*HIJAUNYA LEMBAH. JILID : 004-03*
“Gila,” Singatama berteriak, “aku bunuh kau pertama. Kau orang baru di padepokan kami, sehingga kau tidak mengetahui tingkat kemampuan Singatama”
“Kau kira, kami akan silau melihat tingkat kemampuanmu? Baiklah. Jika kau ingin mengambil gadis itu, kau harus menempuh sayembara ini. Sayembara tanding. Jika kau berhasil mengalahkan kami para cantrik, maka kau akan dapat membawanya keluar dari padepokan kami” sahut Mahisa Pukat.
Kemarahan Singatama benar-benar telah membakar kepalanya. Dengan kemarahan yang meluap itu ia berteriak, “Bersiaplah untuk mati”
Singatama yang telah meloncat turun dari kudanya diikuti oleh kedua orang saudara seperguruannya itu setelah mengikatnya pada sebatang pohon perdu, telah melangkah mendekat sambil berkata, “Aku akan membakar padepokan ini”
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan mereka berdua telah melangkah keluar pintu regol padepokannya.
Namun dalam pada itu, dari dalam regol ia mendengar Mahendra berkata perlahan-lahan, “Jika mereka dapat kau kalahkan, beri kesempatan mereka menyampaikan persoalan ini kepada gurunya. Dengan demikian, kita berharap bahwa seisi padepokannya akan datang kemari.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Tetapi mereka tidak menjawab.
Dalam pada itu, Singatama yang marah itu sempat juga menjadi heran. Yang keluar dari pagar kayu itu hanya dua orang saja. Dua orang cantrik yang telah melarikan diri dari padepokannya.
“Jangan hanya kau berdua” teriak Singatama, “apalagi kalian adalah orang-orang baru yang tidak berarti. Biarlah semua cantrik datang mengerubutku”
“Mereka hanya akan nonton” berkata Mahisa Murti. Sebenarnyalah, beberapa orang cantrik telah berdiri berjajar di sebelah menyebelah regol di bagian dalam dengan alas kayu, batu atau dingklik-dingklik kecil. Mereka memang hanya akan menonton perkelahian yang akan terjadi.
Dengan menunjukkan kelebihan dua orang di antara para cantrik, maka mereka berharap, bahwa mereka akan dapat memancing kedatangan bukan saja kawan-kawan seperguruan Singatama, tetapi juga gurunya, yang merupakan sumber penyebaran ilmu yang tidak pantas bagi kehidupan manusia.
Kemarahan Singatama memang sudah tidak tertahankan lagi. Namun Mahisa Murti masih berkata, “Lihat Singatama. Kali ini dua orang diantara mereka akan menghadapimu. Kau dapat membayangkan. Jika mereka semuanya keluar dari padepokan ini, maka kau benar-benar akan menjadi sayatan kulit dan daging”
“Tutup mulutmu” geram Singatama, “kau jangan membual saja. Marilah, aku antarkan kau ke batas maut”
Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia berkata kepada Mahisa Pukat, “Kau sajalah yang menjadi saksi. Aku sendiri akan menghadapi Singatama. Biarlah ia mengerti, bahwa tidak semua orang yang memasuki sebuah padepokan menjadi seorang cantrik akan dapat diperlakukan sewenang-wenang”
“Aku sobek mulutmu” geram Singatama.
“Yang penting bagiku, bukan menang atau kalah. Tetapi aku sudah menyatakan diriku. Aku tidak akan dapat diperlakukan sewenang-wenang. Mungkin kau akan dapat membunuh aku. Wadagku akan terbaring diam. Tetapi kau tidak akan dapat memperbudak jiwaku. Meskipun tubuhku dapat kau kuasai, tetapi kau tidak akan dapat mengikat kebebasan jiwaku” berkata Mahisa Murti.
Singatama tidak dapat menahan diri lagi. Dengan langkah panjang ia meloncat, langsung menyerang Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti memang sudah siap. Dengan sigapnya ia pun telah mengelakkan serangan itu, sehingga serangan Singatama sama sekali tidak menyentuh sasaran.
Dalam pada itu, kepala-kepala para cantrik dan orang-orang yang berada di balik pagar itupun menjadi semakin banyak bermunculan di balik pagar. Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra pun telah melihat perkelahian itu pula, sementara Mahisa Bungalan yang gelisah, berdiri di sebelah pintu. Seolah-olah ia sudah mempersiapkan diri untuk meloncat ke arena jika diperlukan. Dari sela-sela batang-batang kayu yang memagari padepokan itu, ia dapat melihat, apa yang telah terjadi diluar.
Mahisa Pukat pun menjadi tegang. Tetapi ia mempunyai kewajiban untuk mengawasi dua orang saudara seperguruan Singatama. Jika mereka melibatkan diri. maka Mahisa Pukat harus mencegahnya.
Sejenak kemudian, maka pertempuran antara Mahisa Murti dan Singatama itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya adalah anak-anak muda, dan keduanya memiliki ilmu yang cukup tinggi meskipun bersumber dan berwarna lain.
Singatama yang marah itu bertempur semakin lama menjadi semakin kasar, sesuai dengan sifat ilmunya. Namun Mahisa Murti dengan cepat menyesuaikan diri. Ia melawan kekasaran lawannya dengan kemampuannya bergerak secepat burung sikatan.
Dalam pada itu, di dalam padepokan yang dibuat untuk menjebak Singatama dan perguruannya itu, seorang gadis sedang menggigil ketakutan. Ia tahu apa yang telah terjadi diluar. Seorang anak muda yang keras, kasar dan memiliki ilmu yang tinggi telah datang untuk mencarinya.
“Apakah orang-orang di dalam lingkungan pagar ini akan dapat mencegahnya ayah” bertanya Widati kepada ayahnya yang juga menjadi berdebar-debar.
“Diantara mereka terdapat beberapa orang prajurit Widati. Tanpa mereka, aku tidak akan membiarkan kau bersama dengan orang-orang yang belum aku kenal dengan baik” berkata Ki Buyut.
“Tetapi orang-orang di tempat ini berbuat baik ayah. Nampaknya mereka memegang satu paugeran yang teguh. Namun yang mencemaskan aku, apakah pada suatu saat, apabila anak muda yang kasar itu datang bersama kawan- kawannya, padepokan ini akan dapat melawan” bertanya Widati dengan suara bergetar.
“Anak itu hanya datang bertiga” jawab ayahnya.
“Sekarang mereka datang bertiga” berkata Widati, “tetapi aku tahu, ia adalah seorang murid dari satu perguruan yang besar. Jika kali ini ia harus menelan kekalahan, maka esok atau lusa mereka akan datang bersama banyak orang dan yang barangkali bersama dengan gurunya pula”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Hal itu memang mungkin terjadi. Tetapi untuk menenangkan anaknya ia berkata, “Widati, di padepokan bayangan ini terdapat sejumlah orang yang terdiri dari bermacam-macam latar belakang kehidupan. Ada di antara mereka benar-benar cantrik dari sebuah padepokan. Ada di antara mereka prajurit yang dalam tugas melindungi orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, seperti yang mungkin terjadi atas dirimu. Dan ada di antara mereka adalah dua orang perantau yang pernah berada di Kabuyutan kita. Aku yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan”
Widati mengangguk-angguk. Tetapi ketika ayahnya bergeser gadis itu berkata, “Ayah, jangan pergi”
“Aku akan melihat apa yang terjadi di luar pagar” berkata ayahnya.
“Jangan tinggalkan aku sendirian” pinta anaknya.
Ki Buyut mengurungkan niatnya. Tetapi ia mengetahui bahwa yang berada di luar pagar adalah dua orang anak muda yang pernah berada di Kabuyutan mereka. Dua orang anak muda yang memang memiliki kemampuan yang tinggi. Sehingga dengan demikian maka mereka sama sekali tidak gentar menghadapi Singatama dengan dua orang seperguruannya.
Dalam pada itu, pertempuran antara Singatama dan Mahisa Murti itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya mulai mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada mereka.
Singatama yang kasar itupun menjadi semakin kasar. Kedua tangannya kadang-kadang nampak mengembang sebagaimana juga dengan jari-jarinya. Dengan teriakan- teriakan yang keras ia menyerang dengan garangnya.
Tetapi Mahisa Murti mampu mengimbangi dgn kecapaian geraknya. Serangan-serangan Singatama yang keras dan kasar itu mampu dihindarinya. Bahkan serangan-serangan Mahisa Murti yang cepat, mampu menembus pertahanan Singatama, sehingga sekali dua kali, justru Mahisa Murti lah yang mulai mengenainya.
Singatama yang marah itu menggeram. Tata-geraknya menjadi semakin kasar. Tanpa menghiraukan apapun juga, kekasarannya semakin menjadi-jadi.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, bahwa sebenarnyalah Mahisa Murti masih mempunyai kelebihan dari Singatama itu. Betapapun kasar dan liarnya serangan-serangan yang datang membadai, namun Mahisa Murti masih selalu dapat mengatasinya. Meskipun akhirnya serangan-serangan lawannya itu dapat mengenainya juga, namun Mahisa Murti masih mampu mengenai lawannya lebih banyak lagi.
Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Meraka melihat sesuatu yang agak lain pada Mahisa Murti. Namun ketajaman pengamatannya segera mengetahui, bahwa ada unsur-unsur gerak yang baru terselip dalam tata gerak Mahisa Murti, tanpa merusakkan keseluruhan ilmunya. Bahkan seolah-oiah mampu mengisi kekurangan yang kadang-kadang terdapat di antara unsur-unsur gerak anak muda itu di dalam perkelahian yang cepat.
“Ia berhasil membuka diri atas pengalaman baru di dalam dunia kanuragan” berkata Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Sama sekali tidak merugikan. Tetapi justru berhasil meningkatkan kemampuannya dalam keseluruhan”
Mahendra tidak memberikan tanggapan sesuatu. Tetapi ia sependapat, bahwa dengan demikian, ilmu Mahisa Murti menjadi semakin lengkap.
Dalam pada itu, maka perkelahian yang seru itupun berlangsung semakin cepat. Keduanya bertempur dengan segenap kemampuan mereka.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa kemampuan Mahisa Murti memang lebih tinggi dari Singatama. Meskipun Singatama bertempur dengan garangnya, namun semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa ia mulai terdesak.
Sementara itu, kedua saudara seperguruannya memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Sekali- sekali terdengar keduanya mengumpat dengan kasarnya.
Namun akhirnya keduanya pun dapat melihat, bahwa ilmu anak muda yang menyebut dirinya seorang di antara para cantrik itupun ternyata lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki oleh Singatama.
“Gila” geram salah seorang diantara kedua orang itu, “tentu ada sesuatu yang tidak wajar. Jika kedua orang itu benar-benar cantrik di padepokan Empu Nawamula, maka keduanya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan Singatama.
Tetapi kenyataan yang mereka hadapi tidak demikian. Cantrik itu dapat mendesak Singatama, betapapun Singatama mengerahkan kemampuannya. Bahkan sekali- kali Singatama telah terdorong oleh serangan Mahisa Murti sehingga kadang-kadang Singatama harus berloncatan menjauh.
Namun semakin lama, kesulitan Singatama pun mendekati saat yang menentukan. Serangan Mahisa Murti menjadi semakin cepat. Sekali-sekali Singatama telah terdorong beberapa langkah oleh serangan Mahisa Murti yang mengenainya. Bahkan kadang-kadang terdengar Singatama mengeluh tertahan.
Mahisa Murti justru mempergunakan saat-saat yang demikian untuk menekan lawannya yang kasar itu. Ketika Singatama berusaha meloncat menghindar sejauh-jauhnya oleh serangan beruntun, Mahisa Murti telah memburunya. Demikian Singatama berhasil memperbaiki keadaannya, Mahisa Murti telah menyerangnya dengan kekuatan yang penuh.
Singatama tidak sempat menghindar lagi. Karena itu, maka serangan Mahisa Murti itu telah melemparkannya beberapa langkah, sehingga Singatama itu pun jatuh berguling di tanah.
Kedua saudara seperguruannya memperhatikannya dengan jantung yang berdebaran. Namun mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Dengan serta merta merekapun telah melangkah mendekat.
Mahisa Pukat yang mengamatinya pun tidak membiarkan mereka melibatkan diri dan bertiga bertempur melawan Mahisa Murti. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah melangkah maju pula sambil berkata, “Marilah, jika kalian ingin bermain-main pula, aku akan melayani kalian”
“Persetan” geram seorang di antara mereka, “aku tidak mau bermain-main. Aku akan mempertaruhkan nyawaku. Kita akan bertempur sampai mati”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Kedua saudara seperguruan Singatama itu langsung menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang.
Mahisa Pukatpun tidak mau bertempur tanpa senjata. Karena itu, maka ia pun telah menarik pedangnya pula. Pedang yang telah dipersiapkannya.
Tetapi dalam pada itu, keadaan Singatama benar-benar gawat ketika Mahisa Murti siap untuk menyerangnya selagi ia berusaha untuk bangkit.
Karena itulah, maka salah seorang saudara seperguruannya tidak membiarkannya dihancurkan oleh cantrik yang ternyata memiliki kemampuan yang tinggi itu.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Mahisa Murti dengan senjatanya.
Mahisa Murti mengurungkan niatnya untuk menyerang. Ia harus memperhatikan serangan senjata lawannya yang baru itu.
Sementara itu, saudara seperguruan Singatama yang lain, telah dengan serta merta menyerang Mahisa Pukat yang sudah siap untuk melawannya. Karena itu, maka serangan lawannya itu sama sekali tidak membahayakannya. Bahkan dengan mudahnya ia mengelak dan bahkan dengan cepat pula, ia menjulurkan senjatanya mengarah ke lambung lawan.
Pada saat itu, Mahisa Murti tengah meloncat menghindari serangan pedang lawannya yang baru. Sementara itu Singatama pun telah bangkit pula. Betapa perasaan sakit di tubuhnya, namun ia masih mampu bangkit dan menggeram, “Orang itu memang harus dibunuh”
Semula Singatama masih ingin menunjukkan kelebihannya dengan bertempur tanpa senjata. Namun ternyata bahwa ia tidak mampu mengatasi kemampuan lawannya, sehingga karena itu, maka ia pun kemudian telah menarik senjatanya pula. Sebilah pedang sebagaimana kedua orang saudara seperguruannya.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang melihat Singatama juga menarik pedangnya dengan cepat berusaha untuk menyesuaikan diri. Meskipun kemudian Mahisa Murti juga menarik pedangnya, namun agaknya mereka harus menempatkan diri dalam kedudukan yang sama.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Pukat pun telah bergeser mendekati Mahisa Murti. Agaknya Mahisa Murtipun menyadari, hahwa ketiga orang saudara seperguruan itu memiliki ilmu yang berbahaya pula.
Karena itu, sebaiknya tidak seorang di antara mereka berdua yang harus bertempur melawan dua orang. Karena itu, maka mereka berdua, tanpa membicarakannya, telah berusaha untuk saling mendekat. Sehingga akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah bertempur berpasangan melawan tiga orang saudara seperguruan yang dipimpin oleh Singatama.
Tetapi sebenarnyalah Singatama sendiri sudah mulai menjadi letih. Tubuhnya terasa sakit di beberapa tempat, karena sentuhan serangan Mahisa Murti. Tulang-tulangnya serasa retak dan kulitnya menjadi bengkak-bengkak.
Namun demikian, dengan senjata ditangan, ia masih tetap seorang yang berbahaya.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang memperhatikan pertempuran itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka telah memegang, senjata di tangan masing-masing.
Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Singatama dan kedua orang saudara seperguruannya, bertempur dengan kasar. Senjata mereka berputar di-antara teriakan-teriakan yang kasar.
Para cantrik yang berada di dalam pagar menyaksikan pertempuran itu dengan jantung berdebaran. Teriakan-teriakan Singatama dan kedua orang saudara seperguruannya, rasa-rasanya bagaikan menusuk hati.
Bagaimanapun juga, mereka masih saja selalu dibayangi oleh kecemasan. Meskipun mereka sudah berusaha untuk tidak menjadi ketakutan, namun rasa-rasanya sikap ketiga orang saudara seperguruan itu benar-benar mengerikan.
Tetapi mereka pun melihat, bahwa dua orang perantau yang datang dan kemudian menyebut diri mereka cantrik juga bersama yang lain di padepokan Empu Nawamula itu, dan bahkan dalam latihan-latihan olah kanuragan keduanya tidak menunjukkan kelebihan dari para cantrik yang lain, ternyata berhasil mengimbangi kemampuan Singatama dan kedua saudara seperguruannya. Bahkan tiga orang saudara seperguruan itu tidak mampu mendesak dua orang lawannya yang masih sangat muda itu.
Sebenarnyalah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berbekal ilmu yang tinggi, mampu bertahan melawan Singatama dengan dua orang saudara seperguruannya. Bagaimanapun juga garangnya serangan mereka yang datang bagaikan prahara, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil melindungi diri mereka dengan rapatnya. Bahkan mereka pun sekali-sekali berhasil mendesak lawan-lawannya dengan serangan-serangan yang berbahaya.
Betapapun garang dan kasarnya Singatama dan kedua saudara seperguruannya, namun ternyata bahwa kecepatan gerak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuat mereka kadang-kadang menjadi bingung dan kehilangan sasaran.
Dengan bertempur berpasangan, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merupakan kekuatan yang sulit untuk dipatahkan. Sekali-sekali keduanya terlepas dari ikatan tata gerak berpasangan. Dalam kesempatan yang demikian keduanya justru berloncatan menyerang dengan senjata mereka yang bergetar dengan dahsyatnya.
Demikianlah, semakin lama semakin ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berhasil menguasai ketiga orang lawannya. Singatama yang letih menjadi semakin letih. Tenaganya telah jauh susut, sementara tubuhnya terasa semakin lemah dan sakit-sakit.
Dalam keadaan yang gawat, serangan Mahisa Murti justru lebih banyak mengejarnya. Mahisa Murti yang menganggapnya sebagai pemimpin dari ketiga orang saudara seperguruan itu, berpendapat, apabila Singatama itu dapat dilumpuhkan, maka kedua orang saudara seperguruannya tidak akan banyak dapat berbuat.
Karena itulah, maka serangan-serangan Mahisa Murti lebih banyak tertuju kepada Singatama daripada saudara- saudara seperguruannya.
Semula, Mahisa Pukat tidak begitu menyadari usaha Mahisa Murti. Namun akhirnya iapun mengetahuinya juga, sehingga karena itu, maka iapun telah melakukan hal yang serupa.
Karena itulah, maka keadaan Singatama semakin lama menjadi semakin sulit. Meskipun kedua orang saudara seperguruannya telah bertempur dengan sepenuh kemampuan mereka, tetapi ternyata bahwa mereka tidak berhasil membendung serangan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang datang bergelombang atas Singatama.
Dengan demikian, maka keadaan Singatama yang sudah menjadi sangat letih itu semakin lama menjadi semakin sulit. Bahkan akhirnya, ia tidak mampu lagi menghindari ujung senjata Mahisa Murti, sehingga terdengar ia mengeluh tertahan ketika ujung pedang Mahisa Murti menggores pundaknya.
Singatama meloncat beberapa langkah surut. Kedua orang saudara seperguruannya telah mencoba untuk melindunginya.
Luka di pundak Singatama itu tidak terlalu dalam. Tetapi darah yang mengalir dari luka itu telah membuat hatinya menjadi kecut. Apalagi ia pun tidak dapat mengabaikan kesulitan yang semakin lama menjadi semakin mendesaknya bersama kedua orang saudara seperguruannya.
Sementara itu, selagi Singatama merenungi lukanya, serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang membadai, sehingga kedua orang lawannya pun telah terdesak surut. Bahkan tiba-tiba saja seorang diantara mereka mengumpat kasar ketika terasa segores luka di lengannya.
“Anak setan” geramnya. Tetapi lukanya itu kemudian telah mengalirkan darah.
Demikianlah ketiga saudara seperguruan itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bertahan lebih lama lagi. Serangan-serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin lama menjadi justru semakin cepat.
Dalam keadaan yang demikian, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah merubah sikap mereka. Keduanya tidak lagi bertempur berpasangan pada jarak dekat dan kadang-kadang beradu punggung. Tetapi keduanya justru telah berpencar. Keduanya menghadapi lawan mereka pada jarak beberapa langkah setelah ketiga orang lawan mereka menjadi sangat lemah.
Pada saat yang demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebenarnya mempunyai kesempatan yang cukup untuk segera mengakhiri pertempuran. Bahkan seandainya mereka ingin membunuh lawan mereka.
Menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian berpencar, Singatama dan kedua orang saudara seperguruannya menjadi bingung. Apalagi ujung-ujung senjata kedua anak muda itu telah menyentuh tubuh mereka pula.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak melupakan tujuan mereka yang sebenarnya. Apalagi dengan kehadiran ayah dan paman-paman mereka. Bahkan Mahisa Bungalan dengan beberapa orang prajurit Singasari dalam tugas mereka.
Yang penting adalah memancing sekelompok orang dari sebuah padepokan yang telah menumbuhkan kegelisahan. Dengan kekalahan Singatama dan kedua orang saudara seperguruannya, maka orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi marah. Mereka akan terjebak kedalam satu langkah yang dapat menjadi bukti tingkah laku mereka yang tidak menghormati hak dan kebebasan orang lain. Jika mereka memaksa untuk mengambil Widati yang berada di lingkungan padepokan baru itu, maka hal itu akan menjadi salah satu bukti bahwa mereka bertindak sewenang- wenang.
Dengan ilmu yang ada pada mereka, dan kelebihan mereka atas orang lain. ternyata telah mereka pergunakan untuk melawan hubungan antara sesama. Tetapi justru untuk menindas dengan tanpa menghiraukan peradaban
Karena itu, maka bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, yang penting bukannya satu kepuasan yang akan mereka peroleh dengan melumpuhkan Singatama. Tetapi mereka lebih mementingkan rencana mereka yang lebih besar.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera mengakhiri pertempuran. Bahkan kemudian seolah-olah keduanya telah kesempatan kepada Singatama dan saudara seperguruannya, atau salah seorang diantara mereka, untuk meninggalkan arena.
Dalam pada itu, Singatama memang melihat, bahwa tidak ada lagi kemungkinan baginya untuk memenangkan perkelahian itu. Setiap kali ia hanya dapat mengumpat. Tetapi justru ujung senjata lawannyalah yang telah menyentuh tubuhnya.
Dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain baginya, dari menyingkir sejauh-jauhnya. Jika ia masih tetap dapat hidup, maka kemungkinan-kemungkinan yang lain masih akan dapat terjadi. Mungkin ia mempunyai satu cara untuk dapat mengambil gadis yang telah membuatnya hampir gila itu.
Karena itulah, maka selagi kedua saudara seperguruannya sibuk melayani Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka dengan serta merta, Singatama telah melompat meninggalkan arena. Dengan sisa tenaganya ia berlari menuju ke kudanya yang tertambat.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sengaja tidak mengejarnya. Dibiarkannya Singatama melepaskan diri untuk menyampaikan persoalannya kepada gurunya sehingga akan dapat membangkitkan kemarahan seisi perguruannya.
Namun agaknya kedua orang saudara Singatama tidak mendapat kesempatan untuk lari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu menahan mereka. Tetapi tubuh mereka memang telah terlalu letih. Luka-luka yang tergores di kulit mereka, lelah mengalirkan darah. Sehingga dengan demikian. rasa-rasanya mereka tidak lagi dapat melarikan diri. meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membiarkannya.
Tetapi yang seorang itu sudah cukup. Namun demikian Mahisa Murti dan Mahis Pukat itu masih berkata di dalam hati, “Mudah-mudahan Singatama dapat sampai ke padepokan”
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang terpaksa melukai lawannya, tidak ingin membuat mereka sama sekali tidak berdaya. Tetapi dalam perkelahian yang seru, mereka memang sulit untuk berbuat sebaik-baiknya, karena kemungkinan yang sebaliknya dapat terjadi. Bahkan bagaimanapun juga ujung senjata lawannya itu setajam ujung pedangnya pula
Dalam pada itu, kepergian Singatama telah menghentikan pertempuran yang sengit itu. Kedua orang saudara seperguruan Singatama tidak mampu lagi memberikan perlawanan, sehingga karena itu, maka merekapun telah melepaskan senjata mereka.
“Kalian menyerah?” bertanya Mahisa Murti.
Salah seorang dari kedua orang itu menjawab dengan nada dalam, “Ya. Kami menyerah”
“Baiklah” berkata Mahisa Murti, “masuklah kedalam halaman padepokan kami”
Kedua orang itu tidak membantah. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memungut senjata mereka, dan menggiring kedua orang itu memasuki halaman padepokan yang mereka bangun itu.
Beberapa orang cantrik yang melihat akhir dari perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Singatama ternyata dapat dikalahkan. Bahkan dua orang anak muda itu berhasil mengalahkan tiga orang saudara seperguruan.
Ketika kedua orang yang dikalahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu memasuki regol, maka beberapa orang segera mengerumuninya. Dengan wajah yang tegang, Mahisa Bungalan mendekati mereka sambil berkata, “Ternyata kalian bukan orang yang pantas disegani”
Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka memang sudah kalah. Sementara tubuh mereka terasa sakit dan nyeri.
Dalam pada itu, Mahisa Agnilah yang berkata, “Biarlah luka-luka itu diobati”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian menyerahkan kedua orang itu kepada Mahisa Agni dan Witantra yang temudian akan mengobati luka-luka mereka.
Namun dalam pada itu, ternyata beberapa orang cantrik justru menjadi cemas karena Singatama telah terlepas. Seorang cantrik dengan suara bergetar berkata ke pada Mahisa Murti, “Kenapa kau biarkan-orang itu pergi?
“Kita sudah tangkap dua orang saudara seperguruannya” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi ia akan mengatakannya kepada gurunya, kepada seisi padepokannya. Mereka akan segera datang dan menggilas kita yang berada disini” berkata cantrik itu.
“Kau sudah dijangkiti oleh ketakutanmu lagi” jawab Mahisa Murti
“Tetapi aku berkata sebenarnya” jawab cantrik itu.
“Bukankah kita dengan sengaja mengundang mereka untuk datang kemari? Kau tidak usah takut, Kau melihat sendiri, bahwa Singatama bukan orang yang tidak terkalahkan”
Cantrik itu mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi sangat cemas. Bahkan beberapa orang kawannyapun merasakan hal yang sama.
Tetapi Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang yang datang bersama mereka, sama sekali tidak menunjukkan kecemasan. Nampaknya mereka benar-benar telah siap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, sebenarnyalah dendam dihati Singatama telah membakar jantungnya. Ia tidak lagi kembali ke padepokannya yang untuk sementara dipimpin oleh pamannya Empu Nawamula, tetapi ia langsung kembali ke perguruannya. Singatama sadar, bahwa ia tidak dapat mencapai padepokannya dalam waktu dekat. Padepokannya memang cukup jauh. Tetapi kemarahan dan dendam yang menyala telah mendorongnya untuk berpacu secepat-cepatnya betapapun beberapa gores luka terdapat di tubuhnya.
Sementara itu, selagi Singatama memerlukan waktu dua malam untuk kembali lagi kepadepokan itu, apabila ia benar-benar ingin melakukannya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat berbicara dengan para cantrik. Mereka sempat mengungkit kembali harga diri mereka sebagai laki-laki.
“Apakah kalian akan kembali ke telapak kaki Singatama. Atau kalian ingin menghargai martahat kalian sendiri?” bertanya Mahisa Murti. Lalu, “Bukankah kita sudah bertekad. Dan kita sudah mulai melangkah”
Tetapi seorang cantrik berkata, “Tetapi kau sendiri telah membuat kami salah tebak. Kau bukan seseorang yang lemah seperti kami, sehingga kau mampu mempertahankan dirimu. Tetapi kami tidak memiliki ilmu seperti kau, meskipun di padepokan seolah-olah kau tidak lebih dari kami para cantrik”
“Itu bukan apa-apa” jawab Mahisa Pukat, “yang penting adalah keteguhan jiwa kita. Seandainya pendapat kalian itu benar, bahwa kami memiliki kelebihan dari kalian, tetapi jika kalian bersama-sama bergerak, maka kalianpun akan merupakan kekuatan yang tidak mudah dikalahkan, kecuali jika kalian memang berjiwa kelinci. Jika kalian sudah menjadi ketakutan sebelum kalian mulai, maka kalian benar-benar akan digilas oleh kawan-kawan dan saudara- saudara seperguruan Singatama. Apalagi jika gurunya akan datang bersamanya pula. Tetapi jika kalian menghadapinya dengan wajah tengadah, maka seandainya kalian harus mati, maka kalian mati sebagai laki-laki. Itu tentu lebih baik daripada kalian masih akan tetap hidup tetapi dalam tingkat martabat seekor lembu yang harus menarik pedati”
Para cantrik itu mengangguk-angguk. Jiwa kejantanan mereka tergugah kembali, meskipun mereka tidak dapat menyingkirkan kecemasan mereka seluruhnya.
Sementara itu, selain memberikan keteguhan jiwa para cantrik Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengatur persiapan sebaik-baiknya dengan Mahisa Bungalan. Para cantrik selain harus bekerja sebagaimana dilakukan di padepokan, apalagi sebuah padepokan yang baru yang dibuat dengan tergesa-gesa di tempat yang kurang memenuhi persyaratan, merekapun harus mengawasi keadaan di sekitar pagar padepokan mereka.
Kecuali kegelisahan para cantrik, ternyata Wigati pun menjadi sangat gelisah. Ia sadar, bahwa ia telah diumpankan untuk satu tujuan pengabdian. Namun bagaimanapun juga, ia tidak dapat melepaskan kepentingan pribadinya. Setelah beberapa hari ia berada di antara laki-laki yang tidak dikenalnya dengan baik kecuali ayahnya, maka kegelisahan-nyapun menjadi semakin meningkat pula. Apalagi ketika ia sadar, bahwa Singatama yang dikalahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu dengan sengaja telah dibiarkan lepas untuk memancing kedatangan saudara-saudara seperguruannya.
“Ayah” berkata Widati kepada ayahnya, “apakah orang-orang itu tidak pernah mencemaskan keadaan kita seandainya yang datang kemudian ternyata tidak terlawan?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kurang tahu Widati. Tetapi menilik sikap dan tingkah laku mereka, nampaknya mereka adalah orang-orang yang berpengalaman. Mereka tentu memperhitungkan, bahwa sebesar-besarnya sebuah perguruan, maka kekuatan itu tidak akan dapat mengalahkan kekuatan yang mereka siapkan disini”
“Tetapi mereka belum tahu dan belum pernah menjajagi kekuatan yang tersimpan di perguruan anak muda yang bengis itu” sahut Widati.
“Kemungkinan yang salah itu memang ada Widati berkata Ki Buyut kemudian, “tetapi baiklah kita percayakan segalanya kepada orang-orang yang sudah jauh lebih berpengalaman dari kita sendiri. Apalagi menurut keterangan mereka, Singatama telah menyebarkan orang- orangnya untuk mencarimu. Jika kau dapat mereka ketemukan dari rumah, maka kau benar-benar tidak akan mendapat perlindungan yang memadai”
Widati mengerutkan keningnya. Namun ia pun mulai membayangkan, seandainya ia berada di Kabuyutan, sementara sekelompok orang yang dipimpin oleh Singatama itu datang untuk mengambilnya, maka keluarganya, bahkan orang se-Kabuyutan tidak akan dapat menyelamatkannya. Bahkan mungkin akan jatuh korban sia-sia.
Tetapi di padepokan yang dibuat dengan tergesa- gesa itu, ia berada dilingkungan orang-orang yang memang dengan sengaja bersiap menghadapi segala kemungkinan. Apalagi diantara mereka terdapat prajurit Singasari.
Dalam pada itu, sebenarnyalah kedatangan Singatama dalam keadaannya di padepokannya, telah menumbuhkan kegelisahan dan kemarahan. Apalagi ketika kemudian Singatama sempat mengatakan dengan tergesa-gesa dan gagap, apa yang telah terjadi dengan dua orang saudara seperguruannya.
Seorang Putut yang telah memiliki ilmu yang lebih baik dari Singatama itupun menggeram. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya semuanya itu kau sampaikan langsung kepada guru. Mungkin guru dapat mengambil satu sikap”
Singatama mengangguk-angguk. Nampaknya ia memang sudah tidak sabar lagi. sehingga iapun bertanya, “Dimana guru?”
“Di sanggar. Pergilah. Guru baru beristirahat. Tetapi berita penting ini wajib segera didengarnya” jawab Putut itu.
Singatamapun kemudian pergi ke sanggar. Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu sanggar itu.
“Siapa?” bertanya seseorang dari dalam sanggar dengan suara yang dalam dan bergetar.
“Aku guru” jawab Singatama, “aku mempunyai persoalan yang penting untuk aku sampaikan kepada guru”
Terdengar langkah mendekati pintu. Kemudian, pintu itu pun telah dibuka.
“O, Kau” desis seorang tua yang berada didalam sanggar itu, “masuklah. Kau tentu akan berceritera tentang kegagalan. Tetapi tidak apa. Aku memang ingin mendengarnya”
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Sebenarnyalah aku memang ingin menyampaikan beberapa keluhan guru”
“Tentang gadis itu?” bertanya gurunya.,
“Ya guru” jawab Singatama
“Katakanlah. Ceritera mengenai perempuan selalu menarik” berkata orang tua itu.
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian duduk di sebuah amben kayu. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Aku terjebak guru”
“Terjebak? Apa maksudmu?” bertanya gurunya.
Singatama itu pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Bahwa cantriknya telah berpindah kepadepokan lain. Bahwa Empu Nawamula sama sekali tidak menguntungkan baginya dan akhirnya ia pun menceriterakan apa yang telah terjadi di luar pagar sebuah padepokan baru, sehingga ia telah terluka sementara dua orang saudara seperguruannya telah tertawan.
Gurunya mendengarkan pengaduan Singatama dengan seksama. Dengan caranya Singatama sengaja membakar hati gurunya, karena jika gurunya kemudian marah dan berniat untuk membalas sakit hati perguruannya, maka Singatama berhadap bahwa padepokan baru itu tidak akan dapat bertahan.
Sebenarnyalah bahwa Singatama berhasil menggelitik telinga gurunya Apalagi ketika gurunya mendengar bahwa dua orang muridnya telah tertawan.
“Kenapa mereka tidak mati saja atau bersamamu menyingkir dari keadaan itu, tetapi untuk datang kembali dan menghancurkan apa yang kau sebut sebuah padepokan itu. Padepokan yang nampaknya sekedar pelarian cantrik-cantrikmu itu”
“Ya guru. Apa yang disebut padepokan itu sama sekali tidak memenuhi syarat sebuah padepokan. Halamannya dibatasi dengan pagar kayu yang dibuat dengan tergesa- gesa. Beberapa barak yang tidak lebih dari kandang ternak” jawab Singatama. Kemudian, “tetapi dengan bodoh, cantrik-cantrik dari padepokanku itu telah berada di tempat itu. Mereka mencoba menentang perintahku untuk mencari gadis yang bernama Widati itu. Yang ternyata bahwa gadis itu dapat diketemukan dan disembunyikan dalam tempat yang mereka sebut padepokan itu”
Gurunya mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka sengaja mencari perkara. Mereka sengaja memancing persoalan dengan kita. Dengan demikian, maka sebenarnya yang terjadi itu adalah satu tantangan. Aku tidak percaya bahwa yang ada di tempat yang disebut padepokan itu hanyalah para cantrik. Tetapi tentu ada orang lain pula di sana. Mungkin pamanmu Empu Nawamula. Mungkin pula orang lain kawan pamanmu itu”
Singatama menganguk-ahgguk. Katanya, “Memang mungkin guru. Karena itu segalanya terserah kepada guru”
Orang tua itu mengangguk-angguk. Meskipun sikapnya tetap tenang, tetapi nyala matanya menunjukkan gejolak jantungnya. Ceritera Singatama yang telah dibumbui dengan beberapa macam keterangan, telah membuatnya marah.
Tetapi ternyata ia tidak tergesa-gesa. Ia masih bertanya kepada Singatama. keadaan dari apa yang disebut padepokan itu. Iapun bertanya tentang kemampuan dua orang yang telah mengalahkan tiga orang murid padepokan itu. termasuk Singatama.
“Tidak ada orang lain yang menyaksikan perkelahian itu?” bertanya gurunya.
“Para cantrik, tetapi dari dalam pagar. Mereka menyaksikan dari balik pagar kayu” jawab Singatama
“Selain para cantrik?” desak gurunya.
Singatama termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Mungkin memang ada seperti yang guru katakan. Tetapi ketika pertempuran itu berlangsung, tidak ada seorangpun yang keluar dari lingkungan pagar dari apa yang mereka sebut padepokan itu”
Guru Singatama menganggu-angguk. Meskipun ia masih belum pasti, tetapi keterangan Singatama yang dengan sengaja ingin membakar kemarahan gurunya itu, berhasil mendorong gurunya untuk menentukan sikap. Katanya, “Kita akan pergi ke tempat itu”
“Kita semuanya, guru?” bertanya Singatama.
Gurunya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kau memperkecil arti gurumu. Apakah gurumu seorang diri dan kau sendiri tidak akan mengalahkan cantrik-cantrik dungu itu?”
“Cantrik-cantrik itu memang tidak berdaya. Aku bertiga akan sanggup melakukannya. Tetapi tiba-tiba saja ada orang baru yang juga menjadi cantrik dipadepokanku yang untuk sementara dipimpin oleh paman Empu Nawamula, yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi” jawab Singatama.
“Kedua orang itu bukan apa-apa bagiku” berkata guru Singatama, “tetapi yang harus aku perhitungkan adalah kehadiran orang yang justru menjadi pendorong keadaan ini. Mungkin memang pamanmu Nawamula itu sendiri. Kedua cantrik itu agaknya memang dibuat oleh Nawamula. Aku tidak akan gentar, dan akupun yakin dapat mengalahkan Nawamula. Tetapi mungkin ia masih mempunyai tangan-tangan selain dua orang cantrik itu”
“Aku kurang tahu guru” jawab Singatama, “karena itu, maka kau kira kita lebih baik memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi”
“Baiklah. Kita akan datang dengan kekuatan penuh. Aku akan membawa para Putut dan murid-muridku terbaik di sini” berkata guru Singatama.
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Ia pun tersenyum dalam hati. Dengan demikian apa yang disebut padepokan itu tentu akan dapat dihancurkannya. Dengan demikian, maka selain ia dapat membela sakit hatinya, ia akan dapat membawa gadis yang telah membuatnya gelisah siang dan malam.
Demikianlah, maka guru Singatama itupun segera memerintahkan para muridnya bersiap. Kepada mereka, guru Singatama menceriterakan apa yang sudah terjadi.
“Dua orang di antara kita telah ditawan oleh para cantrik dungu itu. Mereka agaknya tidak dapat membayangkan, kekuatan apa saja yang tersimpan di padepokan ini” berkata guru Singatama.
Dengan nada marah, guru Singatama itu memberitahukan niatnya untuk datang ke tempat yang disebut padepokan itu, untuk membebaskan dua orang keluarga perguruannya dan sekaligus membalas sakit hati mereka.
“Aku tidak mau penghinaan seperti itu dimaafkan” berkata guru Singatama.
Para muridnya yang lainpun ternyata telah membakar pula hatinya. Mereka serentak menyatakan persetujuan mereka dengan sikap gurunya.
“Tetapi aku tidak akan tergesa-gesa berangkat hari ini” berkata gurunya, “aku harus mencari hubungan dengan pusat kekuatan kita. Darah dan api”
Demikianlah, maka Singatama tidak mendesak gurunya untuk segera berangkat. Ternyata gurunya akan mengadakan satu upacara sebelum berangkat.
“Kerja kita kali ini agaknya bersungguh-sungguh” berkata guru Singatama itu, “karena itu, kita harus bersungguh-sungguh pula. Kita akan menghadapi kekuatan yang belum kita ketahui dengan pasti. Mudah-mudahan kita akan mendapat petunjuk dari sumber kekuatan kita. Darah dan api”
Dengan demikian, maka keberangkatan mereka baru dapat dilakukan dikeesokan harinya, setelah pada malam harinya mereka mengadakan satu upacara.
Sebagai kebiasaan mereka, maka para putut dan cantrik mempersiapkan sebuah perapian yang besar. Menjelang senja, dua orang diantara para putut telah pergi ke padukuhan yang terdekat. Mereka mengambil seekor kerbau jantan yang besar dan tanpa cacat. Mereka sama sekali tidak menghiraukan, apakah pemiliknya memberikan dengan aikhlas atau tidak. Setiap kali mereka mengatakan upacara, maka hal yang serupa itu mereka lakukan.
Ketika malam turun, maka segala peralatan sudah disiapkan. Api sudah dinyalakan, dan kerbau jantan yang besar itu diikat pada sebatang pohon dengan tali yang sangat kuat, sehingga tidak mungkin untuk melepaskan diri.
Ketika api mulai dinyalakan, maka guru Singatama itu mulai membaca mantera. Suaranya meninggi seperti asap api yang menjulang kelangit. Kemudian menurun rendah. Tetapi tiba-tiba menghentak pula mengejutkan.
Sesaat kemudian, maka terdengar ia berkata, “Murid-murid dari perguruan api dan darah. Waktunya telah tiba. Persiapkan dirimu untuk menghadapi tugas yang berat. Mencuci kehinaan yang tercoreng diwajah perguruan ini. Sekarang, cucilah senjatamu dengan darah, dan sentuhlah api yang menyala dengan ujung senjatamu yang berdarah itu. Besok kita akan melakukan tugas suci dari perguruan ini. Sementara pedangku akan aku sucikan besok dengan darah musuh-musuhku”
Demikian guru Singatama itu terdiam, maka para putut-pun telah melangkah mendekati kerbau yang terikat dengan senjata telanjang diikuti oleh para cantrik yang lain.
Peristiwa yang mengerikan itu selalu terjadi disetiap mereka melakukan upacara, sehingga kerbau itupun akan mati terkapar kehabisa darah. Sementara para putut dan cantrik telah kembali mengerumuni api sambil menyentuh lidah api yang menjilat dengan ujung senjata mereka yang basah oleh darah.
Dalam pada itu, Singatama sebagai murid terdekat dari gurunya itupun telah menyentuh lidah api itu dengan senjatanya pula, sehingga dengan demikian ia merasa bahwa senjatanya akan menjadi jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Apalagi ketika kemudian gurunya itu masih sekali lagi mengucapkan mantera-mantera sementara murid-muridnya masih melingkari api yang menyala sambil mengacungkan senjata masing-masing
Malam itu, para cantrik hampir tidak tertidur sama sekali. Upacara itu kemudian diakhiri dengan minum tuak sehingga hampir semua orang menjadi mabuk karenanya. Dalam keadaan mabuk itulah, baru seisi padepokan itu tertidur dengan gelisah.
Di pagi hari berikutnya, masih terasa kepala mereka menjadi pening. Namun rasa-rasanya mereka bagaikan mendapat kekuatan baru. Disaat mereka sudah siap untuk berangkat meninggalkan padepokan itu pun, guru mereka sekali lagi masih memberikan pesan-pesan yang dapat membakar jantung mereka.
Baru sejenak kemudian, maka mereka pun telah berloncatan ke punggung kuda dan sambil bersorak-sorak bagaikan hendak memecahkan langit mereka berangkat menuju ke tempat yang disebut sebuah padepokan yang baru.
Ternyata merekapun .idak dapat mencapai sasaran di hari itu juga. Mereka harus bermalam semalam di perjalanan.
Ketika di hari berikutnya matahari terbit, maka iring-iringan itupun mulai bergerak lagi. Kuda kuda itu pun mulai berpacu menuju ke tempat dua orang diantara mereka sedang tertawan.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan berdebar-debar menunggu orang-orang yang mereka tunggu. Menurut perhitungan, maka saatnya telah lewat. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat yang hampir tidak sabar itu pun bergumam, “Apakah mereka tidak akan kembali lagi?”
“Kita akan menunggu barang satu dua hari lagi” sahut Mahisa Murti, “aku kira mereka sedang mempersiapkan diri. Mungkin mereka pun sedang menunggu satu dua orang di antara mereka yang pergi, atau karena persoalan-persoalan lain”
Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi keduanya tetap sadar, bahwa mereka tidak boleh lengah sama sekali. Setiap saat bahaya akan datang. Mungkin siang. Mungkin malam.
Karena itu, tidak putus-putusnya setiap kejap mata, ada beberapa orang yang bertugas mengawasi keadaan. Mereka berada di sudut-sudut pagar halaman apa yang mereka sebut dengan padepokan itu.
Dalam pada itu, para cantrik yang semula adalah cantrik pada padepokan Singatama itu pun menjadi gelisah. Mereka harus melakukan sesuatu yang kurang pasti. Apalagi jika mereka membayangkan bahwa pada suatu saat, Singatama yang marah itu akan datang dengan seisi sebuah padepokan yang besar dengan para penghuninya yang keras dan kasar.
Meskipun pada saat-saat tertentu, hati mereka menjadi pasti, bahwa mereka tidak akan membiarkan diri mereka untuk diperbudak dengan cara yang paling pahit, namun pengaruh ketakutan yang sudah terlalu lama menekan jantung mereka, tidak dapat dengan mudah dihindarinya.
Demikianlah, saat yang mendebarkan itupun datang. Ketika dari kejauhan seorang cantrik yang bertugas di sudut apa yang mereka sebut padepokan itu melihat debu yang mengepul di udara, maka tiba-tiba saja tubuhnya menjadi gemetar. Ia tidak akan salah lagi, bahwa yang datang itu tentu sekelompok murid dari padepokan Singatama.
“O, jika yang datang itu gurunya, maka kami tentu akan di bantainya di sini” katanya didalam hati.
Hampir saja ia tidak kuasa memberikan pertanda apapun juga. Namun seolah-olah di luar sadarnya, maka tangannya telah menyentuh kentongan kecil dengan sepotong carang bambu.
Suara kentongan itu hanya lirih saja. Tetapi dua orang prajurit Singasari yang kebetulan lewat disamping tempat cantrik itu berjaga-jaga telah mendengarnya.
Karena itu, dengan tergesa-gesa iapun mendekati cantrik yang gemetar itu. Dengan lantang salah seorang prajurit itu bertanya, “Apa yang kau lakukan? Kau memberikan isyarat?”
Cantrik itu masih saja berdebar-debar. Bahkan semakin lama terasa menjadi semakin keras memukul dinding jantungnya.
Tanpa mendapat jawaban dari cantrik itu, maka kedua orang prajurit itu pun melihat sekelompok orang-orang berkuda mendekati apa yang mereka sebut padepokan itu.
“Agaknya mereka telah datang” desis salah seorang dari mereka, “sebuah pasukan yang cukup besar”
“Itulah mereka” terdengar suara cantrik itu bergetar, “mereka datang untuk menghukum kita”
Kedua orang prajurit itu memandang cantrik itu dengan tajamnya. Namun mereka pun segera mengetahui, bahwa cantrik itu telah disentuh lagi oleh kecemasan yang sangat.
“Jangan biarkan lehermu ditebas oleh orang-orang itu” desis salah seorang prajurit.
“Mereka akan membunuh kita” berkata cantrik itu pula. Jika kita biarkan kepala kita dipenggalnya, maka mereka tentu akan melakukannya” jawab seorang diantara kedua prajurit itu, “tetapi aku tidak. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu memotong kepalaku. Karena itu, aku akan melakukannya sebelum mereka melakukan atasku”
Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun ia tersentuh juga oleh kata-kata itu. Apalagi ketika yang seorang lagi dari kedua prajurit itu berkata, “Kami bukan budak-budak Yang setia dan memberikan jantung untuk ditusuk sampai lembus. Kami adalah laki-laki yang siap untuk mati, tetapi sebagai laki-laki. Bukan sebagai seekor kerbau yang dungu.
Cantrik itu tidak menjawab. Tetapi sulit baginya untuk dengan tiba-tiba merubah sikapnya. Meskipun demikian sikap para prajurit yan tidak dalam ujud dan pakaian prajurit itu agak membuatnya menjadi tenang.
Namun dalam pada itu, seorang di antara kedua prajurit Singasari itulah yang kemudian telah memukul isyarat, sehingga seisi apa yang mereka namakan sebuah padepokan itupun telah mendengarnya.
Para cantrik yang berjaga-jaga di tempat lain pun sebenarnya telah melihat kehadiran sepasukan berkuda mendekat. Tetapi seperti kawan-kawan mereka yang lain, maka mereka pun menjadi ragu-ragu. Dengan memberikan isyarat itu, maka mereka merasa bahwa kesalahan mereka menjadi semakin besar, sehingga hukuman yang akan dijatuhkan atas mereka pun menjadi semakin berat.
Tetapi ternyata bahwa isyarat itu sudah berbunyi, siapa pun yang membunyikan.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera meneriakkan aba-aba. Mereka sadar, bahwa tanpa dorongan dari luar dirinya, para cantrik itu tidak akan berani berbuat apa-apa. karena itu, maka terdengar suara Mahisa Pukat lantang, “Lihat, mereka sudah datang. Siapa yang masih ingin tetap hidup sebagai seorang yang bebas untuk menentukan pilihannya sendiri di dalam perjalanan hidupnya, marilah bersama-sama mempertahankan martabat kita sebagai manusia. Kita bukan seekor binatang yang akan selalu tunduk, betapapun tubuh kita selalu didera dengan cambuk dan tongkat. Tetapi kita adalah manusia sebagaimana meraka”
Para cantrik itu termangu-mangu. Namun kesibukan para prajurit yang datang di tempat itu dengan ujud sebagai orang kebanyakan telah mendorong mereka untuk berbuat sesuatu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar