuyutan di daerah perbatasan itu sedang berusaha untuk dapat menghadap Panji Sempana Murti. Keduanya berpacu di atas punggung kuda seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Semakin lama justru semakin cepat.
Apa pun yang akan dilakukan oleh Panji Sempana Murti, kedua orang itu tidak banyak mempersoalkan. Yang penting bagi mereka adalah, persoalannya sudah dengan resmi disampaikan kepada yang berwenang.
Sementara itu, kedua orang itu pun telah mendekati rumah yang dipergunakan oleh Panji Sempana Murti memimpin daerah perbatasan sebelah Utara itu. Rumah yang kemudian telah menjadi barak sepasukan prajurit yang berada di bawah perintah Panji Sempana Murti itu.
Tetapi prajurit itu memang tidak banyak. Bahkan rasa-rasanya ada semacam kelesuan di antara mereka. Panji Sempana Murti sendiri, nampaknya bukan lagi seorang panglima yang garang sebagaimana sebelumnya.
Ketika dua orang bebahu Kabuyutan itu sampai ke rumah itu, maka mereka pun telah berhenti di regol. Sekelompok penjaga masih tetap bersiaga di dalam gardu, di belakang regol itu.
Dengan jantung yang berdebaran, maka kedua orang bebahu itu telah menghentikan kudanya di depan regol. Keduanya pun segera meloncat turun.
Namun derap kaki kuda mereka, agaknya menarik perhatian para penjaga yang ada di dalam. Karena itu, maka sebuah lubang empat persegi pada regol itu pun telah terbuka. Sepasang mata menjenguk dari lubang itu.
Penjaga itu melihat dua orang berkuda berhenti di depan regol itu. Karena itulah maka orang yang melihat lewat lubang persegi empat itu pun bertanya, “Siapa kalian he?”
Kedua bebahu itu pun kemudian mengikat kuda mereka dan melangkah mendekat. Kepada orang yang melihat lewat lubang itu salah seorang dari kedua bebahu itu menjawab, “Kami, dua orang bebahu dari daerah perbatasan”
“Apa maksudmu?” bertanya orang yang berada di balik regol itu.
“Kami ingin menghadap panji Sempana Murti” jawab salah seorang bebahu itu.
“Malam-malam begini?” bertanya orang yang menjenguk itu.
“Ya” jawab bebahu itu.
“Kalian benar-benar tidak tahu adat. Pulanglah. Besok saja datanglah kembali di siang hari. Itu pun jika Panji Sempana Murti berkenan menerima kalian” jawab orang yang menjengukkan kepalanya lewat lubang itu.
“Tetapi kami membawa kabar yang penting” berkata bebahu itu.
“Berlakulah sopan sedikit” jawab orang yang menjenguk.
Bebahu itu menyahut, “Ki Sanak. Cobalah dengar. Di Kabuyutan di daerah perbatasan ini telah terjadi sesuatu yang gawat. Kami datang untuk menyampaikan persoalan ini kepada Panji Sempana Murti”
“Kalian memang dungu. Jangan malam-malam begini” jawab penjaga itu.
“Persoalan itu datang di malam hari. Bukankah kalian adalah prajurit? Apakah jika lawan kalian menyerang di malam hari, kalian juga minta mereka kembali dan datang esok pagi?” bertanya bebahu itu menjadi jengkel.
“Tutup mulutmu” bentak penjaga itu, “Aku tahu kau bukan musuh yang datang di malam hari. Tetapi kalian adalah orang-orang yang tidak sopan santun sama sekali”
“Persoalan yang aku bawa tidak ada bedanya dengan datangnya musuh di malam hari itu” jawab bebahu itu.
Namun tiba-tiba saja penjaga itu membentak, “Pergi. Jangan ganggu kami. Jangan ganggu Panji Sempana Murti.
Bebahu itu masih akan menjawab. Namun tiba-tiba saja lubang di pintu regol itu pun telah tertutup kembali dengan kerasnya.
Kedua bebahu itu termangu-mangu. Seorang di antara mereka berkata, “Aku akan mengetuk pintu sampai pintu itu dibuka, “
Tetapi yang lain mencegahnya. Katanya, “Hal itu akan dapat mendatangkan kesulitan bagi kita”
“Jadi kami harus menunggu sampai esok pagi di sini?” bertanya kawannya.
“Apa boleh buat. Persoalannya harus kita sampaikan kepada Panji Sempana Murti secepatnya” jawab yang lain.
Kedua bebahu itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar desis seseorang., “Tidak terlalu jauh dari regol”
Ketika keduanya berpaling kekegelapan, maka mereka melihat sesosok bayangkan mendekati mereka.
Kedua bebahu itu pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ketika bayangan itu muncul dalam cahaya obor di regol, maka kedua bebahu itu terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu dengan orang yang dicarinya itu justru di luar regol.
“Kau kenal aku?” bertanya orang itu.
“Ya Panji. Kami mengenal tuan” jawab kedua bebahu itu hampir bersamaan.
“Terima kasih” orang itu mengangguk-angguk “apakah kalian memang mencari aku?”
“Ya tuan. Kami berusaha untuk menemui tuan. Tetapi gagal. Penjaga pintu itu tidak mau membuka pintunya” jawab kedua bebahu itu.
Panji Sempana Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mendengar pembicaraan kalian. Para penjaga itu memang orang-orang yang sangat malas yang perlu mendapat peringatan. Baiklah. Marilah, biar aku sajalah yang membuka pintu itu”
Kedua orang bebahu menjadi heran. Apakah pintu dapat dibuka dari luar?
Namun yang terjadi adalah benar-benar mengejutkan. Panji Sempana Murti ternyata tidak membuka pintu itu sebagaimana seharusnya. Agaknya ia tidak setuju dengan sikap orang-orangnya yang malas di dalam pintu regol halaman rumah itu.
Karena itu, maka Panji Sempana Murti itu kemudian berdiri tegak di depan pintu. Tangannya terangkat tinggi-tinggi. Kemudian terdengar desis di sela-sela bibirnya.
Sesaat kemudian, maka Panji Sempana Murti itu pun meloncat kearah pintu sambil mengayunkan tangannya. Demikian kerasnya, sehingga terdengar pintu berderak pecah.
Para penjaga di belakang pintu itu terkejut bukan kepalang. Serentak mereka berdiri dan menyambar senjata masing-masing. Yang terkantuk-kantuk pun telah membelalakkan matanya dan berusaha untuk tegak menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi para penjaga itu terkejut untuk kedua kalinya. Yang kemudian mereka lihat berdiri di balik pintu yang pecah itu adalah Panji Sempana Murti. Dibelakang Panji Sempana Murti itu berdiri dua orang bebahu Kabuyutan yang menyaksikan peristiwa itu dengan jantung yang berdebaran.
“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi” desis salah seorang dari kedua bebahu itu.
Tetapi sebenarnyalah bahwa hal itu memang telah terjadi.
Para penjagalan yang kemudian berdiri dengan gemetar. Sementara itu Panji Sempana Murti melangkah masuk lewat pintu yang pecah itu sambil berkata, “Marilah. Bukankah kalian ingin bertemu aku sekarang karena ada sesuatu yang sangat penting? Aku senang bahwa kalian berusaha untuk melaporkan peristiwa yang penting ini secepatnya, sehingga kalian tidak segan-segan berkuda didinginnya malam seperti ini”
Kedua orang bebahu itu pun kemudian mengikuti Panji Sempana Murti yang sama sekali tidak menyapa para pen jaga yang berdiri gemetar. Mereka menjadi ketakutan karena mereka merasa telah melakukan kesalahan dengan menolak kedua orang yang ingin menghadap Panji Sempana Murti itu. Apalagi ketika mereka melihat betapa Panji Sempana Murti itu sendiri telah memecahkan pintu untuk memberi kesempatan kedua orang bebahu itu masuk.
Demikian Panji Sempana Murti diikuti oleh kedua orang bebahu itu lewat, maka para penjaga itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi salah seorang dari mereka berkata, “Besok kita akan dipanggil menghadap. Sudah terasa betapa punggungku akan membengkak karena Panji Sempana Murti akan memerintahkan menghukum kita dengan cambuk”
“Kita akan mohon maaf” berkata seorang prajurit hampir menangis, “bukankah kita tidak menduga sama sekali, bahwa Panji Sempana Murti akan di luar regol?”
Tetapi kawannya berkata, “Itu adalah karena kebodohan kita. Bukankah hal yang demikian itu sering dilakukan oleh Panji Sempana Murti? Bukankah ia memang lebih senang berada di luar rumah ini dan berkeliaran menyusup ke jalan-jalan kecil. Agaknya Panji Sempana Murti telah mengikuti semua pembicaraan di antara kita dengan kedua orang bebahu Kabuyutan yang gila itu”
Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi peristiwa itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka, karena mungkin sekali Panji Sempana Murti akan menghukum mereka dengan cara yang akan sangat mendebarkan.
Sejenak kemudian, orang-orang yang cemas itu berusaha untuk membenahi pintu yang pecah itu. Namun untuk memperbaikinya diperlukan beberapa orang tukang yang baik.
Dalam pada itu, Panji Sempana Murti telah mengajak kedua orang tamunya masuk keruang dalam. Mereka duduk di atas sehelai tikar pandan.
“Aku yakin bahwa berita yang kalian bawa memang penting” berkata Panji Sempana Murti, “jika tidak, maka kalian tentu tidak akan dengan tatag berani mengetuk pintu rumah ini”
“Ya tuan” jawab salah seorang bebahu itu, “memang ada yang menurut kami, sangat penting kami sampaikan. Mungkin bagi tuan persoalan ini adalah persoalan yang kecil, tetapi bagi Kabuyutan kami, persoalan ini merupakan persoalan yang perlu segera mendapatkan penanganan”
“Katakan” berkata Panji Sempana Murti.
Salah seorang dari kedua bebahu itu pun kemudian menceriterakan apa yang selalu terjadi di Kabuyutannya. Di Kabuyutan itu berkeliaran orang-orang yang dengan sewenang-wenang mengambil apa saja yang mereka kehendaki. Yang paling banyak mereka ambil adalah kuda meskipun kadang-kadang juga beberapa jenis benda yang lain. Dan terakhir, mereka mendengar laporan seorang anak yang tidak rela menyerahkan kudanya kepada orang-orang itu.
Panji Sempana Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku selalu cemas, bahwa pada satu saat aku akan mendengar laporan seperti ini. Ternyata aku sudah untuk ketiga kalinya mendapatkannya. Tetapi justru karena itu. aku memperhatikannya”
“Segalanya terserah pada tuan” berkata bebahu itu, “namun tingkah laku orang-orang itu semakin lama menjadi semakin mencemaskan kami, para bebahu Kabuyutan”
“Apakah kalian tahu, siapakah sebenarnya mereka itu?” bertanya Panji Sempana Murti.
Pertanyaan itu sungguh-sungguh mengherankan bagi kedua bebahu itu. Namun seorang yang tertua di antara keduanya itu kemudian menjawab, “Apakah tuan tidak dapat menduga, siapakah mereka itu? Sebenarnyalah bahwa seharusnya kamilah yang ingin bertanya kepada tuan”
Jawaban kedua bebahu itu membuat jantung Panji Sempono Murti menjadi berdebar-debar, “Sambil menarik nafas, menjawab, “Kalian benar. Seharusnya akulah yang memberitahukan kepada kalian, siapakah yang telah mengganggu ketenangan kalian. Tetapi aku ingin tahu. Kalian juga sudah mengetahuinya”
“Kami hanya dapat menduga” jawab salah seorang bebahu itu, “namun kami mengetahui bahwa orang-orang yang dengan sewenang-wenang telah mengambil milik kami itu adalah orang-orang yang memang memiliki kekuatan untuk itu. Sementara itu, kami sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan milik kami itu”
Panji Sempana Murti mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Peristiwa itu memang membuat aku berprihatin.”
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar