Rabu, 31 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 04

BAGIAN PERTAMA 04





“Kalau hanya itu pertimbangan kamu, apakah tidak bisa dipikirkan lagi? Pertama, sepanjang yang aku tahu, tidak semua anggota tentara Republik beraliran komunis. Kedua, aku ingin 
mengajak kamu berpikir tentang masa depan kalian sendiri. Tak ada perang yang tanpa akhir, dalam hal ini aku cenderung lebih suka kalian bergabung dengan tentara resmi.”

“Tidak,” jawab Kiram dan Kang Suyud hampir bersamaan. 

“Niat kami sudah bulat. Membentuk Hizbullah,” sambung Kiram.

“Baik. Itu pun, sudah kukatakan, aku merestuinya. Asal jangan kalian lupakan, nawaitu-nya lillahi taala dan kembalilah ke desa bila kelak keadaan sudah aman. Dalam pengertian seperti itulah dulu aku justru menyebut kalian Hizbullah.”

Aku merasa pertemuan itu berakhir dalam suasana agak kaku. Mungkin karena Kiai Ngumar, di luar dugaan, tidak serta-merta mendukung keinginan Kiram dan Kang Suyud, 
malah mengaku lebih suka jika kami bergabung dengan tentara resmi.

Kiram, Kang Suyud, Jun, dan Jalal langsung bubar, aku tinggal berdua dengan Kiai Ngumar. Aku bahkan menawarkan diri untuk mengawalnya ketika orang tua itu mengatakan 
ingin tidur di luar rumah. Kiai memilih sebuah surau kecil di kampung pengungsian itu sebagai tempat istirahatnya malam ini.

Kiai Ngumar keluar dengan iringan irama detak terompahnya yang khas. Bunyi terompah kayu itu selalu menjadi pertanda kehadirannya. Aku mengikutinya. Terbit rasa bangga karena aku menjadi pengawal yang benar-benar bersenjata bagi orang yang dihormati. Rasanya aku memang gagah.

Tentulah malam sudah cukup larut karena bulan tanggal tua sudah agak tinggi di timur. Aku mengira Kiai Ngumar akan segera masuk untuk tidur dalam surau kecil itu. Tetapi pikiranku salah. Kiai Ngumar mengajakku duduk pada sebuah bangku kayu di emper depan. Sepi sekali. Apalagi tak seorang pun 
penduduk yang menyalakan lampu minyak di beranda rumah mereka. Bahkan denging nyamuk pun tak terdengar. Musim kemarau yang kering tak memberi tempat basah untuk menetaskan telur nyamuk. Bulan tampak demikian tenang, membuat bayang-bayang temaram di halaman surau yang berpasir.

“Mid,” kata Kiai Ngumar mengusik keheningan.

“Ya, Kiai.”

“Sebenarnya, tadi masih banyak yang ingin aku katakan kepada Suyud dan kawan-kawannya. Tetapi aku melihat mereka sudah demikian kuat pada keputusannya.”

“Kalau Kiai masih ingin bicara, saya bersedia mendengarkannya dengan senang hati.”

“Ya, mumpung kita hanya berdua.”

“Kiai ingin cerita apa lagi?”

“Sebenarnya aku ingin mengajak mereka melihat masa lalu. Hal ini berkaitan dengan ucapan Suyud yang tak mau bekerja sama dengan orang-orang yang tidak taat bersembahyang.”

“Maksud Kiai?”

Kiai Ngumar tidak segera menjawab pertanyaanku. Aku merasa orang tua itu sedang memikirkan suatu hal yang penting dan mendalam.

“Mid, kamu tahu bahwa dulu orang Cina, orang Portugis, juga orang Inggris menyebut semua penduduk Indonesia dari Aceh sampai Sunda Kecil sebagai orang Selam?”

“Orang Selam?”

“Ya.”

“Lalu apakah hubungannya dengan sikap Kang Suyud yang hanya mau bergabung dengan orang-orang yang taat bersembahyang?”

“Dengarkan dulu dengan sabar. Orang-orang asing menyebut kita semua Selam.”

“Bukan ‘pribumi’?

“Bukan. Kata ‘pribumi’ belum lama lahir. Mungkin Ki Hajar Dewantara yang menciptakannya.”

“Lalu dengan istilah Selam?”

“Maksudnya jelas, Islam. Kamu mengerti apa artinya?”

“Tidak,” jawabku.

“Artinya, Selam adalah sebutan untuk semua orang yang tinggal di Aceh sampai Sunda Kecil tadi. Ya, pribumi itulah. Dulu, di mata orang asing, juga dalam perasaan kita semua, Selam dan Tanah Air adalah dua sisi dari satu mata uang, seperti Pandawa dan Amarta. Orang-orang tua kita di sini, yang sembahyang atau tidak, yang santri atau yang abangan, bahkan 
juga orang dul-dulan, sama-sama merasa sebagai orang Selam. Mereka bersaksi bahwa Gusti Allah adalah Tuhan Yang Esa, Kanjeng Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Mereka sejak lama hidup rukun dan bergotong-royong. Jadi aku tak paham mengapa si Suyud kini tak mau bergabung dengan tentara resmi hanya karena di sana banyak anggota yang tidak sembahyang.”

Sepi lagi. Kiai Ngumar menyalakan pemantik dan wajahnya yang tua tampak sesaat. Aku tepekur untuk mencoba mengikuti wawasan baru yang diuraikan Kiai Ngumar.

“Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Sejak zaman dulu para ulama hidup damai dengan para santri dan juga damai di tengah orang-orang abangan. Para ulama dulu bahkan tidak pernah membuat garis pemisah antara keduanya. Memang istilah santri dan abangan, bahkan juga wong dul-dulan, sudah lama ada. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup dalam kebersamaan yang tak dapat 
diragukan.”

Rokok Kiai Ngumar padam lagi. Ada bayi menangis dari rumah yang paling dekat dengan surau. Ada suara tokek dari bubungan sebuah rumah. Dan Kiai Ngumar kembali menghidupkan pemantik api.

“Mid, para ulama dulu bahkan tidak menjauhi para bromocorah, kecuali jika mereka benar-benar membuka permusuhan. Mengapa? Karena para ulama dulu menganggap para bromocorah, atau orang-orang sebangsa mereka, tetap orang Selam meski mereka meninggalkan sembahyang.”

“Nanti dulu, Kiai. Maafkan, saya memotong. Dari kata-kata Kiai tadi, bolehkah saya menarik kesimpulan bahwa sebenarnya sembahyang tidak penting?” aku bertanya dengan suara 
tertekan.

Kiai Ngumar tertawa tertahan. Sayang, dalam gelap aku tak bisa melihat ekspresinya.

“Mid, kamu keliru. Para ulama seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan sebagainya, bahkan aku sendiri misalnya, tak pernah lupa mengajari orang untuk bersembahyang. Bukan 
hanya mengajarkan bacaan dan tata caranya, melainkan juga, dan ini yang paling penting, mengajari jiwa agar setiap orang bisa mewajibkan diri mereka sendiri untuk bersembahyang.

“Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, 
tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain?”

Aku menarik napas panjang dan membiarkan Kiai Ngumar istirahat. Orang tua itu sudah bercakap panjang-lebar tentang sesuatu yang baru kuketahui dan kukira sangat penting. Dalam hati aku memuji keluasan pandangan kiai bekas tokoh SI itu. Bahkan sebenarnya aku tak pernah mengira, dalam diri Kiai Ngumar tersimpan pengalaman serta pengetahuan yang demikian luas.

“Masih ada satu hal lagi, Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Dalam riwayat dikatakan. Nabi sendiri pernah mengikat perjanjian untuk bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyelenggarakan pertahanan kota Madinah. Nabi setia dengan perjanjian itu dan baru menarik diri setelah pihak lain berkhianat. Nah, Mid, dalam kaitannya dengan sikap Suyud itu, bagaimana?”

“Kiai…”

“Apa?”

“Saya jadi bingung. Saya memahami apa yang sudah Kiai katakan. Kini saya tahu, kewajiban berjihad untuk memerangi kekuatan yang membuat kerusakan di negeri ini sesungguhnya bisa juga dilakukan melalui ketentaraan resmi. Maksud saya tidak semata-mata harus melalui Hizbullah.”

“Ya. Memang begitu. Lalu kenapa bingung?”

“Kalau begitu, Kiai setuju bila saya sendiri yang bergabung dengan ketentaraan?”

“Memisahkan diri dari Kiram dan teman-temannya?”

“Ya.”

“Jangan, Mid. Nanti bisa timbul perpecahan di antara kalian dan fitnah. Sebaiknya kamu tetap bersama mereka membentuk barisan Hizbullah agar kamu semua tetap bersatu. Tetapi aku berwasiat bila sudah aman kelak, kembalilah ke desa dengan ikhlas. Atau ya itu tadi, bergabunglah dengan tentara. Tetapi kelak.”

“Kelak itu kapan, Kiai?”

“Begini, Mid. Belanda takkan lama di sini. Dalam ramalan orang-orang tua, sudah tak ada lagi jangka bagi mereka untuk tinggal di negeri ini. Percayalah, sesuatu ada masanya. Dan segala sesuatu tak akan hadir di luar masa yang tersedia baginya.”

“Tidak lama lagi?”

“Pada perasaanku, ya."

Aku lega karena jelas sekali apa yang harus kuputuskan besok. Aku juga sangat menghormati sikap Kiai Ngumar yang menaruh masalah kekompakan kami di atas hal-hal lain, termasuk pemikiran Kiai sendiri.

Bulan sudah tergelincir ketika Kiai Ngumar bangkit dan berjalan ke perigi. Detak terompah kayu setia mengiringinya. Terdengar kecipak air ketika Kiai Ngumar mengambil air sembahyang. Ada suara burung hantu dari arah selatan. Dan sinar bulan tiba-tiba lenyap karena segumpal awan bergerak menghalanginya.

Kiai Ngumar masuk ke surau dan bersembahyang. Aku merebahkan diri dekat pintu, bergulung kain sarung. Senjata tersembunyi di antara kedua kakiku. Karena perasaan lega dan udara malam yang dingin, aku segera terlena. Namun rasanya baru sesaat aku lelap ketika samar-samar aku mendengar suara terompah kayu Kiai Ngumar kembali berjalan ke perigi. Dan kokok ayam 
jantan bersahutan. Tokek di bubungan surau, bahkan keresek kelaras pisang tersentuh kelelawar yang pulang pagi.

Di pertengahan tahun 1948, Barisan Pemuda, nama asal-asalan yang kami berikan buat kelompok kecil pasukan kami sendiri, sah menjadi Hizbullah. Tetapi tak ada upacara, tak ada pencatatan anggota. Kami hanya berkumpul di rumah Kang Suyud, dan membaiat-nya menjadi tetua bagi kami: Kiram, 
Jun, Jalal, dan aku. Kiram menjadi wakilnya. Banyak pemuda ingin masuk, namun Kang Suyud hanya menjadikan mereka anggota cadangan karena mereka tak punya senjata. Maka dalam kenyataannya anggota Hizbullah dari kampung kami hanya ada lima orang, termasuk Kang Suyud.

Aku segera merasakan adanya perubahan: kami menjadi lebih terikat kepada Kang Suyud karena Kiram kelihatan mulai renggang dengan Kiai Ngumar. Memang, Kang Suyud boleh 
dibilang seorang kiai juga, namun ia lebih muda dan kukira tak punya pengalaman berorganisasi seperti Kiai Ngumar. Perubahan juga terasa terjadi di bidang lain. Dulu, ketika kami masih menggunakan nama Barisan Pemuda, kami lebih leluasa meminta bantuan kepada masyarakat. Kami bisa minta makan, 
minum, atau rokok kepada orang santri, orang abangan, atau para pedagang. Sekarang, entah mengapa kami hanya berani minta sumbangan logistik kepada orang-orang yang tinggal di 
sekitar masjid. Terasa pandangan mataku makin menyempit.

Perubahan yang lebih terasa terjadi pada segi yang menyangkut hubungan dengan kelompok-kelompok tentara resmi. Jelas sekali mereka seperti mengambil jarak dengan kami. Dalam berbagai operasi melawan tentara Belanda, mereka tidak mengajak kami. Masing-masing bertempur dalam garis komando sendiri-sendiri. Bahkan beberapa kali terjadi salah 
pengertian antara kami dan mereka, sehingga hampir terjadi baku tembak.

Suasana dingin dan tegang antara kami dan pasukan Republik mungkin akan bertambah buruk apabila mereka tidak mendapat komandan baru. Dengan pergantian komandan itu terasa ada angin segar. Bahkan suatu hari datang kurir membawa surat buat kami. Tentara minta bantuan kami (dalam surat 
itu khusus disebut nama Kiram dan namaku) untuk membawa Mantri Karsun ke Karangtalun. Ya. Kukira mereka sudah mendengar cerita tentang Kiram, tentang keberanian dan kenekatannya.

Mantri Karsun adalah pemungut cukai pasar desa kami, teman Hianli, dan keduanya kami kenal sebagai mata-mata Belanda. Surat itu menjadi bahan pembicaraan di rumah Kang 
Suyud. Dan sebelum ada kata putus apa pun, Kiram sudah begitu bernafsu hendak melaksanakan permintaan bantuan itu, 
yaitu mengambil Mantri Karsun.

“Nanti dulu,” kata Kang Suyud. “Kita punya perhitungan sendiri dengan mantri itu. Tanpa surat ini pun kita akan mengambil dia. Jadi…”

“Sebentar, Kang Suyud. Meskipun benar kita punya urusan sendiri dengan Mantri Karsun, apa salahnya jika tindakan terhadap dia kita atas namakan tentara?”

“Lho, buat apa?”

“Buat kerja sama. Aku percaya, suatu saat kita akan memerlukan bantuan mereka, obat-obatan misalnya. Atau siapa tahu, malah senjata. Kita hanya punya empat bedil, bukan?” kataku.

“Tetapi di sana banyak anak Pesindo, anak buah Siswo Wuyung yang komunis. Kamu mau bekerja sama dengan kafir komunis?”

Aku bingung. Pertanyaan Kang Suyud tak bisa kujawab. Untung aku teringat Kiram yang pernah dihina karena buta huruf.

“Kang, aku hanya melihat komandan mereka bukan komunis. Dia baik, dan kini malah minta bantuan kepada kita. Apa ini bukan pertanda iktikad baik dia? Juga, Kiram pernah mendapat penghinaan. Apabila permintaan mereka dapat kita penuhi, Kiram bisa membuktikan diri bahwa dia seharusnya dipuji, bukan dihina.”

Kang Suyud diam. Ketika dia tampak hendak berbicara, Kiram mendahuluinya.

“Pokoknya Mantri Karsun harus kuambil, tak peduli atas nama Republik atau atas nama Hizbullah.”

“Ya, ambil dulu dia. Soal atas nama siapa pengambilan itu, adalah urusan nanti,” kataku.

Tak tahulah, akhirnya semua sepakat bahwa aku dan Kiram yang akan mengambil Mantri Karsun. Aku lega karena aku merasa jurang yang memisahkan kami dengan pasukan Republik akan terjembatani. Apalagi bila aku dan Kiram terbukti berhasil membawa mata-mata Belanda itu ke hadapan koman dan pasukan Republik.

Seperti ketika menyergap Hianli, kali ini pun aku mengekor saja kepada Kiram. Seperti Hianli, kabarnya Mantri Karsun pun tak pernah tinggal di rumah pada malam hari. Maka 
kami memilih saat yang lain. Setelah memperhitungkan segala sesuatu, pagi-pagi kami sudah bersembunyi di balik semak sepi 
di pinggir jalan ke arah pasar. Mantri Karsun selalu lewat di situ setiap pagi hari pasaran untuk menarik uang retribusi dari para pedagang. Pukul setengah tujuh kudengar suara sepeda datang, dan tak salah lagi: Mantri Karsun. Kiram melompat keluar dari semak dan tanpa ucapan apa pun ia menarik Mantri Karsun dari atas sepedanya. Kendaraan itu roboh dan pemiliknya tak berdaya dalam cekalan Kiram. Lebih-lebih lagi setelah aku membelenggu kedua tangannya ke belakang dan mendorongnya agar cepat bergerak meninggalkan jalan besar.

Aku dan Kiram berjalan bergegas sambil mendorong-dorong Mantri Karsun. Kami harus segera menjauh karena tadi kulihat ada beberapa orang menyaksikan operasi kami. Sampai di pinggir sungai kami berhenti. Kiram menyuruh Mantri Karsun jongkok. Kukira dia akan langsung menembak tawanan itu, tetapi ternyata tidak.

“Kita ke mana?” tanya Kiram.

“Kok tanya. Ke Karangtalun, bukan?” balasku. 

“Ke markas tentara?”

“Ya.”

“Kang Suyud tidak setuju.”

“Aku sudah tahu sikap Kang Suyud. Tetapi kamu perlu membuktikan kepada tentara bahwa kamu tak pantas dihina.”

Sebagai jawaban, Kiram menyuruh Mantri Karsun bangkit. Kulihat wajah pesakitan itu sangat pucat. Kedua kakinya gemetar. Malah celananya basah. Mulutnya menggumamkan 
sesuatu, mungkin permintaan ampun, tapi Kiram tak peduli. 

Sebagai seorang mata-mata, Mantri Karsun memang menjengkelkan. Kabarnya, tentara Republik beberapa kali gagal mencegat pasukan Belanda karena rencana mereka tercium mantri itu dan ia bocorkan ke pihak lawan. Ada kabar juga, suatu pos rahasia pasukan Republik diserang Belanda atas petunjuk Mantri Karsun. Jadi tentara, dan kami juga, memang jengkel terhadap mata-mata itu. Namun ketika mantri itu tak berdaya dan terkencing-kencing, aku hampir tak tega melihatnya.

Tukang perahu tambang ikut gemetar ketika Kiram memintanya menyeberangkan kami. Apalagi ia segera menyadari bahwa kami membawa seorang tahanan yang terbelenggu. Dengan wajah ketakutan tukang perahu itu memenuhi permintaan kami. Mantri Karsun yang pertama naik, kemudian menyusul Kiram dan aku. Perahu tambang bergerak dengan segalanya kelihatan lancar. Kiram tetap berdiri. Dalam posisi seperti itu, dia mudah oleng.

Kemudian terjadilah peristiwa itu. Aku tak tahu persis bagaimana awalnya; yang kulihat sekilas adalah kedua tangan Mantri Karsun terlepas dari belenggu dan sedetik kemudian 
dia sudah terjun lalu menghilang di bawah permukaan air. Aku dan Kiram gugup, apalagi perahu tambang menjadi oleng ketika Mantri Karsun terjun ke air. Dengan senjata siap tem-
bak, aku dan Kiram menunggu tawanan itu muncul. Senjata Kiram meledak lebih dulu ketika ada kepala muncul sepuluh meter arah hilir. Luput. Kepala Mantri Karsun kembali lenyap.

Seperempat menit kemudian kepala itu timbul lagi dan dua ledakan terdengar hampir bersama. Kami yakin, kali ini pun luput karena tampak jatuhnya peluru-peluru itu meleset.

Akhirnya Kiram menyerahkan senjatanya kepadaku. Ia sendiri menghunus pisaunya lalu terjun ke air. Soal berenang, Kiram sulit ditandingi oleh siapa pun karena sejak bocah ia akrab dengan air. Rumah Kiram terletak di punggung tanah, hanya beberapa jengkal dari sungai.

Kiram mengambang seperti bangkong, tetapi matanya awas. Ketika Mantri Karsun muncul agak di sebelah timur, Kiram malah menyelam. Ya Tuhan. Kemudian aku melihat air di sana berbuih-buih dan berwarna merah. Aku yakin ada pertempuran di bawah permukaan air. Kedua kaki tukang perahu tambang gemetar. Aku pun berusaha memalingkan muka, tak 
sanggup melihat air sungai menjadi merah. Celakanya, ketika aku kembali melihat ke sana, dua kepala muncul bersama. Satu kepala Kiram, yang lain kepala Mantri Karsun yang sudah terlepas dari tubuhnya. Aku menjerit dan melompat, lalu jatuh terduduk di lantai perahu. 

Aku linglung. Kulihat kiri-kanan. Ada nasi panas dengan ikan asin bakar dan secangkir kopi di dekatku. Di sana ada Kiram sedang makan berdua dengan Jun. Mereka tertawa ketika memandang aku. Ya. Aku kemudian sadar, soal Mantri Karsun sudah lama berlalu, sudah hampir sepuluh tahun berselang.

Dan kini aku sedang duduk merenung dalam sebuah pos rahasia Darul Islam, dalam sebuah gua.

“Kamu mimpi?” tanya Jun masih sambil tertawa. Ia seperti tak merasakan luka yang merobek kulit pahanya. Aku tak bisa 
menjawab. Kepalaku pening. Lagi pula aku sangat tergoda oleh nasi, ikan asin bakar, dan cabai rawit. Dan secangkir kopi panas itu. 



                              *****

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...