"SHAOLIN TEMPLE"
Tidak kering-kering rasanya bibir kami kelas enam membicarakan betapa suksesnya show kemarin. Ceritanya beraneka rupa dari yang sebenarnya terjadi sampai yang diragukan kesahihannya. Mulai dari Khair yang sempat akan dicubit seorang penonton perempuan yang marah karena merusak sanggulnya dengan hembusan kipas angin, Malik pemeran Ibnu Batutah yang benjol kepalanya karena terantuk mik yang menggantung, sampai cerita beberapa ibu-ibu pamong praja yang menyatakan niatnya tertarik mengambil
anak kelas 6 sebagai menantunya kelak. Yang pasti sahih adalah kami mengarak Atang, Said dan Abdil lalu kami ceburkan ke bak kamar mandi.
Tiga hari kemudian, ketika kami sudah melepas lelah, kami bertemu lagi di aula untuk evaluasi dan pembubaran panitia. Ustad Torik, guru pembimbing yang biasanya bermuka dingin, kali ini royal berbagi senyum, walau tipis-tipis saja. Pengarahannya lebih banyak berisi pujian dan sedikit kritik untuk persiapan kami yang tidak tuntas sampai hari H.
Sedangkan dari kami sendiri, banyak kawan menganggap kekurangan show kemarin adalah tidak mantapnya perencanaan teknis, sehingga perubahan acara dan teknis masih terus terjadi beberapa hari sebelum hari H.
“Iya, contohnya ketika kita tiba-tiba harus ke Surabaya untuk membeli es kering. Kalau sudah kita rencanakan dari awal, kita tidak perlu tergesa-gesa seperti itu,” kataku sambil
mengenang perjalanan ini.
Surabaya? Daun telinga Ustad Torik langsung tegak berdiri.
Dia tampak mencoba mengail-ngail ingatan kalau pernah ada penugasan ke Surabaya.
Dua hembusan napas kemudian, dia segera bertanya galak, “Surabaya? Kapan itu?
Aku mencium bencana dari kejauhan. Ragu-ragu aku menjawab,”Tiga hari sebelum show, Tad….”
“Siapa yang otorisasi kalian ke sana?” serbunya dengan nada tinggi.
Kami semua terkesiap. Bencana itu sedang mengetok-ngetok pintu. Aku merasa sekian sorot mata kini menghujatku. Said yang masih menjabat keamanan sampai bulan depan
mencoba mengusai keadaan.
“Kami minta izin ke Ponorogo, tapi barangnya hanya ada di Surabaya. Untuk kelancaran acara, waktu sudah tidak mungkin kembali ke PM. Jadi kami terus ke Surabaya…”
“Jawab pertanyaan saya: siapa yang otorisasi?”
“Inisiatif kami, Tad.”
“Sejak kapan kalian melebihi KP?”
“Maaf Tad, suasana mendesak sekali. Kami harus bertindak cepat.”
“Kalian bisa pulang ke sini minta izin dulu.”
“Takut terlambat Tad, waktunya sempit sekali….” Dengan nada dan tatapan dinginnya. Ustad Torik memotong. “Itu bukan alasan. Menunggu sampai pagi pun masih bisa. Kalian sudah tahu aturan adalah aturan. Semua yang ikut ke Surabaya saya tunggu di kantor. SEKARANG JUGA.”
Muka Said langsung rusuh. Tampaknya dia tahu benar kalau dia salah besar. Dalam buku pegangan keamanan, pergi keluar tanpa izin yang resmi adalah pelanggaran berat. Sungguh ganjil melihat komandan “The Magnificent Seven” yang ditakuti murid-murid kini berada dalam posisi tersudut. Atang hanya bisa pasrah. Aku merutuk diri karena salah ucap.
Kawan-kawan menepuk-nepuk punggung kami, mencoba membagi simpati.
Era 50 Kami bertiga bergerombol duduk di lantai. Ruangan ini berlangit-langit tinggi. Dinding diisi rak-rak buku kaca yang berisi bundel-bundel dokumen yang tebal. Menurut rumor, di sini terdapat semua laporan dan catatan perilaku setiap orang yang ada di PM dan alumni. Di tengah ruangan ada karpet tipis berwarna merah, tempat kami duduk. Dan persis di depan karpet ini berdiri kokoh sebuah meja kayu panjang tanpa pelituran. Di belakang meja inilah tiga ustad KP duduk dengan aura angker. Ustad Torik dengan wajah besi
mendehem serak sebelum buka suara.
“Baru kemarin dipuji-puji, tapi kini kalian memalukan. Sebagai kelas tertinggi, kalian yang harus jadi teladan adik-adik kelas. Saya kecewa sekali.”
Sedangkan pikiranku berlari ke sana-sini, mencoba mencari-cari celah pengampunan. Apalagi aku merasa pernah cukup berjasa dan pernah bekerja sama dengan Ustad Torik untuk persiapan menjadi student speaker waktu kedatangan Duta Besar Inggris. Bapak Dubes sampai berkali-kali menunjukkan
betapa senangnya dia terhadap pidatoku kala itu. Bukankah itu sesuatu sumbangsih yang besar buat PM. Semoga aku dimaafkan dengan pertimbangan ini.
Said tampaknya juga sedang mencoba menggali-gali memorinya, apa saja yang mungkin bisa dijadikan kalimat pembelaannya.
Sementara Atang yang baik dan lurus, selalu telah merasa bersalah terlebih dahulu dan tidak banyak membuat perlawanan kalau memang merasa bersalah. Bagi dia ketaatan
kepada hukum itu sangat penting.
“Kalian tahu, dan saya juga tahu, kalian sudah bantu pondok,” seolah-olah bisa membaca pikiran kami.
“Tapi ingat, di sini adalah tempat memberikan jasa, bukan minta dan mengingat jasa. Dan kepastian hukum adalah yang pertama kita jaga supaya ini terus melekat ke diri kalian,
kapan dan di mana pun. Kepastian hukumlah yang membuat PM menjadi sekolah yang baik.” Tidak berlama-lama, dia menyuruh kami berdiri dengan suara mengguntur. “Berdiri dan menghadap ke dinding,” katanya dingin.
Kami segera patuh dan memutar menghadap dinding, membelakangi mereka bertiga.
Aku pasrah dan memejamkan mata, apa pun yang akan terjadi terjadilah. Walau aku mencoba mengantisipasi apa saja, degup jantungku terus berdentam-dentam. Stereo pula.
Dan, tiba-tiba benda sedingin es segera menyentuh kudukku, membuat aku merinding di kuduk dan tangan. Dan krik… krik… krik… dengan lapar sebuah gunting memangkas
rambutku. Mulai dari kuduk, terus naik ke ubun-ubun dan setelah itu bergerak ke kiri dan ke kanan tidak beraturan. Potongan rambutku yang lurus-lurus berguguran menjatuhi lantai, bercampur dengan potongan rambut keriting Said yang berdiri di sebelahku. Dalam beberapa menit kami telah menjelma bagai murid shaolin yang punya kepala berbinar-binar.
Tidak ada yang bicara di antara kami bertiga. Said yang gagah perkasa tak kuasa menegakkan badan. Atang hanya dapat menunduk seakan kepala seberat batu karang. Aku sendiri bertarung dengan rasa malu. “Semoga ini menjadi pelajaran buat kalian seumur hidup, dan kalian ikhlas menerima hukuman ini,” pesan Ustad Torik melepas kami di pintu kantornya.
Pintu terkuak. Kami bagai murid Shaolin yang baru keluar dari gerbang padepokan. Kami manusia berkepala botak yang memantul cahaya matahari gilang gemilang ke segala arah. Adik-adik kelas yang melihat kami lewat terlongo-longo. Sebagian lain tampaknya menyembunyikan senyum. Mungkin mereka tidak habis mengerti bagaimana mungkin seorang penjaga kedisiplinan seperti Said bisa kena tulah botak. Said semakin tertunduk.
Kembali ke aula, kami disambut tepuk tangan oleh teman-teman kelas enam. Sedangkan kami bertiga mengelus-ngelus kepala botak kami, memelas. Bagaimana pun kami salah, kami dianggap pahlawan yang membela kepentingan bersama show kami.
Seharusnya aku bersyukur kehilangan rambut saja. Said selain kehilangan rambut, juga kehilangan jabatan. Kasus ini membuat dia menjadi orang bebas lebih cepat sebulan
daripada semestinya.
Hukum di sini tidak pandang rambut. Salah sedikit, gunting bertindak.
Said yang telah berhasil menemukan optimisme normalnya lalu menggamit kami berdua. “Ya akhi, sebelum ke asrama, kita ke studio foto dulu yuk. Kapan lagi tiga orang berkepala shaolin berfoto pakai sarung.” Said memang selalu tahu bagaimana mengambil sisi positif dari setiap bencana.
Walau sudah dibuldozer habis oleh Ustad Torik, kepala kami belum botak tuntas. Di sana-sini masih ada rambut dan pulau-pulau rambut yang tidak rata. Lebih jelek daripada botak licin. Kesimpulanku: Ustad Torik bukan seorang tukang botak yang baik. Inilah saatnya Pak Narto turun tangan. Laki-laki kurus
berusia 50-an tahun ini adalah tukang cukur resmi PM. Dia menguasai nasib ribuan kepala penduduk PM. Kepada tangannya yang bergerak lincah kami percayakan model dan
gaya rambut kami. Sayangnya, hanya satu gaya yang tersedia: gaya cepak pendek!
Pak Narto yang selalu memakai kemeja putih yang sudah menguning ini membuka layanannya di emperan aula bagian belakang. Dia punya peralatan sederhana: sepotong kaca berbingkai kayu tua yang sudah kusam, sebuah lemari kayu kecil yang berengsel karatan, dan sebuah kursi kayu setinggi
pinggang dengan tumpuan tangan di kiri dan kanannya. Lemari kayu kecil ini sekaligus menjadi meja kerjanya. Di mejanya berderet lima pe-ragat: gunting cukur yang kurus,
mesin cukur manual dengan geligi tajam, sebuah pisau cukur lipat, sebuah sisir plastik, dan sebuah sikat dari ijuk halus.
Kalau sedang antri panjang menunggu giliran dicukur, aku suka memperhatikan cara kerja Pak Narto. Yang selalu membuatku kagum adalah kecepatan tangannya bergerak
mengayuh gunting. Aku suka terpekik-pekik kecil melihat ujung guntingnya bergerak lincah ke mana-mana. Takut kalau memakan ujung kuping pelanggannya. Tapi selama ini dia
sukses bekerja tanpa korban kuping. Alat favoritku adalah mesin cukur manual yang ujungnya mirip kepala semut raksasa bergigi tajam itu. Crik… crik… crik… paling lama sepuluh menit saja, pesanan kepala berambut pendek selesai. Sedangkan untuk kasus kepalaku yang botak, dia tidak
menggunakan gunting, tapi pisau lipat yang lebih dulu digesek-gesekkan ke sebuah ikat pinggang kulit butut yang digantung di sebelah kaca.
“Supaya pisaunya tajam dan tidak melukai kulit kepala, Nak,” katanya ketika aku tanya kenapa kulit bekas.
Mengambil kesimpulan prestasi Pak Narto ini, aku menjuluki Pak Narto sebagai “Penjagal 3000 Kepala”.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar