Sabtu, 06 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 3

"RAPAT TIKUS"


Tidak ada waktu lagi. Menurut informasi dari surat Pak Etek Gindo, waktu pendaftaran Pondok Madani ditutup empat hari lagi, padahal butuh tiga hari jalan darat untuk sampai di Jawa Timur. Tiket pesawat tidak terjangkau oleh kantung keluargaku. 

“Kita naik bus saja ke Jawa besok pagi,” kata Ayah yang akan mengantarku. 

Bekalku, sebuah tas kain abu-abu kusam berisi baju, sarung dan kopiah serta sebuah kardus mie berisi buku, kacang tojin dan sebungkus rendang kapau yang sudah kering kehitam-hitaman. Ini rendang spesial karena dimasak Amak yang lahir di Kapau, sebuah desa kecil di pinggir Bukittinggi. Kapau terkenal dengan masakan lezat yang berlinang-linang kuah 
santan. 

Sebelum meninggalkan rumah, aku cium tangan Amak sambil minta doa dan minta ampun atas kesalahanku. Tangan 
kurus Amak mengusap kepalaku. Dari balik kacamatanya aku lihat cairan bening menggelayut di ujung matanya. 

“Baik-baik di rantau urang, Nak. Amak percaya ini perjalanan untuk membela agama. Belajar ilmu agama sama dengan berjihad di jalan Allah,” kata beliau. Wajahnya tampak ditegar-te-garkan. Katanya, cinta ibu sepanjang hayat dan mungkin berpisah dengan anak bujangnya untuk bertahun-tahun bukan perkara gampang. Sementara bagi aku sendiri, bukan perpisahan yang aku risaukan. Aku gelisah sendiri dengan keputusanku merantau muda ke Jawa. 

Setelah merangkul Laili dan Safya, dua adikku yang masih di SD, aku berjalan tidak menoleh lagi. Kutinggalkan rumah kayu kontrakan kami di tengah hamparan sawah yang baru ditanami itu. Selamat tinggal Bayur, kampung kecil yang 
permai. Ha-laman depan kami Danau Maninjau yang berkilau-kilau, kebun belakang kami bukit hijau berbaris. 

Bersama Ayah, aku menumpang bus kecil Harmonis yang terkentut-kentut merayapi Kelok Ampek Puluah Ampek. Jalan mendaki dengan 44 kelok patah. Kawasan Danau Maninjau menyerupai kuali raksasa, dan kami sekarang memanjat pinggir kuali untuk keluar. Makin lama kami makin tinggi di atas Danau Maninjau. Dalam satu jam permukaan danau yang biru tenang itu menghilang dari pandangan mata. Berganti dengan horison yang didominasi dua puncak gunung yang 
gagah, Merapi yang kepundan aktifnya mengeluarkan asap dan Singgalang yang puncaknya dipeluk awan. Tujuan kami ke 
kaki Merapi, Kota Bukittinggi. Di kota sejuk ini kami berhenti di loket bus antar pulau, P.O. ANS. Dari Ayah aku tahu kalau PO itu kependekan dari perusahaan oto bus. 

Kami naik bus ANS Full AC dan Video. Kami duduk di kursi berbahan beludru merah yang empuk di baris ketiga dari depan. Aku meminta duduk di dekat jendela yang berkaca besar. Bus ini adalah kendaraan terbesar yang pernah aku naiki seumur hidup. Udara dipenuhi aroma pengharum ruangan yang disemprotkan dengan royal oleh stokar ke langit-langit dan kolong kursi. Berhadapan dengan pintu paling 
belakang ada WC kecil. Di belakang barisan kursi terakhir, langsung berbatasan dengan kaca belakang, ada sebidang tempat berukuran satu badan manusia dewasa, lengkap dengan sebuah bantal bluwak dan selimut batang padi 
bergaris hitam putih. Kenek bilang ini kamar tidur pilot. Kata Ayah, setiap delapan jam, dua supir kami bergiliran untuk tidur. 

Tampak duduk dengan penuh otoritas di belakang setir, laki-laki legam, berperut tambun dan berkumis subur melintang. Kacamata hitam besarnya yang berpigura keemasan terpasang gagah, menutupi sebagian wajah yang berlubang-lubang seperti kena cacar. Dia mengenakan kemeja seragam hitam dan merah dipadu dengan celana jins. Di atas 
saku bajunya ada bordiran bertuliskan namanya, “Muncak”. Aku memanggilnya Pak Etek Muncak. Kebetulan dia adalah adik sepupu jauh Ayah. 

Begitu mesin bus berderum, tangan kirinya yang dililit akar bahar menjangkau laci di atas kepalanya. Dia merogoh tumpukan kaset video beta berwarna merah. Hap, asal pegang, dia menarik sebuah kaset dan membenamkannya ke pemutar video. Sejenak terlihat pita-pita warna-warni berpijar pijar di layar televisi, sebelum kemudian muncul judul film: Rambo: The First Blood Part II. 

Aku bersorak dalam hati. Televisi berwarna adalah kemewahan di kampungku, apalagi pemutar video. Mungkin tontonan ini bisa sejenak menghibur hatiku yang gelisah 
merantau jauh. Bus melaju makin kencang. Sementara Rambo sibuk berkejar-kejaran dengan pasukan Vietnam. 

“Selamat Jalan, Anda telah Meninggalkan Sumatera Barat” sebuah gapura berkelebat cepat. Bus kami menderum memasuki Jambi. 

Tapi semakin jauh bus berlari, semakin gelisah hatiku. Jantungku berdetak aneh, menyadari aku sekarang benar-benar meninggalkan kampung halamanku. Bimbang dan ragu 
hilang timbul. Apakah perjalanan ini keputusan yang paling tepat? Bagaimana kalau aku tidak betah di tempat asing? Bagaimana kalau pondok itu seperti penjara? Bagaimana kalau 
gambaran Pondok Madani dari Pak Etek Gindo itu salah? Pertanyaan demi pertanyaan bergumpal-gumpal menyumbat kepalaku. 

Aku tidak kuat menahan malu kalau harus pulang lagi. Sudah aku umumkan keputusan ini ke segenap kawan dan handai tolan. Bujukan mereka agar tetap tinggal di kampung telah kukalahkan dengan argumen berbahasa Arab yang terdengar gagah, “uthlubul ilma walau bisshin”, artinya “tuntutlah ilmu, bahkan walau ke negeri sejauh Cina”. 

“Ke Cina saja disuruh, apalagi hanya sekedar ke Jawa Timur,” bantahku percaya diri kepada para pembujuk ini. Ke mana mukaku akan disurukkan, kalau aku pulang lagi? 

Hari kedua perjalanan, stok film habis. Rambo sudah dua kali “disuruh” Pak Etek Muncak bertempur di hutan Vietnam. Sementara, pelan tapi pasti suasana bus berubah. Akumulasi 
bau keringat, sampah, bau pesing WC, bau kentut, bau sendawa, dan tentu saja bau penumpang yang mabuk darat menggantung pekat di udara. 

Tapi Pak Etek Muncak tampaknya punya dedikasi tinggi dalam menghibur penumpang. Beberapa kali dia menurunkan kacamata hitamnya sedikit dan mengintip para penumpang dari kaca spion. Begitu dia melihat banyak penumpang yang lesu dan teler, dia memutar kaset. Bunyi talempong segera 
membahana, disusul dengan sebuah suara berat memperkenalkan judul kaset…. “Inilah persembahan Grup Balerong pimpinan Yus Datuak Parpatiah: Rapek Mancik. 
Rapat Tikus….” Para penumpang bertepuk tangan, sebagian bersuit-suit. 

Kaset ini berisi komedi lokal yang sangat terkenal di masyarakat Minang. Yus Datuak Parpatiah, si pendongeng, melalui logat Minang yang sangat kental, berkisah tentang 
bagaimana lucunya rapat antar warga tikus yang ingin menyelamatkan diri dari serangan seekor kucing. Di sana-sini narator dengan cerdik menghubungkan kehidupan tikus dan 
kehidupan masyarakat Minang. Banyak diskusi, banyak pendapat, banyak debat, hasilnya nol besar. Karena tidak seekor tikus pun yang mau melakukan rencana yang telah bertahun-tahun dibicarakan untuk melawan kucing. Yaitu 
mengalungkan giring-giring di leher kucing, sehingga ke mana pun kucing pergi, masyarakat tikus pasti mendengar. 

Kontan, bus yang melintas rimba Sumatera yang hening itu menjadi riuh rendah. Bangku-bangku sampai berdecit-decit karena penumpang terbahak-bahak sampai badan mereka bergoyang-goyang. Pak Sutan yang terserang mabuk darat dan lesu pun bisa bangkit dari keterpurukannya setelah berhasil muntah sambil ketawa. Mukanya merah padam, tapi bahagia. Umi Piah, nenek tua berselendang kuning yang duduk di belakangku tidak kalah heboh. Beberapa kali dia tergelak kencang sambil kentut. Mungkin otot perutnya agak los karena menahan tekanan ketawa. 

Pak Sutan adalah sosok kurus beraliran putih. Rambut, alis, jenggot, bahkan bajunya semua putih. Dia saudagar kain yang selalu bolak-balik Pasar Tanah Abang dan Pasar Ateh 
Bukittingi. Dia membawa hasil tenunan Pandai Sikek ke Jakarta dan pulang kembali dengan memborong baju murah untuk dijual di Bukittinggi. Dia tipe orang yang senang maota, 
ngobrol ngalor-ngidul. Sambil tidur-tidur ayam, aku mendengar Ayah berbicara dengannya. 

“Bapak mau menuju ke mana?” tanya Pak Sutan mencondongkan badannya ke kursi Ayah. 

“Saya mau mengantar anak. Mau masuk sekolah di Pondok Madani di Jawa Timur.” 

“Maksudnya, pondok tempat orang belajar agama itu, kan?” dia bertanya sambil matanya melirik berganti-ganti ke arah aku dan Ayah dengan sorot simpati. 

“Iya betul, Pak.” 

“Wah, bagus lah itu,” jawabnya seperti menguatkan kami. Ayah tersenyum tanpa suara sambil mengangguk-angguk. 

Setelah diam sejenak dan tampaknya berpikir-pikir, Pak Sutan mendekatkan kepalanya ke Ayah. Dia merendahkan suara seakan-akan tidak mau didengar orang lain. Mukanya 
serius. “Semoga berhasil Pak. Saya dengar, pondok di Jawa itu memang bagus-bagus mutu pendidikannya. Anak teman saya, 
cuma setahun di pondok langsung berubah menjadi anak baik. Padahal dulunya, sangat mantiko. Nakal. Tidak diterima di sekolah mana pun karena kerjanya ngobat, minum dan suka berkelahi. Anak begitu saja bisa berubah baik.” 

Dengan setengah terpicing aku bisa melihat muka Ayah meringis. Kepalanya menggeleng-geleng. “Pak… anak ambo kelakuannya baik dan NEM-nya termasuk paling tinggi di Agam. Kami kirim ke pondok untuk mendalami agama”. Suaranya agak ditekan. Mungkin naluri kebapakannya tersengat untuk membela anak dan sekaligus membela dirinya sendiri. Tidak mau dicap orang tua yang gagal. Dalam hati aku bertepuk tangan untuk pukulan telak Ayah. 

Pak Sutan terdiam dan sejenak raut muka berubah-ubah. “Wah lebih bagus lagi itu,” jawabnya malu-malu dengan suara rendah. Dia berusaha meminta maaf tanpa harus mengucap maaf. 

Amak mungkin benar. Banyak orang melihat bahwa pondok adalah buat anak yang cacat produksi. Baik karena tidak mampu menembus sekolah umum yang baik, atau karena salah gaul dan salah urus. Pondok dijadikan bengkel untuk memperbaiki yang rusak. Bukan dijadikan tempat untuk menyemai bibit unggul. 

Tapi bagaimana kalau Pak Sutan ini benar? Kalau ternyata Pondok Madani memang tempat kumpulan para anak mantiko. Anak bermasalah? Wajahku rusuh dan hatiku mengkerut. Aku lebih banyak diam selama perjalanan. 

Walau mengantuk, aku tidak bisa tidur nyenyak selama perjalanan. Sebentar-sebentar terbangun oleh guncangan bus yang menghantam jalan berlubang. Di lain waktu, aku terbangun dengan kekhawatiran tentang sekolah. Di antara buaian lubang di jalan, dua kali aku dikunjungi mimpi yang sama. Mengikuti ujian akhir matematika yang sulit tanpa sempat belajar sama sekali.

Mungkin karena pikirannya juga tidak menentu, Ayah juga tidak banyak bicara tentang tujuan perjalanan kami. Dia lebih banyak membicarakan kehebatan sepupunya yang tamatan STM, merantau ke Jakarta dan sukses mempunyai kios reklame di Aldiron, Blok M dengan nama Takana jo Kampuang. Kangen Kampung. Atau tentang teman masa kecil 
yang kemudian punya armada empat angkot di Bekasi, dengan tulisan besar di kaca belakang bertuliskan Cinto Badarai. Cinta Berderai. 

Perjalanan di malam kedua semakin berat. Bus kami sampai di bagian jalan lintas Sumatera yang mengular, memilin perut dan membuat mata nanar. Sudah 3 butir pil antimo aku 
tenggak dan kulit limau manis aku jajalkan di depan hidung. Tapi perutku terus bergolak ganas. Air liur terasa encer kecut dan otot rahang mengejang. Kritis. Aku berdiri di depan dam raksasa yang siap runtuh. Plastik asoi, begitu orang Minang menyebut tas kresek aku buka lebar-lebar untuk menampung isi perutku yang bertekad keluar. Hanya tinggal menunggu waktu saja… 

BLAAR! Bus tiba-tiba bergetar dan oleng. Semua penumpang berteriak kaget. Amukan di perutku tiba-tiba surut, pudur seperti lilin dihembus angin. Pak Etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, “Alah kanai lo baliak. Kita kena lagi!”. Roda belakang pecah. Di tengah rimba gulita, hanya ditemani senter dan nyanyian jangkrik hutan, kenek dan supir bahu membahu mengganti ban. Aku was-was. Bulan lalu ada berita besar di Haluan tentang bus yang dirampok oleh bajing loncat, komplotan begundal yang menghadang bus dan truk di 
tempat sepi. Mereka tidak segan membunuh demi mendapatkan rampokan. 

“Semoga tidak lama ganti bannya,” gumam Ayah yang mulai kuatir. Menurut Pak Etek Gindo, Pondok Madani tidak punya tawar menawar dengan batas waktu pendaftaran murid baru. Kalau terlambat, mohon maaf, coba lagi tahun depan. 

Untunglah Pak Etek Muncak dengan raut muka meyakinkan menjamin bahwa kami akan sampai di penyeberangan ferry Ba-kauheuni sebelum tengah malam. Badanku pegal dan 
telapak kakiku bengkak karena terlalu lama duduk. Aku sudah tidak sabar menunggu kapan bisa turun dari bus dan naik ferry. Ini akan menjadi pengalaman pertamaku menyerangi lautan. 

“Pegangan yang kuat,” teriak laki-laki bercambang lebat dengan seragam kelasi kepada penumpang ferry raksasa yang aku tumpangi. Dari laut yang gulita, deburan demi deburan terus datang menampar badan kapal, bagai tidak setuju dengan perjalananku. Lampu ruang penumpang mengeridip setiap goyangan keras datang. Angin bersiut-siutan 
melontarkan tempias air laut yang terasa asin di mulut. Muka dan bajuku basah. 

Aku segera mencekal erat pagar besi dengan tangan kanan. Tapi aku tetap terhuyung ke kanan, ketika ombak besar menampar lambung ferry. Mukaku terasa pias karena cemas dan mual. Berkali-kali aku berkomat-kamit memasang doa, agar laut kembali tenang. Ayah memeluk tiang besi di sebelahnya. 

“Ndak ba’a do, sebentar lagi kita sampai!” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit bahuku. Padahal setengah jam yang lalu pelayaran kami mulus, gemericik air 
yang dibelah haluan terasa menentramkan hati. 

Untunglah beberapa menit kemudian angin berubah lindap dan gelombang susut. Kapal kembali tenang membelah Selat Sunda. Laut boleh tenang, tapi perutku masih terus 
bergulung-gulung seperti ombak badai. Mulutku pahit dan meregang. Begitu terasa ada yang mendesak kerongkongan, aku hadapkan muka ke laut lepas dan aku relakan isi perut ditelan laut.

Aku baru benar-benar merasa lega ketika melihat ujung mer-cusuar yang terang dan kerlap-kerlip sampan nelayan yang mencari ikan di malam hari. Artinya Pulau Jawa sudah 
dekat. Tidak lama kemudian, kapten kapal mengumumkan kami akan segera sampai dan menyarankan penumpang untuk turun ke ruang parkir di perut kapal dan segera naik bus. 

Bagai paus raksasa kekenyangan, begitu sampai dermaga Merak, ferry ini memuntahkan isi perutnya berupa bus besar antar kota, truk, mobil pribadi, motor dan sebuah traktor kecil 
dan galedor’. Tidak lama kemudian bus tumpanganku melarikan kami ke arah Jakarta. Jari-jariku masih bergetar dan bajuku lembab berbau asin air laut. 



                              **MB**



Supremasi orang Minang soal makanan sangat tampak dalam perjalanan ini. Hampir semua tempat makan di pinggir jalan lintas Sumatera dan Padang memakai tanduk dan bertuliskan “RM Padang”. Di dalam ruangannya yang lapang tersusun meja dan kursi yang jumlahnya ratusan. Speaker yang berbentuk kotak-kotak kayu ada di setiap sudut ruangan 
dan tidak henti-henti memperdengarkan lagu pop Minang. 

Kendaraan berat yang berfungsi meratakan jalan. Biasanya berwarna kuning dan rodanya berbentuk silinder besi. Sementara itu di belakang ruang makan, berderet puluhan 
kamar mandi dan WC serta mushala untuk melayani penumpang antar kota yang mungkin sudah tiga hari tiga malam menjadi musafir. Menurut pengamatanku, perbedaan antara RM yang ada di lintas Sumatera dan Lintas Jawa adalah derajat pedasnya rendang. Semakin menjauh dari Padang semakin tidak pedas. 

Di setiap RM, ada sudut yang tampak disiapkan untuk kalangan VIP. Tidak jarang, sudut ini ditutup pemisah ruangan, dan tempat duduknya dibuat sangat santai seperti 
bale-bale. Makanan yang terhidang sangat lengkap. Pelayan selalu siaga di sebelah meja ini. Tempat paling terpuji di RM ini ternyata disiapkan hanya bagi “pelanggan teladan”: para supir dan kenek bus antar kota ini. Rupanya para saudagar Minang ini sadar bahwa supir bus adalah klien penting yang 
selalu membawa puluhan pelanggan. Hebatnya lagi, servis kelas satu ini disediakan gratis. Beruntunglah kami, sebagai kroni sang supir, bisa menikmati fasilitas untuk Pak Etek 
Muncak ini. 

Bus kami tidak hanya menderu melintas batasan geografis tapi sekaligus menembus batas budaya, dan bahasa. Duduk di 
sebelah jendela kaca bus yang besar, rimba muncul dalam wajah beragam, mulai dari hutan ilalang akibat pembabatan pohon, hutan kelapa, hutan jati, hutan karet, hutan gelap, 
hutan terang, hutan botak, hutan rimbun, hutan berkabut, hutan berasap dan hutan terbakar. 
Aku menyaksikan mulai dari rumah gadang, rumah panggung Palembang, rumah atap rumbia, rumah bata, rumah joglo, sampai rumah kardus. Atapnya pun berbagai rupa dari 
ijuk, seng, genteng, plastik sampai tidak beratap. Berbagai kulinari unik yang dijajakan para tukang asong juga sebuah kemeriahan tersendiri, ada bika padang, sate padang, sate 
udang, pisang goreng, kacang rebus, rujak buah, sampai tempe mendoan. Para pedagang ini bahkan memakai bahasa lain untuk hanya menyebut “berapa”: bara, berapo, berape, 
sabaraha, sampai piro.

Di hari ketiga, aku menggeliat terbangun ketika silau matahari pagi mulai menembus jendela bus yang berembun. Langit sudah terang dan biru, sementara kabut tipis masih mengapung di tanah dan menutupi sawah dan pohon-pohon. Sebuah tanda lalu lintas muncul dari balik kabut tipis, bertuliskan “Selamat Datang di Jawa Timur.” Provinsi tempat Pondok Madani berada. 

Pagi mulai beranjak dhuha. Bus ANS menurunkan aku dan Ayah di terminal Ponorogo. Sambil menenteng tas, kami 
memutar mata ke sekeliling stasiun, mencari informasi bagaimana mencapai Pondok Madani. Masih di dalam terminal, tidak jauh di depan kami ada tenda parasut biru yang 
kembang kempis ditiup angin. Sebuah papan menggantung di depannya: Jurusan Pondok Madani. Di depan tenda ada meja panjang yang dijaga anak-anak muda berbaju kaos putih panjang lengan. Rambut mereka cepak gaya Akabri. Seorang di antaranya bergegas mendekati kami. Sepatu bot ala tentaranya berdekak-dekak di aspal. Di dada sebelah kiri 
kaosnya tertulis nama; Ismail Hamzah-Maluku. Di lehernya menggantung kartu pengenal merah bertuliskan “Kelas 6, Panitia Penerimaan Siswa Baru”. 

Dengan senyum lebar yang memperlihatkan sebaris gigi putih, dia menyapa Ayah, “Assalamualaikum Pak. Saya Ismail siswa kelas enam PM atau Pondok Madani. Bapak mau mengantar . 

“Waktu ketika matahari mulai naik di pagi hari, tapi belum siang. Sebagian umat Islam melakukan shalat sunat di waktu dhuha ini anak sekolah ke Madani?” Ayah mengangguk. 

“Baik Pak, tolong ikuti saya…” Dengan sigap dia mengangkat tas dan kardus kami lalu mengikatkannya di atap bus biru PM Transport. Sejenak kemudian kami telah menembus perkampungan dan persawahan yang menghijau, disupiri oleh Ismail. Lembar petualangan hidupku baru saja dibuka. 





Bersambung.... 


______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...