*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 10-04*
“Persetan” geram Ki Sendawa, “kau telah mendahului melakukannya. Sekarang kau menyebut-nyebut tentang peradaban. Apakah tenung itu cara yang terbaik menurut pendapatmu?”
“Paman” Ki Sanggarana berusaha untuk menjelaskan, “kita dapat berbicara”
“Terlambat. Jika kau belum nenenungku, maka kita akan berbicara. Tetapi sekarang tidak. Kita akan menangkapmu. Jika kau dan orang-orangmu melawan, maka kami akan membinasakanmu. Kau dengar? Kami mempunyai kekuatan cukup untuk membinasakanmu” berkata Ki Sendawa.
Percakapan itu ternyata telah menggelitik hati para pengikut dari kedua belah pihak. Anak-anak muda Talang Amba yang berpihak kepada Ki Sanggarana, yang semula merasa ngeri melihat kehadiran Ki Sendawa bersama orang-orang yang diupahnya, ketika mereka merasa bahwa jumlah mereka menjadi kian banyak, maka mereka pun menjadi bangkit dan keberanian mereka pun mulai tumbuh.
Karena itu, maka beberapa orang pemimpin anak muda pengikut Ki Sanggarana itu pun mulai bangkit berdiri. Namun dengan demikian, maka para pengikut Ki Sendawa pun mulai bersiap-siap pula. Bahkan Ki Sarpa Kuning pun telah berpaling kepada Gajah Wareng yang kemudian berbisik kepada murid Ki Sarpa Kuning yang berkumis, “Bersiap-siaplah. Anak-anak muda itu akan dapat menjadi gila dan berbuat aneh-aneh. Kalian telah mendapat wewenang untuk berbuat apa saja”
Orang berkumis itu mengangguk-angguk. Dan orang itu pun telah berkata pula kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta murid Ki Sarpa Kuning yang seorang, “Bersiaplah. Kita akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan, siapakah kita sebenarnya”
Demikianlah, dua kekuatan yang besar telah saling berhadapan. Anak-anak muda Talang Amba yang berpihak kepada Ki Sanggarana telah bersiap. Mereka tinggal menunggu isyarakat untuk bertindak. Namun sementara itu, para pengikut Ki Sendawa pun telah bersiap pula. Mereka sama sekali tidak menjadi berkecil hati, karena di antara mereka terdapat Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang memiliki kemampuan tidak terbatas.
“Cepat” bentak Ki Sendawa, “menyerahlah. Atau kami akan membinasakan kalian semua dan .menjadikan padukuhan ini karang abang”
Bentakkan yang menggelegar itu memang mendebarkan. Sementara Ki Sendawa melanjutkan, “Jangan mencoba melawan. Setiap perlawanan berarti mempercepat perjalanan kekematian dan kehancuran padukuhan ini”
Anak-anak muda yang mulai bangkit itu tiba-tiba telah dicengkam lagi oleh kegelisahan.
Sejenak kemudian, ketegangan telah mencengkam halaman banjar Kabuyutan itu. Setiap orang menjadi berdebar-debar. Namun masing-masing telah mempersiapkan senjata mereka untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang menggemparkan. Sesuatu yang tidak terduga-duga sebelumnya.
Ki Sanggarana yang melihat kemungkinan yang pahit itu terjadi, telah mengambil satu sikap yang mengejutkan. Dengan langkah pasti, Ki Sanggarana maju ke tangga pendapa. Sambil menengadahkan dadanya ia berkata lantang, “Paman Sendawa. Persoalan ini adalah persoalan kita. Persoalan paman dan aku. Meskipun orang-orang Talang Amba berkepentingan, tetapi mereka akan menerima keputusan yang kita ambil bersama. Karena itu, marilah kita bersepakat untuk mengambil satu keputusan, siapa yang akan memegang jabatan yang sampai saat ini tidak menentu ujung pangkalnya itu. Paman atau aku. Selama ini sebenarnya aku berusaha untuk menghindar dari persoalan itu, karena aku dan isteriku sama sekali tidak berminat untuk berebut kedudukan melawan paman sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku tidak dapat mengelak lagi. Persoalan ini adalah persoalanku. Karena itu, jika terjadi benturan kekerasan maka biarlah aku dan paman saja yang terlibat”
Wajah orang-orang yang mendengar keputusan Ki Sanggarana itu terperanjat. Wajah mereka menjadi semakin tegang dan jantung mereka pun menjadi berdebaran.
Ki Sendawa pun terkejut bukan buatan. Ia pun tidak menyangka sama sekali, bahwa dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja Sanggarana telah menantangnya.
Ki Sanggarana berdiri tegak di tempatnya. Seolah-olah ia telah yakin akan kebenaran langkahnya. Karena itu, maka ia pun kemudian melanjutkan, “Paman, jika aku mengambil langkah itu adalah semata-mata karena aku tidak ingin melihat pertengkaran dan apalagi benturan kekerasan antara orang-orang Talang Amba sendiri. Orang-orang yang karena satu sebab berpihak kepada paman, sementara orang lain berpihak kepadaku. Jika kedua kekuatan itu berbenturan, maka tentu akan jatuh korban. Mungkin di antara orang-orang yang berpihak kepada paman. Tetapi mungkin orang-orang yang berpihak kepadaku. Karena itu, daripada di antara mereka akan jatuh korban, maka lebih baik kita berdua mengambil penyelesaian. Bukan maksud kita untuk duduk di atas satu kedudukan dengan mengorbankan orang lain”
Wajah Ki Sendawa menjadi merah padam. Kemarahannya telah membakar jantungnya, sehingga justru karena itu, untuk sesaat ia berdiri tegak mematung tanpa dapat berbuat sesuatu. Baru sejenak kemudian terdengar ia mengumpat kasar. Katanya kemudian, “Anak iblis. Kau berani menantang aku he? Seharusnya kau mengenal aku. Seharusnya kau tahu bahwa aku akan dapat memutar lehermu. Kenapa kau mencoba menantang aku dalam perang tanding?”
“Hanya sekedar untuk menentukan siapa yang akan menjadi Buyut di Kabuyutan ini” jawab Sanggarana. Lalu, “Sebab aku tidak mempunyai cara lain. Paman tentu akan menolak jika aku mengusulkan untuk membuat saja semacam undian. Aku dan paman akan mengambil masing-masing sehelai daun dengan mata tertutup pada sebatang pohon yang sama. Siapa yang memiliki daun yang lebih lebar, ia akan menjadi Buyut di Kabuyutan Talang Amba”
“Persetan” geram Ki Sendawa.
“Nah. Karena itu, maka cara yang paling baik, yang agaknya cukup memadai bagi paman adalah kita akan berkelahi. Siapa yang memenangkan perkelahian itu akan menjadi Buyut di Kabuyutan ini. Kemenangan akan ditandai dengan keadaan lawannya. Jika lawannya sudah tidak dapat melawan sama sekali atau menyerah, maka perkelahian itu sudah dianggap selesai” berkata Ki Sanggarana selanjutnya.
Wajah Ki Sendawa menjadi semakin tegang. Sementara itu Ki Sarpa Kuning pun menjadi tegang. Ia tidak segera dapat memberikan petunjuknya. Ki Sarpa Kuning tidak tahu pasti, siapakah yang lebih kuat diantara kedua orang itu. Namun menilik sikap menantu Ki Buyut itu, ia tidak banyak memiliki kelebihan dari orang-orang lain. Apalagi menilik sikapnya selama ini. Tetapi bahwa tiba-tiba saja ia telah menantang Ki Sendawa dalam satu perkelahian, hal itu telah membuatnya ragu-ragu untuk mengambil satu sikap.
Sementara itu, maka Ki Sanggarana itu pun telah mendesaknya. Katanya, “Marilah paman. Aku persilahkan paman mengambil satu keputusan”
“Anak setan. Ternyata kau terlalu sombong. Jauh lebih sombong dari yang aku duga. Apa yang sebenarnya telah mendorongmu menantangku berkelahi seorang lawan seorang? Apakah kau baru saja berguru kepada orang-orang sakti? Atau kau baru saja bangun dari sebuah mimpi yang mengagumkan?”
“Tidak paman” jawab Sanggarana, “aku tidak bermimpi dan aku tidak berguru kepada siapapun. Tetapi lebih baik aku yang menjadi korban perselisihan ini daripada orang-orang lain yang tidak banyak mengetahui persoalan yang sebenarnya diantara kita. Apalagi kita sendiri pun dapat memandang persolan ini dari segi yang berbeda. Jika paman merasa berhak untuk menjadi Buyut di Kabuyutan ini, maka banyak orang berpendapat bahwa aku pun berhak, karena aku adalah menantu Ki Buyut yang baru saja meninggal”
“Persetan, “potong Ki Sendawa, “aku adalah anak orang yang seharusnya berhak atas Kabuyutan ini. Tetapi orang yang berhak itu telah dibunuh dengan licik”
“Nah, itu adalah ceritera menurut paman. Mungkin orang lain mempunyai ceritera yang lain. Orang lain mengatakan bahwa ayah paman yang paman sebut-sebut itu sebenarnya memang tidak berhak, karena ia lahir dari ayah yang berbeda dengan ayah Ki Buyut, mertuaku yang kemudian menjadi Buyut. Tetapi perbedaan pendapat yang demikian hanya akan memperpanjang persoalan saja. Kini aku berhadapan dengan Ki Buyut. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Jangan ada setetes pun darah yang tertumpah. Apalagi nyawa yang lepas dari wadagnya, hanya karena kita berselisih”
“Kau memang sudah gila Sanggarana” teriak Ki Sendawa, “tetapi jika itu yang kau kehendaki, baiklah. Kau dan setiap orang tentu tahu, apa yang akan terjadi”
“Terserah kepada apa yang akan terjadi” jawab Ki Sanggarana, “jika aku kalah, aku akan melepaskan perasaanku bahwa sebaliknya akan terjadi”
Ki Sendawa menggeretakkan giginya. Namun dalam pada itu Ki Sarpa Kuning berbisik, “Apa orang itu mempunyai bekal ilmu?”
“Tidak” sahut Ki Sendawa.
“Sedangkan Ki Sendawa memilikinya betapapun sedikit. Karena itu, agaknya Ki Sendawa akan dapat memenangkan perang tanding itu” desis Ki Sarpa Kuning pula.
Ki Sendawa menggeretakkan giginya. Katanya, “Aku yakin, bahwa aku akan dapat memilih lehernya. Ia terlalu sombong dan tidak tahu diri”
“Jika demikian, apalagi yang ditunggu” berkata Ki Sarpa Kuning selanjutnya.
Wajah Ki Sendawa menjadi bertambah tegang. Namun, yang dikatakan oleh Ki Sarpa Kuning untuk mendorongnya cepat bertindak. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah anak dungu. Marilah, kita selesaikan persoalan kita tanpa melibatkan orang lain”
“Terima kasih paman” jawab Ki Sanggarana, “dengan demikian maka siapa pun yang akan menang, tidak akan dianggap berdiri diatas korban kawan sendiri. Tidak akan ada korban disini. Dan tidak akan ada seseorang yang meratapi kematian keluarganya”
“Sekarang turunlah. Kita akan berkelahi diarena” jawab Ki Sendawa.
“Kita percayakan arena itu kepada para pengikut kita masing-masing. Mereka tentu akan melingkari kita yang akan menjajagi ilmu kita masing-masing” jawab Ki Sanggarana.
“Tetapi mereka tidak akan berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sebatang patok bambu. Patok bambu tidak akan bergeser seujung rambutpun, apa pun yang terjadi ditengah-tengah arena. Tetapi seseorang mungkin akan bergerak. Mungkin akan menyibak dan mungkin akan bergeser maju”
“Baiklah paman” jawab Ki Sanggarana, “orang-orangku akan dengan cepat menyiapkan sebuah arena. Mereka akan memotong bambu, membuat patok dan memasang gawar”
Demikianlah, dalam waktu yang singkat, para pengikut menantu Ki Buyut itu telah menyiapkan sebuah arena Dengan patok-patok bambu dan gawar serat kayu, maka siaplah yang dikehendaki Ki Sendawa dalam waktu singkat.
Sejenak kemudian, maka para pengikut dari kedua belah pihak telah berdiri diseputar arena. Ki Sarpa Kuning yang mengumpat-umpat melihat orang-orang yang sibuk menyiapkan sebuah arena telah berdiri di pinggir arena, diluar gawar itu pula.
Dalam pada itu, ketika semuanya sudah siap, maka Ki Sendawa pun kemudian berkata, “Marilah Sanggarana. Ternyata bahwa kau benar-benar seorang jantan menghadapi persoalan yang tumbuh diantara kita”
“Aku hanya akan menghindari korban yang mungkin jatuh. Mungkin luka arang kranjang, tetapi mungkin juga terbunuh. Satu saja ada orang terbunuh, maka kita akan menanggung beban dosa, karena persoalannya adalah persoalan kita berdua” jawab menantu Ki Buyut itu.
“Jika demikian, maka biarlah kita memilih saksi masing-masing satu orang” berkata Ki Sendawa, “aku akan menunjuk Ki Sarpa Kuning, sahabatku untuk menjadi saksi dan akan berada di dalam arena.
“Baiklah paman. Dan aku pun akan menunjuk paman Waruju untuk menjadi saksiku” jawab Ki Sanggarana.
“Ya manakah orang yang kau sebut itu?” bertanya Ki Sendawa.
Ki Sanggarana kemudian berpaling kepada seseorang. Orang yang diketemukan oleh Ki Sendawa dan orang-orangnya di halaman rumah Ki Sanggarana.
“Orang itu?” Ki Sendawa menjadi heran, “jadi kau mengambil saksi orang dungu itu”
“Ya. Tetapi ia jujur” jawab Ki Sanggarana.
“Tetapi saksi bagi perkelahian seperti ini harus orang yang setidak-tidaknya mengerti apa yang sedang berlangsung di arena” bentak Ki Sendawa.
“Ia akan dapat mengerti paman” jawab Sanggarana.
Ki Sendawa menggeram. Namun kemudian katanya, “Baiklah jika hal itu yang kau kehendaki”
Demikianlah, keduanya pun kemudian telah bersiap. Ki Sarpa Kuning berada di dalam arena, sementara murid-muridnya termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada diluar arena. Sedangkan saksi menantu Ki Buyut pun berada di dalam arena pula.
“Kita akan segera mulai” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Aku sudah siap” berkata Ki Sendawa.
“Aku juga sudah siap” sahut Ki Sanggarana.
“Bagus” berkata Ki Sarpa Kuning kemudian, “kita akan menentukan pertanda dari kekalahan”
“Jika lawannya sudah tidak mampu melawan lagi” jawab Ki Sanggarana.
“Tidak. Sampai salah seorang mati?” bertanya Ki Sarpa Kuning.
“Itu tidak perlu” jawab Ki Sanggarana.
“Pengecut yang sombong” geram pamannya. Namun katanya kemudian, “baiklah. Aku setuju”
Demikianlah keduanya pun segera telah mempersiapkan diri. Sementara itu, beberapa orang pengikut Ki Sanggarana menjadi ragu-ragu akan kesungguhan menantu Ki Buyut itu. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Ia hanya akan memberi kita kepuasan. Tetapi ia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Ia akan menyerah kalah. Dan kedudukan itu akan jatuh ke tangan Ki Sendawa. Dalam pada itu, kita tidak akan memaksa-maksanya lagi untuk berjuang mengambil kedudukan itu”
“Mungkin ia memang hanya sekedar berbuat demikian” sahut yang lain, “dengan demikian maka apa yang kita lakukan selama ini sia-sia saja”
Namun tiba-tiba seorang bertanya, “Tetapi seandainya tidak demikian. Seandainya kedua pasukan ini bertempur, apakah kita akan mampu melawan orang yang bernama Sarpa Kuning itu?”
Ternyata tidak seorang pun yang menjawab. Bahkan terasa bulu-bulu tengkuk mereka pun tatah berdiri tegak.
“Mengerikan” seseorang telah berdesis, “dari kedua belah pihak pun akan jatuh korban. Diantara kita akan ada yang mati. Ya, mati”
Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Mereka pun mulai membayangkan, jika terjadi pertempuran antara kedua pihak yang berdiri bertentangan itu. tentu akan jatuh korban. Mungkin dirinya sendiri, mungkin saudaranya, mungkin kawan baiknya. Sementara itu yang akan berdiri menjadi lawan, adalah saudara-saudara se Kabuyutan juga.
Namun dalam pada itu, beberapa orang yang usianya sudah mendekati separuh baya yang ada di halaman banyak itu menjadi berdebar-debar. Mereka yang telah mengenal ayah Ki Sanggarana itu. Pada saat mudanya ayah Ki Sanggarana itu memang mirip sekali dengan Ki Sanggarana yang kini berdiri di arena itu.
Apalagi ketika sejenak kemudian, Ki Sendawa mulai melangkah maju. Ki Sanggarana pun mulai bergeser pula.
Orang-orang yang berdiri diseputar arena itu melihat ada semacam perubahan di dalam diri Ki Sanggarana. Ia tidak lagi nampak kecut dan ragu-ragu. Tetapi justru ketika ia berdiri di arena, serta lawannya sudah mulai menyerangnya, maka sikapnya menjadi bersungguh-sungguh. Wajahnya menjadi menyala dan dari kedua matanya gejolak di dalam dadanya.
Ki Sendawa yang merasa mempunyai kesempatan untuk segera mengalahkan lawannya, telah menyerang dengan garangnya. Ia tidak mau terlalu lama berada di arena. Ia harus segera membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari kemanakannya itu.
Tetapi Ki Sendawa terkejut ketika Ki Sanggarana itu mampu meloncat mengelakkan serangannya.
Mula-mula Ki Sendawa mengira, bahwa ia kurang bersungguh-sungguh karena sejak semula ia menganggap tawanya tidak berarti. namun ketika ia mengulangi serangannya, ternyata Ki Sanggarana memang mampu mengelak dengan baik.
“Anak setan” geram Ki Sendawa, “darimana ia memiliki kemampuan untuk mengelak demikian baiknya?”
Tetapi sebenarnyalah, ketika serangan-serangan Ki Sendawa menjadi semakin keras, maka Ki Sanggarana pun menjadi semakin nyata, bahwa ia pun memiliki kemampuan yang cukup untuk menghindari serangan-serangan itu.
Bahkan anak-anak muda yang tidak pernah melihat Ki Sanggarana berlatih oleh kanuragan menjadi sangat tertarik melihat sikap Ki Sanggarana menghadapi pamannya.
Tetapi beberapa orang yang lebih tua menarik nafas dalam-dalam. Seorang diantara mereka berdesah, “Ia memiliki warisan kemampuan itu dari ayahnya. Ayahnya yang mempunyai kebiasaan dan kegemaran berburu itu. tentu tidak membiarkan anaknya, sedungu yang kita duga.”
Sebenarnyalah, Ki Sarpa Kuning yang menyaksikan pertempuran itu pun segera melihat, bahwa orang yang bernama Ki Sanggarana itu bukan seorang yang dungu. Bahkan ternyata ia bukan seorang pengecut.
Dengan tangkas Ki Sanggarana menghadapi serangan-serangan Ki Sendawa. Bahkan semakin lama Ki Sanggarana menunjukkan bahwa ia mampu bergerak lebih cepat dari Ki Sendawa.
Ki Sendawa menjadi semakin marah menghadapi sikap kemanakannya. Namun akhirnya ia pun sampai kepada satu kesimpulan, bahwa Sanggarana itu tentu pernah mendapat tuntunan kenuragan dari ayahnya.
“Tetapai anak gila itu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mempunyai kemampuan, olah kanuragan” berkata Ki Sendawa di dalam hatinya.
Sementara orang lain berkata di dalam hatinya, “Anak itu memang rendah hati. Ia dapat bersikap seolah-olah seperti anak-anak muda kebanyakan yang tidak mempunyai kemampuan olah kanuragan. Ia tidak pernah bersikap sombong dan dengan sengaja memamerkan kemampuannya, sehingga kawan-kawannya yang paling dekat pun tidak mengetahui, bahwa ia memiliki ilmu yang cukup. Bahkan dapat mengimbangi kemampuan pamannya, Ki Sendawa
Tetapi pada saat Ki Sanggarana itu harus menunjukkan kemampuannya, maka orang-orang yang mengenal ayahnya berkata di dalam hati, “Wajar sekali jika ia memiliki kemampuan untuk melawan pamannya”
Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Sanggarana yang dalam sikapnya sebelumnya sama sekali tidak menunjukkan kesungguhan untuk melawan pamannya bahkan seakan-akan ia sama sekali tidak peduli lagi dengan kedudukan yang ditinggalkan oleh mertuanya, tiba-tiba saja telah bertempur dengan tangkasnya melawan pamannya. Bahkan semakin lama semakin keras, sebagaimana dilakukan oleh Ki Sendawa.
Ternyata Ki Sendawa narus mengumpat-umpat tidak ada habisnya. Ternyata ia bertemu dengan keadaan yang tidak pernah diduganya. Meskipun ia mengenal ayah Ki Sanggarana, namun pengenalannya atas kemanakannya itu sejak ia menjadi menantu Ki Buyut, tidak menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan olah kanuragan.
Tetapi ketika ia bertemu di arena dalam keadaan yang bersungguh-sungguh, maka ternyata bahwa anak kemanakannya itu memiliki bekal yang cukup untuk mengimbanginya.
Tetapi Ki Sendawa masih mempunyai harapan. Ia masih belum mengerahkan segenap ilmunya, justru karena ia tidak menyangka akan berhadapan dengan kemanakannya dalam tingkat kemampuan yang demikian.
Karena itu, maka dengan kemarahan yang menghentak-hentak jantungnya, Ki Sendawa pun telah meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak.
Demikianlah, pertempuran itu menjadi semakin sengit. Keduanya benar-benar telah berusaha dengan segenap kemampuannya. Ki Sendawa dalam puncak ilmunya, menghadapi Ki Sanggarana yang tidak sebelumnya ternyata memiliki kemampuan yang mendebarkan.
Ki Sarpa Kuning yang menyaksikan pertempuran itu menjadi tegang. Dua orang itu telah bertaruh. Jika Ki Sendawa menang, maka ia akan menjadi Buyut. Tetapi jika Sanggarana menang, maka ialah yang menjadi Buyut.
“Jika Sanggarana yang menjadi Buyut, maka semua rencanaku mungkin akan gagal. Agaknya orang itu cukup cerdas untuk menangkap maksudku” berkata Ki Sarpa Kuning di dalam hatinya.
Dengan jantung berdegupan, Ki Sarpa Kuning mengikuti pertempuran yang menjadi semakin sengit itu. Bahkan kemudian ternyata, bahwa kemampuan Ki Sanggarana tidak berada dibawah lapisan kemampuan Ki Sendawa.
Sementara itu keduanya masih berkelahi dengan sengitnya. Serangan Ki Sendawa yang datang beruntun tidak menggoyahkan pertahanan Ki Sanggarana. Ketika Ki Sendawa meloncat maju dengan kaki yang terjulur lurus menyamping, maka Ki Sanggarana sempat mengelak. Bahkan ia pun telah berusaha untuk memukul kaki itu menyamping sementara kakinya sendiri siap untuk menyerang lambung.
Tetapi Ki Sandawa sempat menarik serangannya. Bahkan dengan cepat, dengan putaran yang bersumbu pada kakinya yang lain, kaki itu berputar mendatar. Sebuah ayunan yang sangat berbahaya telah menyerang Ki Sanggarana.
Ki Sanggarana sempat bergeser. Kaki itu menyentuhnya. Sementara itu, Ki Sanggarana melihat. satu kesempatan. Dengan satu langkah maju. tangannya terjulur lurus mengarah ke dada lawannya.
Tetapi serangan itu tidak mengenai sasarannya, karena Ki Sendawa sempat bergeser surut. Namun Ki Sanggarana tidak melepaskannya. Selangkah lagi ia maju. Dan sekali lagi tangannya yang lain terjulur sementara tangannya yang terdahulu ditariknya kedada.
Ki Sendawa tidak bergeser surut, tetapi ia melangkah setengah langkah kesamping. Dengan sigapnya maka ia pun telah memiringkan kepalanya sekaligus menyongsong tubuh lawannya dengan sikunya.
Ki Sanggarana menggeretakkan giginya. Tetapi ia sempat menguasai serangannya, sehingga tubuhnya tidak sempat tersentuh siku lawannya. Tetapi yang tidak diduganya, Ki Sendawa Justru merendah. Kakinyalah yang kemudian terjulur menghantam lambung.
Ki Sanggarana terkejut. Dengan serta merta ia pun telah meloncat surut. Ia sempat menghindari serangan itu. Tetapi serangan berikutnya pun telah datang menyambarnya. Tangan Ki Sendawa terayun mendatar setinggi wajahnya.
Ki Sanggarana tidak membiarkan dirinya dihujani oleh serangan-serangan yang datang beruntun. Tetapi tiba-tiba ia pun telah berputar dan justru meloncat dengan tangannya yang terjulur lurus kedepan.
Ki Sendawa lah yang harus menghindar. Namun dalam puncak kemampuannya, ternyata Ki Sanggarana mampu bergerak lebih cepat. Dengan loncatan yang panjang, ternyata Ki Sanggarana berhasil menyambar lambung Ki Sendawa dengan ujung kakinya. Meskipun serangan itu tidak amat berbahaya, tetapi Ki Sendawa harus menyeringai menahan sakit. Bukan saja kesakitan yang menyengat, tetapi hatinyalah yang terlebih sakit lagi.
Tetapi itu sudah terjadi. Dalam pertempuran berikutnya, meskipun sekali-sekali Ki Sendawa berhasil mengenai tubuh Ki Sanggarana, tetapi ternyata Ki Sanggarana lah yang telah mengenainya lebih banyak. Bahkan sentuhan-sentuhan serangan Ki Snggarana terasa telah benar-benar menyakitinya.
“Anak iblis” geram Ki Sendawa.
Namun sementara itu, serangan Ki Sanggarana menjadi semakin cepat dan semakin keras.
Orang-orang yang pernah mengenal ayah Ki Sanggarana, seolah-olah telah melihat orang itu di masa mudanya. Ternyata kelebihan pada ayahnya telah diwarisinya sepenuhnya. Bahkan ada satu kelebihan pada anaknya. Sanggarana ternyata adalah orang yang rendah hati. Melebihi dari ayahnya. Tidak seorang pun yang mengetahui sebelumnya bahwa orang itu memiliki kemampuan sebagaimana dimiliki oleh ayahnya.
“Ia meningkatkan ilmunya dengan diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun” berkata orang-orang itu di dalam hatinya.
Tetapi Ki Sarpa Kuning tidak berpendirian demikian. Meskipun baginya, ilmu Ki Sanggarana dan Ki Sendawa itu tidak menggetarkan bulu-bulunya, namun ia harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain.
“Mungkin orang itu telah menyampaikan persoalannya kepada gurunya” berkata Ki Sarpa Kuning di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka tiba-tiba saja telah timbul satu keinginan pada Ki Sarpa Kuning untuk menyelesaikan persoalan itu dengan tuntas. Ia ingin memancing, siapakah yang berdiri dibelakang orang yang bernama Ki Sanggarana itu.
Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ia ingin melihat pertempuran itu sampai kemungkinan terakhir.
Namun Ki Sarpa Kuning tidak mengetahui, bahwa Ki Sanggarana itu mewarisi ilmu dari ayahnya sendiri. Ia tidak berguru kepada orang lain, meskipun ada juga orang yang membantu perkembangan ilmunya. Tetapi dasar ilmunya itu telah dipelajarinya dari ayahnya.
Dalam pada itu, pertempuran antara kedua orang itu pun berlangsung semakin seru. Keduanya telah mengerahkan sisa-sisa kemampuan yang ada pada mereka.
Namun dalam pada itu, semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa sebenarnyalah Ki Sendawa tidak mampu mengatasi kemampuan kemanakannya, yang selama ini dianggapnya sebagai seorang anak bawang yang tidak berarti apa-apa.
Betapa jantungnya bergejolak, tetapi ia tidak mampu mengelakkan satu kenyataan, bahwa Ki Sanggarana memang memiliki kelebihan daripadanya.
Sementara itu, Ki Sanggarana pun seakan-akan telah berubah. Ketika ia benar-benar tersudut pada satu keadaan tanpa pilihan, maka ia bukan lagi seorang yang ragu-ragu, cemas dan bahkan ada yang menganggapnya ketakutan menghadapi keadaan dalam perebutan kekuasaan di Kabuyutan Talang Amba, meskipun bagi Ki Sanggarana yang direbutnya adalah haknya sendiri.
Dalam perkelahian yang menentukan itu. Ki Sanggarana telah berhasil mendesak lawannya, sehingga seolah-olah tidak lagi mempunyai kesempatan. Ki Sendawa hanya mampu bertahan dan sekali-sekali berloncatan surut. Sekali-dua kali ia masih mencoba, untuk membalas. Tetapi serangan-serangannya kemudian sudah tidak berarti apa-apa lagi. Sisa-sisa tenaganya hanya mampu memperlambat kehancurannya. Tetapi hampir pasti, bahwa saatnya akan tiba ia jatuh berlutut di tengah-tengah arena itu.
Dengan garangnya Ki Sendawa menggerang. Ia sama sekali tidak ikhlas mengalami keadaan itu. Karena itu, ia masih mencoba dan memaksa diri untuk bangkit dan menguasai lawannya. Tetapi sudah tidak ada jalan lagi baginya. Ketika ia mengerahkan sisa tenaganya meloncat sambil mengulurkan tangannya lurus mengarah kening, ternyata Ki Sanggarana dengan mudahnya mengelakkan serangan itu. Bahkan dengan sisi telapak tangannya ia memukul tangan pamannya kesamping. Demikian tubuh pamannya itu terputar, maka tiba-tiba saja ia melangkah dengansatu kakinya kedepan, sementara sambil merendah, sikunya telah menyusup dibawah lengannya yang masih terjulur mengantam lambung.
Ki Sendawa mengeluh pendek. Terhuyung-huyung ia terdorong kebelakang. Terasa dadanya menjadi sesak, dan nafasnya bagaikan tersumbat.
Beberapa orang Kebuyutan Talang Amba melihat kesulitan itu. Ketika seseorang di luar sadarnya berteriak, tiba-tiba saja beberapa orang ikut berteriak pula. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah bersorak gemuruh.
Betapa sakit hati Ki Sendawa. Tetapi lambungnya benar-benar terasa sakit, meskipun tidak separah sakit hatinya.
Dengan wajah yang menyala ia berusaha untuk dengan tegak menghadapi kemanakannya. Namun Sanggarana yang seakan-akan telah berubah menjadi sesorang yang bertindak tegas dan tidak ragu-ragu. Seolah-olah ia benar-benar seorang Senapati yang sedang berperang tanding dengan taruhan seluruh pasukannya.
Karena itu, ketika Ki Sendawa masih dalam kedudukannya yang belum mapan, Ki Sanggarana telah meloncat menyerang dengan kaki mendatar.
Tumit Ki anggarana mengarah ke dada pamannya. Dengan tergesa-gesa Ki Sendawa yang masih belum mapan benar, terkejut melihat serangan itu. Dengan tangannya ia berusaha menangkis serangan kemanakannya.
Tetapi tenaga Ki Sanggarana masih jauh lebih segar dari tenaga Ki Sendawa. Karena itu, ketika kakinya mengenai tangan Ki Sendawa yang bersilang di dadanya, maka kekuatan serangannya itu telah mendorongnya.
Ki Sendawa ternyata tidak lagi mampu bertahan pada keseimbangannya. Hentakkan kaki kemanakannya itu benar-benar telah melemparkannya dan jatuh terguling ditanah”
Tumit Ki Sanggarana tidak mematahkan tulang iganya, karena dilambari oleh tangannya yang bersilang. Tetapi dorongan kekuatan serangan itulah yang telah melemparkannya sehingga ia tidak dapat bertahan untuk tetap berdiri.
Terdengar Ki Sendawa menggeram. Tetapi kemudian yang terdengar justru keluhannya yang tertahan. Betapa tubuhnya terasa sakit dan tulang-tulangnya menjadi nyeri.
Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Ternyata Ki Sanggarana telah memberikan kesempatan. Dibiarkannya pamannya itu bertelekan kedua tangannya kemudian bangkit sambil mengumpat kasar. Namun nafasnya menjadi terengah-engah.
Ki Sanggarana membiarkannya untuk tegak berdiri. Bahkan ketika dengan marah dan mengumpat-umpat Ki Sendawa itu menyerangnya dengan sisa tenaganya, Ki Sanggarana tidak berbuat sesuatu. Ia tidak menghindar dan tidak pula menangkis.
Tetapi ternyata perhitungan Ki Sanggarana tepat. Justru karena kelelahan yang sangat, maka ayunan tangan Ki Sendawa tidak menyentuh lawannya yang tidak bergerak sama sekali. Bahkan Ki Sendawa itu pun telah terhuyung-huyung pula.
Dengan susah payah Ki Sendawa bertahan. Ia tetap berdiri meskipun tidak tegak benar. Namun setiap orang akan dapat menilainya, bahwa ia sudah tidak akan mampu berkelahi lebih lanjut.
“Bagaimana paman?” bertanya Ki Sanggarana yang meskipun nafasnya menjadi terengah-engah juga, tetapi ia masih berdiri tegak.
“Anak iblis” geram Ki Sendawa, “kita teruskan sayembara ini. Aku akan mengalahkanmu. Bahkan jika kau keras kepala, aku akan membunuhmu. Aku akan menjadi Buyut di tanah ini”
“Apakah paman masih belum kalah” desak Sanggarana.
“Anak gila” bentak Ki Sendawa, “he, apa katamu? Aku sobek mulutmu. Ayo, kita selesaikan perang tanding ini”
Ki Sanggarana memandang Ki Sendawa dengan tegang. Ia melihat dendam yang menyala dimata pamannya itu. Nampaknya pamannya tidak lagi dapat melihat kenyataan karena dorongan ketamakan di dalam dadanya.
Dalam pada itu, maka akhirnya Ki Sanggarana pun berkata, “Paman. Aku sudah terlanjur berdiri diarena. Karena itu, maka aku pun akan menyelesaikan tugasku di arena”
“Apa maksudmu anak bengal?” bertanya Ki Sendawa dengan nafas terengah-engah.
“Semula aku memang ragu-ragu untuk melawan paman. Aku merasa bahwa aku harus menghormati paman sebagai ganti orang tua isteriku. Tetapi ternyata setelah aku berdiri di arena, dan apalagi mempertaruhkan seluruh Kabuyutan dengan isinya, maka aku berpendirian lain. Aku harus berhasil mempertahankan hak mertuaku. Hak yang akan diwariskan kepada isteriku, dan sudah barang tentu, akulah yang akan mengemban tugas itu. Mungkin sikapku sekarang berbeda dengan sikapku sebelum aku memasuki arena ini” berkata Ki Sanggarana.
“Persetan. Jangan membual” sahut pamannya. Dengan serta merta Ki Sendawa itu pun telah berusaha untuk menyerang sekali lagi. Tetapi ketika Ki Sanggarana bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya, maka Ki Sendawa telah terseret oleh ayunan serangannya sendiri dan kemudian jatuh tertelungkup.
Sekali lagi, dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Namun dalam pada itu. Ki Sanggarana berkata, “Paman sudah kalah. Paman sudah tidak mampu melawan”
Ki Sendawa masih mengumpat.
“Paman” berkata Sanggarana, “jika paman ingin meyakinkan bahwa paman sudah kalah dan tidak mampu lagi melawan, aku akan dengan mudah melakukannya. Tetapi aku berharap bahwa paman akan bersikap jantan. Paman akan mengakui kekalahan paman, sebelum paman jatuh pingsan”
“Anak iblis. Aku akan membunuhmu” teriak Ki Sendawa.
Namun adalah sangat mengejutkan, bahwa justru Ki Sarpa Kuninglah yang kemudian berkata lantang, “Baiklah. Ki Sendawa memang sudah kalah. Ia sudah tidak mampu lagi melawan”
Ki Sendawa memandang Ki Sarpa Kuning dengan sorot mata keheranan. Ia tidak mengerti, kenapa justru Ki Sarpa Kuninglah yang mencegahnya.
“Aku belum kalah” jawab Ki Sendawa.
“Sudah” sahut Ki Sarpa Kuning, “sebaiknya Ki Sendawa secara jantan mengakui kekalahan ini seperti yang dikatakan oleh Ki Sanggarana”
“Dan kedudukan Buyut itu akan jatuh ke tangannya?” bertanya Ki Sendawa dengan nada tinggi.
“Belum” jawab Ki Sarpa Kuning, “masih ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh Ki Sanggarana.
Ki Sanggarana termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Kita sudah membicarakannya sebelumnya. Tidak ada syarat yang lain. Siapa yang kalah, harus mengikhlaskan kedudukan yang sedang kita perebutkan itu”
“Aku membuat perjanjian lain” berkata Ki Sarpa Kuning, “yang kalah boleh memilih seseorang untuk maju ke pertarungan berikutnya. Jika misalnya kau kemudian kalah dalam perkelahian itu, maka kau pun berhak memilih seseorang untuk menggantikanmu”
“Perkelahian yang demikian tidak akan ada akhirnya” berkata Ki Sanggarana, “yang satu harus melawan yang lain. Demikian sesterusnya”
“Tentu ada” jawab Ki Sarpa Kuning, “jumlah orang-orang kita terbatas. Meskipun jumlah orang-orangmu lebih banyak, tetapi belum tentu jika orangmulah yang akan tetap berdiri diarena sebagai orang yang terakhir”
“Tetapi itu tidak adil” jawab Ki Sanggarana, “sebaiknya kita berpegang pada perjanjian kita yang pertama. Kita adalah laki-laki yang telah memegang janji”
“Tetapi kita juga laki-laki jantan yang tidak gentar turun kearena dalam benturan kanuragan” jawab Ki Sarpa Kuning. Lalu, “Bagiku nilai perjanjian sama artinya dengan nilai kekuatan dan kemampuan. Siapa yang kuat, ia yang dapat dianggap menang dalam perjanjian apa pun juga. Jika yang lemah merasa berhak atas satu kemenangan apa pun juga, maka ia akan digilas oleh kekuatan itu”
“Dengan demikian, kita akan kehilangan perhargaan kepada janji kita sendiri” jawab Ki Sanggarana.
“Aku telah merubahnya. Setuju atau tidak setuju” jawab Ki Sarpa Kuning, “atau barangkali kau memilih kita bersama-sama dengan para pengikut kita, akan bertempur di halaman ini? Jika demikian yang kau kehendaki, aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku akan membantai setiap orang yang ada di sekitarku dan di sekitar murid-muridku, karena murid-muridku akan melakukan sebagaimana aku lakukan” jawab Ki Sarpa Kuning.
“Jadi bagaimana maksudmu?” bertanya Ki Sanggarana. “Perkelahian seorang lawan seorang” jawab Ki Sarpa Kuning, “supaya semuanya berlangsung dengan cepat, maka biarlah aku saja yang akan turun kearena. Nah, siapakah yang akan mewakilimu, karena jika kau sendiri akan melawan aku, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Karena itu, panggil gurumu atau saudara tua seperguruanmu, atau siapa saja yang kau anggap memiliki kemampuan seperti gurumu”’
Wajah Ki Sanggarana menjadi bertambah tegang Sementara itu Ki Sarpa Kuning berkata, “Cepatlah Aku tidak mempunyai banyak waktu. Apalagi jika masih ada diantara orang-orangmu nanti yang akan menggantikanmu melawan aku meskipun itu berarti pekerjaan yanga sia-sia bahkan terlalu dungu”
Suasana menjadi bertambah tegang. Setiap orang telah menahan nafas. Mereka menunggu ana yang akan dilakukan oleh Ki Sanggarana menghadapi tantangan Ki Sarpa Kuning.
Ki Sanggarana sendiri menyadari, bahwa orang itu tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang yang telah diminta oleh Ki Sendawa untuk membantunya. Bahkan jika perlu dengan kekerasan.
Di belakang Ki Sarpa Kuning itu berdiri beberapa orang yang tentu adalah murid-murid Ki Sarpa Kuning. Namun di antara mereka telah dikenal oleh Ki Sanggarana. Dalam kebimbangan itu, Ki Sanggarana justru masih tetap diam mematung. Namun sudah barang tentu, ia tidak akan membiarkan kedua kelompok yang sudah siap untuk bertempur itu, benar-benar membenturkan kekuatan mereka. Jika demikian, maka korban pun akan jatuh dari kedua belah pihak. Dan kedua belah pihak itu adalah orang-orang Kabuyutan Talang Amba. Karena menurut perhitungan Ki Sanggarana, orang-orang yang diminta mencampuri persoalan Talang Amba itu sendiri adalah orang-orang berilmu sehingga mereka akan dapat melindungi diri mereka sendiri. Bahkan mungkin orang-orang itulah yang akan lebih banyak menuntut korban dari orang-orang Talang Amba.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba telah terjadi sesuatu yang mengejutkan. Terlebih-lebih bagi para pengikut Ki Sendawa dan Ki Sarpa Kuning sendiri.
Dalam ketegangan itu. orang yang berada di arena, yang semula sekedar menjadi saksi, dan yang diketemukan oleh orang-orang yang mengikut Ki Sendawa di rumah Ki Sanggarana, tiba-tiba saja telah melangkah maju. Dengan kepala tengah ia berkata, “Jika demikian yang kau kehendaki Ki Sarpa Kuning, maka biarlah Ki Sanggarana akan menerimanya. Tetapi Ki Sanggarana sendiri tidak akan turun ke arena atau bukan saudara tuanya atau gurunya. Tetapi biarlah aku saja yang mewakilinya”
“He, apakah kau sudah gila” bentak Ki Sarpa Kuning.
“Tidak. Aku tidak gila. Tetapi aku sadar, bahwa dalam keadaan yang gawat ini, aku tidak dapat tinggal diam. Seandainya tidak ada orang lain yang turut campur, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan oleh Ki Sanggarana dan Ki Sendawa sendiri, aku pun tidak akan turut campur. Tetapi karena kau, yang dianggap orang asing di Kabuyutan ini, telah mencoba mempengaruhi keadaan, maka aku merasa wajib untuk mencampurinya pula. Tetapi yang aku lakukan bukannya langsung mempengaruhi persoalan mereka itu sendiri, tetapi aku hanya akan sekedar mencegah orang lain ikut campur” berkata orang itu.
“Gila. Siapa kau?” bertanya Ki Sarpa Kuning. “Namaku Waruju” jawab orang itu.
“Waruju” desis Ki Sarpa Kuning. Nama yang asing baginya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Ki Sanak. Sebaiknya kau berpikir ulang sebelum kau bertindak. Mungkin kau belum mengenal nama Ki Sarpa Kuning. Tetapi kau terlalu sombong untuk menyatakan dirimu menerima tantanganku mewakili Ki Sanggarana sebelum kau mengenai siapa bakal lawanmu”
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Mungkin kau benar Ki Sanak. Mungkin aku memang seorang yang sangat sombong. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku kira kita berdua adalah memang orang-orang yang sombong. Aku belum mengenalmu, dan kau belum mengenalku”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku mengerti sekarang. Jika kau berada di rumah Ki Sanggarana, maka itu bukan satu kebetulan. Kau merasa dirimu orang yang pilih tanding meskipun kau berpura-pura dungu. Tetapi baiklah kau melihat kenyataan di arena ini, siapakah Ki Sarpa Kuning yang sebenarnya”
“Baik Ki Sanak. Kita akan memperkenalkan diri kita dengan cara yang aneh. Tetapi jika ini adalah kesempatan yang kita dapatkan sekarang, maka baiklah kita mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Ia memang sudah berada di arena sebagaimana Ki Waruju. Karena itu, maka kemudian ia pun berkata, “Kita sudah berdiri disini. Kita tidak memerlukan saksi khusus seperti yang terjadi pada Ki Sendawa dan Ki Sanggarana. Tetapi kita akan mengamati diri kita sendiri sebagaimana kita bertempur yang sebenarnya. Batas diantara kita bukan sekedar kalah karena kita tidak mampu melawan lagi, tetapi batas yang ada pada kita masing-masing adalah batas kematian. Jika kau terima syarat ini, maka kau memang berhak untuk berada diarena. Jika kau takut menghadapi maut, minggir sajalah”
Wajah Ki Waruju menjadi semakin tegang. Tetapi akhirnya ia pun menggangguk dan menjawab, “Baiklah jika tidak ada ukuran lain bagimu kecuali mati. Aku terima syaratmu, meskipun aku sama sekali tidak berniat membunuh”
Ki Sarpa Kuning pun kemudian memandang Ki Sendawa dan Ki Sanggarana berganti-ganti. Katanya kemudian
“Minggirlah. Kami berdua sepakat untuk berperang tanding dalam arti yang sebenarnya. Tidak seorang pun yang akan mengganggu kami berdua. Murid-muridku juga tidak”
Ki Sendawa dan Ki Sanggarana menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanya pun telah bergerak meninggalkan arena.
Yang kemudian tinggal adalah Ki Sarpa Kuning dan Ki Waruju. Dua orang yang belum saling mengenal. Namun Ki Waruju telah pernah mendengar serba sedikit tentang Ki Sarpa Kuning. Seorang yang memiliki kemampuan khusus bermain dengan ular dan dengan segala macam bisa dan racun. Namun Ki waruju adalah seorang yang memiliki penawar terhadap segala macam bisa sebagaimana dimiliki oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka kedua orang yang kemudian berada di arena itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka benar-benar akan melakukan perang tanding tanpa ada orang lain yang akan dapat mempengaruhinya. Bahkan keduanya sama sekali tidak memerlukan saksi seorangpun.
Sejenak kemudian, kedua orang itu pun telah saling berhadapan dalam kesiagaan sepenuhnya. Ki Sarpa Kuning mulai bergeser dan menggerakkan tangannya, sementara Ki Waruju telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak kemudian, maka Ki Sarpa Kuning sudah mulai mengayunkan tangannya. Perlahan saja mengarah ke dahi. Sementara itu Ki Waruju tidak menangkisnya. Ia bergeser menyamping sambil memiringkan kepalanya.
Tetapi tidak diduganya, bahwa tiba-tiba saja Ki Sarpa Kuning telah menyerangnya dengan ayunan kaki melingkar. Untunglah bahwa Ki Waruju masih sempat meloncat menghindarinya. Bahkan ketika Ki Sarpa Kuning memburunya dengan serangan beruntun, Ki Waruju sempat meloncat menjauh sehingga ia berdiri pada batas tepi arena.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar