*HIJAUNYA LEMBAH :JILID 002-03*
Pendapat Ki Jagabaya itu telah membuat hati setiap orang menjadi kecut. Jika mereka melakukan satu kesalahan yang tidak mereka sadari, maka mereka akan mungkin sekali menjadi sasaran kecurigaan Ki Jagabaya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengikuti Ki Jagabaya memasuki padukuhan induk. Mereka langsung dibawa ke banjar Kabuyutan yang terletak di tengah-tengah padukuhan induk itu.
“Marilah Ki Sanak” Ki Jagabaya mempersilahkan kedua anak muda itu, “silahkan naik ke pendapa. Ini adalah banjar Kabuyutan kita”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Sejenak mereka melayangkan pandangan mereka ke sekeliling halaman Kabuyutan itu. Kemudian, dipandanginya gandok di sebelah kiri yang lengang. Namun di gandok yang sebelah kanan, beberapa orang sedang duduk dengan tegang.
Sekali-sekali kedua anak muda itu mendengar suara orang yang sedang membentak-bentak. Kemudian terdengar pula keluhan dan tangis.
“Ada apa?” bertanya Mahisa Pukat hampir di luar sadarnya.
Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tidak ada apa-apa”
“Jangan bohongi aku” sahut Mahisa Pukat.
Ki Jagabaya memandangi orang-orang yang berada di serambi gandok di sebelah kanan itu,. Ia pun mendengar bentakan-bentakan yang kasar dan keluhan yang tertahan-tahan di antara tangis.
“Katakan Ki Sanak” desis Mahisa Murti.
“Atau aku akan mengamuk disini?” sambung Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, kehadiran Ki Jagabaya, seorang pembantunya bersama kedua orang anak muda itu pun sangat menarik perhatian. Orang-orang yang berada di serambi gandok itu pun ternyata telah memandangi mereka, dengan penuh kecurigaan.
“Duduklah” Ki Jagabaya mempersilahkan, “aku akan memberikan keterangan setelah aku melihatnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian duduk di-pendapa. Namun keduanya nampak gelisah. Mereka melihat orang bertubuh tinggi kekurusan itu melangkah ke serambi gandok.
“Ki Jagabaya membawa tawanan lagi?” bertanya seorang bertubuh pendek.
“Siapa yang di dalam?” bertanya Ki Jagabaya.
Ki Jagabaya itu tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah masuk.
Dalam pada itu, di tengah-tengah ruangan yang tidak begitu luas di gandok sebelah kanan itu, seorang anak muda duduk di lantai dengan wajah yang biru lembab. Seorang yang bertubuh kecil berdiri di sebelahnya dengan garangnya.
“Ia tidak mengaku” geram orang yang berdiri itu., “Apa katanya?” bertanya Ki Jagabaya.
“Ia tidak pernah berhubungan dengan siapa pun di luar Kabuyutan ini” jawab orang bertubuh kecil itu.
Ki Jagabaya melangkah mendekati. Dengan wajah yang garang ia membentak, “Jangan menunggu sampai kepalamu hancur ya? Kau kemarin dilihat oleh seseorang, datang dari jurusan hutan ilalang di sebelah padang perdu itu. Kau tentu sudah berhubungan dengan para penjahat dari Jurang Growong itu”
“Tidak Ki Jagabaya. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang Jurang Growong” tangis anak muda itu.
“Ingat” geram Ki Jagabaya, “wajahnya akan dapat berbentuk lain. Aku datang dengan dua orang saksi. Karena itu mengakulah”
Orang yang berada di gandok itu mengeluh. Tubuhnya terasa semakin sakit. Apalagi ketika ia melihat sekilas, tatapan mata Ki Jagabaya yang bagaikan membakar jantungnya.
“Cepat” bentak Ki Jagabaya.
“Aku berkata sebenarnya” tangis orang itu
“Baiklah” berkata Ki Jagabaya jika ia tidak mengaku, aku benar-benar akan memecahkan kepalanya”
“Jangan, jangan” anak muda itu berteriak.
“Diam” tiba-tiba saja tangan orang yang bertubuh kecil yang berdiri di sebelahnya telah memukul mulut anak muda itu dengan telapak tangannya.
Suara anak muda itu terhentak berhenti. Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan keluhan vang tertahan-tahan.
Sementara itu, tiba-tiba telah terjadi keributan di luar pintu. Ketika Ki Jagabaya meloncat dan berdiri di pintu, ia melihat tiga orang terbanting dilantai, sementara beberapa orang yang lain bergeser surut.
“Jadi kegilaan semacam inilah yang terjadi di Kabuyutan ini” geram Mahisa Pukat.
Wajah Ki Jagabaya menegang. Katanya, “Aku hanya sekedar menjalankan kewajiban. Aku ingin mendengar pengakuan anak ini sebelum aku memberitahukan kepada Ki Sanak berdua”
“Siapa yang kau maksud dua orang saksi? Kami berdua?” bertanya Mahisa Pukat pula.
Ki Jagabaya termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Aku hanya ingin pengakuannya”
“Pengakuan apa? Begitu caramu untuk mendapatkan pengakuan. Kau pukuli orang itu sampai tidak lagi berpengharapan, sehingga ia akan mengaku. Mengaku sebagaimana kau kehendaki. Bukan mengaku sebagaimana telah terjadi atas dirinya yang sebenarnya”
Wajah Mahisa Pukat menjadi semakin tegang. Lalu tiba-tiba ia membentak, “He, orang gila. Yang kau inginkan pengakuan atau kebenaran. Pengakuan yang keluar dari mulutnya karena kau peras dengan caramu yang kasar dan buas itu belum tentu kebenaran yang pernah terjadi”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, orang yang bertubuh kecil berkata, “Siapa orang itu Ki Jagabaya? Apakah orang itu justru orang Jurang Growong, sehingga sudah sewajarnya jika kita akan menangkapnya?”
“Kau akan menangkap aku?” Mahisa Pukat menjadi semakin marah, “Jika kau ingin mencobanya, marilah. Yang lain pergi untuk menyediakan kelengkapan untuk menyelenggarakan mayat sebanyak orang yang ingin menangkap aku”
Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Sementara Ki Jagabaya melangkah mendekati Mahisa Pukat sambil berkata, “Tidak. Kami tidak ingin menangkap kalian. Tetapi kami mohon kalian duduk di pendapa. Biarlah kami melakukan tugas kami sebaik-baiknya”
“Tugas yang gila ini” sahut Mahisa Pukat. Lalu, “Tidak. Aku tidak akan membiarkan kelaliman ini berlangsung”
Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun akhirnya ia berkata kepada orang yang bertubuh kecil, “Jaga orang itu baik-baik. Aku akan pergi kependapa”
“Dan jangan kau lakukan lagi kesewenang-wenangan itu” berkata Mahisa Pukat, “mungkin kalian adalah orang-orang yang mendapat tugas membantu Ki Jagabaya. Mungkin kalian merasa bahwa apa yang kalian lakukan itu adalah kewajiban. Tetapi kalian telah melanggar hubungan antara sesama. Kalian memperlakukan sesama kita dengan cara yang tidak wajar. Kalian seharusnya dapat membayangkkan, bagaimana jika perlakuan yang demikian itu berlaku atas diri kalian. Seandainya pada suatu saat, kalianlah yang ditangkap tanpa bersalah. Kalian kemudian dipaksa untuk mengaku dan menjawab segala macam pertanyaan dengan jawaban yang sudah disediakan”
“Siapa anak ini Ki Buyut” orang yang bertubuh kecil itu pun bertanya. Lalu, “Telingaku menjadi panas mendengar kata-katanya. Jika Ki Jagabaya memperkenankan, aku akan memperlakukan, anak ini dengan caraku, agar ia dapat menghormati sikap kami di sini”
“Tidak perlu” jawab Ki Jagabaya.
“Ia telah menghina kami” orang bertubuh kecil itu menegaskan “sudah menjadi kewajiban kami untuk bertindak atas mereka”
“Kalian memang orang-orang gila” geram Mahisa Pukat, “kalian telah melakukan kewajiban kalian dengan salah. Kau sangka jika kalian dapat memaksa seseorang untuk mengatakan sebagaimana kau kehendaki, kau sudah melakukan kewajibanmu dengan baik? Apakah kau sangka dengan sewenang-wenang kalian akan dapat dianggap seorang pahlawan”
“Tetapi kami tidak dapat berbuat lain disini” berkata Ki Jagabaya, “daerah kami adalah daerah yang penuh dengan keadaan yang sangat gawat. Kami tentu tidak akan dapat berbuat lain kecuali kekerasan”
“Itu adalah satu sikap yang sangat dungu” potong Mahisa Pukat.
“Dengar” orang bertubuh kecil Itu menyela, “orang itu menyebut kami dungu”
“Kau yang paling dungu” Mahisa Pukat berteriak. Namun ternyata orang bertubuh kecil itupun tidak lagi dapat mengendalikan kemarahannya. Tanpa minta ijin lebih dahulu dari Ki Jagabaya, maka ia pun telah meloncat menyerang Mahisa Pukat.
Namun yang terjadi adalah sangat mendebarkan jantung. Orang bertubuh kecil itulah yang kemudian terlempar dan jatuh terbanting di lantai gandok membentur tiang. Sekali ia masih menggeliat. Namun kemudian orang itupun telah pingsan.
“Sudah aku katakan, siapa yang ingin mati, cobalah tangkap aku”. berkata Mahisa Pukat.
Tidak seorang pun bergeser. Telah ada empat orang yang pingsan di serambi gandok itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mencegah Mahisa Pukat. Orang-orang padukuhan itu memang memerlukan sedikit peringatan atas sikap mereka, meskipun Mahisa Murti mengerti, bahwa mereka telah disudutkan oleh satu keadaan yang tidak menguntungkan.
Dalam pada itu, Ki Jagabaya lah yang kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku minta maaf”
“Itu tidak cukup” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kalian harus menyadari, bahwa sikap kalian tidak benar. Kalian telah bertindak sewenang-wenang apapun alasannya. Jika keadaan padukuhan ini dan barangkali seluruh Kabuyutan ini, menjadi gawat, bukan satu alasan untuk menyakiti arang tanpa sebab. Bukan alasan untuk memeras keterangan seseorang yang tidak mengetahui persoalannya. Dan bukan pula alasan untuk dengan kekerasan memaksa orang memberikan jawaban atas pertanyaan kita sebagaimana kita kehendaki tanpa melihat kebenaran itu sendiri”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti”
“Kalian harus bersikap lebih bijaksana, justru dalam keadaan seperti ini” berkata Mahisa Pukat
“Tetapi, dengan demikian apakah kami tidak akan menjadi semakin sulit menghadapi orang orang dari Jurang Growong itu” bertanya Ki Jagabaya.
“Kepada mereka kita akan bertindak tegas. Bukankah seorang tamu di padukuhanmu telah menunjukkan satu cara untuk melawan mereka?” bertanya Mahisa Pukat, “dengan tulup kalian akan dapat bertahan. Meskipun sebenarnya ada senjata lain yang tidak memerlukan racun. Busur dan panah, misalnya. Meskipun kalian pernah mencoba, tetapi ada baiknya kalian mencoba lagi”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti telah memasuki gandok itu dan melihat keadaan orang yang mengalami nasib yang malang.
“Lepaskan anak ini, “ berkata Mahisa Murti kepada Ki Jagabaya.
Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu. Namun Mahisa Pukat membentak, “Cepat. Atau kami harus mengambil sikap sebagaimana sikap kalian?”
Ki Jagabaya tidak dapat bersikap lain, kecuali memerintahkan orang-orangnya untuk melepaskan orang yang mengalami nasib buruk itu.
“Marilah Ki Sanak” ajak Mahisa Murti yang kemudian membimbing orang itu keluar, dan kemudian membawanya ke pendapa. Sementara itu Mahisa Pukat berkata, “Rawatlah kawan-kawanmu yang pingsan. Mereka belum benar-benar mati. Tetapi jika perlu, aku memang akan membunuh”
Tidak ada yang menjawab Ketika Mahisa Pukat pun menyusul Mahisa Murti ke pendapa, maka beberapa orang pun telah merawat kawan-kawan mereka yang pingsan.
“Anak itu luar biasa” desis seseorang, “seolah-olah yang dilakukan itu tidak dapat kita tangkap dengan indera kita”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun ia berbisik, “Jika ternyata mereka adalah di antara orang-orang yang disebut Hantu Jurang Growong itu, maka kita akan mengalami nasib yang sangat buruk”
“Aku kira mereka justru bukan dari antara mereka” berkata yang lain.
“Darimana kau tahu?” bertanya kawannya.
Orang itu memandang orang yang bertubuh tinggi besar, yang bersama dengan orang bertubuh tinggi kekurusan, yang ternyata adalah Ki Jagabaya.
Orang bertubuh tinggi besar itu mengangguk sambil berkata, “Bukan. Mereka bukan orang-orang dari Jurang Growong. Mereka telah memaafkan kami di padang perdu meskipun kami sudah berbuat kasar”
“Mereka berpura-pura” desis seseorang.
“Tidak. Mereka benar-benar melepaskan kami berdua. Maksudku, aku dan Ki Jagabaya” jawab orang itu, “Ki Jagabaya lah yang minta kepada keduanya untuk singgah. Semula mereka sama sekali tidak ingin memasuki Kabuyutan ini. Mereka ingin melanjutkan perjalanan, karena keduanya adalah perantau”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Meskipun demikian ada juga di antara mereka yang masih tetap mencurigai kedua orang anak muda itu.
Sementara itu, di pendapa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk berhadapan dengan orang yang sudah menjadi biru pengab karena sikap orang-orang Kabuyutan itu.
“Jadi kau tidak tahu benar tentang Hantu Jurang Growong?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak Ki Sanak” jawab orang itu dengan suara gemetar karena menahan sakit yang menyengat di seluruh tubuh, “aku tidak tahu menahu”
“Baiklah. Aku percaya. Jika kau mengetahuinya, maka keadaan tubuhmu itu sama sekali tidak berarti dibanding dengan cacat jiwamu, karena kau sudah berkhianat. Tetapi jika kau benar-benar tidak tahu dan tidak berhubungan dengan Hantu Jurang Growong, besarkan hatimu. Kau akan dilepaskan” berkata Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang, “Tidak begitu caranya berbicara dengan seekor serigala anak-anak”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling. Dilihatnya seorang yang mempunyai ciri yang agak herbeda dengan orang-orang Kabuyutan itu. Orang itu mengenakan pakaian yang agak lebih baik. serta pengetrapannya yang lebih mapan.
Sejenak kemudian orang itu sudah berdiri di tangga pendapa. Katanya pula, “Kau tidak perlu merubah sikap yang telah diambil oleh para bebahu Kabuyutan ini. Aku juga tidak, karena kita orang lain disini. Apalagi menurut pendapatku, sikap keras dan tegas dari para bebahu disini sudah tepat sebagaimana seharusnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka segera mengetahui, tentu orang itulah yang dimaksud dengan seorang tamu yang telah memberikan beberapa petunjuk tentang penggunaan sumpit sebagai senjata.
Namun kedua anak muda itu tidak mengira bahwa sikap orang itu ternyata terlampau kasar menghadapi keadaan. Agaknya orang itu pulalah yang mendorong Ki Jagabaya dan para bebahu yang lain melakukan kekerasan yang berlebihan.
Karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab, maka orang itupun berkata, “Anak anak muda. Serahkan orang itu kembali kepada Ki Jagabaya. Biarlah ia menyelesaikan tugasnya. Orang itu harus mengaku. Ia benar-benar salah satu dari sekian banyak orang yang diperalat oleh Hantu Jurang Growong”
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “marilah kita berbicara tentang orang ini. Mungkin kita akan dapat menyebut beberapa bukti tetapi juga beberapa keberatan. Katakan, bagaimana mungkin Ki Sanak dapat memastikan bahwa orang ini telah berhubungan dengan yang disebut Hantu Jurang Growong itu”
“Ceriteranya cukup panjang, anak muda” jawab orang itu, “tetapi secara singkat dapat aku sebut, bahwa ia telah pergi ke tempat yang tidak diketahui. Ia datang dari arah yang mencurigakan. Ia datang dari hutan ilalang di sebelah padang perdu”
“Apakah dengan demikian sudah cukup alasan bagi kalian untuk menganggap bahwa orang ini bersalah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tentu Ki Sanak” jawab orang itu, “jika tidak berhubungan dengan Hantu Jurang Growong, ia tidak akan datang lewat hutan ilalang”
Mahisa Pukat mendekati orang itu. Kemudian katanya, “Katakan, apa alasanmu, bahwa kau telah melalui hutan ilalang?”
“Di sebelah hutan ilalang terdapat sebuah rawa yang tidak begitu besar. Aku mencari ikan di rawa itu” jawab orang itu.
“Apakah hal itu sudah kau katakan?” bertanya Mahisa Murti.
“Sudah Ki Sanak. Sebenarnya bukan aku sendirilah yang sering mencari ikan di rawa-rawa itu. Orang-orang padukuhanku yang lain telah melakukannya pula” berkata orang itu dengan gemetar.
“Kau bukan orang padukuhan ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Bukan. Aku orang padukuhan sebelah. Tetapi juga termasuk Kabuyutan ini” jawab orang itu.
“Nah, Ki Sanak. Bukankah ia sudah mengatakan alasannya, bahwa orang ini mencari ikan di rawa-rawa di balik hutan ilalang itu” berkata Mahisa Pukat.
“Dan aku masih membawa sekepis ikan ketika aku ditangkap” orang itu menjelaskan.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku lebih percaya kepada orang ini. Aku tidak melihat kelicikan dan kecerdikan di sorot matanya. Ia orang sederhana dan jujur”
“Anak-anak” berkata orang asing itu kemudian, “kau terlalu berani mengambil keputusan. Tetapi aku berpendirian lain. Orang itu tentu mempunyai hubungan dengan Hantu Jurang Growong”
“Kaulah yang terlalu berani mengambil keputusan” jawab Mahisa Pukat.
“Ternyata kau bukan saja terlalu berani mengambil keputusan,”geram orang itu, “tetapi kau juga terlalu lancang di hadapanku. Kau harus sadar, bahwa sikapmu itu akan dapat mencelakaimu”
“Nanti dulu Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “sebaiknya Ki Sanak duduk dengan baik, dan kita pun dapat berbicara dengan baik”
“Tidak ada gunanya anak-anak” jawab orang itu, “aku hanya minta, serahkan kembali orang itu kepada Ki Jagabaya. Persoalan di antara kita akan selesai. Kau boleh pergi kemanapun yang kau inginkan. Sudah tentu, kalian tidak boleh mencuri lagi pering cendani yang khusus itu. Jika kalian menginginkan untuk membuat tulup sekedar untuk menangkap burung, maka kau dapat mengambil pering cendani yang lain, yang ruasnya cukup panjang untuk keperluan itu”
“Maaf Ki Sanak” jawab Mahisa Murti, “persoalannya tidak akan berakhir sampai sekian. Aku tidak sekedar ingin pering cendani. He, siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa aku telah mengambil pering cendani?”
“Aku sudah mengetahuinya” jawab orang itu.
“Baiklah. Tetapi masalahnya bukan pering cendani. Bukan pula orang ini. Orang ini tentu hanya salah satu saja dari korban yang pernah mengalami nasib yang serupa. Menurut dugaanku, setiap orang yang kau curigai akan mengalami nasib seperti orang ini. Aku tidak tahu, apakah peristiwa semacam ini akan berakhir dengan kematian. Tetapi sebenarnyalah bahwa perbuatan kalian sama sekali tidak berarti”
“Kematian adalah peristiwa yang wajar di dalam keadaan yang gawat seperti ini. Jika orang yang berkhianat seperti orang itu tidak dibunuh, maka Kabuyutan ini akan menjadi semakin parah”
“Persetan” geram Mahisa Pukat, “jadi kalian telah pernah membunuh orang dalam persoalan seperti ini”
Yang sangat memanaskan hati Mahisa Pukat adalah justru orang itu tertawa. Katanya, “Orang-orang semacam itu pantas untuk berlatih kemampuan bidik dengan mempergunakan sumpit pering cendani yang beruas panjang itu”
“Gila” Mahisa Pukat tidak dapat menahan diri lagi. Ia pun kemudian bangkit dan melangkah menuruni tangga pendapa sambil menggeram, “Apakah Kabuyutan ini sudah kehilangan citra kemanusiaannya? He, apakah kalian tidak mempunyai paugeran yang dapat menjadi landasan untuk menjatuhkan hukuman?”
“Kenapa kau menjadi bingung seperti itu” orang itu masih tertawa.
“Kalian memang pantas untuk dilaporkan kepada Sang Akuwu. Sang Akuwu adalah orang yang bijaksana. Ia akan dapat mengambil keputusan yang paling pantas untuk menghukum kalian semuanya. Jika perlu, Kabuyutan ini akan dapat dimusnahkan” geram Mahisa Murti.
Orang itu mengerutkan keningnya. Ditatapnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun kemudian ia berkata, “ Aku tidak yakin akan kata-katamu. Akuwu tidak akan menerima kalian menghadap. Kalian pantas untuk diusir dari halaman istana daripada didengar keterangannya”
Mahisa Murti pun kemudian telah mendekat pula. Katanya, “Aku kenal Akuwu dengan baik. Aku dan saudaraku pernah menerima undangannya untuk singgah di istana. Apa yang kami berdua katakan tentu akan dipercaya”
“Itu omong kosong yang sangat menggelikan” jawab orang itu, “tetapi sebaliknya. Akuwu akan menerima aku. Aku adalah orang penting di Pakuwon ini”
“Apakah aku harus mempercayaimu?” potong Mahisa Pukat, “ceriteramulah yang ngaya-wara. Seorang yang mempunyai kedudukan penting tidak akan berbuat seperti yang kau lakukan itu. Perbuatanmu adalah perbuatan orang yang tidak berperadaban”
Wajah orang itu menjadi merah. Katanya, “Sekali lagi aku peringatkan. Jika kata-kataku kali ini tidak kalian dengar, maka aku akan mengambil sikap lain. Sikap yang barangkali paling sesuai untuk mengusir kalian dari tempat ini. Kemudian kami harus melanjutkan tugas kami memeriksa orang itu. Apakah orang itu akan mati karena ia berkeras untuk tidak mengakui keadaannya, atau ia kemudian akan mengaku, itu urusan kami. Apakah kami akan menempatkan orang itu menjadi sasaran latihan dan meningkatkan kemampuan bidik kami atau sasaran latihan yang lain. itupun urusan kami”
“Baiklah Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “sebaiknya aku dan saudaraku mempergunakan cara yang kau pilih”
“Apa maksudmu?” bertanya orang itu, “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Aku akan melakukan apa yang ingin kami lakukan. Bahwa kami akan membebaskan orang itu adalah urusan Kami. Bahwa kami akan berbuat apa saja disini adalah urusan kami. Kau tidak akan dapat melarang. Jika kau menganggap bahwa kau akan mempergunakan kekerasan, maka kamipun akan mempergunakan kekerasan”
“Tegasnya, aku tantang kau berperang tanding” potong Mahisa Pukat, “Kau dapat memilih senjata yang kau kehendaki. Aku tidak berkeberatan jika kau memilih senjata sumpit beracun sekalipun”
Sorot mata orang itu bagaikan membara. Bibirnya nampak bergetar sedangkan giginya gemeretak menahan gejolak perasaannya. Kemudian terdengar ia menggeram, “Anak setan. Kau akan aku bunuh bersama-sama”
“Jangan bicara tentang membunuh, agar tidak menimbulkan rangsang padaku untuk membunuhmu pula” bentak Mahisa Pukat.
Orang itu menjadi semakin marah. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kalian adalah orang-orang Jurang Growong yang ingin membebaskan kawan kalian. Tetapi kalian akan mati di banjar ini”
Tetapi jawaban Mahisa Pukat justru mengejutkan, “Aku mengambil kesimpulan, bahwa kau adalah salah satu dari Hantu Jurang Growong itu. Kau dengan sengaja telah menimbulkan kegelisahan di padukuhan dan bahkan Kabuyutan ini. Kau telah menyesatkan orang-orang padukuhan ini untuk mempergunakan sumpit sebagai pangganti busur dan anak panah, karena bagi Hantu Jurang Growong anak panah jauh lebih berbahaya dari sumpit yang sulit mempergunakannya. Berlatih membidik dengan sumpit adalah jauh lebih sulit dari mempergunakan busur dan anak panah. Aku menguasai keduanya dan aku dapat memperbandingkannya”
Kata-kata itu bagaikan bara yang menyentuh telinga orang itu. Sementara orang-orang padukuhan itupun menjadi berdebar-debar. Kata-kata Mahisa Pukat itu ternyata menjadi perhatian mereka.
Tetapi Mahisa Pukat tidak sempat berkata sepatah kata pun lagi. Orang itu dengan serta merta telah menyerangnya dengan garang. Kedua tangannya mengembang dan jari-jarinya terbuka. Seolah-olah orang itu hendak menerkamnya sebagaimana seekor harimau menerkam mangsanya.
Tetapi Mahisa Pukat sudah bersiaga. Ia pun sempat meloncat menghindar. Namun dengan demikian, Mahisa Pukat menyadari, bahwa ia telah berhadapan dengan lawan yang tangguh, sehingga karena itu. maka ia pun tidak mau kehilangan waktu. Demikian ia bergeser, maka kakinya pun telah berputar bertumpu pada kakinya yang lain. Demikian derasnya langsung menyerang lambung dalam putaran mendatar.
Serangan Mahisa Pukat itu tidak diduga sama sekali oleh lawannya yang menganggapnya masih terlalu kanak-kanak. Karena itu, maka orang itu tidak bersiap untuk menghindarinya. Meskipun ia berusaha juga bergeser, tetapi serangan Mahisa Pukat datang lebih cepat, sehingga yang dapat dilakukannya adalah dengan serta merta menangkis sambaran kaki yang kuat itu.
Tetapi benturan kekuatan itu tidak seimbang. Justru karena orang itu menganggap Mahisa Pukat tidak akan mampu melakukan serangan seperti itu.
Karena itu. maka tangan orang itu pun telah terdorong oleh kekuatan serangan Mahisa Pukat, sehingga orang itu terputar setengah lingkaran.
Mahisa Pukat telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan cepatnya ia melenting. Kakinya terjulur kesamping mendatar dengan lontaran badannya.
Benar-benar serangan yang sangat kuat, dilambari oleh sebagian besar kemampuan Mahisa Pukat.
Dengan dahsyatnya serangan itu menghantam punggung lawannya yang sedang berusaha untuk memperbaiki keadaannya setelah terputar oleh dorongan serangan Mahisa Pukat. Demikian derasnya, sehingga orang itu pun telah terdorong dan jatuh terjerembab.
Untunglah, bahwa ia pun memiliki kesigapan, sehingga wajahnya tidak terbanting mencium tanah. Beberapa kali orang itu berguling. Kemudian dengan sigapnya ia melenting berdiri.
Mahisa Pukat meloncat maju Namun ia harus berhati hati. Orang itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi pula. sehingga tubuhnya seolah-olah menjadi liat.
Sejenak kemudian keduanya telah berdiri berhadapan. Keduanya telah siap untuk menyerang dan diserang. Namun dengan demikian orang itu pun mengetahui, bahwa anak-anak itu memiliki kemampuan yang tidak diduga sebelumnya.
Meskipun demikian, orang itu masih juga sesumbar, katanya, “Marilah. Majulah berdua. Dengan demikian pekerjaanku akan cepat selesai. Kalian memang harus dibunuh untuk ketenangan padukuhan dan Kabuyutan ini”
“Kata-kataku tadi belum selesai” sahut Mahisa Pukat, “kau tentu orang dari gerombolan yang disebut Hantu Jurang Growong”
“Kau boleh mengigau apa saja. Tetapi kenyataan akan membuktikan. Marilah, jangan banyak bicara lagi. Majulah berdua” geram orang itu.
Mahisa Murti yang berdiri dipinggir arena menyahut, “Biarlah seorang di antara kami menunjukkan kepadamu, bahwa kau bukan orang yang pantas diagungkan di sini. Seorang di antara kami akan dapat mengalahkanmu”
Orang itu menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak mau tergesa-gesa. Ia pun kemudian bergeser setapak. Dipersiapkannya ilmunya sebaik-baiknya. Anak-anak itu benar-benar luar biasa. Untunglah bahwa mereka tidak mau bertempur berpasangan. Jika benar demikian, maka ia tidak lagi banyak mempunyai harapan.
“Kesombongannya akan menjebaknya dalam kesulitan” berkata orang itu di dalam hatinya, “aku akan dapat membunuhnya seorang demi seorang”
Sejenak kemudian, maka pertempuran di antara kedua orang itupun telah berlangsung lagi dengan dahsyatnya. Ternyata orang itu telah benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk segera membunuh Mahisa Pukat untuk selanjutnya membunuh Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Pukat tidak membiarkan dirinya menjadi korban. Ia pun memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan orang itu, sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru.
Keduanya pun kemudian sampai ke puncak kemampuan mereka. Dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata wadag. keduanya saling menyerang. Saling mendesak dan saling bertahan.
Dalam keadaan yang demikian, maka orang itu pun merasa bahwa ia tidak akan dengan cepat mengakhiri pertempuran itu. Sehingga karena itulah, maka akhirnya iapun telah meloncat surut. Ketika Mahisa Pukat bergeser mendekat, orang itu telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang.
Mahisa Pukat tertegun. Ia tidak mempunyai senjata panjang. Yang ada padanya hanyalah sebilah pisau belati di-bawah kain panjangnya. Namun, ia tidak dapat melawan pedang itu dengan tangannya. Ia sudah menjajagi kemampuan lawannya. Jika ia memiliki ilmu pedang setinggi kemampuannya bertempur dengan tangannya, maka ia akan dengan cepat mengalami kesulitan.
Karena itu. meskipun ia hanya mempunyai sebilah pisau belati saja, namun ia pun kemudian mencabut pisau belatinya dan siap menghadapi pedang panjang lawannya.
Terdengar orang itu tertawa. Katanya, “Kesombonganmu memang tidak dapat dimaafkan Dengan senjata mainan seperti itu. kau akan melawan ilmu pedangku”
“Aku tidak ingin menyombongkan diri Ki Sanak” Jawab Mahisa Pukat, “tetapi aku tidak mempunyai senjata lain. Pisau inilah yang aku pergunakan untuk memotong pering cendani sehingga timbul persoalan sehingga aku datang kepadukuhan ini”
“Tetapi kau benar-benar akan mati anak muda. Selagi kau masih sempat, lihatlah betapa cerahnya langit di sisa hari ini” berkata orang itu di antara suara tertawanya.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun ia pun berpaling ketika Mahisa Murti berkata, “Pertempuran itu harus adil. Jika kau hanya membawa sebilah pisau belati pendek Mahisa Pukat, maka kau sepantasnya membawa dua”
Sebelum Mahisa Pukat menjawab, Mahisa Murti telah melemparkan pisau belatinya pula kepada saudara laki-lakinya.
Dengan tangkas Mahisa Pukat menangkap pisau itu. Kemudian dengan sepasang pisau belati di kedua tangannya, maka ia pun lelah siap menghadapi lawannya yang bersenjata pedang panjang.
Orang yang berpedang panjang itupun termangu-mangu sejenak, ia melihat kedua tangan Mahisa Pukat menggenggam sepasang pisau belati dengan sangat meyakinkan, sehingga dengan maka ia pun menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan mempergunakannya.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah bersiap. Orang berpedang itu mulai menjulurkan pedangnya. Memutarnya kemudian dengan cepat menyerang mendatar.
Mahisa Pukat sudah bersiap. Ia sadar, bahwa lawannya berusaha untuk menjajagi kemampuannya mempermainkan pisau-pisaunya. Karena itu. maka ia pun tidak terlalu banyak berbuat sesuatu. Namun ia justru bersiap-siap menghadapi serangan-serangan yang sebenarnya.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah benar-benar terlibat dalam pertempuran yang sebenarnya. Senjata mereka berputaran, menyambar, mematuk dengan dahsyatnya. Mahisa Pukat yang mempergunakan senjata yang lebih pendek, mempunyai kesempatan lebih kecil untuk menggapai lawannya dengan senjatanya. Namun ia mampu mempergunakan sepasang pisau belati untuk membentengi dirinya dengan rapat sekali. Seolah-olah sepasang pisau belati itu tidak akan mungkin dapat ditembus, meskipun hanya seujung duri sekalipun.
Orang berpedang itu mulai menyadari, bahwa anak muda itu bukan orang kebanyakan. Ternyata anak muda yang melawannya itu menguasai ilmu pedang sebaik-baiknya. Meskipun yang di tangannya adalah senjata pendek, tetapi sepasang senjata pendek ilu benar-benar mampu melindungi dirinya dengan rapat sekali.
Benturan-benturan pun telah berlangsung dengan dahsyatnya. sehingga bunga apinya berhamburan.
Dengan kemarahan yang bergejolak di dadanya. orang berpedang itu menyerang dengan kecepatan yang mendebarkan. Senjatanya yang lebih panjang nampaknya memberikan kemungkinan kepadanya lebih baik dari lawannya. Meskipun demikian, ayunan senjatanya selalu membentur senjata pendek anak muda yang melawannya itu.
Ketika ia menusuk lurus ke arah dada. Mahisa Pukat sempat bergeser sambil memukul pedang lawannya ke samping. Namun lawannya itu memutar pedangnya justru ancang-ancang untuk mengayunkannya langsung mengarah kekepalanya.
Mahisa Pukat menyadari, betapa dahsyatnya kekuatan yang mendorong ayunan pedang itu. Karena itu, maka ia pun segera menyilangkan pisau belatinya di atas kepalanya.
Benturan yang dahsyat telah terjadi. Namun sekali lagi orang berpedang itu merasa bahwa kekuatan anak muda itu tidak berada di bawah tataran kekuatannya.
Karena itu, maka ia pun menjadi gelisah. Anak muda itu memiliki kelebihan. Bahkan kecepatannya bergerak pun mulai mencemaskannya. Tetapi orang berpedang itu masih tetap berpengharapan ia masih berharap kelebihan pada senjatanya. Dengan pedang panjang itu ia akan dapat menjangkau kulit lawannya.
Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Mahisa Pukat berloncatan dengan cepatnya. Sementara sepasang pisau belatinya bergetar bagaikan sayap burung sikatan yang melindungi seluruh tubuhnya.
Mahisa Murti yang berdiri di luar arena menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak terlalu mencemaskan keadaan Mahisa Pukat. Ia melihat beberapa kelebihan saudara laki lakinya. Meskipun demikian putaran senjata lawannya yang lebih panjang itu membuatnya menahan nafas.
Orang-orang padukuhan itu memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Mereka tidak tahu lagi, apa yang dapat mereka lakukan. Pertempuran itu sudah berada di luar jangkauan kemampuannya untuk mengikutinya. Mereka hanya melihat loncatan loncatan panjang, kemudian putaran senjata dan benturan-benturan yang mendebarkan.
Namun mereka tidak dapat menilai, apa yang akan terjadi dengan kedua orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu.
Sementara itu, seseorang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ia adalah seorang di antara orang-orang padukuhan itu. Ia adalah orang yang mendapat seorang tamu yang telah memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang padukuhan itu untuk membuat senjata dari pering cendani”
Namun beberapa lamanya ia telah dicengkam oleh kecemasam. Agaknya orang bersenjata pedang panjang itu semakin menjadi semakin sulit menghadapi seorang anak yang masih terlalu muda dengan senjata sepasang pisau belati di tangannya. “Anak itu berilmu iblis” berkata orang itu.
Sejenak ia memperhatikan pertempuran itu. Namun kemudian, ia pun memperhatikan Mahisa Murti yang termangu-mangu.
“Anak yang satu itu sudah tidak bersenjata. Pisau belatinya telah diberikan kepada anak muda yang sedang bertempur itu” berkata orang itu di dalam hatinya, “seandainya anak itu juga memiliki kemampuan seperti anak yang sedang bertempur itu, maka ia akan mengalami kesulitan melawan pedang panjang.
Sejenak orang itu termangu-mangu. Ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Tetangga-tetangganya sama sekali tidak mengetahui tentang dirinya sebagaimana sebenarnya. Ia tidak pernah dikenal sebagai seseorang yang berilmu. Hidupnya tidak lebih dari seorang petani biasa.
Namun demikian, pada saat yang penting, ia tidak dapat berdiam diri. Orang yang menjadi tamunya itu mulai terdesak Nampaknya anak muda yang bersenjata sepasang pisau belati itu benar-benar akan mengakhiri pertempuran sampai tuntas. Karena itu, setelah mempertimbangkan beberapa segi. akhirnya ia mengambil keputusan untuk bertindak cepat, justru pada saat tamunya itu masih mampu berbuat sesuatu. Bahkan kadang-kadang masih dapat mendesak lawannya yang masih muda itu.
Selangkah demi selangkah ia bergeser mendekati Mahisa Murti. Sebagaimana orang-orang padukuhan itu, pada saat yang mereka anggap berbahaya itu, sebagian dari mereka telah membawa senjata apa saja yang mereka miliki. Karena itu, maka orang yang mendekati Mahisa Murti itu sama sekali tidak menarik perhatian karena senjatanya.
Namun ketajaman penggraitan Mahisa Murti seolah-olah telah memperingatkannya, bahwa seseorang telah mendekatinya dengan maksud tertentu. Karena itu, maka Mahisa Murti pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan ia pun sempat bergeser tanpa dicurigai oleh orang itu, karena seolah-olah perhatian Mahisa Murti tertumpah kepada pertempuran di arena. Seolah-olah ia bergeser karena pertempuran itu memang sangat mendebarkan.
Tetapi Mahisa Murti telah mendekati seseorang yang membawa senjata pula. Senjata yang barangkali tidak akan dapat dipergunakan oleh pemiliknya. Karena senjata itu adalah sebatang canggah yang sudah karatan bertangkai kayu gelugu yang sudah kehitam-hitaman. Namun tangkai itu adalah kayu yang terlalu tua, sehingga menjadi keras dan liat seperti besi.
Sejenak Mahisa Murti masih menunggu. Mungkin ia keliru. Tetapi ia tetap waspada menghadapi setiap kemungkinan.
Untuk beberapa saat masih belum terjadi sesuatu atas Mahisa Murti. Orang yang bergeser mendekatinya itu masih memperhatikan Mahisa Pukat yang bertempur dengan pisau belati rangkap.
Namun demikian. Mahisa Murti pun masih tetap berhati-hati menghadapinya. Sementara itu. Mahisa Pukat dan lawannya masih saja bertempur dengan sengitnya. Sebenarnyalah Mahisa Pukat pun menjadi heran, bahwa di tempat itu ia telah berhadapan, dengan seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. “Untunglah, bahwa kami membawa bekal yang cukup” berkata Mahisa Pukat. Karena di dalam diri Mahisa Pukat tersimpan kemampuan yang disadapnya bukan saja dari ayahnya, tetapi juga dari pamannya Witantra yang mempunyai sumber ilmu yang sama dengan ayahnya dan dari orang yang memiliki sumber ilmu yang berbeda. Mahisa Agni. Namun yang ternyata ilmu yang bersumber dari perguruan yang berbeda itu telah luluh di dalam diri anak-anak muda itu. Karena itulah, maka ia pun telah membuat lawannya itu menjadi heran pula. Anak muda itu ternyata mampu mengimbanginya. Bahkan dalam beberapa hal, anak muda itu memiliki kelebihan sehingga ia bahkan dapat mendesaknya.
Sejenak pertempuran itu mencengkam semua orang yang ada dihalaman itu. Namun sejenak kemudian, arena itu telah dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah diduga oleh orang-orang padukuhan itu sendiri.
Pada saat-saat perhatian mereka tercengkam oleh pertempuran yang dahsyat antara Mahisa Pukat dan lawannya yang bersenjata pedang panjang, tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring di pinggir arena.
Semua orang telah berpaling. Bahkan yang sedang bertempur itu pun telah terpengaruh pula, sehingga keduanya telah meloncat mengambil jarak.
Pada saat itulah, seseorang telah meloncat sambil menyerang Mahisa Murti dengan sebilah pedang panjang.
Tetapi serangan itu tidak menggetarkan jantung Mahisa Murti. Ia telah bersiap sepenuhnya. Karena itu. maka ia pun dengan tangkasnya telah menghindari serangan itu.
Bahkan dengan kecepatan yang mengherankan, ia telah menyambar canggah di tangan seseorang yang berdiri termangu mangu.
“Aku pinjam senjatamu” berkata Mahisa Murti, “mungkin kau tidak pernah mempergunakannya sebelumnya. Entah darimana kau dapat senjata semacam itu”
Orang yang memegang canggah itu hanya berdiri saja mematung. Ketika tangkai canggahnya lolos dari tangannya, iapun masih tetap berdiri kebingungan
Sementara itu. Mahisa Murti telah meloncat ke halaman. Ia siap menyongsong lawannya yang memburunya dengan pedang di tangan.
Namun orang itu mengumpat ketika ia melihat, di tangan Mahisa Murti telah tergenggam senjata yang akan dapat melawan pedang panjangnya.
“Anak iblis” geram orang itu.
“Tunggulah Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “apakah alasan Ki Sanak menyerang aku”
“Aku tidak peduli” geram orang itu, “kawanmu telah membuat jantung kami bergelora. Orang yang melawannya itu adalah tamuku. Aku tidak akan dapat membiarkannya bertempur tanpa ujung dan pangkal”
“Anak muda itu adalah saudaraku” jawab Mahisa Murti, “tetapi aku tidak mengerti alasanmu. Kenapa kau sebut bahwa tamumu itu bertempur tanpa ujung dan pangkal?”
“Kau berdua adalah orang-orang yang telah merusak segala usaha kami sepadukuhan ini untuk mengusut Hantu Jurang Growong. Karena itu. Kalian memang harus dimusnahkan” jawab orang itu.
Mahisa Murti tidak bertanya lebih lanjut. Orang itu menyerangnya dengan dahsyatnya.
Orang-orang padukuhan itu menjadi heran. Ternyata tetangga yang mereka anggap tidak lebih dari mereka sendiri itu, kemudian mampu bertempur dengan dahsyatnya Ternyata orang itu memiliki ilmu yang tinggi sebagaimana tamunya yang telah menganjurkan orang-orang padukuhan itu mempergunakan sumpit untuk melawan Hantu Jurang Growong.
Namun dalam pada itu, ternyata Ki Jagabaya bukan orang yang terlalu bodoh. Jika untuk beberapa saat ia dapat dipermainkan oleh tamu yang bertempur melawan Mahisa Pukat itu. kemudian ternyata bahwa ia mampu mengamati keadaan.
Justru karena tetangganya yang disangka tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan itu kemudian menunjukkan kemampuannya, maka ia menjadi curiga.
“Selama ini ia telah menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya” berkata Ki Jagabaya didalam hatinya.
Baru kemudian Ki Jagabaya sadar, bahwa tetangganya itu pernah meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama.
“Tentu selama itu ia berhasil menguasai ilmu yang dahsyat itu” berkata Ki Jagabaya didalam hatinya, “tetapi apakah artinya, bahwa ia telah menyamarkan dirinya seakan-akan ia tidak lebih dari tetangga-tetangganya?”
Sementara itu, Mahisa Pukat yang menyadari apa yang telah terjadi, ternyata telah menjadi semakin marah pula. Tetapi latihan-latihan yang tekun telah membuatnya sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak dapat bertempur semata-mata dengan perasaannya. Ia harus tetap mempergunakan nalarnya untuk melawan pedang panjang lawannya.
Demikianlah, dihalaman itu telah terjadi dua arena pertempuran. Mahisa Pukat dengan pisau belati rangkap melawan seorang yang berpedang panjang, sementara Mahisa Murti juga melawan pedang panjang dengan canggah bertangkai panjang.
Sejenak kemudian, ternyata bahwa Mahisa Murti memiliki kemampuan yang tangguh untuk mempermainkan senjatanya itu. Dengan canggah bertangkai kayu gelugu itu Mahisa Murti telah melawan senjata yang berputaran di tangan seorang yang memiliki ilmu pedang yang tinggi. Namun ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti pun mampu mengimbangi kemampuan orang itu.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Pedang panjang ditangan orang yang menyamar diri antara tetangga-tetangganya, seolah-olah ia tidak lebih dari seorang petani kebanyakan itu, ternyata sangat berbahaya.....
Bersambung...
**********************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar