Kamis, 31 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 025-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 025-04*

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Kami berada di tempat ini untuk menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang dapat timbul. Karena itu, maka sebaiknya kalian pun tidak keluar dari ara-ara perdu ini.”

“Kami tidak akan berbuat apa-apa,” jawab Mahisa Murti, “hanya sekedar melupakan kejemuan. Seandainya ada pasar atau kedai atau orang-orang yang berjualan, maka kami memang ingin membeli makanan.”

Mahisa Bungalan memang tidak akan membiarkan keduanya menjadi sangat gelisah karena mereka harus menunggu tanpa berbuat apa-apa. Karena itu, maka Mahisa Bungalan itupun kemudian bertanya kepada Pangeran Singa Narpada. “Bagaimana menurut pertimbangan Pangeran?”

“Biarlah mereka pergi. Agaknya mereka benar-benar telah dewasa dalam sikap dan tingkah laku, bukan saja ilmunya. Karena itu, kami percaya bahwa mereka akan dapat menempatkan diri sebaik-baiknya, dan tidak akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan perjalanan kita,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Pangeran Singa Narpada pun tidak berkeberatan. Tetapi hati-hatilah.”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Sementara itu, bersama Mahisa Pukat keduanya telah meninggalkan hutan perdu itu turun ke sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah padukuhan.

“Mudah-mudahan kita menemukan pasar,” berkata Mahisa Pukat.

“Untuk apa?” bertanya Mahisa Murti.

“Rasa-rasanya aku ingin makan sesuatu yang lain dari yang selalu kita makan selama ini,” berkata Mahisa Pukat.

“Ah, kau,” desis Mahisa Murti, “Apakah yang kita makan selama ini kurang baik?”

“Jangan berpura-pura. Jika kita menemukan jenis makanan yang sudah lama tidak kita jumpai, maka kau menyadarinya,“ jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tertawa. Tetapi ia tidak membantah. Agaknya benar juga bahwa mereka menjadi jenuh dengan makanan yang seadanya dan minum dengan meneguk air dari belik.

Sebenarnyalah, akhirnya keduanya telah menemukan sebuah pasar yang meskipun tidak begitu besar, tetapi didalamnya terdapat beberapa buah kedai makanan.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat. ”Kita dapat-memilih. Jika kita sudah kenyang, maka kita akan dapat membeli untuk kakang Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada.”

Mahisa Murti tidak menjawab, namun iapun telah menuju ke sebuah pintu kedai yang terbesar diantara kedai yang ada di warung itu.

Ketika mereka kemudian duduk, maka didalam kedai itu telah lebih dahulu duduk beberapa orang yang sedang menikmati minuman panas dan makanan.

Tidak ada orang yang memperhatikan kedatangan kedua anak muda itu. Ketika mereka mendengar langkah mereka memasuki pintu kedai, mereka hanya sekedar berpaling. Kemudian perhatian mereka kembali kepada minuman dan makanan yang sudah tersedia.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah telah memesan minuman dan makanan pula. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah sibuk menikmatinya, sehingga karena itu, maka keduanya seperti orang-orang lain tidak menghiraukan ketika ada seorang lagi memasuki warung itu.

Seorang yang bertubuh kecil kekurus-kurusan telah duduk tidak terlalu jauh dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tongkatnya yang panjang pun kemudian disandarkannya pada dinding warung itu.

Orang bertubuh kecil itupun kemudian sebagaimana orang-orang lain juga memesan minuman dan makanan. Seolah-olah tanpa menghiraukan orang lain, maka orang itupun kemudian minum dan makan dengan asyiknya.

Tetapi sekali-sekali orang itu berusaha untuk dapat memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sama sekali tidak memperhatikannya. Bahkan agaknya orang itu kemudian menjadi sangat tertarik kepada kedua orang anak muda itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sibuk dengan minuman dan makanan mereka. Karena itu, mereka sama sekali tidak tahu, bahwa orang yang bertubuh kecil itu, perlahan-lahan tanpa dilihat oleh orang lain telah menyentuh tongkat panjangnya yang tersandar di dinding.

Tiba-tiba saja tongkat panjangnya itu mulai bergeser dan roboh menimpa pundak Mahisa Pukat. Adalah diluar dugaan bahwa tongkat yang kecil itu terasa di pundak Mahisa Pukat bagaikan robohnya sebatang pohon kelapa.

Diluar sadarnya, karena yang terjadi itu sama sekali tidak disangkanya, Mahisa Pukat telah mengaduh sambil meloncat berdiri.

Mahisa Murti pun terkejut pula. Tongkat yang dikibaskan dari pundak Mahisa Pukat itu hampir saja menimpanya. Namun tongkat itu telah terjatuh dan menimpa tempat duduk yang terbuat dari bambu.

Seisi kedai itu terkejut bukan buatan. Bahkan orang-orang yang duduk di ujung tempat duduk bambu itupun telah jatuh terlentang menimpa dinding kedai itu, karena tempat duduk dari bambu yang tertimpa oleh tongkat panjang itu menjadi roboh.

Orang-orang itupun kemudian tertatih-tatih berdiri. Beberapa orang menjadi marah. Tanpa memikirkan sebab dan terjadinya mereka memaki orang yang membawa tongkat itu.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menilai peristiwa yang terjadi itu bukannya sekedar satu kebetulan sebagaimana orang-orang lain menganggap. Beberapa orang marah karena orang, bertubuh kecil itu dianggap tidak berhati-hati dengan tongkatnya. Namun mereka tidak berpikir sama sekali, bahwa tongkat itu pada keadaan wajar tentu tidak akan dapat merobohkan tempat duduk yang meskipun terbuat dari bambu tetapi cukup kuat sebagai tempat duduk bagi beberapa orang.

Orang bertubuh kecil itu ternyata, tidak menjawab sama sekali yang diperhatikannya adalah justru Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu, dengan mengerahkan daya tahannya, Mahisa Pukat berusaha mengatasi rasa sakitnya.

Tulangnya terasa bagaikan retak. Tetapi karena kemampuannya serta ketahanan tubuhnya yang tinggi, maka lambat laun ia berhasil menguasai perasaan sakitnya.

Tetapi Mahisa Pukat tidak menunjukkan bahwa rasa sakitnya itu telah dapat diatasinya. Ia masih saja menyeringai dengan memegang pundaknya dan bahkan kemudian iapun telah mengaduh pula beberapa kali.

Orang bertubuh kecil itupun kemudian mengambil tongkatnya yang telah merusakkan salah satu tempat duduk dikedai itu. Dilemparkannya beberapa keping uang kepada pemilik warung itu, kemudian tanpa mengucapkan kata apapun juga, ia telah melangkah keluar.

Beberapa orang yang masih ada didalam kedai itu masih saja mengumpat-umpat. Apalagi yang telah terjatuh karena tempat duduknya rusak tertimpa tongkat panjang itu.

Sementara itu, Mahisa Murti telah berbisik, di telinga Mahisa Pukat, “Bagaimana?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Pukat.

“Kau nampak kesakitan,” berkata Mahisa Murti.

“Aku sengaja berbuat begitu. Mungkin masih akan ada kelanjutannya. Mudah-mudahan tidak akan mengganggu perjalanan kita, apalagi dengan mahkota dan Pangeran Lembu Sabdata,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berdesis. “Apalagi sebabnya orang itu berbuat demikian atas kita?”

“Entahlah,” sahut Mahisa Pukat, “Tetapi kita memang harus berhati-hati. Mudah-mudahan, sekali lagi mudah-mudahan, tidak akan mengganggu perjalanan kita. Kakang Mahisa Bungalan tentu akan menyalahkan kita.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian mengambil uangnya dan memberikannya kepada pemilik kedai itu sesuai dengan makanan dan minuman yang telah mereka habiskan.

Keduanya pun kemudian keluar dari kedai itu dengan penuh kewaspadaan. Mereka yakin bahwa orang bertubuh kecil itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

“Kemana orang itu,” desis Mahisa Pukat.

“Entahlah,” sahut Mahisa Murti, “Tetapi kita tentu akan bertemu lagi. Kita tidak usah susah-susah mencarinya.”

“Orang itu tentu akan datang menemui kita. Mungkin dengan sikap yang ramah, tetapi mungkin dengan wajah yang garang dan menantang kita untuk berkelahi tanpa sebab.”

“Tetapi ia baik terhadap pemilik kedai itu. Ia memberikan ganti pada ambennya yang rusak dan barangkali makanan yang tumpah dengan beberapa keping uang yang tentu lebih banyak dari nilai barang-barang itu yang sebenarnya,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah, tetapi kita tidak dapat langsung kembali ke tempat kakang Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka berdua pun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka tidak langsung menuju tempat kakaknya menunggu.

Sebenarnyalah sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti, mereka memang tidak usah mencari orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu. Ketika keduanya keluar dari padukuhan, maka mereka telah melihat orang bertubuh kecil dan bertongkat panjang itu duduk dibawah sebatang pohon gayam yang besar sambil memeluk tongkatnya.

“Itulah,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang itu memang sedang mencari persoalan. Tetapi tentu bukannya satu kebetulan. Orang itu tentu mempunyai kepentingan dengan kita dan mungkin dengan kakang Mahisa Bungalan atau Pangeran Singa Narpada.”

Mahisa Murti tidak menjawab, sementara Mahisa Pukat mulai Iagi meraba-raba pundaknya sambil menyeringai, seolah-olah pundaknya itu menjadi sangat sakit, atau tulangnya menjadi retak karenanya.

Beberapa saat kemudian, keduanya menjadi semakin dekat dengan orang yang duduk dibawah pohon gayam itu.

Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Hati-hatilah. Mungkin ia seorang laki-laki. Tetapi mungkin ia seorang yang licik dan menyerang dengan tiba-tiba saja tanpa memberi isyarat lebih dahulu.”

Meskipun Mahisa Pukat masih saja menyeringai menahan sakit, namun ia telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah ketika mereka melewati orang yang duduk itu, ternyata orang itu telah menyilangkan tongkatnya melintang jalan. Meskipun panjang tongkat itu tidak selebar jalan yang dilalui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun keduanya telah berhenti.

Dengan nada datar Mahisa Murti bertanya, “Apa maksudmu menghalangi langkahku Ki Sanak.”

Orang itupun kemudian bangkit berdiri. Diamatinya Mahisa Pukat yang masih memegangi pundaknya. Kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Apakah pundakmu terasa sakit?”

“Apakah maksudmu dengan menyakiti aku Ki Sanak?” bertanya Mahisa Pukat, “Tulangku serasa patah dan tanganku seakan-akan tidak mampu bergerak sama sekali.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau telah membuat aku menjadi heran. Meskipun kau mengatakan bahwa tulang-tulangmu terasa sakit, tetapi kau masih mampu berdiri tegak dan berjalan meninggalkan kedai itu.”

“Jadi, bagaimana seharusnya menurut nalarmu?” bertanya Mahisa Pukat, “Apakah aku harus mati?“

“Seandainya kau tidak mati, maka kau harus menjadi lumpuh atau sama sekali tidak dapat keluar dari kedai itu,“ jawab orang itu.

“Kenapa? Bukankah tongkatmu tidak lebih dari sebatang tongkat kecil dan panjang? Apakah dengan tongkat itu kau memang terbiasa membunuh orang atau membuatnya lumpuh dan tidak berdaya seperti aku?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kau masih dapat berjalan sampai ke tempat ini. Karena itu aku menunggumu. Kau harus ditimpa tongkat ini sekali lagi agar kau benar-benar menjadi lumpuh atau mati.” berkata orang bertubuh kecil itu.

“Ah.” desah Mahisa Pukat, “Apakah kau sampai hati berbuat demikian terhadapku? Apakah sebenarnya salahku dan apakah sebenarnya persoalan yang ada diantara kita?”

“Kenapa kau tanyakan persoalan yang ada diantara kita?“ orang itu justru bertanya, “Jika aku ingin membunuh seseorang maka aku tidak pernah berpikir apakah aku mempunyai persoalan dengan orang itu atau tidak.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Sanak. Marilah kita berterus terang. Apakah maumu sebenarnya, agar semuanya menjadi jelas. Kau sudah menyakiti pundak saudaraku. Sekarang kau berniat untuk membunuh kami. Aku yakin bahwa yang kau katakan itu bukannya yang sebenarnya. Mungkin kau memang ingin membunuh kami, tetapi tentu ada persoalan yang mendorong melakukannya. Tidak seperti yang kau katakan, bahwa hal itu kau lakukan karena kau ingin melakukannya.”

Orang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata kalian memang bukan orang kebanyakan. Kecuali itu tidak hancur, kau pun menangkap persoalan diantara kita dengan sikap dewasa.”

“Apapun menurut penilaianmu,” desis Mahisa Murti.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya kedua anak muda itu berganti-ganti.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak saling berdiam diri. Seakan-akan kedua belah pihak sedang menjajagi kemungkinan yang ada didalam diri mereka. Terutama orang bertubuh kecil itu. Dengan cermat ia melihat pundak Mahisa Pukat yang masih saja dipeganginya seakan-akan pundak itu masih terasa sakit.

Namun tiba-tiba saja orang bertubuh kecil itu berkata, “Anak muda. Jangan berpura-pura. Aku tahu, kau sudah berhasil mengatasi perasaan sakitmu. Dengan demikian maka kau tentu seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi justru karena itu maka keinginan untuk membunuh dan saudaramu menjadi semakin mendesak.”

“Itu bukan soal,” jawab Mahisa Pukat sambil melepaskan pundaknya, “Tetapi bahwa kau tahu aku berhasil mengatasi perasaan sakitku merupakan satu kemampuan penglihatan yang luar biasa. Sekali-sekali aku juga ingin memujimu, meskipun pujian yang keluar dari mulutku tidak akan lebih berarti dari pujian yang keluar dari mulutmu.”

Orang bertubuh kecil itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Tepat,” jawab Mahisa Murti, “Apalagi membunuh seseorang yang sombong dan terlalu yakin akan kemampuannya. Seseorang yang akan dibunuh, tetapi kemudian justru berhasil membunuh lawannya itu akan dapat memberikan kepuasan lebih besar daripada membunuh seseorang yang sekedar memberikan perlawanan pada saat ia akan dibunuh.”

“Hem,“ orang itu menggeram. Tetapi ia menahan gejolak didalam hatinya. Bahkan dengan nada datar ia berkata, “Kalian benar-benar lepas dari dugaanku. Yang aku hadapi sekarang bukan anak-anak muda sebagaimana aku lihat. Tetapi marilah, mumpung masih ada waktu. Aku masih mempunyai tugas yang lain. Aku masih harus membunuh tujuh orang lagi, karena diantara sepuluh orang yang harus aku bunuh, aku baru berhasil membunuh satu orang. Sekarang aku akan membunuh dua orang lagi.”

“Kenapa baru seorang?” bertanya Mahisa Pukat.

“Yang aku jumpai memang baru seorang,” jawab orang bertubuh kecil itu. “Beruntunglah bahwa sekarang aku menjumpai dua orang sekaligus. Jika aku dapat menjumpai lima atau tujuh orang yang lain sekaligus, pekerjaanku akan semakin cepat, karena aku akan dapat membunuh mereka bersama-sama dalam satu saat seperti yang akan aku lakukan atas kalian.”

Tetapi Mahisa Murti justru tertawa karenanya. Lalu katanya, “Kau memang aneh. Kau sendiri mengatakan, bahwa sebaiknya kita tidak usah berpura-pura, meskipun kau tidak akan mengatakan sebab yang sebenarnya. Tetapi kau masih mengigau saja seperti seorang yang sakit panas.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba iapun tersenyum juga. Katanya, “Aku lupa bahwa aku berhadapan dengan anak-anak muda yang telah dewasa. Tetapi baiklah. Aku sekarang bersungguh-sungguh. Jika kalian memang jantan, marilah kita benar-benar pergi ke pategalan itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka pun kemudian melangkah ke pategalan bersama orang yang bertubuh kecil itu.....

Bersambung....!

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 025-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 025-03*

Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Namun Pangeran Singa Narpada tidak dapat bertahan terlalu lama karena udara panas. Ia harus melenting menjauh untuk mendapatkan kesegaran baru karena dengan demikian ia terhindar dari panasnya udara.

Namun sekejap kemudian, diluar dugaan, maka Pangeran Singa Narpada telah menyerang lagi dengan loncatan yang panjang mengarah ke dada. Demikian tiba-tiba, sehingga sekali lagi Ki Ajar harus menangkisnya. Kembali terjadi sebuah benturan yang keras. Namun kembali Pangeran Singa Narpada harus berloncatan menjauh.

Ki Ajar masih juga tertawa. Katanya, “Marilah Pangeran. Kerahkan semua ilmu dan jimat. Ternyata bahwa orang terbaik di Kediri sebentar lagi akan terkapar mati di padepokan terpencil ini meskipun bagi satu pengabdian. Tetapi ternyata pengabdian itu akan sia-sia.”

Belum lagi Ki Ajar terdiam, Pangeran Singa Narpada sekali lagi menyerang. Serangannya sangat rendah. Kakinya yang mendatar mengarah ke perut lawan.

Sekali lagi Ki Ajar terkejut, sehingga Ki Ajar tidak menghindari serangan itu, tetapi memukul kaki Pangeran Singa Narpada dengan pukulan menyamping. Tetapi Pangeran Singa Narpada justru telah berputar setengah lingkaran. Dan bertumpu pada kakinya yang kemudian diletakkan, maka kakinya yang lain telah menyambar pula lambung lawannya.

Sekali lagi Pangeran Singa Narpada gagal mengenai sasaran karena Ki Ajar telah menangkisnya dengan sikunya sambil memiringkan tubuhnya dengan agak merendah.

Pangeran Singa Narpada masih akan menyerang lagi. Tetapi udara panas serasa mencekiknya, sehingga ia harus meloncat surut.

Namun ternyata bahwa Ki Ajar tidak ingin melepaskannya. Sebagaimana Pangeran Singa Narpada, maka lawannya itupun ingin dengan cepat mengalahkannya.

Karena itu, ketika Pangeran Singa Narpada meloncat surut, maka Ki Ajar pun telah memburunya.

Tetapi ada sesuatu yang terasa agak lain pada dirinya. Ia merasa bahwa tenaganya tidak sekuat pada saat-saat sebelumnya, sehingga ia tidak mampu bergerak secepat Pangeran Singa Narpada.

“Aku belum merasa mengerahkan tenaga melampaui daya dan kekuatan yang ada padaku,” berkata Ki Ajar itu didalam hatinya, “Sehingga menyusutkan kemampuanku.”

Namun karena itu, maka ia tidak sempat menyerang Pangeran Singa Narpada dengan serta merta. Pangeran Singa Narpada sempat meloncat lagi menjauhinya.

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian telah berusaha mendekati lawannya lagi. Ia sadar, bahwa Pangeran Singa Narpada berusaha untuk melepaskan diri dari cengkaman hawa panas.

Pangeran Singa Narpada yang telah mendapat kesempatan menyegarkan tubuhnya, telah bersiap pula. Namun udara panas yang dilontarkan oleh Ki Ajar itu rasa-rasanya telah mulai menyusup ke dalam kulit dagingnya dan menyakitinya. Tetapi ia tidak boleh berhenti. Ia harus bertempur sampai selesai, siapapun yang ternyata kemudian harus mati.

Namun dalam pada itu, justru Pangeran Singa Narpada lah yang kemudian memasuki lingkaran udara panas di sekitar lawannya. Sekali lagi ia menyerang dengan garangnya meskipun ia harus menyeringai menahan panas.

Ki Ajar masih sempat menghindar. Namun sekali lagi ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang pada dirinya. Ia tidak dapat bergerak secepat yang dikehendaki, sehingga hampir saja serangan Pangeran Singa Narpada itu benar-benar mengenainya.

Namun demikian serangan itu luput dari sasaran, maka Pangeran Singa Narpada telah berputar dan mengayunkan kakinya mendatar. Betapa terasa panasnya udara yang menggigit tubuhnya, namun ternyata bahwa serangannya itu cukup berbahaya sehingga Ki Ajar harus menangkis serangan yang tidak lagi sempat dihindarinya itu.

Terasa dorongan serangan itu hampir saja membantingnya jatuh ketika serangan itu membentur tangannya yang menangkis serangan itu, terasa kekuatan Pangeran Singa Narpada seakan-akan telah bertambah-tambah.

Tetapi Pangeran Singa Narpada pun harus segera menghindar ketika udara panas hampir saja mengelupas kulitnya.

Namun, sebenarnyalah Ki Ajar merasa sangat heran tentang dirinya sendiri. Kemampuannya terasa menjadi susut. Kemampuannya tidak lagi sebagaimana saat-saat ia mengerahkan pada puncak ilmunya. Bahkan tulang-tulangnya serasa menjadi semakin lemah dan tidak lagi mampu mendukung gejolak kekuatan ilmunya.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Ki Ajar itu kepada diri sendiri.

Tetapi jawabannya tidak segera didapatkannya. Ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya yang terasa semakin menyusut.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun mulai melihat perubahan pada lawannya. Ki Ajar tidak lagi mampu bergerak cepat dan bahkan terasa oleh Pangeran Singa Narpada, kemampuan Ki Ajar membakar udara di sekitarnya pun menjadi susut. Meskipun udara masih terasa panas, tetapi seorang yang memiliki ilmu yang tinggi segalanya sudah susut, sehingga akhirnya semuanya akan larut dan habis sama sekali.

Serangan-serangan Pangeran Singa Narpada pun semakin lama menjadi semakin sering. Betapa kulitnya benar-benar menjadi terkelupas oleh panasnya udara, justru dalam benturan-benturan yang terjadi.

Namun demikian, maka ilmunya ternyata mampu mengatasi kesulitan yang hampir tidak teratasi.

Meskipun demikian, Pangeran Singa Narpada masih merasa seakan-akan ia tidak lagi bertempur dengan jujur.

“Aku telah dengan bersembunyi mengurangi daya kekuatan ilmunya,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Namun kemudian dijawabnya sendiri. “Seperti ilmu yang lain yang dapat dianggap pula licik. Melontarkan udara panas tidak lebih baik dari ilmu yang aku pergunakan.”

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin lama semakin nampak bahwa telah terjadi perubahan yang terhitung cepat pada diri Ki Ajar. Kekuatannya dan kemampuannya telah menyusut melampaui kewajaran jika ia mengerahkan kemampuan ilmunya. Bahkan semakin lama semakin jelas, bahwa Ki Ajar mengalami kesulitan untuk melawan dan menghindari serangan-serangan Pangeran Singa Narpada berikutnya.

Dalam keadaan yang sulit itulah Pangeran Singa Narpada berusaha untuk menekannya semakin berat dan bahkan kemudian untuk mengakhirinya sama sekali.

Sementara itu, Ki Ajar pun menyadari keadaannya. Tiba-tiba saja ia berteriak lantang, “Kau licik Pangeran. Kau mempergunakan ilmu iblis itu. Kau telah menghisap kekuatanku di setiap sentuhan. Ilmu yang tidak pantas dipergunakan oleh para kesatria, apalagi kesatria dalam jabatan tertinggi sebagaimana Pangeran Singa Narpada.”

Wajah Pangeran Singa Narpada menegang. Tuduhan itu membuatnya agak kebingungan. Ilmu itu memang ilmu yang jarang sekali terdapat pada saat itu.

Tetapi ia masih selalu bertanya, “Kenapa licik?”

Untuk beberapa saat Pengeran Singa Narpada termangu-mangu. Bahkan ia melangkah surut ketika Ki Ajar mendekatinya. Udara panas masih terasa. Tetapi sudah jauh susut dari semula.

“Kenapa kau sampai hati mempergunakan ilmu iblis itu Pangeran?” bertanya Ki Ajar. Wajahnya mulai menjadi pucat dan darahnya pun seakan-akan telah terhisap dalam setiap sentuhan dengan tubuh Pangeran Singa Narpada.

Jantung Pangeran Singa Narpada berdenyut semakin cepat. Namun kemudian katanya, “Ki Ajar, kenapa kau sebut ilmu itu licik?”

“Kau curi kekuatanku dengan langkah yang tidak tangguh tanggon? Perbuatanmu tidak ubahnya dengan perbuatan seorang pencuri yang dengan bersembunyi mengambil milik orang lain,” berkata Ki Ajar.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Ki Ajar. Dalam pertempuran kita mempergunakan senjata apa saja yang kita punya. Aku tidak menyerangmu dari belakang. Aku juga tidak menyerangmu pada saat kau tidur. Tetapi kita berhadapan dan saling melepaskan ilmu. Aku bersedia akan menekan ilmu yang kau anggap licik ini jika kau juga tidak mempergunakan ilmu pemanasmu. Bukankah ilmu juga ilmu yang licik karena kau tidak memberi kesempatan kepada lawanmu dalam suasana yang sama?”

“Persetan,“ geram Ki Ajar yang dengan tiba-tiba saja telah menyerang Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Singa Narpada tidak sempat menghindar. Tetapi ia telah mempersiapkan diri sepenuhnya. Dengan mengerahkan daya tahannya ia melindungi dirinya dari panasnya api yang terpencar dari sisa ilmu Ki Ajar Bomantara. Sementara itu, iapun telah menangkis serangan itu, sehingga telah terjadi benturan diantara keduanya.

Ki Ajar memang sudah menjadi terlalu lemah. Dalam benturan itu Ki Ajar telah terlempar dan jatuh berguling di tanah. Sementara itu sentuhan itu sendiri telah menghisap sebagian dari kekuatan Ki Ajar pula.

Apalagi Pangeran Singa Narpada tiba-tiba saja telah menemukan kekuatan dan ketabahan di hatinya, sehingga ia tidak lagi terpengaruh oleh pendapat, bahwa ilmunya adalah ilmu yang licik.

Karena itu, ketika ia melihat Ki Ajar berusaha untuk bangkit maka dengan segenap kekuatan yang ada padanya, maka iapun telah menyerang,. Dengan sepenuh kekuatan yang ada didalam dirinya dialasi dengan tenaga cadangan dan kekuatan ilmunya, maka Pangeran Singa Narpada telah meloncat menyimpang dengan kaki lurus mendatar. Satu serangan yang langsung mengarah ke dada lawannya yang baru saja sempat berdiri tegak.

Sekali lagi terjadi benturan. Kaki Pangeran Singa Narpada telah mengenai sasarannya. Dengan derasnya bagaikan prahara, serangan Pangeran Singa Narpada serasa telah meremukkan dada Ki Ajar yang telah ki sebagian besar dari kekuatannya. Udara panasnya tidak lagi dapat menahan serangan Pangeran Singa Narpada yang meluncur dengan kekuatan yang tidak terkirakan besarnya itu.

Terdengar Ki Ajar mengaduh tertahan. Rasa-rasanya ujung gunung karang telah menghantam dadanya. Iga-iganya telah berpatahan dan isi dadanya bagaikan telah rontok dari tangkainya.

Terasa nafas Ki Ajar menjadi sesak. Matanya menjadi kabur dan ia benar-benar telah kehilangan keseimbangan.

Ki Ajar seakan-akan telah terlempar jatuh dan terbanting di tanah. Sejenak ia masih menggeliat, bahkan berusaha untuk bangkit. Namun sejenak kemudian pernafasannya pun bagaikan telah tersumbat.

Untuk beberapa saat Ki Ajar justru terdiam. Ia masih berusaha untuk mengerahkan sisa kemampuannya dengan memperbaiki pernafasannya. Dipejamkannya matanya dan dikerahkannya daya tahannya.

Untuk beberapa saat, ia terbaring diam, sementara Pangeran Singa Narpada termangu-mangu mengamatinya. Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak melepaskan kewaspadaan sama sekali. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan.

Sejenak kemudian ternyata bahwa Ki Ajar masih sempat memperbaiki keadaannya. Pernafasannya dapat berjalan lebih baik dan darahnya pun mengalir dengan wajar.

Karena itu, maka iapun telah membuka matanya dan dengan sisa tenaganya telah bangkit berdiri.

“Luar biasa,“ geram Pangeran Singa Narpada. Ia tidak dapat berlaku licik dengan menyerang lawannya yang sedang berusaha untuk memperbaiki keadaannya tanpa mampu untuk melawannya.

Baru ketika Ki Ajar berdiri tegak, Pangeran Singa Narpada berkata, “Kau masih akan bertempur Ki Ajar.”

Ki Ajar itu memandang wajah Pangeran Singa Narpada dengan sorot mata penuh dengan dendam dan kebencian. Dengan suara bergetar ia berkata, “Bagi kita Pangeran, akhir dari perkelahian adalah kematian. Sebelum salah seorang diantara kita mati, maka pertempuran ini masih belum berakhir.”

“Kau tidak mau menyerah?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Yang terdengar adalah suara tertawa iblis dari mulut Ki Ajar. Tetapi usahanya untuk mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya dengan getaran suara tertawanya tidak berlaku bagi Pangeran Singa Narpada. Meskipun rasa-rasanya kulit Pangeran Singa Narpada telah terkelupas di beberapa bagian dan perasaan nyeri mencengkamnya, namun ia masih mampu melawan ilmu Gelap Ngampar yang sudah menjadi semakin lemah.

Namun ternyata bahwa pelepasan ilmu itu telah mempengaruhi keadaan tubuh Ki Ajar itu sendiri. Tubuhnya yang benar-benar telah menjadi sangat lemah, ternyata tidak mampu lagi menjadi alas lontaran ilmunya yang dipaksakannya. Karena itu, maka darahnya yang sudah mengalir wajar itupun tiba-tiba bagaikan terhenti, sementara pernafasannya pun menjadi bagaikan tersumbat.

Tetapi rasa-rasanya Ki Ajar itu sendiri tidak mau mengakui kenyataan tentang dirinya. Ketika ia melihat Pangeran Singa Narpada masih berdiri tegak, maka iapun menghentakkan ilmunya dengan segenap daya lontar yang seharusnya diberikan. Tetapi keadaan wadag serta alas kemampuan ilmunya telah tidak ada sama sekali, sehingga karena itu, maka lontaran ilmunya tidak ada lagi yang mendukungnya.

Dalam keadaan yang demikian, ternyata ilmu itu sendiri telah menghisap semua sisa tenaga dan kekuatan wadag yang ada didalam diri Ki Ajar, sehingga tiba-tiba saja terasa darahnya bagaikan mengering dan pernafasannya pun terputus.

Terdengar teriakan mengerikan. Satu pemberontakan terhadap kenyataan yang terjadi atas dirinya.

Namun hentakan itu justru mempercepat penyelesaian. Darah Ki Ajar pun telah berhenti mengalir ketika jantungnya berhenti berdetak. Nafasnya seolah-olah telah membeku dan sebenarnyalah Ki Ajar telah kehilangan semua kesempatan.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Ki Ajar itu seakan-akan telah membunuh dirinya sendiri tanpa disadarinya. Satu peristiwa yang sulit untuk dimengerti. Karena Ki Ajar adalah seorang pertapa yang berilmu sangat tinggi yang seharusnya mempunyai nalar yang mapan dan pengamatan yang tajam tentang keadaannya.

Tetapi ternyata Ki Ajar benar-benar telah kehilangan nalar budinya. Ia tidak mampu mengendalikan diri dan telah terjerumus ke dalam jebakan perasaannya sendiri.

Kematian Ki Ajar telah menggemparkan hati para cantrik di padepokan itu. Bagi mereka Ki Ajar adalah puncak dari segala-galanya. Karena kematiannya bagi mereka bagaikan kiamat rasanya. Apalagi Putut yang terpercaya yang setiap kali Ki Ajar tidak ada di padepokan seolah-olah telah menggantikan kedudukannya telah tidak ada pula beberapa saat sebelumnya.

Terasa padepokan itu benar-benar bagaikan dicengkam oleh suasana yang menakutkan bagi para cantrik. Yang masih bertempur kemudian adalah Panembahan Bajang melawan Mahisa Bungalan. Dan Pangeran Lembu Sabdata masih harus bertempur melawan Mahisa Pukat. Namun dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata sebenarnya sudah tidak memiliki kemungkinan apapun juga. Hanya karena Mahisa Pukat ingin menangkapnya hidup-hidup, maka ia masih bertempur dengan hati-hati.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada sendiri tubuhnya dirasakan bagaikan remuk didalam dan kulitnya rasa-rasanya terkelupas oleh udara panas. Namun ia tidak tinggal diam. Ketika ia melihat lawannya benar-benar telah mati, maka ia merasa berkewajiban untuk menolong dirinya sendiri dan Mahisa Murti yang terkapar berbareng dengan Putut padepokan itu.

Dengan sisa tenaganya Pangeran Singa Narpada pun berjalan tertatih-tatih mendekati tubuh yang terbaring diam. Namun ketika ia berjongkok di samping Mahisa Murti, iapun menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Murti ternyata masih tetap hidup. Yang terjadi padanya adalah sebagaimana terjadi pada Pangeran Singa Narpada sendiri. Kekuatan ilmu Putut yang memiliki ilmu sebagaimana Ki Ajar itu sendiri telah membakar kulit daging Mahisa Murti sehingga membuatnya beberapa saat menjadi pingsan.

Tetapi lambat laun oleh udara yang segar dan angin yang mengalir, maka Mahisa Murti pun telah mendekati kesadarannya kembali.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Putut, kepercayaan Ki Ajar itu telah terbunuh. Ia tidak dapat bertahan ketika Mahisa Murti mempergunakan kekuatan ilmu puncaknya yang diterimanya dari gurunya yang adalah ayahnya sendiri.

Dalam pada itu, yang dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada adalah menunggu Mahisa Bungalan menyelesaikan pertempuran itu. Ternyata Panembahan Bajang adalah seorang yang luar biasa. Dengan lontaran petirnya yang menyambar-nyambar. Namun Mahisa Bungalan mampu berloncatan bagaikan burung sikatan. Bahkan sekali-sekali, Mahisa Bungalan masih mampu menyusup diantara lontaran-lontaran petir dari tangan Panembahan Bajang dan mengenainya dengan serangan-serangan yang garang dan dilandasi dengan kekuatan ilmu yang mendebarkan. Mahisa Bungalan memiliki dasar ilmu ayahnya dan pamannya Mahisa Agni. Kemudian menyelesaikan sampai pada ilmu puncaknya pada Mahisa Agni yang memberinya kemampuan untuk melontarkan ilmu Gundala Sasra.

Sebenarnya bahwa dalam keadaan yang terdesak oleh lontaran-lontaran petir dari tangan lawannya, maka Mahisa Bungalan tidak mempunyai pilihan lain daripada mempergunakan ilmu puncaknya. Ia harus berusaha untuk mendapat kesempatan barang sekejap. Kemudian melepaskan ilmu Gundala Sasra itu.

Karena itulah, maka Mahisa Bungalan pun telah memperhitungkan keadaan dengan sangat cermat. Ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat menunggu bantuan dari siapapun juga karena harga dirinya. Mereka sudah menyatakan diri untuk berhadapan dan bertempur seorang melawan seorang. Sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan saling membantu, apapun yang akan terjadi, sebagaimana para cantrik juga tidak berbuat sesuatu. Namun sebenarnyalah bahwa para cantrik itu memang tidak akan banyak mempengaruhi pertempuran jika mereka terpaut terlalu banyak dengan mereka yang terlibat ke dalam pertempuran itu.

Dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata memang terpengaruh oleh keadaan yang berkembang dalam pertempuran itu. Ia melihat Ki Ajar yang terbanting dan kemudian terbaring diam. Sedangkan Putut yang terpercaya di padepokan itu, tidak mampu mengalahkan lawannya. Bahkan keduanya telah terbaring pula di arena. Sementara itu, Panembahan Bajang pun tidak dapat dengan segera menghancurkan lawannya.

Bahkan ternyata Panembahan Bajang itu tidak lagi dapat ingkar dari kenyataan. Lawannya yang masih muda itu masih belum sampai ke puncak ilmu tertingginya. Lawannya yang masih muda itu masih akan dapat melakukan sesuatu yang dapat mengejutkannya.

Sementara itu Panembahan Bajang pun menyadari, bahwa ia tidak lagi mempunyai kawan yang akan dapat saling membantu, sementara ia sadar, bahwa lawan Ki Ajar yang sudah bebas itu sedang berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Jika kekuatannya sebagian menjadi pulih kembali dan ia tidak bertahan pada harga dirinya dan bertempur berpasangan dengan lawannya yang muda itu, maka keadaannya akan menjadi sangat sulit.

Karena itu, ketika ia tidak lagi berpengharapan, maka Panembahan Bajang itupun telah mengambil sikap.

Ketika Mahisa Bungalan sedang mencari kesempatan untuk melepaskan ilmu puncaknya, maka Panembahan Bajang pun telah menentukan langkahnya sendiri. Ia tidak menghiraukan lagi Pangeran Lembu Sabdata yang menjadi murid dan harapan bagi Ki Ajar untuk dapat memperalatnya.

Dengan demikian, ketika kesempatan itu terbuka, maka dengan serta merta dan tidak terduga, maka Panembahan Bajang itu telah meloncat justru menjauh.

Mahisa Bungalan terkejut. Ia memang berusaha mengejar. Tetapi yang sekejap telah memberi kesempatan kepada Panembahan kerdil itu untuk mendahului meninggalkan padepokan itu.

Seperti belalang Panembahan itu meloncat keatas dinding halaman, namun sejenak kemudian ia telah hilang di pategalan diluar dinding halaman. Sementara Mahisa Bungalan bertengger diatas dinding sambil mengamati pategalan itu, maka Panembahan Bajang telah menyusup di antara pepohonan. Yang nampak oleh Mahisa Bungalan hanya daun-daun yang terguncang, sementara Panembahan kerdil itu sendiri ternyata telah terlindung oleh dedaunan dan gerumbul-gerumbul.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat menyusul Panembahan kerdil itu.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan tidak berusaha untuk mengejar dan menangkapnya. 

Bahkan meskipun Panembahan Bajang telah berada pada satu titik yang jauh, masih terdengar suaranya menggelepar, 

“Tunggu. Aku akan membunuhmu dari padepokanku. Kau tidak akan dapat bersembunyi dimanapun juga. Nyawamu 
ada di tanganku.” 

Mahisa Bungalan menggeram. Ia sama sekali tidak gentar mendengar ancaman itu. Namun ia sangat kecewa bahwa ia telah kehilangan seorang lawannya yang mungkin akan dapat menjadi semacam bara didalam sekam yang 
pada suatu saat akan dapat membakar lingkungannya. 

Tetapi hal itu sudah terjadi. Panembahan Bajang telah terlepas. 

Namun tiba-tiba saja Mahisa Bungalan teringat kepada Mahisa Murti yang dalam keadaan gawat, serta Mahisa Pukat yang masih bertempur melawan Pangeran Lembu 
Sabdata. 

Karena itu, betapapun beratnya, maka ia harus 
melepaskan Panembahan Bajang dan kembali ke halaman padepokan. 

Yang pertama-tama dilihatnya adalah Mahisa Murti. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Ia masih dapat bertahan. Meskipun keadaannya lemah sekali, tetapi ia mempunyai kemampuan dengan daya tahannya.” 

 “Aku akan mengobatinya,” berkata Mahisa Bungalan. 

 “Hati-hatilah. Bukankah kau memerlukan air?” bertanya Pangeran Singa Narpada, ”Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata masih bertempur.” 

 “Aku berharap Mahisa Pukat dapat menguasainya,” berkata Mahisa Bungalan. 

 “Tetapi mungkin ia juga akan berusaha melarikan diri,” berkata Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun dalam pada itu, keadaan Pangeran Singa Narpada sendiri sudah menjadi semakin baik. Karena itu, maka katanya, “Pangeran dapat menjaganya agar tidak melarikan diri, 
sementara aku akan mengambil air.” 

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian iapun mengangguk. 

Jawabnya, “Baiklah. Aku akan mengawasi adimas Lembu Sabdata sekaligus adikmu 
ini. Cepatlah mencari air untuk mencairkan obat yang kau tentu membawanya.” 

 “Apakah Pangeran tidak membawa?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Aku juga membawanya,“ jawab Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi aku tidak dapat meninggalkannya selagi kau masih bertempur. Mungkin seseorang akan berbuat curang, sementara itu aku yakin, bahwa keadaannya tidak membahayakan jiwanya. Keadaannya disebabkan hanya karena sengatan udara panas yang terasa sangat nyeri seperti yang terjadi atas kulitku.”

Mahisa Bungalan pun kemudian telah meninggalkannya, sementara Pangeran Singa Narpada telah bangkit mendekati arena untuk mengawasi keadaan agar Pangeran Lembu Sabdata tidak sempat melarikan diri. Namun iapun harus mengawasi Mahisa Murti yang terbaring diam, agar tidak diciderai oleh orang-orang padepokan itu yang putus asa karena kematian Ki Ajar. 

Sebenarnyalah para cantrik telah menjadi berputus asa. Mereka sudah tidak mampu berpikir, apa yang sebaiknya mereka lakukan. 

Yang mereka lihat kemudian adalah Pangeran Lembu Sabdata yang masih bertempur melawan seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. 

Sedangkan menurut penglihatan para cantrik, sekali-sekali Pangeran Lembu Sabdata ternyata telah terdesak surut. 

Tetapi Pangeran Lembu Sabdata telah terjebak ke dalam satu keadaan yang jauh dari impiannya. Ia berharap untuk dapat mengenakan sebuah mahkota yang menjadi tempat bersemayam wahyu keraton, sehingga dengan demikian, maka ia akan memerintah Kediri. Bahkan kemudian Kediri akan tegak kembali dan memaksa Singasari untuk tunduk 
kepadanya dan menjadi tidak lebih dari sebuah pakuwon lagi. Tumapel. 

Namun, impian itu telah larut dengan terbunuhnya Ki Ajar Bomantara. 

Bahkan terbunuhnya Ki Ajar Bomantara tidak lagi sekedar membuatnya kehilangan semua harapan. Tetapi pengaruh kejiwaan yang mencengkamnya pun perlahan-lahan telah menjadi kabur. 

Kematian Ki Ajar, Putut kepercayaan Ki Ajar dan kemudian bahwa Panembahan Bajang telah meninggalkan arena, merupakan goncangan-goncangan yang sulit untuk diatasinya.

Sementara itu, Mahisa Pukat masih berusaha untuk menekannya. Dan Pangeran Lembu Sabdata pun masih bertempur melawannya. 

Meskipun Mahisa Pukat menjadi heran, bahwa telah terjadi sesuatu pada lawannya itu. Cara 
bertempur Pangeran Lembu Sabdata pun tidak lagi teratur dan mencerminkan kemampuan seorang berilmu tinggi. 

Tetapi gerak Pangeran Lembu Sabdata menjadi kasar dan kadang-kadang telah kehilangan pegangan. 

Untuk beberapa saat Mahisa Pukat menjadi bingung. 

Justru karena itulah maka ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan lawannya yang terasa menjadi asing. 

Mahisa Pukat semakin bingung ketika kemudian Pangeran Lembu Sabdata itu tertawa. Semakin lama menjadi semakin keras dan berkepanjangan. 

Bahkan kemudian Pangeran Lembu Sabdata itu seakan-akan tidak lagi menghiraukannya. 

Mahisa Pukat menghentikan perlawannya. Dalam kebingungan ia melihat Pangeran Lembu Sabdata itu menurut penglihatan telah kehilangan kesadarannya. 

Dengan wajah yang tegang Mahisa Pukat memandang Pangeran Singa Narpada yang gelisah. 

Pangeran Singa Narpada pun tidak segera menangkap persoalan yang dihadapinya. 

Namun sikap Pangeran Lembu Sabdata itu benar-benar membuat jantungnya berdebar-debar. 

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan telah kembali berjongkok di samping Mahisa Murti. Sesaat perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Mahisa Murti yang dalam keadaan parah meskipun menurut pengamatan Pangeran Singa Narpada tidak membahayakan jiwanya.

Dengan mencairkan obat yang dibawanya, maka Mahisa Bungalan berusaha untuk meningkatkan daya tahan Mahisa Murti, yang berhasil minum beberapa teguk, sehingga untuk sementara keadaannya akan berangsur menjadi baik, sebelum ia akan mendapat pengobatan yang sesungguhnya serta kemampuannya untuk melakukan samadi serta memperbaiki pernafasannya. 

Namun ketika ia melihat Mahisa Murti menjadi 
berangsur baik serta berusaha memperbaiki pernafasannya sambil berbaring, Mahisa Bungalan mendengar suara tertawa Pangeran Lembu Sabdata. 

Suara tertawa yang aneh dan sangat menarik perhatiannya.

Mahisa Bungalan yang mulai memperhatikan sikap Pangeran Lembu Sabdata pun menjadi heran. Sikap Pangeran Lembu Sabdata yang terlepas dari pengaruh kejiwaan Ki Ajar Bomantara yang terbunuh itu menjadi 
sangat asing baginya. 

 “Mahisa Murti,” berkata Mahisa Bungalan, 

“usahakan mengatur pernafasan sebaik-baiknya. Obat itu akan membantu meningkatkan daya tahanmu. Aku akan melihat keadaan Pangeran Lembu Sabdata sejenak.” 

Mahisa Murti menyeringai menahan pedih di tubuhnya. Namun kemudian katanya, “Silahkan kakang.” 

Mahisa Bungalan kemudian meninggalkan Mahisa Murti yang terbaring diam. Selangkah demi selangkah ia mendekati Pangeran Singa Narpada yang termangu-mangu. 

Sementara Mahisa Pukat pun menjadi bingung melihat keadaannya. 

 “Pangeran,” desis Mahisa Bungalan, “Apa yang telah terjadi dengan Pangeran Lembu Sabdata?”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Agaknya ia telah terlempar kembali ke dalam keadaannya yang menyedihkan. Syarafnya telah tercengang lagi. Dan agaknya ingatannya mulai kabur.” 

 “Lalu, apakah sebaiknya yang kita lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Aku akan berusaha untuk menekan salah satu pusat syarafnya. Dalam keadaan yang demikian ia tidak akan dapat melawan. Aku mengharap ia akan kehilangan kesadarannya dan tertidur beberapa lama,” jawab Pangeran 
Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun telah melangkah mendekatinya sambil berkata kepada Mahisa Pukat, 

“Lepaskan. Biarlah aku yang menghadapinya.” 
Mahisa Pukat pun kemudian melangkah menjauh, sementara Pangeran Singa Narpada dengan hati-hati mendekatinya. 

Pangeran Lembu Sabdata memandanginya dengan tegang. Namun kembali terdengar suara tertawanya. Tidak terlalu keras. Bahkan justru seperti seekor kuda yang meringkik. 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak ingin membiarkan keadaan Pangeran Lembu Sabdata itu berkepanjangan. Karena itu, maka 
Pangeran Singa Narpada itupun dengan tiba-tiba telah meloncat sambil menangkap tengkuk Pangeran Lembu Sabdata. 

Dalam keadaannya Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak mengelak. Ketika tangan Pangeran Singa Narpada menekan salah satu pusat syarafnya, maka tiba-tiba saja terasa matanya menjadi kabur. Bahkan akhirnya 
Pangeran Lembu Sabdata itupun bagaikan telah tertidur di tangan Pangeran Singa Narpada. 

Sejenak kemudian, maka halaman padepokan itu telah menjadi sepi. Para cantrik benar-benar tidak tahu lagi, apa yang akan terjadi atas diri mereka. Sementara itu, mereka melihat tiga orang yang berdiri dengan tegang di hadapan 
mereka. 

Namun dua orang diantara mereka, telah mendekati seorang yang terbaring diam karena keadaan tubuhnya yang lemah setelah mengerahkan tenaga melawan Putut yang 
terpercaya di padepokan Ki Ajar itu, serta telah terkena ilmunya yang membakar udara sekelilingnya. 

Mahisa Bungalan dan Mahisa Pukat telah berusaha untuk mengangkat Mahisa Murti dan menempatkannya di tempat yang lebih baik di serambi sebuah pondok yang ada di padepokan itu. 

 “Bagaimana keadaanmu?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Aku sudah merasa semakin baik,” jawab Mahisa Murti, 

“Meskipun aku masih merasa sangat lemah.” 

 “Obat itu akan dapat membantumu,” berkata Mahisa Bungalan. 

Mahisa Murti mengangguk. Sementara itu Mahisa Pukat berdesis, “Ternyata kemampuan orang itu melampaui kemampuan Pangeran Lembu Sabdata. Sebenarnya aku akan dapat lebih cepat mengalahkannya. Tetapi aku masih berusaha untuk dapat membiarkannya hidup.” 

 “Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Pangeran Lembu Sabdata nampaknya diselimuti oleh pengaruh kejiwaan Ki Ajar. 

Setelah Ki Ajar terbunuh, goncangan-goncangan jiwanya tidak dapat ditahankannya lagi. Apalagi ketika Panembahan Bajang pun meninggalkannya sendiri.” 

 “Bagaimana keadaannya sekarang?” bertanya Mahisa Murti. 

 “Ia tertidur karena sentuhan tangan Pangeran Singa Narpada,” jawab Mahisa Bungalan, 

“Tetapi jika nanti ia sadar kembali, maka ingatannya tidak akan lengkap.” 

 “Dan bagaimana keadaan lawanku itu?” bertanya Mahisa Murti pula. 

 “Ia sudah benar-benar mati,” jawab Mahisa Bungalan, 

“Kau telah membunuhnya, meskipun keadaanmu sendiri cukup parah. Tetapi justru di bagian luar tubuhnya, sehingga keadaanmu tidak berbahaya bagi keselamatanmu, meskipun nampaknya sangat parah.” 

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebenarnyalah ia merasa tubuhnya semakin segar. Ia sudah berhasil memulihkan pernafasannya dan aliran darahnya pun sudah menjadi wajar kembali. 

Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat, “Kawani Mahisa Murti. Aku masih mempunyai pekerjaan bersama Pangeran Singa Narpada. Aku akan meletakkan Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur itu di sini pula.” 

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya, “Baiklah kakang. Agaknya kakang masih akan berusaha untuk menemukan sesuatu di padepokan ini.” 

Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat, “Kawani Mahisa Murti. Aku masih mempunyai pekerjaan bersama Pangeran Singa Narpada.”

Mahisa Bungalan mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya. Mudah-mudahan. Jika kita berhasil, maka kita telah menyelesaikan tugas ini dengan tuntas.” 

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Silahkan kakang. Biarlah aku menjaga Mahisa Murti dan Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur itu. Mudah-mudahan para cantrik yang kebingungan itu tidak menjadi gila untuk merebut Pangeran Lembu Sabdata.” 

Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan Mahisa Pukat yang duduk di bibir amben di serambi, sementara Mahisa Murti masih berbaring karena tubuhnya yang 
lemah. Sejenak kemudian, Mahisa Bungalan telah membawa tubuh Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur dan meletakkannya di sebelah Mahisa Murti. 

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada masih mempunyai satu tugas yang tidak kalah pentingnya. 

Mereka harus menemukan mahkota yang telah hilang dari gedung perbendaharaan. 

Berdua Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah memasuki halaman padepokan itu lebih dalam lagi. 

Mereka memang telah melihat dengan ketajaman penglihatan batin mereka, bahwa mahkota yang dianggap dapat menjadi tempat bersemayam wahyu keraton itu berada di padepokan itu. 

Tetapi keduanya harus mencari, di barak yang manakah mahkota itu disimpan. Keduanya yakin, bahwa mereka tidak akan dapat menanyakan kepada para cantrik. Mereka 
menganggap bahwa para cantrik tidak akan dapat memberikan petunjuk juga tentang mahkota itu, karena Ki Ajar tentu merahasiakannya. 

Mungkin Pangeran Lembu Sabdata mengetahuinya, tetapi pada saatnya ia sadar, ia tidak akan dapat berbicara tentang mahkota itu dengan wajar, karena goncangan-goncangan jiwani yang tidak teratasi. 

Sementara itu, keduanya masih harus bersikap hati-hati. Meskipun para cantrik nampaknya kebingungan dan tidak berbuat apa-apa, namun mungkin sekali mereka akan melakukan sesuatu diluar dugaan. 

Dengan memperhatikan keadaan di padepokan itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah memasuki barak demi barak yang dianggapnya mungkin sekali untuk menyimpan benda-benda berharga. 

Namun mereka tidak segera dapat menemukan yang mereka cari. 

 “Apakah kita akan menunggu Pangeran Lembu Sabdata?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Tidak ada gunanya. Ia tidak akan dapat memberikan keterangan apapun juga,” jawab Pangeran Singa Narpada. 

 “Jadi kita harus mencarinya? Mengulangi memasuki barak demi barak sekali lagi?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Apa boleh buat,” jawab Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun bersama Pangeran Singa Narpada ia memasuki sekali lagi barak demi barak. 

Mereka harus memperhatikan setiap sudut dengan seksama. Memperhatikan setiap benda yang ada didalam setiap bilik. Mungkin benda yang sangat berharga itu telah 
dikaburkan dengan benda-benda lain yang ada di padepokan itu. 

Satu-satu mereka memasuki bilik yang ada di barak-barak di padepokan itu. Memeriksa dengan seksama,bahkan kadang-kadang mereka harus membongkar geledeg-geledeg bambu dan peti-peti yang tertutup rapat. 

Tetapi mereka tidak menemukannya. 
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ingin mengendapkan perasaannya yang bergejolak. 

 “Baiklah kita beristirahat Pangeran,” berkata Mahisa Bungalan yang melihat wajah Pangeran Singa Narpada penuh ketegangan. 

Pangeran Singa Narpada mengangguk. Katanya, “Jika perlu, kita harus melihat sekali lagi dengan penglihatan batin kita. Mungkin dengan demikian kita akan mendapat petunjuk letak benda keramat itu.” 

 “Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku sependapat. Tetapi kita harus beristirahat dahulu. Kita akan berbicara dengan para cantrik untuk membuka hati mereka yang 
seakan-akan telah membeku.” 

 “Baiklah,“ Pangeran Singa Narpada mengangguk. 

Sejenak kemudian keduanya telah kembali ke serambi tempat Mahisa Pukat menunggui Mahisa Murti dan Pangeran Lembu Sabdata yang masih tertidur. 

Namun sementara itu, Mahisa Murti telah bangkit duduk di bibir pembaringan bersama Mahisa Pukat. 

 “Bagaimana keadaanmu?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Keadaanku menjadi berangsur baik, kakang,” jawab Mahisa Murti, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi akan segera pulih kembali.” 

 “Kita tidak tergesa-gesa,” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Kita masih belum menemukan yang kita cari.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian aku mendapat kesempatan untuk beristirahat.” 

 “Ya, beristirahatlah. Kami akan berbicara dengan para cantrik yang tidak tahu apa yang harus diperbuat,” berkata mahisa Bungalan kemudian. 

 “Pangeran Singa Narpada yang gelisah, nampaknya tidak berminat sama sekali untuk berbicara dengan para cantrik. Karena itu maka dibiarkannya saja Mahisa Bungalan pergi sendiri menemui para cantrik yang berkumpul di sudut halaman tanpa mengetahui apa yang 
harus dilakukan.” 

Ketika Mahisa Bungalan mendekati mereka, maka rasa-rasanya darah mereka jadi membeku. Mereka menjadi ketakutan jika Mahisa Bungalan, yang telah mampu 
mengalahkan Panembahan Bajang, itu akan berbuat sesuatu atas mereka. 

Tetapi Mahisa Bungalan tidak berbuat apa-apa. Ia hanya ingin berbicara serba sedikit dengan para cantrik itu. 

Mula-mula cantrik-cantrik itu menjadi ragu-ragu untuk menanggapi sikap Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan bagi mereka nampaknya sama sekali tidak 
menakutkan. 

Bahkan dengan nada ramah ia bertanya, 
“Apakah kalian para cantrik dari padepokan ini?” Para cantrik itu masih ragu-ragu.

Namun Mahisa Bungalan mempertegas pertanyaannya, sehingga kemudian salah seorang diantaranya para cantrik itu memberanikan diri untuk menjawab, “Ya Ki Sanak. Kami adalah para cantrik dari padepokan ini.” 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya sekali lagi, “Apakah kalian sudah melihat apa yang terjadi?”

“Ya Ki Sanak,” jawab cantrik itu lagi. 

Mahisa Bungalan masih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sekarang pemimpin padepokan ini dan seorang pembantunya telah terbunuh. Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata menjadi tawanan kami.” 

Para cantrik itu hanya dapat saling berpandangan. 

Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu Mahisa Bungalan berkata seterusnya, “Nah, siapakah diantara kalian yang tidak mau menerima keadaan seperti 
ini? Siapakah diantara kalian yang merasa wajib untuk berbuat sesuatu bagi padepokan?” 

Tidak seorang pun yang menjawab. Karena itu, maka Mahisa Bungalan berkata. “Para cantrik. Ketahuilah, bahwa yang kami lakukan adalah atas nama kekuasaan negara Kediri. Ki Ajar Bomantara telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Kediri, sehingga ia 
harus ditangkap. Tetapi sayang, bahwa ia sama sekali menolak untuk ditangkap, sehingga akhirnya kami berusaha untuk memaksanya. Tetapi kami gagal dan Ki Ajar itu terbunuh.” 

Para cantrik hanya dapat menundukkan kepalanya saja. 

 “Ki Ajar telah dibunuh oleh Pangeran Singa Narpada karena ia menentang perintah penangkapan atas dirinya dan bahkan ia telah melawan,” berkata Mahisa Bungalan 
selanjutnya. 

Jantung para cantrik menjadi semakin berdebaran. 

 “Nah,” berkata Mahisa Bungalan seterusnya, 

“Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?” 
Para cantrik itu saling berpandangan. 

Seorang diantara mereka memberanikan diri untuk menjawab, “Kami tidak mengerti, apa yang baik kami lakukan dalam keadaan 
seperti ini.” 

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kami tidak akan menganggap kalian ikut bersalah sebagaimana pemimpin padepokan kalian. Karena itu, kalian akan tetap dapat melakukan pekerjaan kalian, memelihara padepokan ini apabila kalian masih ingin 
melakukannya. Atau jika kalian ingin kembali ke rumah kalian masing-masing, maka kalian bebas melakukannya. Karena kalian bukan tawanan kami.” 

Para cantrik itu tidak segera menjawab. Mereka benar-benar tidak tahu lagi, apa yang sebaiknya mereka lakukan. 

Mahisa Bungalan lah yang kemudian justru memberikan pendapatnya, “Para cantrik. Jika kalian memang mencintai padepokan ini, maka kalian dapat tinggal disini, meneruskan pekerjaan kalian sehari-hari. Tanah pertanian 
kalian akan tetap menghasilkan, dan padepokan ini akan tetap terpelihara. Tetapi padepokan ini tidak lagi dihuni oleh seorang pertapa yang memiliki kelebihan dari orang 
lain karena Ki Ajar telah terbunuh. 

Namun demikian, mungkin salah seorang yang tertua diantara kalian akan dapat menjadi pemimpin disini bukan untuk mengembangkan kanuragan, tetapi untuk mengembangkan 
tanah pertanian yang sampai saat ini terpelihara dengan baik.” 

Para cantrik tidak menjawab. Tetapi beberapa orang diantara mereka mengangguk-angguk. 

 “Nah, para cantrik,” berkata Mahisa Bungalan 
selanjutnya, “Sekarang kalian mempunyai tugas untuk menyelenggarakan sebaik-baiknya mayat pemimpin kalian yang dengan terpaksa sekali terbunuh di pertempuran ini.”

Para cantrik itu masih saja termangu-mangu, sehingga Mahisa Bungalan pun berkata lebih tegas, “Nah, bangunlah dari mimpimu yang buruk itu. Lakukan. Mayat itu sudah terlalu lama membeku di tempatnya.” 

Para cantrik itu seakan-akan memang terbangun dari sebuah angan-angan yang sangat buruk. Merekapun kemudian melangkah dengan hati yang kosong ke tempat pemimpin mereka terbaring diam. 

Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata masih saja tertidur. Sedangkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk termenung di bibir amben di serambi. 

Mahisa Bungalan pun kemudian mendekati Pangeran Singa Narpada yang gelisah sambil berkata, “Mereka sudah melakukannya.” 

Pangeran Singa Narpada mengangguk. Katanya, “Tetapi aku tidak dapat melepaskan sekejap pun kegelisahan tentang benda yang masih belum kita ketemukan itu.” 

 “Tetapi kita tidak harus memaksa diri,” jawab Mahisa Bungalan. 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka pun sempat melihat keadaan Pangeran Lembu Sabdata. 

 “Ia masih akan tertidur untuk waktu yang cukup lama,” berkata Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia merasa bertanggung jawab atas Pangeran yang dengan susah payah dicari di seluruh Kediri itu. 

Beberapa saat, Pangeran Singa Narpada duduk pula di amben itu, sementara Mahisa Bungalan berjalan hilir mudikdi halaman samping sambil mengamati kerja para cantrik yang menjadi sibuk. 

Namun Pangeran Singa Narpada tidak dapat 
menyingkirkan kegelisahannya barang sekejap. Karena itu, bagaimanapun juga, Pangeran Singa Narpada berniat untuk mencari benda keramat itu sampai ketemu, baru mereka 
akan memikirkan yang lain-lain. 

 “Baiklah Pangeran,” berkata Mahisa Bungalan, 


“Kita akan mencari benda itu dengan cara yang lain. Kita tidak hanya akan sekedar memasuki bilik demi bilik di setiap barak, tetapi kita akan memperhatikan suasana didalam bilik-bilik itu. Kita akan mempergunakan penglihatan batin 
kita untuk mencari pusaka yang hilang itu. Tetapi seperti Pangeran, aku pun yakin bahwa pusaka itu ada didalam padepokan ini.” 

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, 

“Baiklah. Kita akan mencarinya tidak sekedar dengan penglihatan mata wadag kita.” 

Demikianlah, keduanya telah mengulangi sekali lagi mencari pusaka yang dianggap mampu menjadi wadah wahyu keraton Kediri itu. 

Mahisa Pukat lah yang mendapat tugas untuk 
mengamati keadaan di halaman padepokan, serta mengamati Pangeran Lembu Sabdata yang masih tertidur. 

 “Jika sewaktu-waktu ia terbangun, maka segalanya terserah kepadamu,” berkata Mahisa Bungalan, “Tetapi satu hal yang harus kau perhatikan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak lagi menguasai kesadaran dan 
ingatannya sepenuhnya.” 

Sementara itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada telah mengerahkan kemampuan merekauntuk mengamati keadaan satu tempat dengan mempergunakan penglihatan batin. 

Mereka memang mendapat kesulitan untuk melakukannya. Tetapi karena mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, maka 
betapapun sulitnya, namun mereka pun akhirnya berhasil melakukannya. 

Sekali lagi mereka memasuki bilik demi bilik. Tetapi mereka tidak sekedar mengamati benda-benda yang ada didalam bilik itu. Tidak sekedar membuka peti-peti kayu atau geledeg-geledeg bambu. 

Namun mereka memang tidak segera menemukannya. Tetapi ternyata bahwa kemampuan mereka menangkap dari mahkota yang mereka cari dengan pengamatan batin 
mereka, maka akhirnya keduanya merasakan, bahwa mereka telah berada tidak terlalu jauh dari benda yang mereka cari. 

 “Jantungku berdebar-debar,” berkata Mahisa Bungalan, 

“Agaknya ini merupakan satu pertanda.” 

 “Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Aku pun merasakan sesuatu yang asing. Tetapi agaknya getaran yang asing itu adalah satu bukti bahwa pusaka yang keramat itu berada disini.” 

 “Didalam bilik ini,” berkata Mahisa Bungalan. 
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian desisnya, “Ya. Didalam bilik ini atau di bilik sebelah.” 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun mereka terlalu yakin akan sentuhan halus dari pengamatan jiwani Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada dengan 
getar benda pusaka yang mereka cari itu.

Dengan demikian maka keduanya telah memeriksa isi bilik itu dengan teliti. Tidak ada sudut yang terlampaui. 

Amben yang ada didalam bilik itupun telah diangkat dan diletakkan miring. Geledeg bambu didalam bilik itupun telah digeser. 

Namun mereka tidak menemukan yang 
mereka cari. 

 “Kita lihat bilik sebelah,” berkata Pangeran Singa Narpada. 

Keduanya pun kemudian telah pergi ke bilik sebelah. Tetapi seperti di bilik yang terdahulu, mereka tidak menemukan apapun juga. 

Dalam pada itu Mahisa Bungalan berkata, “Ada sesuatu yang aneh. Benda itu tentu ada disini.” 

Pangeran Singa Narpada pun menjadi jengkel. Namun mereka tidak berhenti mencari. Mereka memasuki bilik demi bilik yang menurut pendapat mereka menjadi tempat penyimpanan benda keramat itu. 

Namun benda itu tidak mereka ketemukan. 
Ketika gejolak perasaan memuncak, maka Mahisa Bungalan berusaha mempertajam penglihatan batinnya. 

Getaran yang menyentuh tali perasaannya yang paling halus, terasa semakin tajam. Dan yakinlah Mahisa Bungalan, bahwa ia berada dekat dengan benda yang dicarinya. 

Dalam pada itu, ketika sekali lagi ia mengamati bilik itu, terasa sesuatu menarik perhatiannya. Tiba-tiba saja ia berkata kepada Pangeran Singa Narpada, ”Tunggu disini sebentar Pangeran.” 

 “Ada apa?” bertanya Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia telah pergi ke bilik sebelah.

Tetapi tidak lama kemudian iapun telah kembali. 

Kemudian katanya, “Dinding ini telah menarik 
perhatiannya. Ketika aku melihat sisi sebelah, aku semakin yakin, bahwa dinding ini bukan dinding kebanyakan. Tetapi didalam dinding ini terdapat rongga.” 

 “Maksudmu dinding ini rangkap?” bertanya Pangeran Singa Narpada. 

 “Ya. Dan ada ruang diantara kedua helai dinding yang rangkap itu,” jawab Mahisa Bungalan. 

Pangeran Singa Narpada tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun kemudian telah mendekati dinding kayu dari bilik itu. Merabanya, namun kemudian siap untuk memecahkannya. 

 “Tunggu Pangeran,” desis Mahisa Bungalan, 

“Jangan dengan cara itu. Jika ada sesuatu yang berharga dibalik dinding itu, mungkin akan menjadi rusak karenanya jika kayu yang pecah itu akan runtuh ke dalam rongga itu.” 

Pangeran Singa Narpada mengurungkan niatnya. Namun iapun kemudian telah mengambil cara lain. Ia tidak memukul dinding kayu itu sehingga pecah. Tetapi Pangeran 
Singa Narpada telah mengerahkan kekuatannya untuk melepaskan kepingan papan dari dinding itu dengan hati-hati. 

Terdengar papan itu berderak. Sehelai papan telah patah. Ketika kemudian Pangeran Singa Narpada melepaskan papan kedua, maka kedua orang itu terkejut bukan kepalang. 

Ternyata diantara dua helai dinding yang 
berongga itu terdapat sebuah benda yang bercahaya bagaikan matahari. 

Pangeran Singa Narpada justru bagaikan membeku. Dipandanginya benda itu tanpa berkedip untuk beberapa saat. 

Namun kemudian, Pangeran Singa Narpada itupun telah jatuh pada lututnya. 

Mahisa Bungalan pun kemudian berlutut pula ketika Pangeran Singa Narpada telah menyembah benda itu. 

Benda yang ternyata adalah Mahkota Kediri yang hilang, yang menurut kepercayaan beberapa orang di Kediri, Mahkota itu akan dapat menjadi tempat bersemayam wahyu keraton. 

Betapa gejolak perasaan Pangeran Singa Narpada melihat benda yang harus diketemukannya itu. Rasa-rasanya dadanya justru menjadi sesak oleh kebanggaan yang meledak karena tugas yang dibebankan kepadanya ternyata telah berhasil. 

Dengan sangat berhati-hati, Pangeran Singa Narpada telah melangkah memasuki rongga itu. Ketika ia mengamati tempat itu dengan saksama, maka ternyata bahwa ada beberapa helai papan yang memang lepas dan 
yang merupakan pintu untuk masuk keluar ruang sempit itu. 

 “Bukan main,” desis Pangeran Singa Narpada, ”Ki Ajar mempunyai cara sangat cermat untuk menyembunyikan mahkota ini.” 

 “Ya.“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. 

”Meskipun tempat ini tersembunyi, namun tempat ini terlalu bersih. Agaknya setiap hari tempat ini telah dibersihkan dengan cermat.” 

Pangeran Singa Narpada mengangguk. Katanya, “Tugas kita telah selesai.” 

Tetapi Mahisa Bungalan menggeleng. Jawabnya, 

“Belum Pangeran. Tugas ini baru selesai, jika Mahkota itu dan Pangeran Lembu Sabdata telah berada di Kediri.
Bukankah masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi di perjalanan kembali ke Kediri. Mungkin Panembahan Bajang akan menghubungi mPu Lengkon yang dapat saja 
berubah pikiran. Atau mungkin langkah-langkah lain yang dapat diambil. Atau bahaya yang lain lagi, yang tidak kita perhitungkan sebelumnya.” 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar Mahisa Bungalan. Aku tergesa-gesa menjadi gembira. Sudah terlalu lama jantungku merasa tertekan karena hilangnya benda itu dan hilangnya pula 
Pangeran Lembu Sabdata. Ketika aku mendapatkan keduanya disini, seolah-olah aku merasa, bahwa tugas yang sangat menekan perasaan itu sudah selesai.“

 Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ternyata kau telah memperingatkan aku, agar aku tetap bersiaga 
menghadapi segala kemungkinan.” 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Mereka seharusnya berusaha secepatnya mengamankan benda yang sangat berharga itu. Namun mereka terbentur pada 
kenyataan tentang Mahisa Murti yang keadaannya cukup parah meskipun tidak berbahaya. 

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Pangeran. Bagaimana menurut Pangeran, apakah kita akan segera meninggalkan padepokan ini?” 

 “Sebenarnya hal itu akan lebih baik,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi bagaimana dengan adikmu?” 

 “Itulah yang menjadi pikiranku,” jawab Mahisa 
Bungalan. 

 “Biarlah kita menunggu sampai keadaannya berangsur baik,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Bukankah itu akan sangat berbahaya?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Tetapi kita tentu tidak akan dapat meninggalkan adikmu itu,” jawab Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan menanyakannya kepada anak itu. Apakah ia sudah mampu berjalan.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Lalu, “Tetapi jangan kau paksa ia berjalan jika keadaannya memang belum mengijinkan.” 

Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan bilik itu untuk melihat keadaan Mahisa Murti. Namun ternyata bahwa dalam waktu pendek, anak muda itu masih belum akan dapat meninggalkan padepokan itu. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata kepada diri sendiri.

 “Apa boleh buat. Kami masih harus tinggal setidak-tidaknya semalam lagi. Besok Mahisa 
Murti baru mungkin dapat berjalan meninggalkan tempat ini. Jika malam nanti ternyata sesuatu akan terjadi atas kami maka itu merupakan akibat yang harus diterimanya.” 

Hari itu juga para cantrik dari padepokan itu telah menyelenggarakan penguburan mayat para pemimpin mereka, sementara di padepokan itu ada beberapa orang yang justru telah membunuh pemimpin mereka itu,tinggal. 

Tetapi para cantrik itu tidak dapat berbuat sesuatu selalu menerima keadaan itu. Namun sudah tidak ada niat sama sekali para cantrik itu untuk berbuat sesuatu. Orang-orang yang berada di padepokan mereka adalah orang-orang yang pilih tanding.

Bahkan para cantrik itu tidak tahu, bahwa orang-orang yang berada di padepokan mereka itu telah membongkar dinding

salah sebuah bilik dan menemukan yang mereka cari di rongga antara kedua helai dinding itu. 

Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan dan kedua adiknya memutuskan untuk tinggal semalam lagi di padepokan itu. Mereka sama sekali tidak 
mengatakan sesuatu tentang rencana mereka kepada para cantrik, sehingga para cantrik tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. 

Yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan kepada para cantrik itu adalah, “Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Jika kalian harus menanak nasi, maka lakukanlah, agar kalian tidak menjadi kelaparan. Jangan hiraukan kami. Kami akan mengurus diri kami sendiri dan Pangeran Lembu Sabdata.” 

Para cantrik itu tidak menjawab. Tetapi mereka mencoba untuk dapat melakukan pekerjaan mereka sehari-hari meskipun dengan penuh kebimbangan dan keragu-raguan. 

Ketika malam tiba, maka menjadi tugas Mahisa Bungalan dan Mahisa Murti untuk bergantian mengamati keadaan, sementara Mahisa Murti diminta untuk tidak 
memikirkan apapun juga dan berusaha untuk beristirahat sebaik-baiknya agar besok mereka benar-benar dapat meninggalkan tempat itu. 

Sementara itu Pangeran Singa Narpada bertanggung jawab atas benda pusaka yang telah mereka ketemukan kembali, sehingga karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah berada bersama benda yang bernilai tidak terkirakan itu di rongga diantara kedua helai dinding bilik itu bersama Pangeran Lembu Sabdata yang dibuatnya tetap tertidur nyenyak. 

Mahisa Bungalan dan Mahisa Pukat hampir tidak dapat memejamkan mata sepanjang malam, karena merekamerasa bertanggung jawab terhadap keadaan. 

Namun ternyata bahwa malam itu tidak ada sesuatu yang terjadi. Ketika fajar menyingsing, maka Mahisa Murti pun telah terbangun. 

Keadaan tubuhnya telah menjadi jauh lebih 
baik. Dibantu oleh obat yang diminumnya, sehingga ketika Mahisa Bungalan melihatnya, sambil tersenyum Mahisa Murti berkata, 

“Aku sudah menjadi baik.” 

 “Justru setiap saat keadaanku akan bertambah baik,” berkata Mahisa Murti. 

 “Apakah kau sudah dapat berjalan jauh?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Tentu,” jawab Mahisa Murti, “Sudah tidak terasa apa-apa lagi. Memang mungkin masih ada perasaan nyeri yang kadang-kadang menyerang tulang-tulangku. Tetapi hanya 
kadang-kadang dan mudah sekali untuk mengatasinya.” 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, 

“Syukurlah. Kita harus mengambil langkah-langkah yang cepat, karena benda itu adalah benda yang sangat berharga.” 

 “Aku akan dapat berjalan sampai berapa hari sekalipun. Justru setiap saat akan bertambah baik,” berkata Mahisa Murti. 

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Iapun kemudian berbicara dengan Pangeran Singa Narpada, bahwa mereka sudah dapat melakukan perjalanan kembali ke Kediri. 
Namun Pangeran Singa Narpada justru berkata, “Kita harus sangat berhati-hati.” 

 “Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku menyadari. Tetapi untuk berada terlalu lama disini, keadaannya akan sangat berbahaya pula.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun agaknya Pangeran Singa Narpada terbentur pada perhitungan bahwa menempuh perjalanan di siang hari akan mengundang persoalan pula karena mereka membawa mahkota yang sangat berharga, meskipun mahkota itu akan dibungkus sekalipun. 

Karena itu maka Singa Narpada itupun kemudian berkata, “Manakah yang lebih baik bagi kita. Apakah kita akan tinggal disini hari ini dan berangkat menjelang senja, atau kita akan berada di perjalanan siang ini?” 

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. 

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun saling berpandangan. Merekapun tidak mengerti, manakah yang lebih baik dilakukan. 
Namun akhirnya Mahisa Bungalan punberkata, 

“Kita akan meninggalkan padepokan ini, tetapi kita tidak melakukan perjalanan. Kita akan berhenti di hutan perburuan yang tidak terlalu jauh dari tempat ini.” 

Pangeran Singa Narpada termenung sejenak. Namun Kemudian katanya, “Aku sependapat. Kita akan berada di hutan itu. Baru menjelang senja kita berjalan. Esok pagi, jika matahari terbit, kita mencari tempat untuk 
bersembunyi.” 

 “Kita berjalan di malam hari,” berkata Mahisa 
Bungalan, “Bukankah begitu maksud Pangeran?” 

 “Ya. Bukankah untuk sementara cara itulah yang kita anggap paling aman. Sementara itu, kita masih harus membawa Pangeran Lembu Sabdata yang pada saat-saat tertentu akan dapat membuat kesulitan.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. 

Katanya, “Baiklah. Kita akan mencoba melakukannya. Tetapi sampai saat ini Pangeran Lembu Sabdata masih belum 
bangun.” 

 “Aku akan membangunkannya. Biarlah ia makan dan minum. Baru kita akan berangkat,” berkata pangeran Singa Narpada. 

Sebenarnyalah kemudian Pangeran Singa Narpada telah menyentuh tengkuk Pangeran Lembu Sabdata yang perlahan-lahan terbangun dari tidurnya. Namun demikian ia membuka matanya dan bangkit untuk duduk, rasa-
rasanya ia sama sekali tidak melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan siapapun juga. 

Dengan pandangan kosong ia menatap celah-celah pintu yang terbuka. Tetapi seakan-akan tidak nampak apapun di hadapannya. 

”Berilah ia makan,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada Mahisa Pukat. 

Mahisa Pukat pun kemudian mengambil nasi di belakang. Seorang cantrik dengan tergesa-gesa telah menyediakannya meskipun lauknya tidak lebih dari ikan air yang ditangkap di belumbang. 

Dengan pandangan yang tidak mengandung makna apapun, Pangeran Lembu Sabdata memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Namun kemudian nalurinya telah mendorongnya untuk menyuapi mulutnya karena perutnya terasa lapar. 

Setelah Pangeran Lembu Sabdata makan dan demikian pula yang lain-lain, maka mereka pun telah minta diri kepada para cantrik untuk meninggalkan padepokan itu.

Para cantrik itu melihat, bahwa keempat orang itu telah membawa Pangeran Lembu Sabdata dan sesuatu yang dimaksudkan ke dalam sebuah selongsong sehingga tidak 
terlihat oleh mereka. 

Tetapi tidak seorang pun diantara para cantrik yang berani menanyakannya. Mereka menganggap bahwa keempat orang itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, 
sehingga pemimpin padepokan itu, yang mereka anggap orang yang tidak terkalahkan, ternyata telah terbunuh oleh seorang diantara mereka.

 Pangeran Lembu Sabdata pun tidak mampu melawan kehendak mereka, dan saudara 
mereka yang tertua, Putut yang terpercaya itupun telah terbunuh pula. 

Karena itu, maka para cantrik itu hanya dapat 
memandangi saja keempat orang yang meninggalkan padepokan itu bersama Pangeran Lembu Sabdata yang seakan-akan sudah tidak lagi memiliki kehendak. Ia tidak 
lebih dari sesosok tubuh yang terdiri dari tulang dan dagingnya. 

Namun yang sama sekali tidak, lagi memiliki 
kesadaran tentang adanya. Demikianlah maka keempat orang itupun kemudian telah meninggalkan padepokan itu sambil membawa Pangeran Lembu Sabdata. 

Mereka berjalan menyusuri jalan sempit di tengah-tengah tegalan. Namun yang kemudian 
telah meninggalkan jalan itu setelah mereka terlepas dari tatapan mata para cantrik. 

Seperti yang mereka rencanakan maka mereka telah mengambil jalan setapak menuju ke hutan perburuan. 

Mereka akan berada di hutan itu sampai senja turun. Baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Demikian berhati-hatinya Pangeran Singa Narpada, karena ia telah membawa dua macam benda yang sangat berharga. Satu diantaranya adalah sesosok tubuh yang 
seakan-akan telah kehilangan jiwa, dan satu lagu sebuah pusaka yang sangat dikeramatkan di Kediri. 

Melewati jalan sempit mereka menuju ke hutan perburuan untuk tinggal di hari itu. Mereka harus berusaha beristirahat sebaik-baiknya karena malam nanti mereka akan menempuh perjalanan. 

Karena Pangeran Lembu Sabdata tidak mengerti keterangan tentang kepentingan mereka di hutan itu, maka Pangeran Singa Narpada telah memaksanya untuk tidur 
dengan menyentuh tengkuknya sebagaimana telah dilakukannya di padepokan. 

 “Aku tidak dapat tidur meskipun malam nanti harus berjalan semalam suntuk,” berkata Mahisa Pukat. 

 “Kau harus menjaga tubuhmu. Mungkin kau memang sudah terlatih untuk melakukan kerja yang keras. Tetapi selagi ada kesempatan jangan kau hamburkan tenagamu tanpa arti.” 

Mahisa Pukat tidak membantah. Ia mengerti maksud kakaknya. Namun rasa-rasanya memang menjemukan sekali untuk menunggu tanpa berbuat apa-apa. 

Apalagi untuk tidur dalam keadaan seperti itu. 
Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat melihat seekor burung terbang rendah menyambar sesuatu pada dahan sebatang pohon. Burung alap-alap. 

 “Apa yang disambar burung alap-alap itu?” bertanya Mahisa Pukat didalam hatinya. 

Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan berburu.” 

Mahisa Bungalan memandanginya dengan kerut di kening. Dengan nada datar ia bertanya, “Kau akan berburu tanpa busur dan anak panah?”

Mahisa Pukat menarik nafas. Memang sulit untuk berburu tanpa busur dan anak panah. Ia tidak dapat menerkam binatang buruannya, karena biasanya seekor binatang mempunyai alat penciuman dan pendengaran yang tajam. Sebelum ia mencapai seekor rusa yang sedang minum di sebuah mata air, maka binatang itu tentu sudah terkejut dan lari. 

Tetapi Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Aku akan membuat lembing.” 

Mahisa Bungalan memandanginya dengan tajamnya. 

Lalu katanya, “Kau akan membuang tenaga tanpa arti apa-apa. Aku tahu, kau hanya sekedar ingin mengusir kejemuan. Tetapi kita tidak sedang duduk kesepian tanpa berbuat apa-apa. Kita harus menyimpan tenaga kita untuk menghadapi satu kemungkinan yang mendebarkan. Satu kemungkinan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.” 

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia menurut pesan kakaknya. Ia tidak berbuat apa-apa dan duduk saja dalam kejemuan. 

Hari itu orang-orang yang berada didalam hutan itu berusaha untuk dapat beristirahat dengan sebaik-baiknya, karena malam harinya mereka akan menempuh perjalanan panjang. 

Ketika senja turun, maka orang-orang didalam hutan itupun telah mempersiapkan diri. Mereka makan bekal yang masih ada pada mereka, sebelumnya mereka mulai dengan perjalanan. 

Sementara itu Pangeran Singa Narpada telah 
membangunkan Pangeran Lembu Sabdata dan dengan cara khusus memaksa Pangeran Lembu Sabdata untuk makan. 

Menjelang gelap, maka sekelompok kecil orang-orang itupun telah meninggalkan hutan perburuan. Mahisa Murti telah nampak semakin baik. Bahkan tidak lagi nampak
tanda-tanda bahwa ia baru saja mengalami kesulitan pada tubuhnya menghadapi ilmu yang ganas. 

Meskipun kemudian jalan setapak yang mereka lalui benar-benar menjadi gelap, tetapi orang-orang yang sudah terbiasa dengan pengembaraan itu sama sekali tidak 
mengalami kesulitan. 

Bahkan Pengeran Lembu Sabdata yang tidak 
sepenuhnya menyadari dirinya sendiri, secara naluriah dapat juga menempuh jalan yang terbentang di hadapan mereka, meskipun kadang-kadang memang menimbulkan 
kesulitan juga bagi Pangeran Singa Narpada yang harus selalu mengamati keadaannya. 

Namun demikian, perjalanan mereka tidak mengalami hambatan yang berarti. Mereka dapat maju sesuai dengan kemungkinan yang dapat mereka capai. Sementara itu, jalan-jalan yang sepi memberikan mereka keleluasaan untuk bergerak tanpa menarik perhatian orang lain. 

Tetapi mereka masih harus menghindari kemungkinan melintasi gardu-gardu perondaan, agar tidak menimbulkan 
persoalan dengan anak-anak muda yang bertugas. 

Namun mendekati tengah malam, ternyata sesuatu telah terjadi atas sekelompok kecil orang-orang yang menempuh perjalanan itu. Rasa-rasanya di langit tidak ada mendung. 
Udara bersih dan bintang nampak bergayutan di langit. 

Namun tiba-tiba beberapa langkah dari mereka telah meledak suara petir yang memekakkan telinga. Lidah api menjilat di langit dan menghantam sebatang pohon gayam yang tumbuh di pinggir jalan. 

Orang-orang yang sedang berjalan itu terkejut bukan kepalang. Bahkan Pangeran Lembu Sabdata pun terkejut pula dan hampir saja ia melarikan diri, jika Mahisa Bungalan tidak cepat menangkapnya.

“Apa yang terjadi?” bertanya Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Panembahan Kerdil itu. Ia telah mengancam untuk menyerang aku dari jarak jauh. Agaknya 
ia telah melakukan rencana itu. Dengan kemampuan ilmu yang lembut didalam dirinya ia telah berusaha untuk menyerangku.” 

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, maka sekali lagi terdengar suara petir mengguncang tanah tempat mereka 
berpijak, dan menyambar sisa pohon gayam yang sedang terbakar. 

 “Gila,“ geram Mahisa Bungalan, “Dikiranya ilmu setannya itu dapat menakut-nakuti aku.” 
 
“Lalu apa yang dapat kau lakukan. Panembahan Kerdil itu tidak ada disini sekarang,” berkata Pangeran Singa Narpada. 

 “Hanya orang yang lemah hati dan ketakutan sajalah yang akan dapat dikenai iblis yang licik itu, karena ia tidak berani beradu dada. Aku harus bertahan, agar aku tidak menjadi cemas dan pribadiku tidak terpengaruh oleh 
kekuatan pribadinya,” sahut Mahisa Bungalan. 

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Bungalan berkata, “Kita berjalan terus. Jangan hiraukan permainan iblis itu.” 

Tetapi Pangeran Singa Narpada bertanya, “Mahisa Bungalan. Apakah kita akan dapat melawannya?” 

 “Tanpa melawan, kita tidak akan dicelakainya,“ jawab Mahisa Bungalan. 

Tetapi Pangeran Singa Narpada nampak ragu-ragu.

Sekilas di pandanginya pohon gayam yang terbakar itu. 

 “Kita tidak boleh ragu-ragu,” berkata Mahisa Bungalan, 

“Marilah. Akulah yang akan dikenainya. Bukan orang lain. Karena itu biarlah ia mengenaiku jika ia mampu.” 

Pangeran Singa Narpada masih termangu-mangu. Karena itu sekali lagi Mahisa Bungalan berkata tegas, 

“Jangan ragu-ragu. Jika kita ragu-ragu, maka kita telah memberi kesempatan kepada Panembahan Kerdil itu untuk mengenaiku.” 

 “Aku tidak ragu-ragu tentang kemampuanmu untuk melepaskan diri dari arah serangan licik Panembahan Bajang itu. Yang aku pikirkan, apakah kita akan melawan atau tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan belum sempat menjawab, ketika beberapa langkah dari Pangeran Singa Narpada, tanah bagaikan meledak oleh sambaran lidah api dari udara. Debu 
dan kerikil berhamburan sementara tanah pun menjadi bagaikan digali setinggi paha dengan lingkaran yang lebih luas dari sebuah sumur. 

 “Gila,“ geram Mahisa Bungalan, “Panembahan licik yang dungu itu hanya akan menghambur-hamburkan tenaga saja.” 

 “Kita akan melawannya,” berkata Pangeran Singa Narpada. 

 “Bagaimana caranya?” bertanya Mahisa Bungalan. 

 “Marilah. Kita mencapai tempat yang sunyi,” berkata Pengeran Singa Narpada. 

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Ia mulai mengerti, cara apakah yang akan ditempuh oleh Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun mengangguk-angguk sambil mengamati Pangeran Lembu 
Sabdata yang seolah-olah tidak tahu tentang apa yang terjadi. 

Ketika sekali lagi petir meledak di sisi lain dari Mahisa Bungalan, maka mereka pun mulai melanjutkan perjalanan. 

Tetapi seperti yang dikehendaki Pangeran Singa Narpada, mereka telah berusaha untuk mendapatkan tempat yang sepi, dibalik gumuk padas yang tidak terlalu besar, namun 
cukup terlindung. 

Ketika sekali lagi terdengar ledakan, maka bebatuan diatas bukit kecil itupun telah pecah berserakan. Namun orang-orang yang ada di sekitarnya sama sekali tidak menghiraukan. 

 “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Jagalah Pangeran Lembu Sabdata baik-baik. Jangan kau sakiti meskipun barangkali ia akan sangat 
menjengkelkan. Aku dan Mahisa Bungalan akan melawan serangan-serangan gila dari Panembahan Bajang.” 

Pangeran Singa Narpada tidak perlu menjelaskan. Namun kedua orang adik Mahisa Bungalan itupun telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. 

 “Kita dapat melihat cahaya Teja sebagaimana dilihat oleh Panembahan Bajang. Kita pun tentu akan dapat melawan serangan-serangannya yang curang ini,” berkata 
Pangeran Singa Narpada kemudian. 

Mahisa Bungalan segera tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mencari tempat untuk duduk sambil menyilangkan tangannya. 

Kepalanya menunduk dan sambil memejamkan matanya, keduanya telah memusatkan nalar budi. Meskipun mereka tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tetapi mereka
yakin bahwa mereka akan dapat melawan kekuatan batin Panembahan Bajang. 

Sesaat kemudian, sekali lagi terdengar ledakan yang dahsyat. Sebongkah batu padas yang terletak hanya tiga langkah di belakang Mahisa Bungalan telah pecah. 

Gumpalan-gumpalan kecil batu padas itu telah terlempar berhamburan. Punggung Mahisa Bungalan pun telah tertimpa pula oleh pecahan-pecahan batu padas itu. Namun Mahisa Bungalan sama sekali tidak menghiraukannya. 

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk menunggui Pangeran Lembu Sabdata yang ternyata duduk juga di sebuah batu padas. 

Kedua adik Mahisa Bungalan itu memang telah berusaha untuk menghadapi serangan-serangan itu dengan tabah. 

Mereka tidak terpengaruh oleh suaranya yang dahsyat dan kekuatannya membelah bebatuan dan bahkan membakar sebatang pohon yang 
besar. 

Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, mereka tidak boleh jatuh ke dalam pengaruh kepribadian Panembahan Bajang yang kuat, agar mereka tidak akan dapat dicelakainya dengan serangan-serangannya yang licik itu. 

Dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak terpengaruh karenanya. 

Sekali-sekali ia memang terkejut. Namun kemudian tidak menghiraukannya lagi. 

 “Mudah-mudahan orang itu tidak membuat aku pening,” berkata Mahisa Pukat. 

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada telah dengan segenap kemampuannya berusaha untuk melawan serangan-serangan Panembahan Bajang yang licik. 

Keduanya telah dengan tulus dan segenap nalar budinya, memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Agung untuk melindunginya dan mencegah serangan-
serangan yang bakal datang. 

Demikian dalam dan kuatnya kedua orang itu 
memohon, maka ternyata pengaruhnya mulai terasa. Ketika sekali lagi terjadi ledakan, maka ledakan itu menjadi semakin jauh. Bahkan ledakan itu menjadi semakin kecil dan seakan-akan tidak lagi mampu berteriak menghentak 
dengan kekuatan raksasa. 

Sementara itu di padepokannya sendiri, Panembahan Bajang duduk menghadapi lampu yang tengah menyala. Di dalam sebuah nampan di hadapannya terletak beberapa 
macam reramuan yang dipergunakannya untuk melakukannya serangan-serangannya. 

Sebuah perapian dengan bara yang memerah memancarkan kemerahan yang menghentak hentak di dada Panembahan Kerdil itu. 

 “Setan,“ Panembahan itu menggeram, “liat juga nyawa orang ini.” 

Untuk beberapa saat Panembahan Bajang itu berjuang dengan alas ilmu yang dimilikinya untuk menghancurkan lawannya. Beberapa butir telur masih ada di sisinya. 

Dengan wajah yang tegang, maka diambilnya lagi sebutir telur dan dimasukkannya ke dalam bara api yang merah menyala. 

Terdengar telur itu meledak. Sanggar Panembahan Bajang itupun bagaikan meledak pula. Cahaya petir memancar didalam sanggar itu. Namun hanya sekilas. 

Kemudian bilik itu menjadi sepi kembali. Namun ketika Panembahan Bajang melihat lampu minyaknya masih menyala, maka iapun mengumpat tidak habis-habisnya. 
 
“Apalagi yang kurang,” desis Panembahan Bajang.

Sekali lagi ia menghentakkan ilmunya. Diucapkannya berbagai mantera. Diperciknya nampan di hadapannya dengan air bunga. Kemudian, sekali lagi ia mengambil sebutir telur dan dimasukkannya ke dalam bara yang 
kemerahan. 

Seperti yang telah berulang kali terjadi, maka telur itu pun telah meledak. Cahaya lidah api memancar menyilaukan. Hanya untuk sesaat. 

Namun bilik itupun kemudian menjadi sepi. 

Namun lampunya tetap menyala. 

 “Gila,“ geram Panembahan Bajang. ”Apakah ada iblis yang melindunginya. Telah beberapa butir telur aku ledakkan, tetapi nampaknya serangan-seranganku tidak mengenainya.” 

Dengan kemarahan yang menghentak-hentak jantung, maka Panembahan Bajang itu menjadi semakin dalam mengungkap ilmunya. Ia berharap bahwa ia akan mampu mengatasi keliatan nyawa orang yang telah mengalahkannya dalam olah kanuragan. 

 “Aku harus membunuhnya,“ geram Panembahan Bajang. ”Meskipun seandainya ia berperisai ilmu yang betapapun kuatnya.” 

Karena itulah, maka Panembahan Bajang tidak mau berhenti sebelum lampunya padam yang memberikan isyarat bahwa orang yang dikehendakinya sudah terbunuh. 

Dua tiga kali lagi ia mencoba, namun lampu itu masih tetap menyala. Bahkan Panembahan Bajang pun merasa bahwa serangannya menjadi semakin lama semakin lemah. 

Kemarahan yang tidak tertahankan, akhirnya memaksa Panembahan Bajang untuk sampai ke puncak kedalamnya. Sejenak ia memandang lampu yang masih menyala itu.

Kemudian iapun telah menaburkan reramuan ke dalam bara yang menyala. Baunya semerbak memenuhi sanggarnya, sementara itu, maka Panembahan Bajang itu telah memusatkan segenap nalar budinya, segenap 
kemampuan ilmunya dan segenap kemungkinan yang dapat dilakukannya. 

Dengan tangan gemetar Panembahan Bajang telah mengambil sebutir telur. Tetapi telur itu tidak segera di masukkan ke dalam bara api sebagaimana telah dilakukannya. 

Tetapi telur itu telah diusapnya dengan 
semacam serbuk yang berwarna kekuning-kuningan. 

Kemudian dengan sepucuk duri dari sebatang daun pandan sungsang, maka ia telah menusuk kulit telur itu sehingga membuat sebuah lubang yang kecil tanpa meretakkan kulit telur itu memanjang. 

Panembahan Bajang memandang telur itu dengan tatapan mata yang bagaikan menyala sebagaimana bara api di hadapannya. 

Lubang yang sangat kecil yang dibuatnya 
dengan duri pandan itupun kemudian diletakkannya di mulutnya. 

Dengan kekuatan yang khusus maka ia telah 
menghembus telur itu. 

Memang tidak ada perubahan pada telur itu menurut ujud lahiriahnya. Tetapi ia sudah menghembuskan kemungkinan yang terakhir yang dapat dilakukannya. 

Telur itu akan memiliki kekuatan yang berlipat ganda dari yang pernah diledakkannya sebelumnya. 

Dengan landasan ilmu puncaknya, maka ia akan menggempur sasarannya dengan 
kekuatan terakhirnya. Satu lingkungan yang luas akan dikenainya dengan ilmu puncaknya. Bukan sekedar selingkar sumur atau lebih sedikit. Tetapi ia akan menghancurkan daerah seluas ara-ara. 

 “Dengan kekuatanku terakhir ini, maka gunungan-pun akan runtuh,“ geram Panembahan Bajang.

Sejenak kemudian, maka iapun telah duduk dengan penuh kesungguhan menghadapi perapiannya. Lampunya masih tetap menyala sementara telur yang khusus itupun telah dipersiapkannya sebaik-baiknya. 

Sementara itu, jauh dari padepokan Panembahan Bajang, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan masih tetap duduk sambil menyilangkan tangannya di dada. 

Mereka merasakan hentakan-hentakan kekuatan di dada mereka jika terdengar ledakan yang dahsyat di sekitar tempat mereka. Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata yang seolah-olah tidak tahu menahu tentang kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya itupun tidak 
menghiraukannya. 

Jika terjadi ledakkan maka iapun terkejut. Namun setelah itu, seakan-akan ia tidak pernah mendengar apapun juga. 

Sejenak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandangi Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan yang sedang memusatkan daya kemampuan mereka. 

Demikian bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu yang ada didalam diri mereka sehingga keduanya telah menjadi terengah-engah. 

Bahkan dengan ketajaman penglihatan seorang yang berilmu tinggi seperti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka mereka telah 
melihat seakan-akan asap mengepul dari ubun-ubun kedua orang itu. 

 “Mereka benar-benar sampai ke puncak,” desis Mahisa Murti. 

 “Ya. Segala sesuatu mungkin dapat terjadi. Tetapi kemampuan mereka meraba dengan ujung indera peraba di hati mereka, maka mereka mengetahui bahwa mereka akan 
mengalami serangan yang luar biasa.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun 
sebenarnyalah di hatinya, sebagaimana juga di hati Mahisa Pukat, telah terjadi satu gejolak yang seakan-akan memberikan petunjuk kepada mereka bahwa sesuatu akan 
terjadi. 

Karena itu, maka Mahisa Murti itupun kemudian berkata, “Marilah, kita ikut bersama mereka.” 

 “Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat. 

 “Apa saja. Tetapi kita tentu akan dapat membantu memperkuat pertahanan kakang Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada,” jawab Mahisa Murti. 

 “Lalu bagaimana dengan Pangeran Lembu Sabdata? Jika kita membiarkannya, maka mungkin ia akan sampai kemana-mana. Atau bahkan mungkin Pangeran Lembu Sabdata dapat mencelakai kita,” berkata Mahisa Pukat. 

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pangeran Singa Narpada telah menidurkannya dalam saat-saat tertentu. Apakah kita juga dapat melakukannya?.” 

 “Kita tentu dapat melakukannya karena hal itu sudah kita pelajari. Tetapi apakah nanti kita tidak dianggap bersalah oleh Pangeran Singa Narpada?” bertanya Mahisa Pukat. 

Sejenak Mahisa Murti merenung. Namun kemudian katanya. “Asal pada saatnya kita dapat membangunkannya maka aku kira, Pangeran Singa Narpada tidak akan 
menyalahkan kita.” 

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah, Kita akan mencoba, Semuanya kita lakukan dengan niat yang baik-baik.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti pun kemudian telah membuat Pangeran Lembu Sabdata tertidur sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada, sementara kedua 
anak muda itu telah menempatkan diri mereka untuk bersama dengan Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan, mengatasi segala macam kemungkinan yang akan dapat menyerang mereka lewat laku yang tidak wajar. 

Setelah mengamati tempat mereka yang menurut perhitungan mereka tidak akan didatangi oleh seorang pun, maka keduanya pun telah duduk pula di tempat yang terpisah serta memusatkan nalar budi, mengembangkan kemampuan dan tenaga yang dapat mereka lepaskan dari himpunan kekuatan menurut laku ilmu yang telah mereka 
sadap dari ayah mereka. 

Keduanya memang tidak begitu mengerti tentang kekuatan kelam yang dapat melontarkan serangan dari jarak jauh. Namun keduanya yakin, bahwa dengan pemusatan nalar budi, memanjatkan doa dan permohonan perlindungan kepada Yang Maha Agung 
dalam ujud perisai kekuatan yang menyelubungi keduanya dan lingkungannya. 

Untuk beberapa saat keduanya duduk dalam samadi. Namun terasa di hati mereka, getaran-getaran yang berulang kali seakan-akan telah mengguncang ketahanan samadi mereka. 

Namun justru karena itu, maka keduanya 
menjadi semakin dalam menukik ke alam samadi dalam hubungan tegak antara keduanya dengan penciptanya. 

Sebenarnyalah bagi mereka yang tidak terlibat ke dalam samadi itu akan melihat, bahwa kedua orang anak muda itupun benar-benar telah tenggelam ke dalam satu keadaan yang sangat bersungguh-sungguh. 

Untuk beberapa saat, kesenyapan telah mencengkam tempat itu. Namun sementara itu di tempat lain.

Panembahan Bajang pun telah sampai ke dalam puncak laku bagi puncak kekuatannya. 
Beberapa saat Panembahan Bajang masih menimang telurnya didalam genggaman sementara iapun telah memusatkan segenap kemampuannya. 

Perapian di hadapannya telah memancarkan cahaya merah dari dunia kekelaman hati Panembahan Bajang. Sementara beberapa 
jenis serbuk telah diusapkan pada telurnya yang telah dihembusnya dengan kekuatan ilmu sebagai pertanda akan dilepaskannya kemampuannya yang sulit dicari bandingnya. 

Telur itu akan dimasukkannya ke dalam perapian dan akan terjadi satu ledakan yang maha dahsyat. Sanggar itu akan terguncang. 

Namun tidak akan terjadi apapun juga didalam sanggar itu. Setelah ledakkan itu berhenti, maka udara didalam sanggar itu akan menjadi segar kembali. 

Panembahan Bajang akan dapat menghirup 
kemenangannya, karena lampu itu tentu sudah padam. 

Sejenak Panembahan Bajang masih mengucapkan beberapa kalimat mantra. Kemudian tangannya mulai bergerak mengembang Telur itupun digerakkan melingkar beberapa kali, kemudian perlahan-lahan telur itupun dimasukkan ke dalam api perapian yang nyalanya kemerah-merahan bagaikan warna darah yang memancar dari luka. 

Ketika telur itu dilepaskannya, maka seperti yang sudah dilakukannya, maka telur itupun jatuh ke dalam api dan meledak. Demikian pula telurnya yang terakhir itu. Ketika telur itu jatuh ke perapian, maka telah terjadi ledakan yang 
sangat dahsyat. Ledakkan bagaikan tujuh petir yang menyambar bersama-sama. 

Sanggar Panembahan Bajang itu telah berguncang dengan dahsyatnya. Asap mengepul memenuhi ruang sanggar itu.

Sementara itu, di sebuah gumuk batu padas, telah terjadi sesuatu yang mendebarkan. Sesuatu seakan-akan telah terjatuh dari langit. Tetapi benda itu tidak meledak, melainkan seakan-akan telah menyemburkan api tegak 
lurus ke langit. Cahayanya menyilaukan mata, namun tidak terlalu lama. Cahaya itupun kemudian seakan-akan telah pudar, sementara benda yang terjatuh dari langit itupun telah terhisap kembali ke arah semula ketika benda itu jatuh. 

Pada saat yang demikian itulah, maka sanggar 
Panembahan Bajang bukan saja telah terguncang. Tetapi sanggar itu benar-benar seakan-akan telah meledak. Segala isinya telah terlempar dan dindingnya pecah berserakan. 

Para cantrik dari padepokan itu terkejut. Ledakkan itu terlalu keras dan terlalu besar dari yang selalu mereka dengar jika Panembahan Bajang melontarkan ilmunya. 

Karena itu, maka para cantrik pun telah berlari-larian ke sanggar yang telah berserakan itu. 

 “Apa yang terjadi?” bertanya para cantrik itu diantara sesamanya. 

Tetapi tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawabannya. Mereka hanya mendengar ledakkan yang terlalu dahsyat. Kemudian mereka melihat sanggar itu telah 
berserakan. 

 “Panembahan ada dimana?” bertanya seorang cantrik. Yang lain pun termangu-mangu. 

Namun tiba-tiba saja mereka melihat asap yang mengepul diantara reruntuhan 
sanggar itu. 

 “Api?” Seorang cantrik berteriak.


Sebenarnyalah, perapian dan lampu minyak yang ada didalam sanggar itu telah menjilat reruntuhan yang menimpanya. 

Seorang cantrik yang cekatan telah meloncat ke arah itu untuk memadamkannya. Namun tiba-tiba saja cantrik itu memekik tinggi. 

 “Panembahan,” suaranya melengking. 

Beberapa orang cantrik yang lain pun berlarian 
mendekat. Mereka tidak menghiraukan ketika kaki mereka tersandung batang-batang kayu yang berserakan. 

Dengan menyingkirkan pecahan-pecahan kayu dan bambu maka mereka telah mengangkat tubuh yang terbaring diam. Betapapun besar kuasa ilmu Panembahan Bajang, namun dalam keadaan yang demikian, maka Panembahan tidak lebih sesosok tubuh yang terbaring diam. 

Dengan kecemasan yang mencengkam jantung, para cantrik itu telah membawa tubuh yang membeku itu di serambi barak yang berada di dekat sanggar. Sedang yang lain memadamkan sisa api yang masih mengepul. 

Namun ketika tubuh itu terbaring menelentang, maka para cantrik itu melihat bahwa Panembahan Bajang telah meninggal. Pada saat yang demikian itulah, maka sanggar 
Panembahan Bajang bukan saja telah terguncang. Tetapi sanggar itu benar-benar seakan-akan telah meledak, segala 
isinya telah terlempar dan dindingnya pecah berserakan. 

Betapa kesedihan telah mencengkam jantung para cantrik. Panembahan Bajang bagi mereka adalah orang yang baik. Mereka berharap untuk dapat meneguk sejemput ilmu dari Panembahan yang baik menurut penilaian 
mereka.


Namun tanpa mereka ketahui sebabnya, maka 
Panembahan Bajang itu telah terbunuh. 
Sebenarnyalah bahwa ternyata Panembahan Bajang yang telah melontarkan kemampuan ilmu puncaknya untuk menghancurkan orang yang telah mengalahkannya dalam olah kanuragan, telah membentur kekuatan jiwani yang tidak tertembus. 

Ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada, 
Mahisa Bungalan dan yang kemudian juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berhasil membangun perisai yang sangat kuat. 

Mereka ternyata telah menghubungkan diri me 
reka dengan lindungan Yang Maha Agung, sehingga betapapun kuatnya ilmu Penembahan Bajang yang mampu menghancurkan bukit batu, ternyata ilmu itu tidak dapat menghembus perlindungan Yang Maha Agung itu. 

Bahkan kekuatan ilmu itu telah memental kembali dan meledak justru di tempat ilmu itu dilontarkan. 

Hanya karena Panembahan Bajang termasuk seorang yang luar biasa sajalah maka Panembahan Bajang tidak menjadi lumat, sehingga tubuhnya justru masih utuh. 

Namun Panembahan Bajang telah mati. 
Sementara itu jauh dari padepokan Panembahan Bajang, empat orang masih dalam pemusatan kemampuan mereka. 

Namun didalam tahap terakhir, terasa oleh mereka, bahwa getaran-getaran yang rasa-rasanya telah mengguncangkan samadi mereka telah susut dan akhirnya pudar sama sekali. Isyarat jiwani itu telah membuat keempat orang itu perlahan-lahan melepaskan pemusatan ilmu mereka. 

Mereka mulai mengendorkan ketegangan yang mencekam jiwa mereka. Apalagi untuk beberapa saat lamanya mereka tidak lagi mendengar ledakan-ledakan yang dapat 
memecahkan selaput telinga mereka.

Hampir bersamaan mereka telah melepaskan samadi mereka. Namun baru kemudian Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah melakukannya pula. 

 “Kita bersama-sama telah mampu melawan kekuatan Panembahan Bajang,” berkata Mahisa Bungalan. 

 “Serangan-serangan itu telah berhenti,” berkata Mahisa Murti. 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun perhatiannya tertuju kepada Pangeran Lembu Sabdata yang terbaring diam. 

 “Aku terpaksa membuatnya tidur,” berkata Mahisa Murti, 

“Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kau lakukan atas Pangeran Lembu Sabdata pada saat aku dan Mahisa Pukat ingin ikutbmembantu melawan kekuatan 
Panembahan Bajang yang nggegirisi itu.” 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak-anak muda itu benar-benar telah dibekali dengan ilmu yang mapan. 

Mahisa Murti telah mampu dengan tidak membahayakan seseorang membuatnya tidur 
nyenyak sebagaimana dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada. 

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun berkata, 

“Baiklah Pangeran. Aku akan membangunkannya. Jika perlakuanku atas Pangeran Lembu Sabdata tidak berkenan 
di hati Pangeran, aku mohon maaf.” 

 “Tidak. Aku tidak sedang menyesali perbuatanmu, tetapi aku justru mengagumimu. Kau dan Mahisa Pukat yang masih terlalu muda itu ternyata telah mampu menunjukkan satu tingkat kemampuan yang sangat tinggi.”

“Jangan memuji Pangeran,” jawab Mahisa Murti, “Apa yang aku lakukan tidak berarti apa-apa.” 

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bangunkan Pangeran Lembu Sabdata. Kita masih mempunyai tugas yang berat.” 

Mahisa Murti pun kemudian membangunkan Pangeran Lembu Sabdata yang tertidur nyenyak. Yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi di sekitarnya. Bahkan seandainya Pangeran Lembu Sabdata itu tidak tertidur, 
iapun tidak menyadari apa yang telah terjadi. 

Sejenak kemudian, kita mereka telah yakin bahwa sudah tidak terjadi ledakan-ledakan yang agaknya memang ditujukan kepada mereka, maka Pangeran Singa Narpada. 
Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melanjutkan perjalanan bersama Pangeran Lembu Sabdata. 

Dalam pada itu, maka malam pun menjadi semakin larut. Namun mereka yang menempuh perjalanan itu sama sekali tidak berniat untuk berhenti, karena justru mereka lebih baik berjalan malam hari. 

Namun tiba-tiba saja Mahisa Bungalan itupun berkata, 

“Aku ingin singgah di padepokan Panembahan Bajang.” 

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kita membawa sesuatu yang sangat berharga.” 

 “Aku ingin meyakinkan, apa yang telah terjadi. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja serangan-serangannya terhenti. Apakah Panembahan Bajang mengira bahwa aku sudah mati? Selebihnya aku ingin mendengar janjinya, 
bahwa ia tida akan melakukan serangan licik seperti itu,“ jawab Mahisa Bungalan.

“Tetapi baiklah kita mengembalikan benda ini dan menitipkan Pangeran Lembu Sabdata di Kediri,” berkata Pangeran Singa Narpada. 
U7
 “Agaknya akan makan waktu terlalu lama. Dalam kesempatan itu Panembahan Bajang mungkin telah melakukan serangan-serangan yang lebih dahsyat lagi, sementara kita kurang mengerti apa yang sebaiknya kita lakukan untuk melawan,” berkata Mahisa Bungalan, 

“Meskipun baru saja kita dapat menghindarkan diri, namun dalam hal seperti ini, kita harus mengakui bahwa Panembahan Bajang memiliki kemampuan lebih tinggi daripada kita semua. Karena itu, aku harus berhadapan 
langsung dengan orang itu dan memaksanya mengucapkan janji bahwa ia tidak akan melakukannya lagi atas taruhan kemampuannya. Ia harus mengatakan bahwa jika ia sekali lagi menyerangku, maka serangan itu akan mengenai dirinya sendiri.” 

 “Apakah kau yakin bahwa ia akan benar-benar berjanji dan janji itu akan berarti?” bertanya Pangeran Singa Narpada. 

 “Kita akan memaksanya untuk mengucapkan janji didalam sanggarnya, di hadapan para cantriknya dan atas nama sumber ilmu yang disadapnya,” jawab Mahisa Bungalan. 

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun Mahisa Bungalan itupun berkata, “Pangeran. Aku merasa tidak tenang sebelum aku bertemu dengan Panembahan Bajang. Aku akan bertemu dan menyelesaikan persoalanku 
sampai tuntas. Jika perlu, maka aku akan membunuhnya, sehingga bagiku persoalan dengan orang itu sudah selesai.” 

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Tetapi ia melihat kesungguhan memancar di wajah Mahisa Bungalan. Karena itu mengingat bahwa Mahisa Bungalan dan kedua adiknya sudah bekerja keras untuk membantunya menemukan benda yang paling berharga 
bagi Kediri, serta menemukan Pengeran Lembu Sabdata, maka Pangeran Singa Narpada pun merasa wajib untuk membantu dan memenuhi keinginan itu. 

Karena itu, maka katanya, “Baiklah Mahisa Bungalan. Kita akan singgah sebentar. Mudah-mudahan kita tidak terhambat karenanya.” 

Dengan demikian, maka mereka pun telah berusaha 
untuk mencari arah. Sekali mereka pernah mengunjungi satu tempat, mereka akan dapat mencarinya dengan ancar-ancar alam yang dapat dilihat dimalam hari. Jangankan 
tempat yang pernah mereka lihat, sedangkan tempat yang baru mereka kenal dengan ancar-ancar pun akan dapat mereka ketemukan. 

Meskipun dengan demikian, maka perjalanan mereka akan menjadi bertambah jauh, tetapi Mahisa Bungalan telah membulatkan tekadnya untuk datang ke padepokan Panembahan Kerdil itu. 

Tetapi padepokan itu tidak dapat mereka capai malam itu juga. Karena itu, maka ketika matahari mulai menerangi 
langit di dini hari, mereka harus menyesuaikan diri. 

 “Jalan terlalu sepi,” berkata Pangeran Singa Narpada, 

”Biarlah kita meneruskan perjalanan.” 
Mahisa Bungalan mengangguk. Namun diluar sadarnya ia berpaling ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. 

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, agaknya kakaknya ingin bertanya kepada mereka, apakah mereka telah lelah. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun bergumam,

“Kami masih dapat berjalan sampai tiga hari tiga malam lagi.” 

 “Sombongmu,” desis kakaknya. 

Mahisa Murti pun berpaling kepadanya. Namun Mahisa Pukat justru tersenyum karenanya. 

Dalam pada itu, Mahisa Murti masih sempat juga mengamati Pangeran Lembu Sabdata. Namun agaknya Pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak menghiraukan, apa yang sedang dilakukannya. Ia berjalan saja seakan-akan tanpa jiwa. Namun sama sekali tidak terbayang keletihan pada langkahnya atau pada bayangan di wajahnya. Ia berjalan saja seperti tidak melakukan apa-apa. 

Dengan demikian, maka meskipun matahari kemudian terbit, mereka masih tetap berjalan. Mereka telah menyempatkan diri untuk membersihkan wajah mereka dan 
membenahi pakaian mereka, sementara Mahkota yang dibawa oleh Pangeran Lembu Sabdata telah dibungkus sedemikian rupa sehingga tidak menarik perhatian, seolah-
olah yang dibawa bungkusan barang yang tidak berharga sebagaimana sering dibawa oleh para perantau. 

Ternyata bahwa ketahanan tubuh mereka sangat tinggi. Meskipun mereka semalaman telah melakukan kerja dan perjalanan yang berat, namun mereka masih mampu berjalan dengan langkah yang segar, seakan-akan baru saja mereka mulai dengan perjalanan mereka. 

Bahkan Pangeran Lembu Sabdata yang seakan-akan tidak menyadari apa 
yang sedang dilakukan itupun berjalan dengan langkah 
tetap sambil menundukkan wajahnya. 
Di siang hari mereka berhenti sejenak untuk melepaskan haus dan membeli makanan serta bakal di perjalanan. Ka-dang-kadang mereka memang jemu untuk saling berbicara, tetapi tidak ingin membiarkan mulut mereka berhenti
bergerak, karena itu, maka Mahisa Pukat telah membeli makanan yang dapat dipergunakan untuk mengusir kejemuan di perjalanan jika mereka letih berbicara. 

Ternyata bahwa mereka benar-benar tidak mengenal letih. Mereka berjalan terus sampai akhirnya menjelang senja mereka telah mendekati padepokan Panembahan Bajang. 

 “Apakah kita akan terus memasuki padepokan itu?” bertanya Mahisa Pukat. 

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun akhirnya ia berhasil mengendalikan perasaannya dan berkata, “Kita akan beristirahat sejenak sebelum kita memasuki padepokan itu. Aku ingin memasuki padepokan dengan langkah yang segar.” 

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti bahwa Mahisa Bungalan ingin mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya untuk menghadapi Panembahan Bajang. 

Jika perlu tentu dengan perang tanding. 
Demikianlah maka orang-orang yang mendekati padepokan itu telah memasuki sebuah hutan kecil untuk beristirahat. 

Beberapa saat mereka berada didalam hutan kecil itu. Setelah Mahisa Bungalan benar-benar merasa tubuhnya segar, maka iapun berkata, “Marilah. Kita akan memasuki Padepokan itu.” 

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian 
mempersiapkan diri, sementara Pangeran Singa Narpada tidak mempunyai rencana lain dari memberikan kesempatan kepada Mahisa Bungalan untuk menyelesaikan persoalannya yang tersisa dengan Panembahan Bajang.

Karena itu, maka mereka pun telah meneruskan perjalanan mereka langsung menuju ke padepokan yang sudah ada di depan hidung mereka meskipun malam telah 
turun. 

Dengan langkah tetap Mahisa Bungalan berjalan di paling depan ketika mereka memasuki regol. 

Tetapi langkah mereka tertegun ketika mereka melihat kesibukan di padepokan itu. Dengan ragu-ragu mereka perlahan-lahan melangkah setapak demi setapak di halaman padepokan. 

Seorang cantrik yang melihat kehadiran mereka dibawah cahaya obor regol padepokan itupun dengan tergesa-gesa menyongsong mereka. Sambil mengangguk hormat ia 
berkata, “Marilah, silahkan Ki Sanak. Apakah kalian mempunyai satu keperluan atau hanya sekedar ingin singgah karena kalian kemalaman. Atau kalian memang sudah mendengar tentang Panembahan Bajang dan datang untuk memberikan penghormatan?” 

Mahisa Bungalan menjadi bingung. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Kami ingin bertemu dan berbicara dengan Panembahan Bajang.” 

 “O.“ cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. 

”Siapakah kalian?” 

 “Kami adalah sahabat-sahabatnya,“ jawab Mahisa Bungalan. 

Cantrik itu memandang Mahisa Bungalan dengan tajamnya. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Panembahan Bajang telah meninggal.” 

 “O.“ Mahisa Bungalan benar-benar terkejut, bukan sekedar dibuat-buat. ”Kenapa?”

Cantrik itupun kemudian berceritera tentang sanggar yang meledak tanpa diketahui sebabnya. 

Mahisa Bungalan lah yang kemudian termangu-mangu. Kemudian iapun berpaling ke arah Pangeran Singa Narpada ketika Pangeran Singa Narpada kebetulan berpaling pula kepadanya. Seolah-olah mereka telah 
bersepakat untuk mengatakan, bahwa ledakan itu tentu merupakan kegagalan Panembahan Bajang dalam bermain-main dengan ilmunya. 

Namun dalam pada itu, baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Singa Narpada telah berkata didalam hatinya, 

“Untunglah Panembahan Bajang mempergunakan ilmu kasarnya. Jika ia mempergunakan ilmunya yang lebih halus, mungkin ilmu itu akan berhasil menyusup ke dalam otaknya dan membuatnya gila.” 

Tetapi ternyata bahwa ilmunya yang kasar itu tidak dapat menembus perisai yang telah dibuat bersama-sama dalam empat kekuatan yang pasrah kepada Yang Maha Agung, sehingga justru kekuatan itu telah melenting 
kembali mengenai dirinya sendiri. 

Untuk beberapa saat Mahisa Bungalan masih termangu-mangu. Namun kemudian katanya kepada Pangeran Singa Narpada, ”Kita ikut berbela sungkawa. Tetapi maaf Ki Sanak, kami tidak dapat singgah. Ada sesuatu yang ingin 
lakukan, yang seharusnya diketahui oleh Panembahan Bajang. Tetapi karena Panembahan Bajang sudah tidak ada lagi, maka biarlah kami melakukannya sendiri.” 

 “Jadi kalian tidak singgah dan menunggu sampai mayat Panembahan diselenggarakan?” bertanya cantrik itu. 

 “Maaf Ki Sanak. Kami agak tergesa-gesa. Mungkin kelak jika tugas kami sudah selesai, maka kami akan singgah di padepokan ini,” jawab Mahisa Bungalan.

“Baiklah Ki Sanak,” berkata cantrik itu, “Kami sangat mengharapkan kedatangan kalian. Tetapi apakah kalian tidak singgah barang sejenak. Hari sudah malam. Jika Ki Sanak memerlukan bermalam disini, kami tidak 
berkeberatan.” 

 “Terima kasih,” jawab Mahisa Bungalan, 

“Kami terpaksa meneruskan perjalanan kami.” 
 
“Jika demikian silahkan Ki Sanak,” berkata cantrik itu. 

Dengan demikian, maka kelima orang itupun telah melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan padepokan itu. 

Dengan saling berdiam diri, kelima orang itu berjalan dalam gelapnya malam. Yang tidak terduga ternyata telah terjadi. Panembahan Bajang telah meninggal. Tidak ada penjelasan dari cantrik di padepokan itu. Namun yang 
diketahui oleh cantrik itu bahwa sanggar Panembahan Bajang telah meledak. 

Keempat orang yang telah berusaha melawan kekuatan Panembahan Bajang itu menghubungkan perjuangan mereka dengan kemungkinan terjadinya ledakkan itu. 

Tatapi tidak seorang pun diantara mereka yang dapat mengatakan, bahwa meledaknya sanggar Panembahan Bajang itu adalah karena kekuatan berempat telah berhasil mencorong kembali kekuatan ilmu Panembahan Bajang. 

Namun dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah berkata, “Kita sudah terlalu lama berjalan. Menurut pendapatku, apakah tidak sebaiknya kita beristirahat barang sejenak.” 

Mahisa Bungalan tidak berkeberatan. Karena itu. maka ketika mereka sampai pada sebuah ara-ara perdu, maka mereka pun telah mencari tempat untuk dapat beristirahat.


Beruntunglah mereka karena ternyata tidak jauh dari tempat itu mengalir sebatang sungai kecil, namun yang airnya cukup jernih. 

Sementara itu. di padepokan Panembahan Bajang para cantrik dengan wajah yang murung telah menjadi sibuk. 

Tidak ada diantara mereka yang tahu pasti, apa yang telah terjadi. Namun pemimpin padepokan mereka, yang mereka anggap sebagai seorang yang baik telah pergi meninggalkan mereka. 

Namun dalam pada itu. selagi para cantrik merasa kehilangan pegangan, seseorang telah memasuki halaman padepokan itu. Dengan langkah yang sangat cepat, orang itu bagaikan tidak menyentuh tanah. 

Seorang cantrik dengan tergesa-gesa telah mendekati orang yang datang itu. Dengan hormat cantrik itupun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam. 

 “Selamat datang mPu,” berkata cantrik itu. 

 “Apa yang terjadi,” bertanya orang yang baru datang itu, 

“hatiku merasa sangat cemas. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku didera oleh suatu keinginan untuk mengunjungi padepokan ini. Dimana Panembahan mu yang kerdil itu.” 

Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan suara yang bergetar menyahut, “MPu, Panembahan sudah meninggal.” 

 “Meninggal?” MPu Lengkon terkejut. 

”Kenapa?” 

Cantrik itupun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi dengan Panembahan Bajang, sehingga akhirnya ia-pun meninggal.

mPu Lengkon menjadi tegang. Kemudian katanya, 

“Aku ingin melihat tubuh Panembahan.” 

Cantrik itupun kemudian mengantar mPu Lengkon melihat tubuh Panembahan Bajang yang pada beberapa bagian terdapat semacam luka dan memar karena tertimpa bagian-bagian dari atap sanggarnya yang runtuh oleh satu ledakan yang sangat dahsyat dan mengejutkan. 

Sejenak mPu Lengkon memperhatikan keadaan tubuh Panembahan Bajang. Berdasarkan atas kenyataan yang 
diamatinya serta beberapa keterangan yang didengarnya dari beberapa orang cantrik padepokan itu, maka mPu Lengkon dapat mengambil satu kesimpulan, meskipun ia 
tidak dapat mengatakan kesimpulan itu kepada para murid Panembahan Kerdil itu. 

 “Ternyata Panembahan Bajang telah dihancurkan oleh ilmunya sendiri yang membantu kekuatan yang tidak dapat 
ditembusnya,” berkata mPu Lengkon didalam hatinya sendiri. 

Karena itu, maka mPu Lengkon pun telah berusaha untuk mencari, siapakah kira-kira orang yang mampu mengembalikan kekuatan ilmu Panembahan Bajang yang dahsyat itu. 

Meskipun mPu Lengkon sendiri tidak pernah 
merasa takut kepada kekuatan ilmu Panembahan Bajang, namun menurut penilaiannya, kemampuan ilmu Panembahan Bajang adalah sangat nggegirisi. 

Karena itu, jika ada orang yang mampu melawannya dan bahkan melontarkan kembali sehingga membunuhnya, tentu orang itu memiliki kemampuan yang tidak dapat dijajagi. 

Namun mPu Lengkon tidak membayangkan sama sekali, bahwa satu kekuatan yang dibangun atas empat kemampuan yang tinggi telah mendorong kembali serangan 
Panembahan Bajang. 

Empat orang yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi kekuatan 
sebagaimana dilontarkan oleh Panembahan Bajang, namun karena kebulatan hati mereka tertuju kepada Yang Maha Agung untuk mendapatkan perisai perlindungan, maka 
ternyata bahwa kekuatan mereka berempat dapat melontarkan kembali serangan Panembahan Bajang kepada dirinya sendiri. 

mPu Langkon pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memberikan petunjuk apapun kepada para cantrik, karena peristiwa yang terjadi itu 
merupakan peristiwa yang gelap. 

 “Mungkin Panembahan Bajang telah membentur kekuatan para kesatria di Kediri,” berkata mPu Lengkon kepada diri sendiri. 

Lalu, “Karena di Kediri tentu terdapat 
banyak kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatan Panembahan Bajang. Dan tentu akan terjadi hal yang mungkin sama jika aku melakukan serangan-serangan tersembunyi sebagaimana dilakukan oleh Panembahan 
Bajang.” 

Namun dalam pada itu, mPu Lengkon tidak segera meninggalkan tempat itu. Ternyata kehadirannya telah memberikan sedikit ketenangan kepada para cantrik. karena 
ternyata mPu Lengkon telah ikut membantu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi para cantrik untuk menyelenggarakan mayat Panembahan Bajang. 

 “Aku akan berada disini sampai semuanya selesai,” 

berkata mPu Lengkon yang menjadi iba melihat keadaan para cantrik yang kebingungan. 

Sementara itu, maka mereka yang berjalan menuju Kediri tengah beristirahat di sebuah ara-ara perdu. Ternyata bahwa ketika mereka sempat duduk, justru terasa bahwa mereka memang sudah mulai letih.

Demikianlah maka Mahisa Bungalan pun telah berkata kepada kedua adiknya, “beristirahatlah. Mungkin kalian ingin tidur barang sekejap. Kita akan bergantian berjaga-jaga.” 

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mencari tempat. Sekilas mereka melihat Pangeran Lembu Sabdata duduk bersandar sebongkah batu padas. Tatapan matanya 
yang kosong terlempar jauh kekeramangan malam. 

Namun keduanya sama sekali tidak berbuat sesuatu, karena di tempat itu pula ada Pangeran Singa Narpada. 

Segala sesuatunya tentu akan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada itu bagi kepentingan adiknya yang kurang menyadari apa yang telah terjadi atas dirinya itu. 

Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada tidak membuat adiknya tertidur. Dibiarkannya Pangeran Lembu Sabdata duduk merenungi gelapnya malam sebagaimana 
hatinya yang gelap. Tetapi dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada harus mengawasinya terus-menerus agar adiknya itu tidak hilang tanpa diketahui kemana perginya. 

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mendapatkan tempat untuk berbaring. Ternyata sisa malam tinggal beberapa saat saja. Namun keduanya memang sempat memejamkan matanya dan tidur sejenak. 

Tetapi mereka pun segera terbangun ketika langit menjadi terang. Berdua mereka pergi ke sungai yang airnya meskipun sedikit tetapi jernih. Keduanya sempat mandi dan 
membersihkan dirinya, sehingga dengan demikian maka tubuh mereka pun terasa menjadi segar setelah mereka sempat tidur beberapa kejap. 

Setelah keduanya, barulah Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan yang turun ke sungai.

Pangeran Singa Narpada telah mengajak Pangeran Lembu Sabdata dengan cara yang khusus untuk ikut pergi ke sungai dan 
membersihkan dirinya pula. 

 “Meskipun kemudian mereka telah selesai mandi dan membersihkan diri,” namun mereka tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanan justru di siang hari. Mereka berusaha untuk menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari 
perhatian orang banyak, bahwa mereka telah membawa sesuatu yang sangat berharga. 

Apalagi sikap Pangeran Lembu Sabdata yang tentu menumbuhkan beberapa pertanyaan dan kemudian menarik perhatian orang yang 
melihatnya. 

Karena itu, maka sebagaimana mereka rencanakan sebelumnya, bahwa mereka akan lebih banyak berada di jalan-jalan justru di malam hari. 

 “Jadi kita akan berada di tempat ini sampai senja?” bertanya Mahisa Pukat. 

 “Seharusnya memang demikian,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi kita akan melihat suasana. Mungkin kita akan berangkat lebih cepat.” 

 “Lalu apa yang akan kita kerjakan selama kita 
menunggu matahari turun? Berbaring, tidur lagi atau apa?” desak Mahisa Pukat. 

Mahisa Bungalan menyadari bahwa kedua adiknya akan menjadi jemu menunggu tanpa berbuat apa-apa. Karena itu, maka katanya, “Nah, jika demikian apa yang sebaiknya 
kalian lakukan? Mungkin mencari ikan di sungai kecil itu dengan membendungnya atau apa?”

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Aku barangkali Mahisa Pukat akan melihat-lihat lingkungan diluar hutan perdu ini.” 





Bersambung....!

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...