Minggu, 07 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 6


"SANG RENNAISSANCE MAN"


Sehabis Isya, murid-murid berbondong-bondong memenuhi aula. Ratusan kursi disusun sampai ke teras untuk menampung tiga ribu orang. Semua orang mengobrol seperti dengungan ribuan tawon transmigrasi. Di panggung duduk berjejer beberapa ustad senior dan kiai. Sebuah tulisan besar menggantung sebagai latar: Pekan Perkenalan Siswa PM. 

Seorang laki-laki separo baya yang berbaju koko putih maju ke podium. Rambutnya yang setengah memutih menyembul dari balik kopiah hitamnya. Janggutnya pendek rapi tumbuh dari dagu bundarnya. Laki -laki ramping ini mempunyai wajah seorang bapak penyabar. 

Matanya berbinar-binar dan tersenyum kepada lautan murid baru dan lama. Senyumnya begitu lebar, seakan-akan tidak ada yang lebih membesarkan hatinya selain melihat ribuan 
murid bersesak-sesakkan di ruangan ini. 

Dia mendehem tiga kali di depan mik. Tiba-tiba suara tawon tadi langsung diam dan senyap. Murid-murid yang duduk di belakang tampak meninggikan lehernya untuk melihat lebih 
jelas ke depan. Penampilan laki-laki ini boleh bersahaja, tapi aura wibawa yang membuat dia terlihat lebih besar dari fisiknya. Aku mencolek Raja yang duduk di sebelah kiriku. 

“Siapa bapak ini?” tanyaku penasaran. 

Raja memandangku dengan tidak percaya. Dia melotot, 

“Bos, kau murid macem mana ni, kok bisa gak tahu. Ini dia kiai kita, almukarram Kiai Rais yang menjadi panutan kita dan semua orang selama di PM ini. Dia seorang pendidik dengan pengetahuan dan pengalaman lengkap. Pernah sekolah di Al-Azhar, Madinah dan Belanda.” 

Raja mengangsurkan kepadaku sebuah buku berjudul, Biografi Kiai-Kiai Pendidik. “Di buku ini ada biografi ringkas beliau. Menurut penulisnya, Kiai Rais cocok disebut sebagai 
rennaisance man, pribadi yang tercerahkan karena aneka ragam ilmu dan kegiatannya.” 

“Marhaban. Selamat datang anak-anakku para pencari ilmu. Welcome. Selamat Datang. Bien venue. Saya selaku rais ma’had-pimpinan pondok- dan para guru di sini dengan sangat 
bahagia menyambut kedatangan anak-anak baru kami untuk ikut menuntut ilmu di sini. Terima kasih atas kepercayaannya, semoga kalian betah. Mulai sekarang kalian semua adalah bagian dari keluarga besar PM,” Kiai Rais membuka sambutannya. Suaranya dalam dan menenangkan. 

“Assalamualaikum,” tutupnya. Pidatonya sangat singkat. Semua orang memberi tepuk tangan bergemuruh. Aku menyikut Raja. “Singkat sekali, mana petuah seorang 
kiai,” tanyaku. 

“Tenang bos. Kata buku ini Kiai Rais itu seperti “mata air ilmu”. Mengalir terus. Dalam seminggu ini pasti kita akan mendengar dia memberi petuah berkali-kali,” jawab Raja 
penuh harap. 

Raja benar. Setelah berbagai kata sambutan dan beberapa pengumuman tentang laba koperasi, kantin dan dapur umum, Kiai Rais kembali naik panggung. 

“Anak-anakku. Mulai hari ini, bulatkanlah niat di hati kalian. Niatkan menuntut ilmu hanya karena Allah, lillahi taala. Mau membulatkan niat kalian??” 

“MAUUU!” terdengar koor dari ribuan murid di depan Kiai Rais. Lalu, sejenak dia memandu kami menundukkan wajah dan memantapkan niat bersih untuk menuntut ilmu. Allahumma zidna i Iman war zuqna fahman… Tuhan 
tambahkan ilmu kami dan anugerahkanlah pemahaman… 

Kiai Rais kembali melanjutkan pidato. “Menuntut ilmu di PM bukan buat gagah-gagahan dan bukan biar bisa bahasa asing. 
Tapi menuntut ilmu karena Tuhan semata. Karena itulah kalian tidak akan kami beri ijazah, tidak akan kami beri ikan, tapi akan mendapat ilmu dan kail. Kami, para ustad, ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlaskan pula niat untuk mau dididik.” Tangan beliau bergerak-gerak di udara mengikuti tekanan suaranya. 

Aku menyikut rusuk Raja sambil berbisik, “Tidak ada ijazah? Bagaimana maksudnya?” 

Raja melirikku sekilas, “Maksudnya, PM tidak mengeluarkan selembar ijazah seperti sekolah lain. Yang ada adalah bekal ilmunya. Ijazah PM adalah ilmunya sendiri.” 

Jawaban yang tidak terlalu aku mengerti artinya sekarang.

“Beruntunglah kalian sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan kalian ke surga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata 
dan hati kalian.” 

Telunjuk tangan Kiai Rais terangkat di depan mukanya, memastikan kami memperhatikan petuah ini. 

“Selain itu, ingat juga bahwa aturan di sini punya konsekuensi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Kalau tidak bisa mengikuti aturan, mungkin kalian tidak cocok di sini. 
Malam ini akan dibacakan qanun, aturan komando. Simak baik-baik, tidak ada yang tertulis, karena itu harus kalian tulis dalam ingatan. Setelah mendengar qanun1 setiap orang tidak punya alasan tidak tahu bahwa ini aturan.” 

“Dan yang tidak kalah penting, bagi anak baru, kalian hanya punya waktu empat bulan untuk boleh berbicara bahasa Indonesia. Setelah empat bulan, semua wajib berbahasa Inggris dan Arab, 24 jam. Percaya kalian bisa kalau berusaha. Sesungguhnya bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia.” 

Aku kembali mengganggu Raja. “Bagaimana mungkin aku bisa bahasa asing dalam empat bulan?"

“Bos, kau dengar dan percayalah sama Kiai Rais. Puluhan tahun dia melakukan ini dan selalu membuktikan dia benar, selama kita mengikuti aturannya,” bisik Raja. Matanya melirik bagian keamanan yang mendelik karena kami berbicara ketika Kiai Rais berpidato.

“Apalagi semua akan berpihak kepada kita. Bahkan ikan paus di lautan saja ikut mendoakan kita,” katanya berbisik ke 
telingaku. 

“Belajar di sini tidak akan santai-santai. Jadi, niatkanlah berjalan sampai batas dan berlayar sampai pulau. Usahakan memberi percobaan yang lengkap. Ada yang tahu percobaan yang lengkap?” tanya Kiai Rais seakan bertanya kepada kami satu-satu. 

Kami semua diam dan menggeleng-gelengkan kepala. 

“Seorang wali murid pernah memberi nasehat kepada anaknya yang sekolah di PM. Anakku, kalau tidak kerasan tinggal di PM selama sebulan, cobalah tiga bulan, dan cobalah satu tahun. Kalau tidak kerasan satu tahun, cobalah tiga atau empat tahun. Kalau sampai enam tahun tidak juga kerasan dan sudah tamat, bolehlah pulang untuk berjuang di masyarakat. Ini namanya percobaan yang lengkap.” 

Kami mengangguk-angguk terkesan dengan perumpaman ini. 

“Sebelum kita tutup acara malam ini, mari kita berdoa untuk misi utama hidup kita, yaitu rahmatan lil alamin, membawa keberkatan buat dunia dan akhirat,” ucap Kiai Rais sambil memimpin sebuah doa. Amin bergema meliputi udara aula ini. 

“Dan sebelum beristirahat di kamar masing-masing dan memulai misi besar kalian besok pagi: menuntut ilmu, mari kita teguhkan niat dengan membaca Ummul Al-Qurann dan 
dilanjutkan menyanyikan bersama himne sekolah kita. Al-Fatihah… ” 

Segera setelah Al-Fatihah ditutup dengan kata amin yang khusyuk, aula diselimuti bahana sebuah himne yang mulai lamat-lamat dengan syahdu tapi kemudian tempo meningkat 
dengan ketukan yang keras dan optimis: 


Kami datang dari semua sudut bumi 
Untuk menjadi gelas yang kosong 
Yang siap diisi 
Mengharap ilmu dan hikmah 
Dengan hati yang lapang 
Dari kebijakan para guru kami yang ikhlas 
Di Pondok Madani yang damai


                             ••••• 



Walau dengan referensi not sendiri-sendiri, kami bernyanyi dengan sepenuh jiwa dan tenaga. Tepuk tangan yang panjang dan membahana membuat dadaku bergetar-getar. 



                           **MB**



"SHOPPING DAY"


Usai malam pertama Pekan Perkenalan, kami berbondong kembali ke asrama. Kak Iskandar, rais furaiah, sebutan buat ketua asrama, memberi komando untuk mengikutinya. 

“Walau kalian sebelumnya telah ditempatkan di asrama Al-Barq, tapi belum resmi diterima sebagai anggota asrama. Menyanyikan lagu himne pondok yang dipimpin langsung oleh 
Kiai Amin Rais adalah penanda bahwa kalian sekarang resmi menjadi bagian dari asrama Al-Barq. Selamat!” ujarnya kepada kami di depan pintu asrama. 

“Sebelum tidur, kami akan bacakan cjanun, aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar. Pelanggaran pasti akan diganjar sesuai kesalahannya. Dan ganjaran paling berat adalah dipulangkan dari PM selama-lamanya,” katanya tegas. Kami berpandang-pandangan melihat keseriusannya. Kesalahan apa sih membuat seorang bisa sampai dipulangkan?

Al-Barq adalah bangunan memanjang dengan koridor berbentuk huruf L. Kamar-kamar berjejer di sepanjang koridor. Bangunan sederhana ini terlihat bersih dengan ubin tua yang masih mengkilat dan lis kayu kokoh bercat hijau. Ukuran kamar kami lebih besar dari setengah lapangan bulutangkis dan aku tempati bersama 30 murid lainnnya. 

Seisi kamar sudah berkumpul duduk di tengah ruangan yang kosong. Semua tas dan koper kami singkirkan ke pinggir Aku juga mengacung. “Kak, kenapa kita tidak shalat 
berjamaah di masjid saja?” 

“Tentu kita berjamaah di masjid, tapi hanya Maghrib saja. Sisanya kita lakukan di kamar, karena ini juga bagian dari pendidikan. Setiap orang akan mendapat giliran menjadi imam. Setiap kalian harus merasakan menjadi imam yang baik. Semua orang boleh memberi masukan kalau ada yang salah,” jelas Kak Is. 

“Oya, satu hal yang penting kalian ingat terus adalah: selalu pasang kuping untuk mendengarkan jaras atau lonceng. Lonceng besar di depan aula itulah pedoman untuk semua pergantian kegiatan,” katanya lagi. 

“Ingat, kamar ini sekarang milik kalian bersama. Kamar ini tempat kalian tidur, shalat, dan belajar. Maka jagalah seperti menjaga rumah kalian sendiri. Besok kita akan pilih ketua kamar serentak dan membuat jadwal piket kebersihan,” pidato Kak Iskandar sebelum mematikan lampu listrik besar di kamar kami. 

Seketika kamar temaram. Hanya tinggal sebuah lampu tidur, sebuah lampu semprong minyak tanah yang kerlap kerlip karena apinya diayun-ayun angin malam di ujung kamar. Jendela kamar dibiarkan terbuka, memerdekakan udara menjelang musim hujan yang sejuk keluar masuk.

Sepotong rembulan pucat mengintip dari jendela. Hari ini aku segera pulas tertidur walau hanya beralas sajadah. Malam ini aku bermimpi terdampar di sebuah pulau yang permai. Perahuku bocor dan karam. Aku menemukan ratusan kotak-kotak besi, yang ketika kubuka semua isinya adalah gulungan 
demi gulungan kertas qanun. 


                             **MB**


Awal tahun ajaran, PM diserbu kesibukan luar biasa. Semua orang tampak berjalan cepat dan berseliweran mengerjakan berbagai urusan masing-masing. Buat anak baru seperti aku, 
kesibukan utamanya belanja buku dan keperluan sekolah lain. 

Dalam amplop tanda kelulusan ujian yang kami terima beberapa hari lalu ada selembar kertas yang bertuliskan keperluan yang wajib kami beli sebagai murid baru. Aku buka lipatan kertas folio ini. Ini lis belanja wajib: 


Daftar Belanja Murid Semester Pertama PM 

Buku 

1. Kamus Arab-Indonesia oleh Prof. Mahmud Yunus 
2. Kamus Inggris-Indonesia oleh Hassan Shadily-John M. Echols 
3. Al-Quran 
4. Durusul Lughoh Arabiah dan Muthala’ah 
5. Nahwu Sharaf 
6. English Lesson 
7. English Grammar 
8. Paket buku pendukung jilid 1 

Perlengkapan pakaian 

1. Sarung 
2. Ikat Pinggang 
3. Kopiah
4. Baju Pramuka 
5. Baju olahraga (kaos dan training pack) 
6. Papan nama untuk disematkan di baju. Latar belakang ungu untuk anak kelas 1. Waktu pembuatan 10 menit. 

Perlengkapan lain: 

1. Shunduk, atau lemari kecil dengan kunci 
2. Firash, kasur lipat 
3. Kalam kaligrafi 

“Kak, di mana saya bisa beli barang-barang ini?” tanyaku pada Kak Iskandar.
 
“Semua tersedia lengkap di toko koperasi di sebelah ruang pertemuan. Kalau saya jadi kamu, saya akan berangkat sekarang, karena antrinya panjang,” jawab Kak Is. 

Atang, Dulmajid, Raja, Baso, dan Said ternyata teman sekamarku. Kami sepakat untuk belanja bersama. Sekitar 200 meter dari asrama ada bangunan koperasi bertingkat dua. 

Tingkat satu khusus toko buku dan tingkat dua untuk segala kebutuhan lainnya. Di atas pintu masuknya yang terbuka lebar tertulis “Student Cooperative”, lalu diikuti tulisan Arab yang 
sangat artistik sehingga aku kesulitan membacanya. Tapi aku yakin artinya kira-kira koperasi pelajar.

3456
Tingkat satu lebih mirip gudang buku dari pada toko buku. Setiap bagian dinding tertutup gundukan buku yang hampir menyentuh langit-langit. Para petugas yang berambut cepak 
seperti bintara polisi dengan gesit membantu para murid yang membeli buku tahun ajaran ini. Di sebuah sudut, tumpukan ini menjelma seperti pilar-pilar Yunani dengan balok-baloknya berwujud buku-buku setebal 20 sentimeter. Semua buku bertuliskan huruf Arab yang tidak bisa aku baca.

“Itu dia kamus dan ensiklopedia Arab yang paling terkenal, namanya Munjid. Nanti kalau sudah 3 tahun kita baru boleh mempelajarinya,” Raja dengan bangga berbisik kepadaku. Matanya nanar menatap buku ini. Dasar si kutu buku. Kalaulah ada uang, mungkin dia langsung membeli dua Munjid sekaligus. 

Di sebelah lain ada tumpukan buku yang lebar-lebar dan tebal, uniknya semua halamannya berwarna kuning. Tampak sekilas seperti buku lama. Tapi sampulnya tampak baru sungguh indah, berwarna marun dengan kelim-kelim keemasan mengelilingi judulnya yang berbahasa Arab. Kembali tanpa diminta Raja menjelaskan panjang lebar. 

“Eh, kalian tahu nggak, inilah buku yang melihat hukum Islam dengan sangat luas. Buku Bidayatul Mujtahid yang ditulis ilmuwan terkenal Ibnu Rusyd atau Averrous, cendekiawan berasal dari Spanyol. Isinya adalah fiqh Islam dilihat dari berbagai mazhab, tanpa ada paksaan untuk ikut salah satu mazhab. Saya tahu PM membebaskan kita memilih. Sayang, baru 2 tahun lagi kita boleh mempelajarinya.” Wajah Raja tampak kecewa sangat serius. “Nah kalau yang itu aku sudah punya, kemarin aku bawa ke kelas. Kau ingat, kan? Yang aku angkat di muka kau itu,” dengan logat Medan yang kental, melihat Oxford Advanced Learners Dictionary. Padahal menurut daftar buku wajib, kamus ini baru akan kami pakai tahun depan. 

Aku segera mengikuti antrian memesan buku. Kak Herlambang, begitu tulisan di papan namanya, tersenyum kepadaku. 

“Faslun awwaU Kelas satu, kan? Dari mana asalmu?” tanyanya basa-basi. Tanpa diminta tangannya segera bekerja cepat menjangkau buku dari beberapa rak yang berjejer di belakangnya. Dalam sekejap, sebuah tumpukan buku, berisi judul-judul yang ada dalam daftar belanjaku telah siap. 

“Thayyib. Baiklah. Ini buku wajib kelas satu. Ada yang lain?” tanyanya. 

Selesai dengan buku, kami naik ke lantai dua untuk membeli kasur lipat dan seragam. 

Menurut aturan, kami punya 4 seragam. Sarung dan kopiah untuk waktu shalat, baju pramuka untuk hari pramuka, baju olahraga untuk lari pagi dan acara bebas, serta kemeja dan celana panjang rapi untuk sekolah. Kami sudah membelinya semua. 

“Semua beres, kecuali lemari kecil. Apa istilahnya tadi? Suluk?” tanya Said pada Raja, yang selalu memamerkan kehebatan kosa kata Arab dan Inggrisnya. 

“Bukan suluk, tapi shunduq, pakai shad,” jawab Raja dengan tajwid yang sangat fasih. 

“Arti harfiahnya kotak, bukan lemari. Ini tempat pakaian, buku, dan segala macam yang kita punya. Lemari kayu kecil yang lebih menyerupai kotak,” terang Raja dengan bersemangat. Dia selalu dengan senang hati berbagi informasi apa saja, melebihi dari apa yang kami tanya. Dan sepertinya dia sangat menikmati momen lebih tahu dari kita semua. Bagusnya, dia tidak pelit dengan informasi. 

“O iya, shu-nn-du-uq,” eja Said mencoba mengikuti kefasihan Raja. 

Tempat membeli lemari kecil ini di sebuah lapangan di sebelah perpustakaan. Di pinggir lapangan terpancang spanduk ber-tuliskan: Shundug lil baiFor Sale. Di tengah lapangan tampak menggunung lemari bermacam warna yang ditumpuk-tumpuk. Ukurannya mulai dari dari tinggi setengah meter sampai setinggi badan. 

Selain lemari baru, ada juga yang bekas, dan tentunya lebih murah. Tampak beberapa murid lama memikul dan mendorong lemari lamanya dan menjual kepada pengurus koperasi. Sedangkan beberapa anak lain membopong lemari ke asrama mereka. Bagaikan tumbukan butir-butir gula yang dirubung oleh semut, lemari-lemari ini datang dan pergi. 

Melihat uang di kantong terbatas, aku memutuskan untuk membeli lemari bekas saja. Untuk itu aku harus memilih baik-
baik lemari yang masih bisa dipakai. Ada kuncinya yang rusak, engsel, ada yang semuanya bagus, tapi baunya minta ampun, 
ada yang sempurna, tapi kakinya patah. Ada yang semuanya bagus, tapi warnanya kuning membakar mata. Belum ada yang pas. 

“Ya akhi, bla bla bkz,” kata seorang senior sambil mengetok-ngetok jam tangannya. Aku bengong tidak mengerti, yang aku tahu jamnya menunjukkan 16.50 siang. Melihat anak baru terbengong-bengong, dia baru ingat kalau dia masih berbicara bahasa Arab. “Ya akhi, silakan pilih sebelum kehabisan waktu. Sebentar lagi lonceng ke masjid!” teriak senior itu melihat aku masih berlama-lama memilih. 

Di antara tumpukan lemari tua berwarna hitam, aku menemukan sebuah lemari hijau tua setinggi pinggang yang kokoh dan mulus. Aku segera membayar kepada senior tadi sebanyak 15 ribu rupiah. Sementara Atang, Baso, Dulmajid, Raja dan Said juga telah menemukan pilihan mereka. 

Matahari telah tergelincir di ufuk dan gerimis merebak ketika kami beriring-iringan menggotong lemari masing-masing melintasi lapangan besar menuju asrama kami. Said 
yang tinggi besar dengan gagah dan enteng membopong lemarinya. Atang yang membeli lemari yang lebih besar tampak terengah-engah menahan beratnya, sambil 
membetulkan kacamatanya yang melorot terus. Raja, Baso dan Dulmajid, walau berbadan tidak besar memperlihatkan 
kekuatan alami mereka sebagai anak kampung yang tangguh. Walau kepayahan, mereka maju dengan pasti. Aku yang paling kurus berjalan terseok-seok paling belakang, bergulat dengan lemari yang beratnya serasa 3 kali berat badanku. 




Bersambung.... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...