Minggu, 07 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 8

"AGEN 007"



Dengan kuping masih terasa kembang-kempis, kami terbirit-birit berganti pakaian shalat dan berlari ke masjid jami. Di masjid kami yang gagah ini setiap sore berhimpun 3 ribu pelajar untuk menyambut datangnya azan Maghrib. Udara diliputi dengungan yang tidak habis-habisnya ketika 3000 mulut sibuk membaca. Memang kegiatan yang boleh kami lakukan di masjid ini hanya dua, yaitu membaca buku 
pelajaran dan membaca Al-Quran. 

Setelah lelah beraktifitas sejak jam 4.30 subuh, mempertahankan kepala tetap tegak dan mata tetap terbuka sungguh sebuah perjuangan maha berat. Apalagi, masjid kami 
punya langit-langit tinggi sehingga sirkulasi udaranya sangat baik dan senantiasa berhawa sejuk. Dengungan suara ribuan orang mendaras Al-Quran malah menjadi seperti dendang pengantar tidur yang mujarab. 

Beberapa kepala mulai terlihat doyong, terangguk-angguk, Di sebelahku Said tampak benar-benar dalam kondisi yang sangat nestapa. Dimulai dengan ayunan ringan kepalanya ke arah depan, lalu ayunannya semakin berat sampai lehernya layu dan dagunya menyentuh dada. 

Aku menyikutnya beberapa kali. Setiap kali dia terlonjak kaget dan buru-buru meneruskan membaca Al-Quran yang dipegangnya. Apa boleh buat, baru dua baris yang terbaca, 
kepala kembali jadi ayunan. Bosan dengan upaya yang gagal, aku menyerah dan membiarkan Said berayun-ayun terus. Tiba-tiba saja, badan Said yang besar rebah ke samping 
kirinya dengan bunyi gedebuk. Said yang segera terbangun kaget sekali menemukan dirinya dalam posisi setengah tidur. 

Tapi dalam hitungan kejapan mata, laksana bola karet raksasa, dia melenting bangun ke posisi duduk lagi. Mukanya digelengkan-gelengkan, tangan menyeka ujung mulut yang 
basah oleh iler. Beberapa teman yang menjadi saksi mata rubuhnya sang Said tertawa cekikikan. Sementara orang yang hampir diserempet Said bersunggut-sungut sambil mendelik. Said menyembah-nyembah minta maaf. 

Untunglah, di masjid kami ada “razia ngantuk” untuk mencegah wabah tidur massal ribuan kepala. Kakak-kakak kelas kami dari Bagian Pengajaran mengadakan inspeksi dari saf ke saf memastikan tidak ada yang mencuri waktu tidur sebelum Maghrib. 

“Qum… -ya akhi, qum… Bangun… ayo… bangun!” seorang bagian pengajaran berdiri di depan anak yang tertidur tidak jauh dari aku. Ujung sajadahnya yang berumbai-rumbai digerakkan untuk menggelitik hidung yang mengantuk sampai mereka bangun. 

Shalat Maghrib di masjid jami’ dihadiri seluruh penduduk sekolah. Karena hampir semua orang hadir—kecuali yang sakit atau pura-pura sakit—waktu seperempat jam setelah shalat 
dimanfaatkan untuk memberikan maklumat penting bagi semua warga. Kismul I’lam, bagian yang khusus mengurusi pengumuman tampil di depan jamaah. Ditemani secarik kertas dan kepercayaan diri, mereka membacakan pengumuman dengan teratur dan suara bening. Bahasa yang dipakai untuk 
pengumuman berganti-ganti setiap minggu, Arab atau Inggris. Di PM memang bahasa resmi pergaulan setiap minggu diganti antara dua bahasa ini. Sementara itu kalau pengumuman bersifat umum dan berlaku buat kelas satu, pengumuman dibacakan dalam bahasa Indonesia. 

Isi pengumuman ini sungguh gado-gado. Mulai pengumuman undangan pertemuan para anggota band, aktor, pesilat, para kali-grafer, pertemuan wali kelas, perubahan jadwal kelas, pemenang lomba majalah dinding minggu ini, 
permintaan doa buat keluarga PM yang sakit mulai dari Sorong sampai Aceh, hingga doa buat alumni yang meninggal. Namun dari semua itu, maklumat yang paling ditunggu oleh semua orang sebenarnya hanya ada dua. 

Pertama, ditunggu dengan penuh harap adalah daftar penerima wesel dan paket hari ini. Banyak yang berdoa khusyuk setelah Maghrib agar hari ini dia menjadi orang terpilih menerima wesel. Tapi sayang, tentu tidak semua yang berdoa mendapatkannya. 

“Ayyuha thalabah. Para siswa semua. Penerima wesel hari ini harap segera datang ke bagian sekretariat. Nama-namanya adalah…,” ucap Kak Sofyan memulai kabar gembira. Semua orang memasang kuping baik-baik. Tiba-tiba Said mengangkat tangan dengan gembira, menggumamkan alhamdulillah dan 
berteriak yes, sambil tangannya ditarik ke bawah, layaknya striker habis mencetak gol tunggal di injury time. Doanya dikabulkan Tuhan yang Maha Pemurah. Kali ini Said yang 
menjadi orang beruntung mendapat wesel. 

Kedua, berita yang juga ditunggu tapi dengan penuh kekhawatiran adalah pengumuman siapa saja yang harus menghadap ke mahkamah keamanan, pendidikan dan bahasa 
untuk diadili dan mendapat hukuman sesuai kesalahannya. Hampir pasti, yang dipanggil adalah pesakitan yang bersalah. 

Setelah berhenti sebentar, Kak Sofyan menyebutkan judul pengumuman kali ini, “Panggilan ke Mahkamah Keamanan Pusat”. Masjid yang agak riuh sontak diam membisu. 

“Nama-nama ini diharap segera menghadap ke bagian keamanan segera…” Suaranya empuk, ironis sekali dengan isi pengumumannya.

“Dari kelas satu, namanya adalah: Alif Fikri, Said Jufri, Dulmajid, Raja Lubis, Baso Salahuddin dan Atang Yunus.” 

Tanganku dingin. Semua darahku rasanya terisap ke jantung. Rupanya azab kemalangan kami tidak berakhir di urusan putar memutar daun telinga satu jam yang lalu. Kami juga dipanggil ke mahkamah keamanan untuk diadili atas kesalahan terlambat 5 menit. Said yang dari tadi menebar senyum ke kiri dan ke kanan akibat eforia menerima wesel, bingung mengubah mimik muka. Dari senang menjadi kalut. Matanya yang besar berputar-putar, kening berkerenyit, senyumnya mampat. 

“Masya Allah, padahal aku tadi hanya berdoa dapat wesel,” bisik Said ke telingaku. Kumis suburnya bergetar. Sebuah sejarah baru telah kami torehkan. Kami berenam adalah anak baru yang pertama mendapat kehormatan 
menjadi pesakitan di mahkamah keamanan pusat. Bagi yang dipanggil ke mahkamah, tidak ada pilihan lain kecuali hadir. Tidak bisa sembunyi, lari, mangkir, atau beralasan sakit. 
Akhirnya, dengan membaca Alfatihah dan Ayat Kursi, kami menguatkan diri dan berduyun-duyun menuju ruang pengadilan angker ini. 

“Katanya, ini kantor yang paling disegani, atau mungkin ditakuti,” bisik Raja ketika kami beringsut-ingsut di depan kantor dengan papan nama, “Kantor Kemanan Pusat”. Dengan takut-takut, kami melongok ke dalam ruangan yang cukup besar ini. Beberapa orang tampak duduk di dalam. Wajah mereka senantiasa siaga, serius, dipenuhi aura otoritas dan disiplin. Tampang, postur dan pakaian mereka berbeda-beda, tapi mereka punya kesamaan: semua punya kumis ijuk melintang yang subur.

Di dinding tergantung peta pondok, jadwal piket, dan lima senter besar. Di luar ruangan, terparkir rapi tujuh sepeda onthel, berwarna hitam mengkilat, lengkap dengan lampu besar 
dan emblem kuning bertuliskan “Kismul Amni-Security Department,” persis seperti yang dipakai Tyson tadi. Mungkin para penunggangnya merasa naik kuda layaknya sherif di film koboi. Mungkin karena itulah para kakak kelas kami menggelari mereka “the magnificent seven”, julukan buat tujuh jagoan pembela keamanan di film koboi yang pernah 
aku tonton di acara Film Akhir Pekan TVRI.

Kantor keamanan pusat bisa dianggap seperti Mabes Polri, sekaligus ruang pengadilan versi PM. Dari sini berhimpun segala macam telik sandi dan penegakan hukum. Selama 24 jam setiap hari, mereka inilah yang menjaga kedisiplinan dan menegakkan aturan di PM. 

Menyambut kami, berdiri tegak di depan pintu, adalah Tyson sendiri. Kami digiring duduk ke kursi mahkamah yang berjejer di depan meja besar. Di seberang meja dua kakak bagian keamanan lainnya memandang kami dingin sambil melinting kumis. 

“Akhi. Kalian berenam, coba dengar. Awal dari kekacauan hukum adalah ketika orang meremehkan aturan dan tidak adanya penegakan hukum. Di sini lain. Semua kesalahan pasti langsung dibayar dengan hukuman. Sebagai murid baru, kalian harus mencamkan prinsip ini ke dalam hati. Karena itu, setelah mempertimbangkan kesalahan kalian, mahkamah ini akan menambah hukuman supaya kalian jera,” kata Tyson 
dengan suara serius. 

Dia berhenti. Sejenak menyelinap hening yang tidak nyaman. Lalu dia meneruskan “Tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan,” kali ini suaranya dibikin rendah tapi mengancam. Tiga pasang mata hakim ini mengurung kami. 

Bulu kudukku merinding. Aku tak pernah membayangkan pilihan pemberontakanku untuk merantau jauh ke Jawa, akan dilengkapi dengan pengadilan kebenaran oleh orang-orang seram berkumis melintang ini. Dulmajid mengkerutkan badan dan menunduk sedalam-dalamnya, kepalanya hampir menyentuh dengkulnya. Atang berkali-kali memperbaiki 
kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja. Baso tampak merasa paling bersalah. Dia duduk pasrah dengan muka pucat. Raja yang bersuara vokal kali ini hanya mampu berbisik 
lirih. Hanya Said yang mencoba terlihat gagah dan tabah menerima keadaan ini. Sayang, kumisnya kali ini tampak layu, kalah wibawa dengan kumis para kakak keamanan. Kepala 
kami menunduk dalam, posisi duduk semakin berdempet-dempetan. Mata aku picingkan, siap menerima yang terburuk.

“Kalian kami angkat sebagai jasus. Mata-mata,” kata Tyson mengguntur. Tangannya cepat bergerak membagikan kepada setiap orang dua kertas berukuran dua kali KTP. Aku 
menerimanya dengan tangan gemetar dan basah. 

“Dengarkan instruksi ana baik-baik. Saya tidak akan mengulangi, hanya sekali saja. Kertas yang kalian pegang itu sangat menentukan masa depan PM. Di tangan kalianlah penegakan dan kepastian hukum PM terletak,” katanya menekan suaranya di setiap kata. 

Aku membatin, apa-apaan ini, kami orang pesakitan yang telah melanggar aturan, kok malah disebut memegang masa depan kepastian hukum PM. 

“Kewajiban kalian adalah mengisi nama, kelas dan pelanggaran qanun yang dilakukan oleh siapa saja yang ada di pondok ini dalam 24 jam ke depan. Setiap orang harus menemukan dua orang pelanggar. Kalau kalian tidak berhasil menemukan dalam 24 jam, maka kalian akan mendapat hukuman tambahan. Fahimta? Mengerti?” kata Tyson sambil 
mengedarkan pandangan. 

Hening. Kami tidak ada yang bersuara. Aku lirik kawan-ka-wanku, wajah mereka masih terbenam, tapi juga bimbang. Aku memberanikan bertanya. 

“Kak, tapi kalau semua orang patuh dan tidak ada yang melanggar?” kataku setengah berbisik, takut-takut. 

Dia menyeringai, kumis ijuknya yang subur menyembul-nyembul. 

“Akhi, itulah tantangan kalian yang terberat dan tapi juga termulia. Memastikan sekolah kita disiplin dengan zero tolerance, tidak ada toleransi,” katanya datar.

“Kalau tidak berhasil, besok, jam 7 malam tepat kalian harus kembali ke sini. Ana akan kasih tambahan dua tiket jasus lagi,” katanya dingin menutup mahkamah yang aneh ini. 

Jasus adalah bahasa Arab yang berarti mata-mata. Spion. Seperti Roger Moore, Agent 007, yang menyaru dan diam-diam menyelusup ke sarang musuh untuk mengumpulkan informasi rahasia. Entah bagaimana caranya, PM dengan cerdik menemukan sebuah metode unik yang mengawinkan dua metode yang terpisah jauh: kepiawaian spionase Roger 
Moore dan disiplin pondok. Tujuannya untuk menegakkan hukum dan disiplin. 

Selain mirip Roger Moore, jasus juga mirip drakula. Bayangkan, kerja jasus adalah bergentayangan mencari buruan siang malam. Korban yang digigit drakula akan menjelma menjadi drakula juga. Pelanggar yang dicatat dan dilaporkan oleh jasus besoknya diadili dan dihukum menjadi jasus juga. Seperti yang digariskan qanunt potensi pelanggaran di pondok itu banyak. Mulai dari yang kecil-kecil 
seperti buang sampah sembarangan, makan dan minum sambil berdiri, tidak memakai ikat pinggang, tidur di waktu jam jaga malam atau jaga siang, pakai celana pendek, tidak pakai kopiah ke masjid, tidak pakai kemeja ke kelas, memakai sarung ke kelas, atau memakai celana panjang ke masjid, mulai remeh temeh sampai yang kelas berat seperti mencuri dan berkelahi. 

Makanya, di tengah kesibukan di PM, kami selalu dituntut terus waspada dengan apa pun yang kami lakukan yang mungkin melanggar qanun. Penetrasi pasukan jasus menjadi sangat luas dan dalam, karena bisa saja ada di antrian kamar mandi, kiftir, kelas, acara olahraga dan segala aspek kehidupan santri. Dinding, pintu, tanah, bahkan angin, bagai punya mata dan telinga. 

Kami tidak pernah tahu siapa yang sedang menjadi jasus di antara kita. Jasus bisa muncul dalam bentuk anak kelas satu yang berwajah innocent, sampai kelas enam yang berwajah boros. Untuk kali ini jasus muncul dalam bentuk 6 murid baru yang masih ingusan. 

Sebetulnya ada dua jenis jasus. Yang pertama adalah jasus untuk keamanan dan kedisiplinan umum. Inilah posisi tertinggi dalam dunia per-jasus-an. Itulah yang baru saja kami jabat, 
menjadi jasus keamanan pusat. Misi kami adalah mencatat pelanggaran disiplin di semua sudut PM dan kami laporkan segera ke kantor keamanan pusat. Penyerahan kartu yang sudah diisi adalah kunci kami untuk merebut kembali kemerdekaan kami sebagai warga bebas. Posisi yang agak rendah adalah jasus keamanan asrama, yang daya selusupnya hanya untuk kawasan asrama tertentu saja.

Dan yang kedua adalah jasus bahasa. Gunanya memastikan tidak ada satu pun dari 3000 orang murid mengeluarkan kata-kata dari mulutnya selain bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Indonesia dan daerah haram hukumnya. Karena itu dibutuhkan bantuan pasukan jasus bahasa untuk beredar di 
setiap sudut PM, “mengupingi” setiap perkataan yang tidak sesuai aturan. 

Lantas bagaimana mencatat nama pelanggar? Tidak sulit, karena semua orang di PM harus selalu memakai papan nama di sebelah kiri atas bajunya. Papan nama ini punya warna 
berbeda sesuai dengan kelasnya. Kelas satu ungu, kelas tiga merah dan sebagainya. Jadi siapa pun di mana pun selalu waspada karena nama dan kelasnya telah terindentifikasi. 
Bagaimana kalau tanpa papan nama? Itu juga berita baik bagi jasus, karena melenggang tanpa papan nama adalah pelanggaran dan layak untuk dilaporkan ke keamanan. Proses 
ini terus berlangsung sepanjang waktu, 24 jam, 365 hari dalam setahun, sehingga lama kelamaan pelanggaran menurun drastis. 

Aku sempat bimbang. Kenapa orang diajar untuk menjadi whistle blower, orang yang mencari kesalahan orang lain dan kemudian melaporkan kepada pihak yang berwajib? Ini kan bisa menjadi fitnah. Apakah ini akhlakul karimah yang diajarkan agama? Hal ini aku tanyakan kepada Ustad Salman. 

“Akhi, sekarang semakin banyak orang menjadi tak acuh terhadap kebobrokan yang terjadi di sekitar mereka. Metode jasus adalah membangkitkan semangat untuk aware dengan ketidakberesan di masyarakat. Penyimpangan harus diluruskan. Itulah inti dari kullil haqqa walau kaana murran. Katakanlah kebenaran walau itu pahit. Ini self correction, 
untuk membuat efek jera. Dan yang paling penting, memastikan semua warga PM sadar sesadar-sadarnya, bahwa jangan pernah meremehkan aturan yang sudah dibuat. Sekecil apa pun, itulah aturan dan aturan ada untuk ditaati,” jelas wali kelas kami panjang lebar kepada seisi kelas. 

Sejak keluar dari kantor mahkamah malam itu, kami berenam mengemban sebuah misi rahasia sebagai anggota “pasukan elit jasus keamanan pusat”. 

“Wah ini dia, hati-hati semua, mungkin mereka ini sekarang telah jadi jasus,” begitu olok-olok kawan di asrama menyambut kami. Nama kami memang langsung terkenal sebagai pemecah rekor anak baru yang dipanggil mahkamah keamanan pusat. Kami hanya tersenyum masam. 

Tapi yang paling mengherankan aku adalah Said. Di saat kami semua merasa stres dengan jabatan jasus ini, dia malah dengan senang hati menerima hukuman seakan-akan ini 
sebuah kado ulang tahun. Anak keturunan Arab ini memang melihat segala sesuatu dari sisi putihnya, sisi positifnya, dan dengan gampang melupakan sisi buruknya. 

“Alah cuma gini aja kok bingung. Daripada masdhuk, coba kalian lihat ini sebagai permainan. Bayangkan kayak permainan petak umpet. Cuma wilayah pencariannya berhektar-hektar dan waktu bermainnya 24 jam. Asyik, kan? Kapan lagi kita bisa main petak umpet sehebat ini,” katanya dengan serius. 

Baso paling meradang mendengar Said. “Bagaimana mungkin permainan. Ini hukuman kawan. Jangan kau balikkan. Hukuman adalah untuk menebus kesalahan, bukan untuk dinikmati. Cara berpikirmu aneh sekali.” Baso geleng-geleng kepala tidak mengerti. Said hanya tersenyum lucu. Kami yang lain tidak peduli karena sibuk dengan perburuan masing-masing.

Ketika kami dengan muka tertekuk mencari pelanggaran aturan, Said dengan penuh semangat dan bersiul-siul berkeliling pondok. Ketika kami stres tidak mendapatkan orang 
setelah makan siang. Dia malah semakin penasaran dan termotivasi untuk dapat korban. Ketika kami bersyukur setelah mendapatkan pelanggar, Said malah ingin mendapatkan kartu tambahan, supaya dia bisa lebih banyak menjaring orang bersalah. Aku tidak mengerti ini gejala sakit jiwa atau sebuah mental positif dan mental pembela kebenaran dan penekan 
kemungkaran sejati. 

Yang jelas, sesuai aturannya, kami telah bertekad sebelum Magrib besok, kami sudah menunaikan misi ini dan siap bahu* membahu menjelajahi PM untuk mencari pelanggar aturan hari ini. 

Bagai kawanan singa yang berburu mangsa di gurun Afrika, malam itu kami langsung beroperasi secara berkelompok, berkeliling dari asrama ke asrama. Tapi akhirnya kami sadar 
bahwa berburu secara berkelompok itu tidak efisien. Karena setiap orang harus menemukan orang yang berbeda. Kami lalu sepakat untuk berpisah dan menjalankan misi sendiri-sendiri. 

Sebelum tidur kami bertemu di depan kamar. 
“Alhamdulillah, syukurlah kawan, aku akhirnya dapat juga tadi. Coba kalau tidak, bisa kebawa mimpi malam ini,” kata Raja dengan muka sumringah. Dulmajid juga sukses. Muka 
Maduranya yang gelap, tampak lebih terang dari biasa karena berhasil mengisi dua kartunya. 

Aku sendiri belum beruntung. Sampai esok harinya jam makan siang, kartu jasusku masih kosong. Aku mulai cemas! Semua orang tampaknya hari ini berkonspirasi untuk 
berkelakuan baik sehingga tidak ada pelanggaran yang berhasil aku temukan. Semakin mendekat waktu Maghrib, aku semakin resah dan tertekan. Tapi aku juga tidak sudi untuk menyerah kepada nasib, dan datang sebagai orang kalah ke depan Tyson, dan diganjar dengan 2 kartu tambahan. Betapa hinanya. 

Tadi pagi aku masih merasa cukup tenang, karena di antara kami berenam masih ada 2 orang yang belum berhasil menunaikan tugas jasusnya. Yaitu Dulmajid dan Raja. Tapi ketika kami keluar kelas, keduanya tersenyum-senyum senang karena berhasil memergoki anak-anak kelas sebelah yang telat masuk. 

Apa boleh buat. Tinggallah aku sendiri ditemani dua kartuku. Bukannya aku tidak usaha. Tadi pagi aku sampai tidak mandi, hanya untuk berkeliling dari satu kamar mandi ke kamar mandi lain, untuk melihat kalau ada yang memotong antrian atau sekadar buru-buru sehingga lupa memasang papan nama. Nihil. Aku juga bergerak ke dapur umum untuk 
melihat orang yang tidak sengaja makan dan minum berdiri. Heran, semuanya patuh.

Aku semakin panik, azan Ashar berkumandang tapi kartuku masih kosong. Aku hanya punya waktu 3 jam sebelum tenggat waktu penyerahan ke Tyson. Kawan-kawanku ikut prihatin. Said dan Raja bahkan dengan gagah berani menyatakan siap membantu untuk menjadi asisten jasus. Tapi aku berpikir, 
tidak adil kalau mereka menjalankan bagian dari hukuman yang aku terima. Kesalahan pribadi harus dibayar sendiri-sendiri, Nafsi-nafsi. Nasihat Kiai Rais bertalu-talu terdengar di kepalaku, “Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju. I’timad ala nafsi, bergantung pada diri sendiri, jangan dengan orang lain. Cukuplah bantuan Tuhan yang 
menjadi anutanmu”. Ya aku tidak boleh tergantung kepada belas kasihan orang lain. Aku menolak bantuan mereka dengan halus.

Maka selesai shalat Ashar berjamaah, aku tepekur lebih lama dan memanjatkan doa sebagai seorang jasus yang “teraniaya” karena belum dapat menemukan pelanggar aturan. Aku dengan khusyuk memohon Allah memudahkan misi ini sehingga kehidupanku kembali tenang dan damai. 

“Man jadda wajada,” teriakku pada diri sendiri. Sepotong syair Arab yang diajarkan di hari pertama masuk kelas membakar tekadku. Siapa yang bersungguh-sungguh akan 
sukses. Dan sore ini, dalam 3 jam ini, aku bertekad akan bersungguh sungguh menjadi jasus. Aku percaya Tuhan dan alam-Nya akan membantuku, karena imbalan kesungguhan 
hanyalah kesuksesan. Bismillah. 

Sebagai bentuk dari kesungguhan ini, aku gambar sebuah rute pencarian yang detail di buku tulis dan aku hitung waktu yang dihabiskan, sehingga jadwalnya cocok dengan 3 jam yang tersisa. Putaran pertamaku adalah lapangan olahraga, lalu perpustakaan, dan yang terakhir adalah antri mandi sore di 3 asrama berbeda. Aku mencoba menghitung kemungkinan terbesar karena di tiga tempat inilah terjadi akumulasi massa di sore hari. Apalagi yang aku butuhkan hanya 2 kesalahan saja. Sebenarnya aku cemas dengan prospek 3 jam ke depan. Tapi, belajar dari Said, aku memilih optimis saja. 

Rumus man jadda wajada terbukti mujarab. 
Kesungguhanku segera dibalas kontan. Dalam tempo hanya satu jam saja, ajaib kedua kartuku terisi. Aku memergoki seorang anak W»3 memotong antri diam-diam di kamar mandi umum. Sementara dilapangan basket, seorang kawan makan dan minum sambil W? diri. Aturan di PM, makan dan minum harus sambil duduk. 

Yes, terima kasih Allah, kataku sambil mengepalkan tangan ke udara. Dan dengan dada membusung aku berjalan ke kantor keamanan pusat untuk menyerahkan hasil misiku dan merebut kemerdekaanku kembali.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...