"PIALA DI DIPAN PUSKESMAS"
Tidak terasa, musim ujian datang lagi. Aku dan segenap siswa sibuk kembali belajar keras dan juga sahirul lail. Ujian akhir tahun mirip dengan pertengahan tahun, cuma bahannya lebih banyak, dan hampir semua bahan berbahasa Arab dan Inggris. Ini membuatku benar-benar harus bekerja keras untuk bisa menjawab soal tulis, maupun soal lisan.
Dengan susah payah, dua minggu masa ujian hampir berlalu dan hanya tinggal satu ujian yang menggantung: ilmu hadist, Hadist adalah segala sabda dan perbuatan Nabi Muhammad selama beliau menjadi Rasulullah. Karena itu
hadist dianggap sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran.
Untunglah sebagian besar soalnya tentang metodologi pemahaman hadist. Aku diminta menjabarkan bagaimana penggolongan hadist serta sejarah pendokumentasiannya dari dulu sampai sekarang. Aku menuliskan secara garis besar jenis hadist berdasarkan keasliannya, antara lain hadist shahih, artinya punya isi yang sejalan dengan Al-Quran, kuat dan otentik alur penyampaian dari zaman Nabi sampai sekarang, lalu hadist hasan yang kualitasnya di bawah shahih, lantas hadist dhaif atau lemah antara lain karena ada penyampaiannya yang diragukan dan yang terakhir adalah hadist maudhu’ atau palsu. Masing-masing aku berikan contoh potongan hadistnya. Aku cukup optimis untuk teori dan metodologinya, tapi kurang puas dengan contoh-contoh hadist
yang aku berikan.
Walau sudah belajar keras, kadang-kadang sampai pagi dan diskusi panjang lebar tentang berbagai mata pelajaran dengan Baso dan Raja, menuliskan khulashah—kesimpulan dari pelajaran setengah tahun di buku catatan, berdoa khusyuk siang malam, aku tetap merasa hasil ujian selama dua pekan ini tidak sempurna. Tapi apa pun hasilnya nanti, yang penting sekarang semuanya sudah berakhir. Waktunya libur panjang akhir tahun—berpuasa sebulan penuh dan berlebaran di rumah masing-masing. Kami baru kembali masuk sekolah pertengahan bulan Syawal.
“Hore, selesai juga akhirnya. Sekarang aku bisa konsentrasi latihan sepak bola untuk finali” sorak Said merayakan lari kemerdekaannya dari ujian. Final Piala Madani-kompetisi terbesar di PM—memang sengaja dilangsungkan setelah ujian agar para pemain dan penonton bisa menikmati permainan
tanpa terganggu oleh ujian dan jadwal belajar yang ketat. Seperti biasa, sebelum libur panjang, kami punya waktu bebas selama satu minggu untuk menunggu hasil ujian dibagikan.
Setelah bertanding sepanjang tahun, tanpa disangka sangka asrama Al-Barq berhasil mencapai final setelah menaklukkan tim-tim tangguh. Kami beruntung punya penyerang lincah seperti Said dan kiper hebat seperti Kak
lskandar yang kurus tinggi. Bukan main bangganya aku sebagai bagian dari tim sepakbola ini walau hanya duduk sebagai pemain cadangan, lawan kami di final tidak main-main juara dua kali Piala Madani, asrama Al-Manar. Asrama siswa senior ini punya banyak pemain bagus. Bahkan setengah timnya adalah pemain Madani Selection, Tim sepakbola PM. Salah satu pemain yang paling ditakuti di tim lawan adalah Tyson. Iya, Tyson yang bagian keamanan pusat itu. Tyson yang horor nomor satu kami itu. Seperti fungsinya di bagian
keamanan, di dalam lapangan dia adalah bek yang penuh disiplin, sulit ditembus dan tidak kom-promi. Badan yang kukuh dan geraknya yang cepat dan keras adalah horor bagi penyerang mana pun.
Sore ini jadwal terakhir kami latihan sebelum final. Walau guruh yang sekali-sekali menggeram dan hujan turun, kami tetap berlatih penuh semangat di lapangan becek. Sebagai-tim kuda hitam, kami tidak punya beban dan berlatih dengan rileks.
Matahari pagi bangun dengan tidak leluasa. Segera dipagut awan gulita. Tidak lama kemudian guruh kembali bersahut-sahutan mengepung langit. Gerimis berganti menjadi hujan yang bagai dicurahkan dari ember raksasa. Kami menatap ke Langit kelabu dengan was-was. Ini hari Jumat. Hari final sepak bola. Bagaimana kondisi lapangan?
Untunglah hujan lebat ini cepat reda. Tinggal gerimis tipis saja. Bersama tim sepakbola Al-Barq, aku berangkat ke dapur umum lebih awal. Di tengah udara pagi yang dingin, ruang
makan dipenuhi keriuhan. Semua orang tidak sabar menanti per-tandingan final. Beberapa teman mengangkat tangan ke arah kami, “Ayo Al-Barq tunjukkan kemampuan kalian!” Di sudut ubin ada yel-yel meneriakkan kejayaan lawan kami, Al-Manaf.
Aku duduk di depan Said yang makan seperti angin puring beliung. Minta tambahan nasi dua kali dan melibas semua yang ada dengan cepat dan tandas.
“Ayo Lif, sikat saja, kita harus makan yang banyak. Lawan kita tidak ringan hari ini,” katanya sibuk mengacau sambal hijau yang berminyak wangi di nasi hangatnya. Sambal khas dapur kami ini memang membuat air liur meleleh-leleh.
“Aku tidak mau kekenyangan dan nanti tidak bisa lari,” jawabku sekenanya. Toh aku cukup tahu diri, sebagai pemain cadangan, aku tidak akan diturunkan di pertandingan puncak ini.
“Ya sudah, kalau begitu tambah dengan ini, supaya kuat,” katanya sambil terus makan. Said merogoh kantong plastik hitam di sampingnya. Dia mengeluarkan empat butir telur ayam kampung, empat sachet madu, dan sebuah kotak multiviramin.
“Ingat resep rahasiaku, kan? Kita butuh semua energi untuk bisa mengalahkan Al Manar. Satu untuk pagi, satu lagi buat siang nanti,” katanya mengangsurkan dua butir telur mentah dan dua plastik kecil madu ke tandanku.
Aku mengikuti sarannya memecah telur, memisahkan putihnya dan memasukkan kuningnya ke dalam gelas kosong. Setelah dicampur dengan madu, kuning telur itu mengental dan berubah warna menjadi cokelat. Ini Dalam sekejap cairan manis ini tandas. Said percaya resep ini manjur untuk apa saja. Mulai dari dari ujian sampai menghadapi final Liga Madani-
Menjelang shalat Jumat gerimis akhirnya pergi. Tapi lapangan Kami agak botak ini sudah terlanjur basah. Hujan tadi pagi membuatnya becek dan licin. Aku jadi ingat permainan sepak bola di sawah ketika SD dulu. Satu hal:
pertandingan di PM tidak pernah ditunda dengan situasi apa pun. Jadwal adalah jadwal.
Setelah shalat Ashar, murid-murid berbondong-bondong ke lapangan sepakbola yang semakin penuh. Tidak hanya murid, para guru dan bahkan Kiai Rais ikut duduk di kursi yang
disediakan di pinggir lapangan. Sementara para murid berdiri atau duduk di tanah yang telah dilapisi plastik supaya tidak mengotori pakaian. Sebagian besar memakai pakaian
olahraga, kaos dan celana training panjang. Sebagian kecil memakai sarung dan kopiah dengan tangan kanan memegang Al-Quran.
Sahibul Menara tentu hadir dengan lengkap. Atang, Raja, Dulmajid dan Baso duduk di barisan paling depan, dekat gawang. Atang yang kreatif Membawa selimut “batang padi”
yang bermotif strip hitam putih dari kamarnya dan mengembangkannya di pinggir lapangan. Di atas selimut itu dia menem-pelkan kertas Warna-warni yang membentuk tulisan: “Kelas Satu Juara Satu. Ayo Al-Barq”.
Aku dan Said yang duduk di sudut pemain ketawa melihat ulahnya. Kami saling melambaikan tangan. Semua anggota tim, baik yang inti dan cadangan, telah berganti baju. Kaos merah menyala dengan tulisan besar di punggung, AlBarq Football dipadu dengan celana training pack panjang berwarna hitam.
Kak Is bertepuk tangan mengajak kami berkumpul di sekelilingnya.
“Akhi, inilah puncaknya! Awal tahun lalu kita cuma menargetkan lolos penyisihan grup. Kini kita ada di final. Jauh lebih baik dari target kita. Final ini adalah bonus. Karena itu hilangkan semua beban. Berikan permainan terbaik kalian. Mari kita nikmati pertandingan ini. Bersedia?” kata Kak Is memompa semangat kami.
“BERSEDIA!” jawab kami bersama-sama.
“Baik, sebelum bertanding, mari berdoa dan membaca Al Fatihah. Al Fatihah…”
Sejenak kami menunduk sambil komat-kamit dan menangkupkan telapak tangan ke muka masing-masing.
Tak lama kemudian, tim kami memasuki lapangan yang agak becek diiringi sorak sorai anggota Al-Barq. Raja, Atang, Dul dan Baso ada di barisan paling depan tersenyum lebar,
meloncat-loncat dan mengibarkan spanduk dari selimut mereka.:
“Ashaabi, kita sambut Al-Barq!” seru Kak Amir Sani, siswa kelas enam bersuara Sambas yang tampil sebagai komentator pertandingan. Tentu saja dengan bahasa Arab. “Tim pendatang baru, anak-anak baru, dengan top scorer Said Jufri dan kiper bertangan lengket, Iskandar Matrufi…”
Lanjutan kalimat Kak Amir tenggelam oleh sorakan heboh asrama kami dan teriakan huuu dari pendukung Al Manar. Pendukung kami kalah jauh dibanding pendukung Al Manar yang mewakili siswa lama.
“Dan juara bertahan dua kali, Al Manaaaaaaaaaaar. Dipimpin oleh bek kanan sekuat beton, Rajab Sujai dan penyerang cepat Mamat Surahman…” Rajab Sujai adalah nama asli Tyson.
Kali ini lapangan seperti akan meledak oleh yel-yel anak iwtocih Berbagai spanduk warna-warni berkibar di pinggir lapangan.
Kak Surya dari bagian olahraga menjadi wasit dan meniup peluit mulai. Tim Al-Barq dengan Said di depan dan Kak is sebagai kiper mulai beraksi di lapangan. Saling serang dan berkelit di lapangan yang licin. Sementara aku, duduk di pinggir lapangan, seperti biasa sebagai pemain cadangan.
“…Tim kejutan tahun ini, Al-Barq menguasai bola, Nahar melancarkan serangan dari sudut kiri… Sebuah umpan lambung mencari strilcer utamanya, Said Kontrol dada yang bagus oleh Said… Kali ini Said mencoba melepaskan
tendangan… Tapi ada Fatah bek Al Manar menghadang… Said berkelit… melompat-sliding lawan… Fatah tergelincir… Said mengambil ancang-ancang dia… sebuah tendangan geledek dilepas… bola meluncur cepat sekali… Rahim, kiper Al Manar terbang ke kiri… menangkap angin… dan… GOL… GOL… Satu
kosong untuk Al-Barq!!!” Suara Kak Amir kembali; tenggelam oleh tepukan dan teriakan anggota asrama kami.
Said bersalto di udara dan dikerubuti tim. Di pinggir lapangan, aku bersama tim cadangan berdiri dan melonjak-lonjak gembira.
Final berjalan ketat dan berat. Kedua tim terus saling menyerang. Kondisi lapangan yang licin membuat pemain dari kedua tim berkali-kali jatuh, Satu per satu pemain ditandu keluar, baik karena jatuh sendiri atau di-talkie. Babak pertama ditutup dengan skor 2-2.
“Sekarang Al Manar membangun serangan balik yang cepat… Bola langsung dikirim ke tengah… Gelandang Isnan langsung mencocor ke tengah. Dua pemain belakang Al Barq menghadang…Tapi Isnan berliku-liku dia… … Terus mendekati gawang… Tendangan kencang dilepaskannya Ke arah kiri… Tapiiiii, ashaabi, kiper Iskandar dengan manis memetik bola di udara… Kedudukan masih imbang dua-dua!”
Kedudukan 2-2 terus bertahan. Tinggal 5 menit lagi waktu habis dan pertandingan akan ditentukan oleh penalti. Aku meremas-remas tanganku tegang. Kondisi di lapangan tampak
kurang baik. Selain licin, beberapa genangan air menghambat para pemain. Berkali-kali mereka jatuh terpeleset. Kedua belah pihak seperti baru mandi di kubangan. Beberapa pemain Al-Barq telah berjalan terpincang-pincang sambil meringis. Rinai-rinai gerimis mulai turun.
Melihat situasi ini, kapten dan merangkap pelatih kami, Kak Is tidak punya pilihan lain. Dia melambaikan tangan kepada kami. Dia meneriakkan nama Yudi, Mufti dan Alif untuk segera menggantikan tiga pemain inti kami yang cedera. Aku? Diminta menggantikan Husnan di sayap kanan?
Otot-ototku tiba-tiba mengencang, Untuk pertama kalinya aku turun di pertandingan resmi. Dan langsung di partai yang sangat menentukan. Aku mencoba menguatkan diri bahwa aku pasti bisa. Toh lapangan rumput yang tidak rata bukan halangan, aku pernah bermain di sawah. Apalagi aku telah makan resep telur madu dari Said. Dengan mengucap bissmillah, aku masuk lapangan. Aku akan memberikan; yang terbaik. Gerimis berubah jadi hujan ringan. Kacamataku buram dihujani tetest air. Para penonton yang tidak punya payung bubar mencari tempat berteduh.
Di menit terakhir aku mendapati operan dari Mufti yang menjadi bek. Bola sampai juga walau sempat melantun-lantun tidak lurus melewati beberapa genangan air. Belum sempat aku menggiring bola, seorang pemain lawan yang napasnya sudah naik turun menghadang gerakanku. Aku praktekkan trik
lama yang aku pelajari di sawah dulu, bila lapangan becek dan berair, gunakan bola atas. Aku berkelit dan bola aku cungkil ke atas melewati ubun-ubunnya dan imiss, aku berlari melewatinya. Melihat itu, suporter Al Barq bersorak-sorak memekakkan telinga. Napasku memburu karena bersemangat.
Tiba-tiba di depanku telah berdiri Tyson, palang pintu Al Manar yang tidak kenal kompromi. Badannya yang kekar mem-buatku jeri. Apakah aku maju terus menggiring bola atau mengirim bola ke belakang? Apakah dia bisa diperdaya dengan trik tadi? Ah sudahlah, jangan terlalu banyak analisa, kata diriku sendiri. Lakukan sesuatu!
Sambil menarik napas dalam, aku bayangkan diriku selincah Maradona dan sekuat Ruud Gullit. Aku ingin memberikan umpan ke depan gawang. Said berdiri bebas di sayap kiri. Tapi
Tyson telah mulai bergerak menutup lariku. Bola aku gulirkan ke belakang dan aku hentikan dengan ujung kaki. Lalu aku mundur dua langkah mengambil: ancang-ancang untuk
menendang melintasi lapangan langsung ke Said. Kaki sudah aku ayunkan ke sisi bola. Tapi bersamaan dengan itu, ujung mataku melihat kaki Tyson sudah keburu melakukan sliding.
Sudah terlalu terlambat untuk menghindar. Aku nekad meneruskan ayunan kakiku sambil memejamkan mata sejenak, berharap kaki Tyson meleset.
Dukk… getaran di ujung kaki menandakan bola berhasil aku tendang. Sepersekian detik kemudian kakiku kembali bergetar. Aku terjungkal. Ngilu menghentak-hentak. Sliding Tyson celah menghajar betisku. Wasit yang sedang sibuk di sayap kiri tidak meniup peluit
Meski rebah di tanah, sudut mataku melihat Said berhasil menerima umpanku. Setelah mengontrol dengan dada, dia langsung mengirim tendangan geledeknya yang terkenal itu. Bola terbang dengan liar, kiper menangkap angin, bola merobek gawang Al-Manar.
“GOOOLL… Saudara-saudara!!! Umpan silang yang hebat; kontrol dada yang tenang dan tendangan mematikan dari Said menaklukkan kiper Al Manar. Dan, oohh, ini bersamaan
dengan peluit wasit. Waktu habis. Dan sambutlah juara baru kita. AL BARRRRQQH” teriak Kak Amir.
Aku mengangkat kedua tangan dan berteriak sekeras-kerasnya, antara senang dan kesakitan. Said dan teman tim berlari-lari tidak tentu arah di lapangan, merayakan kemenangan di menit terakhir ini. Aku yang masih rebah dikerubuti dan diarak bersama Said. Sorak-sorai dari pendukung kami tidak putus-putus. Di antara gelombang
penonton yang berjingkrak-jingkrak itu kulihat wajah Raja, Atang, Dul dan Baso merah padam karena terlalu banyak berteriak. Mereka berempat menepuk-nepuk punggungku ketika aku terpincang-pincang menaiki panggung. “Hidup Al-Barq, hidup Sahibul Menara!” teriak Raja. Di atas panggung, Kiai Rais telah menunggu dengan Piala Madani di tangannya.
Gerimis semakin tipis.
Selama dua hari aku harus istirahat di Puskesmas PM, ditemani Dul yang selalu setia kawan. Kata dokter, tidak ada yang patah, tapi betisku dibebat karena ototnya memar. Tamu
pertama, Said dengan senyum lebar datang bersama teman-teman. Semua menyelamatiku dan memuji umpan silang kemarin. Lalu piala kebanggaan itu ditaruh di samping dipanku dan kami memasang senyum terbaik menghadap ke arah fotografer yang khusus dibawa Kak Is.
Hari kedua, Tyson tiba-tiba masuk ke kamarku. Aku terlonjak kaget di atas dipan. Otakku langsung berputar mencari-cari apa kesalahan yang telah aku lakukan.
"Laa takhaf ya akhi. Jangan takut. Saya datang bukan karena pelanggaran. Hanya untuk meminta maafkan atas tackling kemarin,” katanya Menyodorkan telapak tangan.
Ragu-ragu aku sambut uluran tangannya. Dia mengayun genggamannya dua kali sambil tersenyum tipis. Sebelum aku sempat berkomentar, dia telah menghilang di balik pintu. Walau sangar, dia ternyata sportif.
Kemenangan ini benar-benar mengangkat moral kami para anak baru. Kami belajar bahwa dalam kompetisi yang fair, siapa saja bisa menang, asal mau bertarung habis-habisan. Selama empat hari terakhir sebelum libur, pembicaraan di asrama tidak lepas dari perjuangan heroik kami. Aku bahkan sampai lupa kekhawatiranku tentang nilai yang keluar hari ini. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Nilaiku sangat memuaskan. Atang dan Dulmajid juga mendapat angka yang lumayan bagus. Sementara, Said, dengan segala kesibukan olahraga, sangat bersyukur masih bisa mendapatkan nilai yang memungkinkan dia naik kelas. Sedangkan Baso dan Raja sudah tak perlu diragukan lagi. Mereka kembali mendapat nilai tertinggi di kelas kami.
Lemari-lemari kami telah kosong. Isinya berpindah ketas-tas yang sekarang kami jejerkan di depan asrama. Bus-bus carteran telah berjajar rapi di depan aula, berbaris
berdasarkan daerah tujuan. Organisasi pelajar PM telah mengatur proses kepulangan dengan sangat baik. Suasana riuh rendah ketika kami saling bersalaman dan berangkulan. Tahun ajaran depan anak baru akan disebar ke beberapa asrama anak lama. Walau begitu, kami, Sahibul Menara saling berjanji untuk tetap bersatu.
Pikiranku melayang ke kampungku di pinggir Danau Maninjau yang permai. Dalam beberapa hari lagi, aku akan bertemu Amak, Ayah, Laili dan Safya. Dan juga Randai. Satu tahun yang sangat sibuk ini terasa begitu singkat Libur akan sangat menyenangkan. Tapi diam-diam aku merasa tidak sabar untuk segera kembali ke PM bulan Syawal depan.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar