*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 015-03*
Pangeran Lembu Sabdata masih diam belum menjawab.
Karena Pangeran Lembu Sabdata masih belum menjawab, maka Sri Baginda itu meneruskan, “Tetapi apakah hasilnya setelah kau dengan susah payah melakukan tindakan-tindakan yang tercela di bawah pengaruh Pangeran Kuda Permati? Justru kau telah diancamnya. Bahkan telah terjadi satu percobaan pembunuhan atasmu”
Namun adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata itu mengangkat wajahnya yang nampak keheranan. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Siapa yang akan dibunuh Sri Baginda”
“Bukankah Pangeran Kuda Permati telah memerintahkan orang-orangnya untuk membunuhmu setelah mereka gagal untuk melepaskanmu dari tangan orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari?” bertanya Sri Baginda.
Pangeran Lembu Sabdata justru menjadi semakin keheranan. Sekilas dipandanginya Pangeran Singa Narpada yang duduk di sebelahnya. Dengan nada keheranan iapun kemudian bertanya, “Ampun Baginda. Siapakah yang telah memberikan laporan yang demikian?
Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan Pangeran Singa Narpada. Apalagi ketika Pangeran Lembu Sabdata berkata, “Tidak ada orang yang akan membunuh hamba”
“Adimas” potong Pangeran Singa Narpada dengan wajah yang membara, “Bukankah ular itu telah mematuk punggung adimas? Jika adimas tidak diselamatkan oleh orang-orang Talang Amba, bukankah adimas sudah terbunuh?”
Pangeran Lembu Sabdata menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan yang kemudian dilontarkannya, benar-benar telah menghentakkan jantung Pangeran Singa Narpada, sehingga rasa-rasanya jantungnya itu akan terlepas dari tangkainya.
“Sri Baginda” bertanya Pangeran Lembu Sabdata, “apakah yang sebenarnya sudah dilontarkan kepada Baginda tentang diri hamba selama hamba berada di Talang Amba?”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Sementara kegelisahan yang sangat telah membayang di wajah Pangeran Singa Narpada.
Seri Baginda pun telah mengulangi keterangannya sesuai dengan laporan Pangeran Singa Narpada. Namun benar-benar tidak masuk dalam akal Pangeran Singa Narpada, bahwa tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata menyahut, “Bohong. Semuanya bohong Baginda. Tidak ada orang yang ingin membunuh hamba. Jika hamba tidak dapat segera dibawa menghadap, maka sebenarnyalah bahwa hamba benar-benar tidak mampu bangkit. Tubuh hamba bagaikan remuk dan tulang-tulang hamba bagaikan berpatahan”
“Kenapa?” bertanya Sri Baginda.
Pangeran Lembu Sabdata berpaling kepada Pangeran Singa Narpada sambil menjawab, “Kakangmas Singa Narpada ingin mendengar dari mulut hamba, siapakah yang berada di belakang hamba atas peristiwa-peristiwa yang terjadi itu”
“Gila” hampir berteriak Pangeran Singa Narpada bergeser mendekat. Seandainya mereka tidak berada dihadapan Sri Baginda, maka ia sudah mencekik leher Pangeran Lembu Sabdata.
“Tunggu” cegah Sri Baginda, “biarlah ia berbicara. Pangeran Singa Narpada menggeram, “Kau jangan memutar-balikkan keadaan”
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata justru tersenyum. Katanya, “Memang putaran roda pedati itu mengharuskan jari-jarinya sekali melintang, sekali membujur. Yang diatas akan berganti dibawah. Dan yang sewenang-wenang akhirnya akan terbongkar pula”
“Tetapi aku tidak berbuat apa-apa” bentak Pangeran Singa Narpada.
Namun Sri Baginda pun telah membentak, “Diam. Akulah yang akan bertanya kepadanya”
Pangeran Singa Narpada telah terdiam. Kepalanya tertunduk namun jantungnya bagaikan meledak.
“Sri Baginda” berkata Pangeran Lembu Sabdata kemudian, “hamba benar-benar tidak dapat bertahan untuk mengatakan bahwa segalanya adalah karena niat hamba sendiri. Tidak ada orang lain yang menggerakkan hamba. Tetapi tekanan yang tidak tertahankan telah memaksa hamba menyebut asal saja mengucapkan sebuah nama”
“Apakah benar begitu?” bertanya Sri Baginda.
“Hamba Sri Baginda. Hamba benar-benar telah diremukkan oleh kakangmas Singa Narpada. Memang orang-orang Talang Amba ada juga yang berbaik hati mengobati hamba. Tetapi itu karena mereka pun merasa perlu untuk mempertahankan hidup hamba, agar mereka mendapat keterangan seperlunya sebagaimana kakangmas Singa Narpada”
Rasa-rasanya telinga Pangeran Singa Narpada telah membara mendengar keterangan Pangeran Lembu Sabdata itu. Benar-benar satu persoalan yang tidak diduganya sebelumnya. Bagaimanapun tipisnya, ia masih menghargai kejujuran Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi ternyata yang dijumpai benar-benar satu fitnah yang paling keji.
Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada itu pun justru bagaikan terbungkam. Kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya membuatnya menjadi gemetar.
“Baginda” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian terbata-bata justru oleh gejolak batinnya, “hamba tidak menyangka bahwa adimas Pangeran Lembu Sabdata akan mengatakan demikian”
“Ya Baginda” potong Pangeran Lembu Sabdata, “baru sekarang hamba menyadari. Agaknya itulah sebabnya, maka kakangmas Singa Narpada telah mengancam hamba untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya hamba alami. Hamba kira, bahwa kakangmas Singa Narpada benar-benar ingin menyembunyikan kenyataan yang telah terjadi di Talang Amba atas diri hamba. Namun dalam pada itu Baginda, bahwa hamba mohon keadilan. Hamba memang sudah bersalah, bahwa hamba merasa wajib untuk berbuat sesuatu atas Kediri. Tetapi tingkah laku kakangmas Singa Narpada sudah melampaui wewenang yang ada padanya”
“Bohong” Pangeran Singa Narpada hampir berteriak. Namun dengan demikian Sri Baginda pun telah memandanginya dengan tajamnya sambil bertanya, “Kau sadari, bahwa kau duduk dihadapanku?”
Pangeran Singa Narpada menundukkan kepalanya sambil berdesis lemah, “Hamba Baginda. Tetapi maksud hamba adalah memberikan penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi”
“Pangeran Singa Narpada yang perkasa” berkata Sri Baginda, “setiap orang tahu, apa yang dapat kau lakukan terhadap orang-orang yang tidak berdaya seperti adimas Pangeran Lembu Sabdata selama adimas Pangeran ada di tanganmu. Setiap orang tahu, bahwa beberapa orang telah kau remukkan untuk sekedar mendapatkan pengakuan dari mulutnya. Bahkan kadang-kadang pengakuan semu yang diucapkan karena ia tidak mampu lagi mengelakkan diri dari kekerasan tanganmu. Dan sekarang hal itu terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata. Atas adikmu sendiri”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, hatinya justru menjadi tenang. Bahkan kemudian iapun bertanya dengan suara dalam, “Ampun Sri Baginda. Hamba menyadari, bahwa cacat itu memang tidak dapat hamba tanggalkan dari diri hamba. Sekali hamba melakukannya, maka hal itu akan terbawa sepanjang umur hamba” Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, kalau, “tetapi ampun Sri Baginda. Jika demikian, kenapa adimas Pangeran Kuda Permati harus pergi meninggalkan kota seandainya ia tidak mempunyai hubungan apapun dengan adimas Pangeran Lembu Sabdata. Seandainya benar kata adimas Pangeran Lembu Sabdata bahwa pengakuannya itu asal saja menyebut sebuah nama, maka apakah hubungannya hal ini dengan kepergian adimas Pangeran Kuda Permati itu”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Agaknya hal itu memang harus dipertimbangkan.
Namun sebenarnyalah bahwa Pangeran Lembu Sabdata adalah salah seorang dari saudara Baginda yang paling dekat. Itulah agaknya maka Sri Baginda menganggap bahwa Pangeran Lembu Sabdata lebih dapat dipercaya dari saudara-saudaranya yang lain.
Meskipun demikian Sri Baginda itu masih juga bertanya, “Lembu Sabdata. Apa katamu tentang pertanyaan kakangmasmu tantang Kuda Permati. Jika ia tidak tersangkut dalam persoalanmu, kenapa ia harus melarikan diri dan menghilang dari kota”
“Ada beberapa hal Sri Baginda” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “mungkin kakangmas Kuda Permati tidak sedang melarikan diri. Tetapi sedang melakukan satu tugas tertentu. Katakanlah bahwa dengan demikian kakangmas telah melakukan satu kesalahan bahwa ia tidak melaporkan diri pada saat ia meninggalkan kota. Sedangkan kemungkinan yang terbesar adalah, bahwa kakangmas sudah mendengar apa yang terjadi di Talang Amba. Aku dipaksa mengaku dihadapan banyak orang, bahwa aku telah melakukan satu pemberontakan. Salah seorang yang berjuang bersamaku adalah kakangmas Kuda Permati. Nama itu aku ucapkan asal saja aku menyebutnya. Namun demikian, kakangmas Singa Narpada memang memancing aku untuk menyebut nama itu. Karena itulah agaknya berita tentang terlibatnya kakangmas Kuda Permati sebagaimana aku ucapkan dihadapan orang banyak itu telah didengar oleh kakangmas Kuda Permati, sehingga lebih baik baginya untuk menghindar sampai persoalan ini dapat dijernihkan”
“Bohong. Semuanya bohong” geram Pangeran Singa Narpada.
“Bukankah hal ini dapat ditanyakan kepada beberapa pihak?” bertanya Sri Baginda.
“Tidak ada gunanya” sahut Pangeran Lembu Sabdata, “para pengikut kakangmas Singa Narpada, baik yang pertama maupun yang kemudian datang ke Talang Amba adalah orang-orang yang berada sepenuhnya dibawah pengaruhnya. Apa yang akan dikatakan adalah apa yang diinginkan oleh kakangmas Singa Narpada. Bahkan seandainya Sri Baginda memanggil orang-orang Talang Amba, maka jawaban mereka atas pertanyaan siapapun juga, mempunyai pola yang sama meskipun mungkin dalam ungkapan yang berbeda”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya kepada Pangeran Singa Narpada, “Jelas. Bagaimana dengan kau? Apakah kau masih juga belum mengetahui isi ceriteranya”
“Dan Baginda mempercayainya?” Pangeran Singa Narpada ganti bertanya.
“Apa katamu, seandainya aku menjawab ya?” bertanya Sri Baginda.
“Segala wewenang dan kekuasaan duniawi ada di tangan Baginda Kediri. Tetapi bersama hamba adalah dua orang perwira Singasari yang melihat peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Sekilas nampak wajah Lembu Sabdata menegang. Namun kesan itu pun segera lenyap. Dengan sikap sebagaimana sebelumnya ia menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Sri Baginda.
Dalam pada itu, Sri Baginda pun telah mengerutkan keningnya. Bersama Pangeran Singa Narpada, Baik perjalanannya yang pertama, maupun perjalanannya yang kedua, adalah para perwira Singasari yang akan dapat menjadi saksi. Karena itu, maka Sri Baginda itu pun berkata kepada Pangeran Lembu Sabdata, “Apa katamu tentang kedua orang perwira Singasari itu?”
“Perasaan orang-orang Singasari terhadap hamba sudah jelas Sri Paduka. Hamba adalah pemberontak yang harus dihukum mati. Karena itu setiap keterangannya tentu akan sangat memberatkan hamba” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “hamba tidak tahu, seandainya para perwira dari Singasari itu akan memberikan keterangan. Apakah keterangan mereka akan sama dengan keterangan Kakangmas Pangeran Singa Narpada yang memang sudah dirancangkannya lebih dahulu, atau mereka akan memberikan keterangan yang lain. Tetapi, adalah mustahil jika mereka akan memberikan keterangan yang sebenarnya”
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ternyata bahwa aku masih harus mencari keterangan-keterangan lain tentang keadaan yang sebenarnya terjadi di Talang Amba. Namun dalam pada itu, untuk tidak terjadi kecurangan-kecurangan dari segala pihak, maka baik Lembu Sabdata maupun Singa Narpada terpaksa aku batasi kebebasan gerak kalian”
Pengeran Singa Narpada menggeram. Tetapi Sri Baginda sudah mengucapkan satu keputusan, sehingga sulit untuk dapat dirubah lagi. Betapa rasa keadilan Pangeran Singa Narpada tersinggung, namun ia tidak dapat membantahnya.
Karena itu, maka keduanya kemudian telah ditempatkan dalam bilik yang khusus dan terpisah.
Sementara itu, Sri Baginda masih berusaha untuk mendapatkan beberapa keterangan yang akan dapat menjernihkan keadaan.
“Sri Baginda” berkata salah seorang Pangeran yang mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya, “Sri Baginda telah menunjuk Pangeran Singa Narpada. Namun agaknya Baginda tidak mempercayainya sepenuhnya.
Bukankah sejak semula kita sudah mengetahui kekerasan hati Pangeran Singa Narpada”
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita akan melihat, apakah yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu benar. Ada banyak sumber yang akan dapat memberikan keterangan. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Pangeran Lembu Sabdata bahwa orang-orang Talang Amba tentu akan tunduk kepada semua pesan Pangeran Singa Narpada”
Pangeran itu tidak menjawab. Tatapi ia tetap tidak mengerti, kenapa Sri Baginda bersikap berat sebelah, sehingga Pangeran Singa Narpada pun harus ditahan pula.
Dalam pada itu, berita tentang penahanan Pangeran Singa Narpada itu pun segera tersebar. Tuduhan yang dilontarkan kepadanya pun telah banyak diketahui oleh orang-orang Kediri. Sebagian dari mereka menganggap bahwa sikap Sri Baginda adalah sikap yang paling adil. Mereka menghubungkan langkah-langkah yang keras Pangeran. Singa Narpada telah menyebabkan Pangeran Kuda Permati meninggalkan Kediri. Pangeran Kuda Permati yang tidak melakukan kesalahan itu, merasa perlu untuk menghindarkan diri dari benturan kekuatan dengan saudara sendiri, karena Pangeran Singa Narpada memaksa Pangeran Lembu Sabdata untuk menyebut nama itu sebagai salah satu, bahkan sebagai penggerak dalam usaha melawan Singasari.
Berita itu bukan saja tersebar di Kediri. Tetapi akhirnya orang-orang Talang Amba pun mendengarnya juga.
Para perwira yang ikut bersama Pangeran Singa Narpada ke Talang Amba merasa heran, bahwa Sri Baginda demikian saja percaya kepada Pangeran Lembu Sabdata, seakan-akan Pangeran Singa Narpada telah memfitnahnya.
Tetapi seperti beberapa pihak lain tidak dapat dengan serta merta berusaha merubah keadaan itu. Mereka harus berhati-hati, sehingga pada satu saat, mereka mendapat kesempatan sebaik-baiknya untuk membuktikan bahwa keputusan Sri Baginda itu salah.
Yang tidak kalah terkejutnya mendengar berita itu adalah Pangeran Kuda Permati sendiri. Seorang kepercayaannya yang ditinggalkannya di Kediri telah memberikan laporan sepenuhnya apa yang telah terjadi.
“Jadi adimas Pangeran Lembu Sabdata berhasil mengingkari keterangannya, bahwa aku telah terlibat” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Ya Pangeran” jawab kepercayaannya, “sekarang Pangeran Singa Narpada justru telah ditahan, sedangkan Pangeran Lembu Sabdata pun untuk sementara masih juga ditahan, karena Pangeran itu memang sudah mengaku mengadakan perlawanan terhadap Singasari Tetapi atas kehendak sendiri dan sama sekali tidak menyangkut nama Pangeran Kuda Permati”
“Apa katanya tentang aku?” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Jika di Talang Amba Pangeran Lembu Sabdata menyebut nama Pangeran, itu adalah justru atas kehendak Pangeran Singa Narpada yang memaksa Pangeran Lembu Sabdata untuk mengakui kehadiran Pangeran Kuda Permati di lingkungannya”
Pangeran Kuda Permati tertawa. Katanya, “Aku tidak menyangka bahwa adimas Lembu Sabdata ternyata memiliki kecerdasan dan kesetiaan yang tinggi. Jika demikian, maka aku harus menghilangkan segala keragu-raguan atas kesetiaannya. Untunglah bahwa Pangeran itu masih tetap hidup. Ia akan dapat menjadi tenaganya yang baik sekali diantara kita semuanya”
“Ya Pangeran” jawab kepercayaannya, “pada suatu saat, kita akan mendapat kesempatan untuk bertemu lagi”
Pangeran Kuda Permati mengangguk-angguk. Ia merasa beruntung, bahwa Pangeran Lembu Sabdata masih tetap berusaha melindungi namanya, meskipun ia sudah pernah berusaha untuk membunuhnya.
Dalam pada itu, maka pesannya kepada orang-orangnya, “Ikuti segala perkembangan keadaan adimas Pangeran Lembu Sabdata. Mungkin ada sesuatu yang perlu kita perhatikan”
Pesan itu pun dilakukan oleh para pengikutnya dengan saksama. Terutama mereka yang ada di kota Kediri.
Sementara Pangeran Kuda Permati berpengharapan atas kemungkinan yang menguntungkan baginya, maka orang-orang Talang Amba menjadi heran mendengar keputusan Sri Baginda di Kediri, bahwa Pangeran Singa Narpada telah ditahan dan dipersalahkan telah melakukan kekerasan terhadap Pangeran Lembu Sabdata yang dalam keadaan tidak berdaya.
“Aneh” berkata Ki Sanggarana yang mendengar berita itu dalam suatu pertemuan dengan orang-orang Singasari.
Apakah para perwira yang menyertai Pangeran Singa Narpada tidak ada yang dapat memberikan keterangan tentang peristiwa yang sesungguhnya terjadi?” bertanya Senopati Singasari yang ada di Talang Amba.
“Menurut keterangan yang kami dengar” sahut Ki Sanggarana, “semua pernyataan tentang keadaan yang sebenarnya telah dianggap sebagai satu pemalsuan karena perintah Pangeran Singa Narpada. Seakan-akan semua orang yang menyertainya, baik pada perjalanannya yang pertama maupun yang kedua, telah mendapat tekanan dari Pangeran itu untuk mengatakan yang tidak sebenarnya”
Senopati Singasari itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi yang sebenarnya itulah yang dianggap tidak sebenarnya. Dan Raja di Kediri itu percaya begitu saja kepada Lembu Sabdata”
“Pangeran Lembu Sabdata adalah adiknya yang paling dikasihinya” berkata Ki Sendawa yang pernah mendengar juga tentang persoalan yang sedang berkembang di Kediri.
Namun dalam pada itu, para Senopati Singasari mempunyai penilaian tersendiri. Seorang Senopati berdesis, “apakah ini satu pertanda sikap Kediri terhadap Singasari?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi seorang Senopati yang sudah agak lebih tua dari kawan-kawannya berkata, “Kita jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan apapun juga. Sebagai orang luar, kita akan dapat mengamati lebih jelas tentang peristiwa yang terjadi di Kediri itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang juga mendengar peristiwa itu pun berkata, “kami ingin pergi ke Kediri”
Ki Waruju mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berkata, “Kali ini kalian jangan bermain-main”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang Ki Waruju dengan tajamnya. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti menjawab, “kami tidak sedang bermain-main paman, Kami tahu, bahwa persoalan ini akan menyangkut hubungan antara Kediri dan Singasari. Namun karena kami hanyalah orang-orang kebanyakan, maka mungkin yang akan dapat kami capai pun tidak lebih dari keterangan-keterangan yang barangkali berguna”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya, “Asal saja kalian menyadari, apa yang sedang kalian lakukan itu. Di Kediri kalian akan berhadapan dengan orang-orang Pangeran Kuda Permati yang tentu masih tetap berkeliaran”
“Kami tidak akan berbuat apa-apa” jawab Mahisa Murti, “kami hanya akan mendengarkan apa yang terjadi. Karena itu, maka kami berharap untuk tidak akan berhadapan dengan orang-orang Pangeran Kuda Permati. Namun apabila hal itu harus terjadi apa boleh buat”
“Baiklah” berkata salah seorang Senopati Singasari yang berada di Talang Amba, “Kau dapat membawa satu pertanda dari aku. Kemudian kau akan dapat berhubungan dengan orang-orang Singasari yang ada di Kediri. Sebab selain orang-orang yang memang ditempatkan di Kediri dan orang-orang yang dengan terbuka melakukan tugas-tugasnya, Singasari pun menempatkan beberapa orang pengawas di Kediri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kami pun ingin tahu, apakah dua orang perwira Singasari yang menyertai Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak dapat memberikan keterangan apapun juga tentang tingkah laku Pangeran Lembu Sabdata itu?”
“Persoalannya tentu akan sama saja. Kedua perwira dari Singasari itu dianggap sudah membicarakan rencana untuk menjebak Pangeran Lembu Sabdata” sahut Senopati dari Singasari itu.
“Tetapi bukankah kesalahan Pangeran Lembu Sabdata telah terbukti dan diakuinya” sahut Mahisa Pukat.
“Ya. Tetapi ia tidak mau menyangkut nama lain” jawab Senopati dari Singasari itu.
Mahisa Pukat pun hanya mengangguk-angguk, sementara itu Senopati dari Singasari itu pun berkata, “Aku juga mempunyai wewenang dalam tugas-tugas sandi. Nah, kalian dapat memakai cincin pertanda khusus dari mereka yang mendapat tugas sandi. Ingat, hanya orang-orang yang terpercaya sajalah yang diperkenankan memakai pertanda itu. Dan kalian telah menempatkan diri dalam lingkungan orang-orang yang terpercaya itu. Aku berani menganggap kalian demikian setelah kami tahu apa yang kalian lakukan disini”
“Terima kasih” sahut keduanya hampir berbareng.
“Nah, kalian di Kediri akan dapat menghubungi beberapa orang dalam tugas yang sama” berkata Senopati itu.
“Namun kalian harus memberikan laporan tentang kerja kalian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun justru dengan demikian, mereka telah terlibat ke dalam satu tugas yang penting, bukan saja sebagai satu petualangan, tetapi satu tugas yang harus dipertanggung-jawabkan.
Sementara itu, maka Senopati itu pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan pertanda itu, maka nama kalian akan tercatat dalam urutan petugas-petugas sandi. Dengan demikian kalian adalah dua diantara beberapa petugas sandi yang secara suka rela mengabdikan dirinya pada kewajiban yang berat itu. Selain daripada itu, segalanya berani aku lakukan tanpa berhubungan lebih dahulu dengan Senopati yang lebih tinggi di Singasari, karena kalian adalah adik-adik Mahisa Bungalan. Dalam hal ini dengan satu pengertian, bahwa demikian aku kembali ke Singasari atau salah seorang diantara kami yang berada di dalam lingkungan petugas-petugas sandi, maka kami akan memberitahukan hal ini kepada Mahisa Bungalan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara. itu Ki Waruju pun berdesis, “Kalian telah membebani pundak kalian sendiri dengan kewajiban yang sangat berat, yang mungkin kesulitan-kesulitannya tidak pernah kalian bayangkan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru mulai menyadari atas tugas yang mereka terima itu. Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun menjawab, “Sudah menjadi kewajiban kami untuk berbuat sesuatu yang mungkin dapat kami lakukan bagi kepentingan Singasari. Mungkin kami tidak berhasil sebagaimana kami harapkan. Namun dengan demikian, maka kami telah meletakkan satu tekad untuk berbuat baik bagi Singasari”
“Baiklah” berkata Ki Waruju, “tetapi kalian harus menyadari, bahwa tugas kalian adalah tugas rahasia. Pertanda yang kalian kenakan adalah pertanda tugas rahasia itu, sehingga bukan justru kalian pergunakan untuk satu pameran dan kebanggaan, sehingga banyak orang yang mengetahuinya. Dengan demikian maka kerahasiaan kalian tolak akan ada artinya lagi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Terdengar Mahisa Pukat menyahut, “kami mengerti paman”
“Baiklah. Selanjutnya, dengarlah segala pesan baik-baik” berkata Ki Waruju kemudian.
Dalam pada itu, maka Senopati dari Singasari yang juga termasuk dalam jajaran petugas sandi itu pun mulai memberikan beberapa keterangan. Namun ternyata ia masih belum mengatakan seluruhnya. Masih ada yang memang merupakan satu rahasia yang hanya akan dikatakannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saja meskipun hal itu tidak dinyatakannya dengan berterus terang.
Karena itulah, maka dalam kesempatan yang terpisah, tanpa hadirnya orang lain, Senopati itu telah memberikan beberapa petunjuk tentang petugas-petugas sandi yang dapat dihubunginya di Kediri.
Dengan sungguh-sungguh Senopati itu berkata, “Sekali lagi aku beritahukan kepada kalian, bahwa yang akan kalian lakukan adalah tugas rahasia. Tidak banyak orang yang mengetahui Bahkan prajurit-prajurit Singasari yang ada di-sini pun tidak mengetahuinya pula. Nama-nama itu adalah nama-nama yang tabu bagi siapapun juga. Ingat, kalian mungkin akan mengalami satu keadaan yang sangat pahit. Tetapi jangan ada nama yang terlepas dari mulutmu. Taruhan dari tugas kalian bukan saja maut. Tetapi puncak dari kesakitan mungkin akan kalian alami”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka menyadari sepenuhnya pesan dari Senopati itu. Jika mereka tertangkap karena tugas mereka, maka mereka tidak boleh menyebut nama apapun juga, meskipun mereka diperas dengan segala macam cara.
Namun dalam pada itu, ketika keduanya kembali ke dalam bilik mereka, sementara lampu-lampu minyak telah menyala di setiap ruangan, Ki Waruju pun telah datang kepada mereka.
“Aku tidak akan mengganggu tugas kalian” berkata Ki Waruju, “Karena itu, aku tidak akan mencoba untuk mengetahui apa yang telah diberitahukan kepadamu. Namun justru karena tugas kalian yang berat dan rumit itu, maka aku tidak akan sampai hati melepaskan kalian berdua berada di Kediri. Selagi kalian melakukan tugas itu, maka aku pun akan berada di Kediri”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi cerah. Dengan penuh minat Mahisa Murti pun bertanya, “Dimana paman akan tinggal?”
“Kalian dapat mencari aku diantara belantik-belantik lembu. Aku akan berada di pasar hewan pada hari-hari pasaran. Pada kesempatan itu kita akan dapat bertemu. Mungkin ada persoalan yang perlu aku bantu” berkata Ki Waruju. Lalu, “baru kemudian, setelah aku mendapat tempat yang jelas, aku akan dapat memberitahukan kepada kalian”
“Terima kasih paman” desis Mahisa Pukat, “dengan demikian, rasa-rasanya tugasku akan menjadi semakin ringan”
“Tetapi kalian harus berkata terus terang dengan Senopati yang memberikan kepercayaan kepada kalian, bahwa aku terlibat pula di Kediri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata memenuhi permintaan Ki Waruju. Keduanya telah melaporkan, bahwa Ki Waruju akan berada di Kediri juga.
“Tidak ada salahnya” jawab Senapati itu, “Aku juga mengenalnya selama ini berada di sini. Tetapi ingat, bahwa nama-nama para petugas sandi itu tidak boleh terucapkan oleh bibir kalian dengan siapapun kalian berbicara”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Pukat menjawab, “kami akan berpegang kepada janji kami”
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menempatkan dirinya pada satu tugas paling gawat. Ia akan berada di Kediri dalam hubungannya dengan kegiatan Pangeran Lembu Sabdata dan keadaan Pangeran Singa Narpada yang sulit.
Pada saat menjelang keberangkatannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada para pemimpin dari Kabuyutan Talang Amba dan para Senapati Singasari yang berada di Kabuyutan itu. Tidak banyak orang yang tahu, apa yang akan dilakukannya kemudian. Namun bagi orang-orang Talang Amba, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah banyak memberikan arti bagi anak-anak mudanya dan justru bagi keselamatan Kabuyutan itu sendiri.
Karena itu, pada saat keberangkatannya beberapa orang pemimpin Kabuyutan Talang Amba, para Senapati prajurit Singasari dan anak-anak mudanya telah melepaskan dengan jantung yang berdebaran. Rasa-rasanya mereka ingin menahan agar kedua anak muda itu tetap berada di Talang Amba”
“Pada saatnya kami akan kembali” berkata Mahisa Murti kepada anak-anak muda itu.
Dengan demikian, maka mulailah satu perjalanan yang akan menyongsong tugas yang berat telah dimulai. Namun dalam pada itu, meskipun tidak bersama-sama, tetapi kedua anak muda itu mengetahui, bahwa Ki Waruju akan berada di Kediri sebagaimana dikatakannya. Pada hari pasaran mereka akan dapat menemui Ki Waruju di pasar hewan.
Sebagaimana perjalanan yang pernah di tempuh, maka kedua anak muda itu lebih senang berjalan kaki, menyusuri lereng-lereng bukit yang hijau, yang nyaris menjadi padang berbatuan padas tanpa selembar daun pun. Jika pepohonan hutan di lereng gunung itu menjadi gundul, maka kehidupan akan menjadi gersang untuk waktu yang sangat panjang, bahkan akhirnya padukuhan-padukuhan di bawah lereng-lereng pegunungan akan berubah menjadi padang-padang perdu yang kering dan berwarna kuning.
“Satu cara yang sangat keji” berkata Mahisa Murti kepada Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Dalam keadaan yang terpaksa, mungkin mereka akan mempergunakan cara yang lebih buruk. Mereka akan dapat membakar hutan sehingga papohonan itu pun akan menjadi abu sebagaimana kehidupan di bawah lereng-lereng pegunungan itu di hari kemudian”
“Sikap Sri Baginda di Kediri memang merupakan teka-teki berkata Mahisa Murti, “Mudah-mudahan tidak ada niat apapun juga yang akan dapat memecahkan rangkuman kesatuan Singasari, termasuk Kediri”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi sikap orang-orang Kediri memang tidak sejalan diantara mereka. Beberapa orang bangsawan nampaknya berbeda sikap menghadapi pertumbuhan negerinya.
Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin segera berada di Kediri, tetapi mereka tidak terlalu tergesa-gesa. Mereka berjalan sebagaimana dua orang pengembara yang menyusuri jalan-jalan berbukit dan sekali- sekali menyusup di padukuhan-padukuhan tanpa menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Namun ada juga satu dua orang yang memperhatikannya sambil bergumam, “Apakah yang dilakukan oleh kedua anak muda itu? Apakah mereka lebih suka mengembara tanpa tujuan daripada membantu ayahnya bekerja di sawah?”
Tetapi jika ada juga orang yang bertanya kepada mereka di warung-warung, apakah yang mereka cari dalam pengembaraan, keduanya selalu menjawab, bahwa mereka sudah tidak berkeluarga dan hidup dalam pengembaraan.
“Apakah yang kalian makan dalam pengembaraan kalian?” bertanya seseorang, “apakah kalian mengharap belas kasihan orang di sepanjang perjalanan?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang memang, mengalami kesukaran untuk menjawab. Namun apabila pertanyaan itu mendesaknya, maka biasanya Mahisa Murti lah yang menjawab, “Apa boleh buat. Kami tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi kami tidak sepenuhnya mengharapkan belas kasihan. Tetapi kami juga bersedia untuk bekerja apa saja untuk mendapatkan sedikit bekal di perjalanan”
“O orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Memang lebih baik begitu. Kalian masih muda. Jika kalian menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain, maka hidup kalian bukanlah satu kehidupan yang sebenarnya. Tetapi apakah kalian tidak ingin untuk menetap dan bekerja pada seseorang?”
Pertanyaan itu memang membingungkan. Namun nampaknya Mahisa Murti tidak ingin berpikir terlalu banyak, sehingga iapun kemudian menjawab, “Seandainya ada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami, maka kami tidak akan menolaknya”
“Tetapi apakah kemampuan kalian?” bertanya orang itu.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu. Mahisa Pukat lah yang menjawab, “kami menyesal bahwa kami tidak mempunyai ketrampilan untuk melakukan pekerjaan tertentu. Barangkali kami dapat bekerja sekedar mempergunakan tenaga kami
Orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun menarik nafas sambil berkata, “Agaknya kalian benar-benar anak muda yang kurang mempunyai arti dalam hidup kalian”
Mahisa Murti mengangguk kecil. Katanya, “Mungkin sekali. Dan karena itulah maka kami sangat menyesal”
Orang itu tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku memerlukan tenaga anak-anak muda yang memiliki ketrampilan. Aku mempunyai tanah yang cukup luas yang dapat dikerjakan sebagai tanah pertanian. Tetapi sudah tentu bukan tenaga-tenaga yang tidak berkemampuan apa-apa.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat saling berpandangan, tetapi mereka tidak menjawab.
Sebenarnya ada juga keinginan di hati kedua orang anak muda itu untuk mencoba bekerja pada seseorang. Tetapi mereka sedang mengemban satu tugas, sehingga karena itu, maka niat mereka untuk menerima pekerjaan yang mungkin dapat dilakukannya itu pun mereka batalkan.
Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun meninggalkan tempat itu dengan satu pengenalan baru atas sikap orang-orang padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan. Namun sikap itu sebenarnya adalah sikap yang dapat dimengerti. Tetapi ternyata bahwa di padukuhan itu ada seseorang yang memiliki tanah melampaui kemampuan tenaga kerja yang ada padanya. Apakah dengan demikian berarti ada orang lain yang hanya memiliki tanah terlalu sedikit, atau bahkan tidak sama sekali? Atau tanah di padukuhan itu memang masih terlalu luas dan terbuka, sehingga seseorang dapat mengusahakan tanah seberapa saja dikehendaki asal saja ia atau orang-orangnya dapat mengerjakannya.
Namun tiba-tiba Mahisa Murti berkata, hampir kepada dirinya sendiri, “Apakah tanahnya yang luas itu merupakan bagian dari penebangan hutan yang tidak terkendali atau justru dengan sengaja merampas hijaunya lereng-lereng perbukitan?”
Mahisa Pukat berpaling kepadanya. Sejenak ia merenung. Kemudian katanya, “Apakah mungkin demikian?”
“Barangkali kita hanya berprasangka. Tetapi baiklah kita melupakannya. Kita akan pergi ke satu tempat yang gawat dalam tugas kita. Mungkin jika kita masih berkesempatan akan dapat melihat arti dari sikap orang itu”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun sadar, bahwa tugas yang disandangnya adalah tugas yang cukup berat. Sehingga karena itu, maka tidak sewajarnyalah bagi mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan lain sebelum tugas pokoknya dapat dilakukannya.
Dengan demikian maka keduanya telah melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan-jalan padukuhan menuju ke Kediri ke satu tempat yang kurang dikenalnya, yang akan menjadi ajang tugas tugasnya yang berat.
Namun kedua anak muda itu telah meletakkan tekad mereka untuk melakukannya.
Dengan cermat kedua anak muda itu mengamati jalan yang harus ditempuhnya, sebagaimana petunjuk dari Senopati Singasari yang ada di Talang Amba. Mereka mengenali pertanda-pertanda yang ada pohon-pohon besar, tikungan dengan ciri-ciri alamnya dan bangunan-bangunan yang mudah dikenal.
“Kita berada di jalan yang agaknya benar” berkata Mahisa Pukat, “tetapi seperti pesan yang kita terima. Tidak mudah untuk memasuki lingkungan yang ditunjuk itu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kita harus sangat berhati-hati. Tetapi agaknya kita tidak akan dapat langsung memasuki daerah itu. Kita harus berhenti dan bermalam diluar lingkungan yang disebut sambil mengamati kemungkinan-kemungkinan yang paling baik”
“Ya” Mahisa Pukat mengangguk-angguk, “kita harus mengingat bahwa Pangeran Kuda Permati sudah tidak ada di dalam kota. Mungkin orang-orangnya pun telah memencar di segala sudut tlatah Kediri, termasuk daerah ini”
“Sebenarnya kita tidak tergesa-gesa memasuki daerah yang ditunjuk. Jika kita mendapat kesempatan yang lain dalam rangka tugas ini, kita akan dapat melakukannya” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi segala sesuatunya akan lebih baik, jika kita telah melaporkan diri atas kedatangan kita dan memasuki lingkungan mereka” sahut Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Aku sependapat. Tetapi malam ini kita akan bermalam di padang terbuka”
Namun keduanya memang sudah terbiasa bermalam di sembarang tempat. Karena itu, maka mereka pun sama sekali tidak merasa terganggu. Mereka mencari padang perdu yang agaknya tidak sering dijamah orang. Diatas rerumputan kering, keduanya akan tidur sebagaimana sering mereka lakukan. Namun mereka tidak agak tidur berbareng. Mereka akan tidur bergantian. Apalagi mereka berada di tempat yang tidak mereka kenal dengan baik, sehingga banyak kemungkinan dapat terjadi.
Demikianlah, mereka ternyata telah mendapatkan tempat yang baik. Semalaman keduanya sama sekali tidak terganggu oleh apapun. Menjelang pagi keduanya memang mendengar raung seekor binatang buas di hutan yang tidak terlalu jauh. Tetapi suara itu pun kemudian lenyap tidak terdengar lagi.
Pagi-pagi benar keduanya telah mencari air untuk mencuci muka. Baru kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Senopati Singasari di Talang Amba. Tetapi mereka masih belum berani dengan serta merta memasuki daerah itu. Satu daerah yang terletak tidak terlalu jauh dari lingkungan Kota Raja Kediri. Namun satu lingkungan yang agaknya tidak begitu ramai.
Menilik kehidupan sehari-hari, lingkungan itu tidak ubahnya dengan lingkungan padukuhan pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda yang menarik perhatian seandainya mereka belum mendapat petunjuk dari Senopati yang ada di Talang Amba. Namun mereka pun menyadari, bahwa yang mungkin berkeliaran bukan saja para pengamat dari Singasari, tetapi mungkin juga orang-orang Pangeran Kuda Permati, atau bahkan orang lain sama sekali dari kedua lingkungan itu. Karena tidak mustahil. Kediri sendiri ingin mengetahui apa yang bergejolak di dalam dirinya.
Dengan sikap pengembara, keduanya melanjutkan perjalanan, memasuki padukuhan-padukuhan. Keduanya berhenti pada sebuah simpang empat yang ramai, yang nampaknya menjadi pemberhentian barang-barang yang dibawa dari keempat jalur jalan dan ke arah keempat jalur jalan itu pula. Di sebelah simpang empat itu ternyata memang terdapat semacam pasar untuk saling menukarkan barang-barang.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak Menilik bangunan yang ada dan kelengkapannya, maka tempat itu tentu pernah mengalami satu masa yang jauh lebih ramai dari saat-saat itu.
“Kenapa perdagangan disini nampaknya menjadi mundur?” bertanya Mahisa Murti hampir kepada diri sendiri.
Mahisa Pukat berpaling ke arahnya. Namun iapun tidak dapat memberikan jawaban, kecuali satu dugaan, “Barangkali perkembangan keadaan yang telah membuat pasar ini menjadi agak sepi”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kau lihat warung itu?”
“Marilah” ajak Mahisa Pukat.
Keduanya kemudian memasuki sebuah warung yang tidak terlalu besar. Satu diantara beberapa buah warung yang terdapat di tempat ini.
Ketika mereka memasuki warung itu, di dalamnya sudah ada dua orang lain yang sedang sibuk. menyuapi mulut masing-masing dengan nasi hangat.
“Tiba-tiba saja terasa perutku sangat lapar” desis Mahisa Pukat.
“Aku juga” sahut Mahisa Murti.
Keduanya pun kemudian memesan hangat dan nasi yang masih hangat pula.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar