Jumat, 25 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 014-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-014-01*

Sejenak kemudian, maka para pengawas itu pun sudah menggerakkan senjata mereka. Agaknya waktu memang terlalu sempit bagi mereka. Karena mereka harus dengan segera keluar dari Talang Amba.

Dengan demikian, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarkan lagi. Para pengawas itu pun segera menyerang anak-anak muda Talang Amba yang telah menahan mereka.

Namun dalam pada itu, para pengawas itu pun terkejut. Meskipun diantara lawan-lawan mereka ada yang dengan cepat terdesak sehingga mereka harus bertempur berpasangan, namun ada juga diantara mereka yang justru mampu mendesak.

“Gila” geram para pengawas. Ternyata bahwa yang mereka hadapi itu pun bukan semua anak-anak muda Talang Amba. Sedangkan anak muda Talang Amba jumlahnya jauh lebih banyak dari para pengawas itu, sehingga mereka pun telah menyerang berpasangan dari segala arah.

Dalam waktu yang singkat, maka para pengawas itu segera mengalami kesulitan. Kecuali jumlah lawan yang terlalu banyak, namun diantara lawan itu pun terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang memadai.

Karena itu, maka sejenak kemudian kepungan anak-anak muda Talang Amba itu pun menjadi semakin sempit, sehingga para pengawas itu kehilangan arena untuk bergerak dengan leluasa.

Meskipun demikian para pengawas gagal itu tidak segera menyerah. Mereka telah mengerahkan kemampuan mereka. Diantara anak-anak muda yang mengepung mereka, para pengawas itu memang melihat mata kepungan yang lemah, yang agaknya akan dapat mereka pecahkan.

Tetapi setiap kali mereka menyerang bagian yang mereka anggap lemah, ternyata mereka telah membentur kekuatan yang tidak dapat mereka tembus.

Demikianlah dengan sepenuh kemampuan para pengawas itu berusaha untuk dapat melepaskan diri dari kepungan anak-anak muda Talang Amba. Atas pimpinan seorang yang berhati batu, maka mereka telah bertempur habis-habisan. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, mereka telah menghantam di satu bagian saja dari kepungan itu.

Namun justru di bagian itu rasa-rasanya mereka telah membentur gelang-gelang baja yang sangat kuat, yang tidak mungkin mereka pecahkan. Bahkan kepungan itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin menekan, sehingga mereka menjadi semakin sulit untuk bergerak. Dari segala arah rasa-rasanya ujung-ujung senjata telah teracu kepada mereka.

Akhirnya betapapun keras hati mereka, namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Kepungan itu tidak dapat mereka pecahkan, sementara ujung-ujung senjata menjadi semakin merapat di seputar mereka.

“Jangan keras kepala” berkata salah seorang yang menilik ujudnya tidak ubahnya seperti anak-anak muda Talang Amba, “Kalian tidak mendapat kesempatan lagi”

Pemimpin dari para pengawas itu menggeram. Namun tiba-tiba seorang diantara para pengawas itu mengaduh. Ujung senjata dari mengepung mereka itu pun mulai melukai para pengawas itu.

Ternyata pemimpin pengawas itu kemudian tidak mempunyai pilihan lain. Ketika dua orang diantara mereka terluka pula, maka para pengawas itu tidak dapat lagi menolak ketika anak-anak muda yang mengepungnya itu memerintahkan mereka untuk menyerah.

Dengan demikian, maka mereka pun telah melepaskan senjata-senjata mereka dan kemudian dengan patuh melakukan segala perintah-perintah anak-anak muda itu.

Para pengawas itu pun kemudian telah dibawa ke dalam salah satu halaman yang tidak terlalu luas. Mempersilahkan mereka naik pendapa.

“Silahkan duduk Ki Sanak. Kalian dapat membantu mengobati kawan kalian yang terluka. Tetapi jangan berbuat sesuatu yang dapat mempersulit kedudukan kalian sendiri” perintah anak-anak muda itu.

Para pengawas itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun kemudian duduk melingkar di pendapa. Dengan obat yang ada pada mereka, maka para pengawas itu telah mengobati kawan-kawan mereka yang terluka.

Sementara itu, beberapa orang anak muda Talang Amba bersiap-siap serta mengawasi mereka di halaman.

Dalam pada itu, selagi para pengawas yang duduk di pendapa itu mengumpat-umpat dengan gelisah karena nasib mereka yang buruk itu, di padukuhan di sekitar padukuhan induk, pasukan Pangeran Lembu Sabdata masih bertempur dengan sengitnya. Kedua belah pihak berusaha untuk segera dapat menguasai lawannya.

Ternyata jumlah anak-anak muda Talang Amba yang jumlahnya lebih banyak, apalagi diantara mereka terdapat anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, mempunyai pengaruh yang besar pada pertempuran itu. Jika para pengikut Pangeran Lembu Sabdata ingin menyelesaikan lawan mereka sebelum tengah hari, maka ternyata mereka justru telah terdesak semakin menjauhi padukuhan-padukuhan itu.

Meskipun pasukan cadangan telah dikerahkan, dan bahwa Pangeran Lembu Sabdata sendiri telah mendekati arena pertempuran, namun ternyata bahwa pasukan Pangeran itu tidak berhasil segera mendesak lawannya. Bahkan terasa betapa beratnya tekanan lawan yang justru telah keluar dari padukuhan-padukuhan menyongsong kehadiran para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu.

Kemarahan Pangeran Lembu Sabdata menjadi semakin memuncak. Tiba-tiba saja ia memanggil beberapa pengawalnya dan berkata, “Kita harus mempengaruhi hati dan jantung orang-orang Talang Amba dan barangkali juga para prajurit Singasari. Kita akan membakar rumah-rumah di padukuhan-padukuhan kecil di sekeliling padukuhan ini”

“Lalu, siapakah yang harus melakukannya?” bertanya pengawalnya.

“Panggil dua orang. Mereka harus pergi dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Membakar rumah dan isinya bukannya satu pekerjaan yang sulit. Dalam sekejap hal itu dapat dilakukan” geram Pangeran Lembu Sabdata.

Pengawalnya pun tidak membantah. Bahkan dengan tergesa-gesa ia telah memanggil dua orang pengawal dan ditarik dari arena.

“Pergi ke padukuhan-padukuhan kecil itu. Bakar rumah-rumah yang ada di padukuhan itu” perintah Pangeran Lembu Sabdata.

Pengawal itu pun segera mengerti maksudnya. Tetapi ia masih bertanya, “Semua rumah, atau beberapa saja untuk sekedar memberikan kesan bahwa padukuhan itu sudah terbakar”

“Bagus” desis Pangeran Lembu Sabdata, “otakmu cukup cerdas. Lakukan. Tidak semua rumah”

Pengawal. pengawal itu tidak bertanya lebih lanjut. Pekerjaan itu memang lebih mudah daripada harus berada di medan, bertempur dengan anak-anak muda Talang Amba. Namun yang memiliki kemampuan prajurit Singasari

Demikianlah, maka kedua pengawal itu pun segera pergi ke padukuhan yang paling dekat dengan padukuhan yang menjadi arena pertempuran itu. Dengan penuh dendam dan kebencian keduanya siap untuk melakukan perintah Pangeran Lembu Sabdata. Alangkah mudahnya tugas mereka. Membakar rumah-rumah yang terbuat dari dinding bambu atau kayu.

“Kita akan memilih satu yang paling mudah untuk dibakar sebelum kita membakar yang lain. Rumah yang beratap ilalang meskipun kecil, tetapi akan cepat memanggil perhatian. Kemudian rumah yang lebih, besar dan bahkan rumah yang terbesar di padukuhan itu” geram salah seorang diantara kedua pengawal yang mendendam itu.

Dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata dengan gelisah menyaksikan pertempuran yang menjadi semakin sulit bagi para pengikutnya. Di semua medan, pasukan Pangeran Lembu Sabdata telah terdesak. Perlahan-lahan mereka terpaksa bergeser surut menjauhi padukuhan-padukuhan yang seharusnya mereka hancurkan sebelum tengah hari.

Namun yang terjadi, mereka sama sekali tidak dapat memasuki padukuhan-padukuhan itu. Apalagi memasuki padukuhan induk.

Sementara itu, anak-anak muda Talang Amba telah bertempur dengan berani untuk mempertahankan kampung halaman mereka dari kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi jika para pengikut Pangeran Lembu Sabdata berhasil memasuki Kabuyutan mereka. Apalagi setelah mereka menyadari, bahwa para prajurit Singasari yang ada di Kabuyutan itu mampu menahan serangan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata.

Meskipun anak-anak muda Talang Amba tidak akan dapat menahan serangan lawan mereka apalagi mereka harus menghadapi seorang lawan seorang, namun anak-anak muda Talang Amba itu sudah mendapat petunjuk sebelumnya bahwa sebaiknya mereka bertempur berpasangan, atau bahkan dalam kelompok-kelompok kecil sekalipun, karena jumlah mereka mencukupi.

Dalam pada itu, dengan jantung yang berdebaran. Pangeran Lembu Sabdata menunggu kedua orang yang ditugaskannya untuk memancing perhatian orang-orang Talang Amba, sehingga dalam keadaan yang gelisah, mereka akan dapat didesak mundur.

Namun ternyata sudah beberapa lama ditunggu, tidak sebuah rumah pun yang terbakar. Tidak ada asap mengepul, apalagi api yang menjilat sampai ke udara.

“Gila, apakah orang-orang itu hanya tidur saja atau mereka tidak mampu membuat api?” geram Pangeran Lembu Sabdata.

“Mereka mempunyai thithikan. Dengan embun gelugut aren mereka akan dapat,. membuat api. Kemudian dengan belarak atau ilalang kering, mereka akan dengan cepat dapat membuat api” jawab salah seorang pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu.

Tetapi kenapa mereka tidak melakukan sesuatu?” Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak.

Tidak seorang pun diantara para pengawal khusus dari Pangeran Lembu Sabdata yang dapat menjawab. Mereka hanya saling berpandangan dengan pertanyaan yang sama di hati mereka.

Sebenarnyalah pada saat itu kedua orang pengawal yang memasuki padukuhan kecil dihadapan padukuhan yang menjadi arena pertempuran itu, telah terjebak. Ketika mereka mendekati padukuhan yang mereka kira sebuah padukuhan yang kosong sebagaimana saat mereka memasukinya menuju ke padukuhan yang telah menjadi arena pertempuran itu, tidak seorang pun yang mereka lihat. Tetapi demikian mereka berada di dalam regol, maka beberapa orang anak muda telah mengepung mereka.

“Siapa kau dan apa maksudmu? bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Namun adalah satu kenyataan bahwa mereka telah dikepung.

Tetapi kedua orang pengawal itu menyangka, bahwa mereka hanya menghadapi anak-anak muda Talang Amba saja. Bukan orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Orang-orang yang berilmu itu tentu berkumpul di padukuhan di sebelah padukuhan induk itu atau di padukuhan induk sendiri” berkata kedua orang itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka keduanya sama sekali tidak gentar ketika anak-anak muda itu mengacukan senjata mereka.

“Jangan besar kepala” geram salah seorang dari kedua pengawal itu, “pergi, atau kalian akan mati seperti babatan batang ilalang disini”

“Memang mengerikan” jawab salah seorang diantara anak-anak muda yang mengepungnya, “tetapi kami tidak akan membiarkan diri kami menjadi babatan ilalang disini. Kami akan menangkap kalian berdua sebelum kalian dapat membunuh seorang pun diantara kami” jawab salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Jangan terlalu sombong anak-anak muda” bentak pengawal yang lain, “Kalian belum mengenal permainan senjata yang sebenarnya”

“Kami sudah berlatih dengan sungguh-sungguh” jawab salah seorang anak muda itu, “siang dan malam. Pagi dan sore, kapan saja ada waktu. Kami menempa diri dengan tanpa mengenal lelah. Nah. karena itu, maka permainan senjata apapun tidak akan mengherankan kami”

“Anak iblis” bentak pengawal itu pula, “bayi yang belum pernah melihat api, tidak akan takut menggenggam bara meskipun kemudian tangannya akan terbakar. Kalian pun tidak akan takut mendengar ilmu pedang kami, karena kalian tidak mengerti bahayanya. Nah, sekarang kalian akan tahu, bahkan mengalami. Kalian tidak akan menganggap remeh ilmu pedang kami, setelah tangan kalian putus diatas pergelangan.

Anak-anak muda yang mengepung kedua orang pegawai Pangeran Lembu Sabdata itu menjadi tegang. Sejenak mereka termangu mangu. Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka pun melangkah maju sambil berkata

“Jika hal itu terjadi, maka kami memang akan menjadi ketakutan. Tetapi aku berharap bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Tidak seorang pun diantara kami yang akan membiarkan tangan kami terpenggal di atas pergelangan”

“Gila” salah seorang dari kedua orang pengawal itu menggeram, “agaknya kalian memang ingin mengalami bencana yang gawat bukan saja bagi dirimu sendiri, tetapi bagi Kabuyutanmu. Tetapi baiklah. Marilah kita buktikan. Siapa diantara kalian yang ingin pertama kali tangannya terputus?”

“Jangan memakai istilah itu” berkata salah seorang diantara anak-anak muda itu, “Jika kalian menantang kami, baiklah. Tetapi jangan bertanya, siapa diantara kami yang pertama-tama tangannya ingin kau putuskan”

“Persetan” pengawal itu hampir berteriak. Sementara itu pedangnya telah teracu ke arah anak-anak muda yang mengepungnya. Kedua orang itu berdiri beradu punggung dengan wajah yang tegang. Sementara ujung pedang mereka telah mulai bergetar.

Tetapi yang terjadi adalah sangat menyakitkan hati mereka Bukan anak-anak muda yang mengepungnya itu bergeser maju dan bersama-sama menyerang mereka. Tetapi yang mendekati keduanya yang berdiri beradu punggung itu hanyalah dua orang saja diantara anak-anak muda itu.

Seorang diantara kedua anak muda itu membawa sebatang tombak pendek, sedangkan yang lain membawa sepasang trisula di kedua tangannya.

“Kami telah siap Ki Sanak” berkata anak muda yang membawa trisula itu.

Kedua pengawal itu menggeram. Seorang diantara mereka berkata, “Jadi kalian berdua yang ingin lebih dahulu mati?”

“Kami akan menangkap kalian. Bukan hanya kami berdua. Tetapi kami semuanya pada saatnya akan bertindak” jawab anak muda yang membawa tombak pendek.

Kedua orang pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu tidak menjawab. Keduanya kemudian telah memutar pedang mereka yang panjang dan besar menurut ukuran pedang kebanyakan. Namun pedang yang panjang dan besar itu di tangan mereka nampaknya tidak lebih berat dari sepotong lidi.

Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang pengawal Pangeran Lembu Sabdata melawan dua orang anak muda di padukuhan yang akan dijadikan karang abang itu telah mulai. Dengan marah kedua orang pengawal itu menyerang lawannya dengan pedang terjulur. Namun kedua orang anak muda itu pun telah bersiap sepenuhnya. Mereka bergeser surut sambil menggerakkan senjata masing-masing.

Justru karena kedua orang pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang beradu punggung itu masing-masing memburu lawan mereka, maka mereka pun kemudian menjadi renggang.

Tetapi kedua orang anak muda itu agaknya benar-benar ingin bertempur melawan dua orang pengawal itu tanpa orang lain. Karena itu, maka keduanya pun kemudian bersiaga sepenuhnya untuk melawan seorang lawan seorang.

Kemarahan yang memuncak telah menyeret kedua orang pengawal itu untuk melayani kedua orang muda itu. sehingga kemudian mereka memang bertempur seorang melawan seorang.

Sejenak kemudian, maka di dalam kepungan anak-anak muda Talang Amba, telah terdapat dua lingkaran pertempuran antara dua orang pengawal Pangeran Lembu Sabdata melawan dua orang anak muda yang semula berada diantara anak-anak . muda Talang Amba itu.

Namun sebenarnyalah bahwa keduanya bukan anak muda Talang Amba itu sendiri.

Dengan demikian, maka pertempuran antara para pengawal dan anak-anak muda itu pun menjadi semakin seru. Ternyata bahwa dugaan kedua orang pengawal tentang lawan-lawan mereka itu keliru.

“Apakah kedua orang ini juga bukan anak-anak muda Talang Amba?” pertanyaan ini mulai timbul di dalam hati kedua orang itu.

Namun agaknya seorang diantara para pengawal itu tidak sabar lagi. Dengan nada keras ia bertanya, “He, anak-anak muda. Katakan terus terang, apakah kalian semuanya anak-anak Talang Amba?”

“Apa pedulimu” jawab anak muda yang bertempur melawannya.

“Aku hanya ingin tahu sebelum kalian terbunuh” geram pengawal itu

“Jangan sombong” jawab lawannya, “menyerah sajalah. Seandainya kau menang atasku, apakah kau akan menang melawan sekian banyak orang?. Jika, kau membunuhku, maka kawan-kawanku akan menjadi sangat marah. Kau akan dapat menduga, akibat dari kemarahan kawan-kawanku itu. Mungkin kalian berdua akan mengalami satu keadaan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya”

“Persetan” teriak salah seorang dari kedua pengawal itu, “Aku akan membunuh kalian semuanya”

Kedua anak muda yang melawan kedua orang pengawal itu tidak berbicara lebih banyak lagi. Tetapi tiba-tiba saja, hampir berbareng mereka telah meningkatkan serangan-serangan mereka. Tombak pendek di tangan salah seorang anak muda itu telah berputar pula. Namun tiba-tiba ujung tombak itu telah mematuk dada.

Tetapi lawannya tidak membiarkan dadanya terkoyak. Dengan tangkasnya ia menangkis dengan pedangnya yang besar dan panjang. Namun anak muda yang menggenggam tombak itu cukup tangkas. Tombaknya tiba-tiba saja bagaikan menggeliat. Dengan cepat serangannya telah berubah mendatar menyambar lambung.

Pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu pun menggeram. Namun ia masih sempat meloncat selangkah surut, sehingga ujung tombak itu tidak mengenainya. Meskipun demikian, pengawal itu pun menyadari, bahwa lawannya benar-benar memiliki kemampuan bermain dengan tombaknya, sehingga dengan demikian iapun menyadari bahwa lawannya bukan seseorang yang tidak mengenal takut karena tidak mengerti persoalan yang dihadapi. Lawannya itu mengerti sepenuhnya bahwa apa yang harus dilakukan dan mengerti pula nilai kemampuan pengawal itu dalam ilmu pedang.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Anak muda yang membawa sepasang trisula itu pun telah membingungkan lawannya. Kedua trisula di kedua tangannya berputar dengan cepat. Setiap kali ujung-ujungnya menyambar beruntun susul menyusul. Namun kemudian menyambar menyilang dengan ayunan yang deras.

Kedua orang pengawal itu pun kemudian meyakini, bahwa mereka memang berhadapan dengan dua orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Sehingga karena itu, maka salah seorang dari kedua pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu pun menggeram, “Apakah kalian prajurit Singasari atau Gagelang?”

Ternyata anak-anak muda itu tidak lagi ingkar. Seorang diantara mereka, anak muda yang membawa trisula itu pun menjawab, “Ya. Kami adalah prajurit Singasari. Karena itu menyerahlah. Petugas kalian telah gagal mengamati Kabuyutan Talang Amba. karena mereka tidak melihat kehadiran kami. Justru para petugas sandi dari Singasari lah yang berhasil mengawasi mereka”

“Gila” geram pengawal itu, “Meskipun kau prajurit Singasari namun kau tidak akan mampu melawan kami”

“Jangan kehilangan akal. Kemampuanmu tidak lebih baik dari kemampuanku, sementara itu di sekitar arena ini, anak-anak muda telah mengepungmu. Sebagian diantara mereka memang anak-anak muda Talang Amba. Tetapi yang lain adalah kawan-kawanku, para prajurit dari Singasari” jawab anak muda yang bersenjata trisula itu.

Kedua orang pengawal itu tidak menjawab. Tetapi senjata-senjata mereka masih terus berputar, menyambar, mematuk dan kadang-kadang justru langsung menebas leher.

Namun lawan-lawannya ternyata memiliki kecepatan gerak yang dapat mendahului kecepatan sambaran pedang mereka, sehingga dengan demikian, maka senjata mereka tidak mampu menyentuh tubuh lawannya itu.

“Menyerahlah” tiba-tiba anak muda yang membawa trisula itu berdesis.

Para pengawal itu mengumpat. Tetapi anak muda yang membawa tombak itu pun menyambung, “apakah kau tidak dapat melihat kenyataan yang bakal kau hadapi? Jangan menunggu kami kehilangan kesabaran, sehingga kami akan melakukan tindakan yang barangkali tidak kalian duga sebelumnya. Karena itu, pikirkanlah”

Kedua orang pengawal itu sama sekali tidak menghiraukan. Mereka bertempur terus dengan garangnya, meskipun mereka harus. menghadapi satu kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat mengalahkan lawan mereka masing-masing. Apalagi jika anak-anak muda yang lain ikut turun pula ke medan.

Dalam pada itu. Pangeran Lembu Sabdata menjadi semakin gelisah. Setiap kali ia mengumpat Di padukuhan kecil yang ditunjuknya, belum nampak tanda-tanda asap yang mengepul. “Apakah mereka telah menjadi gila” geram Pangeran Lembu Sabdata.

Para pengawalnya pun menjadi tegang. Namun mereka memang tidak melihat asap selembar pun. Apalagi sepercik api di udara.

Sementara itu, pertempuran di padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk pun menjadi semakin sengit. Namun agaknya anak-anak muda Talang Amba dan kekuatan yang membantu mereka berhasil mendesak lawan mereka semakin lama semakin jauh dari padukuhan. Dengan demikian, maka rencana Pangeran Lembu Sabdata untuk menyelesaikan padukuhan-padukuhan itu sebelum tengah hari, menjadi semakin jauh dari satu kenyataan yang dapat terjadi.

Dalam pada itu, maka kemarahan yang hampir tidak terkendali rasa-rasanya membuat kepala Pangeran Lembu Sabdata hampir meledak. Namun ia tidak dapat berbuat banyak. Pasukan yang dibawanya dan dianggap akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan Kabuyutan Talang Amba itu ternyata telah kandas.

“Tidak ada pilihan lain” gumam Pangeran Lembu Sabdata di dalam dirinya, “selagi pertempuran itu masih berlangsung. Aku tidak akan dapat berbuat lain kecuali menyingkir dari medan”

Karena itu. maka dipanggilnya kepercayaannya, seorang Senopati yang mengawalnya dan seorang yang dianggapnya menjadi pelindungnya.

“Apakah yang dapat aku lakukan sekarang?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata kepada pengawal-pengawal terpilihnya itu.

“Terserah kepada Pangeran” jawab orang yang dianggapnya dapat menjadi pelindungnya, karena orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Lalu orang itu pun justru bertanya, “Apakah Pangeran akan memerintahkan aku memasuki arena?”

“Apakah ada gunanya?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Mungkin ada Pangeran” jawab orang itu, “tetapi sudah tentu sangat terbatas, karena aku hanya seorang diri. Yang dapat aku lakukan adalah membuat korban sebanyak-banyaknya dipihak lawan, sebelum aku sendiri tentu akan mati pula di peperangan, kecuali jika aku melarikan diri.

Pangeran Lembu Sabdata mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kau tidak usah memasuki arena, jika akhirnya kau pun akan mati. Sekarang, kita mengambil jalan terbaik yang dapat kita tempuh”

Pengawal-pengawalnya itu pun mengerti, bahwa Pangeran Lembu Sabdata ingin menghindar dari arena pertempuran itu. Seperti pada pertempuran yang pernah terjadi antara orang-orang Gagelang dengan orang-orang Talang Amba yang juga disisipi oleh prajurit Singasari, maka Pangeran Lembu Sabdata akan meninggalkan arena.

Karena itu, maka pengawal-pengawalnya yang terpilih itu pun kemudian telah mempersiapkan diri. Pengawalnya yang dianggapnya memiliki ilmu yang tinggi dan akan dapat melindunginya itu pun bertanya, “Apakah Pangeran ingin keluar dari negara ini?”

“Ya, Aku tidak mau terkurung dalam lingkungan yang tidak aku duga sebelumnya karena kedunguan orang-orang yang aku percaya itu” berkata Pangeran Lembu Sabdata.

Pengawalnya itu mengangguk-angguk. Tanpa menghiraukan nasib para pengikutnya yang lain, maka Pangeran Lembu Sabdata telah bersiap-siap untuk menyingkir dari medan.

Namun ternyata pengalaman orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari telah memberikan pelajaran tentang sikap Pangeran yang licik itu. Karena itulah, maka di padukuhan-padukuhan kecil di sekitar padukuhan yang menjadi medan pertempuran itu, ditempatkan beberapa orang prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba yang dapat mengawasi seluruh jalan keluar dari Talang Amba.

Bahkan beberapa orang telah ditugaskan oleh Senopati prajurit Singasari yang memimpin pasukan yang bertugas di Talang Amba itu beberapa orang khusus untuk menemukan, dimana pimpinan tertinggi pasukan Pangeran Lembu Sabdata itu berada.

Karena itulah, maka akhirnya Senopati dari Singasari itu mengetahui, bahwa Pangeran Lembu Sabdata berada di belakang medan diluar salah satu padukuhan yang menjadi ajang pertempuran itu.

“Biarlah kami menyelesaikannya” berkata Senopati itu kepada Ki Sanggarana.

Tetapi ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergeser mendekat sambil berkata, “Kami pernah kehilangan Pangeran itu ketika pertempuran serupa ini terjadi. Biarlah kami menjumpainya sekali lagi. Meskipun demikian, kami mohon untuk dapat diawasi agar Pangeran itu tidak akan dapat melarikan diri untuk kedua kalinya”

“Kami tidak hanya sekedar mengawasi. Tetapi kami akan menyertakan beberapa orang bersama kalian” berkata Senopati itu, “Pangeran Lembu Sabdata dibayangi oleh beberapa orang pengawal. Tentu pengawal-pengawal kepercayaannya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berkeberatan. Sehingga dengan demikian, maka bersama beberapa orang mereka pun telah berusaha untuk dapat menutup jalan keluar bagi Pangeran Lembu Sabdata apabila hal itu akan dilakukannya lagi.

Namun dalam pada itu, sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan tempatnya, maka seorang prajurit Singasari yang mengamati keadaan sekelompok pemimpin dan pengawal-pengawalnya itu dengan tergesa-gesa datang memberikan laporan kepada Senopati dari Singasari itu, “Orang yang kita duga sebagai pimpinan tertinggi pasukan lawan itu, bersiap-siap untuk meninggalkan medan”

“Jadi mereka akan melarikan diri? bertanya Senopati itu.

“Satu kemungkinan besar” jawab pengamat itu.

“Apakah mereka sudah mulai bergerak?” bertanya Senopati itu pula.

“Ya. Dua orang kawanku mengamati mereka” jawab
pengamat itu.

“Baiklah. Kita akan mengikutinya. Tetapi mereka tidak akan dapat terlepas dari pengawasan anak-anak muda yang berada di padukuhan-padukuhan kecil” jawab Senopati itu.

“Tetapi apakah kekuatan mereka cukup untuk menahan Pangeran itu” desis prajurit Singasari yang memberikan laporan itu.

Mereka ternyata tidak membuang waktu lagi. Senopati itu pun kemudian memberikan aba-aba untuk bergerak. Atas petunjuk prajurit yang memberikan laporan itu, maka mereka pun langsung menuju ke sasaran.

Tetapi seperti yang sudah dilaporkan, Pangeran Lembu Sabdata memang sudah meninggalkan tempatnya. Satu diantara dua orang prajurit Singasari yang mengawasinya masih ditinggal di tempatnya oleh kawannya yang lain, yang mengikuti arah Pangeran Lembu Sabdata yang menyingkir itu.

“Kita menuju ke padukuhan kecil itu” berkata pengawas yang ditinggalkan, “mereka memasuki padukuhan itu”

“Apakah anak-anak muda dan prajurit Singasari di padukuhan itu cukup kuat untuk menahannya agar Pangeran itu tidak melarikan diri?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku tidak tahu” jawab pengawas itu, “tetapi beberapa pengawal Pangeran Lembu Sabdata nampaknya memiliki kemampuan untuk menerobos kekuatan yang ada di padukuhan-padukuhan kecil”

“Jadi cara Pangeran itu melepaskan diri agak berbeda” berkata Mahisa Pukat, “pada pertempuran terdahulu, Pangeran itu seorang diri menyelinap di antara pertempuran itu sendiri. Sekarang ia membawa beberapa orang pengawal untuk melindunginya”

“Medannya pun berbeda” sahut Mahisa Murti, “pada pertempuran itu, kita belum mempunyai pengalaman, sehingga tidak ada orang yang bertugas untuk mengamatinya jika ia melarikan diri. Apalagi waktu itu Pangeran itu tidak menyatakan dirinya sebagaimana seorang Pangeran, sehingga sulit untuk mengamatinya”

Demikianlah, maka kelompok kecil itu pun telah segera menyusul ke padukuhan kecil yang ditunjukkan oleh prajurit Singasari yang mengawasi Pangeran Lembu Sabdata. Mereka menjadi agak tergesa-gesa ketika mereka menerima laporan bahwa Pangeran Lembu Sabdata ternyata telah dikawal oleh beberapa orang yang mungkin akan mampu menerobos kekuatan anak-anak muda dan beberapa orang prajurit yang ada di padukuhan kecil itu.

Dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata yang tidak menyangka bahwa di padukuhan-padukuhan kecil itu masih ada beberapa orang anak-anak muda yang berjaga-jaga, maka tanpa ragu-ragu maka bersama pengawalnya, iapun telah memasuki padukuhan itu.

Namun kelompok itu menjadi terkejut karenanya, ketika mereka telah bertemu dengan beberapa orang anak muda yang agaknya memang telah menunggu.

“Anak Setan” geram Pangeran Lembu Sabdata, “siapakah kalian he?”

“Kami adalah anak-anak Talang Amba” jawab salah seorang anak muda. Lalu, “siapakah kalian?

“Minggir” geram Pangeran Lembu Sabdata aku hanya akan lewat. Aku tidak mau terlibat ke dalam pertempuran yang tidak aku ketahui ujung pangkalnya itu”

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Mereka sudah mendapat pemberitahuan dari padukuhan sebelah, bahwa ada beberapa orang pengikut Pangeran dari Kediri yang ingin melarikan diri, sehingga terpaksa menahan mereka dengan kekerasan. Sementara itu dari padukuhan yang lain anak-anak muda itu mendengar bahwa ada dua orang yang akan membakar rumah dan bahkan seisi padukuhan.

Karena itu, maka mereka telah bersiaga sepenuhnya. Sekelompok orang yang akan lewat itu pun tentu orang-orang yang akan melarikan dari medan.

Dengan demikian, maka pemimpin anak-anak muda yang ada di padukuhan itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Dalam keadaan yang kalut ini, kami tidak akan dapat membiarkan seorang pun meninggalkan Kabuyutan Talang Amba”

“Kalian jangan mengada-ada. Apakah hak kalian menahan kami?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Kami adalah pengawal Kabuyutan ini. Kami mempunyai hak untuk berbuat sesuatu sepanjang hal itu memberikan kemungkinan keselamatan bagi Kabuyutan Talang Amba” jawab pemimpin dari anak-anak muda itu.

“Baiklah” Pangeran Lembu Sabdata menjadi tidak sabar. Anak-anak muda itu akan dapat memberikan isyarat kepada kawan-kawannya di padukuhan itu atau bahkan di padukuhan lain. Dengan demikian, maka mungkin Pangeran Lembu Sabdata dan para pengawalnya akan menjumpai hambatan yang akan dapat mengganggu usaha mereka untuk menyingkir dari pertempuran itu. Karena itu, maka katanya selanjutnya, “jika kalian tidak mau minggir, maka kami akan menunjukkan kepada kalian bahwa kalian tidak akan mampu menahanku disini”

“Jangan memaksa Ki Sanak. Kami tidak akan membiarkan seorang pun keluar dari Kabuyutan ini. Jika kemudian ternyata bahwa kalian tidak bersalah atau tidak tersangkut dalam pertempuran itu, maka kalian akan kami biarkan meninggalkan Kabuyutan ini setelah kami mendapat perintah yang demikian dari Ki Buyut di Talang Amba” jawab pemimpin dari anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, pengawal Pangeran Lembu Sabdata pun menjadi tidak sabar. Seorang Senopati pengawal dari Kediri yang ikut menjadi pengawal Pangeran itu pun kemudian membentak, “Minggir. Atau kami harus membunuh?”

Anak-anak muda itu pun menyadari, bahwa tidak ada cara lain kecuali dengan kekerasan. Karena itu, maka tanpa perintah dari siapapun, mereka pun telah bergeser memencar. Seakan-akan mereka pun telah mengepung sekelompok orang yang ingin meninggalkan medan itu.

Tetapi Senopati yang garang itu tidak memberikan kesempatan lagi. Tiba-tiba saja iapun telah mencabut pedangnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kita akan lewat. Jika anak-anak itu tidak mau minggir, maka bukan salah kita jika kita nanti membunuh mereka”

Tidak ada yang menyahut atau bertanya Orang-orang di dalam kelompok itu pun telah mencabut senjata mereka masing-masing. Kecuali seorang tua yang dianggap oleh Pangeran Lembu Sabdata akan dapat menjadi pelindungnya dalam keadaan yang paling sulit. Baginya senjata tidak akan memberikan arti apa-apa.

Menghadapi orang-orang yang telah bersenjata itu, maka anak-anak muda yang mengepung mereka itu pun telah mencabut senjata mereka pula. Namun dalam pada itu, anak-anak muda yang berasal benar-benar dari Talang Amba memang menjadi gelisah melihat sikap yang garang dari orang-orang yang akan lewat itu. Namun anak-anak muda yang berasal dari para prajurit Singasari yang membaurkan diri, sama sekali tidak gentar melihat lawan-lawan mereka yang nampaknya memang meyakinkan.

Sejenak kemudian, Senopati dari Kediri yang berada di paling depan itu pun telah melangkah maju. Pedangnya teracu ke depan. Seolah-olah tanpa menghiraukan anak-anak muda yang melingkarinya ia melangkah terus.

“Sekali lagi, aku peringatkan” berkata pemimpin anak muda itu, “berhenti atau kami akan memaksa kalian dengan kekerasan”

Senopati itu sama sekali tidak menjawab. Ia melangkah terus dengan pedang teracu, sementara para pengawal yang lain pun telah mengacukan senjata mereka pula. Agaknya mereka benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tidak ada pilihan lain dari anak-anak muda itu, yang sebenarnya adalah seorang prajurit Singasari, telah siap sepenuhnya.

Ketegangan pun telah menjadi semakin memuncak. Senopati yang berjalan di paling depan masih tidak menghiraukan anak-anak muda di sekitarnya, bahwa yang kemudian berdiri di hadapannya.

Namun anak-anak muda yang terdiri dari para prajurit dari Singasari itu akhirnya tidak mau menyibak. Ketika Senopati itu mendekati mereka, maka mereka pun telah menggerakkan ujung senjata mereka pula. Yang memegang tombak telah merundukkan tombaknya, sementara yang menggenggam pedang telah menjulurkan pedangnya pula.

Senopati yang berdiri di paling depan itu pun mengumpat. Anak-anak muda itu memang harus dikejutkan agar mereka menyadari apa yang sebenarnya mereka hadapi.

Karena itu, tiba-tiba saja Senopati itu telah memutar pedangnya, menyambar ujung sepucuk tombak yang sudah merunduk. Senopati itu ingin melontarkan tombak itu, sehingga terlepas dari. genggaman anak muda yang berdiri dihadapannya.

Namun Senopati itu terkejut bukan buatan. Ketika ia menyambar tombak itu dengan pedangnya, maka tombak itu telah berputar pula secepat gerakan pedangnya, sehingga dengan demikian maka ujung tombak itu tidak dapat disentuhnya dengan pedangnya.

“Gila” geram Senopati itu.

Namun iapun segera sadar, bahwa anak-anak muda yang berada di padukuhan itu pun tentu berbaur pula dengan prajurit Singasari atau pengawal dari Gagelang, yang memiliki kemampuan seorang prajurit.

Karena itulah, maka iapun justru berhenti. Dengan wajah yang tegang, serta tatapan mata yang membara ia bergumam, “Anak-anak iblis itu ada disini pula”

“Apa?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Ada orang-orang Singasari atau Gagelang yang ada disini sebagaimana di padukuhan-padukuhan yang menjadi ajang pertempuran itu” berkata Senopati itu.

Sementara itu, orang tua yang menjadi pelindung dan pengawal terpercaya dari Pangeran Lembu Sabdata itu pun berkata, “Jika demikian, kita justru harus cepat sedikit agar kita segera keluar dari padukuhan kecil ini, sebelum mereka berbuat terlalu banyak”

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Menghancurkan mereka” jawab orang tua itu, “jumlah mereka tidak terlalu banyak dibandingkan dengan mereka yang ada di medan”

Lembu Sabdata tidak menjawab. Ia yakin akan perhitungan pengawalnya yang paling dipercayanya itu, dan yang dianggapnya memiliki kemampuan yang tidak ada batasnya.

Karena itu, yang dilakukannya kemudian adalah meneriakkan aba-aba untuk menghancurkan anak-anak muda yang telah menghalangi perjalanan mereka.

Dengan demikian, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarkan lagi. Para pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu tidak mengekang diri sama sekali. Mereka dengan garangnya telah menyerang anak-anak muda yang berada di sekeliling mereka.

Serangan itu memang mengejutkan. Anak-anak muda yang sebenarnya adalah prajurit Singasari itu pun segera menempatkan diri di paling depan. Sementara anak-anak muda Talang Amba yang serba sedikit juga sudah menerima latihan-latihan olah kanuragan itu. segera menyusun diri dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menyadari, bahwa kemampuan mereka sama sekali belum seimbang dengan kemampuan para pengawal yang melindungi Pangeran Lembu Sabdata itu.

Dalam pada itu, pertempuran pun segera membakar padukuhan kecil itu, Pangawal Pangeran Lembu Sabdata yang terlalu sedikit itu ternyata memiliki kemampuan yang sulit dibendung. Senopati yang berdiri di paling depan telah memecahkan kepungan anak-anak muda yang menahan mereka, sementara seorang tua yang menjadi pengawal terpercaya Lembu Sabdata itu pun memiliki kemampuan yang aneh.

Tiga orang anak muda tiba-tiba saja telah terpelanting dari arena. Tubuh mereka yang membentur dinding halaman membuat mereka pingsan. Tulang-tulang mereka serasa retak dan tubuh mereka pun rasa-rasanya menjadi hancur.

Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata sendiri telah bertempur pula dengan tangkasnya. Kemampuannya memang mengejutkan, sehingga lawannya pun harus menjadi sangat berhati-hati menghadapinya.

Demikianlah, perlahan-lahan tetapi pasti. Pangeran Lembu Sabdata dan beberapa orang pengawal khususnya itu maju terus. Anak-anak muda yang mengepungnya, menjadi gelisah. Bahkan anak-anak muda yang berasal dari prajurit Singasari pun menjadi cemas juga menghadapi lawan mereka yang luar biasa. Senopati yang tangguh dan seorang tua yang aneh telah membuat kepungan anak-anak muda itu retak.

Meskipun demikian, anak-anak muda itu masih berusaha menghambat langkah Pangeran Lembu Sabdata dan para pengawalnya. Tetapi setiap kali satu dua orang telah terlempar dan jatuh pingsan. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi parah dan kehilangan harapan untuk dapat keluar dari padukuhan itu dengan selamat.

Kecemasan telah mencengkam anak-anak muda itu. Bukan saja karena kawan-kawan mereka telah menjadi korban, tetapi juga karena mereka tidak berhasil menahan beberapa orang yang ingin melarikan diri dari medan. Justru menurut pengamatan mereka adalah orang-orang terpenting diantara orang-orang yang menyerang Kabuyutan Talang Amba itu.

Namun betapapun mereka berjuang, ternyata kemampuan para pengawal-pengawal Pangeran yang akan melarikan diri itu melampauinya.

Tetapi anak-anak muda Talang Amba dan prajurit-prajurit Singasari yang ada di padukuhan itu sama sekali tidak menyerah. Meskipun beberapa orang telah terlempar dari arena dan bahkan korban jiwa telah jatuh, namun anak-anak muda itu dengan sepenuh kemampuan telah menghambat gerak Pangeran Lembu Sabdata dan para pengiringnya.

Tetapi kekuatan di padukuhan-padukuhan kecil itu memang tidak cukup besar. Di padukuhan-padukuhan kecil itu sekelompok anak-anak muda Talang Amba dan beberapa prajurit Singasari sebenarnya hanya bertugas untuk mengamati keadaan, menahan satu dua orang yang akan melarikan diri dan apabila diperlukan bersama-sama dengan mereka yang ada di padukuhan-padukuhan lain memasuki arena dari belakang pasukan lawan. Terutama apabila pasukan Talang Amba benar-benar terdesak.

Namun pasukan di padukuhan kecil itu ternyata harus menghadapi meskipun hanya sekelompok kecil, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Demikianlah, maka akhirnya Pangeran Lembu Sabdata berhasil mendesak lawannya mendekati pintu gerbang keluar dari padukuhan kecil itu. Beberapa saat lagi mereka akan
meninggalkan padukuhan kecil itu untuk selanjutnya menjauhi Kabuyutan Talang Amba.

Sementara itu, sekelompok prajurit Singasari yang dipimpin oleh seorang Senopati bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendekati padukuhan kecil itu. Mereka menyadari, bahwa yang ada di padukuhan-padukuhan kecil itu bukannya satu pasukan yang kuat untuk mengatasi keadaan yang gawat. Karena itu, maka justru semakin dekat dengan pintu gerbang padukuhan itu, mereka menjadi semakin cemas. Bahkan sekelompok kecil pasukan itu pun telah berlari-lari kecil memasuki gerbang padukuhan.

Demikian mereka melangkah masuk, maka mereka pun menjadi semakin tegang. Mereka melihat beberapa sosok tubuh yang terbaring.

“Pingsan” desis seseorang yang kemudian berjongkok di samping salah seorang dari tubuh yang terbaring itu. Namun seorang yang lain yang menempelkan telinganya di dada seorang anak muda yang menelentang di pinggir jalan itu telah menggelengkan kepalanya sambil berdesis, “Anak Ini telah meninggal”

Senopati yang memimpin sekelompok kecil pasukannya itu bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka mereka pun segera berlari menyusuri jalan padukuhan kecil itu.

Pada saat itu, Pangeran Lembu Sabdata dan pengiringnya telah memecahkan hambatan terakhir. Anak-anak muda Talang Amba dan beberapa orang prajurit Singasari yang ada di padukuhan itu dengan kekuatan terakhir telah berusaha menutup jalan keluar. Tetapi mereka tidak berdaya. Senopati yang memimpin pengawalan Pangeran Lembu Sabdata itu telah dengan garangnya bertempur untuk membuka jalan keluar. Sementara itu, seorang tua, pengawal terpercaya Pangeran Lembu Sabdata itu ternyata benar-benar orang yang luar biasa. Tanpa kesulitan mereka menyingkirkan orang-orang yang berusaha menghambatnya keluar bersama Pangeran Lembu Sabdata. Apalagi Pangeran lembu Sabdata sendiri pun bertempur dengan kemampuannya yang tinggi.

Sementara itu orang-orangnya yang lain telah melindungi Pangeran itu dari sergapan-sergapan dari segala arah.

Namun demikian mereka berhasil memecahkan kepungan terakhir itu, maka sekelompok anak-anak muda yang lain telah dating menghampiri mereka.

“Gila” geram Senopati dari Singasari itu, “hampir saja kita kehilangan lagi”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata tidak sabar lagi. Dengan serta merta mereka pun menyusup diantara anak-anak muda Talang Amba yang mengalami kesulitan menahan sekelompok orang yang akan meninggalkan padukuhan kecil itu.

Ternyata kehadirannya telah mengejutkan Pangeran Lembu Sabdata. Ia mengenal anak-anak muda itu. Seorang diantaranya pernah bertempur melawannya

Namun kini ia bersama dengan seorang pengawalnya yang terpercaya. Karena itu, maka iapun segera dapat menguasai perasaannya. Bahkan dengan geram iapun kemudian berkata, “Anak-anak inilah yang pertama-tama harus dibinasakan. Ia bukan anak Talang Amba. Bukan pula prajurit Singasari. Mereka adalah petualang-petualang yang selalu membuat keributan di mana-mana.

Pengawalnya yang memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya itu pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah Pangeran. Biarlah aku memusnahkan keduanya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mempersiapkan diri. Ternyata bahwa para pengiring Pangeran Lembu Sabdata itu pun segera bersiap menghadapi lawan-lawannya yang baru. Sementara itu, maka Senopati dari Singasari yang datang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah bersiap-siap pula. Bahkan ia masih sempat berkata Ki Sanak Sebaiknya kalian mengurungkan niat kalian untuk meninggalkan tempat ini. Tidak ada jalan yang akan dapat kalian lalui”

“Persetan” Pangeran Lembu Sabdata lah yang menjawab, “minggir, atau kami akan membunuh kalian”

“Jadi kau akan melarikan diri lagi Pangeran?” bertanya Mahisa Pukat, “langkah-langkah yang licik itulah agaknya yang kau lakukan selama ini. Kau korbankan orang-orangmu, sementara kau lari meninggalkan medan.

Telinga Pangeran Lembu Sabdata bagaikan terbakar. Dengan garang ia berkata, “Hanya orang-orang gila yang menurutkan dirinya untuk dibantai.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Nampaknya Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak menghargai lagi sifat kesatria yang harus disandang oleh seorang prajurit.

Namun demikian Mahisa Pukat masih berkata, “Itukah pendirian Pangeran? Pangeran lebih menghargai perasaan takut daripada sifat seorang prajurit”

“Aku berdiri diatas naluri kemanusiaanku” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “ setiap orang tentu ingin mempertahankan hidupnya”

“Tetapi tanpa mengorbankan orang lain seperti yang Pangeran lakukan sekarang” potong Mahisa Murti, “Jika Pangeran sempat melihat, para pengikut Pangeran di padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk Kabuyutan Talang Amba itu telah bertempur mengorbankan diri mereka untuk satu tugas yang Pangeran bebankan diatas pundak mereka. Sementara itu Pangeran sendiri telah berusaha melarikan diri dari arena dengan membiarkan para pengikut Pangeran itu menjadi korban di peperangan”

“Aku tidak memerintahkan kepada mereka untuk mati” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “adalah salah mereka sendiri jika mereka tidak berhasil mempertahankan hidup mereka”

“Dan Pangeran dengan licik melarikan diri” sambung Mahisa Murti.

“Sudah aku katakan. Aku tidak mau mati. Karena itu aku menghindarkan diri dari kemungkinan untuk mati. Jika disini aku dihambat, maka aku menghancurkan hambatan itu dari pada aku yang akan terbunuh” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempunyai pilih an lain. Karena itu, maka mereka pun segera menempatkan diri. Sementara itu Senopati yang memimpin para pengiring Pangeran Lembu Sabdata itu sudah-berhadapan dengan Senopati Singasari yang ada diantara sekelompok kecil orang-orang yang berusaha menyusul Pangeran Lembu Sabdata itu. Sedangkan Mahisa Pukat pun telah menempatkan dirinya berhadapan dengan Pangeran Lembu Sabdata.

Namun dalam pada itu, seorang tua yang justru merupakan orang yang berilmu sangat tinggi, agaknya terlepas dari perhatian orang-orang yang memburu Pangeran Lembu Sabdata itu. Mahisa Murti dan kemudian menghadapi seorang pengawal telah di gamit oleh seorang anak muda yang telah bertempur melawan sekelompok pengawal Pangeran itu sebelumnya.

“Orang itu memiliki ilmu iblis” desis anak muda itu.

“O” Mahisa Murti mengangguk-angguk, “Aku akan menghadapinya. Orang tua itukah yang kau maksud?”

“Jangan sendiri” berkata anak muda yang sebenarnya adalah seorang prajurit Singasari, “orang itu benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia percaya kepada anak muda itu, setelah anak muda itu mengatakan tentang dirinya sendiri dan apa yang dilihatnya sebelumnya, maka Mahisa Murti pun telah berada di dalam sekelompok kecil prajurit Singasari menghadapi pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu.

Dalam pada itu, maka para pengawal Pangeran Lembu Sabdata tidak dapat berbuat lain daripada bersungguh-sungguh. Mereka memperhitungkan kemungkinan yang lebih buruk yang dapat terjadi. Mungkin dalam waktu yang singkat, ada lagi sekelompok lawan yang menyusul mereka.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata menganggap bahwa ia harus segera dapat menyelesaikan pertempuran itu secepatnya.

Karena itu, maka ketika pertempuran itu mulai berkobar, terdengar Pangeran itu berteriak, “Cepat. Kita selesaikan anak-anak yang keras kepala ini”

Aba-aba itu lebih tertuju kepada para pengawalnya, karena ternyata ia sendiri tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan ketika Mahisa Pukat pun telah mengerahkan kemampuannya pula, maka Pangeran Lembu Sabdata mulai merasakan tekanan lawannya itu menjadi semakin berat.

Tetapi orang tua yang menjadi pengawal dan sekaligus pelindung Pangeran Lembu Sabdata itu memiliki ilmu yang tidak terlawan oleh anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari termasuk Mahisa Murti. Bahkan ketika Pangeran Lembu Sabdata telah meneriakkan aba-aba untuk mempercepat penyelesaian, maka orang itu pun menjadi semakin garang.

Dalam waktu yang singkat, seorang anak muda telah terlempar. Orang tua itu nampaknya tidak bersenjata, tetapi luka di tubuh anak muda yang terlempar itu bagaikan terkoyak oleh tajamnya pedang bermata eri pandan.

“Mengerikan” desis kawan-kawannya.

Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan lawan mereka. Bagaimanapun juga, orang tua itu harus dihadapi.

Namun sejenak kemudian, seorang lagi telah terlempar. Tidak nampak adanya luka-luka di tubuhnya. Namun demikian ia terbanting jatuh, maka ia hanya dapat menggeliat. Kemudian tubuh itu bagaikan membeku.

Pertempuran itu pun telah dicengkam oleh ketegangan. Mahisa Murti dengan pedang di tangan telah berusaha untuk memancing perhatian orang tua itu kepadanya. Namun setiap kali, orang tua itu masih sempat mengarahkan serangannya kepada anak-anak muda yang lain.

Namun dalam pada itu, ketika Mahisa Murti berusaha untuk menyelamatkan seorang anak muda yang kehilangan keseimbangannya, tiba-tiba orang itu justru telah menyerangnya. Sambil menjulurkan pedangnya Mahisa Murti meloncat jauh kebelakang. Meskipun ia berhasil keluar dari jangkauan serangan yang mematikan, namun ternyata pundaknya telah terkoyak pula.

Mahisa Murti menggeram. Ia tidak menduga bahwa orang tua itu benar-benar memiliki kemampuan yang jarang ada bandingnya, melampaui perhitungannya semula. Justru karena orang itu tidak bersenjata.

Dalam pada itu, orang yang memiliki ilmu yang mencengangkan itu, memandang Mahisa Murti dengan tatapan mata yang menyala. Dengan nada berat ia berkata, “Agaknya kau adalah orang yang paling berbahaya diantara anak-anak muda gila ini. Karena itu, maka kaulah yang harus lebih dahulu mati. Baru kemudian kawan-kawanmu yang dungu, yang tidak mau menyingkir dari arena ini”

Mahisa Murti menjadi tegang. Pedangnya masih di-dalam genggamannya. Namun ia sadar, bahwa orang yang dihadapinya adalah orang yang luar biasa.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...