Jumat, 05 Maret 2021

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT BAB 15

Bab 15: Pertemuan



SEKALI peristiwa pada suatu petang. Midun dengan istrinya duduk-duduk di beranda 
muka rumahnya makan-makan angin. Sedang ia minum-minum teh, tiba-tiba berlarilah 
anaknya dari dalam. Anak itu sudah berumur tiga tahun lebih. Ia membawa sebuah surat 
kabar mingguan pada tangannya. Maka anak itu pun berkata, 

"Papa, apa ini?

Anak itu menunjuk sebuah gambar pada surat berkala itu. Midun melihat, lalu diperhatikannya gambar itu. Kemudian ia berkata, 

"Ini gambar negeri bapak. Anak mau pergi ke Padang?" 

"Mau," jawab anaknya, yang barangkali kurang  mengerti benar akan perkataan bapaknya. 

"Coba lihat!" ujar Halimah meminta gambar itu. 

"Gambar itu ialah gambar ngarai atau 
'Karbauwengat' di Bukittinggi benar. Kalau saya tidak salah, hanya 10 menit perjalanan." 

Midun terkenang akan negerinya. Tampak-tampak olehnya jalan-jalan di kampungnya. 
Ia bermenung, pikirannya melayang ke kampung. 

Tiba-tiba terbayang ibu dan adiknya Juriah, yang sangat dikasihinya itu. Setelah beberapa lamanya dengan hal demikian itu, Midun berkata kepada istrinya, 

"Halimah! Jika saya tidak salah, ketika kita berjalan-jalan di Kebun Raya dahulu, kau ada berkata, 'Tahun mana musim pabila dan dengan jalan apakah lagi, maka dapat saya melihat negeri Padang yang saya cintai itu'. Perkataanmu itu, sebenarnyalah atau untuk bersenda gurau saja?" 

Midun tersenyum, ia terkenang akan halnya masa dahulu, waktu berjalan-jalan dengan Halimah di Kebun Raya. Halimah kemalu-maluan. Sambil tersenyum, ia pun berkata, 

"Apakah sebabnya sekarang Udo menanyakan hal itu? Belumkah tampak oleh Udo, bahwa perkataan saya itu sebenarnya?" 

"Bagaimana pula akan tampak, karena kita sudah hampir 6 tahun di sini saja." 

"Sudah sebesar ini si Basri anak kita, belumlah tampak oleh Udo, bahwa perkataan saya itu sungguh-sungguh?" 

"O, jadi yang kau maksud 'negeri Padang' dahulu itu si Midun kiranya." Midun tersenyum pula.

Kemudian ia berkata lagi, katanya, 

"Perkataan saya ini sebetul-betulnya, Halimah. Sudah hampir 6 tahun saya di sini, ingin benar saya hendak menemui ibu dan adik saya Juriah. Cukuplah ayah meninggal dunia karena bercintakan saya, tetapi janganlah hendaknya terjadi pula sekali lagi pada ibu hal yang demikian itu." 

"Menurut pikiran Udo, bagaimana yang akan baiknya?" 

"Pikiran saya, jika sepakat dengan Halimah, saya bermaksud hendak memasukkan rekes meminta pindah ke negeri saya. Sukakah kau, jika kita kembali pula ke Padang?" 

"Menurut hemat saya, hal itu tidak perlu Udo tanyakan lagi kepada saya. Jika saya akan dua hati juga kepada Udo, tidaklah saya bersuamikan Udo. Jangankan ke Padang. Ke
laut api sekalipun saya turutkan, jika Udo mau membawa saya, anak yatim ini. 

Lain tidak hanya Udolah bagi saya, ketika panas tempat berlindung, waktu hujan tempat berteduh." 

"Saya sudah maklum tentang hatimu. Bukankah baik juga kita mufakat apa yang harus kita kerjakan. Kalau demikian, baiklah. Besok saya hendak menghadap Hoofdcommissaris, akan memohonkan permintaan, mudah-mudahan dikabulkannya dan dapat pertolongan pula daripadanya." 

Pada keesokan harinya pagi-pagi Midun pergilah ke kantor Hoofdcommissaris. Dari 
jauh Midun sudah dipanggil Hoofdcommissaris, karena waktu ia akan masuk kantor, sudah kelihatan kepadanya. 

Senang benar hati tuan itu bertemu dengan dia, karena tidak saja Midun sudah bertanam budi kepadanya, dalam pekerjaan pun cakap dan terpuji pula. 

"Apa kabar, Midun?" ujar Hoofdcommissaris. 

"Ada baik saja dalam pekerjaan?" 

"Baik, Tuan," ujar Midun dengan hormat, "tidak kurang suatu apa." 

"Sekarang apa maksudmu datang kemari?" 

"Jika tak ada alangan pada Tuan; saya ada hendak memohonkan permintaan sedikit." 

"Boleh, katakanlah apa yang hendak kamu minta itu!" 

"Sudah hampir enam tahun saya di sini, ingin benar saya hendak menemui ibu dan adik-adik saya. Entah masih hidup juga mereka itu sekarang entah tidak. Oleh sebab itu jika izin Tuan, saya hendak memohonkan, bagaimana baiknya agar cita-cita saya itu sampai." 

"Jadi Midun ingin bekerja di negeri sendiri?" 

"Saya, Tuan. Tetapi kalau tak ada alangan pada Tuan dan dengan pertolongan Tuan jua." 

"Baiklah. Buatlah rekes kepada Residen Padang. Sesudah kamu buat, berikan kepada saya. Nanti saya sendiri mengirimkan ke Padang." 

"Terima kasih banyak, Tuan," ujar Midun dengan girang. 

Dengan petunjuk beberapa orang pegawai kantor itu, maka dibuatlah oleh Midun rekes kepada Residen Padang memohonkan suatu pekerjaan di Sumatra Barat. 

Setelah sudah, lalu diberikannya kepada Hoofdcommissaris. Kemudian ia pergi menjalankan pekerjaannya seperti biasa. 

Sepuluh hari kemudian dari pada itu, pagi-pagi, ketika Midun mengenakan pakaian di 
rumahnya, kedengaran olehnya di muka orang mengatakan 

"Pos". 

Halimah segera keluar. 

Tidak lama ia kembali, lalu berkata, "Telegram, Udo." 

Setelah ditekan Midun surat tanda penerimaan telegram itu, diletakkannya di atas meja. Sesudah berpakaian, dengan darah berdebar-debar dan harap-harap cemas, lalu dibukanya telegram itu. Tiba-tiba ia terperanjat, karena di dalam telegram itu tersebut, bahwa Midun diangkat jadi assisten demang di negerinya sendiri, dan mesti selekas-lekasnya berangkat.

Tidak dapat dikatakan bagaimana kegirangan hati Midun masa itu. Diciumnya anaknya beberapa kali akan menunjukkan sukacitanya. Halimah jangan dikatakan lagi. Amat girang hatinya karena suaminya menjadi assisten demang. 

Dengan suka dan girang, Midun berangkat ke kantor Hoofdcommissaris. Sampai di sana, ia terus saja masuk ke kamar Hoofdcommissaris, sambil memegang surat kawat di tangannya. 

Midun berkata dengan gagap, diunjukkannya telegram itu katanya, 

"Saya diangkat jadi assisten demang di negeri saya, Tuan!" 

Hoofdcommissaris membaca telegram itu. Setelah dibacanya, ia pun berkata dengan 
girang, 

"Selamat, selamat, Midun! Yang kamu cita-citakan sudah dapat. Keangkatanmu ini tentu menyenangkan hatimu, karena kamu dipindahkan ke negerimu sendiri." 

Hoofdcommissaris itu berdiri, lalu ditepuk-tepuknya bahu Midun. Maka ia pun berkata 
pula, katanya, 

"Pemandanganmu sudah luas, pengetahuanmu pun sudah dalam. Sebab itu pandai-pandai memerintah dan memajukan negerimu. Saya harap kamu hati-hati dalam pekerjaan, jangan kami dapat malu karena kamu. 

Jika kamu rajin bekerja,tidak lama tentu kamu diangkat jadi demang. Pergilah sekarang juga menghadap Tuan Residen, 
memberitahukan keangkatanmu ini. Dialah yang terutama mengenalkan kamu dalam hal ini. 

Balik dari sana kemari lagi. Nanti saya buat sepucuk surat untuk tuan Residen Padang. 
Kamu harus berangkat dengan lekas ke Padang." 

Midun tidak dapat menjawab perkataan Hoofdcommissaris lagi, karena disuruh pergi. 
Dengan menganggukkan kepala saja, Midun terus pergi menghadap Tuan Residen, akan 
mengucapkan terima kasih atas usulnya itu. 

Sepekan kemudian daripada itu, Midun dua laki istri dan Manjau berangkatlah ke Padang. Dengan selamat dan tidak kurang suatu apa, ia pun sampailah di Pelabuhan Teluk Bayur. 

Setelah diantarkannya istrinya ke rumah salah seorang kenalannya di sana, Midun terus menghadap Tuan Residen akan memberikan surat dari Hoofdcommissaris Betawi. 

Surat itu dibaca Tuan Residen, dan sambil memberi selamat, Midun dinasihatinya dengan panjang lebar. 

Setelah itu ia kembali pulang ke tempatnya menumpang. Midun dengan istrinya pergi 
mengunjungi kubur ibu Halimah. Sudah itu ia pergi mendapatkan Pak Karto ke Ganting. 

Amat girang hati Pak Karto bertemu dengan Midun. Apalagi setelah mendengar kabar, 
bahwa Midun sudah menjadi assisten demang, ia sangat bersukacita. Maka ditinggalkan 
Midun uang f 100,- untuk Pak Karto. 

Disuruhnya ganti kubur ibu Halimah dengan batu, lebihnya untuk Pak Karto. Pada keesokan harinya pagi-pagi, Midun berangkat ke Bukittinggi. Maka sampailah mereka itu dengan selamat di negeri tumpah darahnya. 

Midun pergi menghadap Tuan Assisten Residen, akan memberitahukan bahwa ia sudah datang dan memohonkan perlop barang sebulan, karena ia sudah 6 tahun tidak pulang ke negerinya. 

Permintaannya itu dikabulkan oleh Assisten Residen. Adapun di kampung Midun pada hari itu Tuan Kemendur mengadakan rapat besar. 

Sudah 3 bulan lamanya kampung Midun dengan daerahnya diwakili oleh demang lain 
memerintah di situ, sebab belum datang gantinya. 

Rapat hari itu ialah rapat besar, akan 
menentukan penghulu-penghulu, mana yang harus diberi bersurat dan mana yang tidak. 
Oleh sebab itu, segala penghulu kepala dan penghulu-penghulu yang ternama hadir belaka, 
membicarakan bagaimana caranya pengatur hal itu. 

Rapat hampir habis, yaitu kira-kira pukul 11, Midun laki istri dan Manjau sampai di 
kampungnya dengan selamat. Didapatinya orang sedang rapat di pasar di kampungnya dan Tuan Kemendur ada pula di sana. 

Maka Midun pun pergilah menemui Tuan Kemendur. Setelah beberapa lamanya Midun bercakap dengan Tuan Kemendur, Tuan Kemendur memberitahukan pada kerapatan, bahwa Midunlah yang akan menjadi assisten demang di negeri itu. 

Sesudah itu Midun menerangkan pula dengan pandak, atas kepindahannya dari Betawi ke negerinya sendiri. 

Datuk Paduka Raja, mamak Midun yang masa itu ada pula hadir dalam rapat itu, melompat karena girang mendengar kabar Midun menjadi assisten demang. Dengan suka amat sangat ia pun pergi mendapatkan kemenakannya. 

Baru saja Midun melihat mamaknya, dengan segera ia menjabat tangan Datuk Paduka Raja. Keduanya berpandang-pandangan, air matanya berlinang-linang, karena pertemuan yang sangat menyenangkan hati itu. 

Segala penghulu kepala dan penghulupenghulu bersalam kepada Midun dengan hormatnya. Bagaimana pulalah halnya dengan Penghulu Kepala Kacak? 

Dengan malu dan takut, ia datang juga bersalam kepada Midun. Itu pun sudah kemudian sekali, yakni setelah orang-orang habis bersalam dengan Midun. 

Midun sangat hormat dan merendahkan diri kepada Kacak. Dirasanya tangan Kacak gemetar bersalam dengan dia. Sedang bersalam, Midun berkata, 

"Senang benar hati saya melihat Engku sudah menjadi penghulu kepala. Karena Engku sahabat saya yang sangat akrab masa dahulu, tentu saja kita akan dapat bekerja bersama-sama memajukan negeri kita. Sebab itu saya harap, 
moga-moga pergaulan kita sekarang mendatangkan kebaikan kepada negeri ini." 

Kacak ketakutan, warna mukanya pucat seperti kain putih. Sepatah pun ia tidak berani 
menjawab perkataan Midun itu. Segala penghulu-penghulu dan penghulu kepala yang lain amat heran, karena Midun sangat hormat dan merendahkan diri kepada Penghulu Kepala Kacak. 

Apalagi melihat muka Kacak yang pucat itu, semakin takjub orang memandanginya. Tetapi Penghulu penghulu yang mengetahui hal Kacak dan Midun masa dahulu, mengangguk-anggukkan kepala saja, karena mereka maklum akan sindiran assisten demang yang demikian itu. 

Rapat itu disudahi sebab sudah habis. Midun suami istri dan Manjau serta mamaknya 
terus ke rumah familinya. Di jalan dikabarkan Datuk Paduka Raja, bahwa ibu Midun baru 
sepekan di rumah. Ia pergi ke Bonjol menurutkan Maun bekerja.

Sebabnya Maun ke Bonjol, diterangkan Datuk Paduka Raja, bahwa Maun selalu diganggu Penghulu Kepala Kacak di kampung. 

Kepulangan ibunya itu hanya karena hari 
akan hari raya saja. Baru saja Midun naik ke rumah, sudah tampak kepadanya ibunya, Juriah, dan sahabatnya-sekarang telah menjadi iparnya duduk di tengah rumah. Mereka itu berlompatan melihat Midun dan Manjau. Tak ubahnya sebagai orang kematian di rumah itu. 

Mereka itu empat beranak berpeluk-pelukan dan Bertangis-tangisan amat sangat. Lebih-lebih Midun dan Maun dua orang sahabat yang sangat akrab dahulu. Tidak insaf, kedua mereka itu lagi, bahasa ia sudah beripar besan.

Sama-sama tidak mau melepaskan pelukan 
masing-masing. Halimah sendiri turut pula menangis melihat pertemuan suaminya itu. 

Ada setengah jam lamanya, barulah tenang pula di rumah itu. Tidak berapa lama antaranya, Midun berkata, 

"Inilah menantu Ibu, namanya Halimah. Dan ini cucu Ibu, namanya Basri." 

Ibu Midun baru insaf akan diri, bahwa beserta Midun ada pula menantu dan cucunya. 
Halimah segera mendapatkan mentuanya lalu menyembah. Ibu Midun mendekap 
menantunya itu. 

Kemudian diambilnya cucunya, dipangku dan diciumnya beberapa kali. Maka Halimah 
diperkenalkan Midun dengan seisi rumah, dan diterangkannya jalari apa kepadanya orang 
itu masing-masing. 

Ratap tangis mulanya tadi, bertukar dengan girang dan suka. Tertawa pun tidak pula kurang. Masing-masing menceritakan halnya sejak bercerai. Ibu Midun bercerita sambil menangis karena sedih atas kematian Pak Midun. Maka Midun pun berkata, katanya, 

"Janganlah Ibu kenangkan juga hal yang sudah-sudah itu. Harta dunia dapat kita cari. Sekarang kami sudah pulang, senangkanlah hati Ibu." 

Kabar Midun menjadi assisten demang di negerinya itu, sebentar saja sudah tersiar ke 
seluruh kampung itu. Amat banyak teman sejawat Midun dahulu datang mengunjunginya. 

Haji Abbas dan Pendekar Sutan datang pula ke rumah. Sehari harian itu tidak ubahnya sebagai orang beralat di rumah gedang itu. Hanya famili ayah Midun saja yang tidak datang. 

Agaknya mereka itu malu dan takut menemui Midun, karena perbuatannya yang sudah-sudah itu. 

Pada keesokan harinya, Midun mufakat dengan Datuk Paduka Raja dan Maun, akan 
membuat rumah dari batu untuk Juriah. Begitu pula akan membeli sawah untuk ibunya dua beranak. Lain daripada itu, Midun hendak membuat gedung pula untuk tempat tinggalnya dengan anak istrinya. 

Sesudah permufakatan itu, Datuk Paduka Raja berkata, 

"Sudah hampir 50 tahun umur saya, tak sanggup lagi saya memegang gelar pusaka nenek moyang kita. Tidak kuat lagi rasanya saya memegang jabatan ini, sampai kepada 'mati bertongkat budi'. Oleh sebab itu saya hendak 'hidup berkerelaan' dengan Midun. 

Midun sekarang sudah menjadi assisten 
demang, jadi sudah layaknya pula memegang gelar itu. Bahkan sudah pada tempatnya 
benar-benar." 

"Bagaimana pikiran Mamak, saya menurut," ujar Midun. 

"Tapi mufakatlah Mamak dahulu dengan kaum keluarga kita, karena gelar itu pusaka kita bersama."

"Hal itu sudah mestinya. Saya rasa tentu tidak akan seorang jua kaum kita yang akan 
membantahnya." 

Sepekan kemudian daripada itu, Midun dijadikan penghulu, bergelar Datuk Paduka 
Raja. Oleh sebab itu Midun mengadakan peralatan yang sangat besarnya. 

Disembelihnya beberapa ekor jawi dan kerbau untuk peralatan itu. Peralatan itu diramaikan dengan tari, pencak, gung, telempong, dan sebagainya, segala permainan anak negeri ada belaka. 

Sungguh alamat ramai, dari mana-mana orang datang. Dari bukit orang menurun, dari lurah 
orang mendaki yang buta datang berbimbing yang lumpuh datang berdukung, yang patah 
datang bertongkat. Tuan Luhak dan Tuan Kemendur pun datang pula mengunjungi 
peralatan itu. Begitu pula assisten demang dan demang banyak yang datang ke peralatan itu. 

Setelah selesai peralatan itu, Datuk Paduka Raja pun memerintahlah di negerinya. Dengan sungguh hati ia bekerja memajukan negeri. Karena anak negeri amat suka diperintahi Datuk Paduka Raja, makin sehari negeri anak makin maju. Apalagi karena assisten demang itu sudah luas pemandangannya dan banyak pengetahuannya, bermacam-macam ikhtiarnya untuk memajukan negeri. 

Demikianlah hal Midun gelar Datuk Paduka Raja, seorang yang amat baik budi pekertinya itu. Dengan sabar dan tulus ikhlas diterimanya segala cobaan atau bahaya. 

Biarpun apa jua yang terjadi atas dirinya. Midun tidak pernah berputus asa, karena ia 
maklum, bahwa tiap-tiap celaka itu ada gunanya atau kesengsaraan itu kerap kali membawa nikmat. Imannya teguh dan tidak pernah hilang akal, kendatipun silih berganti bencana yang datang kepadanya. Karena pengharapannya yang tidak putus-putus itu, selalu ia mengikhtiarkan diri akan memperbaiki nasibnya. 

Adapun penghulu kepala musuh Datuk Paduka Raja yang sangat bengis dahulu itu, sejak pertemuan di pasar waktu assisten demang baru datang, sudah melarikan diri entah 
ke mana. 

Rupanya ia takut dan malu kepada Datuk Paduka Raja, musuhnya dahulu. Dan boleh jadi juga sebab yang lain maka ia melenyapkan diri itu. 

Hal itu segera diberitahukan Datuk Kemendur. Maka Tuan Kemendur bersama dengan juru tulisnya datang dari Bukittinggi akan memeriksa buku-buku dan keadaan beberapa uang kas negeri. 

Setelah diperiksa, kedapatan ada beberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya. Kacak dicari, didakwa menggelapkan uang belasting. 

Sebulan kemudian daripada itu, Kacak dapat 
ditangkap orang di Lubuksikaping. Dengan tangan dibelenggu, ia pun dibawa polisi ke 
Bukittinggi terus dimasukkan ke penjara. 

Enam bulan sesudah itu, perkara Kacak diperiksa. Karena terang ia bersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun dan dibuang ke Padang. 




SELESAI



_____________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...