"SEKAM ITU BERNAMA ITB"
Seperti janjiku pada Ustad Torik, aku mencoba menjalankan tugas sebagai penggerak bahasa asrama. Tugasku adalah memastikan disiplin bahasa ditegakkan, kata baru dan memeriksa catatan anggota asrama. Selain itu juga ‘
merangkap sebagai hakim di mahkamah bahasa. Posisiku hanya untuk satu asrama, sementara “Three Musketeers” mengatur disiplin bahasa untuk segenap penduduk PM.
Kini aku menjadi hakim di depan murid-murid muda yang masuk ke dalam ruangan mahkamah dengan takut-takut. Aku menyuruh mereka duduk pasrah di tengah kamar yang
kosong. Aku bertanya apa kesalahan mereka. Kalau mereka menggeleng, maka karcis laporan jasus aku bacakan. Lalu mereka kuhukum supaya jera. Selain mendapat tugas.
pelanggar lain, hukuman buat mereka untuk berdiri mematung di tengah koridor yang penuh orang yang lalu lalang. Mereka harus berteriak-teriak, “Aku tidak akan lagi” selama setengah jam. Tapi setelah beberapa kali menjadi hakim bahasa seperti ini, aku tahu kalau aku mengadili dan menghukum orang.
Aku segera melapor ke Ustad Torik untuk memindahkan aku ke majalah Syams, bergabung dengan Dulmajid yang telah 2 minggu tinggal di kantor majalah, sebuah ruangan yang sangat strategis di sebelah tempat penerimaan tamu. Tempatnya yang tinggi di lantai dua memungkinkan kami melihat situasi PM.
Aku baru saja pulang dari percetakan untuk memastikan plat untuk majalah kampus yang akan naik cetak telah beres.
Ketika lewat di depan sekretariat, Mukhlas, temanku yang bertugas di bagian surat menyurat melambai-lambaikan sebuah amplop.
“Alif, dari Padang nih. Sayang cuma surat saja, tidak ada wesel,” katanya bercanda.
Tanpa membaca, aku sudah tahu ini surat Randai. Tulisannya yang besar-besar dan miring ke kiri tidak mungkin disamai orang lain. Tahun lalu, Randai gencar menulis surat, bercerita kalau dia sudah kelas 3 SMA.
Sebelumnya, dia bercerita telah memutuskan pilihan universitas yang cocok dengan bakatnya. Pilihan pertamanya adalah Teknik Mesin ITB, Fakultas Kedokteran Unpad dan
sebagai pilihan amannya adalah Sastra Inggris Unpad. Kenapa di Bandung semua? Entah kenapa, orang Minang lebih suka mengirim anaknya sekolah ke Bandung daripada ke kota lain. Seperti ada love affair antara Minangkabau dan tanah Parahiyang-an. Entah kebetulan, di Minang juga ada wilayah yang disebut Periangan. Tapi alasan praktisnya mungkin karena Bandung cukup dekat dan lebih murah. Yogya murah tapi jauh, Jakarta dekat, tapi mahal.
Aku goyang-goyang amplop putih itu untuk meloloskan kertas ke satu sisi, dan sisi lainnya aku robek. Hanya selembar surat dengan tulisan besar-besar.
“Alif, syukur ALHAMDULLILLAH, aku telah DITERIMA di TEKNIK MESIN ITB, persis seperti yang aku harapkan. Sekolahnya Bung Karno dan Pak Habibie….” Aku hentikan membaca sampai di situ. Aku lipat surat ini. Lalu aku panjatkan syukur kepada Allah atas karuniaNya ini kepada Randai. Sebagai kawan, aku senang kawanku mimpinya jadi kenyataan. Tapi jantungku berdenyut keras.
Dan sekam yang tidak pernah pudar dalam 3 tahun akhirnya meletik-letik dan menyala jadi api. Ada iri yang meronta ronta di dadaku. Semua yang didapat Randai adalah mimpiku juga. Mahasiswa ITB dan bercita-cita jadi Habibie. Kini kawanku mendapatkan semuanya kontan. Sedangkan aku masih harus mengangsur 1 tahun lagi sebagai murid kelas
6 di PM.
Karena aku masuk setelah tamat SLTP, PM mewajibkan tambahan 1 tahun untuk kelas persiapan, sehingga untuk lulus, aku perlu 4 tahun’. Artinya: Randai kelas 3 SMA, aku baru kelas 5 di PM. Randai masuk kuliah, aku masih kelas 6.
Batinku perang. Dari sepucuk surat, kegelisahan di pedalaman hati ini menjalar ke permukaan dan cepat mempengaruhi semesta pikiranku.
Tahu-tahu dunia ini terasa kelabu dan dingin.
Di puncak gedung asrama, dikelilingi oleh gantungan cucian aku berdiri sebatang kara menatap langit yang rusuh. Aku kembangkan sajadah di atas lantai beton cor ini. Aku
lanjutkan membaca surat Randai yang telah keriput aku remas. Isinya aku tenungkan dalam-dalam. Ini sebuah surat persahabatan dan pemberitahuan. Kenapa sebagian diriku
ragu?
Sebagian hatiku berbisik bahwa surat ini “mengejek” dan mempertanyakan keputusanku masuk ke PM.
Mempertanyakan! Bahkan setelah tiga tahun berlalu. Betapa kurang kerjaan si Randai ini! Tapi kenapa aku jadi terpengaruh dengan surat ini? Atau… jangan-jangan aku memang telah salah langkah. Jangan-jangan aku telah
terlambat merangkul cita-cita masa kecilku yang telah dibawa lari oleh kawanku sendiri. Suara-suara aneh berlomba berbisik di setiap sudut kepalaku. Semakin kuat dan semakin menjadi. Aku menangkupkan kedua tangan ke wajahku. Kalut. Angin berdesau-desau, membuat suara aneh ketika mengibarkan
baju, sarung, baju dalam, singlet di sekitarku. Angin yang berbau sabun dan bau.
Togap, seorang kawan sekelasku yang berasal dari Medan bahkan telah memutuskan pulang ‘ala dawam, pulang selamanya, ketika kami masih kelas lima. Waktu aku tanya kenapa, dia bilang karena dia harus mempersiapkan diri ujian persamaan SMA dan UMPTN. Tujuannya adalah jurusan ekonomi USU, kalau tidak lulus, dia akan coba IKIP. Kalau tidak lulus juga, dia akan masuk IAIN, yang relatif gampang
ditembus murid PM.
Aku termenung. Bukankah cerita Togap ini bagai mengulang protes Amak dulu? Orang masuk sekolah agama hanya karena tidak lulus ujian masuk sekolah umum? Bagaimana kita bisa mengharapkan ahli agama yang
cemerlang kalau yang belajar ilmu agama itu banyak dari orang-orang terbuang? Sebuah kenyataan yang pedih. Dan mungkin aku dalam posisi akan melakukan hal itu juga. Akhirnya pertanyaan itu meledak juga keluar: bagaimana kalau aku keluar dari PM, sekarang juga? Agar aku mimpi seperti Randai. Menjadi mahasiswa dan bukan di jalur pelajaran agama. Tapi artinya aku akan jadi orang yang kalah karena pulang ketika perang belum usai. Aku tidak menyelesaikan apa yang aku mulai. Apa kata alam semesta? pulang saat ini sudah terlalu terlambat. Ujian persamaan sudah lewat dan UMPTN sudah usai. Aku telah ketinggalan kereta. Paling tidak aku harus menunggu sedikitnya 6 bulan lagi kalau benar-benar mengambil keputusan radikal ini.
Dentang lonceng membangunkanku dari lamunan. Aku beranjak ke masjid untuk menunaikan Maghrib. Pikiran tentang pulang ini hilang timbul di kepalaku, seperti gerimis yang datang dan pergi di sore hari, sesuka hati.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar