Rabu, 31 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 03

BAGIAN PERTAMA 03




“Sabar. Dan biarlah aku menjamin, senjata yang dipegang Kiram hanya akan digunakan untuk membantu tentara Republik, ya sampean-sampean itu. Lagi pula, senjata itu bisa menjadi modal penggugah semangat anak-anak muda di kampung ini,” katanya menengahi.

Wibawa Kiai Ngumar ternyata mampu meyakinkan keempat tentara itu. Dengan wajah yang kurang jernih mereka merelakan salah satu senjata rampasan itu menjadi milik Kiram.

Kiram tampak bingar. Dan jadilah dia anak muda pertama di desaku yang menyandang senjata, sebuah Lee Enfield buatan Amerika. Kiram sangat bangga, dan memang, Kiram 
menjadi tambah gagah. Tapi Kiram juga baik hati, setidaknya terhadap aku dan Jun. Ia memberi kesempatan padaku dan Jun untuk mengenal senjatanya dan berlatih menggunakannya meski tanpa peluru. Dalam beberapa kali pencegatan terhadap pasukan Belanda, kami menggunakan senjata Kiram itu secara bergantian.

Dengan modal satu bedil itu Kiram, aku, dan Jun, dan Jalal membentuk barisan pemuda. Orang kampung menyebut kami “pemuda” saja, sebutan baru yang secara ajaib membuat kami merasa gagah dan bangga. Tetapi sebutan itu juga yang membuat kami jadi urakan. Kiai Ngumar menyebut kami Hizbullah. Tak tahulah, pokoknya kami senang sebab merasa dianggap penting. Tetapi Kiram, mungkin karena sudah punya senjata sehingga merasa paling gagah, sering nakal. Kiram sering menggoda Asui, gadis Cina pemilik toko di depan pasar. Ulah Kiram mengundang kebencian Hianli, paman Asui. Kata orang, karena kebencian itu Hianli membalas dendam kepada Kiram. Caranya, dia menjadi mata-mata Belanda untuk memberi pelajaran kepada Kiram yang sering menggoda Asui.

Semua orang percaya bahwa karena Hianli pula, barisan pemuda suatu malam digerebek di rumah Kiram. Untung mereka salah masuk, sehingga kami punya sedikit waktu untuk kabur. Tapi aku sendiri hampir mati oleh tembakan yang dilepaskan penyergap yang siap di halaman rumah. Tangan kananku terasa tersentak, namun aku tak segera menyadari apa yang terjadi karena aku harus lari dan lari. Setelah berlari cukup jauh, aku 
baru sadar bahwa tangan kananku kena. Mestinya tak parah, karena aku merasa tulang tanganku tidak patah. Namun aku tak dapat menggerakkan telapak tangan dan kelima jariku. Dan kain sarung, satu-satunya pakaian yang kebetulan sedang melekat di badanku, terasa kuyup oleh cairan yang amis: darah. Lalu aku ingat ngelmu pemberian Kiai Ngumar: bila sedang diburu bahaya seperti itu, segala pakaian yang melekat harus dibuang agar para pengejar terkecoh. Jadi malam itu aku lari kocar-kacir tanpa kain sepotong pun.

Meskipun rasanya tak membahayakan jiwa, tembakan yang mengenai tangan kanan itu memberi aku pengalaman yang tak mudah kulupakan. Setelah lepas bahaya, rasa sakit mulai menyengat lukaku. Dalam kegelapan malam aku tahu ternyata banyak darah keluar. Lagi pula aku mulai kedinginan. Maka aku segera sadar apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mencari pertolongan secepatnya. Aku bergegas sambil melawan rasa sakit, melintas ladang dan menyusur belukar untuk mencapai kampung di seberang sungai. Aku tahu, di sana ada beberapa rumah penduduk yang sudah kukenal. Sampai ke rumah pertama aku berhenti dan termangu. Tak sedikit pun ada cahaya dari dalam rumah itu. 

Aku ragu, tetapi aku sangat sadar aku harus segera mendapat pertolongan. Maka dengan suara sesantun mungkin aku memanggil, tetap sepi. Maklum, suasana memang tak aman dan pemilik rumah pasti mendengar rentetan tembakan yang membuat mereka ketakutan. Setelah si pemilik rumah mengenali suaraku, mungkin baru ada tanggapan dari dalam. Kulihat ada pelita dinyalakan. Lalu suara pintu terbuka. Ternyata yang keluar adalah seorang perempuan.

Tak akan kulupakan bagaimana reaksi perempuan itu ketika melihat diriku yang telanjang dan berlumur darah. Ia terpana dengan mulut ternganga. Tangannya bergerak menggapai-gapai. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara. Lalu dengan tergagap-gagap ia memanggil suaminya.

Keesokan harinya Kiram muncul. Katanya, ia mudah menemukan aku karena mengikuti bekas tetes-tetes darah. Kiram membawa cerita macam-macam. Malam itu rumah orangtuaku, cerita Kiram, dibakar. Dan ada dua penduduk ditembak mati. Semua orang mengungsi, kecuali Kiai Ngumar yang merasa tak kuasa meninggalkan suraunya. Orang tua itu ingin bertahan sejauh ia masih melihat peluang, tak peduli sekecil apa pun.

“Kedua orangtuamu sangat cemas, jangan-jangan kamu mati. Kain sarungmu yang tertinggal sungguh berlumur darah.”

“Jadi?”

“Ah, gampang. Mereka kuhibur. Kalau kamu benar mati, tentulah mayatmu tergeletak dekat kain sarung itu. Karena mereka tak melihat mayat, mereka percaya kamu masih hidup. Jadi lupakan saja.”

Kiram tertawa.

“Mid, kukira kita benar-benar sudah pernah perang.”

“Apanya yang perang?”

“Ya, kita sudah berperang. Tadi malam.”

“Belum.”

“Sudah. Buktinya, kamu tertembak. Untung kamu tak mati.”

“Perang itu tembak-menembak. Nah, merekalah yang sudah menembak kita. Kamu, belum satu peluru pun kamu ledakkan. Jadi kamu belum pernah perang.”

Kiram kecut.

“Mid, bedilku kosong. Aku tak punya pelor, tahu?”

“Jadi bedilmu cuma buat gagah-gagahan?”

Kami tertawa.

Pada malam kelima Kiram datang lagi. Semula aku menduga Kiram datang hanya untuk memamerkan bedilnya yang sudah berisi peluru. Dia juga punya granat. Rasanya, Kiram 
memang tampak hebat. Tetapi malam itu Kiram datang dengan rencana yang kupikir edan.

“Mid, kamu ingin punya senjata seperti aku, bukan? Di zaman seperti ini, seorang pemuda yang tak punya senjata adalah anak bawang. Pemuda seperti itu bukan apa-apa. Iya, kan?”

Aku ciut. Senyumku pahit karena ada penghinaan yang tak bisa kusanggah. Lalu Kiram mengutarakan rencananya. Ternyata Kiram tahu Hianli menyimpan sebuah senapan di tokonya. Rahasia itu diperolehnya dari perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah pedagang itu. Bukan hanya menyimpan senjata, setiap malam Hianli diketahui bergabung dengan kelompok mata-mata Belanda dan baru pulang menjelang fajar.

“Ketika Hianli pulang, itulah saatnya kita bertindak.”

“Ah, yang benar! Kamu mau mengambil Asui, bukan senjata kepunyaan pamannya.” Aku balas mencemooh untuk membayar sakit hatiku.

Kiram terlihat tawar.

“Tidak, Mid. Asui memang menarik. Tetapi kali ini aku tidak main-main. Malah yang kuinginkan bukan hanya senjata milik Hianli, tapi juga nyawanya. Ia mata-mata. Setuju?”

Aku diam. Tapi aku tak membantah ketika Kiram mengajakku pergi dari rumah persembunyianku malam itu juga. Meski belum pulih benar, namun luka di tangan kananku tak 
terasa sakit lagi. Malam itu kami keluar kampung dan tidur di sebuah dangau di tengah sawah.

Ketika kaki langit timur mulai memerah, aku dan Kiram sudah keluar dari dangau dan berjalan ke arah kampung. Sepagi itu perutku sudah kenyang oleh singkong bakar. Kami 
menginjak rumput pematang yang sangat basah oleh embun. Dari belakang terdengar kokok ayam hutan. Suara jangkrik. Suara burung cabak. Selebihnya, sepi. Sebelum masa perang dulu, sepagi itu sudah banyak orang gunung turun hendak ke pasar. Mereka memikul kayu atau daun jati sambil membawa 
obor. Suara derit pikulan selaras dengan irama langkah mereka. Namun sejak ada perang, suasana sangat berubah. Awal pagi adalah kepanjangan sepi yang mencekam sejak matahari terbenam. Tak ada lagi obor orang-orang gunung. Tak ada embik kambing yang sedang dituntun hendak dijual di pasar. 
Sampai di pasar, kami pun hanya menemukan sepi. Padahal biasanya perempuan penjual serabi sudah datang mendahului kokok ayam pertama. Dengan waktu kerja seperti itu, pedagang serabi sudah siap melayani pembeli pada jam lima pagi. Tapi sudahlah. Perang memang memaksakan banyak sekali perubahan. Tetapi Kiram dan aku lebih senang menemukan pasar yang masih gelap dan lengang. Hanya sialnya, anjing Hianli menggonggong. Pada saat yang sama kudengar bunyi sepeda mendekat. Kiram menarik tubuhku agar terlindung di balik pokok beringin yang tumbuh di depan pasar. Hianli pulang naik sepeda ditemani dua orang bersenjata. Kiram mengenali mereka sebagai polisi yang pro-Belanda.

Kulihat kedua polisi itu memutar sepeda mereka. Kiram menunggu sesaat, lalu melompat dari tempat persembunyiannya dan bersicepat menodongkan senjatanya ke perut Hianli. Paman Asui itu, yang masih berdiri memegangi sepedanya, terpaku. Anjingnya menggonggong dan terus menggonggong. 
Kiram menyuruhku mengambil bedil Hianli yang sudah diletakkan di tanah atas perintahnya. Tanganku gemetar. Anjingnya tak henti-hentinya menggonggong. Kiram menyuruh Hianli jongkok dan berbalik. Tiba-tiba pintu terbuka. Asui keluar bersama anjingnya. Senjata Kiram meledak. Aku memejamkan mata. Gonggongan si anjing padam. Dan Hianli masih jongkok. Kiram kembali mengokang senjata dan langsung mengarahkannya ke tengkuk Hianli. Aku menutup telinga. Asui yang lama terpaku tiba-tiba maju menerkam tangan Kiram. Lalu, tak tahulah. Kiram menurunkan senjatanya dan 
mengajakku pergi. Asem! Kukira memang benar, Kiram menyukai Asui. Atau entahlah, yang jelas aku bergegas meninggalkan toko di depan pasar itu.

Setelah beberapa saat berjalan aku menengok ke belakang. Karena suara tembakan, seisi rumah Hianli keluar. Aku mempercepat langkah agar mereka tak sempat mengenaliku. Tetapi Kiram malah sengaja berhenti dan berbalik untuk mengucapkan kata-kata ancaman.

Ketika matahari muncul, aku dan Kiram sudah menyeberangi sungai. Sebetulnya aku ingin terus menjauh, namun Kiram tak setuju. Kiram bahkan mengambil beberapa tangkai kelaras pisang, menggelarnya di atas hamparan pasir pelataran sungai, lalu merebahkan diri. Tak lama kemudian Kiram benar-benar tertidur. Bukan main. Sebenarnya, aku pun sangat 
mengantuk karena semalam hanya tidur sebentar. Tapi untuk lelap di pelataran sungai hanya seperempat jam sesudah merebut senjata dari seorang mata-mata Belanda, sungguh tak mungkin kulakukan.

Jadi aku hanya duduk bersandar pada batang randu di samping Kiram yang sudah mendengkur. Kulihat di pucuk sana, seekor burung srigunting bertengger dan sesekali berkicau. Bulunya yang hitam pekat tampak berkilat oleh cahaya matahari pagi. Ekornya yang terbelah menyerupai sebuah gunting, ter-
buka bergerak-gerak mengikuti irama kicauannya. Para petani tahu, kicau srigunting adalah pertanda datangnya mangsa kapat, masa keempat dalam pranata mangsa atau kalender pertanian tradisional. Itulah saat yang baik untuk menebar benih di lahan kering, karena musim hujan sudah menjelang.

Sementara Kiram tidur pulas, hatiku gelisah. Mengapa Kiram demikian yakin bahwa Hianli tak akan melapor kepada teman-temannya lalu mengejar kami? Karena rasa cemas yang 
tak bisa kutahan, kuputuskan untuk membangunkan Kiram. Tenang sekali ia membuka matanya, menggeliat sambil melenguh lalu duduk.

“Sudah siang. Kita mau terus ke mana?”

“Ke mana? Di sini dulu, duduk. Kita istirahat dan bicara.”

“Bicara?”

“Ya. Dan aku ingin tanya padamu: sesudah terlaksana punya senjata, bagaimana perasaanmu? Senang, bukan?”

Aku malu.

“Pasti senang,” sambung Kiram, “sebab kamu tak mungkin lagi dibilang orang anak bawang.”

Aku tersenyum lagi dan bertambah malu.

“Mid, karena sudah bersenjata, kita harus mengambil jarak dengan orangtua kita, juga dengan Kiai Ngumar.”

“Bagaimana?”

“Orangtua kita dan Kiai Ngumar akan mendapat kesulitan bila kita kelihatan tetap akrab dengan mereka. Kita harus selalu bergerak. Bila kita tetap tinggal di kampung, orangtua kita bisa menjadi bulan-bulanan tentara Belanda.”

Aku mengangguk, aku mengerti kebenaran yang ada dalam kata-kata Kiram. Dengan senjata yang ada di tangan, aku pun segera sadar bahwa kini aku sudah terang-terangan menjadi musuh tentara Belanda. Orang-orang seperti Hianli, juga Karsun, mantri pasar, yang sudah dikenal sebagai mata-mata Belanda, tentu akan selalu mengintip gerak-gerikku.

“Lalu apa rencanamu?”

“Aku ingin membentuk kelompok yang lebih baik.”

“Hanya berdua?” 

“Kamu tolol. Jun dan Jalal sudah kuajak bicara dan mereka setuju. Juga Kang Suyud, biarpun ia sudah banyak anak. Kamu bagaimana?”

Aneh, aku merasa tak mudah menjawab pertanyaan Kiram. Namun setidaknya aku mempunyai keinginan membalas mereka yang telah membakar rumah orangtuaku dan melukai tanganku: Belanda.

“Bagaimana?”

“Ya. Tentu aku ikut kamu, asalkan bicarakan dulu hal ini di hadapan Kiai Ngumar.”

“Ya.”

Dari pelataran itu kami bergerak ke utara seperti yang diminta Kiram. Ada seorang petani yang ketakutan ketika melihat aku dan Kiram yang menyandang senjata. Namun setelah mengenali wajah kami, petani itu urung lari. Ia malah menawarkan cerek airnya. Kami minum sepuas hati. Keringat menitik hampir di seluruh permukaan kulit dan menjadi pendingin tubuh ketika angin bertiup.

Pada malam yang sudah direncanakan, aku dan Kiram mengunjungi Kiai Ngumar di rumah pengungsian. Di sana ternyata sudah ada Jun, Jalal, dan Kang Suyud. Kami berkumpul dalam ruangan yang remang-remang, bahkan kami menaruh seorang penjaga di luar. Sambil makan kacang rebus yang disuguhkan oleh pemilik rumah, Kiram mengutarakan maksudnya kepada Kiai Ngumar.

Hening sesaat. Dalam ruangan yang remang-remang itu hanya terdengar bunyi jemari memijiti kulit kacang rebus, dan pemantik api yang dinyalakan oleh Kang Suyud.

“Baik,” ujar Kiai Ngumar setelah lama terdiam.

 “Jadi kalian hendak membentuk barisan Hizbullah.”

“Benar. Dan kami hanya tinggal menunggu doa restu Kiai,” jawab Kiram.

“Aku tentu memberimu doa restu. Tetapi aku juga ingin bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara Republik?”

“Tidak,” jawab Kiram cepat. “Kami lebih suka membentuk barisan sendiri.”

“Ya, Kiai. Lebih baik kami bekerja sendiri,” dukung Kang Suyud.

“Baik. Tetapi aku ingin bertanya, apa kalian sudah paham perbedaan antara tentara Republik dan Hizbullah?”

Tak ada yang menjawab. Dalam kelengangan yang sejenak kembali terdengar kulit-kulit kacang yang pecah terbelah.

“Soal persamaannya kalian tentu sudah tahu,” ujar Kiai Ngumar. “Tentara Republik dan Hizbullah sama-sama pasukan bersenjata yang berjuang melawan tentara Belanda untuk 
mempertahankan kemerdekaan negara kita.”

“Dan perbedaannya?” aku bertanya.

“Bedanya?” ujar Kiai Ngumar. “Begini. Meskipun sama-sama bertempur melawan Belanda, ada perbedaan yang cukup mendasar antara tentara Republik dan Hizbullah. Tentara Republik adalah pasukan resmi. Artinya, mereka adalah bagian sah Republik. Maka selama Republik berdiri, mereka mutlak diperlukan kehadirannya. Republik pun wajib memberi mereka gaji, setidaknya kelak bila negeri sudah normal. Lalu, apa Hizbullah?”

Kiai Ngumar memberi jeda, mungkin agar ada kesempatan bagi kami untuk memahami penjelasan yang telah diucapkannya.

“Hizbullah adalah gerakan perlawanan rakyat yang bersifat sukarela. Dasar niatnya lillahi taala, tujuannya melaksanakan wajib memerangi kafir yang membuat kerusakan di negeri ini seperti sudah difatwakan Hadratus Syeikh. Dan tidak seperti tentara resmi, Hizbullah tidak dibentuk oleh pemerintah. Mereka lahir karena keserta-mertaan para ulama. Karena niatnya lillahi taala, anak-anak Hizbullah tidak akan menerima gaji dan kukira harus membubarkan diri setelah keadaan aman. Itulah, maka aku tadi bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara resmi?”

“Ya, saya setuju,” jawabku. “Sebaiknya kita bergabung dengan mereka karena jumlah kita tak banyak.”

“Mid! Kamu jangan macam-macam. Kalau tak kuberi, kamu tak akan punya bedil. Kamu akan tetap anak bawang,” kata Kiram tajam.

“Kami tahu kamu tamat sekolah lima tahun. Kamu ingin jadi tentara demi gaji,” tambah Kang Suyud tak kalah pedas.

“Nanti dulu,” Kiai Ngumar menengahi, mungkin karena melihat aku sudah ciut. “Jadi kalian tidak ingin bergabung?”

“Ya, kami tidak ingin bergabung dengan tentara Republik,” jawab Kang Suyud. “Kami ingin membentuk pasukan sendiri dengan anggota yang semuanya mau sembahyang. Kiai, saya 
melihat banyak tentara tak melakukannya. Malah saya tahu dengan jelas, beberapa anak buah Siswo Wuyung ada dalam barisan tentara Republik. Jangan lupa Siswo Wuyung adalah 
pendiri persatuan komunis di wilayah ini sejak 1938.”

Kiai Ngumar mengangguk-angguk.

“Dan mereka pernah menghina saya karena saya buta huruf,” sela Kiram.

“Tentang Siswo Wuyung, kukira aku lebih tahu daripada kalian. Dia pernah bersama-sama dengan aku dalam Sarekat Islam sebelum perkumpulan itu pecah jadi SI Putih dan SI Me-
rah. Dia memang komunis.”

“Itulah. Maka kami tak bisa bekerja sama dengan anak buahnya dalam ketentaraan.”





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...