Episode 12
Ketika gadis-gadis lain sudah berkenalan dengan permainan buatan pabrik, perawan-
perawan kecil Dukuh Paruk tetap akrab dengan ilo-ilo gontho, puput. Mereka tahu suara yang terbaik dihasilkan oleh batang padi wulung. Mereka juga tahu bila menginginkan suara yang lebih nyaring maka puput harus direndam sebentar di dalam air. Dan bila ditiup menentang arus angin, suara puput jadi muncul tenggelam seperti bulan hilang-tampak di balik awan.
Seorang lelaki sedang berdiri di bawah pohon di pinggir jalan yang menuju pasar Dawuan. Dari sana dia dapat melihat dengan jelas sosok Dukuh Paruk. Dia juga dapat mendengar suara puput yang sampai ke telinganya bersama kicau burung branjangan dan ciplak. Branjangan berhenti pada titik yang tetap di angkasa, dan kicaunya adalah tiruan yang sempurna suara segala jenis burung yang dinyanyikannya berganti-ganti. Dia bisa berjam-jam tetap di langit sambil terus ngoceh. Hanya bahaya alap-alap yang mampu mengusik branjangan dari tempatnya. Sementara ciplak terbang berputar-putar dan berkicau hanya karena ingin menarik perhatian betinanya. Dia akan menukik tajam bila betinanya sudah memberi tahu di mana dia berada.
Tidak jelas apakah lelaki yang sedang berdiri di bawah pohon itu menaruh minat terhadap alunan suara puput yang ditiup oleh seorang gadis kecil di Dukuh Paruk? Atau, apakah dia terkesan oleh kemeriahan angkasa di atas hamparan padi menguning? Yang pasti Marsusi tak henti-hentinya memperhatikan titik singgung pematang panjang dengan tepian Dukuh Paruk. Dia sedang menanti Srintil keluar untuk pergi melapor ke Dawuan. Dan keberadaan Marsusi di bawah pohon itu adalah bagian dari keputusan yang telah diambilnya melalui pergulatan jiwa yang seru.
Marsusi sadar betul akan selera kenisbian sejarah kontemporer yang akan menuding
dengan keji lelaki mana saja yang bermaksud menjalin hubungan dengan seorang
perempuan bekas tahanan. Marsusi mengerti niat bermanis-manis dengan Srintil akan
mengundang risiko dari yang paling ringan berupa cibiran masyarakat sampai yang paling berat berupa goyahnya status sebagai orang penting dalam dinas perkebunan di Wanakeling. Soalnya, Marsusi sungguh rela dikatakan seperti perjaka tanggung yang merasa amat sulit melupakan anak Dukuh Paruk yang selalu berpacak gulu sambil
melirik dan tersenyum dalam angannya. Dan kenyataan bahwa dia kini seorang duda benar-benar membuat kenangan itu tumbuh subur.
Maka dua hari berselang Marsusi mengambil keputusan yang berani. Didatanginya petugas yang biasa mencatat pelaporan Srintil. Bukan di kantor melainkan di rumahnya. Pada dasarnya mereka sudah saling kenal karena keduanya sama-sama orang kantoran. Lagi pula siapa orangnya di Dawuan yang tidak mengenal Marsusi karena dia termasuk orang pertama yang mampu memiliki sepeda motor di wilayah kecamatan itu.
"Njanur gunung, Pak Marsusi, tumben sampean mau menyempatkan diri datang ke
rumahku," kata Darman, si petugas. "Mau menawarkan pohon-pohon karet tua yang
mau sampean tebang? Kalau demikian, percayalah, aku tidak punya uang."
"E, kalau sampean memang memerlukan kayu bakar, jangan khawatir. Besok akan saya kirim satu truk," jawab Marsusi penuh kesungguhan.
"Ah, tidak. Aku cuma berolok-olok."
"Namun aku tidak menganggap sampean berolok-olok. Besok akan saya kirim kayu
bakar satu truk dan gratis."
"Lho, aku cuma main-main."
"Terserah, tetapi aku bersungguh-sungguh."
"Wah, apa boleh buat."
"Nah, lebih baik begitu. Karena aku pun amat memerlukan bantuan sampean. Kalau tidak, mungkin aku tidak berada di sini sekarang."
"Begitu? Lalu apa kiranya yang bisa kuberikan kepada Pak Marsusi?"
Suasana yang cair dan akrab sudah lahir tanpa susah-payah. Tetapi Marsusi tidak segera menjawab pertanyaan Darman. Dikeluarkannya rokok untuk tuan rumah dan untuk dirinya sendiri. Asap segera mengepul seakan menjadi bukti bahwa suasana benar-benar sudah siap menjadi saksi pembicaraan antara kedua lelaki itu.
"Begini, Mas Darman. Aku memerlukan sedikit keterangan tentang Srintil," kata Marsusi
dengan suara rendah.
"Srintil?" tanya Darman. Kepalanya condong ke depan dan matanya membulat.
"Betul, Mas. Sampai kapankah kiranya Srintil dikenai wajib lapor?"
"Wah, nanti dulu. Mengapa sampean bertanya tentang Srintil?"
"Terus terang, ini berhubungan dengan keadaanku yang sudah menjadi duda."
"Ah, ya. Lalu mengapa Srintil?"
Kata-kata Darman putus dan berlanjut hanya di dalam hatinya; selagi semua orang bekerja keras menghapus jejak koneksitas dengan orang-orang yang terlibat peristiwa 1965, mengapa Marsusi berbuat sebaliknya?
"Mas Darman, sesungguhnya aku malu berterus terang. Tetapi bagaimana ya, aku
benar-benar tidak bisa melupakannya."
"Baik, Pak Marsusi. Asal sampean camkan, situasinya bisa berkembang demikian rupa
sehingga dapat menyulitkan diriku."
"Oh, aku sadar betul, Mas Darman. Akan kujaga sekuat tenaga agar segala akibat tindakanku, akulah yang menanggung, aku seorang. Sekarang katakan, kapan kiranya Srintil bebas dari kewajiban melapor."
"Biasanya sesudah lepas masa satu tahun. Saat ini Srintil baru melewati masa enam
bulan. Sampean mau mengawininya?"
"Sangat mungkin. Dan masa selama enam bulan ini aku bisa mengamati perkembangan.
Nah, Mas Darman, sekarang sampean sudah tahu. Maka harap maklum bila suatu ketika
sampean melihat aku melakukan pendekatan tertentu terhadap anak Dukuh Paruk itu."
"Ya. Namun ingat..."
"Oh, itu pasti. Akan kujaga nama dan martabat sampean sebaik-baiknya. Dalam satu segi aku tidak rela dikatakan sudah tua. Sungguh! Tetapi dalam hal menjaga rahasia orang, apalagi dia yang sudah bersedia membantuku, percayalah, aku memang sudah tua."
Maka, demikian. Dua hari kemudian Marsusi berdiri di bawah pohon di tepi jalan besar yang menuju pasar Dawuan. Marsusi mengambil sikap demikian rupa sehingga sekilas akan terlihat dia sedang menikmati harapan panen dari sawah yang demikian luas. Namun andaikan burung-burung branjangan mempunyai tingkat kesadaran seperti manusia maka mereka akan melihat Marsusi yang gelisah. Marsusi yang terlampau sering membuang puntung rokok yang masih panjang untuk diganti dengan yang baru. Dan Marsusi merasa telah berdiri satu tahun meski sebenarnya dia belum seperempat jam di sana.
AEpisode 13
Kemudian sebuah titik hitam yang bergerak di tepi Dukuh Paruk membuat Marsusi merasa lega. Titik itu berjalan sepanjang pematang ke arah jalan besar, makin dekat ke tempat Marsusi berdiri. Kian dekat sosok itu makin nyata, dia seorang perempuan. Dan bila ada seorang perempuan yang berkulit bersih keluar dari Dukuh Paruk maka dialah Srintil.
Marsusi kelihatan agak gelisah. Tetapi wajahnya terang dan senyumnya terlukis samar. Srintil muncul tanpa embel-embel seorang anak kecil. Hal ini tidak bisa terjadi apabila Nyai Kartareja tidak melakukan tugas yang diberikan Marsusi kepadanya. Belalang dan capung beterbangan di hadapan Srintil yang terus melangkah, dan setengah badannya
tenggelam dalam lautan padi. Burung ciplak berteriak-teriak dan terbang berputar-putar. Dia khawatir akan nasib betinanya yang sedang mengerami telur dalam sarangnya tak jauh dari pematang yang dilalui Srintil. Ada hahayaman terkejut lalu melesat menjauh. Namun dalam kegugupannya burung yang berwarna cokelat itu sempat membuang kotorannya sambil terbang.
Srintil dan Marsusi tinggal terpisah dalam jarak satu petak sawah. Sementara Marsusi sudah mengenal secara pasti siapa yang datang, Srintil belum memperhatikan secara saksama lelaki yang sedang berdiri di bawah pohon itu. Srintil baru dapat membaca suasana dengan jelas setelah langkahnya hampir mencapai jalan besar. Lalu tiba-tiba Srintil berhenti. Diperhatikannya dengan perasaan cemas Marsusi yang bergerak mendekat ke mulut pematang.
"Ah, kamu agak terlambat. Pak Darman sudah lama menunggu. Aku dimintanya menjemputmu agar cepat. Ayolah."
Srintil berdiri seperti tonggak di tengah hamparan padi kuning yang mengombak.
Mulutnya terbuka, kulit dahinya berkerut demi ketegangan jiwa yang mulai terasa.
Wajah Srintil kelihatan makin keruh ketika Marsusi maju lagi beberapa langkah sambil
melambaikan tangan.
"Ayolah, kamu sudah terlambat. Kamu kugonceng supaya cepat."
"Aku... aku akan berjalan sendiri, Pak," jawab Srintil terbata.
"Eh, jangan menolak perintah karena hal itu tidak baik bagimu. Apalagi bila nanti kamu sampai terlambat. Ayolah."
Adalah semua orang Dukuh Paruk termasuk Srintil; mereka tidak tahu apa-apa tentang
sistem atau jalinan birokrasi kekuasaan. Dalam wawasan mereka semua priayi adalah sama, yakni tangan kekuasaan. Setiap priyayi boleh datang atas nama kekuasaan tak peduli mereka adalah hansip, mantri pasar, opas kecamatan atau seorang pejabat dinas perkebunan negara seperti Marsusi. Dan ketika kekuasaan menjadi aspek yang paling dominan dalam kehidupan masyarakat, orang Dukuh Paruk seperti Srintil tidak mungkin mengerti perbedaan antara polisi, tentara atau pejabat perkebunan. Semuanya adalah tangan kekuasaan dan Srintil tidak mungkin bersikap lain kecuali tunduk dan pasrah. Apalagi dalam kata-kata Marsusi terselip nada ancaman. Maka Srintil perlahan-lahan dan gamang mulai bergerak. Sambil menatap kakinya yang basah
oleh sisa-sisa embun pagi di rumput pematang Srintil berjalan mengikuti Marsusi. Motor dihidupkan, kemudian Srintil mendapat tawaran yang amat ramah.
"Naiklah."
Srintil menarik napas panjang sebelum akhirnya dia mengalah terhadap tawaran
Marsusi. Duduknya tegar dan janggal karena Srintil tidak terbiasa membonceng sepeda
motor. Atau karena hatinya tetap tidak mau berdekatan dengan Marsusi.
Jarak dua kilometer sampai ke kantor instansi di mana Srintil harus melapor setiap dua minggu hanya ditempuh dalam beberapa menit. Namun Srintil merasa telah menempuh
masa berbulan-bulan lamanya. Dalam masa itu dia melihat orang-orang yang terperangah dan bertanya, "Srintil sudah mulai berani pelesiran? Apakah Srintil tidak khawatir akan diciduk kembali?"
Ketika lewat di depan pasar Dawuan Srintil melihat 'kehidupan bebas' tercengang.
Kehidupan bebas seakan tersinggung pada titiknya yang paling peka. Mereka yang
menghendaki Srintil tetap melata dan meratap sebagai pengakuan bersalah terhadap kehidupan, terkejut dan terperangah melihat Srintil bergoncengan dengan seorang
laki-laki. Melalui tatapan mata yang tajam mereka menilai sikap Srintil sebagai perilaku sembrono, tidak tahu diri. Srintil telah berbuat sesuatu yang menantang selera kenisbian sejarah.
Atau, apakah Srintil tahu siksaan hebat pada jiwanya hanya disebabkan oleh dramatisasi yang dilakukan oleh hatinya sendiri? Memang, orang belum lupa bagaimana Srintil menjadi ratu panggung dalam rapat-rapat propaganda yang menyebabkan khalayak mabuk, lalu mereka menyerbu sawah dan merojeng padi, tak peduli entah milik siapa. Orang juga tidak lupa bahwa pada beberapa peristiwa perojengan padi telah jatuh korban, beberapa petani pemilik sawah jatuh terkapar dalam upaya mempertahankan milik sah mereka. Srintil tidak mungkin membebaskan diri dari keterlibatan moral dalam peristiwa semacam itu. Dan puncaknya adalah usaha
penjungkirbalikan secara total seluruh tatanan kehidupan oleh orang-orang seperti Bakar pada bulan September 1965. Padahal setiap orang sudah mencatat dengan guratan yang dalam bahwa Bakar yang telah mati diamuk masa itu demikian menyatu dengan ronggeng Dukuh Paruk pada tahun-tahun menjelang 1965.
Kemudian, apakah sejarah hanya bertingkah melalui panglima tunggalnya yang bernama kekuasaan? Mestinya, tidak. Tetapi Srintil tidak akan pernah mampu tahu. Dia tidak tahu, selain mempunyai panglima, sejarah juga punya nurani yang seperti demikian adanya, tidak pernah muncul dalam bentuk hura-hura, tidak resmi-resmian, tetapi kukuh duduk dan tak pernah berhenti bertembang tentang keberimbangan hidup. Tembang nurani sejarah mungkin tampil sebagai tangis seorang bayi yang merengek dan merajuk, mengapa tetek emaknya kempis. Mungkin juga muncul sebagai air mata beberapa perempuan di pasar Dawuan yang trenyuh ketika melihat
keberuntungan Srintil yang diberi beban terlalu berat bila dibanding dengan keringkihan pundaknya. Nurani sejarah bisa juga menampakkan diri sebagai falsafah orang-orang bersahaja yang suka berkata, "Aja dumeh maring wong sing lagi kanggonan luput," jangan bersikap sia-sia terhadap mereka yang sedang terjebak dalam kesalahan.
Tidak. Srintil tidak akan punya kesadaran sampai ke sana. Srintil merasa hanya punya
satu kesadaran bahwa pakem hidup yang harus dijalaninya ialah peran dalam sisi aib
kehidupan. Sampai kapan, Srintil tidak tahu. Rahasianya mungkin terletak pada arah obah-mosiking zaman, perkembangan sang waktu sendiri. Maka ketika sang waktu menuntutnya memikul beban sejarah, Srintil hanya pasrah. Bagi anak Dukuh Paruk ini beban sejarah ialah keharusan melata-lata di hadapan 'martabat kehidupan', menyesali diri secara habis-habisan, jangan sekali-kali berjalan dengan meluruskan leher, serta lihat-lihatlah apakah kehidupan berkenan memberi izin bila sesekali Srintil ingin tersenyum.
Episode 14
Sejak dibebaskan dari tahanan enam bulan yang lalu Srintil sudah sebelas kali amembuat cap jempol di hadapan Darman. Sudah sekian kali pula dia berhadapan langsung dengan wajah penguasa sejarahnya. Namun setiap kali datang melaporkan diri selalu saja ruas-ruas tulang kakinya gemetar. Padahal orang-orang seperti Darman bukan mesin, tentu saja.
Selorohnya mulai muncul. Dan ketika menuntun tangan Srintil membubuhkan cap
jempol, tangan Darman tidak pernah jujur. Kecuali hari itu ketika Srintil datang bersama Marsusi, sikap Darman sungguh resmi. Mungkin karena Marsusi benar-benar
melaksanakan kata-katanya, mengirim satu truk kayu bakar ke rumah Darman.
Selesai dengan urusan cap jempol, Srintil minta diri. Caranya, Srintil menekuk lutut
dalam-dalam di hadapan para petugas dengan wajah yang sungguh-sungguh menghinakan diri. Kemudian Srintil melangkah ke luar dan Marsusi menghentikannya.
"Nanti dulu. Kamu akan kuantar sampai ke tempat semula."
"Terima kasih, Pak. Aku biasa pulang seorang diri."
"Ah, lebih baik ikut Pak Marsusi," sela Darman.
"Silakan. Membonceng Vespa baru pasti
enak. Ya, kan?"
Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang. Kemudian demi anu atau demi satu truk kayu bakar maka Darman mengambil kata putus,
"Bila aku yang menyuruh kamu membonceng Pak Marsusi, apakah kamu masih menolak
juga?"
Wajah yang bingung itu serta-merta berubah menjadi topeng yang penuh garis-garis
ketakutan. Srintil terpaku dan hanya bergerak karena kemudian Darman memberi perintah dengan goyangan dagunya. Sementara Marsusi berjalan sebagai prajurit yang menang perang. Sebuah adegan yang berulang, Srintil duduk kaku di jok belakang motor Marsusi. Ketika motor sudah berjalan tubuh Srintil menjadi bagian yang terpisah dari sesuatu yang bergerak. Punggungnya condong ke belakang dan kedua tangannya bertumpu seperti orang yang akan mencari posisi duduk tetapi tak pernah mantap. Pandangan mata Srintil tertuju ke bawah sehingga dunia dirasakannya lari ke belakang dengan cepat.
Sejak meninggalkan halaman kantor Darman, Marsusi masih tetap pada tujuan yang asudah direncanakannya. Dia sudah menemukan tempat di belakang pasar Dawuan, tempat dari mana arus informasi kepentingan-kepentingan asusila terpusat. Marsusi sudah mempunyai ketetapan di tempat itu dia akan berbicara dengan Srintil. Marsusi akan meminta semuanya dengan menanggung segala risiko. Atau Marsusi akan meminta sedikit saja, namun rela memberi banyak.
Namun ketika perjalanan hampir mencapai sebuah simpang tiga ada pikiran baru yang
membuat Marsusi mengambil keputusan mendadak. Dibelokkannya motornya ke kiri,
masuk ke jalan kecil yang menuju daerah perkebunan karet Wanakeling. Ketika 'barang' yang sangat diinginkannya sudah berada di tangan, mengapa tidak langsung membawanya pulang ke rumah? pikir Marsusi.
Srintil yang sejak semula mengira hendak diantar sampai ke ujung pematang yang menuju Dukuh Paruk, langsung merasa adanya penyimpangan. Mulutnya bergerak-
gerak, namun kata-katanya tak kunjung keluar.
"Mau... mau... mau ke mana, Pak?"
"Ah, tenanglah. Kita mau pulang."
"Pulang ke mana?"
"Ke Wanakeling. Lho, ke mana lagi?"
"Pak..."
"Tenanglah. Aku bukan tukang culik. Kita ke Wanakeling dulu. Nanti kamu kuantar kembali ke Dukuh Paruk."
"Aku... aku tidak mau, Pak. Aku ingin segera pulang."
"Dengarlah. Aku ingin berbicara kepadamu dan ini bukan perkara main-main. Nyai aKartareja pernah berkata sesuatu kepadamu, bukan?"
"Tetapi aku tidak mau."
Srintil menghentak-hentak dalam duduknya sehingga motor baru itu oleng.
"Berhenti, Pak! Aku mau turun di sini. Berhenti, Pak!"
"Eh, jangan goyah. Nanti jatuh."
"Aku tidak mau ikut sampean. Berhenti, Pak!"
"Nanti dulu. Kamu belum mendengar apa yang hendak kusampaikan padamu."
Beberapa kali Srintil berusaha terjun. Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan pegunungan itu bergerak seperti mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya. Akhirnya Srintil pasrah. Duh, Gusti, apa lagi yang akan kutanggung?
Jalan pegunungan itu kini menembus hutan jati. Pepohonan berdiri tegar dan tumbuh rapat, dan kelihatan angkuh terhadap pohon-pohon kecil di bawahnya. Cabang-cabangnya tumbuh ke segala arah untuk menangkap semua sinar matahari dan membiarkan pakis-pakisan hanya hidup dalam sinar temaram sepanjang hari.
Kepongahan. Relung-relung pakis itu hidup di bawah kepongahan pohon-pohon besar. Lalu mengapa acap terjadi sebuah hasrat besar atau rencana besar tidak mencapai tujuan hanya karena sebuah perkara kecil yang tidak
pernah masuk hitungan? Seorang prajurit perkasa bisa mati di tengah peperangan bukan karena peluru lawan, melainkan oleh gigitan ular yang kelihatan demikian lemah. Dan hasrat Marsusi untuk membawa Srintil ke Wanakeling gagal hanya karena kecerobohannya mengendalikan sepeda motor. Ketika melewati ruas jalan yang sangat rusak motor baru itu kelihatan melompat-lompat dalam kecepatan yang berubah-ubah secara dramatik. Pada suatu saat yang amat singkat pantat Srintil terangkat karena guncangan, dan pada saat yang amat singkat itu Marsusi menarik gas. Motor melesat dan Srintil sejenak mengapung di udara. Sesuatu yang sejak semula terpisah jadi
benar-benar berpisah. Pantat Srintil tidak jatuh kembali ke atas jok melainkan terhempas ke permukaan jalan. Tubuh Srintil terbanting dan berguling-guling, sementara Marsusi terus melaju karena tidak tahu sesuatu telah terjadi dibelakangnya.
Mula-mula Srintil marasa ribuan batang pohon jati berputar cepat mengelilingi kepalanya. Putaran itu makin melambat dan akhirnya berhenti tinggal menjadi sosok hutan yang bergoyang. Srintil menoleh ke kiri dan masih melihat di kejauhan Marsusi dan motornya menghilang di balik tanjakan. Srintil berusaha bangkit dan kakinya terasa sakit. Ketika dilihat, ada luka berdarah pada mata kaki serta lutut kirinya. Di telapak tangan ada kerikil kecil menancap. Dan darah menitik ketika kerikil itu
terlepas. Perih.
Setelah berhasil mengembalikan ketenangannya Srintil melangkah ke pinggir. Tak terlihat seorang manusia pun di jalan kecil yang menembus hutan jati itu. Namun yang
pasti Srintil sadar harus menggunakan kesempatan kebebasan yang tak sengaja telah
diperolehnya. Nalurinya mengajarkan, Marsusi akan segera berbalik dan mencari Srintil begitu dia tahu jok belakang motornya telah kosong. Namun dengan kaki yang terasa amat sakit Srintil tidak mungkin segera berjalan pulang ke Dukuh Paruk. Apabila hal itu dilakukannya, bahkan misalnya dengan kaki yang sehat, Marsusi pasti akan bisa menyusulnya.
Episode 15
Maka Srintil berjalan terpincang-pincang menjauhi jalan, dan di suatu tempat dia
melihat lorong setapak yang masuk ke hutan jati. Lorong itu pastilah jalan para pencari kayu karena Srintil sudah mendengar suara mereka. Tak lama kemudian kelihatan dua perjaka tanggung menuruni bukit membawa sepikul kayu bakar. Seorang lagi di belakang mereka memikul dua gulung daun jati. Ketika berpapasan mereka berhenti dan memandang Srintil dengan heran. Di antara para pencari kayu atau daun jati ada beberapa perempuan. Tetapi ketiga perjaka tanggung itu belum sekali pun pernah melihat Srintil berada di tengah hutan jati.
"Eh, rasanya aku pernah mengenal perempuan itu. Tetapi siapa, ya?"
"Aku ingat. Dia ronggeng Srintil. Mula-mula aku pangling. Tetapi akhirnya aku kenal dengan pasti. Dia orang Dukuh Paruk yang dulu sering meronggeng."
"Oh, ya! Aku jadi ingat sekarang. Tetapi mau ke mana dia? Dan mengapa jalannya terpincang-pincang?"
"Benar. Kukira dia memang ronggeng Srintil. Maka, ayo kita ikuti dia. Kayu bakar dan daun jati bisa kita tinggal sebentar di sini. Mari, kita lihat pertunjukan yang menarik!"
"He, kamu ngomong apa? Apa Srintil mau meronggeng di tengah hutan?"
"Tolol! Kamu rupanya lupa akan munyuk-munyuk jantan di atas pohon jati besar dekat
jurang sana."
"Ah, ya. Munyuk-munyuk itu menjadi cabul bila meihat orang perempuan. Dan kini yang akan mereka lihat adalah Srintil yang cantik. Ayo, kita naik lagi."
"Bila kalian anak munyuk maka kalian senang melihat ulah konyol munyuk-munyuk di pohon jati itu. Silakan, Anak munyuk. Aku sendiri mau pulang."
Cincong antara ketiga perjaka tanggung itu ternyata hanya menghasilkan gelak yang
panjang. Mereka meneruskan perjalanan menuruni bukit dan ingatan mereka tetap pada munyuk yang cengar-cengir, munyuk yang menggeram dan membuat gerakan-gerakan yang amat tidak senonoh. Ulah munyuk-munyuk itu bagi para pencari kayu menjadi bukti akan kebenaran dongeng sensasional bahwa suatu ketika pernah terjadi perkosaan antar jenis. Sekelompok bangkokan, munyuk besar, beramai-ramai menjagal seorang perempuan lalu menggagahinya. Dan bagi orang-orang bersahaja seperti para pencari kayu itu, tiadalah beda antara dongeng dan kisah nyata. Kedua-duanya menyatu sebagai kebenaran dalam mitos yang sulit diganggu gugat.
Srintil merasa heran ketika menyadari dirinya sedang duduk tanpa teman di tengah hutan jati. Namun kebisuan alam cepat membawa Srintil kembali mengenal suasana di luar dan di dalam dirinya sendiri. Di sekelilingnya adalah pohon-pohon besar yang sejenis, jati. Dan di bawah pohon-pohon besar itu tumbuh sekian banyak tetumbuhan kecil yang tak terhitung jumlahnya, dari lumut yang menyelimuti batu dan kulit kayu hingga berbagai jenis paku-pakuan yang menutup lereng-lereng jurang. Dari tanaman perdu dan gelagah sampai tumbuhan merambat yang sulurnya membuat jalinan ruwet, seruwet akar-akaran yang merayap di permukaan dan yang menghunjam tanah.
Ketika angin bertiup jutaan daun jati saling bergesek membuat deru yang berirama. Semuanya bergoyang. Tetapi pada ketika itulah Srintil menangkap makna kebersamaan yang amat mengagumkan. Kebersamaan yang berimbang, yang mungkin sudah mulai disusun sejak ribuan juta tahun yang lalu. Setiap sulur muda tidak gagal meraih ruang hidup meski harus menembus jalinan sesama yang demikian canggih, setiap ujung akar tidak gagal mencapai tanah. Ada beringin kecil tumbuh di atas batang pohon yang lapuk. Dan roh kebersamaan memberi kesempatan sehingga akar beringin kecil bisa
merayap mencapai tanah. Dedaunan tersusun demikian rupa sehingga sinar matahari atau biasnya menjamah rata.
Angin kembali bertiup, kini disertai bunyi daun-daun yang luruh. Kerotok suara burung pelatuk dari kejauhan. Dan suara seorang pencari kayu yang terdengar sayup. Srintil menegakkan kepala. Itu suara tembang seorang amatiran yang menirukan kutut manggung. Entah mengapa Srintil merasa tersentak. Bukan karena dia juga hafal lirik lagu itu, bukan pula suara si pencari kayu demikian jelek dan acak-acakan, tetapi karena tiba-tiba Srintil merasa ada sesuatu yang sangat menarik berkaitan dengan keresahan jiwanya.
Gending Kutut Manggung adalah sebuah langen swara berahi yang digubah demikian
halus, penuh selera estetik dan jelas sekali lahir dari wawasan tentang kehidupan yang
mendasar. Kutut manggung adalah penghayatan atas naluri keprimitifan berahi dalam tertib nilai tertentu sehingga terjadi beda antara berahi manusia dan berahi munyuk. Dia bertanggung jawab dan memiliki arah yang pasti yakni garis perhubungan antara manusia dan selera Penguasa Alam. Dia halus sehingga hanya orang dewasa tertentu
bisa mengerti apa yang dimaksud wis wayahe lingsir wengi, perkutute arsa muni atau perkutute njaluk ngombe. Kutut manggung adalah pelukisan hasrat perhubungan ragawi antara lelaki dan perempuan dalam wawasan tertib kosmik; bahwa si lelaki dan si perempuan adalah suami-istri, dan bahwa motivasi perhubungan ragawi itu adalah aupaya mencapai tata-raharjaning bangsa manusia yakni keselarasan hidup.
Namun wawasan berahi kutut manggung juga memberi tempat kepada aspek 'humaniora', sehingga meski kudus dan sakral maka perhubungan berahi yang tertib itu masih juga mengandung kadar kegenitan. Maka ada anggunge memanas ati, yakni pergombalan yang merangsang hati. Juga dalam senggakan kutut manggung ada warna kemesraan, namun dalam gaya euphemisme sehingga wilayah kecabulan tak perlu terjamah.
Dalam pengertian yang tidak begitu mendalam Srintil mengerti penghayatan berahi menurut persepsi kutut manggung karena Nyai Kartareja pernah mengatakannya. Nyai Kartareja berbuat demikian untuk mengajari Srintil tentang perbedaan antara
penghayatan berahi menurut versi kutut manggung dan versi ronggeng. Dulu Srintil
sangat percaya bahwa penghayatan versi ronggeng adalah lebih unggul karena tiadanya
tertib susila sehingga wilayah penghayatannya adalah kelelakian secara umum, bukan
kelelakian dalam diri seorang lelaki tertentu. Karenanya dulu Srintil yakin menjadi seorang ronggeng lebih terhormat daripada menjadi seorang perempuan somahan. Namun penghayatan dan aktuasi berahi gaya ronggeng yang longgar, kasar, dan mentah tidak mengarah kepada keselarasan hidup. Bahkan ternyata peronggengan telah membawa Srintil ke rumah tahanan selama dua tahun. Selama itu Srintil kehilangan kediriannya hampir secara mutlak, dan setelah bebas jiwanya masih
terkerangkeng entah sampai kapan. Kerangkeng yang hanya mungkin terkuak apabila Srintil bisa membuktikan dirinya bukan lagi duta keperempuanan bagi kelelakian yang
umum dan telanjang, melainkan duta keperempuanan bagi seorang lelaki tertentu
yakni suami.
Episode 16
Potongan-potongan lirik Gending Kutut Manggung masih terdengar, baur dalam desau
angin dan suara burung-burung. Srintil tidak lagi menegakkan kepala. Dia menunduk,
pikirannya penuh dengan khayalan indah tentang seorang perempuan yang mendapat
sebutan ibu rumah tangga, seorang perempuan yang rela dan sadar hanya mengikatkan diri kepada seorang lelaki. Indah, karena Srintil sungguh tidak mendengar ada seorang
perempuan yang mengalami kepahitan dalam penjara karena dia memilih peran hidup
sebagai ibu rumah tangga. Indah, karena Srintil belum pernah mendengar cerita tentang perempuan yang tersisih menjadi aib kehidupan karena dia menjadi istri seorang lelaki.
Srintil mengangkat muka dan jauh di sana kelihatan olehnya pucuk daun aren yang baru mekar. Kuning muda, dan kesegarannya terlihat kontras dengan warna sekelilingnya. Ada alap-alap terbang mengitari pohon aren itu, barangkali sedang mengintai mangsa yang bersembunyi. Mata Srintil mengikuti alap-alap yang terus berputar. Lama-lama matanya hanya menangkap pandangan yang serba samar, sampai muncul sebuah bayangan yang jelas. Rasus. Mengapa kira-kira dua belas tahun yang lalu ketika masih sangat muda, Rasus sudah tidak setuju aku menjadi ronggeng? Mungkin Rasus hanya ingin membela kepentingan pribadi. Tetapi mungkinkah pikiran Rasus itu adalah duta nurani kehidupan karena ronggeng Dukuh Paruk sesungguhnya tidak selaras dengan maksud tertinggi kehidupan? Tiba-tiba Srintil menutup wajah dengan tangan karena jawaban atas pertanyaannya sendiri adalah rekaman amat pahit pengalaman selama dalam tahanan, perilaku kenisbian sejarah yang telah
meruntuhkan bangunan kediriannya, perilaku para pengejawantah kewenangan yang telah meluluhkan martabat kemanusiaannya.
Ada seberkas sinar matahari menerobos kerimbunan hutan jati dan jatuh ke tubuh
Srintil. Pepohonan sudah membentuk bayangan di timur, dan Srintil ingin pulang.
Orang Dukuh Paruk pasti sudah cemas karena mengira dirinya ditahan kembali. Goder tentu menangis karena jajan yang ditunggunya tidak kunjung tiba. Tetapi Srintil tidak yakin apakah dalam perjalanan pulang nanti takkan berjumpa Marsusi. Dan kakinya terasa nyeri, padahal Srintil terpisah tujuh kilometer dari Dukuh Paruk.
Srintil bangkit, berjalan menuruni lorong setapak menuju jalan pegunungan yang
membelah hutan jati. Dia tidak tahu pasti apa yang bakal dialaminya sebelum sampai ke Dukuh Paruk. Mungkin akan bertemu kembali dengan Marsusi atau akan tergeletak tak kuat berjalan. Yang jelas Srintil mendadak berhenti ketika dia baru mencapai satu turunan. Di depan sana ada seorang lelaki yang sedang menaruh sepeda motor di bawah bayangan pohon, kemudian berdiri bertolak pinggang dan matanya menyapu tepian hutan jati. Marsusi telah mendapat keterangan dari tiga orang pencari kayu tentang jalan yang harus ditempuh untuk menemukan tempat di mana Srintil berada. Perburuan segera bermula karena Marsusi melihat sosok yang bergerak tergesa-gesa dan menjauh.
Suasana hutan jati merangsang naluri primitif tentang perburuan. Jantung Marsusi berdenyut keras dan menimbulkan semangat binatang jantan raja rimba. Wajahnya berubah beringas dan keringat dengan cepat membasahi kulitnya. Meskipun bibir Marsusi tersenyum tipis tetapi pandangan matanya keras. Langkahnya perkasa diiringi suara daun kering arau bekicot yang terinjak sepatu kanvas. Dan Marsusi adalah laki-laki yang amat berpengalaman berjalan di hutan.
Sejak mengetahui Srintil lenyap dari jok belakang motornya, berbagai perasaan
memusingkan kepala Marsusi. Yang pertama terbayangkan oleh Marsusi adalah Srintil
yang terjatuh dan cedera berat. Ini kecerobohan yang memalukan dan sedikit-banyak bertentangan dengan citra keperwiraan seorang lelaki, sekaligus mempersulit kedudukan Marsusi sendiri. Namun Marsusi merasa tidak bisa berbuat lain kecuali menemukan kembali Srintil dengan segera buat meralat kecerobohannya, tanpa sedikit pun niat hendak mengubah niat semula.
Namun ternyata yang dihadapinya adalah lain. Tiga perjaka tanggung itu memberi kesaksian bahwa Srintil tidak cedera berat, hanya jalannya jadi pincang. Dan kenyataan lain, Srintil menghindar. Lalu mengapa orang harus heran tentang hati yang semula mengandung penyesalan dan rasa tanggung jawab tiba-tiba berubah menjadi liar. Andaikan Srintil tidak lari menjauh, sesungguhnya Marsusi akan bersikap lembut dan siap dengan segudang permintaan maaf. Tetapi karena Srintil menghindar maka dalam sekejap Marsusi berubah menjadi pemburu yang sangat bergairah karena sudah melihat mangsanya bergerak.
"Srintil! Tunggu. Mau ke mana, kau?"
Meski luka di kakinya terasa amat sakit karena tergesek belukar Srintil terus maju, kemudian melingkar ke kanan menuruni tebing menuju jalan. Ada petunjuk dari antah-berantah yang mengajari Srintil bahwa dia tidak mungkin bergerak lebih cepat dari Marsusi dan sesaat lagi dia bakal tersusul. Petunjuk itu juga mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang bisa mencegah apa pun niat Marsusi kecuali langit dan matahari. Maka Srintil harus berusaha sekuat tenaga mencapai tempat terbuka sebelum Marsusi menangkapnya. Jalan pegunungan!
Sementara itu Marsusi yang sudah berubah sepenuhnya menjadi seorang pemburu, makin bergelora karena Srintil tidak mengacuhkan panggilannya. Harga dirinya tersinggung, dan segala hasratnya menjadi demikian sederhana; menguasai Srintil dalam kesunyian hutan jati, kemudian persoalannya menjadi sederhana pula.
Tetapi Marsusi membuat kekeliruan. Disangkanya Srintil akan bergerak lebih jauh masuk ke dalam hutan. Maka Marsusi terus menaiki lorong setapak dengan harapan bisa
memotong lintasan pelarian buruannya. Dari ketinggian tertentu Marsusi berhenti untuk mengamati situasi perburuan. Dan terkejut setelah menyadari goyangan-goyangan semak yang diretas Srintil bergerak mendekati jalan. Marsusi berbalik menuruni lorong tetapi terlambat, jarak yang memisahkan dirinya dengan Srintil sudah terlalu jauh.
Ketika mencapai jalan pegunungan Srintil sudah kehabisan tenaga. Rasa sakit sudah
tidak tertanggung sehingga Srintil jatuh terduduk tepat di tengah jalan. Langit dan
matahari menyaksikan tangisnya. Langit dan matahari menyaksikan luka pada lutut dan mata kaki Srintil bertambah parah. Darah mengalir lebih banyak.
Marsusi muncul dua menit kemudian. Seorang pemburu telah melumpuhkan mangsanya. Bangga karena merasa menang membuat langkah Marsusi kelihatan gagah. Namun kebanggaan itu sirna secara mendadak ketika Marsusi melihat dari dekat sosok buruannya. Srintil duduk bersimpuh di tengah jalan menghadap matahari yang sudah condong di barat. Kainnya cabik-cabik dan dibiarkan tersingkap sampai ke pahanya. Hasrat kebinatangan Marsusi sempat tepercik namun segera padam karena ada darah mengalir dari dua luka di kaki Srintil.
Siapa melumpuhkan siapa? Marsusi telah melumpuhkan Srintil atau Marsusi telah
dilumpuhkan oleh kadar kemanusiaannya sendiri? Atau menurut moral perburuan sendiri, seorang pemburu sejati pasti akan kehilangan keberingasan bila menghadapi binatang buruan yang lumpuh dan merintih-rintih menahan sakit. Dan tetes-tetes darah itu mulai membentuk genangan di atas batu.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar