Jantera Bianglala
Episode 1
Ketika Dukuh Paruk menjadi karang abang lemah ireng pada awal tahun 1966 hampir
semua dari kedua puluh tiga rumah di sana menjadi abu. Waktu itu banyak orang mengira kiamat bagi pedukuhan kecil itu telah tiba. Siapa yang masih ingin bertahan hidup harus meninggalkan Dukuh Paruk. Karena hampir segala harta-benda, padi, dan gaplek musnah terbakar, bahkan juga kambing dan ayam. Lalu siapa yang tetap tinggal di atas tumpukan abu dan arang itu boleh memilih cara kematian masing-masing; melalui busung-lapar atau melalui keracunan ubi gadung atau singkong beracun.
Tetapi Dukuh Paruk sampai kapan pun tetap Dukuh Paruk. Dia sudah cukup pengalaman dengan kagetiran kehidupan, dengan kondisi-kondisi hidup yang paling bersahaja. Dan dia tidak mengeluh. Dukuh Paruk hidup dalam kesadarannya sendiri yang amat mengagumkan. Dia sudah diuji dengan sekian kali mala petaka tempe bongkrek, dengan kemiskinan langgeng dan dengan kebodohan sepanjang masa.
Memang. Mala petaka kobaran api yang hampir memusnahkan Dukuh Paruk secara
keseluruhan dalam geger politik 1965 itu adalah pengalaman yang paling dahsyat
tergores dalam lintasan hidup Dukuh Paruk. Hari-hari pertama sesudah kebakaran besar itu adalah hari-hari kebisuan. Setiap keluarga berkumpul, jongkok di bekas rumah masing-masing hampir tanpa suara kecuali desah panjang dan kadang tangis kaum perempuan. Mereka tanpa makanan dan tempat tinggal. Malam hari mereka membuat sudhung, semacam sarang berangka batang singkong yang ditutupi dengan rumput dan kelaras pisang. Dan kematian akibat lapar segera akan menjadi kenyataan karena tak seorang pun manusia luar Dukuh Paruk merasa perlu memberi bantuan kepada puak yang sedang diamuk mala petaka hebat itu. Hanya karena Dukuh Paruk masih menyimpan singkong yang tumbuh di sekitarnya maka orang-orang di sana berhasil menyambung hidup.
Kemudian Dukuh Paruk memperoleh napas pertama ketika ternyata Sakarya, kamitua
pedukuhan itu, hanya dua minggu ditahan. Demikian juga Kartareja dan istrinya serta para penabuh calung seperti Sakum dan dua orang lainnya. Mereka kemudian hanya diwajibkan melapor setiap hari ke markas tentara di Dawuan. Tetapi Srintil belum kembali. Ya. Tetapi Srintil belum kembali, itulah aspirasi semua warga Dukuh Paruk yang tak pernah berani terucapkan. Srintil belum kembali ke Dukuh Paruk dan entah di mana dia sekarang dan bagaimana pula keadaannya.
Mengapa Srintil belum juga kembali adalah bagian dari kegagapan Dukuh Paruk dalam
hal membaca pesan sejarahnya; sejarah yang telah membawa obor raksasa dan membuat rumah-rumah di sana menjadi abu. Bahkan bukan hanya rumah-rumah yang musnah, tetapi juga jiwa Dukuh Paruk yang hancur karena kelimbungan ketika mereka harus mempertanyakan kembali perikeberadaan mereka sendiri dan harus bagaimanakah mereka sekarang. Sebuah teka-teki yang amat sulit menindih Dukuh Paruk yang bebal. Lihatlah alis-alis mereka yang selalu berkerenyit, wajah-wajah runduk dan penuh ketakutan serta gugup ketika menghadapi tatapan mata orang luar. Dan pasrah. Itulah daya terakhir Dukuh Paruk. Pasrah dalam diam paripurna sehingga Dukuh Paruk hampir tak mengeluarkan kata-kata, bahkan ketika mereka secara gotong-royong bergiliran membuat gubuk-gubuk baru. Bambu dipotong-potong dan daun kelapa dianyam sebagai atap dan dinding. Maka pada bulan kedua gubuk-gubuk
kecil sudah berdiri di atas tanah yang masih menyisakan abu dan arang. Dukuh Paruk
kembali mempunyai tempat berlindung dari curah hujan dan terik matahari.
Kemudian dari manakah Dukuh Paruk hendak memulai denyut kehidupannya ketika kebisuan masih mencekam? Dari tawa anak-anak, dari suara lesung ketika gaplek ditumbuk atau dari asap yang mengepul di dapur? Tidak. Denyut Dukuh Paruk dimulai dari percik suara polong orok-orok yang pecah menyebar bijinya ketika panas matahari menjerang, dari derit batang bambu yang bergesekan ketika angin lembut bertiup. Dan dari sepasang burung brondol yang sibuk mengangkut rumput-rumput kering dari permukaan tanah ke balik kelebatan tandan pinang di atas sana. Atau dari pancuran di bawah pohon bungur itu. Pancuran air yang tidak ingin tahu akan segala macam bencana yang telah sekian kali menimpa orang-orang yang biasa bersibak dengan kesejukannya. Pancuran itu terus mengucur, lengkung seperti kristal hidup, lalu pecah di atas batu pekat berhias lumut di sisi-sisinya. Ribuan tetes air memercik ke segala arah. Mereka menangkap sinar matahari yang menerobos dedaunan, membiaskannya dengan sempurna dalam bentuk kabut bianglala.
Bagaimanapun juga Dukuh Paruk ternyata mampu menarik napas pertama kehidupannya. Perihal kemampuan mempertahankan hidup Dukuh Paruk hanya bisa disamakan dengan lumut kerak di atas batu cadas. Lumut kerak yang diam dan seakan mati di musim kemarau. Kering dan mengelupas. Namun dalam kematiannya lumut kerak menyimpan daya kehidupan. Sporanya terbungkus dalam kista yang segera mampu memutar daur kehidupannya ketika tetes air pertama atau bahkan sekadar kelembaban udara menyentuhnya. Dukuh Paruk adalah lumut kerak yang rupanya diciptakan untuk menunaikan tugas hidup dalam kondisi yang paling minimal. Dukuh Paruk masih ada meski tanpa senyum apalagi tawa. Dia masih ada meski dia hampir tidak tahu lagi makna keberadaannya.
Ada sebuah rumah yang tersisa ketika Dukuh Paruk terbakar. Rumah itu kecil dan hanya di waktu pagi terkena sinar matahari karena terkurung rumpun bambu. Penghuninya seorang nenek bungkuk dan semua orang Dukuh Paruk boleh jadi sudah lupa siapa namanya yang asli atau nama suaminya yang sudah lama mati. Nenek itu selalu dipanggil dengan nama cucunya di belakang: Nenek Rasus.
Sudah beberapa hari Nenek Rasus tidak kuasa lagi turun dari pembaringan. Dan siapa pun merasa bahwa nenek yang sudah amat renta itu hampir ajal. Ada yang mengatakan apa yang sedang terjadi pada Nenek Rasus adalah perkara alami; karena usia yang lanjut maka nenek itu sedang melangkah mendekati hari-hari akhirnya. Tetapi ada juga yang mengatakan, seharusnya Nenek Rasus masih kuasa berjalan terbungkuk-bungkuk minta makan kepada sanak-saudara sesama warga Dukuh Paruk. Yang menyebabkannya ambruk adalah kenyataan bahwa satu-satunya cucu tidak kunjung muncul, bahkan ketika hari-hari semakin genting.
Selagi masih mampu mengeluarkan suara maka Rasus-lah yang selalu dipanggil-panggil.
Dalam gerak mata yang samar Nenek Rasus mengharap seseorang mau memanggil cucunya pulang. Semua orang menangkap pesan itu, tetapi tak seorang pun merasa sanggup melaksanakannya. Tidak juga Sakarya, kamitua Dukuh Paruk. Menghubungi
seorang tentara demi nenek yang sedang di tepi ajal sekalipun tak mungkin dilakukan oleh orang Dukuh Paruk. Suasana yang tidak memungkinkannya. Suasana hanya memberikan kelonggaran sedikit bagi Dukuh Paruk, yakni sekadar untuk bernapas
dalam diam atau berjalan sambil menundukkan kepala. Dukuh Paruk setelah menyala seperti obor besar adalah Dukuh Paruk yang dipaksa harus tahu diri dalam segala hal. Pasrah dan tak usah banyak cingcong. Apabila ada seorang warganya yang mau mati, maka matilah, lalu kuburkan dan habis perkara.
Episode 2
Hanya Nenek Rasus sendiri yang terus berusaha menghubungi cucunya. Mungkin
melalui denyut-denyut terakhir nadinya nenek renta itu memanggil cucunya pulang. Atau ketika bibir Nenek Rasus kelihatan bergerak-gerak, maka sebenarnya dia sedang memohon kepada kekuatan adikodrati agar pesannya disampaikan kepada cucunya yang kini berada entah di mana.
Ketika semua orang merasakan guncangan hebat pada hampir seluruh tatanan serta
nilai-nilai kehidupan. Ketika kegelisahan serta ketidakpastian demikian mencekam. Dan ketika ikatan kebersamaan hidup berada pada puncak taruhan yang amat menakutkan. Maka adalah fitrah manusia untuk mendapatkan tempat yang teduh, tempat jiwa dapat memperoleh kembah ketenangannya. Dan tak usah dipertanyakan lagi mengapa pada saat seperti itu orang ingin segera memperoleh kepastian bahwa lembaga tempat dia menyerahkan kesetiaan dasarnya tidak rusak. Lembaga ini adalah ibu yang selalu bersedia memberi ketenangan jiwa, dan itu bisa berupa rumpun-rumpun bambu yang menjadi saksi kelahirannya, bisa berupa pancuran air yang
mengucur abadi atau bisa berupa haribaan seorang nenek yang sudah apek. Atau gabungan kesemuanya yang secara bersama-sama telah menyusui seorang anak
manusia sejak lahir sampai dia mempunyai kesadaran tentang makna keberadaannya.
Merekalah yang paling berhak menerima penyerahan kesetiaan dasar seorang manusia
warga kehidupan.
Bersama dengan kesatuannya, Rasus sedang bertugas di sebuah wilayah di bagian tenggara Jawa Tengah, hampir dua ratus kilometer jauhnya dari Dukuh Paruk. Kadang Rasus merasa dirinya adalah seorang cucu durhaka karena sudah empat tahun dia tidak menjenguk Dukuh Paruk. Sudah sekian lama dia menitipkan seorang nenek pikun
kepada rasa kebersamaan puaknya. Namun rasa bersalah itu selalu pupus sendiri, entah karena kesibukannya sebagai tentara atau karena Rasus sudah bertekad membiarkan Dukuh Paruk hidup seperti apa adanya. Dukuh Paruk dengan sumpah-serapahnya, dengan irama calungnya, dan dengan seorang ronggeng cantik bernama Srintil. Rasus tidak hendak menyentuh kemandirian tanah airnya yang kini sudah jauh dan terpencil.
Tetapi geger tahun 1965 serta-merta mengubah sikap Rasus terhadap Dukuh Paruk.
Dalam rongga matanya mulai terbayang jelas sebuah rumah kecil yang hampir tertutup oleh rumpun bambu. Telinganya mulai mendengar suara anak-anak yang sedang ramai bermain layang-layang yang terbuat dari daun gadung kering. Atau dengung kumbang tahi yang menyeberang pekarangan kosong ketika pagi masih sangat berembun. Makin hari terasa suasana Dukuh Paruk makin memenuhi kalbunya. Lambaian Dukuh Paruk yang tua menyentak-nyentak hatinya. Dan sentakan itu jadi terasa semakin kuat manakala Rasus ingat bahwa menurut selentingan yang sampai kepadanya Dukuh Paruk terbawa-bawa dalam rapat propaganda. Rasus sungguh berharap dukuhnya tidak mengalami sesuatu yang genting. Namun entah mengapa Rasus tidak berhasil menenangkan dirinya sendiri. Entah mengapa pula sosok neneknya yang renta dengan keriput wajahnya terlalu sering muncul dalam ingatan Rasus.
Andaikan Rasus bukan seorang tentara yang kini harus berada dalam sikap siaga penuh
karena negara dinyatakan dalam keadaan bahaya, pastilah dia akan segera mengajukan permohonan cuti. Namun keadaan memaksa hak cuti bagi setiap prajurit dihapuskan entah sampai kapan. Maka untuk mengetahui keadaan tanah kelahirannya Rasus hanya bisa bertanya melalui surat. Sersan, dulu Kopral, Pujo yang pernah sekian lama menjadi sahabat satu kesatuan, kini menjadi komandan markas perwira urusan teritorial di kecamatan Dawuan. Kepadanyalah Rasus menulis surat, minta tolong agar dia diberi tahu perikeadaan Dukuh Paruk.
Balasan dari Sersan Pujo demikian cepat dan singkat. Balasan melalui telegram memberi tahu Rasus bahwa neneknya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tak ada kata permintaan agar Rasus segera pulang. Ya. Rasus mengerti pengirim telegram itu adalah Sersan Pujo. Dia tidak berhak meminta apalagi memerintahkan apa pun terhadap prajurit yang bukan bawahannya. Rasus menerima dengan segala kepedihan, bahwa pada suatu saat dan keadaan tertentu maka ajal seorang nenek harus dianggap kecil; gaya telegram Sersan Pujo itulah buktinya.
Namun Rasus berharap betapapun rawan situasi keamanan saat itu masih ada tersisa
hak kemanusiaan yang bersifat pribadi. Maka dengan membawa telegram dari Sersan Pujo, Rasus menghadap komandan kesatuannya. Dia minta izin hendak pergi meninggalkan tugas guna melepas kepergian nenek kandungnya. Izin diberikan, namun Rasus harus berhadapan dengan wajah gelap komandannya.
Dengan kendaraan pertama yang bisa dihentikannya Rasus berangkat ke Dukuh Paruk. Pukul empat sore Rasus tiba di Dawuan. Turun dari kendaraan Rasus dijemput oleh
seorang anak buah Sersan Pujo. Rasus diminta singgah dulu di markas sebelum meneruskan perjalanan ke Dukuh Paruk.
"Aku tahu, kamu ingin secepatnya melihat Nenek. Tetapi sebelum itu berilah aku
kesempatan menunaikan tugasku sendiri yang menyangkut dirimu," kata Sersan Pujo kepada Rasus. Gaya Sersan Pujo sangat resmi hampir kaku.
"Tentu saja, Sersan. Silakan."
"Pertama, kuminta kamu menanggalkan senjatamu, juga pisau di pinggangmu itu."
Rasus memenuhi permintaan Sersan Pujo tanpa kata-kata apa pun. Kemudian keduanya duduk dalam suasana yang lebih kendur.
"Nenekmu masih hidup hari ini. Kepastian ini kuperoleh dari orang-orang Dukuh Paruk yang apel kemari tadi pagi."
"Ah, syukur. Yang sangat kukhawatirkan ialah bila sampai aku terlambat. Maka terima kasih, Sersan. Telegram yang Sersan kirimkan membuat aku sempat menunggu saat-saat terakhir hidup Nenek."
"Ya. Dan satu pesanku. Kita sama-sama prajurit, maka kita dituntut memiliki ketabahan. Ketabahan dalam menghadapi apa pun. Kuulangi, ketabahan dalam menghadapi apa pun!"
Rasus merasa ada pesan tertentu dalam kata-kata Sersan Pujo. Dan barusan dia mendengar ada orang Dukuh Paruk yang dikenai wajib apel. Rasus ingin mendapat kejelasan tetapi Sersan Pujo tidak memberinya kesempatan.
"Nah, silakan kamu meneruskan perjalanan ke Dukuh Paruk. Jangan lupa, kamu seorang prajurit."
"Baik, Sersan."
Dukuh Paruk sedang menanti seorang anaknya pulang. Penantian yang harus diberi makna apa karena Dukuh Paruk sesudah menyala menjadi obor besar adalah Dukuh Paruk yang merenung dan amat gering. Segala sendi kehidupan yang dari generasi ke generasi telah membentuk pribadi Dukuh Paruk menjadi demikian goyah hampir runtuh. Dukuh Paruk telah kehilangan rasa percaya diri amat sangat sehingga dia tidak tahu pasti dengan cara atau sikap bagaimanakah dia menyambut kedatangan sang anak bila suatu ketika dia muncul.
Episode 3
Dan sang anak sedang berjalan dalam langkah-langkah panjang lurus menuju kerindangan rumpun bambu di mana dia dilahirkan menjadi warga kehidupan. Makin mendekati gerumbul Dukuh Paruk langkah Rasus makin cepat. Lalu tiba-tiba dia terjebak dalam kelengangan yang aneh. Rasus berhenti dan menatap ke depan. Di manakah rumah Sakum yang biasa tampak dari ujung pematang? Juga di manakah kilau
atap seng rumah Kartareja?
Rasus melangkah lagi. Namun kelengangan bahkan makin mencekam. Tidak ada anak-
anak berkeliaran di halaman dan tidak terdengar suara mereka. Oh! Dan Rasus berdiri
beku, dahinya berkerut-kerut. Dia berusaha keras membaca dan meyakini kenyataan yang tergelar di hadapannya. Rumah-rumah puaknya telah berubah menjadi gubuk-gubuk kecil tak ubahnya seperti dangau sawah. Oh, Dukuh Paruk, mengapa engkau rupanya? Mala petaka apa pula yang telah menimpamu selama aku di rantau?
Pada saat pundak Rasus jatuh, sebuah jawaban yang pasti bisa menerangkan segalanya. Intuisinya bekerja demikian cepat menghubung-hubungkan faktor-faktor kekinian dengan segala cirinya, dengan segala hukum dialektikanya. Apabila Rasus teringat pada masa lalu Dukuh Paruk terbawa arus keberingasan propaganda politik
maka segala sesuatu tak usah dipertanyakan lagi. Ya. Kemudian Rasus merasakan sesuatu yang amat pahit masuk lalu mengental di dasar hatinya.
Kini Rasus melangkah lagi. Mengambang, seakan telapak kakinya tidak menginjak tanah. Dua orang anak kecil yang tak sengaja melihat kedatangannya lari terbirit, lalu menerobos pintu gubuk dan bersembunyi dengan wajah pucat. Orang-orang perempuan mengintip dari celah dinding anyaman daun kelapa. Mereka tidak berani menampakkan diri bahkan sesudah mereka yakin tentara yang datang adalah Rasus, saudara mereka sendiri.
Ketika Dukuh Paruk merasa sedang berada dalam puncak kehancuran harga diri, ketika
sejarah terasa telah menyingkirkannya ke wilayah aib kehidupan, maka sesungguhnya
Dukuh Paruk sangat berharap pertolongan akan datang dari putra terbaiknya. Dukuh Paruk ingin menyembunyikan wajah ke balik punggung Rasus yang sudah jadi tentara.
Tetapi tak seorang pun di sana yakin akan sikap Rasus; simpati terhadap Dukuh Paruk
yang suatu saat menyala menjadi obor raksasa atau malah sebaliknya. Dalam keluguannya Dukuh Paruk telah membaca sejarah bahwa hubungan darah bisa bungkam dan pekak ketika terjadi penjungkirbalikan tata nilai yang menggegerkan kehidupan.
Lihatlah kaum lelaki dan perempuan yang sedang berkumpul di rumah Nenek Rasus berdiri membisu ketika meraka melihat putra terbaik itu datang. Ketakutan masih menjadi warna yang paling menyolok pada wajah-wajah mereka. Rasus sudah melihat sisa abu dan arang, lalu rumah-rumah liliput dan anak-anak yang lari ketakutan.
Semuanya adalah garis besar jawaban tentang apa yang baru menimpa Dukuh Paruk. Dan jawaban yang rinci, mendasar, dan lengkap terbaca dengan jelas pada penampilan orang-orang yang sedang berkumpul di sana. Mereka adalah prasasti hidup, monumen tanpa kata, yang mencatat secara amat teliti tentang perilaku, sejarah yang telah memperlakukan Dukuh Paruk semaunya. Rasus seakan melihat kobaran api yang telah membakar puaknya pada alis Sakum. Dia seakan melihat ketakutan dan kepanikan luar biasa pada keriput wajah Sakarya. Dan Rasus seakan mendengar jerit yang melengking ketika dia melihat air mata kaum perempuan mulai berjatuhan.
Satu langkah lebih jauh Rasus sudah larut dalam kehancuran puaknya. Dia tak kuasa lagi menatap wajah Sakarya, Kartareja atau lainnya. Dia tak kuasa lagi menyaksikan air mata perempuan yang turun membasahi pipi-pipi kurus dan pucat. Rasus berjalan goyang. Sikap tabah yang dipesankan oleh Sersan Pujo berhasil menjaga tubuh Rasus tidak roboh. Tetapi Rasus tak berhasil menahan air mata ketika dia sudah berdiri di samping tubuh neneknya.
"Nek, aku datang. Aku Rasus, Nek."
Dan tubuh lusuh di bawah kain gombal itu tak kuasa memberi tanggapan apa pun.
"Laa ilaaha illallaah."
Kemudian Rasus duduk di tepi balai-balai. Masih terlihat samar denyut urat darah di sisi leher neneknya. Masih ada gerakan halus di dada. Namun Rasus merasa neneknya sudah tak mampu lagi berkomunikasi dengan siapa pun. Hayat masih ada tetapi roh, siapa tahu, telah pergi lebih dahulu.
Diperlukan waktu lima atau enam menit bagi Rasus buat menyadari di mana dan pada keadaan bagaimana dirinya kini berada. Kemudian desah yang berat menandakan Rasus telah berhasil mengalahkan segala gejolak rasa. Setelah mengusap wajah neneknya dengan lembut, Rasus berdiri lalu membalikkan badan. Kini dia kembali menghadapi wajah Dukuh Paruk; wajah penuh pengakuan bersalah, wajah penuh
permohonan maaf kepada kehidupan. Namun Dukuh Paruk harus mengakui kenyataan, kehidupan hanya mau memberikan maaf melalui sang waktu yang sering suka mengulur tangan yang begitu panjang. Maka Dukuh Paruk amat sulit meyakini apakah kehidupan mau memaafkannya. Apabila maaf itu tidak diperoleh, Dukuh Paruk harus mau hancur dikunyah sejarah. Dan kehancuran itulah sketsa yang terlukis pada wajah orang-
orangnya.
Rasus bukan hanya merekam kehancuran itu. Dia bahkan merasa bersama-sama puaknya, hancur. Malah Rasus merasa berdiri pada tempat yang lebih sulit; dia anak Dukuh Paruk tetapi dituntut memiliki wawasan yang jauh lebih luas daripada sekadar kepentingan dan kehidupan puaknya. Masih belum sepatah kata pun terucap, Rasus bergerak menyalami Sakarya, Kartareja, dan orang-orang Dukuh Paruk lainnya. Kata-kata yang kemudian keluar dari mulutnya terdengar berat namun tenang.
"Sedulur-sedulurku semua, apakah kalian selamat?"
Sepi. Tak terdengar suara yang segera menjawab. Orang-orang hanya bisa menundukkan kepala dan menelan ludah. Orang-orang sedang menikmati sentuhan
lembut yang mengelus jiwa. Sedulur. Rasus tetap menyebut mereka saudara. Sebutan yang begitu lumrah namun menjadi sangat istimewa bagi sekelompok manusia sisa kobaran api di Dukuh Paruk. Sakarya terbatuk. Bibirnya bergerak-gerak. Namun kata-katanya tak kunjung keluar.
"Ya, Cucuku Wong Bagus," ucap Sakarya akhirnya. "Kami semua, saudara-saudara
sampean, bagaimanapun juga masih mendapat keselamatan."
"Syukurlah, Kek."
"Dan kami sangat senang, akhirnya sampean pulang. Lha, nenek sampean itu. Untung
sampean belum terlambat."
"Ya, Kek."
"Sudah belasan hari kami menungguinya, Ah, kukira nenek sampean memang sudah tua, sangat tua. Lalu, bukankah sampean hendak menunggui Nenek hingga selesai?"
"Ya. Ah, tetapi entahlah, Kek. Aku hanya diberi izin tiga hari."
Episode 4
"Jadi kamu hanya mau tinggal tiga hari di sini?" tanya Sakum. Dia berdiri dan matanya yang keropos berkedip-kedip.
"Hai, Sakum! Tidak pantas ber-kamu kepada seorang tentara."
"Ah, ya. Aku lupa. Seharusnya aku menyebut Pak Tentara. Rasus tentu gagah sekarang.
Sampean sudah punya istri, Pak Tentara?"
"Belum, Kang."
"Kebetulan. Srintil juga masih sendiri. Eh, tetapi entah di mana dia sekarang. Sampean tahu di manakah dia sekarang?"
Wajah Rasus menegang dan dia tidak berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Rasus sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan berbicara siapa saja orang Dukuh Paruk yang pernah ditahan. Sebab segalanya tak terelakkan dan sudah terjadi. Lagi pula pada mulanya Rasus menyangka semua warga puaknya yang ditahan telah kembali ke Dukuh Paruk. Kini Rasus tahu Srintil yang demikian lama punya arti amat penting bagi dirinya justru menjadi satu-satunya orang Dukuh Paruk yang masih ditahan entah di mana.
"Aku, aku tidak tahu, Kang. Aku tidak tahu di mana sekarang Srintil ditahan," jawab Rasus sambil menggelengkan kepala.
"Ah, kasihan dia, Pak Tentara. Lalu siapa lagi kalau bukan sampean yang bisa menolong
Srintil. Nah, cari dia, bawa pulang kemari dan jadikan dia istri sampean. Wah, pantas betul."
"Sakum, sudahlah. Yang macam itu bukan urusanmu," potong Sakarya. "Lagi pula
pantaskah kamu bicara macam-macam di dekat Nenek Rasus yang sedang sakit payah?"
Malam hari hampir semua orang Dukuh Paruk berkumpul di rumah Nenek Rasus dan sekitarnya. Perihal Nenek Rasus mereka sudah tahu, tetapi cucunya yang baru pulang
setelah empat tahun meninggalkan Dukuh Paruk adalah lain. Bukan semata-mata orangnya yang ingin mereka ketahui, karena yang terutama adalah bagaimana sikap
Rasus; masihkah dia memiliki kesetiaan dasar terhadap Dukuh Paruk serta darah dan daging Ki Secamenggala. Dukuh Paruk yang merasa disingkirkan ke wilayah paling aib karena dihubung-hubungkan dengan penyebab geger 1965 amat merindukan pamong baru. Pamong yang bisa dijadikan secuil kebanggaan hidup dan pengayom. Dan Rasus adalah orang yang paling didambakan bila benar dia masih memiliki kesetiaan dasar itu. Kini orang-orang Dukuh Paruk ingin membuktikannya.
Rasus menyambut puaknya dengan senyum, dengan mata berseri. Bukan karena tahu dia sedang diselidiki. Dia gamit pipi anak-anak di gendongan emak masing-masing. Seorang anak malah diambilnya dari gendongan seorang perempuan, ditimang-timangnya, diciuminya. Rasus mencium masa lalunya, mencium bau Dukuh Paruk, mencium pangkuan emaknya. Hatinya bergetar oleh rasa keterikatan dan keprihatinan atas ulah sejarah yang telah membawa obor besar yang telah membakar Dukuh Paruk, sejarah yang membuat Dukuh Paruk sangat mudah terkejut meski hanya oleh keresek bunyi bengkarung di atas sampah kering, apalagi oleh bunyi langkah orang bersepatu.
Dukuh Paruk yang kini selalu menunduk bila menghadapi tatapan mata orang luar, Dukuh Paruk yang serba takut karena sudah tak secuil pun memiliki rasa percaya diri.
Buat kali pertama sejak tiga bulan berselang terlihat senyum pada wajah-wajah orang Dukuh Paruk. Kesejukan pertama telah menyentuh hati ketika mereka yakin Rasus
tidak berubah. Dia tetap anak Dukuh Paruk. Dia masih mau menciumi anak-anak yang berbau anyir. Pandangan matanya sejuk dan sejati, tidak seperti pandangan orang-orang luar yang terasa amat menyiksa. Oh, sungguh tidak terbayangkan kehancuran yang harus dipikul oleh orang Dukuh Paruk apabila Rasus sama seperti semua orang; memandang Dukuh Paruk seakan tidak layak lagi menjadi warga kehidupan.
Namun senyum Dukuh Paruk belum bisa berkembang menjadi tawa riang. Semua sadar
Rasus dalam keprihatinannya sendiri. Maka orang-orang Dukuh Paruk sudah puas bila Rasus menyapanya dengan ramah, memanggil mereka dengan sebutan paman, kakang, bibi atau lainnya. Kemudian mereka membiarkan Rasus kembali ke dekat tubuh
neneknya yang sedang menunggu saat terakhir.
Menjelang tengah hari tinggal beberapa orang lelaki dan perempuan yang masih tinggal di rumah Nenek Rasus. Rasus duduk menemani Sakarya, Kartareja, dan Sakum, tetapi lebih sering duduk di tepi balai-balai menunggui neneknya. Dua perempuan sudah tertidur berimpitan di sebuah lincak. Kartareja memejamkan matanya sambil menyandar ke belakang. Sakum mendungkup sambil duduk. Hanya Sakarya yang masih jaga. Mereka kelihatan lusuh karena sudah beberapa malam menjaga Nenek Rasus. Pada akhirnya Sakarya pun lelap di kursinya.
Tiba-tiba cuping hidung Rasus bergerak-gerak. Dia mencium sesuatu; bukan bau kain gombal neneknya yang sering kali basah, bukan bau asap kemenyan tetapi sesuatu yang lain. Bau mayat. Rasus mencondongkan muka melihat wajah neneknya lebih dekat. Masih ada napas. Ya, dari embusan napas yang sangat pelan itu sudah tercium bau kematian. Kemudian Rasus menoleh kepada Sakarya. Tidur, semuanya tidur. Hening dan hampa merayap perlahan dan merangkul Rasus dari segala arah. Rasus
merasa dirinya mengapung dalam kekosongan.
Bau mayat. Bau yang berasal dari proses perubahan jaringan organik yang terurai.
Proses itu berjalan amat lambat dan sangat alami. Hayat Nenek Rasus ditakdirkan berakhir bukan karena kerusakan pada organ-organ tubuhnya, melainkan karena habisnya kemampuan kerja mekanisme sistem ragawinya. Seperti sebuah mesin yang akan mati karena kehabisan bahan bakar, perlepasan energi terakhirnya adalah
gerakan-gerakan tersendat dan sporadik. Rasus melihat napas neneknya tiba-tiba
menjadi cepat. Kedua matanya mendadak terbuka penuh, mulutnya ternganga. Secara
keseluruhan wajah Nenek Rasus adalah gambar kengerian dan ketakutan yang amat
sangat. Kemudian suatu gerakan yang berasal dari perut dengan cepat naik ke dada dan berhenti tiba-tiba di tenggorokan. Nenek Rasus seperti hendak terbatuk, namun yang terjadi hanyalah muntahan sedikit cairan. Itulah gerakan terakhir pada jasad yang sudah demikian lusuh. Tak tersisa tenaga sedikit pun buat menutupkan kelopak mata atau mengatupkan mulut. Hayat telah berjabat tangan dengan maut. Sebuah sosok keakuan telah larut sempurna dalam keberadaan semesta. Sebentuk unikum yang mewujud selama lebih dari tujuh puluh tahun di Dukuh Paruk telah lenyap dan kembali menjadi debu bagian universum. Rohnya kembali kepada Yang Mahaempunya. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," gumam Rasus. Diusapnya wajah jasad neneknya agar kelopak matanya tertutup. Diangkatnya rahang yang kini terpaut pada sepasang urat mati agar terkatup. Selimut kain diangkat schingga menutup seluruh jasad. Lalu Rasus berdiri termenung, bersedakap. Hening merangkulnya semakin erat. Dan mengapa
Rasus baru merasakan kesadaran yang amat dalam? Sadar akan hubungan ajaib dan penuh rahasia antara jasad dirinya dengan jasad yang terbujur di hadapannya. Satu mata rantai yang membentuk garis keturunan telah sirna dan mata rantai berikut adalah diri Rasus sendiri. Denyut jantung seorang nenek telah berhenti, tetapi denyut keturunan yang menjalin kehidupan terus berlanjut. Rasus amat sadar denyut itu kini makin terasa dalam dadanya. Keharuan terusik dan air mata Rasus meleleh.
Episode 5
Waktu satu atau dua menit yang telah membawa Rasus ke tepi kesadaran keakuannya terasa demikian lama. Ketika telinganya menangkap suara burung celepuk Rasus merasa telah kembali ke alam keseharian. Sunyi. Di depannya mayat Nenek yang tertutup kain dari kaki hingga ke kepala. Di belakangnya dua orang perempuan tua
tidur berimpitan dalam satu lincak. Di sana Sakarya, Kartareja, dan Sakum terlena di
tempat duduk masing-masing. Ada kunang-kunang masuk, terbang sekeliling ruang. Ada keresek tikus busuk di samping rumah. Burung celepuk kembali mengumandangkan suaranya. Sakarya terjaga, mengusap waiah dengan kedua telapak tangan, lalu ditatapnya Rasus yang sedang berdiri khusyuk. Dahi Sakarya berkerut karena hatinya menangkap makna suasana.
"Bagaimana?" tanya Sakarya sambil bangkit.
"Ya, Kek. Nenek sudah bagus. Baru saja," jawab Rasus tenang.
"Oh, sampean tidak membangunkan aku?"
"Kejadiannya amat cepat, Kek. Sudahlah. Nenek sudah bagus."
Sakarya menunduk dan pundaknya jatuh. Perlahan-lahan dia mendekat ke balai-balai.
Khidmat, dibukanya kain penutup hingga tampak wajah mendiang Nenek Rasus. Buat
kesekian kali Sakarya menatap citra kematian pada wajah tanpa hayat dan tanpa roh. Sama-sama tanpa roh, namun monumen yang terbuat dari jaringan organik memang tidak sama dengan tubuh yang sedang tidur. Mayat adalah visualisasi proses terlepasnya nama dari kedirian, bahkan proses runtuhnya sebentuk fungsi keberadaan. Dan Sakarya hanya bisa menghayati kematian dalam sebuah kidung yang selalu ditembangkan bila ada warga Dukuh Paruk meninggal.
Wenang sami ngawruhana pati. Wong ngagesang tan wurung palastra. Yen mati ngendi parane. Saengga manuk mabur, mesat saking kurunganeki. Ngendi parane benjing, aja
nganti kliru. Upama wong aneng dunya, asesanjan mangsa wurunga yen mulih. Maring
nagri kamulyan.
Rasus belum pernah memikirkan secara sungguh-sungguh ajaran yang terkandung
dalam kidung itu. Namun setidaknya Rasus bisa menangkap adanya wawasan yang masih sumir rentang hakikat kematian. Ada kalimat dalam kidung itu yang mengatakan, manusia hidup, tak urung bakal tiada, dan bahwa akhir perjalanan setiap manusia adalah nagri kamulyan, rahmat Ilahi. Entah sistem nilai mana yang dijadikan referensi oleh Sakarya buat menghayati kandungan kidungnya. Anehnya Rasus merasa sumber referensi yang digunakan oleh Sakarya sesungguhnya adalah sistem nilai yang kini benar-benar dianutnya. Sistem nilai itu punya diktum tentang kematian; sesungguhnya dari Tuhanlah asal segala sesuatu dan kepada Tuhan jua semuanya bakal kembali.
Keesokan hari ketika setiap renik embun larut kembali dalam udara, semua warga Dukuh Paruk berjalan mengiring jasad Nenek Rasus ke makamnya. Tak seorang pun tertinggal, semua berada dalam barisan panjang mengikuti lorong yang naik ke bukit pekuburan Dukuh Paruk. Mereka adalah semut yang beriringan dalam diam. Kematian Nenek Rasus adalah dukacita pertama sesudah mala petaka kobaran api yang membakar Dukuh Paruk empat bulan sebelumnya; kematian yang makin mempererat ikatan puak. Dalam kehancuran martabat yang luar biasa Dukuh Paruk hanya bisa melakukan upaya amat pasif dan primitif untuk mempertahankan keberadaannya sebagai warga kehidupan. Dan orang yang tidak mengerti akan kehancuran jiwa Dukuh Paruk boleh jadi mengatakan bahwa iring-iringan yang sedang menaiki bukit pekuburan Dukuh Paruk itu adalah barisan orang yang sedih karena kematian seorang kerabatnya.
Orang yang tidak tahu nestapa Dukuh Paruk tidak bisa mengerti bahwa mereka yang
sedang mengiring mayat adalah orang-orang yang membawa keprihatinan mendalam dan hanya bisa dihibur dengan cara memperkokoh buhul kesetiaan dasar, membuktikan kebersamaan dalam nestapa dan dukacita. Kematian Nenek Rasus adalah kesempatan pertama buat menggambarkan tangis Dukuh Paruk, tangis yang tak mungkin cukup diwakilkan kepada sedu-sedan dan air mata.
Selesai pemakaman orang-orang menuruni bukit pekuburan, masih dalam kebisuan. Hanya Rasus dan Sakarya yang masih tinggal. Keduanya masih jongkok menghadapi gundukan tanah yang menimbun jasad Nenek Rasus. Sepi sekali sehingga terdengar jelas suara burung-burung, suara butir buah beringin yang jatuh menimpa daun, dan suara kumbang yang terbang- hinggap pada bunga kamboja. Rasus meremas tanah yang renyah dan Sakarya seperti sedang menanti kesempatan buat mengatakan sesuatu.
"Nenek sampean ini beberapa tahun lebih muda daripadaku," kata Sakarya akhirnya.
"Jadi aku yang lebih tua. Maka aku merasa umurku juga akan berakhir tidak lama lagi."
Rasus mengangkat muka.
"Cucuku, aku juga sama dengan nenekmu yang ingin ditunggui cucu ketika ajal tiba. Tetapi aku tidak yakin apakah Srintil bisa pulang manakala aku mati. Inilah beban berat yang selalu kupikirkan siang dan malam. Apakah sampean bisa menolongku,bCucuku Wong Bagus?" Rasus tergagap. Ditatapnya wajah Sakarya lalu menunduk lagi.
"Menolong bagaimana, Kek?"
"Yah, sesungguhnya berat aku mengatakannya. Aku ingin minta bantuanmu mengusahakan Srintil cepat kembali. Ah, tidak. Aku mengerti itu tidak mungkin. Tetapi setidaknya, maukah sampean mencari tahu di manakah Srintil kini berada? Oh, cucuku. Betapa aku ingin tahu keadaan Srintil. Apabila dia masih hidup maka di mana dan bagaimana keadaannya sekarang. Apabila dia sudah meninggal maka di manakah kuburnya."
Urat tenggorokan Rasus terasa mengerut. Keperihan Dukuh Paruk memang disebabkan
oleh dua luka, kedua-duanya ikut terasakan sepenuhnya oleh Rasus. Luka pertama adalah rudapaksa hebat yang telah membakar Dukuh Paruk hampir habis dan kenisbian sejarah yang memandang Dukuh Paruk adalah sisi aib kehidupan. Luka kedua adalah kenyataan Srintil belum kembali. Srintil yang memanggul sekian banyak simbol Dukuh Paruk masih terbenam dalam ketidakpastian. Dan ketidakpastian Srintil tidak bisa lain kecuali dirasakan oleh puaknya sebagai ketidakpastian Dukuh Paruk sendiri. Rasus
sadar sepenuhnya bahwa ketidakpastian lebih mengerikan daripada mala petaka tempe bongkrek yang telah beberapa kali menimpa Dukuh Paruk, atau lebih mengerikan daripada kobaran api besar yang telah menghanguskan Dukuh Paruk empat bulan berselang. Tenggorokan Rasus mengerut lagi.
"Bagaimana, Cucuku?"
"Oh, ya. Akan kuusahakan sebisa-bisanya. Tetapi tak ada jaminan usahaku mencari
keterangan di mana Srintil berada akan berhasil. Kakek tahu, keadaan masih sangat
genting."
Sakarya mengosongkan parunya dalam desah panjang. Ada percik kegembiraan pada wajahnya.
"Ya, asal sampean mau berusaha sudah cukup membuatku merasa besar hati. Lalu ada lagi yang ingin kusampaikan padamu."
"Apa lagi, Kek."
"Ini amat rahasia dan hanya sampean yang boleh tahu. Tentang perhiasan emas milik Srintil yang berhasil ku selamatkan. Apakah sampean mau menyimpan kemudian nanti memberikannya kepada Srintil bila dia sudah kembali?"
"Banyak?"
"Banyak. Lebih dari dua ratus gram."
"Oh, maaf. Aku merasa tidak berhak menyimpannya. Di manakah harta itu sekarang?"
"Disimpan oleh istriku."
"Nah, biarkan harta itu tetap di sana. Aku cukup mengetahuinya saja."
"Aku khawatir karena kami berdua sudah tua. Bagaimana nanti bila kami mati sedangkan sampean tidak disini?"
"Kalau begitu simpanlah dia di suatu tempat yang hanya kita berdua tahu."
"Oh, ya. Baiklah. Harta Srintil itu akan kutanam dekat nisan makam Eyang Secamenggala. Kukira di sana aman."
"Baik, Kek. Akan kujaga sebaik-baiknya amanat ini."
Kerut-kerut di wajah Sakarya mengendur.
Diperhatikannya dengan saksama Rasus yang bangkit dan berjalan ke arah sebatang pohon kamboja. Dipatahkannya dahan sebatang lain ditanammya dekat nisan makam neneknya. Satu pohon kamboja akan tumbuh dan menjadi saksi bahwa tanah Dukuh Paruk telah menerima kembali segumpal saripatinya: jasad Nenek Rasus.
Dalam perjalanan pulang Rasus sungguh tidak ingin berbicara apa pun karena ungkapan dengan kata mana saja takkan sanggup mewakili perasaannya.
Kenyataan bahwa dia telah melihat tanah airnya yang kecil berubah menjadi pedukuhan dengan rumah-rumah liliput, orang-orang sepuak bahkan anak-anak yang tak mampu lagi tersenyum, neneknya yang baru saja dikubur, dan Srintil. Masih hidup atau sudah matikah dia dan di manakah adanya?
Semua ini meresahkan Dukuh Paruk, meresahkan Sakarya dan amat meresahkan Rasus. Dan keresahan itu makin terasa berat ketika Rasus harus berangkat lagi meninggalkan Dukuh Paruk.
Berat, bukan hanya karena sesungguhnya Rasus tidak bisa menunaikan tugas dari puaknya untuk memperoleh keterangan tentang Srintil. Kedudukannya sebagai anggota tentara yang justru menyulitkan pelaksanaan tugas seperti itu, lagi-lagi karena keangkuhan kenisbian sejarah.
Berat, terutama karena Rasus percaya harapan Dukuh Paruk kini hanya berada pada dirinya. Maka Rasus tidak merasa perlu menyembunyikan air mata ketika dia melihat lelaki, perempuan, dan anak-anak Dukuh Paruk berhimpun untuk melepas keberangkatannya. Wajah-wajah yang mati dan tatapan mata yang hampa adalah hibaan yang amat memelas bagi secuil harapan kiranya Dukuh Paruk masih dianggap berhak menghirup udara kehidupan, menenggak air kehidupan, dan menapakkan kaki di bumi kehidupan.
Rasus sekali lagi berangkat meninggalkan tanah airnya yang kecil. Kali ini dia tak Kuasa tersenyum, dahinya berkerut, dan hatinya buntu.
Ketika baru dipasang atap-atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa itu hijau tua warnanya. Baru sehari terkena sinar matahari dia sudah berubah menjadi sedikit kelabu dan kerapatan anyaman-nya mengendur. Warnanya berubah lagi menjadi cokelat dan rapuh. Siang hari orang-orang Dukuh Paruk dapat melihat langit dari dalam gubuk masing-masing. Malam hari anak-anak menghitung bintang sambil tiduran.
Musim hujan tiba. Sakarya menganjurkan orang-orang Dukuh Paruk melapisi atap-atap gubuk mereka dengan ilalang buat mengedap air hujan. Ilalang adalah atap yang sebenarnya. Dia menyerap panas ketika matahari terik. Sebaliknya, dia menyimpan kehangatan ketika udara di luar dingin dan kering. Tidur diatas pelupuh bambu di bawah atap ilalang adalah kenyamanan alam yang tak mungkin terlupakan oleh setiap anak Dukuh Paruk.
Kemarau datang menggantikan musim hujan. Hilang dan datang lagi. Atap ilalang yang menyelimuti orang-orang Dukuh Paruk sudah berusia lebih dari dua tahun, mulai lapuk. Ada dua ekor burung brondol jantan dan betina rajin sekali melolon helai-helai atap ilalang gubuk Sakum untuk dibuat sarang di atas pohon. Dan Dukuh Paruk masih hidup. Ada rumput, entah mengapa, tumbuh di atas atap ilalang rumah sakum. Akar rumput itu pelan dan pasti memakan atap ilalang itu. Tetapi Sakum yang keropos kedua matanya tetap hidup karena Dukuh Paruk bertahan hidup.
Apabila Sakum belum berpikir hendak memperbaiki atap gubuknya, orang lain tidak demikian. Sakarya malah sudah memperbesar gubuknya, kini bertiang delapan. Dindingnya diganti dengan anyaman bambu, ada jeruji di bagian depan juga dari bambu. Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyelusuri celah cadas. Meski tak ada lagi tembang ronggeng atau irama calung namun sudah terdengar tawa anak-anak ketika mereka berebut biji ketapang. Biji yang keras mereka pecahkan, isinya putih dan gurih. Meski orang Dukuh Paruk masih sangat mudah terkejut bila melihat laki-laki bersepatu dan masih belum berani beradu pandang dengan orang-orang luar; Dukuh Paruk secara moral masih dituntut mengaku bersalah, namun anak-anak di sana tetap anak-anak. Mereka lebih cepat lupa akan kobaran api yangmembakar gubuk-gubuk mereka beberapa saat sesudah geger 1965.
Lihatlah anak-anak itu yang sedang berkeliaran di pekarangan-pekarangan kosong mencari apa saja yang bisa dimakan; umbi-umbian, jantung pisang atau buah katilayu. Gangsir dan orong-orong digali dari tanah, pohon salam dipanjat agar mereka dapat mengulum kulit buahnya yang masak, sarang burung, bahkan sarang semut diambil telurnya. Dengan cara mereka sendiri anak-anak Dukuh Paruk bertahan dan bertahan. Ada seorang anak perempuan yang tidak bisa bebas mengikuti teman-temannya berkeliaran di pekarangan-pekarangan kosong karena dia harus menjaga dua adiknya yang masih kecil-kecil. Anak perempuan itu duduk bersama kedua adiknya di tepi dukuh.
Suatu ketika matanya menatap jauh keseberang sawah luas yang mengelilingi Dukuh Paruk. Anak perempuan itu melihat sebuah sosok yang bergerak cepat sepanjang pematang. Makin dekat, makin dekat. Kemudian anak itu bisa memastikan yang sedang berjalan setengah berlari itu adalah seorang perempuan. Jalannya begitu tergesa sehingga kelihatan perempuan itu beberapa kali jatuh, lalu bangun dan berlari lagi. Kainnya diangkat tinggi-tinggi, badannya condong ke depan dan tangannya setengah terentang untuk memperoleh keseimbangan. Anak perempuan itu masih terlalu muda untuk mengingat siapa gerangan yang datang. Namun ketika jarak antara pendatang itu tinggal satu petak sawah, anak perempuan itu tahu yang sedang berlari adalah dia yang pernah dikenalnya di Dukuh Paruk.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar