Jumat, 12 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 19

"BERLIAN DARI BELGIA"


Salah satu bagian penting dari qanun adalah pengaturan arus informasi yang sampai kepada kami para murid. Agar semua informasi mengandung pendidikan, semua saluran hampir dikontrol dan disensor. Di PM, kami hanya bisa membaca 3 koran nasional yang telah disensor oleh bagian keamanan dan pengajaran. Potongan kertas putih ditempel 
khusus di bagian tulisan yang disensor.

Lembar-lembar koran ditempel di panel kaca bolak balik yang tersebar di beberapa sudut PM dan selalu dirubung oleh banyak murid. Karena kami tidak bisa membolak-balik 
halaman kertas koran, yang kami lakukan kalau ingin membaca sambungan berita adalah berpindah ke panel yang lain, atau pindah ke seberang panel, tergantung lanjutan 
berita ada di mana. Beberapa bagian yang disensor selalu menjadi perhatian kami, khususnya bagian iklan film. Dengan 
menerawang melawan matahari, kadang kala kami bisa membaca judul filmnya samar-samar, seperti: Bangkitnya Nyi Roro Kidul, Ratu Buaya Putih, Golok Setan, Dongkrak Antik 
dan lainnya. Sedangkan pemain filmnya tidak jauh dari sekitar Barry Prima, Suzanna, atau Warkop. 

Said paling kesal dengan sensor ini. Kekesalan ini menjelma jadi cita-cita. “Aku ingin menjadi tukang sensor ini saja nanti,” katanya setiap kami berdesakkan membaca koran sore hari. 
Artinya dia harus jadi bagian keamanan pusat Seperti Tyson! 

Panel kaca tidak bisa mengakomodasi majalah sehingga tidak ada sumber berita tertulis selain koran. Tapi kalangan guru boleh membaca majalah seperti Tempo. Untunglah 
sebagai bagian dari awak majalah sekolah, aku punya akses ke perpustakaan khusus guru yang menyediakan majalah Tempo. 

“Kalau kalian ingin bisa menulis berita dengan baik dan enak dibaca, menggunakan bahasa yang bercerita dan sastrawi, maka sering-seringlah membaca Tempo. Mereka punya standar bahasa yang tinggi,” begitu petuah Ustad Salman berkali-kali, setiap kami mengadakan pertemuan bulanan redaksi dan pena-sehat majalah. 

Dengan mata berbinar-binar aku selalu larut dengan berbagai laporan seru wartawan Tempo langsung dari Mesir, Amerika, Australia, sampai Jepang. Semua dikemas dengan 
bahasa yang enak dibaca dan istilah-istilah yang canggih, yang terus terang aku hanya berpura-pura mengerti saja. Walau sekarang ada di PM, belajarnya adalah agama, aku tidak malu bermimpi suatu saat bisa menjadi wartawan Tempo yang melaporkan berita-berita penting dan terhormat dari berbagai 
belahan dunia. Diam-diam aku mulai mempertimbangkan mengganti cita-citaku dari Habibie menjadi wartawan Tempo. 

Yang juga tidak aku lewatkan adalah Catatan Pinggirnya Goenawan Muhamad. Bagiku ini adalah bahasa para peri yang membuai. Sejujurnya, lebih banyak yang tidak aku mengerti, tapi tetap aku paksakan membacanya. Rasanya kok aku menjadi lebih pintar dan terhormat kalau bisa bilang pada 
orang lain bahwa minggu ini aku telah membaca tulisan GM—begitu namanya diringkas di Tempo. 

Walau media lokal disensor ketat, PM membebaskan kami menerima majalah dari luar negeri, karena ini bagian untuk mendalami bahasa Arab dan Inggris. Maka berbondong 
bondonglah kami melayangkan surat ke seluruh dunia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Inggris, Pakistan, sampai Arab Saudi. Tidak perlu susah mengarang karena senior kami sudah punya template surat puja-puji yang manjur untuk membujuk siapa pun mengirimi kami majalah dan buku gratis. 

Sebenarnya, inti suratnya cuma satu: Dengan hormat, Wahai orang baik di luar negeri sana, tolong kirimi kami sebanyak mungkin dan secepat mungkin majalah dan buku gratis! Dialamatkan ke mana? Senior kami juga sudah list organisasi daftar yang bisa dihubungi. Alamat ini telah bertahun-tahun teruji mampu dan mau meladeni surat-surat dari PM. Tapi ada yang mengirim surat membabi buta. Asal 
melihat ada alamat luar negeri yang kayaknya ada free location-nya, dikirim saja. Yang jelas, akibat histeria menulis surat ke luar negeri ini setiap hari bertumpuk-tumpuk paket-paket dan amplop berisi barang cetakan datang dari 
berbagai negara. 

Sebulan yang lalu kami berenam sama-sama mengirim bp? berapa surat untuk dapat majalah gratis. Dari pengalaman selama ini, barulah setelah sebulan ada kemungkinan jutaan yang datang. Sudah beberapa hari ini aku, Raja dan Said rajin berdesak-desakkan dengan puluhan murid lainnya di pengumuman penerima paket yang selalu diperbarui setiap 
jam 4 sore. Hanya Said yang tinggi besar leluasa melihat tanpa berjinjit-jinjit seperti penguin sedang kasmaran. 

“Alif dan Raja, kalian ada di daftar penerima barang tuh!” teriak Said. Dia hanya butuh memanjangkan leher untuk bisa membaca semua nama. Matanya terus menuruni daftar nama sampai ke paling terakhir sebelum akhirnya menyerah. 

“Nggak ada lagi… nggak ada lagi… Kapan ya BBC mengirimi brosur liga Inggris,” keluhnya dengan wajah seperti anak TK kehilangan mobil-mobilan. 

Said memang sangat bersemangat mendapatkan segala terbitan yang berhubungan dengan kompetisi sepakbola 
Eropa, khususnya liga Italia dengan idolanya Marco van Basten dan Ruud Gullit dari AC Milan. Sebelumnya, dia telah dapat brosur dari liga Jerman dan Italia, tinggal Inggris yang 
dinanti-nantinya. 

Hari ini aku menerima tiga kiriman sekaligus. Dua amplop putih kecil dan sebuah amplop cokelat tebal diserahkan oleh petugas sekretariat setelah mencek papan namaku memang sama dengan alamat penerima. Membuka bungkusan kiriman luar negeri adalah sensasi yang sulit digambarkan. Senang, harap-harap cemas, bangga, dan tidak sabar. Ujung amplop berlabelkan “par avion” dan cap bergambar burung elang ini aku robek pelan-pelan, seakan-akan sebuah kertas berharga. Sebuah buku tebal aku tarik keluar dengan riang. 

“Wah, buku percakapan Indonesian-American English dari Radio Amerika!” teriakku kaget. Secarik surat pendek menyertai dan berbunyi: “Mr. Fikri, enjoy your free copy of this book. Thank you. VOA Indonesian Service.” 

Sudah lama aku minta buku ini tanpa ada balasan dan sudah hampir lupa kalau pernah menulis ke sana. Giliran amplop kecil aku robek. Sebuah surat berlogo gambar singa 
dari sebuah museum Inggris meminta maaf karena tidak bisa mengirimkan publikasi gratis karena hanya diperuntukkan untuk member saja. Luar biasa, untuk bilang tidak bisa saja 
sampai harus mengirim surat sendiri, jauh-jauh ke PM. Aku tidak habis pikir dan terkesan dengan gaya dan etika mereka. Amplop yang berisi brosur penerimaan mahasiswa baru di 
sebuah universitas di India. 

Puas rasanya bahwa dunia ini mendengar dan 
meresponsku. Puas rasanya menyadari kalau kita mau berusaha mengetok pintu, kemungkinan besar akan ada yang menjawab. Di lain kesempatan aku pernah dapat inflight 
magazine JAL Airlines, bulletin tiga bulanan bahasa Arab tentang Pakistan, sampai jadwal siaran Radio Rusia. 

Raja yang paling agresif dalam perkara kirim mengirim surat ini, khususnya untuk penerbitan berbahasa Inggris. Seakan-akan di matanya dunia ini toko buku serba ada yang 
gratis. Tinggal minta, nanti pasti datang. Tidak sia-sia, paket rupa-rupa kerap datang untuknya. Ada katalog ekspo teknologi di Jerman, buku belajar bahasa Inggris dari Radio Australia, newsletter dari Radio Belanda dan yang paling aneh katalog perhiasan intan berlian dari Antwerp, Belgia. Selama itu untuk kepentingan belajar berbahasa Inggris, hampir semua publikasi dari Negeri Barat ini dibolehkan oleh PM.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...