*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 30-03*
Karya. : SH Mintardja
“Linggapati” kata Empu Baladatu, “hatimu masih tertutup. Kau masih tetap menganggap aku seorang yang bodoh. Seorang yang tidak mampu menilai medan dan bahkan telah mengorbankan orang-orang terbaik dari beberapa lingkungan. Tetapi aku kira, aku bukan orang yang sebodoh itu,”
“Emuu” berkata Linggapati, “aku tahu bahwa pikiranmu terang. Hampir semua yang kau katakan; telah terpikirkan pula olehku, sehingga dengan jujur aku katakan, bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan, kita sejalan. Tetapi aku masih belum dapat melupakan kekecewaanku terhadap kematian Linggadadi, karena kematiannya benar-benar telah menyusutkan kekuatan Mahibit yang dengan susah payah aku susun: untuk waktu yang lama. Orang-orang yang semula mengaguminya dan berada di bawah pengaruhnya mulai ragu-ragu, bahwa Linggadadi dapat terbunuh di peperangan. Apalagi kemudian tersebar berita, bahwa pembunuhnya adalah Mahisa Bungalan. Orang yang seperti juga Linggadadi, mendapat gelar pembunuh orang berilmu hitam.”
“Tetapi apakah kekecewaanmu itu akan tetap membayangi hatimu, sehingga kau tidak lagi dapat bangkit dan melakukan sesuatu tanpa adikmu? Kematiannya adalah suatu kenyataan. Dan kau tidak dapat ingkar dari kenyataan” Empu Baladatu berhenti sejenak, lalu, “pertimbangkan. Aku menunggu keputusanmu. Tetapi dengan atau tidak dengan kau, aku akan berjalan terus meskipun lambat dan lama.”
“Kau masih tetap sombong. Tetapi aku mengerti maksudmu. Kau ingin mendesak aku agar aku segera memberikan keputusan agar kau tidak mengambil keputusan sendiri.” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “aku akan memikirkannya Empu. Tetapi kau tentu sudah menduga, bahwa aku akan memelihara dendam didalam hatiku atas kematian adikku. Tetapi bukankah kita tidak akan tergesa-gesa agar kita tidak terperosok kedalam neraka lagi karena kesalahan yang tidak perlu terjadi?”
“Kau benar, Dan aku pun tidak ingin memaksa agar kau cepat. mengambil keputusan. meskipun keputusan itu sudah nampak pada sikapmu.”
Linggapati menarik nafas panjang. Dipandanginya Empu Baladatu sejenak. Namun kemudian kembali ia memandang kekejauhan sambil bergumam “Kita akan bertemu lagi. Aku menunggumu di tempat ini selapan hari lagi.”
“Aku harus datang lagi ke Mahibit dan mencarimu di tempat ini? Aku mengerti, bahwa kau masih belum percaya sepenuhnya kepadaku. Tetapi apakah kau tidak akan menerimaku di padepokanmu?”
“Aku tidak mempunyai tempat tertentu sekarang. Padepokanku pun masib tetap dihuni oleh orang-orangku. Bahkan padepokanku yang semula dan sudah lama aku tinggalkan, kini telah aku pergunakan pula. Tetapi aku tidak berada di kedua tempat itu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui, dimana kah aku tinggal. Bahkan pengawal-pengawalku yang terdekatpun tidak, selain dua orang kepercayaanku.”
“Bagaimana hubunganmu dengan orang-orangmu?”
“Kedua orang kepercayaanku merupakan penghubung yang dapat aku percaya sepenuhnya. Selain dari keduanya, aku juga sering datang kepada mereka untuk keperluan yang penting. Bagi beberapa orang, aku masih merupakan guru yang baik, yang setiap saat membina mereka dalam olah kanuragan. Aku ingin pasukanku menjadi kuat dan dapat dipercaya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan datang selapan hari lagi. Aku akan mendengar keputusanmu. Tetapi bahwa suasana yang tidak tenang harus ditumbuhkan di Singasari dan daerah kekuasaannya, aku tidak perlu menunggumu. Mungkin aku akan mulai dari daerah yang agak jauh dari Kota Raja. Tetapi mungkin aku akan mulai dari Kota Raja itu sendiri, karena sebenarnyalah sumber perubahan adalah di Kota Raja itu sendiri. Seperti saat-saat Ken Arok menguasai Kediri, maka seluruh wilayahnya dengan sendirinya akan tunduk kepada keadaan yang berlaku di Kota Raja.”
“Kau cerdik juga. Tetapi sudah tentu tidak semudah itu. Namun demikian, jika kau mulai, mulailah. Aku akan membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri.”
“Terserah kepadamu. Aku kembali ke padepokanku. Selapan hari lagi aku sudah akan berada disini. Aku ingin mendengar, apakah yang akan kau lakukan kemudian.”
Linggapati tidak menyahut. Ketika Empu Baladatu kemudian berdiri Linggapati masih tetap duduk dietmpatnya. “Aku minta diri” berkata Empu Baladatu.
Linggapati mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat menemukan persesuaian betapa kekecewaan mencengkam hatiku karena kematian Linggadadi.”
Empu Baladatu pun kemudian meninggalkan tempat itu. Ketika ia berpaling maka dilihatnya Linggapati masih duduk di tempatnya.
“Ia masih dicengkam oleh kekecewaan” desis Empu Baladatu. Tetapi Empu Baladatu dapat mengerti perasaan Linggapati yang seakan-akan menjadi retak karena kehilangan adiknya.
Ternyata Empu Baladatu tidak tinggal di Mahibit lebih lama lagi. Ketika ia sampai di pondokhya, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk kembali kepadepokannya sendiri.
“Apakah kita akan berangkat sekarang?” bertanya seorang pengawalnya.
Bagi kita, sekarang atau besok tidak ada bedanya.
Pengawalnya tidak bertanya lagi. Sebenarnyalah bagi mereka waktu tidak banyak mempengaruhi. Seandainya mereka harus bermalam beberapa malam sekalipun di perjalanan. Mereka sama sekali tidak akan cemas.
Demikianlah setelah memberikan imbalan kepada pemilik rumah yang ditempati oleh Empu Baladatu dan para pengawalnya, agar tidak kecewa dan banyak berceritera tentang mereka, maka Empu Baladatu pun segera meninggalkan Mahibit.
“Apakah kita akan kembali singgah di padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang?” bertanya pengawalnya.
“Tidak sekarang. Jika aku kelak kembali ke Mahibit, barulah aku akan singgah di kedua padepokan itu. Sekarang waktunya masih kurang tepat. Mungkin orang-orang dari kedua padepokan itu berbuat bodoh dan menyampaikan kehadiran ku kepada prajurit-prajurit Singasari, sehingga kedua padepokan itu diawasi.”
Pengawalnya mengangguk-angguk-
“Seperti yang sudah aku katakan. Prajurit-prajurit Singasari itu akhirnya akan jemu dan menghentikan pengawasannya. Barulah kita akan singgah lagi, dan memberikan beberapa pesan kepada mereka. Jika perlu, aku dapat menakut-nakuti mereka dengan beberapa macam cara”
Demikianlah maka Empu Baladatu dan pengawalnya berpacu langsung kembali ke padepokan mereka, meskipun mereka harus bermalam di perjalanan.
Di tepi hutan yang tidak begitu lebat, mereka mencari tempat yang baik untuk beristirahat. Mereka mengikat kuda mereka di tempat yang berumput, sementara mereka menyiapkan tempat untuk berbaring.
Seperti biasanya, bergantian mereka berjaga-jaga. Mungkin ada binatang buas yang mendekati, tetapi mungkin juga ada sekelompok orang yang tidak sengaja menghampiri mereka.
Tetapi semalam suntuk mereka tidak menemui kesulitan sama sekali. Menjelang fajar merekapun telah bersiap-siap. Karena mereka tidak membuat perapian, maka mereka minum air langsung dari sebuah belik di bawah sebatang pohon preh yang besar.
Terasa air itu sangat dingin. Tetapi karena mereka merasa haus, maka seteguk air itu rasa-rasanya membuat tubuh mereka menjadi segar.
“Kita akan mencari makan di sepanjang perjalanan” berkata Empu Baladatu.
Demikianlah, maka mereka pun segera melanjutkan perjalanan kembali ke padepokan sendiri.
Dalam pada itu. orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang masih saja dicengkam oleh kehingungan. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka merasa bahwa mereka telah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berbuat sesuatu. Kegagalan serangan mereka pada padepokan Empu Sanggadaru membuat mereka seakan-akan lumpuh sama sekali Bukan saja kekuatan pasukan mereka, tetapi juga hati mereka bagaikan telah patah.
Apalagi karena sikap para prajurit Singasari yang justru diluar dugaan mereka. Para prajurit itu tidak mendera mereka dengan rotan, dan menghukum picis di perapatan. Tetapi justru mereka mendapat kesempatan untuk kembali kepadepokan dan mulai dengan kehidupan wajar. Meskipun mereka merasa kekurangan walaupun mereka sudah bekerja berat, tetapi rasa-rasanya hati mereka menjadi semakin tentram.
Dalam keadaan yang demikian itulah Empu Baladatu datang dan mulai mengguncang padepokan itu dengan cita-citanya yang melambung setinggi awan dilangit. Tetapi yang dilandasi dengan sikap yang salah, karena baginya segala cara akan dipergunakan untuk mencapai maksudnya. Benar atau salah.
“Kita tidak akan dapat memilih” salah seorang dari kelompok Serigala Putih mengeluh di antara mereka.
“Ya, Kita tidak dapat memilih. Jika kita menentang ke hendak Empu Baladatu maka akibatnya akan sangat parah bagi kita.”
Kawan-kawannya merenung sejenak. Lalu tiba-tiba saja salah seorang bertanya, “Bagaimana dengan orang-orang Macan Kumbang?”
Yang lain terdiam. Meskipun mereka telah bekerja bersama dalam beberapa hal dibawah pimpinan Empu Baladatu, namun rasa-rasanya masih saja ada jurang pemisah di antara mereka.
“Masih ada satu pilihan” berkata seorang yang sudah separuh baya, “kita melaporkannya kepada prajurit Singasari. Kita menyerahkan semuanya kepada mereka, dan kita mohon untuk mendapatkan perlindungan.”
Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari mereka bertanya, “Kita memang dapat mempercayakan keselamatan kita kepada para prajurit Singasari. Tetapi sampai kapan mereka akan melindungi kita. Pada saatnya mereka akan melepaskan kita. Mungkin sebulan, mungkin setahun. Apakah kita percaya bahwa dendam Empu Baladatu terhadap para prajurit Singasari atas kegagalannya itu akan padam dalam satu dua tahun?”
Beberapa orang diantara mereka saling berpandangan. Salah seorang tiba-tiba saja berdesis, “Satu atau dua tahun mendatang, Empu Baladatu akan datang dan menumpas kita semua dengan anak-anak kita. Kita akan kehilangan kesempatan untuk menyambung nama kita, dan riwayat kita pun akan terputus karenanya.”
Sejenak mereka pun terdiam. Mereka dihadapkan kepada pilihan yang sulit. Seakan-akan apa yang mereka lakukan semua nya serba salah.
Namun tiba-tiba salah seorang yang mereka anggap orang yang mereka segani berkata, “Bagiku, apapun yang akan terjadi, aku lebih senang pasrah kepada prajurit Singasari. Seandainya kelak kita akan musna sekalipun, rasa-rasanya aku tidak berkeberatan.”
Beberapa orang menjadi tegang. Namun salah seorang dari mereka menyambung, “Aku sependapat. Kita masih belum yakin apakah Empu Baladatu masih akan kembali.”
“Ia tentu akan kembali” desis yang lain.
“Biarlah ia kembali, Betapapun besar dendamnya, maka ia tentu akan lebih mementingkan perjuangannya daripada membunuh kita yang sudah tidak akan dapat diharapkan lagi. Jika ia mengancam itu, tentu ia hanya sekedar menakut-nakuti kita, agar kita tetap bersedia menyumbangkan beberapa puluh nyawa bagi keinginannya kelak Kita masih harus mengorbankan seseorang di setiap bulan, saat purnama naik. Meskipun kita disebut golongan hitam pula, tetapi kita tidak pernah melakukannya sebelumnya,”
“Aku sependapat.” teriak seorang yang masih terhitung muda yang berdiri di belakang kawan-kawannya.
Yang lain. berpaling. Namun agaknya suaranya cukup menyentuh hati beberapa orang yang lain, sehingga hampir bersamaan beberapa orang berkata, “Aku sependapat, Sebaiknya, kita melaporkannya saja kepada prajurit Singasari.”
“Nah. jika demikian, siapakah yang akan pergi ke Singasari?”
“Tidak usah ke Singasari” sahut yang lain, “beberapa orang di antara kita akan pergi kepadepokan Empu Sanggadaru. Di sana tentu masih ada sekelompok prajurit Singasari yang bertugas. Biarlah mereka yang melaporkannya kepada pimpinan prajurit di Singasari.”
Yang lain mengangguk-angguk. Agakya memang tidak ada jalan yang lebih baik yang dapat mereka tempuh selain minta perlindungan kepada prajurit Singasari.
Demikianlah, maka mereka pun telah memilih, siapkah yang akan pergi kepadepokan Empu Sanggadaru, untuk menyampaikan persoalan mereka kepada para prajurit.
“Mungkin kami akan bertemu dengan Empu Baladatu di sepanjang jalan, sehingga kami tidak akan pernah sampai ke padepokan Empu Sanggadaru dan tidak akan pernah kembali Jika dalam sepekan kami tidak kembali, kirimkan kelompok kedua menyusul kami, meskipun mungkin akan mengalami nasib yang sama. Tetapi kalian dapat berusaha mengirim jumlah yang lebih besar.” berkata pemimpin kelompok yang akan pergi kepadepokan Empu Sanggadaru.
Sekelompok kecil yang dipilih diantara orang-orang Serigala Putih dan berjumlah empat orang pun segera mempersiapkan diri Meskipun mereka tidak mempersiapkan kelompok kecil itu untuk bertempur, namun mereka merasa perlu untuk membawa senjata.
“Jika terpaksa kami pun harus membela diri terhadap siapapun juga” berkata pemimpin kelompok itu.
Setelah semua persiapan selesai, maka berangkatlah ke empat orang itu diiringi oleh debar jantung setiap orang di dalam padepokan yang sudah lumpuh itu. Mereka memandang keempat ekor kuda yang berpacu meninggalkan regol padepokan sampai hilang ditikungan.
“Mudah-mudahan mereka sampai ke tujuan dan kembali dengan selamat” desis salah seorang dari mereka yang terdiri di regol.
“Kita semua mengharapkannya.” sahut yang lain. Demikianlah ke empat orang itu berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Mereka ingin segera mencapai sasaran. Apa pun yang terjadi, tetapi jika mereka telah berada di padepokan Empu Sanggadaru, maka rasa-rasanya tugasnya sudah dapat mereka tunaikan sebaik-baiknya.
Ternyata bahwa di sepanjang jalan yang cukup panjang itu, kelompok kecil itu tidak mengalami gangguan apapun juga. Ketika dari kejauhan mereka memasuki jalur jalan yang menuju ke padepokan Empu, Sanggadaru, rasa-rasanya hati mereka menjadi tenang.
Tetapi terasa sesuatu bergetar juga ketika mereka melalui jalan di sebelah tebing yang terjal. Mereka melihat seolah-olah sungai yang muncul dari dalam tanah.
“Sungai itu memang melalui bawah tanah” berkata pemimipin kelompok kecil itu
“Ya. Dan kebetulan melalui padepokan Empu Sanggadaru” jawab yang lain.
“Bahkan ada beberapa lubang seperti sumur yang langsung sampai ke arus sungai di bawah tanah itu” pemimpin kelompok itu melanjutkan.
Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi mereka membayangkan betapa ngerinya seseorang yang terperosok masuk kedalam sumur yang sampai ke jalur sungai di bawah tanah.
Sejenak kemudian, maka mereka pun telah sampat ke depan regol padepokan Empu Sanggadaru. Ternyata bahwa regol itu tetap terbuka. Dua orang penjaga agaknya telah melihat kedatangan keempat orang itu, sehingga dengan sebuah isyarat, beberapa orang pengawal yang lain telah berada di sebelah menyebelah regol itu pula.
Tetapi karena keempat orang berkuda itu tidak menunjukkan gejala-gejala yang mencurigakan, maka para penjaga itupun menerima mereka dengan wajar meskipun dengan penuh kewaspadaan.
“Siapkah kalian?” bertanya penjaga regol.
“Kami adalah orang-orang dari padepokan Serigala Putih” jawab pemimpin kelompok itu.
Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun tahu, bahwa orang-orang Serigala Putih sudah tidak berbahaya lagi setelah kekuatan mereka yang terbesar dihancurkan hampir mutlak,
Keempat orang yang sudah turun dari kudanya itu pun kemudian berjalan mendekat. Pemimpinnya berkata pula “Kami ingin menghadap pimpinan prajurit Singasari yang berada di padepokan ini.”
Para penjaga regol dan para pengawal yang telah berada di depan regol itu termangu-mangu sejenak. Salah seorang pengawal itupun bertanya “Apakah keperluanmu?”
“Kami mohon perlindungan.”
“Perlindungan? Kenapa?”
“Sebenarnyalah bahwa kami sudah tidak mempunyai kekuatan yang berarti. Semuanya akan aku sampaikan kepada pemimpin prajurit Singasari.”
Beberapa orang pengawal saling berpandangan. Namun salah seorang berkata, “Baiklah, marilah naik ke pendapa. Aku akan menyampaikannya kepada pemimpin prajurit Singasari”
Keempat orang itupun kemudian dibawa masuk ke halaman padepokan yang luas. Tetapi halaman itu tidak lagi sepi dan seolah-olah diselubungi oleh rahasia yang tidak banyak diketahui orang. Kini halaman itu nampak lebih ramai. Apalagi karena beberapa orang prajurit ada di padepokan itu. Bahkan bukan saja para prajurit dan para cantrik, tetapi bergiliran para pengawal dari padepokan di sekitarnya yang berada di bawah pengaruh padepokan itu pun berada dihalaman itu pula.
Ternyata pemimpin prajurit Simgasari tidak berkeberatan untuk menerima mereka.
Dengan terus terang, keempat orang itu pun menceriterakan tugas mereka untuk menghadap pemimpin prajurit Singasari itu. Mereka menceriterakan, bahwa orang-orang di padepokannya sedang dicengkam oleh kecemasan, justru karena munculnya Empu Baladatu.”
“Empu Baladatu” pemimpin prajurit Singasari itu bergumam, “menarik sekali. Tetapi agaknya Empu Sanggadaru baik juga untuk mendengarnya,”
Orang-orang Serigala Putih itu sama sekali, tidak berkeberatan. Pemimpin kelompok kecil itu pun berkata, “Kebetulan sekali jika Empu Sanggadaru sempat mengetahui, bahwa adiknya yang melarikan diri itu ternyata telah mulai lagi dengan kegiatannya yang mendebarkan.”
“Ya. Tetapi agaknya berita ini akan menyusahkan Empu Sanggadaru, Namun ia wajib mengetahuinya.”
Sebenarnyalah, bahwa ketika Empu Sanggadaru telah berada di pendapa dan mendengar berita tentang adiknya, ia menjadi termangu-mangu. Bagaimanapun juga Empu Baladatu adalah adiknya. Tetapi tingkah laku dan perbuatannya benar-benar tidak dapat dimaafkannya lagi.
“Terserahlah kepada keputusan pimpinan prajurit di Singasari” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “ia adalah cuplak andeng-andeng bagiku, yang tidak terletak di tempat yang sewajarnya. Karena itulah, maka jika perlu dicungkil, maka aku tidak akan dapat berkeberatan.”
Pemimpin prajurit Singasari di padepokan itu pun termangu-mangu. Ia dapat mengerti, betapa kebingungan telah mencekam hati Empu Sanggadaru, bagaimana ia harus memperlakukan adiknya.
“Kita harus mengatasi kesulitan yang mungkin dapat timbul atas padepokan Serigala Putih” berkata pemimpin prajurit itu.
“Kami selalu dibayangi oleh ketakutan. Kami sudah tidak mempunyai kekuatan lagi seandainya kemudian Empu Baladatu datang dengan pasukannya, meskipun hanya sepasukan kecil. Apalagi Empu Baladatu tahu benar, betapa lemahnya kami. Tetapi bahwa yang lemah itu akan dapat dipaksa berhimpun, maka memang akan dapat menumbuhkan landasan kekuatan bagi Empu Baladatu.”
“Baiklah” berkata prajurit itu, “persoalanmu akan kami sampaikan secepatnya ke Singasari. Secepatnya pula Singasari akan mengambil keputusan bagi padepokanmu.”
“Terima kasih” jawab pemimpin kelompok kecil dari padepokan Serigala Putih itu, “kami menunggu. Meskipun kami akan selalu gelisah. Setiap saat Empu Baladatu dapat muncul dan memusnakan kami semuanya”
“Yang akan kami lakukan mula-mula adalah mengirimkan pasukan yang akan melindungi padepokan kecilmu” berkata pemimipin prajurit Singasari itu, “tetapi sudah barang tentu tidak akan selamanya. Kalian harus menemukan cara untuk mengatasi kesulitan itu, karena prajurit Singasari itu pada suatu saat tentu akan ditarik kembali. Apalagi apabila ada peristiwa yang gawat bagi keselamatan negara,”
“Terima kasih. Aku kira, jalan itulah yang memang kami harapkan. Untuk mengatasi persoalan itu, sebelum diketemukan cara yang lain adalah perlindungan langsung seperti yang akan dilakukan itu”
“Kembalilah ke padepokanmu. Aku akan segera pergi ke Singasari.”
Namun dalam pada itu, sebelum orang-orang dari padepokan Serigala Putih beranjak dari tempatnya, sekelompok kecil orang-orang berkuda telah datang pula ke padepokan Empu Sanggadaru.
Beberapa orang pengawal dan prajurit telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan.
Ternyata mereka adalah orang-orang dari padepokan Macan Kumbang.
Dengan ragu-ragu orang-orang dari padepokan Macan Kumbang itu pun dipersilahkan pula naik kependapa. Bagaimanapun juga kehadiran orang-orang Serigala Putih telah membuat mereka menjadi berdebar-debar.
Demikian pula orang-orang Serigala Putih menjadi gelisah pula. Mereka belum tahu. apakah maksud kedatangan orang-orang dari padepokan Macan Kumbang itu.
“Apakah sebabnya kalian datang kepadepokan ini?” bertanya Empu Sanggadaru.
Orang-orang yang baru datang itu ragu-ragu. Tetapi Empu Sanggadaru telah mendesaknya, “Katakan. Siapapun yang ada di pendapa ini. Aku tahu, bahwa gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang sejak waktu yang lama Ttdak dapat dipersatukan. Meskipun kalian telah bekerja bersama dibawah pengaruh Empu Baladatu, namun dalam keadaan yang lain, kalian masih tetap saling mencurigai”
Orang-orang dan Macan Kumbang itu menjadi semakin bimbang Namun akhirnya pemimpin kelompok kecil itu memutuskan untuk mengatakan saja persoalan mereka.
Ketika mereka mengemukakan persoalan yang telah terjadi, sehubungan dengan kehadiran anPu Baladatu, maka orang-orang dari padepokan Serigala Putih menarik nafas panjang. Ternyata orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu menghadapi persoalan yang sama.
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk- Katanya, “Ketahuilah Ki Sanak dari padepokan Macan Kumbang. Saudara-saudara kita dari padepokan Serigala Putih yang datang beberapa saat lebih dahulu itu pun mempunyai persoalan yang serupa. Mereka juga telah digelisahkan oleh munculnya Baladatu di padepokan mereka, sehingga mereka memerlukan perlindungan dari prajurit Singasari.”
Kedua kelompok yang saling menyegani itu hanya dapat saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Jawaban yang kemudian diberikan oleh pemimpin prajurit Singasari di padepokan Empu Sanggadaru itu tidak menyimpang dari jawaban yang juga diberikan kepada gerombolan Serigala Putih. Secepatnya prajurit Singasari akan mengirimkan sepasukan prajurit yang akan melindungi padepokan itu dari kemungkinan yang buruk, apabila Empu Baladatu akan mempergunakan kekerasan,
“Tetapi seperti yang sudah kami katakan, bahwa pasukan Singasari itu terbatas sekali waktunya. Karena itu, maka kalian pun harus mencari pemecahan, cara yang sebaik-baiknya untuk melindungi diri sendiri.”
Orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang itu hanya dapat mengangguk-angguk saja meskipun mereka sama sekali belum mempunyai gambaran, cara yang manakah yang akan mereka tempuh.
Demikianlah setelah pemimpin prajurit Singasari dan Empu Sanggadaru memberikan beberapa pesan, maka kedua kelompok itupun minta diri. Namun meskipun mereka meninggalkan regol padepokan itu bersama-sama, tetapi ternyata bahwa mereka tidak bersama-sama untuk seterusnya. Kelompok Macan Kumbang telah memperlambat kuda mereka, sehingga kelompok Serigala Putih telah mendahuluinya. Ternyata bahwa kedua kelompok itu masih belum dapat bekerja bersama sebaik-baiknya.
Sepeninggal kedua kelompok itu, maka pemimpin prajurit Singasari di padepokan Empu Sanggadaru itupun segera menunjuk beberapa orang yang akan menyampaikan laporan tentang munculnya Empu Baladatu di sekitar padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang. Ia sendirilah yang akan memimpin kelompok kecil itu.
Pagi-pagi benar dihari berikutnya, maka sekelompok kecil prajurit Singasari itu pun telah berpacu ke Kota Raja. Mereka menganggap munculnya Empu Baladatu bukannya soal yang dapat diabaikan. Jika Empu Baladatu belum merasa pulih dan memiliki kekuatan yang cukup, ia tidak akan memancing perhatian siapapun juga.
Ternyata bahwa laporan prajurit itupun mendapat perhatian yang cukup bersungguh-sungguh. Para pemimpin prajurit Singasari menganggap bahwa hal itu tidak dapat diterima sepintas lalu. Karena itulah, maka merekapun sependapat untuk mengambil langkah sementara yang cepat.
Dalam waktu singkat Singasari telah menyiapkan dua pasukan kecil yang akan dikirim ke Padepokan Serigala Putih dan ke Padepokan Macan kumbang. Mereka untuk sementara akan ditempatkan dikedua padepokan itu dibawah pimpinan seorang Senapati yang mumpuni, karena Singasari sadar, bahwa yang harus mereka perhatikan adalah Empu Baladatu dan Linggapati dan Mahibit.
“Biarlah anak-anak Mahendra yang berada di padepokan Empu Sanggadaru ikut bersama mereka” berkata Mahisa Agni, “dengan demikian maka mereka akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Jika Mahisa Bungalan berada di padepokan Serigala Putih, biarlah Mahisa Murtì dan Mahisa Pukat berada di padepokan Macan Kumbang atau sebaliknya. Aku kelak yang akan memberitahukan kepada ayahnya.”
Agaknya para pemimpin prajurit dari kedua pasukan itu tidak menentangnya, bahkan mereka menerima dengan senangnati, karena mereka sudah mengetahui kemampuan ketiga anak muda itu
Prajurit Singasari tidak menunda lebih lama lagi. Mereka segera bersiap-siap. Mereka membawa selain senjata, juga perlengkapan-perlengkapan yang lain, karena mereka mengetahui bahwa kedua padepokan itu adalah padepokan yang sebenarnya miskin. Tanpa melakukan pekerjaan yang menentang ketertiban, maka mereka sulit untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.
Tetapi di saat-saat terakhir mereka harus bekerja keras, karena mereka sadar, bahwa jika mereka melakukan kejahatan, maka mereka akan mengalami kesulitan yang semakin parah.
Ternyata pasukan itu tidak menunggu fajar. Justru mereka meninggalkan Kota Raja saat matahari mulai terbenam. Dengan demikian maka tidak banyak orang yang melihat iring-iringan itu, sehingga tidak banyak pula orang yang digelisahkan karenanya. Iring-iringan pasukan akan dapat menumbuhkan berbagai pertanyaan, karena orang-orang di Kota Raja menganggap bahwa keadaan Singasari adalah tenang dan tenteram.
Pasukan itu tidak langsung menuju ke padepokan Serigala Putih dan padepokan Macan Kumbang. Tetapi mereka singgah dahulu di padepokan Empu Sanggadaru. Karena menurut perintah para pemìmìpin di Singasari, padepokan Empu Sanggadaru akan merupakan pasukan induk yang memegang pimpinan dari pasukan yang ada di ketiga padepokan itu.
Setelah beristirahat sehari di padepokan Empu Sanggadaru, serta menyampaikan pesan Mahisa Agni kepada Mahisa Bungalan dan kedua adiknya yang akan mengikuti kedua pasukan yang akan ditempatkan di padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, maka kedua pasukan itupun telah melanjutkan perjalanan ketujuan masing-masing.
Mahisa Bungalan berada diantara pasukan yang akan tinggal di padepokan Serigala Putih, sedangkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berada di antara pasukan yang menuju kepdepokan Macan Kumbang
Kedua pasukan itu menyadari tugas yang akan mereka pikul. Bukan saja tugas yang mempunyai kemungkinan yang sangat pahit, jika orang-orang Empu Baladatu atau orang-orang dari Mahibit datang ke padepokan itu, tetapi selama berada di padepokan itu, merekapun akan berprihatin karena mereka akan ringgal di daerah yang kekurangan.
Tetapi seperti pesan para pemimpin dan Empu Sanggadaru, Bahwa para prajurit itu tidak harus menyerah kepada keadaan. Mungkin orang-orang di padepokan itu kurang dapat menaggapi alam di sekitarnya, sehingga masih mungkin dapat digali hasil alam bagi kebutuhan mereka.
Kedatangan pasukan kecil dari Singasari itu telah disambut dengan gembira oleh orang-orang dari kedua padepokan itu. Meskipun kemudian mereka mulai berpikir, bagaimana mereka dapat menyediakan makan bagi para prajurit itu.
Sehenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, bahwa kedua padepokan itu belumlah lumpuh sama sekali. Tetapi perasaan mereka sendirilah yang membuat mereka seolah-olah mutlak tak berdaya.
Prajurit Singasari yang datang kedua padepokan itu, pertama-tama mengatur dan menempatkan diri didalam padepokan itu.
Ternyata bahwa mereka bukanlah prajurit-prajurit yang manja. Tetapi mereka benar-benar prajurit medan yang dapat menyesuai kan diri dengan segala keadaan.
Demikian pula prajurit-prajurit Singasari yang berada di kedua padepokan yang terpisah, tetapi yang keadaannya hampir sama. Prajurit-prajurit Singasari tidak menuntut tempat yang paling baik bagi mereka. Sehingga karena itulah maka orang-orang di kedua padepokan itu justru menjadi semakin segan.
Sementara itu kedua kelompok prajurit yang berada di kedua padepokan itupun segera mengatur kesiagaan di luar pengetahuan orang-orang dari kedua padepokan itu, karena tidak mustahil bahwa yang mereka hadapi adalah justru sebuah jebakan. Di dalam beberapa buah pondok yang terpisah, prajurit-prajutir itu mengadakan penjagaan yang terselubung, yang tidak nampak dari luar pondok mereka. Tetapi yang setiap saat dapat bergerak dan menyiapkan seluruh pasukan yang ada.
Di setiap pondok yang ditempati oleh prajurit-prajurit Singasari itu selalu ada seorang yang akan tetap bangun meskipun di malam hari. Bergantian mereka akan berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan,
Pemimpin-pemimpin mereka selalu memperingatkan, “Tidak mustahil bahwa pada suatu saat Empu Baladatu benar-benar datang dengan pasukan segelar sepapan”
Karena itulah, maka setiap prajurit tidak terpisah dari senjata masing-masing setiap saat.
Setelah mapan, maka barulah para prajurit itu sempat bertemu dan berbicara dengan para pemimpin padepokan. Menilik sikap dan pembicaraan mereka, maka agaknya mereka telah berkata dengan jujur, bahwa Empu Baladatu telah datang dan membuat padepokan-padepokan itu menjadi gelisah.
Di padepokan Serigala Putih Mahisa Bungalan bersama pemimpin prajurit Singasari mulai melihat-lihat isi padepokan itu. Mereka melihat beberapa orang laki-laki yang tegap dan kuat, tetapi berwajah pucat dan selalu menyingkir jika mereka berpapasan. Tatapan mata mereka yang tunduk dan selalu menghindar memberikan kesan tersendiri kepada Mahisa Bungalan dan pemimpin prajurit Sinagasari itu.
Kepada pemimpin padepokan Serigala Putih, pemimpin prajurit Singasari itu minta untuk diperkenalkan kepada setiap orang laki-laki yang ada di padepokan itu dikeesokan harinya.
Demikianlah, ketika matahari mulai terbit, maka setiap laki-laki di padepokan Serigala Pulih lelah berkumpul.
“Jumlah mereka masih cukup banyak” desis pemimpin prajurit itu, “tetapi hati mereka telah susut sebesar gelugut kolang-kaling. Mereka sama sekali sudah tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu. Karena itulah maka mereka menjadi bingung dan kehilangan pegangan ketika Empu Baladatu memperlihatkan dirinya.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Desisnya, “Mereka harus menyadari tentang diri mereka sendiri, bahwa mereka masih mempunyai kekuatan. Tetapi dengan hati-hati, agar tidak membangunkan mereka kembali dari mimpi buruknya, dan kembali kejalan yang sesat itu.”
Pemimpin prajurit Singasari mengangguk. Ia sependapat bahwa kebangkitan jiwa orang-orang padepokan Serigala Putih tidak boleh membawa mereka kembali kejalan yang salah.
Ketika setiap laki-laki sudah berkumpul maka mulailah pemumpin prajurit Singasari itu memperkenalkan diri. Ia juga memperkenalkan beberapa orang perwira yang ada di dalam pasukannya. Dan tidak ketinggalan Mahisa Bungalan pembunuh orang-orang berilmu hitam.
“Mungkin di antara kalian sudah mengenal” berkata pemimpin prajurit Singasari itu, “apalagi yang melihat sendiri, bagaimana ia membunuh Linggadadi yang juga bergelar pembunuh orang berilmu hitam.”
Beberapa orang mengangkat wajahnya memperhatikan wajah Mahisa Bungalan. Namun sejenak kemudian mereka pun segera menunduk. Apalagi mereka yang benar-benar melihat, bagaimana Mahisa Bungalan berhasil membinasakan Linggadadi yang seakan-akan tidak terkalahkan.
Dengan singkat pemimpin prajurit itu menguraikan maksud kehadirannya. Atas permintaan pimpinan padepokan itu, maka prajurit Singasari itu berada di padepokan Serigala Putih.
“Sama sekali bukan maksud untuk menguasai padepokan ini. Kami tidak akan datang, jika kalian tidak menginginkan. Kami mencoba memenuhi keinginan sekalian untuk sekedar bersama-sama menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi dipadepokan ini.
Laki-laki yang ada di halaman padepokan itu mengangguk-angguk kecil. Kehadiran prajurit Singasari itu memang, membuat hati mereka menjadi tenang.
“Tetapi” berkata pemimpin prajurit itu, “sudah barang tentu bahwa tidak selamanya kami dapat berada di sini. Kami hanya akan melindungi kalian selama kalian masih belum mampu melindungi diri sendiri.” wajah-wajah itu menegang sejenak, lalu, “Tetapi kami tidak tergesa-gesa”
Pemimpin prajurit itu berbicara beberapa lama di hadapan setiap laki-laki. Tetapi ia masih belum menyinggung kemungkinan yang masih harus diperhitungkan.
“Bekerjalah dengan tenang. Kami berada di tengah-tengah kalian Lakukanlah apa yang harus kalian lakukan sehari-hari. Bahkan kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan.”
Kehadiran para prajurit itu, membuat orang-orang di kedua padepokan yang telah dihantui oleh Empu Baladatu itu menjadi tenang. Mereka dapat bekerja seperti tidak ada persoalan apapun yang menggelisahkan mereka.
Namun demikian mereka sadar, sehingga setiap teringat oleh mereka, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Prajurit-prajurit Singasari itu pada suatu saat tentu akan meninggalkan mereka kembali ke Singasari.
Dalam pada itu, dihari-hari pertama prajurit Singasari itu masih tetap memisahkan diri. Mereka sekedar melihat cara hidup orang-orang di kedua padepokan itu. Mahisa Bungalan sekali-kali menemui orang-orang padepokan itu dan bertanya beberapa hal mengenai kehidupan mereka. Sementara di padepokan Macan Kumbang Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mulai ke luar dari padepokan untuk mengenal lingkungan.
“Jangan pergi terlalu jauh” berkata pemimpin prajurit Singgasari yang menyadari bahwa keduanya masih terlalu muda. Meskipun keduanya telah menyimpan ilmu yang dapat dibanggakan di dalam diri mereka, namun daerah asing itu tetap merupakan daerah yang berbahaya.
Tanpa meninggalkan kewaspadaan dan kesiagaan menghadapi segala kemungkinan, pada hari-hari berikutnya prajurit-prajurit Singasari berusaha mengenal kehidupan orang-orang di kedua padepokan itu semakin dekat. Mereka mulai melihat tanah garapan dan usaha mereka untuk mendapatkan hasil yang dapat mereka makan sehari-hari.
“Tanah masih sangat luas” berkata seorang prajurit, “tetapi mereka membatasi diri pada tanah yang sudah mereka garap sejak lama.”
“Nampaknya tidak ada usaha baru sama sekali. Padahal penilaian kami. mereka bukannya orang yang malas.”
“Ya. Mereka bekerja keras.”
Hal itu telah menjadi bahan pembicaraan para prajurit yang berada di padepokan Serigala Putih, sehingga pemimpin prajurit Singasari itu berkata “Apakah kita dapat mengatakan kepada mereka, bahwa mereka harus berani membuka tanah baru?”
“Aku kira hal Itu lebih baik. Tetapi kita harus memper hitungkan masa depan mereka. Tentu para prajurit tidak akan berada di daerah ini selanjutnya, sehingga pembukaan tanah baru itu sekaligus akan dapat memberikan kemungkinan bagi mereka untuk menjaga diri sendiri.” Sahut Mahisa Bungalan.
“Bagaimana kita akan dapat menghubungkan pembukaan tanah baru dengan kemampuan menjaga diri sendiri?”
“Pertama, kita harus menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, tetapi dalam pengertian yang tidak merugikan pihak lain. Maksudku, bukan untuk melakukan kerja seperti yang pernah mereka lakukan.”
Pemimpin prajurit itu menggangguk-angguk Katanya, “Maksudmu, jika mereka berhasil membuka tanah baru, maka mereka akan merasa bahwa diri mereka masih berharga?”
Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk pula. Tetapi katanya, “Tetapi dengan demikian bukan berarti bahwa mereka akan menjadi mampu menjaga diri sendiri.”
“Dua padepokan ini sampai saat ini merupakan dua lingkungan yang seakan-akan mutlak terpisah. Bahkan saat-saat mereka menyerbu kepadepokan Empu Sanggadarupun mereka tidak dapat luluh menjadi satu. Masing-masing berada didalam kelompok dan lingkungannya. Demikian juga orang-orang Mahibit,” Mahisa Bungalan berhenti sejenak, lalu, “kita harus mencari jalan agar keduanya pada suatu saat dapat menjadi satu dan merasa berkewajiban untuk bekerja bersama.”
“Bagus sekali Tetapi kita harus menemukan cara yang sebaik-baiknya. Itulah yang sulit.”
“Mumpung kita baru beherapa waktu disini. Kita masih mempunyai waktu panjang. Kita dapat menganjurkan kepada kedua padepokan itu untuk membuka tanah baru dan hidup dalam satu padukuhan y.ang luas dengan tanah garapan yang cukup.”
Pemimipin prajurit itu termenung sejenak. Namun kemudian iapun menyahut, “Memang mungkin. Kedua kelompok yang lemah ini akan menjadi kuat. Apalagi jika ada orang orang lain yang bersedia berada di antara mereka.”
“Kita dapat mencoba” berkata Mahisa Bungalan.
“Akan kita bicarakan dengan pimpinan prajurit yang ada di padepokan Macan Kumbang. Jika ia setuju, kita akan menghadap pemimpin yang lebih tinggi lagi di padepokan Empu Sanggadaru”
Demikianlah pendapat Mahisa Bungalan itu pun menjadi sebuah pembicaraan. Bahkan pembicaraan itu pun telah berkembang lebih jauh. Empu Sanggadaru yang sependapat dengan usul itu berkata, “Jika memang akan membuka tanah baru dan tidak terlalu jauh dari padepokanku, maka aku kira pada suatu saat tanah yang baru itu akan berhubungan langsung dengan padukuhan-padukuhan kecil yang berada di sekitar padepokan ini. Orang-orang dipadukuhan-padukuhan kecil itu seolah-olah telah menjadi keluargaku. Dan mereka tentu akan dapat diajak bekerja bersama.”
“Itupun tidak mustahil. Orang-orang Macan Kumbang akan membuka hutan tidak jauh dari padepokan Empu Sanggadaru. Sedang orang-orang padepokan Serigala Putih akan melakukan hal yang sama. Mungkin untuk waktu sepuluh sampai dua puluh tahun masih terasa pemisahan antara kedua keluarga besar itu. Tetapi mereka akan merasa perlu untuk saling menolong jika mereka masing-masing berada dalam kesulitan. Demikian pula dengan orang-orang di padepokan dan padukuhan di sekitar padepokan ini” sahut Mahisa Bungalan, lalu katanya salanjutnya, “pada suatu saat mereka semua akan menganggap sebagai kiblat hidup mereka.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Mudahkan demikian. Jika yang terjadi sebaliknya, Mereka kemudian bersatu dan mencekik aku?”
“Ah, tentu tidak. Orang-orang dari kedua padepokan itu kini benar-benar telah merasa dirinya lumpuh dan tidak berdaya. Kita harus berusaha membangkitkan mereka sekaligus mengarahkan jalan pikiran mereka, tetutama pada tataran hidup yang berikut. Pada anak-anak yang masih remaja diantara mereka, dan pada tataran yang lebih kecil.”
Pembicaraan yang berlangsung di padepokan Empu Sanggadaru itu pun kemudian mencapai satu kesimpulan bahwa orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan dari padepokan Macan Kumbang akan diusahakan untuk bersedia bekerja keras, membuka hutan baru dan hidup dalam lingkungan padukuhan biasa. Bukan lagi hidup dalam lingkungan tertutup seperti di padepokan mereka. Dengan demikian diharapkan suatu suasana yang baru sehingga dapat mempermudah pengarahan bagi pandangan hidup mereka di masa depan, terutama pada anak-anak mereka.
“Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan lancar” berkata para perwira prajurit Singasari di ketiga padepokan itu.
Ketika para pemimpin prajurit yang berada di padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang kembali ke padepokan, mereka mulai membicarakan cara-cara yang paling tepat untuk menyampaikan rencana mereka kepada orang-orang padepokan itu.
Bagi orang-orang padepokan Serigala Putih, Mahisa Bungalan mulai dengan ikut serta bekerja di ladang mereka yang tidak memberikan banyak harapan. Perlahan-lahan ia mencoba menjajagi pendapat orang-orang di padepokan itu. Apakah mereka tidak menginginkan masa depan yang lebih baik. Tanah garapan yang lebih luas dan subur, sehingga penghasilan mereka cukup memberi jaminan hidup bagi keluarga mereka dalam keseluruhan.
“Tentu” jawab orang-orang Serigala Putih, “setiap orang tentu merindukan kehidupan yang lebih baik. Kami tidak menyembunyikan cacat dan cela kami. Kami memang tidak banyak memperhatikan sawah dan ladang di masa lampau, karena kami sering mengembara dan memungut saja kebutuhan kami di daerah pengembaraan kami.”
“Tetapi bukanlah kalian tidak ingin kembali dalam tata kehidupan seperti itu?”
“Tidak, tentu tidak. Itulah sebabnya kami mohon perlindungan prajurit Singasari ketika Empu Baladatu mulai muncul kembali dan dengan demikian akan datang kemungkinan, bahwa ia akan memaksakan nafas kehidupan bagi padepokan kami seperti masa lampau kami yang suram.”
Pendapat itu merupakan landasan bagi Mahisa Bungalan. Perlahan-lahan ia memancing pendapat orang-orang padepokan itu seandainya mereka harus bekerja keras membuka sebuah hutan bagi padukuhan mereka yang baru, yang dapat memberikan harapan bagi masa depan.
Ketika hal itu kemudian tersebar pada setiap orang di padepokan Serigala Putih, maka merekapun mulai berpikir dengan sungguh-sungguh.
Agaknya berbeda dengan cara yang ditempuh oleh Mahisa Bungalan dan para pemimpin prajurit di padepokan Serigala Puih, maka para pemimpin prajurit di padepokan Macan Kumbang dengan sengaja telah mengumpulkan setiap orang laki-laki. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum dapat membantu para pemimpin prajurit dalam pembicaraan itu, karena mereka berdua masih belum mendapat gambaran yang jelas dan kemudaan mereka masih belum memberikan kemungkinan bagi mereka untuk melakukannya seperti Mahisa Bungalan.
Dengan terus-terang para pemimpin prajurit di padepokan Macan Kumbang menawarkan kemungkinan itu, sehingga pembicaraan tentang pembukaan tanah baru itu telah di bicarakan dalam pertamuan terbuka mereka.
Namun ternyata bahwa orang-orang Macan Kumbang sependapat untuk membuka tanah baru. Tanah yang dapat memberikan harapan bagi mereka.
“Jika kelak tanah itu terasa menjadi sempit karena jumlah kita yang bertambah, maka masih ada kemungkinan untuk mebuka tanah baru karena hutan di sekitar padepokan Empu Sanggadaru itu cukup luas. Bukan saja hutan yang sudah dapat dijinakkan. Tetapi hutan yang lebat dan pekat masih terbentang seolah-olah tanpa batas” berkata pemimpin prajurit Singasari.
“Kami bersedia” sahut orang-orang Macan Kumbang, “tetapi kami tidak mempunyai alat-alat yang cukup untuk melakukannya.”
“Jika kalian bersedia, maka kita akan melakukannya. Aku akan mengusahakan alat-alat itu. Tentu kalian telah mempunyai parang dan kapak serba sedikit. Selebihnya akan kami usahakan dari padepokan Empu Sanggadaru atau dari Singasari sema sekali.”
Bersambung....!