Bab 7: Di Pacuan Kuda.
PAGI-PAGI benar Midun dan Maun sudah bangun. Setelah mandi mereka kedua pergi
sembahyang kepada sebuah surau yang tidak berapa jauh dari lepau nasi tempatnya
menumpang itu. Sudah sembahyang subuh, mereka pun berkemas membungkus dan
mengikat barang-barang yang telah dibelinya.
Setelah selesai, ditaruhnya dalam sebuah bilik lepau itu. Ketika mereka itu hendak minum pagi, dilihatnya hari sudah agak tinggi. Maun
berkata, katanya,
"Ah, hari sudah pukul tujuh agaknya, Midun! Boleh jadi kita terlambat. Saya rasa lebih baik kita makan di pacuan kuda saja nanti. Jika kita minum pula dahulu, tentu kita tidak dapat lagi melihat orang berpacu book* (Artinya merebut piala/beker).
Sekalipun kita tidak minum, agaknya terlambat juga sampai ke sana. Marilah kita naik bendi
saja ke pacuan kuda. Pacu boko kabarnya mulai pukul delapan betul."
"Benar katamu, mari kita naik bendi saja," kata Midun.
"Tetapi kabarnya sewa bendi sangat mahal sekarang. Lebih tiga kali lipat daripada sewa yang biasa. Lagi pula tidakkah jauh amat, karena kita pergi ke perhentian bendi dahulu?"
"Tidak, kita tawar dahulu berapa sewanya. Dari sini tidak berapa jauh ke perhentian bendi. Mudah-mudahan sebelum kita sampai ke sana, bertemu dengan bendi yang mencari muatan."
Keduanya berjalanlah menuju tempat perhentian bendi. Sampai di sana, lalu
ditanyakan Midun berapa sewa bendi ke gelanggang pacuan kuda. Kusir bendi menjawab pendek saja, bahwa sewa bendi tidak kurang dari f1,- seorang ke pacuan. Jadi dua orang f2,-. Maun amat heran mendengar jawab kusir bendi meminta sewa semahal itu.
Padahal antara Bukittinggi dengan pacuan kuda hanya sepal lebih sedikit. Maka Maun berkata dengan sungutnya,
"Uang dua rupiah itu pada pikiran kusir murah saja, Midun! Memang lidahnya tidak bertulang, mudah saja ia menyebutkannya. Marilah kita berjalan kaki saja. Tidak cukup setengah jam kita sudah sampai. Hari baru pukul tujuh."
Baru saja Midun berbalik hendak berjalan, tiba-tiba tampaklah olehnya seseorang melintas jalan. Darah Midun tersirap melihat orang itu, karena rasa-rasa sudah bertemu dengan dia. Setelah dipikirkannya di mana orang itu bertemu dengan dia, baru Midun maklum Dengan suara gagap ia berkata,
"Maun! Lenggang yang bertemu dengan kita pulang dari sembahyang Jumat di kampung tempo hari ada pula kemari. Itu dia di seberang jalan. Lihatlah, tajam benar pandangannya kepada kita. Saya amat heran, sudah dua kali saya bertemu dengan dia, selalu darah saya saja yang tersirap. Pertemuan yang kedua ini, tidak darah saya saja yang tersirap, tetapi tegak pula bulu kuduk saya rasanya. Bukankah ajaib itu?"
Maun, yang memang sejak dahulu tidak senang hatinya melihat dan mendengar nama
Lenggang itu, terperanjat pula, lalu berhenti berjalan akan melihat orang itu. Sambil
berpaling pula hendak berjalan ia berkata,
"Hati-hati, Midun, tidak darahmu saja yang
tersirap, tetapi urat kuduk saya mendenyut melihat Lenggang itu. Jangan kita bercerai-cerai barang setapak jua pun. Tertelentang sama terminum air, tertangkup sama termakan tanah, menyuruk sama bungkuk, melompat sama patah, musuhmu musuh saya.
Saya selalu bersedia akan membelamu, biar bagaimana juga. Jika ada apa-apa yang terjadi, jangan engkau larang-larang lagi, sebagai ketika engkau berkelahi dengan Kacak dahulu.
Saya tahu apa yang akan saya perbuat, untuk keselamatan diri kita berdua. Jangan lagi kita
lama-lama di pacuan. Asal sudah kita melihat pacu boko, kita terus pulang saja.
Tidak perlukah kita membawa pisau, Midun?"
"Nasihatmu itu saya pegang benar-benar. Kita tidak boleh lengah dan alpa sedikit juga
sampai-sampai pulang ke kampung. Tentang membawa pisau itu tidak usah lagi. Tulang
delapan kerat yang dijadikan Tuhan ini sajalah kita pergunakan. Banyak bahayanya kita
berpisau daripada tidak berpisau. Jika tikus seekor penggada seratus, artinya dia banyak
kita berdua, kita buat saja langkah seribu, daripada mengamuk atau menikam orang.
Tentang kesetiaan hatimu itu kepada saya, saya ucapkan terima kasih banyak-banyak. Tetapi sebenarnya dalam hal ini engkau tidak campur sedikit jua. Jika misalnya bahaya datang tiba-tiba—tetapi janganlah hendaknya— saya tidak suka engkau terbawa-bawa pula sebab saya.
Tak beban batu digalas, kata orang. Tentu saja engkau teraniaya, karena hendak menolong seorang teman. Tetapi melihat pengakuan dan
keyakinanmu kepada saya, tak dapat saya menolak perkataanmu itu. Kebersihan dan
keikhlasan hati engkau itu, saya hargakan sungguh-sungguh.
Kebanyakan orang bersahabat ialah akan lawan tertawa saja, tetapi lawan menangis sukar dicari. Bagimu rupanya tidaklah demikian. Saya telah engkau sangka seperti saudara kandung seibu seayah, tidak berubah dari mulut sampai ke hati. Badan saja yang dua, tetapi nyawa
umpama satu."
"Kawanku Midun! Sejak kecil kita tidak bercerai setapak juapun. Selama itu saya rasa, belum pernah saya menumangkan engkau. Bagi saya engkau tidak saya pandang orang lain lagi, melainkan telah seperti saudara kandung. Jika engkau susah, saya akan lebih berdukacita, dan jika engkau tertawa, saya pun lebih bersuka hati.
Sudahlah, tidak guna kita perbincangkan lagi. Apa guna dipikirkan, bukanlah kita sekarang dalam peralatan? Waktu ini kita harus bersuka-suka.
Yang segantang tidakkan mau jadi sesukat. Asal kita ingat saja menjaga diri, sudahlah!
Benar juga katamu itu, dengan bermacam-macam akal tentu ia dapat berlaku akan
membinasakan kita. Oleh sebab itu untuk menjaga keselamatan kita, jangan kita berjalan
seperti yang sudah-sudah lagi. Mulai sekarang kita ubah, lebih baik kita berjalan beriring-iring. Engkau di muka, saya di belakang. Saya perlu menjaga engkau, karena engkaulah yang dimusuhi orang, saya tidak. Kalau kita berjalan bersisi-sisi atau engkau di belakang, tentu gampang orang membinasakan kita. Siapa tahu, engkau diserang orang dengan tiba-tiba dari belakang.
Manakala saya di belakang, tentu boleh saya memberi ingat kalau ada apa-apa. Saya tidak akan lengah dan selalu menjaga dengan ingat-ingat."
"Terima kasih banyak-banyak, Maun! Sebetulnyalah pikiranmu itu. Bila kita selalu
dalam hati-hati, tetapi bahaya jua yang dapat, sudah suratan badan kita yang celaka dan
tidak menjadi sesalan lagi."
Dengan tidak diketahui mereka kedua, maka sampailah ke pacuan kuda. Sepanjang jalan yang dilaluinya itu berkibaran bendera pada kiri-kanan jalan. Pada pintu masuk pacuan
kuda, ada pula sebuah gaba-gaba yang amat indah-indah, dihiasi dengan pelbagai bunga-bungaan. Sekeliling pacuan itu penuh dengan berbagai-bagai bendera.
Sebuah daripada bangsal-bangsal di pacuan itu, amat kukuh buatannya. Bangsal itu ialah tempat engku-engku dan tuan-tuan melihat kuda berpacu. Amat permai dan cantik bangsal yang sebuah itu, karena dihiasi dengan bunga-bungaan yang amat bagus. Pada puncaknya
berkibar bendera yang bercorak tiga.
Ada pun pacuan itu dikelilingi oleh bukit. Tiap-tiap bukit itu berpuluh-puluh pondok didirikan orang. Pondok-pondok itu ialah tempat orang berjual nasi, juadah, dan lain-lain sebagainya.
Penuh sesak orang di bukit itu, berkelompok-kelompok sangat banyaknya. Hampir dari seluruh tanah Minangkabau, amat banyak datang melihat pacuan kuda itu.
Sebabnya ialah karena pacuan itu kepunyaan anak negeri, dan kuda yang dipacu, kuda negeri pula. Pada hari itu orang dua kali sebanyak kemarinnya. Berdesak-desak orang mencari tempat akan melihat perlombaan kuda. Hal itu lain tidak karena orang hendak melihat pacu boko, yang sangat disukai orang.
Pacu boko itu akan merebut priys yang dinamakan "Minangkabau Beker". Siapa yang
menang tidak saja ia memperoleh piala, tetapi menerima hadiah uang yang banyak pula.
Sebab itu, kuda yang dipacu tidak sedikit. Tiap-tiap luhak di Minangkabau, diambil dua ekor
kuda yang terkencang. Ketika itu hanya empat belas ekor kuda sekali lepas. Dengan melihat
pakaian anak pacuannya, tahulah orang dari luhak mana-mana kuda itu datangnya. Ketika
itu ada pula kuda yang datang dari Padang Hilir*(Negeri-negeri sebelah pesisir dinamai
Padang Hilir, sebelah ke Gunung Padang Darat).
Midun dan Maun mencari tempat yang baik, agar dapat melindungkan diri dari bahaya.
Setelah dapat, mereka berdirilah di sana. Sungguhpun tempat itu amat baik, Maun selalu ingat-ingat jua. Tidak lama kemudian, kuda dilepas orang. Gemuruh bunyi sorak orang sekeliling pacuan itu. Ada yang menyerukan,
"Agam, Agam," dan ada pula "Payakumbuh,
Payakumbuh," yaitu masing-masing menyerukan luhaknya. Rasakan hendak belah bumi rupanya. Tidak bersorak saja, musik militer pun selalu berbunyi selama kuda itu berlari.
Tiap-tiap orang gelisah dan tidak bersenang hati, manakala melihat kuda dari luhaknya
kalah. Tetapi yang menang, orang luhaknya rasa hendak terbang karena kegirangan hati.
Mereka melompat-lompat, tertawanya berderai-derai dan perkataannya seperti merendang kacang sebab sukanya. Setelah sudah berpacu, nyata yang menang masa itu kuda dari luhak Agam. Maka orang dari luhak itu berlarian ke tengah gelanggang pacuan, berarak, dan bersorak-sorak menunjukkan suka hatinya. Musik militer pun turun, lalu kuda yang menang itu diarak sekeliling pacuan.
Orang di gelanggang itu herkacau-balau tidak bertentu lagi. Midun dan Maun tidak berani keIuar dari tempatnya, melainkan ia melihat saja dari jauh. Setelah sudah orang mengarak kuda barulah tenang kembali. Midun berkata kepada Maun,
"Maksud kita sudah sampai, perut sudah lapar, mari kita pergi makan. Sesudah makan, kita ambil barang-barang kita, terus pulang."
"Di lepau nasi manakah yang baik kita makan?" jawab Maun.
"Mari kita makan ke puncak bukit itu! Di sana tentu senang kita makan dan tidak terganggu."
Maka keduanya pun naik ke puncak bukit, mencari lepau nasi yang agak baik. Pada kiri kanan tempat yang dilalui mereka itu orang duduk berkelompok-kelompok.
Di muka mereka terbentang sehelai tikar dan sebuah piring dengan dadu dan tutupnya.
Berpuluh-puluh uang terletak di muka mereka itu. Demikianlah halnya tiap-tiap kelompok
orang itu. Di sini kelihatan orang main dadu, di sana dadu kuncang, dan lain-lain. Segala
macam judi ada di situ.
Berbagai-bagai akal mereka mencari uang. Tidak main dadu saja, bertaruh kuda pun banyak pula. Midun tidak lama memperhatikan orang main dadu itu, melainkan ia terus berjalan ke puncak bukit. Setelah didapat lepau nasi yang berkenan kepadanya, maka makanlah ia di situ.
Sesudah makan, lalu turun pula ke bawah, hendak pergi ke tempatnya menumpang mengambil barang-barangnya. Belum jauh berjalan, dilihatnya beberapa orang opas berjalan keliling tempat orang main itu. Opas itu melemparkan ringgit ke tikar dadu, kemudian dikembalikan orang ringgit itu dengan sebuah rupiah akan tambahnya.
Sedang Midun memikirkan hal itu, Maun yang berdiri di belakangnya melihat seseorang bergerak dekatnya, kemudian terbayang pada matanya sebuah pisau yang menuju rusuk Midun. Sebagai kilat Maun melompat menangkap pisau itu, sambil berseru,
"Awas, Midun!"
Midun berbalik, dilihatnya Maun telah berkelahi, lawannya memegang sebuah pisau.
Ketika Midun hendak melompat menolong Maun, tiba-tiba ia diserang orang pula dengan
pisau. Orang itu ialah Lenggang yang dilihatnya pada perhentian bendi tadi pagi. Midun lalu
menangkis serangan, sambil mengundurkan diri ke arah Maun berkelahi. Setelah dekat,
Midun berkata,
"Lepaskan, jaga di belakang saya!"
Suara itu terdengar oleh Maun, lalu ia melompat ke belakang Midun. Maun sekarang
hanya menjaga kalau-kalau ada serangan dari kiri-kanan saja. Kedua orang itu Midun
sendiri yang melawan. Bukan main tangkas Midun menyambut dan mengalahkan tikam
lawannya.
Tidak lama pisau yang seorang terpelanting kena sepak Midun. Tinggal lagi Lenggang yang berpisau. Midun dan Maun selalu mengundurkan diri ke belakang.
Kemudian ia tertumbuk pada dinding sebuah lepau nasi. Di sana mereka kedua dapat
tempat untuk bertahan. Orang makin banyak menyerang Midun, karena teman Lenggang
selalu berteriak, mengatakan,
"Pancacak*(Pencuri, dalam orang ramai)!"
Karena itu orang menyangka Midun seorang pencuri. Dari kiri kanan dan dari muka musuh datang; amat sibuk tidak tentu lawan kawan.
Orang banyak itu tidak dipedulikan Midun amat, melainkan yang sangat dijaganya Lenggang. Bagi orang banyak itu lain tidak
ilmu, sepak terjang saja. Tetapi Lenggang sengaja hendak membunuh dia. Tidak lain yang kedengaran masa itu, hanya bunyi sepak terajang, pukulan dan tinju orang saja.
Huru-hara benar di bukit sebuah itu. Anak-anak amat banyak terinjak oleh orang yang melarikan diri.
Perempuan-perempuan yang berpakaian bagus-bagus, tunggang-Ianggang jatuh ke bawah sebab dilanda orang yang berkelahi. Jerit, tangis, dan teriak orang mengatakan "bunuh dan amuk", tidak pula kurang. Polisi bekerja keras memadamkan perkelahian itu.
Meskipun dengan pedang bercabut menghentikan perkelahian itu, tidak dipedulikan orang. Malahan polisi sendiri ada yang berguling-guling jatuh ke bawah kena kaki orang.
Setelah datang serdadu selusin dan membunyikan bedil serentak, barulah peperangan kecil itu aman kembali. Jika tidak lekas serdadu datang, entah berapa gerangan bangkai terhantar.
Ketika bedil berbunyi, kebetulan dekat Midun ada seorang yang terhantar di tanah. Tiba-tiba ia telah dipegang Tuan Kemendur dari rusuk, yang pada ketika itu datang bersama-sama dengan serdadu akan memadamkan perkelahian.
Midun ditangkap karena bajunya berlumur darah. Maun ditangkap juga, sebab ia berdiri dekat seorang yang terhantar di tanah. Orang yang terhantar itu terus dibawa ke rumah sakit.
Orang itu ialah Lenggang. Ia pingsan karena perutnya kena amuk oleh pisaunya sendiri. Tetapi lukanya tidaklah berat benar. Pada lengan Lenggang ada sebuah pisau yang berlumur darah.
Teman Lenggang melenyapkan diri di dalam orang banyak itu. Orang lain yang serta dalam
perkelahian karena melepaskan dendam atau mempertahankan diri, ketika bedil meletus
berlarian menyembunyikan badan.
Midun dan Maun dibawa oleh seorang opas. Ketika mereka itu sampai pada perhentian bendi di gelanggang pacuan kuda, bertemu dengan Pendekar Sutan. Melihat Midun dan Maun diiringkan opas, Pendekar Sutan sangat terkejut. Maka ia pun bertanyakan hal itu kepada Midun.
Midun menceritakan perkelahiannya dengan Lenggang. Setelah sudah, Midun berkata,
katanya, "Hal ini janganlah Bapak beri tahukan dahulu kepada orang di kampung. Manakala di dalam sepuluh hari ini tak ada seorang jua di antara kami yang pulang, barulah Bapak ceritakan hal kami ini."
"Baiklah!" jawab Pendekar Sutan dengan cemasnya, karena ia maklum dari mana
asalnya maka terjadi perkelahian itu.
"Syukurlah, engkau kedua tidak binasa. Saya belum akan pulang, karena saya hendak menantikan kabarnya. Jika dalam sepekan ini perkara ini belum juga diperiksa, baru saya pulang ke kampung. Engkau kedua jangan khawatir, karena sipir dan beberapa tukang kunci* (Opas Penjara) penjara berkenalan dengan saya. Biarlah, besok saya temui dia ke penjara akan mempertaruhkan engkau, supaya jangan diganggu orang di dalam penjara."
Midun dan Maun terus dibawa ke penjara. Mereka kedua ditahan di sana, sementara
perkaranya belum diputuskan. Empat hari sesudah peralatan, Midun dan Maun mulai
diperiksa oleh jaksa. Dalam pemeriksaan yang pertama itu, nyata bahwa Maun tidak campur
apa-apa. Oleh jaksa Maun diizinkan pulang, tetapi manakala dipanggil harus datang sebagai saksi. Maka Maun pulanglah bersama Pendekar Sutan yang sengaja menanti kabarnya.
Bersambung...
____________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar