Kamis, 18 Maret 2021

RONGGENG DUKUH PARUK BAGIAN 04

RONGGENG DUKUH PARUK JILID 04




Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih ada dua tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang ronggeng yang sebenarnya. Salah satu di antaranya adalah upacara permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala.
 
 Pagi itu Dukuh Paruk berhiaskan bunga bungur. Warna ungu yang semarak menghias hampir semua sudut pedukuhan sempit itu.
 
 Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis katulistiwa. Angin tenggara tidak lagi bertiup. Langit yang selalu membiru di musim kemarau mulai bernodakan gumpalan-gumpalan awan. Kemarau sedang menjelang masa akhirnya.
 
 Pagi yang lengang. Sinar matahari dalam berkas-berkas kecil menembus kerindangan pekuburan Dukuh Paruk. Tetes-tetes embun di pucuk daun menangkap sinar itu dan membiaskannya menjadi pelangi lembut yang berpendar-pendar. Seekor tupai meluncur turun dari atas pohon. Binatang itu bergerak dalam lintasan yang berupa ulir hingga mencapai tanah. Dengan mata waspada tupai itu melompat-lompat di atas tanah, lalu naik lagi dengan seekor si kaki seribu tergigit di mulutnya.
 
 Dalam kerimbunan tumbuhan benalu, sepasang burung madu berkejaran. Jantan yang berwarna merah saga mengejar betinanya. Setelah tertangkap keduanya bergulat sejenak lalu menjatuhkan diri bersama sambil bersenggama. Pasangan itu baru saling melepaskan diri satu detik sebelum tubuh mereka menyentuh tanah. Perintah alam selesai mereka laksanakan. Si jantan terbang dengan penuh kepuasan, kembali terbang dan hinggap di kerimbunan benalu. Selesailah hidupnya karena seekor ular hijau langsung menangkap dan memangsanya disana.
 
 Pohon beringin besar yang menjadi mahkota pekuburan Dukuh Paruk menjadi istana para burung. Pada sebuah dahannya yang tersembunyi hinggap seekor burung celepuk. Ia sedang terkantuk setelah menghabiskan malamnya dengan berburu tikus, ikan atau katak. Hanya burung kucica yang kecil berani
mengusik raja burung malam itu. Burung-burung seling yang hitam pekat dan burung katik yang hijau, hinggap dalam kelompok-kelompok. Mereka membisu sambil berjemur menanti hangatnya udara pagi sebelum terbang mencari makanan di tempat lain.
 
 Hari itu tak ada kegiatan kerja di Dukuh Paruk. Upacara memandikan seorang ronggeng adalah peristiwa yang penting bagi orang di pedukuhan itu, lagi pula amat jarang terjadi. Maka tak seorang pun yang ingin tertinggal. Maka pagi-pagi warga Dukuh Paruk, tiada kecualinya, sudah berkumpul di halaman rumah Kartareja. Mereka akan mengiring Srintil dari rumah itu sampai ke makam Ki Secamenggala. Disana Srintil akan dipermandikan.
 
 Srintil didandan dengan pakaian kebesaran seorang ronggeng. Aku melihat keris kecil yang kuberikan kepada Srintil terselip di pinggang ronggeng itu. Serasi benar ukurannya dengan badan Srintil. Itu bukan hanya penilaianku. Kudengar beberapa orang berkomentar, “Srintil mengenakan keris baru yang lebih kecil dan bagus. Alangkah pantasnya. Alangkah kenesnya.”
 
 Aku yakin pujian itu terdengar oleh Srintil. Kutunggu tanggapannya. Srintil tidak menoleh kepada orang yang mengucapkan pujian itu. Dia menolehku lalu tersenyum. Sayang, aku tak dapat membalas senyum Srintil karena jantungku berdenyut terlampau cepat. Boleh jadi orang-orang bertanya-tanya. Tetapi aku
percaya kecuali Srintil dan nenekku yang telah pikun, orang lain tak tahu tentang keris yang dipakai Srintil pagi itu. Atau bila ada orang tahu bahwa akulah yang memberikan keris kecil kepada Srintil, aku tidak peduli. Dengan memberikan pusaka itu kepada Srintil, aku telah memperoleh imbalan yang cukup; Srintil
kembali memperhatikan diriku. Ini berarti ada seorang perempuan dalam hidupku, suatu hal yang telah bertahun-tahun kudambakan.
 
 Tidak bisa kupastikan yang kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan atau seorang perempuan sebagai citra seorang emak. Emakku. Atau kedua-duanya. Tetapi jelas, penampilan Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi perempuan yang telah melahirkanku. Bahkan
juga bentuk lahirnya. Jadi sudah kuanggap pasti, Emak mempunyai senyum yang bagus seperti Srintil. Suaranya lembut, sejuk, suara seorang perempuan sejati. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah Emak mempunyai cambang halus di kedua pipinya seperti halnya Srintil. Atau, apakah juga ada lesung pipit pada pipi kiri Emak. Srintil bertambah manis dengan lekuk kecil di pipi kirinya, bila ia sedang tertawa. Hanya secara umum Emak mirip Srintil. Sudah kukatakan aku belum pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri sedikit demi sedikit. Lama-lama hal yang kureka sendiri
itu kujadikan kepastian dalam hidupku.
 
 Di halaman rumah Kartareja ronggeng bermain satu babak. Tidak seperti biasa, pentas kali ini tanpa nyanyi atau tarian erotik. Mulut Sakum bungkam. Si buta itu tidak mengeluarkan seruan-seruan cabul. Semua orang tahu permainan kali ini bukan pentas ronggeng biasa. Tetapi merupakan bagian dari
upacara sakral yang dipersembahkan kepada leluhur Dukuh Paruk.
 
 Selesai bermain satu babak, rombongan ronggeng bergerak menuju pekuburan Dukuh Paruk. Kartareja berjalan paling depan membawa pedupaan. Srintil di belakangnya. Menyusul para penabuh. Sakum dituntun oleh seorang penabuh lainnya. Di belakang mereka menyusul segenap warga Dukuh Paruk, dari
anak-anak sampai yang tua-tua. Bayi-bayi digendong, anak kecil dituntun. Mereka membuat barisan panjang, berarak menuju makam Ki Secamenggala.
 
 Sampai di tujuan, Kartareja meletakkan pedupaan di ambang pintu cungkup leluhur Dukuh Paruk. Dua orang laki-laki membawa tempayan berisi air kembang. Dengan air itu nanti Srintil akan dimandikan. Nyai Kartareja menuntun Srintil. Dilindungi oleh beberapa perempuan tua lainnya, pakaian Srintil dibuka,
hanya tinggal selembar kain yang menutupi tubuh perawan itu.
 
 Mantera-mantera dibacakan oleh Nyai Kartareja, ditiupkan ke ubun-ubun Srintil. Kemudian tubuh perawan itu mulai diguyur air kembang, gayung demi gayung. Sementara itu orang-orang dukuh Paruk lainnya hanya menonton. Srintil menjadi pusat perhatian. Rombongan penabuh mempersiapkan diri.
Mereka menata perkakas masing-masing, duduk bersila di atas tanah.
 
 Srintil selesai dimandikan. Nyai Kartareja mengeringkan rambut ronggeng itu dengan sehelai kain. Tiga orang perempuan membantu Nyai Kartareja mendandani Srintil kembali. Mereka menyisir, memberi bedak dan membantu Srintil mengenakan kain serta mengikatkan sampur di pinggang. Semuanya sudah beres. Rambut Srintil sudah disanggul. Kemudian ronggeng itu dituntun ke depan pintu cungkup. Disana Srintil menyembah dengan takjim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para penabuh.
 
 Tiba giliran bagi Kartareja. Setelah komat-kamit sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba kepada pemukul gendang. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk pecah. Suara gendang dan calung menggema bersama dalam irama khas.
 
 Berpuluh-puluh burung serentak terbang meninggalkan pepohonan di pekuburan itu. Tidak seperti semua orang Dukuh Paruk, burung-burung itu tak menyukai irama calung. Tidak seperti aku yang sedang tak berkedip melihat pengejawantahan Emak pada diri Srintil, burung-burung itu tak menyukai ronggeng.

Pada saat seperti itu orang-orang Dukuh Paruk percaya semua roh di pekuburan itu bangkit melihat pertunjukan. Mereka juga yakin arwah Ki Secamenggala berdiri di ambang pintu cungkup dan melihat Srintil berjoget. Oleh karena itu tak seorang pun berdiri di depan cungkup itu karena tak ingin menghalangi pandangan mata roh Ki Secamenggala.
 
 Aku berdiri di bagian depan. Seandainya ada orang Dukuh Paruk mampu berbicara masalah apresiasi, maka alangkah baik bila diadakan pengukuran. Apresiasi siapakah yang paling dalam atas pertunjukan ronggeng Srintil di pekuburan itu. Secara angkuh aku dapat memastikan apresiasikulah yang paling dalam. Aku bukan hanya sekedar melihat Srintil meronggeng, melenggang lenggok dan bertembang. Aku tidak hanya mendengar keserasian bunyi calung, gendang dan gong tiup yang menghasilkan irama indah. Juga aku bukan hanya terkesan oleh lentuk leher Srintil, goyang pundaknya atau lentik jemarinya. Lebih
dari itu. Karena aku melihat Srintil lebih daripada seorang perawan kecil yang menjadi ronggeng. Pada saat seperti itu kerinduanku akan kehadiran Emak terobati. Pada saat seperti itu hilang angan-angan apakah Emak melarikan diri bersama mantri itu. Atau mati dan mayatnya dicincang-cincang. Yang
memenuhi jiwaku adalah kenyataan Srintil sedang menari, tersenyum kepadaku. Hal itu sudah cukup melenyapkan, meski hanya sesaat, penderitaanku yang tak pernah melihat Emak.
 
 Konon semasa hidupnya Ki Secamenggala sangat menyukai lagu Sari Gunung. Maka dalam rangkaian upacara mempermandikan Srintil itu lagu Sari Gunung-lah yang pertama kali dinyanyikan oleh Srintil, secara berulang-ulang. Seperti pada awal upacara di rumah Kartareja, pentas di pekuburan itu meniadakan lagu-lagu cabul. Sakum diam. Tetapi menjelang babak ketiga terjadi kegaduhan. Kejadian itu takkan pernah kulupakan buat selama-lamanya.
 
 Dalam berdirinya, tiba-tiba Kartareja menggigil tegang. Mata dukun ronggeng itu terbeliak menatap langit. Wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Sesaat kemudian tubuh Kartareja mengejang. Dia melangkah terhuyung-huyung, dan matanya menjadi setengah terpejam.
 
 Semua orang terkesima. Calung berhenti. Srintil menghentikan tariannya karena calung dan gendang pun bungkam. Kartareja terus melangkah. Sampai di tengah arena laki-laki tua bangka itu mulai menari sambil bertembang irama gandrung.
 
 Hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek Srintil itu percaya penuh roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh Kartareja dan ingin bertayub. Maka Sakarya cepat berseru,
 
 “Pukul kembali gendang dan calung. Ki Secamenggala ingin bertayub. Srintil, ayo menari lagi. Layani Ki Secamenggala.”

Irama calung kembali menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua orang percaya akan kata Sakarya bahwa Kartareja sedang dirasuki arwah leluhur. Maka mereka mundur dalam suasana tegang.
 
 Calung ditabuh dalam irama tayub. Kesahduan upacara sakral itu hilang. Lagu-lagu pemancing birahi disuarakan. Sakum tidak pernah lupa akan tugasnya. Memoncongkan mulut lalu menghembuskan seruan cabul pada saat Srintil menggoyang pinggul. Cesss... cessss.
 
 Kartareja menari makin menjadi-jadi. Berjoget dan melangkah makin mendekati Srintil. Tangan kirinya melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Tiba-tiba dengan kekuatan yang mengherankan Kartareja mengangkat tubuh Srintil tinggi-tinggi. Menurunkannya kembali dan menciumi
ronggeng itu penuh birahi.
 
 Penonton bersorak. Mereka bertepuk tangan dengan gembira. Tetapi aku diam terpaku. Jantungku berdebar. Aku melihat tontonan itu tanpa perasaan apa pun kecuali kebencian dan kemarahan. Tak terasa tanganku mengepal. Hanya itu, karena aku tak bertindak apa-apa. Tak berani berbuat apa-apa. Dan Kartareja terus menciumi Srintil tanpa peduli puluhan pasang mata melihatnya.
 
 Tak kuduga sorak-sorai orang Dukuh Paruk berhenti seketika. Mereka, juga aku sendiri, kemudian melihat Kartareja mendekap Srintil begitu kuat sehingga perawan kecil itu tersengal-sengal. Bahkan akhirnya Srintil merintih kesakitan. Seakan dia merasa tulang-tulang rusuknya patah oleh himpitan lengan
Kartareja yang kuat.
 
 Terjadi ketegangan. Tetapi belum ada orang yang bertindak. Kecuali Sakarya yang tiba-tiba melompat ke depan sambil berseru,
 
 “Hentikan calung. Hentikan calung!”
 
 Sakarya mendekati Kartareja yang tetap mendekap Srintil kuat-kuat. Sakarya melihat mata cucunya terbeliak karena sukar bernapas. Terbata-bata kakek Srintil itu meratap.
 
 “Lepaskan cucumu, Eyang Secamenggala. Aku memohon lepaskan Srintil. Kasihani dia, Eyang. Srintil adalah keturunanmu sendiri,” ratap Sakarya berulang-ulang.

Sehabis berkata demikian Sakarya berbalik mengambil pedupaan. Dikibas-kibaskannya asap kemenyan itu ke arah Kartareja yang dipercayainya sedang kemasukan arwah Ki Secamenggala. Nyai Kartareja mengambil segayung air kembang dan disiramkannya ke kepala suaminya. “Eling, Kang. Eling,” kata
Nyai Kartareja.
 
 “Jangan panggil dengan sebutan Kang! Panggil dia dengan kata Eyang. Kau tak tahu suamimu sedang kesurupan?” bentak Sakarya kepada Nyai Kartareja.
 
 Entah oleh siraman air kembang atau oleh kepulan asap pedupaan, perlahan-lahan Kartareja mengendorkan dekapannya atas diri Srintil. Kedua tangannya terkulai. Dukun ronggeng itu mulai berdiri goyah, dan akhirnya roboh ke tanah. Tangan dan kaki Kartareja kejang. Matanya kelihatan mengerikan karena hanya kelihatan bagiannya yang putih.
 
 Aku maju ke depan. Aku ingin menjadi orang pertama yang menolong Srintil dari ketakutannya. Kurangkul pada pundaknya.
 
 “Kau tidak apa-apa, Srin?” tanyaku.
 
 Srintil hanya menggeleng. Dingin terasa tubuhnya. Tangannya gemetar.
 
 Tinggal Kartareja yang menjadi perhatian orang. Dia masih terkapar. Tetapi perlahan-lahan dia menggeliat, kemudian melenguh. Matanya terbuka. Masih tertidur di tanah, Kartareja menoleh kiri-kanan, lalu duduk. Dukun ronggeng itu masih kelihatan bingung.
 
 “Syukur-syukur,” ujar Sakarya. “Sampean sudah sadar, Kang?”
 
 “Lho, ada apa? Kenapa badanku basah begini? Mengapa calung berhenti?” tanya Kartareja bimbang. Dipandangnya orang-orang yang mengelilinginya, kemudian Kartareja bangkit berdiri.

 “Ada apa ini?” ulang Kartareja.


“He-he. Eyang Secamenggala baru saja hadir. Beliau bertayub bersama Srintil,” ujar Sakarya
menerangkan.
 
 “Eyang Secamenggala?”
 
 “Benar, Kang. Rohnya memasuki tubuh sampean dan tentu saja sampean tidak sadar. Hal ini berarti persembahan kita pagi ini diterima olehnya. Srintil direstuinya menjadi ronggeng.”
 
 Percakapan selanjutnya antara Sakarya dan Kartareja tidak lagi kudengar. Aku juga tidak lagi mendengar celoteh serta gumam orang-orang Dukuh Paruk tentang peristiwa yang baru terjadi. Apa pun tak kuinginkan kecuali segera membawa Srintil menyingkir. Kugandeng tangannya menuruni bukit kecil
pekuburan. Srintil tidak kuantar pulang ke rumahnya, melainkan kubawa ke rumahku. Suatu keberanian yang tak pernah terbayangkan dapat kulakukan. Anehnya, Srintil menurut. Bukan main besar rasa hatiku.
 
 “Rasus, bila kau tahu betapa ngeri hatiku tadi,” ujar Srintil yang kududukkan di atas lincak.
 
 “Kartareja memang bajingan. Bajul buntung,” jawabku mengumpat dukun ronggeng itu.
 
 “Eh, Rasus. Jangan berkata begitu. Kaudengar tadi kata kakekku, bukan? Kartareja hanya kesurupan arwah Ki Secamenggala.”
 
 “Tidak peduli. Yang penting kakek tua bangka itu berbuat keterlaluan. Kau didekapnya. Bila tak tertolong kau pasti mati tercekik.”
 
 “Apakah engkau akan bersedih bila aku mati?” tanya Srintil. Pertanyaan itu membuat mulutku
terbungkam.
 
 Ah. Srintil tak bersalah bila dia tak mengerti apa arti dirinya bagiku. Dia takkan mengerti bahwa bagiku, dirinya adalah sebuah cermin di mana aku dapat mencoba mencari bayangan Emak. Srintil takkan mengerti hal itu. Dan sekali lagi kukatakan Srintil tak bersalah. Maka untuk sekedar menjawab pertanyaan, kukatakan, “Srin, kau dan aku sama-sama menjadi anak Dukuh Paruk yang yatim piatu sejak kanak-kanak. Kita senasib. Maka aku tak senang bila melihat kau celaka. Bila kau mati aku merasa kehilangan seorang teman. Kau mengerti?”



                               *****



(Bagian Ketiga) 
 
 
 Aku mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng. Ternyata aku salah. Orang-orang Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil masih harus
menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran.
 
 Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! pikirku.
 
 Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Tetapi mendengar keperawanannya
disayembarakan, hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak-klambu yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.
 
 Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan keperawanannya. Untuk itu Kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelambu. Dalam tempat tidur ini kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang memenangkan sayembara.
 
 Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat persiapan pelaksanaan malam bukak-klambu itu. Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang.
 
 “Saatnya telah saya tentukan pada Sabtu malam yang akan datang,” kata Kartareja pada suatu pagi di hadapan banyak laki-laki di pasar.
 
 “Dan sampean meminta sekeping ringgit emas?”
 
 “Ya. Kukira itu harga yang patut,” jawab Kartareja.
 
 “Ah,” lenguh laki-laki yang bertanya tadi.
 
 “E... Kenapa? Terlalu mahal? Ingat baik-baik. Pernahkah ada ronggeng secantik Srintil?”
 
 “Itu benar. Srintil memang ayu dan kenes. Tetapi siapa yang memiliki sebuah ringgit emas di Dukuh Paruk,”
 
 “Oh, saya tak pernah bermimpi seorang laki-laki Dukuh Paruk akan memenangkan sayembara. Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Aku tidak berharap mereka mengikuti sayembara.”
 
 Berita tentang malam birahi itu cepat menyebar ke mana-mana, jauh ke kampung-kampung di luar Dukuh Paruk. Banyak perjaka atau suami yang tergugah semangatnya. Tetapi sebagian besar segera memadamkan keinginannya setelah mengerti apa syarat untuk tidur bersama Srintil pada malam bukak-klambu. Sebuah ringgit emas senilai dengan harga seekor kerbau yang paling besar. Hanya
beberapa pemuda yang merasa dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu.
 
 Tiga hari sebelum Sabtu malam. Sebuah lampu minyak yang terang telah dinyalakan di rumah Kartareja. Pintu sebuah kamar sengaja dibiarkannya terbuka. Dengan demikian sebuah tempat tidur berkelambu yang masih baru bisa dilihat orang dari luar. Tutup kasurnya putih bersih demikian pula bantalnya. Bagi semua orang Dukuh Paruk yang biasa tidur di atas pelupuh bambu, pemandangan seperti itu sungguh luar biasa. Sore itu banyak perempuan dan anak-anak Dukuh Paruk datang ke rumah Kartareja hanya dengan tujuan melihat tempat tidur itu.
 
 Aku sendiri ada disana . Tidak masuk ke dalam rumah, karena dari tempatku berdiri di sudut halaman sudah dapat kulihat tempat tidur berkelambu itu. Bila orang-orang memandangnya dengan kagum, aku melihat tempat tidur itu dengan masygul. Muak bercampur marah.
 
 Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat bagi Srintil melaksanakan malam bukak-klambu, tidak lebih dari sebuah tempat pembantaian. Atau lebih menjijikkan lagi. Disana dua hari lagi akan berlangsung
penghancuran dan penjagalan. Aku sama sekali tidak berbicara atas kepentingan birahi atau sebangsanya. Disana, di dalam kurung kelambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini amat kuhargai. Sesudah berlangsung malam bukak-klambu, Srintil tidak suci lagi. Soal dia kehilangan keperawanannya, tidak begitu berat kurasakan. Tetapi Srintil sebagai
cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping.
 
 Membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikkannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri itu. Aku muak. Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk
menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadi aku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung!
 
 Masih dari tempatku berdiri, aku melihat Srintil keluar. Merah bibirnya karena Srintil makan sirih. Rambutnya yang kelimis terjurai menutupi sebagian pundaknya yang mulai berisi. Perempuan-perempuan serta anak-anak segera mengelilinginya di balai-balai. Gumam pujian mulai didengungkan oleh para
perempuan itu. Kulihat Srintil tertawa riang. Apa yang salah bila gadis sebesar Srintil bersenang hati mendengar segala macam pujian.
 
 Melihat bagaimana cara para perempuan Dukuh Paruk memuji Srintil maka aku yakin setiap diri mereka berharap kiranya anak perempuan mereka kelak seperti Srintil. Menjadi ronggeng. Atau para perempuan itu menyesal mengapa kaki mereka pengkor, atau pipi mereka tambun, atau bibir mereka seburuk bibir kerbau sehingga tak bakal layak menjadi ronggeng. Tak tahulah!
 
 Boleh jadi aku akan tetap melamun berang bila gerimis tidak turun. Tak kuduga gerimis kali ini menguntungkan. Para perempuan dan anak-anak yang merubung Srintil segera bangkit bergegas pulang ke rumah masing-masing. Aku sendiri hanya maju beberapa langkah dan berteduh di emper rumah
Kartareja. Srintil baru melihatku setelah aku berada di bawah naungan emper itu.

“He? Engkau di situ, Rasus?” tanya Srintil. Nadanya bersukacita.
 
 “Ya.”
 
 “Sudah lama?”
 
 “Sejak sebelum gerimis.”
 
 "Mari masuk. Temani aku. Kartareja dan istrinya sedang pergi ke rumah kakekku, Sakarya. Aku seorang diri sekarang.”
 
 Srintil menarik tanganku.
 
 Aku menurut. Kami duduk berdua di atas lincak. Srintil terus bergerak seperti kanak-kanak. Ah, dia memang masih kanak-kanak. Usianya sebelas atau dua belas tahun. Meski begitu Srintil menangkap suasana yang lesu pada diriku.
 
 “He, kau seperti malas bercakap-cakap. Kau segan menemaniku di sini?”
 
 “Tidak. Sama sekali tidak.”
 
 “Tapi kau hanya berkata bila kutanya. Kenapa?”
 
 “Tutup pintu kamar itu dulu.”
 
 “Lho, kenapa?”

“Aku tak ingin melihat tempat tidur itu meski Kartareja memamerkannya buat semua orang,” kataku agak ketus.
 
 Srintil termangu sejenak. Tak usah lama berfikir rupanya Srintil mengetahui juga mengapa aku berkata demikian. Naluri seorang perempuan. Lama kunanti tanggapan Srintil. Tetapi mulutnya yang mungil dan merah masih terkatup. Dia hanya bangkit memenuhi permintaanku menutup pintu kamar itu. Derit pintu bambu dan lenyap dari pandanganku tempat tidur yang akan menjadi ajang Srintil melepaskan keperawanannya.
 
 “Ya, Rasus aku tahu. Kau tak usah berkata banyak aku sudah tahu mengapa kau membenci tempat tidur itu.”
 
 “Hm?”
 
 “Dan engkau tahu bahwa aku senang menjadi ronggeng, bukan?”
 
 “He-eh.”
 
 “Lalu?”
 
 “Yah, aku hanya ingin bertanya padamu; bagaimana perasaanmu menghadapi saat Sabtu malam itu?”
 
 Aku tidak segera mendapat jawaban. Kulihat seorang gadis kecil sedang berfikir tentang sesuatu yang baru baginya. Bukan hanya baru, melainkan juga sesuatu yang menjadi salah satu tonggak sejarah biologisnya. Mungkin selama ini Srintil hanya terpukau oleh janji Kartareja bahwa sebuah ringgit emas yang diberikan oleh laki-laki pemenang akan menjadi miliknya. Kemampuan pikirannya hanya sampai di situ.
 
 “Bagaimana?” tanyaku mengulang.
 
 “Entahlah, Rasus. Aku tak mengerti,” jawab Srintil sambil menundukkan kepala.

“Tentu kau senang karena kau akan memiliki sebuah ringgit emas. Kikira begitu.”
 
 “Aku tak mengerti, Rasus. Yang jelas aku seorang ronggeng. Siapa pun yang akan menjadi ronggeng harus mengalami malam bukak-klambu. Kau sudah tahu itu, bukan?”
 
 “He-eh.”
 
 “Atau begini, Rasus. Bukankah kau telah disunat?”
 
 “Sudah tiga tahun. Kenapa?”
 
 Srintil diam. Dikibaskannya rambutnya ke belakang. Wajahnya menunduk. Kemudian tanpa melihatku ronggeng itu berkata.
 
 “Misalnya, Rasus. Misalnya. Engkau mempunyai sekeping ringgit emas.”
 
 “Selamanya aku takkan pernah mempunyai sebuah ringgit emas,” jawabku cepat. “Aku hanya mempunyai sebuah keris kecil warisan Ayah, dan satu-satunya milikku yang berharga itu telah kuserahkan padamu. Kini engkau pasti tahu aku tak mempunyai apa-apa lagi. Kau harus tahu hal itu, Srintil.”
 
 Mata Srintil terarah lurus kepadaku. Tak lebih dari sepasang mata anak-anak. Aneh juga. Dari pemilik sepasang mata itu aku mengharap terlalu banyak. Tetapi aku tak merasa bersalah. Tidak. Karena pada saat itu misalnya, ketika Srintil menatapku tajam, aku teringat Emak. Emakku yang mati dan mayatnya dicincang. Atau Emakku yang lari bersama mantri keparat itu, dan sekarang barangkali berada di Deli,
negeri khayali yang berada di batas langit.
 
 Kutoleh Srintil. Dia masih menatapku dengan cara seorang bodoh. Padahal yang kuharapkan waktu itu adalah pernyataan Srintil bahwa ia tidak akan menempuh malam bukak-klambu karena dia telah memutuskan tidak akan menjadi ronggeng. Ah, keinginan gila yang mustahil terlaksana. Lucunya, aku menyadari hal itu sebaik-baiknya.
 
 Suasana yang bisu membuatku tak betah. Srintil pun kulihat gelisah di tempatnya. Aku tak tahu apalagi yang patut kuperbuat, atau layak kukatakan kepada Srintil. jadi aku bangkit tanpa berucap barang sepatah kata dan berjalan ke arah pintu.
 
 “Engkau mau ke mana, Rasus?” kata Srintil.
 
 “Pulang.”
 
 “Jadi engkau mau pulang?”
 
 “Ya.”
 
 “Jadi engkau mau pulang, Rasus? Di luar masih gerimis,” ujar Srintil di belakangku.
 
 Aku terus berjalan. Lepas di halaman, kain sarung kututupkan ke atas kepala. Ketika membalikkan badan kulihat Srintil masih berdiri di bawah atap emper. Sebenarnya aku tidak meninggalkannya dengan sepenuh hati. Tetapi aku terus berjalan. Sampai di rumah aku langsung merebahkan diri ke atas lincak.
 
 Hujan turun makin lebat. Alam menghiburku dengan tiris lembut menyapu tubuhku yang tergulung kain sarung. Aku tidur melingkar seperti trenggiling. Dengan demikian panas tubuhku agak terkendali. Tidur di atas pelupuh, kala hari hujan. Kenangan yang tak terlupakan bagi anak-anak Dukuh Paruk. Aku terlena, larut dalam perjalanan alam pedukuhan kecil itu.
 
 Jumat malam.
 
 Kemarau sungguh-sungguh telah berakhir. Siang hari hujan turun amat lebat. Lapisan lumpur yang telah berbulan-bulan mengeras seperti batu, kini terendam air. Sawah luas yang mengelilingi Dukuh Paruk tergenang. Dukuh Paruk menjadi pulau. Hanya jaringan pematang tampak membentuk kotak-kotak
persegi yang sangat banyak. Tetapi tanah pematang rapuh dan longsor bila terinjak kaki.





Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...