Sabtu, 26 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 015-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 015-02*

Pangeran Lembu Sabdata termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata, “Cara itu adalah cara yang paling baik untuk menghancurkan Singasari. Singasari terlalu kuat untuk dilawan dengan kekuatan prajurit. Tetapi dengan memperlemah kedudukannya dan menimbulkan kegelisahan rakyat dan ketidakpuasan, maka kakangmas Pangeran Kuda Permati akan dapat mengambil hati rakyat yang kelaparan karena sawahnya hanyut dilanda banjir dan lereng-lereng gunung yang gundul”

“Cara yang sangat keji” desis Pangeran Singa Narpada.

“Tentu seimbang dengan kekejian orang-orang Singasari yang telah merampas Kediri. He, apakah kakangmas Singa Narpada tidak merasa kehilangan? Apakah kakangmas Singa Narpada tidak ingin Kediri kembali menjadi satu negara yang besar dan tidak harus tunduk kepada Singasari?”

“Apa bedanya Kediri dan Singasari? Yang penting rakyat harus mendapatkan haknya sesuai dengan kewajibannya” jawab Pangeran Singa Narpada, “rakyat harus hidup dengan baik dan memandang hari depan dengan penuh harapan? Kita tidak dapat memandang keseluruhan isi tanah ini dengan berpusar pada diri kita sendiri. Kecuali jika Singasari telah kehilangan kiblat pemerintahannya dan tidak lagi menghiraukan hak rakyatnya”

Pangeran Lembu Sabdata tersenyum, namun betapa pahitnya. Katanya, “Aku berpendirian lain kakangmas Aku merasa wajib untuk membangunkan kembali satu kekuasaan atas keluarga dan keturunan raja-raja di Kediri. Aku masih berharap bahwa kekuasaan atas tanah ini akan kembali kepada keluarga Kediri yang sekarang tidak lebih dari kekuasaan seorang Adipati”

Pangeran Singa Narpada memandang Pangeran Lembu Sabdata dengan tajamnya. Kemudian dengan suara berat ia bertanya, “Jadi bagaimana dengan adimas sekarang? Adimas sudah mengatakan, siapakah orang utama dalam gejolak ini. Apakah sebenarnya yang adimas kehendaki?”

“Aku ingin membalas dendam. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku telah berubah pendirian. Jika kemudian aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, karena kekuatan kami menjadi lumpuh sepeninggal kakangmas Kuda Permati, namun tidak seorang pun akan dapat merubah sikap di dalam dadaku menghadapi hubungan antara Kediri dan Singasari” tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata menggeram.

Jantung Pangeran Singa Narpada bagaikan tersentuh api. Jika ia tidak mengingat bahwa orang yang membuat hatinya panas itu adalah adiknya yang sudah mengatakan dengan terus terang, apapun alasannya, tentang orang yang berdiri di ujung usaha perlawanan atas Singasari itu, serta menghindari kesan yang buruk atas orang-orang Kediri bagi orang-orang Talang Amba, agar mereka tidak menganggap bahwa para bangsawan di Kediri adalah orang-orang kasar, maka ia tentu sudah bertindak lain.

Tetapi Betapapun dadanya serasa menjadi mendidih, namun ia masih berusaha untuk menahan diri. Karena itu, maka katanya kemudian, “Adimas Pangeran. Ternyata adimas telah terperosok ke dalam satu pertentangan di dalam diri sendiri. Namun bagaimanapun juga, maka adimas Pangeran Lembu Sabdata tidak akan dapat bekerja bersama lagi dengan Pangeran Kuda Permati. Meskipun demikian, perhatian terbesar kemudian harus ditujukan kepada Pangeran Kuda Permati”

Pangeran Lembu Sabdata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Segalanya terserah kepada kakangmas. Tetapi kakangmas sudah melihat isi hatiku. Aku adalah salah seorang yang menentang kekuasaan Singasari atas sendiri”

“Apapun yang kau katakan, tetapi kau sekarang sudah tidak berdaya. Aku tahu, bahwa tidak seorang pun yang akan dapat merubah sikapmu. Merubah isi hatimu. Tetapi orang lain akan dapat membatasi ungkapan dari kata hatimu itu dalam ujud kewadagan. Kau sekarang berada di dalam bilik yang dibatasi oleh dinding yang kuat, dijaga oleh sekelompok prajurit. sehingga dimanapun tak lebih dari ruang sempit ini” berkata Pangeran Singa Narpada yang menahan gejolak di dalam dadanya.

Wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi merah. Tetapi kemudian iapun menyadari, apapun yang bergejolak di dalam jiwanya, maka keterbatasan wadagnya telah mengikatnya dalam ketiadaan kemungkinan untuk berbuat seuatu.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun tidak menjawabnya lagi. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sehingga terasa betapa kekecewaan telah mencengkamnya.

Sebenarnyalah Pangeran Lembu Sabdata telah menyesali dirinya sendiri. Ia merasa bahwa bekalnya masih jauh dari mencukupi untuk ikut serta menjadi penggerak dalam usaha beberapa orang untuk melepaskan diri dari kekuasaan Singasari yang dianggapnya tidak berhak atas kekuasaannya itu.

Hal yang demikian bukan hanya pernah terjadi saat itu. Beberapa saat yang lalu, beberapa orang telah melakukan hal yang serupa meskipun juga gagal. Tetapi menurut penilaian Pangeran Kuda Permati, yang terjadi beberapa saat yang lalu, hanyalah sekedar perbuatan beberapa orang Pangeran muda yang tidak mampu mengekang diri sendiri.

Bahkan condong sebagai satu permainan yang sangat berbahaya. Pangeran-pangeran muda itu bagaikan anak-anak yang tidak tahu bahwa bara itu ternyata panas dan dapat membakar tangannya, sehingga karena itu, maka anak-anak akan dengan beraninya menyentuhnya.

Sedangkan yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati agaknya telah dipikirkannya masak-masak. Ia mulai dari putaran yang paling jauh, sebagaimana seseorang yang menghadapi semangkuk nasi yang panas. Orang itu harus dengan telaten mengambilnya dari lingkungan yang paling luar untuk mendapatkan nasi yang paling dingin.

Tetapi api yang sudah menyala di Talang Amba, agaknya telah mempercepat segala rencana yang telah disusun. Dendam dan harga diri yang tidak terkendali, ternyata telah merugikan perjuangan Pangeran Kuda Permati, sehingga akhirnya, perintah Pangeran Kuda Permati kepada dua orang kepercayaannya adalah agar mereka membebaskan Pangeran Lembu Sabdata yang tertawan, atau membunuhnya sama sekali.

Pangeran Kuda Permati memang merasa sangat kecewa terhadap Pangeran Lembu Sabdata. Ternyata bahwa yang dijanjikan sama sekali tidak dapat diujudkan. Bahwa dengan kekuatan yang dipercayakan kepadanya untuk menghancurkan Talang Amba, dengan kesanggupan bahwa usaha itu tidak akan gagal karena ia sudah mengirimkan beberapa pengawas mendahului pasukannya, ternyata sama sekali tidak dapat diujudkannya.

Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati memang cenderung untuk membunuhnya saja. Seandainya Pangeran Lembu Sabdata dapat dilepaskan oleh dua orang utusan Pangeran Kuda Permati, maka yang akan diterima oleh Pangeran Lembu Sabdata tidak lebih dari teguran yang keras, dan bahkan mungkin hukuman betapapun ujudnya.

Dalam pada itu, laporan atas peristiwa yang terjadi itu sudah sampai kepada Pangeran Kuda Permati. Dua orang telah menghadap dan melaporkan, bahwa menurut pengamatan mereka, dua orang yang mendapat tugas untuk membebaskan atau membunuh Pangeran Lembu Sabdata justru telah terbunuh.

“Gila” geram Pangeran Kuda Permati, “apakah kau mengigau?”

“Ampun Pangeran, Sebenarnyalah yang terjadi memang demikian. Kami berdua telah berusaha untuk mendengar kabar itu dari beberapa pihak. Dan akhirnya kabar itulah yang dapat kami tangkap sebagai satu kesimpulan” jawab orang yang berwajah pucat.

“Apa benar begitu?” bertanya Pangeran Kuda Permati kepada orang yang berambut keriting.

“Ya Pangeran. Demikianlah yang kami ketahui atas kedua utusan Pangeran itu” jawab orang yang berambut keriting itu dengan kepala tunduk.

“Mustahil” geram Pangeran Kuda Permati, “salah seorang dari mereka memiliki ilmu sirep yang sangat tajam. Sementara itu keduanya memiliki senjata yang luar biasa. Keduanya memiliki sejenis ular kecil yang sangat berbahaya, yang dapat mereka gunakan sebagai senjata”

“Tetapi orang-orang Talang Amba yang bergabung dengan para prajurit dari Singasari itu dapat mengatasinya” jawab orang yang berwajah pucat, “ada diantara mereka yang mampu melepaskan diri dari pengaruh sirep, sehingga dengan demikian maka keduanya harus bertempur menghadapi lawan yang agaknya memiliki ilmu yang melampaui ilmu kedua orang itu.

Pangeran Kuda Permati menggeretakkan giginya. Yang terjadi itu pun diluar dugaannya. Pangeran Kuda Permati terlalu percaya akan kemampuan kedua orang yang ditugaskannya untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata atau membunuhnya sama sekali. Adalah sulit dipercaya, bahwa ada juga orang Talang Amba yang mampu mengatasi kemampuan sirep dari kedua orang itu.

Namun seandainya demikian, apakah keduanya sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu atas Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi kedua orang yang memberikan laporan itu telah dengan terperinci mengatakan apa yang terjadi. Bahwa sebenarnya Pangeran Lembu Sabdata sudah tersentuh bisa ular dari salah seorang diantara dua orang yang mendapat tugas itu. Tetapi juga oleh orang Talang Amba bisa itu dapat ditawarkan, sehingga dengan demikian maka Pangeran Lembu Sabdata masih tetap hidup.

“Gila. Pengecut. Seharusnya ia tidak menyerah. Apapun yang terjadi, ia harus bertempur terus, meskipun harus menebus dengan nyawanya, sehingga segala rahasia yang diketahuinya akan dibawanya mati” geram Pangeran Kuda Permati.

Kedua orang itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Tetapi adalah satu kenyataan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata masih tetap hidup.

Karena kedua orang itu tidak berkata apapun juga, maka Pangeran Kuda Permati itu pun kemudian berkata, “Kita tidak mempunyai waktu lagi. Jika Pangeran Lembu Sabdata jatuh ke tangan Pangeran Singa Narpada, maka tidak ada satu rahasia pun yang akan tertinggal. Semuanya tentu akan dapat diperas keluar”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Kuda Permati pun berkata, “Kita harus bersiap-siap. Tetapi satu hal yang perlu disadari, bahwa usaha untuk melepaskan diri dari kuasa Singasari tidak akan padam. Seandainya kita tidak berhasil dalam waktu yang dekat, namun pada satu saat usaha ini tentu akan terwujud”

Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Lalu salah seorang diantara mereka pun bertanya, “Kemudian, apakah yang akan kita lakukan Pangeran?”

Untuk sementara kita akan menyingkir” berkata Pangeran Kuda Permati” Aku yakin, bahwa kakangmas Pangeran Singa Narpada akan segera kembali bersama orang-orang Singasari. Kau akan dapat membayangkan apa yang akan terjadi, jika aku tidak menyingkir. Adimas Lembu Sabdata tentu sudah mengatakan segala sesuatu tentang aku. Tetapi untunglah bahwa aku telah meletakkan diriku menjadi orang pertama, sehingga dengan demikian, tentu ada orang-orang lain yang masih dapat dilindungi”

Kedua orang itu pun mengangguk-angguk pula. Tetapi keduanya tidak yakin akan keterangan Pangeran Kuda Permati. Menurut pengamatan mereka, Pangeran Lembu Sabdata adalah salah seorang diantara mereka yang banyak mengetahui tentang susunan kepemimpinan dari mereka yang telah menyatakan diri menentang kuasa Singasari atas Kediri.

Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Bahkan keduanya berharap bahwa perhitungan Pangeran Kuda Permati itu benar”

Demikianlah, sebelum Pangeran Singa Narpada kembali ke Kediri bersama orang-orang Singasari, maka Pangeran Kuda Permati telah bersiap-siap untuk meninggalkan Kediri. Namun sebenarnyalah bahwa Pangeran Kuda Permati bukan orang yang tidak berperhitungan. Sebenarnyalah sebelum terjadi kesulitan itu, Pangeran Kuda Permati telah menyiapkan tempat yang akan dapat menjadi landasan perjuangannya kemudian.

Tetapi Pangeran Kuda Permati tidak akan menyingkir dengan seluruh keluarganya. Ia tahu, bahwa ia akan menempuh satu cara hidup yang sulit. Karena itu, maka ketika semua persiapan sudah dilakukan, iapun membicarakan rencana kepergiannya dengan isterinya.

“Jadi kakangmas akan meninggalkan kami? Aku dan anak perempuan kakangmas itu?” bertanya isterinya.

“Dengarlah diajeng. Bukan maksudku untuk memisahkan diri dengan kau dan anak kita. Tetapi perjuangan masih panjang. Aku harus menyingkir. Dan aku dapat membayangkan, perjalanan yang akan aku tempuh adalah perjalanan yang sangat sulit” jawab Pangeran Kuda Permati.

“Tetapi aku tidak berkeberatan kakangmas, seandainya aku harus ikut menempuh perjalanan yang betapapun sulitnya itu” desis isterinya yang mulai berkaca-kaca.

Tetapi Pangeran Kuda Permati berkata, “Pada satu saat aku akan kembali menjemputmu jika segalanya sudah menjadi pasti. Jika aku sudah menemukan satu tempat berteduh yang baik bersama seluruh pengikutku”

“Apakah kakangmas berkata sebenarnya?” bertanya isterinya.

“Ya. Aku berjanji” jawab Pangeran Kuda Permati, “namun sebenarnyalah kau dapat membantuku meskipun kau tidak pergi bersamaku. Justru hal itu merupakan salah satu pertimbangan, kenapa aku minta kau tinggal”

“Apa yang dapat aku lakukan?” bertanya isterinya.

“Kau adalah adik dari isteri kakangmas Singa Narpada. Lewat kakak perempuanmu itu, maka kau dapat berusaha untuk menghambat usaha kakangmas Singa Narpada memburu aku dan pengikutku” berkata Pangeran Kuda Permati.

Isterinya mengerutkan keningnya. Dengan suara sendat ia berkata, “Aku akan berusaha kakangmas. Tetapi kita tahu, bahwa kakangmas Singa Narpada adalah orang yang berhati batu”

Pangeran Kuda Permati menarik nafas dalam-dalam. Iapun menyadari bahwa yang dikatakan oleh isterinya itu memang benar. Pangeran Singa Narpada adalah orang yang hatinya sekeras batu. Apapun tidak akan mampu menahannya jika ia sudah mengambil satu keputusan.

Namun demikian Pangeran Kuda Permati masih berkata, “Tetapi kau dapat mencobanya. Mungkin dengan kelembutan hati, Pangeran Singa Narpada akan dapat dihambat jika tidak diurungkan”

Isteri Pangeran Kuda Permati itu mengangguk. Tetapi harapannya untuk dapat merubah sikap Pangeran Singa Narpada lewat kakak perempuannya yang menjadi isteri Pangeran Singa Narpada agaknya memang terlalu kecil.

Dalam pada itu, sebelum Pangeran Singa Narpada kembali dengan membawa Pangeran Lembu Sabdata, maka Pangeran Kuda Permati telah meninggalkan Kediri. Tidak seorang pun mengetahui kemana, selain para. pengikutnya.

Namun Pangeran Kuda Permati pun tidak begitu bodoh untuk membawa semua pengikutnya menghilang dari Kota Raja. Beberapa orang pengikutnya yang berani masih tetap berada di Kota Raja. masih dalam kesatuan mereka. Mereka bertugas untuk mengamati langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Singa Narpada.

Dengan sandi mereka masih tetap berada di dalam tugas mereka, seakan-akan mereka sama sekali tidak tahu-menahu dengan langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Kuda Permati.

Kepergian Pangeran Kuda Permati dan para pengikutnya memang mengejutkan Kediri. Tetapi teka-teki itu tidak lama. Ketika persoalan itu sedang menjadi pembicaraan yang ramai, maka Pangeran Singa Narpada telah sampai di Kediri dengan tergesa-gesa.

Tetapi Pangeran Singa Narpada itu menjadi kecewa, karena ternyata bahwa Pangeran Kuda Permati sudah tidak ada.

“kami sudah mengira” berkata beberapa orang bangsawan. Tetapi tidak seorang pun sempat bertindak. Pangeran Kuda Permati tiba-tiba saja sudah hilang dari Kota Raja bersama para pengikutnya.

Semua telah dilaporkan kepada Sri Baginda di Kediri bahwa, di dalam tubuh keluarga bangsawan di Kediri telah terdapat seseorang yang berusaha untuk memecah keluarga besar Singasari yang meliputi Kediri.

Namun Pangeran Singa Narpada merasa heran, bahwa tanggapan Sri Baginda di Kediri tidak sebagaimana di harapkan. Dengan wajah murung Sri Baginda berkata, “Itu adalah satu cobaan yang sedang menimpa keluarga kita. Sesama saudara telah saling bermusuhan karena sikap batin yang berbeda”

“Tetapi apa perintah Baginda?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku akan memikirkannya?” jawab Sri Baginda.

Wajah Pangeran Singa Narpada menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apakah kita akan membiarkan tingkah laku adimas Pangeran Kuda Permati?”

Sri Baginda itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa bersedih, bahwa diantara kita telah terjadi benturan bukan saja sikap hati, tetapi telah terjadi benturan wadag yang akan dapat meracuni hubungan kita, diantara saudara sendiri”

“Ampun Baginda” berkata Pangeran Singa Narpada, “sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh adimas Pangeran Kuda Permati telah terlalu jauh. Adimas Pangeran dan para pengikutnya sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat Singasari termasuk Kediri. Mereka berusaha memperlemah kedudukan Singasari, namun dengan mengorbankan orang-orang yang tidak tahu menahu persoalannya”

“Aku sudah mendengar” jawab Sri Baginda, “mereka telah membuat hutan-hutan terutama di lereng-lereng bukit menjadi gundul”

“Ya Baginda” jawab Pangeran Singa Narpada, “Bukankah hal itu akan sangat menyulitkan kehidupan rakyat kecil. Tidak hanya sekarang, tetapi juga untuk waktu-waktu mendatang?”

Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Semuanya akan aku pikirkan sebaik-baiknya”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian iapun berkata, “Segalanya terserah kepada Baginda, Tetapi tugas yang dibebankan kepada hamba telah hamba lakukan dengan sebaik-baiknya. Hamba telah sampai ke Talang Amba dan bertemu dengan Adinda Pangeran Lembu Sabdata yang sekarang masih hamba titipkan pada orang-orang Talang Amba”

Sri Baginda mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya sama sekali tidak memberi kesan apapun atas keberhasilan tugas Pangeran Singa Narpada.

“Apakah ada perubahan sikap Baginda” bertanya Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya, “pada saat Baginda memerintahkan aku pergi ke Talang Amba, kesannya agak berbeda”

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak bertanya apapun juga.

Dalam pada itu, maka Sri Baginda pun bertanya, “Apakah kau tidak membawa adindamu bersamamu?”

“Belum Baginda” jawab Pangeran Singa Narpada, “ketika hamba mendengar bahwa sumber dari peristiwa ini adalah adimas Pangeran Kuda Permati, maka hamba pun dengan tergesa-gesa meninggalkan Talang Amba”

“Sri Baginda mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Usahakan agar adindamu itu cepat berada di Kediri sebelum ia mengalami kesulitan”

“Adimas Pangeran Lembu Sabdata sedang mendapat perawatan Baginda, agaknya Pangeran Kuda Permati telah mengutus dua orang untuk membunuh adimas Pangeran Lembu Sabdata selagi adimas tertawan di Talang Amba.

Keterangan Pangeran Singa Narpada yang terakhir itu benar-benar mengejutkan hati Sri Baginda. Karena itu maka dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Apakah benar pendengaranmu, bahwa Pangeran Kuda Permati telah berusaha untuk membunuh Pangeran Lembu Sabdata?”

“Ya Baginda” jawab Pangeran Singa Narpada, “Bukankah sudah hamba katakan, orang yang berusaha untuk membebaskan adimas Pangeran Lembu Sabdata tetapi gagal itu telah berusaha membunuhnya”

“Tetapi apakah itu atas kehendak orang itu sendiri, atau memang atas perintah Pangeran Kuda Permati?” desak Sri Baginda. Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Memang tidak ada bukti yang dapat menguatkan pendapatnya bahwa yang memerintahkan untuk membunuh Pangeran Lembu Sabdata adalah Pangeran Kuda Permati. Tetapi dalam pada itu Pangeran Singa Narpada pun menjawab, “Ampun Baginda. Bukan hanya hamba sajalah yang. berpendapat bahwa hal itu memang diperintahkan oleh Pangeran Kuda Permati. Tetapi adimas Pangeran Lembu Sabdata sendiri berpendapat demikian. Semula adimas Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak mau mengatakan apapun juga tentang usahanya. Tetapi setelah peristiwa itu terjadi, dan adimas Pangeran Lembu Sabdata diselamatkan oleh orang-orang Talang Amba yang kebetulan memiliki penangkal racun, maka adimas Lembu Sabdata kemudian berterus terang, siapakah sebenarnya orang yang berdiri di belakang gerakan itu”

Sri Baginda termangu-mangu sejenak. Namun pertanyaannya membuat jantung Pangeran Singa Narpada berdebaran. Katanya, “Tetapi apakah bukan karena usahamu memeras adindamu sehingga ia terpaksa mengatakan siapakah orang yang telah menggerakkannya? Aku mengenal tabiatmu. Seseorang yang berada di tanganmu tidak akan dapat mengelak lagi. Ia akan mengatakan apa yang ingin kau dengar daripadanya”

“Baginda” wajah Pangeran Singa Narpada menjadi tegang. Namun kemudian ia berusaha menahan diri. Meskipun dengan demikian ia justru terdiam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sejenak suasana menjadi hening. Namun kemudian Sri Baginda itu pun berkata, “Sudahlah. Beristirahatlah. Kita masih mempunyai waktu untuk memikirkannya. Namun satu hal yang harus segera kita lakukan. Mengambil Lembu Sabdata dari Talang Amba”

Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak menyahut. Ia sadar tugas itu akan dibebankan kepadanya. Namun ia justru berharap agar perintah itu segera turun kepadanya. Ia akan minta kepada orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari kerelaan mereka untuk menyerahkan Lembu Sabdata. Biarlah ia menghadap Sri Baginda dan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Karena Pangeran Singa Narpada tidak menyahut, maka Sri Baginda itu berkata lebih lanjut, “Karena itu, maka aku berharap dalam waktu yang secepat-cepatnya, aku dapat bertemu dengan Lembu Sabdata”

Barulah Pangeran Singa Narpada kemudian bertanya, “Apakah hamba harus kembali ke Talang Amba?”

Aku harap demikian. Semakin cepat Pangeran Lembu Sabdata kembali, keadaan akan menjadi semakin cepat jernih. Jika ia sempat memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi, maka aku akan dapat mengambil langkah-langkah tertentu” berkata Sri Baginda.

Jantung Pangeran Singa Narpada serasa berdentang semakin cepat. Dari kata-kata yang tersirat, agaknya Pangeran Singa Narpada mendapat penilaian yang kurang pada tempatnya.

“Apakah Baginda menganggap bahwa ada satu kemungkinan Baginda tidak akan sempat berbicara dengan adimas Lembu Sabdata karena pokalku?” bahkan Pangeran Singa Narpada itu beranggapan semakin jauh, “apakah justru Baginda menuduh akulah yang telah mencoba membunuhnya”

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada berniat untuk secepatnya kembali ke Talang Amba dan berbicara dengan Ki Sanggarana dan para Senopati dari Singasari.

Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Baiklah Baginda. Dalam waktu dekat, hamba akan datang bersama adimas Pangeran Lembu Sabdata. Mudah-mudahan ia sudah sembuh sama sekali sehingga perjalanan kembali ke Kediri tidak akan terganggu. Namun hamba mohon ijin untuk membawa sepasukan prajurit Kediri untuk mengawal adimas Pangeran. Ada satu kemungkinan bahwa Pangeran Kuda Permati berusaha untuk merampas adimas Pangeran di perjalanan”

Sri Baginda tiba-tiba menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Pada saatnya kau akan berangkat, maka aku akan memerintahkan untuk mempersiapkan sepasukan prajurit”

“Hamba mohon, agar hamba yang menentukan, kesatuan yang manakah yang akan pergi bersama hamba” mohon Pangeran Singa Narpada.

“Baiklah” Baginda mengangguk-angguk. Tetapi kesungguhan Pangeran Singa Narpada itu agaknya telah meyakinkan Sri Baginda, bahwa Pangeran Singa Narpada benar-benar tidak melakukan sebagaimana disangkanya.

Meskipun demikian, Sri Baginda akan tetap menunggu kedatangan Pangeran Lembu Sabdata sebelum mengambil keputusan-keputusan.

Pangeran Singa Narpada pun berusaha untuk mengerti, karena semua pihak yang terlibat masih termasuk kadang sentana, sehingga Sri Baginda benar-benar disudutkan pada satu keadaan yang sangat sulit untuk mengambil satu keputusan.

Dalam pada itu, agaknya Pangeran Singa Narpada pun ingin dengan segera menjernihkan suasana. Ia tidak mau mendapat tuduhan-tuduhan, dikatakan atau tidak dikatakan. Mungkin orang mengira bahwa Pangeran Lembu Sabdata dalam keadaan sakit karena sikap keras Pangeran Singa Narpada untuk memeras keterangan dari adiknya itu.

“Segalanya akan jelas jika adimas Pangeran Lembu Sabdata telah menghadap” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah merencanakan secepatnya untuk kembali ke Talang Amba. membawa sepasukan prajurit agar Pangeran Lembu Sabdata tidak hilang dari tangannya. Mungkin Pangeran Kuda Permati akan membebaskannya dengan kekerasan atau pembunuhnya untuk menghilangkan jejak.

Namun sementara itu, Pangeran Singa Narpada menghadapi persoalan lain di dalam istananya. Diluar perhitungannya, tiba-tiba saja isterinya telah mempersoalkan Pangeran Kuda Permati.

“Apakah gunanya kakangmas memburu adimas Pangeran Kuda Permati” desis isterinya.

Wajah Pangeran Singa Narpada menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa kau mempersoalkannya? Kau selama ini tidak pernah mempersoalkan tugas-tugas yang aku lakukan. Bahkan menurut ingatanku, aku belum pernah dengan sungguh-sungguh memberitahukan kepadamu, apa yang aku lakukan terhadap adimas Pangeran Kuda Permati dan adimas Lembu Sabdata”

Isterinya menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya dengan nada dalam, “Diajeng telah menyampaikan keluhan-keluhannya kepadaku. Kami berdua adalah saudara kandung. Sementara kakangmas dan adimas Kuda Permati saling bermusuhan bagaikan minyak dengan air”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Persoalannya bukannya antara aku pribadi dengan adimas Kuda Permati pribadi. Persoalannya adalah, bahwa adimas Kuda Permati telah mengambil langkah-langkah yang dapat meretakkan hubungan yang ada antara Singasari dan Kediri”

“Tetapi bukankah adimas Pangeran Kuda Permati berusaha untuk keluhuran derajad keturunan Kediri?” bertanya isterinya.

“Setiap trah Kediri akan melakukannya. Tetapi tidak dengan cara itu” jawab Pangeran Singa Narpada, “cara yang ditempuh adalah cara yang sangat kasar dan akan menghancurkan anak cucu kita sendiri”

“Namun demikian, apakah kakangmas tidak dapat berbicara dengan baik agar tidak terjadi pertumpahan darah?” bertanya isterinya.

“Adimas Pangeran Kuda Permati telah meninggalkan Kediri. Kita tidak akan dapat berbicara” jawab Pangeran Singa Narpada, “selebihnya, aku harus kembali ke Talang Amba. Aku harus membersihkan diriku dari tuduhan-tuduhan yang tidak sewajarnya”

“Tuduhan apa?” bertanya isterinya.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Dikatakan atau tidak dikatakan, tetapi terasa bahwa aku dituduh melakukan kekerasan terhadap adimas Pangeran Lembu Sabdata. Padahal aku tidak pernah berbuat apa-apa. Keadaanlah yang telah membuat adimas lembu Sabdata mengatakan bahwa ia berada dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati”

Isterinya tidak menyahut. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Kegelisahan di dalam dadanyalah yang bagaikan menyala membakar jantungnya.

Dalam pada itu. Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Sudahlah diajeng. Jangan pikirkan tugas-tugas yang dibebankan diatas pundakku. Aku minta kau dapat mengerti bahwa saat ini aku sedang menghadapi satu keadaan yang sulit. Perubahan sikap Sri Baginda membuat kepalaku pening. Aku tidak tahu, apakah yang sudah terjadi di dalam diri Sri Baginda. Tetapi tanggapannya pada saat aku berangkat dan pada saat aku kembali sudah jauh berbeda”

Isterinya tidak menyahut. Tetapi kepalanya yang menunduk itu mengangguk perlahan-lahan.

Demikianlah, mendekati hari yang sudah ditentukan, Pangeran Singa Narpada telah bersiap-siap untuk pergi ke Talang Amba. Ia menghubungi pimpinan pemerintahan Singasari sebagaimana pernah dilakukan, agar pimpinan pemerintahan di Singasari dapat menyaksikan apa yang dilakukan di Talang Amba dalam hubungannya dengan tingkah laku Pangeran Lembu Sabdata.

Pada hari yang ditentukan itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah pergi ke Talang Amba dengan sepasukan prajurit yang dipilihnya sendiri. Karena sebenarnyalah, menurut ketajaman pengamatan hati Pangeran Singa Narpada, tentu masih ada para pengikut Pangeran Kuda Permati yang ditinggalkan di Kediri. Iring-iringan itu telah diikuti oleh dua orang perwira dari Singasari yang akan menyertai pasukan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Singa Narpada itu ke Talang Amba. Selain menjadi saksi, maka kedua perwira itu akan dapat berbicara dengan para Senopati Singasari yang bertugas di Talang Amba.

Sebenarnyalah bahwa keberangkatan Pangeran Singa Narpada itu pun segera didengar oleh Pangeran Kuda Permati di persembunyiannya. Namun Pangeran Kuda Permati itu menjadi kecewa bahwa yang ditugaskan untuk mengikuti Pangeran Singa Narpada adalah pasukan yang sama sekali terlepas dari pengaruhnya.

“Kenapa orang-orang kita tidak dapat mengusahakan agar yang bertugas itu adalah orang-orang kita, atau sebagian adalah orang-orang kita, sehingga memberi peluang kepada kita untuk berusaha membebaskan atau membunuh sama sekali adimas Pangeran Lembu Sabdata” desis Pangeran Kuda Permati.

“Pangeran Singa Narpada cukup cerdik untuk mencurigakan siapapun juga kecuali orang yang dipilihnya sendiri” jawab pengikutnya.

Pangeran Kuda Permati hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun demikian Pangeran Kuda Permati memerintahkan orang-orangnya untuk mengamati pasukan Pangeran Singa Narpada yang pergi ke Talang Amba untuk mengambil Pangeran Lembu Sabdata.

“Pasukan yang cukup kuat” desis adalah seorang dari dua orang pengamat yang dari kejauhan melihat iring-iringan menuju ke Talang Amba.

“Jika Pangeran Kuda Permati akan berkeras hati merebut Pangeran Lembu. Sabdata atau membinasakannya, maka akibatnya akan cukup parah. Akan terjadi satu pertempuran yang. keras dan bahkan mungkin menjadi buas. Yang dibawa oleh Pangeran Singa Narpada adalah sekelompok pasukan terpilih sebagaimana inti kekuatan Pangeran Kuda Permati” berkata yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa pasukan yang dibawa oleh Pangeran Singa Narpada adalah sekelompok pengawal terbaik dari Kediri.

Ketika hal itu dilaporkan oleh para pengamat kepada Pangeran Kuda Permati, maka Pangeran Kuda Permati hanya dapat menggeram, ia sadar bahwa ia tidak dapat merebut atau membunuh sama sekali Pangeran Lembu Sabdata yang dikawal kuat oleh pasukan yang langsung dipimpin oleh Pangeran Singa Narpada. Iapun tidak akan dapat merebut atau menghancurkannya sama sekali dengan memasuki Talang Amba yang masih dijaga dengan kuat oleh para prajurit Singasari, di samping para pengawal dari Kabuyutan Talang Amba.

Karena itu, maka Pangeran Kuda Permati harus menerima satu kenyataan bahwa Kediri maupun Singasari akan mengetahui dengan pasti lewat mulut Pangeran Lembu Sabdata, bahwa ia telah memberontak melawan kekuasaan Kediri dan Singasari.

“Jika demikian apa boleh buat” berkata Pangeran Kuda Permati, “aku memang memberontak. Tetapi sebenarnya pemberontakan ini aku tujukan kepada Singasari. Jika orang-orang Kediri yang menjilat kepada orang-orang Singasari merasa berkewajiban melawan aku juga, apa-boleh buat, “

Sementara itu maka Pangeran Singa Narpada pun langsung menuju ke Talang Amba. Sehingga kedatangannya telah membuat Pangeran Lembu Sabdata menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa kedatangan Pangeran Singa Narpada itu tentu dalam tugas untuk mengambilnya dari Talang Amba dan menghadapkannya kepada Sri Baginda di Kediri.

Tetapi dihadapan Pangeran Singa Narpada, Pangeran Lembu Sabdata tidak akan dapat terlalu banyak tingkah. Ia tahu pasti sikap Pangeran Singa Narpada, apalagi setelah mereka meninggalkan Talang Amba.

Tidak terlalu banyak kesulitan bagi Pangeran Singa Narpada menghadapi orang-orang Talang Amba dan orang-orang Singasari. Apalagi bersama Pangeran itu telah datang pula dua orang perwira dari Singasari, sehingga persoalannya dapat dipertanggung-jawabkan oleh para Senapati yang ada di Talang Amba.

“Sementara yang lain biarlah berada di Talang Amba” berkata Pangeran Singa Narpada, “pada saatnya, apakah Kediri atau Singasari tentu memerlukan mereka”

Dengan demikian, maka Ki Sanggarana dan para Senapati Singasari di Talang Amba telah menyerahkan dengan resmi Pangeran Lembu Sabdata. Sementara itu. Pangeran Singa Narpada yang ingin cepat menjernihkan suasana telah dengan tergesa-gesa menentukan saatnya untuk kembali.

“Kenapa besok?” bertanya Ki Sanggarana, “nampaknya Pangeran sangat tergesa-gesa.

“Ya” jawab Pangeran Singa Narpada, “Aku tidak mau dibayangi oleh kecurigaan-kecurigaan dan dugaan-dugaan yang tidak sewajarnya. Aku harus segera menghadapkan adimas Pangeran Lembu Sabdata kepada Sri Baginda, agar dengan demikian semuanya menjadi jelas”

“Silahkan Pangeran” berkata Ki Sanggarana, “luka-lukanya pun telah sembuh sama sekali. Dengan terhisapnya racun ular oleh penangkal racun yang kuat itu, maka luka-luka Pangeran Lembu Sabdata menjadi tidak berarti lagi”

“Terima kasih Ki Sanggarana” berkata Pengeran Singa Narpada, “Mudah-mudahan segala sesuatunya cepat kita selesaikan. Namun sementara ini jangan menjadi lengah. Pangeran Kuda Permati sudah tidak berada di Kediri lagi. Dengan pasukan yang setia kepadanya, ia telah menyingkir untuk mempersiapkan satu pemberontakan yang terbuka. Menurut perhitunganku, ia akan mendapat banyak pengikut karena dengan kepandaiannya berbicara, ia akan dapat memikat beberapa orang untuk mengikuti jejaknya melawan Singasari”

“Baiklah Pangeran” jawab Ki Sanggarana, “kami akan berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan. Apalagi prajurit Singasari untuk sementara masih akan tetap berada disini, meskipun Pangeran Lembu Sabdata sudah tidak ada di Kabuyutan ini, karena kemungkinan-kemungkinan lain masih akan dapat terjadi”

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada pun telah mempersiapkan diri Pangeran Lembu Sabdata pun telah diberi tahu, bahwa esok pagi, mereka akan bersama-sama meninggalkan Talang Amba untuk kembali ke Kediri.

Pangeran Lembu Sabdata menjadi berdebar-debar. Jika ia dihadapkan kepada Sri Baginda, maka apakah yang akan dikatakannya?. Meskipun agaknya Sri Baginda sudah tahu, bahwa sumber dari keributan yang terjadi itu diantaranya adalah Pangeran Kuda Permati, namun rasa-rasanya sulitlah baginya untuk mengatakannya langsung kepada Sri Baginda.

Namun Pangeran Lembu Sabdata tidak dapat menolak. Jika ia mencobanya juga. maka akibatnya akan terasa sangat parah.

Setelah segalanya dipersiapkan, maka Pangeran Singa Narpada pun minta diri kepada orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari. Dengan pengawalan yang kuat, maka Pangeran Lembu Sabdata pun dipersilahkan untuk naik ke punggung kuda yang telah disediakan baginya. Di sebelah menyebelahnya adalah dua orang prajurit pilihan, sementara di belakangnya adalah Pangeran Singa Narpada sendiri bersama dua orang perwira dari Singasari.

Beberapa langkah di depan, berturut-turut lima orang prajurit berkuda, sementara yang lain ada di belakang Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Lembu Sabdata tidak dapat berbuat apa-apa. Ia mengenal pasukan yang dibawa oleh Pangeran Singa Narpada itu sebagai pasukan terbaik dari pengawal di Kediri, sebagaimana sekelompok pasukan yang dibawa oleh Pangeran Kuda Permati.

Demikianlah iring-iringan itu meninggalkan Talang Amba dengan disaksikan oleh hampir semua orang Talang Amba yang tinggal di sepanjang jalan. Di setiap padukuhan, orang-orang telah keluar dari rumah-rumah mereka dan turun ke pinggir jalan untuk melihat sebuah iring-iringan yang membawa seorang tawanan dari trah bangsawan di Kediri.

Pangeran Lembu Sabdata hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun terasa jantungnya berdentangan menahan kemarahan yang rasa-rasanya menghentak-hentak dadanya.

Bahkan ternyata tidak di padukuhan-padukuhan dalam tlatah Kabuyutan Talang Amba saja mereka menjadi tontonan. Di padukuhan-padukuhan berikutnya, orang-orang pun telah melihat iring-iringan itu, meskipun sebagian besar dari mereka tidak begitu mengerti artinya. Bahkan semakin jauh dari Talang Amba, kadang-kadang justru timbul ketakutan diantara penghuni-penghuni padukuhan yang dilewatinya melihat iring-iringan yang nampaknya tegang dan bersungguh-sungguh.

Di Talang Amba, Ki Sanggarana, para bebahu, Ki Waruju dan kedua anak muda Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah saling berbincang. Beberapa orang Senopati yang hadir bersama mereka justru telah mengambil satu keputusan untuk mempertinggi kesiagaan. Sepeninggal Pangeran Lembu Sabdata masih akan dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan yang pahit bagi Kabuyutan itu.

“Kita akan dapat memberikan laporan kepada Akuwu di Gagelang atau yang sedang memangku jabatan Akuwu” berkata Ki Sanggarana.

“Ya. Ada baiknya” berkata Senopati dari Singasari, “Kita semuanya harus bersiaga. Menilik keterangan Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Kuda Permati telah benar-benar memberontak tanpa tedeng aling-aling. Karena itu, kemungkinan-kemungkinan yang pahit itu akan dapat terjadi setiap saat. Justru karena itu, maka Talang Amba dan juga Gagelang harus bersiap-siap. Jika Pangeran Kuda Permati ingin menumpahkan kemarahannya, agaknya Talang Amba dan Gagelang akan menjadi sasarannya yang pertama. Di Kabuyutan inilah Pangeran Lembu Sabdata tertangkap sehingga terungkaplah persiapan-persiapan yang dilakukannya dengan diam-diam.

Para pemimpin di Talang Amba ternyata sependapat. Karena itu, maka mereka justru meningkatkan kesiagaan dan menunjuk beberapa orang untuk pergi ke Gagelang, melaporkan segala perkembangan yang telah terjadi.

Dalam pada itu, ketika Talang Amba sibuk mempersiapkan diri, sementara beberapa orang pergi ke Gagelang, maka di Kediri pun telah terjadi satu peristiwa yang menegangkan. Kehadiran Pangeran Lembu Sabdata di Kediri telah disambut dengan perasaan yang berbeda-beda. Beberapa orang merasa benci kepada Pangeran yang masih muda itu. Namun yang lain menjadi kasihan kepadanya. Bahkan beberapa orang perwira yang mengenal Pangeran Singa Narpada dengan baik, menjadi gelisah. Banyak kemungkinan dapat terjadi atas Pangeran itu selama ia berada di tangan Pangeran Singa Narpada.

Namun sikap itu pun agak berubah. Ketika Pangeran Lembu Sabdata telah dimasukkan ke dalam ruang tahanan, maka beberapa orang yang mengikuti setiap perkembangan keadaan di Talang Amba pun mengatakan, bahwa Pangeran Singa Narpada telah berhasil menguasai dirinya selama ia berada di Talang Amba.

“Pangeran Singa Narpada tidak melakukan kekerasan” berkata, salah seorang Senopati yang mengikutinya.

Tetapi beberapa orang telah meragukannya. Apalagi mereka yang sejak semula telah berprasangka. Ketika Pangeran Singa Narpada datang melaporkan keadaan Talang Amba dan menyatakan bahwa Pangeran Lembu Sabdata terluka karena ada usaha untuk membunuhnya, orang-orang itu telah menyangka bahwa Pangeran Singa Narpada telah menyakitinya sehingga Pangeran Lembu Sabdata terluka parah sebelum mengucapkan pengakuannya. Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada itu tidak dapat membawanya bersamanya pada waktu itu.

Ketika salah seorang yang menyertai Pangeran Singa Narpada menceriterakan keadaan Pangeran Lembu Sabdata yang sebenarnya, bahwa Pangeran itu telah terluka oleh gigitan ular, maka beberapa orang kurang mempercayainya.

Demikianlah maka di Kediri telah timbul tanggapan yang berbeda bahwa kadang-kadang berlawanan atas keadaan Pangeran Lembu Sabdata.

Namun Pangeran Singa Narpada tidak menghiraukannya. Yang penting baginya adalah membawa Pangeran Lembu Sabdata itu menghadap Sri Baginda, di Kediri. Dengan demikian maka segalanya akan menjadi jernih dan segala macam prasangka pun akan dapat hilang dengan sendirinya.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada kemudian adalah berusaha untuk membawa Pangeran Lembu Sabdata menghadap.

Ternyata Sri Baginda pun agaknya ingin segera mendengar apa yang telah terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata. Karena itu, maka demikian Pangeran Singa Narpada melaporkan kedatangannya, serta mohon untuk menghadapkan Pangeran Lembu Sabdata, Sri Baginda pun telah memberikan kesempatan yang pertama.

Demikianlah, dengan dihadiri oleh beberapa orang saja, Pangeran Lembu Sabdata telah dibawa menghadap oleh Pangeran Singa Narpada.

Demikianlah Pangeran Lembu Sabdata duduk sambil menundukkan kepalanya, maka Sri Baginda pun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Kau adimas Lembu Sabdata”

Pangeran Lembu Sabdata tidak berani mengangkat wajahnya. Kepalanya justru semakin tertunduk dalam-dalam.

Baginda itu pun kemudian berkata dengan nada dalam, “Adimas. Seharusnya kau merasa, bahwa kau adalah adikku yang sangat aku kasihi. Tetapi justru itu kau menjadi manja dan melakukan langkah-langkah yang sama sekali tidak menguntungkan kedudukanmu sekarang ini”

Pangeran Lembu Sabdata masih menundukkan kepalanya. Sementara Sri Baginda berkata selanjutnya, “Kenapa kau justru telah mengikuti jejak Pangeran Kuda Permati?

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...