Senin, 15 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 31

"LEMBAGA SENSOR"




Kami ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlas pula berniat untuk mau dididik.” 

Inilah kalimat penting pertama yang disampaikan Kiai Rais di hari pertama aku resmi menjadi murid PM tiga tahun silam. 
Keikhlasan? Waktu itu, aku tidak terlalu mafhum makna dibalik itu. Bahkan aku curiga, kalau ini hanya bagian dari tip service saja. 

Tapi kini, setelah tiga tahun mendengar kata keikhlasan berulang-ulang, aku mulai mengerti Wawancaraku dengan Ustad Khalid dulu tentang konsep mewakafkan diri dan pikiranku. Aku kini melihat keikhlasan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini, ilmu lancar mengucur. Sementara aliran pahala yang melingkupi para guru yang budiman dan nikmatnya hanya demi memberi 
kebaikan dan seperti yang diamanatkan Tuhan. Hubungan tanpa imbal jasa, karena yakin Tuhan Sang Maha Pembalas terhadap pengkhidmatan ini. Keikhlasan ialah sebuah pakta suci.

Inilah energi yang terus memutar mesin sekolah kami, aura tebal yang menyelimuti segala penjuru, dan ruh yang menguasai kami semua. Apa pun kegiatan, selalu dilipur dan 
dihibur dengan potongan kalimat : “ikhlas kan ya akhi…” Dan begitu potongan itu disebut, rasanya hati menjadi plong dan badan menjadi segar, seperti habis menenggak STMJ. Sebuah prinsip yang sakti dan manjur. 

Aku pernah terkulai kecapekan sampai dini hari menulis majalah dinding waktu di tahun pertama dulu. Majalah ini harus dipampangkan di depan aula begitu matahari naik. Padahal masih satu halaman lagi yang harus ditulis tangan indah menjelang azan Subuh berkumandang. Aku tidak kuasa lagi melawan cengkraman kantuk. 

Lalu Kak Iskandar datang dan menepuk-nepuk 
punggungku, “Ya akhi, ikhlaskan niatmu”. Seketika itu juga capek hilang dan semangat memuncak. Di lain kesempatan, aku tertangkap jasus, dan masuk mahkamah. Setelah menjatuhkan hukuman dan menyerahkan tiket jasus, kakak bagian keamanan dengan mata menyelidik bertanya, anta ikhlas gak jadi jasus? Dengan agak terpaksa aku bilang, “Ikhlas Kak”. Ajaib, setelah menjawab itu hati pun jadi lebih tenang. Bahkan pun ketika aku mengucapkannya setengah hati. Kata ikhlas bagai obat yang manjur, yang merawat hati dan memperkuat raga. 

Yang paling lucu tentulah Said. Di saat bertarung seru dengan kantuk ketika kami jadi bulis lail, dia bilang dengan setengah sadar, “Aku ikhlas ngantuk dan tertidur”. Lalu dia 
tidur dengan pulas tanpa takut dilabrak Tyson. Sebuah praktek keikhlasan yang unik dan aneh. 

Jiwa keikhlasan dipertontonkan setiap hari di PM. Guru-guru kami yang tercinta dan hebat-hebat sama sekali tidak menerima gaji untuk mengajar. Mereka semua tinggal di dalam PM dan diberi fasilitas hidup yang cukup, tapi tidak ada gaji. Dengan tidak adanya ekspektasi gaji dari semenjak awal, niat mereka menjadi khalis. Mengajar hanya karena ibadah, karena perintah Tuhan. Titik. 

Begitu niat ikhlas terganggu, seorang guru biasanya merasakannya dan langsung mengundurkan diri. Akibat seleksi ikhlas ini, semua guru dan kiai punya tingkat keikhlasan yang terjaga tinggi yang artinya juga energi tertinggi. Dalam ikhlas, sama sekali tidak ada transaksi yang merugi Nothing to lose. Semuanya dikerjakan all-out dengan mutu terbaik. Karena mereka tahu, cukuplah Tuhan sendiri yang membalas semua. Tidak ada transfer duit dan materi di PM. Hanya transfer amal doa dan pahala. Indah sekali. Sosok Ustad Khalid kembali muncul di pelupuk mataku. 

Inilah yang aku pelajari dan pahami tentang keikhlasan. Dan aku tahu, hampir semua kami di kelas enam meresapi dan memahaman ini. 

“Kullukum ra’in wakullukum.masulun an raiyatihi”, ini penting untuk leadership di PM. Setiap orang adalah pemimpin tidak peduli siapa pun, paling tidak untuk diri mereka sendiri. 

Aku merasakan PM memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kami untuk mempraktekkan diri menjadi pemimpin dan 
menjadi yang dipimpin. Levelnya pun beraneka ragam, dari yang paling sederhana sampai yang berat. Dalam prakteknya ada ribuan jabatan ketua tersedia setiap tahun. Mulai dari 
ketua kamar, ketua kelas, ketua klub olahraga sampai ketua majalah dinding, jabatan ketua ini terus dipergantikan sehingga diharapkan setiap siswa PM pernah merasakan menjadi ketua sepanjang hidupnya di PM.

Aku mengawali hari pertama di PM sebagai anggota asrama yang patuh pada aturan. Lalu pelan-pelan kami, anak baru, mendapat giliran menjadi anggota yang diberi wewenang, manajer, pemimpin, bahkan sampai pembuat aturan. Puncak tanggung jawab adalah ketika kami menjadi siswa senior di 
kelas 5 dan 6. 

Seorang kepala asrama adalah seorang anak senior kelas lima. Dia didampingi tim keamanan dan tim penggerak bahasa. Mereka semua bertanggung jawab mengawasi sekitar 
400 anggota asramanya. Membantu anggota untuk berdisiplin, menggunakan bahasa dengan benar sampai urusan tetek bengek seperti aturan mencuci, jemur baju, dan jam tidur. Tidak jarang anak muda tanggung ini menjadi tempat curhat anggotanya yang bermasalah. Sebuah pekerjaan yang sibuk 
dan memakan waktu. Tidak heran kadang-kadang kepala asrama terlalu sibuk mendedikasikan waktu dan pikirannya buat anggota dan ketinggalan belajar. Di sinilah keikhlasan dan kepemimpinan digandengkan untuk membuat diri kami seorang pemimpin. 

Kalau pengurus asrama bisa diibaratkan pemerintah daerah, sedangkan pengurus pusat adalah pemerintah pusat. Pengurus pusat bertanggung jawab untuk melayani ribuan orang penduduk PM sekaligus.



                           **MB** 



Tahun lalu, ketika duduk di kelas lima, kami mula tampuk kepemimpinan ini, menerima penyerahan kekuasaan dari kelas 6 yang telah menjabat setahun dan segera baku 
mempersiapkan ujian akhir. 

Dalam sebuah minggu yang kami sebut “pekan penyerahan kekuasaan”, berganti-ganti kami dipanggil ke KP untuk diberi tanggung jawab baru. Baik sebagai pengurus asrama atau pengurus pusat. Penentuan fit and proper berliku-liku. Organisasi setiap daerah menominasikan putra daerah terbaik. KP lalu mendapatkan masukan dari wali kelas, pengurus asrama dan melihat track record pelanggaran yang mereka dokumentasikan dengan rapi sejak hari pertama setiap orang 
masuk PM. Dari sanalah kemudian muncul rekomendasi dan menentukan siapa yang paling tepat melakukan apa. 

Di antara Sahibul Menara, yang pertama terpanggil adalah Said. Dengan muka berbinar-binar optimis dan dia menghadap Ustad Torik. 

Sejam kemudian Said keluar dari kantor itu dan melapor kepada kami yang telah menunggu di bawah menara. kawanku yang optimis, atletis, periang, dan heboh. 

“Aku menjadi ketua tukang sensor!” katanya tersenyum memperlihatkan sebuah surat bersampul cokelat. Kami tertawa dan menepuk-nepuk punggungnya, memberi selamat atas jabatan baru itu : menjadi anggota elit “The Magnificent Seven” tujuh orang terpilih pembela keamanan dunia PM. 

Ini sesuai dengan cita-citanya dulu di depan panel koran. Dialah badan sensor koran, seperti yang diidam-idamkan, Dialah tuan besar ketertiban dan menunggangi sepeda hitam mengkilat bersenjatakan sejadah dan sebuah senter besar bagai pedang sinar yang membutakan mata. Persis di posisi Tyson yang sekarang telah tamat sekolah. Aku tidak heran. Dengan postur tinggi besar seperti Muhammad Ali bercampur Arnold Schwarzenegger, tidak ada yang lebih tepat berada di posisi ini. Dia pasti jadi momok anak-anak baru dan segera menempati posisi public enemy number one. 

Ini juga posisi yang kurang nikmat. Keamanan yang tugasnya menjaga disiplin ironisnya selalu dianggap mengganggu ketenangan, tegas dan tidak kompromi. Wajah pun harus dibuat lebih serius dan tidak boleh senyam-senyum sembarangan. Bayangkan setahun bertugas tanpa senyum! Tapi aku yakin Said tidak keberatan menjadi musuh bersama. Dia siap bertugas hanya demi ridho Ilahi. Aku tahu di balik tampang Arnoldnya, dia punya jiwa Tyson yang ikhlas. 

Aku dan Atang sedang dapat tugas piket menyapu aula ketika sebuah sepeda hitam melesat kencang ke arah masjid. Walau sekilas, aku tahu badan besar yang mengayuh sepeda itu Said. Ini hari pertamanya bertugas sebagai bagian keamanan pusat. Said segera memarkir sepeda hitam mengkilatnya di samping tangga masjid yang lebar. Dia memakai kopiah hitam, jas hitam, dan sarung hitam. Di bahu kanannya tersampir sajadah merah tuanya. Ujungnya berkibar 
ditiup angin sore. Dia berdiri tegap dengan dagu sedikit naik. Tidak seberkas pun senyum muncul dari wajahnya. Matanya yang beralis tebal kini tajam mengawasi gelombang ribuan 
anak yang naik ke lantai dua masjid. Tangannya kanannya mengibas-ngibas menyuruh semua orang berjalan lebih cepat. Ya Tuhan, dia bahkan jauh lebih menyeramkan dari Tyson. 

Melihat ada seorang anggota “The Magnificent Seven” sudah standby, beberapa anak yang berjalan santai kini berlari serabutan menuju masjid. Mereka tidak berani sampai terlambat semenit pun di depan sosok serba hitam ini. Tiga tahun mengenal Said sebagai sebuah pribadi riang. Senyumnya , lebar dan kerlingan matanya yang iseng selama ini tidak hilang. Baru sekali ini aku melihat dia puasa senyum 
lebih dari lima menit. Iseng, kami mencoba melambaikan tangan kearah Said yang sedang sibuk bertugas. Hanya dibalas dengan anggukan kecil saja. Lucu sekali melihat Said 
mempertahankan wibawa dengan berjuang menutupi senyum lebarnya.

Hari berikutnya giliran Raja yang dipanggil ke KP. Ketika keluar ruangan dia senyum-senyum sendiri kepada kami Sahibul Menara. 

“Kalian tebaklah, jadi apa aku ini?” 

“Jadi bagian informasi pusat?” 

“Bukan.” 

“Ketua bahasa untuk asrama Al-Barq?” 

“Bukan. Aku dipercaya jadi anggota The Three Musketeers katanya bersemangat. Three Musketeers adalah julukan kami di PM bagi tiga orang penggerak bahasa pusat. Mereka yang menjaga program pengembangan bahasa dan menjaga kedisiplinannya. Mereka hakim tertinggi untuk menghukum para pelanggar bahasa. Tiga orang ini punya kemampuan 
bahasa Arab dan Inggris yang superior dan menjadi role model untuk semua murid. 

Bagiku, Raja telah lama menjadi role model. Sejak di PM, dia seorang yang sangat menggebu mendalami aneka bahasa, khususnya bahasa Inggris. debat adalah bidang lain yang dia asah. 

Berkali-kali dia menyabet juara dalam lomba public speaking antar asrama dan kelas, baik bahasa Indonesia, Inggris atau Arab. 

Aku, Atang, Baso dan Dulmajid harap-harap cemas. Apakah kami akan diberi kepercayaan juga duduk di kepengurusan elit atau jadi pengurus asrama, atau bahkan jadi proletar, julukan bagi murid yang tidak dapat jabatan formal. Aku sendiri berpikir, akan bagus dapat kesempatan, tapi kalau tidak, aku juga siap menjadi proletar—dengan ikhlas. Kesempatan sangat banyak untuk mendalami berbagai macam ilmu karena waktu akan lebih banyak buat diri sendiri. 

Akhirnya panggilan itu datang juga dalam bentuk pengumuman setelah shalat Dzuhur. Aku, Atang, Baso, Dulmajid dan beberapa orang lain diminta datang jam 2 siang 
menghadap Ustad Torik. 

Kami berempat duduk berjejer di lantai. Ustad KP tampak memilah-milah tumpukan map yang ada di kirinya. Tampaknya mencari catatan kehidupan kami selama ini.Tangannya 
sekarang memegang 4 map besar. Dia memandang kami dengan mata sembilunya. 

“Kalian telah tahu kenapa dipanggil ke sini?” 

Kami menggeleng. Tidak ada yang berani memastikan pasal apa yang akan dibicarakan kalau di KP. Kebanyakan adalah masalah disiplin dan pelanggaran. Sesekali saja kabar 
gembira. 

Tampaknya kali ini kabar gembira. Walau matanya tetap tajam, senyumnya muncul sekilas. 

“Kalian telah bertahun-tahun belajar dipimpin, sekarang saatnya kami meminta kalian belajar memimpin. Apakah ada yang keberatan dan tidak ikhlas disuruh memimpin?” tanyanya 
sambil mengedarkan matanya ke setiap wajah kami. Kami sekali lagi menggeleng serempak. Seperti kawanan itik kecil yang manis-manis. 

“Baik, kalian akan saya beri masing-masing surat di amplop tertutup. Silakan dibaca, dipahami dan kalau ada pertanyaan atau keberatan, segera tanyakan sekarang juga. Kalau kalian setuju, segera tanda tangani surat persetujuan terlampir” katanya sambil membagikan amplop Dalam hening, kami membuka amplop dan masing-masing. 

Surat yang memakai stempel biru diriku berbunyi: 


Assalamualaikum Wr Wb. 

Ananda Alif Fikri, 
Setelah melalui proses pertimbangan yang menawarkan kepada ananda untuk ikhlas membantu PM selama setahun sebagai salah satu dari dua posisi di bawah ini: 

1. Penggerak Bahasa Asrama Cordova 

2. Redaktur Majalah Syams 

Mohon dipertimbangkan pilihan ananda.

Terima kasih atas keikhlasan dan kesediaan ikut berjuang membela PM.

Wassalam, 

Kantor Pengasuhan 


PM selalu berkomunikasi sopan dengan murid. Aku bersyukur dan berterima kasih diberi kepercayaan. Tapi aku bingung untuk memilih satu di antaranya. Aku suka mengembangkan bahasa, tapi aku juga menjadi penulis. Pilihan yang sulit. 

Lebih dari itu, ada bagian dariku yang mengingatkan kalau aku kurang pantas menjadi pengurus karena hatiku masih 
belum bulat. 

Aku merasa telah bertumbuh dan berubah dalam 3 tahun ini Dari setengah hati, menjadi mulai menikmati hidupku di sini. Aku mencoba berdamai dengan diriku dan ke-afan. Dan aku telah mohon ampun kepada Amak. Mungkin memang jalan nasibku harus di PM. Tapi cita-cita masa kecil susah dimatikan. Setiap melihat orang berseragam abu-abu SMA, hatiku berdesir. Masih ada yang mengganjal.

Tapi kalau ditanya masalah bahasa. Aku sangat suka belajar bahasa Inggris dan Arab. Menjadi penggerak bahasa adalah pilihan yang tepat. Tapi aku juga suka menulis dan menjadi 
redaktur majalah. Melanjutkan karier reporter sejak kelas satu dulu. 

Melihat aku bingung memilih, tidak biasanya Ustad Torik kooperatif, “Kalau masih bingung bisa dicoba dulu barang sebulan”. Akhirnya aku sepakat akan mencoba menjadi penggerak bahasa selama 1 bulan. 

Atang yang pernah bercita-cita menjadi bagian penerimaan tamu, mendapat kepercayaan menjadi Dewan Kesenian Pusat. Selama beberapa tahun ini, jiwa seni yang mengalir deras di tubuh Atang terus berkembang. Dia tidak membatasi diri dengan teater saja. Dia menerobos seni lain dengan belajar musik, seni kaligrafi, sampai pantomim. Tahun lalu, dia bahkan masuk ke dunia lain lagi, mendalami apa itu seni tasafuw dan sufi melalui buku-buku Al-Ghazali. Kombinasi unik 
antara seniman dan sufi ini membuat karya teaternya sekarang lebih spritual. Satu Waktu yang masih membuat dia was-was adalah dia masih harus bekerja keras untuk menajamkan 
hapalan dan bahasa Arabnya. 

Dulmajid, kawan Maduraku yang lugu dapat jabatan yang mungkin paling tepat: salah seorang dari lima redaktur majalah Syams. Selama ini dia adalah sosok yang selalu serius 
dan keras hati untuk merebut target-targetnya. Misalnya, dia rela 1 bulan berturut-turut di perpustakaan hanya untuk mendalami zanah sejarah Marco Polo dan Ibnu Batutah. Kerja 
keras konsistensi melayari pulau-pulau ilmu seperti inilah yang melejitkan intelektualitasnya. Dari keluasan perbendaharaan, teori dan informasi ini, dia menulis dengan gegap gempita. Tulisan ilmiahnya bertebaran di berbagai media sekolah kami.

Dia juga menggagas forum diskusi yang karya pemikir mulai dari Ghazali, Sardar, Iqbal, Mawardi, Karen Amstrong, Schimmel, sampai Nurcholish Madjid. Sedangkan karier bulutangkisnya tidak berkembang banyak walau tetap menjadi mitra latih Ustad Torik. 

Bagaimana dengan kawanku berwajah pelaut dari Gowa, Baso sekarang adalah Baso yang jauh berbeda dibanding waktu dikelas satu dulu. Pertama, dia tidak pernah lagi latihan 
bahasa Inggris denganku, karena dia telah sukses menghilangkan dengung dan qalqalah dari pronounciation-nya. Dia juga telah bisa menyeimbangkan antara belajar dan kegiatan lain. Dari segi kecemerlangan otak, dia terus mengejutkan kami Ternyata tidak hanya hapalan yang dia kuasai, dia juga mantap dalam analisis masalah dan matematika. Makanya kalau belajar bersama sebelum ujian 
tanpa dia, kami tidak cukup pede. Dia selalu menjadi manaji— referensi terpercaya, kalau kami mentok dengan sebuah mata pelajaran. Satu lagi kelebihannya dia mulai berolahraga 
teratur, walau cuma lari. Alasan dia memilih lari: karena tidak bakat olahraga lain. 

Di tengah kecemerlangan otaknya, kekurangan Baso adalah sifat pelupa. Akibatnya selama ini dia menjadi langganan mahkamah hanya karena sering lupa pakai papan nama, lupa 
pakai papan nama ke masjid, lupa menulis teks pidato dan lupa-lupa yang lain. Bahkan pernah Tyson marah luar biasa gara-gara Baso juga lupa kalau dia harus masuk mahkamah. 

Tapi dia punya masalah yang lebih besar lagi. Beberapa kali dia berbicara dari hati ke hati denganku. 

“Aku suka dengan suasana dan pertemanan di sini. Tapi di sini juga terlalu ramai,” katanya.

”jangan pedulikan kesibukan ini, kita kan bisa menyepi di pinggir sungai atau di bawah jemuran baju,” jawabku sekenanya. 

“Aku merasa tidak punya cukup tenaga dan waktu untuk mendalami Al-Quran.” 

“Lho, yang kita lakukan setiap hari kan bagian dari mengenal Al Quran?” 

“Aku ingin bisa menghapal—benar-benar hapal setiap huruf dari depan sampai belakang dan memahaminya sekaligus. Ini butuh waktu dan ketenangan. Itu yang aku tidak punya di sini. 
Aku mulai tidak betah.” 

Walau kelihatannya tidak fokus, tapi tidak pernah ketinggalan pelajaran. Kosa katanya sangat kaya, tata bahasanya luar biasa dan aksen Arabnya luar biasa basah. Karena kelebihan inilah dia kemudian diminta KP untuk menjabat sebagai “Penggerak Bahasa Pusat”, bersama Raja. Sebuah jabatan yang menurutku sangat pantas. 

Raja dan Baso adalah kebanggaan kami. Ingatanku terbang ke dua tahun lalu ketika Raja dan Baso menorehkan sejarah dan menjadi legenda PM. Mereka berdua, ketika itu kelas tiga, membuat pengumuman kepada khalayak: mereka akan merumuskan kamus lnggris-Arab-Indonsia khusus buat pelajar. Kata mereka, kamus yang ada sekarang terlalu tebal tidak cocok untuk orang yang baru belajar bahasa dasar. Penyederhanaan sesuai 
kebutuhan. Tapi, menyusun kamus? dua anak berumur 16 tahun.? Sebelia itu.? Banyak yang tidak percaya, tergelak, atau hanya menyumbang senyum, mengaanggap ide ini sebuah mimpi yang keterlaluan.

Tapi mereka maju terus. Ya, itu yang mereka lakukan dengan cara yang paling manual. Masing-masing membagi tugas. Raja menuliskan entry Inggris dan Baso untuk Arab.

Selama setahun siang malam mereka mengerjakan pemilihan kata yang benar benar cocok untuk para pelajar. Aku ingat beberapa kali bangun tengah malam untuk shalat Tahajud. Setiap bangun menyaksikan di tengah kesunyian dan gelapnya malam, Raja duduk bersila ditemani sebuah lampu teplok yang apinya melenggak lenggok karena sudah hampir kehabisan minyak. Di depan mereka bertumpuk berbagai kamus referensi, dan di depan masing-masing, sebuah buku tulis tebal telah penuh tulisan Arab dan Inggris. Mereka terus menulis dan menulis tidak kenal lelah. Pagi-pagi aku melihat jempol, telunjuk dan jari tengah mereka bengkak-bengkak dan membiru karena dipakai memegang pulpen tiada henti. Tapi hasilnya berbicara. Dua tahun setelah memproklamirkan proyek ambisius ini, kamus mereka dicetak di percetakan PM. Kini “Kamus Arab-Inggris-Indonesia” karya Baso Salahudin dan Raja Lubis ini tersedia di toko buku kami. 

Kalau dulu kami harus berkoar koar belajar pidato dan membuat naskah. Kini kami juga ditugaskan menjadi pemeriksa naskah dan pengawas latihan pidato. Hanya dengan tanda tangan kamilah seorang murid bisa berpidato. 
Bagi yang sedang tidak dapat giliran mengawas, kami berkumpul di aula untuk melakukan diskusi ilmiah dengan tema-tema yang sudah disiapkan. Kami juga sudah mendapat hak untuk mengajar anak kelas bawah, khusus untuk pelajaran sore. Semuanya terasa alamiah, karena apa yang 
kami ajarkan adalah yang kami terima 2-3 tahun lalu. 

Walau kini ada di puncak rantai makanan yang 
menyenangkan, aku diam-diam tetap merasa gamang. Jauh di pedalaman hati, bagai api di dalam sekam, aku terus bertanya-tanya ke mana aku pergi setelah PM?




Bersambung....

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...