"SEPULUH PENTUNG"
Sudah beberapa hari ini aku merasa seperti ada batu yang menekan dadaku. Awalnya aku tidak tahu apa penyebabnya. Tapi tekanan di dada ini semakin terasa setiap aku melihat
sampul surat Randai di atas lemariku. Surat ini mempengaruhi perasaanku lebih besar dari yang aku kira. Badanku terasa lesu dan aku jadi malas bicara.
Melihat aku lebih banyak diam, Said dan Raja mencoba melucu memakai bahasa Arab mereka yang patah-patah. Sementara Dulmajid mengeluarkan simpanan cerita “mati ketawa cara Madura”. Baso yang biasanya selalu sok serius kali ini mencoba melantunkan beberapa syair Arab yang katanya bisa mengobati kalbu yang resah. Sayang, bagiku mereka semua seperti sedang mengigau atau sakit pikiran.
Pikiranku tidak fokus kepada apa yang aku hadapi di PM, dan tetap terbang ke kilasan-kilasan film berisi Randai sedang mapras, jalan-jalan dan tertawa-tawa dalam seragam putih abu-abunya. Padahal minggu ini aku punya banyak tugas: menulis teks pidato bahasa Arab, menghapal beberapa judul mahfiizhot sampai piket menyapu kelas dan kehabisan baju bersih sehingga perlu mencuci.
Yang agak menghibur adalah kelas tambahan malam yang
selalu didampingi wali kelas dalam suasana yang santai. Kelas
ma-lam biasanya digunakan untuk mengulang pelajaran tadi
pagi dan mempersiapkan untuk besok. Kami membahas
pelajar bersama, saling berdiskusi dan kalau bosan, kami
berbagi cerita ngalor ngidul. Ustad Salman biasanya duduk di
meja guru dan asyik dengan buku bacaannya-bahkan kadang-
kadang novel, Inggris dan Arab. Kalau kami punya
pertanyaan, kami tinggal maju ke depan dan Ustad Salman
akan meletakkan bacaannya dan dengan senang hati
menjawab pertanyaan kami. Biasanya menggunakan
seperempat jam terakhir sebagai ajang memberi tasyji’ atau
motivasi yang membakar semangat kami.
Ustad Salman masuk kelas suatu malam dengan membawa
setumpuk buku tebal. “Malam ini kita akan habiskan waktu liar
tuk keliling dunia,” katanya dengan senyum lebar 10 sentinya.
“Malam ini tidak ada yang baca buku pelajaran. Tapi saya
akan bacakan kepada kalian potongan mutiara kehidupan
tokoh-tokoh ini,” katanya sambil memamerkan buku “Mandela:
The Biography”, “BJ Habibie, Mutiara dari Timur”, “Bung
Hatta, Pribadinya dalam Kenangan”Marthin Luther King, Jr:
Stride Toward Freedom”, dan “Mohammed, the Man of Allah”.
Kami bersorak gembira. Hanya Baso yang aku lihat tidak
begitu antusias karena sedang asyik dengan buku Durusul
Lughoh nya. Sedangkan bagi kebanyakan kami, setiap
tawaran untuk tidak membaca buku pelajaran selalu
menyenangkan.
Selama sejam dia membuka buku-buku ini di halaman yang
sudah dilipat, membacakan potongan berbagai kisah penulis inspirasi dari para tokoh, dan mengulasnya untuk
mencocokkan dengan konteks kami. Hasilnya, malam ini kami
kehilangan kantuk dan hanyut dengan semangat yang
meletup-letup. Itulah ‘Pelajaran bahasa Arab gaya unik Ustad
Salman, selalu mencari jalan kreatif untuk terus memantik api
potensi dan semangat kami.
Di saat kami merasa dihantui kakak keamanan, tegang
karena belum mengisi karcis jasus, pusing dengan banyak
hapalan, dan berbagai urusan lainnya~dia membebaskan
kami. Dia membawa kami ke ranah berpikir masa depan.
Menuntun kami untuk berani mengeksplorasi cita-cita setinggi
langit. Sehingga kami sejenak bisa melupakan tekanan hari
itu.
“Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung,
jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah
apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan
sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu
menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam
hidup,” pidatonya dengan semangat berapi-api.
Kalau sudah begini, Said yang juara ngantuk di kelas kami
menjelma menjadi seperti seekor singa yang siaga dan siap
menerkam. Kepalanya digeleng-gelengkan berkali-kali. Jari-jari
yang kekar mencengkeram kopiahnya sampai remuk. Dia telah
terbawa arus.
“Misi yang dimaksud adalah ketika kalian melakukan
sesuatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan di saat
yang sama menikmati prosesnya. Bila kalian merasakan sangat
baik melakukan suatu hal dengan usaha yang minimum,
mungkin itu adalah misi hidup yang diberikan Tuhan. Carilah
misi kalian masing-masing. Mungkin misi kalian adalah belajar
Al-Quran, mungkin menjadi orator, mungkin membaca puisi, mungkin menulis, mungkin apa saja. Temukan dan semoga
kalian menjadi orang yang berbahagia,” katanya berfilsafat.
Akhi, tahukah kalian apa yang membuat orang sukses
berbeda dengan orang yang biasa?” tanya Ustad Salman
bertanya retoris.
“Menurut buku yang sedang saya baca, ada dua hal yang
paling penting dalam mempersiapkan diri untuk .sukses, yaitu
going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata.
Kalau-orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang
2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang 10, dia tidak akan
menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meningkatkan diri
lebih dari orang biasa. Karena itu mari kita budayakan going
the extra miles, lebihkan usaha, upaya, tekad dan sebagainya
dari orang lain. Maka kalian akan sukses” katanya sambil
menjentikkan jari.
“Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian
dipengaruhi oleh unsur di luar diri kalian. Oleh siapa pun, apa
pun, dan suasana bagaimana pun. Artinya, jangan mau sedih,
marah, kecewa dan takut karena ada faktor luar. Kalianlah
yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan
ke-kuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong
senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap
tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam,
dan itu ada hubungannya dengan pengaruh luar,” katanya
lebih bersemangat lagi.
“Pernah masuk mahkamah dan dapat hukuman?” tanya
Ustad Salman. Banyak yang angkat tangan, termasuk aku.
“Nah, apakah kalian marah, takut, kesal, benci atau malah
semakin kuat?”
Banyak yang menjawab takut dan kesal. Ustad Salman
mengangguk-angguk sebelum meneruskan.
“Jangan biarkan bagian keamanan menghancurkan m
terdalam kalian, jangan biarkan diri kalian kesal dan marah,
hanya merugi dan menghabiskan energi. Hadapi dengan
lapang dada, dan belajar darinya. Bahkan kalian bisa tertawa,
karena ini hanya gangguan sementara.”
“jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau
sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian.
Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya, adalah hati
orang sukses,” tandasnya dengan mata berkilat-kilat.
Kami sekelas dibakar oleh semangat hidup yang
menggelegak. Raja yang paling ekspresif, tampak mengayun-
ayunkan tinjunya di udara sambil berteriak “Allahu Akbar!”.
Mukanya seperti kepiting rebus dan keringat memercik di
keningnya yang lebar. Dulmajid mengerjap-ngerjapkan
matanya, giginya gemeletuk, mungkin dia ingin mengubah
nasib keluarganya dan terbang mengejar mimpinya. Atang
berkali-kali bongkar pasang kacamata dari hidungnya, tanda
dia sedang excited. Said yang tadi heboh, sekarang duduk
tegak lurus di bangkunya, matanya terpejam, tampaknya
sedang memasukkan inti pembicaraan ke dalam kepala. Baso
malah berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Bukan tidak
setuju dengan Ustad Salman, tapi dia sedang berusaha
menyamai kecepatan bicara Ustad Salman dengan
keligatannya mencatat kata-kata itu. Malam ini adalah salah
satu dari malam-malam inspiratif yang digubah oleh Ustad
Salman.
Menjelang tidur, aku menulis sebuah tekad di dalam diariku.
Apa pun yang terjadi, jangankan sebuah surat dari Randai,
serbuan dari Tyson, bahkan langit yang runtuh, tidak akan aku izinkan menggoyahkan tekad dan cita-citaku. Aku ingin
menemukan misi hidupku yang telah disediakan Tuhan.
Aku tulis tanda pentung sepuluh kali untuk menegaskan
tekad ini, dan aku tulis Amin sebagai doa untuk memulai ini.
Pelan-pelan beban berat di hatiku hilang, dadaku lapang dan
bibirku tersenyum menang. Sebuah purnama menggantung di
langit. Bilah-bilah sinar peraknya menyelinap di sela-sela
jendela dan jatuh berbaris-baris di samping kasur tipisku.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar