"SI PUNGUK DAN SANG BULAN"
Sudah dua minggu sejak aku bertemu Sarah. Tapi rasanya baru kemarin. Pengalaman yang selalu membawa senyum ke wajahku. Pengalaman yang juga mengajarkan bahwa kalau aku mau bercita-cita, selalu ada jalan. Bahkan keajaiban-keajaiban bisa diciptakan dengan usaha-usaha tak kunjung menyerah.
Bunyi mesin ketik bertalu-talu. Malam ini kantor majalah Syams cukup ramai karena kami sedang mempersiapkan perencanaan naskah buat majalah edisi berikutnya. Aku
membersihkan kamera yang akan aku pakai untuk liputan. Kepala lensa aku tiup-tiup untuk mengusir debu yang menempel.
Tiba-tiba pintu kantor majalah kami diketuk keras. Tanpa menunggu jawaban, sebuah sosok gelap membuka pintu, membawa masuk angin dingin malam bersamanya. Sosok tak
diundang ini horor nomor satu kami: Tyson.
Tanpa banyak prosedur dia menyalak, “Alif, kamu dipanggil ke Kantor Pengasuhan, menghadap Ustad Torik, sekarang juga!” katanya menunjuk hidungku. Dalam sekejap dia berkelebat pergi, meninggalkan aku yang pucat.
Di dalam ruangan KP aku duduk dengan cemas. Ini adalah tempat paling menakutkan di PM. Mereka ada di atas hukum, yang membuat hukum dan bahkan bisa menghukum Tyson dan anak buahnya. Apa kesalahanku? Tanganku dingin.
Ustad Torik muncul. Matanya tajamnya tidak lepas dari wajahku.
“Benar kamu bulan ini mewawancarai Ustad Khalid?” selidiknya.
“Be… betul, Ustad,” jawabku terbata.
“Saya mohon maaf kalau ada yang salah,” jawabku mendahului penghakiman. Mungkin aku dapat remisi dengan mengaku salah.
“Beliau minta kamu datang besok ke rumahnya jam delapan pagi. Tolong bawa kamera, karena beliau sekeluarga minta tolong difoto keluarga,” perintahnya lurus. Aku menarik napas longgar.
“Alhamdulillah. Saya kira ada yang salah Tad. Siap saya akan lakukan.”
“Awas jangan terlambat, jam 8 pas. Khalas. Sudah, kamu boleh pergi.”
“Syukran Tad…”
Aku pulang dengan riang dan tidak bisa berhenti tersenyum. Bukannya dihukum, malah aku mungkin akan dapat rezeki bertemu Sarah. Nama yang bersenandung itu.
Para Sahibul Menara tidak bisa menyembunyikan rasa irinya ketika aku ceritakan tugasku besok hari.
Aku kembali mengenakan baju terbaikku. Kali ini ditambahkan dengan minyak wangi dari Said. Dan aku sudah berdiri gagah di depan rumah Ustad Khalid jam 7.50. Sebetulnya sudah setengah jam aku ada di sini, tapi
berhubung tidak enak terlihat begitu antusias, aku menunggu di sudut belakang rumahnya. Di leherku menggantung kamera yang siap diajak bertempur. Tangan kananku memegang tripod.
“Maaf merepotkan kamu pagi-pagi begini. Sudah sarapan? Istri saya baru memasak gudeg,” tanya Ustad Khalid yang mengenakan jas terbuka dengan baju putih. Kumis tebalnya
tampak rapi. Istrinya berdiri di sampingnya mengenakan baju kurung hijau dengan tutup kepala sewarna.
“Sudah Tad, saya malah senang bisa membantu, apalagi…..”
Kata-kataku tidak selesai. Di belakang Ustad Khalid muncul Sarah. Jilbab pink melingkar di wajahnya yang bulat putih. Baju kurung dan rok panjangnya sepadan dengan warna tutup
kepalanya. “Assalamulaikum Kak. Terima kasih telah datang,” katanya pendek sambil tersenyum malu-malu. Aku menyahut salamnya sambil pura-pura sibuk membetulkan tripod. Ujung-ujung jariku seperti disiram es.
Aku meminta keluarga kecil ini untuk berpose di taman belakang rumah mereka yang penuh pohon, bunga dan rumput hijau. Seperti di beranda, taman ini dipenuhi bunga mawar beraneka warna. “Semua mawar ini adalah koleksi istri dan anak saya,” jelas Ustad Khalid.
Aku segera memasang kamera di kepala tripod. Seperti teknik yang aku pelajari, aku memakai lensa normal dengan bukaan besar untuk mendapatkan potret berefek bokeh54
yang indah, subyek tajam dengan latar belakang kabur. Sinar pagi akan jatuh di samping muka mereka setelah diperlunak
oleh daun dan dinding. Pencahayaan yang indah buat keluarga kecil yang indah ini.
“Ustad sama Ibu, boleh senyum sedikit, dimiringkan mukanya ke kanan dikit,” arahku dari belakang kamera.
“Ya. Betul. Ehmmm… Sa… Sarah silakan menatap ke arah kamera. Syukran,” lagakku sambil membidik dari balik viewfinder dan mulai menjepret dengan asyik.
Sudah belasan jepretan aku tembakkan, sampai tiba-tiba aku sadar, angka di kameraku tidak berubah. Dari tadi hanya tetap angka 0. Aku rogoh kantong celana depan. Sebuah
benda berbentuk silinder ada di sana. Alamak! Aku lupa mengisi film.
“Ustad, mohon maaf, ada kesalahan teknis. Filmnya belum dipasang,” kataku. Mukaku merah seperti kepiting dibakar. Aku menangkap getar di kumisnya, tapi wajah Ustad Khalid tidak berubah. Istrinya bilang “Tidak apa-apa”. Yang paling aku khawatirkan bagaimana aku di mata Sarah. Alisnya terangkat sebentar, lalu senyum dikulum. Dia mungkin tahu bagaimana gugupnya aku.
Tanganku gelagapan menjangkau film. Hap, tanganku mengail benda penting ini. Butuh beberapa kali usaha sampai aku bisa mengeluarkan fdm dari silinder plastik putih ini. Biasanya dengan sebelah tangan sambil mata terpicing pun ini masalah kecil buatku. Tapi dengan tangan berpeluh, tiba-tiba ini menjadi sulit.
Akhirnya pemotretan selesai. Mungkin karena kasihan melihat aku yang gugup, aku diajak bicara agak santai oleh Ibu Saliha.
“Kalau lihat logatnya, ananda Alif bukan dari Jawa. Dari Sumatera kah?”
“Iya Bu. Saya dari Sumatera Barat, tepatnya di Maninjau, di pinggir danau tempat Buya Hamka lahir.” Aku memberi informasi sebanyak mungkin tentang diriku. Ujung mataku berusaha menangkap ekpresi Sarah.
Tiba-tiba Sarah menyeletuk, “Aku pernah melihat foto Danau Maninjau yang bagus itu di buku geografi. Kata guruku, di sana ada pembangkit listrik tenaga air yang besar sekali
ya?” Dia bertanya dengan bahasa Indonesia yang beraksen Arab. Sejak kecil merantau ke Arab memang berhasil membuat aksen yang unik.
Belum lagi aku menjawab, dia berjalan cepat ke arah peta Indonesia yang tergantung di dinding. Telunjuk kanannya mencoba mencari-cari di mana Danau Maninjau. Sesaat dia berputar-putar dan tampaknya tidak pasti. Dari jauh aku tunjukkan lokasi kampungku.
Ustad Khalid yang dari tadi diam melihat dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Saya juga punya teman dari Maninjau ketika belajar di Mesir, namanya Gindo Marajo.”
“Masya Allah, Pak Etek Gindo itu paman saya, Ustad!” jawabku kaget bercampur senang.
“Wah, benarkah? Dunia memang makin kecil. Waktu di Kairo, Sarah ini keponakan kesayangan Gindo. Setiap datang pasti bawa sekantong jeruk buat dia. Ya kan Sarah?”
Sarah mengangguk-angguk.
Suasana menjadi lebih cair dan aku menerima tawaran sarapan gudeg dengan keluarga Ustad Khalid di sebuah meja bulat di samping taman. Ternyata setelah dikenal lebih dekat, keluarga ini hangat. Kesan serius Ustad Khalid hilang begitu dia mengeluarkan lelucon yang membuat kami tergelak. Dia bahkan punya banyak cerita yang lucu tentang pamanku. Sarah sendiri ternyata tipe gadis yang periang, aktif, dan tidak malu menyampaikan pendapat.
Aku sempat ragu-ragu. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk meminta izin berfoto bersama dengan mereka sekeluarga. Alasanku, untuk kenang-kenangan dan dikirimkan ke Pak Etek Gindo. Ustad Khalid sama sekali tidak keberatan. Dengan menggunakan timer, aku ikut di dalam frame. Jepret! Wahai Raja, siap-siaplah dengan jatah makrunah sebulan! Aku
akan bilang ke Raja bahwa aku bukan lagi si punguk merindukan bulan. Tapi aku adalah seekor garuda yang terbang tinggi dan mendarat di bulan.
Waktu aku pamit, Ustad Khalid sendiri yang mengantarku ke halaman.
“Ahki, terima kasih banyak. Foto keluarga ini sangat berarti bagi keluarga kecil kami. Selama ini kami selalu bertiga. Tapi mulai bulan ini kami akan hanya berdua. Sarah kami kirim ke pondok khusus putri di Yogya untuk tiga tahun,” katanya sambil menyalamiku.
Aku tiba-tiba merasa menjadi garuda yang tidak jadi ke bulan dan mendarat darurat di bumi lagi.
“Jangan lupa salam saya buat Gindo,” katanya melambaikan tangan.
………..
beranda rumahnya. Berharap dia sedang libur dan menyiram koleksi mawarnya. Sayangnya, bukan Sarah yang muncul. Yang sering kudapati di depan berandanya adalah kucing belang tiga yang sedang mengejar seekor ayam jago yang kebetulan sedang mengejar seekor ayam betina yang lari terbirit-birit. Kotek… kotek… kotek.
Di bawah menara, kawan-kawanku seperti tidak percaya melihat selembar foto glossy yang aku pamerkan.
“Wah, si punguk bisa juga bertemu sang bulan,” kata Atang tergelak sambil melirik Raja yang pura-pura lengah. Kami semua tahu dia harus mentraktirku makrunah selama sebulan.
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar