Tak pernah kuimpikan sebelumnya bahwa suatu pengalaman yang amat luar biasa kuperoleh dalamyan kesempatan berburu itu. Bukan dengan binatang buruan, bukan pula dengan gerombolan perampok yang
bersembunyi di hutan.
Kira-kira jam delapan kami berangkat dari Dawuan. Di punggungku ada ransel berisi perbekalan. Di pinggangku yang sebelah kiri tergantung termos dan pinggang kanan terselip pisau belati bersirung. Aku merasa diriku luar biasa gagah saat itu. Benar, sepanjang perjalanan ke hutan semua orang yang kebetulan berpapasan denganku bersama tiga orang tentara berdiri sesaat hanya untuk mengagumi seorang anak Dukuh Paruk. Anak-anak kecil segera bersembunyi, meski mereka kupanggil dengan bahasa ibu.
Sampai di hutan, perburuan langsung dimulai. Dalam hal ini aku kecewa karena tiga orang tentara yang kuiringkan sama sekali tak berpengalaman dalam hal berburu. Celeng sama sekali tak terlihat barang seekor. Kijang memang terlihat tetapi Sersan Slamet yang menjadi algojo gagal menembak sasarannya.
Sampai sore hari ketika perburuan dihentikan, para pemburu hanya kehilangan dua peluru. Satu untuk menembak kijang yang ternyata tak mengena. Satu lagi untuk menembak seekor ular sanca sebesar paha yang bergelung di atas pohon.
Jadi di tengah hutan itu aku mempunyai pekerjaan menguliti seekor ular besar, memotonginya pendek-pendek, kemudian memasukkannya dalam tiga buah ransel. Sesungguhnya aku tak menyukai pekerjaan semacam itu. Tetapi demi Sersan Slamet segalanya kulakukan, meski beberapa kali aku
hampir muntah. Bau anyir dan sengak menggelitik lambung dan mengaduk-aduk isinya.
“Selesaikan pekerjaanmu,” kata Sersan Slamet. “Aku mau tidur barang sebentar. Cepat bangunkan aku bila kau melihat sesuatu yang mencurigakan.”
“Celeng atau kijang?” ujarku bergurau. Sersan Slamet hanya tersenyum lalu merebahkan diri di bawah pohon. Kedua tentara lain malah sudah tak bergerak-gerak lagi, tertidur pulas.
Sesungguhnya aku sangat ahli dalam hal mengupas singkong. Tetapi perkara menguliti seekor ular yang hampir empat meter panjangnya baru sekali itu kulakukan. Untung, sebelum pergi tidur Sersan Slamet memberikan petunjuknya. Kepala ular kuikat dengan tali. Ujung tali yang lain kuikatkan pada sebatang pohon. Pada lehernya kubuat irisan melingkar. Dari irisan itu kulit ular kukupas ke belakang. Tenagaku hampir terkuras habis untuk menarik kulit ular itu. Hasilnya adalah sebuah kantung panjang yang terbalik.
Pekerjaan selanjutnya tidak memeras banyak tenaga. Ternyata banyak daging ular yang harus kubuang. Dua buah ransel sudah penuh. Ransel ketiga untuk diisi dengan kulit binatang itu.
Semuanya selesai sudah.
Aku bangkit berdiri untuk memutar tulang punggung. Sepi. Sersan Slamet dan dua orang anggotanya masih terlelap. Aku tidak mempunyai keberanian membangunkan ketiga anggota tentara itu. Maka aku hanya duduk berdiam diri dalam kelengangan hutan yang terasa bertambah hening tanpa kehadiran angin. Setiap kali kutoleh ke belakang tampak tiga sosok tubuh yang tetap nyenyak. Heran. Dalam keadaan tidur sedikit pun tak tampak keperkasaan seorang tentara.
Ketika kupandangi tiga pucuk bedil yang dibiarkan tersandar oleh majikannya, tiba-tiba muncul ilham gemilang. Sampai kapan pun aku tak bisa mengerti mengapa ilham itu datang pada saatnya yang amat sangat tepat. Kedatangannya akan terbukti nanti mampu mengakhiri derita panjang yang menista hidupku selama bertahun-tahun.
Ketiga bedil itu masih tersandar di tempatnya. Selagi Sersan Slamet bersama dua rekannya pulas, aku bisa menggunakan salah sebuah bedil mereka untuk kepentinganku sendiri. Aku mempunyai musuh bebuyutan yang meski hanya merajalela dalam angan-angan, sudah sekian lama aku ingin menghancurkan kepalanya hingga berkeping-keping: mantri yang telah membawa Emak melarikan diri entah ke mana. Ketika datang kesempatan buat menghancurkan kepala mantri itu, mengapa aku tidak segera bertindak?
Cepat! Jangan tunggu sampai ketiga orang tentara itu terjaga. Bayar kesumatmu sekarang juga! Demikian sebuah suara terdengar jelas dalam hatiku sendiri.
Aku patuh. Tindakan pertama, kucari sebongkah batu cadas sebesar kepala. Kuangkat dia ke atas sebuah tonggak kayu. Dengan pisau belati batu cadas itu ku ukir. Ada gambar mata, hidung dan bibir. Tak kulupakan kumis panjang yang melintang. Sehelai daun jati kuletakkan di atas batu cadas itu. Maka
lengkaplah kepala mantri keparat yang telah mencuri Emak. Mantri yang menurut ceritera Nenek selalu berkumis dan memakai topi gabus.
Dari jarak beberapa langkah aku menatap hasil rekaanku. Tak salah lagi. Itulah mantri, musuh bebuyutanku. Bajingan tunggulah balas dendamku beberapa detik lagi.
Kulihat kiri-kanan. Sepi. Hanya seekor dadali terbang melintas di langit. Biarlah dia menjadi saksi tunggal atas perbuatan yang akan kulakukan. Aku akan membayar dendam. Dengan berjingkat aku mencapai salah sebuah bedil itu. Sebuah Lee Enfield. Tanganku gemetar ketika mengangkatnya. Bukan
karena aku baru kali pertama menjamah sebuah senjata api. Bukan. Sudah kukatakan aku mengenal berbagai jenis senjata sejak aku bergabung dengan Sersan Slamet. Tanganku gemetar karena gejolak dalam hatiku sendiri. Gemetar karena rasa kesumat yang sesaat lagi akan terlampiaskan.
Pelan, pelan sekali aku melangkah mundur. Aku takut salah seorang dari ketiga tentara itu bangun. Bila sampai terjadi demikian gagallah rencanaku membalas dendam kepada mantriku yang keparat, Kemudian aku berbalik. Demikian maka aku berdiri beberapa langkah di depan kepala mantri. Aku kembali membuat gerakan yang begitu pelan, ketika aku menarik handel untuk mengokang bedil di tanganku. Lirih sekali sehingga kuharap kuman yang berada di telapak tanganku tak mendengar bunyi pegas yang kurentang.
Denyut jantungku ternyata mampu menggerak-gerakkan ujung laras bedil yang telah tertuju lurus pada sasaran. Kepala mantri itu! Maka aku masih menunggu sampai jantungku sedikit lebih tenang.
Saat telah tiba.
Bedil kembali kuarahkan kepada sasaran. Kubayangkan bagaimana seorang anggota regu tembak berdiri menunaikan tugas menembak mati seorang musuh. Dialah yang kutiru. Picu kutarik. Ledakan dendam membuat gerak telunjuk kananku menjadi kuat dan pasti. Aku hampir tidak mendengar letupan karena seluruh indera terpusat kepada kepala mantri yang hancur dan terlempar ke belakang. Topi
gabusnya terbang entah ke mana.
Ya Tuhan! Detik berikutnya aku mendengar Sersan Slamet dan kedua temannya terbangun. Sedetik lagi aku mendengar hardikan yang amat keras disusul sebuah telapak tangan mendarat di pipiku. Bedil di tangan direnggutkan dengan begitu kasar.
Tetapi aku tidak pedulikan semuanya. Aku sedang menikmati kepuasan batin yang amat sangat. Mantriku telah mati. Kepalanya hancur sampai tak mungkin orang mengenalinya kembali. Tidak kupedulikan ketiga tentara yang kemudian berdiri bingung, aku maju hendak melihat hasil tembakanku. Luar biasa. Kepala mantri tinggal menjadi kepingan-kepingan kecil. Seorang lelaki dengan kepala hancur
seperti itu takkan bisa membawa lari Emak. Sejak saat itu dia sudah menjadi bangkai. Emak telah kubebaskan. Dia akan kuajak kembali ke Dukuh Paruk sekarang juga. Aku menang, menjadi putera paling perkasa yang berhasil gemilang membebaskan Emak tercinta dari genggaman setan.
Kukira kesadaran sedang kembali kepada diriku ketika aku berdiri kaku menghadap tiga orang tentara yang memandangku dengan heran. Badanku basah oleh keringat dingin. Tangan dan kakiku gemetar. Tetapi aku berusaha membuat langkah pertama ke arah Sersan Slamet. Sayang aku tak sampai ke
tujuan. Kulihat segalanya berputar jungkir-balik. Apa yang terjadi kemudian aku tak mengetahuinya lagi.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ingatan pertama yang kurasakan adalah ketika Sersan Slamet menuangkan kopi hangat dari termosnya ke dalam mulutku. Kemudian dari mulut yang belum sepenuhnya terkendali masih terlontar kata-kata, “Mak, kau sudah bebas sekarang. Mari pulang!”
“Ya, kau sudah sadar. Kita akan segera pulang,” ujar Sersan Slamet. Kata-kata itu membuatku lebih tersadar.
“Oh, Sersan. Aku telah membuat kesalahan. Aku mohon maaf,” kataku sambil bangkit duduk.
“Aku harus mengerti lebih dulu mengapa semua ini kaulakukan. Kau sudah bisa menerangkannya sekarang?”
“Maaf, Sersan, aku tak bisa menerangkannya sekarang. Atau hukumlah aku. Kesalahan telah kuperbuat dengan meledakkan sebuah peluru dengan maksud yang sukar Sersan mengerti. Sungguh, Sersan, aku rela menerima hukuman apa pun.
“Baik. Mari kita pulang. Tetapi kau harus berjanji nanti akan memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepadaku.”
“Terima kasih, Sersan. Saya berjanji.”
“Bagaimana dengan ular sanca?”
“Sudah selesai. Tinggal membawanya dalam tiga buah ransel.”
“Kau merasa sudah cukup kuat?”
“Sudah.”
“Ambil pikulan. Hukuman pertama bagimu adalah mengangkat ketiga ransel itu, seorang diri.”
Kepada teman-temannya di markas, kedua tentara yapg ikut berburu mengatakan aku kemasukan setan di hutan. Maka beberapa orang meminta keterangan langsung kepadaku, dan aku hanya cukup mengiyakan. Tetapi kepada Sersan Slamet di kamarnya kukatakan dengan panjang lebar mengapa aku
menembak segumpal cadas itu. Pak Sersan mengerti tentang alasan yang kukatakan itu.
“Maka aku sungguh minta maaf, Sersan.”
“Hanya kali ini kau kumaafkan. Kali lain tidak. Untung aku dapat memahami penderitaan batinmu karena selama hidup engkau belum pernah melihat ibumu. Kalau tidak hukuman yang akan kauterima cukup berat. Bayangkan, mengambil dan menggunakan bedil. Bahkan seorang tentara harus memenuhi syarat
tertentu agar dibenarkan berlaku demikian.”
***
Kehadiran tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah perampokan di wilayah kecamatan tersebut. Bahkan di beberapa kampung para perampok semakin berani. Pembunuhan terhadap para korban mulai berani mereka lakukan. Usaha mengatasi masalah itu ternyata bukan tugas mudah bagi
Sersan Slamet bersama anak buahnya. Patroli malam hari tidak berhasil menangkap seorang perampok pun. Sebaliknya seorang anggota tentara tewas dan seorang lainnya terluka ketika segerombolan perampok mencegat satuan patroli malam.
Sersan Slamet mengganti taktik. Anggotanya dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-rumah penduduk yang diduga menyimpan emas permata. Orang-orang inilah yang selalu menjadi sasaran perampokan. Satuan kecil itu meninggalkan posnya di Dawuan secara menyamar dan sudah siap di tempat tugas ketika matahari terbenam.
Namun karena jumlah anggota yang terbatas, aku terpaksa ikut menjadi anggota satuan, meski aku belum mendapat kepercayaan memegang senjata. Bersama Kopral Pujo aku mendapat bagian mengawasi Dukuh Paruk. Karena aku sangat mengenal pedukuhan itu, kata Sersan Slamet memberi alasan. Di Dukuh Paruk ada tersimpan emas. Di mana lagi kalau bukan di rumah Srintil. Maka aku menerima tugas bersama Kopral Pujo dengan senang hati, meski terbersit ketakutan akan bertemu
langsung dengan para perampok itu.
Setiap hari sebelum matahari terbenam, aku berangkat ke Dukuh Paruk. Kopral Pujo menyembunyikan bedilnya dalam gulungan kain sarung. Dia sendiri tidak mengenakan seragam tentara, bahkan tanpa alas kaki. Aku hanya bersenjata sebuah lampu senter. Kami usahakan agar kedatangan kami tidak diketahui oleh orang Dukuh Paruk sendiri. Tempat yang kami pakai sebagai tempat mengintai terletak di ujung pematang yang menghubungkan Dukuh Paruk dengan dunia luar. Bila sampai fajar tak terjadi sesuatu, kami pulang ke Dawuan. Biasanya kami langsung tidur sepanjang pagi.
Sesungguhnya aku tidak berharap, sesuatu akan menimpa Dukuh Paruk. Betapapun dia adalah tanah airku yang kecil. Tetapi pada malam kesembilan, ketika cahaya bintang mampu menerangi pedukuhan itu, dari tempat pengintaian kulihat sinar lampu senter mendekat. Kubuka mataku lebar-lebar. Empat lima orang sedang berjalan beriring di atas pematang. Sinar bintang-bintang memungkinkan mataku melihat kelima orang itu masing-masing membawa benda panjang. Tak salah lagi, bedil.
“Aduh, Kopral. Akhirnya mereka datang juga,” kataku berbisik.
“Berapa? Mataku kurang awas.”
“Lima. Semuanya bersenjata. Kita hadapi mereka?”
“Seharusnya begitu. Tetapi jangan gila. Hanya ada sepucuk senjata pada kita. Pada mereka ada lima bedil.”
“Jadi bagaimana? Keputusan harus segera kita ambil.”
“Nanti dulu. Aku mau kencing.”
Mengecewakan. Kopral Pujo tidak lebih berani daripada ku. Pada saat itu dia tidak bisa mengambil keputusan. Jadi akulah yang mengambil prakarsa.
“Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari secepatnya ke Dawuan. Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah kembali bersama Sersan Slamet.”
“Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke markas.”
“Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan Slamet. Kopral harus lari sampai ke pertengahan pematang.”
“Tak mengapa.”
“Nah inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan meninggalkan tempat ini mengikuti para perampok itu dari belakang.”
“Ya.”
“Hati-hati. Kopral jangan salah tembak nanti.”
“Ya.”
Selagi Kopral Pujo lari ke tengah pematang, aku mengendap mengikuti para perampok yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat pengintaian. Benar dugaanku, mereka tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal, melainkan ke rumah Sakarya. Dengan atap seng pemberian lurah Pecikalan, rumah Sakarya kelihatan paling menonjol di Dukuh Paruk.
Kulihat dua orang perampok tetap tinggal di luar, satu di belakang dan lainnya di halaman rumah. Tiga lainnya masuk ke beranda setelah membuka pintu dengan tendangan kaki. Sakarya yang terkejut, langsung mengerti apa yang akan terjadi. Kakek Srintil itu keluar. Di ruang tengah dia berhadapan dengan tiga orang yang mengacungkan senjata kepadanya. Nyai Sakarya yang menyusul suaminya keluar
langsung tersimpuh di tanah.
“Ini rumah ronggeng Srintil, bukan?” bentak salah seorang perampok kepada Sakarya. Yang dibentak menggigil ketakutan.
“Aku memang kakek Srintil. Tetapi dia tidak di sini lagi sekarang,” jawab Sakarya dengan bibir gemetar. Salah seorang perampok menampar orang tua itu sampai terhuyung. Lainnya menggeledah ke seluruh sudut rumah. Tak menemukan Srintil maupun hartanya, para penjahat kembali berlaku kasar kepada Sakarya.
“Katakan di mana Srintil tinggal! Jangan membuang waktu. Bedilku bisa meledak setiap saat.”
“Jangan, jangan. Akan kukatakan, Srintil tinggal di rumah Kartareja, tiga rumah ke timur dari sini. Tetapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu tunggal kami. Ambil hartanya, tapi jangan cederai dia.”
“Itu urusanku. Kamu jangan mengajari kami.”
Sebelum meninggalkan rumah Sakarya para perampok membuat orang tua itu pingsan. Pukulan di kepala dengan menggunakan lampu senter sudah cukup. Kemudian kelima penjahat bersama-sama menuju rumah Kartareja. Dukun ronggeng itu sudah mendengar kegaduhan di rumah Sakarya.
Barang-barang emas miliknya dan milik Srintil disembunyikannya di dalam abu tungku.
Seperti ketika datang ke rumah Sakarya, maka dua orang perampok tetap tinggal di luar rumah. Aku berada di balik pohon hanya beberapa langkah dengan salah seorang di antara mereka. Kudengar pintu yang didobrak. Suara-suara menghardik dan suara-suara pukulan. Sesaat berikutnya kudengar jerit
Srintil. Aku mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu, maka timbul keberanianku.
Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika perampok itu membelakangiku, aku maju dengan hati-hati. Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar
langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak mengapa. Senjata yang telah terkokang
itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.
Sesudah itu aku benar-benar merasa takut. Aku lari dan berbalik sesaat untuk menghujani rumah Kartareja dengan peluru yang masih tersisa. Kemudian aku berlari kembali. Sampai di sawah aku bertiarap di balik pematang. Thomson itu telah tersembunyi di dalam sebuah parit.
Ketika dalam keremangan kulihat empat sosok tubuh berlari ke arah pedukuhan, aku mengerti Kopral Pujo sudah datang membawa bantuan.
“Tunggu, aku Rasus.”
“He, di mana mereka?” tanya Sersan Slamet.
“Di rumah Kartareja. Cepat. Dua di antara mereka telah kubunuh,” kataku dengan menggigil.
Sersan Slamet mengatur siasat. Dia menyuruh tiga anak buahnya memasuki Dukuh Paruk dengan tugas mengusir para penjahat keluar. Dengan Thomson-nya Sersan Slamet akan mencegat mereka di tepi sawah.
Terdengar letupan-letupan ramai. Para perampok termakan oleh siasat Sersan Slamet. Mereka lari ke luar rumah Kartareja. Satu orang tertembak oleh Kopral Pujo. Satu orang lolos, tetapi senjata Sersan Slamet berhasil membunuh seorang lainnya.
Setelah suasana sepi Sersan Slamet mengajakku melihat rumah Kartareja. Kopral Pujo dan dua temannya sudah di sana. Dengan lampu senter kucari Thomson bertangkai kayu yang tadi kulempar ke dalam parit. Kupanggul dia dengan gagah. Di belakang rumah Kartareja aku berhenti. Kepada Sersan Slamet kutunjukkan dua mayat. Tetapi aku hampir muntah melihat darah begitu banyak. Sebuah senjata lagi tergeletak dekat salah seorang mayat.
Ketika aku dan Sersan Slamet masuk, Kartareja sedang menggigil di depan Kopral Pujo. Istrinya duduk termangu. Srintil terbelalak melihat aku membawa bedil, sehingga dia ragu-ragu mendekat. Dari
keterangan Kartareja diketahui perampok hanya berhasil membawa perhiasan yang pada saat itu dikenakan Srintil; sepasang subang, dua cincin dan seuntai kalung. Kartareja menyuruh Srintil tetap mengenakan perhiasan itu untuk melindungi perhiasan lain yang lebih mahal dari jarahan para perampok.
Orang-orang Dukuh Paruk keluar dan berkumpul di rumah Kartareja. Dengan obor mereka disuruh oleh Sersan Slamet mengumpulkan empat mayat. Di hadapan orang banyak Sersan Slamet memujiku sebagai seorang pemberani. Tentara itu tidak tahu aku paling takut melihat darah. “Rasus sangat pantas menjadi tentara. Saya akan berusaha agar dia diangkat secara resmi menjadi anggota kesatuan saya,” kata Sersan
Slamet yang disambut dengan gumam orang-orang Dukuh Paruk.
Empat mayat akan ditanam besok pagi untuk dikenali dulu identitasnya. Tengah malam Sersan Slamet bersama dua anggotanya pulang ke Dawuan. Aku berdua Kopral Pujo tetap tinggal di Dukuh Paruk.
Srintil mengikutiku ketika aku berjalan menuju rumah Nenek. Ah, semakin tua nenekku. Kurus dan makin bungkuk. Kasihan, Nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku. Linglung dia. Tetapi aku merangkulnya sambil berseru berulang-ulang menyebut namaku sendiri. “Aku Rasus, Nek.”
“Eh, jadi kamu si Rasus?”
“Ya, Nek.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah. Sudah.”
“Jadi kamu mau tidur di sini?”
“Ya, Nek. Malam ini Nenek kutemani. Sekarang berbaringlah kembali. Ayo kubantu.”
Selagi orang-orang Dukuh Paruk mengerumuni rumah Kartareja, aku duduk berdekatan dengan Srintil di beranda rumah nenekku sendiri. Pernah kubaca dongeng tentang seorang pahlawan yang pulang dari peperangan dan kembali disambut oleh seorang puteri jelita. Aku mengumpat habis-habisan mengapa dongeng semacam itu sempat singgah dalam ingatan. Ketika duduk berdua Srintil itu aku memang merasakan kepuasan yang amat sangat. Bukan oleh kenyataan bahwa Srintil tak habis-habisnya
memujiku atau karena dia berserah diri sepenuhnya kepadaku. Bukan pula oleh pembunuhan atas dua orang manusia yang telah kulakukan malam itu. Jiwaku terlalu lemah buat menghadapi perbuatan semacam itu, meski mereka yang kubunuh adalah perampok-perampok. Dalam hati aku bersumpah, perbuatan mencabut nyawa takkan pernah kulakukan lagi baik terhadap orang jahat, apalagi terhadap orang-orang biasa.
Bukan. Kepuasan itu telah berkembang sejak beberapa hari yang lalu ketika kepala mantri kutembak hancur di tengah hutan. Orang lain akan mengatakan perbuatanku itu tidak lebih dari ulah seorang bocah ingusan yang tidak bermakna apa pun kecuali hanya mengundang tawa. Ya, aku tidak berharap orang lain percaya bahwa aku telah menghukum mati musuh yang telah bertahun-tahun mengusik, bahkan
membuat teror berkepanjangan dalam kehidupan batinku. Katakanlah, tak seorang pun mempunyai kepentingan dalam urusan sepele itu, urusan yang tolol dan sinting.
Tetapi aku merasa dengan pasti beban batin yang selalu menindih di hati sebagian besar telah hilang. Kemungkinan kebenaran ceritera bahwa Emak melarikan diri bersama mantri sama sama sekali. Jadi Emak, yang sudah kuyakini tidak sedikit pun mirip Srintil, memang mati termakan racun tempe bongkrek.
Mayatnya kemudian dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun bongkrek. Bila aku telah meninggalkan nilai-nilai asli Dukuh Paruk, tentulah aku bisa mengatakan mayat Emak telah diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan. Aku rela sudah, Emak dikubur di suatu tempat entah di mana. Tokh aku sudah tahu, duniaku sudah jauh lebih luas daripada sekedar pemukiman sempit yang terpencil, Dukuh Paruk.
Pagi hari ketika semua orang Dukuh Paruk sibuk dengan empat mayat penjahat, aku sengaja tidak keluar dari rumah Nenek. Srintil yang lekat sejak malam hari tak mau berpisah, kecuali ketika dia pulang sebentar buat mengambil beras. Ronggeng itu cukup arif karena dia tahu di rumah Nenek hampir
sepanjang tahun tidak tersimpan beras meski hanya segenggam. Srintil menanak nasi dan merebus air buat aku dan Nenek. Dia juga membuat telur dadar, makanan paling mewah yang sangat jarang dibuat orang di pedukuhan kecil itu. Pagi itu, bahkan selama beberapa hari kemudian, Srintil menyediakan diri menjadi istriku. Bukan hanya aku yang dimanjakannya secara berlebihan, melainkan juga Nenek.
Perempuan pikun itu pasti merasa mendapat saat yang paling menyenangkan sepanjang usianya.
Melalui Kopral Pujo yang hari itu pulang kembali ke markasnya di Dawuan aku menitipkan pesan kepada Sersan Slamet. Aku minta ijin beristirahat barang empat-lima hari. “Mencari seseorang yang bisa menjaga Nenek yang sudah sangat renta,” begitu pesanku. Ternyata usahaku menemukan seseorang itu
sangat mudah. Aku terkejut ketika menyadari semua orang di tanah airku yang kecil itu siap memenuhi segala keinginanku.
“Soal nenekmu, jangan kaurisaukan benar. Kami akan menjaganya baik-baik. Kami sungguh sadar dari dirinyalah lahir seorang cucu, seorang bocah bagus yang telah berhasil membunuh dua orang penjahat,” kata Kartareja sambil mengacungkan ibu jari kepadaku. “Dan aku sanggup memberinya makan, karena aku sudah mempunyai padi sekarang,” tambahnya.
"Jangkrik!” sahutku dalam hati. “Kamu si Tua Bangka telah menjadi kaya dengan cara
memperdagangkan Srintil.”
“Jadi, apakah engkau akan segera kembali ke markas, cucuku wong bagus?” tanya Sakarya.
“Ya, esok hari, Kek,” jawabku.
“Lho, jadi engkau tidak akan tinggal kembali di Dukuh Paruk ini?” tanya seorang perempuan, entah siapa dia.
“Ah, itu tak mungkin. Rasus sudah menjadi tentara. Kau tak melihat bedil yang tergantung di tiang kayu itu?” ujar perempuan lainnya.
“Aku harus segera bergabung kembali dengan Sersan Slamet. Dia beserta anak-anak buahnya sangat membutuhkan tenagaku. Wilayah kecamatan Dawuan belum aman, bukan?” kataku yang segera disambut dengan anggukan-anggukan kepala.
Malam terakhir di Dukuh Paruk aku hampir gagal memejamkan mata hingga pagi hari. Sepanjang malam itu aku menghadapi ulah seorang perempuan yang sedang dituntut oleh nalurinya. Seorang perempuan yang ingin kuanggap tanpa sebutan apa pun, baik sebutan ronggeng atau sebutan perempuan Dukuh
Paruk. Srintil hanya ingin disebut sebagai seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Dia ingin aku tetap tinggal bersamanya di Dukuh Paruk, atau ikut bersamaku, pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet.
“Bila kau ingin bertani, aku mampu membeli satu hektar sawah buat kaukerjakan. Bila kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta Srintil di tengah malam yang amat sepi.
“Srin, aku belum berfikir sedemikian jauh. Atau aku takkan pernah memikirkan hal semacam itu. Lagipula aku masih teringat betul kata-katamu dulu bahwa kau senang menjadi ronggeng,” jawabku.
“Eh, Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal yang sudah lalu? Aku mengajukan permintaanku itu sekarang. Dengar Rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin menjadi istri seorang tentara; engkaulah orangnya.”
Masih segudang alasan dan janji yang diucapkan Srintil padaku. Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun aku hampir dibuatnya menyerah. Tetapi sebagai anak Dukuh Paruk yang telah tahu banyak akan dunia luar, aku mempunyai seribu alasan untuk dipertimbangkan, bahkan untuk menolak permintaan Srintil. Srintil boleh mendapatkan apa-apa dariku selain bayi dan perkawinan. Aku tahu hal ini sudah cukup memadai bagi seorang perempuan Dukuh Paruk. Permintaan Srintil yang berlebihan pasti hanya didorong
keinginan sesaat yang kebetulan sejalan dengan nalurinya sebagai perempuan.
Menjelang fajar tiba, kudengar burung sikatan mencecet di rumpun aur di belakang rumah.
Keletak-keletik bunyi tetes embun yang jatuh menimpa daun kering. Kudengar dengung kumbang tahi yang terbang menuju arah asal bau tinja yang berserakan di pedukuhanku yang kecil. Rengek bayi tetangga dan keributan kecil di kandang ayam. Keretek tahi kambing yang tercurah ke atas geladak kandangnya. Dan kelepak sayap kampret di antara daun jambu di samping rumah.
Perlahan-lahan aku bangun. Lirih sekali. Aku tidak menghendaki terdengar derit pelupuh bambu yang dapat membangunkan Srintil. Dia masih lelap karena lelah. Malam itu Srintil terlalu banyak mengeluarkan keringat. Seperti dulu, Srintil bertambah cantik dan teduh bila sedang tidur. Dengan hati-hati kubenahi
kainnya yang acak-acakan. Ketika Srintil menggeliat, kuelus dia seperti aku sedang mengelus seorang anak kecil. Tidak lama aku berdiri menatap ronggeng Dukuh Paruk itu. Aku tidak ingin sesuatu yang berbau sentimental menahan keberangkatanku.
Di dalam bilik lain kulihat Nenek, tidur miring dan agak melingkar. Sinar pelita kecil memungkinkan aku melihat gerak paru-parunya. Pelan sekali. Ah, nenekku. Mengapa bukan sejak dulu aku mencari gambar wajah Emak pada kerentaanmu? Oh, tidak, tidak. Aku sudah mendapat pelajaran. Berusaha mencari
gambaran Emak yang selama ini kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekeliruan semacam itu takkan pernah kuulangi. Maka kutatap garis-garis kerentaan pada wajah Nenek secara damai. Kemudian ke bawah bantal kusisipkan semua uang yang ada di sakuku.
Aku berbalik. Tak kulupakan aku sudah menjadi tentara meski tanpa pangkat. Jadi watak ragu harus kulenyapkan.
Selesai mengenakan pakaian seragam, kusambar bedil yang tergantung di atas balai-balai di bilikku. Srintil masih lelap disana, tetapi aku hanya melihatnya sejenak. Langit di timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan
pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan. Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu. Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada
keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!
Sampai di tengah pesawahan aku menoleh ke belakang. Aku tersenyum sendiri, lalu bergegas
meneruskan perjalanan. Dengan memanggul bedil, rasanya aku gagah. Tetapi sebenarnya perasaan itu muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan karena aku telah begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak. Di belakangku Dukuh Paruk diam membisu. Namun segalanya masih
utuh disana ; keramat Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah-serapah, irama calung dan seorang ronggeng.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar