Selasa, 09 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 12

"SEPULUH PENTUNG"



Sudah beberapa hari ini aku merasa seperti ada batu yang menekan dadaku. Awalnya aku tidak tahu apa penyebabnya. Tapi tekanan di dada ini semakin terasa setiap aku melihat 
sampul surat Randai di atas lemariku. Surat ini mempengaruhi perasaanku lebih besar dari yang aku kira. Badanku terasa lesu dan aku jadi malas bicara. 

Melihat aku lebih banyak diam, Said dan Raja mencoba melucu memakai bahasa Arab mereka yang patah-patah. Sementara Dulmajid mengeluarkan simpanan cerita “mati ketawa cara Madura”. Baso yang biasanya selalu sok serius kali ini mencoba melantunkan beberapa syair Arab yang katanya bisa mengobati kalbu yang resah. Sayang, bagiku mereka semua seperti sedang mengigau atau sakit pikiran. 

Pikiranku tidak fokus kepada apa yang aku hadapi di PM, dan tetap terbang ke kilasan-kilasan film berisi Randai sedang mapras, jalan-jalan dan tertawa-tawa dalam seragam putih abu-abunya. Padahal minggu ini aku punya banyak tugas: menulis teks pidato bahasa Arab, menghapal beberapa judul mahfiizhot sampai piket menyapu kelas dan kehabisan baju bersih sehingga perlu mencuci. 

Yang agak menghibur adalah kelas tambahan malam yang 
selalu didampingi wali kelas dalam suasana yang santai. Kelas 
ma-lam biasanya digunakan untuk mengulang pelajaran tadi 
pagi dan mempersiapkan untuk besok. Kami membahas 
pelajar bersama, saling berdiskusi dan kalau bosan, kami 
berbagi cerita ngalor ngidul. Ustad Salman biasanya duduk di 
meja guru dan asyik dengan buku bacaannya-bahkan kadang-
kadang novel, Inggris dan Arab. Kalau kami punya 
pertanyaan, kami tinggal maju ke depan dan Ustad Salman 
akan meletakkan bacaannya dan dengan senang hati 
menjawab pertanyaan kami. Biasanya menggunakan 
seperempat jam terakhir sebagai ajang memberi tasyji’ atau 
motivasi yang membakar semangat kami. 

Ustad Salman masuk kelas suatu malam dengan membawa 
setumpuk buku tebal. “Malam ini kita akan habiskan waktu liar 
tuk keliling dunia,” katanya dengan senyum lebar 10 sentinya. 

“Malam ini tidak ada yang baca buku pelajaran. Tapi saya 
akan bacakan kepada kalian potongan mutiara kehidupan 
tokoh-tokoh ini,” katanya sambil memamerkan buku “Mandela: 
The Biography”, “BJ Habibie, Mutiara dari Timur”, “Bung 
Hatta, Pribadinya dalam Kenangan”Marthin Luther King, Jr: 
Stride Toward Freedom”, dan “Mohammed, the Man of Allah”. 

Kami bersorak gembira. Hanya Baso yang aku lihat tidak 
begitu antusias karena sedang asyik dengan buku Durusul 
Lughoh nya. Sedangkan bagi kebanyakan kami, setiap 
tawaran untuk tidak membaca buku pelajaran selalu 
menyenangkan. 

Selama sejam dia membuka buku-buku ini di halaman yang 
sudah dilipat, membacakan potongan berbagai kisah penulis inspirasi dari para tokoh, dan mengulasnya untuk 
mencocokkan dengan konteks kami. Hasilnya, malam ini kami 
kehilangan kantuk dan hanyut dengan semangat yang 
meletup-letup. Itulah ‘Pelajaran bahasa Arab gaya unik Ustad 
Salman, selalu mencari jalan kreatif untuk terus memantik api 
potensi dan semangat kami. 

Di saat kami merasa dihantui kakak keamanan, tegang 
karena belum mengisi karcis jasus, pusing dengan banyak 
hapalan, dan berbagai urusan lainnya~dia membebaskan 
kami. Dia membawa kami ke ranah berpikir masa depan. 
Menuntun kami untuk berani mengeksplorasi cita-cita setinggi 
langit. Sehingga kami sejenak bisa melupakan tekanan hari 
itu. 

“Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung, 
jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah 
apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan 
sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu 
menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam 
hidup,” pidatonya dengan semangat berapi-api. 

Kalau sudah begini, Said yang juara ngantuk di kelas kami 
menjelma menjadi seperti seekor singa yang siaga dan siap 
menerkam. Kepalanya digeleng-gelengkan berkali-kali. Jari-jari 
yang kekar mencengkeram kopiahnya sampai remuk. Dia telah 
terbawa arus. 

“Misi yang dimaksud adalah ketika kalian melakukan 
sesuatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan di saat 
yang sama menikmati prosesnya. Bila kalian merasakan sangat 
baik melakukan suatu hal dengan usaha yang minimum, 
mungkin itu adalah misi hidup yang diberikan Tuhan. Carilah 
misi kalian masing-masing. Mungkin misi kalian adalah belajar 
Al-Quran, mungkin menjadi orator, mungkin membaca puisi, mungkin menulis, mungkin apa saja. Temukan dan semoga 
kalian menjadi orang yang berbahagia,” katanya berfilsafat. 

Akhi, tahukah kalian apa yang membuat orang sukses 
berbeda dengan orang yang biasa?” tanya Ustad Salman 
bertanya retoris. 

“Menurut buku yang sedang saya baca, ada dua hal yang 
paling penting dalam mempersiapkan diri untuk .sukses, yaitu 
going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. 
Kalau-orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang 
2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang 10, dia tidak akan 
menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meningkatkan diri 
lebih dari orang biasa. Karena itu mari kita budayakan going 
the extra miles, lebihkan usaha, upaya, tekad dan sebagainya 
dari orang lain. Maka kalian akan sukses” katanya sambil 
menjentikkan jari. 

“Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian 
dipengaruhi oleh unsur di luar diri kalian. Oleh siapa pun, apa 
pun, dan suasana bagaimana pun. Artinya, jangan mau sedih, 
marah, kecewa dan takut karena ada faktor luar. Kalianlah 
yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan 
ke-kuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong 
senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap 
tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, 
dan itu ada hubungannya dengan pengaruh luar,” katanya 
lebih bersemangat lagi. 

“Pernah masuk mahkamah dan dapat hukuman?” tanya 
Ustad Salman. Banyak yang angkat tangan, termasuk aku. 

“Nah, apakah kalian marah, takut, kesal, benci atau malah 
semakin kuat?”

Banyak yang menjawab takut dan kesal. Ustad Salman 
mengangguk-angguk sebelum meneruskan. 

“Jangan biarkan bagian keamanan menghancurkan m 
terdalam kalian, jangan biarkan diri kalian kesal dan marah, 
hanya merugi dan menghabiskan energi. Hadapi dengan 
lapang dada, dan belajar darinya. Bahkan kalian bisa tertawa, 
karena ini hanya gangguan sementara.”

“jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau 
sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. 
Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya, adalah hati 
orang sukses,” tandasnya dengan mata berkilat-kilat. 

Kami sekelas dibakar oleh semangat hidup yang 
menggelegak. Raja yang paling ekspresif, tampak mengayun-
ayunkan tinjunya di udara sambil berteriak “Allahu Akbar!”. 
Mukanya seperti kepiting rebus dan keringat memercik di 
keningnya yang lebar. Dulmajid mengerjap-ngerjapkan 
matanya, giginya gemeletuk, mungkin dia ingin mengubah 
nasib keluarganya dan terbang mengejar mimpinya. Atang 
berkali-kali bongkar pasang kacamata dari hidungnya, tanda 
dia sedang excited. Said yang tadi heboh, sekarang duduk 
tegak lurus di bangkunya, matanya terpejam, tampaknya 
sedang memasukkan inti pembicaraan ke dalam kepala. Baso 
malah berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Bukan tidak 
setuju dengan Ustad Salman, tapi dia sedang berusaha 
menyamai kecepatan bicara Ustad Salman dengan 
keligatannya mencatat kata-kata itu. Malam ini adalah salah 
satu dari malam-malam inspiratif yang digubah oleh Ustad 
Salman. 

Menjelang tidur, aku menulis sebuah tekad di dalam diariku. 
Apa pun yang terjadi, jangankan sebuah surat dari Randai, 
serbuan dari Tyson, bahkan langit yang runtuh, tidak akan aku izinkan menggoyahkan tekad dan cita-citaku. Aku ingin 
menemukan misi hidupku yang telah disediakan Tuhan. 

Aku tulis tanda pentung sepuluh kali untuk menegaskan 
tekad ini, dan aku tulis Amin sebagai doa untuk memulai ini. 
Pelan-pelan beban berat di hatiku hilang, dadaku lapang dan 
bibirku tersenyum menang. Sebuah purnama menggantung di 
langit. Bilah-bilah sinar peraknya menyelinap di sela-sela 
jendela dan jatuh berbaris-baris di samping kasur tipisku.



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...