Kamis, 18 Maret 2021

RONGGENG DUKUH PARUK BAGIAN 05

RONGGENG DUKUH PARUK JILID 05



Burung bluwak, kuntul dan trintil muncul kembali. Selama kemarau mereka mengungsi di tanah-tanah paya di muara Citanduy. Sebentar rumpun-rumpun bambu di Dukuh Paruk akan ramai oleh berbagai burung air. Mereka berkembang-biak di sana seperti dilakukan oleh nenek moyang mereka entah sejak berapa abad yang lalu.
 
 Dukuh Paruk akan melewati bulan-bulan yang lembab. Lumut akan tumbuh pada dinding bambu atau tiang kayu yang basah. Jamur akan tumbuh pada kayu mati atau dahan yang lapuk. Cacing menjalar di emper-emper. Orong-orong membuat galur-galur di bawah tanah, menerobos bawah dinding dan berakhir di bawah balai-balai. Kutu air dan kudis akan kembali merajalela pada kaki dan tangan
anak-anak Dukuh Paruk. Dan orang-orang di sana akan menerimanya sebagai kebiasaan alami.
 
 Selagi Dukuh Paruk berhiaskan genangan air di mana-mana, menjelang senja kelihatan seorang pemuda sedang bergegas ke sana. Dower, pemuda itu, tidak mempedulikan pematang panjang yang becek. Dia terus berjalan. Cekat-ceket bunyi telapak kakinya ketika diangkat dari lumpur. Kain sarung tidak
dipakainya melainkan disilangkannya di pundak. Bila dipakai kain sarung Dower pasti akan belepotan.
 
 Hanya satu hal yang memenuhi benak Dower. Segera sampai ke Dukuh Paruk dan mengetuk pintu rumah Kartareja. Makin dekat ke pedukuhan itu Dower makin terbayang akan sebuah tempat tidur berkelambu. Putih bersih dengan kasur dan bantal yang baru. Dan yang paling penting; seorang perawan kencur yang terbaring di dalamnya.
 
 Memenangkan sayembara bukak-klambu bukan hanya menyangkut rencana birahi. Bukan pula hanya menyangkut sukacita mewisuda seorang perawan, melainkan juga kebanggaan. Dower sungguh-sungguh berharap kelak orang akan bergunjing, “Tenyata Dower bukan pemuda sembarang. Dialah orangnya yang memenangkan sayembara bukak-klambu bagi ronggeng Srintil.”
 
 Menginjak tanah Dukuh Paruk, hati Dower makin kacau. Hari sudah benar-benar gelap. Lampu-lampu telah dinyalakan. Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya. Serangga tanah itu menggetarkan sayapnya yang
menimbulkan suara buruk dan berat. Katak dahan berteriak-teriak. Tidak seperti kodok atau katak hijau, katak dahan bersuara dengan selang waktu yang jarang.
 
 Ada sebuah gardu ronda di perempatan jalan kecil di Dukuh Paruk. Dower mendengar gumam beberapa pemuda dari dalam gardu itu. Seandainya Dower tahu. Pemuda-pemuda dalam gardu itu sama seperti dirinya, datang dari luar Dukuh Paruk dalam kaitannya dengan sayembara bukak-klambu. Namun mereka hanya ingin melihat perkembangan apakah telah ada seorang pemuda datang memenuhi permintaan Kartareja akan sebuah ringgit emas. Mereka sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Namun kesempatan mereka mungkin terbuka bila tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi syarat yang
ditentukan oleh Kartareja. Dalam hal terjadi demikian, diharapkan Kartareja akan menurunkan tarifnya.
 
 Tidak seperti malam-malam sebelumnya, rumah Kartareja sudah sepi sejak sore. Dukun ronggeng itu telah mengusir anak-anak yang datang. Tetapi orang-orang tua tidak perlu kena usir. Mereka, orang-orang Dukuh Paruk, telah maklum Kartareja sedang menghadapi hajat penting, dan tidak ingin mengganggunya.
 
 Sinar lampu mengenai tubuh Dower ketika dia mencapai halaman rumah Kartareja. Pemuda itu berhenti sejenak. Dari sana Dower dapat melihat Kartareja sedang duduk seorang diri, mengepul-ngepulkan asap rokoknya. Di samping makan sirih, kakek itu juga perokok yang kuat.
 
 Sesungguhnya Kartareja sedang gelisah. Namun perasaan itu tertutup oleh ketenangannya. Sudah Jumat malam. Seorang pemuda pun belum juga datang memenuhi harapannya, menyerahkan sekeping ringgit
emas bagi keperawanan Srintil. “Alangkah malu bila sayembara bukak-klambu yang kuselenggarakan tidak berhasil. Sia-sialah tiga ekor kambing yang telah kujual,” pikir Kartareja seorang diri. Tetapi lamunan dukun ronggeng itu terhenti ketika pintu depan berderit.
 
 “Kula nuwun,” Dower mengucapkan salam.
 
 “Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil menyipitkan mata. Sinar lampu membuat matanya silau. “Oh, mari masuk.”
 
 Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu duduk. Berderit bunyi pelupuh lincak yang
didudukinya. Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena mendengar nafas Dower yang terengah-engah.
 
 “Engkau kelihatan lelah. Dari mana engkau datang, Nak?” tanya Kartareja membuka percakapan.
 
 “Dari Pecikalan, Kek. Namaku Dower.”
 
 “Wah, Pecikalan? Alangkah jauh.”

“Yah, Kek. Itulah, jauh-jauh saya datang karena saya mendengar kabar.”
 
 “Tentang bukak-klambu, bukan?”
 
 “Benar, Kek.”
 
 “Waktunya besok malam. Engkau sudah tahu akan syarat yang kuminta, bukan?” tanya Kartareja tanpa melihat tamunya.
 
 “Saya sudah tahu. Sebuah ringgit emas,” jawab Dower datar.
 
 “Betul. Apakah sekarang kau telah membawanya?”
 
 Dower tersipu. Dia tidak berani mengangkat muka. Kartareja melepas napas panjang. Dalam hati dia mengeluh, karena belum juga muncul sebuah ringgit emas yang diinginkannya.
 
 “Wah, Kek,” kata Dower akhirnya. “Pada saya baru ada dua buah rupiah perak. Saya bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada waktu satu hari lagi. Barangkali besok bisa kuperoleh seringgit emas.”
 
 Kartareja tidak segera memberi tanggapan. Kecewa dia. Diisapnya rokoknya dalam-dalam. Asap dihembuskannya jadi desah panjang. Namun Kartareja berfikir, dua buah uang rupiah perak adalah jumlah paling banyak yang disanggupi oleh seorang calon sampai pada saat itu.
 
 “Jadi begitulah maksudmu, Nak?”
 
 “Ya, Kek.”

“Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau harus datang membawa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang panjarmu hilang. Bagaimana?”
 
 “Kalau aku gagal memperoleh sebuah ringgit emas maka uang panjarku hilang?” tanya Dower.
 
 “Ya!” Jawab Kartareja singkat. Rona kelicikan mewarnai wajahnya. Dower termangu, tampak berfikir keras.
 
 “Kalau engkau berkeberatan, maka terserah. Silakan berfikir. Atau segera pulang ke Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu pemuda lain, beberapa orang yang akan segera tiba.”
 
 Gertakan halus Kartareja mengena. Buktinya, Dower menjadi gelisah, lalu berkata,
 
 “Baik, baik, Kek. Kuterima syarat itu. Nah, inilah uang panjar itu.”
 
 Dower berdiri agar mudah merogoh saku celananya. Sesaat kemudian terdengar kemerencing. Dua buah uang rupiah perak tergeletak di atas meja, berkilat-kilat terkena sinar lampu. Kartareja meraupnya, lalu dimasukkannya ke dalam saku di ikat pinggangnya. Pada saat itu muncul Srintil membawa baki berisi teko dan dua buah cangkir. Di piring ada goreng ubi. Ketika meletakkan hidangan itu Srintil menggigit
bibir. Sekali pun dia tidak mengangkat muka ke arah Dower, membuat hati pemuda dari Pecikalan itu malah penasaran. Kartareja tersenyum melihat Dower resah dalam duduknya.
 
 Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh Paruk. Ketika Kartareja
bercakap-cakap dengan Dower aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di luar rumah. Jadi saat itu sudah kuperoleh gambaran pertama Dower-lah yang akan memenangkan malam bukak-klambu. Aku
belum mengenal perjaka Pecikalan itu. Tetapi kebencianku kepadanya langsung melangit.
 
 Segera terbayang olehku Dower memperlakukan Srintil secara tidak senonoh dalam tempat tidur berkelambu itu. Pasti, sangat pasti, Dower tidak seperti aku yang selalu bersikap hormat kepada ronggeng itu. Bertahun-tahun lamanya aku menyusun gambaran sedikit-demi sedikit, sehingga terbentuk gambaran Emak secara hampir lengkap pada diri Srintil. Maka Srintil mendapat tempat yang mulia dalam hidupku.

Sedangkan Dower tidak demikian. Dia akan merasa telah membeli Srintil. Dalam waktu satu malam Srintil akan menjadi barang yang sudah terbeli. Dower akan memperlakukannya sebagaimana dia suka. Bajingan tengik!
 
 Dan aku meludah sengit.
 
 Di langit tak sebuah bintang pun kelihatan. Secercah warna terang tampak di langit sebelah barat. Pastilah bulan berada di balik sana. Keremangan yang dibuatnya mampu memperlihatkan bayangan seekor kalong yang terbang perlahan ke selatan. Kirapnya malas, namun pasti. Lepas dari bayangan bulan, kalong itu lenyap.
 
 Perhatianku kembali kepada Dower ketika pintu depan rumah Kartareja berderit. Perjaka Pecikalan itu keluar. Kukira dia akan segera berusaha menepati janji yang diucapkannya di depan dukun ronggeng itu, mencari sekeping ringgit emas sampai dapat. Atau dia akan kehilangan dua buah rupiah perak bila
usahanya gagal.
 
 Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba aku memutuskan keluar dari tempat persembunyian lalu dengan diam-diam mengikuti Dower dari belakang. Sambil berjalan berjingkat agar tak diketahui oleh Dower, aku sudah berkhayal tentang perkelahian. Bagaimana seandainya Dower langsung kutinju tengkuknya. Atau kutendang pinggangnya sekuat tenaga. Pokoknya aku ingin melumat perjaka Pecikalan yang akan
menggagahi Srintil itu.
 
 Tak kusangka keinginanku menyakiti Dower dapat terlaksana. Sampai dekat gardu Dower berhenti, kemudian sumpah serapah keluar dari mulutnya. Aku tahu kemudian tiga orang pemuda yang tadi berkumpul di gardu ronda melempar Dower dengan gumpalan lumpur.
 
 “Bajingan tengik! Siapa berani melempari aku?” seru Dower marah.
 
 Tak ada jawaban. Bahkan lemparan-lemparan berikutnya menyusul, tepat mengenai punggung Dower. Baju dan kainnya belepotan. Kemarahan pemuda Pecikalan itu makin menjadi-jadi. Dia berbalik dan bertolak pinggang. Kini Dower menghadap ke arahku kira-kira sepuluh langkah di depan.
 
 “He! Kamu asu buntung. Kalau ingin berkelahi, ayo keluar! Ayo hadapi aku; Dower dari Pecikalan!”

Masih belum ada jawaban. Aku bergerak ke samping, menghindar dari pandangan Dower. Rasa ingin ikut menyakiti Dower muncul di hatiku. Maka aku menekuk kedua kaki demi mencari sesuatu untuk kulemparkan kepadanya. Tanganku meraba sesuatu yang mengonggok. Tahi sapi. Kotoran itu kuraup
dengan tangan kanan, langsung kulemparkan kepada Dower. Kudengar perjaka Pecikalan itu mengutuk habis-habisan. Dia hendak melangkah ke depan. Tetapi batal karena dari arah belakang meluncur gumpalan-gumpalan lumpur, makin lama makin seru. Akhirnya Dower tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan kedua tangan agar matanya terhindar dari hujan lumpur.
 
 Tidak tahan menghadapi serangan gelap itu akhirnya Dower lari. Bukan main sakit hatinya ketika dia mendengar beberapa pemuda terbahak-bahak. Dower berbelok ingin mengejar para penyergapnya. Tetapi dia belum memahami lorong-lorong di Dukuh Paruk. Dower kehilangan jejak. Hanya terdorong
ingin membalas dendam maka Dower terus berlari dalam gelap. Akhirnya, byur! Dower terjerumus masuk ke dalam sebuah kubangan yang dalam. Sekali lagi terdengar suara gelak tawa tiga orang pemuda. Sebaliknya Dower berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
 
 Tak ada yang peduli pada Dower yang menggapai-gapaikan tangannya dari dalam kubangan itu. Ketika akhirnya ia berhasil naik, seluruh tubuhnya basah kuyup dan kotor. Perjaka Pecikalan masih bertambah sakit hati karena dia mendengar para penyerang menertawakannya.
 
 Suara yang menghinakannya itu makin lama terdengar makin jauh. Dower tidak pernah tahu aku masih berada di dekatnya. Maka aku masih sempat mendengar Dower mengeluh. “Bajingan! Asu buntung!”
 
 Hari Sabtu tiba. Hari yang sangat mengesankan karena batinku ternista luar biasa. Kukira aku takkan pernah berhasil melukiskan pengalaman batinku secara memadai. Hal ini mungkin karena aku tak
mempunyai cukup kefasihan. Atau karena orang takkan bisa percaya akan penderitaan batin seorang anak Dukuh Paruk yang bernama Rasus, yang dalam hidupnya mempunyai emak hanya dalam angan-angan. Srintil, yang entah bagaimana dalam banyak hal kuanggap sebagai jelmaan Emak, sore nanti akan dirusak. Kukatakan begitu meski sesungguhnya tidak demikian. Bagiku, setelah Srintil dijual dengan harga sebuah ringgit emas, dia bukan Srintil lagi, melainkan seorang ronggeng Dukuh Paruk. Tidak lebih. Hanya seorang ronggeng Dukuh Paruk takkan dapat kuandaikan sebagai diri Emak.
 
 Serasa aku akan kehilangan emak buat kali kedua. Andaikan ada orang percaya akan kegetiran yang melanda hatiku. Atau andaikan ada orang yang mau kuajak berbicara tentang masalah ini, boleh jadi kesedihanku bisa terbagi. Tetapi hanya dirikulah yang tahu dan merasakan segalanya. Bahkan aku begitu
yakin Srintil tidak tahu persis kemalangan apa yang kurasakan bila dia sudah terbeli dengan sebuah ringgit emas. Seperti pernah dikatakannya kepadaku, Srintil lahir di Dukuh Paruk untuk menjadi ronggeng. Maka dengan rela hati dia akan menjalani malam bukak-klambu, apa pula dengan kemungkinan baginya memiliki ringgit emas.

Katakanlah pagi itu seperti biasa aku keluar melepaskan kambing-kambing. Tetapi sesungguhnya binatang-binatang itu telah lama kutelantarkan. Pagi itu pun aku tak peduli kambing-kambingku memasuki ladang orang. Aku sendiri duduk di pinggir kampung memandang amparan sawah yang penuh air.
 
 Di atasku, pada pucuk pohon sengon, hinggap tiga ekor burung keket. Satu jantan, satu betina dan anak mereka yang selalu mengibas-ngibaskan sayap minta makan. Salah seekor induk burung itu segera menukik ke bawah bila melihat capung atau belalang terbang, kemudian hinggap lagi di tempat semula.
Serangga tangkapan dihancurkannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak mereka. Citra sebuah keluarga yang utuh.
 
 Kukira Emak pun akan berlaku seperti induk burung keket itu. Dia akan melindungiku, mencarikan makan selagi aku masih kanak-kanak. Bersama Ayah, Emak akan mengajakku bercengkerama seperti keluarga burung keket itu. Nah, hal itu hanya terjadi dalam angan-angan. Seperti belasan anak Dukuh Paruk lainnya, aku telah yatim-piatu sejak anak-anak. Keparat, malapetaka tempe bongkrek itu.
 
 Kukira kicau burung keket serta bunyi air yang tumpah lewat punggung pematang akan terus
membawaku melamun bila Warta tidak datang mengusik.
 
 “Nah. Kulihat kau lama sekali termenung di situ. Nenekmu tidak menanak gaplek pagi ini?” ujar Warta. 

“Misalnya demikian apa salahnya kita mencari talas dan kita bakar di sini?”
 
 “Aku tak ingin makan,” jawabku tak peduli.
 
 “Jadi?”
 
 “Pergilah. Jangan ganggu aku.”
 
 "Baru kali ini kudengar engkau mengusirku, Rasus. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kaupikirkan.”

“Itu urusanku. Misalkan kuberi tahu, kau takkan dapat menolongku. Tapi aku takkan mengatakan apa-apa kepadamu. Jadi, baik urusi kambingmu.”
 
 “Wah, kalau begitu aku bisa menebak. Rasus, kau tak perlu mungkir. Kau sedang termakan pekasih yang dipasang oleh Nyai Kartareja pada diri Srintil, bukan? Hayo, baik mengaku! Kepadaku kau akan sia-sia menyimpan rahasia.”
 
 Aku tertawa meskipun terdengar tawar. Tengik betul, Warta menebakku dengan jitu. Melihat ulahku Warta tahu aku telah mengaku. Tawanya terdengar keras sekali.
 
 “Oh kasihan kawanku ini. Kau senang akan Srintil, tetapi nanti malam ronggeng itu dikangkangi orang. Wah...”
 
 “Bangsat engkau, Warta.”
 
 “Bagaimana? Bukankah aku berkata tentang kebenaran?”
 
 “Ya. Tetapi kau jangan menambah sakit hatiku.”
 
 “Rasus, kau boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai sebuah ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.”
 
 “Ya, kawan. Namun sesungguhnya kau dapat memberi sedikit hiburan padaku. Bertembanglah. Seperti biasa.”
 
 Tidak sulit membuat Warta mau bertembang bila orang mau menyediakan setumpuk kata pujian baginya. Di antara sesama anak Dukuh Paruk, Warta dikenal mempunyai suara paling bagus. Tembang kegemarannya juga menjadi kegemaran setiap anak di pedukuhan itu, sebuah lagu duka bagi para yatim-piatu. Orang takkan menemukan siapa penggubah lagu itu yang mampu mewakili nestapa anak-anak yang di dunia tanpa ayah dan emak.

Lagu yang menjadi terkenal di Dukuh Paruk semenjak belasan anak kehilangan kedua orang tua akibat racun tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu.
 
 Bedug tiga datan arsa guling
 Padang bulan kekencar ing latar
 Thenguk-thenguk lungguh dhewe
 Angine ngidid mangidul
 Saya nggreges rasaning ati
 Rumasa yen wus lola
 Tanpa bapa biyung
 Tanpa sanak tanpa kadang
 Urip sengsara tansah nandhang prihatin
 Duh nyawa gondelana...
 
 Pukul tiga dinihari, aku belum mau terlena. Bulan menabur cahaya di halaman, selagi aku termangu seorang diri. Angin yang berembus ke selatan membuat hati semakin merana. Beginilah awak yang telah sebatang kara. Tiada ayah-bunda, tiada sanak-saudara. Hidupku yang papa selalu dirundung derita. Oh,
nyawa bertahanlah kau di badan...
 
 Warta sudah beratus kali menembangkan lagu itu. Dia tidak lagi tertarik akan makna liriknya. Hanya irama lagu itu yang kiranya akan tinggal abadi di hati Warta dan anak-anak lain di Dukuh Paruk. Selesai menembangkan lagu itu Warta menoleh kepadaku. Dia melihat aku menggigit bibir, dan mungkin mataku
berkaca-kaca.
 
 “Lho?” ujar Warta tak mengerti. “Apa pula arti semua ini?”
 
 “Tidak apa-apa, Warta. Percayalah, sahabatku, tak ada yang salah pada diriku. Aku terharu. Suaramu memang bisa membuat siapa pun merasa begitu terharu.”
 
 “Hanya itu? Bagaimana dengan Srintil yang akan diperkosa nanti malam?”





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...