Episode 42
Atau karena foto itu dibuat sangat profesional sehingga kewajaran obyek menjadi sebuah keluarbiasaan karena dia tidak hanya berbicara dalam figur. Ada kedalaman jiwa yang menampakkan diri dalam totalitas wajah sehingga perempuan dalam foto itu
serta-merta menyita segenap angan-angan Blengur. Atau lagi, perempuan dalam foto
itu sesungguhnya sama sekali tidak luar biasa menurut ukuran Blengur. Apabila dia kelihatan demikian mengesankan maka masalahnya terletak pada kondisi psikologis Blengur sendiri. Dia yang gagal dan tidak mampu bermanis-manis di rumah selalu berkhayal penuh romantisme erotik di tempat-tempat lain. Yang memilih keprimitifan erotik sebagai salah satu bumbu hidup yang terpenting sambil merendahkan nilai-nilai moral dan etika yang mengikatnya. Dialah macam laki-laki yang selalu cenderung menganggap, setiap perempuan yang baru pertama dilihatnya lebih cantik dari keadaan yang sebenarnya. Kemudian atmosfer tempat pelesiran dekat kota Eling-eling itu adalah suasana yang penuh kemudahan bagi petualangan erotik. Sehingga Blengur, misalnya, datang ke sana berbekal hati yang sudah kehilangan penilaian obyektif. Maka sesungguhnya Blengur tidak mampu lagi mengatakan secara benar sampai di manakah
kadar kecantikan perempuan dalam foto yang sedang dipegangnya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Bajus yang sudah sekian lama menanti tanggapan Blengur.
"Yah, boleh juga. Siapa namanya?"
"Namanya terdengar aneh, Pak. Srintil."
"Srin...?"
"Til. Srintil. Ah, soal nama tidak sepenting sosoknya. Begitu, Pak?"
"Sudah biasa kamu bawa-bawa, ya."
"Nanti dulu, Pak. Aku sudah mengenalnya lebih dari lima bulan. Jadi aku sudah tahu banyak tentang dia. Srintil berasal dari kampung yang sangat terpencil di daerah Dawuan. Dukuh Paruk namanya."
Sementara Blengur terus menatap foto Srintil, Bajus terus memberi keterangan panjang tentang perempuan muda dari Dukuh Paruk itu. Ketika berkata bahwa Srintil kini kelihatan sedang berusaha keras menjadi seorang ibu rumah tangga, Bajus mengubah nada kata-katanya dengan tekanan yang khas.
"Jadi begitu," potong Blengur. "Lalu mengapa dia mau kamu bawa kemari? Kamu tipu dia, kan?"
"Memang bisa disebut begitu, Pak. Aku telah banyak membantunya, termasuk membantu membangun rumahnya. Jadi kukira, Srintil telah salah mengartikan sikapku. Disangka aku akan mengawininya. Padahal..."
"Padahal kamu tidak mungkin bisa mengawininya," sela Blengur sambil tersenyum. Dia tahu Bajus kehilangan keperkasaannya sejak peristiwa kecelakaan di proyek Jatiluhur beberapa tahun sebelumnya.
"Yah, begitulah, Pak. Bapak sudah tahu."
"Nah, aku akan melihatnya dulu. Di manakah dia sekarang? Di hotel ini?"
"Tidak. Di vila seberang jalan itu."
Srintil sedang bercermin untuk kesekian kalinya ketika dia mendengar suara langkah-
langkah di teras vila. Debar jantungnya tak berhasil ditolak. Namun Srintil melangkah
ke luar dan membukakan pintu. Senyum malu-malu menyambut kedatangan Bajus yang
diikuti oleh Blengur. Srintil merasa ada sepasang mata asing menyapu ke seluruh
tubuhnya. Kemudian ada tangan yang besar dan berlemak terjulur ke hadapannya.
Disambutnya tangan itu dengan segala kecanggungan.
"Ini Pak Blengur yang telah kukatakan kepadamu, Srin."
"Ya," jawab Srintil hampir tak terdengar. Blengur hanya tersenyum. Dua laki-laki mendahului duduk dan mereka kelihatan amat santai. Tetapi Srintil baru mau duduk setelah Bajus berkali-kali menyilakannya. Dia masih tetap canggung dan selalu menunduk karena merasa Blengur terus memperhatikannya. Bajus hendak bangkit namun Blengur menahannya.
"Aku ingin mandi. Ada air panas di sini?"
"Wah maaf, Pak. Di sini hanya ada kamar mandi biasa."
"Siapa yang tahan mandi air biasa bila hawa begini dingin. Baik. Sementara saya akan kembali ke hotel untuk mandi dan mengambil pakaian. Sopir juga belum saya urus."
"Tetapi Bapak nanti tidur di sini, kan? Supaya saya bisa menyiapkan kamarnya."
"Ya."
Blengur keluar dan Bajus menarik napas panjang. Bukan napas lega karena Bajus
merasa harus menyampaikan sesuatu yang teramat penting kepada Srintil. Kesantaian
secara lamban dan pasti mulai berubah menjadi serius. Bajus gelisah. Srintil
menangkap secara samar perubahan pada sikap Bajus.
"Srin, dengarlah. Aku ingin berbicara suatu hal yang penting kepadamu. Penting sekali karena menyangkut penghidupanku."
"Sampean mau bicara apa, Mas?"
"Begini. Sebenarnya aku merasa malu bila harus mengatakan bahwa telah banyak
kebaikan kuberikan kepadamu selama ini. Semuanya itu kuberikan kepadamu dengan
ikhlas."
"Ya, Mas. Aku merasa berutang budi kepadamu. Karena itu aku ingin membalas
kebaikan-kebaikanmu. Tetapi Mas belum sekali pun berkata harus bagaimanakah aku ini. Padahal, Mas, aku seorang perempuan."
Bibir Srintil masih bergerak-gerak hingga beberapa saat kemudian, namun suaranya
tidak lagi terdengar. Bajus tersandar ke belakang. Bukan karena dia melihat Srintil
mulai menangis melainkan dia tahu persis makna yang tersirat di balik ucapan
perempuan di hadapannya. Dengan bahasa air mata dan suasana Srintil minta diberi
kesempatan membalas budi yang telah diterimanya dengan cara yang disukai oleh perempuan; penyerahan kesetiaan yang penuh melalui perkawinan. Tetapi Bajus sadar
permintaan demikian sampai kapan pun mustahil dikabulkannya.
"Begini saja, Srin," kata Bajus dengan suara mulai memberat. "Bila benar kamu ingin membalas budi maka ada cara yang amat mudah kamu laksanakan. Mudah sekali. Aku akan lebih dari senang bila permintaan ini kamu laksanakan."
"Katakan, Mas. Aku harus berbuat apa? Sekiranya selama ini Mas menutup-nutupi
kenyataan bahwa sebenarnya Mas sudah punya istri, maka aku mau menjadi istri
kedua. Dan biarlah aku menjadi pelayan istri pertama serta anak-anak Mas."
"Oh, tidak begitu. Aku memang belum mempunyai istri. Jangan berangan tentang
perkara yang sulit-sulit. Permintaanku amat bersahaja."
"Apa?"
Bajus menarik napas dan menggeleng-gelengkan kepala seakan sedang mengibas pergi lumpur yang menodai jidatnya.
Episode 43
"Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blengur. Percayalah, dia orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa kepadanya berapa pun harganya akan dia kabulkan. Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia. Temanilah dia, Srin."
Srintil tersentak dengan kedua matanya terbelalak. Mulutnya terbuka dan dadanya
turun-naik dengan cepat. Kedua tangannya bergetar.
"Hanya itu permintaanku, Srin. Supaya tidak ada pikiran macam-macam anggaplah Pak
Blengur itu diriku sendiri. Atau malah tidak perlu karena kenyataannya dia dalam semua hal lebih baik daripada aku. Kamu mau, bukan?"
"Tidak!"
"Tunggu dulu..."
"Tidak. Tidak, tidak!"
"Srintil!"
"Tidak!"
Dalam gerakan limbung Srintil bangkit dan berlari ke kamar. Di sana dia menjatuhkan
diri ke kasur dan merasa terempas ke balik tabir antah-berantah. Dalam sekejap dunianya yang penuh bunga bersemi berubah menjadi padang kerontang dan sangat gersang. "Oalah, Gusti Pengeran, oalah, Biyung, kaniaya temen awakku..."
Tangis dalam ratapan panjang terdengar keras oleh Bajus yang kini duduk gelagapan.
Mengapa demikian jauh meleset perhitungannya. Bila Srintil menolak keinginan Tamir maka itu bisa dimengerti. Tamir hanya seorang buruh murahan yang hanya bermodal
semangat badak. Tetapi Blengur? Dia telah ditampik oleh seorang bekas ronggeng dan
sundal.
Bajus terus tergagap. Sudah terbayang olehnya bila dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari tangan. Bahkan buat selanjutnya dia mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus kembali dimulai dari titik nol. Oh, tidak bisa jadi. Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah. Dia bisa murka. Sekali lagi Bajus hendak membujuk Srintil. Kali ini bulat tekadnya Srintil harus menurut.
Hati-hati dibukanya pintu kamar Srintil. Dia masih tersedu hingga bagian punggungnya
berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur, suaranya seperti ayah kepada anak
yang sedang merajuk.
"Srin, kuharap kamu mau mengerti. Kasihani aku dan tolonglah aku sekali ini saja.
Bagaimana nanti bila kamu tidak mau membantuku? Mau ya, Srin?"
Srintil menggeliat bangkit. Dipandangnya Bajus sekilas dengan tatapan luar biasa dingin. Turun dari tempat tidur. Dirapikannya rambut yang tergerai di bagian depan. Diambilnya tas tangan.
"Tunggu. Mau ke mana kamu?"
Tak sepatah kata pun menjawab Srintil melangkah hendak ke luar. Bajus bertindak
menangkap tangan Srintil yang bersikeras hendak ke luar. Buat kali pertama Bajus berlaku kasar, memaksa Srintil kembali duduk di tempat tidur.
"Kamu tetap menolak? Tidak bisa! Kamu orang Dukuh Paruk harus tahu diri. Aku telah banyak membantumu. Aku telah banyak mengeluarkan uang untuk kamu!"
Bajus berjalan berputar-putar sambil tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu. Srintil duduk kaku, tak bereaksi sedikit pun terhadap kata-kata yang didengarnya. Tiba-tiba Bajus menghentakkan kaki lalu melangkah ke ambang pintu. Sambil menutup pintu dari luar, Bajus berkata dengan tekanan yang berat,
"Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan. Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?" Pintu terbanting dan dikunci dari luar.
Mengapa orang terlanjur percaya bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau keseluruhan dengan satu dan lain senjata. Mengapa orang
terlanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah dan lukanya bagian raga.
Dengan demikian Bajus misalnya gampang sekali mengelak bila ada tuduhan dia baru
saja melakukan kekejaman luar biasa sekaligus pembunuhan. Dalam dua-tiga detik
melalui beberapa kata dia telah berhasil sempurna membuat seorang manusia
kehilangan kemanusiaannya, bahkan tanpa Bajus sendiri melihatnya.
Satu detik setelah daun pintu terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal
budi dari totalitas sebentuk pribadi. Godam pertama mengguncangkan tiang kesadaran
yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah sebuah pundi-pundi hampa. Srintil masih sempat merasakan perih dan pahitnya guncangan ini. Deraan kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya
sendiri yang sudah ingin ditinggalkan dengan suatu tekad membaja. Kemudian tiang itu
ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata tombak menudingnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan, sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut sebagai neraka dunia.
Sosok itu tentu masih bernama Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk. Tentu pula dia masih akan disebut sebagai manusia. Namun faktor yang membedakan antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya – sudah gaib sedetik yang lalu.
Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi keberadaan dirinya. Dia tidak tahu lagi dirinya
yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik. Posisi tubuh serta semua
anggota badannya masih melukiskan orang terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting daun pintu. Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun.
Hanya beberapa langkah di luar kamar Bajus duduk gelisah. Pikirannya sama sekali lepas dari keadaan di dalam kamar. Dia tidak tahu ada kiamat kecil baru saja berlangsung tepat di balik tembok di belakangnya. Yang menggelisahkan Bajus adalah kenyataan bagaimanapun dia harus menghadapi Blengur. Sungguh tidak terbayangkan olehnya apa yang bakal terjadi bila dia gagal menyuguhkan kesenangan kepada orang Jakarta itu.
Ada orang terlihat berjalan memasuki halaman vila. Sesungguhnya Bajus tidak perlu panik sebab dia bisa memastikan orang yang datang bukan Blengur. Tubuhnya kecil dan pendek. Sopirnya. Tetapi tak urung Bajus kelihatan gugup ketika menjemput sopir itu di depan pintu.
"Pak Bajus diminta Bapak datang ke hotel," kata sopir itu.
"Hanya aku?"
"Kata Bapak, ya."
"Baik. Aku akan segera ke sana."
Bajus masuk kembali hanya untuk meyakinkan bahwa kamar Srintil benar-benar terkunci dari luar. Kemudian dia keluar menyusul sopir Blengur. "Ah, mungkin lebih baik kukatakan kepada Pak Blengur, tiba-tiba Srintil sakit perut. Ah, tidak. Lebih safe kukatakan Srintil kedatangan bulan hanya sepuluh menit yang lalu."
Episode 44
Dengan penemuan yang gila Bajus merasa lebih tenang berjalan ke kamar nomor tiga
di mana Blengur berada. Pak Blengur menyewa kamar hotel? Dia tidak jadi bermalam di vila, dan Srintil harus diantar ke kamarnya? Tetapi Srintil sedang kedatangan bulan. "Masuklah, Jus," ujar Blengur setelah mendengar pintu diketuk.
"Duduklah," sambungnya.
Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan kesantaian. Di sana Blengur duduk
merokok dan tenang. Sangat tenang. Tidak tergambar kehausan berahi. Matanya yang
terkenal berwarna petualangan kelihatan teduh.
"Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar."
"Kata yang mana, Pak?"
"Srintil itu."
"Cantik dan lugu, kan?"
"Bukan itu maksudku. Aku terkesan oleh citra pada wajahnya. Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga. Jus!"
"Ya, Pak."
"Memang kamu tahu siapa aku. Aku yang senang berpetualang. Tetapi entahlah. Aku
tidak tega memakai Srintil."
"Pak?"
"Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah
tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya."
"Pak, lalu?"
"Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat Srintil dan katakan sebagai hadiah dari aku."
Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh Blengur.
Tangannya bergerak gamang.
"Ya, Pak, ya," kata Bajus gugup. Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya. "Tetapi, Pak."
"Apa?"
"Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?"
Blengur tersenyum.
"Dasar recehan, kamu. Tentu saja proyek itu tetap untukmu. Sekarang sana keluar. Antar Srintil pulang."
Seperti kembang ilalang tertiup angin kemarau, Bajus keluar dari kamar Blengur dan berjalan cepat kembali ke vila di seberang jalan. Hatinya lega dan benderang. Segala kekusutan yang mendadak menjerat tiba-tiba pula lenyap dengan cara yang tak disangka dan amat mudah.
"Srin, semuanya sudah selesai. Kalau kamu ingin pulang mari saya antar sekarang juga," kata Bajus sambil memutar kunci kamar.
"Srin, ini uang banyak sekali dari Pak Blengur buat kamu. Uang hadiah. Bukan uang..."
Sunyi. Mencekam. Bulu kuduk merinding. Adakalanya orang menjadi sangat takut bila
tiba-tiba berhadapan dengan mayat. Dan akan sekian kali lebih takut bila yang di depan mata adalah mayat hidup. Srintil terlihat masih dalam posisi yang ganjil. Wajah mati. Mata tak berkedip dan mulut melongo. Bajus terhenyak ke belakang dan amplop yang menggembung jatuh ke lantai. Gagap dia. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit bawang. Srintil beberapa menit yang lalu masih lengkap dengan pesona seorang perempuan muda yang cantik. Pesona yang bahkan sesungguhnya menembus juga jantung Bajus yang impoten. Kini tak ada lagi pesona. Tidak juga kecantikan. Kemanusiaannya tinggal tersisa berupa sosok dan nama. Selebihnya adalah citra hewani. Citra makhluk tanpa akal budi.
Bajus surut. Dan terus surut hingga punggungnya merapat ke tembok. Semenit dua
menit Bajus masih belum berhasil menata perasaan dengan memahami kenyataan yang
terpampang tepat di depan mata. Dan sesaat ketegangan akhirnya mereda. Bajus
menghubungkan keadaan Srintil sebelum dan sesudah dia terkunci di kamar. Bajus mulai merasa dirinyalah penyebab perubahan drastis pada diri Srintil.
Kesadaran Bajus perlahan-lahan pulih. Pundaknya mengendur dan napasnya normal.
Matanya masih menatap, boneka hidup yang bernapas pendek-pendek. Kemudian Bajus
melangkah maju.
"Srin, kenapa kamu?"
Tak ada tanggapan, bahkan dalam sasmita yang paling samar sekalipun. Dipungutnya
amplop yang jatuh lalu disodorkannya ke tangan Srintil yang mengambang di udara.
Tetapi tangan itu tidak semili pun bergeming. Bajus membungkuk ingin melihat mata Srintil lebih jelas. Di sana hanya ada lingkaran hitam tanpa ekspresi rasa dan cita, sebentuk kematian dalam hidup. Kebimbangan kembali menyergap. Bajus keluar hendak mencari seseorang, barangkali dia bisa membantu mengurangi kebingungannya. Mungkin Blengur. Namun langkahnya terhenti di teras vila. Bajus masuk lagi, berjalan tak menentu. Tangannya merogoh saku celana dan terpegang kunci kontak mobil. Ya. Kini Bajus tahu secara pasti apa yang sebaiknya dia lakukan, mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk saat itu juga.
"Srin, maafkan aku. Maafkan aku, ya! Sekarang mari kita pulang."
Srintil menoleh dengan gerakan linglung. Dan bukan mata Bajus yang ditolehnya melainkan tubuh laki-laki itu. Matanya tak bergulir, seakan sudah tersekap mati dalam kelopaknya. Dan meski terasa sebagai upaya untung-untungan Bajus membimbing tangan kiri Srintil. Hatinya lega ketika ternyata Srintil menurut. Srintil berjalan seperti tidak melihat apa pun meski kedua matanya terbuka lebar dan tidak berkedip. Bajus merasa seperti sedang menuntun orang setengah lumpuh dan buta.
*****
Ketika masih kecil aku sering keluar dari Dukuh Paruk malam hari bersama teman-teman untuk melihat pagelaran wayang kulit. Wayang kulit itu. Dunia kecil berbumi batang pisang bermatahari lampu blencong telah berjasa besar meletakkan dasar-dasar wawasan pada diriku tentang kehidupan ini. Para dalang telah menanamkan pada diriku yang masih anak-anak nilai-nilai dasar yang waktu itu kuyakini sebagai kebenaran sejati. Nilai-nilai itu demikian mapan dalam jiwa sehingga bila sedang menonton wayang kulit aku tidak pernah merasa lain kecuali sebagai putra Amarta. Aku akan sangat kecewa bila dalam peperangan di atas batang pisang itu negara
Amarta kalah. Dan aku pernah menangis ketika menonton wayang dengan cerita Abimanyu, seorang prajurit putra Amarta, gugur dengan tubuh penuh panah.
Nilai yang kuperoleh dari dunia wayang itu bisa saja masih mengendap dalam jiwa ketika aku memasuki dinas ketentaraan. Aku, Rasus, mungkin saja kadang secara tidak sadar menganggap diri ini adalah Gatotkaca atau Bima, dua prajurit dan kstaria Amarta yang perkasa. Kedua tokoh itu sangat kukagumi; Gatotkaca suka mencopot kepala musuh dari badan hanya dengan jemarinya, Bima suka menginjak lawannya hingga luluh. Musuh-musuh itu adalah orang Astina atau negeri angkara murka lainnya. Prajurit yang gagah adalah mereka yang seperkasa Gatotkaca atau Bima, demikian keyakinan.
Episode 45
Anehnya jiwaku amat tertekan ketika suatu ketika dulu, entah mengapa, aku membunuh dua orang perampok yang memasuki Dukuh Paruk. Peristiwa yang justru memberi jalan kepadaku memasuki dinas ketentaraan itu takkan terlupakan. Dan aku tidak lupa juga bahwa waktu itu aku telah bersumpah tidak akan lagi menghentikan hak hidup seseorang, baik dia jahat atau bukan.
Boleh jadi karena aku telah bersumpah demikian maka sesungguhnya aku sering
bergelut dengan jiwaku sendiri ketika bertugas di suatu tempat di sudut tenggara Jawa Tengah sesaat sesudah terjadi geger komunis 1965. Gatotkaca Rasus sering harus
memberondongkan Karl Gustaf ke kubu-kubu yang mestinya berisi manusia; manusia yang sangat mungkin seperti diriku juga, merasa diri sebagai Gatotkaca. Untung, dalam hal pemberondongan semacam itu aku sekali pun tidak pernah melihat langsung manusia yang terhuyung jatuh akibat peluru yang kutembakkan. Namun suatu kali aku
benar-benar harus mengamalkan doktrin dasar seorang tentara. Pada saat yang genting hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Aku memilih yang pertama. Korbanku seorang anak muda yang sudah mengayun parang dari belakang. Dia yang rubuh karena sangkurku lebih cepat daripada parangnya. Ya Tuhan! Kulihat dia megap-megap, matanya terbeliak-beliak sebelum mati karena dadanya robek oleh sangkurku. Lepas dari motivasi-motivasi politik yang menyebabkan dia menggabungkan diri dengan kaum pemberontak maka selebihnya dia hanyalah manusia seperti aku.
Dan aku telah membunuhnya. Jadi aku telah melakukan tiga kali pembunuhan langsung. Demi Tuhan meski aku seorang tentara maka aku berdoa kiranya Tuhan tidak lagi membawaku ke suatu titik dalam hidup di mana aku harus menambah korban tanganku sendiri. Tentulah sikap demikian bisa disebut sikap pengecut, terutama di kalangan tentara. Namun aku sungguh tidak mau dituduh begitu saja. Sebab kengerianku terhadap pembunuhan bukan perasaan yang kubangun dalam alam sadar. Dia muncul sebagai bagian fitrah totalitas hidupku. Dengan demikian yang benar adalah kesimpulan bahwa sebenarnya aku tidak cocok menjadi prajurit.
Atau. Selama sekian tahun menjadi tentara aku adalah Gatotkaca yang harus berhadapan dengan kenyataan yang banyak menyimpang dari konsep keprajuritan yang kuperoleh dari cerita wayang. Gatotkaca itu memelintir kemudian mencopot kepala musuhnya yang berasal dari bangsa lain, negara lain. Sedangkan yang harus kuhadapi ternyata adalah orang-orang yang bagaimanapun juga adalah saudara-saudaraku. Perampok-perampok yang kubunuh di Dukuh Paruk itu. Anak muda yang kurobek dadanya dengan sangkur itu. Dan, ya Tuhan. Di Kalimantan Barat ini aku membunuh manusia lagi. Bahkan aku sempat bercakap-cakap dengan korbanku sebelum dia meninggal.
Dalam suatu penghadangan serombongan pemberontak masuk perangkap. Sebagian
besar mereka jatuh pada berondongan pertama. Beberapa orang lolos. Dan yang
seorang lari bersembunyi ke samping hanya beberapa meter dari moncong bedilku. Dia
ingin membalas memberondong ke posisi mana pasukanku. Tetapi dia jatuh oleh
tembakanku. Ketika suasana mereda kudekati dia, laki-laki yang ternyata berambut panjang. Belum mati, matanya menatapku. Mulutnya bergerak-gerak, lalu kudengar suaranya yang parau. Yang membuatku terperanjat adalah kenyataan orang yang baru kurobohkan itu berbicara dalam bahasa ibuku.
"Mas. Sampean dari Jawa, kan?" katanya megap-megap.
"Ya. Mengapa?"
"Aku akan mati di sini. Tolong sampaikan berita kematianku kepada orang tuaku di
Jawa."
Dia menyebut satu nama, satu tempat yang berada di wilayah kabupaten Eling-eling.
Sesuatu yang bagiku terasa lebih besar adalah rusaknya konsep keprajuritan dalam jiwaku; lambat-laun aku tidak merasa menjadi Gatotkaca lagi. Mungkin salahnya para dalang mengapa mereka belum sekali pun menampilkan cerita di mana Gatotkaca
membunuh prajurit Amarta lainnya yang membelot dan memberontak. Ah, ternyata
dalam hal kelemahan hati menghadapi darah dan pembunuhan aku tidak sendiri. Ada
seorang teman yang menjadi gila oleh sebuah kejadian yang amat mencekam. Dia mendapat tugas mengeksekusi pemberontak yang tertangkap hidup. Semuanya berjalan biasa dan tertib sampai si pemberontak ditembak dan jasadnya dimasukkan ke liang kubur. Pada saat itulah jasad yang semula dikira sudah tidak bernyawa melompat bangkit dan menerkam temanku. Temanku dapat melumpuhkannya karena dia hanya bergumul dengan orang yang sedang meregang nyawa. Tetapi jiwa temanku kalah. Kesadarannya hilang dan sekarang dia dikerangkeng sebab berbahaya.
Apabila aku mulai berpikir bahwa diriku tidak pantas menjadi tentara maka sebabnya bukan hanya perkara temanku yang jadi miring itu. Bukan pula hanya karena aku lemah menghadapi darah dan pembunuhan. Lebih dari itu; Dukuh Paruk sama sekali tidak memberi bekal kejiwaan kepadaku untuk berbuat sesuatu melalui penggunaan senjata. Dukuh Paruk hanya mengajariku tentang keselarasan dan penyelarasan yang bersumber dari kesantunan. Boleh jadi inilah tema pesan terakhir moyangku Ki Secamenggala. Dia memang konon bromocorah. Namun pada akhir hayatnya dia menyadari bahwa keselarasan dan penyelarasan diri dengan selera alam adalah lebih menentramkan jiwa daripada segala kekerasan. Bila benar demikian maka bagaimanapun juga darahku adalah darah Dukuh Paruk sejati. Dengan demikian maka keprajuritan bukanlah tempat yang cocok bagiku.
Atau entahlah. Yang jelas aku menjadi gembira bukan main ketika mulai terdengar selentingan bahwa batalion kami akan ditarik dari Kalimantan Barat kembali ke Pulau Jawa. Aku melihat bagaimana teman-teman bergembira. Ada yang menciumi foto anak dan istrinya atau pacarnya. Ada yang bersorak-sorai karena merasa akan segera berkumpul kembali dengan regu sepak bolanya. Hanya ada seorang yang linglung yakni temanku yang miring itu. Juga aku sendiri yang meski gembira tidak bisa lain kecuali merenung, karena aku tidak punya istri atau anak, bahkan pacar. Aku hanya mempunyai Dukuh Paruk yang kuharap masih setia memangku sebuah gubuk doyong di mana aku ditumbuhkan sebagai kecambah manusia.
Sementara teman-teman mulai mengumpulkan kenang-kenangan untuk dibawa pulang ke Jawa aku lebih banyak tinggal di markas. Ada seorang teman berkata dengan penuh gembira bahwa dia telah memperoleh mandau dan perisai suku Dayak Iban. Teman lain memperoleh kera hantu, seekor binatang yang sangat menakjubkan. Badannya kecil,
sebesar celurut busuk dan matanya bulat sungguh tidak sebanding dengan ukuran
badannya.
Lalu mengapa Dukuh Paruk yang makin tua dan kumuh kini makin terasa nyaring
memanggilku pulang? Mengapa? Kadang aku menuduh diriku sendiri bersikap terlampau
sentimental, terutama terhadap gubuk lapuk yang mungkin kini sudah rubuh itu. Atau siapa saja akan sangat mudah mengatakan sebenarnya aku tak mampu melupakan Dukuh Paruk karena masih ada manusia perempuan yang bernama Srintil di sana. Atau lagi, jasadku memang saripati tanah Dukuh Paruk. Tidak mengherankan bila aku selalu ingin kembali kepada ibuku. Jawaban itu secara sendiri-sendiri atau gabungan ketiga-tiganya kuakui kebenarannya. Namun aku sungguh merasa belum puas. Masih saja tersisa pertanyaan mengapa aku selalu teringat Dukuh Paruk?
Episode 46
Lama sekali aku mengembara dalam alam permenungan sebelum akhirnya aku
memperoleh jawaban yang memadai. Jawaban itu datang bersamaan dengan munculnya kesadaran bahwa sejauh ini aku telah keliru bersikap terhadap Dukuh Paruk. Selama ini aku mencintai Dukuh Paruk dengan cara membiarkannya lelap dengan mimpi cabul, mengigau dengan segala macam sumpah-serapah. Aku telah sekian lama membiarkan kumbang tahi beterbangan bebas, membiarkan koreng merayapi kaki dan tangan anak-anak sedarah dan membiarkan mereka puas makan
singkong. Aku alpa membiarkan tanah airku yang kecil buta dan pekak terhadap kasih
sayang Ilahi, kasih sayang sejati yang menjadi motivasi dasar keterberadaan Dukuh Paruk bersama segenap isinya. Semula aku berkeyakinan sikapku terhadap Dukuh Paruk
sudah benar; membiarkan tanah airku hidup seperti apa adanya adalah sama berharga
dengan membiarkan lumut atau bunga bangkai tumbuh dalam kebebasannya. Atau
membiarkan katak berjuang antara hidup dan mati dalam mulut ular. Atau bersikap
toleran terhadap cerpelai yang sekali-sekali mencuri anak ayam agar kehidupan jenisnya selamat dari kepunahan.
Demi Seniman Agung yang menciptakan Dukuh Paruk, semestinya aku tidak
mempersamakan tanah airku yang kecil itu hanya sekadar dengan lumut atau cerpelai. Di sana ada kemanusiaan, maka mestinya ada juga akal budi dan nurani. Namun akulah
yang menjadi saksi pertama bahwa kemanusiaan, akal budi, dan nurani di tanah airku yang kecil hanya berkembang sampai ke taraf primitif. Dan apabila benar aku mencintai Dukuh Paruk, mengapa aku berdiam diri dan membiarkan orang-orang sepuak tumbuh liar dengan segala akibatnya berupa kekalahan-kekalahan hidup? Membiarkan mereka ternista oleh saringan alam?
Dulu aku demikian yakin membiarkan Dukuh Paruk apa adanya adalah arif. Sekarang
dengan kesadaranku sendiri pikiranku berbalik; membiarkan Dukuh Paruk tetap cabul, kere, dan dungu adalah bertentangan dengan misi utama kemanusiaan itu sendiri. Di sana adalah orang-orang sepuak yang berjumlah tidak lebih dari tujuh puluh kepala. Menggembalakan mereka mestilah bukan suatu pekerjaan yang terlampau sulit. Bahkan bagiku permasalahannya demikian mudah bila dibandingkan dengan tugas keprajuritan yang sering kali harus berhadapan dengan darah yang tumpah. Dan yang paling mendasar dari segalanya; bila Dukuh Paruk memang harus diangkat dari lumpur pelimbahan maka pada siapakah tanggung jawab tugas semacam itu?
Aku tidak ingin berkata bahwa akulah pihak pertama yang harus mengemban tanggung
jawab itu. Pihak pertama itu mestilah para pemangku kekuasaan resmi. Namun aku harus menyadari, wawasan kekuasaan pada taraf nasional atau regional nyatanya tidaklah mesti menukik dan rinci sampai ke masalah pedukuhan kecil seperti Dukuh Paruk. Sementara itu wawasan kekuasaan desa demikian payah sehingga lurah Pecikalan misalnya hanya merasa malu karena dalam wilayah kekuasaannya ada pedukuhan yang bernama Dukuh Paruk. Sepanjang yang teringat sekali pun aku belum pernah menyaksikan mereka berbuat sesuatu yang nyata bagi perbaikan tanah airku yang kecil itu.
Dalam keadaan demikian aku memang merasa ada tangan menuding kepadaku. Akulah yang secara moral paling layak mengambil tanggung jawab bagi pemanusiaan Dukuh Paruk. Ini sebuah pekerjaan yang menyenangkan karena akan kulakukan di atas
pangkuan ibu kandungku. Aku akan sangat senang melakukannya tanpa mengingat di sana ada gubuk reyot bekas sarangku, tanpa mengingat adanya Srintil, bahkan tanpa
menghubung-hubungkannya dengan semangat patriotik.
Hatiku bertembang pada kesadaran jiwa yang amat dalam. Hidup pribadiku tentulah sangat kecil bila dibandingkan dengan besar dan luasnya totalitas kehidupan. Namun dalam kekecilan hidupku aku merasa telah menemukan sebuah makna. Memang tidak
gemerlap. Tetapi dia akan sangat berharga bila suatu ketika diriku sendiri bertanya, apakah yang sudah kuperbuat dalam hidupku yang bersahaja ini. Mengajak Dukuh Paruk menyelaraskan diri dengan selera Ilahi adalah mengajak orang-orang di sana membersihkan diri dari koreng, dari ciu, dari omong cabul, dan dari kesewenangan berahi. Dan yang terpenting, memperkenalkan kepada mereka siapakah Penguasa Sejati kepada siapa mereka harus bertata krama sebaik-baiknya. Mereka harus bisa membaca huruf dan membaca alam. Mereka harus bisa menggunakan pikir selain rasa. Dan mereka harus percaya bahwa kemelaratan sama sekali tidak bisa menjadi nilai kebanggaan.
Anganku terus melambung sampai akhirnya terbentur pada kenyataan yang pahit. Bila aku ingin menjadi gembala yang baik, maka aku harus tinggal di tengah mereka. Dan aku harus pula membawa bekal. Ini berarti aku harus melepaskan diri dari dinas ketentaraan yang sekaligus aku kehilangan sumber penghasilan. Padahal di Dukuh Paruk aku tak punya apa-apa lagi kecuali sebuah sarang tua dengan beberapa jengkal tanah di bawahnya. Sulit. Bagaimana mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi tanah airku yang kecil bila perutku sendiri kemudian menjadi lapar?
Atau aku harus menunda rencana sampai usiaku di atas empat puluh. Pada saat itu aku
tidak lagi menjadi anggota pasukan tempur aktif dan aku boleh mengajukan permohonan untuk berdinas di sebuah Komando Rayon Militer yang dulu bernama Puterpra. Pada setiap kecamatan terdapat komando ini. Dan tentu saja aku ingin menjadi anggota Koramil Dawuan. Ini pun kalau bisa. Lagi pula usia di atas empat puluh baru akan menjelang lebih dari dua belas tahun yang akan datang.
Sampai aku pulang kembali ke Jawa ternyata pikiranku masih terombang-ambing. Pasukanku diberi istirahat secara bergilir dan aku sengaja memilih giliran yang paling akhir. Biarlah teman-teman lebih dulu melepas rindu kepada istri dan anak-anak
mereka. Atau kecintaan mereka. Aku hanya mempunyai Dukuh Paruk dan kukira dia sabar menunggu sampai teman-temanku pulang kembali ke markas. Dan aku tidak segera berangkat ke Dukuh Paruk manakala akhirnya giliran cutiku tiba.
Mungkin karena aku ingin melihat Dawuan kini dengan irigasinya yang baru. Mungkin juga karena aku ingin melihat Srintil; bagaimanakah hubungannya yang dulu kuketahui dengan orang proyek itu. Yang jelas bukan karena aku ingin segera melakukan gagasan baru apa pun buat tanah airku yang kecil ketika pada hari cuti yang ketiga aku pulang ke sana. Tiba di Dawuan sudah pukul sebelas malam karena aku mampir nonton film di kota Eling-eling. Ada niat hendak pinjam sepeda kepada Sersan Pujo di Koramil Dawuan. Tetapi urung karena aku sungguh merasa tidak mempunyai alasan buat tergesa-gesa sampai ke Dukuh Paruk.
Malam gelap pekat dan langit hanya memperlihatkan kerlipan bintang-bintang. Tetapi tanah yang kuinjak sedikit melumpur, mungkin habis hujan tadi siang. Sepi sekali.
Warung-warung yang buka hingga jauh malam karena ingin melayani para pekerja proyek yang lembur, kini sudah tiada. Aku tidak melihat seorang pun di jalan kecuali para peronda di gardu jaga. Dan suasana makin lengang ketika aku mulai menapaki pematang panjang yang lurus menuju Dukuh Paruk.
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar