Di rumahnya Nyai Kartareja mulai merasa was-was karena ternyata Srintil tidak segera mengikutinya pulang. Marsusi, laki-laki berusia lima puluhan, sudah gelisah di tempat duduknya. Caping wol Stetson sudah beberapa kali dipasang di kepala dan dilepas lagi tanpa tujuan tertentu. Akhirnya Marsusi keluar
mengambil sesuatu di bagasi motornya. Sebuah botol persegi dibawanya masuk. Penantian yang menggelisahkan harus ditemani jenewer, pikirnya. Minuman keras itu ditenggak langsung dari botolnya.
"sampean tadi mengatakan Srintil ada di rumah. Lalu manakah dia?" tanya Marsusi sambil meletakkan botolnya dengan agak kasar.
Nyai Kartareja menyembunyikan kebimbangannya di balik senyum ramah.
"Betul, Pak. Tadi Srintil berkata hendak mandi dulu. Ah, anak ini. Ke mana dia?"
"Coba susul lagi. Bila benar sedang mandi mengapa bisa demikian lama?" ujar Kartareja.
"Nanti dulu," kata Marsusi yang kelihatan tidak sabar karena menunggu Srintil sekianlama lama." sampean berdua yang memelihara Srintil di sini, bukan?"
"Benar, Pak."
"Lalu? Apa kalian kira aku datang kemari buat duduk-duduk nganggur seperti ini? Katakan saja; Srintil sedang dipakai orang lain atau Srintil sedang pergi entah ke mana! Jangan biarkan aku jadi gusar, orang Dukuh Paruk!"
Kartareja hanya bisa menoleh kiri-kanan. Bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah kata pun terdengar. Bahkan kemudian dukun ronggeng ini duduk membeku dengan mata melukiskan rasa takut ketika Marsusi
bangkit dan mendekat. Caping wol dibantingnya ke atas meja.
"sampean berdua ini orang dukuh yang tidak tahu diuntung! Aku tidak pernah lupa bahwa semacam sampean ini mendapat rejeki dari orang seperti saya ini. Nah! Mengapa sampean berdua jadi banyak tingkah? Sekarang jawab pertanyaanku; bisakah kalian membawa Srintil kemari sekarang juga? Kalau tidak, mampus saja. Jangan coba-coba menjadi dukun ronggeng!"
Apabila Kartareja makin membeku oleh kekasaran Marsusi maka lain halnya dengan istrinya. Nyai Kartareja mempunyai seribu pengalaman menghadapi laki-laki dan dunianya. Dari yang masih bocah sampai yang perjaka, dari yang baru belajar mengenal perempuan sampai yang sudah matang seperti yang sedang gusar di hadapannya itu. Atau karena pekerjaan seorang istri dukun ronggeng yang ternama ialah mengerti secara tepat situasi hati seorang laki-laki yang datang kepadanya, menampung keluh-kesahnya,
menyalurkan rencananya dan meredam emosinya. Demi keberhasilan pekerjaannya Nyai Kartareja tak pernah meninggalkan resep; seorang laki-laki yang datang kepadanya, meski yang sudah beruban sekalipun akan dianggapnya sebagai bayi. Bayi yang mudah terlena oleh kelembutan nina-bobo dan mudah diakali dengan senyum yang teduh serta bujukan manis.
"Aduh. Nak, eh, Pak. Benar jugalah bila sampean menjadi gusar semacam ini. Kami pun bisa mengerti mengapa sampean kehilangan kesabaran. Ini semua karena kesalahan kami. sampean dari rumah membawa kejenuhan atau kegemasan yang seharusnya segera cair di rumah ini. Ya, ya. Pokoknya kehendak seorang priyayi seperti sampean pasti akan kami utamakan. Masalahnya, Srintil yang sampean kehendaki masih kekanak-kanakan. Ah, sampean jangan lupa; Srintil masih demikian hijau. Maka siapa pun yang menghendaki kesegarannya harus sedikit bersabar."
"Dengar, Pak. Srintil masih segar seperti kecambah," sambung Nyai Kartareja sambil menyentuh dada Marsusi dengan lembut.
"Saya tidak mencari perempuan lumutan," kata Marsusi. Nada bicaranya jatuh pada tempo yang rendah.
"Nah! Kecambah itu kami sediakan buat sampean. Soalnya kini terletak kepada kesabaran sampean itulah karena Srintil sudah beberapa hari merajuk."
"Nanti dulu. Me-ra-juk?"
Hening. Nyai Kartareja membiarkan pertanyaan Marsusi buat sementara mengawang. Andaikan Marsusi tahu bahwa senyuman Nyai Kartareja yang kelihatan begitu wajar adalah sebuah taktik profesional. Atau
setidaknya, senyum itu menandakan Nyai Kartareja telah merasa membuat langkah awal yang tepat untuk menguasai keadaan.
"Inilah susahnya momong seorang ronggeng cantik tetapi masih kekanak-kanakan. Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti yang dipakai oleh istri lurah Pecikalan; sebuah rantai emas seberat seratus gram dengan bandul berlian. Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil itu. Nah, bagaimanakah dengan kami yang melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik mudah saja dia memberi beban berat kepada kami."
"Hm," lenguh Marsusi. Hanya itu.
Yang terjadi kemudian adalah tawar-menawar yang berlangsung dalam keheningan. Nyai Kartareja merasa dirinya berada di atas angin. Langkahnya telah berhasil melumpuhkan murka Marsusi sekaligus menempatkan laki-laki itu dalam selmah taruhan harga diri. Perhitungan istri dukun ronggeng itu terbukti
cermat. Marsusi memang bukan laki-laki kemarin sore yang tidak tahu akan adanya maksud tertentu dalam kata-kata Nyai Kartareja. Masalahnya Marsusi kini merasa secara tidak langsung diperbandingkan hanya
dengan seorang lurah. Martabatnya sebagai priyayi kepala perkebunan terusik. "Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil," itulah kata-kata Nyai Kartareja yang melecut hati Marsusi.
"Hm," lenguhnya lagi.
Marsusi kembali ke tempat duduknya. Ditenggaknya minuman keras yang masih tersisa. Wajahnya beringas oleh pengaruh alkohol atau oleh kerusuhan dalam hatinya. Dalam hati dia mengutuk Nyai Kartareja yang
telah memasang pemerasan terselubung. Aneh, Marsusi tak kuasa mendobrak jebakan halus itu, bahkan menerima apa adanya sebagai tantangan. Dipasangnya caping dengan tergesa-gesa kemudian Marsusi
bangkit.
"Aku mau pulang, Nyai!"
"E, lho?" ujar Nyai Kartareja pura-pura kaget.
"Yah, bagaimana lagi bila Srintil ngambek seperti itu," sela suaminya.
"Nanti dulu, Pak. Tak ada pesan buat Srintil? Besok lusa sampean mau datang lagi, bukan?"
Marsusi yang sudah duduk di atas sepeda motornya menoleh. Cuping hidungnya bergerak-gerak. Sorot matanya menyala. Gejolak emosinya disalurkan ke kaki yang menggenjot mesin kuat-kuat. Harley Davidson sisa masa perang itu menderu dan laju diiringi tatapan mata anak-anak Dukuh Paruk yang penuh kekaguman.
Nyai Kartareja menjatuhkan pundaknya. Lega. Sekarang dia bukan hanya merasa telah mengatasi kemarahan Marsusi yang gagal berjumpa dengan Srintil, melainkan sekaligus menjebak laki-laki itu dalam sebuah tantangan.
"Kita main tebak-tebakan, Ki," kata Nyai Kartareja kepada suaminya.
"Aku berani bertaruh; besok atau lusa Pak Marsusi akan kembali kemari. He-he. Seratus gram kalung emas dengan bandul berlian; tantangan yang pantas buat Pak Marsusi. Apa katamu, Ki?"
"Kamu ini bagaimana? Pikir dulu di mana sekarang Srintil," jawab Kartareja dingin tetapi tandas.
Ada perubahan yang nyata pada wajah Nyai Kartareja. Dia tersadar akan masalah yang justru di hadapan matanya. Karena bimbang Nyai Kartareja tak mampu meneruskan kata-katanya. Tidak lama, karena kemudian wajah perempuan itu kembali cerah.
"Ah, kukira Srintil berada di rumah kakeknya sekarang. Aku akan pergi ke rumah Sakarya."
"Aku ikut," kata Kartareja sambil meraup tembakaunya.
"Nah, ayolah!"
Di rumah Sakarya, suami-istri dukun ronggeng itu mendapatkan kenyataan yang mengecewakan. Srintil tidak berada di sana. Bahkan keduanya mendapat teguran Sakarya yang bernada meminta pertanggung-jawaban. Kemudian datang seorang tetangga yang mengatakan melihat Srintil berjalan tergesa-gesa ke luar dari Dukuh Paruk.
"Apa sampean berdua tidak mengerti semua ini terjadi karena ada sesuatu antara cucuku dan Rasus?" kata Sakarya, nadanya menuduh. "Dua kali sudah Srintil menampik panggilan naik pentas. Kini dia malah minggat. Bagaimana ini?"
Nyai Kartareja mendan ludah. Dia teringat akan telur wukan yang ditanamnya diam-diam dalam bilik Srintil. Heran, mengapa kali ini ikhtiarnya tidak mempan.
"Nanti dulu," sela Nyai Sakarya. "Apabila Srintil suka kepada Rasus, apa salahnya kita membantu agar mereka bisa kawin?"
Sakarya diam. Kakek Srintil itu menangkap kebenaran dalam kata-kata istrinya. Pada dasarnya Sakarya merasa mempunyai seorang cucu yang menjadi istri tentara tak perlu ditolak oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Namun bagi Sakarya masalahnya memang tidak begitu mudahnya.
"E, lha!" ujar Kartareja tertuju kepada Nyai Sakarya. "Tentu saja tak ada yang salah bila Srintil kawin dengan Rasus. Itu bila cucumu tidak menjadi ronggeng pengemban nama Dukuh Paruk."
"Lalu sampean, Sakarya," kata Kartareja ganti kepada kakek Srintil. "Jaga jangan sampai sampean mempunyai pikiran seperti istri sampean. Ingat kewajiban sampean sebagai pemangku dan kamitua anak-cucu Ki Secamenggala di dukuh ini. Tanggung jawab sampean tidak membenarkan sampean
mementingkan kepentingan sendiri." Sakarya terbatuk dan mengangguk.
"Ya. Tetapi sampean berdua harus berusaha membawa kembali Srintil. Kalian harus menemukan Srintil di mana pun sekarang dia berada."
"Baik. Aku sanggup mencari dan menemukan Srintil," kata Nyai Kartareja penuh kepastian.
"Nah, begitulah. Namun hati-hati. sampean tak boleh berlaku kasar terhadap cucuku meskipun dia telah merepotkan kita," ujar Nyai Sakarya.
"He, kapankah aku menyakiti cucu sampean? Bahkan, siapakah yang telah membuat Srintil kini mampu memiliki harta dan perhiasan sekian banyak? sampean menyuruhku berhati-hati. Tetapi sampean sendiri tidak berhati-hati dalam berkata!"
"Sudah, sudah!" suara Kartareja dan Sakarya terdengar hampir bersamaan.
*****
Matahari masih terik ketika Srintil turun dari andong di depan pasar Dawuan. Titik-titik keringat di pucuk hidungnya. Tengkuk dan pipinya segar dan hidup, memberi kesan kulit seorang anak usia sepuluh tahun. Bahwa Srintil sebenarnya tidak siap mengunjungi pasar terlihat dari roman mukanya yang beku serta pakaian dan rambutnya yang demikian acak-acakan.
Namun dalam keadaan demikian keremajaan Srintil kelihatan wajar. Kalaulah ada sesuatu yang menodainya, maka hanya orang-orang yang sangat berpengalaman yang bisa mengetahuinya. Lihatlah kedua pangkal alis ronggeng itu yang mulai turun masuk ke cekungan rongga mata. Bagi orang-orang yang sangat berpengalaman hal itu adalah tanda bahwa seorang perempuan betapapun muda usianya, sudah memasuki keaktifan kehidupan berahi.
Setelah membayar ongkos andong, Srintil tidak segera memasuki pasar melainkan hanya membuat beberapa langkah ke tepi jalan. Belum sekali pun Srintil kelihatan begitu canggung dan asing di pasar Dawuan. Dia tetap berdiri di tepi jalan hingga beberapa waktu lamanya. Tatapan matanya kosong, tanpa makna.
Biasanya kedatangan Srintil di pasar Dawuan menimbulkan gairah yang spontan. Orang-orang lelaki bersiul-siul atau membuat seloroh erotik. Orang-orang perempuan mengintip tangan, telinga, atau leher Srintil untuk mengetahui adakah perhiasan-perhiasan baru di sana. Kemudian menyusul celoteh spekulasi; gendak Srintil kali ini adalah si Anu atau Bapak Anu, pangkatnya ini atau kerbaunya sekian belas.
Tetapi hari itu orang-orang pasar Dawuan banyak menahan diri. Srintil memasuki pasar dengan mendung membayangi wajahnya. Mulutnya terkatup dengan garis bibir datar lurus. Pangkal alisnya bertemu pada lipatan di tengah dahi. Dalam kesan keseluruhan Srintil siap menampik segala bentuk seloroh dan
senda-gurau.
Orang-orang melihat Srintil dengan pandangan mata mengandung tanda tanya. Perempuan-perempuan saling berbisik. Celoteh ringan mulai terdengar dari sudut-sudut pasar.
"Ada apa, dunianya kelihatan gulita?" kata perempuan pedagang ubi kepada rekan di sebelah. Sudut matanya terarah kepada Srintil.
"Nah, saya bisa mengira-ngira," jawab temannya. "Kalau ada seorang ronggeng merengut seperti itu tentu telah terjadi sesuatu dengan pamongnya."
"Maksudmu, Nyai Kartareja?"
"Ya. Seorang dukun ronggeng suka mengatur segala urusan, bahkan sering kali ingin menguasai harta anak asuhannya."
"Itu cerita lama. Aku tahu seorang ronggeng sering kali dianggap sebagai ternak piaraan oleh induk semangnya. Lihatlah dalam musim orang berhajat atau masa lepas panen; ronggeng naik pentas setiap malam. Siang hari dia mesti melayani laki-laki yang menggendaknya. Sementara itu yang mengatur semua urusan, lebih-lebih urusan keuangan, adalah si dukun ronggeng. Kasihan, kan? Sebaliknya, kini suami-istri Kartareja menjadi kaya, kan?"
"E! Kalian sedang bicara apa? Srintil yang kelihatan kusut itu?" kata perempuan ketiga yang datang bergabung. "Kalian jangan berpikir yang bukan-bukan. Dengar. Srintil berada di sini dalam usaha melarikan diri dari tangan seorang laki-laki yang tidak tahu diri. Laki-laki itu kukira, tidak mau tahu bahwa Srintil sedang datang bulan. He-he-he."
"Ah, mana bisa begitu. Perhatikan sekali lagi, kain Srintil tak bernoda, tumpalnya tidak dilipat. Jadi dia dalam keadaan bersih."
"Kita memang telah berbicara berlebihan. Kukira Srintil seperti kita juga yang kadang merasa demikian sebal terhadap laki-laki. Jadi yang menyebabkan Srintil murung adalah perkara sederhana. Dia sedang diamuk rasa jenuh dan muak terhadap laki-laki. Itu saja."
Celoteh di sudut pasar itu berhenti karena kehabisan bahan. Perempuan-perempuan itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk satu lincak bersama perempuan pemilik warung. Karena penampilan Srintil yang kaku, perempuan penjual lontong itu menjadi salah tingkah.
"Mau makan, Jenganten?"
"Tidak, Yu. Aku hanya mau minum dan beristirahat sebentar di sini. Boleh kan?" jawab Srintil tanpa melihat pemilik warung.
Sejumlah besar air dingin yang bening dihabiskan Srintil. Apabila air mampu menghidupkan kembali tanah yang mati atau menggugah biji-bijian agar tumbuh menjadi kecambah, maka air pulalah yang bisa
menjinakkan kegelisahan Srintil dengan pertama-tama memperlambat denyut jantungnya.
Termangu-mangu di atas lincak, Srintil merasakan kesejukan air sedang mendinginkan badannya yang semula panas oleh terik matahari dan panas oleh galau pikirannya. Sementara itu di dalam hatinya sedang berlangsung penataan kembali keimbangan antara emosi dan rasa. Proses penguasaan diri yang berlangsung dalam diam itu ternyata menghabiskan banyak tenaga, terbukti dari terbitnya titik-titik keringat di seluruh permukaan kulit ronggeng Dukuh Paruk itu. Suatu kegiatan metabolik dalam intensitas tinggi yang kemudian menuntut mekanisme tubuh Srintil beristirahat. Denyut kantuk pertama kelihatan pada kerdipan mata Srintil yang lamban. Ketika itu Srintil melihat bayangan Rasus muncul di hadapannya. Namun angin yang berembus pelan membuat matanya semakin redup. Rasa kantuk tak tertahankan lagi olehnya.
"Yu, aku sangat ngantuk. Aku mau tidur di sini barang sebentar. Boleh kan?" kata Srintil sambil merebahkan diri. Pelupuh lincak berderit.
"E, Jenganten ini bagaimana? Orang mengatakan, tidak boleh orang tidur di warung Ora ilok, nanti warungku tidak laku. Nanti..."
Perempuan pedagang lontong itu tidak ingin berkata lebih jauh karena melihat kenyataan di hadapannya. Rasa keibuannya tergugah oleh sebentuk tubuh yang tergolek demikian damai. Sosok Srintil yang muda dan lentur, wajah yang teduh dalam tidur mengingatkan perempuan itu akan anaknya yang masih bayi dan kini
ditinggal bersama neneknya di rumah.
Dalam keadaan lelap keakuan Srintil hampir punah. Menjadi tidak penting lagi apakah dia bernama Srintil atau apakah dia ronggeng Dukuh Paruk. Tak ada lagi atribut apa pun yang tepat bagi sebuah subyek yang kini terdampar di atas lincak itu. Dia hanya pantas disebut sebagai bagian alam yang bernama anak
manusia yang jelas sekali ingin mengundurkan diri barang sejenak dari keakuannya. Yang serempak muncul ke permukaan adalah kesan memelas, kesan yang menjadi daya tarik utama seorang bayi.
Ternyata bukan hanya pedagang lontong yang bersimpati kepada Srintil, melainkan juga sebagian besar orang yang berada di pasar Dawuan. Alam menagih janji kepada mereka; alam yang setiap hari mengasah naluri mereka sehingga mereka dapat merasakan bahwa Srintil sedang berada dalam kesempitan sehingga pantas mendapat pembelaan. Tidaklah penting bagi orang-orang pasar Dawuan itu untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat Srintil tampak merana. Manifestasi sikap mereka menjadi jelas ketika satu jam kemudian muncul Nyai Kartareja di gerbang pasar Dawuan. Perempuan-perempuan penjual ubi melihat wajah kaku istri dukun ronggeng itu. Sorot mata yang keruh dan rambut yang disanggul tinggi-tinggi
memperkuat kesimpulan bahwa sedang ada ketegangan antara Nyai Kartareja dan Srintil. Atas dasar tuntunan naluri yang paling bersahaja orang-orang pasar Dawuan bertindak melindungi ronggeng Dukuh
Paruk itu.
"Ah, Nyai Kartareja. sampean sedang mencari Srintil, bukan?" tanya seorang perempuan pedagang ubi. Yang ditanya mengangguk kaku.
"Nah, dia tidak ada di sini. Kulihat Srintil tadi terus ke selatan."
"Seorang diri?"
"Ya. Dan Srintil kelihatan sangat murung. Ada apa ya, Nyai Kartareja?"
Pertanyaan yang bernada campur tangan itu menyinggung perasaan Nyai Kartareja. Dia tidak menjawab, bahkan berbalik keluar pasar Dawuan dalam langkah yang panjang-panjang.
Kegiatan pasar Dawuan sebenarnya hanya berlangsung pagi hari. Setelah matahari tergelincir sebagian pedagang sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tinggal adalah mereka yang tidak mungkin setiap kali membawa dagangannya pulang-balik. Mereka adalah penjual barang-barang tembikar, penjual tikar, pedagang ubi, serta pemilik warung makanan yang melayani pembeli hingga sore hari. Para pedagang keliling juga menggunakan pasar Dawuan sebagai terminal peristirahatan.
Pada sore hari banyak los berisi orang yang menggelar tikar; tidur berleha-leha atau duduk berkeliling, bermain kartu. Udara yang panas membuat orang-orang kehilangan gairah bekerja. Mereka mengharapkan suasana yang santai.
Seperti burung perkutut di pohon kenari di belakang pasar. Tubuhnya lenyap dalam kerimbunan dedaunan agar bebas dari sengatan sinar matahari. Namun merdu suaranya mencapai si betina jauh di seberang
sana. Bila yang dipanggil sudah datang maka perkutut jantan mengubah nada suaranya menjadi lebih rendah dan lembut. Demikian lembut sehingga terdengar baur dengan suara angin yang menyapu pepohonan. Sepasang burung perkutut merasa perlu menciptakan suasana pribadi untuk mencari keselarasan dengan alam. Udara yang panas, angin yang berembus pelan, dan suara perkutut adalah
sebuah harmoni yang bersumber dari naluri alam sendiri.
Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter bersama Ciplak, istrinya. Pasangan penjaja musik kecapi itu tahu betul saat yang tepat di mana musiknya menjadi kebutuhan para pelanggan. Mereka muncul di pasar Dawuan ketika orang-orang di sana berada dalam puncak kebosanan pekerjaan rutin. Sehabis bekerja sepanjang pagi hari orang-orang pasar itu mengharapkan kedatangan suasana selingan yang lebih renyah dan ringan.
Wirsiter dan istrinya tak pernah rela disebut tukang ngamen, apalagi disebut sebagai pengemis yang berpura-pura menjual musik. Mereka tidak akan menggelar musik di hadapan siapa pun, termasuk pelanggan yang tidak memintanya. Untuk mendukung sikap ini mereka selalu tampil bersih. Pakaian mereka selalu rapi; Wirsiter dengan blangkon, baju lurik serta kain batik yang diwiru. Istrinya selalu
muncul dengan kain kebaya lengkap dengan selendang dan konde berhiaskan bunga melati. Bibir mereka merah karena keduanya makan sirih.
Ada berbagai perkakas musik untuk menerjemahkan irama, keselarasan, bahkan rencana alam. Orang Dukuh Paruk misalnya percaya penuh bahwa calung adalah perkakas yang tiada taranya untuk menampilkan irama denyut jantung yang meriah dan hangat dalam rangsangan berahi. Kalau orang ingin bertanya di manakah letak kekuatan musik calung, jawabnya sangat bersahaja; yakni kesederhanaannya. Bukan berarti orang dengan mudahnya memotong-motong bambu, merangkainya kemudian jadilah perangkat calung. Sederhana artinya, orang harus membatasi diri dalam campur tangannya ketika mereka-reka bambu. Persyaratan-persyaratan yang bersifat alami lebih menentukan mutu perangkat calung daripada keahlian tangan pembuatnya.
Calung yang sempurna hanya dihasilkan dari bambu hitam yang betul-betul kering. Tetapi orang tidak boleh menjemurnya, apalagi memanggangnya di atas api. Bambu itu tidak boleh terluka sebelum ditebang, baik luka oleh manusia atau luka oleh binatang mengerat atau patah ujungnya selagi masih muda. Dia juga harus lurus dan langsing. Bambu yang tebal karena terlalu gemuk tidak baik untuk
membuat calung. Para pembuat calung tidak akan mengatakan bahwa tertib yang mereka patuhi itu adalah cara mereka menempatkan diri dalam keselarasan Sang Empu Agung. Mereka hanya tahu, dengan tertib itulah mereka akan memperoleh perangkat calung yang sebenar-benarnya. Bunyinya akan mampu menerjemahkan suara puluhan blentung, iramanya bisa padu dengan suara curah hujan di atas atap ilalang dan semangatnya adalah detak jantung yang bergairah.
Sama halnya calung, kecapi pun mengandalkan kekuatan pada kebersahajaannya. Bentuk umum sebuah
kecapi adalah kotak kayu bersegi lima dan memanjang. Pada salah satu bidangnya direntangkan kawat-kawat dawai. Setiap helai kawat mewakili sebuah nada. Tangga nada ditentukan oleh tebal tipisnya kawat serta sebuah bantalan logam tipis yang dipasang miring dan serong. Bantalan serong ini mengatur jenjang panjang kawat-kawat dawai.
Tentang sebuah kecapi hendaknya orang tidak menanyakan soal presisi nada, patokan umum, apalagi menerapkan pengetahuan akustik terhadapnya, setidaknya terhadap kecapi milik Wirsiter. Seniman keliling itu tidak belajar teori tetek-bengek. Dengan alatnya yang demikian sederhana Wirsiter dan istrinya melagukan keserasian alam. Guru mereka adalah kelap-kelip ribuan kunang ketika jatuh gerimis senja hari. Atau lintasan buih yang hilang-tampak di antara bebatuan atau curah hujan yang menerpa permukaan telaga yang tenang. Rasa dalam kesadaran sempurna; itulah guru utama Wirsiter dan istrinya.
Jadi Wirsiter bersama istrinya pergi ke sana kemari menjajakan musik yang memanjakan rasa, yang sendu, dan yang melankolik. Musiknya tidak membuat orang bangkit berjoget, melainkan membuat pendengarnya
mengangguk-angguk menatap ke dalam diri atau terbang mengapung bersama khayalan sentimental. Seperti pada sore hari yang panas itu orang-orang pasar Dawuan tepekur mendengarkan petikan kecapi Wirsiter. Ciplak membawakan asmara dahana.
Li lali tan bisa lali
Sun lelipur tan sengsaya
Katon bae sapolahe
Kancil desa 'njang talingan
Aku melu karo ndika
Lebu seta sari pohung
Becik mati yen kapiran
Seberkas lagu dan liriknya dibawakan oleh dua orang yang sejak kelahiran mereka menjadi murid alam. Orang-orang yang sedang berjudi berhenti menjatuhkan kartu. Yang sedang tiduran berleha-leha mengawang ke alam khayal antara tidur dan jaga. Perempuan yang sedang mengunyah sirih tetap menggerak-gerakkan mulut, tetapi pikirannya terbang ke belakang, ke suatu masa yang paling berkesan
dalam hidupnya.
Barangkali Wirsiter maupun Ciplak tidak bisa mengatakan mengapa mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu asmara. Dalam kenyataannya mereka hanya menuruti selera sebagian besar pelanggan. Atau karena musik kecapi memang paling cocok untuk melukiskan perasaan asmara. Atau lagi; bila benar bahkan kumbang tahi yang beterbangan di Dukuh Paruk pun diciptakan atas dasar motiyas, cinta agung, maka Wirsiter bersama istrinya hanya patuh kepada naluri alam yang paling dasar.
Orang-orang di pasar Dawuan asyik terlena. Segala sesuatu lepas dari perhatian mereka, tak terkecuali sebuah subyek yang sedang terdampar di atas lincak pedagang lontong. Musik Wirsiter mengantarkan Srintil ke alam jaga dengan caranya yang paling santun. Perlahan-lahan Srintil membuka matanya. Namun dia tidak melihat sesuatu karena pusat indrianya sedang bertumpu pada syaraf pendengaran. Memang, Wirsiter dan istrinya dengan lagu asmara yang mereka kumandangkan tidak bermaksud menyentuh hati Srintil. Namun ketidak-sengajaan mereka tak urung mengusik kelenjar air mata ronggeng Dukuh Paruk itu. Srintil bangkit, dan mengusap mata.
Perempuan pedagang lontong menoleh karena mendengar derit pelupuh bambu.
"Oh, sudah bangun, Jenganten? E, lha sampean menangis?"
"Tidak, Yu. Tidak."
"Jenganten ini bagaimana? jelas sekali sampean menangis. Sakit? Atau sebenarnya apa..."
"Tidak, Yu. Beri aku minum lagi," potong Srintil.
Penjual lontong tertegun. Ditatapnya Srintil yang sibuk mengusap air mata di pipi dan di kedua lubang hidungnya. Lalu sadar bahwa Srintil bukan kanak-kanak lagi, karenanya dia layak mempunyai wilayah pribadi yang tak usah diketahui orang lain.
"Anu, Jenganten, makan ya?"
"Aku tidak lapar, Yu."
"Ah jangan berdusta di hadapanku. Aku ini seorang ibu yang sudah cukup usia, jadi aku bisa membaca tanda-tanda orang yang lapar. Bibir sampeankehilangan cahayanya. Lekuk di pangkal leher sampean sangat kentara. Dan ketika tidur tadi perut sampean masuk ke rongga dada. Maka sekarang makanlah. Bila
tidak nanti tubuh sampean bisa rusak. Sayang, bukan?"
Srintil bukan tidak lapar. Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. Masalahnya dia hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. Namun ketika sepiring nasi lontong dengan kuah panas siap di hadapannya Srintil mengalah. Hidangan itu dihabiskannya dalam waktu singkat. Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah serta pedasnya sambal cabai. Keringat serta air matanya kembali menitik. Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
"Nah, benar kataku, bukan? Nasi lontong ini bisa membuat sampean lejar. Tambah, ya?"
"Terima kasih, Yu. Aku sudah kenyang."
Srintil meninggalkan pasar Dawuan ketika orang-orang di sana masih asyik menikmati kecapi Wirsiter. Banyak orang menoleh kepadanya tetapi tanpa komentar. Namun dalam hati mereka mencatat; baru sekali inilah mereka melihat Srintil begitu lesu dan murung.
Baru beberapa langkah di luar pasar Srintil berhenti. Rasa bimbang menghentikan langkah-langkahnya. Perilakunya yang serba canggung menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Seorang di antara mereka mendekati Srintil dari arah belakang. Laki-laki berkaus putih dan bercelana hijau tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. "Aku memang ronggeng, maka tangan laki-laki boleh hinggap di mana saja pada tubuhku. Tetapi kini hatiku bukan lagi ronggeng. Bukan!"
Sayang. Teriakan keras Srintil hanya bergema dalam hati sendiri. Kopral Pujo yang berdiri satu jengkal di hadapannya tidak mendengar teriakan itu. Namun setidaknya dia sadar kemarahan Srintil akibat kelancangan tangannya bukan berpura-pura.
"Kira-kira dua jam yang lain Nyai Kartareja datang ke markasku mencari kamu. Wah! Seorang ronggeng dicari di sebuah markas tentara. Lucu, ya?" kata Kopral Pujo sambil cengar-cengir untuk menutupi penyesalannya.
"Kamu sudah bertemu Nyai Kartareja?" sambungnya.
"Belum," jawab Srintil tak acuh.
"Kamu disangkanya pergi bersama Rasus."
"Oh?"
"Begitulah. Padahal sudah tiga hari ini Rasus tidak ada di markas. Bersama Sersan Slamet, Rasus pergi ke markas batalyon."
"Oh? Jadi Rasus tidak ada lagi di sini?"
Kopral Pujo tidak mcnangkap perubahan mendadak pada wajah Srintil.
"Dia anak yang beruntung. Bila pulang nanti Rasus benar-benar sudah jadi tentara. Punya pangkat, punya gaji. Wah, pokoknya seperti aku ini."
Srintil diam menunduk. Dan mengapa Kopral Pujo tidak mengerti bahwa sedang terjadi galau yang seru dalam hati perempuan muda di hadapannya? Ketumpulan perasaannya menyebabkan Kopral Pujo juga tidak berprasangka apa pun ketika Srintil bertanya,
"Kapankah kira-kira Rasus pulang?"
"Mana aku tahu. Tetapi kira-kira lama. Yang aku tahu, seorang seperti Rasus harus menempuh pendidikan sebelum resmi diberi pangkat. Di mana dia akan dididik, entahlah. Aku baru tahu kalau Sersan Slamet kembali ke markas."
"Ya." ujar Srintil lirih.
Kini Kopral Pujo mengerti perubahan pada diri Srintil; matanya yang berkaca-kaca, sinar wajahnya yang memudar dan napasnya yang terengah-engah. Kopral itu mengerutkan kening.
"Nanti dulu, Wong Dukuh Paruk! Aku jadi tidak mengerti. Adakah sesuatu antara dirimu dengan..."
"Tidak, Pak. Tidak!"
Srintil memutar badan lalu berjalan cepat meninggalkan Kopral Pujo yang kemudian berdiri termangu, kemudian tersenyum sendiri sambil mengangguk-angguk. Dan, "Hm?" Tentang Rasus dan Srintil, Kopral Pujo hanya tahu keduanya berasal dari Dukuh Paruk. Selama dalam pergaulan di markas, Rasus tak pernah bercerita tentang ronggeng itu, apalagi tentang hubungan khusus di antara keduanya.
Entah dorongan apa yang menyebabkan Srintil kembali memasuki pasar Dawuan. Duduk di sebuah lincak kosong Srintil memanggil Wirsiter dan istrinya dan meminta mereka menggelar musik. Selesai satu babak Srintil meminta penjaja musik kecapi itu menyambungnya. Dan seterusnya, tanpa menghiraukan berapa banyak uang yang harus dikeluarkannya.
Hingga matahari hampir terbenam pasar Dawuan masih berhiaskan suara kecapi Wirsiter dan tembang yang dinyanyikan oleh Ciplak. Srintil menampilkan kegembiraan yang aneh. Terkadang Srintil tersenyum sambil pacak gulu, tetapi senyumnya aneh. Terkadang ia ikut berduet dengan Ciplak, tetapi suaranya
parau, tidak polos. Semuanya memberi kesan perilaku Srintil bertentangan dengan apa yang sedang dirasakan dalam hatinya.
Lalu apa pula yang menyebabkan Srintil demikian marah ketika Ciplak minta berhenti bertembang.
"Kami sudah lelah, Jenganten," kata Ciplak.
"Sudah dua puluh babak."
"Ya, istriku benar. Lagi pula hari sudah hampir gelap," tambah Wirsiter. Srintil mengerutkan kening hingga kedua pangkal alisnya hampir bertemu. Matanya bersinar-sinar.
"Sudah dua puluh babak; jadi sampean berdua takut aku takkan membayar semuanya. Begitu?" ujar Srintil tajam.
"Ah, jangan salah mengerti, Jenganten," kata Wirsiter merendah. "Hari sudah sandikala!"
Dengan tekanan kata pada "sandikala" Wirsiter bermaksud mengingatkan Srintil akan hari yang sedang memasuki saat-saat paling peka. Senjakala: saat keimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam, karena sedang berlangsung perubahan intensitas sinar kosmik yang jatuh ke bumi. Wirsiter takkan pernah berkata demikian. Dalam hidupnya hanya ada salah satu ketentuan bahwa orang harus beristirahat di kala hari senja ketika Bathara Kala turun mencari mangsa. Bathara Kala harus dihormat dan dipuja; satu hal yang tak bisa ditawar-tawar bagi Wirsiter dan istrinya. Menyimpang dari tertib itu hanya berarti menyediakan diri menjadi umpan Sang Waktu.
Srintil dapat memahami kata-kata Wirsiter; senjakala adalah saat semua orang mengundurkan diri dari keseharian untuk memenuhi selera alam. Namun tak urung kemarahan masih tergambar jelas di wajahnya.
Barangkali kemarahan Srintil akan berkepanjangan kalau tidak dilihatnya seorang nenek berjalan terbungkuk-bungkuk mendekatinya. Suaranya terputus-putus karena napas yang terengah-engah sehabis jauh berjalan.
"Cucuku, Wong Ayu, kau di sini?" suara Nyai Sakarya langsung menyiram hati Srintil yang sedang panas.
Suara itu adalah suara paling akrab yang dikenal Srintil sejak masa kanak-kanak. Suara ibu tak pernah didengarnya karena Srintil jadi yatim-piatu sejak bayi. Mata Nyai Sakarya yang sudah begitu redup karena usia masih mampu memberi daya kepada Srintil yang kemudian bangkit perlahan-lahan. Sentuhan telapak
tangan renta yang jatuh di pundaknya terasa sejuk di hati Srintil. Dia berjalan menunduk ke luar pasar Dawuan dalam rangkulan neneknya, menggigit bibir, dan matanya kembali berkaca-kaca.
Seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk berjalan merangkul cucunya. Nyai Sakarya maupun Srintil membisu. Namun dalam hati masing-masing sudah tumbuh kesepakatan; mereka berdua hendak pulang ke Dukuh Paruk. Pedukuhan kecil yang terasing di tengah sawah itu adalah ibu mereka. Haribaan dan
pelukannya teduh dan mesra.
Mereka berhenti di sebuah angkruk di luar Dawuan sambil menanti saat senjakala lewat. Dalam kegelapan yang mulai membayang keduanya tetap bungkam. Nyai Sakarya sudah tahu mengapa cucunya melarikan diri dan Srintil sudah tahu pula mengapa Nenek mencarinya. Kemudian keduanya melayangkan ingatan masing-masing kepada dua hal yang berbeda. Nyai Sakarya teringat akan orang tua Srintil - anaknya sendiri - yang kedua-duanya meninggal dalam malapetaka racun bongkrek ketika Srintil baru berusia lima bulan. Duka cita masa lalu yang tak mungkin terlupakan kini menjelma menjadi rasa sayang yang amat
sangat terhadap cucunya.
Sementara Srintil yang tidak tahu-menahu soal malapetaka tempe bongkrek itu hanya teringat akan Rasus. Dan Rasus kini menjadi sebuah teka-teki yang menyakitkan setiap kali bayangannya muncul di hati Srintil. Anak Dukuh Paruk itu entah di mana sekarang. Srintil merasa ditinggalkannya dengan cara yang paling tidak berperasaan.
Perjalanan ke Dukuh Paruk diteruskan ketika bintang-bintang mulai terang. Lepas dari jalan besar Srintil dan neneknya menapak pematang yang lurus menuju Dukuh Paruk. Gerumbul kecil itu meremang di kejauhan. Kiri-kanan pematang adalah hamparan sawah yang sangat luas dan kini ditanami berbagai palawija. Burung bence yang selalu berteriak-teriak bila ada manusia berjalan dalam gelap terbang hanya beberapa depa di atas kepala cucu dan nenek itu. Suaranya berisik, seakan-akan seluruh malam adalah
miliknya yang sedang diusik.
Agak jauh di depan sepasang sinar kebiruan bergerak menyeberang pematang diikuti oleh dua pasang lainnya. Srintil merapat ke tubuh neneknya.
"Belacan yang mengiringkan anak-anaknya." kata Nyai Sakarya yang mengerti akan ulah Srintil. Namun Srintil kembali merapat ke tubuh neneknya ketika terdengar kegaduhan tak jauh di sampingnya. Sesaat kemudian samar-samar terlihat seekor unggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya. Burung hantu telah mendapat mangsa pertama di awal malam. Dia terbang megah sementara jerit tikus mangsanya terdengar makin jauh makin sayup.
Malam telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang-beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik
lamanya dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kceil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar